Abu Hurairah

Perawi hadist yang tidak bisa menulis.

Dengan daya ingatnya yang tajam, dia berhasil mendapatkan, mengoleksi, dan menyebarluaskan hadis, riwayat, dan perilaku Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat. Kedekatannya dengan Rasulullah membuat ia dianggap bayangan Nabi sendiri.

Hentikan pembicaraanmu tentang riwayat Rasulullah, kalau tidak kamu aku pulangkan ke kampungmu.” Kata Khalifah Umar bin Khattab suatu kali kepada Abu Hurairah. Ucapan itu mengandung kegusaran sang khalifah karena ia merasa terganggu dengan kegiatan Abu Hurairah yang sering mengungkapkan hadis dan riwayat Nabi kepada kaum muslimin pada tiap kesempatan. Masalahnya ketika itu Umar sedang mensosialisasikan Al-Quran yang sudah dihimpun dalam suatu kitab (mushaf) kepada kaum muslimin. Beliau tidak ingin kaum muslimin terganggu pikirannya dengan adanya bacaan lain selain Al-Quran.

Hal ini bisa dimaklumi karena ketika Umar memegang jabatan khalifah, perkembangan Islam baru dalam tahap awal, namun ancaman dari kaum Quraisy tetap tinggi. Mereka tidak segan-segan melakukan pembunuhan kepada orang-orang Islam yang dijumpai di mana saja. Tugas khalifah bukan hanya melindungi kaumnya tetapi juga mengisi jiwa mereka dengan kalam Ilahi, dalam hal ini Al-Quran. Apalagi tingkat kecerdasan mereka masih rendah. Untuk tidak mengaburkan pendalaman mereka terhadap wahyu-wahyu Ilahi, Umar menghendaki agar sosialisai Al-Quran itu tidak dicampuri dengan bacaan-bacaan lain.

Abu Hurairah sendiri merasa bahwa keberatan khalifah itu ada benarnya. Namun ia juga merasa memiliki kewajiban untuk menyampaikan hal-hal yang diketahuinya yang berasal dari Nabi SAW. Ia tidak ingin menyembunyikan hadis-hadis yang diyakininya benar karena ia mendapatkannya langsung dari Nabi. Ia merasa berdosa bila hadis-hadis itu tidak diungkapkan kepada kaum muslimin.

Apalagi, kala itu, ada usaha dari Ka’ab Al-Akhbar yang selalu melebih-lebihkan hadis Rasulullah sehingga membingungkan kaum muslimin yang mendengarnya. Ka’ab adalah orang Yahudi yang masuk Islam, namun karena ulahnya itu mendorong orang lain untuk memalsukan hadis demi kepentingan pribadi yang jelas tidak sejalan dengan ajaran agama Islam. Mereka ini tidak segan-segan memanfaatkan nama Abu Hurairah, seolah-olah hadis yang mereka palsukan itu berasal dari Abu Hurairah.

Timbulnya hadis palsu ini sebenarnya juga tidak luput dari perhatian Kalifah Umar. Beliau bahkan telah mengemukakan gagasan bahkan telah mengemukakan gagasan untuk menuliskan hadis-hadis Nabi dalam suatu kitab. Namun karena pertimbangan tidak ingin membuat kerancuan tentang Al-Quran pada jemaahnya, ide itu tidak direalisasikan. Akibatnya pemalsuan hadis menjadi-jadi. Satu abad kemudian dua orang perawi hadis yaitu Imam Bukhari menemukan 600.000 hadis dan Abu Dawud menemukan 500.000 hadis. Setelah diseleksi hanya ada 40.000, dan 4.800 hadis yang sahih.

Abu Hurairah adalah nama panggilan yang diberikan teman-teman dekatnya karena kecintaannya kepada kucing. Begitu sayangnya kepada binatang yang satu ini sampai-sampai ia menyuapi, memandikan, dan menyediakan kandang. Abu Hurairah artinya Bapak Kucing Kecil. Nama aslinya adalah ‘Abdus Syams (Hamba Matahari). Namun, setelah masuk Islam Nabi SAW memberi nama Abdurrahman (Hamba Allah, yang Maha Pemurah).

Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga miskin sebagai anak yatim. Sejak bertemu dengan Nabi pada tahun ketujuh kenabian, ia langsung masuk Islam dan boleh dibilang tidak pernah berpisah dengan beliau. Namun ibunya menolak masuk Islam. Bukan itu saja, ibunya juga selalu menyudutkan Nabi sehingga menyakitkan hati Abu Hurairah. Abu Hurairah mohon bantuan doa dari Nabi agar ibunya masuk Islam dan terkabul.

Mengenai kedekatannya dengan Nabi. Abu Hurairah menyatakan bahwa sebagai orang miskin ia tidak disibukkan dengan urusan tanah pertanian seperti halnya orang-orang Anshar atau urusan dagang di pasar seperti halnya orang-orang Muhajirin. “Jadi ketika mereka tidak bisa hadir (di samping Nabi) aku bisa, sehingga aku banyak menerima masukan dari beliau,” katanya.

Selain dekat dengan Nabi, Abu Hurairah memiliki daya ingat yang kuat yang diberkati Nabi sehingga tambah kuat. Itu sebabnya ia mampu menghafal di luar kepala semua hadis Nabi dan juga melaksanakannya sebagai pegangan hidup. Maka ia pun meriwayatkan hadis-hadis itu kepada kaum muslimin sebagai rasa tanggung jawab kepada Nabi dan agamanya secara terus-menerus sehingga Umar merasa “risi” ketika ia harus mensosialisasikan Al-Quran.” “Sibukkanlah dirimu dengan Al-Quran dan kurangilah meriwayatkan tentang Rasul kecuali amal perbuatannya,” kata Umar. Padahal menurut Abu Hurairah hadis juga mengandung kebenaran yang harus diungkapkan kepada umat.

Oleh Khalifah Umar ia diangkat sebagai gubernur di

Bahrain. Menjelang akhir masa jabatan Umar memanggil pulang Abu Hurairah ke Medinah. Beliau menanyakan asal-muasal uang sepuluh ribu dinar yang ada dalam simpanan sang gubernur. “Uang itu berasal dari hasil penjualan anak-anak kuda milikku,” jawab Abu Hurairah.

“Serahkan uang tiu ke baitul maal”, perintah Umar. Umar memang terkenal sebagai khalifah yang sangat hati-hati memilih pembantu-pembantunya. Ia selalu mengingatkan para pembantunya agar tidak memperkaya diri dan hanya memiliki pakaian sebanyak dua setel, baik ketika diangkat maupun ketika mengakhiri jabatannya.

