Arsip

Nafs

7 (tujuh) Kota / Wilayah Nafs dalam diri Manusia

Beliau, As Syaikh Bahauddin An Naqsyabandi ra – menggambarkan setiap stasiun di dalam diri manusia sebagai kota/wilayah, satu sama lainnya saling menempati.

Bacalah dengan membawa diri kita sebagai pelaku pengembara dalam setiap Kota/Wilayah yang digambarkan, agar kita mendapatkan makna didalamnya untuk diri kita sendiri, sehingga kita dapat mengetahui dimanakah kita sekarang ini berada.

Bagian I – NAFS TIRANI

Bagaikan dalam mimpi, aku tiba pada sebuah kota yang gelap. Kota tersebut sangatlah luas, aku tidak dapat melihat maupun membayangkan batasnya. Kota tersebut dihuni oleh manusia dari berbagai bangsa dan ras. Seluruh perilaku buruk dari setiap mahluk hidup, seluruh dosa, baik yang kuketahui maupun yang tidak berada di sekelilingku.

Apa yang kuamati membawaku pada pemikiran bahwa sejak semula cahaya matahari kebenaran tidak pernah menyinari kota ini. Tidak hanya langit, jalan-jalan, maupun rumah-rumah di kota tersebut berada di dalam gelap gulita, tetapi para penduduknya, yang bagaikan kelelawar, memiliki pikiran dan hati segelap malam.

Sikap amaliah dan perilaku mereka bagaikan anjing liar. Bergumul dan berkelahi satu sama lainnya untuk sesuap makanan, terobsesi oleh nafsu buruk dan amarah, mereka saling menghancurkan dan membunuh.

Kesenangan utama mereka hanyalah bermabuk-mabukkan dan melakukan hubungan seks tanpa membedakan laki-laki dan wanita, isteri dan suami, atau yang lainnya. Berbohong, berbuat curang, bergunjing, memfitnah, dan mencuri adalah tradisi mereka, tanpa sedikitpun perduli terhadap orang lain.

Mereka sama sekali tidak memiliki kesadaran dan rasa takut kepada Tuhan. Banyak di antara mereka menyebut dirinya sebagai Muslim. Bahkan, sebagian dari mereka dianggap sebagai orang bijak seperti para Syaikh, Guru, Cendikiawan dan Penceramah.

Penduduk kota ini memberitahu kepada ku bahwa kota ini bernama ” KOTA/WILAYAH AMARAH “, kota kebebasan, tempat setiap orang melakukan apa yang mereka sukai.

Aku menanyakan pula siapa nama penguasa kota tersebut. Penduduk kota ini berkata bahwa sang penguasa kota ini bernama ” YANG MULIA KEPANDAIAN”, ia seorang Astrolog, Ahli Sihir, Insinyur, Ahli Fiqih, Dokter yang memberikan kehidupan pada seseorang yang akan meninggal dunia, seorang Raja terpelajar yang terpandai dan tidak ada duanya di dunia ini, orang-orang Jenius, Profesor, Doktor, Analis, Presiden, Pejabat, dsb.

Para Penasehat dan Menterinya disebut ” LOGIKA “, para Hakimnya bergantung kepada ” HUKUM RASIONALITAS KUNO “, para Pelayannya disebut ” IMAJINASI DAN KHAYALAN “. Seluruh penduduknya sepenuhnya setia kepada penguasanya, tidak hanya menghormati dan menghargainya serta setia kepada pemerintahannya, tetapi juga mencintainya, sebab mereka semua merasakan persamaan sifat, adat istiadat dan perilaku.

Aku pergi menemui sang penguasa ” YANG MULIA KEPANDAIAN”, dan memberanikan diri untuk bertanya,”bagaimana mungkin para penduduk yang berpengetahuan dari kerajaanmu ini tidak berkelakuan sesuai dengan pengetahuan mereka dan tidak merasa takut terhadap Tuhan ?, bagaimana mungkin tidak seorang pun di kota ini takut terhadap hukuman Tuhan, sementara mereka takut akan hukuman dari mu ?, bagaimana mungkin rakyatmu berperawakan layaknya seorang manusia, namun sifat mereka bagaikan bianatang buas dan liar, dan bahkan lebih buruk lagi ?”

” YANG MULIA KEPANDAIAN ” menjawab, “Aku.. seorang yang mampu mengusahakan keuntungan pribadi dari dunia ini, walaupun keuntunganku adalah kerugian bagi mereka, dan itu adalah teladan bagi mereka. Aku memiliki utusan di dalam diri mereka masing-masing. Mereka adalah hamba-hambaku, dan hamba-hamba dari para utusanku yang berada di dalam diri mereka, namun aku juga memiliki seorang guru yang membimbingku, dialah IBLIS.

Bagian II – NAFS YANG PENUH PENYESALAN

Aku yang melalui kota/wilayah NAFS TIRANI memohon kepada sang Raja ” YANG MULIA KEPANDAIAN” untuk diizinkan mendatangi sebuah wilayah dengan sebuah istana besar yang berada di tengah kota.

Sang Raja ” YANG MULIA KEPANDAIAN” menjawab,”Aku juga berkuasa atas wilayah istana tersebut. Wilayahnya disebut ” PENYESALAN “.

Di dalam wilayah ” PENYESALAN “, imajinasi tidak memiliki kekuatan mutlak. Mereka juga melakukan apa yang disebut sebagai dosa. Mereka melakukan perzinaan, mereka memuaskan syahwat/seks mereka, baik dengan laki-laki maupun perempuan, mereka minum khmar/alkohol, mereka berjudi, mencuri, membunuh, bergunjing, dan memfitnah sebagaimana penduduk ” NAFS TIRANI “, namun sering juga mereka menyadari perbuatan mereka, kemudian mereka menyesal dan bertaubat.

Aku bertemu dengan seorang cedikiawan di wilayah ini, ia menegaskan bahwa mereka berada di bawah kekuasaan ” YANG MULIA KEPANDAIAN “, namun mereka memiliki administrator-administrator sendiri, yang bernama ” KEANGKUHAN, KEMUNAFIKAN DAN FANATISME”.

Di antara para penduduk banyak yang tampak seakan-akan suci, taat, soleh dan lurus. Aku mendapati mereka dicemari oleh keangkuhan, egoisme, dengki, ambisi, kefanatikan, dan di dalam persahabatan mereka ada ketidak tulusan, yang terbaik dari mereka adalah bahwa mereka berdoa dan berusaha mengikuti perintah Tuhan, karena mereka takut akan hukuman Tuhan dan takut pula akan Neraka.

Setelah menyusuri wilayah itu, aku melihat lagi sebuah wilayah dengan sebuah istana lain lagi, aku bertanya mengenai istana tersebut kepada salah seorang penduduk yang terpelajar. Ia mengatakan bahwa wilayah istana tersebut di kenal sebagai wilayah ” CINTA DAN ILHAM “. Saya bertanya mengenai siapakah penguasa wilayah tersebut, dikatakannya bahwa penguasanya bernama ” YANG MULIA KEARIFAN ” yang memiliki seorang wakil yang bernama ” CINTA “.

Penduduk terpelajar tersebut berkata,”Jika salah satu dari kami memasuki wilayah CINTA DAN ILHAM tersebut, maka kami tidak menerimanya kembali ke kota/wilayah kami. Karena siapapun yang telah pergi dan masuk kesana akan berubah layaknya para penduduk wilayah itu, siapapun akan sepenuhnya terikat pada wakil penguasa wilayah itu, dan siap mengorbankan apapun terhadap seluruh yang mereka miliki, harta kekayaan mereka, keluarga serta anak-anak mereka, bahkan kehidupan mereka. Itu semua demi sang wakil penguasa wilayah itu yang bernama CINTA .”

Ia melanjutkan,”Raja kami, YANG MULIA KEPANDAIAN , melihat bahwa sifat-sifat tersebut sama sekali tidak dapat diterima. Ia takut akan pengaruh dari mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut, karena baik kesetiaan maupun tindakan mereka tampak tidak logis dan tidak diterima oleh akal sehat.”

Sang Raja berujar,”Kami mendengar bahwa penduduk wilayah CINTA DAN ILHAM tersebut menyebut-nyebut nama Tuhan, bersenandung, dan bernyanyi, bahkan di iringi oleh seruling, rebana, dan gendering, dan mereka melakukan hal tersebut hingga kehilangan kesadaran mereka dan masuk ke dalam Ekstase (para darwis/sufi yang bersenandung memuji Tuhan). Maka, para pimpinan Keagamaan dan Teologis kami melihat bahwa hal tersebut tidaklah dapat diterima. Karenanya, tidak satu pun dari mereka yang bahkan bermimpi untuk menginjakkan kaki di wilayah

CINTA DAN ILHAM ”

Bagian III – NAFS YANG TERILHAMI

Wilayah ” CINTA DAN ILHAM ” adalah sebuah wilayah yang kompleks, dengan wilayah positif dan negatif. Egoisme dan kemunafikan masih merupakan hal yang sangat berbahaya pada tingkat ini.

Aku memasukinya, dengan semata-mata mengucapkan kalimat ” Laa Ilaaha Ilallah – Tiada Tuhan Selain Allah”.

Tak lama kemudian, aku menemukan pondokan para darwis/sufi. Di tempat tersebut aku melihat golongan atas dan bawah, kaya dan miskin, seolah-olah satu. Aku melihat mereka saling mencintai dan menghargai, melayani satu sama lain dengan hormat dan santun, dalam keadaan gembira yang tak ada hentinya.

Mereka berbincang-bincang dan bernyanyi, nyanyian dan perkataan mereka memikat hati, indah dan selalu berkenaan dengan Tuhan, alam akhirat, spritualis dan lepas dari segala kecemasan dan penderitaan, bagaikan hidup di alam surga. Aku tidak mendengar atau melihat apapun yang menyerupai perselisihan ataupun pertengkaran, tida ada yang membahayakan ataupun merusak. Tidak ada tipu daya ataupun kedengkian, kecemburuan, maupun gunjingan. Aku tiba-tiba merasakan kedamaian, kenyamanan dan kebahagiaan di tengah-tengah mereka.

