Arsip

Islam, Iman dan Ihsan

Tingkatan Dalam Islam yaitu : Islam, Iman dan Ihsan

 

Pembaca yang budiman, di kalangan tarekat sufi sangat terkenal adanya pembagian agama menjadi 3 tingkatan yaitu: Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat. Orang/wali yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat sudah tidak lagi terbebani aturan syari’at; sehingga dia tidak lagi wajib untuk sholat dan bebas melakukan apapun yang dia inginkan… demikianlah sebagian keanehan yang ada di seputar pembagian ini. Apakah pembagian semacam ini dikenal di dalam Islam?

Islam Mencakup 3 Tingkatan

Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah didatangi malaikat Jibril dalam wujud seorang lelaki yang tidak dikenali jatidirinya oleh para sahabat yang ada pada saat itu, dia menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman dan Ihsan. Setelah beliau menjawab berbagai pertanyaan Jibril dan dia pun telah meninggalkan mereka, maka pada suatu kesempatan Rosululloh bertanya kepada sahabat Umar bin Khoththob, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ?” Maka Umar menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya lah yang lebih tahu”. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya dia itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh mengatakan: Di dalam (penggalan) hadits ini terdapat dalil bahwasanya Iman, Islam dan Ihsan semuanya diberi nama ad din/agama (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 23). Jadi agama Islam yang kita anut ini mencakup 3 tingkatan; Islam, Iman dan Ihsan.

Tingkatan Islam

Di dalam hadits tersebut, ketika Rosululloh ditanya tentang Islam beliau menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang haq) selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, engkau dirikan sholat, tunaikan zakat, berpuasa romadhon dan berhaji ke Baitulloh jika engkau mampu untuk menempuh perjalanan ke sana”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini ialah bahwa Islam itu terdiri dari 5 rukun (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 14). Jadi Islam yang dimaksud disini adalah amalan-amalan lahiriyah yang meliputi syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.

Tingkatan Iman

Selanjutnya Nabi ditanya mengenai iman. Beliau bersabda, “Iman itu ialah engkau beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir dan engkau beriman terhadap qodho’ dan qodar; yang baik maupun yang buruk”. Jadi Iman yang dimaksud disini mencakup perkara-perkara batiniyah yang ada di dalam hati. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah pembedaan antara islam dan iman, ini terjadi apabila kedua-duanya disebutkan secara bersama-sama, maka ketika itu islam ditafsirkan dengan amalan-amalan anggota badan sedangkan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan hati, akan tetapi bila sebutkan secara mutlak salah satunya (islam saja atau iman saja) maka sudah mencakup yang lainnya. Seperti dalam firman Alloh Ta’ala, “Dan Aku telah ridho Islam menjadi agama kalian.” (Al Ma’idah : 3) maka kata Islam di sini sudah mencakup islam dan iman… (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 17).

Tingkatan Ihsan

Nabi juga ditanya oleh Jibril tentang ihsan. Nabi bersabda, “Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah penjelasan tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu: menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 21). Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.

Bagaimana Mengkompromikan Ketiga Istilah Ini?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan yang maknanya, Bila dibandingkan dengan iman maka Ihsan itu lebih luas cakupannya bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada iman bila ditinjau dari orang yang sampai pada derajat ihsan. Sedangkan iman itu lebih luas daripada islam bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada islam bila ditinjau dari orang yang mencapai derajat iman. Maka di dalam sikap ihsan sudah terkumpul di dalamnya iman dan islam. Sehingga orang yang bersikap ihsan itu lebih istimewa dibandingkan orang-orang mu’min yang lain, dan orang yang mu’min itu juga lebih istimewa dibandingkan orang-orang muslim yang lain… (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 63)

Muslim, Mu’min dan Muhsin

Oleh karena itulah para ulama’ muhaqqiq/peneliti menyatakan bahwa setiap mu’min pasti muslim, karena orang yang telah merealisasikan iman sehingga iman itu tertanam kuat di dalam hatinya pasti akan melaksanakan amal-amal islam/amalan lahir. Dan belum tentu setiap muslim itu pasti mu’min, karena bisa jadi imannya sangat lemah sehingga hatinya tidak meyakini keimanannya dengan sempurna walaupun dia melakukan amalan-amalan lahir dengan anggota badannya, sehingga statusnya hanya muslim saja dan tidak tergolong mu’min dengan iman yang sempurna. Sebagaimana Alloh Ta’ala telah berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu mengatakan ‘Kami telah beriman’. Katakanlah ‘Kalian belumlah beriman tapi hendaklah kalian mengatakan: ‘Kami telah berislam’.” (Al Hujuroot: 14). Dengan demikian jelaslah sudah bahwasanya agama ini memang memiliki tingkatan-tingkatan, dimana satu tingkatan lebih tinggi daripada yang lainnya. Tingkatan pertama yaitu islam, kemudian tingkatan yang lebih tinggi dari itu adalah iman, kemudian yang lebih tinggi dari tingkatan iman adalah ihsan (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 64)

Kesimpulan

Dari hadits serta penjelasan di atas maka teranglah bagi kita bahwasanya pembagian agama ini menjadi tingkatan Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat tidaklah dikenal oleh para ulama baik di kalangan sahabat, tabi’in maupun tabi’ut tabi’in; generasi terbaik ummat ini. Pembagian yang syar’i adalah sebagaimana disampaikan oleh Nabi yaitu islam, iman dan ihsan dengan penjelasan sebagaimana di atas. Maka ini menunjukkan pula kepada kita alangkah berbahayanya pemahaman sufi semacam itu. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa mencapai keridhoan Alloh Ta’ala kalau cara beribadah yang mereka tempuh justeru menyimpang dari petunjuk Rosululloh ? Alangkah benar Nabi yang telah bersabda, “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim). Barangsiapa yang ingin mencapai derajat muhsin maka dia pun harus muslim dan mu’min. Tidak sebagaimana anggapan tarekat sufiyah yang membolehkan orang yang telah mencapai Ma’rifat untuk meninggalkan syari’at. Wallohu a’lam.

 

Iklan

Merenung kepada Diri sendiri

Gambar

Menjadi kewajipan para duah (pendakwah) untuk merenung jauh ke dalam diri mereka sendiri dan bermujahadah dengan bersungguh-sungguh melawan kehendaknya. Mereka hendaklah sentiasa tegas dalam bermuhasabah dan jangan sekali-kali meremehkan usaha ini dalam apa keadaan sekalipun. Mereka hendaklah setiasa mengambil ‘azimah’ dalam bermuhasabah sehinggalah Allah s.w.t. meluruskan urusanNya. Ini disebabkan jalan dakwah yang sedang dilaluinya ini penuh dengan fitnah (tribulasi) dan persimpangannya terlalu sukar untuk ditempuhi. Justeru Imam Syahid Hasan Al-Banna sering mengingatkan para ikhwannya kepada suatu yang menjadi kewajipan ke atas seseorang al-akh itu bertajuk: (Menghalang berlakunya mudhorat daripada jiwa dan kewajipan menjaganya).. di dalam pesanannya bagi anggota Ikhwan Muslimin (IM) pada tahun 1939 setelah selesai berlangsungnya Muktamar Kelima beliau berkata:

“Wahai Ikhwan sekalian, beramal untuk memelihara jiwa kita sendiri itu adalah kewajipan pertama dalam susunan keutamaan wajibat kita. Maka hendaklah kamu bersungguh-sungguh bermujahadah dengan diri kamu. Pastikan diri kamu berada di atas ta’alim Islam dan hukum-hukumnya. Jangan kamu meremehkan (meringan-ringankan) ta’alim Islam dan hukum-hukumnya itu dalam apa keadaan sekalipun. Hendaklah kamu sentiasa berada dalam ketaatan dan larilah kamu dari dosa serta bersihkan diri kamu dari perkara-perkara maksiat. Hubungkanlah hati-hati dan perasaan kamu sentiasa dengan Allah yang merupakan pemilik langit dan bumi. Lawanlah kemalasan dan singkirkan perasaan lemah. Pastikan perasaan dan semangat syabab (pemuda)kamu terarah kepada kebaikan dan kesucian. Hisablah diri-diri kamu dalam hal ini dengan penghisaban yang sukar. Berhati-hatilah kamu agar jangan sampai berlalu kepada kamu satu detik tanpa amal yang baik dan tanpa usaha yang murni bagi kemaslahatan dakwah ini”.

Di antara perkara yang perlu diambil berat oleh para duah ialah senantiasa menilik hati dan jiwanya supaya selari antara kata-kata dan amalannya. Kerana mengajak (berdakwah) manusia kepada kebaikan dalam keadaan berlakunya percanggahan dengan apa yang kita serukan adalah suatu musibah besar dan ia adalah satu penyakit yang amat berbahaya. Allah Ta’ala berfirman:

(أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون)

 “Apakah kamu menyuruh manusia dengan kebaikan dan kamu lupa terhadap diri kamu sendiri, sedangkan kamu membaca Kitab. Apakah kamu tidak berakal?”.

 FirmanNya lagi:

 ( يا أيها الذين آمنوا لم تقولون مالاتفعلون ، كبر مقتا عند الله أن تقولوا مالاتفعلون )

 “Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan suatu yang kamu tidak kerjakan. Amat besarlah kebencian di sisi Allah s.w.t. bahawa kamu mengatakan suatu yang kamu tidak kerjakan”.

Telah diriwayatkan bahawa Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi Isa a.s.: 

(يا بن مريم : عظ نفسك فإن اتعظت فعظ الناس وإلا فاستحى منى)

 Maksudnya: “Wahai Ibnu Maryam, nasihatilah akan dirimu terlebih dahulu. Bila kamu telah nasihatkan dirimu, maka nasihatkanlah manusia lain. Jika tidak demikian, maka malulah kamu kepadaKu”.

 

Di antara akibat buruk mereka itu pada hari qiamat ialah penghuni syurga melihat mereka diazab di dalam neraka, lalu mereka (penghuni syurga) bertanya mereka (dalam neraka): “Apa yang menyebabkan kamu dihumbankan ke neraka?” Sesungguhnya kami dapat masuk syurga dengan sebab ajaran dan tunjuk ajar kamu kepada kami ! Lalu mereka menjawab: “Sesungguhnya kami dulu (di dunia) menyuruh kamu berbuat baik, tetapi kami tidak beramal dengan kebaikan itu, kami dulu (di dunia) melarang kamu dari kemungkaran, tetapi kami telah melakukan kemungkaran tersebut. Sesungguhnya ia adalah suatu yang amat malang bagi kami, kami menyesal sesesal-sesalnya (berlakunya itu di hadapan khalayak ramai pada hari Qiamat). 

Kepatuhan antara kata-kata dan amalan bukan suatu yang senang atas jiwa. Kerana jiwa manusia dikelilingi nafsu syahwat dan kebiasaan (tabiat). Justeru wajiblah para duah melakukan riadhah jiwa; bermujahadah dan meniliknya. Antara faktor yang boleh membantu ke arah itu ialah hubungan dengan Allah s.w.t. dan sentiasa meminta pertolongan daripadaNya dan kedekatan jiwa di hadapanNya. Oleh itu, tidak mungkin seorang duah itu mampu menjadi qudwah terhadap apa yang diucapkannya melainkan apabila dia berjaya memperkukuhkan hubungannya dengan Allah dan mendapatkan pertolongan daripadaNya. Maka jadilah: 

(إياك نعبد وإياك نستعين)

 “Hanya kepada Engkau sahaja kami sembah dan hanya kepada Engkau sahaja kami meminta pertolongan”

… sebagai manhaj dan jalannya. Pada ketika itu sahaja Allah s.w.t. pastinya akan menganugerahkan petunjukNya ke jalan yang lurus, iaitu jalan mereka yang telah diberi nikmat ke atas mereka itu. Ia akan menolongnya menghadapi fitnah-fitnah dan simpangsiur di sepanjang jalan dakwah ini. Manusia akan melihat sifat benarnya, lalu dengan itu Allah Ta’ala akan membuka hati-hati manusia dengan sifat benar tersebut.

 يقول صاحب الظلال (الشهيد سيد قطب) : (إن الكلمة لتنبعث ميته ، وتصل هامدة مهما تكن طنانة رنانة متحمسة إذا هي لم تنبعث من قلب يؤمن بها ، ولن يؤمن إنسان بما يقول حقا إلا أن يصبح هو ترجمة حية لما يقول ، وتجسيما واقعيا لما ينطق ، عندئذ يؤمن الناس ، ويثق الناس ، ولو لم يكن فى تلك الكلمة طنين ولا بريق ، إنها حينئذ تستمد قوتها من واقعها لامن زينتها ، وتستمد جمالها من صدقها لا من بريقها ، إنها يومئذ دفعة حياة لأنها منبثقة من حياة) . فى ظلال القرآن ج1 ص 68 .

 Telah berkata pengarang tafsir Fi Zilal Al-Quran (Syahid Syed Qutb): “Sesungguhnya sesuatu kalimah itu bila keluar dalam keadaan ‘mati’, ia tetap longlai sekalipun bermotivasi dan kuat bunyinya bilamana ia tidak keluar dari hati orang yang beriman dengannya. Seseorang insan itu tidak akan dikira beriman dengan sebenar-benarnya melainkan ia menjadi terjemahan yang hidup pada apa yang diperkatakan, berjisim dan tampak hidup pada apa yang diucapkan. Ketika itu insan akan beriman dan akan percaya sekalipun pada kalimah itu tidak dihiasi dengan keindahan dan kecantikan. Sesungguhnya pada ketika itu kata-kata itu mendapat kekuatannya dari realitinya, bukan dari perhiasannya. Kecantikan itu datang dari sifat benarnya. Ia lantas menjadi kuasa/tenaga yang menolak kehidupan kerana ia terjelma keluar dari kehidupan sebenar”. (Fi Zilal jld 1, m/s 68)

 Kesimpulannya ada dua:

Pertama: Orang yang mengajak orang lain kepada petunjuk sedangkan dia tidak beramal dengannya samalah seperti lampu yang memberi cahaya kepada manusia tetapi ia membakar dirinya sendiri. Semoga Allah menyelamatkan kita semua.