Abu Hurairah mematuhi perintah itu namun ia menolak ketika akan diangkat lagi sebagai gubernur d Bahrain. “Saya takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa kesabaran,” kilahnya.

Abu Hurairah menyadari bahwa aktivitasnya sebagai perawi hanya bisa disejajarkan dengan Abdulah bin Amr bin Al-‘Ash. Masalahnya, “Abdullah bisa menulis sedangkan aku tidak bisa,” katanya. Namun sekitan tahun kemudian peranan Abu Hurairah itu disakui oleh Imam Syafii dan Imam Bukhari. Kedua perawi ini sependapat bahwa Abu Hurairah adalah rujukan para sahabat dalam soal hadis Nabi. “Tidak ada orang yang mampu meriwayatkan hadis Nabi sebaik Abu Hurairah,” kata Imam Bukhari.

Pada tahun 59 H ia wafat pada usia 78 tahun, dikubur di pemakaman Baqi, yang tak begitu jauh dari makam Rasulullah di ujung kiri Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah.

Iklan

Hanzhalah bin Abu Amir

Ketika akan berangkat perang membela agama Islam, dia belum sempat mandi jinabat. Maka, ketika gugur sebagai syuhada, dia dimandikan oleh para malaikat.

Hanzhalah bin Abu Amir adalah anak pemimpin suku Aus yang terbilang kaya di Yastrib (Madinah) pada masa menjelang hijrahnya Nabi Muhammad ke sana. Ayahnya, Abu Amir bin Shaify, orang yang sangat benci kepada Islam. Pada zaman jahiliyah, dia mendapat julukan Abu Amir Sang Pendeta, tetapi julukan itu berbalik menjadi Abu Amir lelaki Fasik ketika Yastrib sudah dikuasai oleh kaum muslim.

Pernah dengan angkuh Abu Amir berkata, “Jika aku menyeru kaumku yang sudah masuk Islam, mereka pasti akan mengikutiku dan bergabung dengan kaum Quraisy.”

Tapi baru saja mulutnya menyebutkan nama dirinya, “Wahai bani Aus, aku Abu Amir..”, orang-orang Aus yang muslim menimpali, “Wahai lelaki fasik, Allah tidak akan memberkatimu!” Mereka mengucapkan kalimat itu sambil melancarkan serangan yang menyebabkan Abu Amir melarikan diri. Nah, di antara penyerang itu, adalah anaknya sendiri, Hanzhalah.

Hanzhalah, yang telah masuk Islam, akhirnya menikah dengan Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat bapaknya. Mertuanya itu dikenal sebagai tokoh munafik, menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan. Dia berpura-pura membela Nabi Muhammad dalam Perang Uhud; namun ketika rombongan pasukan muslim bergerak ke medan laga, ia menarik diri bersama orang-orangnya, kembali ke Madinah.

Pagi harinya, ketika mendengar seruan untuk berjihad, Hanzhalah mengambil pedang dan baju perangnya, langsung bergabung dengan induk pasukan muslim dan pergi berperang. Dalam peperangan itu, dia berhasil mendekati Abu Sufyan ketika teman-temannya justru melarikan diri ketakutan. Abu Sufyan, dalam duel satu lawan satu, terjatuh dari kudanya. Wajahnya pucat, ketakutan.

Pedang Hanzhalah yang berkilauan siap merobek lehernya. Dalam hitungan detik, nyawanya akan melayang. Tapi, dalam suasana genting itu, Abu Sufyan berteriak minta tolong, “Hai orang-orang Quraisy, tolong aku.”

Lantas orang-orang Quraisy di sekitarnya tanpa ampun mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah, dari kiri, kanan, dan belakang, sehingga Hanzhalah tersungkur. Dalam kondisi yang sudah parah, darah mengalir begitu deras dari tubuhnya, ia masih dihujani dengan lemparan tombak dari berbagai penjuru. Dan akhirnya…anak muda ini gugur sebagai syuhada.

Abu Sufyan, si pengecut itu, pun selamat dari tajamnya pedang Hanzhalah.

Seusai peperangan, Abu Amir dan Abu Sufyan mengitari

medan laga dan mencari data sahabat-sahabat Nabi yang gugur. Biasanya mereka akan melampiaskan dendamnya dengan mencincang mayat-mayat musuhnya. Mereka menemukan jasad Kharijah bin Abu Suhair dari suku Khazraj, pemimpin Bani Kahzraj; Abbas bin Ubadah bin Fadhlah; Dzakwan bin Abu Qais, bangsawan Yastrib; dan tentu saja Hanzhalah.

“Anakku, kenapa kamu tidak mau mengikuti perintahku untuk tidak ikut berperang?” keluh Abu Amir dengan nada kesedihan. “Andaikan menaati perintahku, kamu akan hidup terhormat bersama kaum Aus.”

Kepada orang-orang Quraisy dia menyeru agar tidak mencincang jasad anaknya. Tapi dia sendiri mencincang bangkai orang lain.

Nabi Muhammad, yang diberi tahu hal itu, kemudian mendoakan, melihat ke langit, dan berkata kepada para sahabat, “Aku melihat, malaikat-malaikat sedang memandikan Hanzhalah bin Abu Amir di antara langit dan bumi dengan menggunakan air Muzn (mendung) yang diambil dari bejana perak.”

Kemudian beliau mengutus salah seorang sahabat untuk mengabarkan hal itu kepada istri Hanzhalah dan menanyakan apa yang dikerjakan suaminya sebelum pergi ke medan perang.

“Ketika mendengar panggilan perang, Hanzhalah dalam keadaan junub dan belum sempat mandi…,” kata Jamilah.

Beruntunglah Hanzhalah, syuhada yang telah dimandikan oleh para malaikat. Dia memperoleh kedudukan yang tinggi di haribaan Allah SWT. Itulah sebaik-baik tempat yang tidak semua orang mampu meraihnya.

Nabi Bersabda, “Allah SWT berfirman: Tiada balasan bagi hamba-Ku yang berserah diri saat Aku mengambil sesuatu yang dikasihinya di dunia, melainkan surga.” (HR Bukhari)

Ashim bin Tsabit

Jasad pahlawan Perang Uhud ini hampir termakan sumpah Sulafah. Namun, Allah SWT melindunginya dari kebiadaban niat perempuan Quraisy itu.

Siang itu, kaum Quraisy, baik sayyid (bangsawan) maupun ‘abid (hamba sahaya), semuanya keluar untuk memerangi Muhammad bin Abdullah di Uhud. Kedengkian dan nafsu hendak membunuhnya di Badar masih membakar darah mereka. Tidak hanya laki-laki, bahkan perempuan bangsawan Quraisy pun turut pula ke Uhud untuk menggelorakan semangat perang para pahlawan mereka dan menggelorakan semangat para lelaki bila ternyata kendur atau melempem.

