Arsip

SIFAT – SIFAT MUSLIM IDEAL

Akhlaq seaorang mu’min

Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt.

Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.

Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim.

1. Salimul Aqidah (Good Faith)

Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162).

Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

Beberapa contoh dari penerapan Salimul Aqidah, yaitu:

1) Tidak mengkafirkan seorang muslim;

2) Tidak mengedepankan makhluq atas Khaliq;

3) Mengingkari orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah swt dan tidak bergabung dalam majlis mereka;

4) Mengesakan Allah swt dalam Rububiah dan Uluhiah;

5) Tidak menyekutukan Allah swt, dalam Asma-Nya, sifat-Nya dan Af’al-Nya;

6) Tidak meminta berkah dengan mengusap-usap kuburan;

7) Mempelajari berbagai aliran yang membahas Asma’ dan Sifat dan mengikuti madzhab salaf;

8) Mengetahui batasan-batasan wala’ dan bara’;

9) Berteman dengan orang-orang shalih dan meneladaninya;

10) Meyakini terhapusnya dosa dengan taubat Nashuh;

11) Memprediksikan datangnya kematian kapan saja;

12) Meyakini bahwa masa depan ada di tangan Islam;

13) Berusaha meraih rasa manisnya iman;

14) Berusaha meraih rasa manisnya ibadah;

15) Merasakan adanya para malaikat mulia yang mencatat amalnya;

16) Merasakan adanya istighfar para malaikat dan do’a mereka.

2. Shahihul Ibadah (Right Devotion)

Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ’shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

Beberapa aplikasi dalam kehidupan sehari-hari dari shahihul ibadah, yaitu:

1. Khusyu’ dalam shalat;

2. Qiyamul-Lail minimal satu kali dalam sepekan;

3. Bersedekah;

4. Berpuasa sunnat minimal dua hari dalam satu bulan;

5. Menjaga organ tubuh (dari dosa);

6. Haji jika mampu;

7. Khusyu’ saat membaca Al Qur’an;

8. Sekali Khatam Al Qur’an setiap dua bulan;

9. Banyak dzikir kepada Allah swt sembari menghafalkan bacaan ringan;

10. Banyak berdo’a dengan memperhatikan syarat dan adabnya;

11. Banyak bertaubat;

12. Selalu memperbaharui niat dan meluruskannya;

13. Memerintahkan yang Ma’ruf;

14. Mencegah yang Munkar;

15. Ziarah kubur untuk mengambil ‘Ibrah;

16. Merutinkan shalat sunnah Rawatib;

17. Senantiasa bertafakkur;

18. Beri’tikaf satu malam pada setiap bulannya;

3. Matinul Khuluq (Strong Character)

Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setkal muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung’ (QS 68:4).

Aplikasi dari matinul khuluq yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1. Tidak ‘inad (membangkang);

2. Tidak banyak mengobrol;

3. Sedikit bercanda;

4. Tidak berbisik tentang sesuatu yang bathil;

5. Tidak hiqd (menyimpan kemarahan);

6. Tidak hasad;

7. Memiliki rasa malu untuk berbuat kesalahan;

8. Menjalin hubungan baik dengan tetangga;

9. Tawadhu’ tanpa merendahkan diri;

10. Berani;

11. Halus;

12. Menjenguk orang sakit;

13. Komitmen dengan adab meminta idzin;

14. Berterimakasih kepada orang yang berbuat baik;

15. Merendahkan suara;

16. Menyambung persaudaraan (Shilatur-Rahim);

17. Komitmen dengan adab mendengar;

18. Komitmen dengan adab berbicara;

19. Memuliakan tamu;

20. Mengumbar senyum di depan orang lain;

21. Menjawab salam

4. Qowiyyul Jismi (Physical Power)

Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya.

Kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).

Aplikasi dari matinul khuluq yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Mengikuti petunjuk kesehatan dalam makanan dan minuman, seperti:

a. Membersihkan peralatan makan dan minum;

b. Menjauhi makanan yang diawetkan dan mengkonsumsi minuman alami;

c. Mengatur waktu-waktu makan;

d. Mampu menyediakan makanan;

e. Tidak berlebihan dalam mengkonsumsi yang berlemak;

f. Tidak berlebihan dalam mengkonsumsi garam;

g. Tidak berlebihan dalam mengkomsumsi gula;

h. Selektif dalam memilih produk makanan

2) Mengikuti petunjuk kesehatan tentang tidur dan bangun tidur, seperti:

a. Tidur 6 – 8 jam dan bangun sebelum fajar;

b. Berlatih 10 – 15 menit setiap hari;

c. Berjalan 2 – 3 jam setiap pekan;

d. Mengobati diri sendiri;

e. Tidak mempergunakan obat tanpa meminta petunjuk

5. Mutsaqqoful Fikri (Thinking Brilliantly)

Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia antuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219).

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatka pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.

Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

Aplikasi dari mutsaqqoful fikri yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Hafal juz 28 dan 29 dengan baik;

2) Membaca tafsir Al Qur’an juz 28 dan 29;

3) Mengaitkan antara Al Qur’an dengan realita;

4) Mengahafalkan seluruh hadits dari Arba’in An Nawaiah;

5) Menghafal 50 Riyadhush-Shalihin;

6) Mengkaji marhalah Madaniah dan menguasai karakteristiknya;

7) Mengenal sirah 20 syuhada dari kalangan sahabat ;

8) Mengetahui hukum Zakat;

9) Mengetahui fiqih Haji;

10) Membaca tujuh jam setiap pekan di luar spesialisasinya;

11) Mengetahui sisi-sisi Syumuliyatul Islam;

12) Mengetahui problematika kaum muslimin nasional dan internasional;

13) Mengetahui apa kerugian dunia akibat kemunduran kaum muslimin;

14) Mengetahui urgensi Khilafah dan kesatuan kaum muslimin;

15) Mengetahui arus pemikiran Islam kontemporer;

16) Menghadiri orientasi dan seminar-seminar kita;

17) Mengetahui dan mengulas tiga risalah ;

18) Mengetahui dan mengulas risalah Aqaid;

19) Memahami amal jama’I dan taat;

20) Membantah suara-suara miring yang dilontarkan kepada kita;

21) Mengetahui bagaimana proses berdirinya negara Israil:

22) Mengetahui informasi baru dari problematika kontemporer;

23) Memiliki kemampuan mengulas apa yang ia baca;

24) Menyebar luaskan apa saja yang diterbitkan oleh koran dan terbitan-terbitan kita;

25) Berpartisipasi dalam melontarkan dan memecahkan masalah

6. Mujahadatun Linafsihi (Continence)

Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setkal diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

Aplikasi dari mujahadatun linafsihi yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Memerangi dorongan-dorongan nafsu;

2) Tidak berlebihan dalam mengkonsumsi yang mubah;

3) Selalu menyertakan niat jihad;

4) Menjadikan dirinya bersama orang-orang baik;

5) Memakan apa yang disuguhkan dengan penuh keridhaan;

6) Menyumbangkan sebagian hartanya untuk amal Islami;

7) Sabar atas bencana;

8) Menyesuaikan perbuatan dengan ucapannya;

9) Menerima dan memikul beban-beban da’wah.

7. Harishun ‘ala Waqtihi (Good time management)

Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: ‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’

Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

Aplikasi dari harishun ala waqtihi yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Memperhatikan adab Islam dalam berkunjung dan mempersingkat pemenuhan hajatnya;

2) Memelihara janji umum dan khusus;

3) Mengisi waktunya dengan hal-hal yang berfaedah dan bermanfaat.

8. Munazhzhamun fi Syu’unihi (Well Organized)

Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu udusán dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

Aplikasi dari munzhzhamun fi syuunihi yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Shalat sebagai penata waktunya;

2) Teratur di dalam rumah dan kerjanya;

3) Merapikan ide-ide dan pikiran-pikirannya;

4) Disiplin dalam bekerja;

5) Memberitahukan gurunya problematika yang muncul

9. Qodirun ‘alal Kasbi (Independent)

Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

Aplikasi dari qodirun alal kasbi yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Bekerja dan berpenghasilan;

2) Tidak berambisi menjadi pegawai negeri;

3) Mengutamakan spesialisasi langka yang penting dan dinamis;

4) Berusaha memiliki spesialisasi;

5) Ekonomis dalam nafkah ;

6) Mengutamakan produk umat Islam;

7) Tidak membelanjakan harta kepada non muslim;

8) Bersemangat untuk memperbaiki kualitas produk dengan harga sesuai

10. Naafi’un Lighoirihi (Giving Contribution)

Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tirák mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.

Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).

Aplikasi dari nafi’un lighoirihi yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:1) Komitmen dengan adab Islam di dalam rumah;

2) Melaksanakan hak-hak pasangannya (suami atau istri);

3) Membantu istrinya;

4) Melaksanakan hak-ahak anak;

5) Memberi hadiah kepada tetangga;

6) Memberikan pelayanan umum karena Allah swt;

7) Memberikan sesuatu dari yang dimiliki;

8) Mendekati orang lain;

9) Mendorong orang lain berbuat baik;

10) Membantu yang membutuhkan;

11) Membantu yang kesulitan;

12) Membantu yang terkena musibah;

13) Menolong yang terzhalimi;

14) Berusaha memenuhi hajat orang lain

15) Bersemangat menda’wahi istrinya, anak-anaknya, dan kerabatnya;

16) Memberi makan orang lain;

17) Mendo’akan yang bersin.

Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.

Iklan

Taqwa

Rabbani10:​Taqwa

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

QS. Al-Baqarah(2):183

1. Definisi Taqwa

“Dan sesungguhnya telah kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat”.

QS. Al Anbiyaa’(21):48-49

Menurut Ali bin Abi Thalib ra., Taqwa adalah rasa takut dari ancaman, dan beramal sesuai Al-Qur’an, bersyukur dengan ni’mat yang banyak, ridha dengan yang sedikit, dan bersiap-siap diri untuk suatu masa yang panjang (akhirat).

2. Ukuran Kemuliaan di sisi Allah

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

QS. Al Hujuraat(49):13

Simak pula ayat berikut:QS. Al Hajj(22):37

3. Tujuan Hidup

“Hai manusia, mengabdilah pada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa”.

