Arsip

Isim

Tanda-tanda Isim (عَلَامَاتُ الاِسْمِ)

 

Pelajaran Keenam (اَلدَّرْسُ السَّادِسُ)

Tanda-tanda Isim (عَلَامَاتُ الاِسْمِ)

Alhamdulillah, Pembaca Qonitah yang semoga dijaga oleh Allahl, pada edisi kali ini kita memasuki pembahasan baru. Setelah menyelesaikan pembahasan isim isyarah pada edisi-edisi sebelumnya, kita akan membahas tanda-tanda isim. Sebelumnya, kita perlu mengetahui pembagian kata dalam bahasa Arab.

Kata (الْكَلِمَةُ) dalam bahasa Arab terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu:

  1. Isim (اِسْمٌ).
  2. Fi’il (فِعْلٌ).

Fi’il adalah kata kerja yang menunjukkan suatu kejadian pada salah satu waktu dari tiga waktu tertentu, yaitu masa lampau (الْمَاضِي), masa sekarang (الْحَالُ), atau masa yang akan datang (الْاِسْتِقْبَالُ).

Contoh: خَرَجَ (keluar), دَخَلَ (masuk), dan lain-lain.

Akan datang penjelasannya pada edisi-edisi mendatang, insya Allah.

  1. Huruf(حَرْفٌ).

Huruf adalah kata yang tidak mempunyai arti kecuali setelah bersambung dengan kata lain, baik dengan isim maupun fi’il, sehingga memberikan arti pada isim atau fi’il tersebut.

Contoh: هَلْ, فِيْ, لَمْ, dan lain-lain.

Sebagaimana telah kita ketahui, isim sering kali diterjemahkan sebagai kata benda. Sebenarnya, cakupan isim lebih luas. Dalam bahasa Arab, isim mencakup kata benda, kata sifat, keterangan waktu, keterangan tempat, dan sebagainya.

Contoh isim yang berupa kata benda telah kami jelaskan pada edisi-edisi sebelumnya, seperti كِتَابٌ (buku), بَيْتٌ (rumah).

Contoh isim yang berupa kata sifat adalah كَبِيْرٌ (besar), نَظِيْفٌ (bersih).

Contoh isim yang berupa keterangan waktu adalah صَبَاحًا (pagi), مَسَاءً (sore).

Yang berupa keterangan tempat adalah أَمَامَ (di depan), خَلْفَ (di belakang), dan sebagainya.

Kesimpulannya, isim adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan arti kata itu sendiri dan tidak terkait dengan waktu. Demikian para ahli nahwu mendefinisikan isim.

Kata كِتَابٌ menunjukkan kata benda “buku”, sedangkan نَظِيْفٌ menunjukkan kata sifat “bersih”. Kedua kata ini tidak terkait dengan waktu kejadian. Dengan pengertian inilah isim terbedakan dengan kedua saudaranya, yaitu fi’il dan huruf.

Isim menunjukkan arti pada dirinya sendiri, sedangkan huruf baru memiliki arti setelah bergabung dengan kata yang lain. Isim juga tidak berkaitan dengan waktu, sedangkan fi’il terkait dengan waktu sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Tanda-tanda Isim (عَلَامَاتُ الاِسْمِ)

            Isim dapat dikenali dengan tanda-tanda sebagai berikut.

  • Bisa menerima tanwin (ـًـ ـٍـ ـٌـ), seperti قَلَمٌ, بَيْتٌ, رَجُلٌ.
  • Bisa menerimajar (kasrah atau pengganti kasrah), seperti pada kalimat بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ .

Keterangan:

  • Kata-kata (اسْمِ), (اللهِ), (الرَّحْمنِ), (الرَّحِيْمِ) semuanya berharakat akhirkasrah.
  • Jar/khafdhadalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan kasrah atau pengganti kasrah, yang akan dijelaskan pada pembahasan masalah i’rab (perubahan akhir suatu kata), insya Allah.
  • Bisa dimasuki/didahului hurufjar (huruf yang menyebabkan suatu isim berharakat akhir kasrahatau pengganti kasrah). Huruf-huruf jar itu di antaranya (البَاءُ), (مِنْ), (إِلىَ), (عَلَى), (فِي), dan lain-lain.

Contoh:

Keterangan:

Kata-kata di atas, yaitu (زَيْدٍ), (اْلَبيْتِ), (اْلمَسْجِدِ), (الْمَكْتَبِ), ( الْحَمَّامِ), semuanya berharakat akhir kasrah(ــِـ) karena didahului oleh huruf-huruf jar.

  • Bisa dimasuki/didahului hurufnida’ (panggilan).

Contoh:

Keterangan:

Kata (مُحَمَّدُ) dan (رَجُلُ) tidak bertanwin karena berkaitan dengan salah satu hukum isim yang terletak di belakang huruf nida’. Akan datang penjelasannya pada pelajaran-pelajaran selanjutnya,insya Allah.

  • Bisa disambung/disandarkan denganisim lain yang diakhiri jar (kasrah atau pengganti kasrah)pada isim

Contoh:

Keterangan:

  • Kata-kata (مُحَمَّدٍ), (الْمُدِيْرِ), dan (الْمَسْجِدِ) semuanya berharakat akhirkasrah.
  • Pada contoh (سَيَّارَةُ الْمُدِيْرِ), (سَيَّارَةُ) disebutmudhaf dan (الْمُدِيْرِ) disebut mudhaf ilaihi. Demikian pula pada contoh lainnya. Akan datang penjelasannya pada pelajaran-pelajaran berikutnya,insya Allah.
  • Bisa menerima hurufalif lam (ال).

Contoh:

Keterangan:

  • Setelahisim menerima alif lam (ال), tanwin (ــٌـ) pada isim dihilangkan dan diganti dengan harakat biasa, yaitu dhammah (ــُـ), seperti pada contoh-contoh di
  • Sebelum menerimaalif lam (ال), isim disebut isim nakirah (umum/tidak tertentu), sedangkan setelah menerima alif lam (ال), disebut isim ma’rifah (sudah dikenal/tertentu).
  • Alif lam (ال) yang masuk kepadaisim terbagi menjadi dua: alif lam syamsiyah (الشَّمْسِيَّةُ) dan alif lam qamariyah (الْقَمَرِيَّةُ).
  • (الشَّمْسِيَّةُ) adalahalif lam yang apabila masuk pada isim-isim yang dimulai dengan huruf-huruf tertentu, alif lam tersebut tidak terbacatetapi melebur dengan huruf tersebut. Contoh: (الشَّمْسُ).
  • (الْقَمَرِيَّةُ) adalahalif lam yang apabila masuk pada isim-isim yang dimulai dengan huruf-huruf tertentu pula, alif lam tersebut tetap terbaca. Contoh: (الْقَمَرُ).

Berikut perincian huruf-huruf الْقَمَرِيَّةُ dan huruf الشَّمْسِيَّةُ beserta contohnya.

Alhamdulillah, Pembaca—rahimakumullah, dari pembahasan di atas kita telah mengenal tanda-tanda isim. Apabila suatu kata menerima satu tanda saja dari tanda-tanda tersebut, bisa dikatakan bahwa kata tersebut adalah isim.

Ringkasan:

  • Kata (الْكَلِمَةُ) dalam bahasa Arab terbagi menjadi tiga (3), yaituisim (اِسْمٌ), fi’il (فِعْلٌ), dan huruf(حَرْفٌ).
  • Isimdapat dikenali dengan tanda-tanda:
  • Bisa menerima tanwin: قَلَمٌ, بَيْتٌ, رَجُلٌ
  • Bisa menerimajar: (بِسْمِ اللهِ الَّرَحْمنِ الَّرَحِيْمِ)
  • Bisa dimasuki/didahului dengan hurufjar: عَلَى اْلمَكْتَبِ, اِلىَ اْلمَسْجِدِ, مِنَ اْلبَيْتِ
  • Bisa dimasuki/didahului dengan hurufnida’ (panggilan) : يَا رَجُلُ, يَا مُحَمَّدُ
  • Bisa disambung/disandarkan denganisim yang lain: قَلَمُ مُحَمَّدٍ,الْمُدِيْرِ سَيَارَةُ
  • Bisa menerimaalif lam (ال) : الْقَلَمُ, الْبَيْتُ, الرَّجُلُ
  • Alif lam (ال) yang masuk padaisim terbagi menjadi dua: alif lam syamsiyah (الشَّمْسِيَّةُ) dan alif lam qamariyah (الْقَمَرِيَّةُ).

Kantong Kosakataku

Alhamdulillah, Pembaca, kita mulai mengenal kata-kata baru dari ketiga jenis kata dalam pelajaran kali ini. Rajin-rajinlah dan teruslah bersemangat menuntut ilmu!

Latihan (تَمْرِيْنٌ)

Tentukanlah isim pada kalimat-kalimat berikut ini dengan menyebutkan tandanya, barakallahu fikum!

الْحَمْدُ لِلهِ، وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Al Jamaah

kewajiban berjamaah

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اَلْجَمَاعَةُcerita-langit-dan-bumi

AL JAMA’AH

 

  1. TA’RIF JAMA’AH
  2. Secara Bahasa

الْجَمَـاعَةُ هِىَ الاِجْتِمَـاعُ وَ ضِدُّهـَا التَّفرُّقُ

Secara bahasa kata Al Jamaah terambil dari kata Al Ijtima’(perkumpulan) lawan kata dari At Tafarruq (perpecahan) [1]

الْجَمَـاعَةُ هِىَ الاِجْتِمَـاع وَ ضِدُّهـَا الفِرْقَـةُ

Secara bahasa kata Al Jamaah terambil dari kata Al Ijtima'(perkumpulan), dan lawan kata dari Al Firqoh (Golongan) [2]

 

  1. Secara Istilah

وَ الْجَمَـاعَةُ طَائِفَةٌ مِنَ النَّـاسِ يَجْمَعُهَـا عَرْضٌ وَاحِدٌ

Al Jamaah  bermakna : Sekelompok Manusia yang berkumpul dalam satu tujuan [3]

 

  1. Secar Syara’

Ma’na syar’an   Al Jama’ah adalah sebagaimana yang diberikan olehAhlul ‘Ilmiy, akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam memberikan definisi-nya. Sedang maksud definisi yang mereka berikan adalah definisi untuk makna Al-Jama’ah dalam artiJama’atul-Muslimin, bukan yang lain. Paling tidak ada 5 makna menurut mereka, yaitu :

  1. Jama’ah adalah sawadul a’dhom(jumlah yang terbesar / mayoritas) dari kaum muslimin yang terdiri dari  para mujtahid ummat, ulama’-ulama-nya, para ahli syari’ah dan ummat yang mengikuti mereka. Selain mereka yang disebutkan di atas (yang keluar dari jamaah) adalah Ahlul Bid’ah.
  2. Jama’ah adalah jama’ah-nya para aimmah mujtahidin dariahli fiqh, ahli hadits dan ahli ilmu.Dan barangsiapa yang keluar dari mereka maka ia mati seperti dalam keadaan Jahiliyyah. Karena ulama’ adalah hujjah Allah atas seluruh ummat manusia.
  3. Jama’ah adalah parashahabat radliyallaahu ‘anhum saja. Yang maksud dari luzumul-Jama’ah disini adalah meng-iltizamidan mengikuti petunjuk apa saja yang ada pada mereka. Karena merekalah penegak  pilar-pilar Ad-Dien dan mereka mustahil bersepakat dalam kesesatan.
  4. Jama’ah adalah jama’ah orang-orang Islam apabila mereka berkumpul (sepakat) dalam satu masalah, yang wajib bagi yang lain mengikuti mereka.

Dari empat pendapat pertama ini dapat disimpulkan yaitu bahwa makna luzumul Jama’ah adalah : Mengikuti Ahlul Ilmy dalam Al haq dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Makna inilah yang dimaksud dengan jama’ah ahlil Ilmi dan ulama’ mujtahidin dari kalangan Ahlus-Sunnah. Merekalah Al Firqoh An Najiyah yang semua orang wajib mengikuti mereka dalam ‘aqidah dan manhaj-manhajnya.[4]

  1. Jama’ah adalah Jama’atul Muslimin apabila mereka berkumpul (sepakat) pada satu imam. Maka Rosululahshalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan untuk mengiltizami-nya dan melarang dari memecah belah ummat terhadap apa yang mereka sepakati.[5]

 

  1. MASYRU’IYYAH AL JAMAAH

 

Allah ‘Azza wa Jalla dan Rosul-Nya dalam kitab-Nya dan sunnah rosul-Nya telah menyuruh ummat manusia agar hidup ber-jamaah, berkumpul, saling membantu, saling meringankan dan melarang dari berpecah belah, bercerai berai, juga saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Banyak Nash-nash Al Quranul Karim dan Hadits Rosulullahshalallahu ‘alaihi wa salam yang mengisyaratkan akan hal itu, diantaranya :

 

  1. Firman Allah Azza wa Jalla :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ { ال عمران  103}

Ibnu Katsir dalam tafsir Al Quran Al ‘Adhim-nya menyebutkan tentang maksud ayat di atas yaitu perintah untuk berpegang teguh dengan Al Quran, berjamaah serta menggalang persatuan dan bersatu, serta larangan untuk bercerai berai, Beliau menambahkan lagi dengan menyitir hadits dari Abi Huroiroh, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَ يَسْخَطُ لَكُمْ  ثَلاَثاً : يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَ لاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَ أَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَ لاَ تَفَرَّقُوْا وَ أَنْ تَنَـاصَحُوْا مَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكُمْ , وَ يَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثًا : قِيْل وَقَالَ , وَكَثْرَةَ السُّوأَلِ وَ إِضَاعَةَ الْمَـالِ {رواه  مسلم }

Sesungguhnya Allah ridho kepada kalian akan 3 hal dan marah akan 3 hal juga. Ia ridho kepada kalian akan hal ; bahwa kalian beribadah kepada-Nya saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, agar kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan jang bercerai berai, dan agar kalian saling menasehati orang yang oleh Allah ditaqdirkan memegang urusanmu. Dan Ia marah kepada kalian akan hal ; Banyak bicara tanpa tahu sumber dari yang dibicarakan, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta. (HR Muslim) [6]

 

 

  1. Firman Allah Ta’ala :

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلاَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ { ال عمران 105}

Ibnu Katsir berkata, “Allah Ta’ala melarang ummat ini seperti umat yang terdahulu yang berpecah belah, berselisih, meninggalkan amar ma;ruf nahi mungkar, serta tidak berani berhujjah terhadap kaum mereka.” Lalu beliau menyitir hadits iftiroq yang di dalamnya hanya ada satu golongan yang masuk jannah, yaitu Al-jamaah  [7]

 

  1. Sabda Rasululloh shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

إِنَّ اَهْلَ الْكتِاَبَىْ افْتَرَقُوْا فِى دِيْنِهِمْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ إِنَّ هَذِهِ الْاُمَّةِ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٌ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً (يَعْنِى الاَهْوَاء) كُلُّهَا فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةً وَ هِىَ الْجَمَاعَةُ { احمد و ابو داود و الحاكم عن معاوية }

Sesungguhnya dua Ahlul Kitab berpecah belah dalam dien mereka menjadi 72 golongan, dan sungguh ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan    -yaitu ahlul ahwa’-    kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah. (Abu Dawud, Ahmad, Hakim dll hadits dari Mu’awiyah dan Anas radliyallaahu ‘anhu)[8]

 

  1. Sabda Rasululloh shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

وَ إِنَّ بَنِى إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِىْ عَلَى ثَلاَثٌ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةٌ . قَالُوْا : وَ مَنْ هِىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟  قَالَ : مَا اَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِى { الترمذى و الحاكم و غيرهما عن عبد الله بن عمروا بن العاص }

“Dan sesungguhnya Bani Isroil terpecah menjadi 72 golongan, dan ummat-ku akan terpecah menjadi 73 golongan yang seluruhnya akan masuk neraka kecuali satu golongan saja”. Para shahabat bertanya, “Siapakah mereka itu ya Rosulullah ?”, Rasulullah bersabda,”Yaitu yang aku dan para shahabatku ada pada mereka “. (HR Tirmidziy, Hakim dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash)

 

 

  1. Sabda Rasulullahshallallaahu ‘alayhi wa sallam :

تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَـامَهُـْم { البخـارى و مسلم }

Ber-iltizam-lah pada Jama’atul Muslimin dan Imam mereka (Al-Bukhoriy dan  Muslim)

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

عَلَيْكُمْ بِالْجَماَعَةِ وَ إِيَّاكُمْ وَ الْفُرْقَةَ فَاِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَ هُوَ مِنَ الْاِثْنَيْنِ اَبْعَدُ , مَنْ اَرَادَ بُحْبُحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزِمِ الْجَمَاعَةَ { رواه الترميذى و الحاكم و احمد ووافقه الذهبى و ابن ابى عاصم }

“Aku perintahkan kepada kalian agar berjama’ah dan jauhilah berfirqoh, maka sesungguhnya syaithon itu bersama seorang yang sendirian dan ia dari dua orang lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan tengah-tengahnya (mewahnya) jannah, maka hendaklah ia ber-iltizam kepada Jama’ah ” (Tirmidzi, Hakim, Ahmad dan disepakati Adz Dzahabiy dan Ibnu Abi ‘Ashim)

 

  1. Sabda Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam:

اَمَرَكُمْ بِخَمْسٍ مَا اَمَرَنِىَ اللهُ بِهِنَّ بِالْجَمَاعَةِ وَ السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ الْهِجْرَةِ وَ الْجِهَادِ فِى سَبِيْلِ اللهِ فَاِنَّهُ مَنْ خَرَجَ عَنِ الْجَمَاعَةِ قَيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الاِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ اِلاَّ اَنْ يَرْجِعَ { احمد والبيهقي 4/320و 202, 5/344, رجاله الصحيح خلا واحد و هو الثقة }

Aku perintahkan kepada kalian 5 (lima) perkara, yang mana Allah perintahkan hal itu kepadaku, (yaitu agar kalian) berjama’ah, mendengar, tha’at, hijroh dan berjihad di jalan Allah. Karena sesungguhnya barang siapa yang keluar dari jama’ah (Jama’atul-muslimin) sejengkal saja, maka ia telah melepas ikatan Islam dari lehernya, kecuali jika ia kembali.[9]  (Ahmad dan Baihaqi, 4/230,202,5/344, Rijal-nya shohih kecuali satu, tsiqoh.)

 

 III.   HAKEKAT AL JAMA’AH

 

Kalimat Al-Jama’ah tidak satupun yang terdapat dalam Al-Qur’an Al Karim, namun banyak sekali terdapat dalam As Sunnah. Dan setiap lafadh jama’ah dalam sunnah pasti diikuti dengan larangan berpecah-belah baik secara tersirat maupun tersurat.

Namun seluruh kata Al Jama’ah dan Al Bai’ah yang terdapat dalam hadits-hadits Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa salam adalah bermakna dan mengacu kepada Jama’tul Muslimin, dan tidak satupun yang mengacu serta menjadi dalil untuk Jama’atul Minal Muslimin yang  ada sekarang ini.

Hakekat Al Jama’ah terdiri dari dua makna yang berdiri sendiri-sendiri namun saling berkaitan dan sama-sama memiliki kedudukan yang esensial. Yang jika keduanya terkumpul jadi satu maka lengkap dan sempurnalah makna jama’ah dan ia baru bisa disebut sebagai Jama’atul Muslimin.

 

1.1.      MAKNA YANG PERTAMA

 

Makna yang pertama dari makna Jama’ah adalah : Berkumpul (bersepakat) dalam pokok-pokok yang prinsip dalam  Al Quran, As Sunnah dan Ijma’, serta mengikuti apa saja yang terdapat pada para Salafush Sholeh, dari menetapi Al Haq, mengikuti As Sunnah serta menjauhi bid’ah dan hal-hal yang baru, yang di ada-adakan. Dan lawan dari Jama’ah dalam makna ini adalah memecah-belah Ad Dien, dan orang yang menyelisihinya  adalah golongan sesat dan Ahlul Ahwa’.

Diantara nash-nash dalam makna ini adalah, sabda Rasulullahshalallaahu ‘alayhi wa sallam.[10]

إِنَّ اَهْلَ الْكتِاَبَىْ افْتَرَقُوْا فِى دِيْنِهِمْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ إِنَّ هَذِهِ الْاُمَّةِ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٌ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً (يَعْنِى الاَهْوَاء) كُلُّهَا فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةً وَ هِىَ الْجَمَاعَةُ { احمد و ابو داود و الحاكم عن معاوية }

Sesungguhnya dua Ahlul Kitab berpecah belah dalam dien mereka menjadi 72 golongan, dan sungguh ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan    -yaitu ahlul ahwa’-   kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah. (Abu Dawud, Ahmad, Hakim dll hadits dari Mu’awiyah dan Anas radliyallaahu ‘anhu)[11]

لاَ يَحِلُّ دَمَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله وَ اَنِّى رَسُوْلُ اللهِ اِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ , النَّفْسُ بِالنَّفْسِ  وَ الثَّيِّبُ الزَّنِى وَ التَّارِكُ لِدِيْنِهِ وَ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah kecuali dengan salah satu tiga perkara : (yaitu) seorang yang membunuh lalu dibunuh (qishosh), orang yang telah menikah lalu melakukan zina (dirajam) dan orang yang keluar dari diennyua  yang meninggalkan Jamaah (murtad)

الصَّلاَة ُالْمَكْتُوْبَةُ اِلَى الصَّلاَةِ الَّتِى بَعْدَهُا كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا . قَالَ : وَ الْجُمْعَةُ اِلَى الْجُمْعَةِ وَ الشَّهْرُ اِلَى الشَّهْرِ _ يَعْنِى الرَّمَضَان _ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا . قَالَ بَعْدَ ذاَلِكَ : اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ .  قَاَل : فَعَرَفْتُ اَنَّ ذَالِكَ الْاَمْرَ حَدَثٌ . الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَ نَكْثُ الصَّفَقَةِ وَ تَرْكُ السُّنَّةِ . قَالَ : اَمَّا نَكْثُ الصَّفَقَةِ اَنْ تَبَايَعَ رَجُلاٍ ثُمَّ تُخَالَفُ اِلَيْهِ تُقَاتِلُهُ بِسَيْفِكَ وَ اَمَّا تَرْكُ السُّنَّةِ فَالْخُرُوْجُ عَنِ الْجَمَاعَةِ {رواه  احمد }

Sholat wajib yang satu hingga sholat wajib yang lainnya adalah (dapat)  menutupi dosa-dosa (pelakunya) antara keduanya, demikian pula dari bulan ke bulan   -yaitu Ramadhan-   menutupi dosa-dosa antara keduanya.”  Setelah itu beliau bersabda, (berkata Abu Huroyroh, “Aku tahu bahwa urusan itu pasti akan terjadi”) kecuali tiga hal (yaitu) syirik kepada Allah, Nakshush Shafaqoh dan meninggalkan sunnah, adapun Nakshus Shafaqoh adalah kamu baiat seseorang kemudian kamu menyelisihi ia, kamu perangi dia dengan pedang (senjatamu) sedang meninggalkan sunnah adalah keluar dari jamaah”.[12]

Hal ini juga dikuatkan oleh perkataan para Ahlul-‘Ilmiy, diantaranya :

الْجَمَاعَةُ مَا وَفَقَ الْحَقَّ وَ لَوْ كُنْتَ وَحْدَكَ وَ ِفى طَرِيْقٍ اَخَرٍ : الْجَمَاعَةُ مَا وَ فَقَ طَاعَةَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

Berkata Ibnu Mas’ud , “Jama’ah adalah yang sesuai dengan Al Haq walaupun keadaan kamu sendirian”. dalam riwayat lain, “Sesungguhnya Jama’ah itu apa saja yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla”. [13]

قَالَ اَبُوْ شَامَة : حَيْثُ جَاءَ الْاَمْرُ بِلُزُوْمِ الْجَمَاعَةَ , فَالْمُرَادُ بِهِ لُزُوْمُ الْحَقِّ وَ اِتْبَاعُهُ , وَ اِنْ كَانَ الْمُتَمَسِّكُ بِالْحَقِّ قَلِيْلاً , وَالْمُخَالِفُ لَهُ كَثِيْرًا لِأَنَّ الْحَقَّ الَّذِىْ كَانَتْ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ الاُوْلَى مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ اَصْحَابِهِ وَ لاَ يَنْظُرُ اِلَى كَثْرَةِ أَ هْلِ الْبَاطِلِ بَعْدَهُمْ { الباعث لابى شامة }

Berkata Abu Syamah, “Sebagaimana perintah untuk berjama’ah, maka yang dimaksud dengannya adalah meng-iltizami Al-Haq dan mengikutinya, walaupun orang yang berpegang teguh padanya sedikit dan yang menyelisihi banyak jumlahnya. Karena Al-Haq adalah yang ada pada jama’ah yang pertama yaitu Nabishallallaahu ‘alayhi wa sallam dan para shahabatnya, dan tidak diukur dari banyaknya ahlul bathil setelah mereka”  [14]

Dan hal ini yang dikatakan pula oleh Abdullah bin Mubarok, ketika ditanya tentang siapa jama’ah yang pantas dijadikan panutan, beliau menjawab, “Abu Bakar dan Umar” dan ketika dikatakan mereka telah wafat, “Lalu siapakah yang masih hidup ?” Beliau menjawab, “Abu Hamzah As-Sakriy”. Beliau menunjuk Abu Hamzah As Sakry di zamannya karena beliau seorang Ahli Ilmu, zuhud dan waro’.