Aku melihat seorang tua, kepekaan dan kearifan memancar melalui matanya. Aku tertarik padanya dan kemudian menghampirinya, “Sahabat, aku seorang pengembara yang papa, dan dalam keadaan sakit, yang sedang mencari obat penyakit kegelapan dan kealpaan. Adakah seorang dokter di wilayah ini yang dapat menyembuhkan diriku ini ?”. Ia terdiam sejenak, aku menanyakan namanya, ia menyebut namanya sebagai ” PETUNJUK”. Kemudian ia berkata, “Nama kecilku KEBENARAN, sejak zaman dahulu, tidak satu pun kebohongan keluar dari bibirku, tugas dan wewenangku adalah menunjukkan jalan kepada mereka dengan tulus mencari kebersamaan dengan YANG MAHA TERCINTA.”

Sang orang tua tadi kemudian menggambarkan pada ku mengenai wilayah KAUM PENIRU yang berada di dalam wilayah ini. Ia berkata,”inilah wilayah kaum munafik, yang menirukan bentuk luar dari pemujaan dan ajaran spiritual tanpa pemahaman batiniah. Dokter ahli yang engkau cari guna menyembuhkan penyakitmu itu tidak berada di wilayah ini. Tidak pula toko obat yang menyediakan obat untuk penyakit lalai, kegelapan hati, mereka sendiri disini sebenarnya sakit dengan penyakit diri mereka sendiri. Mereka menyebut diri mereka sebagai Kekasih Tuhan, namun hanya menjadi Tuan Peniruan.”

“Mereka menyembunyikan tipu daya, sikap munafik, dan kedengkian dengan sangat baik. Walaupun lidah mereka tampak mengucapkan doa-doa dan nama-nama Tuhan, dan engkau kerap menemukan mereka berada di tengah kumpulan para darwis/sufi. Engkau tidak akan menemukan pada mereka obat untuk menyembuhkan penyakit kelalaian dan kealpaan.”

Bagian IV – NAFS YANG TENTRAM

(dalam manuskrip beliau – As Syaikh Bahauddin An Naqsyabandi ra menggambarkan Orang Tua yang ditemukan oleh pengembara pada Bagian III – NAFS YANG TERILHAMI adalah bahasa lain dari seorang Syaikh Mursyid/Waliyam Mursyida, yang dinamakan juga sebagai

PETUNJUK. Beliau juga memberikan catatan bahwa pekerjaan lain yang diperlukan dalam tingkat wilayah ke IV ini adalah dengan mengurangi perasaan terpisah dari Tuhan dan mulai menyatukan beragam kecenderungan yang telah dibangun. )

Orang Tua itu mengirim aku untuk memasuki wilayah NAFS YANG TENTRAM , wilayahnya Para Pejuang Spiritual.

Aku mengikuti nasehatnya dan pergi ke wilayah itu. Orang-orang yang kutemui di sana berperawakan kurus dan lemah, lembut, bijaksana, bersyukur, taat beribadah, patuh, berpuasa, merenung dan bermeditasi. Kekuatan mereka terletak pada pengamalan akan hal-hal yang mereka ketahui. Aku mendekati mereka, dan melihat bahwa mereka telah meninggalkan sifat-sifat buruk akibat sifat-sifat mementingkan diri sendiri, dan dari bayangan-bayangan alam bawah sadar mereka.

Aku ikut bertempur dengan Egoku siang dan malam, namun tetap saja aku menjadi seorang Politeisme yang banyak “Diriku” dan “Aku” yang saling bertengkar walaupun menghadap kepada Tuhan Yang Satu.

Hal ini, yakni penyakitku yang menjadikan banyaknya “Aku” sebagai mitra Tuhan, membentuk bayangan yang tebal di atas hatiku, menyembunyikan kebenaran, dan membuatku terjebak di dalam kelalaian yang fatal.

Aku memberitahu mereka – Para Pejuang di wilayah ini, yang kuanggap sebagai Dokter, mengenai penyakitku, yakni Politeisme yang tersembunyi, kelalaian yang fatal dan memprihatinkan serta kegelapan hati, aku pun meminta pertolongan mereka.

Mereka berkata kepadaku, “Bahkan di wilayah ini, tempat orang-orang bertempur dengan ego mereka, tidak ada obat bagi penyakitmu itu.”

Mereka menyarankan aku untuk tetap terus berjalan, menuju ke wilayah yang bernama Permohonan dan Tafakur (NAFS YANG RIDHA ). Mungkin saja di sana, menurut mereka, akan ada orang yang dapat menyembuhkan penyakitku. Dengan izin dari Orang yang telah kutemukan sebelumnya, aku pun melanjutkan perjalan menuju wilayah yang disarankan oleh orang-orang di wilayah ini.

Bagian V – NAFS YANG RIDHA

Aku memasuki wilayah ” NAFS YANG RIDHA ” atau dengan nama lain wilayah ” MEDITASI (TAFAKUR) “. Ketika aku sampai di sana, aku melihat para penduduknya terlihat demikian tenang dan damai, mengingat Tuhan secara terus menerus, melantunkan nama-nama Nya yang indah dan agung.

Perilaku mereka begitu lembut dan penuh sopan santun. Mereka hampir tidak pernah berbicara sebab takut akan saling mengganggu dalam melakukan meditasi yang khusyuk. Mereka begitu ringan bagaikan bulu burung, namun mereka takut akan membebani orang lain.

Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun di wilayah ini, akan tetapi, aku belum juga sembuh dari penyakit Dualisme ” AKU ” dan ” DIA ” yang masih membentuk bayangan tebal di atas hatiku.

Air mataku mengalir deras. Dalam keadaan teramat sedih, lemah, dan sangat terpesona, aku terjatuh dalam suasana yang aneh, ketika lautan kesedihan terasa menyeliputi dan mengelilingi ku.

Saat aku berdiri dengan perasaan tidak berdaya, sedih, tak sadar, muncullah seseorang yang tampak amat Tampan bermandikan cahaya. Ia menatapku dengan mata yang penuh kasih sayang dan berkata kepadaku :

“wahai budak dirinya yang papa, yang dalam pengasingan di tanah yang asing.. wahai pengembara yang jauh dari kampung halaman, wahai engkau yang berduka, engkau tidak akan menemukan obatmu di wilayah ini. Tinggalkanlah tempat ini, pergilah ke wilayah nun jauh lagi di sana. Nama wilayah itu adalah wilayah ” PENAFIAN DIRI (FANA’) “. Di sana engkau akan menemukan obat yang engkau cari, Dokter yang telah menafikan diri mereka..”

“Mereka tidak memiliki raga, yang mengetahui rahasia “Jadilah Tiada, Jadilah Tiada, Jadilah Tiada, maka Kau akan Ada, Kau akan Ada, Kau akan Ada, maka Kau menjadi Ada selamanya..”

Bagian VI – NAFS YANG RIDHAI TUHAN

Segara aku berangkat menuju wilayah ” PENAFIAN DIRI(FANA’) “. Aku melihat para penduduknya membisu, terdiam seolah-olah mati, tanpa kekuatan di dalam dirinya untuk melontarkan sepatah kata pun. Mereka telah meninggalkan harapan untuk memperoleh keuntungan dari berbicara, dan siap menyerahkan jiwa mereka pada malaikat maut. Mereka sama sekali tidak perduli dengan keberadaanku.

Bahkan, di tempat itu, di tengah-tengah mereka, aku merasakan penderitaan yang pedih. Namun, ketika aku hendak menggambarkan gejala penyakitku ini, aku tidak dapat menemukan raga ataupun eksistensi yang dapat kukatakan sebagai “ini tubuhku” atau “ini aku”.

Kemudian, aku tahu bahwa untuk mengatakan “raga ini milikku”, adalah sebuah kebohongan, dan berbohong adalah dosa bagi setiap manusia. Dan aku tahu bahwa bertanya mengenai Pemilik Sejati apa yang disebut sebagai “milikku” adalah syirik yang tersembunyi yang justeru ingin kulenyapkan dari diriku. Lalu, apa yang seharusnya dilakukan ?

Aku merasa putus asa, jika kaku harus berdoa kepada-Nya dan berkata “Ya Tuhan”, maka akan ada dua “Aku dan Dia”, zat yang pada-Nya aku memohon pertolongan atas kehendak yang dikehendaki, hasrat yang dihasrati, pecinta dan yang dicintai, sungguh begitu banyak. Aku tidak mengetahui obatnya.

Ratapan tersebut membuat iba Malaikat Pemberi Ilham, yang membacakan padaku KITAB ILHAM TUHAN, “mula-mula fana’kanlah tindakan-tindakanmu”. Ia memberikan itu sebagai hadiah. Ketika ku ulurkan tangan untuk menerima hadiah itu, kulihat tiada tangan. Ia hanyalah campuran air, tanah, angin dan api. Aku tidak memiliki tangan untuk mengambil hadiah itu. Aku tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Hanya satu yang memiliki kekuatan, yaitu YANG MAHA KUAT . Tindakan apapun yang muncul melaluiku, maka ia adalah milik YANG MAHA KUASA. Seluruh kekuatan, seluruh tindakan, kuserahkan kepada-Nya, dan kuserahkan segala yang terjadi padaku dan melaluiku di dunia ini.

Kemudia aku berdoa untuk meninggalkan sifat-sifatku, yakni sifat-sifat yang membentuk kepribadian seseorang. Ketika aku lihat, apa yang aku saksikan bukanlah milikku. Ketika aku bicara, apa yang kukatakan bukanlah pula milikku. Tak satupun adalah milikku. Sama sekali tidak berdaya, aku dilepaskan dari seluruh sifat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, yang membedakan aku dari sifat-sifat luar dan dalam yang telah menjadikan diriku sebagai “Diriku”.

Dengan seluruh raga, perasaan dan ruhku, aku menganggap diriku sebagai sesuatu yang suci. Kemudian aku merasa bahwa ini adalah ” DUALITAS ” , bahwa bahkan esensiku telah diambil dariku, aku masih saja menginginkan dan mengharapkan diri-Nya. Aku merasakan makna dari “mereka yang mengharapkanku adalah hambaku yang sejati”.

