Al Jamaah

kewajiban berjamaah

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اَلْجَمَاعَةُcerita-langit-dan-bumi

AL JAMA’AH

 

  1. TA’RIF JAMA’AH
  2. Secara Bahasa

الْجَمَـاعَةُ هِىَ الاِجْتِمَـاعُ وَ ضِدُّهـَا التَّفرُّقُ

Secara bahasa kata Al Jamaah terambil dari kata Al Ijtima’(perkumpulan) lawan kata dari At Tafarruq (perpecahan) [1]

الْجَمَـاعَةُ هِىَ الاِجْتِمَـاع وَ ضِدُّهـَا الفِرْقَـةُ

Secara bahasa kata Al Jamaah terambil dari kata Al Ijtima'(perkumpulan), dan lawan kata dari Al Firqoh (Golongan) [2]

 

  1. Secara Istilah

وَ الْجَمَـاعَةُ طَائِفَةٌ مِنَ النَّـاسِ يَجْمَعُهَـا عَرْضٌ وَاحِدٌ

Al Jamaah  bermakna : Sekelompok Manusia yang berkumpul dalam satu tujuan [3]

 

  1. Secar Syara’

Ma’na syar’an   Al Jama’ah adalah sebagaimana yang diberikan olehAhlul ‘Ilmiy, akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam memberikan definisi-nya. Sedang maksud definisi yang mereka berikan adalah definisi untuk makna Al-Jama’ah dalam artiJama’atul-Muslimin, bukan yang lain. Paling tidak ada 5 makna menurut mereka, yaitu :

  1. Jama’ah adalah sawadul a’dhom(jumlah yang terbesar / mayoritas) dari kaum muslimin yang terdiri dari  para mujtahid ummat, ulama’-ulama-nya, para ahli syari’ah dan ummat yang mengikuti mereka. Selain mereka yang disebutkan di atas (yang keluar dari jamaah) adalah Ahlul Bid’ah.
  2. Jama’ah adalah jama’ah-nya para aimmah mujtahidin dariahli fiqh, ahli hadits dan ahli ilmu.Dan barangsiapa yang keluar dari mereka maka ia mati seperti dalam keadaan Jahiliyyah. Karena ulama’ adalah hujjah Allah atas seluruh ummat manusia.
  3. Jama’ah adalah parashahabat radliyallaahu ‘anhum saja. Yang maksud dari luzumul-Jama’ah disini adalah meng-iltizamidan mengikuti petunjuk apa saja yang ada pada mereka. Karena merekalah penegak  pilar-pilar Ad-Dien dan mereka mustahil bersepakat dalam kesesatan.
  4. Jama’ah adalah jama’ah orang-orang Islam apabila mereka berkumpul (sepakat) dalam satu masalah, yang wajib bagi yang lain mengikuti mereka.

Dari empat pendapat pertama ini dapat disimpulkan yaitu bahwa makna luzumul Jama’ah adalah : Mengikuti Ahlul Ilmy dalam Al haq dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Makna inilah yang dimaksud dengan jama’ah ahlil Ilmi dan ulama’ mujtahidin dari kalangan Ahlus-Sunnah. Merekalah Al Firqoh An Najiyah yang semua orang wajib mengikuti mereka dalam ‘aqidah dan manhaj-manhajnya.[4]

  1. Jama’ah adalah Jama’atul Muslimin apabila mereka berkumpul (sepakat) pada satu imam. Maka Rosululahshalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan untuk mengiltizami-nya dan melarang dari memecah belah ummat terhadap apa yang mereka sepakati.[5]

 

  1. MASYRU’IYYAH AL JAMAAH

 

Allah ‘Azza wa Jalla dan Rosul-Nya dalam kitab-Nya dan sunnah rosul-Nya telah menyuruh ummat manusia agar hidup ber-jamaah, berkumpul, saling membantu, saling meringankan dan melarang dari berpecah belah, bercerai berai, juga saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Banyak Nash-nash Al Quranul Karim dan Hadits Rosulullahshalallahu ‘alaihi wa salam yang mengisyaratkan akan hal itu, diantaranya :

 

  1. Firman Allah Azza wa Jalla :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ { ال عمران  103}

Ibnu Katsir dalam tafsir Al Quran Al ‘Adhim-nya menyebutkan tentang maksud ayat di atas yaitu perintah untuk berpegang teguh dengan Al Quran, berjamaah serta menggalang persatuan dan bersatu, serta larangan untuk bercerai berai, Beliau menambahkan lagi dengan menyitir hadits dari Abi Huroiroh, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَ يَسْخَطُ لَكُمْ  ثَلاَثاً : يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَ لاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَ أَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَ لاَ تَفَرَّقُوْا وَ أَنْ تَنَـاصَحُوْا مَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكُمْ , وَ يَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثًا : قِيْل وَقَالَ , وَكَثْرَةَ السُّوأَلِ وَ إِضَاعَةَ الْمَـالِ {رواه  مسلم }

Sesungguhnya Allah ridho kepada kalian akan 3 hal dan marah akan 3 hal juga. Ia ridho kepada kalian akan hal ; bahwa kalian beribadah kepada-Nya saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, agar kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan jang bercerai berai, dan agar kalian saling menasehati orang yang oleh Allah ditaqdirkan memegang urusanmu. Dan Ia marah kepada kalian akan hal ; Banyak bicara tanpa tahu sumber dari yang dibicarakan, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta. (HR Muslim) [6]

 

 

  1. Firman Allah Ta’ala :

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلاَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ { ال عمران 105}

Ibnu Katsir berkata, “Allah Ta’ala melarang ummat ini seperti umat yang terdahulu yang berpecah belah, berselisih, meninggalkan amar ma;ruf nahi mungkar, serta tidak berani berhujjah terhadap kaum mereka.” Lalu beliau menyitir hadits iftiroq yang di dalamnya hanya ada satu golongan yang masuk jannah, yaitu Al-jamaah  [7]

 

  1. Sabda Rasululloh shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

إِنَّ اَهْلَ الْكتِاَبَىْ افْتَرَقُوْا فِى دِيْنِهِمْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ إِنَّ هَذِهِ الْاُمَّةِ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٌ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً (يَعْنِى الاَهْوَاء) كُلُّهَا فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةً وَ هِىَ الْجَمَاعَةُ { احمد و ابو داود و الحاكم عن معاوية }

Sesungguhnya dua Ahlul Kitab berpecah belah dalam dien mereka menjadi 72 golongan, dan sungguh ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan    -yaitu ahlul ahwa’-    kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah. (Abu Dawud, Ahmad, Hakim dll hadits dari Mu’awiyah dan Anas radliyallaahu ‘anhu)[8]

 

  1. Sabda Rasululloh shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

وَ إِنَّ بَنِى إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِىْ عَلَى ثَلاَثٌ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةٌ . قَالُوْا : وَ مَنْ هِىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟  قَالَ : مَا اَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِى { الترمذى و الحاكم و غيرهما عن عبد الله بن عمروا بن العاص }

“Dan sesungguhnya Bani Isroil terpecah menjadi 72 golongan, dan ummat-ku akan terpecah menjadi 73 golongan yang seluruhnya akan masuk neraka kecuali satu golongan saja”. Para shahabat bertanya, “Siapakah mereka itu ya Rosulullah ?”, Rasulullah bersabda,”Yaitu yang aku dan para shahabatku ada pada mereka “. (HR Tirmidziy, Hakim dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash)

 

 

  1. Sabda Rasulullahshallallaahu ‘alayhi wa sallam :

تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَـامَهُـْم { البخـارى و مسلم }

Ber-iltizam-lah pada Jama’atul Muslimin dan Imam mereka (Al-Bukhoriy dan  Muslim)

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

عَلَيْكُمْ بِالْجَماَعَةِ وَ إِيَّاكُمْ وَ الْفُرْقَةَ فَاِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَ هُوَ مِنَ الْاِثْنَيْنِ اَبْعَدُ , مَنْ اَرَادَ بُحْبُحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزِمِ الْجَمَاعَةَ { رواه الترميذى و الحاكم و احمد ووافقه الذهبى و ابن ابى عاصم }

“Aku perintahkan kepada kalian agar berjama’ah dan jauhilah berfirqoh, maka sesungguhnya syaithon itu bersama seorang yang sendirian dan ia dari dua orang lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan tengah-tengahnya (mewahnya) jannah, maka hendaklah ia ber-iltizam kepada Jama’ah ” (Tirmidzi, Hakim, Ahmad dan disepakati Adz Dzahabiy dan Ibnu Abi ‘Ashim)

 

  1. Sabda Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam:

اَمَرَكُمْ بِخَمْسٍ مَا اَمَرَنِىَ اللهُ بِهِنَّ بِالْجَمَاعَةِ وَ السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ الْهِجْرَةِ وَ الْجِهَادِ فِى سَبِيْلِ اللهِ فَاِنَّهُ مَنْ خَرَجَ عَنِ الْجَمَاعَةِ قَيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الاِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ اِلاَّ اَنْ يَرْجِعَ { احمد والبيهقي 4/320و 202, 5/344, رجاله الصحيح خلا واحد و هو الثقة }

Aku perintahkan kepada kalian 5 (lima) perkara, yang mana Allah perintahkan hal itu kepadaku, (yaitu agar kalian) berjama’ah, mendengar, tha’at, hijroh dan berjihad di jalan Allah. Karena sesungguhnya barang siapa yang keluar dari jama’ah (Jama’atul-muslimin) sejengkal saja, maka ia telah melepas ikatan Islam dari lehernya, kecuali jika ia kembali.[9]  (Ahmad dan Baihaqi, 4/230,202,5/344, Rijal-nya shohih kecuali satu, tsiqoh.)

 

 III.   HAKEKAT AL JAMA’AH

 

Kalimat Al-Jama’ah tidak satupun yang terdapat dalam Al-Qur’an Al Karim, namun banyak sekali terdapat dalam As Sunnah. Dan setiap lafadh jama’ah dalam sunnah pasti diikuti dengan larangan berpecah-belah baik secara tersirat maupun tersurat.

Namun seluruh kata Al Jama’ah dan Al Bai’ah yang terdapat dalam hadits-hadits Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa salam adalah bermakna dan mengacu kepada Jama’tul Muslimin, dan tidak satupun yang mengacu serta menjadi dalil untuk Jama’atul Minal Muslimin yang  ada sekarang ini.

Hakekat Al Jama’ah terdiri dari dua makna yang berdiri sendiri-sendiri namun saling berkaitan dan sama-sama memiliki kedudukan yang esensial. Yang jika keduanya terkumpul jadi satu maka lengkap dan sempurnalah makna jama’ah dan ia baru bisa disebut sebagai Jama’atul Muslimin.

 

1.1.      MAKNA YANG PERTAMA

 

Makna yang pertama dari makna Jama’ah adalah : Berkumpul (bersepakat) dalam pokok-pokok yang prinsip dalam  Al Quran, As Sunnah dan Ijma’, serta mengikuti apa saja yang terdapat pada para Salafush Sholeh, dari menetapi Al Haq, mengikuti As Sunnah serta menjauhi bid’ah dan hal-hal yang baru, yang di ada-adakan. Dan lawan dari Jama’ah dalam makna ini adalah memecah-belah Ad Dien, dan orang yang menyelisihinya  adalah golongan sesat dan Ahlul Ahwa’.

Diantara nash-nash dalam makna ini adalah, sabda Rasulullahshalallaahu ‘alayhi wa sallam.[10]

إِنَّ اَهْلَ الْكتِاَبَىْ افْتَرَقُوْا فِى دِيْنِهِمْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ إِنَّ هَذِهِ الْاُمَّةِ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٌ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً (يَعْنِى الاَهْوَاء) كُلُّهَا فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةً وَ هِىَ الْجَمَاعَةُ { احمد و ابو داود و الحاكم عن معاوية }

Sesungguhnya dua Ahlul Kitab berpecah belah dalam dien mereka menjadi 72 golongan, dan sungguh ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan    -yaitu ahlul ahwa’-   kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah. (Abu Dawud, Ahmad, Hakim dll hadits dari Mu’awiyah dan Anas radliyallaahu ‘anhu)[11]

لاَ يَحِلُّ دَمَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله وَ اَنِّى رَسُوْلُ اللهِ اِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ , النَّفْسُ بِالنَّفْسِ  وَ الثَّيِّبُ الزَّنِى وَ التَّارِكُ لِدِيْنِهِ وَ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah kecuali dengan salah satu tiga perkara : (yaitu) seorang yang membunuh lalu dibunuh (qishosh), orang yang telah menikah lalu melakukan zina (dirajam) dan orang yang keluar dari diennyua  yang meninggalkan Jamaah (murtad)

الصَّلاَة ُالْمَكْتُوْبَةُ اِلَى الصَّلاَةِ الَّتِى بَعْدَهُا كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا . قَالَ : وَ الْجُمْعَةُ اِلَى الْجُمْعَةِ وَ الشَّهْرُ اِلَى الشَّهْرِ _ يَعْنِى الرَّمَضَان _ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا . قَالَ بَعْدَ ذاَلِكَ : اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ .  قَاَل : فَعَرَفْتُ اَنَّ ذَالِكَ الْاَمْرَ حَدَثٌ . الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَ نَكْثُ الصَّفَقَةِ وَ تَرْكُ السُّنَّةِ . قَالَ : اَمَّا نَكْثُ الصَّفَقَةِ اَنْ تَبَايَعَ رَجُلاٍ ثُمَّ تُخَالَفُ اِلَيْهِ تُقَاتِلُهُ بِسَيْفِكَ وَ اَمَّا تَرْكُ السُّنَّةِ فَالْخُرُوْجُ عَنِ الْجَمَاعَةِ {رواه  احمد }

Sholat wajib yang satu hingga sholat wajib yang lainnya adalah (dapat)  menutupi dosa-dosa (pelakunya) antara keduanya, demikian pula dari bulan ke bulan   -yaitu Ramadhan-   menutupi dosa-dosa antara keduanya.”  Setelah itu beliau bersabda, (berkata Abu Huroyroh, “Aku tahu bahwa urusan itu pasti akan terjadi”) kecuali tiga hal (yaitu) syirik kepada Allah, Nakshush Shafaqoh dan meninggalkan sunnah, adapun Nakshus Shafaqoh adalah kamu baiat seseorang kemudian kamu menyelisihi ia, kamu perangi dia dengan pedang (senjatamu) sedang meninggalkan sunnah adalah keluar dari jamaah”.[12]

Hal ini juga dikuatkan oleh perkataan para Ahlul-‘Ilmiy, diantaranya :

الْجَمَاعَةُ مَا وَفَقَ الْحَقَّ وَ لَوْ كُنْتَ وَحْدَكَ وَ ِفى طَرِيْقٍ اَخَرٍ : الْجَمَاعَةُ مَا وَ فَقَ طَاعَةَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

Berkata Ibnu Mas’ud , “Jama’ah adalah yang sesuai dengan Al Haq walaupun keadaan kamu sendirian”. dalam riwayat lain, “Sesungguhnya Jama’ah itu apa saja yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla”. [13]

قَالَ اَبُوْ شَامَة : حَيْثُ جَاءَ الْاَمْرُ بِلُزُوْمِ الْجَمَاعَةَ , فَالْمُرَادُ بِهِ لُزُوْمُ الْحَقِّ وَ اِتْبَاعُهُ , وَ اِنْ كَانَ الْمُتَمَسِّكُ بِالْحَقِّ قَلِيْلاً , وَالْمُخَالِفُ لَهُ كَثِيْرًا لِأَنَّ الْحَقَّ الَّذِىْ كَانَتْ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ الاُوْلَى مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ اَصْحَابِهِ وَ لاَ يَنْظُرُ اِلَى كَثْرَةِ أَ هْلِ الْبَاطِلِ بَعْدَهُمْ { الباعث لابى شامة }

Berkata Abu Syamah, “Sebagaimana perintah untuk berjama’ah, maka yang dimaksud dengannya adalah meng-iltizami Al-Haq dan mengikutinya, walaupun orang yang berpegang teguh padanya sedikit dan yang menyelisihi banyak jumlahnya. Karena Al-Haq adalah yang ada pada jama’ah yang pertama yaitu Nabishallallaahu ‘alayhi wa sallam dan para shahabatnya, dan tidak diukur dari banyaknya ahlul bathil setelah mereka”  [14]

Dan hal ini yang dikatakan pula oleh Abdullah bin Mubarok, ketika ditanya tentang siapa jama’ah yang pantas dijadikan panutan, beliau menjawab, “Abu Bakar dan Umar” dan ketika dikatakan mereka telah wafat, “Lalu siapakah yang masih hidup ?” Beliau menjawab, “Abu Hamzah As-Sakriy”. Beliau menunjuk Abu Hamzah As Sakry di zamannya karena beliau seorang Ahli Ilmu, zuhud dan waro’.

Berkata Ishaq bin Rohuyyah :

اِنَّ الْجَمَاعَةَ عَالِمٌ مُتَمَسِّكُ بِاَثَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ طَرِيْقَتِهِ فَمَنْ كَانَ مَعَهُ وَ تَبِعَهُ فَهُوَ الْجَمَاعَةُ

“Jama’ah adalah orang yang mengetahui dan berpegang teguh pada sunnah Nabi dan  manhaj-manhajnya, maka barang siapa yang bersama Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan mengikutinya maka ia adalah Jama’ah “. [15]

Maka jelaslah bahwa luzumul-Jama’ah dalam makna ini adalah masuk segi ‘ilmiy-nya, yaitu meng-iltizami Al-Haq, mengikuti sunnah, mengikuti apa saja yang ada pada Salafush Sholihdari hal-hal yang dasar dan prinsip seperti masalah aqidah (i’tiqod), syariah, halal, haram, wala’, dan juga keharusan menjauhi ahlul ahwa’ dan ahlul bid’ah yang termasuk didalamnya firqoh sesat. Lawan dari jama’ah dalam pengertian ini adalah berpecah belah dalam dien. Dan orang yang menyelisihinya adalah bid’ah dan sesat walaupun ia beriltizam pada Imam dan membaiatnya. [16]

Dan kumpulan orang yang selalu berpegang teguh kepada Al-Haq ini akan tetap ada sampai hari Qiyamat, berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ قَا ئِمَةٌ بِأَمْرِاللهِ لاَيَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْخَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْ تِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ عَلَى النَّاسِ {رواه  البخاري }

“Tetap akan ada sekelompok orang dari ummat-ku yang berpegang (berdiri) di atas perintah Allah (al-haq) yang mereka tidak mendapatkan madhorot dari orang-orang yang menghinakan atau menyelisihi mereka hingga datang ketetapan (keputusan) Allah, sedangkan mereka tetap menang (unggul) di atas manusia. (HR Al-Bukhoriy)

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَيَضُرُّهُمْ مَنِ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْ تِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ  عَلَى ذَالِكَ  {رواه مسلم }

“Tetap akan ada sekelompok orang dari ummat-ku yang tetap berada (konsisten) di atas al-haq, mereka tidak mendapatkan madhorot dari orang-orang yang menghinakan mereka hingga datang keputusan Allah sedang mereka tetap dalam keadaan demikian. (HR Muslim)

 

1.2.      KETENTUAN BAGI YANG KELUAR DARI JAMA’AH BERDASARKAN RUANG LINGKUP INI

  1. Barangsiapa yang keluar berkaitan dengan nash-nash dasar dan men-takwil-kannya, namun masih mengimani baik secara dhohir maupun bathin dan masih menetapinya secara global , maka takwilan-nya yang keliru tersebut tidak mengeluarkan darimillah, akan tetapi memasukkan ia kedalam golongan Ahlu Bid’ahyang berbeda tingkatannya menurut kesalahan dan ketidak hati-hatiannya. Kecuali jika ada di antara mereka ke-munafiq-an di dalam hatinya, maka ia kafir pada hakekatnya.

Bagi mereka berlaku hadits yang pertama (yang menyebutkan kelompok-kelompok), dan bagi mereka yang bukan munafiq namun masih beriman kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya, maka ia tidaklah kafir namun hanya salah dalam takwil.[17]

Sebagai contoh adalah golongan Khowarij yang mereka betul-betul nyata ke-bid’ah-annya, memerangi ummat Islam serta mengkafirkannya, namun tidak satupun para shohabat baik Aliradliyallaahu ‘anhu maupun yang lain yang mengkafirkan mereka, namun mereka dihukumi orang-orang muslim yang dholim dan mufsid.

  1. Barangsiapa yang keluar dari jamaah dengan menolak nash-nash tanpa mentakwilkannya  atau mentakwilkannya dengan tujuan mengingkari apa yang ia ketahui dari dien, atau menghalalkan sesuatu yang kaum muslimin telah sepakat keharamannya dan sebaliknya, seperti yang dilakukan oleh salah satu golongan Syi’ah yaitu Qoromithoh, maka pernyataannya tersebut menyebabkan mereka murtad, setidak-tidaknyanifaq akbar, itupun juga menyebabkan mereka murtad dan meninggalkan Jama’atul Muslimin.

