Arsip

Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup

Kondisi Kita Saat Ini Terhadap Al-Qur’an:

Segala puji bagi Allah Rabb bagi sekalian alam; aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Rabb bagi sekalian alam. Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan pesuruh Allah, yang diutus dengan membawa Al-Qur’an yang nyata, Al-Qur’an pembeda antara petunjuk dan kesesatan, antara benar dan salah dan antara keraguan dan keyakinan. Allah menurunkannya supaya kita membaca-nya dengan penuh penghayatan, merenungkannya dengan penuh hikmat, kita bahagia dengannya karena kita jadikan sebagai pelajaran, kita memperlakukannya sebaik mungkin, dan meyakini (kebenarannya) serta berusaha keras untuk menegakkan perintah-perintah dan larangan-larangannya.

Sangat banyak sekali orang yang membaca Al-Qur’an, namun anda tidak menemukan pengaruhnya pada prilaku, akhlak dan pergaulan mereka. Bahkan sebaliknya anda temui sebagian mereka akhlaknya tidak terpuji, pergaulan dan mu`amalatnya kasar dan kaku, baik terhadap keluarga, tetangga ataupun terhadap orang lain. Padahal, demi Allah,,,itu bukan akhlak dan prilaku yang patut dimiliki oleh seorang muslim yang suka membaca dan menghayati Kitab Suci Al-Qur’an,,,? Lalu dimana pengaruh Al-Qur’an terhadap jiwa SAYA,,,,??!

Sesungguhnya berbagai musibah, malapetaka, cobaan yang bertubi-tubi dan berbagai bencana (gempa bumi dan lainnya) yang terjadi di berbagai negeri kaum muslimin adalah sebenarnya akibat dari jauhnya mereka dari Kitab Tuhannya, tidak menjadikannya sebagai acuan di dalam menyelesaikan permasalahan dan tidak mengamalkan kandungannya. Padahal Al-Qur’an adalah kitab yang agung yang mendidik jiwa manusia, membentuk kepribadian bangsa, dan membangun kebu-dayaan. Al-Qur’an merupakan cahaya yang diturunkan Allah supaya kita beriman dan meyakininya, mengambil pelajaran darinya dan agar kita mengamalkan petunjuk dan bimbingan yang terkandung di dalamnya, supaya kita keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.

Jadi, kesalahan dan aib terdapat pada pandangan kita yang tidak dapat melihat cahaya itu, disebabkan mata dan hati kita tertutup rapat dari petunjuk Al-Qur’an, cahaya dan keutamaannya yang tersimpan di dalam Kitab Suci ini:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petun-juk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (Al-Isra’: 9 )

Ibnul Qayyim di dalam karyanya “Al-Fawa’id” berkata: “Setelah manusia (sebagian kaum muslimin. pent.) berpaling dan anti bertahkim (menjadikan sebagai undang-undang) kepada Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam dan berkeyakinan bahwa keduanya tidak cukup dan bahkan mereka lebih mengutamakan pendapat akal, analogi (qiyas), istihsan dan pendapat syaikh, maka hal itu menimbulkan kerusakan di dalam fitrah suci mereka, kegelapan di dalam hati mereka, kekeruhan di dalam pemahaman, dan kedunguan di dalam akal mereka, semua kondisi tersebut telah menyelimuti mereka sampai pada kondisi bahwa anak-anak dididik dalam keadaan dan kondisi seperti itu sedangkan orang-orang yang dewasa menjadi makin tua di atasnya.

Kondisi seperti itu tidak dianggap oleh mereka sebagai kemungkaran dan pada gilirannya datanglah kekuasaan berikutnya yang menjadikan bid`ah sebagai pengganti Sunnah, emosi sebagai pengganti akal, hawa nafsu sebagai pengganti petunjuk, kesesatan sebagai pengganti hidayah, kemunkaran sebagai pengganti yang ma`ruf, kebodohan sebagai pengganti ilmu, riya sebagai pengganti keikhlasan, kebatian sebagai pengganti yang haq, dusta sebagai pengganti kejujuran, berpura-pura sebagai pengganti nasihat dan kezhaliman sebagai pengganti keadilan. Maka yang dominan adalah perkara-perkara batil tersebut dan para pelakunya menjadi orang yang dihormati, padahal sebelumnya yang ditegakkan adalah sebaliknya dan para penegaknya mendapatkan acungan jempol dan pusat perhatian.

Itulah potret kondisi umat manusia yang hidup dan disaksikan oleh Ibnul Qayyim pada paroh pertama dari abad kedelapan hijriyah. Lalu apa kiranya yang akan dikatakan oleh Ibnul Qayyim jika ia melihat pada kondisi kita sekarang?! Sesungguhnya permasalahan sangat rumit dan memprihatinkan sekali, memerlukan langkah-langkah renungan terhadap etika, prilaku dan ibadah kita secara keseluruhan dan menimbangnya dengan neraca kitab Suci Al-Qur’an. Dan setelah merenung dan memperhatikan tersebut, kita harus berintrospeksi diri (muhasabah) lalu memaksanya untuk tunduk dan patuh kepada Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam .

Untuk merealisasikan itu semua, kita harus mema-hami beberapa hikmah dari diturunkannya Al-Qur’an Suci, yang jika kita telah mengetahui dan menga-malkannya, maka urusan-urusan agama dan dunia kita niscaya menjadi baik.

Kita dapat menyimpulkan hikmah dan tuntutan Al-Qur’an tersebut menjadi lima, yaitu :

Membaca Al-Qur’an sebagaimana diturunkan.

Menghayati ayat-ayatnya.

Mengamalkannya.

Sabar dalam menjalankan segala perintahnya.

Berda`wah untuk menjadikannya sebagai aturan kehidupan.

AHDAF QIROATIL QUR’AN (TUJUAN MEMBACA AL QUR’AN)

Sebagai muqaddimah. Saya akan memberikan statu pertanyaan yang harus dijawab dengan Jujur oleh masing-masing diantara kita: Apa sih tujuan yang kita inginkan selama ini ketika kita membaca Al Qur’an? Jawaban masing-masing mungkin saja berbeda-beda.

