Arsip

12 Ummul Mukminin

12 Ummul Mukminin (Ibu Kaum Mukminin)

Dalam menjatuhkan reputasi agama Islam kaum Orientalis dan sarjana-sarjana barat sering menggunakan pernikahan Rasulullah saw sebagai bahan serangan mereka. Berbagai tuduhan mereka lancarkan untuk memperlihatkan buruknya kondisi rumah tangga Rasulullah saw sehingga orang tak lagi bisa percaya pada ajaran Islam. Adalah salah jika mereka menganggap Islam dapat dengan mudah dihancurkan. Islam adalah agama yang kuat dan selalu memiliki jawaban untuk segala pertanyaan. Salah satu alasan yang paling masuk akal mengapa orang cenderung menyerang Islam menggunakan rumah tangga Rasulullah saw sebagai senjata adalah karena mereka tidak mengenal istri-istri Rasulullah saw secara pribadi, dan sebagiannya lagi karena tidak memahami kesulitan hidup yang mereka hadapi.Ummul Mukminin, yang memiliki pengertian Ibu Kaum Mukmin, merupakan gelar khusus yang hanya disandangkan pada istri-istri Rasulullah saw. Mereka berjumlah dua belas orang dengan spesifikasi yang istimewa pada masing-masing individunya, mereka adalah:

1. Khadijah binti Khuwailid [i]bin Asad al Quraisyiyyah al Asadiyah, istri pertama Rasulullah, dinikahi 15 tahun sebelum kerasulan ketika Nabi Muhammad jejaka 25 tahun, sedangkan Khadijah janda 40 tahun. Sebelumnya Khadijah telah menikah dua kali, pertama dengan Abu Halah bin Zarah at-Tamimi dan kemudian dengan Atiq bin Aziz at Tamimi.

Sebelum mereka menikah, Khadijah mempercayakan pengelolaan barang dagangannya kepada pemuda Muhammad. Tertarik akan pribadi dan kejujurannya, Khadijah meminangnya untuk menjadi suaminya. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai enam orang anak: Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummi Kalsum, Fatimah, dan Abdullah. Dari keenam putra-putri mereka, hanya Fatimah yang menurunkan keturunan yang sampai sekarang tersebar diseluruh dunia.

Khadijah berperan besar pada masa-masa awal penyebaran Islam. Dia mendedikasikan hartanya bagi kepentingan Islam. Khadijah wafat 2 tahun sebelum Rasulullah saw hijrah, dalam usia 65 tahun. Tahun wafatnya bersamaan dengan wafatnya Abu Thalib, paman Rasulullah saw.

2. Saudah binti Zam’ah , istri kedua Rasulullah, dinikahi setelah Khadijah wafat. Sebelum menikah dengan Rasulullah ia istri Sakran bin Umar al Amiri. Suami istri ini termasuk orang-orang pertama yang beriman. Karena dinista kaum Quraisy, mereka hijrah ke Habsyah. Setelah kembali ke Mekkah, Sakran meninggal. Saudah hidup sebagai janda lanjut usia, tanpa pelindung; bapaknya sendiri masih musyrik. Atas desakan bibinya, Khaulah binti Hakim, Rasulullah menikahinya. Meskipun berstatus sebagai istri, ia tidak pernah meminta haknya selaku umumnya seorang istri. Dia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya saya tidak ingin menikah. Tetapi saya ingin bangkit kelak di hari kiamat sebagai istri Rasulullah.” Saudah wafat di akhir masa Khalifah Umar bin Khattab

3. Zainab binti Huzainah bin Abdullah bin Umar bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sa’sa’ab al Hilaliyah. Ia menikah dengan Rasulullah tahun 11 H. Sebelumnya dia pernah menikah dengan Abdullah bin Jahsi, salah satu syuhada Uhud. Pernikahannya dengan Rasulullah tidak berlangsung lama karena wafat kira-kira dua bulan setelah pernikahannya. Ia terkenal dengan sebutan Umm al Masakin (Ibu kaum miskin), karena senang memberi makan dan sedekah kepada fakir miskin.

4. Aisyah binti Abu Bakr as Siddiq , lahir 2 tahun sebelum kerasulan. Pernikahannya dengan Rasulullah saw tidak menghasilkan keturunan. Ia banyak mendengar al Qur’an dan hadis langsung dari Rasulullah saw. Melalui Aisyah umat Islam mengetahui bagaimana Rasulullah saw menjalankan kewajibannya sebagai suami, sampai hal-hal yang sangat pribadi yang patut diketahui umat Islam untuk diteladani. Aisyah juga dikenal sebagai orang yang cerdas, banyak mengetahui hukum-hukum dan ilmu fara’id (hukum pembagian harta waris) yang rumit. Aisyah wafat pada tahun 47 atau 48 H. Darinya para ulama menerima 2.210 hadis, termasuk hadis-hadis pergaulan suami-istri yang tidak akan diterima dari perawi lain.

5. Juariyah binti al Haris, dinikahi Rasulullah saw enam tahun setelah hijrah. Pertemuannya dengan Rasulullah saw terjadi ketika Bani Mustaliq menyerang kaum muslimin. Juariyah ikut di dalamnya. Serangan Bani Mutaliq dapat dipatahkan, Juariyah menjadi tawanan Qais bin Sabit. Ia akan dibebaskan dengan syarat membayar tebusan. Oleh karena tidak memiliki uang tebusan, ia menghadap Rasulullah saw mengadukan nasibnya. Rasulullah saw bersabda: “Apakah engkau menginginkan agar aku membayar tebusanmu, kemudian aku menikahimu?” Juariyah setuju dan Rasulullah saw menikahinya. Pernikahan mereka membuat hubungan kaum muslim dengan Bani Mustaliq menjadi erat. Juariyah wafat tahun 56 H.

6. Sofiyah binti Huyay bin Akhtab dinikahi Rasulullah saw beberapa saat setelah Perang Khaibar. Sofiyah adalah putri raja dan suaminya juga bangsawan Khaibar yang memiliki benteng Qumus, beragama Yahudi, bernama Kinanah bin Rabi’. Setelah terjadi perang Khaibar, orang-orang Khaibar menjadi tawanan, termasuk Sofiyah. Sebagai bekas permaisuri raja, keadaan itu teramat menyedihkan. Kemudian ia masuk Islam dan bersedia dinikahi Rasulullah saw. Setelah menjadi Ummul Mukminin, ia kembali menduduki tempat kehormatannya. Pernikahannya dengan Rasulullah saw membuat orang-orang Khaibar ikut tergerak untuk masuk Islam. Sofiyah wafat sekitar tahun 50 H.

7. Ummu Salamah, nama aslinya adalah Hindun binti Abu Ummayah bin Mugirah bin Abdullah bin Amr bin Mahzum, dinikahi Rasulullah saw pada tahun 2 H. Sebelum dinikahi Rasulullah saw ia pernah menikah dengan Abdullah bin Asad al Mudirah dan memiliki anak bernama Salamah. Itu sebabnya ia dikenal dengan nama Ummu Salamah (Ibu Salamah). Suaminya ikut perang Uhud dan sempat terluka. Dalam peperangan dengan Bani Asad dia meninggal dunia.Beberapa tahun setelah pernikahannya dengan Rasulullah saw, Ummu Salamah mendampingi Rasulullah saw dalam penakhlukan Mekkah, perang dengan orang Ta’if, perang melawan Bani Hawazin, dan perang melawan Bani Saqif. Ummu Salmah juga dikenal sebagai perawi hadis. Dia wafat sekitar tahun 59 atau 61H.