Bagi mereka berlaku hadits yang kedua, “Meninggalkan diennya memecah belah Jama’ah”.  Maka tidak diragukan lagi setiap yang meninggalkan diennya berarti ia meninggalkan Jama’ah, karena ia telah memecah belah terhadap apa yang  telah menjadi kesepakatan dalam Islam. [18]

 

2.1.      MAKNA YANG KEDUA

Dalam makna yang kedua ini, jama’ah adalah berkumpulnya ummat di bawah seorang Imam dan mentaatinya. Jama’ah dalam makna ini adalah lawan dari Al-Baghyu (pemberontakan) serta pemecah belah Islam. Sedang pelakunya diancamakan bughot / ahlul baghyi dan nakitsun (pelanggar / Janji) walau mereka dari Ahlus Sunnah.

Dalil / nash pada makna kedua ini adalah :

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

فَاِنَّهُ مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبرْ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ لَيْسَ اَحَدٌ يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَيَمُوْتُ اِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً { البخارى و مسلم عن ابن عباس }

Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak dia senangi pada diri amir-nya, maka hendaknya ia bersabar terhadapnya, karena sesungguhnya tidak seorangpun yang meninggalkan jama’ah satu jengkal saja kemudian dia mati, maka ia mati seperti mati dalam keadaan Jahiliyyah (Bukhori Muslim dari Ibnu Abas radliyallaahu ‘anhuma) [19]

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ خَرَجَ عَنِ الطَّاعَةِ وَ فَارَقَ الْجَمَاعَةِ فَمَاتَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً {رواه  مسلم عن ابى هريرة }

Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memecah belah / meninggalkan Jama’ah (Jama’atul-Muslimin) kemudian mati, maka ia matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (HR Muslim dari shahabat Abu Huroyroh)

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

فَاِنَّهُ مَنْ رَأَى مِنْ اَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرَ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ لَيْسَ اَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ  اِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً {رواه  البخارى و مسلم عن ابن عباس }

Barang siapa yang melihat pada diri amir-nya sesuatu yang tidak dia senangi maka hendaknya ia bersabar terhadapnya, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun yang keluar dari sulthon (penguasa / negara) sejengkal saja kemudian ia mati dalam keadaan demikian, maka ia tidak mati kecuali matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (Bukhori Muslim dari Ibnu Abbas)

 

 

 

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ اَتَاكُمْ وَ اَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَىرَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ اَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ اَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ  {رواه مسلم}

Siapa yang mendatangi kalian sedang urusan kalian semua berada (kamu serahkan) pada seorang (imam), dan ia mau memecah belah persatuan atau ia hendak mencerai-beraikan jama’ah kalian maka bunuhlah ia “. (HR Muslim) [20]

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

تَلْزِمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَاَمَهُمْ

Dari hadits panjang Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Iltizami-lah Jama’atul Muslimin dan Imam mereka “. (Bukhori I/1480)

عَنْ عُبَادَ بْن الصَّامِت رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: بَايَعْنَا رَسُوْلَ الله عَلَى السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَ مَكْرَهِنَا وَ عُسْرِنَا وَ يُسْرِنَا وَ اَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَ لاَ نُنَازِعَ الاَمْرِ اَهْلَهُ . قَالَ : اِلاَّ أن تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ الله فِيْهِ بُرْهَانٌ

Dari Ubadah bin Shomit ia berkata, “Kami membaiat Rasulullah shalllallaahu ‘alayhi wa sallam atas dasar sam’u dan thoah, baik dalam keadaan senang, susah, lapang maupun sempit, mengutamakan  di atas urusan kami, serta tidak mencabut ke-amir-an dari orang yang diserahinya, kecuali apabila kalian melihat kekafiran yang nyata dan jelas yang kamu memiliki bukti nyata di sisi Allah”. (HR Abu Dawud)

Juga beberapa komentar Ahlul-‘Ilmiy diantaranya :

Imam Ahmad berkata, “(Wajib) mendengar dan taat terhadap Amirul Mukminin  yang baik (al-birr) maupun yang  menyeleweng (al-fajir). dan peperangan harus tetap pada bersama para Imam baik maupun yang fajir tidak ditinggalkan sampai hari kiamat ” [21]

Beliau berkata lagi: “Barangsiapa yang keluar dari Imam kaum muslimin sedangkan seluruh ummat manusia telah sepakat mengangkatnya dalam kekholifahan, baik ridho maupun dengan jalan kudeta, maka sungguh ia telah memecah belah kesatuan kaum muslimin dan menyelisihi As-Sunnah dari Rosulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Apabila ia mati (dan tetap demikian) maka ia mati seperti dalam keadaan Jahiliyyah, karena tidak halal bagi siapa saja yang memerangi Imam dan keluar darinya, sedang barangsiapa yang melakukan hal yang demikian maka ia adalah Ahlul Bid’ah dan meninggalkan sunnah dan jalan (Islam) “. [22]

Al-Bukhory berkata dalam I’tiqod-nya, “Dan tidak mencabut keamiran dari  orang yang diserahi nya”, sebagaimana sabda Nabi :

ثَلاَثٌ لاَ يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ  امْرِئٍ مُسْلِمٍ : اِخْلاَصُ الْعَمَلِ للهِ وَ طَاعَةُ وُلاَةُ الاَمْرِ وَ لُزُوْمُ جَمَاعَتِهِمْ فَاِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

Ada 3 hal yang hati seorang muslim tidak akan terbelenggu (gundah) dengannya : ikhlas beramal karena Allah, mentaati pemimpin, dan ber-iltizam kepada Jama’atul Muslimin, karena sesungguhnya ajakan mereka akan terlindungi di belakang mereka “.

Kemudian beliau kuatkan lagi dengan firman-Nya : [23]

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ { النساء :59}

Hai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rosul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu.

Sehingga dari nash-nash tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian Jama’ah dalam pengertian  ini  adalah masuk segi siyasah-nya yaitu kesepakatan untuk berkumpul pada satu Imam dan menetapi ketaatan terhadapnya selama tidak menyuruh kemaksiyatan kepada Allah, dan tidak keluar darinya kecuali jika terbukti melakukan kufran bawaahan. [24]

 

2.2.      KETENTUAN BAGI YANG KELUAR DARI JAMA’AH BERDASARKAN MAKNA INI

 

  1. Orang yang tidak mau berbai’ah pada Imam, namun mereka bukan golongan Ahlul-Baghyi, Al-Muharribun, juga bukan golongan Murtadun,namun mereka hanya tidak berbaiat kepada Imam Jama’atul- Muslimin saja. Hukum bagi mereka terserah kebijaksanaan  Imam.
  2. Golongan Ahlul Baghyiy(pemberontak), yaitu golongan yang keluar dari Jama’ah dengan jalan kudeta (meminta kekuasaan). Dalam hal ini Al Quran telah memberikan jalan keluar dalam menghadapi fitnah mereka.

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى اْلأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِىءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ { الحجرات 9}

  1. Golongan Al Muharribun(Orang-orang yang diperangi), yaitu golongan yang keluar dari Jama’ah dengan jalan mengacau keamanan, seperti Qoththo’ut-Thoriq (perampok) yang merampas harta, berbuat kerusakan di muka bumi dll. Allah memberikan jalan keluar dalam menghadapi mereka dengan firman-Nya,

إِنَّمَا جَزَاؤُا الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي اْلأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْتُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلاَفٍ أَوْ يُنفَوْا مِنَ اْلأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيُُ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ {المائدة 33}

  1. Golongan Murtaddien, yaitu golongan orang-orang yang keluar dari Jama’ah sedang mereka kafir terhadap Islam, melawan dienul Islam dan bahu membahu bersama musuh Islam. Mereka itulah orang-orang murtad yang telah jelas melepas ikatan Islam dari lehernya. Dan mereka persis seperti orang-orang murtad dimasa kholifah Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu, memecah belah dien dan jelas-jelas memerangi kaum Muslimin. Dan sama seperti orang-orang yang membunuh sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang beliau kirim bersama mereka untuk mengajarkan Al Quran dan Dienul Islam.

 

 

 

 

 

  1. UNSUR-UNSUR JAMAAH

 

  1. Al-Mutho’(orang yang ditaati)

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada-Nya, Rasul-Nya dan Ulil Amri. Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ ف{ النساء :59}

Hai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rosul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu.

Yang dimaksud ulil Amri menurrut Ibnu Katsir : “Yaitu Ulama’, secara pasti wallahu a’lam namun ia bermakna umum pada setiap ulil Amri dari umaro’ (para pemimpin) dan Ulama”. Sedang dalam hadits disebutkan :

قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ اَطَاعَنِى فَقَطْ اَطَاعَ الله وَ مَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى الله وَ مَنْ اَطَاعَ الاَمِيْر فَقَدْ اَطَاعَنِى وَ مَنْ عَصَى الاَمِيْرِ فَقَدْ عَصَانِى { متفق عليه }

“Barang siapa yang mentaatiku maka ia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka sungguh ia telah durhaka kepada Allah. Dan barangsiapa yang mentaati amirku maka ia telah mentaatiku, namun barangsiapa yang durhaka pada amirku, sungguh ia telah durhaka kepadaku”. (muttafaqun ‘Alaih dari Abi Huroiroh)

Hadits inilah yang dengan jelas memerintahkan untuk taat pada para ulama’ dan umaro’. Sehingga Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa memerintahkan untuk taat kepada-Nya dalam artian mengikuti Al Qur’an, taat kepada Rosul-Nya yaitu mengikuti Sunnahnya dan tetap taat kepada ulil amri selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Dalam hadits lain disebutkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قاَلَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : إِسْمَعُوْا وَ أَطِيْعُوْا وَ إِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيْبَةٌ { رواه البخارى }

Dengar dan taatlah kalian semua walaupun yang memerintah (yang memimpin) kalian seorang budak Habsyi (Ethiopia) yang kepalanya seakan-akan seperti anggur kering / kismis (Bukhori, Ahmad dan Ibnu Majah) [25]

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan, “Ro’suhu Zabibah” adalah perumpamaan pada kerendahan (hinanya), jelek bentuk (tubuh-wajah)-nya, dan ia (masuk orang-orang yang) tidak diperhitungkan [26]

Dalam hadits lain disebutkan ;

عَنْ عُبَادَ ةَ بْن الصَّامِت رَضِىَ الله عَنْهُ : بَايَعْنَا رَسُوْلَ الله عَلَى السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَ مَكْرهِنَا وَ عُسْرِنَا وَ يُسْرِنَا وَ اَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَ لاَ نُنَازِع الاَمْرِ اَهْلَهُ . قَالَ : اِلاَّ أن تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ الله فِيْهِ بُرْهَان

Dari Ubadah bin Shomit radliyallaahu ‘anhu ia berkata, “Kami berbaiat kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam untuk mendengar dan taat, baik kami dalam keadaan senang maupun susah, lapang maupun sempit, mengutamakan diatas urusan kami, serta tidak mencabut keamiran dari orang yang diserahi, kecuali apabila kalian melihat kufran bawaahan (kekafiran yang  jelas) yang kamu memiliki bukti nyata di sisi Allah”. (HR Abu Dawud)

Al Khithobi berkata , “Bawaahan dalam kufrun bawaahan adalah yang tersebar dan nyata. [27]  Sedang ‘indakum minallahi fihi burhan, menurut Ibnu Hajar yaitu nash ayat atau berita yang benar dan tidak memerlukan pentakwilan.” [28]

Menurut Dr. Muhammad Abdul Qodir Abu Faris bahwa ketaatan pada amir adalah wajib, namun tidak mutlak kecuali apabila ada 3 syarat dan ketentuannya. Maka apabila ketiganya terpenuhi ketaatan tetap wajib dan menjadi mutlak, yaitu :

  1. Amir dalam menjalankan tugasnya harus berdasarkan kepada Al Quran dan As Sunah serta meng-aplikasikan dalam kehidupan. Dalam Al Quran disebutkan ;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ ف{ النساء :59}

Hai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rosul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu.

Ali bin Abi Tholib radliyallaahu ‘anhu  berkata “Wajib bagi Imam untuk menghukumi dengan hukum yang Allah turunkan dan melaksanakan amanat maka jika ia melaksanakan yang demikian wajib bagi rakyat untuk sam’u wa tho’ah.” (Diriwayatkan oleh Abu Ubaid Al Qosim bin Salam).[29]

  1. Amir dalam menghukumi diantara manusia harus adil, maka jika ia berbuat adil harus ditaati. Namun jika mendholimi (dholim), berbuat aniaya, bertindak sewenang-wenang, menindas, maka tidak wajib taat padanya.

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا {النساء :58}

Sesungguhnya Allah  menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran  yang sebaik-baiknnya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

  1. Amir tidak menyuruh manusia kepada kemaksiatan, maka jika ia menyuruh kepada kemaksiatan wajib tidak taat kepadanya. Berdasarkan hadits nabi :

السَّمْعُ وَ الطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمِعْصِبَّةٍ { رواه البخارى و مسلم }

Adalah menjadi keharusan (kewajiban) bagi seorang muslim untuk sam’u dan thoa’ah baik terhadap apa yang ia senangi atau apa yang ia benci selama tidak diperintah untuk berbuat ma’shiyat. (HR Al-Bukhoriy dan Muslim)

اِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوْفِ { احمد و البخارى و مسلم }

Ketaatan itu hanya pada hal-hal yang ma’ruf (HR Ahmad, Bukhori dan Muslim)

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَّةِ اللهِ { رواه  احمد }

Tidak ada ketaatan dalam hal bermaksiyat kepada Allah (HR Ahmad)  [30]

  1. Al-Muthi’(orang yang mentaati)

 

Tidak mungkin adanya suatu ketaatan dan orang-orang yang ditaati dapat tegak dan berjalan tanpa adanya unsur ini. Dan para ulama salaf telah sepakat seperti Muhammad bin Ka’ab dan Zaid bin Aslam bahwa ayat 58 surat An Nisa’ adalah berkaitan dengan para umaro’ agar mereka adil dalam penerapan hukum [31] Allah berfirman :

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا {النساء :58}

Sesungguhnya Allah  menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran  yang sebaik-baiknnya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Di sini ada hak-hak muthi’ yang harus dipenuhi oleh mutho’, seperti harus melindungi, menjaga, membela, bersikap ramah, dll. Demikian pula dengan muthi’ kepada mutho’ ; mendoakan, menghormati, membela, mendukung, menjaga, menjaga nama baiknya, keluarganya, dan hartanya. Yang ada timbal balik positif antara keduanya dan terus menjaganya serta menutup rapat-rapat lobang-lobang perpecahan dan hal-hal negatif.

 

  1. Ath-Tho’ah (Ketaatan)

 

Ketaatan merupakan penyangga / pengokoh dari beberapa penyangga suatu hukum dalam Islam, dan merupakan dasar dari pelbagai dasar sistem politik Islam. Karenanya tidak mungkin adanya suatu sistem / peraturan yang baik, negara yang kuat dan kokoh, tanpa adanya pemimpin, penguasa yang adil, kethaatan dari rakyat kepadanya dan saling musyawarah antara pemimpin dan rakyat. Betul-lah Umar bin Khoththob radliyallaahu ‘anhu dalam perkataannya :

اِنَّهُ لاَ اِسْلاَمَ اِلاَّ بِجَمَاعَةٍ وَ لاَ جَمَاعَةَ اِلاَّ بِإِمَارَةٍ وَ لاَ اِمَارَةَ اِلاَّ بِطَاعَةٍ {رواه الدارمى }

Sesungguhnya tidak Islam kecuali dengan jama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan imaroh, serta tidak ada imaroh kecuali dengan ketaatan.”

Karena sesungguhnya Islam bukan dien perorangan, Akan tetapi Islam adalah dien Jama’iy, dan Islam belum menjadi kenyataan yang sesungguhnya, dalam arti kata tegak dan eshtablishhukum-hukumnya, kecuali dengan adanya Jama’atul Muslimin. Sedangkan jama’ah dan orang-orangnya tidak akan mungkin dapat hidup tegak kecuali dengan adanya ikatan, peraturan dan loyal kepada pimpinan. Dan semuanya itu tidak mungkin dapat berjalan kecuali mutlak diperlukan ketaatan. [32]

 

  1. ANCAMAN BAGI YANG TIDAK BERJAMA’AH TATKALA JAMA’ATUL MUSLIMIN TEGAK.

 

Orang yang tidak berjama’ah sewaktu tegaknya Jama’tul-Muslimin, maka secara otomatis ia terkena ancaman Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa haditsnya, karena ber-iltizamkepada Jama’tul Muslimin pada waktu ini adalah wajib, Diantaranya :

مَنْ خَرَجَ عَنِ الطَّاعَةِ وَ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً        { مسلم عن ابى هريرة }

Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan memecah belah / meninggalkan Jama’ah (Muslimin) kemudian mati, maka ia matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (Muslim)

فَاِنَّهُ مَنْ رَأَى مِنْ اَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ لَيْسَ اَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ  اِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً { البخارى و مسلم عن ابن عباس }

Barangsiapa yang mendapatkan pada diri amirnya sesuatu yang ia tidak senangi maka hendaknya ia bersabar terhadapnya, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun yang keluar dari sulthon (penguasa / negara) sejengkal saja kemudian ia mati dalam keadaaan demikian, maka ia tidak mati kecuali matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (Bukhori Muslim dari Ibnu Abbas)

مَنْ اَتَاكُمْ وَ اَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَىرَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ اَن يَشُقَّ عَصَاكُمْ اَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ

Barangsiapa yang mendatangi kalian dan ia mau memecah belah persatuan atau ia hendak mencerai-beraikan jama’ah kalian sedang urusan kalian semua berada (kamu serahkan) pada seorang (imam), maka bunuhlah ia “. (HR Muslim)[33]

Maksud dari “Mata miitatan Jaahiliyyah” adalah perumpamaanahlul jahiliyyah bahwa mereka tidak memiliki Imam, bukan mati kafir.

Imam An-Nawawiy berkata, “Maksud dari   ماتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً  barangsiapa yang keluar dari Jama’ah Muslimin, maka ia mati seperti dalam keadaan jahiliyyah, mim pada mitatan adalah kasroh yang artinya sifat matinya berada dalam keadaan kosong tidak memiliki seorang Imam. [34]

Ibnu Hajar berkata, “Maksud dari kata miitatan Jahiliyyatan adalah kasroh-nya mim, yaitu keadaan matinya seperti ahlul jahiliyyah di atas kesesatan dan tidak mempunyai Imam yang ditaati. Dan bukanlah yang dimaksud dengannya adalah mati kafir akan tetapi mati dalam kemaksiatan. Dan dikuatkan lagi dengan hadits lain bahwa maknanya adalah perumpamaan (At Tasybih)

مَنْ فَرَقَ عَنِ الْجَمَاعَةِ شِبْرًا فَكَاَنَّمَا خَلَعَ رِبْقَةَ الإسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ

Barangsiapa yang keluar dari jama’ah sejengkal saja, maka seakan ia telah melepas ikatan Islam dari lehernya. (At-Tirmidziy, Al Bazzar, Ath-Thobroni dan Ibnu Khuzaimah).[35]

Begitu pula dengan pendapat Imam Asy-Syaukaniy beliau berkata, “Maksud dari mitatan Jaahiliyyatan adalah tasybih (perumpaman) bukan suatu hukum.” [36]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. KEADAAN (HAL) AL FIRQOH AN NAJIYYAH (AHLUS SUNNAH) DAN BEBERAPA KETENTUANNYA

 

  1. Adanya Imam Syar’i, dan Imam ini adalah Imam Ahlus Sunnah, mengikuti manhaj Ahlus Sunnah dan meng-iltizaminya, berdakwah kepadanya, mengancam siapa saja yang menyelisihinya dan ia memerangi Ahlul Ahwa’ wal-Bida’

Ini adalah masa khulafaurrosyidin, yang waktu itu telah menjadi satu makna yang terdapat dalam jamaah, baik segi ‘ilmy maupun siyasinya. Dan ini adalah keadaan tertinggi yang setiap muslim merindukannya   -juga pada masa sekarang ini-   apabila dapat ter-realisasi-kan pada ummat.

Dan dalam keadaan seperti ini wajib bagi setiap muslim untuk meng-iltizami jama’ah dan ta’at pada imam dan apa yang diserukan.

  1. Adanya imam, tetapi imam ini imam ahlul bid’ah, tidak meng-iltizami manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, akan tetapi ia telah mencampur-adukkan manhaj ahlu bid’ah. Namun di kalangan ummat masih terdapat kelompok atau jama’ah atau kumpulan -kumpulan yang berbeda tempat, yang mereka mempunyai suara yang didengar dalam da’wahnya menuju manhaj ahlus sunnah, dan mereka berpegang teguh dengannya, mendakwahkannya, serta sabar dalam dakwahnya terhadap apa yang mereka dapati dari ujian dan cobaan.