Di antara para perempuan itu terdapat Hindun binti ‘Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb; Raithah binti Munabbih, istri ‘Amr bin Ash; Sulafah binti Sa’ad, istri Thalhah, serta ketiga anak lelakinya, Musafi, Julas, dan Kilab; dan lain-lain.

Ketika pasukan muslim dan musyrikin telah berhadap-hadapan di Uhud, dan api peperangan mulai menyala, Hindun binti ‘Utbah dan beberapa perempuan lain berdiri di belakang pasukan laki-laki. Mereka memegang rebana, memukulnya sambil menyanyikan lagu-lagu perang. Lagu-lagu itu membakar semangat prajurit berkuda, dan membuat para suami seperti kena sihir.

Setelah pertempuran itu usai, dan ternyata kaum muslimin menderita kekalahan, para perempuan Quraisy pun berlompatan, berlari-lari ke tengah lapangan pertempuran, mabuk kemenangan. Mereka merusak mayat-mayat kaum muslimin yang tewas dalam pertempuran, dengan cara yang sangat keji. Perut mayat-mayat itu mereka belah, matanya dicongkel, telinga dan hidung mereka dipotong.

Bahkan ada seorang di antara mereka tidak puas dengan cara seperti itu. Hidung dan telinga mayat-mayat itu dibuatnya menjadi kalung, lalu dipakai, untuk membalaskan dendam bapak, saudara, atau paman mereka yang terbunuh dalam Perang Badar.

Sulafah binti Sa’ad lain pula gayanya. Hatinya guncang dan gelisah menunggu kemunculan suami dan ketiga anaknya. Dia berdiri bersama kawan-kawannya yang sedang dimabuk kemenangan. Setelah lama menunggu dengan sia-sia, akhirnya dia masuk ke lapangan pertempuran, sampai jauh ke dalam. Diperiksanya satu per satu wajah mayat-mayat yang bergelimpangan.

Tiba-tiba dia menemukan mayat suaminya terbaring berlumuran darah. Dengan pandangan hampa, dilayangkannya pandangan ke segala arah, mencari anak-anaknya. Tak berapa lama, didapatinya Musafi dan Kilab pun telah tewas. Sedangkan Julas masih hidup, dengan sisa-sisa napasnya.

Dipeluknya tubuh anaknya yang dalam keadaan sekarat itu. Kemudian kepala anaknya itu dia taruh dipahanya, dibersihkannya darah pada kening dan mulut anak itu. Air matanya terkuras oleh penderitaan yang hebat yang dialaminya hari itu. “Siapa lawan yang telah melukaimu, Nak?” Sulafah bertanya sambil mengguncang kepala anaknya. “Siapa?”

Di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal, Julas masih mampu menyebut nama, “Ashim bin Tsabit. Dia pula yang membunuh Ayah dan…”Belum habis dia bicara, napasnya telah putus, nyawanya telah dicabut malaikat maut.

Ibu tiga anak itu menangis sekeras-kerasnya. Kemudian, dari mulutnya terlontar sumpah, demi Lata dan Uzza, tidak akan makan dan menghapus air mata, kecuali bila orang Quraisy membalaskan dendamnya terhadap ‘Ashim bin Tsabit, dan memberikan batok kepalanya untuk dijadikan mangkuk tempat minum khamar. Dia berjanji akan memberikan hadiah sebanyak yang diminta, kepada orang yang dapat menyerahkan ‘Ashim kepadanya, hidup atau mati.

Sumpah Sulafah itu segera tersiar dengan cepat di seluruh telinga warga Quraisy dan mereka menganggapnya sebagai perlombaan. Setiap pemuda Makkah berharap dapat memenangkan lomba tersebut untuk meraih hadiah besar itu. Maklum, Sulafah adalah wanita kaya.

Seusai Perang Uhud, kaum muslimin kembali ke Madinah. Mereka membicarakan pertempuran yang baru saja mereka alami dengan perasaan sedih atas kepergian pahlawan-pahlawan yang mati syahid, memuji keberanian orang-orang yang luka, dan sebagainya. Mereka pun tak lupa menyebut keberanian ‘Ashim bin Tsabit dan mengaguminya sebagai pahlawan yang tak terkalahkan. Mereka kagum, bagaimana ‘Ashim mampu merobohkan tiga bersaudara putra Thalhah sekaligus.

Seorang di antaranya berkata, “Itu masalah yang tak perlu diherankan. Bukankah Rasulullah pernah mengingatkan kepada para sahabat beberapa saat sebelum berkobar Perang Badar agar mereka berperang seperti ‘Ashim!” Ya, saat itu ‘Ashim mengutarakan kiatnya berperang kepada Baginda Nabi, yaitu, “Jika musuh berada di hadapanku seratus hasta, aku panah dia. Jika musuh mendekat dalam jarak tikaman lembing, aku bertarung dengan lembing sampai patah. Jika lembingku patah, kuhunus pedang, lalu aku main pedang.”

Saat itu Nabi menimpali, “Begitulah berperang. Siapa yang hendak berperang, berperanglah seperti ‘Ashim.”

Tak berapa lama setelah Perang Uhud, Rasulullah di Madinah memilih enam orang sahabat untuk melaksanakan suatu tugas penting di Makkah, dan mengangkat ‘Ashim sebagai pemimpinnya. Keenam orang pilihan ini kemudian berangkat melaksanakan tugas yang dibebankan Rasulullah kepada mereka. Setelah berjalan beberapa hari, dan mereka sudah mendekati Makkah, kaum Hudzail memergoki dan segera mengepung dengan ketat.

“Kalian tidak akan mampu melawan kami,” kata mereka. “Kami tidak akan membunuh jika kalian mau menyerah.” Dalam situai yang terdesak seperti itu, keenam sahabat Rasul itu saling berpandangan, seolah bermusyawarah, sikap apa yang harus diambil segera.

“Aku tidak dapat mempercayai janji orang-orang musyrik itu,” kata ‘Ashim. Kemudian diingatkannya sumpah Sulafah. Ya, rupanya sumpah tersebut sampai juga ke telinga ‘Ashim. Lalu dia menghunus pedangnya sambil berdoa, “Ya Allah, aku memelihara agama-Mu dan bertempur karenanya. Maka lindungilah daging dan tulangku, jangan biarkan seorang jua pun musuh-musuh-Mu menjamahnya.”