Kedua: Bahawa tanggungjawab duah terhadap orang lain tidak harus memalingkan mereka dari tanggungjawab terhadap diri mereka sendiri. Dan bahawa kesibukan mereka berusaha memperbaiki manusia seharusnya tidak memalingkan mereka daripada mengislahkan hal keadaan mereka. Maka dengan demikian mereka telah memberi hak kepada yang berhak.

Kita bermohon agar Allah s.w.t. menjadikan batin kita semua lebih baik dari zahir (lahiriah) kita, yang tersembunyi pada kita lebih baik dari yang terserlah, dan semoga Allah s.w.t. mengurniakan kita benar dalam ucapan dan amalan serta ikhlas dalam sunyi dan terbuka.

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Berjuanglah untuk Islam Walau Anda Pelaku Maksiat

Gambar

Saudaraku …

Apa yang kau anggap atas dirimu sendiri,,,? Begitu banyakkah dosa dan noda,,,,,? Ketahuilah, setiap manusia –siapa pun dia- juga memiliki kesalahan, dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang mau bertaubat. Mari jadilah yang terbaik,,,,,

Saudaraku ,,,,,

Apa yang menghalangimu membela agamamu? Apa yang merintangimu beramal demi kejayaan Islam dan kaum muslimin? Dosa, noda, dan maksiat itu? Ketahuilah, jika kau diam saja, tidak beramal karena merasa belum pantas berjuang, masih jauh dari sempurna, maka daftar noda dan maksiat itu semakin bertambah. Itulah tipu daya setan atas anak Adam, mereka menghalangi manusia dari berjuang dan hidup bersama para pejuang, dengan menciptakan keraguan di dalam hati manusia dengan menjadikan dosa-dosanya sebagai alasan.

Saudaraku ,,,,

Hilangkan keraguanmu, karena Rabbmu yang Maha Pengampun telah berfirman:

إِنَّالْحَسَنَاتِيُذْهِبْنَالسَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)

Hilangkan pula kebimbanganmu, karena kekasih hati tercinta, Nabi-Nya yang mulia –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam– telah bersabda:

وَأَتْبِعِالسَّيِّئَةَالْحَسَنَةَتَمْحُهَا

Ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya itu akan menghapuskannya. (HR. At Tirmidzi No. 1987, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21354, 21403, 21487, 21536, 21988, 22059, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 296, 297, 298, juga Al Mu’jam Ash Shaghir No. 530, Ad Darimi No. 2833, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 178, katanya: “Shahih, sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.” Disepakati oleh Imam Adz DZahabi dalam At Talkhish. Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Al Albani menghasankannya dalam kitab mereka masing-masing)

Saudaraku ,,,,

Tidak usah berkecil hati dan jangan putus asa, sungguh agama mulia ini pernah dimenangkan oleh orang mulianya dan para fajir (pelaku dosa)nya. Semuanya mengambil bagian dalam gerbong caravan pejuang Islam. Imam Al Bukhari telah membuat Bab dalam kitab Shahihnya, Innallaha Yu’ayyidu Ad Diin bir Rajul Al Faajir (Sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya melalui seseorang yang fajir). Ya, kadang ada pelaku maksiat, seorang fajir, justru dia melakukan aksi-aksi nushrah (pertolongan) terhadap agamanya, dibanding laki-laki yang shalih. Semoga aksi-aksi nushrah tersebut bisa merubahnya dari perilaku buruknya, dan dia bisa mengambil pelajaran darinya sampai dia berubah menjadi orang shalih yang berjihad, bukan lagi orang fajir yang berjihad.

Saudaraku ,,,, Ada Abu Mihjan!!

Kukisahkan kepadamu tentang Abu Mihjan Radhiallahu ‘Anhu. Ditulis dengan tinta emas para ulama Islam, di antaranya Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala pada Bab Sirah Umar Al Faruq. (2/448. Darul Hadits, Kairo), juga Usudul Ghabah-nya Imam Ibnul Atsir. (6/271. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat sulit menahan diri dari khamr (minuman keras). Beliau sering dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diterapkan hukum cambuk (Jild) padanya karena perbuatannya itu. Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. Tetapi, dia adalah seorang laki-laki yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum.

Hingga datanglah perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu melawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, dia tampil gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh musuh. Tetapi, saat itu dia dikalahkan keinginannya untuk meminum khamr, akhirnya dia pun meminumnya. Maka, Sa’ad bin Abi Waqash menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad.

Di dalam penjara, dia sangat sedih karena tidak bisa bersama para mujahidin. Apalagi dari dalam penjara dia mendengar suara dentingan pedang dan teriakan serunya peperangan, hatinya teriris, ingin sekali dia membantu kaum muslimin melawan Persia yang Majusi. Hal ini diketahui oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yang bernama Salma, dia sangat iba melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya! Maka, tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan dia memimpin pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya- Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat memang itulah yang dia cita-citakan.

Abu Mihjan berangkat ke medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang mengenalnya. Dia masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring karena sakit dan dia takjub kepadanya, dan mengatakan: “Seandainya aku tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa, maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.”

Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada Abu Mihjan.

Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan dia sendiri yang memborgol kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata:

لانجلدكعلىخمرأبدافقال: وأناواللهلاأشربهاأبدا

Kami tidak akan mencambukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr selamanya!”

Saudaraku ,,,,

Sangat sulit bagi kita mengikuti dan menyamai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat nabi yang mulia, Radhiallahu ‘Anhum. Tetapi, paling tidak kita masih bisa seperti Abu Mihjan, walau dia pelaku maksiat namun masih memiliki ghirah kepada perjuangan agamanya, dan ikut hadir dalam deretan nama-nama pahlawan Islam. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam deretan para pejuang agama-Nya, mengikhlaskan, dan memberikan karunia syahadah kepada kita.,,,, Amin

Sumber Dakwah & Tarbiyah

Oleh: Imam Syahid Hassan al-Banna

Terusterang

Kita ingin menerangkan kepada manusia tentang matlamat kita, kita ingin mendedahkan manhaj (method) kita kepada mereka, kita ingin mengemukakan dakwah kita kepada mereka dalam suatu bentuk yang tidak menimbulkan keraguan dan kesamaran, lebih cerah dari pancaran matahari, lebih bercahaya dari sinar pagi, malah lebih terang dari siang yang terang benderang.

 

Suci

Di samping itu kita ingin supaya kaum kita dan ummat muslimin seluruhnya mengetahui bahawa dakwah kita adalah dakwah yang suci dan bersih. Kesuciannya melewati batas kepentingan diri sendiri, memandangkan hina manfaat kebendaan, meninggalkan jauh di belakangnya segala bentuk hawa-nafsu dan tujuan-tujuan kepentingan, mara ke hadapan menuruti jalan yang telah digariskan Allah kepada pendakwah-pendakwah. Firman Allah:

“Katakanlah; inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah dengan penuh kesedaran; aku dan pengikutku. Maha suci Allah dan bukanlah aku dari golongan mereka yang musyrik’:

Kita tidak meminta sesuatu dari manusia, Kita tidak meminta harta dari mereka, kita tidak meminta  upah dari mereka, kita tidak mengharapkan sanjungan mereka, kita tidak mengharapkan balasan dan terima kasih mereka, balasan kita dalam berdakwah ini hanyalah pada Allah yang menjadikan kita.

 

Kasihsayang:

Demikian juga kita mengharapkan agar bangsa kita mengetahui bahawa kita mengasihi mereka lebih dari diri kita sendiri. Kita mengharapkan mereka mengetahui bahawa jiwa-jiwa ini sanggup menjadi tebusan demi kepentingan mereka andainya ketinggian itu meminta tebusan. Jiwa-jiwa ini sanggup dicabut sebagai harga kepada keagungan mereka, kemuliaan mereka, agama dan cita-cita mereka andainya perkara-perkara ini memerlukan demikian.

Kita mengambil sikap yang demikian terhadap mereka hanyalah kerana kasih sayang telah membelenggu hati dan merajai perasaan kita, membuatkan kita tidak nyenyak tidur dan sentiasa mengalirkan air mata. Amat sukar dan luar dari kesanggupan kita melihat sesuatu menimpa bangsa kita dan kita terus menyerah diri kepada kehinaan atau merelainya, atau kita terus berputus asa. Kita  bekerja untuk manusia kerana Allah lebih dari kita bekerja untuk diri kita, kita untuk kamu, bukan untuk orang lain dan kita tidak akan menjadi beban kepada kamu.

Keistimewaan dan nikmat hanya dari Allah. Kita tidak mendakwa memberi suatu nikmat, dan kita tidak menganggap bahawa kita mempunyai keistimewaan dalam hal ini, tetapi Kita percaya kepada firman Allah:

“Maka Allah lah yang mengurniakan nikmat kepadamu dengan memimpin kamu kepada keimanan seandainya kemu orang yang benar’:

Kita berharap,  sekiranya harapan itu memberi manfaat, agar hati-hati ini dapat diterima oleh pandangan dan pendengaran ummat kita, dengan itu mereka akan melihat; adakah pada hati- hati ini selain dari inginkan kebaikan dan rasa kasih terhadap mereka, juga pengorbanan demi mereka. Adakah mereka dapati pada hati-hati ini selain dari rasa derita yang melarat akibat dari keadaan yang kita alami sekarang.

Pun demikian cukuplah bagi kita bahawa Allah mengetahui segala apa yang di dalam hati kita. Hanya Allah tempat perlindungan yang tunggal, tempat minta pertolongan, Allah yang memberi taufik kepada jalan yang tepat, di tanganNya teraju dan kunci yang dapat membuka pintu hati. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang akan menyesatkannya dan siapa yang sesatkan Allah maka tidak ada sesiapa yang dapat memberi pertunjuk kepadanya dan Allah tempat tumpuan harapan kita. Ia sebaik-baik tempat kita berserah. Tidakkah Allah melindungi hambanya..?

 

Empat jenis manusia:

Kita mengharapkan manusia menjadi salah satu dari empat golongan ini:-

Mu’min:

Sama ada beliau menjadi seorang yang beriman dengan dakwah kita, mempercayai perkataan kita dan kagum dengan prinsip-prinsip kita. Beliau melihat dalam dakwah ini sesuatu yang dapat memuaskan hati dan diterima oleh nuraninya. Kepada beliau kita menyeru supaya mengambil inisiatif untuk menggabungkan diri dan bekerja bersama-sama kita, supaya dengan penggabungannya itu bilangan mujahid akan bertambah, semoga dengan suaranya itu seruan dakwah akan bertambah kuat. Tidak ada erti bagi keimanan yang tidak diikuti dengan amal, tidak ada faedah bagi ‘aqidah yang tidak mendorong tuannya untuk melaksanakan aqidah itu dan berkorban untuknya.

Demikianlah keadaannya orang-orang yang terdahulu, orang-orang yang dibukakan Allah dadanya untuk menerima hidayah Allah, lantas mereka mengikut jejak para Anbia’, mereka beriman dengan risalahNya, berjihad demi risalah itu dengan jihad yang sungguh-sungguh. Mereka inilah yang dianugerahkan Allah dengan ganjaran nikmat yang maha besar, mereka akan menerima ganjaran pahala yang sama dengan pengikut-pengikut mereka dengan sedikitpun tidak mengurangkan pahala pengikut mereka.

 

Ragu-ragu:

Mungkin beliau seorang yang belum melihat kebenaran dalam dakwah kita, belum mengenali keikhlasan dan faedah pada apa yang kita katakan, lantas beliau terhenti dan ragu-ragu. Beliau kita tinggalkan kerana keraguannya dan kita nasihatkan beliau agar berhubung dengan kita lebih rapat, membaca tentang kita dari jauh atau dekat, mengkaji tulisan-tulisan kita, menziarahi pusat-pusat kita dan berkenalan dengan saudara-saudara kita. Dengan itu Insya Allah beliau akan puas hati terhadap kita. Demikianlah keadaannya pengikut-pengikut Rasul yang masih ragu-ragu.

 

Mengejar manfaat:

Atau mungkin beliau menjadi seorang yang tidak akan memberikan bantuannya kecuali setelah beliau mengetahui faedah yang akan diterimanya, keuntungan-keuntungan yang akan diperolehinya hasil dari pengorbanannya itu. Kepada beliau kita katakan: “Kasihan…… tidak ada pada kami ganjaran selain pahala dari Allah sekiranya engkau ikhlas dan balasan syurga sekiranya Allah melihat kebaikan padamu. Adapun kami….., kami miskin dari kemegahan, miskin harta benda, keadaan kami sentiasa berkorban dengan apa yang ada pada kami, berkorban dengan sesuatu yang kami miliki, harapan kami hanyalah keredhaan Allah, Dialah sebaik-baik tempat berserah dan sebaik-baik Penolong. Seandainya Allah membukakan tutupan dari hati beliau, menghilangkan kabus tamak dari nuraninya, kelak beliau akan mengetahui bahawa sesuatu yang di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal, dan beliau akan menggabungkan diri ke dalam tentera Allah, murah hati dengan kemewahan  dunia yang ada padanya, semoga beliau mendapat pahala di hari akhirat.

“Apa yang ada pada kamu akan binasa sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal’.

Tetapi jika berlaku sebaliknya; maka Allah Maha Kaya (tidak berhajat) dari orang yang tidak melihat keutamaan Allah pada dirinya, hartanya, dunianya, akhiratnya, mati dan hidupnya. Demikianlah keadaannya golongan yang seperti ini sewaktu mereka enggan melakukan taat setia terhadap RasuluLlah Sallallahu ‘alaihi Wasallam kecuali RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam menyerahkan segala urusan kepada mereka setelah beliau wafat. Tiada jawapan yang diberikan oleh RasuluLlah SaliaLlahu’alaihi Wasallam selain dari memberitahu mereka bahawa:

“Bumi ini adalah milik bagi Allah, akan diserahkanNya kepada hambanrya yang dikehendakinya, dan kesudahan yang baik adalah untuk orang yang bertaqwa ‘:

 

Jahat sangka:

Atau mungkin beliau seorang yang jahat sangka terhadap kita, syak dan ragu-ragunya kepada kita, beliau tidak melihat kita kecuali dengan kacamata yang hitam pekat, beliau tidak berbicara tentang kita kecuali dengan lidah yang bimbang dan ragu, beliau terus dalam keadaan terpedaya, berlarutan dalam keraguan, kekal dalam kewahamannya.