Masa ini adalah seperti dimasa Kholifah Al Makmun, yang mengambil madzhab/manhaj Mu’tazilah, mengharuskan ummat untuk mengikuti madzhabnya dan menguji mereka yang menolak. Al Makmun adalah imam bid’ah, tetapi dimasanya juga terdapat kelompok ahlus sunnah yang menolak kebid’ahan, menetapi manhaj ahlus sunnah, serta tidak menta’ati kholifah dalam hal-hal yang ia serukan seperti i’tizal (untuk menetapiMadzhab Mu’tazilah)

Dalam keadaan seperti ini kewajiban seorang muslim ada dua, yaitu :

  1. Tetap iltizam pada imam dan ia tidak keluar darinya walaupun ia fasiq    -seperti inilah madzhab ahlus sunnah-  akan tetapi wajib tidak mentaatinya dalam hal-hal kemaksiyatan kepada Allah yang ia serukan. Karena amir wajib di-taati selama tidak maksiyat kepada Allah
  2. Wajib baginya meng-iltizami manhaj ahlus sunnah wal-jama’ah, bergabung dan menetapi mereka yang menyeru kepada ahli sunnah. hal ini seperti yang diperintahkan Rasulullah kepadaHudzaifah Ibnul-Yaman:

تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ اِمَـامَهُـْم { البخـارى }

Wajib bagi kamu ber-iltizam pada Jama’atul Muslimin dan imam mereka.

  1. Tidak adanya imam syar’i, baik imam yang adil maupun yang fajir. Hal ini seperti yang terdapat pada beberapa masa runtuhnya Islam yang pernah dilalui umat Islam. Namun demikian masih tetap ada kelompok Ahlus Sunnah wal Jama’ah, baik individu atau beberapa kelompok.

Maka dalam hal ini wajib bagi setiap muslim untuk meng-iltizami kumpulan ini, menyeru kepada Allah bersama mereka, dan mereka agar berjuang bersama-samam dalam menegakkan kewajibannya yaitu Iqomatud Din dan dakwah kepada Manhaj Ahlus Sunnah

Dan disinilah berlaku hadits Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada Hudzaifah, “Wajib bagi kamu meng-iltizami Jama’atul Muslimin dan imam mereka.” berkata Hudzaifah, “Seandainya tidak ada Jama’ah dan imam bagaimana?” Abdul Hadi Al Mishriy berkata, “Kesimpulannya bahwa itu apabila ada bagi kaum muslimin Jama’ah namun tidak adanya Imam Syar’iy, maka tetap wajib bagi mereka ber-iltizam kepada jama’ah (kumpulan) ini “. [37]

  1. Tidak adanya imam syar’iybagi kaum Muslimin dan kumpulan yang menyeru kepada manhaj ahlus sunnah. Dan inilah yang terjadi pada hari-hari terjadinya fitnah yang besar di beberapa negeri, sehingga kaum muslimin yang ber-iltizam padamanhaj ahlus sunnah asing / aneh sekali, tidak didapati orang yang menolong dan melindungi mereka kecuali ahlul bid’ah juga.

Maka dalam keadaan seperti ini wajib bagi setiap muslim mencari kumpulan orang yang mengiltizami manhaj ahlus sunnah. Namun apabila ia sudah berusaha mencarinya tetapi ia tidak mendapatkannya, maka hendaknya ia menyeru kepada Al-Haq dan mengembangkan seperti kumpulan ini, karena para salaf sendiri menyeru orang lain di beberapa negeri menuju ahlus sunnah dan mendirikan jama’ah.

Hal ini seperti yang pernah dikatakan oleh Asad ibnu Musa (wafat tahun 212 H) dalam suratnya kepada Asad bin Al Furot (wafat tahun 213 H)

” … dan berilah kabar gembira, wahai saudaraku dengan pahalanya, dan biasakanlah untuk melaksanakan sebaik-baik kebaikan yang ada pada dirimu dari sholat, shoum, haji dan jihad. Dan dimanakah letaknya amalan-amalan ini dari menegakkan kitab Allah dan menghidupkan sunnah Rosul-Nya ?” (kemudian beliau menyebutkan beberapa hadits tentang dakwah dan menghidupkan sunnah, lalu beliau lanjutkan). “Maka jagalah (ambillah faedahnya) ia dan berdakwahlah menuju sunnah hingga dengannya engkau mempunyai persatuan dan jama’ah, yang mereka menggantikan tempat / kedudukanmu apabila terjadi sesuatu denganmu, sehingga akan terdapat para aimmah setelahmu dan engkau akan mendapatkan pahalanya hingga hari Qiyamat, sebagaimana yang terdapat dalam atsar, beramallah berdasarkan atas bashiroh (ilmu dan keyakinan), niat serta hisbah (amar ma’ruf nahi mungkar).” [38]

Dan apabila seorang muslim tidak mendapatkan suatu Jama’ah (kumpulan) dan belum mendapati orang lain yang menyerunya, maka tidak boleh baginya condong kepada seseorang dari ahlul bid’ah. Akan tetapi hendaknya ia mengasingkan diri (i’tizal) sampai Allah menentukan apa yang ia kehendaki, atau sampai mati sedang ia tetap dalam i’tizal-nya. [39]

 

VII. JAMA’ATU MINAL MUSLIMIN

 

Rosululllah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda dalam Hadits Hudzaifah :

عَنْ حُذَيْفَةِ بْنِ الْيَمَنِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةً اَنْ يُدْرِكَنِىْ فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ كُنَّا فِى جَاهِلِيَّةٍ وَ شَرٍّ فَجَاءَ نَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنَ الشَّرِّ . قَالَ : نَعَمْ , قُلْتُ : وَ هَلْ بَعْدَ ذاَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ ؟ قَالَ : نَعَمْ , وَ فِيْهِ دَخَنٌ , قُلْتُ : وَ مَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ : قَوْمٌ يَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِى  تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَ تُنْكِرُ . قُلْتُ : فَهَلْ بَعْدَ ذَالِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟  قَالَ : نَعَمْ , دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ اِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا , قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا , قَالَ : هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَْسِنَتِنَا . قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِى إِنْ أَْرَكَنِى ذَالِكَ ؟ قَالَ : تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ ِإمَـامَهُـمْ . قَلْتُ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعُضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَالِكَ { البخـارى }

Dari Hudzaifah bin Yaman radliyallaahu ‘anhu ia berkata, “orang-orang bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tentang kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena aku takut masuk kedalamnya” Aku bertanya, “Wahai Rosulullah, dahulu kami berada dalam kejahiliyyahan dan kejahatan, lalu Allah berikan kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”. Beliau menjawab, “Ya ada”.  “Lalu apakah setelah ada keburukan ada kebaikan lagi ?” Beliau menjawab, “Ya ada tetapi ada dakhon-nya/kekeruhan (kerusakan dan ikhtilaf)”. Lalu apakah dakhon itu ya Rosulullah ?”. “Yaitu orang-orang yang memberi petunjuk bukan dengan petunjuk-ku,  kamu tahu mereka tetapi kamu ingkari”. “Lalu setelah kebaikan itu adakah keburukan lagi ?”, “Ya ada, yaitu penyeru-penyeru (du’at) yang menyeru di pintu Jahannam, barangsiapa yang menerima ajakan mereka maka akan mereka lemparkan kedalamnya”. “Ya Rosulullah, tunjukkanlah kepada kami ciri-ciri mereka”. “Mereka (dari golongan yang) berkulit sama dengan kita dan bicara sama dengan (bahasa) kita pula”. “Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku Ya Rosulullah apabila kau mendapati mereka ?” “Ber-iltizam-lah dengan Jama’atul-Muslimin dan Imam mereka (Jama’atul-muslimin)”. “Lalu bagaimana kalau tidak ada Jama’ah dan Imamnya ?”, ” Tinggalkanlah (asingkanlah dirimu dari)  golongan-golongan yang ada seluruhnya, walaupun kau harus menggigit pangkal pohon, hingga kamu mati (itu lebih baik bagimu) sedang kamu dalam keadaan demikian. (Bukhori I/1480)

Hadits ini sering digunakan orang dalam mewajibkan ummat agar ber-iltizam pada Jama’atul Muslimin. Memang sabda Rosulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam tersebut agar kita ber-iltizam kepada Jama’atul Muslimin, bukan dalil untuk ber-iltizam pada Jama’ah minal Muslimin seperti yang disangka beberapa orang sehingga pemahaman seperti ini keliru. Juga ada sebagian orang yang mengharamkan (mem-bid’ah-kan) berdirinya jama’ah-jama’ah minal  muslimin yang mereka anggap firqoh-firqoh sesat yang dilarang oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sehingga pemahaman seperti ini pula harus diluruskan. Maka perlu kita ketahui beberapa pengertian berikut :

  1. Maksud dari sabda beliau

تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَـامَهُـمْ { البخـارى }

Maksud dari Jama’atul Muslimin dan Imamnya adalah Imam Jama’atul Muslimin, bukan Jama’ah minal Muslimin dan bukan Imam Jama’ah minal Muslimin pula.

Sedang Jama’atul Muslimin adalah Khilafah Islamiyah yang tercakup didalamnya seluruh kaum Muslimin, yang dikepalai oleh seorang Imam / Kholifah yang memberlakukan hukum-hukum Allah, yang wajib bagi semua orang menta’atinya dan memberikan akad perjanjian (bai’ah) dan mendukungnya. Dan dalam artian lain Jama’atul Muslimin adalah apabila te-realisasi dan tergabungnya makna Ilmiy dan Siyasiy.[40]

 

  1. Maksud dari sabda beliau

فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا

adalah I’tizal (mengasingkan diri) dari golongan-golongan sesat, yaitu golongan-golongan yang mengajak kepada kesesatan, baik yang terhimpun diatas kemungkaran dari perkataan atau perbuatan, maupun diatas hawa nafsu. Atau terhimpun berdasarkan pemikiran kafir seperti sosialis, Komunis, Demokrasi, Kapitalis dan Lain-lain. Juga terhimpun berdasar satu daerah, suku, madzhab dll.

Imam An-Nawawiy berkata :

قَالَ الْعُلَمَاءُ : هَؤُلاَءِ مَنْ كَانَ مِنَ الْأُمَرَاءِ يَدْعُوْا إِلىَ بِدْعَةٍ أَْضَلاَلٍ كَالْخَوَارِجِ وَالْقَرَامِطَةِ وَأَصْحَابِ الْمِحْنَةِ

Para Ulama’ mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah : “para umaro’ yang menyeru kepada  kebid’ahan atau kesesatan seperti Khowarij, Qoromithoh dan Ash-habul-Mihnah (Mu’tazilah)” [41]

Ibnu Hajar berkata :

وَالَّذِى يَظْهَرُ أَنَّ الْمُرَدَ بِالشَّرِّ الأَوَّلِ مَا أَشَرَ إِلَيْهِ مِنَ الْفِتَنِ الأُوْلَى ( الْفِتَنُ الَّتِى وَقَعَتْ بَعْدَ عُثْمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ) وَ الدُّعَاةُ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ قَامَ فِي طَلَبِ الْمُلْكِ كَالْخَوَارِجِ وَغَيْرِهِمْ

Dan yang nampak (jelas) akan maksud syarrul-awwal (kejelekan yang pertama) adalah yang di-indikasi-kan sejak terjadinya fitnah yang pertama (fitnah yang terjadi sejak syahid-nya shahabat ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu) dan adanya du’at yang menyeru di atas pintu Jahannam, yaitu dari orang-orang yang meminta kekuasaan (kudeta) seperti golongan Khowarij dan lainnya.[42]

Merekalah golongan sesat yang kita perintahkan untuk menjauhinya, karena mereka yang mengajak manusia menuju ke Jahannam. Dan bagi siapa saja yang mengikuti seruan mereka akan dilemparkan kedalamnya, sebagaimana hadits Hudzaifah diatas.[43]

  1. Maksud dari sabda beliau :

وَ لَوْ اَنْ تَعُضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ

Maksud hadits ini bukan dilihat dari segi dhohirnya, yaitu berpegang pada pangkal pohon, namun maknanya adalah berpegang teguh dan sabar diatas Al-Haq, dan mengasingkan diri (meninggalkan) dari golongan-golongan sesat.[44]  Dalam arti yang lebih luas mendakwahkannya dan memperjuangkannya, jika kondisi masih memungkinkan.

Maka karena pada masa kita sekarang ini tidak ada Jama’atul Muslimin, yang wajib bagi kita ber-iltizam padanya terhitung sejak tahun 1924 pada saat runtuhnya Khilafah Islamiyah dari tangan Bani Utsmaniyah-maka konsekwensi kita adalah kembali pada qoidah ahlus sunnah wal jamaa’ah (lihat bahasan Jama’atul Muslimin) yaitu,menyeru kepada Al-Haq dan Manhaj Ahlus Sunnah serta mendirikan Jama’ah, hingga terwujudnya Jama’atul Muslimin dan Imam Syar’iy bagi mereka.

Karena sesungguhnya masalah Jama’atul Muslimin pada umumya adalah masalah terpenting setelah iman kepada Allah dan Rosul-Nya. Memang betul sekarang ada beberapa Jama’atun minal Muslimin tetapi tidak seyogyaya para anggotanya menganggap bahwa ia Jama’atul Muslimin, sebelum terpenuhi syarat-syarat Jama’atul Muslimin. Maka amal Jama’iy dalam usaha mendirikan Khilafah Islamiyyah adalah kebutuhan yang sangat mendesak dan sangat urgen. [45]

 

 

 

 

 

  1. YANG MENDASARI BERDIRINYA  JAMA’ATUN MINAL MUSLIMIN

 

Memang  para Salaf ummat ini tidak ada yang hidup di masa Jama’atul Muslimin sirna dan  hilang dari muka bumi ini,  mereka hidup tatkala Jama’atul Muslimin tegak, kaum muslimin betul-betul bersatu dan memiliki ‘izzah, dan mereka tidak pernah merasakan adanya  Jama’atu  Minal Muslimin  seperti sekarang ini. Sehingga memang  tidak kita dapatkan nash-nash yang shorih  (jelas)  yang menunjukkan  perintah  untuk ber-iltizam pada Jama’atu minal Muslimin dan membenarkan  eksistensinya.

Jama’ah dalam arti suatu perkumpulan merupakan suatu hal yang  fitriy yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun  juga, sebabthobi’ah fitri-nya  manusia  adalah berjama’ah. Demikian pula dengan Jama’atu minal Muslimin yang pada masa sekarang ini sudah wujud ,  tidak  bisa dipungkiri keberadaannya, dan kita tidak dapat lari darinya.

Sehingga Jama’ah minal Muslimin yang ada dimasa sekarang ini, dapat dibenarkan  keberadaannya jika memang ia sebagai Jama’ah Da’wah,  menuju dan bertujuan  menegakkan  Jama’atul Muslimin yang sekarang sirna dari muka bumi ini. Sedang dasar yang membolehkan dan membenarkan (baca: me-masyru’-kan) Jama’atu minal Muslimin yang memang sudah wujud dan tidak bisa dielakkan lagi adalah :

 

  1. Berdasar Qoidah Ushuliyah  :

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ  فَهُوَ وَاجِبٌ

“Sesuatu yang tidak akan sempurna sesuatu kewajiban kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi wajib”.

Sedang masalah yang kita hadapi sekarang ini adalah masalahIqomatudin (Iqoomatul-Khilafah) yang begitu besar dan sangat penting pada masa sekarang ini, jelas diperlukan suatu sarana, yang seluruh sarana yang mengacu  dan membantu terwujudnya iqomatuddin hingga tegaknya Khilafah Islamiyyah di muka bumi ini, hukumnya wajib diadakan hingga terwujudnya tujuan yang sedang kita usahakan tersebut.

Dan salah satu sarana yang sangat penting adalah berupa wadah bagi orang-orang yang sadar akan Iqomatuddin, yang mutlaq diperlukan seorang amir sebagai pemimpin agar wadah (organisasi / Jama’ah) tersebut terorganisir,  rapi, dan tetap berada diatas Al Haq.

Ini semua mutlak diperlukan suatu ketaatan dari orang-orang dalam wadah tersebut kepada pemimpinnya, namun ketaatan tidak akan terwujud dengan baik dan optimal kecuali apabila ada ikatan perjanjian yang kuat diantara mereka.

 

  1. Berdasar perintah Allah Ta’ala agar kita berta’awun dalam birr dan taqwa, Firman-Nya :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ { المائدة 2}

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla  dan Rosul-Nya memerintahkan untuk berjama’ah  dan bersatu, melarang dari berfirqoh dan berpecah belah, serta memerintahkan untuk berta’awun dalam birr dan taqwa. dan melarang dari ber-ta’awun dalam itsmiy dan ‘udwan.”[46]  Perintah Allah Ta’ala dalam ayat ini adalah bersifat umum, meliputi seluruhta’awun dalam birr dan taqwa sekecil apapun bentuknya,  asalkan hal itu adalah hal yang birr dan menuju pada ketaqwaan maka hal itu diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla. Lalu apa pendapat kita jika dalam masalah ta’awun dalam birr dan taqwa ini adalah masalah yang begitu  agung dan urgen yaitu masalah Iqomatuddin ?  

  1. Qiyas dari hadits Amir Safar, yaitu  perintah mengangkat amir dalam safar

اِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَالْيُؤَمِّرُوْا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ { ابو داود باسناد حسن }

“Apabila ada 3 orang dalam safar maka hendaknya mereka mengangkat amir (pimpinan) salah satu di antara mereka “. (Abu Dawud dengan Isnad Hasan)[47]

عَنْ عُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ : إِذَا كَانَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ ذَالِكَ أَمِيْرٌ أَمَرَهُ رَسُوْ ُل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ { الحاكم وصحّحه وأقرّه الذهبى }

Dari ‘Umar bin Al-Khoththob berkata, “Jika ada tiga orang hendaknya mengangkat salah seorang sebagai amir”[48]

Amir tersebut (di atas) adalah amir yang dilaksanakan atas perintah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. (HR Al-Hakim, dan diakui keshohihannya oleh Adz-Dzahabiy)

Juga tatkala sahabat radliyallaahu ‘anhum berpisah disuatu tempat, bersabda Rosulullah kepada mereka,

اِنَّ تَفَرُّقَكُمْ هَذَا فِى الشِّعَابِ مِنَ الشَّيْطَانِ

” Sesungguhnya terpencarnya kalian ini berada dalam lembah dari Syaithon “.

لاَ يَحِلَّ لِثَلاَثَةِ نَفَرٍ يَكُوْنُوْنَ بِأَرْضِ فُلاَةٍ  إِلاَّ أَمَّرُوْا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ {رواه أحمد عن ابن عمر }

Tidak halal bagi tiga orang berada dalam satu tempat dari belahan bumi, kecuali harus dipimpin salah seorang diantara mereka “. (Ahmad dari Ibnu ‘Umar)

Dan kalau ini hanya masalah furu’ yaitu masalah safar, makaapalagi apabila yang kita pikirkan adalah masalah Iqomatuddin,yang kita berusaha menegakkannya, memuliakannya, serta menyingkirkan hal-hal  yang menghalanginya, sementara lautan kerusakan telah meluap dan mayoritas moral manusia sudah menyimpang dari Al Haq ?[49]   Tentunya ia lebih masyru’ dalam Islam.

Sedangkan Ibnu Taimiyyah melihat akan pentingnya masalah amir safar ini berkata, “Apabila telah diwajibkan mengangkat seorang amir dalam perkumpulan dan masyarakat yang  paling kecil dan bersifat sementara (dalam safar), maka ini menunjukkan lebih wajibnya mengangkat amir dalam skala yang lebih besar darinya.”[50]

Jadi keberadaan Jama’ah minal Muslimin yang ada pada masa sekarang ini adalah sebagai Jama’ah Da’wah dan ia sebagai sarana untuk menuju dan menegakkan Jama’tul Muslimin yang sekarang hilang dan lenyap di tengah-tengah kaum Muslimin, yang hal ini jelas-jelas di-syareat-kan oleh Islam dengan dalil diatas !

Lalu apakah dalam hati kita tidak terdetik untuk sama-sama berjuang dengan bergabung dengan satu Jama’ah minal Muslimin yang ada, untuk menegakkan Jama’atul Muslimin yang kita cita-citakan, dibawah komando dan pimpinan salah seorang diantara mereka agar gerak dan langkah kita tetap terorganisir rapi dan tetap berjalan diatas rel Al haq. Tentunya itu semua lebih baik dari pada kita berdakwah sendirian tanpa teman dan pimpinan yang akan selalu menjaga dan menegur kesalahan-kesalahan fikroh, sikap dan langkah kita, yang tentunya hal ini lebih baik daripada kita berda’wah sendirian dan jelas kita tidak akan mampu menegakkan Khilafah Islamiyyah seorang diri !  Apalagi  -sekali lagi-  Islam menganjurkan dan mengharuskan ummatnya hidup berjama’ah, sebab berjama’ah lebih baik dan lebih dianjurkan Islam daripada kita hidup sendirian tanpa teman dan pimpinan.