8. Ramlah binti Abu Sofyan. Sebelum masuk Islam ia menikah dengan Ubaidillah bin Yahsi al Asadi, sepupu Rasulullah saw. Ramlah dan suaminya masuk Islam, sementara orang tua mereka tetap musyrik bahkan memusuhinya. Karena tekanan dari kaum musyrik Quraisy Mekkah, Ramlah beserta suaminya hijrah ke Habsyah. Di tengah perjalanan hijrah yang sulit itu, Ramlah melahirkan, sementara suaminya kembali murtad. Meskipun sendirian dan menderita diperantauan Ramlah tetap teguh mempertahankan keimanannya. Kabar penderitaannya itu sampai kepada Rasulullah saw. Melalui surat yang disampaikan Raja Najasyi, Rasulullah saw meminangnya. Ramlah menerima pinangan itu dan menunjuk Kalid bin Sa’id bin As bin Ummayah sebagai walinya. Ketika itu dia tetap tinggal di Habsyah karena pertimbangan keamanan.Sesudah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, beliau memerintahkan para sahabat untuk mencari umat Islam yang terpencar-pencar di pengungsian termasuk yang masih ada di Habsyah. Ramlah ikut bersama mereka kembali ke Madinah dan untuk pertama kalinya bertemu dengan Rasulullah saw. Ramlah wafat tahun 44 H di masa pemerintahan adiknya, Mu’awiyah bin Abu Sofyan.

9. Hafsah binti Umar bin Khattab, lahir lima tahun sebelum kerasulan. Pertama kali dia menikah dengan Hunain bin Hufazah, salah seorang sahabat yang ikut hijrah ke Habsyah dan ikut Perang Uhud. Ia wafat tahun 3 H. Setelah menjanda beberapa tahun Hafsah dinikahi Rasulullah saw. Kehadirannya di tengah-tengah rumah tangga Rasulullah saw sempat menimbulkan konflik. Ketika hadir Mariyah al Qibtiyyah, Hafsah cemburu berat. Ia mengajak istri-istri Rasulullah saw yang lain untuk mempengaruhi suami mereka agar membenci Mariyah. Rasulullah saw sempat menjauhi Mariyah hingga turun ayat 1 surat at-Tahrim menegur beliau.

Setelah Rasulullah saw wafat, atas usul Umar bin Khattab, Khalifah Abu Bakr mengumpulkan naskah al Qur’an yang tadinya berserakan baik di catatan-catatan pribadinya maupun hafalan para sahabat. Naskah al Qur’an lengkap pertama yang dikenal dengan ‘Mushaf Abu Bakr’ itu disimpan di rumah Hafsah. Naskah tersebut baru dikeluarkan pada zaman Khalifah Utsman untuk diperbanyak.

10. Maimunah binti al Haris adalah seorang janda yang dinikahi Rasulullah saw beberapa saat setelah Fath Makkah. Ketika Rasulullah saw beserta kaum muslim memasuki kota Mekkah, kaum musyrik yang tidak ingin bersahabat menyingkir keluar Mekkah. Akan tetapi tiba-tiba datang Maimunah dengan mengendarai unta sambil berteriak-teriak: “Unta ini beserta penunggangnya dipersembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.” Perbuatan Maimunah tersebut mengundang cemoohan khalayak ramai, karena belum tentu Rasulullah saw mau. Abbas memberitahukan kemauan Maimunah ini kepada Rasulullah saw. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah saw, beliaupun menerima kemauan Maimunah dan menikahinya. Hal ini beliau lakukan semata-mata untuk menghindarkan Maimunah dari cemoohan dan rasa putus asa. Maimunah wafat pada tahun 15 H.

11. Zainab binti Jahsy bin Rubab bin Ya’mar bin Sabrah bin Murrah bin Kasir bin Ganam bin Daudun bin Asad bin Khuzaimah. Ibunya bernama Umainah binti Abdul Mutallib bin Hasyim; jadi masih saudara sepupu Rasulullah saw. Sebelumnya Zainab adalah istri Zaid bin Harisah, anak angkat Rasulullah saw. Ia dinikahi Rasulullah saw tahun 3 H. Pernikahannya ini sekaligus menghapus pandangan masyarakat Arab ketika itu yang menyamakan status anak angkat sama dengan anak kandung, termasuk pencantuman nama nasab bapak angkat, sehingga bekas istri anak angkat tidak boleh dinikahi bapak angkat.

Zainab wafat tahun 20 H. Sebelum wafat ia berkata: “Aku telah menyediakan kain kafan untukku. Umar akan mengirimkannya untukku. Oleh karena itu saya minta, salah satunya diberikan pada yang memerlukannya. Bila masih ada hak-hakku supaya disedekahkan kepada yang memerlukannya.”

12. Mariyah binti Syam’un al Qibtiyyah, ibunya berdarah Romawi. Ia lahir dan dibesarkan di Ansuna suatu desa sebelah timur Sungai Nil. Pada masa remajanya ia tinggal di istana Raja Muqauqis Mesir sebagai pelayan istana. Ketika Habib bin Abu Balta’ah diutus menyampaikan surat dari Rasulullah saw kepada Raja Muqauqis, sebetulnya raja mengakui kerasulan Muhammad saw tetapi takut akan kehilangan kewibawaannya di hadapan rakyatnya, yang berarti pula akan kehilangan mahkotanya. Oleh karena itu ia membalas surat Rasulullah saw dengan penuh penghormatan sambil mengirimkan Mariyah dan saudaranya, Sirin, serta 1.000 misqal mas, 20 stel pakaian tenunan Mesir, madu lebah, kayu cendana, minyak kesturi, keledai lengkap dengan pelananya dan seekor himar putih. Mereka tiba di Madinah pada tahun 7 H.Rasulullah saw menikahi Mariyah, sementara adiknya, Sirin, dinikahkan dengan penyair Hassan bin Sabit. Kehadiran Mariyah di antara istri-istri Rasulullah saw membuat mereka cemburu, terutama Hafsah dan Aisyah, lebih-lebih setelah Mariyah hamil dan melahirkan Ibrahim (wafat pada usia satu setengah tahun). Mariyah wafat pada tahun 16 H pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Iklan

Utsman bin Mazh’un

Ia termasuk sahabat Rasulullah yang hijrah ke Abessinia. Ia rela menerima siksaan kaum Quraisy demi membela agama Allah

Ketegaran Utsman bin Mazh’un tercatat dalam perjalanan sejarah perkembangan Islam. Ia tercatat sebagai orang yang berani melawan penderitaan dengan tetap mempertahankan imannya.