Dalam desempatan kali ini, saya akan menyampaikan apa yang disampaikan oleh Syaikh DR. Kholid bin Abdil karim dalam kitabnya mafatih tadabburil qur’an tentang 5 tujuan yang harus ada dalam diri kita ketika kita membaca Al Qur’an, % tujuan tersebut terangkum dalam kata Tsumma Sya’’a. Lalu adakah kelima tujuan tersebut dalam diri kita?

Huruf apa saja yang terdapat dalam kata tersebut?

Tsa, mim, mim, Syin, ‘ain, ‘ain.

1. Tsa adalah tsawaab yang artinya pahala.

Hal ini wajar jadi tujuan kita karena Rasulullah saw telah bersabda:

ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : “ ﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﺣﺮﻓﺎ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻠﻪ ﺣﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﺑﻌﺸﺮ ﺃﻣﺜﺎﻟﻬﺎ ﻻ ﺃﻗﻮﻝ ﺍﻟﻢ ﺣﺮﻑ ﻭﻟﻜﻦ ﺃﻟﻒ ﺣﺮﻑ ﻭﻻﻡ ﺣﺮﻑ ﻭﻣﻴﻢ ﺣﺮﻑ ”( )

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. (Rasulullah bersabda) saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, Namur alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” Tirmidzi, hasan shahih.

ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺍﻟﻤﺎﻫﺮ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻊ ﺍﻟﺴﻔﺮﺓ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ ﺍﻟﺒﺮﺭﺓ ، ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻳﺘﺘﻌﺘﻊ ﻓﻴﻪ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻴﻪ ﺷﺎﻕ ﻟﻪ ﺃﺟﺮﺍﻥ ”( )

“Orang yang mahir membaca Al Qur’an maka ia akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti. Adapun orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata, lagi susuah payah maka ia mendapatkan dua pahala” Bukhari

” ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻭﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻳﺸﻔﻌﺎﻥ ﻟﻠﻌﺒﺪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ”( )

“Shaum dan Al Qur’an akan memberikan syafaat lepada seorang hamba pada hari kiamat…”Ahmad. Dishahihkn oleh S.Ahmad Syakir.

” ﻣﺎ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﻗﻮﻡ ﻓﻲ ﺑﻴﺖ ﻣﻦ ﺑﻴﻮﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺘﻠﻮﻥ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻳﺘﺪﺍﺭﺳﻮﻧﻪ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺇﻻ ﻧﺰﻟﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﺴﻜﻴﻨﺔ ، ﻭﻏﺸﻴﺘﻬﻢ ﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ، ﻭﺣﻔﺘﻬﻢ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻭﺫﻛﺮﻫﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻤﻦ ﻋﻨﺪﻩ ”( )

“Tidaklah sekelompok kaum berkumpul disalah satu rumah Allah. Mereka membaca kitabullah dan saling mempelajarinya diantara mereka, melainkan ketenangan akan Turín pada mereka, Ramat akanmeliputi mereka, para malaikat akan mengitari mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada disisi-Nya” Muslim.

2 &3. Mim dan Mim adalah Munajat dan Masalah yaitu untuk bermunajat dan memohon kepada Allah Ta’ala,

Rasulullah saw bersabda

” ﻟﻠﻪ ﺃﺷﺪ ﺃُﺫُﻧﺎً ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺼﻮﺕ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﻳﺠﻬﺮ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻘﻴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﻗﻴﻨﺘﻪ ”( )

“Allah lebih menyimak bacaan Al Qur’an seseorang yang bagus dan keras suaranya daripada pecinta nyanyian yang mendengarkan nyanyiannya.” HR. Ibnu Majah.

Ibnul Mubarok pernah bertanya lepada Sufran Ats Tsauri:

ﺳﺄﻟﺖ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ ﻗﻠﺖ : ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺃﻱ ﺷﻲﺀ ﻳﻨﻮﻱ ﺑﻘﺮﺍﺀﺗﻪ ﻭﺻﻼﺗﻪ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻳﻨﻮﻱ ﺃﻧﻪ ﻳﻨﺎﺟﻲ ﺭﺑﻪ “( )

“Seseorang yang melaksanakan shalat, apa yang ia niatkan dengan bacaan dan shalatnya?” Maka beliau menjawab: “Hendaknya ia berniat bahwa ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya”. (Ta’dzimu Qadris shalat). Seorang muslim hendaknya selalu menghadirkan tujuan ini agar ia bisa merasakan kenikmatan dan kelezatan membaca Firman-firman Allah Ta’ala, yaitu dengan menghadirkan perasaan bahwa Allah senantiasa melihatnya, mendengar bacaannya, memujinya dan membanggakannya dihadapan malaikat-Nya yang terdekat. Ia merasa seakan-akan Allah sedang berdailog langsung dengannya.

ﻭﻋﻦ ﺣﺬﻳﻔﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ” ﺻﻠﻴﺖ ﻣﻊ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺫﺍﺕ ﻟﻴﻠﺔ ﻓﺎﻓﺘﺘﺢ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ ﻓﻘﺮﺃﻫﺎ ، ﺛﻢ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻓﻘﺮﺃﻫﺎ ، ﺛﻢ ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ ﻓﻘﺮﺃﻫﺎ ، ﻳﻘﺮﺃ ﻣﺘﺮﺳﻼ ، ﺇﺫﺍ ﻣﺮ ﺑﺂﻳﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﺗﺴﺒﻴﺢ ﺳﺒﺢ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻣﺮ ﺑﺴﺆﺍﻝ ﺳﺄﻝ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻣﺮ ﺑﺘﻌﻮﺫ ﺗﻌﻮﺫ ”( )

Dari Hudzaifah ra ia berkata: “Pada suatu malam saya pernah shalat bersama Nabi saw maka beliau memulai surat al baqarah dan membacanya hingga selesai/ kemudian surat an nisa dan membacanya hingga selesai. Lalu surat ali imran dan membacanya hingga selesai. Beliau membacanya dengan perlahan-lahan. Apabila beliau melewati ayat yang mengandung tasbih beliaupun bertasbih. Dan apabila melewati ayat ayat yang mengandung permohonan maka beliaupun berdoa. Dan apabila beliau melewat ayat yang mengandung perlindungan maka beliaupun meminta perlindungan.”