 

  1. JALAN BAGI UMAT INI

 

Karena Jama’tul Muslimin pada masa sekarang ini belum tegak, maka segala usaha untuk mendirikannya kembali adalah kewajiban ummat pada zaman ini. Diantara thoriqoh yang harus ditempuh oleh ummat ini menurut Dr Sholah Showi adalah :

  1. Menunjuk beberapa orang sholeh diantara kaum mukminin untuk dijadikan dan didudukkan sebagai Ahlul Hally wal ‘Aqdi guna melaksanakan  amanat-amanat kepemimpinan dan mendirikan Jama’ah, serta memperbaharui apa saja yang tercerai berai diatara mereka.

Sedang yang dimaksud dengan Ahlul Halli wal ‘Aqdiy adalah : Ahlul ‘Ilmi dan Ahlul Qudroh, sebagai syaratnya :  al-‘adalah, selamat dari cacat, mempunyai kapabilitas (kemampuan) dan ilmu yang memadai

  1. Hendaklah Ahlul Halli wal ‘Aqdi bersatu dalam satu kalimat antara anggota dan pimpinannya. Atau paling tidak diantara para pemimpinnya.
  2. Hendaknya ummat mempercayakan segala urusannya kepada Jama’ah ini, ber-iltizam kepadanya dengan mentaatinya  selama tidak maksiyat. [51]

 

 

 

 

  1. BEBERAPA SYARAT PENTING YANG HARUS DIPENUHI OLEH SUATU PERKUMPULAN (JAMA’AH)

 

Tidak diperselisihkan lagi bahwa berkumpul dan mengadakan perjanjian dalam kebaikan serta menetapi keta’atan bagi yang merealisasikannya selama tidak maksiyat ; adalah disyariatkan oleh Islam, yaitu dengan syarat sebagai berikut ;

  1. Tidak ber-tahazzub(bergolong-golongan) atau mendasarkan diri pada suatu asas yang menyelisihi Ahlus-Sunnah wal-Jamaa’ah, atau berada pada asas ke-bid’ahan yang banyak, karena jika tidak, maka kelompok (golongan) ini termasuk golongan yang sesat.
  2. Bergabung dengan Jama’atul-Muslimin jika ada, dengan tidak bermaksud , melawan Jama’atul-Muslimin, melepas bai’atnya dan mencopot ke-imam-annya. Maka jika tidak mereka termasuk golongan Ahlul-Baghyi.
  3. Tidak mendasarkan al-wala’ wal-baro’ pada asas-asas yang di-nisbah-kan hanya kepada perkumpulannya (jama’ahnya), karena dasar-dasar al-wala’ wal-baro’ adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah yang tergambar pada Manhaj Nubuwah, bukan yang lain.[52]

 

  1. BEBERAPA KRITERIA JAMA’AH MINAL MUSLIMIN YANG PANTAS DI-ILTIZAMI

 

Maka jika sudah jelas akan urgensi Jama’ah minal Muslimin, sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bergabung dan memilih dari Jama’ah-Jama’ah minal Muslimin yang ada pada zaman ini di seantero dunia. Yang ia pandang lebih dekat kepada ridlo Allah ‘Azza wa Jalla, Lebih dekat kepada sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lebih banyak manfaatnya untuk kepentingan diennya dan kaum muslimin, dan lebih banyak kebenaranya dalam iqomatudin. Maka sepantasnyalah ia intima’, ber-ta’awun dengan yang lain hingga tegaknya khilafah.

Beberapa kriteria Jama’ah Minal Muslimin yang pantas kita beriltizam kepadanya :

  1. Jama’ah yang berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah serta Ijma’ dan selalu kembali kepada ketiganya  dalam setiap permasalahan.
  2. Jama’ah yang benar Aqidahnyasesuai dengan pemahaman Salafush-Sholehbaik secara global maupun terperinci.
  3. Jama’ah yang bertujuan mencapai ridho Allah dengan jalan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla dan mengikuti Rosulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam
  4. Jama’ah yang lengkap tashowwur(wawasan)-nya dan jernih pemahamannya, yaitu pemahaman Islam secara syumul sebagaimana yang difahami oleh ulama’ yang tsiqqoh yang mengikuti sunnah Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah para Khulafaur Rosyidin radliyallaahu ‘anhum yang mendapat petunjuk.
  5. Jama’ah yang ber-tasabuq(ber-lomba) dalam membawa amanah dakwah dan jihad, dengan tujuan mengembalikan peribadatan manusia hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja dan menegakkan Khilafah Islamiyyah di atas Manhaj Nabawiy
  6. Jama’ah yang hanya berwala’ kepada Allah, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman serta berbaro’ terhadap musuh-musuh Islam dari orang-orang dholim, kafir, musyrik dan lain-lainnya.
  7. Jama’ah yang ke-Islam-nya sudah teruji dan berani bersikap tegas terhadap kaum musyrikin.
  8. Jama’ah yang menjauhi segala bentuk kebid’ahan dan menyeru kepada At Tauhid[53]
  9. Jama’ah yang menjaga ukhuwwah dan kesatuan jama’ah-nya tanpa ta’ashshub dan melakukan tansiq dengan Jama’ah minal Muslimin yang lain yang memiliki tujuan, ‘aqidah dan pemahaman yang sama.
  10. Jama’ah yang membangun pemahaman yang benar tentang Jama’tul Muslimin, yang dalam usaha menegakkanya dengan jalan dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fie sabilillah, serta berbekal ilmu dan taqwa, yakin dan  tawakal, syukur dan shabar, zuhud terhadap dunia dan mengutamakan akherat, serta bekal-bekal pemahaman dan sikap yang lain yang diperlukan bagi suatu kelompok yang ingin menegakkan dien dengan thoriqoh jihad.
  11. Jama’ah yang aktivitasnya meliputi seluruh segi / aspek dalam Islam.
  12. Jama’ah yang mampu menyatukan kesemuanya ini dalam keseimbangan, yang intinya dapat menjaga Sunnah dan Jama’ah, satu ghoyah, satu ‘aqidah, satu royah, satu fikroh dan jauh dari kebid’ahan

.

  1. BEBERAPA FAEDAH JAMA’AH MINAL MUSLIMIN

 

  1. Dengannya jihad menjadi mungkin untuk dapat ditegakkan.
  2. Jama’ah merupakan kekuatan bagi kaum Muslimin
  3. Menanggulangi kesulitan dalam melaksanakan  Al Haq
  4. Mengharap diterimanya amal sholeh dan mengharap ampunan apabila melakukan  kesalahan
  5. Meng-aplikasikan Al Wala’ kepada kaum muslimin.[54]

 

 

 

 

  1. AKIBAT BAGI MEREKA YANG TIDAK BERGABUNG DENGAN SALAH SATU JAMA’ATUN MINAL MUSLIMIN

 

Maka bagi seorang Muslim yang  pada masa sekarang ini tidak bergabung dengan Jama’atul minal Muslimin yang ada, sulit menjaga ke-istiqomah-an ‘amaliyah yaumiyah  dan kemungkinan melakukan ma’shiyat lebih besar daripada mereka yang bergabung, sebab ia tidak memiliki teman dan pimpinan yang akan selalu menasehati dan memperingatkan apabila ia salah dan ma’shiyat. Mereka juga sulit untuk membangun rasa percaya diri, tanggung jawab, kedewasaan, kebersamaan, ukhuwwah dan lain sebagainya,karena semua itu bukan hanya ilmu tetapi membutuhkan tajribaat.

Jama’ah, walaupun belum ideal (masih dalam taraf Jama’tul minal Muslimin) tetap memberikan suatu kelebihan bagi yang bergabung dengannya, baik dari segi pengalaman, ujian yang akan semakin membuatnya sabar dan istiqomah, ukhuwwah, dapat merasakan manis pahitnya saling memberi dan menerima dengan saudara seiman, dan berbagai kenikmatan dan pengalaman iman yang lain yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang terlibat dalam aktivitasnya secara langsung.

Wallahu A’lamu Bish Showab

 

 

 

 

 

 

 

[1]. Lisanul Arob Al Muhith Ibnu Mandhur

[2]. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, III/157

[3]. Al Mu’jamul Wasith , I/135

[4] . Jama’atul-Muslimin, mafhumuha wa kaifiyatu luzuumuha, Dr Sholah Showiy.

[5] . Al-I’tishom, Asy-Syatibi, II : 260-266.

[6] . Tafsir Ibnu Katsir I/516-517

[7] . Ibid I : 518

[8] . di-shohih-kan Al-Baniy dalam ta’liq Syarh ‘Aqidah Thohawiyah 578

[9] .Jama’atul Muslimin, Mafhumuha wa Kaifiyatu luzumiha, Dr Sholah Showy hal. 110-111.

[10] . Jamaa’atul- Muslimin, Mafhumuhaa wa kaifiyatu luzuumuhaa, Dr Sholah Showiy.

[11] . di-shohih-kan Al-Baniy dalam ta’liq Syarh ‘Aqidah Thohawiyah 578

[12] .  Ahmad 3/229.

[13] . Syarh I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Al Alkay, 1 : 69-70

[14] . Ibid. No 3 dan Ats Tsawabit Dr. Sholah Showy, 225

[15] . Al I’tishom As Satiby, 2/267

[16] . Ats Tsawabith Wal Mutaghoyirot, Dr Sholah Showi, 225

[17] . Op. Cit no. 3

[18] . Jama’atul Muslimin, Dr. Sholah SHowy, 11-16

[19] . Fathul Bari, Ibnu Hajar 13/121, Muslim Syarh Nawawi 12/240.

[20] . Syarh An-Nawawy 12/242.

[21] . Syarh I’tiqod Ahlus Sunnah Al Alkay, I/160 diambil dari Ats Tsawabith wal-mutaghoyiroot, Dr. Sholah Showi, hal. 225-226

[22] . Ibid. I/161

[23] . Op. Cit I/167-168

[24] .  Ibid (20)

[25] . Tafsir Ibnu Katsir I/687-689

[26] . Fathul Bari, Ibnu Hajar 16/240 diambil dari An Nidlom As Siyasi, Dr. Abdul Qodir Abu Faris.

[27] . Ibid 16/241.

[28] . Fathul Bari, Ibnu Hajar  16/113.

[29] . Al Anwar Al Hadits II : 12.

[30] .  An Nidhom As Siyasiy, Dr. Abdul Qodir Abu Faris 71-75 dan lihat tafsir Ibnu Katsir I / 687-689

[31] . Tafsir Ibnu Katsir I : 687-689

[32] . An Nidhom As Siyasi fil Islam, Dr. Muhammad Abdul Qodir Abu Faris, hal 71-75

[33] . Syarh An-Nawawy 12/242)

[34] . Ibid, 12 : 238.

[35] . Fathul Bari, Ibnu Hajar 13 : 7.

[36] . Nailul Author, Syaukany, 7/194, 7/356.

[37] . Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ma’alim Intilaqul Qubro, Abdul Hadi Al Mishry, Hal : 183, Darut Thoyibah Riyadh

[38] .  Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhoh, lihat dalam bukunya Al Bida’ wan-Nahyu ‘Anha, hal 5 -7 tahqiq Muhammad bin Ahmad Dahman diambil dari buku Mu’allimul Intilaqil Qubro, Abdul Hadi Al Misri hal, 183-184)

[39] . Mu’allimul Intilaqil Qubro, Abdul Hadi Al Misri hal, 182-184

[40] . Maday Syar’iyyatul Intima’ Ilal Ahzaab wal Jama’aat Al-Islamiyyah, Dr Sholah Showiy, hal 125

[41] . Shohih Muslim, Syarh An-Nawawiy.

[42] . Fathul-Bariy, XIII / 36

[43] . Al Qoulu Mubin Fie Jama’atil Muslimin, salim Bin ‘Ied Al Hilaly, hal : 51 Darur Royah.

[44] . Ibid, halaman 53, juga dalam Ats-Tsawaabith, Dr Sholah Showiy hal 238.

[45] . Al Bai’ah, Ramly Kaby

[46] . Majumu’ Fatawa 29 : 110.

[47] .Jama’atul-Muslimiin; mafhumuhaa wa kaifiyatu luzuumuha, Dr Sholah Showiy.

[48] . Al-Hakim fil-Mustadrak.

[49] .Jama’atul-Muslimiin, Dr Sholah Showiy, 111dan 114.

[50] . Majmu’ Fatawa, 28 : 65.

[51] . Ats Tsawabith, Dr. Sholah Showi, 123.

[52] . Dr Sholah Showiy, Maday syari’atul-intimaa’ ilaa al-Jama’aat wal-Ahzaab.

[53] . Mitsaqul-’Amal Al-Islamiy, Dr Najih Ibrohim.

[54] . Manhajus Sunah fil-’Alaqoh Bainal Hakim Wal Mahkum, Dr. Yahya Ismail, Hal : 66-93, Darul Wada.

 

Khasiat terapi sengat lebah

10599646_845460462150859_2689156821290922077_n

Disebutkan dalam Al quran surat An Nahl ayat 68-69, di dalam madu lebah terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Ayat tersebut menjabarkan pada manusia, lebah memiliki khasiat yang dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit.

Produk turunan yang dihasilkan lebah ada 13, di antaranya madu, propolis, royal jelly, pollen, bee venom, lilin lebah, madu sarang, roti lebah, larva lebah, dan phedra.

Pengobatan dengan menggunakan lebah biasa disebut Aphitherapy (apiterapi), yang berasal dari perpaduan bahasa Latin, aphis berarti lebah dan therapy, pengobatan.

Apiterapi didefinisikan sebagai upaya pengobatan komplementer untuk tujuan prefentif, kuratif, dan rehabilitasi menggunakan lebah dan produk turunannya.

Salah seorang terapis sengat lebah, Oman, mengatakan, penggunaan madu lebah untuk kesehatan telah diketahui sejak ribuan tahun lalu. Penggunaan sengat lebah untuk meringankan nyeri sendi dan artritis telah lama dilakukan oleh bangsa Yunani. Pelopornya adalah bapak kedokteran modern, Hippocrates.

Selain itu, Dr. Philip Tere dari Perancis pernah meneliti hubungan antara sengat lebah dan rematik. Sebelumnya, tahun 1864, Prof. Libowsky melaporkan kesembuhan pasiennya yang menderita rematik dan neuralgia setelah diterapi dengan sengatan lebah.

Pengobatan menggunakan sengat (bisa) lebah dikenal sebagai apipuntur. Apipuntur, kata Oman adalah bagian dari apiterapi. Apipuntur memanfaatkan bee venom dan metode akupuntur. Lebah untuk terapi ini jenis Apis mellifera dan Apis cerana. Apipuntur sendiri merupakan bagian dari apiterapi.

Sengat atau racun lebah sangat baik untuk menormalkan segala aktivitas pembuluh darah dan saraf.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengat lebah mengandung melitin, apamin, peptida 401 (MDC), inhibitor protease, dan norepinephrine,” kata terapis yang mendalami pengobatan sengat lebah sejak tahun 2000 itu.

Apiterapi secara umum dimanfaatkan untuk meredakan gangguan rematik, masuk angin, flu, salah urat, hingga penyakit berat, seperti darah tinggi, diabetes, dan kanker. Cara itu pun diklaim efektif untuk mengobati penyakit degeneratif, seperti stroke.

Seseorang yang mempunyai keluhan tidak semerta langsung diterapi. Oman memilki cara untuk mendeteksi penyakit yang diderita pasien. “Kalau ditekan ditempat yang menjadi sumber penyakit terasa sakit, di tempat itu dilalukan sengatan, jadi tidak sembarangan,” jelasnya.

Jumlah sengatan tergantung pada jenis penyakit. Namun, satu sengatan di titik-titik tertentu dianggap cukup sebagai perkenalan.

“Buat yang baru terapi biasanya diberi satu atau dua sengatan, kalau yang sudah biasa biasa sampi tujuh tapi tidak boleh lebih dari 10, kalau terlalu banyak bisa meriang meski daya tahan tubuh pasien kuat,” jelasnya.

Sengatan lebah yang sedang bereaksi di tubuh ditandai dengan ketidaknormalan sejenak yang sifatnya individual. Reaksi pasien berbeda-beda, apakah sebelumnya pernah disengat lebah atau tidak.

Biasanya pasien akan mengalami reaksi lokal dan sistemik. Ciri reaksi lokal adalah pembengkakan di sekitar lokasi sengatan, gejala klinisnya gatal, nyeri, dan kaku. Reaksi sistemik berupa demam, lemas, telinga berdengung, dan pusing.

Untuk menetralkan kondisi tersebut, dia menganjurkan konsumsi madu dan mengoleskan minyak gosok di bagian yang bengkak dan gatal. Karena itu, terapi sengat lebah akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan pemberian madu, propolis, pollen, atau royal jelly.

“Pasien yang pertama kali disengat dan daya tahan tubuhnya jelek biasanya suka meriang. Saya menganjurkan pasien untuk minum madu dan jangan mandi,”

 

Change Management

“Manejemen Perubahan atau Change Management course”

