Arsip

Hati ini Untuk Siapa,,,

Siapakah diri ini?
Kemanakah hati ini berlabuh?

Kepada siapakah hati ini berpihak?

Dimanakah hati ini bermukim?

Apakah diri ini tergolong kepada manusia yang bersegera?

Apakah diri ini tergolong kepada manusia yang menunda-nunda?

Apakah hati ini condong kepada kekafiran?

Laa ilaaha ilallah,,,

Mengapa kafir Quraisy begitu memerangi Rasulullah SAW yang membawa kalimat tauhid ini? beliau begitu ditentang habis-habisan. Kaum kafir rela mengorbankan harta, tenaga dan nyawa agar kalimat ini tidak tegak di bumi Mekkah? Mengapa paman Nabi, Abu Thalib yang hingga akhir hayatnya, tetap tidak bersedia bersyahadat meski selama hidupnya ia teguh membela dan melindungi Rasulullah?

Wahai sekalian manusia, ucapkanlah Laa ilaaha illallah, kalian akan mendapat kesuksesan. (HR. Ahmad 16023, Ibnu Hibban 6562 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Apa susahnya bagi mereka sekedar mengucapkan kalimat tauhid ini? karena kaum kafir quraisy sangat memahami makna kalimat ini. mereka paham akan setiap arti suku kata kalimat Laa ilaaha illallah. Mereka juga paham akan konsekuensi ketika mereka mengucapkannya. Dan mereka sadar, kalimat ini sangat bertentangan dengan keyakinan mereka. Laa ilaaha illallah tidak hanya bermakna;

Tidak ada yang berkuasa selain Allah,

Tidak ada wujud yang haqiqi selain Allah,

Tidak ada pengatur alam semesta selain Allah,

Tidak ada penguasa abadi selain Allah.

Banyak pemuja kubur, pelaku perdukunan dan klenik, sampai pecandu kejawen, mereka kekeuh menolak untuk disebut melakukan kesyirikan, karena mereka masih meyakini bahwa yang kuasa hanyalah Allah. Selama kami meyakini bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta, yang memberi rizki hanya Allah, yang menciptakan dan menghidupkan hanya Allah, maka kami masih berpegang dengan Laa ilaaha illallah.

Subhanallah,,,,

Andai mereka berada di zaman Nabi, mungkin semua sahabat akan menyebutnya orang munafik. Mengaku muslim, tapi perbuatannya tidak berbeda dengan orang musyrik. Meskipun mereka shalat, mereka puasa, bahkan haji, namun ketika mereka memberikan satu peribadatan saja kepada selain Allah, berarti amal mereka menyimpang dari kalimat tauhid.

Yang kedua, justru kebalikannya. Yang penting laa ilaaha illallah ada di hati, namun sama sekali tidak pernah beramal. Tidak shalat, tidak puasa, tidak peduli dengan agamanya. Kasus semacam ini pernah terjadi di zaman ulama Tabiin Wahb bin Munabbih (w. 114 H). Ada seseorang yang bertanya kepada beliau,

“Bukankah laa ilaaha illallah adalah kunci surga.”

Maksud orang ini, yang penting orang sudah mengucapkan laa ilaaha illallah , dia terjamin masuk surga, sekalipun dia tidak beramal.

Kemudian dijawab oleh Imam Wahb bin Munabih,

“Benar, laa ilaaha illallah adalah kunci surga. Namun bukankah setiap kunci harus punya gigi. Jika kamu membawa kunci yang ada giginya, dibukakan surga untukmu, jika tidak ada giginya, tidak dibukakan surga untukmu. ” (HR. Bukhari secara Muallaq sebelum hadis no. 1237 dan disebutkan Abu Nuaim secara Maushul dalam al-Hilyah 4/66) .

Maka, makna yang benar telah dijelaskan di dalam Al-Quran

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil” (QS. al-Hajj : 62)

Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.

“Disembah”

Maka, seluruh perintah Allah,,,Ya, keseluruhan perintah Allah dalam Al-Quran wajib diikuti, ditaati, dilaksanakan. Dan, seluruh laranganNya, wajib ditinggalkan.

Ketika ada pertanyaan “kenapa kamu mengenakan jilbab?”, jawabannya; ini perintah Allah. Bukan karena ingin cantik, ingin terhindar dari godaan lelaki, disuruh, dan alasan lainnya.

Ketika ada pertanyaan “kenapa kamu tidak memakan babi?”, jawabannya; ini perintah Allah. Bukan karena babi mengandung penyakit ini, penyakit itu, bakteri ini bakteri itu.

Ketika ada pertanyaan “kenapa kamu mau berlelah lelah membela agama Islam, berdakwah?” jawabannya; ini perintah Allah. Bukan karena lulusan pesantren atau ingin menjadi ustadz ataupun ustadzah.

Dan surga adalah tempat terbaik bagi kita yang menjalankannya. InsyaAllah,,,

Apakah hati ini condong kepada kefasikan?

Fasik artinya keluar dari ketaatan kepada-Nya dan tidak mengikuti perintahnya. (Tafsir At-Thabari, 1 : 409).

“Kecuali iblis ((tidak mau sujud), dia termasuk golongan jin, dan dia berbuat fasik terhadap perintah Tuhannya.” (Q.S. Al Kahfi : 50)

Fasik ada dua:

– Fasik besar, yaitu kufur

– Fasik kecil

“Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama. (18) Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. (19) Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya. ” (QS. As-Sajdah: 18 – 20)

Fasik disini bermakna kekafiran, karena Allah kontraskan dengan iman dan diberi ancaman dengan siksa abadi di neraka.

Sedangkan fasik kecil, adalah perbuatan kefasikan yang tidak sampai pada derajat kekafiran. Misalnya firman Allah:

“,,, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus .” (QS. Al-Hujurat: 7)

Allah dalam ayat ini menyebutkan kekafiran, kemudian kefasikan, dan maksiat. Artinya tiga hal ini berbeda. Dan kefasikan dalam ayat ini adalah fasik kecil, artinya bukan kekufuran. Dosa-dosa besar yang tidak pernah ditaubatiu, serta dosa-dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus hingga jadi kebiasaan merupakah benih-benih kefasikan. Naudzubillah,,,

Dan hati itu adalah segumpal daging, yang tak seorangpun mengetahui isinya.

Namun, Allah akan memperlihatkan kepada dunia.

Mana hati yang benar-benar bertaqwa,,,

Mana hati yang benar-benar mencintaiNya,,,

Mana hati yang selalu mengingatNya,,,

Mana hati yang bersegera dalam bertaubat,,,

Mana hati yang memilih kekafiran,,,

Mana hati yang memilih kefasikan,,,

Mana hati yang dekat dengan maksiat,,,

Mana hati yang munafik,,,

Ketika Allah turunkan ujian, cobaan, sakit, derita, nestapa, dan kehancuran negeri, maka Allah sedang menyaring hati-hati kita. Siapakah kita? Dimanakah hati kita berlabuh?

Dan Allah berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah 208)

Semoga diri ini senantiasa tergolong ke dalam orang-orang yang berfastabiqul Khairat untuk berislam secara keseluruhan , baik hati, akal, pemikiran, pakaian, ucapan, tindakan, akhlak, dan perbuatan.

Wallahu a’lam.

Iklan

Benarkah Kita Kader Dakwah?

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki kepahaman yang utuh. Paham akan falsafah dasar perjuangan, paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan, paham akan cita-cita yang hendak dicapai, paham akan jalan yang harus dilalui. Kader dakwah memiliki pemahaman yang komprehensif. Paham akan tahapan-tahapan untuk merealisasikan tujuan, paham akan konsekuensi setiap tahapan, paham akan logika tantangan yang menyertai setiap tahapan, paham bahwa di setiap tahapan dakwah memiliki tingkat resiko yang berlainan. Kepahaman kader dakwah terus berkembang.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki keikhlasan yang tinggi. Ikhlas artinya bekerja hanya untuk Allah semata, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Sangat banyak godaan di sepanjang perjalanan dakwah, baik berupa harta, kekuasaan dan godaan syahwat terhadap pasangan jenis. Hanya keikhlasan yang akan membuat para kader bisa bersikap dengan tepat menghadapi segala bentuk godaan dan dinamika dakwah. Sangat banyak peristiwa di sepanjang perjalanan dakwah yang menggoda para kader untuk meninggalkan jalan perjuangan. Ikhlas adalah penjaga keberlanjutan dakwah.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki amal yang berkesinambungan. Amal dalam dakwah bukanlah jenis amal yang setengah-setengah, bukan jenis amal sporadis, spontan dan tanpa perencanaan. Sejak dari perbaikan diri dan keluarga, hingga upaya perbaikan masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia. Amal dalam dakwah memiliki tahapan yang jelas, memiliki tujuan yang pasti, memiliki orientasi yang hakiki. Kader dakwah tidak hanya beramal di satu marhalah dan meninggalkan marhalah lainnya. Kader dakwah selalu mengikuti perkembangan mihwar dalam dakwah, karena itulah amal yang harus dilalui untuk meretas peradaban.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki etos jihad yang abadi. Jihad dalam bentuk kesungguhan, keseriusan, dan kedisiplinan dalam menggapai visi dakwah yang hakiki. Kesungguhan membela hak-hak umat, kesungguhan mendidik masyarakat, keseriusan mengusahakan kesejahteraan masyarakat, kedisiplinan membersamai dan menyelesaikan persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Kader dakwah harus memberikan kesungguhan dalam menjalankan semua agenda dakwah, hingga menghasilkan produktivitas yang paripurna, di lahan apapun mereka bekerja. Itulah makna jihad dalam konteks perjalanan aktivitas dakwah.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki pengorbanan yang tak terhingga nilainya. Dakwah tidak mungkin akan bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Sejak dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, pikiran, fasilitas, hingga pengorbanan jiwa. Rasa lelah, rasa jenuh, rasa letih selalu mendera jiwa raga, kesenangan diri telah dikorbankan demi tetap berjalannya roda dakwah. Aktivitas dijalani sejak berpagi-pagi hingga malam hari. Kadang harus bermalam hingga beberapa lamanya, kadang harus berjalan pada jarak yang tak terukur jauhnya, kadang harus memberikan kontribusi harta pada kondisi diri yang belum mapan dari segi ekonomi. Pengorbanan tanpa jeda, itulah ciri kader dakwah yang setia.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki ketaatan kepada prinsip, keputusan organisasi, dan kepada pemimpin. Prinsip-prinsip dalam dakwah harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan. Taat kepada pondasi manhaj adalah bagian penting yang akan menghantarkan dakwah pada tujuannya yang mulia. Taat kepada keputusan organisasi merupakan syarat agar kegiatan dakwah selalu terbingkai dalam sistem amal jama’i. Taat kepada pemimpin merupakan tuntutan agar pergerakan dakwah berjalan secara efektif pada upaya pencapaian tujuan. Ketaatan bukan hanya terjadi dalam hal-hal yang sesuai dengan pendapat pribadi, namun tetap taat terhadap keputusan walaupun bertentangan dengan pendapatnya sendiri.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki keteguhan tiada henti. Kader dakwah harus selalu tegar di jalan dakwah, karena perjalanan amatlah panjang dengan berbagai gangguan dan tantangan yang menyertainya. Teramat banyak aktivis dakwah semasa, dimana mereka memiliki semangat yang menyala pada suatu ketika, namun padam seiring berjalannya usia. Ada yang tahan tatkala mendapat ujian kekurangan harta, namun menjadi gugur saat berada dalam keberlimpahan harta dunia. Ada yang tegar saat dakwah dilakukan di jalanan, namun tidak tahan saat berada di pucuk kekuasaan. Kader dakwah harus berada di puncak kemampuan untuk selalu bertahan.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki kemurnian dan kebersihan dalam orientasi aktivitasnya. Sangat banyak faktor yang mengotori kebersihan orientasi dakwah. Ada kekotoran cara mencapai tujuan. Ada kekotoran dalam usaha mendapatkan harta. Ada kekotoran dalam langkah menggapai kemenangan. Kader dakwah harus selalu menjaga kemurnian orientasinya, tidak berpaling dari kebenaran, tidak terjebak dalam kekotoran. Karena dakwah memiliki visi yang bersih, sehingga harus dicapai dengan langkah dan usaha yang bersih pula.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan yang tinggi. Ukhuwah adalah sebuah tuntutan dalam menjalankan agenda-agenda dakwah. Semakin besar tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah, harus semakin kuat pula ikatan ukhuwah di antara pelakunya. Kader dakwah saling mencintai satu dengan lainnya, saling mendukung, saling menguatkan, saling meringankan beban, saling membantu keperluan, saling berbagi dan saling mencukupi. Kader dakwah tidak mengobarkan dendam, iri dan benci. Kader dakwah selalu membawa cinta, dan menyuburkan dakwah dengan sentuhan cinta.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki tingkat kepercayaan yang tak tertandingi. Berjalan pada rentang waktu yang sangat panjang, dengan tantangan yang semakin kuat menghadang, menghajatkan tingkat kepercayaan prima antara satu dengan yang lainnya. Berbagai isu, berbagai fitnah, berbagai tuduhan tak akan menggoyahkan kepercayaan kader dakwah kepada para pemimpin dan kepada sesama kader dakwah. Berbagai caci maki, berbagai lontaran benci, berbagai pelampiasan kesumat, tak akan mengkerdilkan kepercayaan kader terhadap langkah dakwah yang telah dijalaninya.

Jadi, benarkah kita kader dakwah?

Islam, Iman dan Ihsan

Tingkatan Dalam Islam yaitu : Islam, Iman dan Ihsan

 

Pembaca yang budiman, di kalangan tarekat sufi sangat terkenal adanya pembagian agama menjadi 3 tingkatan yaitu: Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat. Orang/wali yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat sudah tidak lagi terbebani aturan syari’at; sehingga dia tidak lagi wajib untuk sholat dan bebas melakukan apapun yang dia inginkan… demikianlah sebagian keanehan yang ada di seputar pembagian ini. Apakah pembagian semacam ini dikenal di dalam Islam?