Kita berdo’a untuk beliau dan untuk kita sendiri supaya Allah menunjukkan kebenaran itu sebagai kebenaran dan memberi hidayat supaya kita mengikutinya, menunjukkan kebatilan itu sebagai suatu kebatilan dan memberi hidayat supaya kita menjauhinya.

Kita berdo’a kepada Allah supaya mengilhamkan kebijaksanaan kepada kita dan beliau. Bahkan kita seru, andainya beliau menerima seruan, beliau kita jemput andainya beliau menerima jemputan. Kita  berdo’a kepada Allah untuk beliau, kerana hanya Allah tempat gantungan harapan. Allah telah  menurunkan kepada RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam sepotong ayat mengenai segolongan manusia, firman Allah:

“Engkau tidak akan dapat memberi hidayat kepada mereka yang engkau kasihi, tetapi hanya Allah yang memberi hidayat kepada sesiapa yang dikehendakiNya ‘:

Dan kita sentiasa mengasihi beliau, kita mengharapkan agar beliau kembali kepada kita, puas hati dengan dakwah kita. Lambang yang menjadi pegangan kita berhadapan dengan beliau ialah apa yang telah diajarkan oleh RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam dalam sabdanya:

 ”Tuhanku, ampunkanlah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui”.

Kita harap manusia tergolong dalam salah satu dari golongan-golongan ini.

Telah sampai masanya seorang muslim mengetahui matlamatnya, menentukan haluannya dan bekerja sejajar dengan haluan tersebut hingga beliau mencapai matlamatnya. Namun untuk kekal dalam keadaan yang berlarutan, kekal dalam khayalan-khayalan yang indah-indah, kekal dalam nafsu yang lupa daratan, tunduk patuh dengan membabi buta, mengikut sebarang seruan yang bergema dialunkan, kesemua ini bukanlah langkah seorang muslim.

 

Fana

Di samping itu kita ingin supaya ummat kita mengetahui bahawa dakwah ini tidak akan sesuai kecuali bagi mereka yang mengambil keseluruhannya, menyerahkan sesuatu yang dituntut oleh dakwah ini darinya; jiwanya, hartanya, waktunya dan kesihatannya. Firman Allah:

“Katakanlah, (hai Muhammad) seandainya ibu bapa kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, handai taulan kamu, harta yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu kasihi dari Allah dan RasulNya juga jihad pada jalan Allah, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan perintah-Nya dan Allah tidak akan memberi hidayat kepada orang yang fasiq’:

Dakwah ini dakwah yang tidak sanggup diperkongsikan, kerana ketunggalan adalah sifat semulajadinya. Oleh itu sesiapa yang bersedia untuk dakwah ini, beliau akan hidup dengannya dan dakwah ini juga akan hidup dengannya. Sesiapa yang lemah dari menunaikan tanggungjawab ini beliau akan kerugian pahala jihad dan beliau akan bersama dengan mereka yang ketinggalan, tinggal bersama mereka yang berdiam diri dan Allah akan menggantikan golongan yang lain dari mereka untuk dakwah ini yang bersifat sepertimana firman Allah:

‘:….yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mu’min, bersikap keras terhadap orang kafir, mereka berjihad pada jalan Allah, itulah kurniaan Allah, diberikanNya kepada sesiapa yang dikehendakiNya ‘:

 

Jelas

Kita menyeru manusia kepada satu prinsip, prinsip yang jelas, terperinci dan dapat diterima oleh semua golongan. Semua golongan mengetahui dan memahaminya mengakui kebenarannya dan mereka mengetahui bahwa penyelesaian masalah mereka, kebahagiaan mereka juga kerehatan mereka terletak pada prinsip-prinsip ini. Prinsip ini telah dibuktikan oleh percubaan dan sejarah telah menghukumkan kesesuaiannya untuk kekal, kemampuannya untuk membawa kebaikan untuk seluruh.

 

Dua Jenis Iman

Setelah kita dan ummat kita menemui titik pertemuan dalam mengimani prinsip ini, di sana masih ada perbezaan antara kita dengan mereka, yang mana mereka mempunyai iman yang bisu, iman yang tidur nyenyak dalam jiwa mereka, mereka tidak mematuhi hukum dan tuntutan iman itu.

Sebaliknya di sana, di dalam jiwa kita –dengan limpah Allah– terdapat iman yang bergelora, menyala, kuat dan waspada.

Suatu kenyataan yang menakjubkan, dapat kita dan orang lain rasakan di dalam jiwa kita orang-orang timur, iaitu bila kita mengimani fikrah ini dan sewaktu kita membicarakannya; manusia akan mengkhayalkan bahwa fikrah tersebut telah dapat memberikan suatu tenaga yang kuat kepada kita sehingga kita dapat menghancurkan bukit bukau, kekuatan yang dapat mendorong kita berkorban jiwa, harta, menanggung penderitaan dan mengharung arus sehingga.kita memenangi fikrah ini atau fikrah ini akan menang kerana kita. Tetapi setelah bicara ini reda, perhimpunan-perhimpunan bersurai kita terus melupakan seluruh keimanan kita, lalai terhadap fikrah yang kita dokong dan kita tidak berfikir untuk bekerja demi fikrah ini, kita tidak berbicara dengan diri kita bahawa kita akan terus menggandakan jihad demi fikrah ini.

Malah boleh jadi kita berlarutan dalam kelalaian dan kealpaan sehingga kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan fikrah ini secara sedar atau tidak. Tidakkah anda ketawa pelik bila anda lihat seorang ahli fikir, pejuang dan berpengetahuan tinggi dalam dua masa yang berlainan boleh menjadi atheis bersama dengan orang-orang yang atheis dan menjadi ahli ibadat bersama-sama ahli ibadat.

Kecuaian, kelupaan, kelalaian, ketiduran atau katakan apa saja yang ingin anda katakan inilah yang membuatkan kita berusaha untuk menggerakkan prinsip kita ini, sedang prinsip inilah juga yang telah diterima oleh ummat kita dalam jiwa mereka, mereka yang kita kasihi.

 

SERUAN-SERUAN

Oleh itu saya akan kembali kepada perbicaraan saya yang pertama tadi dan saya akan katakan bahawa dakwah kita adalah dakwah prinsip. Di timur dan di barat hari ini banyak muncul dakwah-dakwah, prinsip-prinsip, fikrah-fikrah, mazhab-mazhab, pendapat-pendapat dan pertentangan-pertentangan yang kesemuanya memecah-belahkan akal fikiran manusia, kesemuanya dipertahankan oleh pendokong-pendokongnya, anak buahnya, pengikutnya, peminatnya, pemimpin-pemimpin dan muridnya. Mereka akan terus melakukan propaganda, mendakwa keistimewaan, kebaikan dakwah mereka, mereka melipatgandakan dakwaan mereka sehingga dakwah mereka muncul sebagai suatu dakwah yang menarik, mempesona dan indah.

 

PENYERU-PENYERU

Pendakwah-pendakwah hari ini bukan pendakwah-pendakwah masa silam, mereka berpengetahuan tinggi, cukup peralatan, terlatih dan professional, terutama di negara-negara barat, sehingga tiap-tiap fikrah itu mempunyai ketumbukan khusus yang bertugas untuk melatih kader, menerangkan perkara-perkara sulit, mendedahkan keindahan-keindahan fikrah itu, mencipta cara-cara penyibaran dan jalan-jalan dakyah, mencari jalan yang paling mudah, senang dan paling dekat untuk memasuki jiwa manusia supaya mereka puashati dan terus menganuti fikrah itu.

 

WASILAH

Demikian juga wasilah dakyah hari ini bukan lagi wasilah zaman silam. Dakyah silam hanyalah merupakan kalimah-kalimah yang disampaikan dalam khutbah-khutbah atau perhimpunan-perhimpunan atau ditulis dalam risalah-risalah dan surat-surat. Tetapi wasilah hari ini adalah melalui majalah-majalah, surat-surat khabar, risalah-risalah, pementasan, cerita-cerita khayal dan radio. Kesemua wasilah ini mudah untuk sampai ke dalam hati semua manusia, lelaki dan perempuan, di rumah, di gudang-gudang perniagaan, industri dan sawah mereka.

Oleh itu adalah menjadi kewajipan kepada pendakwah-pendakwah agar pandai dan bijak menggunakan wasilah-wasilah ini supaya kerja-kerja mereka membuahkan hasil yang dikehendaki. Tidak ada gunanya saya berpanjang lebar dalam masalah ini. Sekali lagi saya kembali dan berkata bahwa dunia hari ini penuh dengan dakwah-dakwah, sama ada dakwah politik, nasionalis, patriotik, ekonomi, ketenteraan dan seruan-seruan damai. Oleh itu di manakah letaknya dakwah kita dalam adunan dakwah-dakwah ini?

Soalan ini mendorong saya berbicara dalam dua perkara:

Pertamanya tentang bentuk dakwah kita yang positif secara tulin.

Keduanya tentang sikap dakwah ini terhadap dakwah-dakwah tadi.

Saya harap saudara tidak akan menyalahkan saya kerana perbicaraan yang panjang ini, kerana saya telah menjadi tabiat saya untuk menulis sebagaimana saya bercakap dan mengupas tajuk ini dengan tidak memberat-beratkan. Cuma saya harapkan supaya pembaca dapat memahami saya sebagaimana saya memahami diri saya dan perbicaraan saya sampai ke dalam hati mereka tanpa diperindah dengan gaya bahasa.

 

ISLAM KITA

Dengarlah saudaraku,

Satu sifat yang memberi pengertian yang menyeluruh yang dapat kita sifatkan kepada dakwah kita ini ialah: “Islamiyyah”. Kalimah ini mempunyai pengertian yang luas, bukan pengertian yang sempit seperti mana yang difahami oleh kebanyakan orang. Kita berkeyakinan bahawa Islam adalah suatu pengertian yang menyeluruh, menyusun seluruh aspek, memberi fatwa dalam semua permasalahan, menentukan kepada permasalahan itu suatu sistem yang konkrit dan terperinci. Islam tidak berlepas tangan berdepan dengan permasalahan hidup dan sistem-sistem yang diperlukan untuk membawa Islam kepada manusia.

Setengah orang tersalah, memahami bahawa Islam itu hanya terbatas dalam soal-soal ibadat dan bentuk-bentuk ruhaniah sahaja. Mereka membataskan diri dan fahaman mereka di sekitar yang sempit ini sejajar dengan fahaman yang sempit terhadap Islam.

Tetapi kita tidak memahami Islam seperti fahaman itu, malah kita memahami Islam dengan fahaman yang luas, ruang lingkupnya merangkumi seluruh urusan dunia dan akhirat.

Dakwaan ini bukanlah semata-mata dakwaan kosong atau sengaja kita meluaskannya supaya sesuai dengan pendapat kita, tetapi inilah yang kita fahami dari kitab Allah dan sejarah orang-orang Islam yang terdahulu. Andainya pembaca ingin memahami dakwah kita dengan lebih luas tentang kalimah “Islamiyyah” beliau hendaklah memegang Al Qur’an, di samping itu beliau hendaklah membebaskan dirinya dari hawa nafsu dan kepentingan, setelah itu beliau memahami apa yang ada dalam Al Qur’an, di sana beliau akan melihat dakwah kita (Ikhwan Muslimin).

Benar, dakwah kita adalah bersifat Islamiyyah dengan seluruh pengertian yang terkandung dalam kalimah ‘Islamiyyah’ itu, setelah itu saudara fahamilah apa yang saudara mahu fahami dan dalam saudara memahami itu saudara terikat dengan kitab Allah dan sunnah RasulNya juga sejarah jejak langkah para Salihin muslimin yang terdahulu. Kitab Allah asas dan sumber Islam, manakala sunnah RasulNya berperanan sebagai  menerang dan mentafsirkan Al Qur’an, manakala sejarah dan jejak langkah para salihin pula; mereka adalah gulungan yang telah diredhai Allah, telah melaksanakan perintah Allah dan menerima ajarannya dan mereka adalah merupakan contoh yang praktik dan gambaran yang menjelmakan perintah dan ajaran itu.

 

SIKAP KITA TERHADAP DAKWAH-DAKWAH LAIN

Sikap kita terhadap berbagai bentuk dakwah yang telah melakukan kezaliman pada hari ini hingga memecahbelahkan perpaduan dan mengusutkan fikitan ialah dengan membandingkannya dengan dakwah kita. Sesuatu yang cocok dengan dakwah kita, kita alu-alukan dan sesuatu yang bercanggah dengannya kita adalah bebas dan tidak terikat dengannya. Kita meyakini bahwa dakwah kita adalah umum, dakwah yang tidak meninggalkan sudut-sudut yang baik pada mana-mana dakwah, malah dakwah ini telah merangkumi dan menunjukkannya.

 

PATRIOTIK

Kadangkala manusia terpesona dengan seruan patriotik, kadangkala terpesona pula dengan seruan nasionalis, lebih-lebih lagi di timur ini, di mana timur merasa kejerihan paksaan dan tekanan barat terhadapnya, sehingga barat dapat merampas keagungannya, kehormatannya dan kebebasannya, merompak harta dan menghisap darahnya, di mana bangsa-bangsa timur merasa kejerihan memikul tanggungiawab yang dipikulkan ke atas pundaknya.

Bangsa-bangsa timur cuba melepaskan diri dari cengkaman barat dengan segenap daya usaha dan kekuatannya, dengan perasaan cekal dan jihad, lantaran itu lantanglah lidah-lidah para pemimpin, surat-surat khabar mengambil peranan mengikut arus, para penulis pun menulis, ahli-ahli pidato terus berpidato, melaunglah mereka yang melaung atas nama patriotik dan keagungan nasionalis.