Wahai Tuhan Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu, yang Terdahulu dari yang terdahulu, Terkini dari yang terkini serta atas semua yang wujud dan yang tersembunyi, Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu. Semuanya menjadi wujud di dalam misteri hatiku. Bahkan, setelah itu aku berharap bahwa misteri ” MATI SEBELUM MATI” mewujud dalam diriku.

Ooh.. terkutuklah, kembali ” DUALITAS ” yang tersembunyi dariku muncul di dalam diriku. Hal ini juga tentunya bukanlah kebenaran.

Bagian VII – NAFS YANG SUCI

Segelintir orang yang mencapai tingkat pada wilayah ini, yang telah melampaui diri secara utuh.

Tidak ada lagi ego ataupun diri. Yang tertinggal hanyalah kesatuan dengan Tuhan. Inilah kondisi yang dinamakan ” MATI SEBELUM MATI”.

Penyakit apakah yang menyebabkan rasa sakit yang pedih ketika aku bergerak, mengharap, memohon pertolongan, berdoa dan mengiba ?.

Kondisi aneh apakah yang di dalamnya aku terjerumus, yang sulit untuk dijelaskan ?.

Merasa tak berdaya, aku menyerahkan semua ini kepada Pemiliknya dan menanti di Pintu Gerbang Kepasrahan, di dalam perihnya Kematian, lumpuh, tanpa Pikiran ataupun Perasaan, seolah-olah Mati, mengharapkan Kematian menjemputku pada setiap hembusan nafasku.

Menurut nasehat,”Mintalah fatwa pada hatimu”, aku menyuruh hatiku untuk membimbingku, Ia berkata,”Selama masih ada jejakmu di dalam dirimu, kau tidak akan mendengar seruan dari Tuhanmu “Datanglah kepadaKu”.

Aku mencoba berfikir,”Pikiranku tidak dapat berpikir, akhirnya aku tahu, pemikiran tidak dapat menjangkau Misteri Ilahiah. Bahkan, pengetahuan tersebut tercabut begitu saja, ketikaI DIA datang kepadaku.

Beliau – As Syaikh ra menutup :

“Wahai Para Pencari !, apa yang kukatakan di sini tidaklah untuk memamerkan yang kuketahui. Karenanya, ia akan diberitakan kepadamu hanya setelah aku tiada diantara kalian.”

“Ia diperuntukkan bagi para Pencari Kebenaran, Para Pecinta yang mendamba YANG MAHA TERCINTA , sehingga mereka dapat menemukan di dalam kota/wilayah manakah mereka berada, dan penduduk kota/wilayah manakah yang menjadi kawan mereka.”

“Ketika, dan jika tulus, mereka memahami tempat mereka, mereka akan beperilaku sesuai denganya, dan mengetahui arah gerbang kenikmatan bersama Tuhan, untuk kemudian ber SYUKUR kepada Nya.”

Iklan

Nafsu (Sistem Penggerak)

“Dan orang-orang itu sama bertanya kepadamu (Muhammad) mengenai roh. Katakanlah: ‘Roh itu adalah urusan Tuhanku dan kamu semua tidaklah diberi ilmu pengetahuan melainkan hanya sedikit sekali”.

QS. Al-Israa’(17):85

Diawal penciptaannya manusia berasal dari Tanah liat kering atau dari campuran Air Mani yang diproses sedemikian rupa sehingga memiliki bentuk yang khas, dan setelah sempurna bentuknya, Allah mengutus malaikat untuk meniupkan Ruh .

Kata-kata ruh digunakan diawal penciptaan manusia, dan setelah itu digunakan kata Nafsu untuk mengantikan Ruh. Sehingga, pada masa hidupnya manusia terdiri dari Jasad (tubuh) dan Nafsu (jiwa).

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari nafsu (diri) mereka sendiri maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”.

QS. Yaa-Siin(36):36

“Dan di bumi itu terdapat ayat-ayat ( tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yaqin. Dan (juga) pada nafsu-mu sendiri. Maka apakah kamu tidak memiliki pandangan (abshar)”.

QS. Adz-Dzaariyat(51)20-21

Dengan demikian meneliti dan mengamati apa yang ada dalam diri manusia adalah suatu kewajiban bagi kita, supaya dapat mengenal berbagai komponen yang ada dalam diri manusia, serta mengerti dan memahami fungsi-fungsinya.

Definisi Nafsu

Berdasarkan Fungsi dan Kondisi Nafsu sebagaimana tercantum di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi (disampaikan dibawah), maka nafsu didefinisikan sebagai berikut:

“Nafsu adalah Jiwa (Roh, Nyawa, Sukma atau yang semakna dengan itu) jamaknya berbunyi anfus, yaitu suatu komponen dalam diri manusia yang menentukan Hidup

atau Mati-nya manusia, menerima ke- Fujur -an atau ke-

Taqwa -an, berkondisi Suci atau Kotor, menggerakkan (mendorong, memotifasi) komponen-komponen lain pada diri manusia agar dapat mencari, menerima, menyimpan dan menjaga Petunjuk (al-Haq atau Wahyu ) atau

Kesesatan (Bathil atau Hawa ) yang dijadikan sebagai landasan ilmu (prosedur, tatacara, aturan, hukum) untuk melakukan Amal (Kebajikan atau Kejahatan ) yang akan diper- Tanggung-Jawab -kan (Hisab ) dihadapan Allah”.

Fungsi Nafsu

a. Hidup dan Mati

“Allah yang mengambil nafsu (jiwa) itu ketika wafatnya dan ketika tidurnya sebelum wafat, lalu ditahannya nafsu yang sudah wafat, serta dikembalikan nafsu yang lain (yang sedang tidur), sampai waktu yang ditentukan”.

QS. Az-Zumar(39):42

“Tiap-tiap nafsu (yang berjiwa) akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.

QS. Ali’Imran(3):185

“Tiap-tiap nafsu (yang berjiwa) akan merasakan mati. Kami akan menguji dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.

QS. Al-Anbiyaa’(21):35

Lihat Juga: QS. Al-Ankabuut(29):57

b. Menerima Beban

“Allah tidak membebani nafsu (jiwa) melainkan sesuai kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang dikerjakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”

QS. Al-Baqarah(2):286

“…, Kami tidak memikulkan beban kepada nafsu seseorang melainkan sekedar kesanggupannya,…”.

QS. Al-An’aam(6):152

“dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh. Kami tidak memikulkan kewajiban kepada nafsu seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni surga, mereka kekal didalamnya”.

QS. Al-A’raaf(7):42

“Kami tiada membebani nafsu seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran (maksudnya: kitab tempat malaikat-malaikat menuliskan perbuatan-perbuatan seseorang, baik dan buruk, yang dibacakan di hari kiamat), dan mereka tidak dianiaya”.

QS. Al-Miminuun(23):62

c. Menerima Fujur atau Taqwa

“Dan nafsu (jiwa) serta penyempurnaannya (penciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada nafsu itu (jalan) kefujuran (fujur) dan ketaqwaan (taqwa). Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya (suci). Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (kotor).”

QS. Asy-Syams(91):7-10

d. Mendapat Petunjuk atau Sesat

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah nafsu-mu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

QS. Al-Maa-idah(5):105

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan nafsu-nya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatan itu untuk kecelakaan nafsu-nya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”.

QS. Yunus(10):108

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam nafsu mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.

QS. An-Nisaa’(4):65

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah nafsu-mu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

QS. At-Tahrim(66):6

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhan-mu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu) maka (manfaatnya) bagi nafsu-nya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu)”.

QS. Al-An’aam(6):104

Lihat Juga: QS.An-Nisaa’(4):110-113;

e. Menerima Wahyu atau Hawa

“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa-nya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat. … . (23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakan, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)-nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh Hawa-Nafsu (tahwal-anfus) mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”.

QS. An-Najm(53):1-23

Lihat Juga: QS. Faathir(35):32; An-Naml(27):92

Dari Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al’Ash radhiyallahu’anhuma telah berkata: ‘Telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu sehingga hawa-nya mengikuti apa yang telah aku bawa”.

Hadits Shahih riwayat Imam Nawawi dalam Hadits Arba’in

f. Mendorong Amal, Perubahan dan Jihad

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi nafsu-mu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi nafsu-mu sendiri”.

QS. Al-Israa’(17):7

“Barangsiapa berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat untuk (keselamatan) nafsu-nya sendiri, dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) nafsu-nya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul”.

QS. Al-Israa’(17):15

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu sendiri merubah apa yang ada pada nafsu-nya sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

QS. Al-Anfaal(8):53

“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk nafsu-nya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

QS. Al-Ankabuut(29):6

“Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu, dan barangsiapa yang beramal-saleh maka untuk nafsu-nya sendiri”.

QS. Ar-Ruum(30):44

“Kami limpahkan keberkahan atasnya (Ibrahim) dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang muhsin dan zalim terhadap nafsu-nya sendiri dengan nyata”.

QS. Ash-Shaffaat(37):113

g. Menjadi Saksi

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap nafsu-mu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu”.

QS. An-Nisaa’(4):135

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.

Bahkan manusia itu menjadi saksi atas nafsu-nya. Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya”.

QS. Al-Qiyamah(75):13-15

“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: ‘Kami menjadi saksi atas nafsu kami sendiri’, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas nafsu mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang kafir”.

QS. Al-An’aam(6):130

h. Pertanggung-Jawaban dan Hisab

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada dalam nafsu-mu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

QS. Al-Baqarah(2):284

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh nafsu-nya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,

(yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang hadir.

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.

Dan ditiuplah sangsakala. Itulah hari terlaksananya ancaman.

Dan datanglah tiap-tiap nafsu (jiwa), bersama dengan dia ada malaikat pengiring dan malaikat penyaksi”.

QS. Qaaf(50):16-21

“Maka pada hari itu nafsu tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan”.

QS. Yaa-siin(36):54

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur’an itu agar masing-masing nafsu tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menembus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu”.

QS. Al-An’aan(6):70

“Katakanlah: ‘Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada nafsu-nya sendiri, dan seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”.

QS. Al-An’aam(6):164

“Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan nafsu-nya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”.

