Arsip

Firqoh-thoifah

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap firqoh (kelompok orang yang fasih menyampaikan

pada setiap tempat yang berbeda) di antara mereka beberapa Thoifah (Tokoh Dinamisator) untuk memperdalam kefaqihan tentang din dan untuk memberi peringatan kepada komunitasnya (qoumahum) apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri”.

QS. At-Taubah(9):122

Firqoh

“Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, dan yang terbang dengan kencangnya, dan yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya, dan yang membedakan (antara hak dan bathil) dengan sejelas-jelasnya (fariqotin farqon ), dan yang menyampaikan Dzikro (mengingatkan), untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan (ancaman)”.

QS. Al-Mursalat(77):1-6

“Sesungguhnya diantara mereka ada sekelompok (fariiqon ) yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui”.

QS. Ali’Imran(3):78

“Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lainan (mutafarriqoh), namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah, kepada-nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri”.

QS. Yusuf(12):67

“Lalu Kami wahyukan (AuHaiNa) kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan (firqiin ) adalah seperti gunung yang besar”.

QS. Asy-Sy’uaraa’(26):63

Kesimpulan:

Firqoh adalah orang-orang yang memiliki kemampuan

menyampaikan sesuatu dan dibatasi oleh tempat atau wilayah tertentu sesuai dengan komunitasnya.

Thoifah

“Dan (ingatlah) ketika sekelompok (Thooifah) diantara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan

sebahagian (fariiqun ) dari mereka meminta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari”.

QS. Al-Ahzab(33):13

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putera Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapa yang akan menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan (agama) Allah?”. Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah”, lalu segolongan (Thoifah) dari bani israil beriman dan segolongan (Thoifah) yang lain kafir. Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”.

QS. As-Shaff(61):1

Kesimpulan:

Thoifah adalah orang-orang yang mampu memobillisasi (dinamisator) komunitasnya untuk tujuan tertentu.

Jama’ah

“Dan berpeganglah kamu semuanya (jamii’an ) kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai (tafarroquu), dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu (qulubikum), lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

QS. Ali’Imran(3):103

Firqotun yang menyelamatkan (Firqotun Najiyyah)

Thoifah yang menolong (Ath-Thoifah Al-Manshuroh)

“Terus-menerus selalu ada Thoifah Al-Manshuroh (Tokoh dinamisator yang menolong) dari umatku yang tetap berada dalam kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah ( Hari Kiamat ) dan mereka dalam keadaan seperti itu “.

belum selesai, nanti di lanjut

Iklan

Mengenal Penyebab Perpecahan Umat

A. Memotong Urusan (Perintah)

A.1. Memotong Urusan

“(48) Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.

“…”

“(92) Sesungguhnya ini (para nabi dan rasul) adalah umat kamu semua, umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka beribadahlah padaku”.

“(93) Dan mereka (pengikut nabi) telah memotong-motong (wa-taqoth-tho’u ) urusan (amru ) mereka diantara mereka. Kepada Kamilah masing-masing itu akan kembali”.

“(94) Maka barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap

amalannya itu, dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya”.

“…”

“(104) (Yaitu) pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya lagi. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya Kamilah yang melaksanakannya”.

“(105) Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabuuri

sesudah (Kami tulis dalam) Dzikri , bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang sholeh”.

QS. Al-Anbiyaa’(21):48, teruskan sampai ayat 112

Pelajaran :

Urusan din belum diketahui dan dikerjakan secara menyeluruh (kaffah), sudah di potong. Maka Allah yang memberi keputusan terhadap mereka.

A.2. Memotong Urusan sehingga Zuburo, Hizb dan Farihun

“(23) Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, ibadahilah olehmu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapakah kamu tidak bertaqwa kepada-Nya”.

“…”

“(51) Hai rasul-rasul, maknlah dari makanan yang baik-baik (thoyyib), dan kerjakanlah amal yang sholeh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

“(52) Sesungguhnya ini (para nabi dan rasul) adalah umat kamu semua, umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku”.

“(53) Maka mereka (pengikut nabi) telah memotong-motong (fa-taqoth-tho’u ) urusan (amru ) mereka diantara mereka menjadi beberapa potongan (zuburo ). Setiap

golongan (hizb ) merasa bangga (farihun ) dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”.

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu”.

“…”

“(71) Andaikata kebenaran itu menuruti kemauan (Hawa ) mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada didalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka Dzikri (kebanggaan) mereka, tetapi mereka berpaling dari Dzikri (kebanggaan) itu”.

QS. Al-Mu’minuun(23);23, teruskan sampai ayat 77

Pelajaran :

Urusan din belum diketahui dan dikerjakan secara menyeluruh (kaffah) telah dipotong, sehingga kehidupannya terkotak (hizb) oleh urusan yang terpotong (Zuburo) tersebut, kemudian hal itu dibanggakan (Farihun). Maka golongan yang seperti ini termasuk Golongan Sesat, biarkanlah mereka hidup dalam kesesatannya.

Pada zaman sekarang abad 20, banyak sekali kelompok-kelompok yang mengaplikasikan Islam secara parsial sesuai kemauan(hawa)-nya.

B. Memecah-Belah Din

B.1. Memecah-Belah Din sehingga SyiYa’A

“(159) Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah (farroquu ) din-nya dan mereka terpecah menjadi beberapa

golongan (SyiYa’A ), tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”.

“(160) Barangsiapa membawa kebaikan maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat kebaikan, dan barangsiapa yang membawa kejelekan, maka ia tidak di beri balasan melainkan seimbang dengan kejelekannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya”.