Keadaan ini ada baiknya, tetapi yang menjadi cacat dan tidak baik ialah; sewaktu anda menyuarakan kepada bangsa timur yang berugama Islam bahwa patriotik dan nasionalis dalam Islam lebih sempurna, lebih bersih, lebih tinggi dan hebat dari apa yang dilaungkan oleh barat dan penulis-penulisnya, bangsa timur yang Islam tadi enggan menerima pendapat saudara, bahkan mereka terus larut dalam taklid mereka.

Mereka akan mengemukakan pendapat mereka kepada saudara bahawa Islam tidak kena mengena dengan nasionalis dan patriotik, malah Islam berada di satu pihak, manakala nasionalis dan patriotik di satu pihak yang lain. Sebahagian mereka menyangka bahawa Islam inilah yang memecah kesatuan ummat dan melemahkan ikatan angkatan mudanya.

Salah faham ini adalah merupakan satu bahaya terhadap bangsa-bangsa timur dilihat dari semua sudut. Bertolak dari salah faham ini, di sini saya ingin mengemukakan sikap kita (Ikhwan Muslimin) dan dakwah mereka terhadap fikrah patriotik dan nasionalis, satu sikap yang mereka redhai untuk diri mereka dan sikap yang mereka cuba agar orang lain meredhainya.

 

Patriotik kasihsayang:

Sekiranya patriotik yang dilaungkan oleh mereka itu bermaksud rasa kasih sayang terhadap tanah air, merasa mesra dengannya, cinta dan merasa belas terhadapnya, maka ini adalah sesuatu yang telah tersedia dalam fitrah manusia dari satu sudut. Dari satu sudut yang lain pula ianya adalah merupakan suatu perintah dalam Islam. Bilal yang mengorbankan segenap apa yang ada pada dirinya demi akidah dan agamanya, adalah juga Bilal yang merakamkan rasa kerinduannya terhadap Makkah dalam serangkai sya’er yang meresapkan rasa kehalusan dan kemanisan:

Alangkah indahnya malam ini jika aku dapat bermalam di pinggir anak sungai, di kelilingku Azakhir dan Jalil dapatkah aku mengunjungi pesisiran Majnah dapatkah aku melihat Sham dan Tufail…..

Dan RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam mendengar Usail menggambarkan keindahan Makkah lantas air matanya mengalir rindukan kota Makkah, beliau pun bersabda: “Wahai Usail, biarkanlah hati-hati ini tenteram. “

 

Patriotik keagungan dan kemerdekaan:

Sekiranya patriotik yang mereka maksudkan itu bererti kewajipan bekerja dengan seluruh tenaga dalam usaha memerdekakan negara dari tangan perampas-perampas, memenuhkan tuntutan kemerdekaan dan menanam prinsip keagungan dan kemerdekaan dalam jiwa anak-anak negara itu, maka dalam hal ini juga kita bersama-sama dengan mereka dan Islam telah mendesak perkara ini dengan desakan yang sungguh-sungguh.

Allah berfirman:

“Keagungan itu bagi Allah, RasulNya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafiq tidak menge tahui’: Firman Allah lagi:

“Allah tidak menjadikan (melapangkan) jalan bagi orang-orang kafir untuk mengatasi orang-orang  mu’min ‘:

 

Patriotik kemasyarakatan:

Sekiranya mereka maksudkan dengan patriotik itu mengeratkan pertalian antara penduduk serantau dan membimbing mereka agar menggunakan kekuatan yang ada pada mereka untuk kebaikan mereka, kita juga bersetuju dengan mereka dalam hal ini dan Islam memandangnya sebagai suatu kewajipan yang pasti. RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam telah bersabda: “Jadilah kamu hamba-hamba Allah sedangkan kamu dalam keadaan bersaudara”. Allah juga berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan teman kepercayaanmu orang-orang yang luar dari keluargamu, mereka tidak akan henti-hentinya melakukan kemudaratan terhadapmu. Mereka menyukai sesuatu yang menyusahkan kamu, telah ternyatalah kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan hati mereka lebih besar lagi. Sesungguhnya telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (tanda) jika kamu memahaminya “.

 

Patriotik penaklukan:

Sekiranya patriotik yang mereka laungkan itu bermaksud pembukaan negara-negara dan menguasai bumi, maka Islam telah memfardhukannya dan mengarahkan penakluk-penakluk kepada penaklukan dan pembukaan yang lebih baik dan membawa manfaat kepada mereka yang ditakluk. Firman Allah:

“Perangilah mereka sehingga fitnah tidak berlaku lagi uan sehingga agama itu hanya untuk Allah semata mata “.

 

Patriotik perkauman:

Sekiranya patriotik yang mereka laungkan itu bermaksud perpecahan ummat kepada puak-puak yang sentiasa bertarung, bercakaran, memaki hamun dan luntar meluntar tuduhan, mengkhianati antara satu sama lain, berpecah-belah kerana suatu manhaj yang tidak bernilai, manhaj (method) yang direncanakan oleh hawanafsu, dibentuk oleh tujuan-tujuan dan kepentingan, ditafsirkan oleh faham-faham yang sesuai dengan maslahat perseorangan, sedangkan musuh mengambil kesempatan ini untuk maslahatnya di samping menambah-nyalakan api yang memecahbelahkan mereka dari kebenaran, malah menyatukan mereka pada kebatilan, menjauhkan mereka dari berhubung dan bekerjasama antara satu sama lain, sehingga pihak musuh dapat merongkaikan ikatan perhubungan mereka dan menempatkan dirinya di tempat perhubungan mereka dan menempatkan dirinya di tempat perhubungan itu, menarik mereka agar bergantung di keliling pinggangnya, lantas mereka tidak melakukan lawatan kecuali ke negara-negara musuh, tidak melakukan hubungan kecuali dengan pelawat-pelawat yang datang dari negara musuh. Patriotik yang seperti ini adalah patriotik palsu, tidak mendatangkan kebaikan sama ada kepada penyeru-penyerunya atau untuk manusia keseluruhan.

Sekarang saudara telah dapat melihat bahawa kita adalah bersama-sama dengan penyeru-penyeru patriotik, malah kita hersama dengan extremist patriotik dalam beberapa pengertian yang mendatangkan kebajikan kepada negara dan manusia. Di samping itu saudara juga telah melihat bahawa patriotik yang panjang lebar ini tidak keluar dari satu juzuk ajaran-ajaran Islam.

 

Batas patriotik kita:

Titik perselisihan antara kita dengan pendokong-pendokong patriotik ialah, kita menganggap bahawa batas patriotik kita ialah aqidah, sedang mereka menganggap bahawa batas patriotik itu adalah berdasarkan bumi dan sempadan geography.

Bagi kita, setiap bumi yang didiami oleh muslim yang mengucap kalimah adalah watan yang mempunyai hak kehormatan dan kesucian, berhak untuk dikasihi, ikhlas terhadapnya dan berjihad untuk kebaikannya. Setiap muslim yang berada di daerah geography itu adalah keluarga kita dan saudara kita, kita mengambil berat tentang mereka, kita merasakan apa yang mereka rasa.

Tetapi tidak demikian keadaannya bagi mereka yang memperjuangkan patriotik, mereka tidak akan mengambil berat kecuali perkara-perkara yang bersangkut paut dengan suatu daerah yang terbatas sempadannya. Perbezaan ini akan lebih jelas dari sudut amali bila suatu ummat dari ummat-ummat ini cuba memperkuatkan dirinya dengan menekan ummat yang lain. Kita tidak merelai penekanan itu berlaku ke atas mana-mana daerah Islam, yang kita kehendaki ialah kekuatan ummat Islam seluruhnya. Tetapi pejuang-pejuang patriotik menganggap perkara ini tidak menjadi suatu kesalahan. Bertolak dari sini berlakulah perpecahan dan kelemahan, pihak musuh pula bertindak melaga-lagakan antara satu sama lain.

 

Matlamat patriotik kita:

Apa yang kita bicarakan tadi hanyalah dipandang dari satu sudut. Selain dari itu di sana masih terdapat sudut yang lain iaitu sudut matlamat. Matlamat pejuang-pejuang patriotik ialah semata-mata untuk membebaskan negara mereka. Seandainya mereka bekerja untuk memperkuatkan negara itu setelah pembebasannya, kerja-kerja itu hanyalah akan berligar di sekitar pembinaan kebendaan seperti mana yang dibuat oleh negara-negara Eropah hari ini.

Tetapi bagi kita, kita meyakini bahawa tiap-tiap seorang muslim adalah memikul tanggungiawab yang dipikulkan di atas pundaknya, beliau haruslah mengorbankan dirinya, darah dan hartanya demi menunaikan amanah ini, amanah untuk memberikan hidayat nur Islam kepada manusia, amanah untuk mengibarkan panji-panji Islam di seluruh pelusuk bumi ini dengan tidak mengharapkan ganjaran harta, kemegahan, kekuasaan dari seorang dan tidak juga mengabdikan sesuatu bangsa. Sesuatu yang beliau harapkan ialah keredhaan Allah dan kebahagiaan alam sejagat menerusi agamanya juga menegakkan kalimah Allah.

Inilah yang mendorong para salihin yang terdahulu untuk melakukan penaklukan mereka yang suci, penaklukan yang telah menakjubkan dunia dan mengatasi sesuatu yang pernah dikenal sejarah, baik dari sudut kepantasan, keadilan, kebijaksanaan dan keistimewaannya.

 

Perpaduan:

Saya ingin mengingatkan suadara kesilapan pemimpin yang mengatakan bahawa dengan mengikut prinsip ini akan memecahkan perpaduan ummat yang terdiri dari berbilang bangsa dan agama, kerana Islam adalah agama perpaduan dan persamaan. Ikatan ini akan dapat menjamin perpaduan antara semua selama mereka bekerjasama untuk kebaikan. Firman Allah:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka yang tidak memerangi kamu dalam agama dan tidak mengusir kamu keluar dari negara kamu, sesungguhnya Allah mengasihi orang yang berlaku adil’.

OIeh itu dari manakah datangnya perbezaan? Setelah ini tidaklah saudara dapat melihat betapa kita lebih tinggi dari extremist patriotik dalam menyintai kebaikan untuk negara, berjihad untuk kebebasan, kebaikan dan kemajuannya.Kita bekerja dan menyokong sesiapa yang berusaha dengan ikhlas ke arah ini, malah saya ingin supaya saudara mengetahui bahawa seandainya tanggungjawab mereka akan berakhir dengan kejayaan mereka memperjuangkan kemerdekaan negara dan mengembalikan keagungannya, tetapi bagi Ikhwan Muslimin perkara itu baru hanya separuh jalan atau merupakan satu period, setelah itu mereka harus bekerja untuk mengibarkan panji-panji watan Islam di seluruh pelusuk alam dan mengibarkan panji-panji Al Qur’an di setiap inci bumi Allah ini.

 

NASIONALIS

Sekarang saya akan berbicara dengan saudara tentang sikap kita Ikhwan Muslimun terhadap prinsip nasionalis.

Nasionalis ketinggian:

Sekiranya nasionalis yang dimaksudkan oleh mereka yang berbangga dengan prinsip ini ialah generasi mendatang harus mengikut generasi yang terdahulu di sudut kemuncak ketinggiannya, kebesarannya, pintar dan mempunyai himmah tinggi; orang yang terdahulu mestilah menjadi contoh yang baik kepada generasi mendatang; kebesaran nenek moyang adalah sesuatu yang dibanggakan oleh anak cucu dan mereka mendapat semangat dan ruh didorong oleh hubungan keturunan, maka ini adalah suatu tujuan baik yang kita galakkan dan kita terima.

Adakah di sana suatu bekalan bagi kita untuk membangunkan himmah generasi sekarang kecuali dengan meniupkan keagungan generasi  yang silam. Boleh jadi isyarat telah ada untuk tujuan ini dalam sabda RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam … “Manusia itu galian, mereka yang terpilih dalam jahiliahnya, mereka itulah  juga yang terpilih sesudah Islamnya sekiranya mereka faham”.

 Sekarang saudara telah melihat bahwa Islam tidak menegah nasionalis dengan pengertian yang tinggi dan baik ini.

Nasionalis ummat:

Sekiranya yang dimaksudkan dengan nasionalis itu bahawa; keluarga seseorang itu juga ummatnya adalah manusia yang lebih utama untuk menerima kebaikannya, lebih berhak untuk menerima ihsan dan hasil jihadnya, ini juga adalah benar dan hak. Siapakah yang tidak menganggap bahawa kaum tempat beliau dilahirkan dan dibesarkan itulah manusia yang lebih berhak menerima hasil penat lelahnya. Penya’er berkata:

Demi umurku, sebaik peninggalan seorang ialah kabilahnya

sekalipun mereka itu di puncak awan dan beliau di perut bumi.

 

Nasionalis penyusunan:

Sekiranya yang dimaksudkan dengan nasionalis itu bahawa kita pada keseluruhannya adalah dituntut agar bekerja dan berjihad; tiap-tiap jamaah berkewajipan mencapai matlamat masing- masing hingga Insya Allah kita bertemu di satu kemuncak kemenangan, maka inilah pembahagian yang direstukan.

Siapa lagi  yang kita harapkan selain dari mereka yang mendorong ummat- ummat timur dalam beberapa kumpulan, tiap-tiap kumpulan bekerja di medan masing-masing, hingga kita seluruhnya bertemu pada satu kemuncak kemerdekaan dan kebebasan yang gemilang.

Seluruh pengertian ini dan pengertian yang seumpamanya adalah satu pengertian nasionalis yang baik dan mengkagumkan. Islam tidak menolaknya –sedang Islam adalah neraca kita- malah kita membukakan dada kita menerima dan menggalakkannya.