10523981_641869592608008_6081900817037621951_n

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D di Indonesia X
“Suatu bangsa tidak akan berubah menjadi bangsa yang besar kecuali bangsa itu mau melakukan hal–hal yang sulit.” ~ Kennedy
Perubahan itu tidak dapat kita hindarkan. Selama bumi berputar pada porosnya. Maka perubahan itu akan terjadi. Perubahan itu tidak ada yang menyuruh, melainkan ada orang yang terpanggil. Tidak bisa misalnya saya mengatakan, “Anda deh lakukan perubahan, Anda lakukan perubahan.” Terus dia bergerak melakukan perubahan karena disuruh? Come On.
Tokoh-tokoh perubahan bukanlah orang yang disuruh. Melainkan orang yang melihat, orang yang terpanggil, orang yang terbebani. Faktanya hampir semua kejadian- kejadian besar dunia tidak dimulai dari banyak orang. Melainkan dimulai dari sedikit orang.
Mengubah cara berpikir adalah peranan penting dari para pemimpin. Perubahan membutuhkan pemimpin yang tangkas. Pemimpin yang berani. Berani membukakan mata. Berani membukakan perpektif. Mengajak orang melihat dengan perspektif yang berbeda. “Ukuran kecerdasan manusia adalah pada kemampuannya untuk berubah.” ~ Issac Newton.
Yang namanya perubahan selalu akan menghadapi kelompok yang menentang. Kelompok yang tidak senang terhadap adanya pembaharuan. Kelompok yang merasa terganggu karena ada kepentingan-kepentingan. Selalu ada resistensi, selalu ada orang-orang yang menentang karena mereka sudah nyaman dengan segregasi.
Apakah itu resistensi?, cara berpikir lama, orang-orang yang belum bisa melihat, orang- orang yang berpolitik untuk menyingkirkan Anda. Orang-orang yang tidak bersedia kenikmatannya berubah atau pindah, atau mereka yang sudah terbelanggu oleh zona nyaman.
Kita memiliki kebenaran-kebenaran masa lalu, kebanggaan masa lalu, kita menyangkal terhadap sebuah, sesuatu yang telah berubah. Dan kita menikmati keadaan sekarang karena tidak dituntut banyak untuk melakukan sesuatu yang baru. Kita menikmati karena kita terperangkap dengan zona nyaman kita. Terperangkap dengan rutinitas, sementara kita tidak melihat bahwa di luar telah datang pendatang-pendatang baru, teknologi baru, manusia-manusia baru, bahkan kepungan-kepungan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Kita perlu mengenal apa yang disebut dengan istilah Self-Destructive Habits. Ini ada tujuh poin. Diperkenalkan oleh Profesor Jagdish Sheth. Seorang ahli marketing yang juga gemas dengan change. Seringkali orang tidak menyadari bahwa mereka adalah bagian dari kelompok yang resistant to change . Mereka resisten, mereka menolak perubahan. Menolak masa depan yang baik. Kelompok yang resisten terhadap perubahan :
Yang pertama itu adalah denying , atau menyangkal. Terdapat kecendrungan bagi manusia setiap kali melihat hal yang baru, yang belum dia kenal, biasanya langsung menyangkal. Otaknya sudah secara otomastis menolak, menyangkal.
Yang kedua adalah arrogance. Arogan. Arogan. Anda pernah bertemu dengan orang yang arogan bukan? Orang yang arogan itu tidak enak dilihat. Orang yang arogan itu merasa lebih pandai dari orang lain. Dia meremehkan orang lain. Dia merendahkan orang-orang lain.
Yang ketiga adalah competitive myopia. Myopic. Myopic itu artinya ketidakmampuan untuk melihat lebih jauh. Hanya mampu melihat yang dekat.
Yang berikutnya, yang keempat adalah competency dependent . Ketergantungan pada kompetensi yang kita miliki di masa lalu. Kita berpikir kompetensi yang kita miliki akan cocok selama- lamanya.
Self-destructive habits yang kelima adalah territorial impulse . Namanya saja sudah territorial. Manusia punya kecendurungan ada otak purba di otaknya, bahwa yang mengatakan dia memiliki teritori yang tidak bisa ditembus orang lain.
Self-destructive habits yang keenam adalah complacency . Complacence. Ketika manusia sudah complacence, sudah nyaman, maka manusia cenderung tidak mau berubah. Manusia cenderung hanya mau melakukan hal yang sudah dia kenal. Complacence. Inilah yang tadi saya sebut dengan zona nyaman tadi
Terakhir yang ketujuh adalah volume obsession. Obsesi kita sedemikian besar untuk mendapatkan volume yang sebesar-besarnya, yang tanpa kita sadari sebetulnya ini lebih merusak diri kita sendiri.
Tahapan Perubahan
Perubahan itu melalui tiga tahapan. Yang pertama itu adalah melihat,
seeing . Melihat. Yang kedua adalah
moving, bergerak. Dan yang terakhir adalah menyelesaikan atau finishing .
Jadi pertama-tama itu adalah orang yang mampu melihat. Sering dikatakan 90% orang yang melihat gagal melihat. Orang orang yang melihat gagal melihat. Soal melihat itu bukan cuma dengan mata, bukan juga dengan kacamata, tetapi melihat segala sesuatu itu juga dengan pikiran kita.
Ada tiga jenis mata di sini. Mata yang pertama itu kita sebut sebagai mata persepsi, perception. Dan orang sering mengatakan perception is a reality. Mata persepsi, kita mempunyai persepsi. Ini orang baik, ini orang jahat, ini orang suci, ini orang kotor, dan seterusya. Ini adalah mata yang terendah.
Mata yang kedua adalah disebut mata probability. Jadi kita menggunakan mata kemungkinan- kemungkinan untuk melihat realitas. Itu mata kedua. Seorang pemimpin yang melihat dengan mata probability itu baru mempunyai keyakinan, “Ah barangkali bisa nih.”
Tetapi pemimpin perubahan harus memiliki mata yang ketiga. Yaitu mata yang disebut sebagai possibility,
nothing is a impossible
Mengapa Manusia Gagal Melihat Tanda Perubahan?
Pertama, Anda akan gagal melihat kalau Anda kebanyakan cahaya.
Yang kedua adalah tidak ada cahaya sama sekali.
Yang ketiga, bisa jadi perubahan itu menjadi sangat sulit orang tidak melihat karena peta yang salah.
Keempat ini adalah Anda berada di dalam sebuah terowongan.
Strategi Melihat Tanda Perubahan
Yang pertama adalah ciptakan kontras . Kalau tidak kontras tidak mudah terlihat, blur, tidak fokus. Kalau Anda cuma dikasih dua pilihan, yang satu bagus, yang satu buruk, pasti Anda mudah mengambil keputusannya. Yang kedua lakukan strategi simplicity . Ingat, dunia telah berubah menjadi dunia yang menyederhanakan. Yang ketiga, bawalah mereka piknik keluar . Buka mata mereka agar mereka melihat di tempat lain bagaimana praktiknya. Yang keempat adalah dengan menggunakan pendekatan Pareto, yaitu menetapkan prioritas . Dan yang kelima adalah Anda melakukan konfrontasi, ingatkan terus menerus.
Risiko Melakukan Perubahan
Banyak orang melihat, gagal melihat. Banyak orang setelah melihat bisa bergerak. Tapi juga ada yang gagal bergerak. Kemudian setelah bisa bergerak harus diselesaikan perubahan itu. Perubahan yang bagus itulah perubahan yang diselesaikan. Tetapi kita ketahui ada orang-orang yang tidak bergerak setelah melihat. Apa yang membuat orang bergerak? Ini menjadi persoalan. Bagaimana membuat manusia bergerak tentu saja tidak cukup hanya menggunakan motivator. Tidak cukup menggunakan orang lain.
Pertama-tama kita tentu harus membantu orang untuk mengurangi risiko. Risiko yang jauh lebih besar daripada manfaat atau benefit yang didapat akan mengakibatkan manusia tidak bergerak. Risiko apa yang dihadapi oleh manusia dalam perubahan? Saya membedakannya ke dalam enam jenis risiko atau perceived risk. Persepsi terhadap risiko.
Risiko yang pertama adalah risiko finansial. Yang kedua kita sebut sebagai social risk . Dan yang ketiga kita sebut psychological risk. Yaitu risiko psikologis. Ya biasalah, melakukan perubahan itu kan ada tekanan-tekanan psikologisnya. Kemudian yang keempat itu adalah risiko fisik . Banyak kawan saya yang tiba-tiba dipukul di tengah jalan diajak berkelahi dan anehnya dia mau pula diajak berkelahi. Ya. Persepsi tehadap risiko fisik ini perlu Anda ukur. Yang kelima adalah risiko terhadap kinerja,
performance risk. Kinerja, penampilan atau pendapat orang tentang hasil yang Anda capai. Kemudian yang terakhir itu adalah risiko waktu. Waktu. Waktu cepat habis tidak bisa diperbaharui, waktu cepat hilang, dan ini akan menghambat waktu Anda pula dalam melakukan perubahan.
Faktor Pendorong Orang Bergerak
Dalam melakukan perubahan, yang kedua setelah melihat, mereka diajak bergerak. Ketika bergerak langkah pertama adalah kita kurangi dulu persepsi terhadap risiko. Sehingga mereka nyaman untuk berjalan bergerak, masuk ke sebuah lorong yang mereka yakini jalan ini sudah aman, tidak berbahaya.
Kemudian, saya kira selain menciptakan lingkungan yang aman, yang membuat orang bisa bergerak adalah membuat perubahan ini clear.
Clarity. Membuat ini menjadi jelas bersih terang mudah untuk dijalani. Yang ketiga adalah berikan support, dukungan. Kan tidak mungkin Anda mengharapkan orang berubah tetapi support-nya tidak ada. Dan yang terakhir adalah strategi yang tertulis. Blue print strategy .
Jadi membuat orang bergerak adalah dengan membuat segala sesuatu itu menjadi lebih ringan, mudah dijalankan, jelas dan mereka dapat dukungan, ditambah lagi dengan ada sesuatu yang tertulis yang menjadi acuan kita.
Delapan Langkah Perubahan
1. Ciptakan suasana yang mendesak, sense of urgence.
2. Bentuklah koalisi perubahan, artinya kita harus mempunyai teman, punya kawan. Perubahan tidak bisa sendirian.
3. Membangun visi
4. Komunikasikan visi Anda
5. Dorong pengikut agar bertindak sesuai visi
6. Raihlah kemenangan-kemenangan jangka pendek
7. Jangan berhenti, terus lakukan perubahan
8. Lembagakan pendekatan-pendekatan baru, terapkan perubahan secara struktural
“Setiap manusia harus turut menyumbangkan satu langkah yang mengakibatkan dunia ini mengalami perubahan,,,,”

Fungsi dakwah

Kita memahami bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Otomatis, Islam tidak hanya memberikan kebaikan kepada umat Islam, tetapi kepada seluruh manusia, termasuk juga alam semesta. Islam semestinya mampu menjadi ‘solver problem’, inspirator dan motivator yang memiliki tujuan untuk menciptakan masyarakat ideal. Dakwah adalah ajakan kepada manusia untuk melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
ﻭَﺟَﺎﻫِﺪُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺟِﻬَﺎﺩِﻩِ ۚ ﻫُﻮَ ﺍﺟْﺘَﺒَﺎﻛُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺝٍ ۚ ﻣِﻠَّﺔَ ﺃَﺑِﻴﻜُﻢْ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ۚ ﻫُﻮَ ﺳَﻤَّﺎﻛُﻢُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞُ ﻭَﻓِﻲ ﻫَٰﺬَﺍ ﻟِﻴَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﺷَﻬِﻴﺪًﺍ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ۚ ﻓَﺄَﻗِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﺁﺗُﻮﺍ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﺍﻋْﺘَﺼِﻤُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻫُﻮَ ﻣَﻮْﻟَﺎﻛُﻢْ ۖ ﻓَﻨِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟَﻰٰ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴﺮُ ‏( ﺍﻟﺤﺞ 78 : ) Artinya : “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Al-Hajj [22] : 78).
Manusia membutuhkan dakwah untuk menuntun hidupnya sesuai dengan ajaran yang telah dibawa Nabi Muhammad SAW. Dakwah merupakan bagian dari jihad. Artinya, dakwah harus menggunakan segenap kemampuan yang dimiliki. Hal ini yang menyebabkan dakwah bukanlah hal yang mudah. Allah Subhanallahu Wa Ta’ala berfirman : ﺍﻧْﻔِﺮُﻭﺍ ﺧِﻔَﺎﻓًﺎ ﻭَﺛِﻘَﺎﻟًﺎ ﻭَﺟَﺎﻫِﺪُﻭﺍ ﺑِﺄَﻣْﻮَﺍﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺫَٰﻟِﻜُﻢْ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏( ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ 41 : ) Artinya : “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. Fungsi Dakwah Berdakwah memiliki beberapa fungsi, antara lain : 1. Untuk menyebarkan agama Islam kepada manusia sebagai individu dan masyarakat sehingga meratalah Islam sebagai Rahmatan lil’alamin. 2. Melestarikan nilai-nilai Islam dari generasi ke generasi kaum muslimin berikutnya, sehingga keberlangsungan ajaran Islam beserta pemeluknya dari generasi berikutnya tidak terputus. 3. Meluruskan akhlak yang bengkok, mencegah kemungkaran, dan mengeluarkan manusia dari kegelapan rohani. 4. Menyerukan kepada orang non-muslim untuk masuk Islam. 5. Menyerukan agar orang Islam menegakkan hukum Islam secara total. 6. Menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran yang meliputi segala kemaksiatan baik yang dilakukan oleh pribadi maupun kelompok. 7. Membentuk individu dan masyarakat yang menjadikan Islam sebagai pegangan dan pandangan hidup di dalam kehidupannya. Selain fungsi-fungsi yang tersebut di atas, dakwah juga memiki berbagai keutamaan, yaitu : 1. Dakwah Adalah Muhimmatur Rusul (Tugas Utama Para Rasul ‘Aliahimussalam) Para Rasul ‘alaihimussalam adalah orang yang diutus oleh Allah SWT untuk melakukan tugas utama mereka yakni berdakwah. Keutamaan dakwah terletak pada disandarkannya kerja dakwah ini pada manusia yang paling utama dan mulia yaitu Rasulullah SAW dan saudara-saudara beliau para nabi dan rasul ‘alaihimussalam.
ﻗﻞ ﻫﺬﻩ ﺳﺒﻴﻠﻲ ﺍﺩﻋﻮﺍﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺑﺼﻴﺮﺓ ﺃﻧﺎ ﻭ ﻣﻦ ﺍﺗﺒﻌﻨﻲ ﻭ ﺳﺒﺤﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻣﺎ ﺃﻧﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ‏( ﻳﻮﺳﻮﻑ : 108 ) Artinya : “katakanlah (Muhammad) : “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik”. (Yusuf [12] : 108)
Ayat diatas menjelaskan jalan Rasulullah SAW dan para pengikut beliau yakni jalan dakwah. Maka barangsiapa yang mengaku sebagai pengikut beliau SAW, maka dia harus terlibat dalam dakwah sesuai kemampuannya masing-masing. 2. Dakwah adalah Ahsanul A’mal (Amal yang terbaik) Dakwah adalah amal yang terbaik, karena dakwah memelihara amal islami dalam pribadi dan masyarakat. Membangun potensi dan memelihara amal shalih adalah amal dakwah, sehingga dakwah merupakan aktivitas dan amal yang mempunyai peranan penting di dalam menegakkan Islam. Tanpa dakwah ini maka amal shalih tidak akan berlangsung.
ﻭﻣﻦ ﺃﺣﺴﻦ ﻗﻮﻻ ﻣﻤﻦ ﺩﻋﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﻤﻞ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺇﻧﻨﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ‏( ﻓﺼﻠﺖ 33 : ) Artinya : “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata “sungguh aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)”. (Fushshilat [41] : 33) Bagaimana tidak akan menjadi ucapan dan pekerjaan terbaik? Sementara dakwah adalah pekerjaan makhluk terbaik yakni para nabi dan rasul ‘alaihimussalam. 3. Para Da’i Akan Memperoleh Balasan Yang Besar Dan Berlipat Ganda (Al-Hushulu ‘Ala Al-Ajri Al-‘Adzim) Sabda Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib : “Demi Allah, sesungguhnya Allah SWT menunjuki seseorang dengan (dakwah)mu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah”. (Bukhari, Muslim & Ahmad) Hadits ini menunjukkan bahwa usaha seorang da’i menyampaikan hidayah kepada seseorang adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah SWT, lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan merah miliknya. Rasulullah SAW bersabda : “sesunguhnya Allah SWT memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi sampai semut-semut dilubangnya dan ikan-ikan selalu mendo’akan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”. (HR.Tirmidzi dari Abu Umamah al Bahili). Keagungan balasan bagi orang berdakwah tidak hanya pada besarnya balasan untuknya tetapi juga karena terus menerusnya ganjaran itu mengalir kepadanya meskipun ia telah wafat. 4. Dakwah Dapat Menyelamatkan Kita Dari Adzab Allah ( An-Najatu Minal ‘Adzab ) Dakwah yang dilakukan oleh seorang da’i akan membawa manfaat bagi dirinya sebelum manfaat itu dirasakan oleh orang lain yang menjadi objek dakwah. Manfaat itu antara lain adalah terlepasnya tanggung jawabnya dihadapan Allah SWT sehingga ia terhindar dari adzab Allah. Dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar adalah kontrol sosial yang harus dilakukan oleh kaum muslimin agar kehidupan ini selalu didominasi oleh kebaikan. Kebatilan yang mendominasi kehidupan akan menyebabkan turunnya adzab Allah SWT. 5. Dakwah Adalah Jalan Menuju Khairu Ummah ( Umat Terbaik) Rasulullah SAW berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik sepanjang sejarah dengan dakwah beliau. Dakwah secara umum dan pembinaan kader secara khusus adalah jalan satu-satunya menuju terbentuknya khairu ummah seperti yang kita harapkan. Rasulullah SAW melakukan tarbiyah mencetak kader-kader dakwah di kalangan sahabat beliau. Jalan yang ditempuh Rasulullah ini adalah jalan yang harus kita tempuh juga untuk mengembalikan kejayaan umat. Umat Islam harus memainkan peran dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar dalam setiap keadaan baik ketika memperjuangkan terbentuknya khairu ummah maupun ketika cita-cita khairu ummah itu telah terwujud. Allah SWT berfirman : ﻛﻨﺘﻢ ﺧﻴﺮ ﺃﻣﺔ ﺃﺧﺮﺟﺖ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺗﺄﻣﺮﻭﻥ ﺑﺎ ﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﺗﻨﻬﻮﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻭ ﺗﺆﻣﻨﻮﻥ ﺑﺎ ﻟﻠﻪ …. ﺍﻷﻳﺔ ‏( ﺍﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ : 110 ) Artinya : “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (Ali Imron [3] : 110) Dengan melaksanakan dakwah berarti seorang da’i dengan dakwahnya sedang menjalani hidupnya dengan kehidupan rabbaniyah yakni kehidupan yang selalu berorientasi kepada Allah SWT dan kehidupan yang selalu diisi dengan belajar Al-Quran yang menjadi sumber kebaikan dan mengajarkannya kepada orang lain. Dengan selalu berdakwah di jalan Allah SWT seorang da’i telah menjadikan hidupnya penuh keberkahan dengan kebaikan yang melimpah dari Allah SWT. Demikian Ibnu Qoyyim melihat keberkahan dalam kehidupan seseorang ditentukan oleh aktivitas memberi manfaat kepada orang lain melalui dakwah dan kebaikan yang disebarkan demi meninggikan kalimat Allah SWT. Wallahu

Islamic Entrepreneurship

Gambar

By fathshop

>> PENGERTIAN ENTREPRENEURSHIP

Entrepreneurship merupakan karakter yang dimiliki oleh seseorang yang dapat menghasilkan sesuatu yang sumber asalnya berada atau tersebar di berbagai pihak. Ia menjadikannya suatu hal yang baru yang bermanfaat melalui suatu proses inovasi. Ia juga menjadi bagian praktek atau perilaku baru dalam masyarakat yang dibicarakan. Individu yang melakukan hal tersebut dinamakan entrepreneur. Jadi kata kuncinya adalah inovasi. Dan inovasi tersebut hasilnya diterima oleh masyarakat. Kata masyarakat inilah yang berkaitan dengan istilah civic. Karena itu, inovasi tersebut harus memberikan keuntungan bagi seluruh masyarakat, bukan hanya memberikan keuntungan bagi sang inovator atau seorang entrepreneur saja. Karena itu seorang entrepreneur sejak awal harus memiliki jiwa atau semangat kemasyarakatan. Seorang civic entrepreneur dapat berasal dari LSM, dunia usaha, pemerintah atau kalangan lainnya yang memiliki motivasi untuk mengembangkan inovasi demi kepentingan umum. Metoda atau teknik untuk mencapai hal tersebut serta skalanya bermacam-macam tergantung masalah yang dihadapi dan tujuan yang ingin dicapai.

Karena dasarnya adalah inovasi, artinya memperbesar ruang alternatif. Maka hal tersebut menuntutditemukannya hal-hal baru. Misalnya, cara baru bagaimana membangkitkan kesadaran dan kepentinganbersama, cara baru memobilisir sumber daya yang tersedia pada seluruh partisipan, bagaimana menghasilkanteknologi baru, bagaimana membangun sistem insentif yang baru dan lain-lain. Nabi Muhammad adalahseorang entrepreneur yang sukses dengan multiinovasinya. Beliau sukses di jalur Agama, wirausaha, politik,sosial, Pendidikan, dan lain-lain yang jika kita mau mengikuti cara Nabi, Insya Allah, kita pun akan meraihkesuksesan di berbagai bidang baik keduniawian maupun Ukhrawi.

A. Khoerussalim Ikhs, dalam bukunya yang berjudul To Be Moslem Entrepreneur mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Muhammad adalah seorang entrepreneur bermodal dengkul, tidak bisa baca tulis, yatim piatu tapi bisa Sukses!. bagi Entrepreneur yang takut dengan persaingan, dalam buku tersebut mengingatkan bahwa kita adalah pemenang dari 200 juta sel sperma dalam kompetisi memperebutkan sel telur dengan taruhan yang sangat mengerikan; jika menjadi pemenang Anda hidup, jika tidak Anda mati. Dari 200 juta sel sperma, Andalah yang menang sedangkan yang lain mati. melawan ratusan juta saingan saja kita berani, apalagi hanya ribuan? Ketika memperebutkan sel telur, semua target terfokus pada satu sasaran. Sedangkan dalam persaingan saat ini, tampaknya saja satu sasaran, namun belum tentu dalam perjuangannya semuanya fokus pada target. Karena Ada yang berkompetisi sambil memikirkan problem rumah tangga, ada yang kekurangan modal, ada yang memikirkan rencana liburan, dan lain sebagainya. dan jangan lupa, 200 juta sel sperma dalam persaingannya tidak saling menjegal, bermusuhan, apalagi saling membunuh. Silahkan baca juga buku Rahasia Bisnis Rasulullah �12 Rahasia Besar kepemimpinan Rasulullah dalam membangun Megabisnis yang selalu untung sepanjang sejarah� karya Prof. Laode kamaluddin, Ph.D.

Saya pun ingin menambahkan bahwa Nabi Muhammad adalah Motivator ulung. Ketika para sahabatnya disiksa oleh kaum kafir karena keislamannya, Nabi Muhamad tampil sebagai motivator sehingga para sahabat yang disiksa mampu bersabar padahal siksaan yang dialaminya sangat biadab. Cara Nabi memotivasi sahabatnya yang sedang disiksa, jika kita terapkan pada orang yang tidak dalam siksaan, mungkin lebih berhasil. Nabi memotivasi para sahabatnya dengan cara menceritakan kenikmatan surga, kebahagiaan abadi, penderitaan di dunia hanya sebentar, dan sebagainya. Para motivator ketika memotivasi dengan cara menceritakan kesuksesan, kebahagiaan, kekayaan, penderitaan dalam perjuangan menggapai cita-cita hanya sebentar, dan sebagainya agar para pendengar termotivasi, mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang mengamalkan sunnah Nabi.

Hal yang tak kalah menarik yang harus kita perhatikan adalah kerja keras Nabi dalam Mempresentasikan �produk� (agama). Beliau tidak malu, tidak takut gagal, tak putus asa, teguh pendirian, sabar meskipun diludahi dan dilempari dengan batu dan kotoran unta oleh prospek. Ketika kita mempresentasikan produk, kita pun akan menemui orang yang seperti Abu Bakar (ditawari langsung membeli), Abu Jahal (sama sekali tidak tertarik bahkan menghalang-halangi gerakan bisnis kita walaupun telah ditawari berkali-kali), dan seperti seorang paman Nabi yang mendukung namun tidak membeli.

>>KODE ETIK PENGUSAHA MUSLIM

Etika perdagangan Islam tersebut antara lain:

1. Shidiq (Jujur)

Tidak berbohong, tidak menipu, tidak mcngada-ngada fakta, tidak bekhianat, serta tidak pernah ingkar janji merupakan bentuk perbuatan yang dilarang agama Islam.