QS. Al Baqarah(2):21

Simak pula ayat-ayat berikut:QS. An Nahl(16):2; QS. An Nisaa’(4):1

4. Misi Kerasulan

“Lalu Kami utus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): “Mengabdilah kamu sekalian pada Allah, sekali-kali tidak ada Ilah selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa? (kepada-Nya)”.

QS. Al-Mu’minuun(23):32

Simak pula ayat-ayat berikut:

QS. Asy-Syu’araa’(26):105-108 (Nabi Nuh); QS. Asy-Syu’araa’(26):123-126 (Nabi Hud)

QS. Asy-Syu’araa’(26):141-144 (Nabi Shaleh); QS. Asy-Syu’araa’(26):160-163 (Nabi Luth)

QS. Asy-Syu’araa’(26):176-179 (Nabi Syu’aib); QS. Al-Maidah(5):7

5. Taqwa bekal yang paling baik

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai Ulil Albab (orang-orang yang berakal)”.

QS. Al-Baqarah(2):197

6. Orientasi Akhirat

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

QS. Al-Hasyr(59):18

7. Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.

QS. Al-Baqarah(2):2

“Dan Al-Qur’an ini adalah kitab yang Kami turunkan dan diberkahi, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat”.

QS. Al An’aam(6):155

8. Buah Iman dan Amal Shaleh

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”.

QS. Al-Baqarah(2):177

Simak pula ayat-ayat berikut: QS. Al-Maaidah(5):57,88,93,112; QS. Thaahaa(20):132; QS. Al-Baqarah(2):3-5

9. Melaksanakan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

“Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan, mereka itu termasuk orang-orang yang shaleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahalanya), dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertaqwa”.

QS. Ali ‘Imran(3):114-115

Secara lebih lengkap dapat direnungkan QS. Ali ‘Imran(3):100-115

10. Dermawan, Pemaaf, Taubat

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatannya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan syurga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”.

QS. Ali ‘Imran(3):133-138

11. Sabar, Benar, Ta’at, Infaq, Mohon Ampun

“Katakanlah: “inginkah aku khabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Dan (ada pula) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (yaitu) orang-orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka, (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”.

QS. Ali ‘Imran(3):15-17

12. Mengagungkan Syi’ar-syi’ar Allah

“Demikian (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, naka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”.

QS. Al Hajj(22):32

13. Jalan yang Lurus

“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa”.

QS. Al An’aam(6):153

14. Berjihad

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”.

QS. Al Maaidah(5):35

Simak pula ayat-ayat berikut: QS. At Taubah(9):123; QS. Al Baqarah(2):194

15. Wali-wali Allah

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”.

QS. Yunus(10):62-63

16. Berlaku Adil

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

QS. Al Maaidah(5):8

17. Selalu Dzikr

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat (dzikr) kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”.

QS. Al A’Raaf(7):201

18. Balasan bagi yang bertaqwa (di dunia)

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasulnya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.

QS. An Nuur(24):52

“…, Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…,Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya…, dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.”

QS. Ath Thalaaq(65):1-5

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga) maka kami kelak akan menyiapkan jalan yang mudah”.

QS. Al Lail(92):5-7

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

QS. Al A’Raaf(7):96

19. Balasan di Akhirat

“Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa”.

QS. Yusuf(12):57

“Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?”.

QS. Yusuf(12):109

Simak pula ayat-ayat berikut:QS. Al Maaidah(5):65; QS. Hud(11):49; QS. Ar Ra’d(13):35

QS. An Nahl(16):30-32; QS. Al Hijr(15):45-50; QS. Asy Syu’araa’(26):90

QS. Al Qashash(28):83;QS. Az Zukhruf(43):35; QS. Ad Dukhaan(44):51-57

QS. Ath Thuur(52):17-20; QS. Al Qamar(54):54-55;QS. Al Qalam(68):34

Hadits Riwayat Tarmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

“…Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada”

Syahid

​Rabbani09: Syahid


“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu mati), bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup*), tetapi kamu tidak menyadarinya”

QS.Al-Baqarah(2):154

*) Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat keni’matan-keni’matan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?. Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.

QS.At-Taubah(9):111

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu (menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya) dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya)”.

QS.Al-Ahzab(33):23

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?.

(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.

Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar”.

QS.Ash-Shaff(61):10-12

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa mushibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata:”Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah:”Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.

Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik Kepada mereka dikatakan:”Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata:”Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang:”Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah:”Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar”.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup*) di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.

Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka (maksudnya teman-temannya yang masih hidup di dunia dan tetap berjihad di jalan Allah), bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Mereka bergirang hati dengan ni’mat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.

(Yaitu) orang-orang yang menta’ati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.

(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab:”Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

Maka mereka kembali dengan ni’mat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Sesungguhnya orang-orang (yang menakut-nakuti) itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

QS.Ali-Imran(3):165-175

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masdjidil-Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.

Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) dien (agama, undang-undang) itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Bulan Haram dengan bulan Haram, dan pada sesuatu yang patut di hormati, berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

QS.Al-Baqarah(2):190-195

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Mereka bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah:”Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masdjidil-Haram, dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah (menindas Islam dan muslimin) lebih besar (dosanya) dari pada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

QS.Al-Baqarah(2):216-218

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!.

Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu di timpa mushibah ia berkata:”Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan ni’mat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama-sama mereka”.

Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia:”Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)”.

Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akherat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a:”Ya Tuhan Kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau”.

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

Tidaklah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka:”Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu takutnya. Mereka berkata:”Ya Tuhan kami, mengapa engkau wajibkan berperang kepada kami, mengapa Engkau tidak tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah:”Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan:”Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka di timpa sesuatu bencana mereka mengatakan:”Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah:”Semuanya (datang dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (pelajaran dan nasehat) sedikitpun?.

Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (hai Muhammad) menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan Cukuplah Allah menjadi saksi.

Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.

QS.An-Nisaa’(4):71-80

Lihat Juga:QS.An-Nisaa’(4):81-87

“Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (syurga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.

(Yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan dan rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

QS.An-Nisaa’(4):95-96

“Dan perangilah mereka (orang-orang kafir), supaya jangan ada fitnah (gangguan terhadap umat Islam dan agama Islam) dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah (syariat Islam tegak). Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

QS.Al-Anfaal(8):39

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (ni’mat) yang mulia.

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

QS.Al-Anfaal(8):72-75

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa”.

QS.At-Taubah(9):44

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya”.

QS.At-Taubah(9):73

Lihat Juga:QS.At-Tahrim(66):9

“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

QS.At-Taubah(9):39

“Berangkat(berperang)-lah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

QS.At-Taubah(9):41

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a., katanya dia bertanya kepada Rasulullah saw.: “Amal yang bagaimanakah yang paling utama?” Jawabnya, “Shalat tepat pada waktunya”. “Kemudian setelah itu apa?” tanyaku. Jawab beliau: “Berbuat kebajikan pada Ibu Bapak”. “Kemudian setelah itu apa?” tanyaku lagi. Jawab beliau: “Jihad fi Sabilillah!”. Aku sebenarnya hendak bertanya lagi, tetapi aku cukupkan sedemikian.

Hadits Riwayat Muslim

Abu Hurairah mengatakan bahwa: “Saya mendengar Nabi saw. Bersabda: “ Allah menjamin orang yang keluar di jalan-Nya, yang tidak ada yang mengeluarkannya kecuali karena iman kepada-Nya dan membenarkan rasul-rasul-Nya, bahwa Dia akan memulangkannya dengan mendapat pahala atau rampasan, atau Dia memasukkannya ke dalam syurga. Demi Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, kalau bukan karena khawatir bahwa banyak orang dari kaum mukminin tidak senang hatinya ketinggalan dari saya, dan saya tidak dapat mengangkut mereka, niscaya saya tidak akan tertinggal dari pasukan (yang berperang di jalan Allah). Dan demi Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya saya ingin terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi.”

Hadits Riwayat Bukhari

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dan Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orangtuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”

QS.Al-Hajj(22):77-78

Sabar

​Rabbani08: Sabar


“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

QS.Al-Baqarah(2):153

“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.

QS.Al-Baqarah(2):45-46

1. Sabar dalam menghadapi Ujian Allah

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

QS.Al-Baqarah(2):155-157

“Apakah kamu mengira kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:”Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”.

QS.Al-Baqarah(2):214

“Apakah kamu mengira kamu akan masuk syurga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang saba”r.

QS.Ali-‘Imran(3):142

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”.

QS.Ali-‘Imran(3):146

2. Sabar terhadap Ketetapan Allah

“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika berdo’a sedang dia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat ni’mat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh”.

QS.Al-Qalam(68):48-50

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan diwaktu terbenam bintang (di waktu fajar)”.

QS.Ath-Thuur(52):48-49

3. Sabar dalam Berda’wah

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”.

QS.An-Nahl(16):125-128

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu (hai Muhammad), akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu”.

QS.Al-An’aam(6):34

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik”.

QS.Al-Muzzammil(73):10

“Kelak mereka akan mengetahui siapakah sebenarnya yang amat pendusta lagi sombong. Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah”.

QS.Al-Qamar(54):26-27

4. Nasihat untuk Sabar

“Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik (ma’ruf) dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.

QS. Luqman(31):17

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

QS.Al-‘Ashr(103):1-3

5. Sabar diiringi Pengorbanan

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”, Ia menjawab:”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

QS.Ash-Syaffaat(37):100-102

6. Sabar dalam Mengamati Ayat-ayat Allah

“Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan ni’mat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari Ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur”.

QS.Luqman(31):31

“Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat Ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur”.

QS.Asy-Syuura(42):33

7. Sabar salah satu Sifat Orang Mu’min

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atan, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

QS.Al-Ahzab(33):35

8. Sabar salah satu Sifat Orang Taqwa

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”.

QS. Al-Baqarah(2):177

“Katakanlah: “inginkah aku khabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Dan (ada pula) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (yaitu) orang-orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka, (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”.

QS. Ali ‘Imran(3):15-17

9. Sabar dalam Keta’atan

“Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah”.

QS.Al-Muddatstsir(74):7

10. Kemenangan Bagi yang Sabar

…,“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun berdo’a:”Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendidirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.

QS.Al-Baqarah(2):249-250

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”.

QS.Ali-‘Imran(3):200

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

QS.Al-Anfaal(8):45-46

“Hai nabi kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.

QS.Al-Anfaal(8):65-66

11. Sabar salah satu penyebab datangnya Rahmat Allah

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh.