 

Nasionalis jahiliah:

Tetapi sekiranya nasionalis yang dimaksudkan itu untuk menghidupkan semula adat-adat jahiliah yang telah pupus, menegakkan kembali kenang-kenangan lama yang telah luput, mengenepikan kemajuan yang mendatangkan manfaat yang telah stabil kedudukannya, lepas-bebas dari ikatan dan pertalian Islam dengan alasan nasionalis dan berbangga dengan keturunan dan jenis, sebagaimana yang dilakukan oleh setengah-setengah negara yang melampau dalam menghancurkan lahiriah Islam dan kebangsaan Arab, dengan menghapuskan tulisan dan bahasa, menghidupkan adat-adat jahiliah yang rendah mutunya, ini adalah pengertian nasionalis yang terkutuk, mendatangkan akibat yang merugikan dan buruk padahnya, membawakan kerugian kepada bangsa timur, melenyapkan perpaduannya, merendahkan statusnya, hilang keistimewaannya yang tersendiri, pupus lahiriahnya, kemuliaan dan kebiiaksanaannya yang kudus. Keadaan yang seperti ini tidak akan menjejaskan Islam itu sendiri. Firman Allah:

“Andainya kama berpaling tadah, Allah akan menggantikan kaum yang lain dari kamu, kemudian mereka tidak akan seperti kamu ‘:

 

Nasionalis permusuhan

Ataupun nasionalis yang dimaksudkan ialah kebangsaan jenis dan darjat dengan memandang rendah dan memusuhi jenis yang lain, mengorbankan jenis yang lain demi kemegahan dan keutuhan satu ummat sebagaimana yang telah dilakukan oleh Jerman dan Itali, malah sebagaimana yang telah dilaungkan oleh ummat yang mendakwa bahawa merekalah ummat yang tinggi darjatnya dari ummat yang lain maka pengertian ini adalah suatu pengertian yang terkutuk dan tidak sedikitpun mengandungi pengertian kemanusiaan kerana dengan pengertian ini manusia akan berbunuh-bunuhan sesama sendiri demi mengejar bayang-bayang yang tidak wujud pada hakikatnya dan tidak sedikitpun membawa kebaikan.

 

Dua asas:

Ikhwan Muslimun tidak mengimani pengertian nasionalis yang seperti ini dan pengertian-pengertian yang seumpamanya. Mereka tidak mengatakan Firaunian, Arabian, Finikian atau Surian.

Mereka tidak mengatakan satu pun istilah-istilah dan nama-nama yang digunakan orang lain, tetapi mereka beriman dengan apa yang telah disediakan oleh RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam sebagai manusia yang sempurna, malah guru yang paling sempurna, guru yang telah mengajarkan kebaikan kepada manusia dalam sabdanya: “Allah telah menghapuskan daripada kamu keangkuhan jahiliyyah dan kesombongannya dengan nenek moyangnya, semua manusia dari Adam dan Adam dari tanah. Tidak ada kelebihan bagi orang ‘Arab dari orang ‘Ajam (bukan Arab) kecuali dengan sifat taqwa’: Alangkah menarik, indah dan adilnya, semua manusia dari Adam, dari sudut ini mereka adalah sama, tinggi rendah manusia adalah berdasarkan amalnya.

Oleh itu kewajipan mereka ialah berlumba-lumba melakukan amal kebajikan. Dua asas yang kuat, seandainya manusia dibina di atas dua asas ini, kemanusiaan akan meningkat tinggi, setinggi langit. Manusia dari Adam dan dengan demikian mereka adalah bersaudara. Kewajipan mereka ialah bekerjasama, damai antara satu sama lain, mengasihani antara sesama mereka dan menunjukkan arah kebaikan sama sendiri. Tinggi dan rendah adalah berdasarkan amal. Oleh itu seharusnya mereka bersungguh-sungguh di bidang masing-masing agar kemanusiaan kelak melunjak tinggi. Adakah saudara lihat insaniah yang lebih tinggi dari itu, atau adakah saudara melihat didikan yang lebih istimewa dari didikan ini?

 

Sifat-sifat khusus bangsa Arab:

Di samping itu kita tidak mengingkari sifat-sifat khusus dan keistimewaan akhlak sesuatu bangsa, kita mengetahui bahawa tiap-tiap bangsa itu mempunyai keistimewaan, kelebihan dan akhlak yang tersendiri. Kita mengetahui bahawa semua bangsa tidak sama dalam hal ini tetapi ini bukanlah bererti mana-mana bangsa itu boleh menjadikan keistimewaan itu sebagai bibit permusuhan malah mereka haruslah menjadikannya sebagai satu wasilah untuk menunaikan tanggungiawab yang telah dipikulkan oleh semua bangsa tadi, tanggungiawab untuk membangunkan insaniah.

Boleh jadi saudara tidak mendapati dalam sejarah satu bangsa di bumi ini yang memahami pengertian ini sebagai mana yang telah difahami oleh ketumbukan bangsa Arab yang terdiri dari sahabat-sahabat RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam.

Perbicaraan yang panjang ini adalah menurut tuntutan perbincangan dan saya tidak ingin meneruskannya hingga perbicaraan ini membawa kejemuan, oleh itu saya akan kembali kepada apa yang kita bicarakan.

 

Ikatan ‘aqidah

Setelah perkara ini jelas kepada saudara, ketahuilah, semoga Allah akan menolong saudara, bahawa Ikhwan berpendapat manusia ini terbahagi kepada dua golongan jika dibandingkan dengan Ikhwan.

Sebahagiannya ialah mereka yang beri’tiqad sebagaimana i’tiqad Ikhwan Muslimin terhadap agama dan kitab Allah, beriman dengan kebangkitan Rasul dan apa yang dibawanya. Mereka ini mempunyai hubungan yang suci dengan kita – hubungan ‘aqidah. Manakala hubungan ‘aqidah bagi kita lebih kukuh dari hubungan darah dan bumi, merekalah kaum keluarga kita yang lebih hampir, kita untuk mereka, kita bekerja untuk mereka, kita rela binasa demi mempertahankan mereka, kita tebus mereka dengan jiwa dan harta kita tanpa mengira di bumi mana mereka berada dan dari darah mana asal keturunan mereka.

Tetapi kaum yang tidak beri’tiqad seperti i’tiqad kita dan masih belum berhubung dengan kita dengan hubungan ‘aqidah, kita akan mengambil sikap damai terhadap mereka selagi mereka bersikap damai terhadap kita. Kita ingikan kebaikan mereka selagi mereka tidak memusuhi kita. Kita menganggap bahawa mereka ada hubungan dengan kita, hubungan dakwah. Adalah menjadi kewajipan kita menyeru mereka menganuti ‘aqidah kita, kerana di sanalah kebaikan insaniyyah seluruhnya. Kita haruslah menuruti jalan-jalan yang telah ditentukan oleh agama ini untuk kejayaan dakwah. Kalau ada di antara mereka yang memusuhi kita, kita akan menjauhkan permusuhan itu dengan cara yang paling baik, jalan yang pernah dilakukan dalam usaha menolak permusuhan. Sekiranya saudara inginkan bukti yang demikian dari kitab Allah, maka dengarlah firman Allah ini:

“ Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara, maka damaikanlah antara saudara kamu’:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku ‘adil terhadap mereka yang tidak memerangi kamu dalam agama dan tidak mengusir kamu keluar dari negara kamu, sesungguhnya Allah mengasihi orang yang berlaku adil. Hanya sanya Allah melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu mereka yang memerangi kamu dalam agama, mengusir kamu keluar dari negara kamu  dan membantu orang lain untuk mengusir kamu “.

 

Mudah-mudahan dengan ini saya telah mendedahkan kepada saudara satu sudut dari dakwah kita, satu pendedahan yang dapat menghilangkan kesamaran dan kekaburan dalam hati saudara. Mudah-mudahan dengan ini saudara telah mengetahui di pihak mana Ikhwan Muslimun berada.

 

BERDEPAN DENGAN PERSELISIHAN PENDAPAT  DALAM AGAMA

Sekarang saya akan berbicara dengan saudara tentang dakwah kita berdepan dengan perselisihan-perselisihan pendapat dalam agama dan pendapat mazhab-mazhab.

Perpaduan, bukan perpecahan:

Pertama ketahuilah — semuga Allah akan membukakan kepada saudara — bahawa dakwah Ikhwan Muslimin tidak dibataskan kepada golongan-golongan tertentu, tidak juga menyebelahi mana-mana pendapat yang terkenal di kalangan orang ramai dengan satu bentuk yang tertentu. Dakwah Ikhwan adalah dakwah yang suci bersih dan tidak dikotori dengan sebarang warna, dakwah yang menyertai kebenaran di mana saja kebenaran itu berada, dakwah yang suka kepada kata sepakat, bencikan pengasingan diri.

Sesungguhnya bala besar yang menimpa orang Islam ialah perpecahan dan perselisihan. Dan asas kemenangan mereka ialah kasih sayang dan kesatuan.

Tidak ada sesuatu yang dapat memperbaiki generasi terakhir ummat ini kecuali sesuatu yang telah dapat memperbaiki generasi yang terdahulu. Itulah formula asasi dan matlamat yang jelas bagi setiap saudara Islam, itulah ‘aqidah yang termetri dalam sanubari kita, dari sana kita muncul dan ke sana kita seru.

 

Perselisihan pendapat satu kepastian:

Di samping itu kita mengimani bahawa perselisihan pendapat dalam masalah cabang agama adalah menjadi satu kepastian, dan kita tidak akan dapat kata sepakat dalam masalah-masalah cabang, pendapat-pendapat dan mazhab-mazhab. Hal ini adalah kerana beberapa sebab;

Diantaranya:

Kekuatan akal dalam mengeluarkan istinbat hukum tidak sama, demikian juga tidak sama dalam memahami dalil-dalil, menyelami pengertian-pengertian yang mendalam, juga tidak sama dalam menghubungkan suatu hakikat dengan hakikat yang lain, sedangkan agama adalah merupakan ayat-ayat dan Hadith-Hadith yang ditafsirkan oleh akal dan pendapat dalam batas-batas bahasa dan kaedah-kaedah yang tertentu.

Dalam soal ini kemampuan manusia tidak sama, oleh itu perselisihan pendapat adalah satu kepastian. Bertolak dari sinilah sempit dan luasnya ilmu seseorang. A, sampai kepada suatu peringkat yang tidak dapat dicapai oleh B, demikianlah seterusnya. Imam Malik telah berkata kepada Abi Ja’afar: “Sesungguhnya para sahabat RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam telah terpisah di kota-kota dan tiap-tiap kamu itu mempunyai ilmu, sekiranya engkau memaksa mereka mengikut satu pendapat sahaja akan berlakulah fitnah ‘:

Termasuk juga dalam persoalan ini ialah perbezaan suasana keadaan masyarakat. Pelaksanaan hukum berbeza menurut perbezaan suasana ini. Saudara lihat Imam Shafie sendiri membawa fatwa dengan pendapatnya yang terdahulu (Qaul qadim) di ‘Iraq berlainan dengan fatwanya yang baru (Qaul jadid) di Mesir, sedang beliau dalam dua keadaan ini memilih sesuatu yang jelas dan nyata baginya dengan tidak mengenepikan hak dan kebenaran dalam kedua-dua fatwanya itu.

Selain dari itu termasuk juga dalam masalah khilafiyyah ini perasaan puashati terhadap sesuatu riwayat Hadith sewaktu menerimanya. Kadangkala kita dapati seorang periwayat itu dipercayai (thiqah) menurut imam A, tidak ragu-ragu menerima sesuatu darinya, sedangkan pada waktu yang sama dan periwayat tersebut mempunyai kecacatan (illah) menurut imam B, berdasarkan pengetahuannya terhadap periwayat itu.

Termasuk juga dalam soal khilafiyyah ini perbezaan penilaian masing-masing terhadap dalil-dalil. Misalnya: A menganggap amalan orangramai lebih diutamakan dari khabar Ahad, sedangkan B berpendapat sebaliknya, begitulah seterusnya.

 

Ijma’ dalam perkara cabang tidak dapat dilakukan

Kesemua sebab-sebab di atas membuatkan kita berkeyakinan bahawa iima’ (kata sepakat) dalam suatu perkara cabang agama adalah suatu kemustahilan malah ianya bercanggah dengan tabiat agama itu sendiri. Sesuatu yang dikehendaki Allah ialah agar agama ini kekal sesuai untuk semua keadaan dan masa, cocok untuk semua zaman, dengan itu ternyatalah agama ini mudah, mencala, ringan, lembut, tidak jumud dan tiada kekerasan.

 

Maaf di atas perselisihan kita:

Kita mempunyai keyakinan demikian, oleh itu kita minta maaf sungguh-sungguh kepada mereka yang berselisih pendapat dengan kita dalam setengah-setengah masalah cabang dan kita berpendapat bahawa perselisihan ini bukanlah menjadi suatu halangan kepada pertalian hati, kasih sayang dan bekerjasama untuk kebaikan, tidak menjadi halangan kepada pengertian Islam yang menyeluruh dengan batasnya yang istimewa dan kandungannya yang luas hingga dapat menghimpunkan kita dan mereka dalam satu rumpun.

Bukankah kita Islam dan mereka juga Islam? Tidakkah kita ingin patuh kepada hukum yang menenangkan hati kita dan mereka juga demikian? Tidakkah kita dituntut mengasihi saudara kita seagama sebagaimana kita mengasihi diri kita? Oleh itu apakah yang menyebabkan perselisihan? Kenapa pendapat kita tidak dapat dijadikan sebagai satu pendapat yang masih boleh dibincangkan. Demikian juga sebaliknya pendapat mereka? Kenapa kita tidak bertolakansur dalam  suasana yang hening dan kasih sayang sekiranya di sana masih  ada sebab-sebab yang mendorong kita bertolak ansur?

Para sahabat RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam berselisih pendapat antara satu sama lain dalam memberi fatwa, tetapi adakah perselisihan ini membawa perselisihan dalam hati mereka? Adakah perselisihan ini memecahkan perpaduan atau ikatan mereka? Bukankan perselisihan mereka dalam menentukan sembahyang asar di Quraizah merupakan satu contoh paling baik ?

Sekiranya para sahabat berselisih sama sendiri sedangkan mereka adalah orang yang paling hampir kepada zaman Nubuwwah, orang yang paling ‘arif tentang qarinah-qarinah hukum, kenapa kita bercakaran sama sendiri kerana masalah khilafiyyah yang remeh dan tidak penting?