Kemudian ia maju menyerang pengepungannya, diikuti dua orang kawannya. Mereka bertiga bertempur mati-matian hingga akhirnya roboh dan tewas satu per satu. Sedangkan yang tiga lainnya menyerah sebagai tawanan. Namun, orang-orang Hudzail itu pun tak membiarkan mereka hidup.

Ketika mengetahui bahwa salah seorang korbannya adalah ‘Ashim bin Tsabit, orang-orang Hudzail itu sangat bergembira, membayangkan hadiah besar yang akan mereka terima dari Sulafah. Karena terlalu girangnya, mereka bertindak tidak hati-hati. Setelah menyamarkan tempat pertempuran itu, mereka segera melapor kepada Sulafah dan menagih janjinya. Namun, Sulafah juga tidak segera mempercayai laporan itu.

“Mana buktinya?” Sulafah bertanya.

Tentu saja mereka tidak dapat membuktikan, karena jasad ‘Ashim masih mereka sembunyikan di tempat kejadian. Mereka lalu berjanji akan membawanya keesokan harinya.

Di luar dugaan, hal itu segera tersiar kepada orang-orang Quraisy. Mereka tidak tinggal diam, dan saling berlomba untuk menyogok kaum Hudzail dengan hadiah-hadiah yang menarik. Mereka juga berebut batok kepala ‘Ashim.

Untuk menyerahkan batok kepala ‘Ashim kepada Sulafah, orang-orang Hudzail ini kembali ke tempat kejadian dan ingin mengambil mayat ‘Ashim. Namun, begitu sampai di

sana, mereka menghadapi peristiwa aneh. Sekelompok binatang serangga tiba-tiba datang menyerang, menggigit muka, mata, kening, dan sekujur badan mereka, seolah mengusir mereka agar tidak dapat mendekati jenazah ‘Ashim. Usaha itu dilakukan berkali-kali tapi selalu gagal.

“Sialan betul seranga jahanam itu,” kata pemimpin orang-orang Hudzail itu sengit. “Kita tunggu sampai malam, siapa tahu serangga itu akan pergi bersama datangnya gelap.”

Dengan bersunggut-sunggut karena letih dan lapar, dan sumpah serapah yang tidak kunjung henti, mereka duduk menanti hingga malam menjelang. Tapi, setelah senja datang dan alam berselimut malam, awan tebal hitam menutupi langit. Kilat dan petir sambung-menyambung, diikuti guyuran air hujan yang laksana ditumpahkan dari langit. Belum pernah terjadi hujan selebat itu sepanjang mereka tahu.

Hati orang-orang Hudzail menjadi kian kecut. Air hujan itu dengan cepat menggelontor dari tempat ketinggian, menutup sungai dan permukaan lembah. Banjir pun tak terelakkan. Melanda segala yang ada, termasuk tempat disembunyikannya mayat ‘Ashim.

Setelah subuh tiba, mereka bangkit dan mencari tubuh ‘Ashim di semua tempat. Namun, usaha mereka sia-sia, bahkan mereka tidak menemukan bekas-bekasnya. Banjir telah menghanyutkan jasad ‘Ashim dan teman-temannya jauh sekali. Hilang, tak diketahui ada di mana.

Ya, Allah Ta’ala mendengar doa ‘Ashim bin Tsabit. Dia melindungi mayat ‘Ashim yang suci, sesuai dengan permintaannya, “Jangan sampai dijamah oleh tangan-tangan kotor orang-orang musyrik.” Dan Dia memelihara batok kepala ‘Ashim yang mulia, agar tidak dijadikan tempat minum khamar oleh Sulafah. Sungguh Allah Maha Menepati Janji.

Nabi SAW bersabda, “Allah melarang kamu bersumpah atas nama bapakmu. Siapa yang hendak bersumpah, hendaklah bersumpah dengan nama Allah.” (HR. Bukhari)

Ukasyah

Hasrat Mencium Stempel Kenabian.

Sahabat yang satu ini memang lihai. Untuk bisa melihat punggung dan mencium stempel kenabian, dia berpura-pura menagih “piutang” berupa pukulan di punggung kepada Rasulullah.

“Siapa di antara kalian yang pernah berpiutang kepadaku, apakah piutang harta atau yang lain?” Kalimat itu meluncur dari lisan Baginda Nabi Muhammad seusai beliau mengimami shalat Ashar kepada para jamaah dan sahabat. Tentu saja kata-kata itu sangat mengagetkan mereka. Namun tidak ada yang menjawab.

“Atau barangkali di antara kalian ada yang merasa terlukai olehku, baik luka badan maupun luka hati?” Beliau melanjutkan ucapannya. “Tagihlah sekarang juga. Aku ingin melunasi segala utangku, termasuk utang pukulan badan, dari kalian, karena hari ini aku mampu membayarnya. Ini aku minta kepada kalian karena kelak aku tak bakal sanggup menghadapi pertanyaan Allah di hari kiamat. Tagihlah sekarang juga, aku akan ikhlas membayarnya, termasuk yang merasa tersakiti oleh perbuatanku.”

Siang itu Rasulullah sengaja minta para sahabat berkumpul. Namun, pertanyaan itu justru terasa aneh di telinga dan hati mereka sehingga semuanya terdiam seribu bahasa. Masjid terasa lengang meski disesaki jamaah. Dan agaknya Baginda Rasul sengaja membiarkan hal itu agar ucapan beliau bisa dicerna para jamaah dengan baik. Namun, apa yang mesti dijawab dengan pertanyaan beliau, jangankan memberi pinjaman kepada beliau, asalkan beliau bersedia meminta sesuatu apa, mereka menganggap hal itu sebagai kehormatan luar biasa. Akibatnya para jamaah merasa terbius dan tak mampu membuka mulut hanya untuk sekedar mengiyakan atau menolak.

Setelah berlangsung agak lama, tiba-tiba seseorang mengancungkan tangan, “Hamba Ukasyah, ya Rasul, ingin menagih utang kepada Baginda .”

Seketika ucapan itu mengagetkan seluruh hadirin, tapi tidak demikian dengan Baginda Nabi, beliau bertanya, “Utang uang, atau…?”

“Bukan ya Rasul, hamba ingin menagih pukulan kepada Tuan. Hamba masih ingat, Tuan pernah menyakiti diri hamba. Kalau memang itu yang Tuan maksudkan, hamba akan membalas memukul Tuan,” kata Ukasyah.

“Baiklah, Ukasyah, tapi apa yang pernah kau alami dengan perbuatanku?” Baginda Nabi balik bertanya.

Belum sempat Ukasyah menjawab pertanyaan itu, Abubakar dan Umar berdiri serempak. Dengan wajah membara, Umar, yang temperamental, langsung menghardik Ukasyah “Ukasyah, jaga mulutmu kalau tidak ingin aku pecahkan kepalamu. Lancang benar kamu berkata seperti itu kepada Baginda Nabi.”