QS.Al-Anbiyaa’(21):85-86

…, Mereka (orang Sabar) itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

QS.Al-Baqarah(2):155-157

12. Pahala bagi yang Sabar

“Apa yang disisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

QS.An-Nahl(16):96

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja (Ulul Albab) yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhoan-Nya, mendirikan sholat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘Alaikum bima Shabartum” (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu), maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”.

QS. Ar-Ra’d(13):19-24

Syukur

​Rabbani07: Syukur


“Dan Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku”.

QS.Al-Baqarah(2):152

1. Mensyukuri Ni’mat Allah merupakan Konsekuensi Meng-Esa-kan Allah

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah”.

Qs. Al-Baqarah(2):172

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (Lagi) yang mensyukuri ni’mat-ni’mat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akherat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh”.

Qs. An-Nahl(16):120-122

“Katakanlah:”Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?”. Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu:”Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.

QS. Az-Zumar(39):64-66

Lihat Juga: QS.Az-Zumar(39):6-7

2. Cara Bersyukur

2.1. Menggagungkan Allah dengan Al-Qur’an

“…, Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu meng-agung-kan Allah atas petunjuk-Nya (Al-Qur’an) yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.

QS. Al-Baqarah(2):185

2.2. Bertaqwa

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah (jumlah sedikit dan perlengkapan perang yang tidak memadai). Karena itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya”.

QS. Ali-‘Imran(3):123

2.3. Mengikuti Rasul

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik kebelakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

QS. Ali-‘Imran(3):144

2.4. Berbakti Kepada Ibu Bapak

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan suyah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a:”Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhoi, berikanlah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni syurga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka”.

QS. Al-Ahqaaf(46):15-16

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Besyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapamu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu”.

QS. Luqman(31):13-14

2.5. Taubat, Ihsan, Teguh, Ikhlas

“Kecuali orang-orang yang taubat dan melakukan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”.

QS. An-Nisaa’(4):146-147

“Allah berfirman:”Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.

QS. Al-A’raaf(7):144

2.6. Memenuhi Seruan Allah dan Seruan Rasul

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mendinding antara diri manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan (mushibah) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya. Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rizki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur”.

QS. Al-Anfaal(8):24-26

2.7. Taat Prosedur Ibadah

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakiku sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”.

QS. Al-Maaidah(5):6

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian daripada syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”.

QS. Al-Hajj(27):36

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah sholat dan berkorbanlah”.

QS. Al-Kautsar(108):1-2

2.8. Mengekspresikan Rasa Syukur

“Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu mengekspresikannya (dengan bersyukur)”.

QS. Adh-Dhuhaa(93):11

2.9. Mengamati Ayat-ayat Allah

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur”.

QS. Al-A’Raaf(7):57-58

“Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”.

QS. An-Nahl(16):14

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”.

QS. An-Nahl(16):78

Lihat Juga: QS.Al-Furqaan(25):62; QS.Ar-Ruum(30):46;

QS.Luqman(31):31; QS.Saba’(34):19; QS.Faathir(35):12;

QS.Yaasiin(36):35,73; QS.Asy-Syuura(42):33;

QS.Al-Jaatsiyah(45):12; QS.Al-Waaqi’ah(56):68-70

3. Sedikit Sekali Orang Bersyukur

“Katakanlah:”Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”, (tetapi) amat sedikit kamu bersyukur”.

QS. Al-Mulk(67):23

Lihat Juga: QS.Al-Baqarah(2):243; QS.Al-A’Raaf(7):10,17;

QS.Yunus(10):60; QS.Yusuf(12):38; QS.Al-Mu’minuun(23):78;

QS.An-Naml(27):73; QS.As-Sajdah(32):9; QS.Saba’(34):13;

QS.Al-Mu’min(40):61

4. Ancaman Bagi yang Tidak Bersyukur

“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan:”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

QS. Ibrahim(14):7

“Tanyakanlah kepada Bani Israil:”Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka”. Dan barangsiapa yang menukar ni’mat Allah (perintah dan ajaran Allah) setelah datang ni’mat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya”.

QS. Al-Baqarah(2):211

Lihat Juga: QS.Al-An’aam(6):61-65;QS.Ibrahim(14):28-30

5. Para Nabi Bersyukur

“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku”, (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur”.

QS. Al-Israa’(17):2-3

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata:”Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak-cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.

QS. Ibrahim(14):35-37

“Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a:”Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

QS. An-Naml(27):19

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab:”Aku akan membawa singasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singasana itu terletak dihadapannya, iapun berkata:”Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (ni’mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

QS. An-Naml(27):40

“… Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”.

QS. Saba’(34):13

“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)”.

QS.Al-Anbiyaa(21):80

6. Keselamatan bagi yang Bersyukur

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan):”Makanlah olehmu dari rizqi yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

QS. Saba’(34):15

“Kaum Luthpun telah mendustakan ancaman-ancaman (Nabinya). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, sebagai ni’mat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

QS.Al-Qamar(54):33-35

Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Aisyah Radhiallahu Anha, ia berkata:

“Pernah Rasulullah SAW bangun dari sebagian malam (melakukan shalat ke hadapan Allah) sampai kedua kakinya membengkak.

