Obat hiv-aids dengan bee venom / extrak sengat lebah

Racun lebah / bee venom sudah mulai dikenal di masyarakat umum bisa digunakan untuk pengobatan hiv aids dan penyakit lainnya.Bee venom / racun lebah bisa didapatkan secara langsung dengan menyengatkan lebah madu apis cerana/ apis melifera ke titik akupungtur.

Cara lain untuk mendapatkan sengatan lebah adalah dengan minum kapsul bee venom yang terbuat dari extrak racun lebah dan “Bee Pollen”

Dengan resep kapsul bee venom untuk obat hiv ini pasien ODHA (Orang Dengan Hiv Aids) bisa membaik kondisinya bahkan ada melaporkan “Viral Load”nya sdh tak terdeteksi lagi.Ada juga yang melakukan terapi sengat lebah scara langsung belum berhasil dan setelah minum sengat lebah dalam bentuk kapsul bisa berubah keadaannya/ makin sehat.

Berikut ini merupakan resep herbal untuk pengobatan / penyembuhan hiv aids dari An Nahl Herbal

Utk obat herbal obat hiv resepnya:

kapsul bee venom harga (250rb)+

propolis trigona sp harga(140rb)+

madu

#Kapsul bee venom dosis rendah (setara 4-6 sengatan lebah) harga 250rb/botol isi 65 kapsul.

#Kapsul bee venom dosis tinggi (setara 12-14 sengatan lebah) harga 500rb/botol isi 65 kapsul.

#Kapsul propolis trigona SP harga 140rb/10ml

*madu trigona

*madu Dorsata

*Bee Pollen melifera

*Bee Pollen Trigona

*Bee Venom (racun lebah/cairan sengat lebah)

*Propolis Trigona

CP: 081214621949

Iklan

Belajar

SAYA BELAJAR, bahwa dalam hidup ini saya harus selalu optimis dengan mengharap pertolonganNya dan tidak akan pernah putus asa dari rahmatNya,,, SAYA BELAJAR, bahwa tidak ada yang sulit bagi orang yang bertakwa karena Allah selalu memberi jalan keluar kepadanya dan memudahkan semua yang sulit,,,,SAYA BELAJAR,,,

Salam santun berbalut mahabbah

MUHASABAH DIRI

​Bismillah,,,,,Setiap daun kering pasti terlepas dari tangkai bersama takdir Allah. Untuk itu kami resapi Al-Ghazali bahwa ,tak ada yang lebih baik daripada yang telah ditakdirkan Allah. Oleh sebab itu kami rela mesti tak mengerti,,,Karena yang terindah adalah rahasia ,,, ^_^

Wa Kafaa Billahi Syahidaa

Perhatikanlah hari ini,,,Apa yang dapat kita syukuri? Ternyata masih ada hembusan nafas mengalir dalam diri. Masih ada jiwa yang tertanam di diri. Tiada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada kejujurannya terhadap Rabbnya dalam segala urusan, apapun itu. Lakukan apapun di hari ini dengan kejujuran,,, Dengan penuh kesyukuran. Maka, kebahagiaan seseorang berada pada kejujuran tekadnya dan kejujuran amalnya di hadapan Tuhan. Kejujuran tekad berarti kemantapan dan kekokohannya, tiada kebimbangan padanya. Bahkan tekad yang tidak tercampuri oleh kebimbangan. Kalau tekad telah benar-benar jujur, maka tinggal kejujuran amal. Yaitu mencurahkan segenap kemampuan dan mengerahkan segala kesungguh-sungguhan padaNya semata,,

Sebab kejujuran tekad akan mencegah kita dari melemahnya keinginan. Sedangkan kejujuran amal akan mencegah kita dari rasa malas dan jenuh dalam beraktivitas harian. Maka, bagi siapa yang jujur terhadap Alloh dalam apapun urusannya, Alloh akan berbuat untuknya lebih dari apa yang Alloh akan perbuat untuk selainnya. Subhanalloh. luarr biasa!

‘Alloh cukup sebagai penjamin.’ Wa kafaa billahi syahidaa. ‘Cukup Allah sebagai saksi.’ Segala yang kita perjuangkan di hari ini, segenap usaha yang kita kerahkan demi menjadi pribadi yang lebih baik lagi, Demi Alloh, Dialah yang menyaksikan dan takkan luput dari penilaianNya sama sekali.

Oleh karena itu, untuk membuka pintu rezeki, kemuliaan dan kelapangan hidup ucapkanlah

“Hasbiyallahu wani’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashir,,,

Wakafa billahi waliyya,,,

wakafa billahi syahida,,,

wakafa billahi wakiila,,,

wakafa billahi nashiraa,,,

(Cukup Allah bagiku, Dia sebaik baik pelindung, sebaik baik pemimpin dan sebaik baik penolong. Cukup Allah sebagai pemimpin,,,

cukup Allah sebagai saksi,,,

cukup Allah sebagai pelindung,,,

cukup Allah sebagai penolong,,,

Berharap, semoga kita semua mendapat rahmat dan karunia dari Alla h, mendapat kelapangan hidup, dan terpenuhi semua hajat serta kebutuhan. Terpelihara dari fitnah dan kejahatan orang yang dengki lalu terpelihara dari kefakiran, kemiskinan dan kesempitan hidup.,,,Aamiin

​Do’a untuk Persatuan Umat

QULILLAHUMMA MALIKAL MULKI TU’TIL MULKA MAN TASYAA-U WA TANZI’UL-MULKA MIN MAN TASYAA-U WA TU’IZZU MAN TASYAA-U WA TUDZILLU MAN TASYAA-U, BIYADIKAL-KHAIRU, INNAKA ‘ALA KULLI SYAIN QADIIR,

TUULIJUL-LAILA FIN-NAHAARI WA TULIJUNNAHARA FIL-LAILI WA TUKHRIJUL HAYYA MINAL-MAYYITI WA TUKHRIJUL-MAYYITA MINAL-HAYYI WA TARZUQU MAN TASYAA-U BIGHAIRI HISAAB.

“Katakanlah , ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kekuasaan! Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau ambil kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau rendahkan siapa yang Engkau kehendaki, di tangan Engkaulah kebaikan; sesungguhnya Engkau Kuasa atas segala sesuatu”.

Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam, dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak terbatas.” (Ali Imran [3]: 26-27)

ALLAHUMMA INNA HAADZA IQBAALU LAILIKA, WA IDBAARU NAHAARIKA, WA ASHWAATU DU’AA TIKA FAGHFIRLII

“Ya Allah, inilah kedatangan malam-Mu, dan keberangkatan siang-Mu, dan desah suara yang memohon pada-Mu, ampunilah aku.”

Kemudian hadirkanlah wajah orang-orang yang dikenali diantara ikhwan-ikhwannya dalam pikirannya dan rasa­kanlah hubungan rohaniah antara dia dengan orang-orang tidak dikenalnya. Berdoalah bagi mereka dengan do’a ini :

ALLAHUMMA INNAKA TA’ALAMU ANNA HADZIHIL-QULUB QADIJTAMA’AT ‘ALA MAHABBATIKA WAL-TAQAT ‘ALAA THA’ATIKA WA TAWAHHADAT ‘ALAA DA’WATIKA, WA TA’AAHADAT ‘ALA NUSHRATI SYARI’ATIKA, FAWATSTSI­QILLAHUMMA RAABITHATAHA WA ADIM WUDDAHA, WAHDIHA SUBULAHA WAMLA’HA BINUURIKAL-LADZI LA YAKHBU, WASYRAH SHUDUURAHA BI FAIDHIL IIMAANI BIKA, WA JAMILIT-TAWAKKULI ‘ALAIKA WA AHYIH BIMA’RIFATIKA, WA AMITHA ‘ALASY-SYAHAADATI FI SABIILIKA INNAKA NI’MAL MAULA WA NI’MAN NASHIIR.

“Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam taat pada-Mu, telah bersatu dalam da’wah, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu. Kokohkanlah, Ya Allah ikatannya, kekalkanlah cinta kasihnya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahaya-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat pada-Mu. Matikanlah dia dalam syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah, Amin.

ALLAHUMMA AMIN, WA SHALLALLAHUMMA ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALA ALIHI SHAHBIHI WA SALLIM.

Sampaikanlah kesejahteraan, Ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkan kepada mereka keselamatan.”

MAKNA & KEKUATAN DOA

Allah menegaskan di dalam Alquran surat Albaqarah ayat 186 tentang bentuk ikhtiar yang sangat dianjurkan; berdoa.

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟَﻚَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨِّﻲ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺮِﻳﺐٌ ۖ ﺃُﺟِﻴﺐُ ﺩَﻋْﻮَﺓَ ﺍﻟﺪَّﺍﻉِ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻥِ ۖ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟِﻲ ﻭَﻟْﻴُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻲ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺷُﺪُﻭﻥَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Albaqarah: 186)

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah swt. Berada sangat dekat dengan hamba-Nya dan menyaksikan sekaligus mengabulkan setiap permohonan doa dari hambanya yang shaleh.

Makna Doa

Secara harfiah, doa berarti memohon, doa pun identik dengan kata lain dakwah. Sehingga doa bisa juga berarti mengajak atau mengundang agar datang. Doa yang berarti permohonan mekanismenya melakukan permohonan langsung kepada Allah swt agar diberikan kebaikan, keberkahan, kemudahan, kesehatan dan jalan keluar dari kesulitan dan lain-lain.

ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺄَﺳْﻤَﺎﺀُ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨَﻰٰ ﻓَﺎﺩْﻋُﻮﻩُ ﺑِﻬَﺎ ۖ ﻭَﺫَﺭُﻭﺍ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻠْﺤِﺪُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺃَﺳْﻤَﺎﺋِﻪِ ۚ ﺳَﻴُﺠْﺰَﻭْﻥَ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 180)

Doa terbagi menjadi 3 pengabulan, antara lain:

Doa seorang hamba akan langsung dikabulkan oleh Allah (BACA: 12 Waktu Mustajab untuk Berdoa),

Doa akan ditunda oleh Allah yang kemudian akan Allah kabulkan di lain waktu atau nanti di Akhirat,

Doa akan diganti oleh Allah swt. dengan hal lain yang menurut Allah lebih baik semisal; terhindar dari bencana (karena sesuatu yang menurut manusia baik belum tentu baik bagi Allah swt).

Tujuan Berdo’a / Berdoa

Memohon hidup selalu dalam bimbingan Allah SWT

Agar selamat dunia akhirat

Untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT

Meminta perlindungan Allah SWT dari Setan yang terkutuk

Adab berdoa

1. Mencari Waktu yang Mustajab

Di antara waktu yang mustajab adalah hari Arafah, Ramadhan, sore hari Jumat, dan waktu sahur atau sepertiga malam terakhir.

2. Memanfaatkan Keadaan yang Mustajab Untuk Berdoa

Di antara keadaan yang mustajab untuk berdoa adalah: ketika perang, turun hujan, ketika sujud, antara adzan dan iqamah, atau ketika puasa menjelang berbuka.

3. Menghadap Kiblat dan Mengangkat Tangan

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (HR. Muslim).

4. Dengan Suara Lirih dan Tidak Dikeraskan

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠْﻬَﺮْ ﺑِﺼَﻠَﺎﺗِﻚَ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺨَﺎﻓِﺖْ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺍﺑْﺘَﻎِ ﺑَﻴْﻦَ ﺫَﻟِﻚَ ﺳَﺒِﻴﻠًﺎ

“ Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra: 110).

5. Tidak Dibuat buat

Doa yang terbaik adalah doa yang ada dalam Alquran dan sunah.

ﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﺗَﻀَﺮُّﻋًﺎ ﻭَﺧُﻔْﻴَﺔً ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﻌْﺘَﺪِﻳﻦَ

“ Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. ” (QS. Al-A’raf: 55).

Ada yang mengatakan: maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam membuat kalimat doa, dengan dipaksakan bersajak.

6. Khusyu’, Merendahkan Hati, dan Penuh Harap

ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳُﺴَﺎﺭِﻋُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮﻧَﻨَﺎ ﺭَﻏَﺒًﺎ ﻭَﺭَﻫَﺒًﺎ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻟَﻨَﺎ ﺧَﺎﺷِﻌِﻴﻦَ

“ Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoakepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. ” (QS. Al-Anbiya’: 90).

7. Memantapkan Hati Dalam Berdoa dan Berkeyakinan Untuk Dikabulkan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Janganlah kalian ketika berdoa dengan mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau mau’. Hendaknya dia mantapkan keinginannya, karena tidak ada yang memaksa Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Banyak orang yang lalai dalam berdoa atau bahkan tidak tahu isi doa yang dia ucapkan. Karena dia tidak paham bahasa Arab, sehingga hanya dia ucapkan tanpa direnungkan isinya.

8. Mengulang-ulang Doa dan Merengek-rengek Dalam Berdoa

Mislanya, orang berdoa: Yaa Allah, ampunilah hamba-MU, ampunilah hamba-MU,,,,, ampunilah hamba-MU yang penuh dosa ini. ampunilah ya Allah,,,, Dia ulang-ulang permohonannya. Semacam ini menunjukkan kesungguhhannya dalam berdoa.

Ibn Mas’ud mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau berdoa, beliau mengulangi tiga kali. Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali. (HR. Muslim)

9. Tidak tergesa-gesa agar segera dikabulkan, dan menghindari perasaan:

mengapa doaku tidak dikabulkan atau kalihatannya Allah tidak akan mengabulkan doaku.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Akan dikabulkan (doa) kalian selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, ‘Saya telah berdoa, namun belum saja dikabulkan‘.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sikap tergesa-gesa agar segera dikabulkan, tetapi doanya tidak kunjung dikabulkan, menyebabkan dirinya malas berdoa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu , Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru .” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdoa?” Beliau bersabda, “ Orang yang berdoa ini berkata, ‘Saya telah berdoa, Saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan’. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa.” (HR. Muslim dan Abu Daud).

10. Memulai Doa dengan Memuji Allah dan Bershalawat Kepada NabiShallallahu‘Alaihi wa Sallam

Bagian dari adab ketika memohon dan meminta adalah memuji Dzat yang diminta. Demikian pula ketika hendak berdoa kepada Allah. Hendaknya kita memuji Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang mulia (Asma-ul husna).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda, “Orang ini terburu-buru.” kemudian beliau bersabda:

“ Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya .” (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani).

11. Memperbanyak Taubat dan Memohon Ampun Kepada Allah

Banyak mendekatkan diri kepada Allah merupakan sarana terbesar untuk mendapatkan cintanya Allah. Dengan dicintai Allah, doa seseorang akan mudah dikabulkan. Di antara amal yang sangat dicintai Allah adalah memperbanyak taubat dan istighfar.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu , Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Tidak ada ibadah yang dilakukan hamba-Ku yang lebih Aku cintai melebihi ibadah yang Aku wajibkan. Ada hamba-Ku yang sering beribadah kepada-Ku dengan amalan sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka …jika dia meminta-Ku, pasti Aku berikan dan jika minta perlindungan kepada-KU, pasti Aku lindungi.. ” (HR. Bukhari).

12. Hindari Mendoakan Keburukan, Baik Untuk Diri Sendiri, Anak, Maupun Keluarga

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mencela manusia yang berdoa dengan doa yang buruk,

ﻭَﻳَﺪْﻉُ ﺍﻹِﻧﺴَﺎﻥُ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ ﺩُﻋَﺎﺀﻩُ ﺑِﺎﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻹِﻧﺴَﺎﻥُ ﻋَﺠُﻮﻻً

“ Manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. ” (QS. Al-Isra’: 11).

ﻭَﻟَﻮْ ﻳُﻌَﺠِّﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﺍﻟﺸَّﺮَّ ﺍﺳْﺘِﻌْﺠَﺎﻟَﻬُﻢ ﺑِﺎﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻟَﻘُﻀِﻲَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﺃَﺟَﻠُﻬُﻢْ

“ Kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka (binasa). ” (QS. Yunus: 11).

Ayat ini berbicara tentang orang yang mendoakan keburukan untuk dirinya, hartanya, keluarganya, dengan doa keburukan.

13. Menghindari Makanan dan Harta Haram

Makanan yang haram menjadi sebab tertolaknya doa.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu , Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya, ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’. Dan Allah juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu’. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a, ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan do’anya? ” (HR. Muslim)

Inilah 12 Waktu Mustajab untuk Berdoa :

1. Pada hari Arafah

Hari Arafah merupakan hari dimana semua jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah atau tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari Arafah, semua jama’ah disarankan berdoa sebanyak-banyaknya, takterkecuali jama’ah yang tengah berhaji ataupun jamaah yang tidak tengah menunaikan ibadah haji. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah” (HR. At Tirmidzi).

2. Bulan Ramadhan,

Pada shalat taraweh, setelah melaksanakan witir, dianjurkan untuk berdoa dengan mengucapkan, lafadz, “Subhanalmalikilquddus”sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ubay bin Ka’ab. Serta dianjurkan pula untuk mengucapkan kalimat itu sebanyak tiga kali sebagaimana disebutkan didalam riwayat an Nasai.

3. Hari Jum’at – Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menuturkan perihal hari Jumat lalu beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta’. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut” (HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu).

4. Saat sahur,

Sebaiknya, setiap muslim/muslimah membiasakan berdoa setelah witir sebelum fajar, pasalnya pada waktu sahur tersebut merupakan amal yang paling utama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt.

5. Di antara adzan dan iqamat,

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa, Rasulullah Saw. Bersabda:

“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad).

6. Ba’da (setelah) shalat,

Dari Abu Umamah, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; wahai Rasulullah, doa apakah yang paling di dengar? Beliau berkata: “Doa di tengah malam terakhir, serta setelah shalat-shalat wajib.” (HR. at-Tirmidzi).

7. Saat turun hujan,

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, diriwayatkan:

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila melihat hujan, beliau berdoa: ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI’A (Ya Allah, -jadikan hujan ini- hujan yang membawa manfaat atau kebaikan.” (HR. Bukhari).

8. Saat berjuang di jalan Allah (fii sabilillah)

9. Setelah khatam Alqur’an,

10. Di saat sujud,

11. Ketika berbuka puasa,

12. Pada 1/3 malam yang akhir.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Tabaraka wataa’la turun ke langit dunia pada setiap malam, yaitu pada 1/3 malam terakhir seraya berfirman, ‘Siapa yang berdo’a kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu niscaya akan Aku berikan dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

​Dakwahi dengan sabar

Keutamaan Dakwah

1- Pendakwah itu menjadi umat terbaik

Allah Ta’ala berfirman,

ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺧَﻴْﺮَ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃُﺧْﺮِﺟَﺖْ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺗَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ

“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110).

2- Pendakwah itu memegang perkataan terbaik

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﻣِﻤَّﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻨِﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ

“ Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri? ” (QS. Fushshilat: 33).

3- Dakwah berarti menempuh perkara yang besar

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﺃْﻣُﺮْ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺍﻧْﻪَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺍﺻْﺒِﺮْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺑَﻚَ ﺇِﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋَﺰْﻡِ ﺍﻟْﺄُﻣُﻮﺭِ

“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17).

4- Mendapat pahala dari orang yang mengikuti tanpa mengurangi pahala mereka

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﻓَﻠَﻪُ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺟْﺮِ ﻓَﺎﻋِﻠِﻪِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Pahala orang yang didakwahi tidak berkurang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

“Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2674).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻰ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻓَﻌُﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَﻪُ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺟْﺮِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻰْﺀٌ ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻰ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺳَﻴِّﺌَﺔً ﻓَﻌُﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﺜْﻞُ ﻭِﺯْﺭِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻰْﺀٌ

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)

5- Mendapatkan rahmat dari Allah, doa dari malaikat, penduduk langit dan bumi

Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻭَﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟﻨَّﻤْﻠَﺔَ ﻓِﻲ ﺟُﺤْﺮِﻫَﺎ , ﻟَﻴُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﻌَﻠِّﻤِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَ

“Sesungguhnya para malaikat, serta semua penduduk langit-langit dan bumi, sampai semut-semut di sarangnya, mereka semua bershalawat (mendoakan dan memintakan ampun) atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (HR. Tirmidzi no. 2685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

6- Menjalankan pesan Nabi untuk saling mengingatkan dalam kebaikan

‏« ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴﺤَﺔُ ‏» ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻟِﻤَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻟِﻜِﺘَﺎﺑِﻪِ ﻭَﻟِﺮَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻭَﻷَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻭَﻋَﺎﻣَّﺘِﻬِﻢْ ‏» .

“Agama adalah nasehat. Kami berkata, “Kepada siapa?” Beliau menjawab, “Kepada Allah, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya dan kepada pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.” (HR. Muslim no. 55)

Milikilah tiga modal penting: ilmu, lemah lembut, sabar

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

ﻓَﻠَﺎ ﺑُﺪَّ ﻣِﻦْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺜَّﻠَﺎﺛَﺔِ : ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ؛ ﻭَﺍﻟﺮِّﻓْﻖُ ؛ ﻭَﺍﻟﺼَّﺒْﺮُ ؛ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬْﻲُ ؛ ﻭَﺍﻟﺮِّﻓْﻖُ ﻣَﻌَﻪُ ﻭَﺍﻟﺼَّﺒْﺮُ ﺑَﻌْﺪَﻩُ

“Orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar semestinya memiliki tiga bekal yaitu: (1) ilmu, (2) lemah lembut, dan (3) sabar. Ilmu haruslah ada sebelum amar ma’ruf nahi mungkar (di awal). Lemah lembut harus ada ketika ingin beramar ma’ruf nahi mungkar (di tengah-tengah). Sikap sabar harus ada sesudah beramar ma’ruf nahi mungkar (di akhir).” (Majmu’ah Al-Fatawa , 28:137)

Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan,

ﻟَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﺇﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻓَﻘِﻴﻬًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﻪِ ؛ ﻓَﻘِﻴﻬًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻨْﻪُ ؛ ﺭَﻓِﻴﻘًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﻪِ ؛ ﺭَﻓِﻴﻘًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻨْﻪُ ؛ ﺣَﻠِﻴﻤًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﻪِ ﺣَﻠِﻴﻤًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻨْﻪُ

“Tidaklah seseorang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, melainkan ia haruslah menjadi orang yang berilmu (faqih) pada apa yang ia perintahkan dan apa yang ia larang; ia juga harus bersikap lemah lembut (rafiq) pada apa yang ia perintahkan dan ia larang; ia pun harus bersikap sabar (halim) pada apa yang ia perintahkan dan yang ia larang.” (Majmu’ah Al-Fatawa , 28:137)

Hadits #01

Berdakwah dengan Hikmah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata,

ﺟَﺎﺀَ ﺃَﻋْﺮَﺍﺑِﻰٌّ ﻓَﺒَﺎﻝَ ﻓِﻰ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ، ﻓَﺰَﺟَﺮَﻩُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ، ﻓَﻨَﻬَﺎﻫُﻢُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻗَﻀَﻰ ﺑَﻮْﻟَﻪُ ﺃَﻣَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺑِﺬَﻧُﻮﺏٍ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﺀٍ ، ﻓَﺄُﻫْﺮِﻳﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

Ada seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardiknya. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami. (HR. Bukhari, no. 221 dan Muslim, no. 284)

Faedah Hadits:

1. Hadits ini menunjukkan bahwa air kencing itu najis karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk membersihkan tanah (lantai masjid) yang terkena kencing tadi. Oleh karena itu, kencing dan kotoran yang keluar dari dalam tubuh manusia adalah najis.