Islam Mencakup 3 Tingkatan

Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah didatangi malaikat Jibril dalam wujud seorang lelaki yang tidak dikenali jatidirinya oleh para sahabat yang ada pada saat itu, dia menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman dan Ihsan. Setelah beliau menjawab berbagai pertanyaan Jibril dan dia pun telah meninggalkan mereka, maka pada suatu kesempatan Rosululloh bertanya kepada sahabat Umar bin Khoththob, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ?” Maka Umar menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya lah yang lebih tahu”. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya dia itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh mengatakan: Di dalam (penggalan) hadits ini terdapat dalil bahwasanya Iman, Islam dan Ihsan semuanya diberi nama ad din/agama (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 23). Jadi agama Islam yang kita anut ini mencakup 3 tingkatan; Islam, Iman dan Ihsan.

Tingkatan Islam

Di dalam hadits tersebut, ketika Rosululloh ditanya tentang Islam beliau menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang haq) selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, engkau dirikan sholat, tunaikan zakat, berpuasa romadhon dan berhaji ke Baitulloh jika engkau mampu untuk menempuh perjalanan ke sana”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini ialah bahwa Islam itu terdiri dari 5 rukun (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 14). Jadi Islam yang dimaksud disini adalah amalan-amalan lahiriyah yang meliputi syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.

Tingkatan Iman

Selanjutnya Nabi ditanya mengenai iman. Beliau bersabda, “Iman itu ialah engkau beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir dan engkau beriman terhadap qodho’ dan qodar; yang baik maupun yang buruk”. Jadi Iman yang dimaksud disini mencakup perkara-perkara batiniyah yang ada di dalam hati. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah pembedaan antara islam dan iman, ini terjadi apabila kedua-duanya disebutkan secara bersama-sama, maka ketika itu islam ditafsirkan dengan amalan-amalan anggota badan sedangkan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan hati, akan tetapi bila sebutkan secara mutlak salah satunya (islam saja atau iman saja) maka sudah mencakup yang lainnya. Seperti dalam firman Alloh Ta’ala, “Dan Aku telah ridho Islam menjadi agama kalian.” (Al Ma’idah : 3) maka kata Islam di sini sudah mencakup islam dan iman… (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 17).

Tingkatan Ihsan

Nabi juga ditanya oleh Jibril tentang ihsan. Nabi bersabda, “Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah penjelasan tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu: menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 21). Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.

Bagaimana Mengkompromikan Ketiga Istilah Ini?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan yang maknanya, Bila dibandingkan dengan iman maka Ihsan itu lebih luas cakupannya bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada iman bila ditinjau dari orang yang sampai pada derajat ihsan. Sedangkan iman itu lebih luas daripada islam bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada islam bila ditinjau dari orang yang mencapai derajat iman. Maka di dalam sikap ihsan sudah terkumpul di dalamnya iman dan islam. Sehingga orang yang bersikap ihsan itu lebih istimewa dibandingkan orang-orang mu’min yang lain, dan orang yang mu’min itu juga lebih istimewa dibandingkan orang-orang muslim yang lain… (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 63)

Muslim, Mu’min dan Muhsin

Oleh karena itulah para ulama’ muhaqqiq/peneliti menyatakan bahwa setiap mu’min pasti muslim, karena orang yang telah merealisasikan iman sehingga iman itu tertanam kuat di dalam hatinya pasti akan melaksanakan amal-amal islam/amalan lahir. Dan belum tentu setiap muslim itu pasti mu’min, karena bisa jadi imannya sangat lemah sehingga hatinya tidak meyakini keimanannya dengan sempurna walaupun dia melakukan amalan-amalan lahir dengan anggota badannya, sehingga statusnya hanya muslim saja dan tidak tergolong mu’min dengan iman yang sempurna. Sebagaimana Alloh Ta’ala telah berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu mengatakan ‘Kami telah beriman’. Katakanlah ‘Kalian belumlah beriman tapi hendaklah kalian mengatakan: ‘Kami telah berislam’.” (Al Hujuroot: 14). Dengan demikian jelaslah sudah bahwasanya agama ini memang memiliki tingkatan-tingkatan, dimana satu tingkatan lebih tinggi daripada yang lainnya. Tingkatan pertama yaitu islam, kemudian tingkatan yang lebih tinggi dari itu adalah iman, kemudian yang lebih tinggi dari tingkatan iman adalah ihsan (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 64)

Kesimpulan

Dari hadits serta penjelasan di atas maka teranglah bagi kita bahwasanya pembagian agama ini menjadi tingkatan Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat tidaklah dikenal oleh para ulama baik di kalangan sahabat, tabi’in maupun tabi’ut tabi’in; generasi terbaik ummat ini. Pembagian yang syar’i adalah sebagaimana disampaikan oleh Nabi yaitu islam, iman dan ihsan dengan penjelasan sebagaimana di atas. Maka ini menunjukkan pula kepada kita alangkah berbahayanya pemahaman sufi semacam itu. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa mencapai keridhoan Alloh Ta’ala kalau cara beribadah yang mereka tempuh justeru menyimpang dari petunjuk Rosululloh ? Alangkah benar Nabi yang telah bersabda, “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim). Barangsiapa yang ingin mencapai derajat muhsin maka dia pun harus muslim dan mu’min. Tidak sebagaimana anggapan tarekat sufiyah yang membolehkan orang yang telah mencapai Ma’rifat untuk meninggalkan syari’at. Wallohu a’lam.

 

Pengertian Jamaah

kewajiban berjamaah

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اَلْجَمَاعَةُcerita-langit-dan-bumi

AL JAMA’AH

 

  1. TA’RIF JAMA’AH
  2. Secara Bahasa

الْجَمَـاعَةُ هِىَ الاِجْتِمَـاعُ وَ ضِدُّهـَا التَّفرُّقُ

Secara bahasa kata Al Jamaah terambil dari kata Al Ijtima’(perkumpulan) lawan kata dari At Tafarruq (perpecahan) [1]

الْجَمَـاعَةُ هِىَ الاِجْتِمَـاع وَ ضِدُّهـَا الفِرْقَـةُ

Secara bahasa kata Al Jamaah terambil dari kata Al Ijtima'(perkumpulan), dan lawan kata dari Al Firqoh (Golongan) [2]

 

  1. Secara Istilah

وَ الْجَمَـاعَةُ طَائِفَةٌ مِنَ النَّـاسِ يَجْمَعُهَـا عَرْضٌ وَاحِدٌ

Al Jamaah  bermakna : Sekelompok Manusia yang berkumpul dalam satu tujuan [3]

 

  1. Secar Syara’

Ma’na syar’an   Al Jama’ah adalah sebagaimana yang diberikan olehAhlul ‘Ilmiy, akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam memberikan definisi-nya. Sedang maksud definisi yang mereka berikan adalah definisi untuk makna Al-Jama’ah dalam artiJama’atul-Muslimin, bukan yang lain. Paling tidak ada 5 makna menurut mereka, yaitu :

  1. Jama’ah adalah sawadul a’dhom(jumlah yang terbesar / mayoritas) dari kaum muslimin yang terdiri dari  para mujtahid ummat, ulama’-ulama-nya, para ahli syari’ah dan ummat yang mengikuti mereka. Selain mereka yang disebutkan di atas (yang keluar dari jamaah) adalah Ahlul Bid’ah.
  2. Jama’ah adalah jama’ah-nya para aimmah mujtahidin dariahli fiqh, ahli hadits dan ahli ilmu.Dan barangsiapa yang keluar dari mereka maka ia mati seperti dalam keadaan Jahiliyyah. Karena ulama’ adalah hujjah Allah atas seluruh ummat manusia.
  3. Jama’ah adalah parashahabat radliyallaahu ‘anhum saja. Yang maksud dari luzumul-Jama’ah disini adalah meng-iltizamidan mengikuti petunjuk apa saja yang ada pada mereka. Karena merekalah penegak  pilar-pilar Ad-Dien dan mereka mustahil bersepakat dalam kesesatan.
  4. Jama’ah adalah jama’ah orang-orang Islam apabila mereka berkumpul (sepakat) dalam satu masalah, yang wajib bagi yang lain mengikuti mereka.

Dari empat pendapat pertama ini dapat disimpulkan yaitu bahwa makna luzumul Jama’ah adalah : Mengikuti Ahlul Ilmy dalam Al haq dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Makna inilah yang dimaksud dengan jama’ah ahlil Ilmi dan ulama’ mujtahidin dari kalangan Ahlus-Sunnah. Merekalah Al Firqoh An Najiyah yang semua orang wajib mengikuti mereka dalam ‘aqidah dan manhaj-manhajnya.[4]

  1. Jama’ah adalah Jama’atul Muslimin apabila mereka berkumpul (sepakat) pada satu imam. Maka Rosululahshalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan untuk mengiltizami-nya dan melarang dari memecah belah ummat terhadap apa yang mereka sepakati.[5]

 

  1. MASYRU’IYYAH AL JAMAAH

 

Allah ‘Azza wa Jalla dan Rosul-Nya dalam kitab-Nya dan sunnah rosul-Nya telah menyuruh ummat manusia agar hidup ber-jamaah, berkumpul, saling membantu, saling meringankan dan melarang dari berpecah belah, bercerai berai, juga saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Banyak Nash-nash Al Quranul Karim dan Hadits Rosulullahshalallahu ‘alaihi wa salam yang mengisyaratkan akan hal itu, diantaranya :

 

  1. Firman Allah Azza wa Jalla :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ { ال عمران  103}

Ibnu Katsir dalam tafsir Al Quran Al ‘Adhim-nya menyebutkan tentang maksud ayat di atas yaitu perintah untuk berpegang teguh dengan Al Quran, berjamaah serta menggalang persatuan dan bersatu, serta larangan untuk bercerai berai, Beliau menambahkan lagi dengan menyitir hadits dari Abi Huroiroh, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَ يَسْخَطُ لَكُمْ  ثَلاَثاً : يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَ لاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَ أَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَ لاَ تَفَرَّقُوْا وَ أَنْ تَنَـاصَحُوْا مَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكُمْ , وَ يَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثًا : قِيْل وَقَالَ , وَكَثْرَةَ السُّوأَلِ وَ إِضَاعَةَ الْمَـالِ {رواه  مسلم }

Sesungguhnya Allah ridho kepada kalian akan 3 hal dan marah akan 3 hal juga. Ia ridho kepada kalian akan hal ; bahwa kalian beribadah kepada-Nya saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, agar kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan jang bercerai berai, dan agar kalian saling menasehati orang yang oleh Allah ditaqdirkan memegang urusanmu. Dan Ia marah kepada kalian akan hal ; Banyak bicara tanpa tahu sumber dari yang dibicarakan, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta. (HR Muslim) [6]

 

 

  1. Firman Allah Ta’ala :

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلاَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ { ال عمران 105}

Ibnu Katsir berkata, “Allah Ta’ala melarang ummat ini seperti umat yang terdahulu yang berpecah belah, berselisih, meninggalkan amar ma;ruf nahi mungkar, serta tidak berani berhujjah terhadap kaum mereka.” Lalu beliau menyitir hadits iftiroq yang di dalamnya hanya ada satu golongan yang masuk jannah, yaitu Al-jamaah  [7]

 

  1. Sabda Rasululloh shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

إِنَّ اَهْلَ الْكتِاَبَىْ افْتَرَقُوْا فِى دِيْنِهِمْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ إِنَّ هَذِهِ الْاُمَّةِ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٌ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً (يَعْنِى الاَهْوَاء) كُلُّهَا فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةً وَ هِىَ الْجَمَاعَةُ { احمد و ابو داود و الحاكم عن معاوية }

Sesungguhnya dua Ahlul Kitab berpecah belah dalam dien mereka menjadi 72 golongan, dan sungguh ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan    -yaitu ahlul ahwa’-    kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah. (Abu Dawud, Ahmad, Hakim dll hadits dari Mu’awiyah dan Anas radliyallaahu ‘anhu)[8]

 

  1. Sabda Rasululloh shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

وَ إِنَّ بَنِى إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِىْ عَلَى ثَلاَثٌ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةٌ . قَالُوْا : وَ مَنْ هِىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟  قَالَ : مَا اَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِى { الترمذى و الحاكم و غيرهما عن عبد الله بن عمروا بن العاص }

“Dan sesungguhnya Bani Isroil terpecah menjadi 72 golongan, dan ummat-ku akan terpecah menjadi 73 golongan yang seluruhnya akan masuk neraka kecuali satu golongan saja”. Para shahabat bertanya, “Siapakah mereka itu ya Rosulullah ?”, Rasulullah bersabda,”Yaitu yang aku dan para shahabatku ada pada mereka “. (HR Tirmidziy, Hakim dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash)

 

 

  1. Sabda Rasulullahshallallaahu ‘alayhi wa sallam :

تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَـامَهُـْم { البخـارى و مسلم }

Ber-iltizam-lah pada Jama’atul Muslimin dan Imam mereka (Al-Bukhoriy dan  Muslim)

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

عَلَيْكُمْ بِالْجَماَعَةِ وَ إِيَّاكُمْ وَ الْفُرْقَةَ فَاِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَ هُوَ مِنَ الْاِثْنَيْنِ اَبْعَدُ , مَنْ اَرَادَ بُحْبُحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزِمِ الْجَمَاعَةَ { رواه الترميذى و الحاكم و احمد ووافقه الذهبى و ابن ابى عاصم }

“Aku perintahkan kepada kalian agar berjama’ah dan jauhilah berfirqoh, maka sesungguhnya syaithon itu bersama seorang yang sendirian dan ia dari dua orang lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan tengah-tengahnya (mewahnya) jannah, maka hendaklah ia ber-iltizam kepada Jama’ah ” (Tirmidzi, Hakim, Ahmad dan disepakati Adz Dzahabiy dan Ibnu Abi ‘Ashim)

 

  1. Sabda Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam:

اَمَرَكُمْ بِخَمْسٍ مَا اَمَرَنِىَ اللهُ بِهِنَّ بِالْجَمَاعَةِ وَ السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ الْهِجْرَةِ وَ الْجِهَادِ فِى سَبِيْلِ اللهِ فَاِنَّهُ مَنْ خَرَجَ عَنِ الْجَمَاعَةِ قَيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الاِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ اِلاَّ اَنْ يَرْجِعَ { احمد والبيهقي 4/320و 202, 5/344, رجاله الصحيح خلا واحد و هو الثقة }

Aku perintahkan kepada kalian 5 (lima) perkara, yang mana Allah perintahkan hal itu kepadaku, (yaitu agar kalian) berjama’ah, mendengar, tha’at, hijroh dan berjihad di jalan Allah. Karena sesungguhnya barang siapa yang keluar dari jama’ah (Jama’atul-muslimin) sejengkal saja, maka ia telah melepas ikatan Islam dari lehernya, kecuali jika ia kembali.[9]  (Ahmad dan Baihaqi, 4/230,202,5/344, Rijal-nya shohih kecuali satu, tsiqoh.)