Ustman bin Mazh’un adalah seorang sahabat Rasulullah yang hijrah ke Abessinia atau Habasyah yang kini dikenal dengan sebutan Ethiopia. Ia bersama 80 sahabat Rasulullah hijrah ke negara yang memeluk agama Kristen ini atas perintah Rasulullah. “Tempat itu diperintah oleh seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi jujur sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua, “sabda Rasulullah. Raja Negus, penguasa Abessinia kala itu, menerima dengan baik kedatangan kaum muslimin. Bahkan dua utusan kaum Quraisy yang datang membujuk Raja Negus, Amr ibnul ‘Ash dan Abdullah ibnu Abdi Rabi’ah, gagal total meminta mereka kembali ke Mekah. Ja’far bin Abi Thalib berhasil menjelaskan dan meyakinkan Raja Negus tentang agama Islam dan sikapnya terhadap penganut Kristen dan Isa Almasih.

Namun, setelah beberapa saat tinggal di Abessinia, mereka lantas mendengar kabar gembira dengan masuknya sebagian pemimpin kaum Quraisy Mekah ke dalam agama Islam.

Kaum muslimin yang telah hijrah pada tahun kelima masa kenabian itu (sekitar tahun 615 Masehi) mulai tertarik untuk kembali ke Mekah. Mereka telah merindukan tanah kelahiran mereka yang telah lama mereka tinggalkan. Setelah mendapat izin Raja Negus mereka kembali ke Mekah melalui lautan.

Tapi belum lagi memasuki kota Mekah, mereka akhirnya tersadar bahwa mereka telah tertipu informasi kaum Quraisy yang menyesatkan. Berita itu sengaja diembuskan kaum Quraisy agar kaum muslimin mau kembali ke Mekah. Mereka takut kedudukan kaum muslimin semakin kuat dengan menjalin hubungan dengan Raja Negus.

Kaum Quraisy menyambut kaum muslimin yang tengah dimabuk rindu ke Tanah Suci Mekah itu bukan dengan sambutan hangat, tapi dengan senjata. Kaum muslimin benar-benar terjebak dan tak bisa berbuat apa-apa, karena posisi mereka yang sangat lemah. Mereka lantas menyerang kaum muslimin yang tak siap itu. Berbagai siksaan lantas diterima kaum muslim.

Tapi, nasib buruk itu ternyata justru tak menimpa Utsman bin Mazh’un. Sebab, pamannya, Walid bin Mughirah, tanpa sepengetahuan Utsman, telah memberikan jaminan keamanan. Karena itu tak satu pun orang Quraisy yang berani mengganggunya, hingga ia masuk kota Mekah. Perlindungan waktu itu merupakan tradisi masyarakat Arab. Siapa pun dan seberapa rendah kelas seseorang, jika masuk dalam perlindungan tokoh waktu itu, mereka akan aman. Tidak boleh mendapat gangguan sekecil apa pun.

Namun, saat itu ia tak bisa menyaksikan penderitaan dan penyiksaan yang diterima saudara-saudara sesama muslim yang berangkat bersamanya ke Abessinia. Melihat kejadian itu hatinya berontak. Ia tidak bisa merasakan ketenangan dengan mendapatkan keistimewaan sendiri. Ia lantas menghadap Walid bin Mughirah.

“Wahai Abu Abdi Syam (sebutan penghormatan bagi Walid bin Mughirah), sejak saat ini aku melepaskan perlindungan yang telah engkau berikan padaku. Karena aku tidak ingin mendapatkan perlindungan selain dari-Nya. Umumkanlah hal ini, seperti waktu engkau umumkan perlindungan atasku sebelumnya,” kata Utsman dengan suara lantang. Walid tak menyangka kemenakannya akan mengatakan itu.

Walid lantas melepas perlindungannya itu dan segera mengumumkan kepada warga Mekah. Kaum Quraisy lantas berdatangan ke arahnya dan mulai menyiksanya. Utsman menerimanya dengan lapang dada. Ia bangga karena ia kini menerima nasib sama dengan saudara-saudara seimannya. Ia nikmati siksaan demi siksaan itu bagaikan belaian.

Siksaan demi siksaan diterimanya persis di depan sang paman. “Ayolah, Utsman, kalau kamu menghendaki keselamatan, masuklah ke dalam perlindunganku kembali.”

Tapi, Utsman menolak tawaran itu. Dengan tenang ia berkata, “Mataku yang sehat ini memerlukan pukulan seperti yang telah dirasakan saudara-saudaraku seiman. Sebenarnya aku berada dalam perlindungan Allah, yang lebih kuat dari perlindungan yang bisa engkau berikan untukku.”

Setelah berbagai siksaan dan pukulan dia terima dengan tabah, ia mengikuti perintah Rasulullah untuk berangkat hijrah ke Medinah, bersama beberapa sahabat lainnya. Ia berangkat mendahului Rasulullah yang berhijrah bersama Abu Bakar.

Bersamaan dengan kemajuan Islam di kota ini, Utsman juga tercatat sebagai sahabat yang cukup menonjol. Ia laksana batu mulia yang tak bernilai harganya. Utsman adalah orang yang ahli ibadah dan seorang zahid, waktunya habis untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sepanjang siang dan malam ia habiskan waktu untuk shalat, membaca Al-Quran, dan puasa.

Pada suatu hari ia masuk ke dalam masjid dengan pakaian yang compang-camping, robek dan penuh dengan tambahan kulit unta. Peristiwa itu terjadi tepat di hadapan Rasulullah. Hati Rasulullah pilu tersayat menyaksikan hal itu.

Rasulullah lantas bersabda kepada para sahabatnya, “Apa pendapat kalian bila memiliki satu pasang pakaian untuk pagi dan sore diganti dengan pasang pakaian lainnya. Kemudian disiapkan di depan kalian seperangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya.”

Maka seorang sahabat menjawabnya dengan senang hati. “Kami ingin hal itu terjadi hingga kita dapat hidup makmur dan bahagia.”

Rasulullah pun kembali bersabda, “Sebenarnyalah itu telah terjadi. Keadaan kalian saat ini, sudah lebih baik dari keadaan kalian sebelumnya.

Sabda Rasul itu juga didengar Utsman, dan semakin membuatnya tekun menjalani hidup bersahaja dan menghindari kesenangan hidup duniawi. Bahkan, ia juga hendak menghindari menggauli istrinya. Tapi, Rasulullah mendengarnya, dan bersabda, “Inna liahlika ‘alayka khaqqan.” (Sesungguhnya keluargamu itu memiliki hak atas dirimu).

Ketika ia hampir menemui ajalnya, kecintaan dan rasa sayang Rasulullah terlihat jelas kepadanya. Rasulullah membungkuk mencium keningnya. Air mata Rasulullah runtuh dan membasahi kedua pipi Utsman. Utsman wafat dengan tenang dan tercatat sebagai orang Muhajirin pertama yang meninggal di Medinah.

Bahkan, saat putri Rasulullah, Ruqayyah, yang juga istri Utsman bin Affan, menjelang wafat, Rasulullah bersabda, “Pergilah, dan susullah pendahulu pilihan kita, Utsman bin Mazh’un.”

Abdullah bin Ummi Maktum

Si Buta yang Membuka Mata Hati Rasulullah

Karena dia, Rasulullah menerima 16 ayat yang senantiasa dibaca sampai hari kiamat.