Namun Rasulullah segera menengahi. “Sabar, sabar, sahabatku, duduklah dan biarkan Ukasyah berkata jujur.”

Lalu Nabi memalingkan muka beliau kepada Ukasyah. “Apakah yang pernah aku lakukan pada dirimu. Katakan yang sebenarnya, tidak usah takut.”

Meski dengan nada ketakutan, Ukasyah berkata, “Pada saat Perang Badar, hamba berkuda berjalan di samping Tuan, tiba-tiba tongkat Tuan menyentuh badan hamba dan melukai punggung hamba…”

Sampai di situ, Ali bin Abi Thalib tiba-tiba menimpali. “Pantaskah kamu menagih pukulan seperti itu terhadap Rasulullah, yang selama ini kita hormati? Toh, hal itu tidak beliau sengaja.”

“Tenanglah Ali,” kata Baginda Nabi. “Marilah kita dengarkan apa pengakuannya. Aku ikhlas menerima permintaannya kalau memang hal itu pernah aku lakukan terhadap dirinya.” Kemudian beliau mempersilakan Ukasyah melanjutkan kalimatnya.

“Ya, sejujurnya begitulah pengalaman hamba. Oleh karena itu, sesuai dengan ucapan Tuan di awal pertemuan ini, hamba ingin menagih janji Tuan tadi.”

“Kalau memang demikian, silakan kamu ke depan dan pukullah punggungku ini,” jawab Nabi sambil menyediakan punggungnya.

Kepada Bilal bin Rabah, Nabi memerintahkan agar menyediakan tongkat yang pernah melukai punggung Ukasyah, “Silakan, Ukasyah, pukullah punggungku ini,” kata Nabi.

Melihat setuasi semacam itu, para sahabat menahan geram. Ada yang menutup mukanya, tapi ada juga yang melotot ingin membunuh Ukasyah, yang dinilai lancang itu.

Tapi Ukasyah justu belum puas. “Ketika badan hamba terpukul oleh tongkat Tuan, hamba tidak mengenakan baju. Karena itu Tuan harus membuka baju juga sekarang,” katanya.

Ucapan Ukasyah itu terasa kurang ajar di kuping Hasan dan Husain, cucu Baginda Nabi. Sebagai ungkapan kesalnya, mereka berdua,yang berada tidak jauh dari kakeknya itu, serempak berdiri.

Namun apa reaksi Nabi? “Sabar cucuku, biarkan dia menggunakan haknya.”

Rasulullah kemudian membuka baju, dan tampaklah kulit yang putih berkilau pada punggungnya. Kepada Ukasyah beliau berkata, “Pukullah segera, wahai Ukasyah.”

Namun, Ukasyah tidak segera memenuni permintaan itu. Diperhatikannya punggung Nabi. Lalu dengan cepat diciumnya stempel kenabian yang berada di punggung Rasulullah. Sebenarnya itu tujuannya, karena tidak semua orang bisa melihat dan mencium stempel kenabian itu.

Setelah puas melakukan itu, tiba-tiba Ukasyah bersimpuh dan menangis, “Wahai Rasulullah, junjungan kami, tidak sekali-kali hamba bermaksud memukul Tuan. Sudah tentu perbuatan demikian merupakan perbuatan yang tidak beradab. Hal itu tidak pernah terbesit dalam hati hamba. Maafkanlah hamba, ya Rasulullah, karena tujuan hamba hanya ingin mencium stempel kenabian dan melihat punggung Tuan yang demikian halus dan berkilau serta baunya yang wangi. Sekali lagi hamba mohon maaf atas kelancangan ini.”

Ukasyah mengakhiri kata-katanya, namun tangisnya belum juga reda. Suasana hati yang demikian juga terasa di dada seluruh hadirin.

“Tenanglah, Ukasyah,” kata Nabi meredakan suasana. “Kamu adalah sahabatku yang baik.”

Sejak itu para sahabat merasa lega dan memandang Ukasyah dengan hati terharu. Beberapa tahun kemudian Nabi wafat dengan tenang di Madinah.

Abdullah bin Salam

Dia seorang pendeta yang hatinya bergetar ketika bertemu Rasulullah, dan akhirnya menjadi sahabat yang setia.

Hushain bin Salam adalah kepala pendeta Yahudi di Madinah. Meskipun penduduk Madinah berlainan agama dengannya, mereka menghormati Hushain, karena dia dikenal sebagai orang yang taqwa, baik hati, istiqamah, dan jujur.

Kehidupan Hushain tenang dan damai. Waktu baginya sangat berharga dan bermanfaat. Dia membagi waktunya dalam tiga bagian: sepertiga pertama digunakan di gereja untuk mengajar dan beribadat, sepertiga kedua digunakan di kebun untuk merawat, dan membersihkan kebun, dan sepertiga terakhir untuk membaca kitab Taurat dan memperdalam ilmu yang diajarkan agama.

Setiap kali bertemu dengan ayat yang memberi kabar gembira (bisyarah) tentang kebangkitan seorang nabi di Makkah, untuk menyempurnakan risalah para nabi yang terdahulu dan sebagai penutup kebangkitan para nabi, selalu dibacanya berulang-ulang, dipelajarinya lebih mendalam sifat-sifat atau ciri-ciri nabi yang ditunggu-tunggu itu.

Dia sangat gembira setelah tahu bahwa nabi yang akan muncul itu akan hijrah ke negerinya, Madinah. Maka setiap dibacanya ayat-ayat yang memberitakan kabar itu, terlintas di hatinya akan kedatangan nabi tersebut, lalu dia berdoa kepada Allah semoga umurnya dipanjangkan untuk menyaksikan kebangkitan nabi yang ditunggu-tunggu, semoga dapat kesempatan bertemu dengannya, dan menjadi orang pertama yang menyatakan iman kepadanya.

Allah mengabulkan doa Hushain dengan memanjangkan umurnya sampai kebangkitan Nabiyyul Huda war Rahmah. Allah menetapkan keberuntungan baginya bertemu dan bersahabat dengan nabi yang dinanti-nantikannya, serta iman dengan agama yang dibawanya.

Maka ketika mendengar berita tentang kemunculan Rasulullah SAW, Hushain segera meneliti nama, silsilah, sifat-sifat, zaman, dan tempat kebangkitannya, dicocokkan dengan yang tertulis dalam kitab Taurat, sehingga ia yakin tentang kenabiannya. Dengan hati-hati dan cermat ia memastikan tentang kebenaran dakwahnya. Meski telah memperoleh kepastian, ia menyimpan untuk dirinya sendiri dan akan membukanya pada waktu yang tepat.