Berkata Ishaq bin Rohuyyah :

اِنَّ الْجَمَاعَةَ عَالِمٌ مُتَمَسِّكُ بِاَثَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ طَرِيْقَتِهِ فَمَنْ كَانَ مَعَهُ وَ تَبِعَهُ فَهُوَ الْجَمَاعَةُ

“Jama’ah adalah orang yang mengetahui dan berpegang teguh pada sunnah Nabi dan  manhaj-manhajnya, maka barang siapa yang bersama Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan mengikutinya maka ia adalah Jama’ah “. [15]

Maka jelaslah bahwa luzumul-Jama’ah dalam makna ini adalah masuk segi ‘ilmiy-nya, yaitu meng-iltizami Al-Haq, mengikuti sunnah, mengikuti apa saja yang ada pada Salafush Sholihdari hal-hal yang dasar dan prinsip seperti masalah aqidah (i’tiqod), syariah, halal, haram, wala’, dan juga keharusan menjauhi ahlul ahwa’ dan ahlul bid’ah yang termasuk didalamnya firqoh sesat. Lawan dari jama’ah dalam pengertian ini adalah berpecah belah dalam dien. Dan orang yang menyelisihinya adalah bid’ah dan sesat walaupun ia beriltizam pada Imam dan membaiatnya. [16]

Dan kumpulan orang yang selalu berpegang teguh kepada Al-Haq ini akan tetap ada sampai hari Qiyamat, berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ قَا ئِمَةٌ بِأَمْرِاللهِ لاَيَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْخَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْ تِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ عَلَى النَّاسِ {رواه  البخاري }

“Tetap akan ada sekelompok orang dari ummat-ku yang berpegang (berdiri) di atas perintah Allah (al-haq) yang mereka tidak mendapatkan madhorot dari orang-orang yang menghinakan atau menyelisihi mereka hingga datang ketetapan (keputusan) Allah, sedangkan mereka tetap menang (unggul) di atas manusia. (HR Al-Bukhoriy)

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَيَضُرُّهُمْ مَنِ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْ تِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ  عَلَى ذَالِكَ  {رواه مسلم }

“Tetap akan ada sekelompok orang dari ummat-ku yang tetap berada (konsisten) di atas al-haq, mereka tidak mendapatkan madhorot dari orang-orang yang menghinakan mereka hingga datang keputusan Allah sedang mereka tetap dalam keadaan demikian. (HR Muslim)

 

1.2.      KETENTUAN BAGI YANG KELUAR DARI JAMA’AH BERDASARKAN RUANG LINGKUP INI

  1. Barangsiapa yang keluar berkaitan dengan nash-nash dasar dan men-takwil-kannya, namun masih mengimani baik secara dhohir maupun bathin dan masih menetapinya secara global , maka takwilan-nya yang keliru tersebut tidak mengeluarkan darimillah, akan tetapi memasukkan ia kedalam golongan Ahlu Bid’ahyang berbeda tingkatannya menurut kesalahan dan ketidak hati-hatiannya. Kecuali jika ada di antara mereka ke-munafiq-an di dalam hatinya, maka ia kafir pada hakekatnya.

Bagi mereka berlaku hadits yang pertama (yang menyebutkan kelompok-kelompok), dan bagi mereka yang bukan munafiq namun masih beriman kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya, maka ia tidaklah kafir namun hanya salah dalam takwil.[17]

Sebagai contoh adalah golongan Khowarij yang mereka betul-betul nyata ke-bid’ah-annya, memerangi ummat Islam serta mengkafirkannya, namun tidak satupun para shohabat baik Aliradliyallaahu ‘anhu maupun yang lain yang mengkafirkan mereka, namun mereka dihukumi orang-orang muslim yang dholim dan mufsid.

  1. Barangsiapa yang keluar dari jamaah dengan menolak nash-nash tanpa mentakwilkannya  atau mentakwilkannya dengan tujuan mengingkari apa yang ia ketahui dari dien, atau menghalalkan sesuatu yang kaum muslimin telah sepakat keharamannya dan sebaliknya, seperti yang dilakukan oleh salah satu golongan Syi’ah yaitu Qoromithoh, maka pernyataannya tersebut menyebabkan mereka murtad, setidak-tidaknyanifaq akbar, itupun juga menyebabkan mereka murtad dan meninggalkan Jama’atul Muslimin.

Bagi mereka berlaku hadits yang kedua, “Meninggalkan diennya memecah belah Jama’ah”.  Maka tidak diragukan lagi setiap yang meninggalkan diennya berarti ia meninggalkan Jama’ah, karena ia telah memecah belah terhadap apa yang  telah menjadi kesepakatan dalam Islam. [18]

 

2.1.      MAKNA YANG KEDUA

Dalam makna yang kedua ini, jama’ah adalah berkumpulnya ummat di bawah seorang Imam dan mentaatinya. Jama’ah dalam makna ini adalah lawan dari Al-Baghyu (pemberontakan) serta pemecah belah Islam. Sedang pelakunya diancamakan bughot / ahlul baghyi dan nakitsun (pelanggar / Janji) walau mereka dari Ahlus Sunnah.

Dalil / nash pada makna kedua ini adalah :

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

فَاِنَّهُ مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبرْ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ لَيْسَ اَحَدٌ يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَيَمُوْتُ اِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً { البخارى و مسلم عن ابن عباس }

Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak dia senangi pada diri amir-nya, maka hendaknya ia bersabar terhadapnya, karena sesungguhnya tidak seorangpun yang meninggalkan jama’ah satu jengkal saja kemudian dia mati, maka ia mati seperti mati dalam keadaan Jahiliyyah (Bukhori Muslim dari Ibnu Abas radliyallaahu ‘anhuma) [19]

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ خَرَجَ عَنِ الطَّاعَةِ وَ فَارَقَ الْجَمَاعَةِ فَمَاتَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً {رواه  مسلم عن ابى هريرة }

Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memecah belah / meninggalkan Jama’ah (Jama’atul-Muslimin) kemudian mati, maka ia matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (HR Muslim dari shahabat Abu Huroyroh)

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

فَاِنَّهُ مَنْ رَأَى مِنْ اَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرَ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ لَيْسَ اَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ  اِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً {رواه  البخارى و مسلم عن ابن عباس }

Barang siapa yang melihat pada diri amir-nya sesuatu yang tidak dia senangi maka hendaknya ia bersabar terhadapnya, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun yang keluar dari sulthon (penguasa / negara) sejengkal saja kemudian ia mati dalam keadaan demikian, maka ia tidak mati kecuali matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (Bukhori Muslim dari Ibnu Abbas)

 

 

 

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ اَتَاكُمْ وَ اَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَىرَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ اَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ اَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ  {رواه مسلم}

Siapa yang mendatangi kalian sedang urusan kalian semua berada (kamu serahkan) pada seorang (imam), dan ia mau memecah belah persatuan atau ia hendak mencerai-beraikan jama’ah kalian maka bunuhlah ia “. (HR Muslim) [20]

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

تَلْزِمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَاَمَهُمْ

Dari hadits panjang Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Iltizami-lah Jama’atul Muslimin dan Imam mereka “. (Bukhori I/1480)

عَنْ عُبَادَ بْن الصَّامِت رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: بَايَعْنَا رَسُوْلَ الله عَلَى السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَ مَكْرَهِنَا وَ عُسْرِنَا وَ يُسْرِنَا وَ اَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَ لاَ نُنَازِعَ الاَمْرِ اَهْلَهُ . قَالَ : اِلاَّ أن تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ الله فِيْهِ بُرْهَانٌ

Dari Ubadah bin Shomit ia berkata, “Kami membaiat Rasulullah shalllallaahu ‘alayhi wa sallam atas dasar sam’u dan thoah, baik dalam keadaan senang, susah, lapang maupun sempit, mengutamakan  di atas urusan kami, serta tidak mencabut ke-amir-an dari orang yang diserahinya, kecuali apabila kalian melihat kekafiran yang nyata dan jelas yang kamu memiliki bukti nyata di sisi Allah”. (HR Abu Dawud)

Juga beberapa komentar Ahlul-‘Ilmiy diantaranya :

Imam Ahmad berkata, “(Wajib) mendengar dan taat terhadap Amirul Mukminin  yang baik (al-birr) maupun yang  menyeleweng (al-fajir). dan peperangan harus tetap pada bersama para Imam baik maupun yang fajir tidak ditinggalkan sampai hari kiamat ” [21]

Beliau berkata lagi: “Barangsiapa yang keluar dari Imam kaum muslimin sedangkan seluruh ummat manusia telah sepakat mengangkatnya dalam kekholifahan, baik ridho maupun dengan jalan kudeta, maka sungguh ia telah memecah belah kesatuan kaum muslimin dan menyelisihi As-Sunnah dari Rosulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Apabila ia mati (dan tetap demikian) maka ia mati seperti dalam keadaan Jahiliyyah, karena tidak halal bagi siapa saja yang memerangi Imam dan keluar darinya, sedang barangsiapa yang melakukan hal yang demikian maka ia adalah Ahlul Bid’ah dan meninggalkan sunnah dan jalan (Islam) “. [22]

Al-Bukhory berkata dalam I’tiqod-nya, “Dan tidak mencabut keamiran dari  orang yang diserahi nya”, sebagaimana sabda Nabi :

ثَلاَثٌ لاَ يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ  امْرِئٍ مُسْلِمٍ : اِخْلاَصُ الْعَمَلِ للهِ وَ طَاعَةُ وُلاَةُ الاَمْرِ وَ لُزُوْمُ جَمَاعَتِهِمْ فَاِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

Ada 3 hal yang hati seorang muslim tidak akan terbelenggu (gundah) dengannya : ikhlas beramal karena Allah, mentaati pemimpin, dan ber-iltizam kepada Jama’atul Muslimin, karena sesungguhnya ajakan mereka akan terlindungi di belakang mereka “.

Kemudian beliau kuatkan lagi dengan firman-Nya : [23]

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ { النساء :59}

Hai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rosul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu.

Sehingga dari nash-nash tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian Jama’ah dalam pengertian  ini  adalah masuk segi siyasah-nya yaitu kesepakatan untuk berkumpul pada satu Imam dan menetapi ketaatan terhadapnya selama tidak menyuruh kemaksiyatan kepada Allah, dan tidak keluar darinya kecuali jika terbukti melakukan kufran bawaahan. [24]

 

2.2.      KETENTUAN BAGI YANG KELUAR DARI JAMA’AH BERDASARKAN MAKNA INI

 

  1. Orang yang tidak mau berbai’ah pada Imam, namun mereka bukan golongan Ahlul-Baghyi, Al-Muharribun, juga bukan golongan Murtadun,namun mereka hanya tidak berbaiat kepada Imam Jama’atul- Muslimin saja. Hukum bagi mereka terserah kebijaksanaan  Imam.
  2. Golongan Ahlul Baghyiy(pemberontak), yaitu golongan yang keluar dari Jama’ah dengan jalan kudeta (meminta kekuasaan). Dalam hal ini Al Quran telah memberikan jalan keluar dalam menghadapi fitnah mereka.

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى اْلأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِىءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ { الحجرات 9}

  1. Golongan Al Muharribun(Orang-orang yang diperangi), yaitu golongan yang keluar dari Jama’ah dengan jalan mengacau keamanan, seperti Qoththo’ut-Thoriq (perampok) yang merampas harta, berbuat kerusakan di muka bumi dll. Allah memberikan jalan keluar dalam menghadapi mereka dengan firman-Nya,

إِنَّمَا جَزَاؤُا الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي اْلأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْتُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلاَفٍ أَوْ يُنفَوْا مِنَ اْلأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيُُ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ {المائدة 33}

  1. Golongan Murtaddien, yaitu golongan orang-orang yang keluar dari Jama’ah sedang mereka kafir terhadap Islam, melawan dienul Islam dan bahu membahu bersama musuh Islam. Mereka itulah orang-orang murtad yang telah jelas melepas ikatan Islam dari lehernya. Dan mereka persis seperti orang-orang murtad dimasa kholifah Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu, memecah belah dien dan jelas-jelas memerangi kaum Muslimin. Dan sama seperti orang-orang yang membunuh sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang beliau kirim bersama mereka untuk mengajarkan Al Quran dan Dienul Islam.

 

 

 

 

 

  1. UNSUR-UNSUR JAMAAH

 

  1. Al-Mutho’(orang yang ditaati)

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada-Nya, Rasul-Nya dan Ulil Amri. Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ ف{ النساء :59}

Hai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rosul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu.

Yang dimaksud ulil Amri menurrut Ibnu Katsir : “Yaitu Ulama’, secara pasti wallahu a’lam namun ia bermakna umum pada setiap ulil Amri dari umaro’ (para pemimpin) dan Ulama”. Sedang dalam hadits disebutkan :

قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ اَطَاعَنِى فَقَطْ اَطَاعَ الله وَ مَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى الله وَ مَنْ اَطَاعَ الاَمِيْر فَقَدْ اَطَاعَنِى وَ مَنْ عَصَى الاَمِيْرِ فَقَدْ عَصَانِى { متفق عليه }

“Barang siapa yang mentaatiku maka ia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka sungguh ia telah durhaka kepada Allah. Dan barangsiapa yang mentaati amirku maka ia telah mentaatiku, namun barangsiapa yang durhaka pada amirku, sungguh ia telah durhaka kepadaku”. (muttafaqun ‘Alaih dari Abi Huroiroh)

Hadits inilah yang dengan jelas memerintahkan untuk taat pada para ulama’ dan umaro’. Sehingga Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa memerintahkan untuk taat kepada-Nya dalam artian mengikuti Al Qur’an, taat kepada Rosul-Nya yaitu mengikuti Sunnahnya dan tetap taat kepada ulil amri selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Dalam hadits lain disebutkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قاَلَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : إِسْمَعُوْا وَ أَطِيْعُوْا وَ إِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيْبَةٌ { رواه البخارى }

Dengar dan taatlah kalian semua walaupun yang memerintah (yang memimpin) kalian seorang budak Habsyi (Ethiopia) yang kepalanya seakan-akan seperti anggur kering / kismis (Bukhori, Ahmad dan Ibnu Majah) [25]

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan, “Ro’suhu Zabibah” adalah perumpamaan pada kerendahan (hinanya), jelek bentuk (tubuh-wajah)-nya, dan ia (masuk orang-orang yang) tidak diperhitungkan [26]

Dalam hadits lain disebutkan ;

عَنْ عُبَادَ ةَ بْن الصَّامِت رَضِىَ الله عَنْهُ : بَايَعْنَا رَسُوْلَ الله عَلَى السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَ مَكْرهِنَا وَ عُسْرِنَا وَ يُسْرِنَا وَ اَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَ لاَ نُنَازِع الاَمْرِ اَهْلَهُ . قَالَ : اِلاَّ أن تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ الله فِيْهِ بُرْهَان

Dari Ubadah bin Shomit radliyallaahu ‘anhu ia berkata, “Kami berbaiat kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam untuk mendengar dan taat, baik kami dalam keadaan senang maupun susah, lapang maupun sempit, mengutamakan diatas urusan kami, serta tidak mencabut keamiran dari orang yang diserahi, kecuali apabila kalian melihat kufran bawaahan (kekafiran yang  jelas) yang kamu memiliki bukti nyata di sisi Allah”. (HR Abu Dawud)

Al Khithobi berkata , “Bawaahan dalam kufrun bawaahan adalah yang tersebar dan nyata. [27]  Sedang ‘indakum minallahi fihi burhan, menurut Ibnu Hajar yaitu nash ayat atau berita yang benar dan tidak memerlukan pentakwilan.” [28]

Menurut Dr. Muhammad Abdul Qodir Abu Faris bahwa ketaatan pada amir adalah wajib, namun tidak mutlak kecuali apabila ada 3 syarat dan ketentuannya. Maka apabila ketiganya terpenuhi ketaatan tetap wajib dan menjadi mutlak, yaitu :

  1. Amir dalam menjalankan tugasnya harus berdasarkan kepada Al Quran dan As Sunah serta meng-aplikasikan dalam kehidupan. Dalam Al Quran disebutkan ;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ ف{ النساء :59}

Hai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rosul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu.

Ali bin Abi Tholib radliyallaahu ‘anhu  berkata “Wajib bagi Imam untuk menghukumi dengan hukum yang Allah turunkan dan melaksanakan amanat maka jika ia melaksanakan yang demikian wajib bagi rakyat untuk sam’u wa tho’ah.” (Diriwayatkan oleh Abu Ubaid Al Qosim bin Salam).[29]

  1. Amir dalam menghukumi diantara manusia harus adil, maka jika ia berbuat adil harus ditaati. Namun jika mendholimi (dholim), berbuat aniaya, bertindak sewenang-wenang, menindas, maka tidak wajib taat padanya.

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا {النساء :58}

Sesungguhnya Allah  menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran  yang sebaik-baiknnya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

  1. Amir tidak menyuruh manusia kepada kemaksiatan, maka jika ia menyuruh kepada kemaksiatan wajib tidak taat kepadanya. Berdasarkan hadits nabi :

السَّمْعُ وَ الطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمِعْصِبَّةٍ { رواه البخارى و مسلم }

Adalah menjadi keharusan (kewajiban) bagi seorang muslim untuk sam’u dan thoa’ah baik terhadap apa yang ia senangi atau apa yang ia benci selama tidak diperintah untuk berbuat ma’shiyat. (HR Al-Bukhoriy dan Muslim)

اِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوْفِ { احمد و البخارى و مسلم }

Ketaatan itu hanya pada hal-hal yang ma’ruf (HR Ahmad, Bukhori dan Muslim)

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَّةِ اللهِ { رواه  احمد }

Tidak ada ketaatan dalam hal bermaksiyat kepada Allah (HR Ahmad)  [30]

  1. Al-Muthi’(orang yang mentaati)

 

Tidak mungkin adanya suatu ketaatan dan orang-orang yang ditaati dapat tegak dan berjalan tanpa adanya unsur ini. Dan para ulama salaf telah sepakat seperti Muhammad bin Ka’ab dan Zaid bin Aslam bahwa ayat 58 surat An Nisa’ adalah berkaitan dengan para umaro’ agar mereka adil dalam penerapan hukum [31] Allah berfirman :

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا {النساء :58}

Sesungguhnya Allah  menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran  yang sebaik-baiknnya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Di sini ada hak-hak muthi’ yang harus dipenuhi oleh mutho’, seperti harus melindungi, menjaga, membela, bersikap ramah, dll. Demikian pula dengan muthi’ kepada mutho’ ; mendoakan, menghormati, membela, mendukung, menjaga, menjaga nama baiknya, keluarganya, dan hartanya. Yang ada timbal balik positif antara keduanya dan terus menjaganya serta menutup rapat-rapat lobang-lobang perpecahan dan hal-hal negatif.

 

  1. Ath-Tho’ah (Ketaatan)

 

Ketaatan merupakan penyangga / pengokoh dari beberapa penyangga suatu hukum dalam Islam, dan merupakan dasar dari pelbagai dasar sistem politik Islam. Karenanya tidak mungkin adanya suatu sistem / peraturan yang baik, negara yang kuat dan kokoh, tanpa adanya pemimpin, penguasa yang adil, kethaatan dari rakyat kepadanya dan saling musyawarah antara pemimpin dan rakyat. Betul-lah Umar bin Khoththob radliyallaahu ‘anhu dalam perkataannya :

اِنَّهُ لاَ اِسْلاَمَ اِلاَّ بِجَمَاعَةٍ وَ لاَ جَمَاعَةَ اِلاَّ بِإِمَارَةٍ وَ لاَ اِمَارَةَ اِلاَّ بِطَاعَةٍ {رواه الدارمى }

Sesungguhnya tidak Islam kecuali dengan jama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan imaroh, serta tidak ada imaroh kecuali dengan ketaatan.”

Karena sesungguhnya Islam bukan dien perorangan, Akan tetapi Islam adalah dien Jama’iy, dan Islam belum menjadi kenyataan yang sesungguhnya, dalam arti kata tegak dan eshtablishhukum-hukumnya, kecuali dengan adanya Jama’atul Muslimin. Sedangkan jama’ah dan orang-orangnya tidak akan mungkin dapat hidup tegak kecuali dengan adanya ikatan, peraturan dan loyal kepada pimpinan. Dan semuanya itu tidak mungkin dapat berjalan kecuali mutlak diperlukan ketaatan. [32]

 

  1. ANCAMAN BAGI YANG TIDAK BERJAMA’AH TATKALA JAMA’ATUL MUSLIMIN TEGAK.

 

Orang yang tidak berjama’ah sewaktu tegaknya Jama’tul-Muslimin, maka secara otomatis ia terkena ancaman Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa haditsnya, karena ber-iltizamkepada Jama’tul Muslimin pada waktu ini adalah wajib, Diantaranya :

مَنْ خَرَجَ عَنِ الطَّاعَةِ وَ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً        { مسلم عن ابى هريرة }

Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan memecah belah / meninggalkan Jama’ah (Muslimin) kemudian mati, maka ia matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (Muslim)

فَاِنَّهُ مَنْ رَأَى مِنْ اَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ لَيْسَ اَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ  اِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً { البخارى و مسلم عن ابن عباس }

Barangsiapa yang mendapatkan pada diri amirnya sesuatu yang ia tidak senangi maka hendaknya ia bersabar terhadapnya, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun yang keluar dari sulthon (penguasa / negara) sejengkal saja kemudian ia mati dalam keadaaan demikian, maka ia tidak mati kecuali matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (Bukhori Muslim dari Ibnu Abbas)

مَنْ اَتَاكُمْ وَ اَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَىرَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ اَن يَشُقَّ عَصَاكُمْ اَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ

Barangsiapa yang mendatangi kalian dan ia mau memecah belah persatuan atau ia hendak mencerai-beraikan jama’ah kalian sedang urusan kalian semua berada (kamu serahkan) pada seorang (imam), maka bunuhlah ia “. (HR Muslim)[33]

Maksud dari “Mata miitatan Jaahiliyyah” adalah perumpamaanahlul jahiliyyah bahwa mereka tidak memiliki Imam, bukan mati kafir.