QS. Al-Al’aam(6):159, teruskan sampai ayat 165

“(83) Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar segolongan (SyiYa’Atihi ) (dengan Nuh)”

“(84) (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhan-nya dengan

Qolbun Saliim (Hati yang selamat)”

“(85) (Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang ibadahi itu?”.

“(86) Apakah kamu menghendaki ilah-ilah selain Allah dengan jalan berbohong?”

“(87) Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan Semesta Alam?”

QS. Ash-Shaaffaat(37):83, teruskan sampai ayat 113.

Pelajaran :

Urusan din belum di ketahui dan dikerjakan secara menyeluruh, di pecah-belah oleh seseorang yang dijadikan figur, dan golongan ini hanya hidup berputar di sekitar pengetahuan figur tersebut. Maka biarkanlah mereka, karena mereka bukan tanggung-jawab kita, mereka adalah tanggung-jawab dari figurnya. Mereka belum terkotak (hizb) dan belum berbangga (farihun).

B.2. Memecah-Belah Din sehingga SyiYa’A, Hibz, dan Farihun

“(28) Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rizki yang telah Kami berikan kepadamu, maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rizki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri?. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat (fakta-fakta) bagi kaum yang berakal (ya’qilun)”

“(29) Tetapi orang-orang yang Zalim, mengikuti keinginan (Hawa) tanpa ilmu pengetahuan, maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah?. Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun”.

“(30) Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada din (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) din yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

“(31) dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwa kepada-Nya, serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”.

“(32) yaitu (bagian dari) orang-orang yang memecah-belah (farroqu) agama (din) mereka dan mereka menjadi beberapa golongan (SyiYa’A ). Tiap-tiap golongan (Hizb ) merasa bangga (farihun ) dengan apa yang ada pada mereka”.

QS. Ar-Ruum(30):28-32

Pelajaran :

Urusan din belum diketahui dan dikerjakan secara menyeluruh (kaffah), sudah di pecah-belah oleh seseorang yang dijadikan figur (SyiYa’A) dan mereka terkotak (Hizb) oleh pengetahuan figur tersebut, kemudian kondisi ini dibanggakan (Farihun). Maka inilah golongan musyrik, musuh umat wahidah (Islam).

QOTHTHO’U

“Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) nafkah yang besar dan tidak melintasi (yaqtho’un ) suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal sholeh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (amal)”.

QS. At-Taubah(9):121

Pelajaran:

Qoththo’u berhubungan dengan masalah perjalanan amal.

“Dan mereka Kami bagi (wa-qoththo’nahum ) menjadi dua belas suku (Umaman) yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan (AuHaiNa) kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa (Kami berfirman): “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepadamu”. Mereka tidak menganiaya (men-zalimi) Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya (zalim ) dirinya sendiri.

QS. Al-A’Raaf(7):160

Pelajaran:

Qoththo’u berhubungan dengan membagi menjadi beberapa bagian yang lebih sedikit (kecil).

Jika Q = Qoumi (Komunitas), dan U = Umaman (Suku)

maka Q = U1 + U2 + … + U12

“Maka mereka Kami bagi (fa-qoththo’nahum ) di dunia ini menjadi beberapa komunitas (umaman), di antaranya ada orang-orang yang sholeh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (ni’mat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”.

QS. Al-A’Raaf(7):168

Pelajaran:

Qoththo’u berhubungan dengan masalah amal sholeh atau tidak sholeh.

Fasik

“…Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik , (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan (yaqtho’u ) apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”.

QS. Al-Baqarah(2):26-27

“Dan orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan (yaqtho’u ) apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk”.

“Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira (farihu) dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)”.

“Orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mu’jizat) dari Tuhannya?”. Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat (kembali) kepada-Nya”.

QS. Ar-Ra’d(13):25-27”

Pelajaran:

Qoththo’u berhubungan dengan ketidak-kontinuan dalam melaksanakan perintah Allah,.

Zalim

“Lalu orang-orang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang zalim itu siksa dari langit, karena mereka selalu berbuat fasik”.

QS. Al-Baqarah(2):59

“Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan (faquthi’a ) sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.

QS. Al-An’aam(6):45

“Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati (qulub) mereka, kecuali bila hati mereka telah hancur (taqoththo’a ). Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

QS. At-Taubah(9):110

Pelajaran:

Ke-fasik-an yang dilakukan terus-menerus akan menyebabkan ke-zalim-an, yaitu mengganti perintah (aturan) dengan perintah baru yang sesuai dengan ke-fasik-annya.

Kesimpulan :

Qoththo’u adalah memotong menjadi beberapa bagian sehingga tidak utuh lagi.

Pernyataan:

Jadikanlah diri kita selalu melaksanakan perintah-perintah

Allah secara sambung-menyambung (terintegrasi) dan menyeluruh (komprehensif atau kafah).

ZUBURO

“Dzulqarnaen berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka”.

“Berilah aku potongan-potongan (zuburo ) besi. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu. Berkatalah Dzulqarnaen: “Tiuplah api itu”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”.

“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya”.

QS. Al-Kahfi(18):95-97

Pelajaran:

Zuburo berhubungan dengan hasil yang berupa potongan-potongan.

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (Zuburi)”.

“Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis”.

QS. Al-Qamar(54):52-53

Pelajaran:

Zuburo berhubungan dengan hasil yang berupa buku-

catatan kecil atau besar.

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu (NuHi) kepada mereka, maka tanyakanlah kepada Ahlal Dzikri jika kamu tiada mengetahui, keterangan-keterangannya (bayyinat) dan

kitab-kitabnya (zuburo). Dan Kami turunkan kepadamu Dzikro, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirnya”.