QS. Al-A’raaf(7):9

“Dan jagalah dirimu dari (‘azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) nafsu (jiwa) seseorang tidak dapat menolong nafsu (jiwa) orang lain, walau sedikitpun, dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka ditolong”.

QS. Al-Baqarah(2):48

“Tiap-tiap nafsu bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya”.

QS. Al-Muddatstsir(74):38

“maka tiap-tiap nafsu akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya”.

QS. At-Takwiir(81):14

Lihat Juga: QS. Al-Infithaar(82):5,19; Yunus(10):30; Az-Zumar(39):70; Fushshilat(41):46; Al-Jaatsiyah(45):22

Kondisi Nafsu

1. Nafsu Taqwa

“…, Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka janganlah kamu mengatakan nafsu (jiwamu) suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa”.

QS. An-Najm(53):32

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan-qulub”.

QS. Al-Hajj(22):32

“…, Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu, …”.

QS. Al-Hujuraat(49):13

2. Nafsu Tenang

“Hai nafsu (Jiwa) yang tenang (nafsul mutmai’nnah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho ( puas) lagi di ridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku”.

QS. Al-Fajr(89):27-30

3. Nafsu Beriman, Berhijrah dan Berjihad

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?.

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan nafsu (jiwamu). Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.

Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar”.

QS. Ash-Shaff(61):10-12

Lihat Juga: QS. Al-Anfaal(8):72; At-Taubah(9):20,41,44-45,111,118

4. Nafsu Suci

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil(orang lain) untuk memikul dosa itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatnya, dan mereka mendirikan sholat. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan nafsu (jiwa) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembalimu”.

QS. Faathir(35):18

5. Nafsu terhindar dari Hawa

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan nafsu dari dorongan hawa, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya”.

QS. An-Naazi’aat(79):40-41

Nafsu Fujur

1. Nafsu Kafir

“Dan Janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik perhatianmu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu agar melayang nafsu (nyawa) mereka dalam keadaan kafir”.

QS. At-Taubah(9):85

2. Nafsu Jahat

“Dan aku (Yusuf) tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (nafsu amaratun bissuu’), kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

QS. Yusuf(12):53

3. Nafsu Penyesal

“Dan Aku bersumpah dengan nafsu (jiwa) yang amat menyesali (dirinya sendiri) (nafsu lawwamah)”.

QS. Al-Qiyamah(75):2

4. Nafsu Teraniaya

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada dalam qulub mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari pada mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada nafsu (jiwa) mereka.

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya nafsu-nya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

QS. An-Nisaa’(4):63-64

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya nafsu-nya, (kepada mereka) malaikat berkata: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’. Mereka menjawab: ‘adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’. Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’. Orang-orang itu tempatnya neraka jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.

Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).

Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema’afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Penyayang”.

QS. An-Nisaa’(4):97-99

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: ‘Telah diwahyukan kepada saya’, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: ‘Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah’. Alangkah dahsyatnya jikalau engkau melihat diwaktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): ‘Lepaskanlah nafsumu (jiwa)”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”.

QS. Al-An’am(6):93

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh), hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: ‘Di mana (berhala-berhala) yang kamu sembah selain Allah?’, orang-orang musyrik menjawab: ‘Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami’, dan mereka mengakui terhadap nafsu mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir”.

QS. Al-A’raaf(7):37

“Keduanya (Adam dan Hawa) berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya nafsu kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.

QS. Al-A’raaf(7):23

Lihat Juga: At-Taubah(9):70; Yunus(10):44; Ash-Shaffaat(37):113; Al-Qashash(28):16

5. Nafsu Merugi

“Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: ‘Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?’, Sungguh mereka telah merugikan nafsu-nya sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan”.

QS. Al-A’raaf(7):53

6. Nafsu Egois

“Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh”.

QS. Al-Maa-idah(5):70

7. Nafsu Pembujuk

“Samiri menjawab: ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsu membujukku”.

QS. Thaahaa(20):96

8. Nafsu Penyebab Bencana

“Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) nafsu-mu. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi”.

QS. An-Nisaa’(4):79

9. Nafsu Makar (Terpedaya)

“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan nafsu-nya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya”.

QS. Al-An’aam(6):123

10. Mendustai Nafsu

“Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap nafsu-nya sendiri dan hilanglah daripada mereka sesembahan-sesembahan yang dahulu mereka ada-adakan”.

QS. Al-An’aam(6):24

11. Mencintai Nafsu

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai nafsu mereka sendiri daripada mencintai diri Rasu, …”.

QS. At-Taubah(9):120

12. Nafsu Binasa

“Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan nafsu mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari”.

QS. Al-An’aam(6):26

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaithon) menganggap baik pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak di tipu syaithon)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, maka janganlah nafsu-mu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”.

QS. Faathir(35):8

13. Nafsu Lupa

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap nafsu mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”.

QS. Al-Hasyr(59):19

14. Hawa Nafsu

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakan, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)-nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh Hawa-Nafsu (tahwal-anfus) mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”.

QS. An-Najm(53):23

Lihat Juga: QS. Ar-Ra’d(13):37; Al-Maaidah(5):30;

Kesimpulan

“Nafsu sebagai motor penggerak seluruh aktifitas manusia baik fisik maupun non-fisik, akan senantiasa dipengaruhi oleh dua sumber penggerak yang berbeda yaitu Wahyu dan Hawa. Wahyu itu sendiri adalah Al-Qur’an yang disampaikan Allah kepada Muhammad Rosulullah (melalui tabir atau malaikat) dan telah sampai kepada kita, sedangkan Hawa berasal dari dorongan-dorongan diri kita sendiri yang memang telah diciptakan berkondisi cenderung melakukan kebaikan atau kejelekan dan sangat dipengaruhi oleh bisikan-bisikan Syaithon.

Jadi tugas kita adalah berusaha agar Al-Qur’an senantiasa menjadi sahabat hidup kita, dan menekan dorongan hawa dengan cara mengikuti Sunnah Rasulullah dan juga para Shahabat Nabi yang mendapat petunjuk”.

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaithon) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa-nya.

(Apakah) perumpamaan (penghuni) syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?

Dan diantara mereka (Kafir dan munafik) ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka ke luar dari sisimu (Muhammad) mereka berkata kepada orang yang telah di beri ilmu pengetahuan (ulul ilmi yaitu sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?”. Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati qolbu mereka oleh Allah dan mengikuti hawa mereka.

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaan”.

QS. Muhammad(47):14-17

Manusia dari Masa ke Masa

1. Masa sebelum Terindentifikasi

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut (diidentifikasi )

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan (diberi potensi dengan) Sistem Pendengaran (sam’a) dan Sistem Penglihatan (abshor)

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya ke Jalan Lurus, ada yang Syukur dan ada pula yang Kufur

Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala”

QS. Al-Insan(76):1-4

2. Masa di Alam Persaksian

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari tulang sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ” Bukankah Aku ini Tuhanmu? ”

Mereka menjawab: ” Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi!”.

(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

QS. Al-A’Raaf(7);172

3. Masa Perkawinan Bapak-Ibu

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?

dia diciptakan dari air yang terpancar.

Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan .”

QS. Ath-Thaariq(86):5-7

4. Masa dalam Perut Ibu

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim ).

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.

Kemudian, sesungguhnya kami sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) dihari kiamat”.

QS. Al-Mu’minuun(23):12-16

“Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu telah berkata: Telah bersabda Rasulullah Shalalluhu ‘Alaihi Wasallam dan dia selalu benar dan dibenarkan: “Sesungguhnya seorang dari kamu semua itu dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empatpuluh hari (asal air mani), kemudian menjadi segumpal darah beku itupun selama empatpuluh hari, selanjutnya menjadi segenggam daging juga selama empatpuluh hari. Seterusnya Allah Ta’ala lalu mengutus seorang malaikat, maka iapun meniupkan roh didalam tubuhnya. Malaikat itu diperintah mencatat empat kalimat yakni mengenai rizki orang itu, ajal kematiannya, amal perbuatannya dan celaka atau bahagianya.

Maka demi Dzat yang tiada Tuhan selain dari Dia, sesungguhnya seseorang dari kamu semua itu niscaya ada yang menjalankan amalan ahli syurga, sehingga tidak ada jarak antara ia dengan surga itu kecuali hanya sehasta, tetapi telah didahului oleh catatan (ketentuan), lalu iapun menjalankan amalan ahli neraka, maka akhirnya masuklah ia kedalam api neraka.

Sesungguhnya ada pula seseorang dari kamu semua itu, niscaya menjalankan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antara ia dengan neraka itu kecuali hanya sehasta, tetapi telah didahului oleh catatan (ketentuan), lalu iapun menjalankan amalan ahli surga, maka akhirnya masuklah ia kedalam surga itu.

Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim

5. Masa saat Lahir

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan Tidak Mengetahui sesuatupun.

Dan Dia memberi kamu Sistem Pendengaran (sam’a ),

Sistem Penglihatan (abshor ), dan Sistem Trasformasi (fuad ), agar kamu Bersyukur ”

QS. An-Nahl(16):78

6. Masa Perkembangan Hidup

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan , dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahui….”

QS. Al-Hajj(22):5

7. Masa Meninggalkan Dunia

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan Mati

Kami akan menguji kamu dengan Keburukan dan Kebaikan

sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)

dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”

QS. Al-Anbiyaa'(21):25

8. Masa Kebangkitan

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka”.

QS. Al-Israa’(17):13

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan pengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”.

QS. Faathir(35):11

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan.

Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)

Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna”.

QS. An-Najm(53):39-41

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran”.

“Dari tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur”.

QS. Al-A’Raaf(7):57-58

9. Masa Hidup Abadi

“Demikianlah Kami wahyukan (AuHaiNa) kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya, serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan (fariiqon ) masuk

surga dan segolongan (fariiqon ) masuk neraka”.