Imam An-Nawawiy berkata, “Maksud dari   ماتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً  barangsiapa yang keluar dari Jama’ah Muslimin, maka ia mati seperti dalam keadaan jahiliyyah, mim pada mitatan adalah kasroh yang artinya sifat matinya berada dalam keadaan kosong tidak memiliki seorang Imam. [34]

Ibnu Hajar berkata, “Maksud dari kata miitatan Jahiliyyatan adalah kasroh-nya mim, yaitu keadaan matinya seperti ahlul jahiliyyah di atas kesesatan dan tidak mempunyai Imam yang ditaati. Dan bukanlah yang dimaksud dengannya adalah mati kafir akan tetapi mati dalam kemaksiatan. Dan dikuatkan lagi dengan hadits lain bahwa maknanya adalah perumpamaan (At Tasybih)

مَنْ فَرَقَ عَنِ الْجَمَاعَةِ شِبْرًا فَكَاَنَّمَا خَلَعَ رِبْقَةَ الإسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ

Barangsiapa yang keluar dari jama’ah sejengkal saja, maka seakan ia telah melepas ikatan Islam dari lehernya. (At-Tirmidziy, Al Bazzar, Ath-Thobroni dan Ibnu Khuzaimah).[35]

Begitu pula dengan pendapat Imam Asy-Syaukaniy beliau berkata, “Maksud dari mitatan Jaahiliyyatan adalah tasybih (perumpaman) bukan suatu hukum.” [36]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. KEADAAN (HAL) AL FIRQOH AN NAJIYYAH (AHLUS SUNNAH) DAN BEBERAPA KETENTUANNYA

 

  1. Adanya Imam Syar’i, dan Imam ini adalah Imam Ahlus Sunnah, mengikuti manhaj Ahlus Sunnah dan meng-iltizaminya, berdakwah kepadanya, mengancam siapa saja yang menyelisihinya dan ia memerangi Ahlul Ahwa’ wal-Bida’

Ini adalah masa khulafaurrosyidin, yang waktu itu telah menjadi satu makna yang terdapat dalam jamaah, baik segi ‘ilmy maupun siyasinya. Dan ini adalah keadaan tertinggi yang setiap muslim merindukannya   -juga pada masa sekarang ini-   apabila dapat ter-realisasi-kan pada ummat.

Dan dalam keadaan seperti ini wajib bagi setiap muslim untuk meng-iltizami jama’ah dan ta’at pada imam dan apa yang diserukan.

  1. Adanya imam, tetapi imam ini imam ahlul bid’ah, tidak meng-iltizami manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, akan tetapi ia telah mencampur-adukkan manhaj ahlu bid’ah. Namun di kalangan ummat masih terdapat kelompok atau jama’ah atau kumpulan -kumpulan yang berbeda tempat, yang mereka mempunyai suara yang didengar dalam da’wahnya menuju manhaj ahlus sunnah, dan mereka berpegang teguh dengannya, mendakwahkannya, serta sabar dalam dakwahnya terhadap apa yang mereka dapati dari ujian dan cobaan.

Masa ini adalah seperti dimasa Kholifah Al Makmun, yang mengambil madzhab/manhaj Mu’tazilah, mengharuskan ummat untuk mengikuti madzhabnya dan menguji mereka yang menolak. Al Makmun adalah imam bid’ah, tetapi dimasanya juga terdapat kelompok ahlus sunnah yang menolak kebid’ahan, menetapi manhaj ahlus sunnah, serta tidak menta’ati kholifah dalam hal-hal yang ia serukan seperti i’tizal (untuk menetapiMadzhab Mu’tazilah)

Dalam keadaan seperti ini kewajiban seorang muslim ada dua, yaitu :

  1. Tetap iltizam pada imam dan ia tidak keluar darinya walaupun ia fasiq    -seperti inilah madzhab ahlus sunnah-  akan tetapi wajib tidak mentaatinya dalam hal-hal kemaksiyatan kepada Allah yang ia serukan. Karena amir wajib di-taati selama tidak maksiyat kepada Allah
  2. Wajib baginya meng-iltizami manhaj ahlus sunnah wal-jama’ah, bergabung dan menetapi mereka yang menyeru kepada ahli sunnah. hal ini seperti yang diperintahkan Rasulullah kepadaHudzaifah Ibnul-Yaman:

تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ اِمَـامَهُـْم { البخـارى }

Wajib bagi kamu ber-iltizam pada Jama’atul Muslimin dan imam mereka.

  1. Tidak adanya imam syar’i, baik imam yang adil maupun yang fajir. Hal ini seperti yang terdapat pada beberapa masa runtuhnya Islam yang pernah dilalui umat Islam. Namun demikian masih tetap ada kelompok Ahlus Sunnah wal Jama’ah, baik individu atau beberapa kelompok.

Maka dalam hal ini wajib bagi setiap muslim untuk meng-iltizami kumpulan ini, menyeru kepada Allah bersama mereka, dan mereka agar berjuang bersama-samam dalam menegakkan kewajibannya yaitu Iqomatud Din dan dakwah kepada Manhaj Ahlus Sunnah

Dan disinilah berlaku hadits Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada Hudzaifah, “Wajib bagi kamu meng-iltizami Jama’atul Muslimin dan imam mereka.” berkata Hudzaifah, “Seandainya tidak ada Jama’ah dan imam bagaimana?” Abdul Hadi Al Mishriy berkata, “Kesimpulannya bahwa itu apabila ada bagi kaum muslimin Jama’ah namun tidak adanya Imam Syar’iy, maka tetap wajib bagi mereka ber-iltizam kepada jama’ah (kumpulan) ini “. [37]

  1. Tidak adanya imam syar’iybagi kaum Muslimin dan kumpulan yang menyeru kepada manhaj ahlus sunnah. Dan inilah yang terjadi pada hari-hari terjadinya fitnah yang besar di beberapa negeri, sehingga kaum muslimin yang ber-iltizam padamanhaj ahlus sunnah asing / aneh sekali, tidak didapati orang yang menolong dan melindungi mereka kecuali ahlul bid’ah juga.

Maka dalam keadaan seperti ini wajib bagi setiap muslim mencari kumpulan orang yang mengiltizami manhaj ahlus sunnah. Namun apabila ia sudah berusaha mencarinya tetapi ia tidak mendapatkannya, maka hendaknya ia menyeru kepada Al-Haq dan mengembangkan seperti kumpulan ini, karena para salaf sendiri menyeru orang lain di beberapa negeri menuju ahlus sunnah dan mendirikan jama’ah.

Hal ini seperti yang pernah dikatakan oleh Asad ibnu Musa (wafat tahun 212 H) dalam suratnya kepada Asad bin Al Furot (wafat tahun 213 H)

” … dan berilah kabar gembira, wahai saudaraku dengan pahalanya, dan biasakanlah untuk melaksanakan sebaik-baik kebaikan yang ada pada dirimu dari sholat, shoum, haji dan jihad. Dan dimanakah letaknya amalan-amalan ini dari menegakkan kitab Allah dan menghidupkan sunnah Rosul-Nya ?” (kemudian beliau menyebutkan beberapa hadits tentang dakwah dan menghidupkan sunnah, lalu beliau lanjutkan). “Maka jagalah (ambillah faedahnya) ia dan berdakwahlah menuju sunnah hingga dengannya engkau mempunyai persatuan dan jama’ah, yang mereka menggantikan tempat / kedudukanmu apabila terjadi sesuatu denganmu, sehingga akan terdapat para aimmah setelahmu dan engkau akan mendapatkan pahalanya hingga hari Qiyamat, sebagaimana yang terdapat dalam atsar, beramallah berdasarkan atas bashiroh (ilmu dan keyakinan), niat serta hisbah (amar ma’ruf nahi mungkar).” [38]

Dan apabila seorang muslim tidak mendapatkan suatu Jama’ah (kumpulan) dan belum mendapati orang lain yang menyerunya, maka tidak boleh baginya condong kepada seseorang dari ahlul bid’ah. Akan tetapi hendaknya ia mengasingkan diri (i’tizal) sampai Allah menentukan apa yang ia kehendaki, atau sampai mati sedang ia tetap dalam i’tizal-nya. [39]

 

VII. JAMA’ATU MINAL MUSLIMIN

 

Rosululllah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda dalam Hadits Hudzaifah :

عَنْ حُذَيْفَةِ بْنِ الْيَمَنِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةً اَنْ يُدْرِكَنِىْ فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ كُنَّا فِى جَاهِلِيَّةٍ وَ شَرٍّ فَجَاءَ نَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنَ الشَّرِّ . قَالَ : نَعَمْ , قُلْتُ : وَ هَلْ بَعْدَ ذاَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ ؟ قَالَ : نَعَمْ , وَ فِيْهِ دَخَنٌ , قُلْتُ : وَ مَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ : قَوْمٌ يَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِى  تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَ تُنْكِرُ . قُلْتُ : فَهَلْ بَعْدَ ذَالِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟  قَالَ : نَعَمْ , دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ اِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا , قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا , قَالَ : هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَْسِنَتِنَا . قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِى إِنْ أَْرَكَنِى ذَالِكَ ؟ قَالَ : تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ ِإمَـامَهُـمْ . قَلْتُ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعُضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَالِكَ { البخـارى }

Dari Hudzaifah bin Yaman radliyallaahu ‘anhu ia berkata, “orang-orang bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tentang kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena aku takut masuk kedalamnya” Aku bertanya, “Wahai Rosulullah, dahulu kami berada dalam kejahiliyyahan dan kejahatan, lalu Allah berikan kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”. Beliau menjawab, “Ya ada”.  “Lalu apakah setelah ada keburukan ada kebaikan lagi ?” Beliau menjawab, “Ya ada tetapi ada dakhon-nya/kekeruhan (kerusakan dan ikhtilaf)”. Lalu apakah dakhon itu ya Rosulullah ?”. “Yaitu orang-orang yang memberi petunjuk bukan dengan petunjuk-ku,  kamu tahu mereka tetapi kamu ingkari”. “Lalu setelah kebaikan itu adakah keburukan lagi ?”, “Ya ada, yaitu penyeru-penyeru (du’at) yang menyeru di pintu Jahannam, barangsiapa yang menerima ajakan mereka maka akan mereka lemparkan kedalamnya”. “Ya Rosulullah, tunjukkanlah kepada kami ciri-ciri mereka”. “Mereka (dari golongan yang) berkulit sama dengan kita dan bicara sama dengan (bahasa) kita pula”. “Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku Ya Rosulullah apabila kau mendapati mereka ?” “Ber-iltizam-lah dengan Jama’atul-Muslimin dan Imam mereka (Jama’atul-muslimin)”. “Lalu bagaimana kalau tidak ada Jama’ah dan Imamnya ?”, ” Tinggalkanlah (asingkanlah dirimu dari)  golongan-golongan yang ada seluruhnya, walaupun kau harus menggigit pangkal pohon, hingga kamu mati (itu lebih baik bagimu) sedang kamu dalam keadaan demikian. (Bukhori I/1480)

Hadits ini sering digunakan orang dalam mewajibkan ummat agar ber-iltizam pada Jama’atul Muslimin. Memang sabda Rosulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam tersebut agar kita ber-iltizam kepada Jama’atul Muslimin, bukan dalil untuk ber-iltizam pada Jama’ah minal Muslimin seperti yang disangka beberapa orang sehingga pemahaman seperti ini keliru. Juga ada sebagian orang yang mengharamkan (mem-bid’ah-kan) berdirinya jama’ah-jama’ah minal  muslimin yang mereka anggap firqoh-firqoh sesat yang dilarang oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sehingga pemahaman seperti ini pula harus diluruskan. Maka perlu kita ketahui beberapa pengertian berikut :

  1. Maksud dari sabda beliau

تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَـامَهُـمْ { البخـارى }

Maksud dari Jama’atul Muslimin dan Imamnya adalah Imam Jama’atul Muslimin, bukan Jama’ah minal Muslimin dan bukan Imam Jama’ah minal Muslimin pula.

Sedang Jama’atul Muslimin adalah Khilafah Islamiyah yang tercakup didalamnya seluruh kaum Muslimin, yang dikepalai oleh seorang Imam / Kholifah yang memberlakukan hukum-hukum Allah, yang wajib bagi semua orang menta’atinya dan memberikan akad perjanjian (bai’ah) dan mendukungnya. Dan dalam artian lain Jama’atul Muslimin adalah apabila te-realisasi dan tergabungnya makna Ilmiy dan Siyasiy.[40]

 

  1. Maksud dari sabda beliau

فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا

adalah I’tizal (mengasingkan diri) dari golongan-golongan sesat, yaitu golongan-golongan yang mengajak kepada kesesatan, baik yang terhimpun diatas kemungkaran dari perkataan atau perbuatan, maupun diatas hawa nafsu. Atau terhimpun berdasarkan pemikiran kafir seperti sosialis, Komunis, Demokrasi, Kapitalis dan Lain-lain. Juga terhimpun berdasar satu daerah, suku, madzhab dll.

Imam An-Nawawiy berkata :

قَالَ الْعُلَمَاءُ : هَؤُلاَءِ مَنْ كَانَ مِنَ الْأُمَرَاءِ يَدْعُوْا إِلىَ بِدْعَةٍ أَْضَلاَلٍ كَالْخَوَارِجِ وَالْقَرَامِطَةِ وَأَصْحَابِ الْمِحْنَةِ

Para Ulama’ mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah : “para umaro’ yang menyeru kepada  kebid’ahan atau kesesatan seperti Khowarij, Qoromithoh dan Ash-habul-Mihnah (Mu’tazilah)” [41]

Ibnu Hajar berkata :

وَالَّذِى يَظْهَرُ أَنَّ الْمُرَدَ بِالشَّرِّ الأَوَّلِ مَا أَشَرَ إِلَيْهِ مِنَ الْفِتَنِ الأُوْلَى ( الْفِتَنُ الَّتِى وَقَعَتْ بَعْدَ عُثْمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ) وَ الدُّعَاةُ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ قَامَ فِي طَلَبِ الْمُلْكِ كَالْخَوَارِجِ وَغَيْرِهِمْ

Dan yang nampak (jelas) akan maksud syarrul-awwal (kejelekan yang pertama) adalah yang di-indikasi-kan sejak terjadinya fitnah yang pertama (fitnah yang terjadi sejak syahid-nya shahabat ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu) dan adanya du’at yang menyeru di atas pintu Jahannam, yaitu dari orang-orang yang meminta kekuasaan (kudeta) seperti golongan Khowarij dan lainnya.[42]

Merekalah golongan sesat yang kita perintahkan untuk menjauhinya, karena mereka yang mengajak manusia menuju ke Jahannam. Dan bagi siapa saja yang mengikuti seruan mereka akan dilemparkan kedalamnya, sebagaimana hadits Hudzaifah diatas.[43]

  1. Maksud dari sabda beliau :

وَ لَوْ اَنْ تَعُضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ

Maksud hadits ini bukan dilihat dari segi dhohirnya, yaitu berpegang pada pangkal pohon, namun maknanya adalah berpegang teguh dan sabar diatas Al-Haq, dan mengasingkan diri (meninggalkan) dari golongan-golongan sesat.[44]  Dalam arti yang lebih luas mendakwahkannya dan memperjuangkannya, jika kondisi masih memungkinkan.

Maka karena pada masa kita sekarang ini tidak ada Jama’atul Muslimin, yang wajib bagi kita ber-iltizam padanya terhitung sejak tahun 1924 pada saat runtuhnya Khilafah Islamiyah dari tangan Bani Utsmaniyah-maka konsekwensi kita adalah kembali pada qoidah ahlus sunnah wal jamaa’ah (lihat bahasan Jama’atul Muslimin) yaitu,menyeru kepada Al-Haq dan Manhaj Ahlus Sunnah serta mendirikan Jama’ah, hingga terwujudnya Jama’atul Muslimin dan Imam Syar’iy bagi mereka.

Karena sesungguhnya masalah Jama’atul Muslimin pada umumya adalah masalah terpenting setelah iman kepada Allah dan Rosul-Nya. Memang betul sekarang ada beberapa Jama’atun minal Muslimin tetapi tidak seyogyaya para anggotanya menganggap bahwa ia Jama’atul Muslimin, sebelum terpenuhi syarat-syarat Jama’atul Muslimin. Maka amal Jama’iy dalam usaha mendirikan Khilafah Islamiyyah adalah kebutuhan yang sangat mendesak dan sangat urgen. [45]

 

 

 

 

 

  1. YANG MENDASARI BERDIRINYA  JAMA’ATUN MINAL MUSLIMIN

 

Memang  para Salaf ummat ini tidak ada yang hidup di masa Jama’atul Muslimin sirna dan  hilang dari muka bumi ini,  mereka hidup tatkala Jama’atul Muslimin tegak, kaum muslimin betul-betul bersatu dan memiliki ‘izzah, dan mereka tidak pernah merasakan adanya  Jama’atu  Minal Muslimin  seperti sekarang ini. Sehingga memang  tidak kita dapatkan nash-nash yang shorih  (jelas)  yang menunjukkan  perintah  untuk ber-iltizam pada Jama’atu minal Muslimin dan membenarkan  eksistensinya.

Jama’ah dalam arti suatu perkumpulan merupakan suatu hal yang  fitriy yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun  juga, sebabthobi’ah fitri-nya  manusia  adalah berjama’ah. Demikian pula dengan Jama’atu minal Muslimin yang pada masa sekarang ini sudah wujud ,  tidak  bisa dipungkiri keberadaannya, dan kita tidak dapat lari darinya.

Sehingga Jama’ah minal Muslimin yang ada dimasa sekarang ini, dapat dibenarkan  keberadaannya jika memang ia sebagai Jama’ah Da’wah,  menuju dan bertujuan  menegakkan  Jama’atul Muslimin yang sekarang sirna dari muka bumi ini. Sedang dasar yang membolehkan dan membenarkan (baca: me-masyru’-kan) Jama’atu minal Muslimin yang memang sudah wujud dan tidak bisa dielakkan lagi adalah :

 

  1. Berdasar Qoidah Ushuliyah  :

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ  فَهُوَ وَاجِبٌ

“Sesuatu yang tidak akan sempurna sesuatu kewajiban kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi wajib”.

Sedang masalah yang kita hadapi sekarang ini adalah masalahIqomatudin (Iqoomatul-Khilafah) yang begitu besar dan sangat penting pada masa sekarang ini, jelas diperlukan suatu sarana, yang seluruh sarana yang mengacu  dan membantu terwujudnya iqomatuddin hingga tegaknya Khilafah Islamiyyah di muka bumi ini, hukumnya wajib diadakan hingga terwujudnya tujuan yang sedang kita usahakan tersebut.

Dan salah satu sarana yang sangat penting adalah berupa wadah bagi orang-orang yang sadar akan Iqomatuddin, yang mutlaq diperlukan seorang amir sebagai pemimpin agar wadah (organisasi / Jama’ah) tersebut terorganisir,  rapi, dan tetap berada diatas Al Haq.

Ini semua mutlak diperlukan suatu ketaatan dari orang-orang dalam wadah tersebut kepada pemimpinnya, namun ketaatan tidak akan terwujud dengan baik dan optimal kecuali apabila ada ikatan perjanjian yang kuat diantara mereka.

 

  1. Berdasar perintah Allah Ta’ala agar kita berta’awun dalam birr dan taqwa, Firman-Nya :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ { المائدة 2}

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla  dan Rosul-Nya memerintahkan untuk berjama’ah  dan bersatu, melarang dari berfirqoh dan berpecah belah, serta memerintahkan untuk berta’awun dalam birr dan taqwa. dan melarang dari ber-ta’awun dalam itsmiy dan ‘udwan.”[46]  Perintah Allah Ta’ala dalam ayat ini adalah bersifat umum, meliputi seluruhta’awun dalam birr dan taqwa sekecil apapun bentuknya,  asalkan hal itu adalah hal yang birr dan menuju pada ketaqwaan maka hal itu diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla. Lalu apa pendapat kita jika dalam masalah ta’awun dalam birr dan taqwa ini adalah masalah yang begitu  agung dan urgen yaitu masalah Iqomatuddin ?  

  1. Qiyas dari hadits Amir Safar, yaitu  perintah mengangkat amir dalam safar

اِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَالْيُؤَمِّرُوْا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ { ابو داود باسناد حسن }

“Apabila ada 3 orang dalam safar maka hendaknya mereka mengangkat amir (pimpinan) salah satu di antara mereka “. (Abu Dawud dengan Isnad Hasan)[47]

عَنْ عُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ : إِذَا كَانَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ ذَالِكَ أَمِيْرٌ أَمَرَهُ رَسُوْ ُل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ { الحاكم وصحّحه وأقرّه الذهبى }

Dari ‘Umar bin Al-Khoththob berkata, “Jika ada tiga orang hendaknya mengangkat salah seorang sebagai amir”[48]

Amir tersebut (di atas) adalah amir yang dilaksanakan atas perintah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. (HR Al-Hakim, dan diakui keshohihannya oleh Adz-Dzahabiy)

Juga tatkala sahabat radliyallaahu ‘anhum berpisah disuatu tempat, bersabda Rosulullah kepada mereka,

اِنَّ تَفَرُّقَكُمْ هَذَا فِى الشِّعَابِ مِنَ الشَّيْطَانِ

” Sesungguhnya terpencarnya kalian ini berada dalam lembah dari Syaithon “.

لاَ يَحِلَّ لِثَلاَثَةِ نَفَرٍ يَكُوْنُوْنَ بِأَرْضِ فُلاَةٍ  إِلاَّ أَمَّرُوْا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ {رواه أحمد عن ابن عمر }

Tidak halal bagi tiga orang berada dalam satu tempat dari belahan bumi, kecuali harus dipimpin salah seorang diantara mereka “. (Ahmad dari Ibnu ‘Umar)

Dan kalau ini hanya masalah furu’ yaitu masalah safar, makaapalagi apabila yang kita pikirkan adalah masalah Iqomatuddin,yang kita berusaha menegakkannya, memuliakannya, serta menyingkirkan hal-hal  yang menghalanginya, sementara lautan kerusakan telah meluap dan mayoritas moral manusia sudah menyimpang dari Al Haq ?[49]   Tentunya ia lebih masyru’ dalam Islam.

Sedangkan Ibnu Taimiyyah melihat akan pentingnya masalah amir safar ini berkata, “Apabila telah diwajibkan mengangkat seorang amir dalam perkumpulan dan masyarakat yang  paling kecil dan bersifat sementara (dalam safar), maka ini menunjukkan lebih wajibnya mengangkat amir dalam skala yang lebih besar darinya.”[50]

Jadi keberadaan Jama’ah minal Muslimin yang ada pada masa sekarang ini adalah sebagai Jama’ah Da’wah dan ia sebagai sarana untuk menuju dan menegakkan Jama’tul Muslimin yang sekarang hilang dan lenyap di tengah-tengah kaum Muslimin, yang hal ini jelas-jelas di-syareat-kan oleh Islam dengan dalil diatas !

Lalu apakah dalam hati kita tidak terdetik untuk sama-sama berjuang dengan bergabung dengan satu Jama’ah minal Muslimin yang ada, untuk menegakkan Jama’atul Muslimin yang kita cita-citakan, dibawah komando dan pimpinan salah seorang diantara mereka agar gerak dan langkah kita tetap terorganisir rapi dan tetap berjalan diatas rel Al haq. Tentunya itu semua lebih baik dari pada kita berdakwah sendirian tanpa teman dan pimpinan yang akan selalu menjaga dan menegur kesalahan-kesalahan fikroh, sikap dan langkah kita, yang tentunya hal ini lebih baik daripada kita berda’wah sendirian dan jelas kita tidak akan mampu menegakkan Khilafah Islamiyyah seorang diri !  Apalagi  -sekali lagi-  Islam menganjurkan dan mengharuskan ummatnya hidup berjama’ah, sebab berjama’ah lebih baik dan lebih dianjurkan Islam daripada kita hidup sendirian tanpa teman dan pimpinan.

 

  1. JALAN BAGI UMAT INI

 

Karena Jama’tul Muslimin pada masa sekarang ini belum tegak, maka segala usaha untuk mendirikannya kembali adalah kewajiban ummat pada zaman ini. Diantara thoriqoh yang harus ditempuh oleh ummat ini menurut Dr Sholah Showi adalah :

  1. Menunjuk beberapa orang sholeh diantara kaum mukminin untuk dijadikan dan didudukkan sebagai Ahlul Hally wal ‘Aqdi guna melaksanakan  amanat-amanat kepemimpinan dan mendirikan Jama’ah, serta memperbaharui apa saja yang tercerai berai diatara mereka.