QS. An-Nahl(16):43-44

Pelajaran:

Zuburo berhubungan dengan hasil yang berupa kitab-kitab.

Kesimpulan :

Zuburo adalah Produk atau hasil pemilahan Urusan yang berisi Sumber Urusan yang Parsial (tidak menyeluruh).

Pernyataan:

Jadikanlah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai panduan hidup kita secara utuh (murni).

FARROQO

“Dan berpeganglah kamu semuanya (jami’a) kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai (tafarroquu), dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu (qulubikum), lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

QS. Ali’Imran(3):103, baca terus sampai ayat 115

“Dan bahwa yang Kami perintahkan itu adalah jalan-Ku yang lurus (Shirothim Mustaqima), maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan (fata-farraqo ) kamu dari jalan-Nya. Yang demikain itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa.

QS. Al-An’aam(6):153

“Bagaimana aku takut kepada ilah-ilah yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan ilah-ilah yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan (fariiqoini ) itu yang berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui”.

QS. Al-An’aam(6):81

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): “Ibadahilah Allah”. Tetapi tiba-tiba mereka (menjadi) dua golongan (fariiqoni ) yang bermusuhan”.

QS. An-Naml(27):45

“Demikianlah Kami wahyukan (AuHaiNa ) kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya, serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan (fariiqon ) masuk surga dan segolongan (fariiqon ) masuk neraka”.

QS. Asy-Syuura(42):7

“ Sebahagian (fariiqon ) diberi-Nya petunjuk dan sebahagian (fariiqon ) lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk”.

QS. Al-A’Raaf(7):30

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam (mutafarriquun ) itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”.

QS. Yusuf(12):39

“Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lainan (mutafarriqoh), namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah, kepada-nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri”.

QS. Yusuf(12):67

“Lalu Kami wahyukan (AuHaiNa) kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan (firqiin ) adalah seperti gunung yang besar”.

QS. Asy-Sy’uaraa’(26):63

“Dan (ingatlah), ketika Kami belah (faraq ) laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”.

QS. Al-Baqarag(2):50

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk

memecah-belah (tafriiqo) antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)”.

QS. At-Taubah(9):107

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan (fariiqin ) dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,”.

QS. At-Taubah(9):117

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan (yufarriquu) antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iaman atau kafir), merekalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan (yufarriqu ) seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka balasannnya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

QS. An-Nisaa’(4):150-152

“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik (ma’ruf) atau lepaskanlah (faariquu) mereka dangan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar (dari masalahnya). Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan-ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

QS. Ath-Thalaaq(65):2-3

Kisah Musa, Harun dan Samiri:

“Harun menjawab: “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggutku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata kepadaku: “Kamu telah memecah (farroqta ) antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”.

QS. Thaahaa(20):94

Kisah Khidir dan Musa:

“Khidir berkata: “Inilah perpisahan (firooqu) antara aku dengan kamu, aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan (ta’wiili) yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

QS. Al-Kahfi(18):78

“dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang batil) dengan sejelas-jelasnya”.

QS. AAl-Mursalaat(77):4

“dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Manakah di antara kedua golongan (fariiqoini ) (kafir dan mu’min) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)?”.

QS. Maryam(19):73

“Perbandingan kedua golongan (fariiqoini ) itu (orang-orang kafir dan orang-orang mu’min), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?”.

QS. Huud(11):24

“Sesungguhnya, ada segolongan (fariiqun ) dari hamba-hamba-Ku berdo’a (di dunia): “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahman Yang Paling Baik”.

QS. Al-Mu’minuun(23):109

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikan sholat dan tunaikan zakat!”. Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian (fariiqun ) dari mereka (orang-orang munafik) takut kepada manusia (musuh)….”

QS. An-Nisaa’(4):77

“Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolongan-golongan (yatafarroquun)”.

QS. Ar-Ruum(30):14

“Orang-orang kafir yaitu ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al-Qur’an), di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah-belah (Tafarroqo ) orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah din yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruknya makhluk (syarrul bariyyah). Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka adalah sebaik-baiknya makhluk (khairul bariyyah). Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘And yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun rhida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”.

QS. Al-Bayyinah(98):1-8

Kesimpulan :

Farroqo adalah Memecah-belah sehingga terpisah baik posisi (tempat) dan arahnya, yang akhirnya menjadi dua kelompok yang sangat berbeda dan tidak bisa disatukan, mu’min atau kafir, surga atau neraka.

Pernyataan:

Jadikanlah diri kita berkarakter mu’min.

Penyebab Pecah-Belah

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan (fariiqun ) dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya (aqolu = berakal ), sedang mereka

mengetahui (berilmu )”.

QS. Al-Baqarah(2):75

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan (fariiqon ) yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebahagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui (berilmu )”.

QS. Ali’Imran(3):78

“Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudara sebangsa) dan mengusir segolongan (fariiqon ) daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan, tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?. Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka di kembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”.

QS. AL-Baqarah(2):85

“Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan (fariiqun ) mereka melemparkannya? Bahkan sebahagian beasar dari mereka tidak beriman”.

“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian (fariiqun ) dari orang-orang yang di beri kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)-nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu kitab Allah)”.

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sualiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaithan-syaithan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengerjakan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seseorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”.

Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan (yufarriqu ) antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu tidak memberi mudharat dengan sihirnya itu kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarkan (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui”.