QS. Asy-Syuura(42):7

Hawa (Keinginan)

1. Yang di Komunikasikan Rasulullah Bukan Hawa tapi Wahyu

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang di-

komunikasi -kannya (yanthiqu ) menurut kemauan(hawa )-nya, yang dikomunikasikannya itu tiada lain ialah WaHYu yang diwahyukan (YuHa) (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat , yang cerdas, dan (jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi, kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat lagi (pada Muhammad sejarak) anak panah (dengan dua ujung ↔ ) atau lebih dekat lagi. Lalu dia menyampaikan (fa-Auha ) kepada hamba-Nya yang terpilih (abdihi , yaitu Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan (Auha , kepada malaikat), fuad(Sistem Transformasi)-nya tidak mendustakan apa yang dilihatnya”.

QS. An-Najm(53):1-11

2. Hawa dipengaruhi Syaithon

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaithon) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti keinginan(hawa)-nya.

(Apakah) perumpamaan (penghuni) syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?

Dan diantara mereka (Kafir dan munafik) ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka ke luar dari sisimu (Muhammad) mereka berkata kepada orang yang telah di beri ilmu pengetahuan (ulul ilmi yaitu sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?”. Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati qolbu mereka oleh Allah dan mengikuti hawa mereka.

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaan”.

QS. Muhammad(47):14-17

3. Hawa jalan ke-Musryik-an

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-Uzza”.

“dan Mannah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)”.

“Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?”.

“Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil”.

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama (identifier) yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakan, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (beribadah) kepadanya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini (Hawa) oleh nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”.

QS. An-Najm(53):19-23

4. Hawa jalan ke-Zalim-an

“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti keinginan (Hawa) tanpa Ilmu Pengetahuan, maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah?. Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun”.

QS. Ar-Ruum(30):29

“… Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan (Hawa) mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.

QS. Al-Baqarah(2):145

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti kemauan (Hawa) mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti kemauan (Hawa) sendiri dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

QS. Al-Qashash(28):50

5. Hawa jalan ke-Sesat-an

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku dilarang beribadah kepada tuhan-tuhan yang kamu ibadahi selain Allah”. Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti keinginan(Hawa)-mu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.

QS. Al-An’aam(6):56

6. Hawa jalan Perpecahan

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang din apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan (AuHaiNa ) kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: “Tegakkanlah din dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik din yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada din itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (din)-Nya orang yang kembali (yunib) (kepada)-Nya”.

“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu”.

“Maka karena itu serulah (mereka kepada din) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti kemauan (Hawa) mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. All-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami, bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)”.

QS. Asy-Syuraa(42):13-15

7. Hawa dijadikan Tuhan

” Dan Allah menciptakan langit dan Bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan”.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan kemauannya (Hawa) sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran?”.

QS. Al-Jatsiyah(45):22-23

“Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai rasul?”.

“Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari ilah-ilah kita, seandainya kita tidak sabar (mengibadahi)-nya”. Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya”.

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan kemauan (Hawa) sebagai Ilah-nya (yang di-tuhan-kan). Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”.

“atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar (yasma’u) atau berakal (ya’qilun). Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”.

QS. Al-Furqan(25):41-44

8. Hawa menentang Kebenaran (Haq)

“Andaikan kebenaran (Al-Haq) itu mengikuti kemauan (Hawa) mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka pengingat (Adz-Dzikri) mereka tetapi mereka berpaling dari pengingat (Adz-Dzikri) itu”.

QS. Al-Mu’minuun(23):71

9. Hawa menentang Hukum (Peraturan, Syari’at)

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) itu sebagai peraturan (Hukman) yang benar dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti kemauan (Hawa) mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah”.

QS. Ar-Ra’d(13):37

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti kemauan (Hawa) mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”.

QS. Al-Maa-idah(5):49

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (din) itu, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti keinginan (Hawa) orang-oarng yang tidak mengetahui”.

QS. Al-Jaatsiyah(45):18

10. Hawa harus di cegah (di tahan)

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari kemauan (Hawa)-nya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya”.

QS. An-Naazi’aat(79):40-41

11. Hawa harus mengikuti apa yang dibawa Rasul

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.

QS. An-Nisaa'(4):65

Dari Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al’Ash radhiyallahu’anhuma telah berkata: ‘Telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu sehingga kemauan(hawa)-nya mengikuti apa yang telah aku bawa”.

Hadits Shahih riwayat Imam Nawawi dalam Hadits Arba’in

12. Hawa suatu saat akan Hancur

“Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti kemauan(Hawa) mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya”.

QS. Al-Qamar(54):3

Hawa = {ф}

belum selesai nanti dilanjutkan….

Qolbu (Sistem Pengendali)

Definisi Qolbu
Berdasarkan Fungsi dan Kondisi Qolbu sebagaimana tercantum di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi (disampaikan dibawah), maka Qolbu didefinisikan sebagai berikut:

“Qolbu adalah gumpalan (darah, daging) yang berada di dalam dada (shudur), yaitu tempat yang akan berbintik hitam (gelap) jika berbuat kejahatan atau berbintik putih (bersinar) jika berbuat kebajikan, sehingga dapat menyimpan dan menjaga kefujuran atau ketaqwaan, yang dengannya mampu mengaktifkan atau menonaktifkan potensi sam’a, abshor, fuad, akal, faqih. Menyimpan dan mengelola ilmu yang diperoleh dari hasil pendayagunaan sam’a dan abshor (Penerima dan Perekayasa Ilmu), fuad (Pengingat dan Pentransformasi ilmu), akal (Penjaga dan Pengontrol ilmu), faqih (Mengontrol Sistem Prosedural, sehingga prosedur kerja menjadi mudah dikerjakan). Ilmu (prosedur, tatacara, aturan, hukum) inilah yang akan digerakkan oleh nafsu sehingga berbentuk amal perbuatan (Kejahatan atau Kebajikan), yang mana perbuatan tersebut selanjutnya akan berpengaruh terhadap kondisi qolbu itu sendiri. Jadi Qolbu dapat dikatakan sebagai Pengendali Sistem Ilmu, dan bersama-sama Nafsu membentuk Sistem Ilmu dan Amal”.

“Sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging (darah), yang apabila baik, maka baik pula seluruh tubuhnya, dan apabila jelek, maka jelek pula seluruh tubuhnya. Itulah qolbu”.

Diriwayatkan:

Hudzaifah r.a. mengatakan, Nabi saw. Bersabda: “Ujian fitnah itu selalu ditawarkan ke dalam qolbu manusia, satu persatu bagaikan daun tikar sehelai-helai, maka yang mana yang termakan oleh qolbu itu bertitik hitam didalamnya, dan tiap qolbu yang menolaknya bertitik putih, sehingga ada dua bentuk qolbu, yang putih bagaikan marmar, yang tidak terpengaruh oleh fitnah yang bagaimanapun juga adanya selama adanya langit dan bumi, sedang yang kedua hitam kelam bagaikan dandang (periuk untuk menanak nasi) yang terbalik tidak mengenal ma’ruf dan tidak menolak mungkar.

Diriwayatkan dalam Tafsir Ibnu Katsier

Abu Hurairah r.a. mengatakan, Rasulullah saw. Bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin jika berbuat dosa berbintik hitam dalam qolbu-nya, kemudian jika ia tobat dan menghentikan dosa itu, kembali bersih mengkilat qolbu-nya, tetapi bila ia menambahnya, maka bertambah bintik hitamnya sehingga menutupi qolbu-nya, maka itulah namanya Arraan yang tersebut dalam ayat Kallaa bal raana alaa quluubihim maa kaanu yaksibun = Tidak demikian tetapi telah kotor (keruh) qolbu mereka karena perbuatan mereka sendiri (QS. Al-Muthaffifiin(83):14)”

Hadits riwayat at-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, terdapat dalam Tafsir Ibnu Katsier

“Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi, lalu mereka mempunyai qolbu yang dengan itu mereka dapat mengerti (naql) atau mempunyai telinga (aadzanun) yang dengan itu mereka dapat mendengar (sam’a)? Karena sesungguhnya bukanlah penglihatan (abshar) itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qolbu yang ada didalam dada (shudur)”

QS. Al-Hajj(22):46

“…, dan Kami kunci mati qolbu mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (sam’a) lagi”.

QS. Al-A’raaf(7):100

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qolbu, tetapi tidak digunakan untuk memahami (faqih) (ayat-ayat Allah),…“.

QS. Al-A’raaf(7):179

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan qolbu”.

QS. Al-Hajj(22):32

“… , Dan Allah telah mengunci mati qolbu mereka, sehingga mereka tidak mengetahui (ilmu)”.

QS. At-Taubah(9):93

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah qolbu dalam rongganya, …”.

QS. Al-Ahzab(33):4

“…, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mendinding antara manusia dengan qolbu-nya, dan sesunguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan”.

QS. An-Anfal(8):24

Fungsi Qolbu

1. Bertaqwa

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan qolbu”.

QS. Al-Hajj(22):32

2. Menerima Peringatan (Dzikr)

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan (dzikr) bagi orang-orang yang mempunyai qolbu atau yang menggunakan pendengarannya (sam’a), sedang dia menyaksikannya”.

QS. Qaaf(50):37

3. Memfungsikan Akal (Naql), Sam’a, Abshor dan Fuad

“Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi, lalu mereka mempunyai qolbu yang dengan itu mereka dapat berakal (ya’qilun) atau mempunyai telinga (aadzanun) yang dengan itu mereka dapat mendengar (sam’a)? Karena sesungguhnya bukanlah penglihatan (abshar) itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qolbu yang ada didalam dada (shudur)”

QS. Al-Hajj(22):46

“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya, dan Kami kunci mati qulub mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (sam’a) lagi?”.

QS. Al-A’raaf(7):100

“Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya sam’a mereka dan dibutakan-Nya abshor mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah qolbu mereka terkunci?”.

QS. Muhammad(47):23-24

“Dan menjadi kosonglah fuad ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan qolbu-nya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)”.

QS. Al-Qashash(28):10

4. Memahami (Faqih = Menjaga Prosedur dan Mengerjakannya dengan mudah)

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qolbu, tetapi tidak digunakan untuk memahami (faqih) (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (a’inun), tetapi tidak digunakan untuk melihat (sam’a) (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (aadzanun), tetapi tidak digunakan untuk mendengar (abshar) (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

QS. Al-A’raaf(7):179

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (sam’a) bacaanmu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas qolbu mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya (faqih) dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikalau mereka melihat segala ayat (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.