 

 III.   HAKEKAT AL JAMA’AH

 

Kalimat Al-Jama’ah tidak satupun yang terdapat dalam Al-Qur’an Al Karim, namun banyak sekali terdapat dalam As Sunnah. Dan setiap lafadh jama’ah dalam sunnah pasti diikuti dengan larangan berpecah-belah baik secara tersirat maupun tersurat.

Namun seluruh kata Al Jama’ah dan Al Bai’ah yang terdapat dalam hadits-hadits Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa salam adalah bermakna dan mengacu kepada Jama’tul Muslimin, dan tidak satupun yang mengacu serta menjadi dalil untuk Jama’atul Minal Muslimin yang  ada sekarang ini.

Hakekat Al Jama’ah terdiri dari dua makna yang berdiri sendiri-sendiri namun saling berkaitan dan sama-sama memiliki kedudukan yang esensial. Yang jika keduanya terkumpul jadi satu maka lengkap dan sempurnalah makna jama’ah dan ia baru bisa disebut sebagai Jama’atul Muslimin.

 

1.1.      MAKNA YANG PERTAMA

 

Makna yang pertama dari makna Jama’ah adalah : Berkumpul (bersepakat) dalam pokok-pokok yang prinsip dalam  Al Quran, As Sunnah dan Ijma’, serta mengikuti apa saja yang terdapat pada para Salafush Sholeh, dari menetapi Al Haq, mengikuti As Sunnah serta menjauhi bid’ah dan hal-hal yang baru, yang di ada-adakan. Dan lawan dari Jama’ah dalam makna ini adalah memecah-belah Ad Dien, dan orang yang menyelisihinya  adalah golongan sesat dan Ahlul Ahwa’.

Diantara nash-nash dalam makna ini adalah, sabda Rasulullahshalallaahu ‘alayhi wa sallam.[10]

إِنَّ اَهْلَ الْكتِاَبَىْ افْتَرَقُوْا فِى دِيْنِهِمْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ إِنَّ هَذِهِ الْاُمَّةِ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٌ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً (يَعْنِى الاَهْوَاء) كُلُّهَا فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةً وَ هِىَ الْجَمَاعَةُ { احمد و ابو داود و الحاكم عن معاوية }

Sesungguhnya dua Ahlul Kitab berpecah belah dalam dien mereka menjadi 72 golongan, dan sungguh ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan    -yaitu ahlul ahwa’-   kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah. (Abu Dawud, Ahmad, Hakim dll hadits dari Mu’awiyah dan Anas radliyallaahu ‘anhu)[11]

لاَ يَحِلُّ دَمَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله وَ اَنِّى رَسُوْلُ اللهِ اِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ , النَّفْسُ بِالنَّفْسِ  وَ الثَّيِّبُ الزَّنِى وَ التَّارِكُ لِدِيْنِهِ وَ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah kecuali dengan salah satu tiga perkara : (yaitu) seorang yang membunuh lalu dibunuh (qishosh), orang yang telah menikah lalu melakukan zina (dirajam) dan orang yang keluar dari diennyua  yang meninggalkan Jamaah (murtad)

الصَّلاَة ُالْمَكْتُوْبَةُ اِلَى الصَّلاَةِ الَّتِى بَعْدَهُا كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا . قَالَ : وَ الْجُمْعَةُ اِلَى الْجُمْعَةِ وَ الشَّهْرُ اِلَى الشَّهْرِ _ يَعْنِى الرَّمَضَان _ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا . قَالَ بَعْدَ ذاَلِكَ : اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ .  قَاَل : فَعَرَفْتُ اَنَّ ذَالِكَ الْاَمْرَ حَدَثٌ . الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَ نَكْثُ الصَّفَقَةِ وَ تَرْكُ السُّنَّةِ . قَالَ : اَمَّا نَكْثُ الصَّفَقَةِ اَنْ تَبَايَعَ رَجُلاٍ ثُمَّ تُخَالَفُ اِلَيْهِ تُقَاتِلُهُ بِسَيْفِكَ وَ اَمَّا تَرْكُ السُّنَّةِ فَالْخُرُوْجُ عَنِ الْجَمَاعَةِ {رواه  احمد }

Sholat wajib yang satu hingga sholat wajib yang lainnya adalah (dapat)  menutupi dosa-dosa (pelakunya) antara keduanya, demikian pula dari bulan ke bulan   -yaitu Ramadhan-   menutupi dosa-dosa antara keduanya.”  Setelah itu beliau bersabda, (berkata Abu Huroyroh, “Aku tahu bahwa urusan itu pasti akan terjadi”) kecuali tiga hal (yaitu) syirik kepada Allah, Nakshush Shafaqoh dan meninggalkan sunnah, adapun Nakshus Shafaqoh adalah kamu baiat seseorang kemudian kamu menyelisihi ia, kamu perangi dia dengan pedang (senjatamu) sedang meninggalkan sunnah adalah keluar dari jamaah”.[12]

Hal ini juga dikuatkan oleh perkataan para Ahlul-‘Ilmiy, diantaranya :

الْجَمَاعَةُ مَا وَفَقَ الْحَقَّ وَ لَوْ كُنْتَ وَحْدَكَ وَ ِفى طَرِيْقٍ اَخَرٍ : الْجَمَاعَةُ مَا وَ فَقَ طَاعَةَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

Berkata Ibnu Mas’ud , “Jama’ah adalah yang sesuai dengan Al Haq walaupun keadaan kamu sendirian”. dalam riwayat lain, “Sesungguhnya Jama’ah itu apa saja yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla”. [13]

قَالَ اَبُوْ شَامَة : حَيْثُ جَاءَ الْاَمْرُ بِلُزُوْمِ الْجَمَاعَةَ , فَالْمُرَادُ بِهِ لُزُوْمُ الْحَقِّ وَ اِتْبَاعُهُ , وَ اِنْ كَانَ الْمُتَمَسِّكُ بِالْحَقِّ قَلِيْلاً , وَالْمُخَالِفُ لَهُ كَثِيْرًا لِأَنَّ الْحَقَّ الَّذِىْ كَانَتْ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ الاُوْلَى مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ اَصْحَابِهِ وَ لاَ يَنْظُرُ اِلَى كَثْرَةِ أَ هْلِ الْبَاطِلِ بَعْدَهُمْ { الباعث لابى شامة }

Berkata Abu Syamah, “Sebagaimana perintah untuk berjama’ah, maka yang dimaksud dengannya adalah meng-iltizami Al-Haq dan mengikutinya, walaupun orang yang berpegang teguh padanya sedikit dan yang menyelisihi banyak jumlahnya. Karena Al-Haq adalah yang ada pada jama’ah yang pertama yaitu Nabishallallaahu ‘alayhi wa sallam dan para shahabatnya, dan tidak diukur dari banyaknya ahlul bathil setelah mereka”  [14]

Dan hal ini yang dikatakan pula oleh Abdullah bin Mubarok, ketika ditanya tentang siapa jama’ah yang pantas dijadikan panutan, beliau menjawab, “Abu Bakar dan Umar” dan ketika dikatakan mereka telah wafat, “Lalu siapakah yang masih hidup ?” Beliau menjawab, “Abu Hamzah As-Sakriy”. Beliau menunjuk Abu Hamzah As Sakry di zamannya karena beliau seorang Ahli Ilmu, zuhud dan waro’.

Berkata Ishaq bin Rohuyyah :

اِنَّ الْجَمَاعَةَ عَالِمٌ مُتَمَسِّكُ بِاَثَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ طَرِيْقَتِهِ فَمَنْ كَانَ مَعَهُ وَ تَبِعَهُ فَهُوَ الْجَمَاعَةُ

“Jama’ah adalah orang yang mengetahui dan berpegang teguh pada sunnah Nabi dan  manhaj-manhajnya, maka barang siapa yang bersama Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan mengikutinya maka ia adalah Jama’ah “. [15]

Maka jelaslah bahwa luzumul-Jama’ah dalam makna ini adalah masuk segi ‘ilmiy-nya, yaitu meng-iltizami Al-Haq, mengikuti sunnah, mengikuti apa saja yang ada pada Salafush Sholihdari hal-hal yang dasar dan prinsip seperti masalah aqidah (i’tiqod), syariah, halal, haram, wala’, dan juga keharusan menjauhi ahlul ahwa’ dan ahlul bid’ah yang termasuk didalamnya firqoh sesat. Lawan dari jama’ah dalam pengertian ini adalah berpecah belah dalam dien. Dan orang yang menyelisihinya adalah bid’ah dan sesat walaupun ia beriltizam pada Imam dan membaiatnya. [16]

Dan kumpulan orang yang selalu berpegang teguh kepada Al-Haq ini akan tetap ada sampai hari Qiyamat, berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ قَا ئِمَةٌ بِأَمْرِاللهِ لاَيَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْخَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْ تِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ عَلَى النَّاسِ {رواه  البخاري }

“Tetap akan ada sekelompok orang dari ummat-ku yang berpegang (berdiri) di atas perintah Allah (al-haq) yang mereka tidak mendapatkan madhorot dari orang-orang yang menghinakan atau menyelisihi mereka hingga datang ketetapan (keputusan) Allah, sedangkan mereka tetap menang (unggul) di atas manusia. (HR Al-Bukhoriy)

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَيَضُرُّهُمْ مَنِ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْ تِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ  عَلَى ذَالِكَ  {رواه مسلم }

“Tetap akan ada sekelompok orang dari ummat-ku yang tetap berada (konsisten) di atas al-haq, mereka tidak mendapatkan madhorot dari orang-orang yang menghinakan mereka hingga datang keputusan Allah sedang mereka tetap dalam keadaan demikian. (HR Muslim)

 

1.2.      KETENTUAN BAGI YANG KELUAR DARI JAMA’AH BERDASARKAN RUANG LINGKUP INI

  1. Barangsiapa yang keluar berkaitan dengan nash-nash dasar dan men-takwil-kannya, namun masih mengimani baik secara dhohir maupun bathin dan masih menetapinya secara global , maka takwilan-nya yang keliru tersebut tidak mengeluarkan darimillah, akan tetapi memasukkan ia kedalam golongan Ahlu Bid’ahyang berbeda tingkatannya menurut kesalahan dan ketidak hati-hatiannya. Kecuali jika ada di antara mereka ke-munafiq-an di dalam hatinya, maka ia kafir pada hakekatnya.

Bagi mereka berlaku hadits yang pertama (yang menyebutkan kelompok-kelompok), dan bagi mereka yang bukan munafiq namun masih beriman kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya, maka ia tidaklah kafir namun hanya salah dalam takwil.[17]

Sebagai contoh adalah golongan Khowarij yang mereka betul-betul nyata ke-bid’ah-annya, memerangi ummat Islam serta mengkafirkannya, namun tidak satupun para shohabat baik Aliradliyallaahu ‘anhu maupun yang lain yang mengkafirkan mereka, namun mereka dihukumi orang-orang muslim yang dholim dan mufsid.

  1. Barangsiapa yang keluar dari jamaah dengan menolak nash-nash tanpa mentakwilkannya  atau mentakwilkannya dengan tujuan mengingkari apa yang ia ketahui dari dien, atau menghalalkan sesuatu yang kaum muslimin telah sepakat keharamannya dan sebaliknya, seperti yang dilakukan oleh salah satu golongan Syi’ah yaitu Qoromithoh, maka pernyataannya tersebut menyebabkan mereka murtad, setidak-tidaknyanifaq akbar, itupun juga menyebabkan mereka murtad dan meninggalkan Jama’atul Muslimin.

Bagi mereka berlaku hadits yang kedua, “Meninggalkan diennya memecah belah Jama’ah”.  Maka tidak diragukan lagi setiap yang meninggalkan diennya berarti ia meninggalkan Jama’ah, karena ia telah memecah belah terhadap apa yang  telah menjadi kesepakatan dalam Islam. [18]

 

2.1.      MAKNA YANG KEDUA

Dalam makna yang kedua ini, jama’ah adalah berkumpulnya ummat di bawah seorang Imam dan mentaatinya. Jama’ah dalam makna ini adalah lawan dari Al-Baghyu (pemberontakan) serta pemecah belah Islam. Sedang pelakunya diancamakan bughot / ahlul baghyi dan nakitsun (pelanggar / Janji) walau mereka dari Ahlus Sunnah.