QS. AL-Baqarah(2):100-102

Fariiqon penyebab Ahzab (Hizb, golongan yang terkotak)

“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati (qulb) mereka.

Sebahagian (fariiqon ) mereka kamu bunuh dan sebahagiaan (fariiqon ) yang lain kamu tawan”.

QS. Al-Ahzab(33):26

SYIYA’A

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa rasul) sebelum kamu kepada umat-umat (SyiYa’i ) yang terdahulu”.

QS. Al-Hijr(15):10

Para Nabi:

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar segolongan (syiya’atihi ) (dengan Nuh)”.

QS. Ash-Shaaffaat(37):83

“Sesungguhnya telah ada Suri-Teladan yang baik (Uswatun-Hasanah) bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami Ya Tuhan kami. Sesunggguhnya Engkau, Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan pengikutnya), ada Suri-Teladan yang baik (Uswatun-Hasanah ) bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah yan Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

QS. Al-Mumtahanah(60):4-6

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu Suri-Teladan yang baik (Uswatun-Hasanah ) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah”.

QS. Al-Ahzab(33):21

“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di kota itu dua orang lelaki yang berkelahi, yang seorang dari golongannya

(SyiYa’Atihi ), dan yang seorang lagi dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang dari golongannya (SyiYa’Atihi ) meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaithan, sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)”.

Musa mendo’a: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya (Zolamtu) diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

“Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi ni’mat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa (Mujrimin)”.

QS. Al-Qashash(28):15-17

Bukan Nabi:

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya terpecah-belah (SyiYa’A ), dengan menindas segolongan (Thoifah) dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.

QS. Al-Qashash(28):4

“Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata. Kepada Fir’aun , Haman dan Qorun , maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta”. Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: “Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka”. Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah sia-sia (belaka)”.

QS. Al-Mu’min(40):23-25

“Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu dan dari bawah kakimu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (SyiYa’A ) (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka

memahaminya (yafqohun)”.

“Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu besar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”.

“Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada saat terjadinya (mustaqorrun) dan kelak kamu akan mengetahui”.

QS. Al-An’aam(6):65-67, teruskan sampai ayat 73.

“Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaithan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut”.

“Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan (SyiYa’Atin ) siapa diantara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”.

QS. Maryam(19):68-69

Perhatikanlah Runtunan Ayat dibawah ini :

“(153) Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus (Sirothim Mustaqima), maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang

mencerai-beraikan (fatafarraoqo) dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa”.

“…”

“(156) (Kami turunkan Al-Kitab itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa Kitab itu hanya diturunkan kepada

dua golongan (Thoifataini ) saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca ”.

“…”

“(159) Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah (farroquu ) din-nya dan mereka terpecah menjadi beberapa

golongan (syiya’a = penggolongan karena figuritas orang, yaitu oleh Thoifah), tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”.

“(160) Barangsiapa membawa kebaikan maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat kebaikan, dan barangsiapa yang membawa kejelekan, maka ia tidak di beri balasan melainkan seimbang dengan kejelekannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya

QS. Al-An’aam(6):153, teruskan sampai ayat 165

Pelajaran:

Thoifah menyebabkan terjadinya SyiYa’A . Jadi kita harus memperhatikan apa yang mereka baca (apa sumber informasinya).

Kesimpulan:

SyiYa’A adalah Pengelompokan manusia berdasarkan keteladanan (figuritas) seseorang, sehingga dalam aktifitas hidupnya selalu diwarnai oleh keteladanan (figuritas) orang tersebut.

Pengelompokan manusia berdasarkan figuritas seseorang yang bukan Kenabian selalu berganti dari masa ke masa, sedangkan keteladanan (figuritas) berdasarkan Kenabian akan langgeng terus menerus sampai akhir Zaman.

Pada zaman sekarang abad 20, telah banyak sekali pengelompokan manusia berdasarkan figuritas seseorang yang bukan Nabi, baik dari kalangan muslim maupun non muslim. Hendaklah yang kita jadikan teladan adalah Para Nabi, sedangkan orang yang bukan Nabi hanya berkewajiban menyampaikan Nilai-nilai Kenabian secara murni (utuh), tanpa di tambah-tambah atau di kurangi, apalagi dengan mendeklarasikan kelompok-kelompok eksklusif, mereka sudah terang-terangan ingin tampil beda (sejajar) dihadapan Allah dan Rasul-Nya, padahal sejak dulu para Nabi dan Rasul menyatakan Kami Semua Muslimun. Jika figuritas seseorang yang bukan Nabi dan Rasul dijadikan sarana untuk mengenal Nabi dan Rasul, maka Allah akan membalasnya sesuai niatnya. Jika terkotak (Hizb) oleh figuritas seseorang yang bukan Nabi dan Rasul, serta bangga (Farihun) dengan figuritas tersebut, maka Musyrik.

Pernyataan:

Jadikanlah para Nabi dan Rasul sebagai teladan.

HIZB

Hizbu-Allah lawan Hizbu-Syaiton

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari kaum kamu dan bukan (pula) dari kaum mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui”.

“Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan”.

“Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah, karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan”.

Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.

“(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu, dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfa’at). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta”.

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka

lupa mengingat Allah, mereka itulah Golongan Syaitan (Hizbu Syaitan). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”.

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang hina. Allah telah menetapkan: “Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.

“Kamu tidak akan mendapai suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling bekerja-sama (yuwaadu) dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surge yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, Allah ridho terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah Golongan Allah (Hizbu Allah ). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung”.

QS. Al-Mujaadilah(58):14-22

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu murtad dari din-nya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai (yuhibbu) mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk-patuh (kepada Allah)”.