Dalam Al Qur’an, keharusan bersikap jujur dalam berdagang, berniaga dan atau jual beli, sudah diterangkan dengan sangat jelas dan tegas yang antara lain kejujuran tersebu –di beberapa ayat– dihuhungkan dengan pelaksanaan timbangan, sebagaimana firman Allah SWT: ”Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil”. (Q.S Al An’aam(6): 152)

Firman Allah SWT:
“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (Q.S Ar Rahmaan(55): 9)

Rasulullah SAW –dalam banyak haditsnya–, kerapkali mengingatkan para pedagang untuk berlaku jujur dalam berdagang.

Sabda Rasulullah SAW:
”Wahai para pedagang, hindarilah kebohongan”. (HR. Thabrani)

2. Amanah (Tanggungjawab)

Tanggung jawab di sini artinya, mau dan mampu menjaga amanah (kepercayaan) masyarakat yang memang secara otomatis terbeban di pundaknya.

3. Tidak Menipu

Rasulululah SAW selalu memperingatkan kepada para pedagang untuk tidak mengobral janji atau berpromosi secara berlebihan yang cenderung mengada-ngada, semata-mata agar barang dagangannya laris terjual. Sabda Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburk-buruk tempat adalah pasar”. (HR. Thabrani)

4. Menepati Janji

Seorang pedagang juga dituntut untuk selalu menepati janjinya, baik kepada para pembeli maupun di antara sesama pedagang, terlebih lagi tentu saja, harus dapat menepati janjinya kepada Allah SWT.

Sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur’an:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyaknya supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadaNya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: ”Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik pemberi rezki” (Q.S Al Jumu’ah (62):10-11)

5. Murah Hati

Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW menganjurkan agar para pedagang selalu bermurah hati dalam melaksanakan jual beli. Murah hati dalam pengertian; ramah tamah, sopan santun, murah senyum, suka mengalah, namun tetap penuh tanggungjawab.

Sabda Rasulullah SAW:
“Allah berbelas kasih kepada orang yang murah hati ketika ia menjual, bila membeli dan atau ketika menuntut hak”. (HR. Bukhari)

>>AL KISAH ENTREPRENEURSHIP

Dalam sejarah Islam ada panglima perang yang memiliki strategi luar biasa, benar-benar luar biasa karena tidak pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya. Panglima perang tersebut adalah Thariq bin Ziyad yang pada tahun 97 H (sekitar tahun 711 Masehi) memimpin 7,000 pasukan Islam memasuki Spanyol yang dijaga oleh 25,000 pasukan pimpinan Raja Roderick.
Untuk menyemangati pasukannya agar tidak gentar melawan musuh yang memiliki kekuatan jauh lebih besar, dan agar tidak ada satupun dari pasukaannya yang berpikir untuk ambil langkah mundur – apa yang di lakukan Thariq? Dia membakar seluruh kapal-kapal yang dipakai pasukannya untuk mencapai pantai tenggara spanyol. Ketika pasukannya bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan sang panglima ini, Thariq menjawabnya dengan pidato yang terkenal sbb:
“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian.”
Tekad yang sangat kuat untuk hidup mulia atau mati syahid “Isy Kariman au Mut Syahidan” inilah yang dapat membawa kejayaan Islam dari waktu ke waktu.
Kita tahu akhirnya dalam sejarah bahwa diawali oleh tekad yang sangat kuat dan kebergantungan kepada Allah semata tersebut,Islam menjangkau wilayah yang paling luas beberapa puluh tahun kemudian setelah strategi ini ditempuh Thariq dan pasukan-pasukannya.
Ketika cerita tentang Thariq ini diajarkan secara turun temurun baik di dunia Islam maupun di luar Islam, maka sekitar 800 tahun kemudian, kurang lebih 10 generasi setelah Islam masuk Spanyol – anak keturunan bangsa Spanyol yang bernama Hernando Cortez – pun meniru bulat-bulat strategi Thariq tersebut di atas ketika ia memimpin ekspedisi penaklukan ke Mexico.

Hernando Cortez (1485 – 1547)
Hernando Cortez yang memimpin expedisi penaklukan bangsa Aztecs untuk merebut emas dan harta-harta lainnya ini membakar keseluruhan 11 kapal yang digunakan untuk membawa pasukannya mencapai daratan Mexico. Dengan demikian tidak ada pikiran untuk mundur, jalan hanya satu arah yaitu maju kedepan.
Kita tahu hasil dari kebulatan tekat Hernando Cortez ini, sampai sekarang bahasa resmi yang dipakai di Mexico adalah bahasa Spanyol. Ini menunjukkan betapa berhasilnya Hernando Cortezmeniru strategi Thariq bin Ziyad dalam upayanya untuk menaklukkan Mexico yang menjadi jajahan Spanyol sampai beratus tahun kemudian.
Kalau seorang Hernando Cortez saja bisa belajar dan menikmati ke-sukses-an dari meniru strategi Panglima Perang Islam Thariq bin Ziyad, masa kita umat Islam di masa kini tidak bisa mencapai kesuksesan dengan belajar dari keberhasilan tokoh pejuang sekaliberThariq ini?
Kalau medan kita bukan/belum medan perang saat ini, minimal strategi Thariq dengan membakar kapal ini bisa kita terapkan ditekad kita untuk membangun usaha, untuk meninggalkan tempat kerja yang kita ragukan ‘kebersihan’-nya misalnya.
Dari pengalaman saya berinteraksi dengan sekian banyak pesertaPesantren Wirausaha dan juga peserta yang ikut pelatihan CIED (Center for Islamic Entrepreneurship Development),penghalang terbesar dari setiap peserta yang ingin menjadi entrepreneur adalah keberaniannya untuk benar-benar terjun ke usaha – serta benar-benar meninggalkan pekerjaan sebelumnya.
Pengalaman saya sendiri-pun menunjukkan demikian; tidak kurang dari 6 kali usaha berwiraswasta yang saya lakukan di luar jam kantor – ketika saya masih aktif sebagai eksekutif ; tidak satupun yang berhasil. Yang ke-7, ke-8 dan seterusnya insya Allah berhasil karena kapal saya benar-benar saya bakar.
Untuk mencapai karir puncak di Industri Asuransi & Investasi di usia muda, tidak tanggung-tanggung saya peroleh gelar profesi yang paling tinggi di New Zealand, Australia dan Inggris. Sangat sedikit professional asuransi & investasi Indonesia yang mencapai pengakuan semacam ini. Namun sejak lahirnya fatwa MUI bahwabunga bank haram awal 2004 (Fatwa No 1 Tahun 2004 Tentang Bunga), tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan mengenai keharaman bunga bank dan produk-produk yang terkait dengannya di dunia finansial.
Maka alhamdulillah kapal yang namanya gelar professional danpuncak karir di industri finansial tersebut telah habis saya bakar 2 tahun lalu. Sejak saat itu, mirip yang dilakukan oleh Thariq dan jugaCortez, medan ‘pertempuran’ saya menjadi medan ‘pertempuran’ yang sama sekali baru. Tidak mudah, tetapi juga tidak mustahil – hanya pertolongan Allah-lah yang menjadikan yang sukar itu mudah.
Jadi bagi Anda yang ingin pindah quadrant dari pegawai/eksekutif ke pengusaha, bila Anda berani membakar kapal Anda, Insya Allah Andapun juga akan berhasil!!! Wa Allahu A’lam.

>>ENTREPRENEURSHIP DALAM ISLAM

Sejarah Islam mencatat bahwa Entrepreneurship telah dimulai sejak lama, pada masa Adam AS. Dimana salah satu anaknya Habil berwirausaha dengan bercocok tanam dan Qobil berwirausaha dengan menggembala hewan ternak.
Banyak sejarah nabi yang menyebutkan mereka beraktivitas di kewirausahaan, sebagian dari mereka berwirausaha di sektor pertanian,peternakan, kerajinan dan bisnis perdagangan.
Contoh yang paling nyata adalah Nabi Muhammad SAW, awalnya beliau terlibat di bisnis dengan memelihara dan menjual domba, kemudian membantu bisnis pamannya dan akhirnya me-manageer-i bisnis saidatina khadijah.
Konsep Entrepreneurship dalam pandangan Islam
1. Syumul (terintegrasi) yang berarti entrepreneurship tidakterpisah atau terisolasi dari islam itu sendiri, justru entrepreneurship berada dalam sistem islam (aqidah,syariah,akhlad & etika) supaya kegiatanberwirausaha tidak terasing dari kewajiban-kewajiban lain di dalam islam.
2. Berniaga di dunia tetapi punya hubungan dengan agama dan kehidupan di akhirat. –Dunia Untung,Akhirat Untung^^-
3. Sebagai agama untuk kesejahteraan dunia dan akhriat, islam memandang tinggi kegiatan kewirausahaan ini.
Dalil hadist nabi : sesunggunga 9/10 sumber rejeki diperoleh melalui perniagaan.
Dan Allah menghalalhan jual beli dan mengharamkan riba (Qs:2:275)
4. Dengan niat dan cara yang diridhoi Allah, berwirausaha menjadi salah satu ibadat dan mendapat ganjaran pahala di sisi Allah karena ia menyumbang kepada sumber rejeki individu dan keluarga. Dengan memenuhi keperluan masyarakat baik dengan barang/jasa dianggap sebagai penunaian Fardhu kifayah dengan jalan memenuhi salah satu barang/jasa keperluan masyarakat.
Definisi Entrepreneurshi (E/ship) dalam Islam
Kewirausahaan adalah segala aktivitas bisnis yang diusahakan secara perniagaan dalam rangka memproduksi suatau barang atau jasa dengan jalan tidak bertentangan dengan syariat.
• Kewirausahaan dianggap sebagai jihad fii sabilillah(strong efforts to do good things in the name of Allah)
• Entrepreneur dianggap sebagai amal Sholeh (good deeds) karena kegiatan e/ship menyediakan pendapatan kepada individu, menawarkan kesempatan kerja kepada masyarakat, sehingga mengurangi kemiskinan. Dimana kemiskinan adalah salah atu dari persoalan sosial.
• E/ship juga meningkatkan perekonomianmasyarakat^^. Dengan melakukan kebajikan melalui E/ship, akan mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antara individu dan individu serta akan membantu menjaga hubungan yang lebih baik antara individu dengan tuhannya.
• Meningkatkan kualitas hidup, hidup lebih nyaman menguatkan kedudukan socio-econimic negara, agama dan bangsa.
• Membantu mengembangkan khairun ummah(masyarakat terbaik, yang produktif dan maju (progreessive)
Pedoman utama dalam kewirausahaan islami
Agar kegiatan kewirausahaan dianggap sebagai ‘ibadah’:
• Tetap melakukan Ibadah, Sholat, dan Puasa dan ibadah-ibadah lain di antara kesibukan sebagai entrepreneur.
• Hindari melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.
• Pelajari sikap seorang pengusaha muslim yang baik.
• Bisnis yang baik perencanaan strategi (tidak pergi dari ajaran Islam)
• Mengetahui aturan (hukum) bermuamalah secara islami.
Source tambahan mengenai muamalah menyebutkan:
Ajaran muamalah adalah bagian paling penting (dharuriyat) dalam ajaran Islam. Dalam kitab Al-Mu’amalah fil Islam, Dr. Abdul Sattar Fathullah Sa’id mengatakan :
ومن ضرورات هذا الاجتماع الانسان وجود معاملات ما بين أفراده و جماعته
ولذالك جاءت الشريعة الالهية لتنظيم هذه المعاملات وتحقيق مقصودها والفصل بينهم
Artinya :
Di antara unsur dharurat (masalah paling penting) dalam masyarakat manusia adalah “Muamalah”, yang mengatur hubungan antara individu dan masyarakat dalam kegaiatan ekonomi. Karena itu syariah ilahiyah datang untuk mengatur muamalah di antara manusia dalam rangka mewujudkan tujuan syariah dan menjelaskan hukumnya kepada mereka
Menurut ulama Abdul Sattar di atas, para ulama sepakat tentang mutlaknya ummat Islam memahami dan mengetahui hukum muamalah maliyah (ekonomi syariah)
قد أتفق العلماء على أن المعاملات نفسها ضرورة بشرية
Artinya :
Ulama sepakat bahwa muamalat itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha penting (dharuriyah basyariyah)
Fardhu ‘Ain
Husein Shahhathah (Al-Ustaz Universitas Al-Azhar Cairo) dalam buku Al-Iltizam bi Dhawabith asy-Syar’iyah fil Muamalat Maliyah (2002) mengatakan, “Fiqh muamalah ekonomi, menduduki posisi yang sangat penting dalam Islam. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah, karena itu hukum mempelajarinya wajib ‘ain (fardhu) bagi setiap muslim.
Husein Shahhatah, selanjutnya menulis, “Dalam bidang muamalah maliyah ini, seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari’ah Allah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini, maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat, tanpa ia sadari. Seorang Muslim yang bertaqwa dan takut kepada Allah swt, Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata” Memahami/mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim, namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah
Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan berkata :
لا يبع في سوقنا الا من قد تفقه في الدين
“Tidak boleh berjual-beli di pasar kita, kecuali orang yang benar-benar telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam” (H.R.Tarmizi)
Berdasarkan ucapan Umar di atas, maka dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa umat Islam :
Tidak boleh beraktifitas bisnis, kecuali faham tentang fikih muamalah
Tidak boleh berdagang, kecuali faham fikih muamalah
Tidak boleh beraktivitas perbankan, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas asuransi, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas pasar modal, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas koperasi, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas pegadaian, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas reksadana, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas bisnis MLM,kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas jual-beli, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh bergiatan ekonomi apapun, kecuali faham fiqh muamalah

Sehubungan dengan itulah Dr.Abdul Sattar menyimpulkan :
ومن هنا يتضح أن المعاملات هي من لب مقاصد الدينية لاصلاح الحياة البشرية ولذالك دعا اليها الرسل من قديم باعتيارها دينا ملزما لاخيار لأحد فيه.
Artinya : Dari sini jelaslah bahwa “Muamalat” adalah inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk mengamalkan muamalah, karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti dilaksanakan, Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya.(Hlm.16)
Dalam konteks ini Allah berfirman :
وَإِلىَ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهِ غَيْرُهُ وَلاَتَنقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُم بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِيطٍ {84} وَيَاقَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ وَلاَتَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلاَتَعْثَوْا فِي اْلأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Artinya :
‘Dan kepada penduduk Madyan, Kami utus saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata, “Hai Kaumku sembahlah Allah, sekali-kali Tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik. Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”.
Dan Syu’aib berkata,”Hai kaumku sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Hud : 84,85)
Dua ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu’aib dengan umatnya yang mengingkari agama yang dibawanya. Nabi Syu’aib mengajarkan I’tiqad dan iqtishad (aqidah dan ekonomi). Nabi Syu’aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi muamalah (ekonomi) yang mereka lakukan selama ini.
Al-Quran lebih lanjut mengisahkan ungkapan umatnya yang merasa keberatan diatur transaksi ekonominya.
قَالُوا يَاشُعَيْبُ أَصَلَوَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَايَعْبُدُ ءَابَآؤُنَآ أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَانَشَاؤُا إِنَّكَ لأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ
Artinya :
Mereka berkata, “Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kamu meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyangmu atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang penyantun lagi cerdas”.
Ayat ini berisi dua peringatan penting, yaitu aqidah dan muamalah
Ayat ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh sekehendak hati, melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah, yang disebut dengan syari’ah.
Aturan Allah tentang ekonomi disebut dengan ekonomi syariah. Umat manusia tidak boleh sekehendak hati mengelola hartanya, tanpa aturan syari’ah. Syariah misalnya secara tegas mengharamkan bunga bank. Semua ulama dunia yang ahli ekonomi Islam (para professor dan Doktor) telah ijma’ mengharamkan bunga bank. (Baca tulisan Prof.Yusuf Qardhawi, Prof Umar Chapra, Prof.Ali Ash-Sjabuni, Prof Muhammad Akram Khan). Tidak ada perbedaan pendapat pakar ekonomi Islam tentang bunga bank. Untuk itulah lahir bank-bank Islam dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. Jika banyak umat Islam yang belum faham tentang bank syariah atau secara dangkal memandang bank Islam sama dengan bank konvensianal, maka perlu edukasi pembelajaran atau pengajian muamalah, agar tak muncul salah faham tentang syariah.
Muamalah adalah Sunnah Para Nabi
Berdasarkan ayat-ayat di atas, Syekh Abdul Sattar menyimpulkan bahwa hukum muamalah adalah sunnah para Nabi sepanjang sejarah.
وهذه سنة مطردة في الانبياء عليهم السلام كما قال تعالى
Artinya : Muamalah ini adalah sunnah yang terus-menerus dilaksanakan para Nabi AS, (hlm.16), sebagaimana firman Allah
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
Artinya :
Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat menegakkan keadilan itu.
Pengertian Muamalah
Pengertian muamalah pada mulanya memiliki cakupan yang luas, sebagaimana dirumuskan oleh Muhammad Yusuf Musa, yaitu Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita’ati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia”. Namun belakangan ini pengertian muamalah lebih banyak dipahami sebagai“Aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan mengembangkan harta benda”atau lebih tepatnya “aturan Islam tentang kegiatan ekonomi manusia”
Ruang Lingkup Muamalah:
1. Harta, Hak Milik, Fungsi Uang dan ’Ukud )akad-akad)
2. Buyu’ (tentang jual beli)
3. Ar-Rahn (tentang pegadaian)
4. Hiwalah (pengalihan hutang)
5. Ash-Shulhu (perdamaian bisnis)
6. Adh-Dhaman (jaminan, asuransi)
7. Syirkah (tentang perkongsian)
8. Wakalah (tentang perwakilan)
9. Wadi’ah (tentang penitipan)
10. ‘Ariyah (tentang peminjaman)
11. Ghasab (perampasan harta orang lain dengan tidak shah)
12. Syuf’ah (hak diutamakan dalam syirkah atau sepadan tanah)
13. Mudharabah (syirkah modal dan tenaga)
14. Musaqat (syirkah dalam pengairan kebun)
15. Muzara’ah (kerjasama pertanian)
16. Kafalah (penjaminan)
17. Taflis (jatuh bangkrut)
18. Al-Hajru (batasan bertindak)
19. Ji’alah (sayembara, pemberian fee)
20. Qaradh (pejaman)
21. Ba’i Murabahah
22. Bai’ Salam
23. Bai Istishna’
24. Ba’i Muajjal dan Ba’i Taqsith
25. Ba’i Sharf dan transaksi valas
26. ’Urbun (panjar/DP)
27. Ijarah (sewa-menyewa)
28. Riba, konsep uang dan kebijakan moneter
29. Shukuk (surat utang atau obligasi)
30. Faraidh (warisan)
31. Luqthah (barang tercecer)
32. Waqaf
33. Hibah
34. Washiat
35. Iqrar (pengakuan)
36. Qismul fa’i wal ghanimah (pembagian fa’i dan ghanimah)
37. Qism ash-Shadaqat (tentang pembagian zakat)
38. Ibrak (pembebasan hutang)
39. Muqasah (Discount)
40. Kharaj, Jizyah, Dharibah,Ushur
41. Baitul Mal dan Jihbiz
42. Kebijakan fiskal Islam
43. Prinsip dan perilaku konsumen
44. Prinsip dan perilaku produsen
45. Keadilan Distribusi
46. Perburuhan (hubungan buruh dan majikan, upah buruh)
47. Jual beli gharar, bai’ najasy, bai’ al-‘inah, Bai wafa, mu’athah, fudhuli, dll.
48. Ihtikar dan monopoli
49. Pasar modal Islami dan Reksadana
50. Asuransi Islam, Bank Islam, Pegadaian, MLM, dan lain-lain

>>10 LANGKAH MENJADI PENGUSAHA MUSLIM YANG BERHASIL

Setidaknya ada 10 langkah untuk menjadi Pengusaha Muslim yang berhasil,

Pertama, harus ada motivasi yang kuat untuk menjadi orang yang sukses.”tulislah 50 mimpi Anda yang hebat-hebat. Tempel daftar tersebut di dinding sehingga anda bisa membacanya setiap hari, terutama di saat semangat Anda menurun.”

Kedua, pekuat tawakal kepada Allah. Mengutip dari Alquran surat Ali Imran ayat 159, yang artinya,” Apabila kamu sudah berazam, maka bertawakallah kepada Allah.” Menurut dia, dengan bertawakal, seorang Muslim akan menitipkan masa depan diri, keluarga, maupun usaha kita kepada Allah sambil berikhtiar.

Ketiga, yakni jangan memaksakan diri untuk berbisnis sesuai dengan gambaran ideal yang anda miliki.
“Mulailah dengan peluang dan kesempatan yang ada di tangan Anda. Percayalah kepada takdir dan rezeki Allah.”

Keempat, pilihlah bisnis yang dapat anda kuasai dengan cepat. “Intinya , manfaatkan tangible dan intangible assets yang and miliki, tuturnya.

Kelima adalah menentukan diferensiasi produk yang Anda hasilkan, sehingga berbeda dengan produk-produk lain yang sudah lebih dulu ada.

Keenam, pilihlah fokus bisnis dan bekerjalah secara fokus.”Kalau fokus, kita akan lebih kuat dan kreatif.”