QS. Al-Anaam(6):25

“… , Dan qolbu mereka telah dikunci mati, sehingga mereka tidak memahami (faqih)”.

QS. At-Taubah(9):87

“… , Allah telah memalingkan qolbu mereka disebabkan mereka adalah kamu yang tidak memahami(faqih)”.

QS. At-Taubah(9):127

“Dan Kami adakan tutupan diatas qolbu mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya (faqih), …”.

QS. Al-Israa’(17):46

“… , Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan diatas qolbu mereka, sehingga mereka tidak memahaminya (faqih), …”.

QS. Al-Kahfi(18):57

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) dalam qolbu mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada memahami (faqih)”.

QS. Al-Hasyr(59):13

5. Berilmu

“Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kapalsuan belaka.

Demikianlah Allah mengunci qolbu orang-orang yang tidak mau mengetahui (berilmu).

Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (yuqinun) itu menggelisahkan kamu”.

QS. Ar-Ruum(30):58-60

“… , Dan Allah telah mengunci mati qolbu mereka, sehingga mereka tidak mengetahui (berilmu)”.

QS. At-Taubah(9):93

6. Beriman

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga beriman.

Allah telah mengunci mati qolbu dan pendengaran (sam’a) mereka, dan penglihatan (abshar) mereka ditutup. Dan bagi mereka itu siksa yang amat keras”.

QS. Al-Baqarah(2):6-7

“… , Mereka itulah (orang-orang beriman) yang Allah telah menanamkan keimanan kedalam qolbu mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongannya, …”.

QS. Al-Mujaadilah(58):22

“… , padahal qolbu mereka belum beriman, …”.

QS. Al-Maaidah(5):41

“Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, qolbu mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong”.

QS. An-Nahl(16):22

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam qolbu-mu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti petunjuk yang lurus”.

QS. Al-Hujuraat(49):7

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk kedalam qolbumu ”.

QS. Al-Hujuraat(49):14

“Demikianlah Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) ke dalam qolbu orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir). Mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an) dan sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu”.

QS. Al-Hijr(15):12-13

7. Menerima dan Menyimpan Al-Qur’an

“Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) kedalam qolbu-mu dengan seizin Allah, …”.

QS. Al-Baqarah(2):97

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan Semesta Alam.

Dia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)

Ke dalam qolbu-mu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,

dengan bahasa arab yang jelas.

Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu.

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?

Dan kalau Al-Qur’an itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan Arab.

Lalu ia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir), niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya.

Demikianlah Kami masukkan Al-Qur’an kedalam qolbu orang-orang yang durhaka.

Mereka tidak beriman kepadanya, hingga mereka melihat ‘azab yang pedih”.

QS. Asy Syu’araa’(26):192-201

“Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas qolbu mereka dan sumbatan di telinga mereka agar tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya”.

QS. Al-Israa’(17):45-46

8. Menerima Petunjuk

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qolbu-nya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

QS. At-Taghaabun(64):11

9. Persatuan Umat

“dan Yang mempersatukan qolbu mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan qolbu mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan qolbu mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

QS. Al-Anfal(8):63

10. Penentu Hukuman dan Dosa

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang di sengaja (untuk bersumpah) oleh qolbu-mu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”.

QS. AL-Baqarah(2):225

“…, Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh qolbu-mu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

QS. Al-Ahzab(33):5

11. Menyimpan Informasi Tersembunyi

“Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh qolbu mereka adalah lebih besar lagi, …”.

QS. Ali ‘Imran(3):118

“Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam qolbu mereka, …”.

QS. At-Taubah(9):64

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik perhatianmu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi qolbu-nya, padahal ia adalah penentang yang paling keras”.

QS. Al-Baqarah(2):204

“Mereka (orang-orang munafik) itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam qolbu mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari pada mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada nafsu (jiwa) mereka”.

QS. An-Nisaa’(4):63

“atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam qolbu-nyq mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?”.

QS. Muhammad(47):29

Kondisi Qolbu

1. Qolbu Tenang (tenteram)

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan qolbu mereka menjadi tenteram dengan mengingat (dzikr) Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat (dzikr) Allah qolbu menjadi tenteram”.

QS. Ar-Ra’d(13):28

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan kedalam qolbu orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

QS. Al Fath(48):4

“Sesungguhnya Allah telah ridho terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu dibawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam qolbu mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”.

QS. Al Fath(48):18

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan qolbu mereka di waktu mengingat Allah (dzikrullah) Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk”.

QS. Az-Zumar(39):23

“Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)-mu, dan agar tenteram qolbu-mu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

QS. Ali’Imran(3):126

2. Qolbu Salim

“Ingatlah ketika ia (Ibrahim as) datang kepada Tuhan-nya dengan qolbun salim”.

QS. Ash-Shaffaat(37):84

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qolbun salim. Dan di hari itu didekatkanlah syurga kepada orang-orang yang bertaqwa”.

QS. Asy-Syu’araa’(26):88-90

3. Qolbu Bersih

“… , Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih bersih bagi qolbu-mu dan qolbu mereka. …”.

QS. Al-Ahzab(33):53

“…, Mereka (orang-orang kafir) itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak membersihkan qolbu mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksan yang besar”.

QS. Al-Maaidah(5):41

“…, Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam qolbu-mu. Allah Maha Mengetahuiapa yang ada dalam dada”.

QS. Ali’Imran(3):154

4. Qolbu Bergetar (takut kepada Allah)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah qolbu mereka, …”.

QS. Al-Anfaal(8):2

“… , Dan beri khabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).

(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah qolbu mereka. …”.

QS. Al-Hajj(22):34-35

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan qolbu tergetar, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”.

QS. Al-Mu’minuun(23):60

5. Qolbu Teguh

“dan Kami telah meneguhkan qolbu mereka (pemuda kahfi) diwaktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-ngadakan kebohongan terhadap Allah?”.

QS. Al-Kahfi(18):14-15

6. Qolbu Tunduk

“dan agar orang-orang yang diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk qolbu mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”.

QS. Al-Hajj(22):54

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk qolbu mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkannya Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu qolbu mereka menjadi keras. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

QS. Al Hadiid(57):16

7. Qolbu Teruji

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji qolbu mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar”.

QS. Al-Hujuraat(49):3

8. Qolbu Sesak dan Goncang

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah (dzikrullah), dan (dari) mendirikan sholat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) qolbu dan penglihatan (abshar) menjadi goncang”.

QS. An-Nuur(24):37

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan qolbu-mu naik menyesak sampai tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.

Disitulah di uji orang-orang mukmin dan digoncangkan (qolbu-nya) dengan goncangan yang sangat”.

QS. Al-Ahzab(33):10

9. Qolbu Panas

“Dan menghilangkan panas qolbu orang-orang mu’min. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

QS. At-Taubah(9):15

10. Qolbu Taubat

“(Yaitu) orang yang takut terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan qolbu yang bertaubat.

Masukilah syurga itu dengan aman, itulah hari kekekalan”.

QS. Qaaf(50):33-34

11. Qolbu Santun dan Kasih Sayang

“Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam qolbu orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. …”.

QS. Al-Hadiid(57):27

12. Qolbu condong pada Kebaikan

“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya qolbu kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan). ..”.

QS. At-Tahrim(66):4

13. Qolbu Keras

“Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan qolbu mereka telah menjadi keras dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan”.

QS. Al-Anaam(6):43

“Kemudian setelah itu qolbumu (bani israil) menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras kagi, …”.

QS. Al-Baqarah(2):74

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan dada-nya untuk (menerima) islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu qolbunya?) Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu qolbu-nya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.

QS. Az-Zumar(39):22

14. Qolbu Tertutup atau Terkunci

“Allah telah mengunci mati qolbu dan pendengaran mereka (orang kafir), dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat keras”.

QS. Al-Baqarah(2):7

“Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka, maka sedikit sekali mereka yang beriman”.

QS. Al-Baqarah(2):88

“…,Demikianlah Allah mengunci mati qolbu orang-orang yang kafir”.

QS. Al-A’raaf(7):101

“Maka (Kami lakukan kepada mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kakafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Qolbu kami tertutup”, Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati qolbu mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka”.

QS. An-Nisaa’(4):155

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (sam’a) bacaanmu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas qolbu mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya (faqih) dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. …”.

QS. Al-Anaam(6):25

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran (abshor) dan penglihatan (sam’a) serta menutup qolbumu, siapakan tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?”. Perhatikanlah, bagaimana Kami sekali-kali memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Kami). Kemudian mereka tetap berpaling”.

QS. Al-Anaam(6):46

“Mereka (orang-orang munafik) rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan qolbu mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui”.

QS. At-Taubah(9):87

“…, Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati qolbu orang yang sombong dan sewenang-wenang”.

QS. Al-Mu.min(40):34-35

“Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati qolbu mereka, maka mereka tidak mengetahui”.

QS. At-Taubah(9):93

“Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci mati qolbu orang-orang yang melampaui batas”.

QS. Yunus(10):74

“Musa berkata: “Ya Tuhan kami …, dan kunci matilah qolbu mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”.

QS. Yunus(10):88

“Mereka (orang kafir) itulah orang-orang yang qolbu, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai”.

QS. An-Nahl(16):108

“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.

Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”.

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup qolbu mereka”.

QS. Al-Muthaffifiin(83):12-14

“Mereka berkata: “Qolbu kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)”.

QS. Fushshilat(41):5

“Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa-nya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasatkan ilmu-nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan qolbu-nya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”.

QS. Al-Jaatsiyah(45):23

“Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-ngadakan dusta terhadap Allah”. Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati qolbu-mu, dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al-Qur’an). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada”.

QS. Asy-Syuura(42):24

15. Qolbu Ragu-Ragu (Berpenyakit)

“Dalam qolbu mereka (orang-orang munafik) ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”.

QS. Al-Baqarah(2):10

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan qolbu mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya”.

QS. At-Taubah(9):45

“Bangunan-bangunan yang mereka (orang munafik) dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam qolbu mereka, kecuali bila qolbu mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

QS. At-Taubah(9):110

“Dan adapun orang-orang yang di dalam qolbu mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kakafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”.