2. Wajibnya membersihkan lantai masjid dari najis, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk menyiramkan air pada najis tersebut.

3. Terdapat larangan kencing di masjid karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengingkari pengingkaran para sahabat terhadap orang badui tadi. Beliau shallallahu alaihi wa sallam cuma melarang untuk tidak menghardiknya. Sehingga ini menunjukkan bahwa kencing di masjid terlarang.

4. Kemungkaran itu wajib diingkari dengan segera sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat tadi. Namun jika mengakhirkan mengingkari kemungkaran ada maslahat, maka itu lebih baik, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau shallallahu alaihi wa sallam membiarkan arab badui tadi kencing di masjid karena memang di situ ada maslahat.

5. Nabi shallallahu alaihi wa sallam memiliki sikap yang sangat bagus dalam menyikapi umatnya. Beliau

shallallahu alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk menghardik orang ini karena ada bahaya yang ditimbulkan di balik itu. Di antara bahayanya adalah akan memudaratkan orang ini disebabkan kencing yang diperintahkan dihentikan seketika. Bahaya lainnya adalah aurat orang ini bisa terbuka karena kaget, sehingga berbalik, kemudian para sahabat kemungkinan bisa melihat auratnya. Kalau dia masih tetap kencing lalu dipaksa berhenti, maka celananya kemungkinan bisa terkena najis. Bahkan najisnya akan meluas di tempat dia kencing, namun bisa mengena ke bagian masjid lainnya.

6. Membersihkan najis yang ada di masjid haruslah dilakukan dengan segera. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan menggunakan air dalam hal ini. Namun sebenarnya jika kencing tadi dibiarkan begitu saja, maka dia akan hilang dengan sendirinya karena tertiup angin atau terkena terik matahari. Namun, karena tujuannya ingin agar najis hilang dengan segera, maka digunakanlah air.

7. Membersihkan najis yang ada di masjid, hukumnya adalah fardhu kifayah, yaitu jika sudah mencukupi yang melakukan hal ini, maka orang lain gugur kewajibannya. Kenapa bisa fardhu kifayah? Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk membersihkan kencing tadi, namun beliau tidak bareng dengan mereka membersihkannya. Jika hukum melakukan hal ini adalah fardhu ain (wajib bagi setiap orang), maka tentu Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang lebih dahulu membersihkan najis tersebut dari sahabat lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa melihat najis di masjid maka dia wajib membersihkannya. Jika tidak mampu, maka dia wajib meminta pada orang lain untuk membersihkan najis yang di masjid tersebut.

8. Dari hadits ini dapat kita simpulkan sebuah kaedah yang sudah masyhur di tengah-tengah para ulama yaitu jika kemungkaran tidak dapat dihilangkan kecuali dengan kemungkaran lain yang lebih besar, maka kemungkaran ini tidak boleh diingkari. Ini adalah kaedah yang sudah sangat jelas. Jika kita menghilangkan suatu kemungkaran, namun malah mendatangkan kemungkaran yang lebih besar maka ini sama saja kita melakukan kemungkaran yang pertama tadi dan kita menambah kemungkaran yang baru lagi. Dan tambahan ini tidak diragukan lagi adalah maksiat.

9. Selayaknya bagi orang yang ingin melarang suatu kemungkaran, dia menjelaskan sebab kenapa dia melarang hal itu. Lihatlah Nabi shallallahu alaihi wa sallam tatkala melarang orang badui ini, beliau shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa hal ini dilarang karena masjid adalah tempat yang tidak diperbolehkan terdapat kotoran dan najis. Masjid adalah tempat untuk berdzikir kepada Allah dan melaksanakan shalat. Sehingga dengan demikian, orang badui yang sebelumnya belum tahu, akhirnya menjadi tahu.

10. Hendaklah setiap orang tatkala berinteraksi dengan lainnya, dia menyikapinya sesuai dengan keadaannya. Orang badui ini bukanlah penduduk Madinah. Jika penduduk Madinah yang melakukan demikian tentu Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan menyikapinya berbeda. Akan tetapi Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyikapi orang ini sesuai dengan keadaannya yang jahil dan kurang paham agama.

[Dinukil faedah di atas dari Fath Dzi Al-Jalali wa Al-Ikram Syarh Bulugh Al-Maram , 1:117-120]

Dakwah dengan Hikmah

Allah Ta’ala berfirman,

ﺍﺩْﻉُ ﺇِﻟَﻰ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺭَﺑِّﻚَ ﺑِﺎﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻮْﻋِﻈَﺔِ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ﻭَﺟَﺎﺩِﻟْﻬُﻢْ ﺑِﺎﻟَّﺘِﻲ ﻫِﻲَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ

“ Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Contoh hikmah dalam berdakwah

1. Meninggalkan perkara yang tidak membawa mudarat ketika ditinggalkan, seperti mengimami shalat dengan mengeraskan basmalah.

2. Mengambil pendapat yang sesuai dengan masyarakat selama tidak bertentangan dengan dalil.

3. Mengingatkan yang lain, tidak perlu menyebut nama langsung.

4. Menghindari penampilan eksklusif.

5. Pandai bersosialisasi dan menarik hati (ta’liful qulub ).

6. Kenek iwake, aja nganti buthek banyune.

Hadits #02

Menyikapi dengan Santun

ﻋَﻦْ ﻣُﻌَﺎﻭِﻳَﺔَ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﺤَﻜَﻢِ ﺍﻟﺴُّﻠَﻤِﻰِّ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻴْﻨَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺃُﺻَﻠِّﻰ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺇِﺫْ ﻋَﻄَﺲَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻳَﺮْﺣَﻤُﻚَ ﺍﻟﻠَّﻪُ . ﻓَﺮَﻣَﺎﻧِﻰ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡُ ﺑِﺄَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻭَﺍﺛُﻜْﻞَ ﺃُﻣِّﻴَﺎﻩْ ﻣَﺎ ﺷَﺄْﻧُﻜُﻢْ ﺗَﻨْﻈُﺮُﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰَّ . ﻓَﺠَﻌَﻠُﻮﺍ ﻳَﻀْﺮِﺑُﻮﻥَ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻬِﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻓْﺨَﺎﺫِﻫِﻢْ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻬُﻢْ ﻳُﺼَﻤِّﺘُﻮﻧَﻨِﻰ ﻟَﻜِﻨِّﻰ ﺳَﻜَﺖُّ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺻَﻠَّﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓَﺒِﺄَﺑِﻰ ﻫُﻮَ ﻭَﺃُﻣِّﻰ ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻣُﻌَﻠِّﻤًﺎ ﻗَﺒْﻠَﻪُ ﻭَﻻَ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺗَﻌْﻠِﻴﻤًﺎ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻮَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻛَﻬَﺮَﻧِﻰ ﻭَﻻَ ﺿَﺮَﺑَﻨِﻰ ﻭَﻻَ ﺷَﺘَﻤَﻨِﻰ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺇِﻥَّ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻻَ ﻳَﺼْﻠُﺢُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺷَﻰْﺀٌ ﻣِﻦْ ﻛَﻼَﻡِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺘَّﺴْﺒِﻴﺢُ ﻭَﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮُ ﻭَﻗِﺮَﺍﺀَﺓُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ‏»

Dari Mu’awiyah bin Hakam As-Sulamiy radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, “Aku ketika itu shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ada seseorang yang bersin dan ketika itu aku menjawab ‘ yarhamukallah’ (semoga Allah merahmatimu). Lantas orang-orang memalingkan pandangan kepadaku. Aku berkata ketika itu, “Aduh, celakalah ibuku! Mengapa Anda semua memandangku seperti itu?” Mereka bahkan menepukkan tangan mereka pada paha mereka. Setelah itu barulah aku tahu bahwa mereka menyuruhku diam. Lalu aku diam. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu (ungkapan sumpah Arab), aku belum pernah bertemu seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah! Beliau tidak menghardikku, tidak memukul, dan tidak memakiku. Beliau bersabda saat itu, ‘Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca Al-Qur’an .’” (HR. Muslim, no. 537)

Faedah Hadits:

1. Tetap menegur yang salah.

2. Mengingatkan orang yang salah tidak mesti dengan menghardik, mencaci atau memukul.

3. Perlu kesantunan dalam berdakwah.

4. Dalam shalat tidak boleh ada percakapan manusia, termasuk pula doa berupa bahasa non-Arab dalam shalat.

5. Mengucapkan alhamdulillah ketika bersin dibolehkan.

6. Diajarkan adab saat bersin.

Boleh Mengucapkan “Alhamdulillah” Saat Bersin dalam Shalat

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya, “Jika seseorang bersin dalam shalat, apakah ia boleh memuji Allah (dengan ucapkan Alhamdulillah, pen), baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah?”

Jawab beliau rahimahullah , “Iya. Disyari’atkan baginya untuk mengucapkan “Alhamdulillah” karena telah terdapat dalam hadits yang shahih bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang mengucapkan “Alhamdulillah” setelah ia bersin dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mengingkari perbuatannya. Bahkan Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sungguh aku melihat seperti ini dan seperti ini, yaitu seluruh malaikat berada di belakangnya dan mencatat amalannya.” Karena ucapan Alhamdulillah adalah bagian dari dzikir dan sama sekali tidak mencacati shalat.”

Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa wa Maqoolaat Mutanawwi’ah , Darul Ifta’, Cetakan pertama, Tahun 1425 H.

Berdoa Bahasa Non-Arab dalam Shalat

Salah seorang ulama Syafi’iyah, Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbini rahimahullah berkata,

ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْﺨِﻠَﺎﻑَ ﺍﻟْﻤَﺬْﻛُﻮﺭَ ﻣَﺤَﻠُّﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺄْﺛُﻮﺭِ . ﺃَﻣَّﺎ ﻏَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻤَﺄْﺛُﻮﺭِ ﺑِﺄَﻥْ ﺍﺧْﺘَﺮَﻉَ ﺩُﻋَﺎﺀً ﺃَﻭْ ﺫِﻛْﺮًﺍ ﺑِﺎﻟْﻌَﺠَﻤِﻴَّﺔِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﻛَﻤَﺎ ﻧَﻘَﻠَﻪُ ﺍﻟﺮَّﺍﻓِﻌِﻲُّ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡِ ﺗَﺼْﺮِﻳﺤًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ، ﻭَﺍﻗْﺘَﺼَﺮَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﻭْﺿَﺔِ ﻭَﺇِﺷْﻌَﺎﺭًﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻴَﺔِ ، ﻭَﺗَﺒْﻄُﻞُ ﺑِﻪِ ﺻَﻠَﺎﺗُﻪُ .

“Perbedaan pendapat yang terjadi adalah pada doa ma’tsur. Adapun doa yang tidak ma’tsur (tidak berasal dalil dari Al Quran dan As-Sunnah), maka tidak boleh doa atau dzikir tersebut dibuat-buat dengan selain bahasa Arab lalu dibaca di dalam shalat. Seperti itu tidak dibolehkan sebagaimana dinukilkan oleh Ar-Rofi’i dari Imam Syafi’i sebagai penegasan dari yang pertama. Sedangkan dalam kitab Ar-Roudhoh diringkas untuk yang kedua. Juga membaca doa seperti itu dengan selain bahasa Arab mengakibatkan shalatnya batal.” (Mughni Al-Muhtaj , 1:273).