Demikianlah gambaran bermunajat dengan Al Qur’an, yaitu bacaan yang hidup, dimana seorang hamba menyadari apa yang sedang dia baca? Kenapa membacanya? Siapa yang ia ajak bicara dengan bacaannya tersebut? Apa yang ia butuhkan dari Allah? Dan iapun mengetahui kewajibannya terhadap Al Qur’an, yaitu harus mengagungkan dan mensucikannya.

Ibnul Qayyim rh mengatakan:

” ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺩﺕ ﺍﻻﻧﺘﻔﺎﻉ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺎﺟﻤﻊ ﻗﻠﺒﻚ ﻋﻨﺪ ﺗﻼﻭﺗﻪ ﻭﺳﻤﺎﻋـــــﻪ ، ﻭﺃﻟﻖ ﺳﻤﻌﻚ ، ﻭﺍﺣﻀﺮ ﺣﻀﻮﺭ ﻣﻦ ﻳﺨﺎﻃﺒﻪ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺗﻜﻠﻢ ﺑﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻣﻨﻪ ﺇﻟﻴﻪ ، ﻓﺈﻧﻪ ﺧﻄﺎﺏ ﻣﻨﻪ ﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻟﺴﺎﻥ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “ ﺍﻫـ( )

“Apabila engkau hendak mengambil manfaat dari Al Qur’an, maka kumpulkanlah hatimu ketika sedang membaca dan mendengarkan Al Qur’an. Julurkan pendengaranmu dan hadirkan hatimu, seakan engkau;lah obyek yang diajak bicara oleh Allah Ta’ala/ Sesungguhnya Dia mengajakmu berbicara dengan perantara lisan Rasul-Nya.” Al Fawaid.

Ingatlah selalu. Bahwa dalam bermunajat dengan Al qur’an, terkumpul lima makna yang terangkum dalam ungkapan: harosun ma’a

Bahwa Allah ha: habba yuhibbuka, sin:sami’a yasma’uka, mim;madaha yamdahuka, ‘ain: ‘atho yu’thika.

4. Syin: Syifaau, yaitu ketika kita membaca Al Qur’an hendaknya kita bertujuan untuk berobat dengannya,

Hal ini karena Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya:

﴿ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀﺗْﻜُﻢ ﻣَّﻮْﻋِﻈَﺔٌ ﻣِّﻦ ﺭَّﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﺷِﻔَﺎﺀ ﻟِّﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭﺭِ ﻭَﻫُﺪًﻯ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟِّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﴾

“ Hai manusia, sesungguhnya talah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) didalam dada dan petunjuk serta Ramat bagi orang-orang yang beriman” Yunus:57

ﻭَﻧُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟِّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺇَﻻَّ ﺧَﺴَﺎﺭًﺍ﴾

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan Ramat bagi orang-orang beriman. Dan Al Qur’an itu tidaklah menambah bagi orang-orang yang dzalim selain kerugian” Al Israau:82

﴿ ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻫُﺪًﻯ ﻭَﺷِﻔَﺎﺀ

“Katakanlah: ‘Al Qur’an itu adalah petunjuk dan obat penawar bagi orang-orang yang beriman” Fushshilat:44

Al Qur’an adalah obat bagi hati dari berbagai penyakit, baik penyakit syahwat maupun syubhat, dan bahkan Al Qur’an dengan idzin Allah bisa mengobati penyakit-penyakit yang lainnya. Dalam Silsilah al ahadits ash shahihah disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah saw:

“ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ”( ) “Sebaik-baik obat adalah Al Qur’an”

ﻭﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺍﻣﺮﺃﺓ ﺗﻌﺎﻟﺠﻬﺎ ، ﺃﻭ ﺗﺮﻗﻴﻬﺎ ، ﻓﻘﺎﻝ : ﻋﺎﻟﺠﻴﻬﺎ ﺑﻜﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ “( )

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw pernah menemuinya saat ia sedang diobati oleh seorang perempuan. Maka beliau bersabda Obatilah ia dengan Al Qur’an.

Penyembuhan dengan Al Qur’an dapat diperoleh melalui dua hal: membacanya ketika shalat, terutama diwaktu malam yang akhir dengan menghadirkan niat berobat. Ludah yang keluar dari bacaan ayat-ayat al Qur’an memiliki pengaruh yang besar bagi kekuatan lahir dan bathin.

05. ‘Ain: adalah Ilmu, yaitu hendaknya tujuan kita membaca Al Qur’an adalah untuk memperoleh ilmu,

dengan cara memahami dan mentadabburi(memperhatikan,memikirkan dan merenungkan) isi dan kandungannya,

Inilah tujuan yang pokok dan agung diturunkannya Al Qur’an, dan tujuan perintah Allah agar kita membacanya. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﺃَﻧﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ ﻟِّﻴَﺪَّﺑَّﺮُﻭﺍ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻟِﻴَﺘَﺬَﻛَّﺮَ ﺃُﻭْﻟُﻮﺍ ﺍﻷَﻟْﺒَﺎﺏِ ﴾

“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-nya dan supaya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pemikiran” Shaad:29

﴿ ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﺬِﻛْﺮَﻯ ﻟِﻤَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻗَﻠْﺐٌ ﺃَﻭْ ﺃَﻟْﻘَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﻫُﻮَ ﺷَﻬِﻴﺪٌ ﴾

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” QAAF:37

Ibnu Mas’ud berkata:

” ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺩﺗﻢ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﺎﻧﺜﺮﻭﺍ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺈﻥ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻢ ﺍﻷﻭﻟﻴﻦ ﻭﺍﻵﺧﺮﻳﻦ ” ﺍﻫـ( )

“Apabila Anda menginginkan ilmu, maka bukalah Al Qur’an ini, karena didalamnya terkandung ilmu Amat terdahulu dan yang akan datang. (mushannaf Ibnu Abi syaibah)

Al Hasan bin Ali:

” ﺇﻥ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﺭﺃﻭﺍ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺭﺳﺎﺋﻞ ﻣﻦ ﺭﺑﻬﻢ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺘﺪﺑﺮﻭﻧﻬﺎ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ ، ﻭﻳﺘﻔﻘﺪﻭﻧﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ” ﺍﻫـ ( )

“Orang-orang sebelum kalian memandang bahwa Al Qur’an adalah surat-surat dari rabb mereka, sehingga mereka mentadabburinya diwaktu malam dan mencarinya diwaktu siang/” (At tibyan)

ILMU apa yang kita inginkan dari Al Qur’an?