Sedang yang dimaksud dengan Ahlul Halli wal ‘Aqdiy adalah : Ahlul ‘Ilmi dan Ahlul Qudroh, sebagai syaratnya :  al-‘adalah, selamat dari cacat, mempunyai kapabilitas (kemampuan) dan ilmu yang memadai

  1. Hendaklah Ahlul Halli wal ‘Aqdi bersatu dalam satu kalimat antara anggota dan pimpinannya. Atau paling tidak diantara para pemimpinnya.
  2. Hendaknya ummat mempercayakan segala urusannya kepada Jama’ah ini, ber-iltizam kepadanya dengan mentaatinya  selama tidak maksiyat. [51]

 

 

 

 

  1. BEBERAPA SYARAT PENTING YANG HARUS DIPENUHI OLEH SUATU PERKUMPULAN (JAMA’AH)

 

Tidak diperselisihkan lagi bahwa berkumpul dan mengadakan perjanjian dalam kebaikan serta menetapi keta’atan bagi yang merealisasikannya selama tidak maksiyat ; adalah disyariatkan oleh Islam, yaitu dengan syarat sebagai berikut ;

  1. Tidak ber-tahazzub(bergolong-golongan) atau mendasarkan diri pada suatu asas yang menyelisihi Ahlus-Sunnah wal-Jamaa’ah, atau berada pada asas ke-bid’ahan yang banyak, karena jika tidak, maka kelompok (golongan) ini termasuk golongan yang sesat.
  2. Bergabung dengan Jama’atul-Muslimin jika ada, dengan tidak bermaksud , melawan Jama’atul-Muslimin, melepas bai’atnya dan mencopot ke-imam-annya. Maka jika tidak mereka termasuk golongan Ahlul-Baghyi.
  3. Tidak mendasarkan al-wala’ wal-baro’ pada asas-asas yang di-nisbah-kan hanya kepada perkumpulannya (jama’ahnya), karena dasar-dasar al-wala’ wal-baro’ adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah yang tergambar pada Manhaj Nubuwah, bukan yang lain.[52]

 

  1. BEBERAPA KRITERIA JAMA’AH MINAL MUSLIMIN YANG PANTAS DI-ILTIZAMI

 

Maka jika sudah jelas akan urgensi Jama’ah minal Muslimin, sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bergabung dan memilih dari Jama’ah-Jama’ah minal Muslimin yang ada pada zaman ini di seantero dunia. Yang ia pandang lebih dekat kepada ridlo Allah ‘Azza wa Jalla, Lebih dekat kepada sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lebih banyak manfaatnya untuk kepentingan diennya dan kaum muslimin, dan lebih banyak kebenaranya dalam iqomatudin. Maka sepantasnyalah ia intima’, ber-ta’awun dengan yang lain hingga tegaknya khilafah.

Beberapa kriteria Jama’ah Minal Muslimin yang pantas kita beriltizam kepadanya :

  1. Jama’ah yang berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah serta Ijma’ dan selalu kembali kepada ketiganya  dalam setiap permasalahan.
  2. Jama’ah yang benar Aqidahnyasesuai dengan pemahaman Salafush-Sholehbaik secara global maupun terperinci.
  3. Jama’ah yang bertujuan mencapai ridho Allah dengan jalan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla dan mengikuti Rosulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam
  4. Jama’ah yang lengkap tashowwur(wawasan)-nya dan jernih pemahamannya, yaitu pemahaman Islam secara syumul sebagaimana yang difahami oleh ulama’ yang tsiqqoh yang mengikuti sunnah Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah para Khulafaur Rosyidin radliyallaahu ‘anhum yang mendapat petunjuk.
  5. Jama’ah yang ber-tasabuq(ber-lomba) dalam membawa amanah dakwah dan jihad, dengan tujuan mengembalikan peribadatan manusia hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja dan menegakkan Khilafah Islamiyyah di atas Manhaj Nabawiy
  6. Jama’ah yang hanya berwala’ kepada Allah, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman serta berbaro’ terhadap musuh-musuh Islam dari orang-orang dholim, kafir, musyrik dan lain-lainnya.
  7. Jama’ah yang ke-Islam-nya sudah teruji dan berani bersikap tegas terhadap kaum musyrikin.
  8. Jama’ah yang menjauhi segala bentuk kebid’ahan dan menyeru kepada At Tauhid[53]
  9. Jama’ah yang menjaga ukhuwwah dan kesatuan jama’ah-nya tanpa ta’ashshub dan melakukan tansiq dengan Jama’ah minal Muslimin yang lain yang memiliki tujuan, ‘aqidah dan pemahaman yang sama.
  10. Jama’ah yang membangun pemahaman yang benar tentang Jama’tul Muslimin, yang dalam usaha menegakkanya dengan jalan dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fie sabilillah, serta berbekal ilmu dan taqwa, yakin dan  tawakal, syukur dan shabar, zuhud terhadap dunia dan mengutamakan akherat, serta bekal-bekal pemahaman dan sikap yang lain yang diperlukan bagi suatu kelompok yang ingin menegakkan dien dengan thoriqoh jihad.
  11. Jama’ah yang aktivitasnya meliputi seluruh segi / aspek dalam Islam.
  12. Jama’ah yang mampu menyatukan kesemuanya ini dalam keseimbangan, yang intinya dapat menjaga Sunnah dan Jama’ah, satu ghoyah, satu ‘aqidah, satu royah, satu fikroh dan jauh dari kebid’ahan

.

  1. BEBERAPA FAEDAH JAMA’AH MINAL MUSLIMIN

 

  1. Dengannya jihad menjadi mungkin untuk dapat ditegakkan.
  2. Jama’ah merupakan kekuatan bagi kaum Muslimin
  3. Menanggulangi kesulitan dalam melaksanakan  Al Haq
  4. Mengharap diterimanya amal sholeh dan mengharap ampunan apabila melakukan  kesalahan
  5. Meng-aplikasikan Al Wala’ kepada kaum muslimin.[54]

 

 

 

 

  1. AKIBAT BAGI MEREKA YANG TIDAK BERGABUNG DENGAN SALAH SATU JAMA’ATUN MINAL MUSLIMIN

 

Maka bagi seorang Muslim yang  pada masa sekarang ini tidak bergabung dengan Jama’atul minal Muslimin yang ada, sulit menjaga ke-istiqomah-an ‘amaliyah yaumiyah  dan kemungkinan melakukan ma’shiyat lebih besar daripada mereka yang bergabung, sebab ia tidak memiliki teman dan pimpinan yang akan selalu menasehati dan memperingatkan apabila ia salah dan ma’shiyat. Mereka juga sulit untuk membangun rasa percaya diri, tanggung jawab, kedewasaan, kebersamaan, ukhuwwah dan lain sebagainya,karena semua itu bukan hanya ilmu tetapi membutuhkan tajribaat.

Jama’ah, walaupun belum ideal (masih dalam taraf Jama’tul minal Muslimin) tetap memberikan suatu kelebihan bagi yang bergabung dengannya, baik dari segi pengalaman, ujian yang akan semakin membuatnya sabar dan istiqomah, ukhuwwah, dapat merasakan manis pahitnya saling memberi dan menerima dengan saudara seiman, dan berbagai kenikmatan dan pengalaman iman yang lain yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang terlibat dalam aktivitasnya secara langsung.

Wallahu A’lamu Bish Showab

 

 

 

 

 

 

 

[1]. Lisanul Arob Al Muhith Ibnu Mandhur

[2]. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, III/157

[3]. Al Mu’jamul Wasith , I/135

[4] . Jama’atul-Muslimin, mafhumuha wa kaifiyatu luzuumuha, Dr Sholah Showiy.

[5] . Al-I’tishom, Asy-Syatibi, II : 260-266.

[6] . Tafsir Ibnu Katsir I/516-517

[7] . Ibid I : 518

[8] . di-shohih-kan Al-Baniy dalam ta’liq Syarh ‘Aqidah Thohawiyah 578

[9] .Jama’atul Muslimin, Mafhumuha wa Kaifiyatu luzumiha, Dr Sholah Showy hal. 110-111.

[10] . Jamaa’atul- Muslimin, Mafhumuhaa wa kaifiyatu luzuumuhaa, Dr Sholah Showiy.

[11] . di-shohih-kan Al-Baniy dalam ta’liq Syarh ‘Aqidah Thohawiyah 578

[12] .  Ahmad 3/229.

[13] . Syarh I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Al Alkay, 1 : 69-70

[14] . Ibid. No 3 dan Ats Tsawabit Dr. Sholah Showy, 225

[15] . Al I’tishom As Satiby, 2/267

[16] . Ats Tsawabith Wal Mutaghoyirot, Dr Sholah Showi, 225

[17] . Op. Cit no. 3

[18] . Jama’atul Muslimin, Dr. Sholah SHowy, 11-16

[19] . Fathul Bari, Ibnu Hajar 13/121, Muslim Syarh Nawawi 12/240.

[20] . Syarh An-Nawawy 12/242.

[21] . Syarh I’tiqod Ahlus Sunnah Al Alkay, I/160 diambil dari Ats Tsawabith wal-mutaghoyiroot, Dr. Sholah Showi, hal. 225-226

[22] . Ibid. I/161

[23] . Op. Cit I/167-168

[24] .  Ibid (20)

[25] . Tafsir Ibnu Katsir I/687-689

[26] . Fathul Bari, Ibnu Hajar 16/240 diambil dari An Nidlom As Siyasi, Dr. Abdul Qodir Abu Faris.

[27] . Ibid 16/241.

[28] . Fathul Bari, Ibnu Hajar  16/113.

[29] . Al Anwar Al Hadits II : 12.

[30] .  An Nidhom As Siyasiy, Dr. Abdul Qodir Abu Faris 71-75 dan lihat tafsir Ibnu Katsir I / 687-689

[31] . Tafsir Ibnu Katsir I : 687-689

[32] . An Nidhom As Siyasi fil Islam, Dr. Muhammad Abdul Qodir Abu Faris, hal 71-75

[33] . Syarh An-Nawawy 12/242)

[34] . Ibid, 12 : 238.

[35] . Fathul Bari, Ibnu Hajar 13 : 7.

[36] . Nailul Author, Syaukany, 7/194, 7/356.

[37] . Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ma’alim Intilaqul Qubro, Abdul Hadi Al Mishry, Hal : 183, Darut Thoyibah Riyadh

[38] .  Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhoh, lihat dalam bukunya Al Bida’ wan-Nahyu ‘Anha, hal 5 -7 tahqiq Muhammad bin Ahmad Dahman diambil dari buku Mu’allimul Intilaqil Qubro, Abdul Hadi Al Misri hal, 183-184)

[39] . Mu’allimul Intilaqil Qubro, Abdul Hadi Al Misri hal, 182-184

[40] . Maday Syar’iyyatul Intima’ Ilal Ahzaab wal Jama’aat Al-Islamiyyah, Dr Sholah Showiy, hal 125

[41] . Shohih Muslim, Syarh An-Nawawiy.

[42] . Fathul-Bariy, XIII / 36

[43] . Al Qoulu Mubin Fie Jama’atil Muslimin, salim Bin ‘Ied Al Hilaly, hal : 51 Darur Royah.

[44] . Ibid, halaman 53, juga dalam Ats-Tsawaabith, Dr Sholah Showiy hal 238.

[45] . Al Bai’ah, Ramly Kaby

[46] . Majumu’ Fatawa 29 : 110.

[47] .Jama’atul-Muslimiin; mafhumuhaa wa kaifiyatu luzuumuha, Dr Sholah Showiy.

[48] . Al-Hakim fil-Mustadrak.

[49] .Jama’atul-Muslimiin, Dr Sholah Showiy, 111dan 114.

[50] . Majmu’ Fatawa, 28 : 65.

[51] . Ats Tsawabith, Dr. Sholah Showi, 123.

[52] . Dr Sholah Showiy, Maday syari’atul-intimaa’ ilaa al-Jama’aat wal-Ahzaab.

[53] . Mitsaqul-’Amal Al-Islamiy, Dr Najih Ibrohim.

[54] . Manhajus Sunah fil-’Alaqoh Bainal Hakim Wal Mahkum, Dr. Yahya Ismail, Hal : 66-93, Darul Wada.

 

Makalah potensi dasar dan tugas manusia

Gambar

 KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kami dalam menyusun dan menyelesaikan makalah ini. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi persyaratan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Selain itu, isi makalah dapat dijadikan sarana dalam memahami apa potensi-potensi dasar manusia dan tugas manusia dalam Islam. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah. Terutama kepada dosen kami Ibu Fitriliza. M.A yang telah memberi kami kesempatan untuk menyusun dan membahas makalah ini. Kami sangat menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna terutama mengenai masalah dalam penyampaian bahasa dan struktur isi makalah ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

· BAB I I. PENDAHULUAN I.1

 Latar Belakang Manusia merupakan makhluk yang paling istimewa yang diciptakan oleh Allah Taala di muka bumi ini. Dalam sudut pandang Islam, manusia mempunyai potensi-potensi dasar yang sangat mendukung dalam kemajuan pendidikan terutama pendidikan Agama Islam. Karena Allah taala telah menciptakan manusia sebagaimana mulianya, maka Allah mempunyai tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri yang sudah terdapat dalilnya di dalam Al-quran. Pada zaman ini realita yang kita dapat adalah manusia banyak yang membuat kerusakan di muka bumi ini. Sebagai contoh adanya bencana banjir, polusi udara dan lainlain. Semua kejadian tersebut ada kaitannya antara potensi dasar manusia, tugas manusia dan pendidikan Islam. Oleh karena itu, materi ini butuh dibahas secara tuntas. I.2 Tujuan Dalam penulisan makalah ini, kami selaku penulis berniat untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang potensi-potensi dasar manusia dan tugas hidup manusia dalam Islam. Sehingga, rekan mahasiswa dapat memahami dengan baik hakekat manusia dalam islam.

 

· BAB II II. PEMBAHASAN II.1

Potensi-Potensi Dasar Manusia dalam Islam Allah menciptakan manusia dengan memberikan kelebihan dan keutamaan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Kelebihan dan keutamaan itu berupa potensi dasar yang disertakan Allah atasnya, baik potensi internal (yang terdapat dalam dirinya) dan potensi eksternal (potensi yang disertakan Allah untuk membimbingnya). Potensi ini adalah modal utama bagi manusia untuk melaksanakn tugas dan memikul tanggung jawabnya. Oleh karena itu, ia harus diolah dan didayagunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga ia dapat menunaikan tugas dan tanggung jawab dengan sempurna. Potensi Internal Ialah potensi yang menyatu dalam diri manusia itu sendiri, terdiri dari : A. Potensi Fitriyah Ditinjau dari beberapa kamus dan pendapat tokoh islam, fitrah mempunyai makna sebagai berikut : 1. Fitrah berasal dari kata (fiil) fathara yang berarti “menjadikan” secara etimologi fitrah berarti kejadian asli, agama, ciptaan, sifat semula jadi, potensi dasar, dan kesucian1 2. Dalam kamus B. Arab Mahmud Yunus, fitrah diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai, kejadian asli.2 3. Dalam kamus Munjid kata fitrah diartikan sebagai agama, sunnah, kejadian, tabiat. 4. Fitrah berarti Tuhur yaitu kesucian3 5. Menurut Ibn Al-Qayyim dan Ibn Katsir, karena fatir artinya menciptakan, maka fitrah artinya keadaan yang dihasilkan dari penciptaannya itu4 1 Hasan Langgulung, Pendidikan dan peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985), h.215 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah Penafsir Al-Qur’an, 1973) h.319 3 Al-Qurthubi, Ibn ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad Anshari, Tafsir Al-Qurthuby (Kairo: Dar al Sa’ab) Juz VI h.5106 4 Muis Said Iman, Pendidikan Partisipatif, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004) h.17 2

 

·  Apabila di interpretasikan lebih lanjut, maka istilah fitrah sebagaimana dalam Ayat Alquran, hadits ataupun pendapat adalah sebagai berikut : 1. Fitrah berarti agama, kejadian. Maksudnya adalah agama Islam ini bersesuaian dengan kejadian manusia. Karena manusia diciptakan untuk melaksanakan agama (beribadah). Hal ini berlandaskan dalil Al-quran surat Adz-Dzariyat (51:56)5 2. Fitrah Allah untuk manusia merupakan potensi dan kreativitas yang dapat dibangun dan membangun, yang memilliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya jauh melampaui kemampuan fisiknya. Maka diperlukan suatu usahausaha yang baik yaitu pendidikan yang dapat memelihara dan mengembangkan fitrah serta pendidikan yang dapat membersihkan jiwa manusia dari syirik, kesesatan dan kegelapan menuju ke arah hidup bahagia yang penuh optimis dan dinamis. Ini sesuai dengan Al-Quran surat Ar-Rum ayat : 30 yaitu : Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui Pada ayat ini Allah telah menciptakan semua makhluknya berdasarkan fitrahnya. Surat ini telah menginspirasikan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan fitrah atau potensi itu dengan baik dan dan lurus.6 3. Fitrah berarti ikhlas. Maksudnya manusia lahir dengan berbagai sifat, salah satunya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Berkaitan dengan makna ini ada hadits yaitu : “Tiga perkara yang menjadikannya selamat adalah ikhlas, berupa fitrah Allah, di mana manusia diciptakan darinya, sholat berupa agama, dan taat berupa benteng penjagaan” (HR. Abu Hamdi dari Muadz) 5 6 Al-Qur’an dan Tafsirnya h.571 Maimunah Hasan, Membangun Kreativitas Anak Secara Islami (Yogyakarta: Bintang cemerlang, 2002) h.9

 

·  Dengan demikian, pada diri manusia sudah melekat (menyatu) satu potensi kebenaran (dinnullah). Kalau ia gunakan potensinya ini, ia akan senantiasa berjalan di atas jalan yang lurus. Karena Allah telah membimbingnya semenjak dalam alam ruh (dalam kandungan). B. Potensi Ruhiyah Ialah potensi yang dilekatkan pada hati nurani untuk membedakan dan memilih jalan yang hak dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan dan jalan menuju kedurhakaan. Bentuk dari roh ini sendiri pada hakikatnya tidak dapat dijelaskan. Potensi ini terdapat pada surat AsySyams ayat 7 yaitu : Artinya : dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) kemudian Asy-Syams ayat 8 : Artinya : maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Di dalam hati setiap manusia telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (kesalahan). Menurut Ibn „Asyur kata „nafs pada surat Asy-Syams ayat ke-7 menunjukan nakiroh maka arti kata tersebut menunjukan nama jenis, yaitu mencakup jati diri seluruh manusia seperti arti kata „nafs pada surat Alinfithar ayat 5 yaitu : Artinya : maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Menurut Al-Qurthubi sebagian ulama mengartikan „nafs adalah nabi Adam namun sebagian lain mengartikan secara umum yaitu jati diri manusia itu sendiri. Pada arti kata „nafs ini terdapat tiga unsur yaitu : a. Qolbu : menurut para ulama salaf adalah nafs yang terletak di jantung b. Domir : bagian yang samar, tersembunyi dan kasat mata c. Fuad : mempunyai manfaat dan fungsi

 

·  Dengan demikian, dalam potensi ruhaniyyah terdapat pertanggungjawaban atas diberinya manusia kekuatan pemikir yang mampu untuk memilih dan mengarahkan potensipotensi fitrah yang dapat berkembang di ladang kebaikan dan ladang keburukan ini. Karena itu, jiwa manusia bebas tetapi bertanggung jawab. Ia adalah kekuatan yang dibebani tugas, dan ia adalah karunia yang dibebani kewajiban. Demikianlah yang dikehendaki Allah secara garis besar terhadap manusia. Segala sesuatu yang sempurna dalam menjalankan peranannya, maka itu adalah implementasi kehendak Allah dan qadar-Nya yang umum.7 C. Potensi Aqliyah Potensi Aqliyah terdiri dari panca indera dan akal pikiran (sama basar, fuad). Dengan potensi ini, manusia dapat membuktikan dengan daya nalar dan ilmiah tentang „kekuasaan Allah. Serta dengan potensi ini ia dapat mempelajari dan memahami dengan benar seluruh hal yang dapat bermanfaat baginya dan tentu harus diterima dan hal yang mudharat baginya tentu harus dihindarkan. Potensi Aliyah juga merupakan potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia agar manusia dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil dan mapu berargumen terhadap pemilihan yang dilakukan oleh potensi ruhiyah. Allah berfirman dalam Al-quran surat An-Nahl ayat 78 : Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. Ayat ini menurut Tafsir Al-maraghi mengandung penjelasan bahwa setelah Allah melahirkan kamu dari perut ibumu, maka Dia menjadikan kamu dapat mengetahui segala 7 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2007) h.377-382

 

·  sesuatu yang sebelumnya tidak kamu ketahui. Dia telah memberikan kepadamu beberapa macam anugerah berikut ini : 1. Akal sebagai alat untuk memahami sesuatu, terutama dengan akal itu kamu dapat membedakan antara yang baik dan jelek, antara yang lurus dan yangs esat, antara yang benar dan yang salah 2. Pendengaran sebagai alat untuk mendengarkan suara, terutama dengan pendengaran itu kamu dapat memahami percakapan diantara kamu 3. Penglihatan sebagai alat untuk melihat segala sesuatu, terutama dengan penglihatan itu kamu dapat mengenal diantara kamu. 4. Perangkat hidup yang lain sehingga kamu dapat mengetahui jalan untuk mencari rizki dan materi lainnya yang kamu butuhkan, bahkan kamu dapat pula meilih mana yang terbaik bagi kamu dan meninggalkan mana yang jelek.8 Menurut An-Nawawi menafsirkan ayat ini bahwa agar kamu (manusia) menggunakan nimat Allah itu untuk kebaikan, maka kamu mendengar akan nasihat Allah, dan melihat tanda-tanda Allah dan memikirkan kebesaran Allah.9 Selain ayat tersebut, surat Al-Israa ayat 36 juga menjelaskan tentang potensi ini yang berbunyi : Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Pada ayat ini Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah janganlah kamu mengatakan bahwa kamu melihatnya, padahal kamu tidak melihatnya, atau kamu katakana kamu mendengarnya padahal kamu tidak mendengrnya, atau kamu katakana bahwa kamu mengetahuinya, padahal kamu tidak mengetahui. Karena sesungguhnya Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal itu secara keseluruhan, sehingga inti dari ayat ini adalah bagaimana kita mengolah potensi yang terdapat dalam ayat ini dengan 8 9 Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi h.118 jilid 5 Syaikh Muhammad An-nawawi, Tafsir An-Nawawi h.461 jilid 1

 

·  sebaik-baiknya karena ketika kita menggunakan potensi ini, maka cara kita menggunakannya akan mendapat pertanggungjawaban kelak di akhirat dan Allah melarang sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang pula mengatakan sesuatu dengan dzan (dugaan) yang bersumber dari sangkaan atau ilusi. Termasuk dalam surat Al-„Araf tentang potensi Aqliyah ini pada ayat 179 yang berbunyi : Artinya: “Dan sesungguhnya telah kami sediakan untuk mereka jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati (tetapi) tidak mereka gunakan memahami, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mereka gunakan untuk melihat dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mereka gunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”. Dalam ayat ini, kekuatan dan kesuksesan bersumber dari-Nya, aktifitas akal dan juga ruh berada di tangan-Nya. Oleh karena itu, manusia tidak dapat menyembunyikan sesuatu apa pun dari-Nya, melainkan dalam setiap kesempatan dan keadaan senantiasa memohon taufik dari-Nya dan menjadikan Allah sebagai penolong-Nya dan tidak mencari penolong selainNya.10 Sehingga dapat kita ketahui bahwa akal merupakan potensi yang besar yang iberikan oleh Allah sehingga kita bisa melaksanakan tugas sebagai ciptan-Nya dengan baik dan benar. D. Potensi Jasmaniyyah Ialah kemampuan tubuh manusia yang telah Allah ciptakan dengan sempurna, baik rupa, kekuatan dan kemampuan. Sebagaimana pada firman Allah Al-Quran surat At-Tin ayat 4 yaitu Artinya : sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya 10 Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur hal.313 jil. 4