Pada suatu ketika, saat ia tengah bekerja membersihkan pohon kurma, seorang munadi (juru seru) memberitahukan kepada khalayak ramai bahwa Rasulullah sudah berada di Madinah. “Allahu Akbar, Allahu Akbar,” Hushain berseru demi mendengar hal itu.

Bibinya, Khalidah binti Harits, yang duduk di bawah pohon kurma, menukas, “Allah mengecewakan kamu, demi Allah! Seandainya kamu mendengar kedatangan Musa bin Imran, kamu toh tidak dapat berbuat apa-apa lebih dari itu!”

“Hai, Bibi, demi Allah, dia itu adalah saudara Musa, dan agamanya sama,” jawab Hushain. “Dia dibangkitkan dengan agama Musa juga.”

“Diakah nabi yang selalu kamu ceritakan itu, membenarkan dan menyempurnakan risalah-risalah Tuhannya?” tanya si bibi.

“Ya, betul, Bibi,” jawab Hushain.

“O, jadi diakah orangnya?”

Kemudian Hushain berusaha menemui Rasulullah, berdesak-desakan dengan orang ramai, sebelum akhirnya dapat berhadapan dengan Rasulullah. Saat itu Hushain mendengar Rasulullah mengucapkan kata-kata yang menyentuh hatinya. “Hai Manusia, sebar luaskanlah salam. Berilah makan orang yang kelaparan. Shalatlah tengah malam, ketika orang banyak sedang tidur nyenyak. Pasti kamu masuk surga dan bahagia.”

Selanjutnya Hushain bercerita, “Aku pandangi beliau dengan ilmu firasat, dan mataku lekat padanya. Aku yakin, wajahnya tidak menunjukkan wajah orang pembohong. Lalu kuhampiri beliau sambil mengucapkan dua kalimah syahadat: Aku mengaku tidak ada Tuhan selain Allah, dna sesungguhnya Muhammad rasul Allah.

Beliau menoleh kepadaku, seraya bertanya, ‘Siapa Tuan?’

‘Hushain (kuda kecil) bin Salam’, jawabku.

‘Mestinya Abdullah (hamba Allah) bin Salam,’ kata beliau mengganti namaku dengan nama yang lebih baik.

Aku setuju…!Abdullah bin Salam…!’Demi Allah, yang mengutusmu dengan agama yang benar, mulai hari ini aku tidak suka lagi memakai nama yang lain selain Abdullah bin Salam,’ kataku.

Sesudah itu aku pulang ke rumah. Lalu aku ajak istri, anak-anak, dan keluargaku masuk Islam. Bibi Khalidah, yang sudah cukup tua, pun turut masuk Islam. Namun, kepada mereka aku minta agar hal itu dirahasiakan untuk sementara waktu.

‘Ya Rasulullah, kaum Yahudi suka berbohong dan sesat. Aku harap, Tuan memanggil pemimpin mereka dan ajaklah mereka masuk Islam. Namun, tolong sembunyikan aku dan jangan katakan bahwa aku telah masuk Islam.’

Di hadapan pemimpin kaum Yahudi itu, Rasulullah mengingatkan mereka tentang ayat-ayat kitab Taurat dan mengajak mereka masuk Islam. Tapi mereka membantah dan mengajak berdebat tentang kebenaran. Semua itu aku dengar dengan jelas.

Ketika Rasulullah merasa tidak ada harapan mereka akan beriman, beliau bertanya, ‘Bagaimana kedudukan Hushain bin Salam di hadapan kalian?’

‘Dia pemimpin kami, kepala pendeta kami, dan orang alim kami,’ jawab mereka.

‘Bagaimana pendapat kalian jika dia masuk Islam, maukah kalian masuk Islam bersama dia?’ tanya Rasulullah.

‘Tidak mungkin! Tidak mungkin dia masuk Islam,’ jawab mereka.

Aku keluar dari kamar Rasulullah dan menemui mereka. ‘Hai, orang-orang Yahudi,’ kataku, “bertaqwalah kalian kepada Allah, terimalah agama yang dibawa Muhammad. Demi Allah, sesungguhnya kalian sudah tahu bahwa Muhammad itu benar Rasulullah. Bukankah kalian telah membaca dalam Tuarat nama dan sifat-sifatnya? Aku mengakui bahwa sesungguhnya dia Rasulullah, dan aku beriman kepadanya, aku membenarkan segala ucapannya, dan aku meyakininya.’

‘Kau bohong!” kata mereka. ‘Sesungguhnya kau jahat dan sangat bodoh!’ kemudian sumpah serapah pun mengalir dari mulut-mulut mereka, diarahkan kepadaku.

Kepada Rasulullah, aku berkata, ‘Begitulah mereka. Sesungguhnya orang Yahudi suka berbohong dan pandai berkata yang batil. Mereka pandai menipu dan berbuat kejahatan’.”

Abdullah bin Salam menerima Islam seperti orang kehausan yang menemukan air di telaga yang bening. Dia sangat senang membaca Al-Quran sehingga lidahnya selalu basah dengan ayat-ayat Allah yang mulia itu. Dia mengasihi Nabi SAW dan selalu dekat dengan beliau. Dia selalu menjaga diri untuk beramal dan mengharapkan surga sampai suatu saat Rasulullah memberinya kabar gembira dengan surga dan diketahui para sahabat.

Seorang sahabat berkisah, “Pada suatu hari aku sedang belajar di sebuah halaqah (kelompok belajar) masjid Rasulullah di Madinah. Dalam halaqah itu terdapat seorang tua yang ramah dan menyenangkan hati. Penampilannya sangat manis dan mengesankan semua orang. Ketika orang tua itu pergi, jamaah berkata, ‘Siapa yang ingin menengok laki-laki penduduk surga, tengoklah orang itu.’

Aku bertanya, ‘Siapa dia?’

‘Abdullah bin Salam,’ jawab mereka.

‘Demi Allah, akan aku ikuti orang itu,’ kataku dalam hati.

Lalu kuikuti dia sampai ke rumahnya di luar kota Madinah. Setiba di sana aku minta izin masuk dan dipersilakan.

‘Anak muda, apa keperluanmu datang kemari?’ dia bertanya.

‘Aku mendengar orang-orang bicara tentang diri Bapak ketika Bapak keluar dari masjid tadi,’ kataku. ‘Kata mereka: Siapa yang ingin menengok lelaki penghuni surga, tengoklah orang itu.

Mendengar ucapan mereka itu, aku ikuti Bapak hingga sampai kemari, karena ingin tahu mengapa orang banyak mengatakan bahwa Bapak penduduk surga.’