Dalil / nash pada makna kedua ini adalah :

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

فَاِنَّهُ مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبرْ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ لَيْسَ اَحَدٌ يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَيَمُوْتُ اِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً { البخارى و مسلم عن ابن عباس }

Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak dia senangi pada diri amir-nya, maka hendaknya ia bersabar terhadapnya, karena sesungguhnya tidak seorangpun yang meninggalkan jama’ah satu jengkal saja kemudian dia mati, maka ia mati seperti mati dalam keadaan Jahiliyyah (Bukhori Muslim dari Ibnu Abas radliyallaahu ‘anhuma) [19]

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ خَرَجَ عَنِ الطَّاعَةِ وَ فَارَقَ الْجَمَاعَةِ فَمَاتَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً {رواه  مسلم عن ابى هريرة }

Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memecah belah / meninggalkan Jama’ah (Jama’atul-Muslimin) kemudian mati, maka ia matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (HR Muslim dari shahabat Abu Huroyroh)

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

فَاِنَّهُ مَنْ رَأَى مِنْ اَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرَ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ لَيْسَ اَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ  اِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً {رواه  البخارى و مسلم عن ابن عباس }

Barang siapa yang melihat pada diri amir-nya sesuatu yang tidak dia senangi maka hendaknya ia bersabar terhadapnya, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun yang keluar dari sulthon (penguasa / negara) sejengkal saja kemudian ia mati dalam keadaan demikian, maka ia tidak mati kecuali matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (Bukhori Muslim dari Ibnu Abbas)

 

 

 

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ اَتَاكُمْ وَ اَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَىرَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ اَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ اَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ  {رواه مسلم}

Siapa yang mendatangi kalian sedang urusan kalian semua berada (kamu serahkan) pada seorang (imam), dan ia mau memecah belah persatuan atau ia hendak mencerai-beraikan jama’ah kalian maka bunuhlah ia “. (HR Muslim) [20]

 

  1. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

تَلْزِمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَاَمَهُمْ

Dari hadits panjang Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Iltizami-lah Jama’atul Muslimin dan Imam mereka “. (Bukhori I/1480)

عَنْ عُبَادَ بْن الصَّامِت رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: بَايَعْنَا رَسُوْلَ الله عَلَى السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَ مَكْرَهِنَا وَ عُسْرِنَا وَ يُسْرِنَا وَ اَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَ لاَ نُنَازِعَ الاَمْرِ اَهْلَهُ . قَالَ : اِلاَّ أن تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ الله فِيْهِ بُرْهَانٌ

Dari Ubadah bin Shomit ia berkata, “Kami membaiat Rasulullah shalllallaahu ‘alayhi wa sallam atas dasar sam’u dan thoah, baik dalam keadaan senang, susah, lapang maupun sempit, mengutamakan  di atas urusan kami, serta tidak mencabut ke-amir-an dari orang yang diserahinya, kecuali apabila kalian melihat kekafiran yang nyata dan jelas yang kamu memiliki bukti nyata di sisi Allah”. (HR Abu Dawud)

Juga beberapa komentar Ahlul-‘Ilmiy diantaranya :

Imam Ahmad berkata, “(Wajib) mendengar dan taat terhadap Amirul Mukminin  yang baik (al-birr) maupun yang  menyeleweng (al-fajir). dan peperangan harus tetap pada bersama para Imam baik maupun yang fajir tidak ditinggalkan sampai hari kiamat ” [21]

Beliau berkata lagi: “Barangsiapa yang keluar dari Imam kaum muslimin sedangkan seluruh ummat manusia telah sepakat mengangkatnya dalam kekholifahan, baik ridho maupun dengan jalan kudeta, maka sungguh ia telah memecah belah kesatuan kaum muslimin dan menyelisihi As-Sunnah dari Rosulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Apabila ia mati (dan tetap demikian) maka ia mati seperti dalam keadaan Jahiliyyah, karena tidak halal bagi siapa saja yang memerangi Imam dan keluar darinya, sedang barangsiapa yang melakukan hal yang demikian maka ia adalah Ahlul Bid’ah dan meninggalkan sunnah dan jalan (Islam) “. [22]

Al-Bukhory berkata dalam I’tiqod-nya, “Dan tidak mencabut keamiran dari  orang yang diserahi nya”, sebagaimana sabda Nabi :

ثَلاَثٌ لاَ يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ  امْرِئٍ مُسْلِمٍ : اِخْلاَصُ الْعَمَلِ للهِ وَ طَاعَةُ وُلاَةُ الاَمْرِ وَ لُزُوْمُ جَمَاعَتِهِمْ فَاِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

Ada 3 hal yang hati seorang muslim tidak akan terbelenggu (gundah) dengannya : ikhlas beramal karena Allah, mentaati pemimpin, dan ber-iltizam kepada Jama’atul Muslimin, karena sesungguhnya ajakan mereka akan terlindungi di belakang mereka “.

Kemudian beliau kuatkan lagi dengan firman-Nya : [23]

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ { النساء :59}

Hai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rosul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu.

Sehingga dari nash-nash tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian Jama’ah dalam pengertian  ini  adalah masuk segi siyasah-nya yaitu kesepakatan untuk berkumpul pada satu Imam dan menetapi ketaatan terhadapnya selama tidak menyuruh kemaksiyatan kepada Allah, dan tidak keluar darinya kecuali jika terbukti melakukan kufran bawaahan. [24]

 

2.2.      KETENTUAN BAGI YANG KELUAR DARI JAMA’AH BERDASARKAN MAKNA INI

 

  1. Orang yang tidak mau berbai’ah pada Imam, namun mereka bukan golongan Ahlul-Baghyi, Al-Muharribun, juga bukan golongan Murtadun,namun mereka hanya tidak berbaiat kepada Imam Jama’atul- Muslimin saja. Hukum bagi mereka terserah kebijaksanaan  Imam.
  2. Golongan Ahlul Baghyiy(pemberontak), yaitu golongan yang keluar dari Jama’ah dengan jalan kudeta (meminta kekuasaan). Dalam hal ini Al Quran telah memberikan jalan keluar dalam menghadapi fitnah mereka.

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى اْلأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِىءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ { الحجرات 9}

  1. Golongan Al Muharribun(Orang-orang yang diperangi), yaitu golongan yang keluar dari Jama’ah dengan jalan mengacau keamanan, seperti Qoththo’ut-Thoriq (perampok) yang merampas harta, berbuat kerusakan di muka bumi dll. Allah memberikan jalan keluar dalam menghadapi mereka dengan firman-Nya,

إِنَّمَا جَزَاؤُا الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي اْلأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْتُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلاَفٍ أَوْ يُنفَوْا مِنَ اْلأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيُُ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ {المائدة 33}

  1. Golongan Murtaddien, yaitu golongan orang-orang yang keluar dari Jama’ah sedang mereka kafir terhadap Islam, melawan dienul Islam dan bahu membahu bersama musuh Islam. Mereka itulah orang-orang murtad yang telah jelas melepas ikatan Islam dari lehernya. Dan mereka persis seperti orang-orang murtad dimasa kholifah Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu, memecah belah dien dan jelas-jelas memerangi kaum Muslimin. Dan sama seperti orang-orang yang membunuh sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang beliau kirim bersama mereka untuk mengajarkan Al Quran dan Dienul Islam.

 

 

 

 

 

  1. UNSUR-UNSUR JAMAAH

 

  1. Al-Mutho’(orang yang ditaati)

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada-Nya, Rasul-Nya dan Ulil Amri. Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ ف{ النساء :59}

Hai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rosul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu.

Yang dimaksud ulil Amri menurrut Ibnu Katsir : “Yaitu Ulama’, secara pasti wallahu a’lam namun ia bermakna umum pada setiap ulil Amri dari umaro’ (para pemimpin) dan Ulama”. Sedang dalam hadits disebutkan :

قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ اَطَاعَنِى فَقَطْ اَطَاعَ الله وَ مَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى الله وَ مَنْ اَطَاعَ الاَمِيْر فَقَدْ اَطَاعَنِى وَ مَنْ عَصَى الاَمِيْرِ فَقَدْ عَصَانِى { متفق عليه }

“Barang siapa yang mentaatiku maka ia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka sungguh ia telah durhaka kepada Allah. Dan barangsiapa yang mentaati amirku maka ia telah mentaatiku, namun barangsiapa yang durhaka pada amirku, sungguh ia telah durhaka kepadaku”. (muttafaqun ‘Alaih dari Abi Huroiroh)

Hadits inilah yang dengan jelas memerintahkan untuk taat pada para ulama’ dan umaro’. Sehingga Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa memerintahkan untuk taat kepada-Nya dalam artian mengikuti Al Qur’an, taat kepada Rosul-Nya yaitu mengikuti Sunnahnya dan tetap taat kepada ulil amri selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Dalam hadits lain disebutkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قاَلَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : إِسْمَعُوْا وَ أَطِيْعُوْا وَ إِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيْبَةٌ { رواه البخارى }

Dengar dan taatlah kalian semua walaupun yang memerintah (yang memimpin) kalian seorang budak Habsyi (Ethiopia) yang kepalanya seakan-akan seperti anggur kering / kismis (Bukhori, Ahmad dan Ibnu Majah) [25]

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan, “Ro’suhu Zabibah” adalah perumpamaan pada kerendahan (hinanya), jelek bentuk (tubuh-wajah)-nya, dan ia (masuk orang-orang yang) tidak diperhitungkan [26]

Dalam hadits lain disebutkan ;

عَنْ عُبَادَ ةَ بْن الصَّامِت رَضِىَ الله عَنْهُ : بَايَعْنَا رَسُوْلَ الله عَلَى السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَ مَكْرهِنَا وَ عُسْرِنَا وَ يُسْرِنَا وَ اَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَ لاَ نُنَازِع الاَمْرِ اَهْلَهُ . قَالَ : اِلاَّ أن تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ الله فِيْهِ بُرْهَان

Dari Ubadah bin Shomit radliyallaahu ‘anhu ia berkata, “Kami berbaiat kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam untuk mendengar dan taat, baik kami dalam keadaan senang maupun susah, lapang maupun sempit, mengutamakan diatas urusan kami, serta tidak mencabut keamiran dari orang yang diserahi, kecuali apabila kalian melihat kufran bawaahan (kekafiran yang  jelas) yang kamu memiliki bukti nyata di sisi Allah”. (HR Abu Dawud)

Al Khithobi berkata , “Bawaahan dalam kufrun bawaahan adalah yang tersebar dan nyata. [27]  Sedang ‘indakum minallahi fihi burhan, menurut Ibnu Hajar yaitu nash ayat atau berita yang benar dan tidak memerlukan pentakwilan.” [28]

Menurut Dr. Muhammad Abdul Qodir Abu Faris bahwa ketaatan pada amir adalah wajib, namun tidak mutlak kecuali apabila ada 3 syarat dan ketentuannya. Maka apabila ketiganya terpenuhi ketaatan tetap wajib dan menjadi mutlak, yaitu :

  1. Amir dalam menjalankan tugasnya harus berdasarkan kepada Al Quran dan As Sunah serta meng-aplikasikan dalam kehidupan. Dalam Al Quran disebutkan ;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ ف{ النساء :59}

Hai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rosul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu.

Ali bin Abi Tholib radliyallaahu ‘anhu  berkata “Wajib bagi Imam untuk menghukumi dengan hukum yang Allah turunkan dan melaksanakan amanat maka jika ia melaksanakan yang demikian wajib bagi rakyat untuk sam’u wa tho’ah.” (Diriwayatkan oleh Abu Ubaid Al Qosim bin Salam).[29]

  1. Amir dalam menghukumi diantara manusia harus adil, maka jika ia berbuat adil harus ditaati. Namun jika mendholimi (dholim), berbuat aniaya, bertindak sewenang-wenang, menindas, maka tidak wajib taat padanya.

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا {النساء :58}

Sesungguhnya Allah  menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran  yang sebaik-baiknnya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

  1. Amir tidak menyuruh manusia kepada kemaksiatan, maka jika ia menyuruh kepada kemaksiatan wajib tidak taat kepadanya. Berdasarkan hadits nabi :

السَّمْعُ وَ الطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمِعْصِبَّةٍ { رواه البخارى و مسلم }

Adalah menjadi keharusan (kewajiban) bagi seorang muslim untuk sam’u dan thoa’ah baik terhadap apa yang ia senangi atau apa yang ia benci selama tidak diperintah untuk berbuat ma’shiyat. (HR Al-Bukhoriy dan Muslim)

اِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوْفِ { احمد و البخارى و مسلم }

Ketaatan itu hanya pada hal-hal yang ma’ruf (HR Ahmad, Bukhori dan Muslim)

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَّةِ اللهِ { رواه  احمد }

Tidak ada ketaatan dalam hal bermaksiyat kepada Allah (HR Ahmad)  [30]

  1. Al-Muthi’(orang yang mentaati)

 

Tidak mungkin adanya suatu ketaatan dan orang-orang yang ditaati dapat tegak dan berjalan tanpa adanya unsur ini. Dan para ulama salaf telah sepakat seperti Muhammad bin Ka’ab dan Zaid bin Aslam bahwa ayat 58 surat An Nisa’ adalah berkaitan dengan para umaro’ agar mereka adil dalam penerapan hukum [31] Allah berfirman :

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا {النساء :58}

Sesungguhnya Allah  menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran  yang sebaik-baiknnya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Di sini ada hak-hak muthi’ yang harus dipenuhi oleh mutho’, seperti harus melindungi, menjaga, membela, bersikap ramah, dll. Demikian pula dengan muthi’ kepada mutho’ ; mendoakan, menghormati, membela, mendukung, menjaga, menjaga nama baiknya, keluarganya, dan hartanya. Yang ada timbal balik positif antara keduanya dan terus menjaganya serta menutup rapat-rapat lobang-lobang perpecahan dan hal-hal negatif.

 

  1. Ath-Tho’ah (Ketaatan)

 

Ketaatan merupakan penyangga / pengokoh dari beberapa penyangga suatu hukum dalam Islam, dan merupakan dasar dari pelbagai dasar sistem politik Islam. Karenanya tidak mungkin adanya suatu sistem / peraturan yang baik, negara yang kuat dan kokoh, tanpa adanya pemimpin, penguasa yang adil, kethaatan dari rakyat kepadanya dan saling musyawarah antara pemimpin dan rakyat. Betul-lah Umar bin Khoththob radliyallaahu ‘anhu dalam perkataannya :

اِنَّهُ لاَ اِسْلاَمَ اِلاَّ بِجَمَاعَةٍ وَ لاَ جَمَاعَةَ اِلاَّ بِإِمَارَةٍ وَ لاَ اِمَارَةَ اِلاَّ بِطَاعَةٍ {رواه الدارمى }

Sesungguhnya tidak Islam kecuali dengan jama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan imaroh, serta tidak ada imaroh kecuali dengan ketaatan.”