Pada masa awal Islam, Rasulullah sering berdialog dengan para pentolan Quraisy agar mereka menghentikan penganiayaan terhadap kaum muslimin. Suatu hari ketika beliau tengah berbincang-bincang dengan ‘Utbah bin Rabi’ah dan adiknya, Syaibah bin Rabi’ah, Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, Ummayah bin Khalaf, dan Walid bin Muqhirah, masuklah seorang laki-laki yang berjalan dengan bantuan tongkat. Ya, laki-laki itu buta.

“Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepadamu,” kata Abdullah bin Ummi Maktum, laki-laki tunanetra itu.

Tapi apa reaksi Rasulullah SAW? Beliau tidak mempedulikan permintaan itu, dan meneruskan diskusinya dengan kelima pemuka Quraisy tersebut, karena beliau sangat berharap mereka bersedia masuk Islam sehingga mampu memperkuat barisan kaum muslimin.

Usai diskusi, Rasulullah bermaksud pulang. Namun kepalanya tiba-tiba terasa berat dan penglihatannya menjadi gelap. Saat itulah Allah memperingatkan utusan-Nya itu dengan firman-Nya seperti termaktub dalam surah ‘Abasa, ayat 1-16. “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun (terhadap) orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy itu), kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun (terhadap) orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut (kepada Allah), kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian). Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan; maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (utusan), yang mulia lagi berbakti.”

Sejak saat itu Rasulullah SAW selalu memperlakukan Abdullah dengan baik, menanyakan keadaannya, dan memenuhi kebutuhannya. Memang teguran dari langit itu sangat keras. Tidak pantas beliau memperlakukan orang buta seperti itu. Apalagi dia minta diajari ayat-ayat suci milik Allah.

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Malaikat Jibril ke dalam hati Rasulullah sehubungan dengna sikap beliau kepada Abdullah bin Ummi Maktum, yang senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan akan terus dibaca sampai hari kiamat.

Setelah Perang Badar usai, Allah melalui firman-firman-Nya mengangkat derajat kaum muslimin yang ikut berperang membela agama-Nya. Kelebihan-kelebihan yang didapat jika seseorang berjuang di jalan Allah lalu mati syahid. Ayat-ayat tersebut sangat mengesankan hati Abdullah bin Ummi Maktum. Tapi baginya bukan perkara mudah untuk bisa meraih kemuliaan itu, karena kondisi matanya yang buta. “Seandainya tidak buta, aku pasti ikut berperang fi sabilillah,” katanya kepada Rasulullah kemudian.

Kepada Allah dia berdoa agar diturunkan ayat-ayat bagi orang-orang cacat atau uzur seperti dia, yang ingin berjuang di jalan Allah. “Ya Allah, turunkanlah ayat mengenai orang-orang yang cacat dan uzur seperti aku,” doanya.

Tidak lama berselang, Allah menjawab doa Abdullah lewat Rasulullah SAW, seperti termaktub dalam surah An-Nisa ayat 95, yang maknanya, “Tidak sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk, satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga), dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang duduk dengan pahala yang besar.”

Meski sudah ada pengecualian seperti itu, Abdullah tetap bertekad ingin ikut perang fi sabilillah. “Tarulah saya di antara dua barisan sebagai pembawa bendera,” pintanya. “Saya akan memegang erat-erat bendera itu dan tidak akan lari, karena saya buta.”

Keinginan dan harapan itu lama sekali baru terkabul, yaitu saat kekhalifahan Umar bin Khaththab. Ketika pecah Perang Qadisiyah, Abdullah bin Ummi Maktum tampil dengan baju zirah dan membawa bendera kaum muslimin maju ke medan pertempuran. Ia berjanji akan selalu mengibarkannya atau mati di samping bendera itu. Dalam peperangan yang dikomandani sahabat Saad bin Abi Waqqash itu, tujuan kaum muslimin adalah untuk memerangi negeri Persia yang zhalim.

Perang itu hanya berjalan tiga hari, kemenangan diraih pasukan kaum muslimin dan merupakan kemenangan terbesar. Namun Abdullah bin Ummi Maktum wafat sebagai syuhada, seperti yang dicita-citakannya. Abdullah gugur sambil memeluk bendera kaum muslimin.

Sebagaimana Rasulullah SAW, Abdullah bin Ummi Maktum juga penduduk Makkah dari suku Quraisy. Bahkan dia masih mempunyai pertalian kekerabatan dengan junjungan kita itu, karena dia saudara sepupu Siti Khadijah RA, istri Rasulullah.

Abdullah lahir dari pasangan Qais bin Zaid dan Atikah binti Abdullah. Ibunya bergelar Ummi Maktum, karena anaknya, Abdullah, lahir dalam keadaan buta total.

Meski buta, Allah melapangkan dadanya dengan menerima agama baru itu. Maka siksaan dari kaum Quraisy pun ikut melanda tubuhnya. Agaknya orang-orang Quraisy tidak pilih bulu dalam usahanya memerangi kaum muslimin. Tapi semua itu tidak menyurutkan langkah Abdullah dalam memeluk agama yang agung dan lurus itu. Dia rajin mendatangi majelis Rasulullah, menyimak dan menghafal Al-Quran. Setiap kesempatan luang selalu diisi sendiri dengan membasahi lidahnya dengan ayat-ayat suci.

Ketika Rasulullah memutuskan berhijrah ke Madinah karena tingginya tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin. Abdullah bin Ummi Maktum tak mau ketinggalan. Ia tiba di Madinah bersama sahabat-sahabat yang lain dalam rombongan yang pertama. Setelah Rasulullah tiba di sana, beliau mengangkat Abdullah bin Ummi Maktum dan Bilal bin Rabah menjadi muadzin. Apabila Bilal mengumandangkan adzan, Abdullah yang melakukan iqamah. Begitu pula sebaliknya, bila Abdullah yang adzan, Bilal yang iqamah.

Abdullah dikaruniai umur yang panjang sampai pada masa khalifah kedua, Umar bin Khathtab. Selama itu pula, dalam kebutaannya, dia tetap tercatat sebagai sahabat yang teguh menjalankan ajaran Islam yang diwariskan sepupunya, Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW, nabi terakhir.

Umar bin Khattab RA

Umar bin Khattab ra

“Membatalkan hukuman dengan diam-diam, bagiku lebih baik daripada melaksanakan hukuman dengan diam-diam.” (Umar bin Khathtab)

Masih segar dalam ingatan kaum muslim tatkala Rasulullah bersabda, “Aku bermimpi dalam tidur sedang memegang segelas susu. Kuminum hampir habis susu itu sampai rasa kenyang menyelusup di kuku-kukuku. Lalu sisanya kuberikan kepada Umar bin Khaththab.”

Waktu itu seorang sahabat bertanya, “Apa takwilnya, ya Rasulullah?”

Nabi menjawab, “Ilmu”

Nyatanya, semasa memegang jabatan khalifah, Umar bin Khaththab tersohor kekerasan dan “kegalakannya”. Akan tetapi, ilmunya menerangi semua sikap hidupnya, sehingga, dalam memutuskan suatu perkara, yang dipedomaninya adalah kecerdasan pemikirannya, bukan sentuhan perasaannya. Selaku penguasa, ia tidak terpengaruh oleh kemarahannya, kesedihannya, atau kepentingan pribadi dan keluarganya.