Aku berkata kepada beliau:”Mengapa engkau melakukan ini ya Rasulullah? Padahal dosa-dosamu yang akan datang dan yang sudah lalu telah diampuni?”.

“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” jawab beliau.

Dzikrullah

​Rabbani06: Dzikrullah


“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”.

QS.Al-Baqarah(2):152

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (ingatlah) kepada Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya”.

QS.Al-Ahzab(33):41

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat (dzikir) kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”.

QS. Al A’Raaf(7):201

“Dari Abdullah bin Busr r.a. bahwa ada seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, telah banyak syariat Islam yang harus saya jalani. Untuk itu, sampaikanlah kepadaku amalan apa yang harus saya kerjakan?”. Bersabda Rasulullah: “Hendaklah lidahmu senantiasa dibasahi oleh Dzikir (mengingat) kepada Allah”.

Diriwayatkan oleh Turmudzi, Ia mengomentari, “Hadits ini hasan” (Shahih Jami’ush Shaghir:7577)

1. Operasional Dzikrullah

1.1. Muhammad Rasulullah adalah Teladan

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah”.

QS. Al-Ahzab(33):21

Ayat ini dengan jelas menginformasikan kepada kita bahwa yang paling banyak mengingat Allah adalah Muhammad Rasulullah SAW, sehingga seorang manusia baru dikatakan banyak mengingat Allah apabila melakukannya sesuai dengan teladan yang disampaikan Muhammad Rasulullah.

1.2. Ta’at kepada Allah dan Rasulullah

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

QS.Al-Anfaal(8):45-46

Al-Hasan al-Bashri berkata:”Udzkuruuni adz kur kum (QS.Al-Baqarah(2):152, yaitu Ingatlah Aku (Allah) dengan melaksanakan apa yang telah Aku wajibkan atasmu, niscaya Aku ingati kamu dengan apa yang telah Aku janjikan kepadamu”.

Said bin Jubair berkata:”Ingatlah kalian dengan melakukan ta’at kepada-Ku (Allah), Aku ingati kamu dengan pengampunan-Ku atau rahmat-Ku”.

1.3. Baca Al-Qur’an, Shalat, dan Pengabdian Kepada Allah

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

QS.Al-Ankabuut(29):45

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada ilah selain Aku, maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.

QS.Thaahaa(20):14

Dalam suatu wasiat Rasulullah SAW. Kepada Abu Dzarr ra.:

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya dia (Al-Qur’an) adalah cahaya bagimu di bumi dan simpanan bagimu di langit”.

Riwayat Ibnu Hibban dalam suatu hadits panjang

Aisyah ra. Berkata: “Bersabda Rasulullah SW.:

“Orang yang mahir membaca Al-qur’an maka kedudukannya sejajar dengan malaikat yang mulia dan baik. Adapun orang yang membaca Al-qur’an dengan terbata-bata dan merasa berat, maka mendapat dua pahala”.

Riwayat Bukhari dan Muslim

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. Bahwa Nabi SAW. Bersabda:

“Al’Qur’an itu adalah jamuan Allah maka terimalah jamuan itu semampu kamu. Al-Qur’an ini tali Allah, cahaya penjelas, obat yang bermanfaat yang menjaga bagi siapa berpegang teguh dengannya, keselamatan bagi yang mengikutinya, tidak akan tergelincir karena akan diluruskan, tidak akan bengkok sehingga ditegakkan, tidak akan pernah habis keajaiban-keajaibannya, dan Dia tidak membuat banyak penolakan/bantahan. Maka, bacalah ia karena Allah akan memberi pahala kepadamu lantaran membacanya. Setiap huruf sepuluh pahala. Adapun saya tidak mengatakan kepadamu alif lam mim satu huruf, akan tetapi alif, lam, dan mim (tiga huruf)”.

Diriwayatkan oleh Hakim

1.4. Dzikrullah dalam Semua Aktifitas Hidup

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal (Ulul Albab),

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (meneliti) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

QS. Ali ‘Imran(3):190-191

1.5. Adab BerDzikir

“Dan ingatlah Allah dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”.

QS.Al-A’raaf(7):205

1.6. Bertahlil, bertasbih, bertahmid, dan bertakbir

“Senantiasalah kamu memperbaharui imanmu dengan ucapan La ilaha illa ‘llah”.

Hadits Rasulullah

“Dan bertasbihlah kepada-Nya (Subhanallah) di waktu pagi dan petang”.

QS.Al-Ahzab(33):42

“Katakanlah: “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) dan Salam (Sejahtera) atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya”.

QS.An-Naml(27):59

“Dan katakanlah: “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan Takbirlah Dia (Allahu Akbar) dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”.

QS.Al-Israa’(17):111

1.7. Hasbalah, hauqalah

“(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab:”hasbunallahu wa ni’malwakil (cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah sebaik-baik penolong)”.

QS.Ali-‘Imran(3):173

 “La Haula wa la quwwata illa billah (Tak ada daya upaya untuk menolak suatu kemeralatan dan mendatangkan sesuatu kemanfaatan melainkan dengan Allah jua”.