QS. At-Taubah(9):125

“Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam qolbu mereka (orang-orang munafik) ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itu orang-orang yang zalim”.

QS. An-Nuur(24):50

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam qolbu-nya berkata: “Allah dan rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami kecuali tipu daya”.

QS. Al-Ahzab(33):12

16. Qolbu Nifaq (Munafik)

“Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada qolbu mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) mereka selalu berdusta.

QS. At-Taubah(9):77

17. Qolbu Sesat

“… , Sedangkan orang-orang yang dalam qolbu-nya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, …”.

QS. Ali-Imran(3):7

“Tetapi qolbu orang-orang kafir itu dalam kesesatan dari (memahami kenyataan) ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan (buruk) selain dari pada itu, mereka tetap mengerjakannya”.

QS. Al-Mu’minuun(23):63

18. Qolbu Cinta Berhala

“…, Dan telah diresapkan ke dalam qolbu mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kakafirannya,…”

QS. Al-Baqarah(2):93

19. Qolbu Takut

“Akan Kami masukkan ke dalam qolbu orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan itu. Tempat kembali mereka ialah neraka, dan itulah seburuk-buruknya tempat tinggal orang-orang yang zalim”.

QS. Ali’Imran(3):151

“…, Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam qolbu orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka”.

QS. Al Anfaal(8):12

“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu (ahzab) dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam qolbu mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan”.

QS. Al Ahzab(33):26

“Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah dizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari qolbu mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?”, Mereka menjawab: “(Perkataan) yang benar”, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

QS. Saba’(34):23

“Qolbu manusia pada waktu itu (qiamat) sangat takut”.

QS. An-Naazi’aat(79):8

“Sesungguhnya kamu dalam qolbu mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak memahami (yafqohun).

Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang qolbu mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti (ya’qilun).”

QS. Al-Hasyr(59):13-14

Lihat Juga: QS. Al_Hasyr(59):2

20. Qolbu Menyesal

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”, Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam qolbu mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan”.

QS. Ali’Imran(3):156

21. Qolbu Berpaling

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang mahajirin dan orang-orang anshor, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah qolbu segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka”.

QS. At-Taubah(9):117

“Dan apabila diturunkan satu surat, sebahagian mereka (orang-orang munafik) memandang kepada sebahagian yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memalingkan qolbu mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak memahami (yafqohun)”.

QS. At-Taubah(9):127

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan qolbu mereka, dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.

QS. Ash Shaff(61):5

22. Qolbu Lalai

“Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur’an pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main.

(lagi) qolbu mereka dalam keadaan lalai., ….”.

QS. Al-Anbiyaa’(21):2-3

23. Qolbu Sombong

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam qolbu mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

QS. Al-Fath(48):26

24. Qolbu Dengki

“…, Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam qolbu kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

QS. Al-Hasyr(59):10

25. Qolbu Pecah Belah

“Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang qolbu mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak berakal”.

QS. Al-Hasyr(59):14

26. Qolbu Serupa

“Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka itu; qolbu mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin”.

QS. Al-Baqarah(2):118

27. Qolbu Kesal dan Senang

“Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesal-lah qolbu orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan Akhirat, dan apabila nama sesembahan-sesembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba qolbu mereka senang”.

QS. Az-Zumar(39):45

Faqih (Sistem manajemen Iman, Amal,Ilmu)

Definisi Faqih

“Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka

memahami (yafquhu) perkataanku”.

QS. Thaahaa(20):24-28

Dada Lapang (Iman-Islam)

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memeberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”.

QS. Al-An’aam(6):125

Urusan Mudah (mudah beraktifitas, mudah berAmal Sholeh, Taqwa)

“… Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.

QS. At-Thalaaq(65):4

Lancar Bicara (Ilmu).

Dan janganlah kamu mengikuti (mengatakan) apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) tentangnya. Sesungguhnya sistem pendengaran (sam’a), sistem penglihatan (abshor) dan sistem transformasi (fuad), semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban”.

QS. Al-Israa'(17):36

Memperdalam Pengetahuan (Ilmu) Agama

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan (firqoh) di antara mereka beberapa orang (Thooifah) untuk memperdalam pengetahuan (tafaqohu) mereka tentang din dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

QS. At-Taubah(9):122

Meneliti dan Memikirkan Ayat-ayat Allah (kauniah dan qouliyah)

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qolbu, tetapi tidak digunakan untuk memahami (yafqohu) (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (a’inun), tetapi tidak digunakan untuk melihat (abshar) (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (aadzanun), tetapi tidak digunakan untuk mendengar (sam’a) (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

QS. Al-A’raaf(7):179

Kepercayaan dan Keyakinan (Iman)

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (sam’a) bacaanmu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas qolbu mereka (sehingga mereka tidak )

memahaminya (layafqohu) dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikalau mereka melihat segala ayat (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.

QS. Al-Anaam(6):25

Jalan (Sabila) Benar yang Harus Diikuti

“Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup”.

“dan Kami adakan tutupan diatas qolbu mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya (layafqohu) . Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an, niscaya meraka berpaling ke belakang karena bencinya”.

“Kami telah mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir”.

“Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu. Karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar)”.

QS. Al-Israa’(17):45-48

Petunjuk (Huda) Pelaksaan Perintah

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakannya oleh kedua tangannya?. Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan diatas qolbu mereka, sehingga mereka tidak memahaminya (layafqohu), dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka, dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya”.

QS. Al-Kahfi(18):57

Menjaga Stabilitas dan Kesatuan (tidak bergolong-golongan)

“Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (syia’a) (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada (sebagian) kamu keganasan sebahagiaan yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (yafqohun) ”.

QS. Al-An’aam(6):65

Syia’a adalah penggolongan berdasarkan figuritas seseorang atau produk pemahaman seseorang.

Menyampaikan Dakwah

“Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka

memahami (yafquhu) perkataanku”.

“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau”.

“Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami”.

“Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa”.

QS. Thaahaa(20):24-36

Ta’at Kepada Rasul

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka , mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami (layafqohu) pembicaraan sedikitpun”.

“Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.”

“Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.

QS. An-Nisaa’(4):78-80

Menjalankan Perintah Rasul dalam Kehidupan Sehari-hari

“Dan kepada (penduduk) Mad’yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”.

“Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan”.

“Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu”.

“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang diibadahi oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi cerdas (rosid)”.

“Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-nya aku dari pada-Nya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)?. Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang, aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”.

“Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Huud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu”.

“Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatllah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih”.

“Mereka berkata:”Hai syu’aib, kami tidak banyak memahami (ma nafqoh katsiro) tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami, kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami”.

“Syu’aib menjawab: “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan”.

“Dan (dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula), kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu”.

“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan Rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya”.

“Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa”.

QS. Huud(11):84-95

Menjaga Kaum dari Ancaman

“Kemudian dia (Dzulkarnain) menempuh jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati dihadapan kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak memahami (la yakaduna yafqohuna) keadaannya (yang sedang terancam)”.

“Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka”.

“Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dengan mereka”.

“berilah aku potongan-potongan besi”, hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”.

“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya”.

“Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, dan janji Tuhanku itu adalah benar”.

QS. Al-Kahfi(18):92-98

Menjalankan Perintah Jihad

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panasnya”, jikalau mereka memahami (yafqohun )”.

QS. At-Taubah(9):81

“Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup diantara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “Biarkanlah kami berada bersama-sama orang-orang yang duduk”.

“Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, Dan qolbu mereka telah dikunci mati, sehingga mereka tidak memahami (layafqohu) ”.

QS. At-Taubah(9):86-87

“Dan apabila diturunkan suatu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?”. Sesudah itu merekapun pergi, Allah telah memalingkan qolbu mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak memahami(layafqohu) ”.

QS. At-Taubah(9):127

“Apabila orang-orang munafiq datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat memahami (layafquhun) ”.

QS. Al-Munaafiquun(63):1-3

“ Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang anshor): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)”. Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami (layafquhun) ”.

QS. Al-Munaafiquun(63):7

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) dalam qolbu mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada memahami (layafquhun) ”.

QS. Al-Hasyr(59):13

“Orang-orang Badwi yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: “Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu”, mereka hendak merobah janji Allah. Katakanlah: “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami”, demikian Allah telah menetapkan sebelumnya; mereka akan mengatakan: “Sebenarnya kamu dengki kepada kami”. Bahkan mereka tidak memahami (layafqohun) melainkan sedikit sekali”.

QS. Al-Fath(48):15

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak memahami (layafqohun) “.

QS. An-Anfaal(8):65

Dokumentasi Iman-Amal-Ilmu

“Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka bagimu ada tempat tetap (mustaqor) dan tempat simpanan (mustaud’a). Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang

memahami (yafquhun) ”.

QS. Al-An’aam(6):98

Mutaqor = Tempat tinggal kita di dunia.

Mustaud’a = Tempat menyimpan seluruh dokumentasi hidup kita sebagai bekal untuk dihisab di akhirat.

“Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu jadi musuh bagi sebahagian lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman (mustaqor) dan tempat kesenangan (mataaun) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”.

QS. Al-A’raaf(7):24

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam (mustaqor) binatang melata itu dan tempat penyimpanannya (mustaud’aaha). Semuanya tertulis dalam kitab (dokumentasi) yang nyata”.

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalanya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Itu tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.

QS. Huud(11):6-7

Sam’a, Abshor, Fuad

Fungsi Sam’a (Sistem Pendengaran), Abshor (Sistem Penglihatan), dan Fuad (Sistem Transformasi)

1. Bersyukur

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya. Dan dia menjadikan bagi kamu penglihatan (abshar), pendengaran (sam’a), dan fuad, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”.

QS. As-Sajdah(32):9

“Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan kamu pendengaran (sam’a), penglihatan (abshar) dan fuad?, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”

QS. Al-Mulk(67):23

“Dan Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran (abshar), penglihatan (sam’a) dan fuad. Amat sedikit kamu bersyukur.”

QS. Al-Mu’minuun(23):78

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar (sam’a) dan melihat (abshor). Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur ada pula yang kafir”.

QS. Al-Insaan(76):2-3

2. Beriman

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga beriman.