Hadits Tentang Adab Bersin

Adapun mengenai bersin, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bagaimana seseorang yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah agar membalas pujian tersebut. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻋَﻄَﺲَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓَﻠْﻴَﻘُﻞْ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻟْﻴَﻘُﻞْ ﻟَﻪُ ﺃَﺧُﻮﻩُ ﺃَﻭْ ﺻَﺎﺣِﺒُﻪُ ﻳَﺮْﺣَﻤُﻚَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﻳَﺮْﺣَﻤُﻚَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻠْﻴَﻘُﻞْ ﻳَﻬْﺪِﻳﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻳُﺼْﻠِﺢُ ﺑَﺎﻟَﻜُﻢْ

“ Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, “alhamdulillah” sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, “yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya berkata ‘yarhamukallah’ maka hendaknya dia berkata, “yahdikumullah wa yushlih baalakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu) .” (HR. Bukhari, no. 6224 dan Muslim, no. 5033)

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻋَﻄَﺲَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓَﺤَﻤِﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺸَﻤِّﺘُﻮﻩُ ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﻤَﺪْ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﻠَﺎ ﺗُﺸَﻤِّﺘُﻮﻩُ

“ Bila salah seorang dari kalian bersin lalu memuji Allah maka tasymitlah dia. Tapi bila dia tidak memuji Allah, maka jangan kamu tasymit dia. ” (HR. Muslim, no. 2992). Tasymit adalah mengucapkan ‘ yarhamukallah’ .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , ia berkata,

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﺇِﺫَﺍ ﻋَﻄَﺲَ ﻏَﻄَّﻰ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺃَﻭْ ﺑِﺜَﻮْﺑِﻪِ ﻭَﻏَﺾَّ ﺑِﻬَﺎ ﺻَﻮْﺗَﻪُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.” (HR. Abu Daud no. 5029, At-Tirmizi no. 2745, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4755)

Hadits #03

Menegur yang Salah dengan Tetap Mendoakan

Dalam riwayat Abu Daud disebutkan bahwa Abu Bakrah ruku’ sebelum masuk shaf, kemudian ia berjalan menuju shaf. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau berkata, “Siapa di antara kalian yang tadi ruku’ sebelum masuk shaf lalu ia berjalan menuju shaf?” Abu Bakrah mengatakan, “Saya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺯَﺍﺩَﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺣِﺮْﺻًﺎ ﻭَﻻَ ﺗَﻌُﺪْ

“ Semoga Allah memberikan terus semangat padamu. Namun seperti itu jangan diulangi .” (HR. Abu Daud, no. 684. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Faedah Hadits:

1. Tetap ada amar ma’ruf nahi mungkar.

2. Menegur yang salah dengan tetap mendoakan akan lebih membekas dan berpengaruh.

3. Mendapatkan ruku’ mendapatkan satu raka’at, meskipun tidak mendapatkan Al-Fatihah bersama imam.

Masalah Mendapatkan Ruku’ Mendapatkan Satu Raka’at

Mendapatkan ruku’ sebelum imam bangkit berarti telah mendapatkan satu raka’at sebagaimana hal ini menjadi pendapat jumhur ulama. Hal ini berdasarkan hadits Abu Bakrah, ketika ia mendapatkan jama’ah dalam keadaan ruku’, ia melakukan ruku’ dari sebelum masuk dalam shaf. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diceritakan hal tersebut dan beliau berkata,

ﺯَﺍﺩَﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺣِﺮْﺻًﺎ ﻭَﻻَ ﺗَﻌُﺪْ

“ Semoga Allah memberikan terus semangat padamu. Namun seperti itu jangan diulangi .” (HR. Bukhari, no. 783).

Juga dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﺟِﺌْﺘُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﺳُﺠُﻮﺩٌ ﻓَﺎﺳْﺠُﺪُﻭﺍ ﻭَﻻَ ﺗَﻌُﺪُّﻭﻫَﺎ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺔَ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ

“ Jika salah seorang di antara kalian pergi shalat dan kami sedang sujud, maka ikutlah sujud. Namun tidak dianggap sama sekali mendapat satu raka’at. Siapa yang mendapatkan satu raka’at, maka berarti ia mendapati shalat .” (HR. Abu Daud, no. 893; Ad-Daruquthni, 132; Al-Hakim, 1:216. Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil, no. 496 mengatakan bahwa hadits ini shahih ).

Hadits #04

Skala Prioritas dalam Berdakwah

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻧَﺰَﻝَ ﺃَﻭَّﻝَ ﻣَﺎ ﻧَﺰَﻝَ ﻣِﻨْﻪُ ﺳُﻮﺭَﺓٌ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤُﻔَﺼَّﻞِ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺫِﻛْﺮُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺛَﺎﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻧَﺰَﻝَ ﺍﻟْﺤَﻠَﺎﻝُ ﻭَﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡُ ﻭَﻟَﻮْ ﻧَﺰَﻝَ ﺃَﻭَّﻝَ ﺷَﻲْﺀٍ ﻟَﺎ ﺗَﺸْﺮَﺑُﻮﺍ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮَ ﻟَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﺎ ﻧَﺪَﻉُ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮَ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﻭَﻟَﻮْ ﻧَﺰَﻝَ ﻟَﺎ ﺗَﺰْﻧُﻮﺍ ﻟَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﺎ ﻧَﺪَﻉُ ﺍﻟﺰِّﻧَﺎ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﻟَﻘَﺪْ ﻧَﺰَﻝَ ﺑِﻤَﻜَّﺔَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺇِﻧِّﻲ ﻟَﺠَﺎﺭِﻳَﺔٌ ﺃَﻟْﻌَﺐُ ﺑَﻞْ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﻣَﻮْﻋِﺪُﻫُﻢْ ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﺃَﺩْﻫَﻰ ﻭَﺃَﻣَﺮُّ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﺳُﻮﺭَﺓُ ﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓِ ﻭَﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ

“ Sesungguhnya yang pertama kali turun darinya ialah satu surat dari Al-Mufashshal (surat-surat pendek) yang berisi penjelasan tentang surga dan neraka; sehingga apabila manusia telah mantap dalam Islam, maka turunlah (ayat-ayat tentang) halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun (kepada mereka) adalah “jangan minum khamr (minuman keras),” tentu mereka akan menjawab “kami tidak akan meninggalkan khamr selama-lamanya”. Seandainya yang pertama turun adalah “jangan berzina,” tentu mereka akan menjawab “kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya”. Sesungguhnya telah turun firman Allah “sebenarnya hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka, dan Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit”–QS. Al-Qamar ayat 46–di Mekkah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pada waktu itu aku masih kecil yang senang bermain-main. Surat Al-Baqarah dan An-Nisa` barulah turun setelah aku menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 4993).

Faedah Hadits:

1. Masalah akidah lebih diprioritaskan untuk didakwahkan daripada lainnya.

2. Masalah halal-haram lebih mudah diterima kalau akidah kuat.

3. Di antara pembahasan akidah adalah mengingatkan surga dan neraka.

4. Surat tentang penguatan iman lebih awal turun daripada ayat-ayat yang kaitanya dengan hukum.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

ﻟَﻤَّﺎ ﺑَﻌَﺚَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻣُﻌَﺎﺫًﺍ ﻧَﺤْﻮَ ﺍﻟْﻴَﻤَﻦِ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ‏« ﺇِﻧَّﻚَ ﺗَﻘْﺪَﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻓَﻠْﻴَﻜُﻦْ ﺃَﻭَّﻝَ ﻣَﺎ ﺗَﺪْﻋُﻮﻫُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﻳُﻮَﺣِّﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻋَﺮَﻓُﻮﺍ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄَﺧْﺒِﺮْﻫُﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺮَﺽَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺧَﻤْﺲَ ﺻَﻠَﻮَﺍﺕٍ ﻓِﻰ ﻳَﻮْﻣِﻬِﻢْ ﻭَﻟَﻴْﻠَﺘِﻬِﻢْ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻓَﺄَﺧْﺒِﺮْﻫُﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺯَﻛَﺎﺓً ﻓِﻰ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ ﺗُﺆْﺧَﺬُ ﻣِﻦْ ﻏَﻨِﻴِّﻬِﻢْ ﻓَﺘُﺮَﺩُّ ﻋَﻠَﻰ ﻓَﻘِﻴﺮِﻫِﻢْ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﻗَﺮُّﻭﺍ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﺨُﺬْ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺗَﻮَﻕَّ ﻛَﺮَﺍﺋِﻢَ ﺃَﻣْﻮَﺍﻝِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ‏»

“ Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka milik i.” (HR. Bukhari, no. 7372 dan Muslim no. 19).

Hadits #05

Jangan Sampai Buat Orang Jenuh

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻭَﺍﺋِﻞِ ﻗَﺎﻝَ : ﻛﺎَﻥَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠﻪ ﻳُﺬَﻛِّﺮُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺧَﻤِﻴﺲٍ , ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺭَﺟُﻞُ : ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﻟَﻮَﺩِﺩْﺕُ ﺃَﻧَّﻚَ ﺫَﻛَّﺮْﺗَﻨَﺎ ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡِ ”. ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻣَﺎ ﺇِﻧَّﻪُ ﻳَﻤْﻨَﻌُﻨِﻲ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﻧِّﻲ ﺃَﻛْﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﺃُﻣِﻠَّﻜُﻢْ ﻭَﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺗَﺨَﻮَّﻟُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﻤَﻮْﻋِﻈَﺔِ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻳَﺘَﺨَﻮَّﻟُﻨَﺎ ﺑِﻬَﺎ ﻣَﺨَﺎﻓَﺔَ ﺍﻟﺴَّﺂﻣَﺔِ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ

Dari Abu Wa’il yang berkata bahwa Abdullah memberi pelajaran kepada orang – orang setiap hari Kamis, kemudian seseorang berkata, “Wahai Abu Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), aku ingin engkau memberi pelajaran kepada kami setiap hari.” Dia menjawab, “Sungguh, aku tidak mau melakukan nya karena takut membuat kalian bosan. Aku ingin memperhatikan kalian saat memberi pelajaran sebagaimana Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memperhatikan kami karena khawatir kami jenuh dan bosan.” (HR. Bukhari, no. 70)

Faedah Hadits:

1. Boleh mengkhususkan waktu kajian pada hari tertentu.

2. Hendaklah memilih waktu terbaik dalam memberi nasihat.

3. Jangan sampai membuat jamaah menjadi bosan dan jenuh lantaran nasihat.

4. Futur (masa tidak semangat) adalah suatu yang wajar asalkan tidak keluar dari koridor ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Mujahid, ia berkata, aku dan Yahya bin Ja’dah pernah menemui salah seorang Anshar yang merupakan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, para sahabat Rasul membicarakan bekas budak milik Bani ‘Abdul Muthallib. Ia berkata bahwa ia biasa shalat malam (tanpa tidur) dan biasa berpuasa (setiap hari tanpa ada waktu luang untuk tidak puasa). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

ﻟَﻜِﻨِّﻰ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻧَﺎﻡُ ﻭَﺃُﺻَﻠِّﻰ ﻭَﺃَﺻُﻮﻡُ ﻭَﺃُﻓْﻄِﺮُ ﻓَﻤَﻦِ ﺍﻗْﺘَﺪَﻯ ﺑِﻰ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨِّﻰ ﻭَﻣَﻦْ ﺭَﻏِﺐَ ﻋَﻦْ ﺳُﻨَّﺘِﻰ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨِّﻰ ﺇِﻥَّ ﻟِﻜُﻞِّ ﻋَﻤَﻞٍ ﺷِﺮَّﺓً ﺛُﻢَّ ﻓَﺘْﺮَﺓً ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻓَﺘْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺿَﻞَّ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻓَﺘْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺳُﻨَّﺔٍ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﻫْﺘَﺪَﻯ

“ Akan tetapi aku tidur dan aku shalat malam. Aku pun puasa, namun ada waktu bagiku untuk tidak berpuasa. Siapa yang mencontohiku, maka ia termasuk golonganku. Siapa yang benci terhadap ajaranku, maka ia bukan termasuk golonganku. Setiap amal itu ada masa semangat dan ada masa malasnya. Siapa yang rasa malasnya malah menjerumuskan pada bid’ah, maka ia sungguh telah sesat. Namun siapa yang rasa malasnya masih di atas ajaran Rasul, maka dialah yang mendapat petunjuk .” (HR. Ahmad, 5:409)

Hadits #06

Tak Putus Asa Mendakwahi Orang Terdekat

Dari Abu Kasir, Yazid bin Abdurrahman, Abu Hurairah bercerita kepadaku, “Dulu aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam ketika dia masih musyrik. Suatu hari aku mendakwahinya namun dia malah memperdengarkan kepadaku cacian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tentu merupakan kalimat-kalimat yang tidak kusukai untuk kudengar. Akhirnya aku pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menangis. Ketika telah berada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam aku berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku berusaha untuk mendakwahi ibuku agar masuk Islam namun dia masih saja menolak ajakanku. Hari ini kembali beliau aku dakwahi namun dia malah mencaci dirimu. Oleh karena itu berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah.” Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu dari Abu Hurairah.”

Kutinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan gembira karena Nabi mau mendoakan ibuku. Setelah aku sampai di depan pintu rumahku ternyata pintu dalam kondisi terkunci. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, beliau mengatakan, “Tetaplah di tempatmu, hai Abu Hurairah”. Aku mendengar suara guyuran air. Ternyata ibuku mandi. Setelah selesai mandi beliau memakai jubahnya dan segera mengambil kerudungnya lantas membukakan pintu. Setelah pintu terbuka beliau mengatakan, “Hai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusannya.”

Mendengar hal tersebut aku bergegas kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku menemui beliau dalam keadaan menangis karena begitu gembira. Kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, bergembiralah. Sungguh Allah telah mengabulkan doamu dan telah memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah.” Mendengar hal tersebut beliau memuji Allah dan menyanjungnya lalu berkata, “Bagus.” Lantas kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, doakanlah aku dan ibuku agar menjadi orang yang dicintai oleh semua orang yang beriman dan menjadikan kami orang yang mencintai semua orang yang beriman.” Beliau pun mengabulkan permintaanku. Beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini yaitu Abu Hurairah dan ibunya orang yang dicintai oleh semua hambaMu yang beriman dan jadikanlah mereka berdua orang-orang yang mencintai semua orang yang beriman”. Karena itu tidak ada seorang pun mukmin yang mendengar tentang diriku ataupun melihat diriku kecuali akan mencintaiku. (HR Muslim, no. 6551)

Faedah Hadits:

1. Dakwah penting juga pada keluarga terdekat.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﺃَﻧْﺬِﺭْ ﻋَﺸِﻴﺮَﺗَﻚَ ﺍﻟْﺄَﻗْﺮَﺑِﻴﻦَ

“ Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat .” (QS. Asy-Syu’araa: 214)

2. Dakwah kadang mendapatkan cacian bahkan dari keluarga dekat.

3. Perlu sabar dalam menyampaikan dakwah.

4. Tetap berdakwah kepada keluarga non-muslim.

5. Boleh tawassul dengan meminta doa pada orang shalih yang masih hidup.

6. Keutamaan Abu Hurairah dan doa baik Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam padanya, begitu pula doa baik untuk ibunya dari beliau.

7. Tak boleh putus asa dalam berdakwah, suatu saat nanti akan terbuka pintu hidayah.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

40 Kaedah ushul fiqh

QOWA’ID AL-FIQH

Sabda Rasulullah SAW. :

” ﺍﻧﻤﺎ ﺍﻻﻋﻤﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﻴﺎﺕ ﻭﺍﻧﻤﺎ ﻟﻜﻞ ﺍﻣﺮﺉ ﻣﺎ ﻧﻮﻯ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ

:Artinya

“Segala sesuatu tergantung pada niatnya, dan apa yang didapatkan ialah apa yang telah diniatkan.” (HR. Bukhari).

Kaidah ke-1

ﺍﻻﻣﻮﺭ ﺑﻤﻘﺎﺻﺪﻫﺎ

Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.

Contoh kaidah:

Diwajibkannya niat dalam berwudhu, mandi, shalat dan puasa.

Penggunaan kata kiasan (kinayah) dalam talak. Seperti ucapann seorang suami kepada istrinya: ﺍﻧﺖ ﺧﺎﻟﻴﺔ (engkau adalah wanita yang terasing). Jika suami bertujuan menceraikan dengan ucapannya tersebut, maka jatuhlah talak kepada istrinya, namun jika ia tidak berniat menceraikan maka tidak jatuh talak-nya.

Kaidah ke-2

ﻣﺎ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺘﻌﻴﻦ ﻓﺎﻟﺨﻄﺄ ﻓﻴﻪ ﻣﺒﻄﻞ

Sesuatu yang memerlukan penjelasan, maka kesalahan dalam memberikan penjelasan menyebabkan batal. Contoh :kaidah

Seseorang yang melakukan shalat dhuhur dengan niat ‘ashar atau sebaliknya, maka shalatnya tersebut tidak sah.

Kesalahan dalam menjelaskan pembayaran tebusan (kafarat) zhihar kepada kafarat qatl (pembunuhan).

Kaidah ke-3

ﻣﺎ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﺍﻟﺘﻌﺮﺽ ﻟﻪ ﺧﻤﻠﺔ ﻭﻻ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﺗﻌﻴﻴﻨﻪ ﺗﻔﺼﻴﻼ ﺍﺫﺍ ﻋﻴﻨﻪ ﻭﺍﺧﻄﺄ ﺿﺮَّ

Sesuatu yang memerlukan penjelasan secara global dan tidak memerlukan penjelasan secara rinci, maka ketika kesalahan dalam penjelasan secara rinci membahayakan .

Contoh kaidah :

Seseorang yang bernama Gandung S.P. Towo niat berjamaah kepada seorang imam bernama mbah Arief. Kemudian, ternyata bahwa yang menjadi imam bukanlah mbah Arief tapi orang lain yang mempunyai panggilan Seger (Khoirul Mustamsikin), maka shalat Gandung tidak sah karena ia telah berniat makmum dengan mbah Arief yang berarti telah menafikan mengikuti Seger. Perlu diketahui, bahwa dalam shalat berjamah hanya disyaratkan niat berjamaah tanpa adanya kewajiban menentukan siapa imamnya.

Kaidah ke-4

ﻣﺎ ﻻ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﺍﻟﺘﻌﺮﺽ ﻟﻪ ﺧﻤﻠﺔ ﻭﻻ ﺗﻔﺼﻴﻼ ﺍﺫﺍ ﻋﻴﻨﻪ ﻭﺍﺧﻄﺄ ﻟﻢ ﻳﻀﺮ

Sesuatu yang tidak disyaratkan penjelasannya secara global maupun terperinci ketika dita’yin dan salah maka statusnya tidaklah membahayakan .

Contoh kaidah :

Kesalahan dalam menentukan tempat shalat. Seperti mbah Muntaha (pengelolah kantin Asyiq) niat shalat di Kemranggen Bruno Purworejo, padahal saat itu dia berada di Simpar (suatu daerah yang di Kecamatan Kalibawang Wonosobo). Maka shalat mbah Muntaha tidak batal karena sudah adanya niat. sedangkan menentukan tempat shalat tidak ada hubungannya dengan niat baik secara globlal atau terperinci (tafshil).

Kaidah ke-5

ﻣﻘﺎﺻﺪ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﻋﻠﻰ ﻧﻴﺔ ﺍﻟﻼﻓﻆ

Maksud sebuah ucapan tergantung pada niat yang .mengucapkan

Contoh kaidah :

Temon adalah seorang pria perkasa (berasal dari daerah Babadsari Kutowinangun Kebumen). Teman kita yang satu ini konon katanya mempunyai seorang istri bernama Tholiq dan seorang budak perempuan bernama Hurrah. Suatu saat, Temon berkata; Yaa Tholiq, atau Yaa Hurrah. Jika dalam ucapan “Yaa Tholiq” Temon bermaksud menceraikan istrinya, maka jatuhlah talak kepada istrinya, namun jika hanya bertujuan memanggil nama istrinya, maka tidak jatuh talaknya. Begitu juga dengan ucapan “Yaa Hurrah” kepada budaknya jika Temon bertujuan memerdekakan, maka budak perempuan itu menjadi perempuan merdeka. Sebaliknya jika ia hanya bertujuan memanggil namanya, maka tidak menjadi merdeka.

Menambahkan lafal masyiah (insya Allah) dalam niat shalat dengan tujuan menggantungkan shalatnya kepada kehendak Allah SWT. maka batal shalatnya. Namun apabila hanya berniat tabarru’ maka tidak batal shalatnya, atau dengan menambahkan masyiah dengan tanpa adanya tujuan apapun, maka menurut pendapat yang sahih, shalatnya menjadi batal.

Kaidah ke-6

ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ﻻ ﻳﺰﺍﻝ ﺑﺎﻟﺸﻚ

Keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keraguan .

Contoh kaidah :

Seorang bernama Doel Fatah ragu, apakah baru tiga atau sudah empat rakaat shalatnya? maka, Doel Fatah harus menetapkan yang tiga rakaat karena itulah yang diyakini.

Santri bernama Maid baru saja mengambil air wudhu di kolam depan komplek A PP. Putra An-Nawawi. Kemudian timbul keraguan dalam hatinya; “batal durung yo..? kayane aku nembe demek…” maka hukum thaharah-nya tidak hilang disebabkan keraguan yang muncul kemudian.

seseorang meyakini telah berhadats dan kemudian ragu apakah sudah bersuci atau belum, maka orang tersebut masih belum suci (muhdits).

Dibawah ini ialah kaidah yang esensinya senada dengan kaidah di atas:

ﻣﺎ ﺛﺒﺖ ﺑﻴﻘﻴﻦ ﻻ ﻳﺮﺗﻔﻊ ﺍﻻ ﺑﻴﻘﻴﻦ

Sesuatu yang tetap dengan keyakinan, maka tidak bisa dihilangkan kecuali dengan adanya keyakinan yang lain .

Kaidah ke-7

ﺍﻻﺻﻞ ﺑﻘﺎﺀ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ

Pada dasarnya ketetapan suatu perkara tergantung pada keberadaannya semula .

Contoh kaidah :

Seseorang yang makan sahur dipenghujung malam dan ragu akan keluarnya fajar maka puasa orang tersebut hukumnya sah. Karena pada dasarnya masih tetap malam (al-aslu baqa-u al-lail).

Seseorang yang makan (berbuka) pada penghujung siang tanpa berijtihad terlebih dahulu dan kemudian ragu apakah matahari telah terbenam atau belum, maka puasanya batal. Karena asalnya adalah tetapnya siang (al-ashl baqa-u al-nahr).

Kaidah ke-8

ﺍﻻﺻﻞ ﺑﺮﺍﺓ ﺍﻟﺬﻣﺔ

hukum asal adalah tidak adanya tanggungan .