Ibnul Qayyim berkata dalam syairnya: “Ilmu terbagi menjadi tiga bagian Dan tidak ada bagian yang keempat dan setiap kebenaran memiliki kejelasan

Pertama, ilmu berkaitan dengan sifat-sifat Ilah dan perbuatan-nya, demikian juga nama-nama Ar Rahman, serta perintah dan larangan yang merupakan bagian dari agama-Nya.

Dan pahalanya di akhirat merupakan ilmu yang kedua

Dan setiap yang terdapat didalam Al Qur’an dan As Sunnah, yang datang dari utusan yang membawa Al Qur’an adalah yang ketiganya.

Bagaimana Metodenya?

Hendaknya kita membaca Al Qur’an seperti halnya seorang siswa yang membaca buku pelajarannya dimalam waktu ujian, yaitu bacaannya orang yang berkonsentrasi penuh dan siap-siap untuk diuji habis-habisan.

Dan tentunya kita semua dalam kehidupan ini sedang diuji oleh Allah melalui Al Qur’an ini. Maukah kita betul-betul menjadikannya sebagai sumber ilmu agar kita mendapatkan petunjuk yang jelas untuk meraih keridhoan Allah Ta’ala?

Diantara bentuk-bentuk praktek membaca Al Qur’an dengan tujuan mencari ilmu adalah dengan membuat makna-makna dan pertanyaan-pertanyaan tertantu dalam benak kita yang hendak dicarikan jawabannya didalam Al Qur’an. Misalnya setiap kali kita mengalami suatu situasi atau kondisi, hendaknya kita bertanya: “Dimana hal tersebut disebutkan dalam Al Qur’an? Apakah hal tersebut tertera dalam Al Qur’an?” dsb.

Menerima Ilmu yang terdapat dalam Al Qur’an akan bisa menghidupkan hati, sebagaimana air yang menyuburkan tanah Allah berfirman:

﴿ ﺃَﻟَﻢْ ﻳَﺄْﻥِ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻥ ﺗَﺨْﺸَﻊَ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻟِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﺰَﻝَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻻ ﻳَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻞُ ﻓَﻄَﺎﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻷَﻣَﺪُ ﻓَﻘَﺴَﺖْ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻭَﻛَﺜِﻴﺮٌ ﻣِّﻨْﻬُﻢْ ﻓَﺎﺳِﻘُﻮﻥَ﴿﴾ﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤْﻴِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﻗَﺪْ ﺑَﻴَّﻨَّﺎ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻵﻳَﺎﺕِ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ ﴾

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan (tunduk) lepada kebenaran yang telah Turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka menjadi orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan mereka ada;ah orang-orang yang fasik.” Al Hadid:16-17

Diantara tugas Rasulullah saw adalah untuk membacakan lepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan lepada merka al kitab dan al hikmah. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Ali Imran:164.

﴿ ﻟَﻘَﺪْ ﻣَﻦَّ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆﻣِﻨِﻴﻦَ ﺇِﺫْ ﺑَﻌَﺚَ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﺭَﺳُﻮﻻً ﻣِّﻦْ ﺃَﻧﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻳُﺰَﻛِّﻴﻬِﻢْ ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻬُﻢُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَﺇِﻥ ﻛَﺎﻧُﻮﺍْ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻞُ ﻟَﻔِﻲ ﺿَﻼﻝٍ ﻣُّﺒِﻴﻦٍ﴾

Kesucian manusia dan perbaikannya memiliki dua sisi: pertama, ilmu, pengajaran, penjelasan, keyakinan dll yang semakna dengannya. Kedua, amal, pendidikan, latihan, perangai dll dari istilah-istilah yang semakna dengannya.

Oleh karena itulah tujuan membaca Al Qur’an yang lainnya, yang tidak kalah pentingnya adalah kita bertujuan untuk mengamalkannya.

Bukankah dalam Al Qur’an kata orang-orang yang beriman senantiasa disandingkan dengan orang-orang yang beramal shalíh?!

Hasan bin Ali:

( ) “ ﺍﻗﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﺎ ﻧﻬﺎﻙ ﻓﺈﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻨﻬﻚ ﻓﻠﻴﺴﺖ ﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ”

“Bacalah Al Qur’an sehingga bisa mencegahmu (melakukan dosa). Bila Belum demikian maka (pada hakikatnya) Anda Belum membacanya” Kanzul ‘ummal.

Ali bin Abi Thalib

” ﻳﺎ ﺣﻤﻠﺔ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺃﻭ ﻳﺎ ﺣﻤﻠﺔ ﺍﻟﻌﻠﻢ ؛ ﺍﻋﻤﻠﻮﺍ ﺑﻪ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻤﺎ ﻋﻠﻢ ، ﻭﻭﺍﻓﻖ ﻋﻠﻤﻪ ﻋﻤﻠﻪ ﺍﻫـ ( )

“Wahai pembawa Al Qur’an, wahai pembawa ilmu; ketahuilah, bahwa seorang yang berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang telah ia ketahui, dan amalnnya (senantiasa) sesuai dengan ilmunya” (At tibyan dan kanzul ‘ummal)

Perhatikanlah hadits ini:

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺴﻠﻤﻲ ﻋﻦ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻭﺃﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ : ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﺮﺅﻫﻢ ﺍﻟﻌﺸﺮ ، ﻓﻼ ﻳﺠﺎﻭﺯﻭﻧﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﻋﺸﺮ ﺃﺧﺮﻯ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻌﻠﻤﻮﺍ ﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻤﻞ ، ﻓﺘﻌﻠﻤﻨﺎ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﺟﻤﻴﻌﺎ ”( )