HR. Bukhari Muslim, Riyadlushshalihin

Maka jadikanlah segala aktifitas hidup kita sebagai rangkaian aktifitas hidup yang dipenuhi dengan Dzikrullah, sebagaimana yang telah dicontohkan Muhammad Rasulullah SAW. Dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, dalam kesendirian, dalam keluarga, dalam bermasyarakat, dalam kehidupan bernegara, dan dalam segala aktifitas hidup lainnya. Baik dzikir secara lisan dengan mengucapkan perkataan-perkataan yang baik (Thoyibah), maupun secara perbuatan dengan melaksanakan dan menjaga syariat-syariat islam secara utuh dan menyeluruh.

Dzikir-dzikir tersebut dapat ditelusuri melalui kumpulan hadits yang telah disusun dan disampaikan oleh ahli-ahli hadits, atau melalui kitab (buku) tentang dzikir yang disusun secara sistematis oleh para ulama. Contoh untuk dzikir lisan: Do’a dan Dzikir, karya Ibnu Taimiyah rahimahullah, dan lain-lain. Tentang Syariat Islam dapat dipelajari dalam kitab-kitab fiqih yang dikarang para ulama, seperti Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Ahmad, Ulama Ahli Hadits, dan lain-lain. Sehingga dzikir yang kita lakukan benar-benar bersumber dari Rasulullah SAW, para Shahabat ra., Dan …, bukan bersumber dari selainnya (yang rentan terhadap bid’ah dan syirik).

2. Manfaat Dzikrullah

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”.

QS. Ar-Ra’d(13):28

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”.

QS.Al-Anfaal(8):45-46

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atan, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

QS.Al-Ahzab(33):35

“Suatu kaum yang duduk-duduk bersama dan berdzikir bersama niscaya para malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat melimpah kepada mereka, turun ketenangan terhadap mereka, dan Allah menyebut mereka kepada yang berada disisi-Nya”.

HR. Muslim

Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. Bersabda: bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Hai anak Adam jika anda ingat (Dzikir) pada-Ku dalam dirimu, Aku ingat kepadamu dalam diri-Ku, dan jika anda ingat kepada-Ku dalam rombongan, maka Aku ingat kepadamu dalam rombongan Malaikat (yang lebih dari rombonganmu). Jika anda mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku akan mendekat sehasta, dan jika anda mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku mendekatmu sedepa, dan jika anda datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadamu berlari”.

HR. Bukhari dari Qatadah dan Ahmad dari Anas r.a. (Qatadah berkata:”Lebih dekatnya Allah dengan rahmat-Nya”).

Allah berfirman: “Aku senantiasa dalam persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku senantiasa bersamanya selagi ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku pada dirinya, Aku mengingatnya pada diri-Ku, jika ia mengingat-Ku di tengah-tengah kelompok, Aku mengingatnya di tengah-tengah kelompok yang lebih baik dari mereka”.

Hadits Qudsi Muttafaqun’Alaih dari hadits Abu Hurairah

3. Berpaling dari Dzikrullah

“Barangsiapa berpaling dari Dzikir kepada Ar-Rahman (Allah), maka kami turunkan kepadanya seorang syaitan yang terus-menerus menjadi kawan seiring baginya”.

QS.Az-Zukhruf(43):36

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah partai syaitan (Hizbusyaitan). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya partai syaitan itulah partai yang merugi”.

QS.Al-Mujaadilah(58):19

“Dan barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku (Dzikrullah), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

QS. Thaahaa(20):124

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”.

QS.Al-Munaafiquun(63):9

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”.

QS.An-Nisaa’(4):142

4. Renungan

Ibnu Abbas r.a. berkata:

“Pada suatu hari, saya duduk dibelakang Rasulullah SAW. Atas suatu kendaraan, maka Rasulullah bersabda kepadaku: “Wahai pemuda, Saya akan mengajarkan kamu beberapa kalimat (ketetapan untuk menjadi pedoman hidup), yaitu: Peliharalah akan Allah (laksanakan segala perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya), supaya Allah memelihara engkau, jika engkau tetap memelihara Allah, tentulah engkau tetap mendapati-Nya dihadapan engkau. Ma’rifatilah akan Allah di dalam kesenangan, supaya Allah mema’rifati (mengenali) engkau di dalam kesusahan. Apabila engkau memohon sesuatu hajat, mohonkanlah kepada Allah, apabila engkau meminta sesuatu pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa walaupun berkumpul seluruh ummat untuk mendatangkan sesuatu kemanfa’atan kepada engkau, tiadalah mereka itu dapat berbuat apa-apa, kecuali sekedar yang Allah telah tetapkan memperolehnya. Dan jika berkumpul pula seluruh manusia untuk mendatangkan sesuatu kemelaratan (mudharat) kepada engkau, tiadalah juga mereka itu sanggup berbuat apa-apa melainkan hanya sekedar yang Allah telah tetapkan juga. Sebenarnya telah diangkat matapena (kalam) dan telah kering segala lembaran tulisan. Dan ketahuilah bahwa pertolongan Allah hanya diberikan kepada orang yang sabar, dan bahwa kelapangan diberikan kepada orang yang dalam kesusahan. Demikian pula dalam menderita kesulitan, disitulah Allah memberikan kemudahan.

Riwayat At-Turmudzi dan lain-lain

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.

QS. An-Nisaa’(4):65

“Segala apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggallah, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksanya”.