Ketujuh, mencakup dua hal. Yakni, carilah teman bisnis atau bermitralah. “Rosulullah menegaskan bahwa bila dua orang berserikat, maka Allah menjadi pihak yang ketiga, selama kedua orang atau salah satu orang tersebut tidak khianat. Usaha yang didalamnya Allah ikut serta sudah pasti berkah dan sukses.”
Selain itu, jangan takut menggaji pegawai. “Jangan khawatir soal gaji karyawan. Sebab, yang menanggung rezeki karyawan kita itu adalah Allah SWT, bukan kita. Dalam Alquran Surah Az-Zukhruf ayat 32, Allah SWT menegaskan, akan menjamin rezeki makhluk-makhluk-Nya, termasuk karyawan kita.”

Kedelapan, hal yang tidak kalah pentingnya adalah perkuat kesabaran.”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” .

Kesembilan, hindari perbuatan dosa dan maksiat. Sebab, hal tersebut akan membuat hidup sempit dan tidak berkah.

Kesepuluh, pelajarilah kunci-kunci pembuka rezeki.”Kalau semua langkah ini diterapkan Insya Allah kita akan menjadi pengusaha yang sukses dunia dan akhirat.”

 

Makalah potensi dasar dan tugas manusia

Gambar

 KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kami dalam menyusun dan menyelesaikan makalah ini. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi persyaratan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Selain itu, isi makalah dapat dijadikan sarana dalam memahami apa potensi-potensi dasar manusia dan tugas manusia dalam Islam. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah. Terutama kepada dosen kami Ibu Fitriliza. M.A yang telah memberi kami kesempatan untuk menyusun dan membahas makalah ini. Kami sangat menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna terutama mengenai masalah dalam penyampaian bahasa dan struktur isi makalah ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

· BAB I I. PENDAHULUAN I.1

 Latar Belakang Manusia merupakan makhluk yang paling istimewa yang diciptakan oleh Allah Taala di muka bumi ini. Dalam sudut pandang Islam, manusia mempunyai potensi-potensi dasar yang sangat mendukung dalam kemajuan pendidikan terutama pendidikan Agama Islam. Karena Allah taala telah menciptakan manusia sebagaimana mulianya, maka Allah mempunyai tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri yang sudah terdapat dalilnya di dalam Al-quran. Pada zaman ini realita yang kita dapat adalah manusia banyak yang membuat kerusakan di muka bumi ini. Sebagai contoh adanya bencana banjir, polusi udara dan lainlain. Semua kejadian tersebut ada kaitannya antara potensi dasar manusia, tugas manusia dan pendidikan Islam. Oleh karena itu, materi ini butuh dibahas secara tuntas. I.2 Tujuan Dalam penulisan makalah ini, kami selaku penulis berniat untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang potensi-potensi dasar manusia dan tugas hidup manusia dalam Islam. Sehingga, rekan mahasiswa dapat memahami dengan baik hakekat manusia dalam islam.

 

· BAB II II. PEMBAHASAN II.1

Potensi-Potensi Dasar Manusia dalam Islam Allah menciptakan manusia dengan memberikan kelebihan dan keutamaan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Kelebihan dan keutamaan itu berupa potensi dasar yang disertakan Allah atasnya, baik potensi internal (yang terdapat dalam dirinya) dan potensi eksternal (potensi yang disertakan Allah untuk membimbingnya). Potensi ini adalah modal utama bagi manusia untuk melaksanakn tugas dan memikul tanggung jawabnya. Oleh karena itu, ia harus diolah dan didayagunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga ia dapat menunaikan tugas dan tanggung jawab dengan sempurna. Potensi Internal Ialah potensi yang menyatu dalam diri manusia itu sendiri, terdiri dari : A. Potensi Fitriyah Ditinjau dari beberapa kamus dan pendapat tokoh islam, fitrah mempunyai makna sebagai berikut : 1. Fitrah berasal dari kata (fiil) fathara yang berarti “menjadikan” secara etimologi fitrah berarti kejadian asli, agama, ciptaan, sifat semula jadi, potensi dasar, dan kesucian1 2. Dalam kamus B. Arab Mahmud Yunus, fitrah diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai, kejadian asli.2 3. Dalam kamus Munjid kata fitrah diartikan sebagai agama, sunnah, kejadian, tabiat. 4. Fitrah berarti Tuhur yaitu kesucian3 5. Menurut Ibn Al-Qayyim dan Ibn Katsir, karena fatir artinya menciptakan, maka fitrah artinya keadaan yang dihasilkan dari penciptaannya itu4 1 Hasan Langgulung, Pendidikan dan peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985), h.215 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah Penafsir Al-Qur’an, 1973) h.319 3 Al-Qurthubi, Ibn ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad Anshari, Tafsir Al-Qurthuby (Kairo: Dar al Sa’ab) Juz VI h.5106 4 Muis Said Iman, Pendidikan Partisipatif, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004) h.17 2

 

·  Apabila di interpretasikan lebih lanjut, maka istilah fitrah sebagaimana dalam Ayat Alquran, hadits ataupun pendapat adalah sebagai berikut : 1. Fitrah berarti agama, kejadian. Maksudnya adalah agama Islam ini bersesuaian dengan kejadian manusia. Karena manusia diciptakan untuk melaksanakan agama (beribadah). Hal ini berlandaskan dalil Al-quran surat Adz-Dzariyat (51:56)5 2. Fitrah Allah untuk manusia merupakan potensi dan kreativitas yang dapat dibangun dan membangun, yang memilliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya jauh melampaui kemampuan fisiknya. Maka diperlukan suatu usahausaha yang baik yaitu pendidikan yang dapat memelihara dan mengembangkan fitrah serta pendidikan yang dapat membersihkan jiwa manusia dari syirik, kesesatan dan kegelapan menuju ke arah hidup bahagia yang penuh optimis dan dinamis. Ini sesuai dengan Al-Quran surat Ar-Rum ayat : 30 yaitu : Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui Pada ayat ini Allah telah menciptakan semua makhluknya berdasarkan fitrahnya. Surat ini telah menginspirasikan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan fitrah atau potensi itu dengan baik dan dan lurus.6 3. Fitrah berarti ikhlas. Maksudnya manusia lahir dengan berbagai sifat, salah satunya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Berkaitan dengan makna ini ada hadits yaitu : “Tiga perkara yang menjadikannya selamat adalah ikhlas, berupa fitrah Allah, di mana manusia diciptakan darinya, sholat berupa agama, dan taat berupa benteng penjagaan” (HR. Abu Hamdi dari Muadz) 5 6 Al-Qur’an dan Tafsirnya h.571 Maimunah Hasan, Membangun Kreativitas Anak Secara Islami (Yogyakarta: Bintang cemerlang, 2002) h.9

 

·  Dengan demikian, pada diri manusia sudah melekat (menyatu) satu potensi kebenaran (dinnullah). Kalau ia gunakan potensinya ini, ia akan senantiasa berjalan di atas jalan yang lurus. Karena Allah telah membimbingnya semenjak dalam alam ruh (dalam kandungan). B. Potensi Ruhiyah Ialah potensi yang dilekatkan pada hati nurani untuk membedakan dan memilih jalan yang hak dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan dan jalan menuju kedurhakaan. Bentuk dari roh ini sendiri pada hakikatnya tidak dapat dijelaskan. Potensi ini terdapat pada surat AsySyams ayat 7 yaitu : Artinya : dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) kemudian Asy-Syams ayat 8 : Artinya : maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Di dalam hati setiap manusia telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (kesalahan). Menurut Ibn „Asyur kata „nafs pada surat Asy-Syams ayat ke-7 menunjukan nakiroh maka arti kata tersebut menunjukan nama jenis, yaitu mencakup jati diri seluruh manusia seperti arti kata „nafs pada surat Alinfithar ayat 5 yaitu : Artinya : maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Menurut Al-Qurthubi sebagian ulama mengartikan „nafs adalah nabi Adam namun sebagian lain mengartikan secara umum yaitu jati diri manusia itu sendiri. Pada arti kata „nafs ini terdapat tiga unsur yaitu : a. Qolbu : menurut para ulama salaf adalah nafs yang terletak di jantung b. Domir : bagian yang samar, tersembunyi dan kasat mata c. Fuad : mempunyai manfaat dan fungsi

 

·  Dengan demikian, dalam potensi ruhaniyyah terdapat pertanggungjawaban atas diberinya manusia kekuatan pemikir yang mampu untuk memilih dan mengarahkan potensipotensi fitrah yang dapat berkembang di ladang kebaikan dan ladang keburukan ini. Karena itu, jiwa manusia bebas tetapi bertanggung jawab. Ia adalah kekuatan yang dibebani tugas, dan ia adalah karunia yang dibebani kewajiban. Demikianlah yang dikehendaki Allah secara garis besar terhadap manusia. Segala sesuatu yang sempurna dalam menjalankan peranannya, maka itu adalah implementasi kehendak Allah dan qadar-Nya yang umum.7 C. Potensi Aqliyah Potensi Aqliyah terdiri dari panca indera dan akal pikiran (sama basar, fuad). Dengan potensi ini, manusia dapat membuktikan dengan daya nalar dan ilmiah tentang „kekuasaan Allah. Serta dengan potensi ini ia dapat mempelajari dan memahami dengan benar seluruh hal yang dapat bermanfaat baginya dan tentu harus diterima dan hal yang mudharat baginya tentu harus dihindarkan. Potensi Aliyah juga merupakan potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia agar manusia dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil dan mapu berargumen terhadap pemilihan yang dilakukan oleh potensi ruhiyah. Allah berfirman dalam Al-quran surat An-Nahl ayat 78 : Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. Ayat ini menurut Tafsir Al-maraghi mengandung penjelasan bahwa setelah Allah melahirkan kamu dari perut ibumu, maka Dia menjadikan kamu dapat mengetahui segala 7 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2007) h.377-382

 

·  sesuatu yang sebelumnya tidak kamu ketahui. Dia telah memberikan kepadamu beberapa macam anugerah berikut ini : 1. Akal sebagai alat untuk memahami sesuatu, terutama dengan akal itu kamu dapat membedakan antara yang baik dan jelek, antara yang lurus dan yangs esat, antara yang benar dan yang salah 2. Pendengaran sebagai alat untuk mendengarkan suara, terutama dengan pendengaran itu kamu dapat memahami percakapan diantara kamu 3. Penglihatan sebagai alat untuk melihat segala sesuatu, terutama dengan penglihatan itu kamu dapat mengenal diantara kamu. 4. Perangkat hidup yang lain sehingga kamu dapat mengetahui jalan untuk mencari rizki dan materi lainnya yang kamu butuhkan, bahkan kamu dapat pula meilih mana yang terbaik bagi kamu dan meninggalkan mana yang jelek.8 Menurut An-Nawawi menafsirkan ayat ini bahwa agar kamu (manusia) menggunakan nimat Allah itu untuk kebaikan, maka kamu mendengar akan nasihat Allah, dan melihat tanda-tanda Allah dan memikirkan kebesaran Allah.9 Selain ayat tersebut, surat Al-Israa ayat 36 juga menjelaskan tentang potensi ini yang berbunyi : Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Pada ayat ini Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah janganlah kamu mengatakan bahwa kamu melihatnya, padahal kamu tidak melihatnya, atau kamu katakana kamu mendengarnya padahal kamu tidak mendengrnya, atau kamu katakana bahwa kamu mengetahuinya, padahal kamu tidak mengetahui. Karena sesungguhnya Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal itu secara keseluruhan, sehingga inti dari ayat ini adalah bagaimana kita mengolah potensi yang terdapat dalam ayat ini dengan 8 9 Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi h.118 jilid 5 Syaikh Muhammad An-nawawi, Tafsir An-Nawawi h.461 jilid 1

 

·  sebaik-baiknya karena ketika kita menggunakan potensi ini, maka cara kita menggunakannya akan mendapat pertanggungjawaban kelak di akhirat dan Allah melarang sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang pula mengatakan sesuatu dengan dzan (dugaan) yang bersumber dari sangkaan atau ilusi. Termasuk dalam surat Al-„Araf tentang potensi Aqliyah ini pada ayat 179 yang berbunyi : Artinya: “Dan sesungguhnya telah kami sediakan untuk mereka jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati (tetapi) tidak mereka gunakan memahami, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mereka gunakan untuk melihat dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mereka gunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”. Dalam ayat ini, kekuatan dan kesuksesan bersumber dari-Nya, aktifitas akal dan juga ruh berada di tangan-Nya. Oleh karena itu, manusia tidak dapat menyembunyikan sesuatu apa pun dari-Nya, melainkan dalam setiap kesempatan dan keadaan senantiasa memohon taufik dari-Nya dan menjadikan Allah sebagai penolong-Nya dan tidak mencari penolong selainNya.10 Sehingga dapat kita ketahui bahwa akal merupakan potensi yang besar yang iberikan oleh Allah sehingga kita bisa melaksanakan tugas sebagai ciptan-Nya dengan baik dan benar. D. Potensi Jasmaniyyah Ialah kemampuan tubuh manusia yang telah Allah ciptakan dengan sempurna, baik rupa, kekuatan dan kemampuan. Sebagaimana pada firman Allah Al-Quran surat At-Tin ayat 4 yaitu Artinya : sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya 10 Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur hal.313 jil. 4

 

·  Kata insan dijumpai dalam Al-Quran sebanyak 65 kali. Penekanan kata insan ini adalah lebih mengacu pada peningkatan manusia ke derajat yang dapat memberinya potensi dan kemampuan untuk memangku jabatan khalifah dan meikul tanggung jawab dan amanat manusia di muka bumi, karena sebagai khalifah manusia dibekali dengan berbagai potensi seperti ilmu, persepsi, akal dan nurani. Dengan potensi-potensi ini manusia siap dan mampu menghadapi segala permasalahan sekaligus mengantisipasinya. Di samping itu, manusia juga dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang mulia dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari makhluk lain dengan berbekal potensi-potensi tadi.11 Dan dalam surat ini manusia diberikan oleh Allah potensi jasmani. Potensi ini juga terdapat disurat At-Taghabun ayat 3 yang berbunyi : Artinya: Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak, Dia membentuk rupamu dan membaguskan rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali(mu). Oleh karena itu, patutnya manusia sebagai ciptaan Allah yang sangat mulia dan banyak keutamaan, agar mempergunakan potensi jasmaninya dengan baik sebagai modal utama untuk menjalankan tugas sebagai ciptan-Nya. Potensi Eksternal Disamping potensi internal yang melekat erat pada diri manusia, Allah juga sertakan potensi eksternal sebagai pengarah dan pembimbing potensi-potensi internal itu agar berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tanpa arahan potensi eksternal ini, maka potensi internal tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Potensi eksternal ini dibagi menjadi dua yaitu : A. Potensi Huda Ialah petunjuk Allah yang mempertegas nilai kebenaran yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya untuk membimbing umat manusia ke jalan yang lurus. Allah SWT berfirman pada surat Al-Insaan ayat 3 : 11 Marzuki, Dosen FIS UNY, Makalah tentang Konsep manusia dan agama, h.13

 

·  Artinya : Sesungguhnya Kami telah menunjukinnnya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya Allah, telah menunjuki ke jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Maka dengan bimbingan wahyu-Nya yang disampaikan lewat Nabi Muhammad SAW manusia telah ditunjuki jalan yang lurus dan mana pula jalan yang sesat Allah. Dari perkataan “Sabil” yang terdapat dalam ayat ini tergambar keinginan Allah terhadap manusia yakni membimbing manusia kepada hidayah-Nya sebab Sabil lebih tepat diartikan sebagai petunjuk” dari pada jalan. Hidayah itu berupa dalil-dalil keesaan Allah dan kebangkitan Rasul yang disebutkan dalam kitab suci. Sabil (hidayah) itu dapat Sabil (hidayah) itu dapat ditangkap dengan pendengaran, penglihatan dan pikiran. Tuhan hendak menunjukkan kepada manusia bukti-bukti kewujudan Nya melalui penglihatan terhadap diri (ciptaan) manusia sendiri dan melalui penglihatan terhadap alam semesta, sehingga pikirannya merasa puas untuk mengimani-Nya. Akan tetapi memang sudah merupakan kenyataan bahwa terhadap pemberian Allah itu, sebagian manusia ada yang bersyukur tetapi ada pula yang ingkar (kafir). Tegasnya ada yang menjadi mukmin yang berbahagia, ada pula yang kafir. Dengan sabil itu pula manusia bebas menentukan pilihannya.12 Dan maksud dari ayat ini juga telah dijelaskan bahwasanya kami (Allah) telah menjelaskan kepadanya (manusia) jalan hidayah dengan menutus rasul-rasul kepada manusia (ada yang bersyukur) yaitu menjadi orang mukmin (dan ada pula yang kafir) kedua lafal ini, yakni Syakiraan dan Kafuuran merupakan haal dari maful; yakni Kami telah menjelaskan jalan hidayah kepadanya, baik sewaktu ia dalam keadaan bersyukur atau pun sewaktu ia kafir sesuai dengan kepastian Kami. Sehingga ketika manusia tidak menggunakan potensi eksternal ini yaitu, hidayah dengan baik, maka ia tidak dapat menjalankan tugas sebagai ciptan-Nya dengan baik. Potensi eksternal ini juga terdapat dalam firman Allah surat Al-Baqarah ayat 38 : 12 Al-qur’an dan tafsir Depag Indonesia

 

·  Artinya : “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjukKu kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Pada ayat ini dijelaskan dalam konteks potensi eksternal yaitu, ketika seseorang mengikuti dan menjalankan yaiu petunjuk Allah maka bagi orang tersebut niscaya tidak ada kekhawatiran ataupun kesedihan hati. A. Potensi Alam Alam semesta adalah merupakan potensi eksternal kedua untuk membimbing umat manusia melaksanakan fungsinya. Setiap sisi alam semesta ini merupakan ayat-ayat Allah yang dengannya manusia dapat mencapai kebenaran. Hal ini terdapat dalam firman Allah surat Al-Imraan ayat 190 dan 191 yang berbunyi : Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Pada ayat ini ditafsirkan bahwa memikirkan penciptaan Allah terhadap makhluk-Nya, merenungkan kitab alam-alam semesta yang terbuka, dan merenungkan kekuasaan Allah yang menciptakan dan menggerakan alam semesta ini, merupakan ibadah Allah kepada diantara pokok-pokok ibadah, dan merupakan zikir kepada Allah diantara dzikir-dzikir pokok. Seandainya ilmu-ilmu kealaman yang membicarakan desain alam semesta, undanganundangan dan sunnahnya, kekuatan dan kandungannya, rahasia-rahasianya dan potensipotensinya berhubungan dengan dzikir dan mengingat Pencipta ala mini, dari merasakan keagungan-Nya dan karunia-Nya niscaya seluruh aktifitas kelimuannya itu akan berubah

 

·  menajdi ibadah kepada Sang Pencipta alam semesta ini, akan luruslah kehidupan ini, dan akan terarah kepada Allah Taala13 Pada ayat ini juga ditafsirkan bagaimana Allah Taala tidak menampakkan hakikat alam yang mengesankan keculai pada hati yang selalu berdzikir dan beribadah. Mereka yang selalu ingat kepada Allah pada waktu berdiri, duduk dan berbaring, sembari memikirkan penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam maka, mereka adalah yang terbuka pandangannya terhadap penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang. Dan yang seperti itulah, ketika mereka menggunakan potensi internal (akal dan hati) yang seimbang dengan potensi eksternal yaitu potensi Alam. Ayat lain yang mendukung potensi eksternal ini yaitu surat Al-baqarah ayat 21-22 : Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orangorang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (21) Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui(22) Di dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana Allah memerintahkan beribadah pada hambaNya, dengan menggambarkan latar belakang, seputar penciptaan, fungsi bumi dan langit, kemakmuran akibat yang ditimbulkan bumi dan langit, dan rizki dibalik penciptaan itu. Namun, manusia terhalangi pandangannya sehingga merasa bahwa langit dan bumi seisinya itulah yang bisa diandalkan sebagai tempat berpijak, tempat bergantung dan sumber rizki. Padahal semua itu dari Allah swt. Artinya, Allah Ta’ala-lah yang mengerjakan semua itu, menciptakan semua itu dan memanage semuanya. Berarti tidak benar beribadah, kecuali hanya untukNya dan kepadaNya. Allah-lah yang berhak disembah, sehingga manusia hanya menyembah kepadaNya. Ibadah hanya sah bagi hamba, dan tertuju kepada Pencipta hamba. Karena itu sang hamba harus mengenal Penciptanya, dimana, Allah bertajalli melalui ciptaanNya. Tajallinya Allah 13 Sayyid Authub, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an, (Jakarta, Gema Insani 2006) h. 633

 