Dari Abu Abdurrahman as salami dari Utsman, Ibnu mas’ud dan Ubay bin Ka’ab. Bahwa Rasulullah saw senantiasa membacakan sepuluh ayat lepada mereka. Mereka tidak pindah lepada sepuluh ayat yang lainsebelum mempelajari pengamalannya, Sehingga kami mempelajari Al Qur’an dan pengamalannya sekaligus, (tafsir al Qurthubi dan Ath Thabari)

“ ﻳﺘﺼﻔﺢ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻴﺆﺩﺏ ﺑﻪ ﻧﻔﺴﻪ ﻫﻤﺘﻪ ﻣﺘﻰ ﺃﻛﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺘﻘﻴﻦ ؟ ﻣﺘﻰ ﺃﻛﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﺎﺷﻌﻴﻦ ؟ ﻣﺘﻰ ﺃﻛﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺎﺑﺮﻳﻦ ؟ ﻣﺘﻰ ﺃﺯﻫﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ؟ ﻣﺘﻰ ﺃﻧﻬﻰ ﻧﻔﺴﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻬﻮﻯ ؟ “ ﺍﻫـ ( )

Al Ajurri berkata: “(Hendaknya) yang menjadi perhatian seseorang ketika membuka lembaran-lembaran Al Qur’an adalah tujuan untuk mendidik jiwanya; kapan saya bisa termasuk orang-orang bertaqwa? kapan saya bisa termasuk orang-orang yang khusyu’? kapan saya bisa termasuk orang-orang bersabar? Kapan saya bisa zuhud di dunia? Kapan saya bisa mencegah diri dari mengikuyi hawa nafsu?

Bagaimana mempraktikan tujuan ini dan metodenya,,,,?

Hendaknya kita berhenti disetiap ayat al Qur’an, untuk memperhatikan apa isi yang dikandungnya; adakah perintah atau keutamaan yang hendaknya kita berhias dengannya? Atau adakah larangan atau bahaya yang harus kita jauhi?

Hendaknya kita membaca Al Qur’an dengan niat dan tujuan untuk mencari solusi permasalahan atau memperbaiki kesalahan. Hendaknya kita betul-betul menjadikan Al Qur’an ini sebagai pedoman hidup kita. Lalu kita mengamalkannya, agar kita mendapatkan ridha Allah Ta’ala.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin,,,

Iklan

WAHYU (Informasi Murni, Benar, Objektif)

WAHYU 07: Informasi Murni, Benar, Objektif

1. Interaksi antara Allah dengan Hamba

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan WaHYu atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan (faYuHiya ) kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”.

“Dan demikianlah Kami wahyukan (AuHaiNa) kepadamu (ilaika) Ruhan (Al-Kitab=dokumentasi hidup dan Iman) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (dokumentasi hidup) itu dan tidak pula mengetahui apakah Iman itu, tetapi Kami menjadikannya Cahaya (Nur ), yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (Shirothim Mustaqiim )”.

“(Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan”.

QS. Asy-Syuura(42):51-53

2. Interaksi antara Hamba dengan Allah

“Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al-Qur’an itu menimbulkan

pengajaran bagi mereka”.

“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang Sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya (WaHYuH) kepadamu, dan katakanlah: “ Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”.

QS. Thaahaa(20(:113-114

Baca juga: QS. Qaaf(50):45; QS. Az-Zumar(39):10-31

3. Interaksi Hamba dengan Kehidupannya

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang di-

komunikasi -kannya (yanthiqu ) menurut kemauan(hawa )-nya, yang dikomunikasikannya itu tiada lain ialah WaHYu yang diwahyukan (YuHa) (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat , yang cerdas, dan (jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi, kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat lagi (pada Muhammad sejarak) anak panah (dengan dua ujung ↔ ) atau lebih dekat lagi. Lalu dia menyampaikan (fa-Auha ) kepada hamba-Nya yang terpilih (abdihi , yaitu Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan (Auha , kepada malaikat), fuad(Sistem Transformasi)-nya tidak mendustakan apa yang dilihatnya”.

QS. An-Najm(53):1-11

4. Interaksi Hamba dengan Komunitasnya

“Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu dengan Wahyu (WaHYi ) dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka di beri peringatan”.

QS. Al-Anbiyaa’(21):45

WAHYU 06: Auhaina= kami Wahyu-kan

AuHaiNa01: Diberikan kepada Nabi dan Rasul

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu (AuHaiNa) kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu (AuHaiNa ) kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudian, dan Kami telah memberikan wahyu (AuHaiNa ) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud”.

“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan (qoshosh) tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan (qoshosh) tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara (dibelakang tabir) kepada Musa secara bertahap (Terintegrasi dan Kontinu)”. QS. An-Nisaa’(4):163-164

AuHaiNa02: KeluaranWahyu01: Al-Qur’an

“Demikianlah Kami wahyukan (AuHaiNa) kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya, serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan (fariiqon) masuk surga dan segolongan masuk neraka”. QS. Asy-Syuura(42):7

AuHaiNa05: KeluaranWahyu02: Syari’at

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang din apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan (AuHaiNa) kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: “Tegakkanlah din dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik din yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada din itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (din)-Nya orang yang kembali (yunib) (kepada)-Nya”. QS. Asy-Syuraa(42):13

AuHaiNa03: KeluaranWahyu03: Cahaya Iman dan Jalan yang Lurus

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan Wahyu atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan (faYuHiya ) kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”.

“Dan demikianlah Kami wahyukan (AuHaiNa) kepadamu (ilaika) Ruhan (Al-Kitab=dokumentasi hidup dan Iman) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (dokumentasi hidup) itu dan tidak pula mengetahui apakah Iman itu, tetapi Kami menjadikannya Cahaya (Nur ), yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (Shirothim Mustaqiim )”.