“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya Golongan Allah (Hizbu Allah) itulah yang pasti menang”.

QS. Al-Maa-idah(5):54-56

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”.

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya (hizbah ) supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”.

“Orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar”.

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menggangap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

QS. Faathir(35):5-8

“Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari

golongan-golongan yang bersekutu (Ahzab ), pasti akan dikalahkan”.

“Telah mendustakan (rasul-rasul pula) sebelum mereka itu, kaum Nuh, A’ad, Fir’aun yang mempunyai tentara yang banyak”.

“dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul)”.

“Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku”.

“Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang”.

“Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari berhisab”.

QS. Shaad(38):11-16

Kisah Pemuda Kahfi

“(12) kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan (Hizbaini ) itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)”

“…”

“(19) Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka (segolongan) menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Berkata (orang atau segolongan lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (disini). Maka suruhlah salah seorang diantara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berkata lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal ihwalmu kepada siapapun”

“…”

“(25) Dan mereka tinggal dalam gua mereka Tiga Ratus Tahun dan di tambah Sembilan Tahun lagi (300 + 9 = 309)”

QS. Al-Kahfi(18):9-26

“Maka berselisihlan golongan-golongan (Ahzab ) diantara mereka, lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim (Zolamuu) ya’ni siksaan hari yang pedih (kiamat). Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya. Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”.

QS. Az-Zukhruf(43):65-67

Kesimpulan :

Hibz adalah pengelompokan manusia berdasarkan Sumber Informasi yang dijadikan Landasan dalam Sistem Hidupnya, Hizbu Allah atau Hizbu Syaithon.

Pernyataan:

Jadikanlah diri kita berkarakter Hizbu Allah.

FARIHUN

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka, merasa bangga (yafrohun) dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan diantara golongan yang bersekutu (ahzab) (Yahudi dan Nashrani), ada yang mengikuti sebahagiannya. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku kembali”.

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti keinginan (hawa) mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah”.

QS. Ar-Ra’d(13):36-37

“Dia-lah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik dan mereka bergembira (farihuu ) karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya semata-mata, (mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”.

QS. Yunus(10):22

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira (farihun ) dengan apa yang telah diberikan kepada mereka. Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.

QS. Al-An’aam(6);44

“Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya, dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi berperang) dan mereka berpaling dengan rasa gembira (farihun )”.

QS. At-Taubah(9):50

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang (farihu ) dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokan itu”.

QS. Al-Mu’min(40):83

“Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga (tafroh ), sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri (farihiin)”.

QS. Al-Qashash(28):76

“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira (farihu ) dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa”.

QS. Ar-Ruum(30):36

“Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”. Sesungguhnya dia sangat gembira (farihun ) lagi bangga”.

QS. Huud(11):10

Kesimpulan :

Farihun adalah senang, gembira, bangga dengan apa yang dimilikinya (Ilmu, Harta, Aturan, Kondisi) sehingga tidak berpaling dari hal tersebut.

Pernyataan:

Jadikanlah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang selalu kita sajikan (tampilkan) dalam kehidupan kita, baik perkataan, tulisan, perbuatan, dan seluruh aktifitas diri kita, lahir dan batin.

Perhatikanlah dengan seksama tentang Shibghah Allah: QS. Al-Baqarah(2):130-141

“Jadikanlah setiap langkah kita diwarnai oleh Allah sampai akhir hayat dengan cara mengikuti keteladanan Muhammad Rasulullah”

Misi Rasul:Umat Wahidah

​Umat Wahidah

 

Ummatan

(Komponen Umat)

1. Tempat Hidup dan Sumber Penghidupan

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai disana sekumpulan (Ummatan) orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang sekumpulan orang itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (menahan ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu dengan berbuat begitu?”. Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut usia”.

QS. Al-Qashash(28):23

2. Anggota Umat

a. Tunduk-Patuh (Islam) kepada Allah

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk-patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk-patuh (Ummatan Muslimatan) kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami tat-cara dan tempat-tempat ibadat bagi kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

QS. Al-Baqarah(2):128

b. Percaya (Iman) kepada Rasul

“Tidak (dapat) suatu umatpun (Ummatin) mengetahui ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu)”.

“Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya (Ummatan Rasuluha ), umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Dan Kami jadikan mereka buah-tutur (aHadits ) manusia, maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman”.

QS. Al-Mu’minuun(23):43-44

3. Kesatuan Sistem Hidup

a. Ibadah dan Taqwa hanya kepada Allah

“(48) Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.

“…”

“(92) Sesungguhnya ini (para nabi dan rasul) adalah umat kamu semua, umat yang satu (Ummatan Wahidah ) dan Aku adalah Tuhanmu, maka beribadahlah padaku”.

“(93) Dan mereka (pengikut nabi) telah memotong-motong (wa-taqoth-tho’u ) urusan (agama) mereka diantara mereka. Kepada Kamilah masing-masing itu akan kembali”.

“(94) Maka barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu, dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya”.

QS. Al-Anbiyaa’(21):48-94

“(23) Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, ibadahilah olehmu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapakah kamu tidak bertaqwa kepada-Nya”.

“…”

“(52) Sesungguhnya ini (para nabi dan rasul) adalah umat kamu semua, umat yang satu (Ummatan Wahidah ) dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku”.

“(53) Maka mereka (pengikut nabi) telah memotong-motong (fa-taqoth-tho’u ) urusan (agama) mereka diantara mereka menjadi beberapa potongan (zuburo).