·   bukan penyatuan WujudNya dengan wujud makhlukNya yang disebut dengan pantheisme. Tetapi, Tajallinya Allah adalah penampakan yang disaksikan oleh Jiwa Terdalam dari para hambaNya, dan karena itu, seperti dalam hadits, “Siapa yang mengenal jiwanya maka ia mengenal Tuhannya.” Secara lebih jelas, keistimewaan dan kelebihan manusia, diantara-nya berbentuk daya dan bakat sebagai potensi yang memiliki peluang begitu besar untuk dikembangkan. Dalam kaitan dengan pertumbuhan fisiknya, manusia dilengkapi dengan potensi berupa kekuatan fisik, fungsi organ tubuh dan panca indera. Kemudian dari aspek mental, manusia dilengkapi dengan potensi akal, bakat, fantasi maupun gagasan. Potensi ini dapat mengantarkan manusia memiliki peluang untuk bisa menguasai serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sekaligus menempatkannya sebagai makhluk yang berbudaya. Di luar itu manusia juga dilengkapi unsur lain, yaitu kalbu. Dengan kalbunya ini terbuka kemungkinan manusia untuk menjadi dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran ilahi secara spiritual. Sebagai makhluk ciptaan, manusia pada dasarnya telah dilengkapi dengan perangkat yang dibutuhkan untuk menopang tugas tugas pengabdiannya. Sudah cukup persyaratan yang ia miliki, sehingga manusia merupakan makhluk yang „layak mengabdi Perpaduan daya daya tersebut membentuk potensi, yang menjadikan manusia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta mampu meghadapi tantangan yang mengancam kehidupannya. Dengan menggunakan akalnya, manusia dapat berkreasi membuat berbagai peralatan guna mempertahankan diri dari gangguan musuh dan alam lingkungannya. Selain itu manusia juga mampu berinovasi dan berkarya dalam meningkatkan kualitas hiduppnya. Manusiapun dapat mempertahankan kelangsuangan generasinya dari kepunahan, melalui kemampuan nalar dan kreatifitasnya Dr. Abdul Mujib, M.Ag menuturkan potensi-potensi dasar manusia adalah sebagai berikut : 1. Al-Fithrah Fitrah merupakan citra asli manusia yang berpotensi baik atau buruk di mana aktualisasinya tergantung pilihannya. Fitrah baik merupakan citra asli primer sedangkan yang buruk sekunder. Sekalipun potensi fitriyah manusia itu merupakan gambaran asli yang suci,

 

·  bersih, sehat dan baik namun dalam aktualisasi dapat mengaktual dalam bentuk perbuatan buruk, sebab fitrah manusia itu dinamis yang aktualisasinya sangat tergantung keinginan manusia dan lingkungan yang memengaruhinya. 2. Struktur Manusia Struktur manusia terdiri dari enam yaitu jasmani, rohani, nafsani, kalbu, akal, hawa nafsu. I. Ciri-ciri jasmani yaitu : a. Bersifat materi yang tercipta karena adanya proses (tahap) b. Adanya bentuk berupa kadar dan bisa disifati c. Ekstetensinnya menjadi wadah roh d. Terikat oleh ruang dan waktu e. Hanya mampu menangkap yang kongkret bukan yang abstrak f. Substansinya temporer dan hancur setelah mati II. Ciri-ciri rohani yaitu : a. Adanya di alam arwah (immateri) b. Tidak meiliki bentuk, kadar dan tidak bisa disifati c. Ada energy rohaniah yang disebut al-amanah d. Ekstitensi energi rohaniah tertuju pada ibadah e. Tidak terikat oleh ruang dan waktu f. Dapat menangkap beberapa bentuk konkret dan abstrak g. Substansinya abadi tanpa kematian h. Tidak dapat dibagi karena merupakan satu keutuhan III. Ciri-ciri nafsani yaitu : a. Adanya di alam jasad dan rohani terkadang tercipta dengan proses bisa juga tidak b. Antara berbentuk atau tidak c. Memiliki energy rohaniyah dan jismiyyah d. Ekstitensi energy nafsani tergantung ibadah dan gizi (makanan) e. Ekstitensi realisasi atau aktualisasi diri f. Antara terikat atau tidak oleh ruang dan waktu g. Dapat menangkap antara yang konkret dan abstrak h. Antara dapat dibagi-bagi atau tidak

 

·  Ciri-ciri kalbu yaitu : a. Secara jasmaniyyah berkedudukan di jantung b. Daya yang dominan adalah emosi (rasa) a c. Bersifat Dzawqiyyah (cita rasa) dan hadsiyah (intuitif) sifatnya spiritual d. Mengikuti natur roh yang ketuhanan atau ilahiyyah e. Berkedudukan pada alam super sadar atau dasar manusia f. Intinya religiositas, spiritualitas, dan transedensi g. Apabila mendominasi jiwa manusia maka akan menimbulkan kepribadian yang tenang (Nafs Mutmainnah) V. Ciri-ciri akal yaitu : a. Secara Jasmaniyyah berkedudukan di otak (al-dimagh) b. Daya yang dominan adalah kognisi (cipta) sehingga adanya intelektual c. Mengikuti antara natur roh dan jasad d. Potensinya bersifat istidhlaliyyah 9argumentatif) dan aqliyah (logis) yang bersifat rasional e. Berkedudukan pada alam kesadaran manusia f. Intinya isme-isme seperti : humanism, kapitalisme, dan lain-lain. g. Apabila mendominasi jiwa maka akan terwujud jiwa yang labil (Nafs Al-lawwamah) VI. Ciri-ciri hawa nafsu yaitu : a. Secara jasmaniyyah terdapat di perut dan alat kelamin b. Daya yang dominan adalah konarsi (karsa) atau psikomotorik c. Mengikuti natur ajsad yang hayawaniyyah baik jinak maupun buas (bahimiyyah dan subuiyyah) d. Bersifat hisiyyah (indrawi) yang sifatnya empiris e. Kedudukannya terdapat pada alam pra/ bawah sadar manusia f. Intinya adalah produktivitas, kreativitas dan komsumtif g. Apabila mendominasi jiwa maka akan terwujud nafs al-ammarah 3. Al-Hayyah (Vitality) Yaitu merupakan energi, daya, tenaga atau vitalitas manusia yang karenanya manusia dapat bertahan hidup. Al-hayyah dibagi menjadi dua yaittu, nayawa (al-hayya) dan fisik (atthaqat atau al-jismiyyah) sehingga adanya fungsi organ.

 

·  Al-Khuluq Akhlaq yaitu kondisi batiniah (dalam) bukan kondisi lahiriah (luar) individu yang mencakup al-thabu dan a-sajiyyah. 5. Al-Thabu (Tabiat) Citra batin individu yang melekat (al-sukun). Menurut Ikhwan Al-Shafa tabiat adalah daya dari daya nafs kuliyyah yang menggerakan jasad manusia.14 6. Al-Sajiyyah (bakat) Yaitu kebiasaan („aadah) individu yang berasal dari hasil integrasi antara karakter individu (fardiyyah) dengan aktifitas-aktifitas yang diusahakan (Al-Muktasab). Dalam terminology psikologi bakat yaitu akapasitas kemampuan yang bersifat potensial. Bakat ini bersifat karakter (tersembunyi dan bisa berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat diaktualisasikan potensinya. 7. Al-Sifat (sifat-sifat) Ciri khas individu yang relative menetap secara terus-menerus dan konsekuen yang diungkapkan dalam suatu deretan keadaan sifat-sifat totalitas yaitu deferensiasi, regulasi dan integrasi 8. Al-„Amal (perilaku) Tingkah laku lahiriah individu yang tergambar dalam bentuk perbuatan nyata. Potensi Negatif Manusia Pada realitanya, tidak semua potensi manusia hanya bernilai positif seperti yang kami jealaskan sebelumnya. Manusia pun mempunyai potensi yang negatif. Hal ini sesuai dengan ayat al quran yaitu seperti : a. Melampaui batas QS (Yunus : 12) b. Zalim (bengis, kejam, dll) QS (Ibrahim : 34) c. Tergesa-gesa QS (Al-Isra : 11) d. Suka membantah QS (Al-Kahfi : 54) 14 Ikhwan Al-Shafa, Rasail Ikhwan Al-Shafa wa Kalam Al-Wafa (Beirut Dar Sadir 1957) Juz II h.63

 

·  Berkeluh kesah dan kikir QS (Al-maarij : 19-21) f. Ingkar dan tidak berterima kasih QS (Al-„Adiyat :6) II.2 Tugas Hidup Manusia dalam Islam Manusia dalam pandangan agama Musa Asyari (Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-quran) menunjukkan dengan jelas tentang betapa agama telah memberikan potret yang utuh, apik dan komprehensif tentang sosok manusia melalui tiga istilah yang ada: 1. Insan dari kata „anasa yang mempunyai arti melihat,mengetahui dan meminta izin, mengandung pengertian adanya kaitan kemamampuan penalaran. Kata „insan menunjuk pada suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap yang lahir dari adanya kesadaran penalaran. Manusia pada dasarnya jinak, dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan llingkungan yang ada. Sejalan dengan pengertian ini, tugas manusia yaitu : a. Untuk mengatakan bahwa manusia menerima pelajaran dari tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya QS (Al-Alaq 1-5) b. Manusia mempunyai musuh nyata yang nyata yaitu setan QS (12:5) c. Manusia sebagai makhluk yang memikul amanah dari tuhan QS (33:72) d. Makhluk yang harus pandai menggunakan waktu untuk beriman dan beramal baik QS (1-3 e. Sebagai makhluk yang hanya akan mendapatkan bagian dari apa yang dia kerjakan (53:39) f. Punya keterikatan dengan moral dan sopan santun 2. Penggunaan kata „basyar yaitu manusia seperti apa yang tampak pada lahiriyyahnya, mempunyai bangunan tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama, semakin bertambah usianya, kondisi tubuhnya akan menurun, menjadi tua dan akhirnya ajal pun menjemputnya, pada kata „basyar ini disebutkan 36 kali di Alquran. 3. An-nas yaitu untuk menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai kegiatan untuk mengembangkan kehidupannya yaitu : a. Melakukan kegiatan peternakan QS (28:23) b. Kemampuan untuk mengelola besi atau logam QS (52:25) c. Kemampuan untuk pelayaran dan mengadakan perubahan social QS (2:164)

 

·   Kepatuhan dalam beribadah QS (2:21)15 Al-Ghazali memandang manusia sebagai proses hidup yang bertugas dan bertujuan yaitu bekerja, beramal shaleh, mengabdikan diri dalam mengelola bumi untuk memperoleh kebahagiaanabadi sejak di dunia hingga di akhirat. Pada aspek keduniaan manusia berperan sebagai khalifah di bumi dan aspek akhirat manusia sebagai „hamba atau „al-„abdu Allah Taala. Seperti yang beliau katakna tentang tugas manusia yaitu “Segala tujuan manusia itu terkumpul dalam agama dan dunnia. Dan agama tidak terorganisasikan selain dengan terorganisasinya dunia. Dunia adalah alat yang menyampaikan kepaada Allah bagi orang yang mau memperbuatnya menjadi tempat tetap dan tanah air abadi.16 Sehingga dapat kita ketahui bahwa manusia mempunyai dua peran sebagai tujuan diciptakan oleh Allah Taala yaitu : a. Manusia sebagai „Abd Allah (Hamba Allah) Manusia dalam kehidupannya di muka bumi ini tidak bisa terlepas dari kekuasaan yang transdental (Alaah). Hal ini disebabkan, karena manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk beragama sesuai dengan fitrahnya. Allah Taala memperkenalkan dan menunjukkan kepada manusia bagaimana tata cara yang harus dilakukannya dalam melakukan peribadatan, sebagai bukti kepatuhan kepada Allah Taala melalui perantara Al-quran. Pada aspek ini manusia diharapkan mampu mengenal Khaliqnya lewat pengabdian yang ditunjukannya dalam semua spek kehidupan. Dalil yang mendasari pada tugas manusia sebagai hamba Allah terdapat di QS (51:56) b. Manusia sebagai makhluk yang mulia, menempati posisi yang istimewa yang diberikan Allah di muka bumi. Hal ini karena manusia diciptakan dalam “citra Allah”, sehingga selayaknya manusia disebut sebagai “mahkota ciptaan-Nya” atau sebagai “khalifah Allah di bumi” yang mewakili Pencipta dalam ciptan-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah QS (2:30) Bila kita memperhatikan ayat tersebut, maka akan terlihat bahwa manusia bukan sekedar hiasan, akan tetapi, jauh dari itu manusia diberi kekuasaan untuk memelihara ciptaan-Nya sehingga dapat mengolah dan memakmurkan alam ini 15 16 H. Abaddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam Drs. Abidin Ibnu Kusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang pendidikan

 

·  dalam rangka beribadah kepada Allah, dengan begitu manusia terlihat berbeda dengan makhluk lainnya dalam kedudukan dan tanggung jawab. Secara umum, para filosuf Islam sepakat dalam mengartikan kata khalifah dengan pengertian mengganti. Hanya saja mereka berbeda pendapat dalam mendefinisikan pengertian pengganti tersebut.

 

BAB III PENUTUP

 Kesimpulan : Potensi-Potensi Dasar Manusia dalam Islam dibagi menjadi dua yaitu potensi internal yang meliputi fitriyah, ruhiyah, aqliyah dan jasmaniyah dan potensi eksternal meliputi potensi huda (petunjuk) dan potensi alam. Potensi terbagi dua yaitu : a. Potensi positif yang meliputi : 1. Bentuk manusia yang terdiri dari jasmaniyyah dan jasadiyyah, kedua potensi ini terbentuk karena adanya proses 2. Fithriyyah yang terdiri dari diniyyah (agama) dan khairiyyah (kebaikan) 3. „Aqliyyah yang terdiri dari fuadiyyah dan qolbiyyah 4. Ruhiyyah b. Potensi Negatif yang meliputi : 1. Melampaui batas 2. Zalim (bengis, kejam, dll) 3. Tergesa-gesa 4. Dan lain-lain Peran dan tugas utama manusia di muka bumi dibagi menjadi dua : 1. Manusia sebagai „aabid yaitu hamba Allah yang memiliki tugas mengabdi kepada Allah dan bertanggung jawab di muka bumi 2. Manusia sebagai khalifah yaitu pemimpin di muka bumi. Manusia dilahirkan sebagai khalifah yang harus mampu mengubah dunia menjadi alam „Abdiyah yang terang benderang ,,,,,,

 

·  Urgensi Pendidikan Islam dalam menangani potensi-potensi dasar manusia dan tugas manusia dalam Islam adalah dengan adanya pendidikan islam manusia dapat mengolah atau mempergunakan potensi dasarnya dengan baik sehingga dapat menjalankan tugas atau fungsinya sebagai hamba Allah dan Khalifah di bumi dengan baik. Ketika manusia mempergunakkan potensi dasarnya tanpa pendidikan islam maka manusia tidak dapat menjalankan tugas atau fungsinya dengan baik dan akan terpacu kepada perbuatan negatif. Agama islam menggambarkan bahwa kehidupan manusia itu diartikan untuk mengembangkan potensinya terutama tiga potensi yang dimilikinnya yaitu potensi fisik biologisnya, intelektual dan rohaninya, sosiologisnya. Ketika potensi ini harus dikembangkan secara harmonis dan seimbang.

Jadikanlah kami Hamba dan Pejuang,,,,, goooo

Sebuah Ta’aruf

Gambar

Sebuah Ta’aruf

Beberapa orang teman pernah berbagi kisah dengan saya, tentang proses perkenalan mereka dengan calon pendamping hidup masing-masing. Kisah mereka berbeda satu dengan lainya. Ada yang berjalan cepat dan lancar, ada pula proses yang memakan waktu  dan berliku-liku.

Di antara kisah mereka, ada seorang teman yang hanya membutuhkan waktu yang cukup singkat dalam menjalani proses perkenalan hingga akad nikah dilangsungkan. Ia hanya memerlukan tiga kali pertemuan dengan calon pendampingnya, yaitu saat perkenalan, khitbah, serta akad nikah. Namun, pada kisah yang lain, ada pula seorang teman yang melalui proses tersebut dengan penuh dengan kebingungan, kegundahan serta kegelisahan. Mungkin karena sebuah proses yang agak menyimpang yang telah dilakukannya, sehingga ia pernah merasa putus asa, dan hampir saja mengambil keputusan yang akan merugikannya.

Namun dari semua kisah mereka, Alhamdulillah, semuanya berakhir dengan sebuah akad nikah. memberikan doa restu kepada mereka agar menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Saat ini, saya bertanya kemana mereka sekarang,,,,,,? Bila dulu mereka pernah bercerita kepada saya tentang suka dan duka mereka, bisakah saat ini saya juga berbagi kisah dengan mereka? Jika dulu kami berbicara hanya dengan teori-teori belaka, mungkin saat ini mereka bisa menjelaskan tentang teori-teori yang telah mereka jalankan. Karena dari pengalaman mereka, mungkin saya bisa menjalani sebuah ta’aruf yang indah. Diawali dengan sesuatu yang indah, dijalani dengan proses yang indah, dan berakhir dengan sebuah peraihan cita-cita yang indah.

—ooo0ooo—

semuanya berawal dari kedua mata
ketika aku hanya berani mencuri pandang wajahmu di sana
dengan pakaian rapat tak kau biarkan auratmu terbuka
karena memang tak selayaknya bisa dipandang oleh sembarang mata
maka seiring perjalanan masa
kumulai beranikan diri tuk bertanya
tuk selanjutnya berbagi cerita

telah kukatakan kepada semenjak awal mula
bahwa aku adalah lelaki ibuku sepanjang masa
sebagai wujud bakti sebagaimana rasul telah bersabda
“ibumu, ibumu, ibumu!” begitulah dalam sebuah hadits yang pernah kubaca
“lalu ayahmu!” sebagai kelanjutan ucapan dari lidah yang mulia

sebuah jawaban darimu membuatku begitu lega
kau berkata bahwa lebih baik memiliki suami yang berbakti daripada yang durhaka
kau berkata bahwa lebih baik memilki suami yang dermawan daripada yang bakhil harta
dan kau pun berharap bahwa pendampingmu kelak bisa membuatmu bahagia

kau pernah berkata ingin segera menikah sebagai suatu rencana
bila kelak Allah mempertemukanmu dengan jodoh pilihan-Nya
agar mampu menjaga kemurnian dan kesucian niatmu dalam mewujudkan berbagai cita
serta menjadikanmu lebih kuat kala cobaan dan ujian datang menerpa
karena akan ada seseorang yang insya Allah akan mendampingi senantiasa
namun yang harus kau tahu adalah bahwa aku lelaki biasa
segala kelebihan dan kelemahan pastilah kupunya

senanglah hati ketika mengetahui dirimu rutin dalam sebuah tarbiyah
tidak seperti aku yang hanya pernah masuk madrasah
mulai ibtidaiyah, tsanawiyah namun tidak lanjut ke aliyah
namun sekarang aku sudah lulus kuliah
saat ini pun aku sudah memiliki ma’isyah
teman-temanku berkata, bahwa sudah waktunya bagiku mencari ‘aisyah
mungkin dengan simpanan yang ada cukuplah untuk sebuah walimah
tentu saja yang sederhana dan bukan yang meriah
dan akupun belum sanggup untuk menyediakanmu sebuah rumah
karena itu kuberpikir untuk mengontrak dulu sajalah

suatu ketika ketika kau bertanya tentang poligami
kujawab bahwa itu adalah ketentuan Ilahi
tentu saja aku menyetujui
lantas kau bertanya apakah aku akan melakukannya suatu saat nanti
kujawab apa mungkin bila adil sebagai syarat utama tak mampu kumiliki
engkau tersenyum di mulut atau mungkin sampai ke hati
sambil mengakui bahwa dirimu belum bisa menerima bila hal itu terjadi
dan dirimu juga tak bisa menyamai saudah binti zam’ah istri sang nabi
yang tulus ikhlas kepada ‘aisyah dalam berbagi

suatu ketika giliran aku bertanya tentang kemampuanmu bertilawah
kau menjawab bisa walau tak mau dibandingkan dengan para qoriah
karena kau merasa masih banyak berbuat salah
dalam mengucap hukum tajwid dan huruf-huruf hijaiyah
insya Allah kita kan bersama-sama belajar bila kelak kita menikah
untuk mewujudkan keinginanmu agar bisa menerangi setiap ruang rumah
dengan alunan suara al-quran yang merupakan ayat-ayat qauliyah
dari situ mungkin kita bisa membaca ayat-ayat kauniyah

untuk memastikan keyakinanku untuk menikah
kau pun mengundangku ke tempat temanmu seorang murabbiyah
dan tak lupa kau undang aku tuk datang ke rumah
sebagai awal perkenalan dengan bunda dan ayah
dan sebuah titik temu tercapailah
istikharah mencari jawaban tuk menggapai alhub fillah wa lillah

dalam doa kubersimpuh pasrah
memohon datangnya jawaban kepada Sang Pemberi Hidayah
bila jawaban itu masih menggantung di langit, maka turunkanlah
bila jawaban itu masih terpendam di perut bumi, maka keluarkanlah
bila jawaban itu sulit kuraih, maka mudahkanlah
bila jawaban itu masih jauh, maka dekatkanlah

———————————
teruntuk calon istriku,,,,yg masih rahasia
terima kasih

Gambar