“(Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan”. QS. Asy-Syuura(42):51-53

AuHaiNa04: KeluaranWahyu04: Kisah yang Terbaik (Ahsanal qoshshoshi)

“Kami menkisahkan (naqushshu ) kepadamu kisah yang paling baik (ahsanal qoshshoshi ) dengan mewahyukan (AuHaiNa ) Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui”. QS. Yusuf(12):3

AuHaiNa06: MenyalurkanWahyu01: Kepada Manusia

“Alif Laam Raa. Inilah ayat-ayat (fakta-fakta) Al-Kitab (dokumentasi) yang Al-Hakim (Pemberi Keputusan)”.

“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan (AuHaiNa) kepada seorang laki-laki di antara mereka: “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka”. Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata”. QS. Yunus(10):1-2

AuHaiNa07: MenyalurkanWahyu02: Kepada Umat

“Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberpa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka apa yang Kami wahyukan (AuHaiNa ) kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dialah Tuhanku, tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) selain Dia, hanya kepada-Nyalah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat”. QS. Ar-Ra’d(13):30

AuHaiNa08: MenyalurkanWahyu03: Diwariskan

“Dan apa yang telah Kami wahyukan (AuHaiNa) kepadamu yaitu Al-Kitab itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”.

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada yang bersegera berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”. QS. Faathir(35):31-32

AuHaiNa: Kisah Nabi Nuh

“Lalu Kami wahyukan (AuHaiNa ) kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah

pengawasan dan bimbingan Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan di timpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”. QS. Al-Mu’minuun(23):27

Lihat lebih lengkap: QS. Al-Mu’minuun(23):23-30

Lihat juga: QS. Huud(11):25-49; QS. Nuh(71):1-28; QS. Al-Qamar(54):9-17;

QS. Al-A’Raaf(7):59-64; QS. Yunus(10):71-73; QS. Al’Ankabuut(29):14-15

Pelajaran : Kisah Hidup Satu Kaum

AuHaiNa: Kisah Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan (AuHaiNa) kepada mereka mengerjakan kebajikan (khair), mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu beribadah”. QS. Al-Anbiyaa’(21):73

Lihat lebih lengkap: QS. Al-Anbiyaa’(21):48-94; QS. Al’Ankabuut(29):16-35

“Kemudian Kami wahyukan (AuHaiNa) kepadamu (Muhammad): “Ikutilah sistem hidup (milata ) Ibrahim yang lurus (hanif )”, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. QS. An-Nahl(16):123

Lihat juga: QS. An-Nisaa’(4):125; QS. Ali’Imran(3):64-68; QS. Al-Baqarah(2):124-157

Pelajaran : Kisah Hidup Satu Keluarga

AuHaiNa: Kisah Nabi Yusuf

“Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan (AuHaiNa ) kepada Yusuf: “Sesungguhnya kamu akan memberitakan (tunabbian) kepada mereka perbuatan mereka in, sedang mereka tiada ingat lagi”. QS. Yusuf(12):15

Lihat kisah Yusuf selengkapnya

Pelajaran : Kisah Hidup Satu Orang

AuHaiNa: Kisah Nabi Musa

(Perjalanan Hidup Satu Kaum, Tahapan Da’wah Para Nabi)

AuHaiNa: NabiMusa01: Kepada Ummi Musa

“(1) Thaa Siin Miim

“…”

“(7) Dan Kami wahyukan (AuHaiNa) kepada ibu Musa: “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”. QS. Al-Qashash(28):1-7

Lihat lebih lengkap: QS. AL-Qashash(28):1-51

“(1) Thaa Haa”

“…”

“(37) Dan sesungguhnya Kami telah memberi ni’mat kepadamu pada kali yang lain, yaitu ketika Kami mewahyukan (AuHaiNa) kepada ibumu suatu yang diwahyukan (YuHa), yaitu: “Latakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhmu”. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, dan supaya kamu diasuh dibawah pengawasan-Ku”. QS. Thaahaa(20):1-39

Pelajaran : Pengawasan dan Bimbingan Allah Sejak Lahir

AuHaiNa: NabiMusa02: Melempar Tongkat

“Dan Kami wahyukan (AuHaiNa) kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan”. QS. Al-A’Raaf(7):117

Lebih lengkap: QS. Al-A’Raaf(7):103-135

Pelajaran : Pengawasan dan Bimbingan Allah ketika Berdakwah dalam Negeri yang zalim

AuHaiNa: NabiMusa03: Membangun Komunitas Muslim

“Dan Kami wahyukan (AuHaiNa) kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”. QS. Yunus(10):87

Lihat lebih lengkap: QS. Yunus(10):75-89

Pelajaran : Pengawasan dan Bimbingan Allah terhadap Komunitas Muslim dalam Negeri yang zalim

AuHaiNa: NabiMusa04: Pergi dan Belah Laut

“Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan (AuHaiNa) kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)”. QS. Thaahaa(20):77

“Dan Kami wahyukan (AuHaiNa) kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusul”. QS. Asy-Sy’uaraa’(26):52

“Lalu Kami wahyukan (AuHaiNa) kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar”. QS. Asy-Sy’uaraa’(26):63

Pelajaran : Pengawasan dan Bimbingan Allah ketika Terancam atau ketika Hijrah

AuHaiNa: NabiMusa05: Pukul Batu

“Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan (AuHaiNa ) kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa (Kami berfirman): “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepadamu”. Mereka tidak menganiaya (men-zalimi) Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya (zalim) dirinya sendiri. QS. Al-A’Raaf(7):160

Pelajaran : Pengawasan dan Bimbingan Allah terhadap Komunitas Muslim dalam Negerinya

AuHaiTu: Kepada Hawariyyin

“Dan (Ingatlah), ketika Aku wahyukan (AuHaiTu ) kepada pengikut ‘Isa yang setia (Hawariyyin): “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku”. Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang tunduk-patuh (muslimun)”. QS. Al-Maa-idah(5):111

Lihat juga: QS.Ali-‘Imran(3):52-53; QS. Ash-Shaff(61):14

Pelajaran : Sikap pengikut Nabi, Kami adalah Muslimun

“Dan berjuanglah (jhad) kamu pada jalan Allah dengan

perjuangan yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam din (Sistem Hidup) suatu kesempitan. (Ikutilah) din orang tuamu Ibrahim, Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”.