Sekiranya para imam yang terdahulu telah berselisih pendapat antara satu sama lain, berbahas antara sesama mereka, kenapa kita tidak menerima apa yang telah mereka terima? Sekiranya perselisihan pendapat telah berlaku dalam masalah cabang yang masyhur dan nyata seperti azan yang dilaungkan lima kali sehari, sedangkan di sana banyak nas-nas dan athar yang bersangkutan dengan masalah ini sebagai  tempat rujukan. Bagaimana pula pendapat saudara dalam masalah terperinci (detail) yang hanya dirujukkan kepada pendapat dan istinbat.

Kemudain di sana masih ada suatu perkara yang perlu diperhatikan iaitu dulu, bila perselisihan berlaku, orang ramai akan merujuk kepada “Khalifah” yang menjadi imam. Dia (khalifah) akan bertindak memberi kata putus. Kata putus ini akan menamatkan perselisihan, tetapi sekarang di manakah khalifah itu? Kalau inilah permasalahannya, maka perkara utama bagi ummat Islam hari ini ialah mencari seorang khalifah, setelah persoalan ini selesai mereka akan dapat membentangkan kaedah-kaedah yang mereka pegang kepada khalifah. Perselisihan sekarang jika berlarutan tanpa tempat rujuk akan membawa pula kepada perselisihan yang lain pula.

Ikhwan Muslimin mengetahui sudut ini, oleh itu kita melapangkan dada terhadap orang yang berselisih pendapat dengan kita. Kita berpendapat bahawa tiap-tiap kaum itu mempunyai ilmu pengetahuan yang tersendiri. Kita juga berpendapat bahawa tiap-tiap dakwah itu ada kebenaran dan kesalahannya, kita tunduk kepada kebenaran dan menerimanya. Kita mencuba dengan sedapat daya dan dengan lemah-lembut agar pihak yang berselisihan dengan kita menerima pendapat kita dengan puashati, sekiranya mereka puashati maka itulah yang diharapkan, tetapi sekiranya mereka tidak berpuashati mereka adalah tetap sebagai saudara dalam agama, kita berdoa agar Allah memberi hidayat kepada kita dan mereka.

Inilah manhaj Ikhwan Muslimin berdepan dengan orang yang berselisih pendapat dengan mereka dalam masalah cabang agama Allah. Saya dapat menyimpulkan kepada saudara bahawa Ikhwan Muslimin mengharuskan perselisihan pendapat, benci kepada sifat fanatik kepada mana-mana pendapat, mereka berusaha untuk mencapai kebenaran dan hak, mendorong manusia untuk mencapai kebenaran dan hak ini dengan jalan yang paling lembut dan kasih sayang.

 

RAWATAN

Diagnosis:

Saudaraku, ketahui dan pelajarilah bahawa kekuatan ummat, kelemahannya, mudanya, tuanya, sihat dan sakitnya sama keadaannya dengan tubuh badan manusia. Kadangkala saudara lihat seorang itu sihat ‘aflat, kuat dan seiahtera, tiba-tiba saudara lihat beliau diserang dan diratah penyakit, susuk tubuhnya digugat penyakit tersebut, beliau meratap dan melaung kesakitan, hinggalah rahmat Allah mendatang padanya dengan munculnya seorang doktor yang mahir dan bijak, mengetahui di mana tempat penyakit itu, pandai mengesan dan mengenali penyakit itu serta ikhlas dalam memberi rawatan. Setelah beberapa ketika saudara lihat pesakit itu kembali kepada kekuatannya yang asal dan kesihatannya telah pulih seperti sediakala, malah boleh jadi keadaannya setelah menerima rawatan lebih baik dari sebelumnya.

Demikian jugalah yang berlaku kepada sesuatu ummat, sentiasa terdedah kepada kejadian-kejadian zaman yang menggugat keutuhannya, menggegar binaannya, menular ke dalam sendi kekuatannya sebagaimana menularnya penyakit, sering memperdaya dan mencari peluang hingga dapat menewaskannya, hinggalah ummat itu kelihatan kerdil dan lemah, menjadi idaman mereka yang rakus, dapat ditewaskan oleh perompak dan ummat ini tidak mempunyai kekuatan untuk bertindak menentang perompak tadi. Mereka tidak bertenaga untuk menahan kebuasan yang bermaharajalela.

Penyakit ini hanya dapat diubat dengan tiga perkara:

  1. Mengetahui tempat penyakit itu
  2. Sabar menanggung keperitan, menerima rawatan dan
  3. Doktor yang dapat memberikan rawatan hinggalah dengan  kekuasaan Allah matlamat akan tercapai dengan sembuhnya penyakit dan beroleh kesejahteraan.

Percubaan dan kejadian telah mengajar kita bahawa penyakit yang menyerang lahiriah kehidupan ummat timur ini banyak sudut dan bentuknya.

Dari sudut siasah, timur diserang dengan penjajahan musuh dari satu pihak, manakala di pihak yang lain timur diserang peyakit perpecahan parti, permusuhan dan perpecahan sama sendiri.

Di sudut ekonomi, timur diserang dengan penularan penyakit riba di semua lapisan masyarakat di sainping syarikat-syarikat asing yang menopoli penghasilan dan kekayaan timur.

Di sudut fikiran, timur diserang dengan krisis aliran fikiran yang simpangan perinang, keluar dari landasan yang sebenar, mulhid yang meruntuhkan aqidah dan menghancurkan nilai-nilai ketinggian dalam jiwa generasinya.

Di sudut kemasyarakatan timur diserang krisis pembebasan dari adat resam dan akhlak, bebas dari nilai-nilai insaniyyah yang diwarisi dari nenek moyangnya. Demikian juga diserang dengan penyakit meniru barat yang menular dalam segenap bidang seperti menularnya bisa dalam tubuh yang meracuni darah hingga mengeruhkan kejernihan dan kesentosaannya. Diserang dengan undang-undang ciptaan manusia yang tidak dapat menghalang dan memberi amanah pengaiaran kepada penjenayah, tidak dapat mengajar pelampau dan tidak dapat menghapuskan kezaliman, tidak dapat menandingi undang-undang langit yang diturunkan oleh pencipta alam, raja dari segala raja, pencipta dan pendidik segala jiwa. Diserang dengan krisis dalam sistem pelajaran dan pendidikan yang menghalang ujudnya satu pimpinan yang sihat untuk kebangunan timur, menghalang tokoh-tokoh masa depan dan pemikul amanah dari menunaikan tanggungjawab mereka terhadap pembangunan timur.

 Di sudut kejiwaan, imur diserang dengan perasaan putus asa yang membunuh, kebekuan yang membatukan, kebaculan yang terkutuk, perasaan rendah diri yang hina, kepondanan yang merempat, kebakhilan dan keakuan yang mengikat tangan mereka dari menghulurkan sesuatu, menghalang mereka berkorban, menukar ummat ini dari satu barisan mujahidin kepada golongan yang leka dan lalai.

Apakah yang diharapkan dari ummat yang diserang hebat dengan penyakit-penyakit di atas, sedangkan penyakit yang paling buruk ialah penjajahan dan perpecahan parti, riba dan syarikat asing yang monopoli, mulhid, pemikiran bebas yang tidak berlandasan dan krisis sistem pelajaran, sistem perundangan, putus asa dan bakhil, pondan dan bacul, kagum terbadap musuh hingga meniru mereka dalam semua perkara terutama dalam bidang-bidang yang tidak mendatangkan faedah.

Salah satu dari penyakit ini telah cukup untuk membunuh mana-mana ummat yang bersatu dalam satu pembangunan, apatah lagi untuk membunuh ummat yang berpecah belah sama sendiri. Kalaulah tidak kerana kewibawaan, keengganan, tabah hati, kecekalan yang ada pada ummat timur yang telah diseret musuh dengan rantai permusuhan dari jauh, dipujuk untuk disuntik dengan kuman penyakit-penyakit di atas sejak zaman berzaman sehingga kuman-kuman itu telah biak…kalaulah tidak kerana perkara-perkara ini sudah lama bangsa timur ini tumpas  dan kesannya tidak akan dapat dilihat dalam wujud. Tetapi Allah  dan orang-orang mu’min tidak merelai perkara ini berlaku.

Saudaraku..,

Inilah diagnosis yang dapat dirasakan oleh Ikhwan Muslimun pada penyakit-penyakit ummat ini dan kerana  inilah mereka bekerja untuk menyembuhkan ummat ini dari penyakitnya, mengembalikan kesihatan dan keremajaannya yang telah hilang.

 

HARAPAN DAN PERASAAN

Sebelum saya membicarakan tentang wasilah yang harus ada pada kita, saya harap saudara mengetahui bahawa kita tidak putus asa di atas apa yang berlaku pada diri kita, kita mengharapkan kebaikan, kita percaya bahawa tidak ada yang menghalang kita dari kejayaan selain dari perasaan putus asa. Bila harapan kuat dalam jiwa kita insya Allah kita akan mencapai kemenangan dan kebaikan. Oleh itu kita tidak akan putus asa dan alhamdulillah putus asa tidak pernah menembusi pintu hati kita.

Suasana di sekeliling kita meniupkan harapan, sekalipun mereka yang membayangkan sesuatu yang buruk kekal dalam sangkaannya. Bila mulanya beliau bercakap dan bergerak kemudian beransur diam dan membisu lantas terus tidak bergerak, saudara akan merasa bahawa mautnya semakin hampir, sukar untuk sembuh semula, penyakitnya telah tenat. Tetapi kalau beliau saudara dapati dalam keadaan sebaliknya, dari diam beransur bercakap, dari kaku beransur bergerak, saudara akan merasakan bahawa beliau semakin pulih dan ada perubahan untuk kembali sihat dan ‘afiat.

Satu zaman telah berlalu bagi ummat-ummat timur, yang mana dalam zaman itu timur jumud dan beku hinggakan kejumudan dan kebekuan itu menjemu dan membosankannya tetapi sekarang ummat timur telah mendidih dengan satu kesedaran yang menyeluruh dalam segenap dengan perasaan yang hidup dan kuat, memuncak dengan semangat yang kencang. Kalaulah tidak kerana rantai penjajahan yang berat dan pimpinan yang kucar kacir nescaya kebangunan ini telah meninggalkan kesan yang menggembirakan, rantai yang berat itu tidak lagi akan merantai sepanjang masa, zaman akan berputar. Allah akan merobah dari satu keadaan kepada satu keadaan yang lain dalam sekelip mata. Orang-orang yang terpesona tidak akan terus terpesona, kesedaran dan pertunjuk akan mengiringi kesesatan, ketenangan akan membuntuti kegawatan, perkara silam dan akan datang terserah kepada kekuasaan Allah.

Oleh itu kita tidak sekali-kali berputus asa, ayat-ayat Allah, Hadith-hadith RasuluLlah Sallailahu ‘alaihi Wasallam dan Sunnah Allah dalam mendidik ummat dan membangunkan bangsa yang hampir-hampir tumpas, kisah-kisah yang diceritakan oleh Al qur’an kepada kita dalam soal ini adalah menyeru kita supaya mempunyai harapan yang besar, memimpin kita kepada kebangunan yang sebenarnya… Orang-orang Islam akan mengetahui perkara ini andainya mereka mempelajarinya.

Di awal surah Al Qasas saudara akan terbaca firman Allah:

“Ta Sin Mim, inilah ayat-ayat Kitab (Qur’an) yang nyata. Kami bacakan (bacakan) padamu sebahagian kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Fir’aun telah bermaharaja lela di bumi, menjadikan penduduknya berpecah belah, menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak- anak lelaki mereka dan membiarkan perempuan-perempuan mereka hidup. Sesungguhnya Fir’aun termasuk dalam golongan orang yang melakukan kebinasaan. Dan kami ingin memberi kurnia kepada orang- orang yang tertindas di bumi dan kami jadikan mereka  pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisinya (bumi) dan kami teguhkan kedudukan  mereka di bumi dan kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tenteranya apa yang sering mereka khuatirkan darimereka itu’:

Saudara baca ayat ini dan saudara lihat bagaimana kebatilan berlaku kejam dan berbangga dengan kekuatannya, yakin dengan kebesarannya, lupa pada kebenaran dan hak yang sering memerhatikannya, hingga apabila beliau merasa senang hati dan gembira dengan apa yang ada padanya, Allah menelungkupkannya dengan kekuasaannya yang tidak dapat dihalang, iradah Allah yang tidak merelai selain kemenangan orang-orang yang dizalimi, menolong orang-orang yang tertekan dan tertindas lantas dengan itu kebatilan akan terbungkar dari akar umbinya dan kebenaran tegak dengan binaannya yang kokoh dan kuat.  Dengan itu pejuang-pejuang kebenaran akan menang.

Ayat ini dan ayat-ayat yang seumpamanya di dalam Al Qur’an  tidak memberi keuzuran kepada mana-mana ummat yang beriman kepada Allah, RasulNya dan kitabNya untuk berputus asa dan menyerah kalah. Bilakah ummat Islam akan memahami kitab Allah?

Saudara, oleh kerana pengertian yang seperti ini, dan ianya banyak terdapat dalam agama Allah maka Ikhwan Muslimin tidak pernah merasa putus asa dari pertolongan Allah terhadap ummat ini sekalipun pada kenyataannya banyak halangan dan rintangan. Berdasarkan harapan inilah mereka bekeria bersungguh-sungguh dan dengan penuh harapan. Hanya Allah tempat minta pertolongan.

Adapun wasilah yang telah saya janjikan untuk membicarakannya tadi adalah terkandung dalam tiga rukun. Di sekitar tiga rukun inilah berputarnya fikrah Ikhwan Muslimin.

 

Pertama Manhaj-manhaj yang sahih. Ikhwan telah mendapati manhaj ini dalam kitab Allah dan sunnah RasulNya juga dalam hukum-hukum Islam bila orang-orang Islam memahami hukum-hukum itu dengan fahaman yang sebenarnya suci bersih, jauh dari campur aduk dan rekaan yang diada-adakan. Oleh itu Ikhwan Muslimin tekun mengkaji Islam di atas dasar ini, kajian yang mudah, luas dan mencakup segenap bidang.