Setiap golongan (hizb = penggolongan karena peng-kotak-an urusan) merasa bangga (farihun ) dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”.

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu”.

QS. Al-Mu’minuun(23);23-53

b. Hukum, Syariat, dan Fastabiqul Khairat

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an ) dengan membawa kebenaran (haq), membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitak-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa (nafsu) mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan syariat (aturan) dan manhaj (jalan yang terang). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (Ummatan Wahidah )), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan (fastabiqul khairat ). Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semua, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan”.

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti keinginan (Hawa) mereka.

Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik (fasiqun)”.

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin”.

QS. Al-Maa-idah(5):48-50

c. Menepati Perjanjian

“Sesunggunya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkan dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”.

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang telah di pintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali, kamu menjadikan sumpah(perjanjian)mu sebagai alat penipu diantaramu, disebabkan ada satu umat (ummatun ) yang lebih banyak jumlahnya dari umat (ummatin ) yang lain.

Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu”

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (Ummatan Wahidah ) (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang di kehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan di tanya tentang apa yang kamu kerjakan (amal)”.

QS. An-Nahl(16):90-93, teruskan sampai ayat 100

d. Sabar dalam Kebaikan (Ihsan) dan Berbagi Kasih Sayang (Rahmat)

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin)”.

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa (mujrimin)”.

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim , sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin )”.

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu (Ummatan Wahidah ), tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”.

“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.

Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan (Tammat Kalimatur Rabbika). Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”.

QS. Huud(11):115-119

“Dan mereka berkata: “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dari dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?”.

Apakah mereka yang membagi r ahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagiaan mereka atas sebahagiaan yang lain beberapa derajat, agar sebahagiaan mereka dapat mempergunakan sebahagiaan yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (Ummatan Wahidah ) (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya”.

“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan diatasnya”.

“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan sesungguhnya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang

bertakwa ”.

QS. Az-Zukhruf(43):31-35

e. Tidak Berselisih, Dengki dan Zalim

“Manusia dahulunya hanyalah satu umat ,(Ummatan Wahidah ) kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Allah sejak dahulu (Kalimatun Sabaqat), pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu”.

QS. Yunus(10):29

“Manusia itu adalah umat yang satu (Ummatan Wahidah ), (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi khabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang berisi Kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki diantara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya.

Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang di-kehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (shirothol mustaqim)”.

QS. Al-Baqarah(2):213

“Demikianlah Kami wahyukan (AuHaiNa) kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya, serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan (fariiqon = penggolongan yang tidak mungkin lagi disatukan, atau pecah-belah) masuk surga dan segolongan masuk neraka”.

“Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (Ummatan Wahidah ) (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang di-kehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya . Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong”.

“Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah?. Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

QS. Asy-Syuura(42):7-9

4. Benar dan Adil

“Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus (sirothim Mustaqim)”.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu, umat yang adil dan pilihan (Ummatan Wa SaThoo ) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti rasul dan siapa yang membelot. Dan sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”.

QS. Al-Baqarah(2):142-143, teruskan sampai ayat 157

Catatan:

Ummatan Wa Sathoo adalah ummat yang aktifitas kehidupannya menampilkan Kebenaran dan Keadilan sehingga terpilih sebagai saksi dan pembanding bagi perbuatan seluruh manusia yang menyimpang dari Kebenaran dan Keadilan, baik di dunia maupun di akhirat.

5. Keteladan, Kepatuhan, Hanif (Lurus), dan Syukur

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah (Ummatan Qonita Lillah) dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)”.

“(lagi) yang mensyukuri ni’mat-ni’mat Allah , Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus (Sirothim Mustaqim)”.

“Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan (AuHaiNa) kepadamu (Muhammad): “Ikutilah milata Ibrahim seorang yang hanif”, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.

“Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu”.

QS. An-Nahl(16):120-124

Ummatun

(Fungsi Umat)

1. Mengikuti Milah atau Prosedur Hidup Ibrahim yang Lurus (Hanif)

“Dan tidak ada yang benci kepada Milah Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang sholeh”.

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk-patuhlah!”. Ibrahim menjawab: “Aku tunduk-patuh kepada Tuhan semesta alam”.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih Din (Sistem Hidup) ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (Muslimun)”.

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu ibadahi (ta’ati) sepeninggalanku?”. Mereka menjawab: “Kami akan ber-ibadah kepada Ilah-mu dan Ilah nenek-moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Ilah Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk-patuh kepada-Nya”.

“Itu adalah umat (Ummatun ) yang lalu, baginya apa yang telah diusahakannya (kasabat ) dan bagimu apa yang telah kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai pertanggung-jawaban tentang apa yang telah mereka

kerjakan (ya’malun )”.

QS. Al-Baqarah(2):130-134

“Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut din Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) din Ibrahim yang lurus (hanif). Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”.

“Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak-susunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk-patuh kepada-Nya”.

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

“Shibghoh Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?. Dan hanya kepada-Nya-lah kami ber-ibadah”.

“Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu, bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya-lah kami mengikhlaskan (memurnikan) ibadah kami”.

“ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya adalah penganut din Yahudi atau Nasrani?.

Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?”.

Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan”.

“Itu adalah umat (Ummatun ) yang lalu, baginya apa yang telah diusahakannya (kasabat ) dan bagimu apa yang telah kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai pertanggung-jawaban tentang apa yang telah mereka

kerjakan (ya’malun )”.

QS. Al-Baqarah(2):141

2. Memberi Petunjuk dan Menjalankan Keadilan

“Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat (ummatun) yang memberi petunjuk dengan Haq, dan dengan Haq itu (pula) mereka menjalankan keadilan ”.