QS. Al-Hajj(22):78

WAHYU 05: Nuhi=diberi wahyu

Hasil yang Diperoleh Selama Mengikuti Wahyu

NuHi01: Beribadah hanya kepada Allah

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami beri wahyu (NuHi) kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hanya kepada Akulah kamu beribadah”.

QS. Al-Anbiyaa’(21):25

NuHi02: Ber-Takwa, Ber-Akal, Ulil Albab, Penjelasan

Segala Sesuatu

“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu (NuHi ) kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidaklah mereka bepergian (survey) di muka bumi lalu melihat (mengamati dan meneliti) bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa . Maka tidakkah kamu berakal (ya’qilun) ?”.

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa (mujrimin)”.

Sesungguhnya pada kisah-kisah (qoshosh) mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (Ulil Albab) . Hadist (Al-Qur’an, Ekspresi Allah) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan (tafsila) segala sesuatu , dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.

QS. Yusuf(12):109-111

NuHi03: Ahlal Dzikri, Mengetahui Database Kehidupan

“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu (NuHi ) kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada pakarnya (Ahlal Dzikri) , jika kamu tiada mengetahui”.

QS. Al-Anbiyaa’(21):7

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu (Muhammad), kecuali beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu (NuHi ) kepada mereka, maka tanyakanlah kepada Ahlal Dzikri jika kamu tiada mengetahui, keterangan-keterangannya (bayyinat) dan kitab-kitabnya (zuburo). Dan Kami turunkan kepadamu Dzikro , agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirnya”.

QS. An-Nahl(16):43-44

NuHi04: NuHiHi: Contoh Tentang Kehidupan Seseorang (Laki-laki)

“Demikianlah itu (adalah) di antara berita-berita (Anbaai) ghaib yang Kami wahyukan (NuHiHi ) kepadamu, padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya”.

QS. Yusuf(12):102

Baca Kisah Nabi Yusuf selengkapnya

NuHi05: NuHiHi: Contoh Tentang Kehidupan Seseorang (Perempuan)

“Demikian itu (adalah) di antara berita-berita (Anbaai) ghaib yang Kami wahyukan (NuHiHi) kepadamu, padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak berada pada sisi mereka ketika mereka bersengketa”.

QS. Ali-‘Imran(3):44

Baca kisah Maryam selengkapnya

NuHi06: NuHiHa: Contoh Tentang Kehidupan Satu Kaum

“Ini (adalah) di antara berita-berita (Anbaai) ghaib yang Kami wahyukan (NuHiHa ) kepadamu, tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.

QS. Huud(11):49

Baca Kisah Nuh selengkapnya

WAHYU 04: UHiYa = telah di-wahyu-kan

Hidup Kontinu dalam Naungan Wahyu

UHiYa01: Ilayya01: Pengakuan Tiada Tuhan selain Allah

“Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiaannya?”, Katakanlah: “Allah, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Qur’an ini telah diwahyukan (UHiYa ) kepadaku (Ilayya ) supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?”. Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang persekutukan (dengan Allah)”.

QS. Al-An’aam(6):19

UHiYa02: Ilayya02: Halal – Haram

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang telah diwahyukan (UHiYa ) kepadaku (Ilayya), sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa, yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

QS. Al-An’aam(6):145

Lihat juga: QS. An-Nahl(16):35-36, 114-119; QS. Yunus(10):59-60; QS. Al-An’aam(6):111-129

UHiYa03: Ilayya03: Yahdi ila Rusydi (Petunjuk kepada Jalan Yang Benar (Cerdas))

“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan (UHiYa ) kepadaku (Ilayya) bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan (ajaib)”.

“(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar (Cerdas), lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami”.

QS. Al-Jin(72):1-2

Lihat juga: Al-Ahqaaf(46):29-35

UHiYa04: Ilayya04: Jangan berbuat Zalim

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan (UHiYa ) kepadaku (Ilayya)”, padahal tidak ada diwahyukan (YuHa) sesuatupun (sedikitpun) kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dasyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari itu kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”.

QS. Al-An’aam(6):93

UHiYa05: Ilaika01: Berpaling dari Orang-orang Musyrik

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan (UHiYa ) kepadamu (ilaika ) dari Tuhanmu, tidak ada Tuhan selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”.

QS. Al-An’aam(6):106

UHiYa06: Ilaika02: Mendirikan Sholat dan Dzikr

“Bacakanlah apa yang telah diwahyukan (UHiYa ) kepadamu (Ilaika ), yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

QS. Al-‘Ankabuut(29):45

UHiYa07: Ilaika03: Tempat Berlindung

“Dan bacakanlah apa yang telah diwahyukan (UHiYa ) kepadamu (Ilaika ), yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merubah kalimat-kalimatnya. Dan kamu tidak akan menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya”.

QS. Al-Kahfi(18):27

UHiYa08: Ilaika04: Sirothim Mustaqiim (Jalan yang Lurus)

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada apa yang telah diwahyukan (UHiYa ) kepadamu (Ilaika ). Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus (Sirothim Mustaqiim)”.

QS. Az-Zukhruf(43):43

UHiYa09: Ilaika05: Bersyukur dan Jangan Syirik

“Katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh aku beribadah kepada selain Allah, hai orang-orang yang bodoh (jahil)?”.

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan (UHiYa ) kepadaku (Ilaika ) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.

“Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu ibadahi dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.

QS. Az-Zumar(39):64-66

Baca lebih lengkap: QS. Az-Zumar(39):67-75

Lihat juga QS. Ali-‘Imran(3):79-80

Lihat juga: QS.Ar-Ruum(30):30-32

UHiYa10: Ilaina01: Jangan Mendustakan dan Jangan Berpaling

“Sesungguhnya telah diwahyukan (UHiYa) kepada kami (ilaina ) bahwa azab itu (ditimpakan) kepada orang-orang yang mendustakan dan berpaling”.

QS. Thaahaa(20):48

Baca lebih lengkap: QS. Thaahaa(20):42-56

UHiYa11: Ila NuHin: Selalu Beriman

“Dan telah diwahyukan (UHiYa ) kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan”.