 

·  Kata insan dijumpai dalam Al-Quran sebanyak 65 kali. Penekanan kata insan ini adalah lebih mengacu pada peningkatan manusia ke derajat yang dapat memberinya potensi dan kemampuan untuk memangku jabatan khalifah dan meikul tanggung jawab dan amanat manusia di muka bumi, karena sebagai khalifah manusia dibekali dengan berbagai potensi seperti ilmu, persepsi, akal dan nurani. Dengan potensi-potensi ini manusia siap dan mampu menghadapi segala permasalahan sekaligus mengantisipasinya. Di samping itu, manusia juga dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang mulia dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari makhluk lain dengan berbekal potensi-potensi tadi.11 Dan dalam surat ini manusia diberikan oleh Allah potensi jasmani. Potensi ini juga terdapat disurat At-Taghabun ayat 3 yang berbunyi : Artinya: Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak, Dia membentuk rupamu dan membaguskan rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali(mu). Oleh karena itu, patutnya manusia sebagai ciptaan Allah yang sangat mulia dan banyak keutamaan, agar mempergunakan potensi jasmaninya dengan baik sebagai modal utama untuk menjalankan tugas sebagai ciptan-Nya. Potensi Eksternal Disamping potensi internal yang melekat erat pada diri manusia, Allah juga sertakan potensi eksternal sebagai pengarah dan pembimbing potensi-potensi internal itu agar berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tanpa arahan potensi eksternal ini, maka potensi internal tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Potensi eksternal ini dibagi menjadi dua yaitu : A. Potensi Huda Ialah petunjuk Allah yang mempertegas nilai kebenaran yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya untuk membimbing umat manusia ke jalan yang lurus. Allah SWT berfirman pada surat Al-Insaan ayat 3 : 11 Marzuki, Dosen FIS UNY, Makalah tentang Konsep manusia dan agama, h.13

 

·  Artinya : Sesungguhnya Kami telah menunjukinnnya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya Allah, telah menunjuki ke jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Maka dengan bimbingan wahyu-Nya yang disampaikan lewat Nabi Muhammad SAW manusia telah ditunjuki jalan yang lurus dan mana pula jalan yang sesat Allah. Dari perkataan “Sabil” yang terdapat dalam ayat ini tergambar keinginan Allah terhadap manusia yakni membimbing manusia kepada hidayah-Nya sebab Sabil lebih tepat diartikan sebagai petunjuk” dari pada jalan. Hidayah itu berupa dalil-dalil keesaan Allah dan kebangkitan Rasul yang disebutkan dalam kitab suci. Sabil (hidayah) itu dapat Sabil (hidayah) itu dapat ditangkap dengan pendengaran, penglihatan dan pikiran. Tuhan hendak menunjukkan kepada manusia bukti-bukti kewujudan Nya melalui penglihatan terhadap diri (ciptaan) manusia sendiri dan melalui penglihatan terhadap alam semesta, sehingga pikirannya merasa puas untuk mengimani-Nya. Akan tetapi memang sudah merupakan kenyataan bahwa terhadap pemberian Allah itu, sebagian manusia ada yang bersyukur tetapi ada pula yang ingkar (kafir). Tegasnya ada yang menjadi mukmin yang berbahagia, ada pula yang kafir. Dengan sabil itu pula manusia bebas menentukan pilihannya.12 Dan maksud dari ayat ini juga telah dijelaskan bahwasanya kami (Allah) telah menjelaskan kepadanya (manusia) jalan hidayah dengan menutus rasul-rasul kepada manusia (ada yang bersyukur) yaitu menjadi orang mukmin (dan ada pula yang kafir) kedua lafal ini, yakni Syakiraan dan Kafuuran merupakan haal dari maful; yakni Kami telah menjelaskan jalan hidayah kepadanya, baik sewaktu ia dalam keadaan bersyukur atau pun sewaktu ia kafir sesuai dengan kepastian Kami. Sehingga ketika manusia tidak menggunakan potensi eksternal ini yaitu, hidayah dengan baik, maka ia tidak dapat menjalankan tugas sebagai ciptan-Nya dengan baik. Potensi eksternal ini juga terdapat dalam firman Allah surat Al-Baqarah ayat 38 : 12 Al-qur’an dan tafsir Depag Indonesia

 

·  Artinya : “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjukKu kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Pada ayat ini dijelaskan dalam konteks potensi eksternal yaitu, ketika seseorang mengikuti dan menjalankan yaiu petunjuk Allah maka bagi orang tersebut niscaya tidak ada kekhawatiran ataupun kesedihan hati. A. Potensi Alam Alam semesta adalah merupakan potensi eksternal kedua untuk membimbing umat manusia melaksanakan fungsinya. Setiap sisi alam semesta ini merupakan ayat-ayat Allah yang dengannya manusia dapat mencapai kebenaran. Hal ini terdapat dalam firman Allah surat Al-Imraan ayat 190 dan 191 yang berbunyi : Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Pada ayat ini ditafsirkan bahwa memikirkan penciptaan Allah terhadap makhluk-Nya, merenungkan kitab alam-alam semesta yang terbuka, dan merenungkan kekuasaan Allah yang menciptakan dan menggerakan alam semesta ini, merupakan ibadah Allah kepada diantara pokok-pokok ibadah, dan merupakan zikir kepada Allah diantara dzikir-dzikir pokok. Seandainya ilmu-ilmu kealaman yang membicarakan desain alam semesta, undanganundangan dan sunnahnya, kekuatan dan kandungannya, rahasia-rahasianya dan potensipotensinya berhubungan dengan dzikir dan mengingat Pencipta ala mini, dari merasakan keagungan-Nya dan karunia-Nya niscaya seluruh aktifitas kelimuannya itu akan berubah

 

·  menajdi ibadah kepada Sang Pencipta alam semesta ini, akan luruslah kehidupan ini, dan akan terarah kepada Allah Taala13 Pada ayat ini juga ditafsirkan bagaimana Allah Taala tidak menampakkan hakikat alam yang mengesankan keculai pada hati yang selalu berdzikir dan beribadah. Mereka yang selalu ingat kepada Allah pada waktu berdiri, duduk dan berbaring, sembari memikirkan penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam maka, mereka adalah yang terbuka pandangannya terhadap penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang. Dan yang seperti itulah, ketika mereka menggunakan potensi internal (akal dan hati) yang seimbang dengan potensi eksternal yaitu potensi Alam. Ayat lain yang mendukung potensi eksternal ini yaitu surat Al-baqarah ayat 21-22 : Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orangorang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (21) Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui(22) Di dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana Allah memerintahkan beribadah pada hambaNya, dengan menggambarkan latar belakang, seputar penciptaan, fungsi bumi dan langit, kemakmuran akibat yang ditimbulkan bumi dan langit, dan rizki dibalik penciptaan itu. Namun, manusia terhalangi pandangannya sehingga merasa bahwa langit dan bumi seisinya itulah yang bisa diandalkan sebagai tempat berpijak, tempat bergantung dan sumber rizki. Padahal semua itu dari Allah swt. Artinya, Allah Ta’ala-lah yang mengerjakan semua itu, menciptakan semua itu dan memanage semuanya. Berarti tidak benar beribadah, kecuali hanya untukNya dan kepadaNya. Allah-lah yang berhak disembah, sehingga manusia hanya menyembah kepadaNya. Ibadah hanya sah bagi hamba, dan tertuju kepada Pencipta hamba. Karena itu sang hamba harus mengenal Penciptanya, dimana, Allah bertajalli melalui ciptaanNya. Tajallinya Allah 13 Sayyid Authub, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an, (Jakarta, Gema Insani 2006) h. 633

 

·   bukan penyatuan WujudNya dengan wujud makhlukNya yang disebut dengan pantheisme. Tetapi, Tajallinya Allah adalah penampakan yang disaksikan oleh Jiwa Terdalam dari para hambaNya, dan karena itu, seperti dalam hadits, “Siapa yang mengenal jiwanya maka ia mengenal Tuhannya.” Secara lebih jelas, keistimewaan dan kelebihan manusia, diantara-nya berbentuk daya dan bakat sebagai potensi yang memiliki peluang begitu besar untuk dikembangkan. Dalam kaitan dengan pertumbuhan fisiknya, manusia dilengkapi dengan potensi berupa kekuatan fisik, fungsi organ tubuh dan panca indera. Kemudian dari aspek mental, manusia dilengkapi dengan potensi akal, bakat, fantasi maupun gagasan. Potensi ini dapat mengantarkan manusia memiliki peluang untuk bisa menguasai serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sekaligus menempatkannya sebagai makhluk yang berbudaya. Di luar itu manusia juga dilengkapi unsur lain, yaitu kalbu. Dengan kalbunya ini terbuka kemungkinan manusia untuk menjadi dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran ilahi secara spiritual. Sebagai makhluk ciptaan, manusia pada dasarnya telah dilengkapi dengan perangkat yang dibutuhkan untuk menopang tugas tugas pengabdiannya. Sudah cukup persyaratan yang ia miliki, sehingga manusia merupakan makhluk yang „layak mengabdi Perpaduan daya daya tersebut membentuk potensi, yang menjadikan manusia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta mampu meghadapi tantangan yang mengancam kehidupannya. Dengan menggunakan akalnya, manusia dapat berkreasi membuat berbagai peralatan guna mempertahankan diri dari gangguan musuh dan alam lingkungannya. Selain itu manusia juga mampu berinovasi dan berkarya dalam meningkatkan kualitas hiduppnya. Manusiapun dapat mempertahankan kelangsuangan generasinya dari kepunahan, melalui kemampuan nalar dan kreatifitasnya Dr. Abdul Mujib, M.Ag menuturkan potensi-potensi dasar manusia adalah sebagai berikut : 1. Al-Fithrah Fitrah merupakan citra asli manusia yang berpotensi baik atau buruk di mana aktualisasinya tergantung pilihannya. Fitrah baik merupakan citra asli primer sedangkan yang buruk sekunder. Sekalipun potensi fitriyah manusia itu merupakan gambaran asli yang suci,

 

·  bersih, sehat dan baik namun dalam aktualisasi dapat mengaktual dalam bentuk perbuatan buruk, sebab fitrah manusia itu dinamis yang aktualisasinya sangat tergantung keinginan manusia dan lingkungan yang memengaruhinya. 2. Struktur Manusia Struktur manusia terdiri dari enam yaitu jasmani, rohani, nafsani, kalbu, akal, hawa nafsu. I. Ciri-ciri jasmani yaitu : a. Bersifat materi yang tercipta karena adanya proses (tahap) b. Adanya bentuk berupa kadar dan bisa disifati c. Ekstetensinnya menjadi wadah roh d. Terikat oleh ruang dan waktu e. Hanya mampu menangkap yang kongkret bukan yang abstrak f. Substansinya temporer dan hancur setelah mati II. Ciri-ciri rohani yaitu : a. Adanya di alam arwah (immateri) b. Tidak meiliki bentuk, kadar dan tidak bisa disifati c. Ada energy rohaniah yang disebut al-amanah d. Ekstitensi energi rohaniah tertuju pada ibadah e. Tidak terikat oleh ruang dan waktu f. Dapat menangkap beberapa bentuk konkret dan abstrak g. Substansinya abadi tanpa kematian h. Tidak dapat dibagi karena merupakan satu keutuhan III. Ciri-ciri nafsani yaitu : a. Adanya di alam jasad dan rohani terkadang tercipta dengan proses bisa juga tidak b. Antara berbentuk atau tidak c. Memiliki energy rohaniyah dan jismiyyah d. Ekstitensi energy nafsani tergantung ibadah dan gizi (makanan) e. Ekstitensi realisasi atau aktualisasi diri f. Antara terikat atau tidak oleh ruang dan waktu g. Dapat menangkap antara yang konkret dan abstrak h. Antara dapat dibagi-bagi atau tidak

 

·  Ciri-ciri kalbu yaitu : a. Secara jasmaniyyah berkedudukan di jantung b. Daya yang dominan adalah emosi (rasa) a c. Bersifat Dzawqiyyah (cita rasa) dan hadsiyah (intuitif) sifatnya spiritual d. Mengikuti natur roh yang ketuhanan atau ilahiyyah e. Berkedudukan pada alam super sadar atau dasar manusia f. Intinya religiositas, spiritualitas, dan transedensi g. Apabila mendominasi jiwa manusia maka akan menimbulkan kepribadian yang tenang (Nafs Mutmainnah) V. Ciri-ciri akal yaitu : a. Secara Jasmaniyyah berkedudukan di otak (al-dimagh) b. Daya yang dominan adalah kognisi (cipta) sehingga adanya intelektual c. Mengikuti antara natur roh dan jasad d. Potensinya bersifat istidhlaliyyah 9argumentatif) dan aqliyah (logis) yang bersifat rasional e. Berkedudukan pada alam kesadaran manusia f. Intinya isme-isme seperti : humanism, kapitalisme, dan lain-lain. g. Apabila mendominasi jiwa maka akan terwujud jiwa yang labil (Nafs Al-lawwamah) VI. Ciri-ciri hawa nafsu yaitu : a. Secara jasmaniyyah terdapat di perut dan alat kelamin b. Daya yang dominan adalah konarsi (karsa) atau psikomotorik c. Mengikuti natur ajsad yang hayawaniyyah baik jinak maupun buas (bahimiyyah dan subuiyyah) d. Bersifat hisiyyah (indrawi) yang sifatnya empiris e. Kedudukannya terdapat pada alam pra/ bawah sadar manusia f. Intinya adalah produktivitas, kreativitas dan komsumtif g. Apabila mendominasi jiwa maka akan terwujud nafs al-ammarah 3. Al-Hayyah (Vitality) Yaitu merupakan energi, daya, tenaga atau vitalitas manusia yang karenanya manusia dapat bertahan hidup. Al-hayyah dibagi menjadi dua yaittu, nayawa (al-hayya) dan fisik (atthaqat atau al-jismiyyah) sehingga adanya fungsi organ.

 

·  Al-Khuluq Akhlaq yaitu kondisi batiniah (dalam) bukan kondisi lahiriah (luar) individu yang mencakup al-thabu dan a-sajiyyah. 5. Al-Thabu (Tabiat) Citra batin individu yang melekat (al-sukun). Menurut Ikhwan Al-Shafa tabiat adalah daya dari daya nafs kuliyyah yang menggerakan jasad manusia.14 6. Al-Sajiyyah (bakat) Yaitu kebiasaan („aadah) individu yang berasal dari hasil integrasi antara karakter individu (fardiyyah) dengan aktifitas-aktifitas yang diusahakan (Al-Muktasab). Dalam terminology psikologi bakat yaitu akapasitas kemampuan yang bersifat potensial. Bakat ini bersifat karakter (tersembunyi dan bisa berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat diaktualisasikan potensinya. 7. Al-Sifat (sifat-sifat) Ciri khas individu yang relative menetap secara terus-menerus dan konsekuen yang diungkapkan dalam suatu deretan keadaan sifat-sifat totalitas yaitu deferensiasi, regulasi dan integrasi 8. Al-„Amal (perilaku) Tingkah laku lahiriah individu yang tergambar dalam bentuk perbuatan nyata. Potensi Negatif Manusia Pada realitanya, tidak semua potensi manusia hanya bernilai positif seperti yang kami jealaskan sebelumnya. Manusia pun mempunyai potensi yang negatif. Hal ini sesuai dengan ayat al quran yaitu seperti : a. Melampaui batas QS (Yunus : 12) b. Zalim (bengis, kejam, dll) QS (Ibrahim : 34) c. Tergesa-gesa QS (Al-Isra : 11) d. Suka membantah QS (Al-Kahfi : 54) 14 Ikhwan Al-Shafa, Rasail Ikhwan Al-Shafa wa Kalam Al-Wafa (Beirut Dar Sadir 1957) Juz II h.63

 

·  Berkeluh kesah dan kikir QS (Al-maarij : 19-21) f. Ingkar dan tidak berterima kasih QS (Al-„Adiyat :6) II.2 Tugas Hidup Manusia dalam Islam Manusia dalam pandangan agama Musa Asyari (Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-quran) menunjukkan dengan jelas tentang betapa agama telah memberikan potret yang utuh, apik dan komprehensif tentang sosok manusia melalui tiga istilah yang ada: 1. Insan dari kata „anasa yang mempunyai arti melihat,mengetahui dan meminta izin, mengandung pengertian adanya kaitan kemamampuan penalaran. Kata „insan menunjuk pada suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap yang lahir dari adanya kesadaran penalaran. Manusia pada dasarnya jinak, dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan llingkungan yang ada. Sejalan dengan pengertian ini, tugas manusia yaitu : a. Untuk mengatakan bahwa manusia menerima pelajaran dari tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya QS (Al-Alaq 1-5) b. Manusia mempunyai musuh nyata yang nyata yaitu setan QS (12:5) c. Manusia sebagai makhluk yang memikul amanah dari tuhan QS (33:72) d. Makhluk yang harus pandai menggunakan waktu untuk beriman dan beramal baik QS (1-3 e. Sebagai makhluk yang hanya akan mendapatkan bagian dari apa yang dia kerjakan (53:39) f. Punya keterikatan dengan moral dan sopan santun 2. Penggunaan kata „basyar yaitu manusia seperti apa yang tampak pada lahiriyyahnya, mempunyai bangunan tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama, semakin bertambah usianya, kondisi tubuhnya akan menurun, menjadi tua dan akhirnya ajal pun menjemputnya, pada kata „basyar ini disebutkan 36 kali di Alquran. 3. An-nas yaitu untuk menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai kegiatan untuk mengembangkan kehidupannya yaitu : a. Melakukan kegiatan peternakan QS (28:23) b. Kemampuan untuk mengelola besi atau logam QS (52:25) c. Kemampuan untuk pelayaran dan mengadakan perubahan social QS (2:164)

 

·   Kepatuhan dalam beribadah QS (2:21)15 Al-Ghazali memandang manusia sebagai proses hidup yang bertugas dan bertujuan yaitu bekerja, beramal shaleh, mengabdikan diri dalam mengelola bumi untuk memperoleh kebahagiaanabadi sejak di dunia hingga di akhirat. Pada aspek keduniaan manusia berperan sebagai khalifah di bumi dan aspek akhirat manusia sebagai „hamba atau „al-„abdu Allah Taala. Seperti yang beliau katakna tentang tugas manusia yaitu “Segala tujuan manusia itu terkumpul dalam agama dan dunnia. Dan agama tidak terorganisasikan selain dengan terorganisasinya dunia. Dunia adalah alat yang menyampaikan kepaada Allah bagi orang yang mau memperbuatnya menjadi tempat tetap dan tanah air abadi.16 Sehingga dapat kita ketahui bahwa manusia mempunyai dua peran sebagai tujuan diciptakan oleh Allah Taala yaitu : a. Manusia sebagai „Abd Allah (Hamba Allah) Manusia dalam kehidupannya di muka bumi ini tidak bisa terlepas dari kekuasaan yang transdental (Alaah). Hal ini disebabkan, karena manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk beragama sesuai dengan fitrahnya. Allah Taala memperkenalkan dan menunjukkan kepada manusia bagaimana tata cara yang harus dilakukannya dalam melakukan peribadatan, sebagai bukti kepatuhan kepada Allah Taala melalui perantara Al-quran. Pada aspek ini manusia diharapkan mampu mengenal Khaliqnya lewat pengabdian yang ditunjukannya dalam semua spek kehidupan. Dalil yang mendasari pada tugas manusia sebagai hamba Allah terdapat di QS (51:56) b. Manusia sebagai makhluk yang mulia, menempati posisi yang istimewa yang diberikan Allah di muka bumi. Hal ini karena manusia diciptakan dalam “citra Allah”, sehingga selayaknya manusia disebut sebagai “mahkota ciptaan-Nya” atau sebagai “khalifah Allah di bumi” yang mewakili Pencipta dalam ciptan-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah QS (2:30) Bila kita memperhatikan ayat tersebut, maka akan terlihat bahwa manusia bukan sekedar hiasan, akan tetapi, jauh dari itu manusia diberi kekuasaan untuk memelihara ciptaan-Nya sehingga dapat mengolah dan memakmurkan alam ini 15 16 H. Abaddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam Drs. Abidin Ibnu Kusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang pendidikan

 

·  dalam rangka beribadah kepada Allah, dengan begitu manusia terlihat berbeda dengan makhluk lainnya dalam kedudukan dan tanggung jawab. Secara umum, para filosuf Islam sepakat dalam mengartikan kata khalifah dengan pengertian mengganti. Hanya saja mereka berbeda pendapat dalam mendefinisikan pengertian pengganti tersebut.

 

BAB III PENUTUP

 Kesimpulan : Potensi-Potensi Dasar Manusia dalam Islam dibagi menjadi dua yaitu potensi internal yang meliputi fitriyah, ruhiyah, aqliyah dan jasmaniyah dan potensi eksternal meliputi potensi huda (petunjuk) dan potensi alam. Potensi terbagi dua yaitu : a. Potensi positif yang meliputi : 1. Bentuk manusia yang terdiri dari jasmaniyyah dan jasadiyyah, kedua potensi ini terbentuk karena adanya proses 2. Fithriyyah yang terdiri dari diniyyah (agama) dan khairiyyah (kebaikan) 3. „Aqliyyah yang terdiri dari fuadiyyah dan qolbiyyah 4. Ruhiyyah b. Potensi Negatif yang meliputi : 1. Melampaui batas 2. Zalim (bengis, kejam, dll) 3. Tergesa-gesa 4. Dan lain-lain Peran dan tugas utama manusia di muka bumi dibagi menjadi dua : 1. Manusia sebagai „aabid yaitu hamba Allah yang memiliki tugas mengabdi kepada Allah dan bertanggung jawab di muka bumi 2. Manusia sebagai khalifah yaitu pemimpin di muka bumi. Manusia dilahirkan sebagai khalifah yang harus mampu mengubah dunia menjadi alam „Abdiyah yang terang benderang ,,,,,,

 

·  Urgensi Pendidikan Islam dalam menangani potensi-potensi dasar manusia dan tugas manusia dalam Islam adalah dengan adanya pendidikan islam manusia dapat mengolah atau mempergunakan potensi dasarnya dengan baik sehingga dapat menjalankan tugas atau fungsinya sebagai hamba Allah dan Khalifah di bumi dengan baik. Ketika manusia mempergunakkan potensi dasarnya tanpa pendidikan islam maka manusia tidak dapat menjalankan tugas atau fungsinya dengan baik dan akan terpacu kepada perbuatan negatif. Agama islam menggambarkan bahwa kehidupan manusia itu diartikan untuk mengembangkan potensinya terutama tiga potensi yang dimilikinnya yaitu potensi fisik biologisnya, intelektual dan rohaninya, sosiologisnya. Ketika potensi ini harus dikembangkan secara harmonis dan seimbang.