Contoh kaidah:

Seorang yang didakwa (mudda’a ‘alaih)melakukan suatu perbuatan bersumpah bahwa ia tidak melakukan perbuatan tersebut. Maka ia tidak dapat dikenai hukuman, karena pada dasarnya ia terbebas dari segala beban dan tanggung jawab. Permasalahan kemudian dikembalikan kepada yang mendakwa (mudda’i).

Kaidah ke-9

ﺍﻻﺻﻞ ﺍﻟﻌﺪﻡ

Hukum asal adalah ketiadaan

Contoh kaidah :

Kang Khumaidi mengadakan kerjasama bagi hasil (mudharabah) dengan Bos Fahmi. Dalam kerjasama ini Kang Khumaidi bertindak sebagai pengelola usaha (al-‘amil), sedangkan Bos Fahmi adalah pemodal atau investornya. Pada saat akhir perjanjian, Kang Khumaidi melaporkan kepada Bos Fahmi bahwa usahanya tidak mendapat untung. Hal ini diingkari Bos Fahmi. Dalam kasus ini, maka yang dibenarkan adalah ucapan orang Bruna yang bernama Kang Khumaidi, karena pada dasarnya memang tidak adanya tambahan (laba).

Tidak diperbolehkannya melarang seseorang untuk membeli sesuatu. Karena pada dasarnya tidak adanya larangan (dalam muamalah).

Kaidah ke-10

ﺍﻻﺻﻞ ﻓﻰ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﺗﻘﺪﻳﺮﻩ ﺑﺎﻗﺮﺏ ﺯﻣﻨﻪ

Asal segala sesuatu diperkirakan dengan yang lebih dekat .zamannya

Contoh kaidah :

Mungkin karena kesal dengan seseorang wanita hamil yang kebetulan juga cerewet, maka tanpa pikir panjang Ipin -cah Jiwan Wonosobo- memukul perut si wanita hamil tersebut. Selang beberapa waktu si wanita melahirkan seorang bayi dalam keadaan sehat. Kemudian tanpa diduga-duga, entah karena apa si jabang bayi yang imut yang baru beberapa hari dilahirkan mendadak saja mati. Dalam kasus ini, Ipin tidak dikenai tanggungan (dhaman) karena kematian jabang bayi tersebut adalah disebabkan faktor lain yang masanya lebih dekat dibanding pemukulan Ipin terhadap wanita tersebut.

Seorang santri kelas II MDU bernama Soekabul alias Kabul Khan ditanya oleh teman sekamarnya; “Kang Kabul, aku melihat sperma di bajuku, tapi aku tidak ingat kapan aku mimpi basah. Gimana solusinya, Kang?”. Dengan PD-nya, karena baru saja menemukan kaidah “al-aslu fi kulli wahidin taqdiruhu bi-aqrobi zamanihi” saat muthala’ah Kitab Mabadi’ Awwaliyah, santri yang demen banget lagu-lagu Hindia ini spontan menjawab; “Siro -red: kamu- wajib mandi besar dan mengulang shalat mulai sejak terakhir kamu bangun tidur sampai sekarang.”

Kaidah ke-11

ﺍﻟﻤﺸﻘﺔ ﺗﺠﻠﺐ ﺍﻟﺘﻴﺴﺮ

Kesulitan akan menarik kepada kemudahan .

Contoh kaidah :

Seorang bernama Godril yang sedang sakit parah merasa kesulitan untuk berdiri ketika shalat fardhu, maka ia diperbolehkan shalat dengan duduk. Begitu juga ketika ia merasa kesulitan shalat dengan duduk, maka diperbolehkan melakukan shalat dengan tidur terlentang.

Seseorang yang karena sesuatu hal, sakit parah misalnya, merasa kesulitan untuk menggunakan air dalam berwudhu, maka ia diperbolehkan bertayamum.

Pendapat Imam Syafi’i tentang diperbolehkannya seorang wanita yang bepergian tanpa didampingi wali untuk menyerahkan perkaranya kepada laki-laki lain”.

Kaidah yang semakna dengan kaidah di atas, antara lain:

Perkataan Imam al-Syafi’i:

ﺍﻻﻣﺮ ﺍﺫﺍ ﺿﺎﻕ ﺍﺗﺴﻊ

Sesuatu, ketika sulit, maka hukumnya menjadi luas (ringan ‏) .

Perkataan sebagian ulama:

ﺍﻻﺷﻴﺎﺀ ﺍﺫﺍ ﺿﺎﻗﺖ ﺍﺗﺴﻊ

Ketika keadaan menjadisempit maka hukumnya menjadi .luas

Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 185.

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

KERINGANAN HUKUM SYARA’

Keringanan hukum syara’ (takhfifat al-syar’i), meliputi 7 macam, yaitu:

Takhfif Isqat, yaitu keringanan dengan menggugurkan. Seperti menggugurkan kewajiban menunaikan ibadah haji, umrah dan shalat jumat karena adanya ‘uzdur (halangan).

Takhfif Tanqis, yaitu keringanan dengan mengurangi. Seperti diperbolehkannya menqashar shalat.

Takhfif Ibdal, yaitu keringanan dengan mengganti. Seperti mengganti wudhu dan mandi dengan tayammum, berdiri dengan duduk, tidur terlentang dan memberi isyarat dalam shalat dan mengganti puasa dengan memberi makanan.

Takhfif Taqdim, yaitu keringanan dengan mendahulukan waktu pelaksanaan. Seperti dalam shalat jama’ taqdim, mendahulukan zakat sebelum khaul (satu tahun), mendahulukan zakat fitrah sebelum akhir Ramadhan.

Takhfif Takhir, yaitu keringanan dengan mengakhirkan waktu pelaksanaan. Seperti dalam shalat jama’ ta’khir, mengakhirkan puasa Ramadhan bagi yang sakit dan orang dalam perjalanan dan mengakhirkan shalat karena menolong orang yang tenggelam.

Takhfif Tarkhis, yaitu keringanan dengan kemurahan Seperti diperbolehkannya menggunakan khamr (arak) untuk berobat.

Takhfif Taghyir, yaitu keringanan dengan perubahan. Seperti merubah urutan shalat dalam keadaan takut (khauf).

Kaidah ke-12

ﺍﻻﺷﻴﺎﺀ ﺍﺫﺍ ﺍﺗﺴﻊ ﺿﺎﻗﺖ

Sesuatu yang dalam keadaan lapang maka hukumnya menjadi sempit .

Contoh kaidah :

Sedikit gerakan dalam shalat karena adanya gangguan masih ditoleransi, sedangkan banyak bergerak tanpa adanya kebutuhan tidak diperbolehkan.

Dari dua kaidah sebelumnya (kaidah ke-11 dan ke-12) Al-Gazali membuat sintesa (perpaduan) menjadi satu kaidah berikut ini:

ﻛﻞ ﻣﺎ ﺗﺠﻮﺯ ﺣﺪﻩ ﺍﻧﻌﻜﺲ ﺍﻟﻰ ﺿﺪﻩ

Setiap sesuatu yang melampaui batas kewajaran memiliki hukum sebaliknya .

Kaidah ke-13

ﺍﻟﻀﺮﺭ ﻳﺰﺍﻝ

Bahaya harus dihilangkan .

Contoh kaidah:

Diperbolehkan bagi seorang pembeli memilih (khiyar) karena adanya ‘aib (cacat) pada barang yang dijual.

Diperbolehkannya merusak pernikahan (faskh al-nikah) bagi laki-laki dan perempuan karena adanya ‘aib.

Kaidah ke-14

ﺍﻟﻀﺮﺭﻻ ﻳﺰﺍﻝ ﺑﺎﻟﻀﺮﺭ

Bahaya tidak dapat dihilangkan dengan bahaya lainnya .

Contoh kaidah:

Mbah Yoto dan Lutfi adalah dua orang yang sedang kelaparan, keduanya sangat membutuhkan makanan untuk meneruskan nafasnya. Mbah Yoto, saking tidak tahannya menahan lapar nekat mengambil getuk Asminah (asli produk gintungan) kepunyaan Lutfi yang kebetulan dibeli sebelumnya di warung Syarof CS. Tindakan mbah Yoto -walaupun dalam keadaan yang sangat menghawatirkan baginya- tidak bisa dibenarkan karena Lutfi juga mengalami nasib yang sama dengannya, yaitu kelaparan.

Kaidah ke-15

ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺍﺕ ﺗﺒﻴﺢ ﺍﻟﻤﺤﻈﻮﺭﺍﺕ

Kondisi darurat memperbolehkan sesuatu yang semula .dilarang

Contoh kaidah:

Ketika dalam perjalan dari Sumatra ke pondok pesantren An-Nawawi, ditengah-tengah hutan Kasyfurrahman alias Rahman dihadang oleh segerombolan begal, semua bekal Rahman ludes dirampas oleh mereka yang tak berperasaan -sayangnya Rahman tidak bisa seperti syekh Abdul Qadir al-Jailany yang bisa menyadarkan para begal- karenanya mereka pergi tanpa memperdulikan nasib Rahman nantinya, lama-kelamaan Rahman merasa kelaparan dan dia tidak bisa membeli makanan karena bekalnya sudah tidak ada lagi, tiba-tiba tampak dihadapan Rahman seekor babi dengan bergeleng-geleng dan menggerak-gerakkan ekornya seakan-akan mengejek si-Rahman yang sedang kelaparan tersebut. Namun malang juga nasib si babi hutan itu. Rahman bertindak sigap dengan melempar babi tersebut dengan sebatang kayu runcing yang dipegangnya. Kemudian tanpa pikir panjang, Rahman langsung menguliti babi tersebut dan kemudian makan dagingnya untuk sekedar mengobati rasa lapar. Tindakan Rahman memakan daging babi dalam kondisi kelaparan tersebut diperbolehkan. Karena kondisi darurat memperbolehkan sesuatu yang semula dilarang.

Diperbolehkan melafazdkan kalimat kufur karena terpaksa.

Kaidah lain yang kandungan maknanya sama adalah kaidah berikut:

ﻻ ﺣﺮﺍﻡ ﻣﻊ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ

Tidak ada kata haram dalam kondisi darurat dan tidak ada kata makruh ketika ada hajat

Kaidah ke-16

ﻣﺎ ﺍﺑﻴﺢ ﻟﻠﻀﺮﻭﺭﺓ ﻳﻘﺪﺭ ﺑﻘﺪﺭﻫﺎ

Sesuatu yang diperbolehkan karena keadaan darurat harus disesuaikan dengan kadar daruratnya .

Contoh kaidah:

Dengan melihat contoh pertama pada kaidah sebelumnya, berarti Rahman yang dalam kondisi darurat hanya diperbolehkan memakan daging babi tangkapannya itu sekira cukup untuk menolong dirinya agar bisa terus menghirup udara dunia. selebihnya (melebihi kadar kecukupan dengan ketentuan tersebut) tidak diperbolehkan.

Sulitnya shalat jumat untuk dilakukan pada satu tempat, maka shalat jumat boleh dilaksanakan pada dua tempat. Ketika dua tempat sudah dianggap cukup maka tidak diperbolehkan dilakukan pada tiga tempat.

Kaidah ke-17

ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻗﺪ ﺗﻨﺰﻝ ﻣﻨﺰﻟﺔ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ

Kebutuhan (hajat) terkadang menempati posisi darurat .

Contoh kaidah:

Diperbolehkannya Ji’alah (sayembara berhadiah) dan Hiwalah (pemindahan hutang piutang) karena sudah menjadi kebutuhan umum.

Diperbolehkan memandang wanita selain mahram karena adanya hajat dalam muamalah atau karena khithbah (lamaran).