 

 Keduanya – Pekerja-pekerja yang beriman. Bertolak dari rukun kedua inilah maka Ikhwan Muslimin telah mewajibkan ke atas diri mereka untuk melaksanakan spa yang mereka fahami dari agama Allah tanpa berlembut dan bertolak ansur. Alhamdulillah mereka beriman dengan fikrah mereka, yakin dengan matlamat mereka, percaya terhadap pertolongan Allah kepada mereka selagi mereka bekeria untuk Allah dan berialan mengikut pertunjuk RasuluLlah SallaLlahu ‘alaihi Wasallam.

 

 KetiganyaPemimpin yang cekal dan dipercayai. Ikhwan Muslimin telah mendapati pimpinan yang seperti ini. Mereka mematuhi dan bekerja di bawah benderanya.

 Saudaraku, inilah secara umum apa yang ingin saya bicarakan dengan saudara tentang dakwah kita, perbincangan yang masih boleh dita’birkan dan saudara adalah Yusuf yang mampu membuat penta’biran kepada impian ini. Apabila saudara tertarik dengan dakwah ini, maka letakkanlah tangan saudara di atas tangan kami agar kita dapat sama-sama bekerja di jalan ini.

Hanya Allah yang akan memberi taufiq kepada saudara dan kami, dialah tumpuan harapan kita, dialah sebaik-baik tempat kita berserah:

“Dia (Allah) adalah pelindungmu, maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong’:

“Allah maha besar dan segala puji bagi Allah”.

 

Ringkasan

DAKWAH KITA.

 

Terusterang : matlamat dan tujuan kita.

Suci : tiada kepentingan/ tidak mengharapkan apa-apa dari manusia.

Kasih sayang : kasih kepada umat lebih dari diri sendiri / sanggup berkorban/ itu hanya sedikit / semoga mereka peroleh petunjuk dari Allah.

Empat jenis golongan:

Mukmin: percaya dengan fikrah kita/ seru agar bersama / tiada guna iman tanpa amal/ tabiat pengikut Rasul dahulu.

Ragu-ragu: belum kenal fikrah dan ragui keikhlasan kita/ minta sentiasa berhubung dan baca tentang kita.

Mengejar manfaat : berkepentingan/ nyatakan kita tiada lain kecuali Allah / Semoga Allah buka pintu hatinya apa di sisi Allah lebih baik.

Jahat Sangka : pandang buruk, ragui/ doakan untuk mereka/ kita tak boleh beri petunjuk/ kasihi mereka.

Fana : Dakwah ini sesuai untuk yang berikan sepenuh diri untuknya/ tiada kongsi/ siapa tak mahu Allah akan gantikan dengan orang lain.

Jelas : seru manusia kepada suatu yang jelas/ manusia semua tahu masalah dan penyelesaian mereka.

 

Dua jenis iman : dalam umat ini ada:

  • iman mandul, mati dan tidur lesu
  • ada iman hidup

Ketika berbicara semua rasai semangat tetapi kemudian tidak ada apa-apa tindakan / pejuang larut bersama orang ramai. Kita mahu gerakkan iman yang hidup.

 

Pelbagai seruan:

  • Dunia penuh dengan seruan/ semua dakwa mereka betul dan paling baik.
  • Penyeru hari ini mengguna pelbagai macam cara jalan dakyah dan seruan untuk buktikan mereka betul dan pengaruhi manusia/ wasilah pelbagai diguna.
  • Di mana kita ?

 

Saya akan terangkan : hakikat bentuk dakwah kita / sikap kita dengan kumpulan lain.

  • Sifat utama dakwah kita – ISLAMIYYAH dengan pengertian yang menyeluruh.
  • Pengertian ini bukan diadakan oleh kita – ianya dari Al-Quran dan Sunnah.
  • Sikap kita terhadap mereka – bergantung selari atau tidak dengan prinsip kita.

 

Patriotik & Nasionalisma:

Orang timur bersemangat keduanya untuk melawan barat/ tidak tahu patriotisma dan nasionalisma Islam adalah lebih baik.

  • Patriotik kasihsayang – disuruh Islam / Bilal
  • Patriotik keagungan & kemerdekaan – disuruh Islam
  • Patriotik kemasyarakatan – bina kekuatan dan hubungan – Islam galakkan.
  • Penaklukan – Islam suruh dengan tujuan baik – jihad.
  • Patriotik perkauman – bergaduh, pecah dan berbaik dengan musuh – tidak diterima Islam.

PATRIOTIK kita :

  • Batasnya aqidah bukan tanah.
  • Matlamat kerja – menyebarkan Islam bukanya kebendaan.
  • Bangsa akan pecah? Tidak, bahkan lebih mudah untuk berada di bawah payung Islam dari mana-mana bangsa.

Nasionalisma:

Nasionalis apa?

  • Mengikut generasi dulu yang hebat – baik
  • Lebih layak menerima kebaikannya – baik
  • Tiap kumpulan bekerja dalam kumpulannya untuk sampai tujuan – baik

TETAPI jika nasionalis menghidupkan adat jahiliyyah, berbangga dengan keturunan, memandang rendah orang lain – keji.

  • Manusia semua sama – dari Adam/ hanya taqwa penentu.
  • Manusia didepan kita 2 jenis : sama aqidah dan tidak sama.

 

PERSELISIHAN PENDAPAT DALAM AGAMA.

  • Dakwah kita bersama kebenaran dimana jua/ sukakan kesatuan dan kasih sayang.
  • Perselisihan pasti berlaku kerana perbezaan kekuatan minda, zuruf, penerimaan hadis dan perbezaan menilai dalil.
  • Ijma dalam furu mustahil berlaku.
  • Maaf atas perbezaan pandangan – kita semua tetap Islam dan ingin patuh kepada Allah – ini lebih kukuh untuk bersatu.
  • Kita perlu bersatu untuk menyelamatkan agama.

 

PENYAKIT UMAT

  • Ummat sedang sakit – siasah/ ekonomi/ pemikiran/ kemasyarakatan/ kejiwaan dll.
  • Apa diharap lagi dari ummat ini?

 

HARAPAN DAN PERASAAN.

Kita masih belum putus asa – ramai yang berpenyakit kembali sembuh (awal surah Qasas)

Kita tetap akan bersungguh melalui 3 rukun wasilah ini:

  • Manhaj yang betul – Al-Quran dan Sunnah.
  • Pekerja yang benar-benar beriman – beriman dengan fikrah dan melaksanakan.
  • Pemimpin yang cekal dan thiqah.

Dakwah Sebagai Jalan Hidup

Gambar

Di antara beberapa orang yang berjuang di jalan dakwah ini, ada dua golongan yang berbeda yang mempunyai ciri khas satu sama lain terkait pelabuhan misi dakwah yang mereka bawa bersama visi pribadi mereka. Ada orang-orang yang menempatkan dakwah sebagai bagian dari aktivitas, sebagian yang lain menempatkannya sebagai jalan hidup.

Orang yang pertama adalah mereka yang terpuaskan oleh kesibukan kerja dan terisinya waktu luang. Maka saat dihadapkan kepada mereka sebuah pilihan, dia perlahan mundur lewat sela-sela baris hingga akhirnya terlepas darinya lingkungan yang mengikatkan diri mereka dengan dakwah. Dan seiring berjalannya waktu ia memilih menjadi manusia biasa seumumnya. Lebih memilih menjadi rumput dibandingkan dengan pohon rindang yang menyejukkan.

Segolongan orang kedua adalah mereka yang mengharapkan balasan dari Rabb-nya yang telah dijanjikan. Maka saat dihadapkan kepadanya pilihan, mereka mampu menempatkan dakwah di atas segala sesuatu. Dan ketika terpaksa harus meninggalkan dakwah, ia bersegera mencari ladang yang lain untuk disemai kebermanfaatannya. Orang-orang yang seperti ini adalah permatanya dakwah yang senantiasa menghiasi jalan dakwah dengan kemilau cahaya kesungguhan dan keikhlasan yang melangit.

Memilih dakwah sebagai jalan hidup berarti mengazamkan diri untuk terus terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang sarat pembelajaran. Karena kesadaran untuk belajar dari segala macam hal akan menuntun kita pada sekumpulan pengalaman, dan pengalaman inilah yang cenderung mengajarkan kita kehidupan yang sesungguhnya. Ibarat seorang penebang pohon, semakin banyak pohon yang berhasil ditebang, semakin dekat ia dengan predikat ahli. Maka jika kita takut gagal walau hanya sekadar menebang pohon sehingga kita tidak pernah melakukannya, mungkin kita hanya akan jadi pengumpul ranting-ranting kecil yang berserakan.

Inilah kawan, salah satu karakter seorang pejuang kehidupan yang hakiki. Berlari di atas jalan dakwah. Menjadi insan yang berusaha menyempurnakan ikhtiar dalam proses perbaikan diri hingga akhirnya menjadi sebuah langkah nyata untuk dapat memperbaiki umat ini. Karena ingatlah, bahwasanya hidup ini adalah sebuah kesempatan, kesempatan untuk kita mewujudkan sebuah mimpi peradaban yang umat ini sangat rindukan. Sebuah peradaban yang bernilai kemuliaan dalam pandangan Allah, dan kebermanfaatan dalam pandangan makhluk-Nya. Sekarang hanya ada dua kata kunci yang menjadi konsekuensi bagi jiwa yang menjadikan dakwah sebagai jalan hidup: Beramal dan berkaryalah!

 

Hadits-hadits Dakwah

 

  KEWAJIBAN DAKWAH

 

1)      مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرٍ فَاعِلِهِ (رواه مسلم)

 

“Barang siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melaksanakannya”

 

2)      مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ.( وراه صحيح مسلم)

Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, apabila belum bisa, maka cegahlah dengan mulutmu, apabila belum bisa, cegahlah dengan hatimu, dan mencegah kemungkaran dengan hati adalah pertanda selemah-lemah iman

 

 

HUKUM BERDAKWAH

 

 

1)      اَنْفِذْ عَلَى رَسُلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ اُدْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ وَأَخْبِرْهُمْ بـِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللهِ فِيْهِ فَوَاللهِ لِأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ )  (رواه البخارى)

 

“Ajaklah mereka memeluk Islam dan beritahu mereka apa-apa yang diwajibkan atas mereka yang berupa hak Allah di dalamnya. Demi Allah, Allah memberi petunjuk kepada seseorang lantaran engkau, adalah lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta merah”

 

 

 

METODE DAKWAH  RASULULLAH

       

 

1)      أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال يا عائشة: إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ ماَ لاَ يُعْطِي عَلَى العُنْفِ وَماَ لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ. (رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah Mahalembut, mencintaikelembutan, diamemberikankepada yang lembutapa yang tidakdiberikankepada yang kasar”

 

2)      إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ   (رواه مسلم)

“Sesungguhnya, tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali ia akan membaguskannya, dan tidaklah (kelembutan) itu tercabut dari sesuatu, kecuali akan memburukkannya”

3)      مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقُ يُحْرَمُ الْخَيْرُ (رواه مسلم)

Barangsiapa yang tidakterdapatkelembutanpadanya, makatidakadakebaikanpadanya

4)      وقال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم وهو يبعث الناس: (يَسُرُّوا وَلاَ تُعَسِّرُوْا، وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوْا مَعَسِّرِيْنَ) (رواه مسلم)

 

“Hendaklah kalian bersikapmemudahkandanjanganmenyulitkan.Hendaklah kalian menyampaikankabargembiradanjanganmembuatmerekalari, karenasesungguhnya kalian diutusuntukmemudahkandanbukanuntukmenyulitkan.”

 

 

MEDIA DAKWAH RASULULLAH

 

1) قَالَتْ عَائِشَةُ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ ( وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (( لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ(  (رواه أحمد)

A’isyah berkata bahwa Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an, (dan sesungguhnya engkau memiliki akhlak yang mulia), (Rasulullah telah menjadi contoh terbaik bagi kelian)

2)   نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مَبْلَغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ (رواه الترمذى عن ابن مسعود)

Allah mengelokkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalau disampaikannya sebagaimana yang ia dengar. Sebab, banyak yang menyampaikan lebih menjadi lebih sadar daripada yang hanya mendengarkan

       

 

 

RASULULLAH DAN KESABARAN DALAM BERDAKWAH

 

 

1.      قال عمر رضي الله عنه: ” وَجَدْنَا خَيْرَ عِيْشَنَا بِالصَّبْرِ “( رواه البخاري)

 

Dan kami merasakanbahwasebaik-baiknyahidupinidilalauidengankesabara

2.      قال رسول الله ص م: الصَّبْرُ ضِيَاءٌ (رواه أحمد و مسلم)

Sabar adalah cahaya

3.      قال رسول الله صلى الله عليه و سلم:  عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنْ أَمَرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءٌ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءٌ صَبَرَ فَكاَنَ خَيْرًا لَهُ (رواه مسلم)

“Sungguhmengagumkanurusanseorangmukmin, semuaurusannyaitubaikbainya, danitutidak lain hanyabagiseorangmukmin. Apabilamendapatkesenangandiabersyukur, danitubaikbaginya, danapabilamendapatkesulitandiabersabardanitubaikbaginya

 

4.      عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ (رواه الترمذى )

 

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya apabila Allah SWT mencintai suatu kaum, Allah akan mengujinya.

 

 

 

 

 

DAKWAH BI AL-LISAN DAN BI AL-HAL

 

1.      مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبْليِ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّوْنَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ يَقُوْلُوْنَ ماَ لاَ يَفْعَلُوْنَ وَيَفْعَلُوْنَ ماَ لاَ يُؤْمَرُوْنَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلَ (رواه مسلم من باب الإيمان).