Jadikanlah kami Hamba dan Pejuang,,,,, goooo

~Fitrah Manusia~

 NUTRISI JIWA yang tiada tanding,,,,,,,,

ﻭَﺇِﺫْﺃَﺧَﺬَﺭَﺑُّﻚَﻣِﻦْﺑَﻨِﻲﺁﺩَﻡَﻣِﻦْ
ﻇُﻬُﻮﺭِﻫِﻢْﺫُﺭِّﻳَّﺘَﻬُﻢْﻭَﺃَﺷْﻬَﺪَﻫُﻢْﻋَﻠَﻰﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ
ﺃَﻟَﺴْﺖُﺑِﺮَﺑِّﻜُﻢْﻗَﺎﻟُﻮﺍﺑَﻠَﻰﺷَﻬِﺪْﻧَﺎﺃَﻥْﺗَﻘُﻮﻟُﻮﺍ
ﻳَﻮْﻡَﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِﺇِﻧَّﺎﻛُﻨَّﺎﻋَﻦْﻫَﺬَﺍﻏَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-
anak Adam dari sulbi mereka
dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): “Bukankah Aku ini
Tuhanmu?” Mereka menjawab:
“Betul (Engkau Tuhan kami),
kami menjadi saksi”. (Kami
lakukan yang demikian itu) agar
di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: “Sesungguhnya
kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

.ﺃَﻭْﺗَﻘُﻮﻟُﻮﺍﺇِﻧَّﻤَﺎﺃَﺷْﺮَﻙَﺁﺑَﺎﺅُﻧَﺎﻣِﻦْ
ﻗَﺒْﻞُﻭَﻛُﻨَّﺎﺫُﺭِّﻳَّﺔًﻣِﻦْﺑَﻌْﺪِﻫِﻢْﺃَﻓَﺘُﻬْﻠِﻜُﻨَﺎﺑِﻤَﺎ
ﻓَﻌَﻞَﺍﻟْﻤُﺒْﻄِﻠُﻮﻥَ

atau agar kamu tidak
mengatakan: “Sesungguhnya
orang-orang tua kami telah
mempersekutukan Tuhan sejak
dahulu, sedang kami ini adalah
anak-anak keturunan yang
(datang) sesudah mereka. Maka
apakah Engkau akan
membinasakan kami karena
perbuatan orang-orang yang
sesat dahulu?”

.ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَﻧُﻔَﺼِّﻞُﺍﻵﻳَﺎﺕِﻭَﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ
ﻳَﺮْﺟِﻌُﻮﻥَ

Dan demikianlah Kami
menjelaskan ayat-ayat itu, agar
mereka kembali (kepada
kebenaran).

QS. Al-A’raf : 172-174

Allah SWT berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Qs. al-Baqarah [2]: 152)

Dzikir adalah tali koneksi antara Allah dengan seorang hamba. Orang yang mengingat Allah, maka Allah akan mengingatnya. Dan yang melupakan Allah, maka Allah juga akan melupakan dan membiarkannya larut, hanyut dan tenggelam dalam kealfaan yang panjang. Larut dalam gulita hati dan kekeruhan rohani.Hanyut dalam kekerasan hati dan ketulian kalbu.

Kita perlu mengingat Allah, karena kita memang membutuhkannya.Sementara Allah tak perlu kita mengingat-Nya, namun kitalah yang menghajatkan Dzat-Nya. Mengingat Allah adalah refleksi syukur kita, sedangkan melupakan-Nya adalah ungkapan nyata kekufuran (lihat Qs. Âli ‘Imrân [3]: 135).

Setiap manusia pasti pernah alfa dan lalai.Namun sebaik-baik manusia yang berlaku salah adalah yang segera kembali ke akar penciptaannya, akar fitrah yang melekat pada dirinya.Ia akan segera berdzikir dan ingat kepada Allah, memohoan ampunan-Nya, mengemis welas asih-Nya, meratapi dosa-dosanya di hadapan kasih sayang-Nya. Karena ia sadar hanya Allah yang Maha Lapang rahmat-Nya, Maha Kasih, dan Maha Luas rahmat daripada murka-Nya (Qs. Âli ‘Imrân [3]: 191).

Orang-orang yang berakal akan senantiasa mengingat Allah, merapat ke hadirat-Nya, merindukan-Nya, dan masuk bersama-Nya. Ia akan senantiasa ingat dan dzikir kepada Allah dalam segala kondisi, hal, dan waktu.

Saat berdiri, duduk, atau berbaring ia ingat Allah. Ia dekat kepada Allah dengan dengan semua asma`-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak dan iradat-Nya. Bagi dirinya, Allah adalah segalanya, di atas segala cintanya, termasuk diri sendiri.

Hal sebaliknya terjadi pada orang-orang munafik (Qs. an-Nisâ` [4]: 142). Mereka hanya mengingat Allah dengan volume sangat sedikit.Kalaupun dia ingat, itupun lakukan saat berada di tengah banyak orang karena ingin mendapat pujian dan apresiasi.Namun sesungguhnya hati dan nuraninya kosong dari dzikir hakiki.

Berdirinya adalah kemalasan mengingat Allah, shalatnya dilakukan dengan ogah-ogahan dan berat.Ia bukan ingin pujian dari Allah, tapi dari manusia. Riya` menjadi selimut jiwanya, sehingga manusiapun merasakannya.

 

Cermin Takwa …

Radar keimanan orang yang bertakwa akan senantiasa bergetar keras ketika datang bisikan jahat yang akan menghancurkan diri dan menenggelamkannya dalam maksiat kepada Allah.

Radar keimanannya begitu aktif menyadap virus-virus jahat yang mungkin menjangkiti dirinya. Radar keimanannya menyala tatkala ada serbuk dosa ditebarkan untuk meracuni (Qs. al-A’râf [7]: 201).

Kebeningan hati mampu menyingkap kesalahan yang dilakukannya saat itu, kekeliruan yang sedang mengintai, dan kejahatan yang tengah membidik dirinya. Nuraninya tajam berkat dzikir (Qs. al-A’râf [7]: 205).

Manusia bertakwa akan senantiasa berdzikir dalam hatinya dengan perasaan rendah diri, tak berdaya di hadapan Allah. Perasaan takut menyelimuti jiwanya.Suaranya rendah dalam nyala kobaran dzikir dalam hatinya di pagi dan petang hari, di ubun-ubun siang dan jantung malam.

Kobaran dzikirnya membubung menyentuh ‘Arasy Sang Maha Rahman. Suara sunyinya demikian gemuruh di tengah para malaikat, melengking di tengah gemuruh tasbih malaikat yang mengitari Baitul Makmûr (Qs. al-Anfâl [8]: 2).

Hati mereka akan gemetar ketika nama Allah disebut, dzikir pun akan segera meluncur dari mulut, membasahi lidah, dan memenuhi dadanya. Iman mereka melonjak tatkala ayat-ayat Allah dikumandangkan dan dialunkan. Tawakal menjadi hiasan hidupnya, dan memagari setiap geraknya (Qs. ar-Ra’d [13]: 27).

Dalam dzikir mereka ada tobat.Hati mereka merasa damai, tenteram dan lembut dalam derasnya dzikir yang mengalir dari samudera keimanan.Ketentraman menghiasi hidupnya, melingkupi ruang jiwa, dan memadati kekosongan hatinya.Ia damai dalam dzikir. Tentram saat mengingat Allah.

 

Lalai Akibat Dunia …

Banyak orang sering berpaling kepada dunia, dan mabuk di dalamnya.Ia hanyut di arus dunia, karena dzikir tak mengalir deras dari hati melalui gelombang lisannya. Ia akan silau dengan dunia (Qs. al-Kahfi [18]: 28).

Sementara orang yang suka berdzikir tak akan pernah terlalaikan oleh urusan bisnis di dunia, jabatan atau tugas-tugas kenegaraan, niaga, anak, dan harta harta benda. Karena mereka telah mengingatkan diri dengan langit, menyambungkan jiwa dengan Penguasa langit dan bumi (Qs. an-Nûr [24]: 37).

Jiwa mereka akan senantiasa mempersiapkan diri untuk semua “pertemuan akbar” di Padang Mahsyar kelak, tatkala semua perbuatan dipertanyakan, semua ucapan dipersoalkan, dan semua tindakan dimintai pertanggungjawaban. Saat hati mengalami guncangan besar, saat jiwa dirasuki ketakutan.Orang yang suka berdzikir akan mampu meneladani Rasulullah dalam semua tingkah laku, semua derap langkah, dan semua paradigma pikirnya. Rasulullah menjadi idola, kiblat perilaku moralnya (Qs. al-Ahzâb [33]: 21).

 Karena dzikir berkobar menyala di jantung hatinya, ia akan senantiasa ingat kepada firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (Qs. al-Ahzâb [33]: 41)

 

Ia senantiasa akan mampu memperbesar gelombang dzikirnya dalam sepi dan ramai, suka dan duka, susah dan senang.Kulit orang yang dzikir akan bergetar manakala ayat-ayat Allah yang mulia dikumandangkan, dialunkan dan dilantunkan. Mereka akan tenang saat mengingat Allah mendengar Kitab Allah yang melahirkan damai, ketenangan, kesejukan jiwa, dan obat bagi para pembacanya (Qs. az-Zumar [39]: 23).Kerugian akan menimpa orang-orang yang lupa kepada Allah karena anak-anak mereka, dan tidak menjadikan dzikir sebagai agenda hidupnya (Qs. al-Munâfiqûn [63]: 9).

Allah memperingatkan orang-orang beriman agar tak lupa kepada Allah gara-gara(dunia) anak, apalagi limpahan harta. Allah memperingatkan bahwa harta sering menarik kepada tindakan melupakan Allah, dan anak-anak akan melalaikan kita kepada-Nya.

 

Banyak Manfaat …

“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Qs. al-Muzammil [73]: 8) “Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang.” (Qs. al-Insân [76]: 29).

 

Mari kita kobarkan dzikir di nafas subuh, ubun siang, remang senja dan di jantung malam. Sebab, banyak sekali manfaat dalam dzikir:

  1. Pertama, mengusir, menangkal dan menghancurkan setan. Membuat Allah ridha dan setan murka. Dzikir akan menghilangkan risau, gelisah, dan gundah, lalu menghadikrkan ketenangan. 
  2. Kedua, segala keburukan menjadi sirna, kalbu menjadi kuat, badan menjadi sehat, memperbaiki yang lahir dan batin. Wajah terang dan bersinar, rezeki menjadi gampang, ada wibawa mengitari diri, dan ketenagan menjalar di segala arah. 
  3. Ketiga, istiqamah akan kokoh, kebenaran akan menghampiri, murâqabah akan tinggi, ihsân akan terengkuh, iman akan meneguh, tobat terus merambat, inâbah akan merayap, taqarrub menjadi mudah, ma’rifat menjadi terbuka, dan khâsyiyah akan berkilauan.
  4. Keempat, dzikir adalah makanan rohani, nutrisi bagi tubuh. Ia adalah pembersih jiwa, pembening hati, pengusir lalai, dan penakluk syahwat. Kelalaian lenyap bersamanya. Ia adalah lentera bagi gulitanya jiwa, pelebur dosa, dan pelenyap nestapa.
  5. Kelima, mendatangkan sakinah, malaikat akan menaungi dengan sayap-sayap terbentang. Dzikir akan menghambarkan lisan untuk mengumbar ghibah, melempar dusta dan berlaku zhalim. Membuat teman duduknya tenteram. Dan dzikir adalah tanaman surga yang akan dipetik oleh orang yang rajin menyiraminya.
  6. Keenam, mencegah kepikunan, dan mengatasi kelalaian. Hati pendzikir akan senantiasa menatap akhirat dan mengabaikan dunia. Karena dzikir adalah pondasi dan puncak rasa syukur.
  7. Ketujuh, dzikir adalah api yang aktif bekerja menyirnakan sisa-sisa dosa, dan menghilangkan noda-noda kejahatan kita. Gunung, langit, bumi dan semesta, selain setan durjana, bangga dengan dzikir-dzikir manusia.
  8. Kedelapan, dalam kobaran dzikir, ada kelezatan yang luar biasa, dan kenikmatan tiada tara. Kobaran dzikir yang terus menyala akan menjadi saksi bahwa kita benar-benar mencinta Sang Maha Kuasa. Di kobarannya kita masuk dengan damai dan tentram bersama Allah. 

 

Wallahu’alam bishshawab,,,, 

Salam Terkasih,,,,Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci,,,,

Salam santun dan keep istiqomah ,,,,

“kesabaran itu lebih baik” kata “الله  (QS 4:25).

 “kesabaran tidak memiliki batas waktu, sebab kesabaran datangnya dari الله “ (QS 16:127) yang kekal.

Masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang,,,
Itulah dimensi waktu yang senantiasa hadir dalam kehidupan manusia,,,
Di manakah kita berada,,,,
Jelas, kita berada pada masa sekarang.
Masa lalu telah menjadi sejarah.
Kita hanya bisa mengenang’y, melihat catatan-catatan peristiwa yang ada di dalam’y.
Bagaimana dengan masa depan,,,,,,
Jika demikian ada’y,,,

yg pasti n yg benar-benar menjadi milik kita adalah masa sekarang.,,
masa sekarang hadiah dari Allah yang layak kita sambut dan kita manfaatkan sebaik-baik’y.
masa sekarang yang akan menentukan baik buruknya kita pada masa yang akan datang(Akherat)

Masa sekarang pula yang akan mampu memperbaiki catatan-catatan buruk kita pada masa lalu.
Tugas terbesar kita adalah menjalani masa sekarang dengan penuh kesungguhan (bersama Allah n untuk Allah)
kita ingin sukses tp kita jauh dr yg Maha Kaya,,, Kita mau bahagia tp kita jauh dr yg Maha Membahagiakan,,,”

 

struggle

AURAT DALAM ISLAM

(MENURUT 4 MADZAB)



PENGERTIAN AURAT

Aurat diambil dari perkataan Arab ‘Aurah’ yang bererti keaiban.Manakala dalam istilah fekah pula aurat diertikan sebagai bahagian tubuh badan seseorang yang wajib ditutup atau dilindungi dari pandangan.

Di dalam Islam terdapat beberapa keadaan di mana masyarakat Islam dibenarkan membuka aurat dan ia hanya pada orang-orang tertentu.

PERINTAH MENUTUP AURAT

Perintah menutup aurat telah difirmankan oleh Allah S.W.T dalam Surah Al-Ahzab ayat 33;

“Dan hendaklah kamu tetap diam di rumah kamu serta janganlah kamu mendedahkan diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah zaman dahulu; dan dirikanlah sembayang serta berikanlah zakat; dan taatilah kamu kepada Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah (perintahkan kamu dengan semuanya itu) hanyalah kerana hendak menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu-wahai “ahlul bait”, dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya (dari segala perkara yang keji).”

Dari penerangan ayat di atas, jelaslah kepada kita bahawa hukum menutup aurat adalah wajib sebagaimana wajibnya perintah mengerjakan sembahyang, berzakat dan perintah-perintah yang lainnya.

Dengan menutup aurat, wanita Islam mudah dikenal dan dapat mengelak dari diganggu oleh mereka yang ingin mengambil kesempatan.

Wanita yang menutup aurat akan mudah dikenali. Jika sekiranya mereka membuka aurat dengan sewenang-wenangnya, maka dengan secara tidak langsung mereka cuba merangsang lelaki untuk mengganggunya. Maka berlakulah perkara-perkara sumbang, dengan itu juga akan timbulah berbagai-bagai fitnah dari masyarakat tentang diri mereka.

Dalam hal ini Allah S.W.T. telah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 59:

“Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu.Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani. ”

Islam telah menggariskan batasan aurat pada lelaki dan wanita.Aurat asas pada lelaki adalah menutup antara pusat dan lutut.Manakala aurat wanita pula adalah menutup seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan.

Aurat lelaki pada bila-bila masa dan apabila bersama-sama sesiapa pun adalah sama iaitu antara pusat dan lutut.

Tetapi bagi wanita terdapat perbezaan dalam beberapa keadaan antaranya:

1. Aurat Ketika Sembahyang

Aurat wanita ketika sembahyang adalah menutup seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan.

2. Aurat Ketika Sendirian

Aurat wanita ketika mereka bersendirian adalah bahagian anggota pusat dan lutut.Ini bererti bahagian tubuh yang tidak boleh dilihat adalah antara pusat dan lutut.

3. Aurat Ketika Bersama Mahram

Pada asasnya aurat seseorang wanita dengan mahramnya adalah pusat dan lutut.Walau pun bagitu wanita dituntut agar menutup mana-mana bahagian tubuh badan yang boleh menaikan syahwat lelaki walaupun mahram sendiri.

Perkara ini dilakukan bagi menjaga adab dan tata susila wanita terutama dalam menjaga kehormatan agar perkara-perkara sumbang dan tidak diingini tidak akan berlaku.

Oleh itu, pakaian yang labuh dan menutup tubuh badan digalakkan walaupun semasa bersama mahram adalah pakaian yang lengkap dan labuh.

Syarak telah menggariskan golongan yang dianggap sebagai mahram kepada seseorang wanita iaitu:

1. Suami
2. Ayah, termasuk datuk belah ibu dan bapa.
3. Ayah mertua
4. Anak-anak lelaki termasuk cucu samada dari anak lelaki atau perempuan
5.Anak-anak suami.

Dalam perkara ini Islam mengharuskan isteri bergaul dengan anak suami kerana wanita tersebut telah dianggap dan berperanan sebagai ibu kepada anak-anak suaminya.

6. Saudara lelaki kandung atau seibu atau sebapa.

7. Anak saudara lelaki kerana mereka ini tidak boleh dinikahi selama-lamanya.

8. Anak saudara dari saudara perempuan.

9. Sesama wanita samada ada kaitan keturunan atau yang seagama.

10. Hambanya Sahaya.

11. Pelayan yang tidak ada nafsu syahwat.

12. Anak-anak kecil yang belum mempunyai syahwat terhadap wanita.

Walau pun begitu, bagi kanak-kanak yang mempunyai syahwat tetapi belum baligh, wanita dilarang menampakkan aurat terhadap mereka.

Al-Quraan dengan jelas menerangkan perkara ini dalam surah An-Nur ayat 31;

Dan katakanlah kepada perempuan -perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan ;janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya, dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau anak-anak mereka, atau bapa mertua mereka, atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya. ”

Imam Syafie berpendapat; perhiasan yang dimaksudkan yang dimaksudkan dalam ayat di atas terbahagi kepada dua makna iaitu:

1. Perhiasan yang bersifat semula jadi seperti muka, pipi mulut, mata, bibir, hidung, kaki, betis, peha dan lain-lain anggota.

2. Perhiasan seperti pakaian, alat-alat solek, cincin, rantai leher, gelang kaki dan sebagainya.

Oleh itu, umat Islam digalakkan mengawal diri agar tidak melanggar batasan-batasan yang telah digariskan oleh Islam terutamanya dalam soal perhiasan dan berpakaian.

4. Aurat Ketika Di Hadapan Lelaki Bukan Mahram

Kewajipan menutup aurat di hadapan lelaki bukan mahram adalah amat penting dan perlu dilaksanakan oleh setiap wanita, bagi mengelak daripada berlaku perkara yang tidak diingini seperti rogol dan sebagainya.Perkara ini terjadi disebabkan memuncaknya nafsu para lelaki akibat dari penglihatan terhadap wanita memakai pakaian yang tidak senonoh dan mendedahkan sebahagian tubuh badan mereka.

Wanita yang bersuami pula, dengan terlaksanakan kewajipan ini, akan dapat membantu suami, yang mana dosa seorang isteri yang membuka aurat akan ditanggung oleh suami. Oleh itu, wanita-wanita perlulah memahami batas-batas aurat ketika berhadapan dengan orang-orang yang tertentu dalam keadaan yang berbeza-beza.

5. Aurat Ketika Di Hadapan Wanita Kafir

Aurat wanita apabila berhadapan atau bergaul dengan wanita bukan Islam adalah tutup keseluruhan tubuh badan kecuali muka dan tapak tangan.

Rasulullah SAW. bersabda dalam sebuah hadis yang bermaksud: Abdullah bin Abbas ada menyatakan, Rasulullah SAW. pernah bersabda yang maksudnya:

“Tidak halal kaum wanita Islam itu dilihat oleh kaum Yahudi dan Nasrani”.

6. Aurat ketika Bersama Suami

Apabila seorang isteri bersama-sama dengan suaminya di tempat yang terlindung dari pandangan orang lain, maka Islam telah memberi kelongaran dengan tiada membataskan aurat pada suaminya.

Ini bererti suami dan isteri tiada sebarang batasan aurat terhadap mereka berdua.Isteri boleh mendedahkan seluruh anggota badannnya bila berhadapan dengan suaminya.

Mu’awiyah bin Haidah mengatakan: “Aku pernah bertanya: Ya Rasulullah, bagaimanakah aurat kami, apakah boleh dilihat oleh orang lain?” Baginda menjawab: “Jagalah auratmu kecuali terhadap isterimu atau terhadap hamba abdi milikmu”. Aku bertanya lagi: “Ya Rasulullah, bagaimanakah kalau ramai orang mandi bercampur-baur di satu tempat?” Baginda menjawab: “Berusahalah seboleh mungkin agar engkau tidak boleh melihat aurat orang lain dan ia pun tidak boleh melihat auratmu”. Aku masih bertanya lagi: “Ya Rasullullah, bagaimanakah kalau orang mandi sendirian?” Baginda menjawab: “Seharuslah ia lebih malu kepada Allah daripada malu kepada orang lain”.

(Hadis riwayat Iman Ahmad dan Abu Dawud)

BATAS AURAT

Semua imam mazhab mensyaratkan menutup aurat supaya sembahyang menjadi sah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini.Tetapi para fuqahak’ mempunyai pendapat berbeza dalam menetapkan batas aurat bagi orang lelaki, hamba perempuan dan juga orang perempuan biasa (bukan hamba). Pendapat mereka secara terperinci adalah seperti berikut:

MAZHAB HANAFI

Aurat orang lelaki ialah di bawah pusat hingga di bawah lutut. Maka lutut adalah aurat menurut pendapat yang asah berdasarkan Hadith berikut:

Aurat orang lelaki ialah apa yang terdapat antara pusat dengan lututnya. Hadith Nabi

Berdasarkan sebuah Hadith da’if menurut pendapat al-Daruqutni:

Lutut adalah sebahagian daripada aurat.

Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya… .

(Sarah al-Nar 24:31)

Aurat hamba perempuansama dengan aurat orang lelaki. Tetapi ditambah belakang, perut dan sisinya. Ini berdasarkan perkataan Umar r.a. yang bermaksud:

“Buangkanlah kain tudung kepala wahai hamba perempuan.Apakah kamu menyerupai wanita-wanita yang merdeka?”

Disebabkan dia (hamba perempuan) keluar dari rumah untuk keperluan tuannya dengan memakai pakaian kerjanya seperti biasa, maka dianggap sebagai muhrim (orang yang diharam kahwin) bagi orang lain untuk mengelakkan kerumitan.

Orang perempuan (selain hamba) dan khunsa (orang yang tidak tentu sifat jantinanya), menurut pendapat yang asah di kalangan ulama’ Hanafi, aurat mereka ialah seluruh anggota tubuh sehingga rambutnya yang berjuntai, kecuali muka, kedua-dua tapak tangan dan kedua-dua kakinya (pergelangan hingga hujung jari), baik di sebelah luar mahupun sebelah tapak menurut pendapat yang muktamad kerana darurat.

Menurut pendapat yang rajih, suara bukanlah aurat.Menurut pendapat yang azhar, sebelah luar tapak tangan adalah aurat.Tetapi menurut pendapat yang asah, tapak tangan dan sebelah luarnya bukan aurat.

Menurut pendapat yang muktamad, kedua-dua kaki bukan aurat semasa sembahyang.Tetapi menurut pendapat yang sahih, kedua-duanya adalah aurat dari segi penglihatan dan penyentuhan. Ini berdasarkan firman Allah S.W.T.:

Tempat perhiasan yang zahir ialah muka dan dua tapak tangan, sebagaimana perkataan Ibn Abbas dan Ibn Umar, dan sabda Rasulullah s.a.w.:

Orang perempuan itu aurat, apabila ia keluar, maka syaitan memandang kepadanya.228

Dan Hadith riwayat `Aisyah yang telah disebut sebelum ini:

Wahai Asma’, orang perempuan apabila meningkat umur haid (umur baligh), tidak boleh dilihat padanya kecuali ini dan ini.

Baginda menunjukkan kepada mukanya dan kedua-dua tapak tangannya.229

Begitu juga Hadith yang diriwayatkan oleh `Aisyah yang telah disebutkan sebelum ini:

Allah S.W.T. tidak menerima sembahyang orang perempuan yang sudah datang haid (baligh) tanpa tudung kepala.

Ditegah perempuan remaja daripada memperlihatkan mukanya di kalangan orang lelaki.Tegahan itu bukan kerana muka itu sebagai aurat, tetapi untuk mengelak timbulnya fitnah atau nafsu syahwat. Tujuan tegahan memperlihatkan mukanya adalah kerana dibimbangkan orang lelaki akan melihat mukanya yang boleh mengakibatkan timbul fitnah. Ini kerana dengan memperlihatkan muka membolehkan orang lelaki memandangnya dengan keinginan syahwat.