Ia pernah berkata, “Membatalkan hukuman dengan diam-diam, bagiku lebih baik daripada melaksanakan hukuman dengan diam-diam.” Sebab, membatalkan hukuman biasanya dilandasi oleh kebijaksanaan dan ampunan, sedangkan menjatuhkan hukuman bisa lantaran benci dan balas dendam. Apalagi jika dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Seorang ayah pada suatu saat datang kepada Khalifah Umar dan mengadu, “Anak perempuanku, wahai Amirul Mukminin, pernah terjerumus ke dalam dosa besar. Ia patah hati, lantas mengambil pisau dan mengerat lehernya sendiri. Untung aku memergokinya. Anak itu kuselamatkan, lukanya kurawat dengan baik hingga ia segar bugar kembali.”

“Hemm, mujur betul anakmu itu. Bunuh diri adalah tanda kekufuran. Ia harus bertobat,” ujar Umar.

Ayah itu menjawab, “Memang itulah yang dikerjakannya sesudah itu. Ia menyesal, dan bertobat dengan sungguh-sungguh. Sekarang ia dipinang seorang pemuda untuk menjadi istrinya. Apakah dosa itu harus kuceritakan kepada calon suaminya, wahai Amirul Mukminin?”

Umar bertitah lantang, “Apakah engkau bermaksud membongkar aib yang sengaja telah ditutupi oleh Allah? Demi Allah, seandainya kau lakukan hal itu, akan kuhukum engkau sedemikian rupa di depan masyarakat sehingga menjadi contoh pahit bagi yang lain.

Tidak, jangan kau ungkap kembali cacat yang sudah terhapus itu. Nikahkanlah putrimu sebagaimana layaknya seorang perempuan terhormat dan muslimat yang taat.”

Mungkin itulah yang dinamakan kearifan, dan tumbuh dari ruhani yang bersih dan adil. Umar tidak segan-segan menceritakan kesalahannya kepada hakim, dan meminta algojo mencambuknya sesuai dengan besar-kecilnya kesalahan yang dilakukannya. Di punggungnya membekas bilur-bilur cemeti algojo itu, tanpa sekelumit pun ia menampilkan kekuasaannya sebagai khalifah untuk diberi keringanan. Namun, Umar tidak ingin cacat orang lain dibeber-beberkan. Sebab, terhadap orang bersalah, yang diharapkan adalah memperbaiki, bukan memerosokkannya ke dalam kesalahan yang lebih besar.

Kepada bromocorah yang telah selesai menjalani hukumannya, misalnya, seharusnya masyarakat memberinya kesempatan untuk menebus dosa di masa lalu, bukan mengucilkannya sehingga ia terperangkap kembali ke dalam kesalahan.

Seorang laki-laki terengah-engah datang menghadap Umar. Mukanya merah padam dan suaranya menggeletar manakala ia bercerita, “Wahai Amirul Mukminin, saya melihat dengan mata kepala sendiri, pemuda Fulan dan pemudi Fulan berpelukan dengan mesra di belakang pohon kurma.”

Laki-laki itu berharap, Umar akan memanggil kedua anak muda yang asyik masyuk itu dan memerintahkan algojo supaya menderanya dengan cemeti.

Ternyata tidak. Khalifah Umar mencengkeram leher baju laki-laki itu. Sambil memukulnya dengan gagang pedang. Umar menghardik, “Kenapa engkau tidak menutupi kejelekan mereka dan berusaha agar mereka bertobat? Tidakkah kau ingat akan sabda Rasulullah, ‘Siapa yang menutupi aib saudaranya, Allah akan menutupi keburukannya di dunia dan akhirat?”

Dalam nalar Umar, bila kedua muda-mudi itu dipermalukan di tengah orang ramai, boleh jadi mereka akan nekat, lantaran tidak tahu ke mana hendak menyembunyikan diri. Bukankah bubu, perangkap, maksiat yang lebih parah akan mengurung mereka dalam nista berketerusan?

Pada kali yang lain, seorang muslim diseret ke hadapannya karena telah mengerjakan suatu dosa yang patut menerima hukuman cambuk. Tiga orang saksi mata telah mengemukakan pernyataan tentang kesalahan lelaki muslim itu. Tinggal seorang lagi, yang merupakan penentuan, apakah hukuman dera harus dijatuhkan ataukah diurungkan.

Ketika saksi keempat itu diajukan. Umar berkata, “Aku menunggu seorang hamba beriman yang semoga Allah tidak akan mengungkapkan kejelekan sesama muslim dengan kesaksiannya.”

Dengan lega saksi keempat itu menyatakan, “Saya tidak melihat suatu kesalahan yang menyebabkan lelaki itu wajib dihukum cambuk.”

Khalifah Umar pun ikut bernapas lega.

Nabi bersabda, “Allah senantiasa menerima tobat orang yang bertobat.”

(HR Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah

Perawi hadist yang tidak bisa menulis.

Dengan daya ingatnya yang tajam, dia berhasil mendapatkan, mengoleksi, dan menyebarluaskan hadis, riwayat, dan perilaku Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat. Kedekatannya dengan Rasulullah membuat ia dianggap bayangan Nabi sendiri.

Hentikan pembicaraanmu tentang riwayat Rasulullah, kalau tidak kamu aku pulangkan ke kampungmu.” Kata Khalifah Umar bin Khattab suatu kali kepada Abu Hurairah. Ucapan itu mengandung kegusaran sang khalifah karena ia merasa terganggu dengan kegiatan Abu Hurairah yang sering mengungkapkan hadis dan riwayat Nabi kepada kaum muslimin pada tiap kesempatan. Masalahnya ketika itu Umar sedang mensosialisasikan Al-Quran yang sudah dihimpun dalam suatu kitab (mushaf) kepada kaum muslimin. Beliau tidak ingin kaum muslimin terganggu pikirannya dengan adanya bacaan lain selain Al-Quran.

Hal ini bisa dimaklumi karena ketika Umar memegang jabatan khalifah, perkembangan Islam baru dalam tahap awal, namun ancaman dari kaum Quraisy tetap tinggi. Mereka tidak segan-segan melakukan pembunuhan kepada orang-orang Islam yang dijumpai di mana saja. Tugas khalifah bukan hanya melindungi kaumnya tetapi juga mengisi jiwa mereka dengan kalam Ilahi, dalam hal ini Al-Quran. Apalagi tingkat kecerdasan mereka masih rendah. Untuk tidak mengaburkan pendalaman mereka terhadap wahyu-wahyu Ilahi, Umar menghendaki agar sosialisai Al-Quran itu tidak dicampuri dengan bacaan-bacaan lain.

Abu Hurairah sendiri merasa bahwa keberatan khalifah itu ada benarnya. Namun ia juga merasa memiliki kewajiban untuk menyampaikan hal-hal yang diketahuinya yang berasal dari Nabi SAW. Ia tidak ingin menyembunyikan hadis-hadis yang diyakininya benar karena ia mendapatkannya langsung dari Nabi. Ia merasa berdosa bila hadis-hadis itu tidak diungkapkan kepada kaum muslimin.

Apalagi, kala itu, ada usaha dari Ka’ab Al-Akhbar yang selalu melebih-lebihkan hadis Rasulullah sehingga membingungkan kaum muslimin yang mendengarnya. Ka’ab adalah orang Yahudi yang masuk Islam, namun karena ulahnya itu mendorong orang lain untuk memalsukan hadis demi kepentingan pribadi yang jelas tidak sejalan dengan ajaran agama Islam. Mereka ini tidak segan-segan memanfaatkan nama Abu Hurairah, seolah-olah hadis yang mereka palsukan itu berasal dari Abu Hurairah.

Timbulnya hadis palsu ini sebenarnya juga tidak luput dari perhatian Kalifah Umar. Beliau bahkan telah mengemukakan gagasan bahkan telah mengemukakan gagasan untuk menuliskan hadis-hadis Nabi dalam suatu kitab. Namun karena pertimbangan tidak ingin membuat kerancuan tentang Al-Quran pada jemaahnya, ide itu tidak direalisasikan. Akibatnya pemalsuan hadis menjadi-jadi. Satu abad kemudian dua orang perawi hadis yaitu Imam Bukhari menemukan 600.000 hadis dan Abu Dawud menemukan 500.000 hadis. Setelah diseleksi hanya ada 40.000, dan 4.800 hadis yang sahih.

Abu Hurairah adalah nama panggilan yang diberikan teman-teman dekatnya karena kecintaannya kepada kucing. Begitu sayangnya kepada binatang yang satu ini sampai-sampai ia menyuapi, memandikan, dan menyediakan kandang. Abu Hurairah artinya Bapak Kucing Kecil. Nama aslinya adalah ‘Abdus Syams (Hamba Matahari). Namun, setelah masuk Islam Nabi SAW memberi nama Abdurrahman (Hamba Allah, yang Maha Pemurah).

Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga miskin sebagai anak yatim. Sejak bertemu dengan Nabi pada tahun ketujuh kenabian, ia langsung masuk Islam dan boleh dibilang tidak pernah berpisah dengan beliau. Namun ibunya menolak masuk Islam. Bukan itu saja, ibunya juga selalu menyudutkan Nabi sehingga menyakitkan hati Abu Hurairah. Abu Hurairah mohon bantuan doa dari Nabi agar ibunya masuk Islam dan terkabul.

Mengenai kedekatannya dengan Nabi. Abu Hurairah menyatakan bahwa sebagai orang miskin ia tidak disibukkan dengan urusan tanah pertanian seperti halnya orang-orang Anshar atau urusan dagang di pasar seperti halnya orang-orang Muhajirin. “Jadi ketika mereka tidak bisa hadir (di samping Nabi) aku bisa, sehingga aku banyak menerima masukan dari beliau,” katanya.

Selain dekat dengan Nabi, Abu Hurairah memiliki daya ingat yang kuat yang diberkati Nabi sehingga tambah kuat. Itu sebabnya ia mampu menghafal di luar kepala semua hadis Nabi dan juga melaksanakannya sebagai pegangan hidup. Maka ia pun meriwayatkan hadis-hadis itu kepada kaum muslimin sebagai rasa tanggung jawab kepada Nabi dan agamanya secara terus-menerus sehingga Umar merasa “risi” ketika ia harus mensosialisasikan Al-Quran.” “Sibukkanlah dirimu dengan Al-Quran dan kurangilah meriwayatkan tentang Rasul kecuali amal perbuatannya,” kata Umar. Padahal menurut Abu Hurairah hadis juga mengandung kebenaran yang harus diungkapkan kepada umat.

Oleh Khalifah Umar ia diangkat sebagai gubernur di

Bahrain. Menjelang akhir masa jabatan Umar memanggil pulang Abu Hurairah ke Medinah. Beliau menanyakan asal-muasal uang sepuluh ribu dinar yang ada dalam simpanan sang gubernur. “Uang itu berasal dari hasil penjualan anak-anak kuda milikku,” jawab Abu Hurairah.

“Serahkan uang tiu ke baitul maal”, perintah Umar. Umar memang terkenal sebagai khalifah yang sangat hati-hati memilih pembantu-pembantunya. Ia selalu mengingatkan para pembantunya agar tidak memperkaya diri dan hanya memiliki pakaian sebanyak dua setel, baik ketika diangkat maupun ketika mengakhiri jabatannya.

Abu Hurairah mematuhi perintah itu namun ia menolak ketika akan diangkat lagi sebagai gubernur d Bahrain. “Saya takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa kesabaran,” kilahnya.

Abu Hurairah menyadari bahwa aktivitasnya sebagai perawi hanya bisa disejajarkan dengan Abdulah bin Amr bin Al-‘Ash. Masalahnya, “Abdullah bisa menulis sedangkan aku tidak bisa,” katanya. Namun sekitan tahun kemudian peranan Abu Hurairah itu disakui oleh Imam Syafii dan Imam Bukhari. Kedua perawi ini sependapat bahwa Abu Hurairah adalah rujukan para sahabat dalam soal hadis Nabi. “Tidak ada orang yang mampu meriwayatkan hadis Nabi sebaik Abu Hurairah,” kata Imam Bukhari.

Pada tahun 59 H ia wafat pada usia 78 tahun, dikubur di pemakaman Baqi, yang tak begitu jauh dari makam Rasulullah di ujung kiri Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah.

Hanzhalah bin Abu Amir

Ketika akan berangkat perang membela agama Islam, dia belum sempat mandi jinabat. Maka, ketika gugur sebagai syuhada, dia dimandikan oleh para malaikat.

Hanzhalah bin Abu Amir adalah anak pemimpin suku Aus yang terbilang kaya di Yastrib (Madinah) pada masa menjelang hijrahnya Nabi Muhammad ke sana. Ayahnya, Abu Amir bin Shaify, orang yang sangat benci kepada Islam. Pada zaman jahiliyah, dia mendapat julukan Abu Amir Sang Pendeta, tetapi julukan itu berbalik menjadi Abu Amir lelaki Fasik ketika Yastrib sudah dikuasai oleh kaum muslim.

Pernah dengan angkuh Abu Amir berkata, “Jika aku menyeru kaumku yang sudah masuk Islam, mereka pasti akan mengikutiku dan bergabung dengan kaum Quraisy.”

Tapi baru saja mulutnya menyebutkan nama dirinya, “Wahai bani Aus, aku Abu Amir..”, orang-orang Aus yang muslim menimpali, “Wahai lelaki fasik, Allah tidak akan memberkatimu!” Mereka mengucapkan kalimat itu sambil melancarkan serangan yang menyebabkan Abu Amir melarikan diri. Nah, di antara penyerang itu, adalah anaknya sendiri, Hanzhalah.

Hanzhalah, yang telah masuk Islam, akhirnya menikah dengan Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat bapaknya. Mertuanya itu dikenal sebagai tokoh munafik, menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan. Dia berpura-pura membela Nabi Muhammad dalam Perang Uhud; namun ketika rombongan pasukan muslim bergerak ke medan laga, ia menarik diri bersama orang-orangnya, kembali ke Madinah.

Pagi harinya, ketika mendengar seruan untuk berjihad, Hanzhalah mengambil pedang dan baju perangnya, langsung bergabung dengan induk pasukan muslim dan pergi berperang. Dalam peperangan itu, dia berhasil mendekati Abu Sufyan ketika teman-temannya justru melarikan diri ketakutan. Abu Sufyan, dalam duel satu lawan satu, terjatuh dari kudanya. Wajahnya pucat, ketakutan.

Pedang Hanzhalah yang berkilauan siap merobek lehernya. Dalam hitungan detik, nyawanya akan melayang. Tapi, dalam suasana genting itu, Abu Sufyan berteriak minta tolong, “Hai orang-orang Quraisy, tolong aku.”

Lantas orang-orang Quraisy di sekitarnya tanpa ampun mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah, dari kiri, kanan, dan belakang, sehingga Hanzhalah tersungkur. Dalam kondisi yang sudah parah, darah mengalir begitu deras dari tubuhnya, ia masih dihujani dengan lemparan tombak dari berbagai penjuru. Dan akhirnya…anak muda ini gugur sebagai syuhada.

Abu Sufyan, si pengecut itu, pun selamat dari tajamnya pedang Hanzhalah.

Seusai peperangan, Abu Amir dan Abu Sufyan mengitari

medan laga dan mencari data sahabat-sahabat Nabi yang gugur. Biasanya mereka akan melampiaskan dendamnya dengan mencincang mayat-mayat musuhnya. Mereka menemukan jasad Kharijah bin Abu Suhair dari suku Khazraj, pemimpin Bani Kahzraj; Abbas bin Ubadah bin Fadhlah; Dzakwan bin Abu Qais, bangsawan Yastrib; dan tentu saja Hanzhalah.

“Anakku, kenapa kamu tidak mau mengikuti perintahku untuk tidak ikut berperang?” keluh Abu Amir dengan nada kesedihan. “Andaikan menaati perintahku, kamu akan hidup terhormat bersama kaum Aus.”

Kepada orang-orang Quraisy dia menyeru agar tidak mencincang jasad anaknya. Tapi dia sendiri mencincang bangkai orang lain.

Nabi Muhammad, yang diberi tahu hal itu, kemudian mendoakan, melihat ke langit, dan berkata kepada para sahabat, “Aku melihat, malaikat-malaikat sedang memandikan Hanzhalah bin Abu Amir di antara langit dan bumi dengan menggunakan air Muzn (mendung) yang diambil dari bejana perak.”

Kemudian beliau mengutus salah seorang sahabat untuk mengabarkan hal itu kepada istri Hanzhalah dan menanyakan apa yang dikerjakan suaminya sebelum pergi ke medan perang.

“Ketika mendengar panggilan perang, Hanzhalah dalam keadaan junub dan belum sempat mandi…,” kata Jamilah.

Beruntunglah Hanzhalah, syuhada yang telah dimandikan oleh para malaikat. Dia memperoleh kedudukan yang tinggi di haribaan Allah SWT. Itulah sebaik-baik tempat yang tidak semua orang mampu meraihnya.

Nabi Bersabda, “Allah SWT berfirman: Tiada balasan bagi hamba-Ku yang berserah diri saat Aku mengambil sesuatu yang dikasihinya di dunia, melainkan surga.” (HR Bukhari)

Ashim bin Tsabit

Jasad pahlawan Perang Uhud ini hampir termakan sumpah Sulafah. Namun, Allah SWT melindunginya dari kebiadaban niat perempuan Quraisy itu.

Siang itu, kaum Quraisy, baik sayyid (bangsawan) maupun ‘abid (hamba sahaya), semuanya keluar untuk memerangi Muhammad bin Abdullah di Uhud. Kedengkian dan nafsu hendak membunuhnya di Badar masih membakar darah mereka. Tidak hanya laki-laki, bahkan perempuan bangsawan Quraisy pun turut pula ke Uhud untuk menggelorakan semangat perang para pahlawan mereka dan menggelorakan semangat para lelaki bila ternyata kendur atau melempem.

Di antara para perempuan itu terdapat Hindun binti ‘Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb; Raithah binti Munabbih, istri ‘Amr bin Ash; Sulafah binti Sa’ad, istri Thalhah, serta ketiga anak lelakinya, Musafi, Julas, dan Kilab; dan lain-lain.

Ketika pasukan muslim dan musyrikin telah berhadap-hadapan di Uhud, dan api peperangan mulai menyala, Hindun binti ‘Utbah dan beberapa perempuan lain berdiri di belakang pasukan laki-laki. Mereka memegang rebana, memukulnya sambil menyanyikan lagu-lagu perang. Lagu-lagu itu membakar semangat prajurit berkuda, dan membuat para suami seperti kena sihir.

Setelah pertempuran itu usai, dan ternyata kaum muslimin menderita kekalahan, para perempuan Quraisy pun berlompatan, berlari-lari ke tengah lapangan pertempuran, mabuk kemenangan. Mereka merusak mayat-mayat kaum muslimin yang tewas dalam pertempuran, dengan cara yang sangat keji. Perut mayat-mayat itu mereka belah, matanya dicongkel, telinga dan hidung mereka dipotong.

Bahkan ada seorang di antara mereka tidak puas dengan cara seperti itu. Hidung dan telinga mayat-mayat itu dibuatnya menjadi kalung, lalu dipakai, untuk membalaskan dendam bapak, saudara, atau paman mereka yang terbunuh dalam Perang Badar.

Sulafah binti Sa’ad lain pula gayanya. Hatinya guncang dan gelisah menunggu kemunculan suami dan ketiga anaknya. Dia berdiri bersama kawan-kawannya yang sedang dimabuk kemenangan. Setelah lama menunggu dengan sia-sia, akhirnya dia masuk ke lapangan pertempuran, sampai jauh ke dalam. Diperiksanya satu per satu wajah mayat-mayat yang bergelimpangan.

Tiba-tiba dia menemukan mayat suaminya terbaring berlumuran darah. Dengan pandangan hampa, dilayangkannya pandangan ke segala arah, mencari anak-anaknya. Tak berapa lama, didapatinya Musafi dan Kilab pun telah tewas. Sedangkan Julas masih hidup, dengan sisa-sisa napasnya.

Dipeluknya tubuh anaknya yang dalam keadaan sekarat itu. Kemudian kepala anaknya itu dia taruh dipahanya, dibersihkannya darah pada kening dan mulut anak itu. Air matanya terkuras oleh penderitaan yang hebat yang dialaminya hari itu. “Siapa lawan yang telah melukaimu, Nak?” Sulafah bertanya sambil mengguncang kepala anaknya. “Siapa?”

Di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal, Julas masih mampu menyebut nama, “Ashim bin Tsabit. Dia pula yang membunuh Ayah dan…”Belum habis dia bicara, napasnya telah putus, nyawanya telah dicabut malaikat maut.