 

Tidaklah seorang nabi yang diutus Allah dari umat sebelumku, kecuali dari umatnya terdapat orang-orang hawariyun (para pembela dan pengikut) yang melaksanakan sunnahnya serta melaksanakan perintah-perintahnya. Kemudian, datang generasi setelah mereka; mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mereka mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Oleh karena itu, siapa yang berjihad terhadap mereka dengan tangannya, maka ia adalah orang mukmin, siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya, maka ia adalah orang mukmin. Dan siapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya, maka ia adalah orang mukmin. sedangkan di bawah itu semua tidak ada keimanan meskipun hanya sebesar biji sawi (H. R. Muslim)

 

 

LUBBU DAKWAH RASULULLAH

 

1)        أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ (رواه البخارى)

 

“Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Setelah mereka mematuhi itu, beritahulah mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas mereka pelaksanaan lima kali shalat dalam sehari semala. Setelah mereka mematuhi itu, beritahulah mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan zakat atas mereka yang diambil dari yang kaya untuk disalurkan kepada yang miskin di antara mereka”

 

 

 

DAKWAH PARA SAHABAT NABI

 

1)          كاَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُصَلِّي وَأَبُوْ بَكْرٍ يُصَلِّي بِصَلاَتِهِ وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاَةِ أَبِي بَكْرٍ. (رواه البخارى)

“Rasulullah saw sholat dengan duduk dan Abu Bakar berdiri mengikuti gerakan Rasulullah dan seganap kaum muslimin mengikuti gerakan Abu Bakar”

 

 

     

 

 

Wahai Pemuda Idaman,,

Wahai Pemuda Idaman

Gambar

Assalamu’alaikum wr wb,,,,

Pemuda dalam setiap kurun adalah pelopor zamannya….;

Dalam kurun awal Islam kita temukan sosok-sosok muda: Ali bin Abi Tholib (8th), Zubair bin Awwam (8 th), Arqam bin Abil Arqam (11 th), Ja’far bin Abi Tholib (8 th) Shohih Ar Rumy (19 th), Zaid bin Haritsah (20 th) Saad bin Abi Waqash (17 th), Utsman bin Affan (20 th) Umar bin Khotobb (27 yh), Abu Ubaidah bin Jarroh (27 th), Abdurrahman bin Auf (30 th), Abu Bakar Ash Shidiq (37 th)

Sebab dalam jiwa mudalah Allah menyematkan karakter-karakter perubah: Kritis, dinamis, kreatif, inovatif, dan reaktif. Merekalah generasi-generasi penerus [2:132-133,25:74,19:42]; pengganti kaum sebelumnya [5:54,2:143], pembaharu/mujaddid dalam setiap masanya.

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk;[ Al Kahfi:13]

Rosulullah SAW berpesan:

“Jagalah lima hal sebelum datangnya lima hal: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang fakirmu, masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu” HR Al Hakim.
Rosulullah ditanya tentang apa yang akan dibalas dengan pahala atau siksa di hari kiamat, beliau menjawab:” Dia akan ditanya tentang apa yang ia perbuat untuk masa mudanya”. HR Tirmidzi
Tentang aktivitas pemuda, Rosulullah SAW bersabda: “ Sebaik-baik pemuda diantara kamu adalah yang mirip/seperti orang dewasa diantara kamu, dan sejelek-jeleknya orang tua diantara kamu adalah yang seperti pemuda diantara kamu” HR Baihaqi

AsySyahid Hasan Al Banna berpesan:
“Hendaklah anda selalu mengindahkan dan memperhatikan Allah SWT, selalu ingat akan akhirat dan bersiap-siap untuknya. Tempuhlah semua kelakuan yang dapat menyampaikan anda pada keridhaan Allah dengan tekad dan kesungguhan. Dekatkanlah diri anda kepada-Nya dengan melestarikan ibadat-ibadat sunnat seperti tahajud, shoum tiga hari dalam sebulan, memperbanyak dzikir dalam hati dan ucapan serta membiasakan berdoa dalam segala hal yang diriwayatkan dari Rosulullah SAW”

Asy- Syahid DR Abdullah Azzam berpesan:
“Wahai pemuda Islam….
Engkau tumbuh dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan kapal terbang dan deru suara tank. Jagalah diri kalian!
Jangan terpengaruh oleh senandung lagu milik orang yang dibuai kenikmatan hidup. Jangan terlena oleh musiknya orang yang bermewah-mewahan dan kasurnya orang yang kekenyangan.”

DR Abdullah Nasihih Ulwan menasihatkan:
Ingatlah wahai pemuda muslim…. kalian tidak akan dapat meraih suatu kemenangan bila tanpa dibarengi dengan iman dan taqwa, muroqobah dengan Allah dengan sembunyi atau terang-terangan. Perbaikilah niatmu. Jagalah dirimu dari maksiyat dan dosa. Kuasailah hawa nafsu dan jauhilah dari fitnah kehidupan dunia.
Sebenarnyalah misi Islam itu akan terwujud dengan:
1. Iman yang kuat [ Al Hujurat;15]
2. Keihlasan yang sungguh-sungguh [ Al bayyinah :5]
3. Tekad yang kuat tanpa rasa takut [Al Ahzab :39]
4. Usaha yang berkesinambungan [ At Taubah:105]

Sebuah kisah tatkala Umar RA tidak sabar menanti saat penaklukan Mesir di tangan Muslimin, beliau berkirim surat kepada panglima tertinggi : Amru bin Ash:
“ Amma ba’du. Sungguh aku heran atas kelambatan kalian, padahal kalian sudah bertempur selama dua tahun. Itu semua disebabkan karena kalian terlalu cinta terhadap kesenangan dunia sebagaimana musuh-musuh kalian. Padahal Allah sekali-kali tidak akan menolong suatu kaum sebelum dia membuktikan kesungguhan niatnya. Kepada Sa’ad bin Abi Waqash:
Aku berwasiat kepadamu dan kepada setiap tentaramu supaya senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Karena Taqwa adalah sebaik-baik bekal dalam menghadapi musuh. Taqwa adalah strategi perang yang paling jitu. Dan aku perintahkan kalian supaya mawas diri dengan ketat dari maksiyat lebih ketat darimawas diri dari musuh kalian, karena dosa pasukan lebih berbahaya daripada serangan musuh.
Kaum muslimin baru mendapat pertolongan-Nya manakala musuh-musuh mereka telah tenggelam dalam kemaksiyatan kepada Allah. Kalau bukan karena itu tentu kekuatan kita tidak ada artinya dalam menghadapi mereka, sebab baikjumlah personil maupun persenjataan kita jauh berbeda darimereka. Nah , kalau kita dan mereka setara dalam maksiyat, maka sudah barang tentu mereka akan lebih unggul dari kita.”

Benar sekali yang dikatakan Umar RA: “ Ummat Islam adalah suatu kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Tetapi bila mencari kemuliaan diluar dari garis yang telah ditentukan-Nya, maka niscaya Dia akan menghinakanya. {HR Al Hakim]
Wahai pemuda muslim! Sesungguhnya ummat ini benar-benar mengandalkan kalian. Oleh karenanya mohonlah kepada Allah akan pertolongannya. Insya allah kalian akan unggul. Berjalanlah di atas jalur yang pernah dilalui oleh para Nabi, singsingkan lengan bajukalian dan bangunlah kembali kejayaan Islam. Raihlah kejayaan yang pernah dicapai oleh nenek moyang kalian. Ingatlah didepan kalian hanya ada dua alternatif: menang ataumati syahid!

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. [At Taubah:105]

 

Izzatul Islam berpesan dalam nasyidnya:
“ Hai mujahid muda, maju kehadapan; Sibakkan penghalang, satukan tujuan. Kibarkan panji Islam dalam satu barisan, bersama berjuang kita junjung keadilan.
Jangan bimbang ragu, teruslah melaju; Hapus bayang semu, dilubuk hatimu. Bergerak kedepan bagai gelombang samodera. Lantakkan tirani, runtuhkan angkara murka.
Majulah wahai mujahid muda; dalam satu cita tegak kebenaran. Singkirkan batas satukan kata. Kebangkitan Islam telah dating,,,,,! “

“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan merekalah orang -orang yang memperoleh berbagai kebaikan dan merekalah orang-oang yang beruntung” (At Taubah: 88)

Rasulullah SAW menjanjikan bahawa Islampun akan menguasai dunia seperti sabdanya:

“Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan bagiku dunia ini, baik ufuk Timur mahupun Barat. Dan kekuasaan umatku sampai kepada apa yang telah diberikan kepadaku dari dunia ini. “

HR Muslim VIII/hadits no. 17771. Abu Daud hadits no 4252. Tirmidzi II/27. Ibnu Majah hadits no 2952 dan Ahmad V/278-284).

Dakwah

Rasulullah SAW bersabda:

“Perkara ini (iaitu Islam) akan merebak ke segenap penjuru yang ditembus malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumahpun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan memasukinya sehingga dapat memuliakan agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam dan yang dihinakan adalah kekufuran.” (HR ibnuHibban no. 1631-1632)

Inilah misi dan tanggung jawab generasi Islam di masa kini, iaitu mengemban dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin untuk menghidupkan Islam kembali. Hanya pemuda-pemuda Islamlah yang mampu menjayakan rencana tersebut. Banyak di antara pemuda sekarang yang telah bangkit, sedar dan bangun dari tidurnya bahawa Islamlah satu-satunya pandangan hidup mereka. Timbul dorongan besar dalam diri mereka untuk memperjuangkan islam, bersama gerakan-gerakan Islam yang saat ini sudah ada di seluruh dunia Islam yang jumlahnya sudah mencapai ribuan dan anggotanya kebanyakan adalah dari kalangan pemuda. Inilah masa kebangkitan pemuda Islam. Persatuan dunia Islam dan tegaknya kembali panji Laa Ilaha Illallaah Muhammadur Rasululllah ada di hadapan mereka.

Masa Depan Di Tangan Pemuda Islam

“Dialah yang mengutuskan rasulnya (dengan membawa ) petunjuk yang benar dan agama yang hak untuk dimenangkanNya diatas seluruh agama walaupun orang-orang musyrik membencinya ” (At-Taubah: 33)

  Bila kejayaan Islam masa lalu muncul akibat dakwah Islam yang banyak ditunjangi oleh para pemuda pemudi Islam yang memiliki sifat dan sikap perjuangan yang gigih yang sanggup tanpa mengira siang dan malam demi kepentingan Islam. Maka demikian juga masa depan Islam. Sunnahtullah tidak pernah berubah. Siapa yang unggul dialah pemimpin ummat Islam masa lalu, terutamanya para pemuda-pemudi unggul kerana mereka benar-benar memeluk Islam secara Kaffah, lurus aqidahnya dan penuh ketaatannya pada syariatnya. Bagaimana dengan pemuda-pemudi Islam sekarang,,,,,?

 

Pemuda-pemudi Islam sekarang hidup dalam lingkungan jahiliah disekitarnya berlaku tentangan kehidupan tidak Islam dalam hampir semua aspek kehidupan, disertai dengan proses melenyapkan islam melalui media massa yang semakin berleluasa. Dari satu sudut mereka tetap muslim tetapi dari sudut yang lain, pemikiran, perasaan dan tingkah laku dalam berpakaian, bergaul, bermuamalah telah banyak dicemari oleh pemikiran, perasan dan tingkah laku tidak islami yang kebanyakan bersumberkan dari khazanah pemikiran kafir Barat. Kafir Barat bersungguh sungguh melakukan proses pembaratan (westernisasi). Melalui racun sesat pemikiran Barat (westoxciation), mereka berusaha mempengaruhi dan membelokkan pemahaman kaum muslimin terutamanya kaum mudanya agar jauh dari nilai-nilai Islam yang murni. Di bidang ekonomi mereka mengembangkan kapitalisme yang berintikan asas manfaat. Menurut mereka, apa saja boleh dilakukan bila menguntungkan secara material, tidak peduli sekalipun ia bertentangan dengan aturan agama. Di bidang budaya menyebarkan westernisme yang berintikan amoralisme jahilliah. Bagi mereka tidak ada pantang larang, termasuk seks bebas, pakaian tidak senonoh, pelagi tidak menggangu kepentingan orang lain.

Di bidang politik, penyebaran nasionalisme yang menyebabkan kaum muslimin terpecah belah. Bila tidak waspada, pemuda-pemudi Islam masa kini akan dengan mudah terasing dari deennya. Ajaran-ajaran Islam tentang pakaian, makanan politik dan sebagainya, ditanggapinya sebagai fikiran dan seruan yang asing. Bila demikian keadaan pemuda-pemudi Islam sekarang, bagaimana akan dapat diharapkan kejayaan Islam di masa depan sebagaimana telah dijanjikan Allah?

Dahulu, (Imam) Syafii telah hafal Al Quran pada usia sekitar 9 tahun dan mulai diminta ijtihadnya pada usia kira-kira 13 tahun, akhirnya ia menjadi mujtahid, imam madzhab yang terkemuka. Hassan Al Banna mendirikan gerakan Ikhwanul Muslimin pada usia 23 tahun. Usamah bin Zaid pada usia 18 tahun telah memimpin pasukan perang Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam pada usia 8 tahun telah terlibat dalam perjuangan. Kini, apakah yang sedang dilakukan dan difikirkan oleh remaja berusia 8 hingga 18 tahun dan pemuda-pemudi berusia 23 tahunan ? Remaja dan pemuda-pemudi sekarang lebih banyak aktif untuk memuaskan nafsu remaja semata-mata. Lihatlah cara berpakaian mereka, cara bergaul, kreativiti dan sejenisnya. Gambaran remaja dan pemuda-pemudi yang tampil di berbagai media, tak ada bezanya antara mereka (yang mengaku Muslim) dengan artis-artis yang jelas menyebarkan kekufuran dan kesesatannya, realiti inilah yang terpampang di depan mata dan telinga kita.

Jelas, dan sangatlah jelas, perlunya kebangkitan umat, khususnya dari kaum mudanya, bila kita semua menginginkan kejayaan Islam kembali. Diperlukan pemuda-pemudi Islam sekualiti para sahabat yang memiliki komitmen tauhid yang lurus, keberanian menegak kebenaran. Akhirul Qalam marilah bersama bergerak dengan ayunan dan rentak yang sama. Semoga Daulah Khilafah tertegak di atas usaha kita,,,,

 

 

Kobarkan semangatmu wahai pemuda,,,,,

Wassalaam,,,