Karena sesungguhnya Islam bukan dien perorangan, Akan tetapi Islam adalah dien Jama’iy, dan Islam belum menjadi kenyataan yang sesungguhnya, dalam arti kata tegak dan eshtablishhukum-hukumnya, kecuali dengan adanya Jama’atul Muslimin. Sedangkan jama’ah dan orang-orangnya tidak akan mungkin dapat hidup tegak kecuali dengan adanya ikatan, peraturan dan loyal kepada pimpinan. Dan semuanya itu tidak mungkin dapat berjalan kecuali mutlak diperlukan ketaatan. [32]

 

  1. ANCAMAN BAGI YANG TIDAK BERJAMA’AH TATKALA JAMA’ATUL MUSLIMIN TEGAK.

 

Orang yang tidak berjama’ah sewaktu tegaknya Jama’tul-Muslimin, maka secara otomatis ia terkena ancaman Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa haditsnya, karena ber-iltizamkepada Jama’tul Muslimin pada waktu ini adalah wajib, Diantaranya :

مَنْ خَرَجَ عَنِ الطَّاعَةِ وَ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً        { مسلم عن ابى هريرة }

Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan memecah belah / meninggalkan Jama’ah (Muslimin) kemudian mati, maka ia matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (Muslim)

فَاِنَّهُ مَنْ رَأَى مِنْ اَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ لَيْسَ اَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ  اِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً { البخارى و مسلم عن ابن عباس }

Barangsiapa yang mendapatkan pada diri amirnya sesuatu yang ia tidak senangi maka hendaknya ia bersabar terhadapnya, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun yang keluar dari sulthon (penguasa / negara) sejengkal saja kemudian ia mati dalam keadaaan demikian, maka ia tidak mati kecuali matinya seperti dalam keadaan Jahiliyyah “. (Bukhori Muslim dari Ibnu Abbas)

مَنْ اَتَاكُمْ وَ اَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَىرَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ اَن يَشُقَّ عَصَاكُمْ اَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ

Barangsiapa yang mendatangi kalian dan ia mau memecah belah persatuan atau ia hendak mencerai-beraikan jama’ah kalian sedang urusan kalian semua berada (kamu serahkan) pada seorang (imam), maka bunuhlah ia “. (HR Muslim)[33]

Maksud dari “Mata miitatan Jaahiliyyah” adalah perumpamaanahlul jahiliyyah bahwa mereka tidak memiliki Imam, bukan mati kafir.

Imam An-Nawawiy berkata, “Maksud dari   ماتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً  barangsiapa yang keluar dari Jama’ah Muslimin, maka ia mati seperti dalam keadaan jahiliyyah, mim pada mitatan adalah kasroh yang artinya sifat matinya berada dalam keadaan kosong tidak memiliki seorang Imam. [34]

Ibnu Hajar berkata, “Maksud dari kata miitatan Jahiliyyatan adalah kasroh-nya mim, yaitu keadaan matinya seperti ahlul jahiliyyah di atas kesesatan dan tidak mempunyai Imam yang ditaati. Dan bukanlah yang dimaksud dengannya adalah mati kafir akan tetapi mati dalam kemaksiatan. Dan dikuatkan lagi dengan hadits lain bahwa maknanya adalah perumpamaan (At Tasybih)

مَنْ فَرَقَ عَنِ الْجَمَاعَةِ شِبْرًا فَكَاَنَّمَا خَلَعَ رِبْقَةَ الإسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ

Barangsiapa yang keluar dari jama’ah sejengkal saja, maka seakan ia telah melepas ikatan Islam dari lehernya. (At-Tirmidziy, Al Bazzar, Ath-Thobroni dan Ibnu Khuzaimah).[35]

Begitu pula dengan pendapat Imam Asy-Syaukaniy beliau berkata, “Maksud dari mitatan Jaahiliyyatan adalah tasybih (perumpaman) bukan suatu hukum.” [36]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. KEADAAN (HAL) AL FIRQOH AN NAJIYYAH (AHLUS SUNNAH) DAN BEBERAPA KETENTUANNYA

 

  1. Adanya Imam Syar’i, dan Imam ini adalah Imam Ahlus Sunnah, mengikuti manhaj Ahlus Sunnah dan meng-iltizaminya, berdakwah kepadanya, mengancam siapa saja yang menyelisihinya dan ia memerangi Ahlul Ahwa’ wal-Bida’

Ini adalah masa khulafaurrosyidin, yang waktu itu telah menjadi satu makna yang terdapat dalam jamaah, baik segi ‘ilmy maupun siyasinya. Dan ini adalah keadaan tertinggi yang setiap muslim merindukannya   -juga pada masa sekarang ini-   apabila dapat ter-realisasi-kan pada ummat.

Dan dalam keadaan seperti ini wajib bagi setiap muslim untuk meng-iltizami jama’ah dan ta’at pada imam dan apa yang diserukan.

  1. Adanya imam, tetapi imam ini imam ahlul bid’ah, tidak meng-iltizami manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, akan tetapi ia telah mencampur-adukkan manhaj ahlu bid’ah. Namun di kalangan ummat masih terdapat kelompok atau jama’ah atau kumpulan -kumpulan yang berbeda tempat, yang mereka mempunyai suara yang didengar dalam da’wahnya menuju manhaj ahlus sunnah, dan mereka berpegang teguh dengannya, mendakwahkannya, serta sabar dalam dakwahnya terhadap apa yang mereka dapati dari ujian dan cobaan.

Masa ini adalah seperti dimasa Kholifah Al Makmun, yang mengambil madzhab/manhaj Mu’tazilah, mengharuskan ummat untuk mengikuti madzhabnya dan menguji mereka yang menolak. Al Makmun adalah imam bid’ah, tetapi dimasanya juga terdapat kelompok ahlus sunnah yang menolak kebid’ahan, menetapi manhaj ahlus sunnah, serta tidak menta’ati kholifah dalam hal-hal yang ia serukan seperti i’tizal (untuk menetapiMadzhab Mu’tazilah)

Dalam keadaan seperti ini kewajiban seorang muslim ada dua, yaitu :

  1. Tetap iltizam pada imam dan ia tidak keluar darinya walaupun ia fasiq    -seperti inilah madzhab ahlus sunnah-  akan tetapi wajib tidak mentaatinya dalam hal-hal kemaksiyatan kepada Allah yang ia serukan. Karena amir wajib di-taati selama tidak maksiyat kepada Allah
  2. Wajib baginya meng-iltizami manhaj ahlus sunnah wal-jama’ah, bergabung dan menetapi mereka yang menyeru kepada ahli sunnah. hal ini seperti yang diperintahkan Rasulullah kepadaHudzaifah Ibnul-Yaman:

تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ اِمَـامَهُـْم { البخـارى }

Wajib bagi kamu ber-iltizam pada Jama’atul Muslimin dan imam mereka.

  1. Tidak adanya imam syar’i, baik imam yang adil maupun yang fajir. Hal ini seperti yang terdapat pada beberapa masa runtuhnya Islam yang pernah dilalui umat Islam. Namun demikian masih tetap ada kelompok Ahlus Sunnah wal Jama’ah, baik individu atau beberapa kelompok.

Maka dalam hal ini wajib bagi setiap muslim untuk meng-iltizami kumpulan ini, menyeru kepada Allah bersama mereka, dan mereka agar berjuang bersama-samam dalam menegakkan kewajibannya yaitu Iqomatud Din dan dakwah kepada Manhaj Ahlus Sunnah

Dan disinilah berlaku hadits Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada Hudzaifah, “Wajib bagi kamu meng-iltizami Jama’atul Muslimin dan imam mereka.” berkata Hudzaifah, “Seandainya tidak ada Jama’ah dan imam bagaimana?” Abdul Hadi Al Mishriy berkata, “Kesimpulannya bahwa itu apabila ada bagi kaum muslimin Jama’ah namun tidak adanya Imam Syar’iy, maka tetap wajib bagi mereka ber-iltizam kepada jama’ah (kumpulan) ini “. [37]

  1. Tidak adanya imam syar’iybagi kaum Muslimin dan kumpulan yang menyeru kepada manhaj ahlus sunnah. Dan inilah yang terjadi pada hari-hari terjadinya fitnah yang besar di beberapa negeri, sehingga kaum muslimin yang ber-iltizam padamanhaj ahlus sunnah asing / aneh sekali, tidak didapati orang yang menolong dan melindungi mereka kecuali ahlul bid’ah juga.

Maka dalam keadaan seperti ini wajib bagi setiap muslim mencari kumpulan orang yang mengiltizami manhaj ahlus sunnah. Namun apabila ia sudah berusaha mencarinya tetapi ia tidak mendapatkannya, maka hendaknya ia menyeru kepada Al-Haq dan mengembangkan seperti kumpulan ini, karena para salaf sendiri menyeru orang lain di beberapa negeri menuju ahlus sunnah dan mendirikan jama’ah.

Hal ini seperti yang pernah dikatakan oleh Asad ibnu Musa (wafat tahun 212 H) dalam suratnya kepada Asad bin Al Furot (wafat tahun 213 H)

” … dan berilah kabar gembira, wahai saudaraku dengan pahalanya, dan biasakanlah untuk melaksanakan sebaik-baik kebaikan yang ada pada dirimu dari sholat, shoum, haji dan jihad. Dan dimanakah letaknya amalan-amalan ini dari menegakkan kitab Allah dan menghidupkan sunnah Rosul-Nya ?” (kemudian beliau menyebutkan beberapa hadits tentang dakwah dan menghidupkan sunnah, lalu beliau lanjutkan). “Maka jagalah (ambillah faedahnya) ia dan berdakwahlah menuju sunnah hingga dengannya engkau mempunyai persatuan dan jama’ah, yang mereka menggantikan tempat / kedudukanmu apabila terjadi sesuatu denganmu, sehingga akan terdapat para aimmah setelahmu dan engkau akan mendapatkan pahalanya hingga hari Qiyamat, sebagaimana yang terdapat dalam atsar, beramallah berdasarkan atas bashiroh (ilmu dan keyakinan), niat serta hisbah (amar ma’ruf nahi mungkar).” [38]

Dan apabila seorang muslim tidak mendapatkan suatu Jama’ah (kumpulan) dan belum mendapati orang lain yang menyerunya, maka tidak boleh baginya condong kepada seseorang dari ahlul bid’ah. Akan tetapi hendaknya ia mengasingkan diri (i’tizal) sampai Allah menentukan apa yang ia kehendaki, atau sampai mati sedang ia tetap dalam i’tizal-nya. [39]

 

VII. JAMA’ATU MINAL MUSLIMIN

 

Rosululllah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda dalam Hadits Hudzaifah :

عَنْ حُذَيْفَةِ بْنِ الْيَمَنِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةً اَنْ يُدْرِكَنِىْ فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ كُنَّا فِى جَاهِلِيَّةٍ وَ شَرٍّ فَجَاءَ نَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنَ الشَّرِّ . قَالَ : نَعَمْ , قُلْتُ : وَ هَلْ بَعْدَ ذاَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ ؟ قَالَ : نَعَمْ , وَ فِيْهِ دَخَنٌ , قُلْتُ : وَ مَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ : قَوْمٌ يَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِى  تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَ تُنْكِرُ . قُلْتُ : فَهَلْ بَعْدَ ذَالِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟  قَالَ : نَعَمْ , دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ اِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا , قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا , قَالَ : هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَْسِنَتِنَا . قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِى إِنْ أَْرَكَنِى ذَالِكَ ؟ قَالَ : تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ ِإمَـامَهُـمْ . قَلْتُ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعُضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَالِكَ { البخـارى }

Dari Hudzaifah bin Yaman radliyallaahu ‘anhu ia berkata, “orang-orang bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tentang kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena aku takut masuk kedalamnya” Aku bertanya, “Wahai Rosulullah, dahulu kami berada dalam kejahiliyyahan dan kejahatan, lalu Allah berikan kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”. Beliau menjawab, “Ya ada”.  “Lalu apakah setelah ada keburukan ada kebaikan lagi ?” Beliau menjawab, “Ya ada tetapi ada dakhon-nya/kekeruhan (kerusakan dan ikhtilaf)”. Lalu apakah dakhon itu ya Rosulullah ?”. “Yaitu orang-orang yang memberi petunjuk bukan dengan petunjuk-ku,  kamu tahu mereka tetapi kamu ingkari”. “Lalu setelah kebaikan itu adakah keburukan lagi ?”, “Ya ada, yaitu penyeru-penyeru (du’at) yang menyeru di pintu Jahannam, barangsiapa yang menerima ajakan mereka maka akan mereka lemparkan kedalamnya”. “Ya Rosulullah, tunjukkanlah kepada kami ciri-ciri mereka”. “Mereka (dari golongan yang) berkulit sama dengan kita dan bicara sama dengan (bahasa) kita pula”. “Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku Ya Rosulullah apabila kau mendapati mereka ?” “Ber-iltizam-lah dengan Jama’atul-Muslimin dan Imam mereka (Jama’atul-muslimin)”. “Lalu bagaimana kalau tidak ada Jama’ah dan Imamnya ?”, ” Tinggalkanlah (asingkanlah dirimu dari)  golongan-golongan yang ada seluruhnya, walaupun kau harus menggigit pangkal pohon, hingga kamu mati (itu lebih baik bagimu) sedang kamu dalam keadaan demikian. (Bukhori I/1480)

Hadits ini sering digunakan orang dalam mewajibkan ummat agar ber-iltizam pada Jama’atul Muslimin. Memang sabda Rosulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam tersebut agar kita ber-iltizam kepada Jama’atul Muslimin, bukan dalil untuk ber-iltizam pada Jama’ah minal Muslimin seperti yang disangka beberapa orang sehingga pemahaman seperti ini keliru. Juga ada sebagian orang yang mengharamkan (mem-bid’ah-kan) berdirinya jama’ah-jama’ah minal  muslimin yang mereka anggap firqoh-firqoh sesat yang dilarang oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sehingga pemahaman seperti ini pula harus diluruskan. Maka perlu kita ketahui beberapa pengertian berikut :

  1. Maksud dari sabda beliau

تَلْزِمُ جَمَـاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَـامَهُـمْ { البخـارى }

Maksud dari Jama’atul Muslimin dan Imamnya adalah Imam Jama’atul Muslimin, bukan Jama’ah minal Muslimin dan bukan Imam Jama’ah minal Muslimin pula.