QS. Al-Hasyr(59):7

Belajar dan Mengajarkan Ilmu

​Rabbani05: Belajar dan Mengajarkan Ilmu

1. Luasnya Ilmu Allah

“Katakanlah:”Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.

QS. Al-Kahfi(18):109

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

QS. Luqman(31):27

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya”.

QS. Thaahaa(20):110

2. Sumber Ilmu

Selain Al-Qur’an dan As-Sunnah, sumber ilmu lain yang menjadi rujukan Manusia Rabbani adalah:

2.1. Sahabat Nabi dan Tabi’in

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atur Ridwan), maka Allah mengetahui pada yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”.

QS. Al-Fath(48):18

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar (Sahabat Nabi) dan orang-orang yang mengikuti mereka (Tabi’in) dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.

QS. At-Taubah(9):100

Rasulullah shalat shubuh sebagai imam bersama kami. Beliau memberikan fatwa yang sangat mengesankan, sehingga bercucuran air mata dan tergetar hati kami. Kepada beliau ada yang bertanya:”Ya Rasulullah, (Fatwa ini) seolah-olah fatwa terakhir, oleh karena itu kami memohon wasiat anda”. Rasulullah bersabda:”Kalian wajib “sam’an wa tha’atan” walaupun (yang menyampaikan) seorang abid bangsa Habsyi. Barangsiapa dari kalian yang panjang umurnya, ia akan melihat berbagai perbedaan dan pertentangan faham. Dalam keadaan demikian, kalian hendaklah berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah teguh-teguh. Dan hati-hatilah kalian. Janganlah mengerjakan hal-hal yang baru (dalam peribadatan). Sesungguhnya setiap bid’ah menyesatkan.

HR. Ibnu Abdilbar yang bersumber dari ‘Irbadl bin Sariyah.

Diriwayatkan pula oleh Attirmidzi, Abu Daud, Imam Ahmad dan Ibnu Majah

2.2. Ulama Penegak Keadilan

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama (orang-orang yang mengetahui Kebesaran dan Kekuasaan Allah). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

QS. Faathir(35):28

“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada Ahli Dzikr (orang-orang yang berilmu), jika kamu tiada mengetahui”.

QS. Al-Anbiyaa’(21):7

“Sesungguhnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu (Orang-orang yang menghafal, memelihara, memahami, dan mengaplikasikan Al-Qur’an). Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”.

QS. Al-Ankabuut(29):49

“Dan agar orang-orang yang yang telah diberi ilmu (Utul’Ilma), meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”.

QS. Al-Hajj(22):54

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, , para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (Ulul’Ilmi) yang menegakkan keadilan (juga menyatakan yang demikian), Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

QS. Ali-‘Imran(3):18

3. Ilmu Diberikan kepada Muhsinin, Beriman dan Beramal Shaleh

“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan Ilmu (pengetahuan). Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin)”.

QS. Al-Qashash(28):14

“Dan tatkala dia cukup dewasa (Nabi Yusuf mencapai umur antara 30-40 tahun), Kami berikan kepadanya hikmah dan Ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin)”.

QS. Yusuf(12):22

“Adakah orang yang mengetahui (berilmu) bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (silaturahmi dan persaudaraan di jalan Allah), dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk, Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhoan Tuhannya, mendirikan sholat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan):”Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”.

QS. Ar-Ra’d(13):19-24

4. Kewajiban Berilmu

“Maka ketahuilah (berilmulah dulu kemudian nyatakan), bahwa sesungguhnya:”Tidak ada Ilah kecuali Allah”.

QS. Muhammad(47):19

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) tertangnya, Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan fu’ad (mata hati dan akal), semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban”.

QS. Al-Israa’(17):36

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang), Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan (ilmu) mereka tentang dien dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

QS. At-Taubah(9):122

“Dan bertaqwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui”.

QS. Asy-Syu’araa(26):132

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”.

QS. Al-Ankabuut(29):43

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

QS. Al-Ankabuut(29):69

“Dan orang-orang yang diberi ilmu berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itulah yang hak dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.

QS. Saba’(14):6

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan:”Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

QS. Al-Mujaadilah(58):11

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang-orang yang beribadat di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan Rahmat Tuhannya? Katakanlah:”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah (Ulul Albab) yang dapat menerima pelajaran”.

QS. Az-Zumar(39):9

5. Hati-Hati terhadap Ilmu

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab? Maka tidakkah kamu berfikir?”.

QS. Al-Baqarah(2):42-44

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?”.

QS. Ash-Shaff(61):2-3

“Berkata Musa:”Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?”. Samiri menjawab:”Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul (ajaran-ajaran rasul) lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”.

QS. Thaahaa(20):95-96

“(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) disisi Allah dan disisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang sombong dan sewenang-wenang”.

QS. Al-Mu’min(40):35

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

QS. Al-Mu’min(40):56

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”.

QS. Huud(11):118-119

“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan, sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipalingkan daripadanya (Rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan. Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, yaitu orang-orang yang terbenam dalam kebodohan lagi lalai”.

QS. Adz-Dzaariyaat(51):7-11

“Karun berkata:”Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah dia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka”.

QS. Al-Qashash(28):78

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni’mat dari Kami ia berkata:”Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku”, Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.

QS. Az-Zumar(39):49