QS. Al-A’raaf(7):181

“Dan di antara komunitas (qoumi) Musa itu ada umat (ummatun) yang memberi petunjuk dengan Haq, dan dengan Haq itu (pula) mereka menjalankan keadilan ”.

QS. Al-A’raaf(7):159

“Mereka itu tidak sama, di antara ahli kitab itu ada

golongan (Ummatun ) yang berlaku tegak-lurus (qooimah), mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sholat). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan bersegera kepada (mengerjakan) kebaikan (khairat), mereka itu termasuk orang-orang yang soleh. Dan apa saja kebaikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahalanya), Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa”.

QS. Ali-Imran(3):113-115

3. Saling Nasehat-Menasehati

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat (ummatun) di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati komunitas (qouman) yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?”.

Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung-jawab ) kepada Tuhanmu), dan supaya mereka bertakwa”

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik”

“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya. Kami katakana kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina!”.

QS. Al-A’raaf(7):164-166

4. Menyeru kepada Kebaikan, Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan (Ummatun ) yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

QS. Ali-Imran(3):104

5. Menjalankan Hukum dan Syariat

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil, dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.

Dan di antara mereka ada golongan (Ummatun ) yang

pertengahan (muqtashidah). Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka”.

QS. Al-Maa-idah(5):66

Nilai Tengah = antara nilai atas dengan nilai bawah

Ummatin

(Identitas Umat)

1. Memiliki Ajal (Batas Waktu)

“ Setiap umat (Ummatin) mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannnya”.

QS. Al-A’raaf(7):34

“Tidak (dapat) suatu umatpun (Ummatin ) mengetahui ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu)”.

“Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya (Ummatan Rasuluha), umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Dan Kami jadikan mereka buah-tutur (aHadits ) manusia, maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman”.

QS. Al-Mu’minuun(23):43-44

“Dan sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu waktu (Ummatin ) yang ditentukan, niscaya mereka berkata: “Apakah yang menghalanginya?”.

Ingatlah, di waktu azab itu datang kepada mereka tidaklah dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya”.

QS. Huud(11):8

“Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa

waktu (Ummatin) lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)”.

QS. Yusuf(12):45

2. Memiliki Tuhan Yang di-Ibadahi

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap

umat (Ummatin ) (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah (survei) di muka bumi dan perhatikanlah (teliti dan amati) bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.

QS. An-Nahl(16):36

3. Memiliki Rasul (Utusan Tuhan)

“ Setiap umat (Ummatin ) mempunyai rasul , maka apabila telah datang rasul mereka, diberi keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya.

Mereka mengatakan: “Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika kamu orang-orang yang benar?”. Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah (ma sya Allah)”. Setiap umat (Ummatin )

mempunyai ajal . Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”.

QS. Yunus(10):47-49

“Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: “Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?”. Dan Kami datangkan dari setiap umat (Ummatin) seorang saksi, lalu Kami berkata: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu”, maka tahulah mereka bahwasanya yang Haq itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan”.

QS. Al-Qashash(28):74-75

“Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari

setiap umat (Ummatin ) seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta ma’af”.

“Dan apabila orang-orang zalim telah menyaksikan azab, maka tidaklah diringankan azab bagi mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh”.

“Dan apabila orang-orang musyrik melihat (yang dijadikan) sekutu-sekutu (bagi Allah), mereka berkata: “Ya Tuhan kami mereka adalah sekutu-sekutu yang dahulu kami ibadahi (ta’ati) selain dari Engkau”. Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang-orang yang dusta”.

“Dan mereka menyatakan ketundukkannya kepada Allah pada hari itu, dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan”.

“Orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan, disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan”.

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada

setiap umat (Ummatin ) seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan (bayyinat) segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (muslimin)”.

QS. An-Nahl(16):84-89

“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari

setiap ummat (Ummatin(m) ) dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun”.

QS. An-Nisaa’(4):41-42

4. Memiliki Nadzir (Pemberi Peringatan)

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun (Ummatin) melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (nadzir ). Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya), kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa Penjelasan (bayyinat), Zuburi (Hasil Kerja Rasul), dan Al-Kitab yang memberi penjelasan yang sempurna (Mubin). Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir, maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku”.

QS. Faathir(35):24-26

5. Memiliki Wahyu (Informasi Murni, Benar, dan Objektif)

“Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat (Ummatin) yang sungguh telah berlalu beberapa umat (Umamun) sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al-Qur’an) yang Kami wahyukan (AuHaiNa) kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dialah Tuhanku tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selan Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat”.

QS. Ar-Rad(13):30

6. Memiliki Mansakan (Tata-Cara atau Standar Operasinal Pekerjaan)

“Bagi setiap umat (Ummatin) telah Kami tetapkan Tata-Cara (mansakan ) tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (amri) ini dan serulah kepada ((din) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu berada pada petunjuk yang lurus (Hudammustaqim ).

Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah: “Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan”. Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang dahulu kamu berselisih padanya. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?, bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”.

QS. Al-Hajj(22):67-70

7. Memiliki Larangan

a. Larangan Mengikuti Budaya Leluhur yang Pendusta

“Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al-Qur’an, lalu mereka berpegang dengan kitab itu?”. Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami berpegang kepada suatu kitab (Ummatin ), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka”. Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami berpegang kepada suatu kitab Ummatin ) dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”.

(Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikuti juga) sekalipun aku membawa untukmu (kitab) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada kitab yang kamu dapati dari bapak-bapakmu?”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari (kafirun) apa-apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”. Maka Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”.