Tidak harus melihat muka orang perempuan dan pemuda yang belum tumbuh misai dan janggut (yang masih terlalu muda) dengan nafsu syahwat, kecuali kerana keperluan, seperti kadi, saksi atau pembuktian terhadapnya dan orang yang ingin meminang boleh melihatnya sekalipun timbul nafsu syahwat, tetapi dengan niat beramal dengan Sunnah Nabi, bukan untuk memuaskan nafsu. Begitu juga ketika mengubati tempat yang sakit sekadar yang diperlukan.

Menurut pendapat yang muktamad di kalangan ulama’ Hanafi, mendedahkan satu per empat bahagian anggota aurat (yang berat, mughallazah, iaitu kemaluan hadapan dan belakang dan sekelilingnya, ataupun aurat ringan (mukhaffafah), iaitu selain dua kemaluan tadi) dengan tidak sengaja selama kadar melakukan satu rukun sembahyang, maka terbatal sembahyang itu.

Ini disebabkan satu per empat bahagian sama hukumnya dengan seluruh bahagian, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini. Tetapi tidak terbatal sembahyang jika terdedah kurang daripada satu per empat.

Oleh itu, jika seseorang mendedahkan satu per empat daripada perut, paha, rambut yang berjuntai daripada kepala, kemaluan belakang, zakar, kedua-dua buah zakar atau kemaluan hadapan perempuan, maka terbatal sembahyangnya jika berlalu selama kadar melakukan satu rukun sembahyang, tetapi jikalau tidak berlalu selama kadar tersebut, maka tidak terbatal sembahyangnya itu.

MAZHAB MALIKI

Pendapat yang sepakat dalam mazhab ini mewajibkan menutup aurat daripada pandangan orang ramai.

Ketika bersembahyang, menurut pendapat yang sahih daripada mazhab ini, diwajibkan menutup perkara berikut:

Aurat orang lelaki ketika bersembahyang ialah aurat berat (mughallazah) sahaja, iaitu kemaluan hadapan, zakar berserta buah zakar dan kemaluan belakang yang terletak antara kedua-dua papan punggung.Oleh itu, diwajibkan mengulangi sembahyang dengan segera sekalipun terdedah kedua-dua papan punggung sahaja, ataupun terdedah ari-ari. Paha tidak dikira sebagai aurat pada pandangan mereka, hanya zakar dan buah zakar sahaja berdasarkan Hadith riwayat Anas:

Bahawa di dalam Peperangan Khaibar, Rasulullah s.a.w. telah terkoyak kain pada pahanya, sehingga aku temampak keputihan pahanya.

Aurat hamba perempuan ialah kedua-dua kemaluan dan papan punggung.Oleh itu, jika terdedah sesuatu daripadanya atau terdedah paha seluruhnya atau sebahagian daripadanya, maka hendaklah diulangi sembahyang dengan segera sebagaimana juga orang lelaki.

Waktu mengulangi sembahyang bagi sembahyang Zuhur dan Asar ialah semasa matahari kekuningan.Bagi sembahyang Maghrib dan Isya’ pula ialah seluruh malam dan bagi sembahyang Subuh semasa naik matahari.

Aurat berat (mughallazah) orang perempuan (bukan hamba) ialah seluruh badan kecuali dada, tepi kepala, kedua-dua belah tangan dan kedua-dua belah kaki (dari pangkal paha hingga hujung jari) dan bahagian belakang yang bersetentang dengan dada sama hukumnya dengan dada.

Jika terdedah aurat ringan (mukhaffafah) daripada dada atau sebahagian daripadanya sekalipun belakang kakinya bukan perut kakinya, maka hendaklah diulangi sembahyang pada masa yang dikehendaki sebagaimana yang telah diterangkan sebelum ini, iaitu bagi waktu Zuhur dan Asar sewaktu kekuningan dan bagi waktu Maghrib dan Isya’ sepanjang malam dan bagi waktu Subuh ialah naik matahari. Itu adalah daripada segi sembahyang.

Dari segi pandangan dan sembahyang, maka diwajibkan juga menutupnya.Tidak disyaratkan tutup aurat bagi orang lelaki dan hamba perempuan di luar sembahyang.Aurat orang perempuan (selain hamba) di hadapan orang perempuan Islam atau kafir ialah antara pusat dengan lutut.

Wajib menutup seluruh tubuh orang perempuan (selain hamba) ketika berada di hadapan lelaki asing (bukan muhrim) kecuali muka dan kedua-dua belah tapak tangan, kerana kedua duanya bukan aurat.Namun begitu diwajibkan juga menutup muka dan tapak tangan supaya tidak menimbulkan fitnah.

Orang lelaki tidak dibenarkan melihat dada orang perempuan muhrim dan seumpamanya, sekalipun sebab menjadi muhrim itu kerana persemendaan dan persusuan, kecuali muka dan bahagian-bahagian termasuk tengkuk, kepala dan belakang tapak kaki dan sekalipun penglihatan itu tidak menimbulkan keseronokan.

Hukum tersebut berbeza dengan hukum di sisi ulama’ Syafi’i dan para ulama’ lain yang membenarkan melihat seluruh tubuh kecuali antara pusat dan lutut. Kebenaran itu adalah sebagai kemudahan (fushah).

Daripada huraian itu, jelas bahawa aurat orang lelaki dan orang perempuan dalam sembahyang terdiri daripada aurat berat (mughallazah) dan aurat ringan (mukhaffafah).

Aurat berat bagi orang lelaki ialah kemaluan hadapan dan lubang dubur.Aurat ringan mereka ialah bahagian-bahagian selain kemaluan hadapan dan lubang dubur yang terdapat di antara pusat dan lutut.

Aurat berat bagi hamba perempuan ialah kedua-dua papan punggung dan yang terdapat di antara seperti lubang dubur, kemaluan hadapan dan yang di atas daripada ari-ari. Aurat ringan baginya ialah paha dan apa yang terdapat di atas ari-ari sehingga pusat. Aurat berat bagi orang perempuan (selain hamba) ialah seluruh tubuhnya kecuali kaki, tangan, dada dan bahagian belakang yang bersetentang dengan dada.Aurat ringan baginya ialah seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua-dua belah tapak tangannya.

Oleh itu, jika seseorang melakukan sembahyang dalam keadaan terdedah aurat berat, sedangkan ia tahu dan berdaya untuk menutupinya sekalipun dengan membeli atau meminjam, menurut pendapat yang rajih, maka terbatal sembahyangnya dan hendaklah diulangi menurut pendapat yang masyhur di kalangan ulama’ Maliki.

Sebaliknya, seseorang yang melakukan sembahyang dalam keadaan terdedah aurat ringannya, maka tidak terbatal sembahyangnya sekalipun hukum membuka aurat ringan ialah makruh dan diharamkan melihat nya.Walaupun begitu, digalakkan orang yang melakukan sembahyang dalam keadaan terdedah aurat ringannya supaya mengulangi sembahyangnya itu dalam waktu darurat (bagi Zuhur dan Asar ialah waktu kekuningan, Maghrib dan Isya’ pula ialah sepanjang malam dan Subuh waktu terbit matahari).

Diharamkan melihat aurat ketika terdedah, sekalipun tidak menimbulkan keseronokan.Tetapi melihatnya ketika tertutup hukumnya harus kecuali jika diintai dari sebelah atas penutupnya, maka hukumnya adalah tidak harus.

Aurat dinisbah dari segi pandangan bagi orang lelaki ialah apa yang terdapat antara pusat dengan lutut. Aurat orang perempuan ketika berada di hadapan orang lelaki asing ialah seluruh badannya kecuali muka dan kedua-dua belah tapak tangannya dan ketika berada di hadapan muhrimnya seluruh tubuhnya kecuali muka, kepala, tengkuk, kedua-dua belah tangan dan kedua-dua belah kaki.Tetapi jika dibimbangi menimbulkan keseronokan, maka haram mendedahkan perkara-perkara tadi.Pengharaman itu bukan kerana perkara tersebut menjadi aurat, tetapi kerana dibimbangi menimbulkan keseronokan. Orang perempuan dengan orang perempuan atau dengan muhrimnya sama seperti lelaki dengan lelaki, boleh dilihat selain yang terdapat antara pusat dengan lutut.

Bahagian yang boleh dilihat oleh orang perempuan pada orang lelaki asing adalah sama dengan hukum orang lelaki dengan muhrim-muhrimnya, iaitu boleh dilihat pada muka, kepala, kedua-dua belah tangan dan kedua-dua belah kaki.

MAZHAB SYAFI`I

Aurat orang lelaki ketika bersembahyang, tawaf dan ketika berada di hadapan orang lelaki asing dan orang perempuan yang muhrim ialah antara pusat dengan lututnya. Ini berdasarkan riwayat al Harith bin Abi Usamah daripada Abu Usamah daripada Abu Said al-Khudri r. a.:

Aurat orang MU’min ialah antara pusat dengan lututnya.

Dan riwayat al-Baihaqi:

Dan apabila salah seorang daripada kamu mengahwinkan hamba perempuannya dengan hamba lelakinya atau orang upahannya, maka janganlah hamba perempuan itu melihat auratnya.

Dan banyak Hadith yang diriwayatkan tentang penutupan paha sebagai aurat. Antaranya ialah Hadith:

Janganlah kamu mendedahkan pahamu dan janganlah kamu melihat paha orang hidup dan orang mati.’

Dan sabda Rasulullah s.a.w. kepada Jarhad al-Aslami:

Tutuplah pahamu, sesungguhnya paha itu aurat

Menurut pendapat yang sahih di kalangan ulama` Syafi’i, pusat dan lutut tidak dikira sebagai aurat.Ini berdasarkan Hadith riwayat Anas yang menceritakan Nabi Muhammad s.a.w. mendedahkan pahanya, sebagaimana yang diterangkan dalam Mazhab Maliki sebelum ini. Tetapi diwajibkan menutup sebahagian lutut supaya tertutup juga paha dan begitu juga sebahagian pusat supaya tertutup, juga bahagian di bawah pusat, kerana apabila tidak sempurna kewajipan kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu juga menjadi wajib sebagaimana yang telah dijelaskan oleh ulama’ Syafi’i, Hanbali dan Maliki dalam Usul al-Fig h.236

Aurat lelaki ketika berada di hadapan perempuan asing (bukan muhrim) daripada segi penglihatan ialah seluruh tubuhnya, dan ketika keseorangan hanya dua kemaluan sahaja. Hujah ulama’ Maliki yang bersandarkan kepada Hadith riwayat Anas dan ‘Aisyah yang membuktikan bahawa paha bukan sebahagian daripada aurat ditolak dengan empat alasan:

Hadith tersebut menceritakan perbuatan, sedangkan hujung paha dibenar didedahkan khususnya ketika peperangan dan permusuhan dan Usul al-Filth menetapkan bahawa perkataan lebih kuat hujahannya daripada perbuatan.

Hadith yang diriwayatkan oleh Anas dan `Aisyah tidak dapat menguatkan penentangan terhadap perkataan-perkataan ulama’ yang sahih lagi umum.

Hadith yang diriwayatkan oleh `Aisyah dalam Sahih Muslim adalah diragui. Hadith itu bermaksud:

“Bahawa Rasulullah s.a.w. berbaring di rumahku sedangkan kedua-dua paha atau betisnya terdedah.”

Betis tidak dikira sebagai aurat menurut ijma` ulama’, maka bahagian yang terdedah itu diragui apakah betis ataupun paha yang terdedah.

Pendedahan paha yang menjadi isu dalam peristiwa ini adalah khusus bagi Nabi Muhammad s.a.w. kerana tidak ada bukti yang menunjukkan Bahawa perbuatan itu menjadi ikutan.Oleh itu, wajib berpegang dengan perkataan-perkataan yang jelas menunjukkan Bahawa paha adalah sebahagian daripada aurat.

Aurat hamba perempuansama seperti aurat orang lelaki menurut pendapat yang asah, kerana kepala dan tangan hamba perempuan dan orang lelaki dikira bukan aurat dan kerana kepala dan tangan adalah anggota yang terpaksa dibuka untuk digunakan.

Aurat orang perempuan (selain hamba) dan juga khunsa (orang yang tidak tentu jantinanya atau yang mempunyai kedua-dua organ jantina) ialah pada seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua-dua tapak tangan, sama ada belakang tapak tangan atau perut tapak tangan yang meliputi dari hujung jari hingga ke pergelangan tangan. Ini berdasarkan firman Allah S.W.T.:

Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya… . Surah at-Nur 24:31

Ibn Abbas dan `Aisyah r.a. berkata bahawa yang dimaksudkan dengan yang zahir itu ialah muka dan kedua-dua tapak tangan kerana Nabi Muhammad s.a.w. melarang orang perempuan yang berihram (sama ada untuk mengerjakan haji atau umrah) daripada memakai sarung tangan dan penutup muka.

Jika muka dikira sebagai aurat, nescaya tidak diharamkan menutupnya semasa berihram. Kerana terpaksa dibuka muka untuk keperluan berjual beli dan membuka tapak tangan untuk keperluan mengambil dan memberi sesuatu, maka ia tidak dikira sebagai aurat.

Jika terdedah sebahagian daripada aurat ketika bersembahyang sedangkan berupaya menutup kedua-duanya, maka terbatal sembahyang itu, kecuali jika terdedah disebabkan oleh tiupan angin atau kerana terlupa dan ditutup dengan segera, maka tidak terbatal sembahyang itu sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini.Jika terdedah aurat bukan kerana tiupan angin atau dengan sebab binatang atau kanak-kanak yang belum mumaiyiz, maka terbatal sembahyang itu.

Orang lelaki tidak wajib menutup auratnya daripada pandangannya sendiri, tetapi makruh melihat auratnya.

Aurat orang perempuan, (selain hamba) semasa di luar sembahyang dan di hadapan orang lelaki asing (bukan muhrim) ialah seluruh badannya dan semasa di hadapan orang perempuan kafir juga seluruh badannya kecuali anggota yang terpaksa dibuka untuk keperluan pekerjaan dan menunaikan hajat.Adapun semasa di hadapan orang perempuan Islam dan orang lelaki muhrim, auratnya ialah antara pusat dengan lututnya.

Dalil seluruh utama’ tentang kewajipan menutup aurat dan tegahan terhadap orang lelaki daripada melihat aurat lelaki lain, dan tegahan terhadap orang perempuan daripada melihat aurat orang perempuan lain ialah

Hadith riwayat Abu Sa’id al-Khudri:

Orang lelaki tidak boleh memandang aurat orang lelaki lain dan orang perempuan tidak boleh memandang aurat orang perempuan lain, dan orang lelaki tidak boleh tidur bersama-sama orang lelaki lain dalam satu pakaian dan orang perempuan tidak boleh tidur bersama sama orang perempuan lain dalam satu pakaian.

Hadith riwayat Bahzu bin Hakim daripada ayahnya daripada datuknya yang bermaksud: “Aku berkata,

`Wahai Rasulullah s. a.w., aurat apakah boleh kita dedahkannya dan apakah ditegah?’

Sabdanya,

`Pelihara olehmu aurat kamu melainkan daripada isterimu atau hamba milikmu.’

Kataku,

`Sekiranya orang ramai?’

Sabdanya,

‘Jika terdaya mengelak daripada dilihat oleh sesiapa pun, maka jangan dibiarkan dilihat.’

Kataku,

`Jika salah seorang daripada kami berkeseorangan?’

Sabdanya,

`Maka Allah Taala lebih utama untuk malu kepada-Nya.”’240

Hadith itu menunjukkan tidak harus bertelanjang di tempat kosong dan ia disokong oleh Hadith riwayat Ibn Umar menurut alTirmizi bahawa Rasulullah s.a.w. telah bersabda:

Janganlah kamu bertelanjang, sesungguhnya bersama-sama kamu ada (malaikat) yang tidak berpisah dari kamu kecuali ketika kamu membuang air dan ketika seseorang lelaki itu berseronok-seronok dengan ahlinya, maka malulah kepada mereka (malaikat) dan hormatilah mereka

Al-Bukhari mengatakan harus bertelanjang ketika mandi berdasarkan kisah Nabi Musa dan Nabi Ayub.

MAZHAB HANBALI

Aurat orang lelaki ialah apa yang ada antara pusat dengan lututnya. Ini berdasarkan Hadith yang telah disebutkan sebelum ini dan yang dipakai oleh ulama’ Hanafi dan Syafi’i sebagai dalil mereka.Tetapi pusat dan lutut bukan aurat. Ini berdasarkan Hadith riwayat Umru bin Shu’aib yang telah disebutkan sebelum ini:

… Bahawa apa yang di bawah pusat sehingga lutut adalah aurat.

Dan Hadith Abu Ayyub al-Ansari:

Di bawah pusat dan di atas kedua-dua lutut ialah aurat.242

Alasannya bahawa lutut ialah batas bukan aurat seperti pusat. Orang khunsa musykil (seseorang yang mempunyai dua organ jantina) yang tidak jelas sama ada lelaki ataupun perempuan tidak d1wajibkan menutup aurat oleh kerana tidak jelas sifatnya.

Di samping itu, agar sembahyang menjadi sah, menurut yang zahir daripada mazhab ini diwajibkan ke atas orang lelaki menutup salah satu bahunya sekalipun dengan kain yang nipis yang boleh menjelaskan warna kulit kerana kewajipan menutup bahu adalah berdasarkan Hadith:

Janganlah seseorang lelaki itu melakukan sembahyang di dalam satu kain yang tidak ada sesuatu apa pun di atas bahunya.24s

Larangan tersebut menunjukkan pengharaman dan lebih diutamakan daripada qiyas. Abu Daud meriwayatkan daripada Buraidah:

Rasululah s.a.w. melarang seseorang daripada melakukan sembahyang di dalam selimut dan menutup bahu (seperti selimpang) dengannya_

Sebaliknya, seseorang yang mempunyai sesuatu yang hanya dapat menutup sama ada aurat sahaja atau baju sahaja, maka hendaklah dia menutup auratnya dan wajib sembahyang secara berdiri. Ini berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.:

Jika kain itu luas, maka selisihkan dan ikatkan kedua-dua tepinya dan jika ia sempit, maka ikatkan kuat-kuat pada pinggangnya.

Orang lelaki hendaklah menutup auratnya daripada penglihatan orang lain, bahkan daripada penglihatannya sendiri ketika sedang mengerjakan sembahyang. Jika ternampak auratnya melalui saku bajunya yang terbuka luas apabila rukuk` atau sujud, maka hendaklah dikancingkannya atau seumpamanya supaya ia tertutup.Ini kerana perintah menutup aurat itu adalah umum.

Begitu juga diwajibkan menutup aurat sekalipun ketika keseorangan atau di dalam gelap. Ini berdasarkan Hadith riwayat Bahzu bin Hakim yang telah disebut sebelum ini yang bermaksud:

“Pelihara olehmu aurat kamu melainkan daripada isterimu atau hamba milikmu … .”

Tidak diwajibkan menutup aurat dengan tikar, tanah, Lumpur berada di dalam parit, kerana benda-benda itu tidak tetap dan di dalam parit pula menyusahkan.Tidak terbatal sembahyang jika terdedah sebahagian kecil aurat. Ini berdasarkan riwayat Abu Daud daripada Umru bin Salmah yang terdedah kain tutupnya ketika sujud kerana singkat. Jika terdedah sebahagian besar daripada aurat, maka terbatal sembahyang. Perbezaan sama ada aurat yang terdedah kecil atau besar adalah menurut kebiasaan.

Sebaliknya, jika terdedah sebahagian besar daripada aurat dengan tidak sengaja dan ditutup pada ketika itu juga tanpa berlalu masa panjang, maka tidak terbatal sembahyang. Ini di sebabkan pendek masa sama pendek dengan ukuran. Tetapi jika berlalu masa yang panjang atau sengaja dibuka, maka terbatal sembahyang itu secara mutlak.

Aurat hamba perempuan sama seperti aurat orang lelaki, iaitu apa yang ada antara pusat dengan lutut menurut pendapat yang rajih. Ini berdasarkan Hadith riwayat Umru bin Shuaib (Hadith marfuk yang telah disebutkan sebelum ini yang bermaksud: “Dan apabila salah seorang daripada kamu mengahwinkan hamba perempuannya dengan hamba lelakinya atau orang upahannya, maka janganlah hamba perempuan itu melihat auratnya.”

Aurat orang perempuan yang sudah baligh (selain hamba) ialah seluruh tubuhnya kecuali muka.Menurut pendapat yang rajih daripada dua riwayat di kalangan ramai ulama’, kedua-dua tapak tangan juga terkecuali. Ini berdasarkan firman Allah S.W.T:

Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya… .

Surah al-Nur 24:31

Ibn Abbas dan Aisyah r.a. berkata bahawa yang dimaksudkan dengan yang zahir ialah muka dan kedua-dua tapak tangan dan tidak boleh mendedah selain muka dan kedua-dua tapak tangannya semasa sembahyang.

Ini berdasarkan Hadith-hadith yang telah disebutkan sebelum ini menurut pendapat ulama’ Syafi’i.

Dalil yang mewajibkan tutup kedua-dua kaki ialah Hadith riwayat Ummu Salamah yang bermaksud: “Aku bertanya,

“Wahai Rasulullah, adakah orang perempuan bersembahyang dengan memakai baju dan tudung kepala tanpa sarung?’” Baginda menjawab:

Ya, jika bajunya labuh, maka tutupilah belakang kakinya-146

Hadith tersebut menunjukkan wajib menutup kedua-dua belah kaki kerana ia kawasan yang tidak boleh dibuka semasa berihram haji dan umrah, maka tidak boleh juga didedahkan ketika bersembahyang seperti kedua-dua betis.

Memadai bagi orang perempuan menggunakan pakaian yang cukup untuk menutup bahagian yang wajib sahaja.Ini berdasarkan Hadith riwayat Ummu Salamah yang tersebut tadi.Tetapi digalakkan melakukan sembahyang di dalam baju yang labuh yang dapat menutup kedua-dua kakinya dan tudung kepala yang boleh menutup kepala dan tengkuk dan selendang yang diselimuti dari atas baju.

Hukum terdedah aurat orang perempuan, selain muka dan kedua-dua tapak tangan, sama ada kecil atau besar adalah sama hukumnya dengan kes orang lelaki seperti yang telah dibincang kan sebelum ini. Aurat orang perempuan di hadapan orang lelaki muhrimnya ialah seluruh tubuh kecuali muka, tengkuk, kedua-dua belah tangan, kaki dan betis.

Sebagaimana pendapat ulama’ Syafiei juga, ulama’ Hanbali mengatakan bahawa seluruh tubuh orang perempuan sehingga muka dan kedua-dua tapak tangan, di luar sembahyang, ialah aurat. Ini berdasarkan sabda Rasulullah yang telah disebutkan sebelum ini yang bermaksud: “Orang perempuan adalah aurat.” Diharuskan mendedah aurat untuk berubat, bersendirian di bilik air, bersunat, untuk mengetahui pencapaian umur baligh, untuk mengetahui dara dan bukan dara dan kecacatan.

Aurat orang perempuan Islam (selain hamba) di hadapan orang perempuan kafir menurut pendapat ulama’ Hanbali adalah sama seperti auratnya di hadapan orang lelaki muhrim, iaitu apa yang ada di antara pusat dengan lutut. Menurut pendapat jumhur, seluruh tubuh kecuali yang terdedah ketika melakukan pekerjaan rumah.

Punca perselisihan ialah pentafsiran bagi ayat al-Qur’an dalam Surah al-Nur, iaitu firman Allah S.W.T:

Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka, melainkan kepada suami mereka, … atau perempuan-perempuan Islam… . Surah al-Nur 24:31

Menurut pendapat ulama’ Hanbali dan para ulama’ lain, ganti nama bihinna (mereka) mencakupi orang perempuan secara umum tanpa perbezaan antara Islam dengan kafir. Justeru itu, harus bagi orang perempuan Islam memperlihatkan perhiasan tubuhnya kepada orang perempuan kafir, sama dengan apa yang harus baginya memperlihatkan kepada orang perempuan Islam.