Jawabnya, ‘Allah yang paling mengetahui tentang penduduk surga.’

Kataku, ‘Ya tentu, tapi pasti ada sebabnya mengapa mereka berkata demikian.’

‘Akan kujelaskan kepadamu sebab-sebabnya,’ jawab orang tua itu.

‘Silakan, Pak, semoga Allah membalas kebaikan Bapak dengan yang lebih baik,’ kataku.

‘Pada suatu malam ketika Rasulullah masih hidup, aku bermimpi. Seorang laki-laki datang kepadaku seraya berkata: Bangun, bangun!

Aku bangun, lalu ditariknya tanganku. Tiba-tiba aku melihat sebuah jalan di sebelah kiriku. ‘Ke mana nih?’ aku bertanya.

‘Jangan turuti jalan itu,’ jawabnya. ‘Itu bukan jalanmu.’

Tiba-tiba aku melihat jalan terang benderang di sebelah kananku.

‘Lewatilah jalan itu,’ katanya kepadaku.

Aku telusuri jalan itu hingga sampai ke sebuah taman luas yang asri oleh pepohonan yang hijau dan indah. Di tengah taman terdapat sebuah tiang besi, pangkalnya tertancap di tanah dan ujungnya sampai ke langit. Di puncaknya terdapat sebuah halaqah berlapis emas. Kata orang itu, ‘Panjatilah tiang itu.’

‘Aku tidak bisa,’ jawabku.

Maka datang seorang khadam yang membantuku naik hingga ke puncak tiang besi itu dan aku dibawa ke halaqah tadi. Di sana aku tinggal sampai pagi dengan perasaan yang sangat bahagia.

Setelah pagi hari, aku segera menemui Rasulullah dan menceritakan mimpiku itu.

Beliau bersabda, ‘Jalan yang engkau lihat di sebelah kiri adalah jalan penduduk neraka (ash habusysyimal), dan jalan yang engkau lalui adalah jalan penduduk surga (ashhabul yamin ). Taman yang menjadikan engkau rindu dengan kehijauannya, itulah Islam. Adapun tiang yang terpancang di tengah-tengah taman itu adalah tiang agama. Sedangkan halaqah itulah pegangan yang kokoh, kuat, yang dengannya engkau senatiasa harus berpegangan sampai mati.”

Seutama-utamanya manusia, bagi Allah SWT, ialah yang mendahului Salam (HR At-Tirmidzi)

Abdurrahman bin Auf

Sahabat ini “diramalkan” akan masuk surga dengan merayap – tidak secepat kilat atau dengan kepala tegak seperti sahabat Nabi lainnya. Tapi ia tak berkecil hati. Hadist tersebut, katanya, bukan ramalan, melainkan peringatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Berita tentang dirinya telah tersebar. Tapi Abdurrahman bin Auf tidak bersedih mendengar ucapan Aisyah. Ia sendiri juga tahu, perkataan Aisyah itu benar, bukan isapan jempol. Memang Rasulullah pernah menyatakan, “Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merayap.”

“Ucapan tersebut disampaikan Rasulullah berulang kali,” ujar Aisyah kepada beberapa sahabat baiknya. Padahal Rasulullah menyatakan, sejumlah sahabat lainnya bakal masuk surga dengan kecepatan seperti kilat, atau sambil berjalan dengan kepala tegak. Mengapa Abdurrahman, yang dikenal begitu mulia budi pekertinya, dan sangat besar jasanya, justru dikatakan bakal masuk surga sambil merangkak? Apa kesalahannya?

Keheranan Aisyah kian menjadi-jadi pada waktu ia menyaksikan Abdurrahman bin Auf membawa barang dagangan terdiri atas berbagai macam keperluan hidup yang dimuat oleh 600 ekor unta beban dari Syam, lalu barang dagangan itu dibagi-bagikannya dengan cuma-cuma kepada penduduk Madinah, di masa Utsman bin Affan. Alangkah dermawannya Abdurrahman namun betapa malang peruntungannya!

Pada suat kesempatan, Abdurrahman mendatangi Aisyah dan berkata, “Umul Mu’minin telah mengingatkan saya akan sebuah hadits yang tak ‘kan pernah terlupakan seumur hidup.”

“Betul, itulah yang dikatakan Rasulullah tentang Tuan di hari pembalasan,” ujar Aisyah.

“Karena itulah saya akan memacu diri supaya lebih banyak lagi beramal shalih dan lebih ikhlas bersedekah. Sebab saya tahu, hadits yang semacam itu bukanlah merupakan ramalan, melainkan peringatan kepada saya untuk memperbesar ibadah dan pengabdian kepada Allah agar nasib saya tidak sejelek itu,” sahut Abdurrahman.

Aisyah tercenung, memikirkannya. Ia terkesan oleh jawaban Abdurrahman yang bestari. Dan Aisyah menyaksikan sendiri, betapa setelah itu Abdurrahman bin Auf lebih tekun melakukan kebajikan-kebajikan, dengan pelbagai cara dan kesempatan.

Itulah keikhlasan Abdurrahman sejak pertama kali memeluk agama Islam. Ia mendengar seruan Islam dari Abubakar Ash-Shidiq bersama Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka tidak berdalih-dalih lagi, sebab yakin betul akan kejujuran Abubakar dan kebenaran ajaran Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan.

Sejak itu, saudagar yang cerdik dan kaya raya tersebut tidak pernah surut membela Rasulullah dalam perjuangan mensyiarkan Islam.

Abdurrahman termasuk sahabat yang telah tiga kali menjalankan hijrah demi agamanya. Sebagai sahabat dekat Nabi, ia di percaya oleh para sahabat lainnya dalam menyelesaikan berbagai perkara. Di antaranya masalah pengangkatan khalifah sepeninggal Rasulullah. Kepercayaan ini tidak dikhianatinya. Ia bertindak adil dan bersikap polos, karena kepercayaan para sahabat tersebut juga didasari keistimewaan-keistimewaannya sepanjang mendampingi Rasulullah semasa hidupnya.

Misalnya dalam peristiwa Perang Tabuk, yang terjadi pada tahun kesembilan bulan Rajab. Ekspedisi itu terkenal amat sukar dan sengsara, hingga kedatangan Nabi terlambat, dan sudah didahului Abdurrahman beserta beberapa ratus anak buahnya. Di tempat perhentian, Abdurrahman mengimami salat fardhu Zhuhur.