Kaidah ke-18

ﺍﺫﺍ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﺍﻟﻤﻔﺴﺪﺗﺎﻥ ﺭﻋﻲ ﺍﻋﻈﻤﻬﻤﺎ ﺿﺮﺭﺍ ﺑﺎﺭﺗﻜﺎﺏ ﺍﺧﻔﻬﻤﺎ

Ketika dihadapkan pada dua mafsadah (kerusakan) maka tinggalkanlah mafsadah yang lebih besar dengan mengerjakan yang lebih ringan .

Contoh kaidah:

Diperbolehkannya membedah perut wanita (hamil) yang mati jika bayi yang dikandungnya diharapkan masih hidup.

Tidak perbolehkannya minum khamr dan berjudi karena bahaya yang ditimbulkannya lebih besar daripada manfaat yang bisa kita ambil.

Disyariatkan hukum qishas, had dan menbunuh begal, karena manfaatnya (timbulnya rasa aman bagi masyarakat) lebih besar daripada bahayanya.

Diperbolehkannya seorang yang bernama Junaidi yang kelaparan, padahal ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan, untuk mengambil makanan Eko Setello yang tidak lapar dengan sedikit paksaan.

Kaidah ke-19

ﺩﺭﺀ ﺍﻟﻤﻔﺎﺳﺪ ﻣﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ

Menolak mafsadah (kerusakan) didahulukan daripada mengambil kemaslahatan .

Contoh kaidah:

Berkumur dan mengisap air kedalam hidung ketika berwudhu merupakan sesuatu yang disunatkan, namun dimakruhkan bagi orang yang berpuasa karena untuk menjaga masuknya air yang dapat membatalkan puasanya.

Meresapkan air kesela-sela rambut saat membasuh kepala dalam bersuci merupakan sesuatu yang disunatkan, namun makruh dilakukan oleh orang yang sedang ihram karena untuk menjaga agar rambutnya agar tidak rontok.

Kaidah ke-20

ﺍﻻﺻﻞ ﻓﻰ ﺍﻻﺑﻀﺎﻉ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ

Hukum asal farji adalah haram .

Contoh kaidah:

Ketika seorang perempuan sedang berkumpul dengan beberapa temannya dalam sebuah perkumpulan majlis taklim, maka laki-laki yang menjadi saudara perempuan tersebut dilarang melakukan ijtihad untuk memilih salah satu dari mereka menjadi istrinya. Termasuk dalam persyaratan ijtihad adalah asalnya yang mubah, sehingga oleh karenanya perlu diperkuat dengan ijtihad. Sedangkan dalam situasi itu, dengan jumlah perempuan yang terbatas, dengan mudah dapat diketahui nama saudara perempuannya yang haram dinikahi dan mana yang bukan. Berbeda ketika jumlah perempuan itu banyak dan tidak dapat dihitung, maka terdapat kemurahan, sehingga oleh karenanya, pintu pernikahan tidak tertutup dan pintu terbukanya kesempatan berbuat zina.

Seseorang mewakilkan (al-muwakkil) kepada orang lain untuk membeli jariyah (budak perempuan) dengan menyebut cirri-cirinya. Ternyata, sebelum sempat menyerahkan jariyah yang dibelinya tersebut, orang yang telah mewakili (wakil) tersebut meninggal. Maka sebelum ada penjelasan yang menghalalkan, jariyah itu belum halal bagi muwakkil karena walaupun memiliki cirri-ciri yang disebutkannya, dikhawatirkan wakil membeli jariyah untuk dirinya sendiri.

Allah SWT. berfirman QS. Al-Mukminun (23) 5-7.

Artinya:

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.”

Lebih jelasnya sesuai dengan ayat quran tersebut bahwa seorang budak halal bagi tuannya tetapi berhubung belum ada indikasi yang jelas mengenai kehalalannya sebagaimana contoh di atas maka budak tersebut belum halal bagi muwakkil (orang yang mewakilkan).

Kaidah ke-21

ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻣﺤﻜﻤﺔ

Adat bisa dijadikan sandaran hukum .

Contoh kaidah:

Seseorang menjual sesuatu dengan tanpa menyebutkan mata uang yang dikehendaki, maka berlaku harga dan maat uang yang umum dipakai.

Batasan sedikit, banyak dan umumnya waktu haidh, nifas dan suci bergantung pada kebiasaan (adapt perempuan sendiri).

Kaidah ke-22

ﻣﺎ ﻭﺭﺩ ﺑﻪ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻻ ﺿﺎﺑﻂ ﻟﻪ ﻓﻴﻪ ﻭﻻ ﻓﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﻳﺮﺟﻊ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻌﺮﻑ

Sesuatu yang berlaku mutlak karena syara’ dan tanpa adanya yang membatasi didalamnya dan tidak pula dalam bahasa,maka segala sesuatunya dikembalikan kepada kebiasaan (al-“urf) yang berlaku .

Contoh kaidah :

Niat shalat cukup dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram, yakni dengan menghadirkan hati pada saat niat shalat tersebut.

Terkait dengan kaidah di atas, bahwasanya syara’ telah menentukankan tempat niat di dalam hati, tidak harus dilafalkan dan tidak harus menyebutkan panjang lebar, cukup menghadirkan hati; “aku niat shalat…………rakaaat”. itu sudah di anggap cukup.

Jual beli dengan meletakan uang tanpa adanya ijab qobul, menurut syara’ adalah tidak sah. Dan menjadi sah, kalau hal itu sudah menjadi kebiyasaan.

Kaidah ke-23

ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻻ ﻳﻨﻘﺪ ﺑﺎﻻﺟﺘﻬﺎﺩ

Ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lainnya .

Contoh kaidah:

Apabila dalam menentukan arah kiblat, ijtihad pertama tidak sama dengan ijtihat ke dua, maka digunakan ijtihad ke dua. Sedangkan ijtihad pertama tetap sah sehingga tidak memerlukan pengulangan pada rakaat yang dilakukan dengan ijtihad pertama. Dengan demikian, seseorang mungkin saja melakukan shalat empat rakaat dengan menghadap arah yang berbeda pada setiap rakaatnya.

Ketika seorang hakim berijtihad untuk memutuskan hukum suatu perkara, kemudian ijtihadnya berubah dari ijtihad yang pertama maka ijtihad yang pertama tetap sah (tidak rusak).

Kaidah ke-24

ﺍﻻﺀ ﻳﺜﺎﺭ ﺑﺎﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻣﻤﻨﻮﻉ

Mendahulukan orang lain dalam beribibadah adalah .dilarang

Contoh kaidah:

Mendahulukan orang lain atau menempati shaf awal (barisan depan) dalam shalat.

Mendahulukan orang lain untuk menutup aurat dan menggunakan air wudhu. Artinya, ketika kita hanya memiliki sehelai kain untuk menutup aurat, sedangkan teman kita juga membutuhkannya, maka kita tidak boleh memberikan kain itu kepadanya karena akan menyebabkan aurat kita terbuka. Begitu pula dengan air yang akan kita gunakan untuk bersuci, maka kita tidak boleh menggunakan air tersebut. Karena hal ini berkaitan dengan ibadah.

Firman Allah SWT dalam Qs. Al-Baqarah (2):148.

” …Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan…”

Kaidah ke-25

ﺍﻻﺀ ﻳﺜﺎﺭ ﺑﻐﻴﺮﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻣﻄﻠﻮﺏ

Mendahulukan orang lain dalam selain ibadah dianjurkan .

Contoh kaidah:

Mendahulukan orang dalam menerima tempat tinggal (Almaskan).

Mendahulukan orang lain untuk memilih pakaian.

Mempersilahkan orang lain untuk makanan lebih dulu.

Firman Allah SWT. Dalam QS. Al-Hasr (59):9.

Artinya:

“Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.”

Kaidah ke-26

ﺗﺼﺮﻑ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﻋﻴﺔ ﻣﻨﻮﻁ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﺤﺔ

Kebijakan pemimpin atas rakyatnya dlakukan berdasarkan pertimbangan kemaslahatan .

Contoh kaidah:

Seorang pemimpin (imam) dilarang membagikan zakat kepada yang berhak (mustahiq) dengan cara membeda-bedakan diantara orang-orang yang tingkat kebutuhannya sama.

Seorang pemimpin pemerintahan, sebaiknya tidak mengankat seorang fasiq menjadi imam shalat. Karena walaupun shalat dibelakangnya tetap sah, namun hal ini kurang baik (makruh).

Seorang pemimpin tidak boleh mendahulukan pembagian harta baitul mal kepada seorang yang kurang membutuhkannya dan mengakhirkan mereka yang lebih membutuhkan.

Rasulullah SAW. bersabda :

ﻛﻠﻜﻢ ﺭﺍﻉ ﻭﻛﻠﻜﻢ ﻣﺴﺆﻝ ﻋﻦ ﺭﻋﻴﺘﻪ

Artinya :

“Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan setiap dsari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan”.

Kaidah ke-27

ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﺗﺴﻘﻂ ﺑﺎﻟﺸﺒﻬﺎﺕ

Hukum gugur karena sesuatu yang syubhat .

Contoh kaidah:

Seorang laki-laki tidak dikenai had, ketika melakukan hubungan seksual dengan wanita lain yang disangka istrinya (wathi syubhat).

Seseorang melakukan hubungan seks dalam nikah mut’ah, nikah tanpa wali atau saksi atau setiap pernikahan yang dipertentangkan, tidak dapat dikenai had sebab masih adanya perbedaan pendapat antara ulama, sebagian membolehkan nikah mut’ah dan nikah tanpa wali dan sebagian lagi berpendapat sebalikannya.

Orang mencuri barang yang disangka sebagai miliknya, atau milik bapaknya, atau milik anaknya, maka orang tersebut tidak dikenai had.

Orang meminum khamr (arah) untuk berobat tidak dikenai had karena masih terdapat khilaf antar ulama’.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺍﺩﺭﺅﺍ ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﺑﺎﻟﺸﺒﻬﺎﺕ

:Artinya

Nabi SAW. bersabda: Tinggalkanlah oleh kamu sekalian had-had dikarenakan (adanya) berbagai ketidak jelasan.

Kaidah ke-28

ﻣﺎ ﻻ ﻳﺘﻢ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﺍﻻ ﺑﻪ ﻓﻬﻮ ﻭﺍﺟﺐ

Sesuatu yang karena diwajibkan menjadi tidak sempurna kecuali dengan keberadaannya,maka hukumnya wajib .

Contoh Kaidah:

Wajib membasuh bagian leher dan kepala pada saat membasuh wajah saat berwudhu.

Wajibnya membasuh bagian lengan atas dan betis (wentis) pada saat membasuh lengan dan kaki.

Wajibnya menutup bagian lutut pada saat menutup aurat bagi laki-laki dan wajibnya dan wajibnya menutup bagian wajah bagi wanita.

Kaidah ke-29 ”

ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﻣﺴﺘﺤﺐٌّ

Keluar dari perbedaan pendapat hukumnya sunat (mustahab ‏) .

Contoh kaidah:

Disunatkan menggosok badan (dalk) ketika bersuci dan memeratakan air ke kepala dengan mengusapkannya, dan tujuan keluar dari khilafdengan imam malik berpendapat bahwa dalk dan isti’ab al-ro’sy (meneteskan kepala dengan air) adalah wajib hukumnya.

Disunatkan membasuh sperma, yang menurut imam malik wajib hukumnya.

Sunah men-qashar shalat dalam perjalanan yang mencapai tiga marhalah, karena keluar dari khilaf dengan Abu hanifah yang mewajibkannya.

Disunatkan untuk tidak menghadap atau membelakangi arah kiblat ketika membuang hajat, walaupun dalam sebuah ruangan atau adanya penutup, karena untuk keluar dari khilaf imam Tsaury yang mewajibkannya.