Sedang Jama’atul Muslimin adalah Khilafah Islamiyah yang tercakup didalamnya seluruh kaum Muslimin, yang dikepalai oleh seorang Imam / Kholifah yang memberlakukan hukum-hukum Allah, yang wajib bagi semua orang menta’atinya dan memberikan akad perjanjian (bai’ah) dan mendukungnya. Dan dalam artian lain Jama’atul Muslimin adalah apabila te-realisasi dan tergabungnya makna Ilmiy dan Siyasiy.[40]

 

  1. Maksud dari sabda beliau

فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا

adalah I’tizal (mengasingkan diri) dari golongan-golongan sesat, yaitu golongan-golongan yang mengajak kepada kesesatan, baik yang terhimpun diatas kemungkaran dari perkataan atau perbuatan, maupun diatas hawa nafsu. Atau terhimpun berdasarkan pemikiran kafir seperti sosialis, Komunis, Demokrasi, Kapitalis dan Lain-lain. Juga terhimpun berdasar satu daerah, suku, madzhab dll.

Imam An-Nawawiy berkata :

قَالَ الْعُلَمَاءُ : هَؤُلاَءِ مَنْ كَانَ مِنَ الْأُمَرَاءِ يَدْعُوْا إِلىَ بِدْعَةٍ أَْضَلاَلٍ كَالْخَوَارِجِ وَالْقَرَامِطَةِ وَأَصْحَابِ الْمِحْنَةِ

Para Ulama’ mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah : “para umaro’ yang menyeru kepada  kebid’ahan atau kesesatan seperti Khowarij, Qoromithoh dan Ash-habul-Mihnah (Mu’tazilah)” [41]

Ibnu Hajar berkata :

وَالَّذِى يَظْهَرُ أَنَّ الْمُرَدَ بِالشَّرِّ الأَوَّلِ مَا أَشَرَ إِلَيْهِ مِنَ الْفِتَنِ الأُوْلَى ( الْفِتَنُ الَّتِى وَقَعَتْ بَعْدَ عُثْمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ) وَ الدُّعَاةُ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ قَامَ فِي طَلَبِ الْمُلْكِ كَالْخَوَارِجِ وَغَيْرِهِمْ

Dan yang nampak (jelas) akan maksud syarrul-awwal (kejelekan yang pertama) adalah yang di-indikasi-kan sejak terjadinya fitnah yang pertama (fitnah yang terjadi sejak syahid-nya shahabat ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu) dan adanya du’at yang menyeru di atas pintu Jahannam, yaitu dari orang-orang yang meminta kekuasaan (kudeta) seperti golongan Khowarij dan lainnya.[42]

Merekalah golongan sesat yang kita perintahkan untuk menjauhinya, karena mereka yang mengajak manusia menuju ke Jahannam. Dan bagi siapa saja yang mengikuti seruan mereka akan dilemparkan kedalamnya, sebagaimana hadits Hudzaifah diatas.[43]

  1. Maksud dari sabda beliau :

وَ لَوْ اَنْ تَعُضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ

Maksud hadits ini bukan dilihat dari segi dhohirnya, yaitu berpegang pada pangkal pohon, namun maknanya adalah berpegang teguh dan sabar diatas Al-Haq, dan mengasingkan diri (meninggalkan) dari golongan-golongan sesat.[44]  Dalam arti yang lebih luas mendakwahkannya dan memperjuangkannya, jika kondisi masih memungkinkan.

Maka karena pada masa kita sekarang ini tidak ada Jama’atul Muslimin, yang wajib bagi kita ber-iltizam padanya terhitung sejak tahun 1924 pada saat runtuhnya Khilafah Islamiyah dari tangan Bani Utsmaniyah-maka konsekwensi kita adalah kembali pada qoidah ahlus sunnah wal jamaa’ah (lihat bahasan Jama’atul Muslimin) yaitu,menyeru kepada Al-Haq dan Manhaj Ahlus Sunnah serta mendirikan Jama’ah, hingga terwujudnya Jama’atul Muslimin dan Imam Syar’iy bagi mereka.

Karena sesungguhnya masalah Jama’atul Muslimin pada umumya adalah masalah terpenting setelah iman kepada Allah dan Rosul-Nya. Memang betul sekarang ada beberapa Jama’atun minal Muslimin tetapi tidak seyogyaya para anggotanya menganggap bahwa ia Jama’atul Muslimin, sebelum terpenuhi syarat-syarat Jama’atul Muslimin. Maka amal Jama’iy dalam usaha mendirikan Khilafah Islamiyyah adalah kebutuhan yang sangat mendesak dan sangat urgen. [45]

 

 

 

 

 

  1. YANG MENDASARI BERDIRINYA  JAMA’ATUN MINAL MUSLIMIN

 

Memang  para Salaf ummat ini tidak ada yang hidup di masa Jama’atul Muslimin sirna dan  hilang dari muka bumi ini,  mereka hidup tatkala Jama’atul Muslimin tegak, kaum muslimin betul-betul bersatu dan memiliki ‘izzah, dan mereka tidak pernah merasakan adanya  Jama’atu  Minal Muslimin  seperti sekarang ini. Sehingga memang  tidak kita dapatkan nash-nash yang shorih  (jelas)  yang menunjukkan  perintah  untuk ber-iltizam pada Jama’atu minal Muslimin dan membenarkan  eksistensinya.

Jama’ah dalam arti suatu perkumpulan merupakan suatu hal yang  fitriy yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun  juga, sebabthobi’ah fitri-nya  manusia  adalah berjama’ah. Demikian pula dengan Jama’atu minal Muslimin yang pada masa sekarang ini sudah wujud ,  tidak  bisa dipungkiri keberadaannya, dan kita tidak dapat lari darinya.

Sehingga Jama’ah minal Muslimin yang ada dimasa sekarang ini, dapat dibenarkan  keberadaannya jika memang ia sebagai Jama’ah Da’wah,  menuju dan bertujuan  menegakkan  Jama’atul Muslimin yang sekarang sirna dari muka bumi ini. Sedang dasar yang membolehkan dan membenarkan (baca: me-masyru’-kan) Jama’atu minal Muslimin yang memang sudah wujud dan tidak bisa dielakkan lagi adalah :

 

  1. Berdasar Qoidah Ushuliyah  :

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ  فَهُوَ وَاجِبٌ

“Sesuatu yang tidak akan sempurna sesuatu kewajiban kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi wajib”.

Sedang masalah yang kita hadapi sekarang ini adalah masalahIqomatudin (Iqoomatul-Khilafah) yang begitu besar dan sangat penting pada masa sekarang ini, jelas diperlukan suatu sarana, yang seluruh sarana yang mengacu  dan membantu terwujudnya iqomatuddin hingga tegaknya Khilafah Islamiyyah di muka bumi ini, hukumnya wajib diadakan hingga terwujudnya tujuan yang sedang kita usahakan tersebut.

Dan salah satu sarana yang sangat penting adalah berupa wadah bagi orang-orang yang sadar akan Iqomatuddin, yang mutlaq diperlukan seorang amir sebagai pemimpin agar wadah (organisasi / Jama’ah) tersebut terorganisir,  rapi, dan tetap berada diatas Al Haq.

Ini semua mutlak diperlukan suatu ketaatan dari orang-orang dalam wadah tersebut kepada pemimpinnya, namun ketaatan tidak akan terwujud dengan baik dan optimal kecuali apabila ada ikatan perjanjian yang kuat diantara mereka.

 

  1. Berdasar perintah Allah Ta’ala agar kita berta’awun dalam birr dan taqwa, Firman-Nya :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ { المائدة 2}

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla  dan Rosul-Nya memerintahkan untuk berjama’ah  dan bersatu, melarang dari berfirqoh dan berpecah belah, serta memerintahkan untuk berta’awun dalam birr dan taqwa. dan melarang dari ber-ta’awun dalam itsmiy dan ‘udwan.”[46]  Perintah Allah Ta’ala dalam ayat ini adalah bersifat umum, meliputi seluruhta’awun dalam birr dan taqwa sekecil apapun bentuknya,  asalkan hal itu adalah hal yang birr dan menuju pada ketaqwaan maka hal itu diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla. Lalu apa pendapat kita jika dalam masalah ta’awun dalam birr dan taqwa ini adalah masalah yang begitu  agung dan urgen yaitu masalah Iqomatuddin ?  

  1. Qiyas dari hadits Amir Safar, yaitu  perintah mengangkat amir dalam safar

اِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَالْيُؤَمِّرُوْا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ { ابو داود باسناد حسن }

“Apabila ada 3 orang dalam safar maka hendaknya mereka mengangkat amir (pimpinan) salah satu di antara mereka “. (Abu Dawud dengan Isnad Hasan)[47]

عَنْ عُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ : إِذَا كَانَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ ذَالِكَ أَمِيْرٌ أَمَرَهُ رَسُوْ ُل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ { الحاكم وصحّحه وأقرّه الذهبى }

Dari ‘Umar bin Al-Khoththob berkata, “Jika ada tiga orang hendaknya mengangkat salah seorang sebagai amir”[48]

Amir tersebut (di atas) adalah amir yang dilaksanakan atas perintah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. (HR Al-Hakim, dan diakui keshohihannya oleh Adz-Dzahabiy)

Juga tatkala sahabat radliyallaahu ‘anhum berpisah disuatu tempat, bersabda Rosulullah kepada mereka,

اِنَّ تَفَرُّقَكُمْ هَذَا فِى الشِّعَابِ مِنَ الشَّيْطَانِ

” Sesungguhnya terpencarnya kalian ini berada dalam lembah dari Syaithon “.

لاَ يَحِلَّ لِثَلاَثَةِ نَفَرٍ يَكُوْنُوْنَ بِأَرْضِ فُلاَةٍ  إِلاَّ أَمَّرُوْا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ {رواه أحمد عن ابن عمر }

Tidak halal bagi tiga orang berada dalam satu tempat dari belahan bumi, kecuali harus dipimpin salah seorang diantara mereka “. (Ahmad dari Ibnu ‘Umar)

Dan kalau ini hanya masalah furu’ yaitu masalah safar, makaapalagi apabila yang kita pikirkan adalah masalah Iqomatuddin,yang kita berusaha menegakkannya, memuliakannya, serta menyingkirkan hal-hal  yang menghalanginya, sementara lautan kerusakan telah meluap dan mayoritas moral manusia sudah menyimpang dari Al Haq ?[49]   Tentunya ia lebih masyru’ dalam Islam.

Sedangkan Ibnu Taimiyyah melihat akan pentingnya masalah amir safar ini berkata, “Apabila telah diwajibkan mengangkat seorang amir dalam perkumpulan dan masyarakat yang  paling kecil dan bersifat sementara (dalam safar), maka ini menunjukkan lebih wajibnya mengangkat amir dalam skala yang lebih besar darinya.”[50]

Jadi keberadaan Jama’ah minal Muslimin yang ada pada masa sekarang ini adalah sebagai Jama’ah Da’wah dan ia sebagai sarana untuk menuju dan menegakkan Jama’tul Muslimin yang sekarang hilang dan lenyap di tengah-tengah kaum Muslimin, yang hal ini jelas-jelas di-syareat-kan oleh Islam dengan dalil diatas !

Lalu apakah dalam hati kita tidak terdetik untuk sama-sama berjuang dengan bergabung dengan satu Jama’ah minal Muslimin yang ada, untuk menegakkan Jama’atul Muslimin yang kita cita-citakan, dibawah komando dan pimpinan salah seorang diantara mereka agar gerak dan langkah kita tetap terorganisir rapi dan tetap berjalan diatas rel Al haq. Tentunya itu semua lebih baik dari pada kita berdakwah sendirian tanpa teman dan pimpinan yang akan selalu menjaga dan menegur kesalahan-kesalahan fikroh, sikap dan langkah kita, yang tentunya hal ini lebih baik daripada kita berda’wah sendirian dan jelas kita tidak akan mampu menegakkan Khilafah Islamiyyah seorang diri !  Apalagi  -sekali lagi-  Islam menganjurkan dan mengharuskan ummatnya hidup berjama’ah, sebab berjama’ah lebih baik dan lebih dianjurkan Islam daripada kita hidup sendirian tanpa teman dan pimpinan.

 

  1. JALAN BAGI UMAT INI

 

Karena Jama’tul Muslimin pada masa sekarang ini belum tegak, maka segala usaha untuk mendirikannya kembali adalah kewajiban ummat pada zaman ini. Diantara thoriqoh yang harus ditempuh oleh ummat ini menurut Dr Sholah Showi adalah :

  1. Menunjuk beberapa orang sholeh diantara kaum mukminin untuk dijadikan dan didudukkan sebagai Ahlul Hally wal ‘Aqdi guna melaksanakan  amanat-amanat kepemimpinan dan mendirikan Jama’ah, serta memperbaharui apa saja yang tercerai berai diatara mereka.