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”.

QS. Huud(11):36-37

WAHYU 03: YuHi = di-wahyu-kan (dari dan ke)

YuHi01: dari Allah Yang Maha Benar (al-Haq)

“Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulanginya”.

“Katakanlah: Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri, dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan (YuHi ~) Tuhanku kepadaku (Ilayya). Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat”.

QS. Saba’(34):49-50

YuHi02: Kepada Rasul Allah

“Haa Miim”.

“’Ain Siin Qaaf”.

“Demikianlah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana mewahyukan (YuHi ~) kepadamu (Ilaika) dan kepada orang-orang yang sebelum kamu”.

“Kepunyaan-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

QS. Asy-Syuura(42):1-4

Baca selengkapnya surat Asy-Syuura

YuHi03: Kepada Malaikat

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan (YuHi ) kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati (qulub) orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka”.

QS. Al-Anfaal(8):12

YuHi04: Bisikan Syaitan

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan (YuHi ) kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”.

QS. Al-An’aam(6):112

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaithan itu membisikkan (YuHuu ) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti (Tho’at) mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang

musyrik “.

QS. Al-An’aam(6):121

Pernyataan:

Segala sesuatu yang diada-adakan (yang bukan dari wahyu Allah, bukan dari Rasul dan bukan dari malaikat) semuanya berasal dari syaithan si penipu, dan jika menurutinya maka dikategorikan sebagai orang-orang yang musyrik.

WAHYU 02: YuHa = di-wahyu-kan (kondisi dan aktifitas penerima wahyu)

YuHa01: KondisiPenerimaWahyu01: Bebas dari Hawa

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang di-

komunikasi -kannya (yanthiqu ) menurut kemauan(hawa )-nya, yang dikomunikasikannya itu tiada lain ialah wahyu yang diwahyukan (YuHa’ ) (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat, yang cerdas, dan (jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi, kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat lagi (pada Muhammad sejarak) anak panah (dengan dua ujung ↔ ) atau lebih dekat lagi. Lalu dia menyampaikan (fa-Auha) kepada hamba-Nya yang terpilih (abdihi , yaitu Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan (Auha, kepada malaikat), fuad(Sistem Transformasi)-nya tidak mendustakan apa yang dilihatnya”.

QS. An-Najm(53):1-11

YuHa02: KondisiPenerimaWahyu02: Tidak Mempersekutukan Tuhan

“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan (YuHa’~ ) kepadaku (Ilayya ) bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya”.

“(yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat”.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh bagi mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”.

QS. Fushshilat(41):6-8

YuHa03: KondisiPenerimaWahyu03: Berserah Diri (muslimun)

“Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan (YuHa’~ ) kepadaku (Ilayya) adalah “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (muslimun ) kepada-Nya”.

QS. Al-Anbiyaa’(21):108

YuHa04: KondisiPenerimaWahyu04: Beramal Shaleh

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan (YuHa’~ ) kepadaku (Ilayya ): “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

QS. Al-Kahfi(18):110

YuHa05: KondisiPenerimaWahyu05: Lapang Dada

“Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan (YuHa’~ ) kepadamu (Ilaika ) dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya pembendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?”. Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu”.

“Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an itu”. Katakanlah: “(kalau demikian) maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggilah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.

“Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka (katakanlah olehmu): “Ketahuilah sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (muslimun) pada-Nya”.

QS. Huud(11):12-14

YuHa06: CaraMengikutiWahyu01: Potensikan Sistem Pendengaran (Sam’a)

“Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di tempat yang suci, Thuwa”.

“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah (fastami’) apa yang akan diwahyukan (YuHa’~ )”.

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka beribadahlah kepada Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku”.

QS. Thaahaa(20):12-14

Pelajaran : Tanggalkan semua atribut dan dirikan sholat

YuHa07: CaraMengikutiWahyu02: Potensikan Sistem Penglihatan (abshor) dan Sistem Berpikir (Fiqr)

“Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa pembendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan (YuHa’~ ) kepadaku (Ilayya )”. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat (al-bashir )?”. Maka: :Apakah kamu tidak memikirkan (yatafaqarun )?”.

QS. Al-An’aam(6):50

YuHa08: CaraMengikutiWahyu03: Tidak Mengganti dan Takut Azab

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami mengatakan: “Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini atau gantikanlah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantikannya dari pihak diriku sendiri, aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan (YuHa’~ ) kepadaku (Ilayya). Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”.

QS. Yunus(10):15

YuHa09: CaraMengikutiWahyu04: Percaya (Iman), dengarkan (wastami’u) dan perhatikan (wansitu)

“Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al-Qur’an kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?”. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan (YuHa’~ ) dari Tuhanku kepadaku (Ilayya ). Al-Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.

QS. Al-A’raaf(7):203-204

YuHa10: CaraMengikutiWahyu05: Sabar

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan (YuHa’~ ) kepadamu

(Ilaika ) dan bersabarlah hingga Allah beri keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya”.

QS. Yunus(10):109

YuHa11: CaraMengikutiWahyu06: Tawakal Kepada Allah

“Hai Nabi, bertakwalah kamu kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (Tuthi’i) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

“dan ikutilah apa yang diwahyukan (YuHa’~ ) Tuhanmu kepadamu (Ilaika ). Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Dan bertawakallah kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara”.

QS. Al-Ahzab(33):1-3

YuHa12: CaraMenyampaikanWahyu01: Dengan Kenyataan

“Tidak diwahyukan (YuHa’~ ) kepadaku (Ilayya ), melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata”.

QS. Shaad(38):70

“Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan (YuHa’~ ) kepadaku (Ilayya ) dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata”.

QS. Al-Ahqaaf(46):9

YuHa13: CaraMenyampaikanWahyu02: Jangan Berdusta dan Jangan Sombong

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan (UHiYa ) kepadaku (Ilayya)”, padahal tidak ada diwahyukan (YuHa) sesuatupun kepadanya,( Ilaihi ) dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dasyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari itu kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”.

QS. Al-An’aam(6):93