QS. Az-Zukhruf(43):21-25

b. Larangan Berbuat Bathil

“Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan setiap umat (Ummatin ) telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang bathil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu. Aku azab mereka, maka betapa (pedihnya) azab-Ku. Dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan azab Tuhanmu terhadap orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka”.

QS. Al-Mu’min(40):5-6

c. Larangan Memaki Tuhan Umat Lain

“Dan janganlah kamu memaki ilah-ilah yang mereka seru selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.

Demikianlah Kami jadikan setiap umat (Ummatin ) menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.

QS. Al-An’aam(6):108

8. Memiliki Status Terbaik (The Best)

“Kamu (Muhammad dan para sahabat) adalah umat (Ummatin) yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Alhi Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (fasiqun)”.

QS. Ali’Imran(3):110

9. Memiliki Hasil Kerja

“Dan (pada hari itu) kamu lihat setiap umat (Ummatin ) berlutut. Setiap umat (Ummatin ) dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman): “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan (yanthiqo ) tentang kamu dengan benar”. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan”.

QS. Al-Jatsiyah(45):28-29

ummatUn-ummatI n-ummatA n

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang telah di pintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali, kamu menjadikan sumpah(perjanjian)mu sebagai alat penipu diantaramu, disebabkan ada satu umat (ummatun ) yang lebih banyak jumlahnya dari

umat (ummatin ) yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu”

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (ummatan wahidah ), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”.

QS. An-Nahl(16):92-93

Muhammad Rasul Allah

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada aura mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penaman-penamannya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.

QS. Al-Fath(48):29

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sekalian sebelum (menghadapi) azab yang keras”.

Katakanlah: “Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku menginformasikan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib”.

Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulanginya”.

Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas lemudharatan diriku sendiri, dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat”.

Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang kafir) terperajat ketakutan (pada hari kiamat), maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka)”.

Dan (di waktu itu) mereka berkata: “Kami beriman kepada Allah”, bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh”.

Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu, dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh”.

Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini, sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam”.

QS. Saba'(34):46-54

Misi Rasul Allah

1. Manusia Rabbani

“Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, Hikmah, dan Kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi abdi-abdiku bukan pengabdi kepada Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani (orang yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.

QS. Ali-‘Imran(3):79

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Ilah melainkan Aku, maka mengabdilah kepadaKu”.

QS. Al-Anbiyaa(21):25

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rab-mu, maka mengabdilah kepadaKu”.

QS. Al-Anbiyaa(21):92

“Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu”.

QS. Adz-Dzaariyaat(51):56

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Rab yang Maha Pemurah selaku seorang abdi (hamba)”.

QS. Maryam(19):93

2. Mengajak kepada Iman, Amal Shaleh, Taqwa, dan Ta’at

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rab-mu, (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpengang teguh kepada (agama-nya), niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam Rahmat yang besar daripada-Nya (syurga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai kepada-Nya)”.

QS. An-Nisaa’(4):174-175

Lihat juga: QS. At-Taubah(9):128; QS. An-Nisaa’(4):170

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku”.

QS. Al-Mu’minuun(23):51-52

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

QS. Al-Mulk(67):1-2

Lihat juga: QS. Al-Kahfi(18):7

“Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata):”Mengabdilah kepada Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Ilah selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)”

QS. Al-Mu’minuun(23):32

“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan:”Kami dengar dan kami ta’ati”. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hatimu”.

QS. Al-Maa-idah(5):7

“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka:”Mengapa kamu tidak bertaqwa?”. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan ta’atlah kepadaku”.

QS. Asy-Syu’araa’(26):105-108

Lihat juga: QS. Asy-Syu’araa’(26):123-126; 141-144; 160-163; 176-179

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.

QS. An-Nisaa’(4):64-65

3. Khabar Gembira dan Peringatan, Penyampai Amanat yang Terang

“Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi khabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”.

QS. Al-Baqarah(2):213

Lihat juga: QS. Al-An’aam(6):48; QS. An-Nisaa’(4):165; QS. Al-Kahfi(18):56

“Dan berkatalah orang-orang musyrik: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin)-Nya”. Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”.

QS. An-Nahl(16):35

Lihat juga: QS. An-Nuur(24):54; QS. Al-Ankabuut(29):18

4. Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, Hijrah dan Jihad

“Kamu adalah umat yang terbaik, yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

QS. Ali-‘Imran(3):110

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizqi yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang di maksud), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

QS. An-Nisaa’(4):100

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”.

QS. Al-Maa-idah(5):35

“Hai Nabi, Jihadlah terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafiq dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”.

QS. At-Tahrim(66):9

5. Tegaknya Syariat, Hukum, dan Keadilan

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan sya’riat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (sya’riat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.

QS. Al-Hajj(22):67

Lihat juga: QS. Al-Jaatsiyah(45):18

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (gangguan terhadap umat islam dan aturan islam) dan agama itu semata-mata bagi Allah (merdeka menjalankan sya’riat). Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan”.

QS. Al-Anfaal(8):39

Lihat juga: QS. Al-Baqarah(2):193

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik”.

QS. Al-Maa-idah(5):49

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

QS. Al-Maa-idah(5):8

6. Rahmatan Lil ‘Alamiin

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Katakanlah: ”Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”.

QS. Al-Anbiyaa’(21):107-108

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

QS. Al-A’raaf(7):96

Lihat juga: QS. Saba’(34):15

7. Sebagai Saksi

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.

QS. An-Nahl(16):89

Lihat juga: QS. An-Nisaa’(4):41; QS. Al-Qashash(28):75