Sedang yang dimaksud dengan Ahlul Halli wal ‘Aqdiy adalah : Ahlul ‘Ilmi dan Ahlul Qudroh, sebagai syaratnya :  al-‘adalah, selamat dari cacat, mempunyai kapabilitas (kemampuan) dan ilmu yang memadai

  1. Hendaklah Ahlul Halli wal ‘Aqdi bersatu dalam satu kalimat antara anggota dan pimpinannya. Atau paling tidak diantara para pemimpinnya.
  2. Hendaknya ummat mempercayakan segala urusannya kepada Jama’ah ini, ber-iltizam kepadanya dengan mentaatinya  selama tidak maksiyat. [51]

 

 

 

 

  1. BEBERAPA SYARAT PENTING YANG HARUS DIPENUHI OLEH SUATU PERKUMPULAN (JAMA’AH)

 

Tidak diperselisihkan lagi bahwa berkumpul dan mengadakan perjanjian dalam kebaikan serta menetapi keta’atan bagi yang merealisasikannya selama tidak maksiyat ; adalah disyariatkan oleh Islam, yaitu dengan syarat sebagai berikut ;

  1. Tidak ber-tahazzub(bergolong-golongan) atau mendasarkan diri pada suatu asas yang menyelisihi Ahlus-Sunnah wal-Jamaa’ah, atau berada pada asas ke-bid’ahan yang banyak, karena jika tidak, maka kelompok (golongan) ini termasuk golongan yang sesat.
  2. Bergabung dengan Jama’atul-Muslimin jika ada, dengan tidak bermaksud , melawan Jama’atul-Muslimin, melepas bai’atnya dan mencopot ke-imam-annya. Maka jika tidak mereka termasuk golongan Ahlul-Baghyi.
  3. Tidak mendasarkan al-wala’ wal-baro’ pada asas-asas yang di-nisbah-kan hanya kepada perkumpulannya (jama’ahnya), karena dasar-dasar al-wala’ wal-baro’ adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah yang tergambar pada Manhaj Nubuwah, bukan yang lain.[52]

 

  1. BEBERAPA KRITERIA JAMA’AH MINAL MUSLIMIN YANG PANTAS DI-ILTIZAMI

 

Maka jika sudah jelas akan urgensi Jama’ah minal Muslimin, sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bergabung dan memilih dari Jama’ah-Jama’ah minal Muslimin yang ada pada zaman ini di seantero dunia. Yang ia pandang lebih dekat kepada ridlo Allah ‘Azza wa Jalla, Lebih dekat kepada sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lebih banyak manfaatnya untuk kepentingan diennya dan kaum muslimin, dan lebih banyak kebenaranya dalam iqomatudin. Maka sepantasnyalah ia intima’, ber-ta’awun dengan yang lain hingga tegaknya khilafah.

Beberapa kriteria Jama’ah Minal Muslimin yang pantas kita beriltizam kepadanya :

  1. Jama’ah yang berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah serta Ijma’ dan selalu kembali kepada ketiganya  dalam setiap permasalahan.
  2. Jama’ah yang benar Aqidahnyasesuai dengan pemahaman Salafush-Sholehbaik secara global maupun terperinci.
  3. Jama’ah yang bertujuan mencapai ridho Allah dengan jalan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla dan mengikuti Rosulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam
  4. Jama’ah yang lengkap tashowwur(wawasan)-nya dan jernih pemahamannya, yaitu pemahaman Islam secara syumul sebagaimana yang difahami oleh ulama’ yang tsiqqoh yang mengikuti sunnah Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah para Khulafaur Rosyidin radliyallaahu ‘anhum yang mendapat petunjuk.
  5. Jama’ah yang ber-tasabuq(ber-lomba) dalam membawa amanah dakwah dan jihad, dengan tujuan mengembalikan peribadatan manusia hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja dan menegakkan Khilafah Islamiyyah di atas Manhaj Nabawiy
  6. Jama’ah yang hanya berwala’ kepada Allah, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman serta berbaro’ terhadap musuh-musuh Islam dari orang-orang dholim, kafir, musyrik dan lain-lainnya.
  7. Jama’ah yang ke-Islam-nya sudah teruji dan berani bersikap tegas terhadap kaum musyrikin.
  8. Jama’ah yang menjauhi segala bentuk kebid’ahan dan menyeru kepada At Tauhid[53]
  9. Jama’ah yang menjaga ukhuwwah dan kesatuan jama’ah-nya tanpa ta’ashshub dan melakukan tansiq dengan Jama’ah minal Muslimin yang lain yang memiliki tujuan, ‘aqidah dan pemahaman yang sama.
  10. Jama’ah yang membangun pemahaman yang benar tentang Jama’tul Muslimin, yang dalam usaha menegakkanya dengan jalan dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fie sabilillah, serta berbekal ilmu dan taqwa, yakin dan  tawakal, syukur dan shabar, zuhud terhadap dunia dan mengutamakan akherat, serta bekal-bekal pemahaman dan sikap yang lain yang diperlukan bagi suatu kelompok yang ingin menegakkan dien dengan thoriqoh jihad.
  11. Jama’ah yang aktivitasnya meliputi seluruh segi / aspek dalam Islam.
  12. Jama’ah yang mampu menyatukan kesemuanya ini dalam keseimbangan, yang intinya dapat menjaga Sunnah dan Jama’ah, satu ghoyah, satu ‘aqidah, satu royah, satu fikroh dan jauh dari kebid’ahan

.

  1. BEBERAPA FAEDAH JAMA’AH MINAL MUSLIMIN

 

  1. Dengannya jihad menjadi mungkin untuk dapat ditegakkan.
  2. Jama’ah merupakan kekuatan bagi kaum Muslimin
  3. Menanggulangi kesulitan dalam melaksanakan  Al Haq
  4. Mengharap diterimanya amal sholeh dan mengharap ampunan apabila melakukan  kesalahan
  5. Meng-aplikasikan Al Wala’ kepada kaum muslimin.[54]

 

 

 

 

  1. AKIBAT BAGI MEREKA YANG TIDAK BERGABUNG DENGAN SALAH SATU JAMA’ATUN MINAL MUSLIMIN

 

Maka bagi seorang Muslim yang  pada masa sekarang ini tidak bergabung dengan Jama’atul minal Muslimin yang ada, sulit menjaga ke-istiqomah-an ‘amaliyah yaumiyah  dan kemungkinan melakukan ma’shiyat lebih besar daripada mereka yang bergabung, sebab ia tidak memiliki teman dan pimpinan yang akan selalu menasehati dan memperingatkan apabila ia salah dan ma’shiyat. Mereka juga sulit untuk membangun rasa percaya diri, tanggung jawab, kedewasaan, kebersamaan, ukhuwwah dan lain sebagainya,karena semua itu bukan hanya ilmu tetapi membutuhkan tajribaat.

Jama’ah, walaupun belum ideal (masih dalam taraf Jama’tul minal Muslimin) tetap memberikan suatu kelebihan bagi yang bergabung dengannya, baik dari segi pengalaman, ujian yang akan semakin membuatnya sabar dan istiqomah, ukhuwwah, dapat merasakan manis pahitnya saling memberi dan menerima dengan saudara seiman, dan berbagai kenikmatan dan pengalaman iman yang lain yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang terlibat dalam aktivitasnya secara langsung.

Wallahu A’lamu Bish Showab

 

 

 

 

 

 

 

[1]. Lisanul Arob Al Muhith Ibnu Mandhur

[2]. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, III/157

[3]. Al Mu’jamul Wasith , I/135

[4] . Jama’atul-Muslimin, mafhumuha wa kaifiyatu luzuumuha, Dr Sholah Showiy.

[5] . Al-I’tishom, Asy-Syatibi, II : 260-266.

[6] . Tafsir Ibnu Katsir I/516-517

[7] . Ibid I : 518

[8] . di-shohih-kan Al-Baniy dalam ta’liq Syarh ‘Aqidah Thohawiyah 578

[9] .Jama’atul Muslimin, Mafhumuha wa Kaifiyatu luzumiha, Dr Sholah Showy hal. 110-111.

[10] . Jamaa’atul- Muslimin, Mafhumuhaa wa kaifiyatu luzuumuhaa, Dr Sholah Showiy.

[11] . di-shohih-kan Al-Baniy dalam ta’liq Syarh ‘Aqidah Thohawiyah 578

[12] .  Ahmad 3/229.

[13] . Syarh I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Al Alkay, 1 : 69-70

[14] . Ibid. No 3 dan Ats Tsawabit Dr. Sholah Showy, 225

[15] . Al I’tishom As Satiby, 2/267

[16] . Ats Tsawabith Wal Mutaghoyirot, Dr Sholah Showi, 225

[17] . Op. Cit no. 3

[18] . Jama’atul Muslimin, Dr. Sholah SHowy, 11-16

[19] . Fathul Bari, Ibnu Hajar 13/121, Muslim Syarh Nawawi 12/240.

[20] . Syarh An-Nawawy 12/242.

[21] . Syarh I’tiqod Ahlus Sunnah Al Alkay, I/160 diambil dari Ats Tsawabith wal-mutaghoyiroot, Dr. Sholah Showi, hal. 225-226

[22] . Ibid. I/161

[23] . Op. Cit I/167-168

[24] .  Ibid (20)

[25] . Tafsir Ibnu Katsir I/687-689

[26] . Fathul Bari, Ibnu Hajar 16/240 diambil dari An Nidlom As Siyasi, Dr. Abdul Qodir Abu Faris.

[27] . Ibid 16/241.

[28] . Fathul Bari, Ibnu Hajar  16/113.

[29] . Al Anwar Al Hadits II : 12.

[30] .  An Nidhom As Siyasiy, Dr. Abdul Qodir Abu Faris 71-75 dan lihat tafsir Ibnu Katsir I / 687-689

[31] . Tafsir Ibnu Katsir I : 687-689

[32] . An Nidhom As Siyasi fil Islam, Dr. Muhammad Abdul Qodir Abu Faris, hal 71-75

[33] . Syarh An-Nawawy 12/242)

[34] . Ibid, 12 : 238.

[35] . Fathul Bari, Ibnu Hajar 13 : 7.

[36] . Nailul Author, Syaukany, 7/194, 7/356.

[37] . Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ma’alim Intilaqul Qubro, Abdul Hadi Al Mishry, Hal : 183, Darut Thoyibah Riyadh

[38] .  Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhoh, lihat dalam bukunya Al Bida’ wan-Nahyu ‘Anha, hal 5 -7 tahqiq Muhammad bin Ahmad Dahman diambil dari buku Mu’allimul Intilaqil Qubro, Abdul Hadi Al Misri hal, 183-184)

[39] . Mu’allimul Intilaqil Qubro, Abdul Hadi Al Misri hal, 182-184

[40] . Maday Syar’iyyatul Intima’ Ilal Ahzaab wal Jama’aat Al-Islamiyyah, Dr Sholah Showiy, hal 125

[41] . Shohih Muslim, Syarh An-Nawawiy.

[42] . Fathul-Bariy, XIII / 36

[43] . Al Qoulu Mubin Fie Jama’atil Muslimin, salim Bin ‘Ied Al Hilaly, hal : 51 Darur Royah.

[44] . Ibid, halaman 53, juga dalam Ats-Tsawaabith, Dr Sholah Showiy hal 238.

[45] . Al Bai’ah, Ramly Kaby

[46] . Majumu’ Fatawa 29 : 110.

[47] .Jama’atul-Muslimiin; mafhumuhaa wa kaifiyatu luzuumuha, Dr Sholah Showiy.

[48] . Al-Hakim fil-Mustadrak.

[49] .Jama’atul-Muslimiin, Dr Sholah Showiy, 111dan 114.

[50] . Majmu’ Fatawa, 28 : 65.

[51] . Ats Tsawabith, Dr. Sholah Showi, 123.

[52] . Dr Sholah Showiy, Maday syari’atul-intimaa’ ilaa al-Jama’aat wal-Ahzaab.

[53] . Mitsaqul-’Amal Al-Islamiy, Dr Najih Ibrohim.

[54] . Manhajus Sunah fil-’Alaqoh Bainal Hakim Wal Mahkum, Dr. Yahya Ismail, Hal : 66-93, Darul Wada.

 