Allah telah mengunci-mati qulub dan pendengaran (sam’a) mereka, dan penglihatan (abshor) mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”.

QS. Al-Baqarah(2):6-7

“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: telah mendengarkan (sam’a) sekumpulan jin (akan Al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar (sam’a) Al-Qur’an yang menakjubkan. (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan Kami”.

QS. Al-Jin(72):1-2

3. Berilmu dan Bertanggung-Jawab

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran (sam’a), penglihatan (Abshor), dan fuad, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

QS. Al-Isra(17):36

Kondisi Sam’a, Abshor, dan Fuad

Jika potensi Sam’a, Abshor, dan Fuad tidak diberdayakan, maka kondisinya akan seperti dibawah ini:

1. Tercabut

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran (sam’a) dan penglihatan (abshar) serta menutup qolbu-mu, siapakah Tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?’. Perhatikanlah, bagaimana Kami sekali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami). Kemudian mereka tetap berpaling juga”.

QS. Al-An’am(6):46

2. Terkunci

“Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.

Mereka itulah orang-orang yang qulub, pendengaran (sam’a) dan penglihatannya (abshor) telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai”.

QS. An-Nahl(16):107-108

3. Buta dan Tuli

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah?, Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi (malaikat, nabi dan anggota badannya sendiri) akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka?”. Ingatlah kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.

(yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat.

Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi untuk (mengazab mereka) di bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipat gandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (sam’a) dan mereka selalu tidak dapat melihat (abshar).

Mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan.

Pasti mereka itu di akhirat menjadi orang-orang yang paling merugi.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.

Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang-orang yang dapat melihat (abshar) dan mendengar (sam’a). Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?”.

QS. Huud(11): 18-24

“Maka mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya sam’a mereka dan dibutakan-Nya abshor mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah qolbu mereka terkunci”.

QS. Muhammad(47):23-24

4. Tidak Berguna

“Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran (sam’a), penglihatan (abshar) dan fuad; tetapi pendengaran, penglihatan, dan fuad mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka perolok-olokannya”.

QS. Al-Ahqaaf(46):26

5. Lebih Rendah dari Binatang

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qulub, tetapi tidak digunakan untuk memahami (yapqohun) (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (abshar) (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (sam’a) (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

QS. Al-A’raaf(7):179

6. Berpaling

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan fuad dan penglihatan (abshor) mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan yang sangat”.

QS. Al-An’aam(6):110

Sam’a (Sistem Pendengaran)

Fungsi Sam’a

Berdasarkan Fungsi dan Kondisi Sam’a sebagaimana tercantum di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi (disampaikan dibawah), maka Sam’a didefinisikan sebagai berikut:

“Mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran kejadian (kehidupan) sebelumnya (masa lalu) berdasarkan penelitian dan pengamatan terhadap informasi (khabar) yang diterima atau melalui bukti-bukti yang tersisa dari kejadian (kehidupan) tersebut, serta mampu merekayasanya berdasarkan logika hubungan dan kemiripan”

“Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Tuhan). Maka apakah mereka tidak menggunakan pendengaran (sam’a)?”.

QS. As-Sajdah(32):26

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar (sam’a)”.

QS. Al-Qashash(28):71

“Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar (sam’a)”.

QS. Yunus(10):67

“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar (sam’a)”.

QS. An-Nahl(16):65

“Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai qolbu atau yang mempergunakan sam’a-nya, sedang dia menyaksikan”.

QS. Qaaf(50):36-37

“Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (almutawasimiin). Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman”.

QS. Al-Hijr(15):74-77

“dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dengan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan sam’a kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar”.

QS. Faathir(35):22

Kondisi Sam’a Jika tidak di-Fungsi-kan

a. Tidak Berakal (Laa-Ya’Qilun)

“Dan diantara mereka ada orang yang mendengarkanmu (yastami’u). Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli (shumma) itu mendengar (tusmi’u) walaupun mereka tidak mengerti (Laa-Ya’Qilun).

QS. Yunus(10):42

b. Berpaling (tersumbat)

“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka beri khabar gembiralah dengan azab yang pedih”.

QS. Luqman(31):7

c. Hawa Nafsu menjadi Tuhan

“Terangkanlah kepadaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa-nya (hawa nafsu) sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar (sam’a) atau berakal. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”.

QS. Al-Furqaan(25)43-44

d. Berpaling Al-Qur’an

“Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya), maka mereka tidak mampu mempotensikan sam’a”.

QS. Fushshilat(41):1-4

Kondisi Sam’a Jika di-Fungsi-kan

a. Ta’at

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar, dan kami ta’at” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

QS. An-Nuur(24):51

“… (orang beriman mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka (orang beriman) mengatakan: “Kami dengar dan kami ta’at”,…”.

QS. Al-Baqarah(2):285

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarkanlah (sam’a) dan ta’atlah; nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran nafsu-nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

QS. At-Taghaabun(64):16

b. Tidak Ta’at

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari padanya-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya).

dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata “Kami mendengarkan (tetapi qolbu mereka menolak), padahal mereka tidak mendengarkan”.

QS. Al-Anfal(8):20-21

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (bani israil) dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!”, mereka menjawab: “Kami mendengar tetapi tidak menta’ati”, dan telah diresapkan ke dalam qulub mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jauh perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada taurat)”.

QS. Al-Baqarah(2):93

“dia mendengar (sam’a) ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarkannya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan azab yang pedih”.

QS. Al-Jaatsyiyah(45):8

Abshar (Sistem Penglihatan)

Fungsi Abshor

Berdasarkan Fungsi dan Kondisi Abshor sebagaimana tercantum di dalam Al-Qur’an (disampaikan dibawah), maka Abshor didefinisikan sebagai berikut:

“Mendapatkan pengetahuan tentang kejadian (kehidupan) sekarang (masa kini) berdasarkan fakta langsung atau fakta dari hasil penelitian dan pengamatan terhadap objek yang diamati, serta mampu merekayasanya berdasarkan logika hubungan dan kemiripan”.

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak menggunakan penglihatan (abshor)?”.

QS As-Sajdah(32):27

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan (yubshirun)”.

QS. Al-Qashash(28):72

“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran (i’brah) yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (abshor)”.

QS. An-Nur(24):44

“Dan diantara mereka ada orang yang memperhatikan (yanzhuru) kepadamu, apakah kamu dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (u’myi), walaupun mereka tidak dapat memperhatikan (yubshirun)”.

QS. Yunus(10):43

“Dan di bumi ini terdapat ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang yang yaqin (muqinin), dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan (yubshirun)?”.

QS. Adz-Dzaariyaat(51):20-21

“… ,Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan (ulil abshor)”.

QS. Al-Hasyr(59):2

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala mereka melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pandangan (ulil abshor)”.

QS. Ali-‘Imran(3):13

Kondisi Abshor Jika tidak di-Fungsi-kan

a. Buta

“Dan diantara mereka ada orang yang melihat kepadamu, apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan (yubshirun)”.

QS. Yunus(10):43

b. Tertutup

“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat (yubshirun)”.

QS. Yaa-Siin(36):9

Kondisi Abshor Jika di-Fungsi-kan

a. Ulil-Abshor

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar (Ulil-aidi) dan ilmu-ilmu yang tinggi (Ulil-Abshor). Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlaq yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat”.

QS. Shaad(38):45-46

b. Dikuasai Syaithon

“Dan (juga) kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam (mustabshirin)”.

QS. Al-Ankabut(29):38

Catatan: Orang-orang Cerdas atau Berpandangan Tajam (Pintar dan Berteknologi Tinggi) masih dapat digelincirkan syaitan, melalui perbuatan-perbuatannya (yang tidak sesuai dengan yang diajarkan Allah melalui Rasul-Nya). Oleh karena itu kita memohon pada-Nya agar tetap terbimbing di jalan-Nya, dengan cara sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah.

Kemampuan Abshor

“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”.

QS. Al-Qalam(68):51

“Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku, maka apakah kamu tidak memiliki pandangan. Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?. Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya”, Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.

QS. Az-Zukhruf(43):51-54

“Maka Aku bersumpah dengan apa yang dapat dipandang dan dengan apa yang tidak dapat dipandang. Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam”.

QS. Al-Haaqqah(69):38-43

Keterbatasan Abshor

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan (abshor) kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir”.

QS. Al-Hijr(15):14-15

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka pandanglah (abshor) berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?. Kemudian pandanglah (abshor) sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah”.

QS. Al-Mulk(67):3-4

“Dia (dzat Allah) tidak dapat dicapai oleh pandangan (abshor), sedang dia dapat memandang (abshor) segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengatahui”.

QS. Al-An’aam(6):103

Fuad (Sistem Transformasi)

Fungsi Fuad

Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an (disampaikan dibawah), maka Fuad didefinisikan sebagai berikut:

“Mengingat (Menyiapkan) ilmu untuk dieksekusi, sehingga menghasilkan tindakan nyata”.

“Berkatalah orang-orang kafir: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”, demikianlah (Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur) supaya Kami perkuat fuad-mu dengannya dan Kami membacanya kelompok demi kelompok”.

QS. Al-Furqaan(25):32

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan afidah (fuad) dan penglihatan (abshor) mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimangan dalam kesesatan yang sangat”.

QS. Al-An’aam(6):110

“Dan (juga) agar afidah (fuad) orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan (syaithon) itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan yang mereka (syaithon) kerjakan”.

QS. Al-An’aam(6):113

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah fuad manusia cenderung kepada mereka dan beri rizqilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.

QS. Ibrahim(14):37

“…, dan (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli,

sedang dia berada di ufuk yang tinggi,

Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi,

Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.

Fuad-nya tidak mendustakan apa yang dilihatnya (peristiwa turunnya wahyu yang pertama di gua hiro)”.

QS. An-Najm(53):6-10

“Mereka (orang-orang zalim) datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan fuad mereka kosong”.

QS. Ibrahim(14):43

“Dan menjadi kosonglah fuad ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan qolbunya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)”.

QS. Al-Qashash(28):10

“Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?, (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke afidah (fuad)”.

QS. Al-Humazah(104):5-7