Menurut pendapat jumhur ganti nama bihinna di sini ialah khusus bagi orang perempuan Islam sahaja, iaitu khusus bagi persahabatan dan persaudaraan Islam. Justeru itu, tidak harus bagi orang perempuan Islam memperlihatkan apa pun daripada perhiasan tubuhnya kepada orang perempuan kafir.247

Jelas kepada kita bahawa pendapat ulama’ Hanbali dan ulama’ Hanafi adalah lebih utama kerana ia bersepakat dengan Hadith yang menyuruh kanak-kanak yang berumur tujuh tahun supaya bersembahyang dan dipukul apabila meningkat umur 10 tahun jika tidak sembahyang.

Bahagian Aurat Terpisah daripada Tubuh Badan

Menurut pendapat ulama’ Hanafi dan Syafi’i, diharamkan melihat aurat lelaki sama ada bahagian yang menjadi aurat itu masih sedaging dengan tubuh badan atau sudah terpisah daripada tubuh badan seperti rambut, lengan ataupun peha.

Menurut pendapat ulama’ Hanbali bahagian aurat yang terpisah daripada tubuh badan tidak diharamkan melihatnya kerana hilang kehormatannya apabila terpisah.

Menurut pendapat ulama’ Maliki harus melihat bahagian aurat yang sudah terpisah daripada tubuh ketika pemiliknya masih hidup. Tetapi diharamkan melihatnya sesudah dia mati sama seperti bahagian aurat yang masih sedaging dengan tubuh badan.

Suara Orang Perempuan

Menurut pendapat jumhur, suara orang perempuan tidak dikira sebagai aurat, kerana para sahabat mendengar suara isteri-isteri Nabi Muhammad s.a.w. untuk mempelajari hukum-hukum agama. Tetapi diharamkan mendengar suaranya yang berbentuk lagu dan irama sekalipun bacaan al-Qur’an, kerana dikhuatiri akan menimbulkan fitnah.

Mengingat Kematian

 

2 september 2013 12:38 WIB

Sesungguhnya di anGambartara hal yang membuat jiwa melantur dan mendorongnya kepada berbagai pertarungan yang merugikan dan syahwat yang tercela adalah panjang angan-angan dan lupa akan kematian. Oleh karena itu di antara hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang notabene merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi, dan pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian. Janganlah ada yang menyangka bahwa pendek angan-angan akan menghambat pemakmuran dunia. Persoalannya tidak demikian, bahkan memakmurkan dunia disertai pendek angan-angan justeru akan lebih dekat kepada ibadah, jika bukan ibadah yang murni.

Rasulullah saw bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)

Persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mengingatnya di dalam hati, sedangkan untuk selalu mengingat di dalam hati tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mendangarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan peringatan-peringatannya sehingga hal itu menjadi dorongan untuk mempersiapkan diri. Kepergian untuk menyambut kehidupan setelah kematian telah dekat masanya sementara umur yang tersisa sangat sedikit dan manusiapun melalaikannya.

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS Al-Anbiya 1)

Orang yang tenggelam dengan dunia, gandrung kepada tipu-dayanya dan mencintai syahwatnya tak ayal lagi adalah orang yang hatinya lalai dari mengingat kematian; ia tidak mengingatnya bahkan apabila diingatkan ia tak suka dan menghindarinya. Mereka itulah yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Jumu’ah 8)

Kemudian manusia ada yang tenggelam ke dalam dunia, ada pula yang bertaubat dan ada pula yang arif.

Pertama: adapun orang yang tenggelam ke dalam dunia, ia tidak mengingat kematian sama sekali. Jika diingatkan ia mengingat semata-mata untuk menyesali dunianya dan sibuk mencelanya. Baginya, mengingat kematian hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah.

Kedua: Adapun orang yang bertaubat, ia banyak mengingat kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya lalu ia menyempurnakan taubat dan kadang-kadang tidak menyukai kematian karena takut disergap sebelum terwujud kesempurnaan taubat dan memperbaiki bekal. Dalam hal ini ia dimaafkan dan tidak tergolong ke dalam sabda Nabi saw:

مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Karena sesungguhnya ia tidak membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah, tetapi hanya takut tidak dapat berjumpa dengan Allah karena berbagai kekurangan dan keteledorannya. Ia seperti orang yang memperlambat pertemuan dengan kekasihnya karena sibuk mempersiapkan diri untuk menemuinya dalam keadaan yang diridhainya sehingga tidak dianggap membenci pertemuan. Sebagai buktinya ia selalu siap untuk menemuinya dan tidak ada kesibukan selainnya. Jika tidak demikian maka ia termasuk orang yang tenggelam ke dalam dunia.

Ketiga: Sedangkan orang yang ‘arif, ia selalu ingat kematian karena kematian adalah janji pertemuannya dengan kekasihnya. Pecinta tidak akan pernah lupa sama sekali akan janji pertemuan dengan kekasihnya. Pada ghalibnya orang ini menganggap lambat datangnya kematian dan mencintai kedatangannya untuk membebaskan diri dari kampung orang-orang yang bermaksiat dan segera berpindah ke sisi Tuhan alam semesta. Sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ketika menghadapi kematian, ia berkata:

“Kekasih datang dalam kemiskinan, semoga tidak berbahagia orang yang menyesal. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan lebih aku cintai dari kekayaan, sakit lebih aku cintai dari kesehatan, dan kematian lebih aku cintai dari kehidupan, maka permudahlah kematian atas diriku agar segera dapat berjumpa dengan-Mu”

Jadi, orang yang bertaubat dimaafkan dari sikap tidak menyukai kematian sedangkan orang yang ‘arif dimaafkan dari tindakan mencintai dan mengharapkan kematian. Tingkatan yang lebih tinggi dari keduanya ialah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah sehingga ia tidak memilih kematian atau kehidupan untuk dirinya. Apa yang paling dicintai adalah apa yang paling dicintai kekasihnya. Orang ini melalui cinta dan wala’ yang mendalam berhasil mencapai maqam taslim dan ridha, yang merupakan puncak tujuan. Tetapi bagaimanapun, mengingat kematian tetap memberikan pahala dan keutamaan. Karena orang yang tenggelam ke dalam dunia juga bisa memanfaatkan dzikrul maut untuk mengambil jarak dari dunia sebab dzikrul maut itu membuat dirinya kurang berselera kepada kehidupan dunia dan mengeruhkan kemurnian kelezatannya. Setiap hal yang dapat mengeruhkan kelezatan dan syahwat manusia adalah termasuk sebab keselamatan. Rasulullah saw bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat penghancur berbagai kelezatan, yaitu kematian.”

(HR Tirmidzi, Nasaa’I dan Ibnu Majah)

Artinya, kurangilah berbagai kelezatan dengan mengingat kematian sehingga kegandrungan kamu kepada berbagai kelezatanterputus lalu kamu berkonsentrasi kepada Allah, karena mengingat kematian dapat menghindarkan diri dari kampung tipudaya dan menggiatkan persiapan untuk kehidupan akhirat, sedangkan lalai akan kematian mangakibatkan tenggelam dalam syahwat dunia, sabda Nabi saw:

تحفة المؤمن الموت

“Hadiah orang mu’min adalah kematian.” (HR Thabrani dan al-Hakim)

Nabi saw menegaskan hal ini karena dunia adalah penjara orang mu’min, sebab ia senantiasa berada di dunia dalam keadaan susah mengendalikan dirinya, menempa syahwatnya dan melawan syetannya. Dengan demikian, kematian baginya adalah pembebasan dari siksa ini, dan pembebasan tersebut merupakan hadiah bagi dirinya. Nabi saw bersabda:

الموت كفارة لكل مسلم

“Kematian adalah kafarat bagi setiap muslim.” (HR al-Baihaqi)

Yang dimaksudnya adalah orang muslim sejati yang orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya, yang merealisasikan akhlaq orang-orang mu’min, tidak terkotori oleh berbagai kemaksiatan kecuali beberapa dosa kecil, sebab kematian akan membersihkannya dari dosa-dosa kecil tersebut setelah ia menjauhi dosa-dosa besar dan menunaikan berbagai kewajiban. Sebagian kaum bijak bestari menulis surat kepada salah seorang kawannya:

“Wahai saudaraku hati-hatilah terhadap kematian di kampung ini sebelum kamu berada di sebuah kampung di mana kamu berharap kematian tetapi tidak akan mendapatkannya,,,,,,,,,,,,,,,,”

 

Manusia dan Kematian

 Sebelum membicarakan kematian, terlebih dahulu perlu digarisbawahi bahwa kematian dalam pandangan Al-Quran tidak hanya terjadi sekali, tetapi dua kali. “Mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami menyadari dosa-dosa kami maka adakah jalan bagi kami untuk keluar (dari siksa neraka)?” (QS Surat Ghafir ayat 11) Kematian oleh sementara ulama didefinisikan sebagai “ketiadaan hidup,” atau “antonim dari hidup.” Kematian pertama dialami oleh manusia sebelum kelahirannya, atau saat sebelum Allah menghembuskan ruh kehidupan kepadanya; sedang kematian kedua, saat ia meninggalkan dunia yang fana ini. Kehidupan pertama dialami oleh manusia pada saat manusia menarik dan menghembuskan nafas di dunia, sedang kehidupan kedua saat ia berada di alam barzakh, atau kelak ketika ia hidup kekal di hari akhirat. Al-Quran berbicara tentang kematian dalam banyak ayat, sementara pakar memperkirakan tidak kurang dari tiga ratusan ayat yang berbicara tentang berbagai aspek kematian dan kehidupan sesudah kematian kedua. KESAN UMUM TENTANG KEMATIAN Secara umum dapat dikatakan bahwa pembicaraan tentang kematian bukan sesuatu yang menyenangkan. Namun manusia bahkan ingin hidup seribu tahun lagi. Al-Quran pun melukiskan keinginan sekelompok manusia untuk hidup selama itu (baca surat Al-Baqarah [2]: 96). Iblis berhasil merayu Adam dan Hawa melalui “pintu” keinginan untuk hidup kekal selama- lamanya. “Maukah engkau kutunjukkan pohon kekekalan (hidup) dan kekuasaan yang tidak akan lapuk? (QS Thaha [20]: 120) , demikian iblis merayu Adam. Banyak faktor yang membuat seseorang enggan mati. Ada orang yang enggan mati karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian; mungkin juga karena menduga bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik dari yang akan didapati nanti. Atau mungkin juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati. Atau mungkin karena khawatir memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan, atau karena tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadapi kematian. Dari sini lahir pandangan- pandangan optimistis dan pesimistis terhadap kematian dan kehidupan, bahkan dari kalangan para pemikir sekalipun. Manusia, melalui nalar dan pengalamannya tidak mampu mengetahui hakikat kematian, karena itu kematian dinilai sebagai salah satu gaib nisbi yang paling besar. Walaupun pada hakikatnya kematian merupakan sesuatu yang tidak diketahui, namun setiap menyaksikan bagaimana kematian merenggut nyawa yang hidup manusia semakin terdorong untuk mengetahui hakikatnya atau, paling tidak, ketika itu akan terlintas dalam benaknya, bahwa suatu ketika ia pun pasti mengalami nasib yang sama. Manusia menyaksikan bagaimana kematian tidak memilih usia atau tempat, tidak pula menangguhkan kehadirannya sampai terpenuhi semua keinginan. Di kalangan sementara orang, kematian menimbulkan kecemasan, apalagi bagi mereka yang memandang bahwa hidup hanya sekali yakni di dunia ini saja. Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya menilai kehidupan ini sebagai siksaan, dan untuk menghindar dari siksaan itu, mereka menganjurkan agar melupakan kematian dan menghindari sedapat mungkin segala kecemasan yang ditimbulkannya dengan jalan melakukan apa saja secara bebas tanpa kendali, demi mewujudkan eksistensi manusia. Bukankah kematian akhir dari segala sesuatu? Kilah mereka. Sebenarnya akal dan perasaan manusia pada umumnya enggan menjadikan kehidupan atau eksistensi mereka terbatas pada puluhan tahun saja. Walaupun manusia menyadari bahwa mereka harus mati, namun pada umumnya menilai kematian buat manusia bukan berarti kepunahan. Keengganan manusia menilai kematian sebagai kepunahan tercermin antara lain melalui penciptaan berbagai cara untuk menunjukkan eksistensinya. Misalnya, dengan menyediakan kuburan, atau tempat-tenapat tersebut dikunjunginya dari saat ke saat sebagai manifestasi dari keyakinannya bahwa yang telah meninggalkan dunia itu tetap masih hidup walaupun jasad mereka telah tiada. Hubungan antara yang hidup dan yang telah meninggal amat berakar pada jiwa manusia. Ini tercermin sejak dahulu kala, bahkan jauh sebelum kehadiran agama-agama besar dianut oleh umat manusia dewasa ini. Sedemikian berakar hal tersebut sehingga orang- orang Mesir Kuno misalnya, meyakini benar keabadian manusia, sehingga mereka menciptakan teknik-teknik yang dapat mengawetkan mayat-mayat mereka ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Konon Socrates pernah berkata, sebagaimana dikutip oleh Asy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297), “Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.” Demikian gagasan keabadian hidup manusia hadir bersama manusia sepanjang sejarah kemanusiaan. Kalau keyakinan orang-orang Mesir Kuno mengantar mereka untuk menciptakan teknik pengawetan jenazah dan pembangunan piramid, maka dalam pandangan pemikir- pemikir modern, keabadian manusia dibuktikan oleh karya- karya besar mereka. Abdul Karim Al-Khatib dalam bukunya Qadhiyat Al-Uluhiyah (I:214) mengutip tulisan Goethe (1749-1833 M) yang menyatakan: “Sesungguhnya usaha sungguh-sungguh yang lahir dari lubuk jiwa saya, itulah yang merupakan bukti yang amat jelas tentang keabadian. Jika saya telah mencurahkan seluruh hidup saya untuk berkarya, maka adalah merupakan hak saya atas alam ini untuk menganugerahi saya wujud baru, setelah kekuatan saya terkuras dan jasad ini tidak lagi memikul beban jiwa.” Demikian filosof Jerman itu menjadikan kehidupan duniawi ini sebagai arena untuk bekerja keras, dan kematian merupakan pintu gerbang menuju kehidupan baru guna merasakan ketenangan dan keterbebasan dari segala macam beban. PANDANGAN AGAMA TENTANG MAKNA KEMATIAN Agama, khususnya agama- agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, di mana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan. Kematian dalam agama-agama samawi mempunyai peranan yang sangat besar dalam memantapkan akidah serta menumbuhkembangkan semangat pengabdian. Tanpa kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah mati, dan tidak akan mempersiapkan diri menghadapinya. Karena itu, agama-agama menganjurkan manusia untuk berpikir tentang kematian. Rasul Muhammad saw, misalnya bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan duniawi (kematian).” Dapat dikatakan bahwa inti ajakan para Nabi dan Rasul setelah kewajiban percaya kepada Tuhan, adalah kewajiban percaya akan adanya hidup setelah kematian. Dari Al-Quran ditemukan bahwa kehidupan yang dijelaskannya bermacam- macam dan bertingkat-tingkat. Ada kehidupan tumbuhan, binatang, manusia, jin, dan malaikat, sampai ke tingkat tertinggi yaitu kehidupan Yang Mahahidup dan Pemberi Kehidupan. Di sisi lain, berulang kali ditekankannya bahwa ada kehidupan di dunia dan ada pula kehidupan di akhirat. Yang pertama dinamai Al-Quran al-hayat ad-dunya (kehidupan yang rendah), sedangkan yang kedua dinamainva al-hayawan (kehidupan yang sempurna). “Sesungguhnya negeri akhirat itu adalah al-hayawan (kehidupan yang sempurna” (QS Al-’Ankabut [29]: 64) Dijelaskan pula bahwa, “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedang akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan kamu sekalian (yang bertakwa dan yang tidak) tidak akan dianiaya sedikitpun (QS Al-Nisa’ 14]: 77) Betapa kehidupan ukhrawi itu tidak sempurna, sedang di sanalah diperoleh keadilan sejati yang menjadi dambaan setiap manusia, dan di sanalah diperoleh kenikmatan hidup yang tiada taranya. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan kenikmatan dan kesempurnaan itu, adalah kematian, karena menurut Raghib Al-Isfahani: “Kematian, yang dikenal sebagai berpisahnya ruh dari badan, merupakan sebab yang mengantar manusia menuju kenikmatan abadi. Kematian adalah perpindahan dari satu negeri ke negeri yang lain, sebagaimana diriwayatkan bahwa, “Sesungguhnya kalian diciptakan untuk hidup abadi, tetapi kalian harus berpindah dan satu negeri ke negeri (yang lain) sehingga kalian menetap di satu tempat.” (Abdul Karim AL-Khatib, I:217) Kematian walaupun kelihatannya adalah kepunahan, tetapi pada hakikatnya adalah kelahiran yang kedua. Kematian manusia dapat diibaratkan dengan menetasnya telur-telur. Anak ayam yang terkurung dalam telur, tidak dapat mencapai kesempurnaan evolusinya kecuali apabila ia menetas. Demikian juga manusia, mereka tidak akan mencapai kesempurnaannya kecuali apabila meninggalkan dunia ini (mati). Ada beberapa istilah yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada kematian, antara lain al-wafat (wafat), imsak (menahan). Dalam surat Al-Zumar (39): 42 dinyatakan bahwasanya, “Allah mewafatkan jiwa pada saat kematiannya, dan jiwa orang yang belum mati dalam tidurnya, maka Allah yumsik (menahan) jiwa yang ditetapkan baginya kematian, dan melepaskan yang lain (orang yang tidur) sampai pada batas waktu tertentu.” Ar-Raghib menjadikan istilah- istilah tersebut sebagai salah satu isyarat betapa Al-Quran menilai kematian sebagai jalan menuju perpindahan ke sebuah tempat, dan keadaan yang lebih mulia dan baik dibanding dengan kehidupan dunia. Bukankah kematian adalah wafat yang berarti kesempurnaan serta imsak yang berarti menahan (di sisi- Nya)? Memang, Al-Quran juga menyifati kematian sebagai musibah malapetaka (baca surat Al-Ma-idah [5]: 106), tetapi agaknya istilah ini lebih banyak ditujukan kepada manusia yang durhaka, atau terhadap mereka yang ditinggal mati. Dalam arti bahwa kematian dapat merupakan musibah bagi orang-orang yang ditinggalkan sekaligus musibah bagi mereka yang mati tanpa membawa bekal yang cukup untuk hidup di negeri seberang. Kematian juga dikemukakan oleh Al-Quran dalam konteks menguraikan nikmat-nikmat- Nya kepada manusia. Nikmat yang diakibatkan oleh kematian, bukan saja dalam kehidupan ukhrawi nanti, tetapi juga dalam kehidupan duniawi, karena tidak dapat dibayangkan bagaimana keadaan dunia kita yang terbatas arealnya ini, jika seandainya semua manusia hidup terus-menerus tanpa mengalami kematian. Muhammad Iqbal menegaskan bahwa mustahil sama sekali bagi makhluk manusia yang mengalami perkembangan jutaan tahun, untuk dilemparkan begitu saja bagai barang yang tidak berharga. Tetapi itu baru dapat terlaksana apabila ia mampu menyucikan dirinya secara terus menerus. Penyucian jiwa itu dengan jalan menjauhkan diri dari kekejian dan dosa, dengan jalan amal saleh. Bukankah Al-Quran menegaskan bahwa, “Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun” (QS Al- Mulk [67]: 1-2) Demikian terlihat bahwa kematian dalam pandangan Islam bukanlah sesuatu yang buruk, karena di samping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdiannya dalam kehidupan dunia ini, ia juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan abadi, serta mendapatkan keadilan sejati. MENGAPA TAKUT MATI Al-Quran seperti dikemukakan berusaha menggambarkan bahwa hidup di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia. “Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia” (QS Al-Dhuha [93]: 4) Musthafa Al-Kik menulis dalam bukunya Baina Alamain bahwasanya kematian yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak seperti serangan jantung, tabrakan, dan sebagainya, dan dapat juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses menua secara perlahan. Yang mati mendadak maupun yang normal, kesemuanya mengalami apa yang dinamai sakarat al-maut (sekarat) yakni semacam hilangnya kesadaran yang diikuti oleh lepasnya ruh dan jasad. Dalam keadaan mati mendadak, sakarat al-maut itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat sakit karena kematian yang dihadapinya ketika itu diibaratkan oleh Nabi saw- seperti “duri yang berada dalam kapas, dan yang dicabut dengan keras.” Banyak ulama tafsir menunjuk ayat Wa nazi’at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras) (QS An-Nazi’at [79]: 1), sebagai isyarat kematian mendadak. Sedang lanjutan ayat surat tersebut yaitu Wan nasyithati nasytha (malaikat- malaikat yang mencabut ruh dengan lemah lembut) sebagai isyarat kepada kematian yang dialami secara perlahan-lahan. Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang dinyatakan oleh ayat di atas sebagai “dicabut dengan lemah lembut,” sama keadaannya dengan proses yang dialami seseorang pada saat kantuk sampai dengan tidur. Surat Al- Zumar (39): 42 yang dikutip sebelum ini mendukung pandangan yang mempersamakan mati dengan tidur. Dalam hadis pun diajarkan bahwasanya tidur identik dengan kematian. Bukankah doa yang diajarkan Rasulullah saw untuk dibaca pada saat bangun tidur adalah: “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami (membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami (menidurkan). Dan kepada- Nya jua kebangkitan (kelak).” Pakar tafsir Fakhruddin Ar- Razi, mengomentari surat Al- Zumar (39): 42 sebagai berikut: “Yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna dilihat dari beberapa segi.” Kalau demikian. mati itu sendiri “lezat dan nikmat,” bukankah tidur itu demikian? Tetapi tentu saja ada faktor-faktor ekstern yang dapat menjadikan kematian lebih lezat dari tidur atau menjadikannya amat mengerikan melebihi ngerinya mimpi-mimpi buruk yang dialami manusia. Faktor-faktor ekstern tersebut muncul dan diakibatkan oleh amal manusia yang diperankannya dalam kehidupan dunia ini. Nabi Muhammad saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menjelaskan bahwa, “Seorang mukmin, saat menjelang kematiannya, akan didatangi oleh malaikat sambil menyampaikan dan memperlihatkan kepadanya apa yang bakal dialaminya setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang lebih disenanginya kecuali bertemu dengan Tuhan (mati) …”. Dalam surat Fushshilat (41): 30 Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula bersedih, serta bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah kepada kamu.’” Turunnya malaikat tersebut menurut banyak pakar tafsir adalah ketika seseorang yang sikapnya seperti digambarkan ayat di atas sedang menghadapi kematian. Ucapan malaikat, “Janganlah kamu merasa takut” adalah untuk menenangkan mereka menghadapi maut dan sesudah maut, sedang “jangan bersedih” adalah untuk menghilangkan kesedihan mereka menyangkut persoalan dunia yang ditinggalkan seperti anak, istri, harta, atau hutang. Manusia dapat “menghibur” dirinya dalam menghadapi kematian dengan jalan selalu mengingat dan meyakini bahwa semua manusia pasti akan mati. Tidak seorang pun akan luput darinya, karena “kematian adalah risiko hidup.” Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa, “Setiap jiwa akan merasakan kematian?” (QS Ali ‘Imran [3]: 183) “Kami tidak menganugerahkan hidup abadi untuk seorang manusiapun sebelum kamu. Apakah jika kamu meninggal dunia mereka akan kekal abadi? (QS Al- Anbiya’ [21]: 34) Demikian Al-Quran menggambarkan kematian yang akan dialami oleh manusia, dan demikian kitab suci menginformasikan tentang kematian yang dapat mengantar seorang mukmin agar tidak merasa khawatir menghadapinya. Sementara, yang tidak beriman atau yang durhaka diajak untuk bersiap- siap menghadapi berbagai ancaman dan siksaan. Semoga kita semua mendapatkan keridhaan Ilahi dan surga-Nya.