Untuk mengatasi perbedaan diperlukan beberapa syarat sebagai berikut:

Upaya mengatasi perbedaan tidak menyebabkan jatuh pada perbedaan lain. Seperti lebih diutamakan memisahkan shalat witir (tiga rakaat dengan dua salam) dari pada melanjutkanya. Dalam hal ini pendapat Imam Abu Hanafiah tidak dipertimbangkan karena adanya ulama yang tidak membolehkan witir dengan digabungkan

Tidak bertentangan dengan sannah yang tepat (al-sannah al-tsabilah). Seperti disunatkannya mengangkat kedua tangan dalam shalat, walaupun seorang ulama Hanafiah menganggap hal ini dapat membatalkan shalat. Menurut riwayat lima puluh orang sahabat, Nabi SAW sendiri melakukan shalat dengan mengangkat kedua tangannya.

Kautnya temuan tentang bukti perbedaan, sehingga kecil kemungkinan terulangnya keslahan serupa. Dengan alas an itu, maka berpuasa bagi musafir yang mampu menahan lapar dan dahaga aladah utama, dan tidak dipertimbangkan adanya pendapat para kaum Zahiruasa musafir itu tidak sah.

Kaidah ke-30

ﺍﻟﺮﺧﺼﺔ ﻻﺗﻨﺎﻁ ﺑﺎﻟﻤﻌﺎﺻﻰ

Keringanan hukum tidak bisa dikaitkan dengan maksiat .

Contoh kaidah:

Orang yang bepergian karena maksiat, tidak boleh mengambil kemurahan hukum karena berpergiannya, seperti; mengqashar dan menjama’ shalat, dan membatalkan puasa.

Orang yang berpergian karena maksiat, walaupun dalam kondisi terpaksa juga tidak diperbolehkan memakan bangkai dan daging babi.

Kaidah ke-31

ﺍﻟﺮﺧﺼﺔ ﻻﺗﻨﺎﻁ ﺑﺎﻟﺸﻚّ

Keringanan hukum tidak bisa dikaitkan dengan keraguan .

Contoh kaidah:

Dalam perjalanan pulang ke Grabag Magelang, Abdul Aziz merasa ragu mengenai jauh jarak yang ditempuh dalam perjalan tersebut, apakah sudah memenuhi syarat untuk meng-qashar shalat atau belum. Dalam kondisi semacam ini, kang Aziz tidak boleh meng-qashar shalat.

Seorang yang bimbang apakah dirinya hadats pada waktu dhuhur atau ashar, maka yang harus diyakini adalah hadats pada waktu dhuhur.

Kaidah ke-32

ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻛﺜﺮ ﻓﻌﻼ ﻛﺎﻥ ﺍﻛﺜﺮ ﻓﻀﻼ

Sesuatuyang banyak aktifitasnya, maka banyak pula .keutamaanya

Contoh kaidah:

Shalat witir dengan fashl (tiga rakaat dengan dua salam) lebih utama dari pada wasl (tiga rakaat dengan satu salam) karena bertambahnya niat,takbir dan salam.

Orang melakulan shalat sunah dengan duduk, maka pahalanya setengan dari pahala orang yang shalat sambil berdiri. Orang yang shalat tidur mirung, maka pahalanya adalah setengah dari orang yangh shalat dengan duduk.

Memishkan pelaksanaan antara ibadah haji dengan umrah adalah lebih utama dari pada melaksanakan bersama-sama.

Rasulullah SAW. bersabda:

ﺍﺟﺮﻙ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻧﺼﺒﻚ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ

:Artinya

“Besarnya pahalamu tergantung pada usahamu. (HR. Muslim)

Kaidah ke-33

ﻣﺎ ﻻ ﻳﺪﺭﻙ ﻛﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﺮﻙ ﻛﻠﻪ

Jika tidak mampu mengerjakan secara keseluruhan maka tidak boleh meninggalkan semuanya

Contoh kaidah:

Seorang yang tidak mampu berbuat kebajikan dengan satu dinar tetapi mampu dengan dirham maka lakukanlah.

Seserang yang tidak mampu untuk mengajar atau belajar berbagai bidang studi (fan) sekaligus, maka tidak boleh meninggalkan keseluruhannya.

Seseorang yang merasa berat untuk melakukan shalat malam sebanyak sepuluh rakaat, maka lakukanlah shalat malam empat rakaat.

Kaidah yang semakna dengan kaidah di atas, adalah perkataan ulama ahli fiqh:

ﻣﺎ ﻻ ﻳﺪﺭﻙ ﻛﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﺮﻙ ﺑﻌﻀﻪ

Sesuatu yang tidak dapat ditemukan keseluruhannya, maka tidak boleh tinggalkan sebagiannya .

Kaidah ke-34

ﺍﻟﻤﻴﺴﻮﺭ ﻻ ﻳﺴﻘﻂ ﺑﺎﻟﻤﻌﺴﻮﺭ

Sesuatu yang mudah tidak boleh digugurkan dengan sesuatu yang sulit .

Contoh kaidah:

Seorang yang terpotong bagian tubuhnya, maka tetap wajib baginya membasuh anggota badan yang tersisah ketika bersuci.

Seseorang yang mampu menutup sebagian auratnya, maka ia wajib menutup aurat berdasarkan kemampuannya tersebut.

Orang yang mampu membaca sebagian ayat dari surat Al-Fatihah, maka ia wajib membaca sebagian yang ia ketahui tersebut.

Orang yang memiliki harta satu nisab, namun setengah darinya berada ditempat jauh (ghaib) maka harus dikeluarkan untuk zakat adalah harta yang berada ditangannya.

Nabi SAW. bersabda :

ﻭﻣﺎ ﺍﻣﺮﺗﻜﻢ ﺑﻪ ﻓﺄﺗﻮﺍ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﺍﺳﺘﻄﻌﺘﻢ . ﺭﻭﺍﻩ ﺷﻴﺨﺎﻥ

:Artinya

“Sesuatu yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari Muslim)

Kaidah ke-35

ﻣﺎ ﺣﺮﻡ ﻓﻌﻠﻪ ﺣﺮﻡ ﻃﻠﺒﻪ

Sesuatu yang haram untuk dikerjakan maka haram pula .mencarinya

Contoh kaidah:

Mengambil riba atau upah perbuatan jahat.

Mengambil upah dari tukang ramal risywah (suapan). Begitu pula dengan upah orang-orang yang meratapi kematian orang lain.

Kaidah ke-36

ﻣﺎ ﺣﺮﻡ ﺍﺧﺬﻩ ﺣﺮﻡ ﺍﻋﻄﺎﺅﻩ

Sesuatu yang haram diambil,maka haram pula .memberikannya

Contoh kaidah :

Memberikan riba atau upah perbuatan jahat kepada orang lain.

Memberikan upah hasil meramal dan risywah kepada orang lain. Termasuk juga upah meratapi kematian orang lain.

Kaidah ke-37

ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺍﻟﻤﺘﻌﺪﻱ ﺍﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺎﺻﺮ

kebaikan yang memiliki dampak banyak lebih utama daripada yang manfaatnya sedikit (terbatas ‏) .

Contoh kaidah:

Mengajarkan ilmu lebih utama daripada shalat sunah.

Orang yang menjalankan fardhu kifayah lebih istimewa karena telah menggugurkan dosa umat daripada orang yang melakukan fardhu ‘ain.

Kaidah ke-38

ﺍﻟﺮﺿﻰ ﺑﺎﻟﺸﻲﺀ ﺭﺿﻰ ﺑﻤﺎ ﻳﺘﻮﻟﺪ ﻣﻨﻪ

Rela akan sesuatu berarti rela dengan konsekuensinya .

Contoh kaidah:

Menerima suami istri dengan kekurangan yang dimiliki salah satu dari keduanya. Maka tidak boleh mengembalikan kepada walinya.

Seseorang memita tangannya di potong dan berakibat kepada rusaknya anggota tubuh yang lain, maka orang tersebut tidak boleh menuntut kepada pemotong tangan.

Memakai wangi-wangian sebelum melaksanankan ihram, teapi wanginya bertahan sampai waktu ihram maka tidak dikenahi fidyah.

Kaidah yang memiliki makna sama dengan kaidah di atas yaitu :

ﺍﻟﻤﺘﻮﻟﺪ ﻣﻦ ﻣﺄﺫﻭﻥ ﻻ ﺍﺛﺮ ﻟﻪ

Hal-hal yang timbul dari sesuatu yang telah mendapat ijin tidak memiliki dampak apapun .

Kaidah ke-39

ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻳﺪﻭﺭ ﻣﻊ ﺍﻟﻌﻠﺔ ﻭﺟﻮﺩﺍ ﻭﻋﺪﻣﺎ

Hukum itu berputar beserta ‘illatnya, baik dari sisi wujudnya maupun ketiadaannya’illatnya .

Contoh kaidah :

Alasan diharamkannya arak (khamr) adalah karena memabukkan. Jika kemudian terdeteksi bahwa arak tidak lagi memabukkan seperti khamr yang telah berubah menjadi cuka maka halal.

Memasuki rumah orang lain atau memakai pakaiannya tanpa adanya ijin adalah haram hukumnya. Namun ketika namun ketika diketahui bahwa pemiliknya merelakan, maka tidak ada masalah didalamnya (boleh).

Alasan diharamkannya minum racun karena adanya unsur merusakkan. Andaikata unsure yang merusakkan itu hilang, maka hukumnya menjadi boleh.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﻞ ﻣﺸﻜﺮ ﺧﻤﺮ ﻭﻛﻞ ﺧﻤﺮ ﺣﺮﺍﻡ

Nabi SAW. bersabda :

Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr hukumnya haram.

Kaidah ke-40

ﺍﻻﺻﻞ ﻓﻰ ﺍﻵ ﺷﻴﺎﺀ ﺍﻻﺀﺑﺎﺣﺔ

Hukum ashal (pada dasarnya) segala sesuatu itu .diperbolehkan

Contoh kaidah :

Dua sahabat bernama Lukman dan Rahmat Taufiq jalan-jalan ke Jakarta. Setelah lama muter-muter sambil menikmati indahnya ibu kota, perut kedua bocah ndeso tersebut protes sambil berbunyi nyaring alias kelaparan. Akhirnya setelah melihat isi dompet masing-masing keduanya memutuskan untuk mampir makan di restourant yang lumayan mewah tapi kemudian keduanya ragu apakah daging pesenannya itu halal atau haram. Dengan mempertimbangkan makna kaidah diatas, maka daging itu boleh dimakan.

Tiba-tiba ada seekor merpati yang masuk ke dalam sangkar burung milik Koci. ketika pemilik sangkar (Koci) melihat merpati tersebut dia merasa tertarik dan ingin memilikinya, namun Koci masih ragu apakah dia boleh memeliharanya atau tidak. Maka hukumnya burung merpati tersebut boleh atau bebas untuk dimiliki.

Ketika ragu akan besar kecilnya kadar emas yang digunakan untuk menambal suatu benda maka hukum benda tersebut boleh untuk digunakan.

Memakan daging Jerapah diperbolehkan, sebagaimana al-Syubki berkata sesungguhnya memakan daging Jerapah hukumnya mubah.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﺎ ﺍﺣﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺣﻼﻝ ﻭﻣﺎ ﺣﺮﻡ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺣﺮﺍﻡ ﻭﻣﺎ ﺳﻜﺖ ﻋﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﻣﻤﺎ ﻋﻔﻮ

Nabi SAW. bersabda :

” Sesuatu yang dihalalkan Allah adalah halal dan sesuatu yang diharamkan Allah adalah haram. Sedangkan hal-hal yang tidak dijelaskan Allah merupakan pengampunan dari-Nya.”

﴿ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻋﻠﻢ