Arsip

Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Membaca Al-qu’an Hadits-Hadist Tentang Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Bulan Ramadhan merupakan bulan Al-Qur`an. Pada bulan inilah Al-Qur`an diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana dalam firman-Nya :
) ﺷَﻬْﺮُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁَﻥُ ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺑَﻴِّﻨَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻭَﺍﻟْﻔُﺮْﻗَﺎﻥِ ‏( ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : ١٨٥
“bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).” [Al-Baqarah : 185]
Di antara amal ibadah yang sangat ditekankan untuk diperbanyak pada bulan Ramadhan adalah membaca (tilawah) Al-Qur`anul Karim. Banyak sekali hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Al-Qur`an. Di antaranya :
1. Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
« ﺍﻗْﺮَﺀُﻭﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳَﺄْﺗِﻰ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺷَﻔِﻴﻌًﺎ ﻷَﺻْﺤَﺎﺑِﻪ »
“Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 804]
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membaca Al-Qur`an dengan bentuk perintah yang bersifat mutlak. Sehingga membaca Al-Qur`an diperintahkan pada setiap waktu dan setiap kesempatan. Lebih ditekankan lagi pada bulan Ramadhan. Nanti pada hari Kiamat, Allah subhanahu wata’ala akan menjadikan pahala membaca Al-Qur`an sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, datang memberikan syafa’at dengan seizin Allah kepada orang yang rajin membacanya.
Faidah (Pelajaran) yang diambil dari hadits :
1. Dorongan dan motivasi untuk memperbanyak membaca Al-Qur`an. Jangan sampai terlupakan darinya karena aktivitas-aktivitas lainnya.
2. Allah jadikan Al-Qur`an memberikan syafa’at kepada orang-orang yang senantiasa rajin membacanya dan mengamalkannya ketika di dunia.
2. Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda :
« … ﺍﻗْﺮَﺀُﻭﺍ ﺍﻟﺰَّﻫْﺮَﺍﻭَﻳْﻦِ : ﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓَ ﻭَﺳُﻮﺭَﺓَ ﺁﻝِ ﻋِﻤْﺮَﺍﻥَ؛ ﻓَﺈِﻧَّﻬُﻤَﺎ ﺗَﺄْﺗِﻴَﺎﻥِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻛَﺄَﻧَّﻬُﻤَﺎ ﻏَﻤَﺎﻣَﺘَﺎﻥِ ﺃَﻭْ ﻛَﺄَﻧَّﻬُﻤَﺎ ﻏَﻴَﺎﻳَﺘَﺎﻥِ ﺃَﻭْ ﻛَﺄَﻧَّﻬُﻤَﺎ ﻓِﺮْﻗَﺎﻥِ ﻣِﻦْ ﻃَﻴْﺮٍ ﺻَﻮَﺍﻑَّ ﺗُﺤَﺎﺟَّﺎﻥِ ﻋَﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻬِﻤَﺎ، ﺍﻗْﺮَﺀُﻭﺍ ﺳُﻮﺭَﺓَ ﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓِ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺧْﺬَﻫَﺎ ﺑَﺮَﻛَﺔٌ ﻭَﺗَﺮْﻛَﻬَﺎ ﺣَﺴْﺮَﺓٌ ﻭَﻻَ ﺗَﺴْﺘَﻄِﻴﻌُﻬَﺎ ﺍﻟْﺒَﻄَﻠَﺔُ ».
“Bacalah oleh kalian dua bunga, yaitu surat Al-Baqarah dan Surat Ali ‘Imran. Karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seakan-akan keduanya dua awan besar atau dua kelompok besar dari burung yang akan membela orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah oleh kalian surat Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah barakah, meninggalkannya adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu menghadapinya.” [HR. Muslim 804]
3. Dari shahabat An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi radhiallahu ‘anhu berkata : saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
« ﻳُﺆْﺗَﻰ ﺑِﺎﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﺗَﻘْﺪُﻣُﻪُ ﺳُﻮﺭَﺓُ ﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓِ ﻭَﺁﻝُ ﻋِﻤْﺮَﺍﻥَ ﺗُﺤَﺎﺟَّﺎﻥِ ﻋَﻦْ ﺻَﺎﺣِﺒِﻬِﻤَﺎ ».
“Akan didatangkan Al-Qur`an pada Hari Kiamat kelak dan orang yang rajin membacanya dan senantiasa rajin beramal dengannya, yang paling depan adalah surat Al-Baqarah dan surat Ali ‘Imran, keduanya akan membela orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 805]
Pada hadits ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bahwa surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran akan membela orang-orang yang rajin membacanya. Namun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mempersyaratkan dalam hadits ini dengan dua hal, yaitu :
– Membaca Al-Qur`an, dan
– Beramal dengannya.
Karena orang yang membaca Al-Qur`an ada dua type :
– type orang yang membacanya namun tidak beramal dengannya, tidak mengimani berita-berita Al-Qur`an, tidak mengamalkan hukum-hukumnya. Sehingga Al-Qur`an menjadi hujjah yang membantah mereka.
– Type lainnya adalah orang-orang yang membacanya dan mengimani berita-berita Al-Qur`an, membenarkannya, dan mengamalkan hukum-hukumnya, … sehingga Al-Qur`an menjadi hujjah yang membela mereka.
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺣﺠﺔ ﻟﻚ ﺃﻭ ﻋﻠﻴﻚ
“Al-Qur`an itu bisa menjadi hujjah yang membelamu atau sebaliknya menjadi hujjah yang membantahmu.” [HR. Muslim]
Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa tujuan terpenting diturunkannya Al-Qur`an adalah untuk diamalkan. Hal ini diperkuat oleh firman Allah subhanahu wata’ala :
( ﻛﺘﺎﺏ ﺃﻧﺰﻟﻨﺎﻩ ﺇﻟﻴﻚ ﻣﺒﺎﺭﻙ ﻟﻴﺪﺑﺮﻭﺍ ﺁﻳﺎﺗﻪ ﻭﻟﻴﺘﺬﻛﺮ ﺃﻭﻟﻮﺍ ﺍﻷﻟﺒﺎﺏ )
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka mentadabburi (memperhatikan) ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” [Shad : 29]
“supaya mereka mentadabburi”, yakni agar mereka berupaya memahami makna-maknanya dan beramal dengannya. Tidak mungkin bisa beramal dengannya kecuali setelah
tadabbur. Dengan tadabbur akan menghasilkan ilmu, sedangkan amal merupakan buah dari ilmu.
Jadi inilah tujuan diturunkannya Al-Qur`an :
– untuk dibaca dan di tadabburi maknanya
– diimani segala beritanya
– diamalkan segala hukumnya
– direalisasikan segala perintahnya
– dijauhi segala larangannya
Faidah (Pelajaran) yang diambil dari hadits :
1. Al-Qur`an sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya dan beramal dengannya.
2. Ilmu mengharuskan adanya amal. Kalau tidak maka ilmu tersebut akan menjadi hujjah yang membantahnya pada hari Kiamat.
3. Keutamaan membaca surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran
4. Penamaan surat-surat dalam Al-Qur`an bersifat
tauqifiyyah.
4. Dari shahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda :
(( ﺧَﻴْﺮُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻭَﻋَﻠَّﻤَﻪُ ‏) ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ .
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya.” [Al-Bukhari 5027]
Orang yang terbaik adalah yang terkumpul padanya dua sifat tersebut, yaitu : mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya. Ia mempelajari Al-Qur`an dari gurunya, kemudian ia mengajarkan Al-Qur`an tersebut kepada orang lain. Mempelajari dan mengajarkannya di sini mencakup mempelajari dan mengajarkan lafazh-lafazh Al-Qur`an; dan mencakup juga mempelajari dan mengajarkan makna-makna Al-Qur`an.
5. Dari Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
(( ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺎﻫِﺮٌ ﺑِﻪِ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺴَّﻔَﺮَﺓِ ﺍﻟﻜِﺮَﺍﻡِ ﺍﻟﺒَﺮَﺭَﺓِ، ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻭَﻳَﺘَﺘَﻌْﺘَﻊُ ﻓِﻴﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺷَﺎﻕٌّ ﻟَﻪُ ﺃﺟْﺮَﺍﻥِ ‏) ‏) ﻣﺘﻔﻖٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
“Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” [Al-Bukhari 4937, Muslim 244 ]
Orang yang mahir membaca Al-Qur`an adalah orang yang bagus dan tepat bacaannya.
Adapun orang yang tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala : pertama, pahala tilawah , dan kedua, pahala atas kecapaian dan kesulitan yang ia alami.
6. Dari shahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
(( ﻣَﺜَﻞُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﻣَﺜَﻞُ ﺍﻷُﺗْﺮُﺟَّﺔِ : ﺭِﻳﺤُﻬَﺎ ﻃَﻴِّﺐٌ ﻭَﻃَﻌْﻤُﻬَﺎ ﻃَﻴِّﺐٌ ، ﻭَﻣَﺜَﻞُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻻَ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺍﻟﺘَّﻤْﺮَﺓِ : ﻻَ ﺭِﻳﺢَ ﻟَﻬَﺎ ﻭَﻃَﻌْﻤُﻬَﺎ ﺣُﻠْﻮٌ ، ﻭَﻣَﺜﻞُ ﺍﻟﻤُﻨَﺎﻓِﻖِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳﻘﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥَ ﻛَﻤَﺜﻞِ ﺍﻟﺮَّﻳﺤﺎﻧَﺔِ : ﺭﻳﺤُﻬَﺎ ﻃَﻴِّﺐٌ ﻭَﻃَﻌْﻤُﻬَﺎ ﻣُﺮٌّ ، ﻭَﻣَﺜَﻞُ ﺍﻟﻤُﻨَﺎﻓِﻖِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻻَ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﻛَﻤَﺜﻞِ ﺍﻟﺤَﻨْﻈَﻠَﺔِ : ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻬَﺎ ﺭِﻳﺢٌ ﻭَﻃَﻌْﻤُﻬَﺎ ﻣُﺮٌّ ‏) ‏) ﻣﺘﻔﻖٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ .
“Perumpaan seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Al-Atrujah : aromanya wangi dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mu`min yang tidak membaca Al-Qur`an adalah seperti buah tamr (kurma) : tidak ada aromanya namun rasanya manis.
Perumpamaan seorang munafiq namun ia rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Sedangkan perumpaan seorang munafiq yang tidak rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah : tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit.” [Al-Bukhari 5427, Muslim 797 ]
Seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Al-Atrujah, yaitu buah yang aromanya wangi dan rasanya enak. Karena seorang mu`min itu jiwanya bagus, qalbunya juga baik, dan ia bisa memberikan kebaikan kepada orang lain. Duduk bersamanya terdapat kebaikan. Maka seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah baik seluruhnya, baik pada dzatnya dan baik untuk orang lain. Dia seperti buah Al-Atrujah, aromanya wangi dan harum, rasanya pun enak dan lezat.
Adapun seorang mu’min yang tidak membaca Al-Qur`an adalah seperti buah kurma. Rasanya enak namun tidak memiliki aroma yang wangi dan harum. Jadi seorang mu’min yang rajin membaca Al-Qur`an jauh lebih utama dibanding yang tidak membaca Al-Qur`an. Tidak membaca Al-Qur`an artinya tidak mengerti bagaimana membaca Al-Qur`an, dan tidak pula berupaya untuk mempelajarinya.
Perumpamaan seorang munafiq, namun ia rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Karena orang munafiq itu pada dzatnya jelek, tidak ada kebaikan padanya. Munafiq adalah : orang yang menampakkan dirinya sebagai muslim namun hatinya kafir –wal’iyya dzubillah-. Kaum munafiq inilah yang Allah nyatakan dalam firman-Nya :
Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al-Baqarah : 8 – 10]
Didapati orang-orang munafiq yang mampu membaca Al-Qur`an dengan bacaan yang bagus dan tartil . Namun mereka hakekatnya adalah para munafiq –wal’iyyadzubillah-
yang kondisi mereka ketika membaca Al-Qur`an adalah seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam :
ﻳﻘﺮﺅﻭﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻻ ﻳﺘﺠﺎﻭﺯ ﺣﻨﺎﺟﺮﻫﻢ
“Mereka rajin membaca Al-Qur`an, namun bacaan Al-Qur`an mereka tidak melewati kerongkongan mereka.”
Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengumpamakan mereka dengan buah Raihanah, yang harum aromanya, karena mereka terlihat rajin membaca Al-Qur`an; namun buah tersebut pahit rasanya, karena jelek dan jahatnya jiwa mereka serta rusaknya niat mereka.
Adapun orang munafiq yang tidak rajin membaca Al-Qur`an, maka diumpamakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam seperti buah Hanzhalah, rasanya pahit dan tidak memiliki aroma wangi. Inilah munafiq yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Tidak memiliki aroma wangi, karena memang ia tidak bisa membaca Al-Qur`an, disamping dzat dan jiwanya adalah dzat dan jiwa yang jelek dan jahat.
Inilah jenis-jenis manusia terkait dengan Al-Qur`an. Maka hendaknya engkau berusaha agar menjadi orang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an dengan sebenar-benar bacaan, sehingga engkau seperti buah Al-Atrujah, aromanya wangi, rasanya pun enak.
7. Dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
(( ﺇﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃﻗْﻮَﺍﻣﺎً ﻭَﻳَﻀَﻊُ ﺑِﻪِ ﺁﺧﺮِﻳﻦَ ‏) ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ .
“Sesungguhnya Allah dengan Al-Qur`an ini mengangkat suatu kaum, dan menghinakan kaum yang lainnya.” [HR. Muslim 269]

Iklan

​Dakwahi dengan sabar

Keutamaan Dakwah

1- Pendakwah itu menjadi umat terbaik

Allah Ta’ala berfirman,

ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺧَﻴْﺮَ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃُﺧْﺮِﺟَﺖْ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺗَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ

“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110).

2- Pendakwah itu memegang perkataan terbaik

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﻣِﻤَّﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻨِﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ

“ Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri? ” (QS. Fushshilat: 33).

3- Dakwah berarti menempuh perkara yang besar

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﺃْﻣُﺮْ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺍﻧْﻪَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺍﺻْﺒِﺮْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺑَﻚَ ﺇِﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋَﺰْﻡِ ﺍﻟْﺄُﻣُﻮﺭِ

“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17).

4- Mendapat pahala dari orang yang mengikuti tanpa mengurangi pahala mereka

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﻓَﻠَﻪُ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺟْﺮِ ﻓَﺎﻋِﻠِﻪِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Pahala orang yang didakwahi tidak berkurang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

“Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2674).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻰ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻓَﻌُﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَﻪُ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺟْﺮِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻰْﺀٌ ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻰ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺳَﻴِّﺌَﺔً ﻓَﻌُﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﺜْﻞُ ﻭِﺯْﺭِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻰْﺀٌ

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)

5- Mendapatkan rahmat dari Allah, doa dari malaikat, penduduk langit dan bumi

Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻭَﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟﻨَّﻤْﻠَﺔَ ﻓِﻲ ﺟُﺤْﺮِﻫَﺎ , ﻟَﻴُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﻌَﻠِّﻤِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَ

“Sesungguhnya para malaikat, serta semua penduduk langit-langit dan bumi, sampai semut-semut di sarangnya, mereka semua bershalawat (mendoakan dan memintakan ampun) atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (HR. Tirmidzi no. 2685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

6- Menjalankan pesan Nabi untuk saling mengingatkan dalam kebaikan

‏« ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴﺤَﺔُ ‏» ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻟِﻤَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻟِﻜِﺘَﺎﺑِﻪِ ﻭَﻟِﺮَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻭَﻷَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻭَﻋَﺎﻣَّﺘِﻬِﻢْ ‏» .

“Agama adalah nasehat. Kami berkata, “Kepada siapa?” Beliau menjawab, “Kepada Allah, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya dan kepada pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.” (HR. Muslim no. 55)

Milikilah tiga modal penting: ilmu, lemah lembut, sabar

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

ﻓَﻠَﺎ ﺑُﺪَّ ﻣِﻦْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺜَّﻠَﺎﺛَﺔِ : ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ؛ ﻭَﺍﻟﺮِّﻓْﻖُ ؛ ﻭَﺍﻟﺼَّﺒْﺮُ ؛ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬْﻲُ ؛ ﻭَﺍﻟﺮِّﻓْﻖُ ﻣَﻌَﻪُ ﻭَﺍﻟﺼَّﺒْﺮُ ﺑَﻌْﺪَﻩُ

“Orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar semestinya memiliki tiga bekal yaitu: (1) ilmu, (2) lemah lembut, dan (3) sabar. Ilmu haruslah ada sebelum amar ma’ruf nahi mungkar (di awal). Lemah lembut harus ada ketika ingin beramar ma’ruf nahi mungkar (di tengah-tengah). Sikap sabar harus ada sesudah beramar ma’ruf nahi mungkar (di akhir).” (Majmu’ah Al-Fatawa , 28:137)

Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan,

ﻟَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﺇﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻓَﻘِﻴﻬًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﻪِ ؛ ﻓَﻘِﻴﻬًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻨْﻪُ ؛ ﺭَﻓِﻴﻘًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﻪِ ؛ ﺭَﻓِﻴﻘًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻨْﻪُ ؛ ﺣَﻠِﻴﻤًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﻪِ ﺣَﻠِﻴﻤًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻨْﻪُ

“Tidaklah seseorang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, melainkan ia haruslah menjadi orang yang berilmu (faqih) pada apa yang ia perintahkan dan apa yang ia larang; ia juga harus bersikap lemah lembut (rafiq) pada apa yang ia perintahkan dan ia larang; ia pun harus bersikap sabar (halim) pada apa yang ia perintahkan dan yang ia larang.” (Majmu’ah Al-Fatawa , 28:137)

Hadits #01

Berdakwah dengan Hikmah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata,

ﺟَﺎﺀَ ﺃَﻋْﺮَﺍﺑِﻰٌّ ﻓَﺒَﺎﻝَ ﻓِﻰ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ، ﻓَﺰَﺟَﺮَﻩُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ، ﻓَﻨَﻬَﺎﻫُﻢُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻗَﻀَﻰ ﺑَﻮْﻟَﻪُ ﺃَﻣَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺑِﺬَﻧُﻮﺏٍ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﺀٍ ، ﻓَﺄُﻫْﺮِﻳﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

Ada seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardiknya. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami. (HR. Bukhari, no. 221 dan Muslim, no. 284)

Faedah Hadits:

1. Hadits ini menunjukkan bahwa air kencing itu najis karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk membersihkan tanah (lantai masjid) yang terkena kencing tadi. Oleh karena itu, kencing dan kotoran yang keluar dari dalam tubuh manusia adalah najis.

2. Wajibnya membersihkan lantai masjid dari najis, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk menyiramkan air pada najis tersebut.

3. Terdapat larangan kencing di masjid karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengingkari pengingkaran para sahabat terhadap orang badui tadi. Beliau shallallahu alaihi wa sallam cuma melarang untuk tidak menghardiknya. Sehingga ini menunjukkan bahwa kencing di masjid terlarang.

4. Kemungkaran itu wajib diingkari dengan segera sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat tadi. Namun jika mengakhirkan mengingkari kemungkaran ada maslahat, maka itu lebih baik, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau shallallahu alaihi wa sallam membiarkan arab badui tadi kencing di masjid karena memang di situ ada maslahat.

5. Nabi shallallahu alaihi wa sallam memiliki sikap yang sangat bagus dalam menyikapi umatnya. Beliau

shallallahu alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk menghardik orang ini karena ada bahaya yang ditimbulkan di balik itu. Di antara bahayanya adalah akan memudaratkan orang ini disebabkan kencing yang diperintahkan dihentikan seketika. Bahaya lainnya adalah aurat orang ini bisa terbuka karena kaget, sehingga berbalik, kemudian para sahabat kemungkinan bisa melihat auratnya. Kalau dia masih tetap kencing lalu dipaksa berhenti, maka celananya kemungkinan bisa terkena najis. Bahkan najisnya akan meluas di tempat dia kencing, namun bisa mengena ke bagian masjid lainnya.

6. Membersihkan najis yang ada di masjid haruslah dilakukan dengan segera. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan menggunakan air dalam hal ini. Namun sebenarnya jika kencing tadi dibiarkan begitu saja, maka dia akan hilang dengan sendirinya karena tertiup angin atau terkena terik matahari. Namun, karena tujuannya ingin agar najis hilang dengan segera, maka digunakanlah air.

7. Membersihkan najis yang ada di masjid, hukumnya adalah fardhu kifayah, yaitu jika sudah mencukupi yang melakukan hal ini, maka orang lain gugur kewajibannya. Kenapa bisa fardhu kifayah? Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk membersihkan kencing tadi, namun beliau tidak bareng dengan mereka membersihkannya. Jika hukum melakukan hal ini adalah fardhu ain (wajib bagi setiap orang), maka tentu Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang lebih dahulu membersihkan najis tersebut dari sahabat lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa melihat najis di masjid maka dia wajib membersihkannya. Jika tidak mampu, maka dia wajib meminta pada orang lain untuk membersihkan najis yang di masjid tersebut.

8. Dari hadits ini dapat kita simpulkan sebuah kaedah yang sudah masyhur di tengah-tengah para ulama yaitu jika kemungkaran tidak dapat dihilangkan kecuali dengan kemungkaran lain yang lebih besar, maka kemungkaran ini tidak boleh diingkari. Ini adalah kaedah yang sudah sangat jelas. Jika kita menghilangkan suatu kemungkaran, namun malah mendatangkan kemungkaran yang lebih besar maka ini sama saja kita melakukan kemungkaran yang pertama tadi dan kita menambah kemungkaran yang baru lagi. Dan tambahan ini tidak diragukan lagi adalah maksiat.

9. Selayaknya bagi orang yang ingin melarang suatu kemungkaran, dia menjelaskan sebab kenapa dia melarang hal itu. Lihatlah Nabi shallallahu alaihi wa sallam tatkala melarang orang badui ini, beliau shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa hal ini dilarang karena masjid adalah tempat yang tidak diperbolehkan terdapat kotoran dan najis. Masjid adalah tempat untuk berdzikir kepada Allah dan melaksanakan shalat. Sehingga dengan demikian, orang badui yang sebelumnya belum tahu, akhirnya menjadi tahu.

10. Hendaklah setiap orang tatkala berinteraksi dengan lainnya, dia menyikapinya sesuai dengan keadaannya. Orang badui ini bukanlah penduduk Madinah. Jika penduduk Madinah yang melakukan demikian tentu Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan menyikapinya berbeda. Akan tetapi Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyikapi orang ini sesuai dengan keadaannya yang jahil dan kurang paham agama.

[Dinukil faedah di atas dari Fath Dzi Al-Jalali wa Al-Ikram Syarh Bulugh Al-Maram , 1:117-120]

Dakwah dengan Hikmah

Allah Ta’ala berfirman,

ﺍﺩْﻉُ ﺇِﻟَﻰ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺭَﺑِّﻚَ ﺑِﺎﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻮْﻋِﻈَﺔِ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ﻭَﺟَﺎﺩِﻟْﻬُﻢْ ﺑِﺎﻟَّﺘِﻲ ﻫِﻲَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ

“ Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Contoh hikmah dalam berdakwah

1. Meninggalkan perkara yang tidak membawa mudarat ketika ditinggalkan, seperti mengimami shalat dengan mengeraskan basmalah.

2. Mengambil pendapat yang sesuai dengan masyarakat selama tidak bertentangan dengan dalil.

3. Mengingatkan yang lain, tidak perlu menyebut nama langsung.

4. Menghindari penampilan eksklusif.

5. Pandai bersosialisasi dan menarik hati (ta’liful qulub ).

6. Kenek iwake, aja nganti buthek banyune.

Hadits #02

Menyikapi dengan Santun

ﻋَﻦْ ﻣُﻌَﺎﻭِﻳَﺔَ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﺤَﻜَﻢِ ﺍﻟﺴُّﻠَﻤِﻰِّ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻴْﻨَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺃُﺻَﻠِّﻰ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺇِﺫْ ﻋَﻄَﺲَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻳَﺮْﺣَﻤُﻚَ ﺍﻟﻠَّﻪُ . ﻓَﺮَﻣَﺎﻧِﻰ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡُ ﺑِﺄَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻭَﺍﺛُﻜْﻞَ ﺃُﻣِّﻴَﺎﻩْ ﻣَﺎ ﺷَﺄْﻧُﻜُﻢْ ﺗَﻨْﻈُﺮُﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰَّ . ﻓَﺠَﻌَﻠُﻮﺍ ﻳَﻀْﺮِﺑُﻮﻥَ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻬِﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻓْﺨَﺎﺫِﻫِﻢْ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻬُﻢْ ﻳُﺼَﻤِّﺘُﻮﻧَﻨِﻰ ﻟَﻜِﻨِّﻰ ﺳَﻜَﺖُّ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺻَﻠَّﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓَﺒِﺄَﺑِﻰ ﻫُﻮَ ﻭَﺃُﻣِّﻰ ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻣُﻌَﻠِّﻤًﺎ ﻗَﺒْﻠَﻪُ ﻭَﻻَ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺗَﻌْﻠِﻴﻤًﺎ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻮَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻛَﻬَﺮَﻧِﻰ ﻭَﻻَ ﺿَﺮَﺑَﻨِﻰ ﻭَﻻَ ﺷَﺘَﻤَﻨِﻰ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺇِﻥَّ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻻَ ﻳَﺼْﻠُﺢُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺷَﻰْﺀٌ ﻣِﻦْ ﻛَﻼَﻡِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺘَّﺴْﺒِﻴﺢُ ﻭَﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮُ ﻭَﻗِﺮَﺍﺀَﺓُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ‏»

Dari Mu’awiyah bin Hakam As-Sulamiy radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, “Aku ketika itu shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ada seseorang yang bersin dan ketika itu aku menjawab ‘ yarhamukallah’ (semoga Allah merahmatimu). Lantas orang-orang memalingkan pandangan kepadaku. Aku berkata ketika itu, “Aduh, celakalah ibuku! Mengapa Anda semua memandangku seperti itu?” Mereka bahkan menepukkan tangan mereka pada paha mereka. Setelah itu barulah aku tahu bahwa mereka menyuruhku diam. Lalu aku diam. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu (ungkapan sumpah Arab), aku belum pernah bertemu seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah! Beliau tidak menghardikku, tidak memukul, dan tidak memakiku. Beliau bersabda saat itu, ‘Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca Al-Qur’an .’” (HR. Muslim, no. 537)

Faedah Hadits:

1. Tetap menegur yang salah.

2. Mengingatkan orang yang salah tidak mesti dengan menghardik, mencaci atau memukul.

3. Perlu kesantunan dalam berdakwah.

4. Dalam shalat tidak boleh ada percakapan manusia, termasuk pula doa berupa bahasa non-Arab dalam shalat.

5. Mengucapkan alhamdulillah ketika bersin dibolehkan.

6. Diajarkan adab saat bersin.

Boleh Mengucapkan “Alhamdulillah” Saat Bersin dalam Shalat

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya, “Jika seseorang bersin dalam shalat, apakah ia boleh memuji Allah (dengan ucapkan Alhamdulillah, pen), baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah?”

Jawab beliau rahimahullah , “Iya. Disyari’atkan baginya untuk mengucapkan “Alhamdulillah” karena telah terdapat dalam hadits yang shahih bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang mengucapkan “Alhamdulillah” setelah ia bersin dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mengingkari perbuatannya. Bahkan Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sungguh aku melihat seperti ini dan seperti ini, yaitu seluruh malaikat berada di belakangnya dan mencatat amalannya.” Karena ucapan Alhamdulillah adalah bagian dari dzikir dan sama sekali tidak mencacati shalat.”

Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa wa Maqoolaat Mutanawwi’ah , Darul Ifta’, Cetakan pertama, Tahun 1425 H.

Berdoa Bahasa Non-Arab dalam Shalat

Salah seorang ulama Syafi’iyah, Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbini rahimahullah berkata,

ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْﺨِﻠَﺎﻑَ ﺍﻟْﻤَﺬْﻛُﻮﺭَ ﻣَﺤَﻠُّﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺄْﺛُﻮﺭِ . ﺃَﻣَّﺎ ﻏَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻤَﺄْﺛُﻮﺭِ ﺑِﺄَﻥْ ﺍﺧْﺘَﺮَﻉَ ﺩُﻋَﺎﺀً ﺃَﻭْ ﺫِﻛْﺮًﺍ ﺑِﺎﻟْﻌَﺠَﻤِﻴَّﺔِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﻛَﻤَﺎ ﻧَﻘَﻠَﻪُ ﺍﻟﺮَّﺍﻓِﻌِﻲُّ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡِ ﺗَﺼْﺮِﻳﺤًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ، ﻭَﺍﻗْﺘَﺼَﺮَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﻭْﺿَﺔِ ﻭَﺇِﺷْﻌَﺎﺭًﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻴَﺔِ ، ﻭَﺗَﺒْﻄُﻞُ ﺑِﻪِ ﺻَﻠَﺎﺗُﻪُ .

“Perbedaan pendapat yang terjadi adalah pada doa ma’tsur. Adapun doa yang tidak ma’tsur (tidak berasal dalil dari Al Quran dan As-Sunnah), maka tidak boleh doa atau dzikir tersebut dibuat-buat dengan selain bahasa Arab lalu dibaca di dalam shalat. Seperti itu tidak dibolehkan sebagaimana dinukilkan oleh Ar-Rofi’i dari Imam Syafi’i sebagai penegasan dari yang pertama. Sedangkan dalam kitab Ar-Roudhoh diringkas untuk yang kedua. Juga membaca doa seperti itu dengan selain bahasa Arab mengakibatkan shalatnya batal.” (Mughni Al-Muhtaj , 1:273).

Hadits Tentang Adab Bersin

Adapun mengenai bersin, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bagaimana seseorang yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah agar membalas pujian tersebut. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻋَﻄَﺲَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓَﻠْﻴَﻘُﻞْ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻟْﻴَﻘُﻞْ ﻟَﻪُ ﺃَﺧُﻮﻩُ ﺃَﻭْ ﺻَﺎﺣِﺒُﻪُ ﻳَﺮْﺣَﻤُﻚَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﻳَﺮْﺣَﻤُﻚَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻠْﻴَﻘُﻞْ ﻳَﻬْﺪِﻳﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻳُﺼْﻠِﺢُ ﺑَﺎﻟَﻜُﻢْ

“ Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, “alhamdulillah” sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, “yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya berkata ‘yarhamukallah’ maka hendaknya dia berkata, “yahdikumullah wa yushlih baalakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu) .” (HR. Bukhari, no. 6224 dan Muslim, no. 5033)

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻋَﻄَﺲَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓَﺤَﻤِﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺸَﻤِّﺘُﻮﻩُ ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﻤَﺪْ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﻠَﺎ ﺗُﺸَﻤِّﺘُﻮﻩُ

“ Bila salah seorang dari kalian bersin lalu memuji Allah maka tasymitlah dia. Tapi bila dia tidak memuji Allah, maka jangan kamu tasymit dia. ” (HR. Muslim, no. 2992). Tasymit adalah mengucapkan ‘ yarhamukallah’ .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , ia berkata,

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﺇِﺫَﺍ ﻋَﻄَﺲَ ﻏَﻄَّﻰ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺃَﻭْ ﺑِﺜَﻮْﺑِﻪِ ﻭَﻏَﺾَّ ﺑِﻬَﺎ ﺻَﻮْﺗَﻪُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.” (HR. Abu Daud no. 5029, At-Tirmizi no. 2745, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4755)

Hadits #03

Menegur yang Salah dengan Tetap Mendoakan

Dalam riwayat Abu Daud disebutkan bahwa Abu Bakrah ruku’ sebelum masuk shaf, kemudian ia berjalan menuju shaf. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau berkata, “Siapa di antara kalian yang tadi ruku’ sebelum masuk shaf lalu ia berjalan menuju shaf?” Abu Bakrah mengatakan, “Saya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺯَﺍﺩَﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺣِﺮْﺻًﺎ ﻭَﻻَ ﺗَﻌُﺪْ

“ Semoga Allah memberikan terus semangat padamu. Namun seperti itu jangan diulangi .” (HR. Abu Daud, no. 684. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Faedah Hadits:

1. Tetap ada amar ma’ruf nahi mungkar.

2. Menegur yang salah dengan tetap mendoakan akan lebih membekas dan berpengaruh.

3. Mendapatkan ruku’ mendapatkan satu raka’at, meskipun tidak mendapatkan Al-Fatihah bersama imam.

Masalah Mendapatkan Ruku’ Mendapatkan Satu Raka’at

Mendapatkan ruku’ sebelum imam bangkit berarti telah mendapatkan satu raka’at sebagaimana hal ini menjadi pendapat jumhur ulama. Hal ini berdasarkan hadits Abu Bakrah, ketika ia mendapatkan jama’ah dalam keadaan ruku’, ia melakukan ruku’ dari sebelum masuk dalam shaf. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diceritakan hal tersebut dan beliau berkata,

ﺯَﺍﺩَﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺣِﺮْﺻًﺎ ﻭَﻻَ ﺗَﻌُﺪْ

“ Semoga Allah memberikan terus semangat padamu. Namun seperti itu jangan diulangi .” (HR. Bukhari, no. 783).

Juga dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﺟِﺌْﺘُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﺳُﺠُﻮﺩٌ ﻓَﺎﺳْﺠُﺪُﻭﺍ ﻭَﻻَ ﺗَﻌُﺪُّﻭﻫَﺎ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺔَ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ

“ Jika salah seorang di antara kalian pergi shalat dan kami sedang sujud, maka ikutlah sujud. Namun tidak dianggap sama sekali mendapat satu raka’at. Siapa yang mendapatkan satu raka’at, maka berarti ia mendapati shalat .” (HR. Abu Daud, no. 893; Ad-Daruquthni, 132; Al-Hakim, 1:216. Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil, no. 496 mengatakan bahwa hadits ini shahih ).

Hadits #04

Skala Prioritas dalam Berdakwah

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻧَﺰَﻝَ ﺃَﻭَّﻝَ ﻣَﺎ ﻧَﺰَﻝَ ﻣِﻨْﻪُ ﺳُﻮﺭَﺓٌ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤُﻔَﺼَّﻞِ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺫِﻛْﺮُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺛَﺎﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻧَﺰَﻝَ ﺍﻟْﺤَﻠَﺎﻝُ ﻭَﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡُ ﻭَﻟَﻮْ ﻧَﺰَﻝَ ﺃَﻭَّﻝَ ﺷَﻲْﺀٍ ﻟَﺎ ﺗَﺸْﺮَﺑُﻮﺍ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮَ ﻟَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﺎ ﻧَﺪَﻉُ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮَ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﻭَﻟَﻮْ ﻧَﺰَﻝَ ﻟَﺎ ﺗَﺰْﻧُﻮﺍ ﻟَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﺎ ﻧَﺪَﻉُ ﺍﻟﺰِّﻧَﺎ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﻟَﻘَﺪْ ﻧَﺰَﻝَ ﺑِﻤَﻜَّﺔَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺇِﻧِّﻲ ﻟَﺠَﺎﺭِﻳَﺔٌ ﺃَﻟْﻌَﺐُ ﺑَﻞْ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﻣَﻮْﻋِﺪُﻫُﻢْ ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﺃَﺩْﻫَﻰ ﻭَﺃَﻣَﺮُّ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﺳُﻮﺭَﺓُ ﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓِ ﻭَﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ

“ Sesungguhnya yang pertama kali turun darinya ialah satu surat dari Al-Mufashshal (surat-surat pendek) yang berisi penjelasan tentang surga dan neraka; sehingga apabila manusia telah mantap dalam Islam, maka turunlah (ayat-ayat tentang) halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun (kepada mereka) adalah “jangan minum khamr (minuman keras),” tentu mereka akan menjawab “kami tidak akan meninggalkan khamr selama-lamanya”. Seandainya yang pertama turun adalah “jangan berzina,” tentu mereka akan menjawab “kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya”. Sesungguhnya telah turun firman Allah “sebenarnya hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka, dan Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit”–QS. Al-Qamar ayat 46–di Mekkah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pada waktu itu aku masih kecil yang senang bermain-main. Surat Al-Baqarah dan An-Nisa` barulah turun setelah aku menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 4993).

Faedah Hadits:

1. Masalah akidah lebih diprioritaskan untuk didakwahkan daripada lainnya.

2. Masalah halal-haram lebih mudah diterima kalau akidah kuat.

3. Di antara pembahasan akidah adalah mengingatkan surga dan neraka.

4. Surat tentang penguatan iman lebih awal turun daripada ayat-ayat yang kaitanya dengan hukum.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

ﻟَﻤَّﺎ ﺑَﻌَﺚَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻣُﻌَﺎﺫًﺍ ﻧَﺤْﻮَ ﺍﻟْﻴَﻤَﻦِ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ‏« ﺇِﻧَّﻚَ ﺗَﻘْﺪَﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻓَﻠْﻴَﻜُﻦْ ﺃَﻭَّﻝَ ﻣَﺎ ﺗَﺪْﻋُﻮﻫُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﻳُﻮَﺣِّﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻋَﺮَﻓُﻮﺍ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄَﺧْﺒِﺮْﻫُﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺮَﺽَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺧَﻤْﺲَ ﺻَﻠَﻮَﺍﺕٍ ﻓِﻰ ﻳَﻮْﻣِﻬِﻢْ ﻭَﻟَﻴْﻠَﺘِﻬِﻢْ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻓَﺄَﺧْﺒِﺮْﻫُﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺯَﻛَﺎﺓً ﻓِﻰ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ ﺗُﺆْﺧَﺬُ ﻣِﻦْ ﻏَﻨِﻴِّﻬِﻢْ ﻓَﺘُﺮَﺩُّ ﻋَﻠَﻰ ﻓَﻘِﻴﺮِﻫِﻢْ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﻗَﺮُّﻭﺍ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﺨُﺬْ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺗَﻮَﻕَّ ﻛَﺮَﺍﺋِﻢَ ﺃَﻣْﻮَﺍﻝِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ‏»

“ Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka milik i.” (HR. Bukhari, no. 7372 dan Muslim no. 19).

Hadits #05

Jangan Sampai Buat Orang Jenuh

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻭَﺍﺋِﻞِ ﻗَﺎﻝَ : ﻛﺎَﻥَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠﻪ ﻳُﺬَﻛِّﺮُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺧَﻤِﻴﺲٍ , ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺭَﺟُﻞُ : ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﻟَﻮَﺩِﺩْﺕُ ﺃَﻧَّﻚَ ﺫَﻛَّﺮْﺗَﻨَﺎ ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡِ ”. ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻣَﺎ ﺇِﻧَّﻪُ ﻳَﻤْﻨَﻌُﻨِﻲ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﻧِّﻲ ﺃَﻛْﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﺃُﻣِﻠَّﻜُﻢْ ﻭَﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺗَﺨَﻮَّﻟُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﻤَﻮْﻋِﻈَﺔِ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻳَﺘَﺨَﻮَّﻟُﻨَﺎ ﺑِﻬَﺎ ﻣَﺨَﺎﻓَﺔَ ﺍﻟﺴَّﺂﻣَﺔِ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ

Dari Abu Wa’il yang berkata bahwa Abdullah memberi pelajaran kepada orang – orang setiap hari Kamis, kemudian seseorang berkata, “Wahai Abu Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), aku ingin engkau memberi pelajaran kepada kami setiap hari.” Dia menjawab, “Sungguh, aku tidak mau melakukan nya karena takut membuat kalian bosan. Aku ingin memperhatikan kalian saat memberi pelajaran sebagaimana Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memperhatikan kami karena khawatir kami jenuh dan bosan.” (HR. Bukhari, no. 70)

Faedah Hadits:

1. Boleh mengkhususkan waktu kajian pada hari tertentu.

2. Hendaklah memilih waktu terbaik dalam memberi nasihat.

3. Jangan sampai membuat jamaah menjadi bosan dan jenuh lantaran nasihat.

4. Futur (masa tidak semangat) adalah suatu yang wajar asalkan tidak keluar dari koridor ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Mujahid, ia berkata, aku dan Yahya bin Ja’dah pernah menemui salah seorang Anshar yang merupakan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, para sahabat Rasul membicarakan bekas budak milik Bani ‘Abdul Muthallib. Ia berkata bahwa ia biasa shalat malam (tanpa tidur) dan biasa berpuasa (setiap hari tanpa ada waktu luang untuk tidak puasa). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

ﻟَﻜِﻨِّﻰ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻧَﺎﻡُ ﻭَﺃُﺻَﻠِّﻰ ﻭَﺃَﺻُﻮﻡُ ﻭَﺃُﻓْﻄِﺮُ ﻓَﻤَﻦِ ﺍﻗْﺘَﺪَﻯ ﺑِﻰ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨِّﻰ ﻭَﻣَﻦْ ﺭَﻏِﺐَ ﻋَﻦْ ﺳُﻨَّﺘِﻰ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨِّﻰ ﺇِﻥَّ ﻟِﻜُﻞِّ ﻋَﻤَﻞٍ ﺷِﺮَّﺓً ﺛُﻢَّ ﻓَﺘْﺮَﺓً ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻓَﺘْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺿَﻞَّ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻓَﺘْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺳُﻨَّﺔٍ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﻫْﺘَﺪَﻯ

“ Akan tetapi aku tidur dan aku shalat malam. Aku pun puasa, namun ada waktu bagiku untuk tidak berpuasa. Siapa yang mencontohiku, maka ia termasuk golonganku. Siapa yang benci terhadap ajaranku, maka ia bukan termasuk golonganku. Setiap amal itu ada masa semangat dan ada masa malasnya. Siapa yang rasa malasnya malah menjerumuskan pada bid’ah, maka ia sungguh telah sesat. Namun siapa yang rasa malasnya masih di atas ajaran Rasul, maka dialah yang mendapat petunjuk .” (HR. Ahmad, 5:409)

Hadits #06

Tak Putus Asa Mendakwahi Orang Terdekat

Dari Abu Kasir, Yazid bin Abdurrahman, Abu Hurairah bercerita kepadaku, “Dulu aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam ketika dia masih musyrik. Suatu hari aku mendakwahinya namun dia malah memperdengarkan kepadaku cacian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tentu merupakan kalimat-kalimat yang tidak kusukai untuk kudengar. Akhirnya aku pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menangis. Ketika telah berada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam aku berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku berusaha untuk mendakwahi ibuku agar masuk Islam namun dia masih saja menolak ajakanku. Hari ini kembali beliau aku dakwahi namun dia malah mencaci dirimu. Oleh karena itu berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah.” Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu dari Abu Hurairah.”

Kutinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan gembira karena Nabi mau mendoakan ibuku. Setelah aku sampai di depan pintu rumahku ternyata pintu dalam kondisi terkunci. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, beliau mengatakan, “Tetaplah di tempatmu, hai Abu Hurairah”. Aku mendengar suara guyuran air. Ternyata ibuku mandi. Setelah selesai mandi beliau memakai jubahnya dan segera mengambil kerudungnya lantas membukakan pintu. Setelah pintu terbuka beliau mengatakan, “Hai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusannya.”

Mendengar hal tersebut aku bergegas kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku menemui beliau dalam keadaan menangis karena begitu gembira. Kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, bergembiralah. Sungguh Allah telah mengabulkan doamu dan telah memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah.” Mendengar hal tersebut beliau memuji Allah dan menyanjungnya lalu berkata, “Bagus.” Lantas kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, doakanlah aku dan ibuku agar menjadi orang yang dicintai oleh semua orang yang beriman dan menjadikan kami orang yang mencintai semua orang yang beriman.” Beliau pun mengabulkan permintaanku. Beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini yaitu Abu Hurairah dan ibunya orang yang dicintai oleh semua hambaMu yang beriman dan jadikanlah mereka berdua orang-orang yang mencintai semua orang yang beriman”. Karena itu tidak ada seorang pun mukmin yang mendengar tentang diriku ataupun melihat diriku kecuali akan mencintaiku. (HR Muslim, no. 6551)

Faedah Hadits:

1. Dakwah penting juga pada keluarga terdekat.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﺃَﻧْﺬِﺭْ ﻋَﺸِﻴﺮَﺗَﻚَ ﺍﻟْﺄَﻗْﺮَﺑِﻴﻦَ

“ Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat .” (QS. Asy-Syu’araa: 214)

2. Dakwah kadang mendapatkan cacian bahkan dari keluarga dekat.

3. Perlu sabar dalam menyampaikan dakwah.

4. Tetap berdakwah kepada keluarga non-muslim.

5. Boleh tawassul dengan meminta doa pada orang shalih yang masih hidup.

6. Keutamaan Abu Hurairah dan doa baik Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam padanya, begitu pula doa baik untuk ibunya dari beliau.

7. Tak boleh putus asa dalam berdakwah, suatu saat nanti akan terbuka pintu hidayah.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Syahadatnya Orang Kantoran,,,,

“Syahadat yang terucap di lidahnya memang ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah, tapi persaksian yang muncul dari perilakunya justru Asyhadu an laa ilaaha illa- uang, illa- bos, illa-atasan , illa- kebijakan perusahaan, illa- pangkat, illa-

popularitas.”

Syahadat, begitu sulitkah mempertahankannya?

Jika pengucapannya hanya dilisan, mungkin mudah. Namun permasalahannya adalah sejauh mana pemahaman kita mengenal makna kalimat syahadat. Di zaman Rasulullah SAW, masyarakat Arab paham betul makna syahadat. Sehingga ketika Rasulullah mengumpulkan pemimpin-pemimpin Quraisy dari kalangan Bani Hasyim, Rasulullah bertanya, “Wahai saudaraku, maukah kalian aku beri kalimat, di mana dengan kalimat itu kalian dapat menguasai seluruh jazirah Arab?” Dengan tegas Abu Jahal menjawab, “ Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat pun aku terima.”

Kemudian Rasulullah bersabda, “Ucapkanlah Laa ilaaha illallah Muhammadan Rasulullah.” Bagaimana reaksi Abu Jahal setelah mendengar kalimat itu? “Kalau itu kalimat yang engkau minta, berarti engkau telah mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.”

Abu Jahal paham betul tentang makna syahadat. Ia paham bahwa ketika ia bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat, konsekuensinya ia harus menerima segala aturan yang ditetapkan dalam Islam. Maka dengan tegas Abu Jahal menolaknya.

Abu Jahal, sang penentang dakwah, bukanlah orang bodoh di zamannya. Bahkan Abu Jahal adalah satu di antara sedikit penduduk Makkah yang pandai baca tulis. Ia fasih dalam sastra, banyak harta, hidup elegan, dan berotak cerdas. Namun karena pengingkarannya kepada Allah, semua kelebihannya itu sama sekali tak bermakna. Bahkan ketika ia menyombongkan diri sebagai ‘aziizul kariim , orang perkasa lagi mulia, Allah justru menyerahkan kematiannya kepada dua bocah Anshar ‘ingusan’ dan Abdullah bin Mas’ud, gembala yang dulu sering dihajarnya. Di akhirat, Allah memberi hidangan zaqqum di jahannam, seraya memfirmankan ejekan kepadanya seperti yang diabadikan dalam surah Ad-Dukhan ayat 49, “ Rasakanlah, sesungguhnya kamu ini orang yang “perkasa” lagi “mulia”.

Syahadatlah yang telah dipertahankan oleh Bilal ibn Rabah meski kulitnya dibakar diteriknya padang pasir, meski tubuhnya disiksa dengan tindihan batu, imannya tak goyah. Tak pernah sudi ia mengucap Latta Uzza sebagai Tuhan. Ia tetap mempertahankan imannya meski tubuhnya begitu lemah hingga yang keluar dari lisannya hanyalah kata

“Ahad…Ahad…”

Syahadatlah yang dipertahankan oleh Khabab ibn Al Arats, pandai besi yang pernah dipanggang hingga cairan tubuhnya keluar memadamkan bara api. Syahadatlah yang membuat Syuhaib dengan ringan meninggalkan usaha yang telah dirintisnya dari nol sebagai imigran di Makkah. Ia dengan ikhlas berhijrah bersama Rasulullah SAW.

Laa ilaaha illallah…

Ilah bermakna sesuatu yang dianggap penting atau sesuatu yang dipentingkan oleh manusia sehingga manusia rela dikuasainya. Jika manusia lebih mementingkan harta meski melanggar aturanNya, harta itulah ilah -nya. Ketika manusia lebih mengutamakan kedudukan, maka kedudukan itulah

ilah -nya.

Ilah juga bermakna sesuatu yang dicintai. Ketika manusia lebih mencintai anak istri dan keluarganya di atas kecintaannya kepada Allah, mereka itulah ilah-nya. Ingatlah bagaimana cara Sa’d ibn Abi Waqqash menghentikan mogok makan yang dilakukan oleh ibundanya. “Bua, seandainya ibu memiliki seratus nyawa, dan ia keluar satu persatu di hadapanku untuk memaksaku meninggalkan keyakinanku ini, tidak sekalipun aku akan meninggalkan agama ini selamanya.”

Begitu berat memang membuktikan syahadat yang kita ucapkan. Karena ganjaran yang diberikan kepada manusia yang rela menetapi syahadatnya amatlah agung yaitu surga.

Asyhadu an laa ilaaha illa…???

Memang saat ini menjadi hal yang mudah bagi kita untuk mengucapkan syahadat. Tapi tak jarang syahadat itu hanya terlintas di bibir tanpa pernah menggetarkan dinding nurani yang sebenarnya lebih butuh getarannya. Kita mudah sekali berkata, Asyhadu an laa ilaaha illallah, tapi perilaku kita sehari-hari tak jarang bertentangan dengan apa yang kita ucapkan.

Seorang pelajar atau mahasiswa tak segan-segan melakukan kecurangan saat ujian. Seolah tanpa rasa berdosa membawa kertas contekan atau melihat jawaban teman di sebelahnya. Mereka tahu bahwa Tuhan memerintahkan mereka untuk berlaku jujur. Mereka tahu bahwa berbuat curang itu melanggar laranganNya. Tapi mereka yang mungkin saja tiap tahiyat selalu melantunkan kalimat syahadat, selalu mengatakan bahwa ia bersaksi bahwa tiada sesembahan yang layak disembah selain Allah, tapi perilakunya menunjukkan mereka tak takut melawan perintahNya. Lidahnya bersaksi tiada Tuhan yang layak disembah, dipatuhi, dicintai, diutamakan, tapi kenyataannya mereka dengan berani melanggar apa yang dilarangNya. Mereka lebih takut dapat nilai buruk daripada takut kepada Allah. Mereka lebih mengutamakan lulus ujian daripada Allah. Mereka lebih malu kepada guru atau dosen mereka daripada malu kepada Allah. Apa yang terucap dari lisannya tak jarang bertentangan dengan apa yang tampak dari perilakunya sehari-hari. Lisannya bisa saja mengucap dengan tegas, Asyhadu an laa ilaaha illallah , tapi perilakunya seolah berucap, Asyhadu an laa ilaaha illa lulus ujian , nilai A, nilai seratus. Lidahnya bisa saja mengucap tiada tuhan yang layak disembah, diutamakan, kecuali Allah, tapi dengan jelas sikapnya mengatakan tiada tuhan yang layak disembah, diutamakan, selain prestasi akademis, ijazah, juara kelas, gelar sarjana.

Seorang karyawan lebih takut kepada atasannya daripada kepada Tuhannya. Ketika ia tahu bahwa apa yang dilakukannya dan diperintahkan oleh Allah, ia hanya bisa bungkam. Ia hanya bisa patuh. Karena risiko dipecat lebih ia takuti daripada risiko akhirat yang akan ia tanggung. Ketika ia tahu bahwa kebijakan perusahaannya akan merugikan banyak pihak, ia tak berani membantah. Ketika ia tahu tindakan yang dilakukan perusahaannya adalah bentuk kezaliman, ia tak berani berkutik. Ia hanya manggut-manggut atas segala yang diputuskan atasan. Ia hanya memilih menjalankan apa yang telah diperintahkan kepadanya, meskipun harus mendustai nuraninya, melanggar perintah Tuhannya, melawan aturan agamanya. Ia tak peduli apakah yang dilakukan oleh perusahaannya itu akan merampas hak orang lain. ia acuh tak acuh apakah yang dilakukan perusahaannya itu menindas kaum yang lemah. Yang ia tahu, ia harus patuh pada atasannya. Syahadat yang terucap di lidahnya memang Asyhadu an laa ilaaha illallah, tapi persaksian yang muncul dari perilakunya adalah Asyhadu an laa ilaaha illa bos, illa atasan, illa kebijakan perusahaan. Lidahnya bisa saja mengucap tiada tuhan yang layak disembah, diutamakan, diprioritaskan, kecuali Allah, tapi sikapnya seolah mengatakan tiada tuhan yang layak disembah, diutamakan, dipentingkan, selain keuntungan perusahaan, selain perintah bos, perintah atasan.

Para abdi negara pun dengan mudah bersaksi Asyhadu an laa ilaaha illallah , tapi persaksian yang muncul dari perilakunya tak jarang Asyhadu an laa ilaaha illa jabatan, illa uang, illa selamet korupsinya. Ia rela mengorbankan hak rakyat demi menggendutkan perutnya. Ia rela mengorup uang rakyat yang memilihnya demi memenuhi mulut rakusnya. Ia rela mengambil kebijakan-kebijakan bejat yang bukannya menyejahterakan, malah menindas dan menyengsarakan rakyat. Ia tak segan-segan memperjual-belikan keadilan, memakelarkan kebijakan, melacurkan undang-undang. Bahkan tak jarang rasa malunya pun digadaikan demi melayani kepentingan koalisinya, kepentingan kelompoknya, kepentingan partainya. Tak usah bingung menyaksikan wakil rakyat adu jotos, saling lempar buku, palu, kursi, mikrofon. Tak pedulu ratusan juta rakyat yang diwakilinya sedang bertepuk tangan dan menertawakannya di depan layar televisi. Mari kita maklumi sikap mereka. Karena mereka telah membarter rasa malunya dengan uang, jabatan, kepentingan, kekuasaan.

Asyhadu an laa ilaaha illallah bukan hanya di lisa, tapi justru penjelmaan kalimat itu di perilaku keseharian, itu yang utama. Andaikan syahadat hanya untuk diucap lisan, cukuplah anak TK atau anak-anak yang masih bermain di playgroup bisa mengucapkannya dengan fasih. Andaikan untuk berIslam hanya dibutuhkan persaksian lisan, burung beo pun bisa-bisa punya kesempatan jadi muslim. Ber-Islam-lah secara kaffah , menyeluruh. Jika syahadat telah kita ucap, perilaku sehari-hari layaklah untuk segera kita benahi.

Hati ini Untuk Siapa,,,

Siapakah diri ini?
Kemanakah hati ini berlabuh?

Kepada siapakah hati ini berpihak?

Dimanakah hati ini bermukim?

Apakah diri ini tergolong kepada manusia yang bersegera?

Apakah diri ini tergolong kepada manusia yang menunda-nunda?

Apakah hati ini condong kepada kekafiran?

Laa ilaaha ilallah,,,

Mengapa kafir Quraisy begitu memerangi Rasulullah SAW yang membawa kalimat tauhid ini? beliau begitu ditentang habis-habisan. Kaum kafir rela mengorbankan harta, tenaga dan nyawa agar kalimat ini tidak tegak di bumi Mekkah? Mengapa paman Nabi, Abu Thalib yang hingga akhir hayatnya, tetap tidak bersedia bersyahadat meski selama hidupnya ia teguh membela dan melindungi Rasulullah?

Wahai sekalian manusia, ucapkanlah Laa ilaaha illallah, kalian akan mendapat kesuksesan. (HR. Ahmad 16023, Ibnu Hibban 6562 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Apa susahnya bagi mereka sekedar mengucapkan kalimat tauhid ini? karena kaum kafir quraisy sangat memahami makna kalimat ini. mereka paham akan setiap arti suku kata kalimat Laa ilaaha illallah. Mereka juga paham akan konsekuensi ketika mereka mengucapkannya. Dan mereka sadar, kalimat ini sangat bertentangan dengan keyakinan mereka. Laa ilaaha illallah tidak hanya bermakna;

Tidak ada yang berkuasa selain Allah,

Tidak ada wujud yang haqiqi selain Allah,

Tidak ada pengatur alam semesta selain Allah,

Tidak ada penguasa abadi selain Allah.

Banyak pemuja kubur, pelaku perdukunan dan klenik, sampai pecandu kejawen, mereka kekeuh menolak untuk disebut melakukan kesyirikan, karena mereka masih meyakini bahwa yang kuasa hanyalah Allah. Selama kami meyakini bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta, yang memberi rizki hanya Allah, yang menciptakan dan menghidupkan hanya Allah, maka kami masih berpegang dengan Laa ilaaha illallah.

Subhanallah,,,,

Andai mereka berada di zaman Nabi, mungkin semua sahabat akan menyebutnya orang munafik. Mengaku muslim, tapi perbuatannya tidak berbeda dengan orang musyrik. Meskipun mereka shalat, mereka puasa, bahkan haji, namun ketika mereka memberikan satu peribadatan saja kepada selain Allah, berarti amal mereka menyimpang dari kalimat tauhid.

Yang kedua, justru kebalikannya. Yang penting laa ilaaha illallah ada di hati, namun sama sekali tidak pernah beramal. Tidak shalat, tidak puasa, tidak peduli dengan agamanya. Kasus semacam ini pernah terjadi di zaman ulama Tabiin Wahb bin Munabbih (w. 114 H). Ada seseorang yang bertanya kepada beliau,

“Bukankah laa ilaaha illallah adalah kunci surga.”

Maksud orang ini, yang penting orang sudah mengucapkan laa ilaaha illallah , dia terjamin masuk surga, sekalipun dia tidak beramal.

Kemudian dijawab oleh Imam Wahb bin Munabih,

“Benar, laa ilaaha illallah adalah kunci surga. Namun bukankah setiap kunci harus punya gigi. Jika kamu membawa kunci yang ada giginya, dibukakan surga untukmu, jika tidak ada giginya, tidak dibukakan surga untukmu. ” (HR. Bukhari secara Muallaq sebelum hadis no. 1237 dan disebutkan Abu Nuaim secara Maushul dalam al-Hilyah 4/66) .

Maka, makna yang benar telah dijelaskan di dalam Al-Quran

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil” (QS. al-Hajj : 62)

Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.

“Disembah”

Maka, seluruh perintah Allah,,,Ya, keseluruhan perintah Allah dalam Al-Quran wajib diikuti, ditaati, dilaksanakan. Dan, seluruh laranganNya, wajib ditinggalkan.

Ketika ada pertanyaan “kenapa kamu mengenakan jilbab?”, jawabannya; ini perintah Allah. Bukan karena ingin cantik, ingin terhindar dari godaan lelaki, disuruh, dan alasan lainnya.

Ketika ada pertanyaan “kenapa kamu tidak memakan babi?”, jawabannya; ini perintah Allah. Bukan karena babi mengandung penyakit ini, penyakit itu, bakteri ini bakteri itu.

Ketika ada pertanyaan “kenapa kamu mau berlelah lelah membela agama Islam, berdakwah?” jawabannya; ini perintah Allah. Bukan karena lulusan pesantren atau ingin menjadi ustadz ataupun ustadzah.

Dan surga adalah tempat terbaik bagi kita yang menjalankannya. InsyaAllah,,,

Apakah hati ini condong kepada kefasikan?

Fasik artinya keluar dari ketaatan kepada-Nya dan tidak mengikuti perintahnya. (Tafsir At-Thabari, 1 : 409).

“Kecuali iblis ((tidak mau sujud), dia termasuk golongan jin, dan dia berbuat fasik terhadap perintah Tuhannya.” (Q.S. Al Kahfi : 50)

Fasik ada dua:

– Fasik besar, yaitu kufur

– Fasik kecil

“Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama. (18) Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. (19) Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya. ” (QS. As-Sajdah: 18 – 20)

Fasik disini bermakna kekafiran, karena Allah kontraskan dengan iman dan diberi ancaman dengan siksa abadi di neraka.

Sedangkan fasik kecil, adalah perbuatan kefasikan yang tidak sampai pada derajat kekafiran. Misalnya firman Allah:

“,,, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus .” (QS. Al-Hujurat: 7)

Allah dalam ayat ini menyebutkan kekafiran, kemudian kefasikan, dan maksiat. Artinya tiga hal ini berbeda. Dan kefasikan dalam ayat ini adalah fasik kecil, artinya bukan kekufuran. Dosa-dosa besar yang tidak pernah ditaubatiu, serta dosa-dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus hingga jadi kebiasaan merupakah benih-benih kefasikan. Naudzubillah,,,

Dan hati itu adalah segumpal daging, yang tak seorangpun mengetahui isinya.

Namun, Allah akan memperlihatkan kepada dunia.

Mana hati yang benar-benar bertaqwa,,,

Mana hati yang benar-benar mencintaiNya,,,

Mana hati yang selalu mengingatNya,,,

Mana hati yang bersegera dalam bertaubat,,,

Mana hati yang memilih kekafiran,,,

Mana hati yang memilih kefasikan,,,

Mana hati yang dekat dengan maksiat,,,

Mana hati yang munafik,,,

Ketika Allah turunkan ujian, cobaan, sakit, derita, nestapa, dan kehancuran negeri, maka Allah sedang menyaring hati-hati kita. Siapakah kita? Dimanakah hati kita berlabuh?

Dan Allah berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah 208)

Semoga diri ini senantiasa tergolong ke dalam orang-orang yang berfastabiqul Khairat untuk berislam secara keseluruhan , baik hati, akal, pemikiran, pakaian, ucapan, tindakan, akhlak, dan perbuatan.

Wallahu a’lam.

Islam, Iman dan Ihsan

Tingkatan Dalam Islam yaitu : Islam, Iman dan Ihsan

 

Pembaca yang budiman, di kalangan tarekat sufi sangat terkenal adanya pembagian agama menjadi 3 tingkatan yaitu: Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat. Orang/wali yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat sudah tidak lagi terbebani aturan syari’at; sehingga dia tidak lagi wajib untuk sholat dan bebas melakukan apapun yang dia inginkan… demikianlah sebagian keanehan yang ada di seputar pembagian ini. Apakah pembagian semacam ini dikenal di dalam Islam?

Islam Mencakup 3 Tingkatan

Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah didatangi malaikat Jibril dalam wujud seorang lelaki yang tidak dikenali jatidirinya oleh para sahabat yang ada pada saat itu, dia menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman dan Ihsan. Setelah beliau menjawab berbagai pertanyaan Jibril dan dia pun telah meninggalkan mereka, maka pada suatu kesempatan Rosululloh bertanya kepada sahabat Umar bin Khoththob, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ?” Maka Umar menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya lah yang lebih tahu”. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya dia itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh mengatakan: Di dalam (penggalan) hadits ini terdapat dalil bahwasanya Iman, Islam dan Ihsan semuanya diberi nama ad din/agama (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 23). Jadi agama Islam yang kita anut ini mencakup 3 tingkatan; Islam, Iman dan Ihsan.

Tingkatan Islam

Di dalam hadits tersebut, ketika Rosululloh ditanya tentang Islam beliau menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang haq) selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, engkau dirikan sholat, tunaikan zakat, berpuasa romadhon dan berhaji ke Baitulloh jika engkau mampu untuk menempuh perjalanan ke sana”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini ialah bahwa Islam itu terdiri dari 5 rukun (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 14). Jadi Islam yang dimaksud disini adalah amalan-amalan lahiriyah yang meliputi syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.

Tingkatan Iman

Selanjutnya Nabi ditanya mengenai iman. Beliau bersabda, “Iman itu ialah engkau beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir dan engkau beriman terhadap qodho’ dan qodar; yang baik maupun yang buruk”. Jadi Iman yang dimaksud disini mencakup perkara-perkara batiniyah yang ada di dalam hati. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah pembedaan antara islam dan iman, ini terjadi apabila kedua-duanya disebutkan secara bersama-sama, maka ketika itu islam ditafsirkan dengan amalan-amalan anggota badan sedangkan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan hati, akan tetapi bila sebutkan secara mutlak salah satunya (islam saja atau iman saja) maka sudah mencakup yang lainnya. Seperti dalam firman Alloh Ta’ala, “Dan Aku telah ridho Islam menjadi agama kalian.” (Al Ma’idah : 3) maka kata Islam di sini sudah mencakup islam dan iman… (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 17).

Tingkatan Ihsan

Nabi juga ditanya oleh Jibril tentang ihsan. Nabi bersabda, “Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah penjelasan tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu: menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 21). Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.

Bagaimana Mengkompromikan Ketiga Istilah Ini?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan yang maknanya, Bila dibandingkan dengan iman maka Ihsan itu lebih luas cakupannya bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada iman bila ditinjau dari orang yang sampai pada derajat ihsan. Sedangkan iman itu lebih luas daripada islam bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada islam bila ditinjau dari orang yang mencapai derajat iman. Maka di dalam sikap ihsan sudah terkumpul di dalamnya iman dan islam. Sehingga orang yang bersikap ihsan itu lebih istimewa dibandingkan orang-orang mu’min yang lain, dan orang yang mu’min itu juga lebih istimewa dibandingkan orang-orang muslim yang lain… (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 63)

Muslim, Mu’min dan Muhsin

Oleh karena itulah para ulama’ muhaqqiq/peneliti menyatakan bahwa setiap mu’min pasti muslim, karena orang yang telah merealisasikan iman sehingga iman itu tertanam kuat di dalam hatinya pasti akan melaksanakan amal-amal islam/amalan lahir. Dan belum tentu setiap muslim itu pasti mu’min, karena bisa jadi imannya sangat lemah sehingga hatinya tidak meyakini keimanannya dengan sempurna walaupun dia melakukan amalan-amalan lahir dengan anggota badannya, sehingga statusnya hanya muslim saja dan tidak tergolong mu’min dengan iman yang sempurna. Sebagaimana Alloh Ta’ala telah berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu mengatakan ‘Kami telah beriman’. Katakanlah ‘Kalian belumlah beriman tapi hendaklah kalian mengatakan: ‘Kami telah berislam’.” (Al Hujuroot: 14). Dengan demikian jelaslah sudah bahwasanya agama ini memang memiliki tingkatan-tingkatan, dimana satu tingkatan lebih tinggi daripada yang lainnya. Tingkatan pertama yaitu islam, kemudian tingkatan yang lebih tinggi dari itu adalah iman, kemudian yang lebih tinggi dari tingkatan iman adalah ihsan (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 64)

Kesimpulan

Dari hadits serta penjelasan di atas maka teranglah bagi kita bahwasanya pembagian agama ini menjadi tingkatan Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat tidaklah dikenal oleh para ulama baik di kalangan sahabat, tabi’in maupun tabi’ut tabi’in; generasi terbaik ummat ini. Pembagian yang syar’i adalah sebagaimana disampaikan oleh Nabi yaitu islam, iman dan ihsan dengan penjelasan sebagaimana di atas. Maka ini menunjukkan pula kepada kita alangkah berbahayanya pemahaman sufi semacam itu. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa mencapai keridhoan Alloh Ta’ala kalau cara beribadah yang mereka tempuh justeru menyimpang dari petunjuk Rosululloh ? Alangkah benar Nabi yang telah bersabda, “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim). Barangsiapa yang ingin mencapai derajat muhsin maka dia pun harus muslim dan mu’min. Tidak sebagaimana anggapan tarekat sufiyah yang membolehkan orang yang telah mencapai Ma’rifat untuk meninggalkan syari’at. Wallohu a’lam.

 

Atas Nama Cinta

ATAS NAMA CINTA

ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠّﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﻌﺪ

Saudaraku yang dirahmati oleh Allãh Subhânahu wa Ta’âla,

Apabila saya bertanya kepada Anda:

“Apakah Anda mencintai Allāh dan Rasul-Nya?”

Saya pastikan Anda akan mengatakan:

“Ya, saya mencintai Allāh dan Rasul-Nya.”

Bukankah cinta itu butuh pembuktian?

Dan salah satu pembuktian, benar atau tidaknya kita mencintai Allāh dan Rasul-Nya adalah apa yang dikatakan oleh ‘Abdullāh bin Mas’ūd radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu.

Beliau pernah menyatakan:

“Barangsiapa yang ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka tanya kepada dirinya; seperti apa ia memperlakukan Al Qurānul Karīm.”

⇒ Seperti apa ketertarikannya dengan Al Qurānul Karīm?

⇒ Sebanyak apa ayat yang ia baca?

⇒ Dan seberapa besar animonya dalam mempelajari tafsir dari ayat-ayat tersebut?

Dan begitu juga:

“Barangsiapa ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka coba tanya dirinya; sedalam apa ambisinya utuk mempelajari hadits-hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. ”

⇒ Semenarik apa hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu di matanya?

Mungkin anda bertanya, “Apa korelasinya?”

Saya akan memberikan analogi sederhana tentang masalah ini.

Misalnya:

Apabila seseorang mendapatkan pesan dari orang yang ia cintai yang sedang tinggal di luar daerahnya atau sedang dinas di kota lain, kemudian ia mendapatkan SMS atau pesan singkat yang lain.

Pertanyaan saya:

“Apakah ia langsung antusias dan membacanya?

Atau akan ia pending, mungkin 3 minggu lagi kalau ingat, baru ia buka pesan itu?”

“Bagaimana perasaan seorang ibu atau seorang ayah, ketika anaknya yang ia cintai & rindukan sedang studi di luar negri, lalu anak itu menyampaikan pesan kepadanya.

Apakah dia akan langsung membacanya?

Atau dia akan pending dan kalau dia ingat baru ia buka pesan dari anaknya tersebut?”

Saya rasa kita semua sepakat jawabannya:

“Dia akan langsung membuka, membaca dan akan langsung menikmati pesan dari orang yang ia cintai tersebut.”

Seorang ibu ketika mendapatkan pesan singkat dari anaknya dia langsung buka pesannya.

Seorang istri ketika mendapatkan email dari suaminya dia akan buka email tersebut.

Kenapa?

Karena mereka mencintai orang yang menulis surat itu kepadanya.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Itulah yang dilakukan seseorang atas nama cinta.

Lalu, mari kita tanya diri kita:

“Apakah Allāh pernah memberikan pesan kepada kita?

Dan pernahkah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan pesan kepada kita?”

Jawabannya, “Banyak.”

Bukankah ayat Al Qurān adalah pesan-pesan Allāh kepada kita?

Dan bukankah hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah pesan-pesan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada kita?

Maka apabila kita benar-benar mencintai Allāh dan Rasul-Nya, maka pasti kita akan tertarik membaca pesan-pesan tersebut.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Coba kita kembangkan analogi di atas.

Apabila pasangan kita sedang bekerja di Timur Tengah, lalu dia menulis surat dengan bahasa Arab.

Ketika kita buka email atau pesan tersebut, kita tidak paham apa makna dari kata demi kata tersebut.

Apakah kita pasrah?

Atau kita akan cari orang yang bisa men-translate (menterjemahkan) agar kita mengerti apa maksud dari bahasa atau pesan dengan bahasa Arab itu?

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Pesan Allāh dan Nabi-Nya shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan bahasa Arab.

Ketika kita membaca:

ﺇِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺇِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌِﻴﻦُ

Lalu kita tidak paham maknanya apakah kita akan pasrah?

Atau kita cari orang yang bisa menjelaskan dan menafsirkan “Iyyāka na’ budu wa iyyāka nasta’īn” ?

Ketika kita membaca:

ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ، ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟﺼَّﻤَﺪُ

Lalu kita tidak paham apa itu “Ash Shamad”, apa itu “Qul huwallāhu ahad”, apakah atas nama cinta kita akan pasrah?

Atau kita akan berusaha mencari makna dan tafsir dari ayat tersebut?

Terapkanlah demikian.

Orang yang sedang jatuh cinta punya tabiat ingin mengetahui segala hal dari orang yang ia cintai.

Bagaimana dengan orang yang jatuh cinta dengan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam?

Tidakkah ia penasaran dengan apa yang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam suka dan apa yang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam benci?

◆ Apa yang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam suka adalah perintah-perintahnya dan apa yang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam benci adalah larangan-larangannya.

Ketika kita mencintai Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tidakkah kita ingin tahu apa yang Allāh suka dan apa yang Allāh benci?

◆ Apa yang Allāh suka adalah perintah-Nya dan yang Allāh benci adalah larangan-larangan-Nya.

Kalau kita tidak punya ketertarikan, tidak punya rasa penasaran, kita tidak tertarik untuk membaca pesan dan mempelajari hal-hal itu semua, maka:

“Kita tidak cinta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan Rasul-Nya shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Ingat kembali perkataan Ibnu Mas’ūd di atas:

◆ Barangsiapa yang ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka tanya kepada dirinya seperti apa ia memperlakukan Al Qurānul Karīm.

ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠّﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪcita-cita

Fungsi dakwah

Kita memahami bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Otomatis, Islam tidak hanya memberikan kebaikan kepada umat Islam, tetapi kepada seluruh manusia, termasuk juga alam semesta. Islam semestinya mampu menjadi ‘solver problem’, inspirator dan motivator yang memiliki tujuan untuk menciptakan masyarakat ideal. Dakwah adalah ajakan kepada manusia untuk melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
ﻭَﺟَﺎﻫِﺪُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺟِﻬَﺎﺩِﻩِ ۚ ﻫُﻮَ ﺍﺟْﺘَﺒَﺎﻛُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺝٍ ۚ ﻣِﻠَّﺔَ ﺃَﺑِﻴﻜُﻢْ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ۚ ﻫُﻮَ ﺳَﻤَّﺎﻛُﻢُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞُ ﻭَﻓِﻲ ﻫَٰﺬَﺍ ﻟِﻴَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﺷَﻬِﻴﺪًﺍ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ۚ ﻓَﺄَﻗِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﺁﺗُﻮﺍ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﺍﻋْﺘَﺼِﻤُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻫُﻮَ ﻣَﻮْﻟَﺎﻛُﻢْ ۖ ﻓَﻨِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟَﻰٰ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴﺮُ ‏( ﺍﻟﺤﺞ 78 : )

Artinya : “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Al-Hajj [22] : 78).
Manusia membutuhkan dakwah untuk menuntun hidupnya sesuai dengan ajaran yang telah dibawa Nabi Muhammad SAW. Dakwah merupakan bagian dari jihad. Artinya, dakwah harus menggunakan segenap kemampuan yang dimiliki. Hal ini yang menyebabkan dakwah bukanlah hal yang mudah. Allah Subhanallahu Wa Ta’ala berfirman : ﺍﻧْﻔِﺮُﻭﺍ ﺧِﻔَﺎﻓًﺎ ﻭَﺛِﻘَﺎﻟًﺎ ﻭَﺟَﺎﻫِﺪُﻭﺍ ﺑِﺄَﻣْﻮَﺍﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺫَٰﻟِﻜُﻢْ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏( ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ 41 : )

Artinya : “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

Fungsi Dakwah Berdakwah memiliki beberapa fungsi, antara lain :

1. Untuk menyebarkan agama Islam kepada manusia sebagai individu dan masyarakat sehingga meratalah Islam sebagai Rahmatan lil’alamin.

2. Melestarikan nilai-nilai Islam dari generasi ke generasi kaum muslimin berikutnya, sehingga keberlangsungan ajaran Islam beserta pemeluknya dari generasi berikutnya tidak terputus.

3. Meluruskan akhlak yang bengkok, mencegah kemungkaran, dan mengeluarkan manusia dari kegelapan rohani.

4. Menyerukan kepada orang non-muslim untuk masuk Islam.

5. Menyerukan agar orang Islam menegakkan hukum Islam secara total.

6. Menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran yang meliputi segala kemaksiatan baik yang dilakukan oleh pribadi maupun kelompok.

7. Membentuk individu dan masyarakat yang menjadikan Islam sebagai pegangan dan pandangan hidup di dalam kehidupannya.

Selain fungsi-fungsi yang tersebut di atas, dakwah juga memiki berbagai keutamaan, yaitu :

1. Dakwah Adalah Muhimmatur Rusul (Tugas Utama Para Rasul ‘Aliahimussalam) Para Rasul ‘alaihimussalam adalah orang yang diutus oleh Allah SWT untuk melakukan tugas utama mereka yakni berdakwah. Keutamaan dakwah terletak pada disandarkannya kerja dakwah ini pada manusia yang paling utama dan mulia yaitu Rasulullah SAW dan saudara-saudara beliau para nabi dan rasul ‘alaihimussalam.
ﻗﻞ ﻫﺬﻩ ﺳﺒﻴﻠﻲ ﺍﺩﻋﻮﺍﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺑﺼﻴﺮﺓ ﺃﻧﺎ ﻭ ﻣﻦ ﺍﺗﺒﻌﻨﻲ ﻭ ﺳﺒﺤﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻣﺎ ﺃﻧﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ‏( ﻳﻮﺳﻮﻑ : 108 ) Artinya : “katakanlah (Muhammad) : “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik”. (Yusuf [12] : 108)
Ayat diatas menjelaskan jalan Rasulullah SAW dan para pengikut beliau yakni jalan dakwah. Maka barangsiapa yang mengaku sebagai pengikut beliau SAW, maka dia harus terlibat dalam dakwah sesuai kemampuannya masing-masing.

2. Dakwah adalah Ahsanul A’mal (Amal yang terbaik) Dakwah adalah amal yang terbaik, karena dakwah memelihara amal islami dalam pribadi dan masyarakat. Membangun potensi dan memelihara amal shalih adalah amal dakwah, sehingga dakwah merupakan aktivitas dan amal yang mempunyai peranan penting di dalam menegakkan Islam. Tanpa dakwah ini maka amal shalih tidak akan berlangsung.
ﻭﻣﻦ ﺃﺣﺴﻦ ﻗﻮﻻ ﻣﻤﻦ ﺩﻋﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﻤﻞ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺇﻧﻨﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ‏( ﻓﺼﻠﺖ 33 : ) Artinya : “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata “sungguh aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)”. (Fushshilat [41] : 33) Bagaimana tidak akan menjadi ucapan dan pekerjaan terbaik? Sementara dakwah adalah pekerjaan makhluk terbaik yakni para nabi dan rasul ‘alaihimussalam.

3. Para Da’i Akan Memperoleh Balasan Yang Besar Dan Berlipat Ganda (Al-Hushulu ‘Ala Al-Ajri Al-‘Adzim) Sabda Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib : “Demi Allah, sesungguhnya Allah SWT menunjuki seseorang dengan (dakwah)mu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah”. (Bukhari, Muslim & Ahmad) Hadits ini menunjukkan bahwa usaha seorang da’i menyampaikan hidayah kepada seseorang adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah SWT, lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan merah miliknya. Rasulullah SAW bersabda : “sesunguhnya Allah SWT memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi sampai semut-semut dilubangnya dan ikan-ikan selalu mendo’akan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”. (HR.Tirmidzi dari Abu Umamah al Bahili). Keagungan balasan bagi orang berdakwah tidak hanya pada besarnya balasan untuknya tetapi juga karena terus menerusnya ganjaran itu mengalir kepadanya meskipun ia telah wafat.

4. Dakwah Dapat Menyelamatkan Kita Dari Adzab Allah ( An-Najatu Minal ‘Adzab ) Dakwah yang dilakukan oleh seorang da’i akan membawa manfaat bagi dirinya sebelum manfaat itu dirasakan oleh orang lain yang menjadi objek dakwah. Manfaat itu antara lain adalah terlepasnya tanggung jawabnya dihadapan Allah SWT sehingga ia terhindar dari adzab Allah. Dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar adalah kontrol sosial yang harus dilakukan oleh kaum muslimin agar kehidupan ini selalu didominasi oleh kebaikan. Kebatilan yang mendominasi kehidupan akan menyebabkan turunnya adzab Allah SWT.

5. Dakwah Adalah Jalan Menuju Khairu Ummah ( Umat Terbaik) Rasulullah SAW berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik sepanjang sejarah dengan dakwah beliau. Dakwah secara umum dan pembinaan kader secara khusus adalah jalan satu-satunya menuju terbentuknya khairu ummah seperti yang kita harapkan. Rasulullah SAW melakukan tarbiyah mencetak kader-kader dakwah di kalangan sahabat beliau. Jalan yang ditempuh Rasulullah ini adalah jalan yang harus kita tempuh juga untuk mengembalikan kejayaan umat. Umat Islam harus memainkan peran dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar dalam setiap keadaan baik ketika memperjuangkan terbentuknya khairu ummah maupun ketika cita-cita khairu ummah itu telah terwujud. Allah SWT berfirman : ﻛﻨﺘﻢ ﺧﻴﺮ ﺃﻣﺔ ﺃﺧﺮﺟﺖ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺗﺄﻣﺮﻭﻥ ﺑﺎ ﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﺗﻨﻬﻮﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻭ ﺗﺆﻣﻨﻮﻥ ﺑﺎ ﻟﻠﻪ …. ﺍﻷﻳﺔ ‏( ﺍﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ : 110 ) Artinya : “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (Ali Imron [3] : 110)

Dengan melaksanakan dakwah berarti seorang da’i dengan dakwahnya sedang menjalani hidupnya dengan kehidupan rabbaniyah yakni kehidupan yang selalu berorientasi kepada Allah SWT dan kehidupan yang selalu diisi dengan belajar Al-Quran yang menjadi sumber kebaikan dan mengajarkannya kepada orang lain. Dengan selalu berdakwah di jalan Allah SWT seorang da’i telah menjadikan hidupnya penuh keberkahan dengan kebaikan yang melimpah dari Allah SWT. Demikian Ibnu Qoyyim melihat keberkahan dalam kehidupan seseorang ditentukan oleh aktivitas memberi manfaat kepada orang lain melalui dakwah dan kebaikan yang disebarkan demi meninggikan kalimat Allah SWT. Wallahu a’lam