Persis ketika ia sedang bertakbir, Rasulullah pun tiba bersama pasukannya. Maka Rasulullah langsung berdiri di belakang Abdurrahman sebagai makmun. Dengan demikian Abdurrahman-lah satu-satunya sahabat yang pernah mengimami salat di muka Nabi tanpa mendapat perintah dari beliau. Bahkan Abu bakar sendiri hanya dua kali menjadi imam di depan Nabi, itu pun atas perintah beliau, karena Nabi sedang sakit.

Sikapnya yang terpuji adalah kebersahajaan dan ketulusannya. Pada waktu tiba di Madinah sebagai muhajirin, seperti para sahabat dari Makkah lainnya, Abdurrahman tidak membawa hartanya sepeser pun. Sahabatnya dari pihak Anshar menawarkan bantuan kepadanya.

Sahabat itu, Sa’ad bin Rabi’, berkata, “Saya memiliki kekayaan melimpah. Tuan ambillah sebagian, buat saya masih tersisa amat banyak. Dan saya juga mempunyai beberapa sahaya cantik. Silakan ambil salah satu untuk istri Tuan.”

Abdurrahman dengan terharu menyambut baik tawaran itu. Namun, secara halus ia menampik. “Maaf. Bila Tuan hendak menolong saya, tunjukkan saja jalan ke pasar.”

“Mengapa begitu?” tanya Sa’ad keheranan.

“Saya ini seorang pedagang. Dan bagi pedagang, lahan untuk mencari penghidupan adalah pasar, bukan di gudang Tuan,” sahut Abdurrahman seadanya.

Maka demikianlah yang terjadi. Setelah beberapa lama menetap di Madinah, Abdurrahman bin Auf menjadi hartawan kembali.

Sa’ad bin Abi Waqqash

Sa’ad bin Abi Waqqash

Ketika sedang berkumpul dengan para sahabat, Rasulullah SAW berkata, “Seorang penghuni surga akan muncul.” Siapakah dia?

Sepeninggal Rasulullah SAW, tongkat kepemimpinan dilanjutkan oleh para sahabat. Mulai dari Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, hingga Ali bin Abi Thalib. Itu merupakan zaman keemasan Islam. Dan periode kekhalifahan Umar merupakan masa yang paling gemilang dalam risalah dakwah Islam, karena penyebaran Islam hampir keseluruh penjuru dunia.

Adalah pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan terjadinya pertukaran duta antara Arab dan Cina. Utusan yang dikirim adalah Tsabit bin Qays dan sahabat Sa’ad bin Abi Waqas. Peristiwa ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan utusan kasiar Cina ke Madinah berberapa tahun sebelumnya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 651 M.

Pada tahun 684 M, tiga puluh tiga tahun setelah kedatangan Sa’ad, berdirilah masjid di ibu kota Chang’an (Xi’an), yang diberi nama Huejuexiang. Peresmian berdirinya masjid ini dilakukan dengan upacara kebesaran Cina.

Jauh sebelum itu, Nabi Muhammad SAW pernah mengutus sahabat Abdul Wahab bin Abi Kabsyah untuk melakukan dakwah di Cina. Di Kanton (Guangdong), dia menyebarkan Islam sampai akhir hayatnya.

Penduduk muslim yang tinggal di Xinjiang, di setiap bulan Juni dan Juli selalu mengunjungi makam Tsabit bin Qays di Lembah Xingxing, Hami, sekitar 600 km sebelah timur Urumqi, ibu kota Xinjiang, yang dikenal di antara penduduk muslim di sana sebagai “teman Nabi Muhammad”. Makam itu panjangnya 220 cm, lebar 152 cm, dan tinggi 150 cm. dibuat dari batu marmer dan ditutup dengan kayu yang diukir dengan gaya campuran arsitektur Arab dan Cina.

Tsabit bin Qays diyakini wafat pada tahun 655 M, ketika tengah menempuh “Jalur Sutra” arah ke barat. Oleh para pengikutnya, dia dimakamkan di Lembah Xingxing, sebelah timur Hami. Sampai kini, makam itu masih berdiri kokoh sebagai saksi bisu masuknya risalah dakwah Islam di Cina.

Banyak orang percaya, kunjungan sahabat Sa’ad dan Tsabit merupakan kontak resmi pertama Islam merupakan kontak resmi pertama Islam dengan Cina. Di Kanton, Sa’ad mendirikan sebuah masjid pertama dan dipercaya sebagai bentuk legalitas hubungan kedua kebudayaan.

Seiring perjalanan waktu, hubungan itu diformalkan dengan pertukaran duta besar dan melakukan misi perdagangan. Kedua negera saling mendapatkan keuntungan dari hubungan tersebut.

Ketika telah mencapai umur 80 tahun, Sa’ad bersiap-siap menghadap Allah. “Kepalanya berada di pangkuanku ketika ia tengah sekarat. Aku menangis terisak-isak,” tutur Al-Aqiq, anaknya.

“Apa yang kau tangisi, anakku. Allah tidak akan pernah menyakitiku, aku termasuk penghuni surga,” katanya lirih sambil memandang ke sebuah sudut. Di sana terdapat sebuah peti tua.

Masalah penghuni surga itu, Rasulullah telah memberitahukan kepada para sahabat jauh-jauh hari sebelumnya.

Pada suatu hari ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke ufuk dan berkata, “Seorang penghuni surga akan muncul.”

Ketika para sahabat mencari di sekeliling siapa yang dimaksud Nabi, tiba-tiba Sa’ad muncul.

Kepada Abdullah bin Amr, yang menanyakan “rahasia” sehingga mendapat jaminan surga. Sa’ad mengatakan, “Ibadah yang aku kerjakan juga dikerjakan yang lain, kecuali aku tidak pernah menaruh dendam atau berniat jahat terhadap kaum muslimin.”

“Bukalah peti tua itu,” pintanya. Ternyata di dalamnya tersimpan sebuah jubah tua.

“Dengan jubah itulah aku bertempur menghadapi orang musyrik di Perang Badr dan Perang Uhud…. Dan aku telah menyimpannya untuk keperluan hari ini.” Dengan jubah itulah Sa’ad bin Abi Waqqash dikafani.

Sa’ad, yang dikaruniai umur panjang, terlibat dalam berbagai momen penting. Seperti pemilihan Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga dan terlibat dalam Perang Qadisiyah, pintu gerbang Persia, yang saat itu masih memeluk agama Majusi. Hampir seluruh hidupnya dijalani di medan perang, membela agama Allah dan Rasul-Nya. Ia ingin menghadap Tuhan dengan jubah yang sangat mengesankan dan memberinya kemuliaan itu.

Jasad orang ketiga yang masuk Islam dan kemudian dikenal sebagai ksatria berkuda yang pemberani itu dimakamkan di Baqi, Madinah, di samping para sahabat yang telah mendahuluinya.