Ibu tiga anak itu menangis sekeras-kerasnya. Kemudian, dari mulutnya terlontar sumpah, demi Lata dan Uzza, tidak akan makan dan menghapus air mata, kecuali bila orang Quraisy membalaskan dendamnya terhadap ‘Ashim bin Tsabit, dan memberikan batok kepalanya untuk dijadikan mangkuk tempat minum khamar. Dia berjanji akan memberikan hadiah sebanyak yang diminta, kepada orang yang dapat menyerahkan ‘Ashim kepadanya, hidup atau mati.

Sumpah Sulafah itu segera tersiar dengan cepat di seluruh telinga warga Quraisy dan mereka menganggapnya sebagai perlombaan. Setiap pemuda Makkah berharap dapat memenangkan lomba tersebut untuk meraih hadiah besar itu. Maklum, Sulafah adalah wanita kaya.

Seusai Perang Uhud, kaum muslimin kembali ke Madinah. Mereka membicarakan pertempuran yang baru saja mereka alami dengan perasaan sedih atas kepergian pahlawan-pahlawan yang mati syahid, memuji keberanian orang-orang yang luka, dan sebagainya. Mereka pun tak lupa menyebut keberanian ‘Ashim bin Tsabit dan mengaguminya sebagai pahlawan yang tak terkalahkan. Mereka kagum, bagaimana ‘Ashim mampu merobohkan tiga bersaudara putra Thalhah sekaligus.

Seorang di antaranya berkata, “Itu masalah yang tak perlu diherankan. Bukankah Rasulullah pernah mengingatkan kepada para sahabat beberapa saat sebelum berkobar Perang Badar agar mereka berperang seperti ‘Ashim!” Ya, saat itu ‘Ashim mengutarakan kiatnya berperang kepada Baginda Nabi, yaitu, “Jika musuh berada di hadapanku seratus hasta, aku panah dia. Jika musuh mendekat dalam jarak tikaman lembing, aku bertarung dengan lembing sampai patah. Jika lembingku patah, kuhunus pedang, lalu aku main pedang.”

Saat itu Nabi menimpali, “Begitulah berperang. Siapa yang hendak berperang, berperanglah seperti ‘Ashim.”

Tak berapa lama setelah Perang Uhud, Rasulullah di Madinah memilih enam orang sahabat untuk melaksanakan suatu tugas penting di Makkah, dan mengangkat ‘Ashim sebagai pemimpinnya. Keenam orang pilihan ini kemudian berangkat melaksanakan tugas yang dibebankan Rasulullah kepada mereka. Setelah berjalan beberapa hari, dan mereka sudah mendekati Makkah, kaum Hudzail memergoki dan segera mengepung dengan ketat.

“Kalian tidak akan mampu melawan kami,” kata mereka. “Kami tidak akan membunuh jika kalian mau menyerah.” Dalam situai yang terdesak seperti itu, keenam sahabat Rasul itu saling berpandangan, seolah bermusyawarah, sikap apa yang harus diambil segera.

“Aku tidak dapat mempercayai janji orang-orang musyrik itu,” kata ‘Ashim. Kemudian diingatkannya sumpah Sulafah. Ya, rupanya sumpah tersebut sampai juga ke telinga ‘Ashim. Lalu dia menghunus pedangnya sambil berdoa, “Ya Allah, aku memelihara agama-Mu dan bertempur karenanya. Maka lindungilah daging dan tulangku, jangan biarkan seorang jua pun musuh-musuh-Mu menjamahnya.”

Kemudian ia maju menyerang pengepungannya, diikuti dua orang kawannya. Mereka bertiga bertempur mati-matian hingga akhirnya roboh dan tewas satu per satu. Sedangkan yang tiga lainnya menyerah sebagai tawanan. Namun, orang-orang Hudzail itu pun tak membiarkan mereka hidup.

Ketika mengetahui bahwa salah seorang korbannya adalah ‘Ashim bin Tsabit, orang-orang Hudzail itu sangat bergembira, membayangkan hadiah besar yang akan mereka terima dari Sulafah. Karena terlalu girangnya, mereka bertindak tidak hati-hati. Setelah menyamarkan tempat pertempuran itu, mereka segera melapor kepada Sulafah dan menagih janjinya. Namun, Sulafah juga tidak segera mempercayai laporan itu.

“Mana buktinya?” Sulafah bertanya.

Tentu saja mereka tidak dapat membuktikan, karena jasad ‘Ashim masih mereka sembunyikan di tempat kejadian. Mereka lalu berjanji akan membawanya keesokan harinya.

Di luar dugaan, hal itu segera tersiar kepada orang-orang Quraisy. Mereka tidak tinggal diam, dan saling berlomba untuk menyogok kaum Hudzail dengan hadiah-hadiah yang menarik. Mereka juga berebut batok kepala ‘Ashim.

Untuk menyerahkan batok kepala ‘Ashim kepada Sulafah, orang-orang Hudzail ini kembali ke tempat kejadian dan ingin mengambil mayat ‘Ashim. Namun, begitu sampai di

sana, mereka menghadapi peristiwa aneh. Sekelompok binatang serangga tiba-tiba datang menyerang, menggigit muka, mata, kening, dan sekujur badan mereka, seolah mengusir mereka agar tidak dapat mendekati jenazah ‘Ashim. Usaha itu dilakukan berkali-kali tapi selalu gagal.

“Sialan betul seranga jahanam itu,” kata pemimpin orang-orang Hudzail itu sengit. “Kita tunggu sampai malam, siapa tahu serangga itu akan pergi bersama datangnya gelap.”

Dengan bersunggut-sunggut karena letih dan lapar, dan sumpah serapah yang tidak kunjung henti, mereka duduk menanti hingga malam menjelang. Tapi, setelah senja datang dan alam berselimut malam, awan tebal hitam menutupi langit. Kilat dan petir sambung-menyambung, diikuti guyuran air hujan yang laksana ditumpahkan dari langit. Belum pernah terjadi hujan selebat itu sepanjang mereka tahu.

Hati orang-orang Hudzail menjadi kian kecut. Air hujan itu dengan cepat menggelontor dari tempat ketinggian, menutup sungai dan permukaan lembah. Banjir pun tak terelakkan. Melanda segala yang ada, termasuk tempat disembunyikannya mayat ‘Ashim.

Setelah subuh tiba, mereka bangkit dan mencari tubuh ‘Ashim di semua tempat. Namun, usaha mereka sia-sia, bahkan mereka tidak menemukan bekas-bekasnya. Banjir telah menghanyutkan jasad ‘Ashim dan teman-temannya jauh sekali. Hilang, tak diketahui ada di mana.

Ya, Allah Ta’ala mendengar doa ‘Ashim bin Tsabit. Dia melindungi mayat ‘Ashim yang suci, sesuai dengan permintaannya, “Jangan sampai dijamah oleh tangan-tangan kotor orang-orang musyrik.” Dan Dia memelihara batok kepala ‘Ashim yang mulia, agar tidak dijadikan tempat minum khamar oleh Sulafah. Sungguh Allah Maha Menepati Janji.

Nabi SAW bersabda, “Allah melarang kamu bersumpah atas nama bapakmu. Siapa yang hendak bersumpah, hendaklah bersumpah dengan nama Allah.” (HR. Bukhari)