Fungsi dakwah

Kita memahami bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Otomatis, Islam tidak hanya memberikan kebaikan kepada umat Islam, tetapi kepada seluruh manusia, termasuk juga alam semesta. Islam semestinya mampu menjadi ‘solver problem’, inspirator dan motivator yang memiliki tujuan untuk menciptakan masyarakat ideal. Dakwah adalah ajakan kepada manusia untuk melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
ﻭَﺟَﺎﻫِﺪُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺟِﻬَﺎﺩِﻩِ ۚ ﻫُﻮَ ﺍﺟْﺘَﺒَﺎﻛُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺝٍ ۚ ﻣِﻠَّﺔَ ﺃَﺑِﻴﻜُﻢْ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ۚ ﻫُﻮَ ﺳَﻤَّﺎﻛُﻢُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞُ ﻭَﻓِﻲ ﻫَٰﺬَﺍ ﻟِﻴَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﺷَﻬِﻴﺪًﺍ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ۚ ﻓَﺄَﻗِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﺁﺗُﻮﺍ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﺍﻋْﺘَﺼِﻤُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻫُﻮَ ﻣَﻮْﻟَﺎﻛُﻢْ ۖ ﻓَﻨِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟَﻰٰ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴﺮُ ‏( ﺍﻟﺤﺞ 78 : ) Artinya : “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Al-Hajj [22] : 78).
Manusia membutuhkan dakwah untuk menuntun hidupnya sesuai dengan ajaran yang telah dibawa Nabi Muhammad SAW. Dakwah merupakan bagian dari jihad. Artinya, dakwah harus menggunakan segenap kemampuan yang dimiliki. Hal ini yang menyebabkan dakwah bukanlah hal yang mudah. Allah Subhanallahu Wa Ta’ala berfirman : ﺍﻧْﻔِﺮُﻭﺍ ﺧِﻔَﺎﻓًﺎ ﻭَﺛِﻘَﺎﻟًﺎ ﻭَﺟَﺎﻫِﺪُﻭﺍ ﺑِﺄَﻣْﻮَﺍﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺫَٰﻟِﻜُﻢْ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏( ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ 41 : ) Artinya : “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. Fungsi Dakwah Berdakwah memiliki beberapa fungsi, antara lain : 1. Untuk menyebarkan agama Islam kepada manusia sebagai individu dan masyarakat sehingga meratalah Islam sebagai Rahmatan lil’alamin. 2. Melestarikan nilai-nilai Islam dari generasi ke generasi kaum muslimin berikutnya, sehingga keberlangsungan ajaran Islam beserta pemeluknya dari generasi berikutnya tidak terputus. 3. Meluruskan akhlak yang bengkok, mencegah kemungkaran, dan mengeluarkan manusia dari kegelapan rohani. 4. Menyerukan kepada orang non-muslim untuk masuk Islam. 5. Menyerukan agar orang Islam menegakkan hukum Islam secara total. 6. Menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran yang meliputi segala kemaksiatan baik yang dilakukan oleh pribadi maupun kelompok. 7. Membentuk individu dan masyarakat yang menjadikan Islam sebagai pegangan dan pandangan hidup di dalam kehidupannya. Selain fungsi-fungsi yang tersebut di atas, dakwah juga memiki berbagai keutamaan, yaitu : 1. Dakwah Adalah Muhimmatur Rusul (Tugas Utama Para Rasul ‘Aliahimussalam) Para Rasul ‘alaihimussalam adalah orang yang diutus oleh Allah SWT untuk melakukan tugas utama mereka yakni berdakwah. Keutamaan dakwah terletak pada disandarkannya kerja dakwah ini pada manusia yang paling utama dan mulia yaitu Rasulullah SAW dan saudara-saudara beliau para nabi dan rasul ‘alaihimussalam.
ﻗﻞ ﻫﺬﻩ ﺳﺒﻴﻠﻲ ﺍﺩﻋﻮﺍﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺑﺼﻴﺮﺓ ﺃﻧﺎ ﻭ ﻣﻦ ﺍﺗﺒﻌﻨﻲ ﻭ ﺳﺒﺤﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻣﺎ ﺃﻧﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ‏( ﻳﻮﺳﻮﻑ : 108 ) Artinya : “katakanlah (Muhammad) : “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik”. (Yusuf [12] : 108)
Ayat diatas menjelaskan jalan Rasulullah SAW dan para pengikut beliau yakni jalan dakwah. Maka barangsiapa yang mengaku sebagai pengikut beliau SAW, maka dia harus terlibat dalam dakwah sesuai kemampuannya masing-masing. 2. Dakwah adalah Ahsanul A’mal (Amal yang terbaik) Dakwah adalah amal yang terbaik, karena dakwah memelihara amal islami dalam pribadi dan masyarakat. Membangun potensi dan memelihara amal shalih adalah amal dakwah, sehingga dakwah merupakan aktivitas dan amal yang mempunyai peranan penting di dalam menegakkan Islam. Tanpa dakwah ini maka amal shalih tidak akan berlangsung.
ﻭﻣﻦ ﺃﺣﺴﻦ ﻗﻮﻻ ﻣﻤﻦ ﺩﻋﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﻤﻞ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺇﻧﻨﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ‏( ﻓﺼﻠﺖ 33 : ) Artinya : “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata “sungguh aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)”. (Fushshilat [41] : 33) Bagaimana tidak akan menjadi ucapan dan pekerjaan terbaik? Sementara dakwah adalah pekerjaan makhluk terbaik yakni para nabi dan rasul ‘alaihimussalam. 3. Para Da’i Akan Memperoleh Balasan Yang Besar Dan Berlipat Ganda (Al-Hushulu ‘Ala Al-Ajri Al-‘Adzim) Sabda Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib : “Demi Allah, sesungguhnya Allah SWT menunjuki seseorang dengan (dakwah)mu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah”. (Bukhari, Muslim & Ahmad) Hadits ini menunjukkan bahwa usaha seorang da’i menyampaikan hidayah kepada seseorang adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah SWT, lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan merah miliknya. Rasulullah SAW bersabda : “sesunguhnya Allah SWT memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi sampai semut-semut dilubangnya dan ikan-ikan selalu mendo’akan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”. (HR.Tirmidzi dari Abu Umamah al Bahili). Keagungan balasan bagi orang berdakwah tidak hanya pada besarnya balasan untuknya tetapi juga karena terus menerusnya ganjaran itu mengalir kepadanya meskipun ia telah wafat. 4. Dakwah Dapat Menyelamatkan Kita Dari Adzab Allah ( An-Najatu Minal ‘Adzab ) Dakwah yang dilakukan oleh seorang da’i akan membawa manfaat bagi dirinya sebelum manfaat itu dirasakan oleh orang lain yang menjadi objek dakwah. Manfaat itu antara lain adalah terlepasnya tanggung jawabnya dihadapan Allah SWT sehingga ia terhindar dari adzab Allah. Dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar adalah kontrol sosial yang harus dilakukan oleh kaum muslimin agar kehidupan ini selalu didominasi oleh kebaikan. Kebatilan yang mendominasi kehidupan akan menyebabkan turunnya adzab Allah SWT. 5. Dakwah Adalah Jalan Menuju Khairu Ummah ( Umat Terbaik) Rasulullah SAW berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik sepanjang sejarah dengan dakwah beliau. Dakwah secara umum dan pembinaan kader secara khusus adalah jalan satu-satunya menuju terbentuknya khairu ummah seperti yang kita harapkan. Rasulullah SAW melakukan tarbiyah mencetak kader-kader dakwah di kalangan sahabat beliau. Jalan yang ditempuh Rasulullah ini adalah jalan yang harus kita tempuh juga untuk mengembalikan kejayaan umat. Umat Islam harus memainkan peran dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar dalam setiap keadaan baik ketika memperjuangkan terbentuknya khairu ummah maupun ketika cita-cita khairu ummah itu telah terwujud. Allah SWT berfirman : ﻛﻨﺘﻢ ﺧﻴﺮ ﺃﻣﺔ ﺃﺧﺮﺟﺖ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺗﺄﻣﺮﻭﻥ ﺑﺎ ﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﺗﻨﻬﻮﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻭ ﺗﺆﻣﻨﻮﻥ ﺑﺎ ﻟﻠﻪ …. ﺍﻷﻳﺔ ‏( ﺍﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ : 110 ) Artinya : “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (Ali Imron [3] : 110) Dengan melaksanakan dakwah berarti seorang da’i dengan dakwahnya sedang menjalani hidupnya dengan kehidupan rabbaniyah yakni kehidupan yang selalu berorientasi kepada Allah SWT dan kehidupan yang selalu diisi dengan belajar Al-Quran yang menjadi sumber kebaikan dan mengajarkannya kepada orang lain. Dengan selalu berdakwah di jalan Allah SWT seorang da’i telah menjadikan hidupnya penuh keberkahan dengan kebaikan yang melimpah dari Allah SWT. Demikian Ibnu Qoyyim melihat keberkahan dalam kehidupan seseorang ditentukan oleh aktivitas memberi manfaat kepada orang lain melalui dakwah dan kebaikan yang disebarkan demi meninggikan kalimat Allah SWT. Wallahu

Merenung kepada Diri sendiri

Gambar

Menjadi kewajipan para duah (pendakwah) untuk merenung jauh ke dalam diri mereka sendiri dan bermujahadah dengan bersungguh-sungguh melawan kehendaknya. Mereka hendaklah sentiasa tegas dalam bermuhasabah dan jangan sekali-kali meremehkan usaha ini dalam apa keadaan sekalipun. Mereka hendaklah setiasa mengambil ‘azimah’ dalam bermuhasabah sehinggalah Allah s.w.t. meluruskan urusanNya. Ini disebabkan jalan dakwah yang sedang dilaluinya ini penuh dengan fitnah (tribulasi) dan persimpangannya terlalu sukar untuk ditempuhi. Justeru Imam Syahid Hasan Al-Banna sering mengingatkan para ikhwannya kepada suatu yang menjadi kewajipan ke atas seseorang al-akh itu bertajuk: (Menghalang berlakunya mudhorat daripada jiwa dan kewajipan menjaganya).. di dalam pesanannya bagi anggota Ikhwan Muslimin (IM) pada tahun 1939 setelah selesai berlangsungnya Muktamar Kelima beliau berkata:

“Wahai Ikhwan sekalian, beramal untuk memelihara jiwa kita sendiri itu adalah kewajipan pertama dalam susunan keutamaan wajibat kita. Maka hendaklah kamu bersungguh-sungguh bermujahadah dengan diri kamu. Pastikan diri kamu berada di atas ta’alim Islam dan hukum-hukumnya. Jangan kamu meremehkan (meringan-ringankan) ta’alim Islam dan hukum-hukumnya itu dalam apa keadaan sekalipun. Hendaklah kamu sentiasa berada dalam ketaatan dan larilah kamu dari dosa serta bersihkan diri kamu dari perkara-perkara maksiat. Hubungkanlah hati-hati dan perasaan kamu sentiasa dengan Allah yang merupakan pemilik langit dan bumi. Lawanlah kemalasan dan singkirkan perasaan lemah. Pastikan perasaan dan semangat syabab (pemuda)kamu terarah kepada kebaikan dan kesucian. Hisablah diri-diri kamu dalam hal ini dengan penghisaban yang sukar. Berhati-hatilah kamu agar jangan sampai berlalu kepada kamu satu detik tanpa amal yang baik dan tanpa usaha yang murni bagi kemaslahatan dakwah ini”.

Di antara perkara yang perlu diambil berat oleh para duah ialah senantiasa menilik hati dan jiwanya supaya selari antara kata-kata dan amalannya. Kerana mengajak (berdakwah) manusia kepada kebaikan dalam keadaan berlakunya percanggahan dengan apa yang kita serukan adalah suatu musibah besar dan ia adalah satu penyakit yang amat berbahaya. Allah Ta’ala berfirman:

(أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون)

 “Apakah kamu menyuruh manusia dengan kebaikan dan kamu lupa terhadap diri kamu sendiri, sedangkan kamu membaca Kitab. Apakah kamu tidak berakal?”.

 FirmanNya lagi:

 ( يا أيها الذين آمنوا لم تقولون مالاتفعلون ، كبر مقتا عند الله أن تقولوا مالاتفعلون )

 “Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan suatu yang kamu tidak kerjakan. Amat besarlah kebencian di sisi Allah s.w.t. bahawa kamu mengatakan suatu yang kamu tidak kerjakan”.

Telah diriwayatkan bahawa Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi Isa a.s.: 

(يا بن مريم : عظ نفسك فإن اتعظت فعظ الناس وإلا فاستحى منى)

 Maksudnya: “Wahai Ibnu Maryam, nasihatilah akan dirimu terlebih dahulu. Bila kamu telah nasihatkan dirimu, maka nasihatkanlah manusia lain. Jika tidak demikian, maka malulah kamu kepadaKu”.

 

Di antara akibat buruk mereka itu pada hari qiamat ialah penghuni syurga melihat mereka diazab di dalam neraka, lalu mereka (penghuni syurga) bertanya mereka (dalam neraka): “Apa yang menyebabkan kamu dihumbankan ke neraka?” Sesungguhnya kami dapat masuk syurga dengan sebab ajaran dan tunjuk ajar kamu kepada kami ! Lalu mereka menjawab: “Sesungguhnya kami dulu (di dunia) menyuruh kamu berbuat baik, tetapi kami tidak beramal dengan kebaikan itu, kami dulu (di dunia) melarang kamu dari kemungkaran, tetapi kami telah melakukan kemungkaran tersebut. Sesungguhnya ia adalah suatu yang amat malang bagi kami, kami menyesal sesesal-sesalnya (berlakunya itu di hadapan khalayak ramai pada hari Qiamat). 

Kepatuhan antara kata-kata dan amalan bukan suatu yang senang atas jiwa. Kerana jiwa manusia dikelilingi nafsu syahwat dan kebiasaan (tabiat). Justeru wajiblah para duah melakukan riadhah jiwa; bermujahadah dan meniliknya. Antara faktor yang boleh membantu ke arah itu ialah hubungan dengan Allah s.w.t. dan sentiasa meminta pertolongan daripadaNya dan kedekatan jiwa di hadapanNya. Oleh itu, tidak mungkin seorang duah itu mampu menjadi qudwah terhadap apa yang diucapkannya melainkan apabila dia berjaya memperkukuhkan hubungannya dengan Allah dan mendapatkan pertolongan daripadaNya. Maka jadilah: 

(إياك نعبد وإياك نستعين)

 “Hanya kepada Engkau sahaja kami sembah dan hanya kepada Engkau sahaja kami meminta pertolongan”

… sebagai manhaj dan jalannya. Pada ketika itu sahaja Allah s.w.t. pastinya akan menganugerahkan petunjukNya ke jalan yang lurus, iaitu jalan mereka yang telah diberi nikmat ke atas mereka itu. Ia akan menolongnya menghadapi fitnah-fitnah dan simpangsiur di sepanjang jalan dakwah ini. Manusia akan melihat sifat benarnya, lalu dengan itu Allah Ta’ala akan membuka hati-hati manusia dengan sifat benar tersebut.

 يقول صاحب الظلال (الشهيد سيد قطب) : (إن الكلمة لتنبعث ميته ، وتصل هامدة مهما تكن طنانة رنانة متحمسة إذا هي لم تنبعث من قلب يؤمن بها ، ولن يؤمن إنسان بما يقول حقا إلا أن يصبح هو ترجمة حية لما يقول ، وتجسيما واقعيا لما ينطق ، عندئذ يؤمن الناس ، ويثق الناس ، ولو لم يكن فى تلك الكلمة طنين ولا بريق ، إنها حينئذ تستمد قوتها من واقعها لامن زينتها ، وتستمد جمالها من صدقها لا من بريقها ، إنها يومئذ دفعة حياة لأنها منبثقة من حياة) . فى ظلال القرآن ج1 ص 68 .

 Telah berkata pengarang tafsir Fi Zilal Al-Quran (Syahid Syed Qutb): “Sesungguhnya sesuatu kalimah itu bila keluar dalam keadaan ‘mati’, ia tetap longlai sekalipun bermotivasi dan kuat bunyinya bilamana ia tidak keluar dari hati orang yang beriman dengannya. Seseorang insan itu tidak akan dikira beriman dengan sebenar-benarnya melainkan ia menjadi terjemahan yang hidup pada apa yang diperkatakan, berjisim dan tampak hidup pada apa yang diucapkan. Ketika itu insan akan beriman dan akan percaya sekalipun pada kalimah itu tidak dihiasi dengan keindahan dan kecantikan. Sesungguhnya pada ketika itu kata-kata itu mendapat kekuatannya dari realitinya, bukan dari perhiasannya. Kecantikan itu datang dari sifat benarnya. Ia lantas menjadi kuasa/tenaga yang menolak kehidupan kerana ia terjelma keluar dari kehidupan sebenar”. (Fi Zilal jld 1, m/s 68)

 Kesimpulannya ada dua:

Pertama: Orang yang mengajak orang lain kepada petunjuk sedangkan dia tidak beramal dengannya samalah seperti lampu yang memberi cahaya kepada manusia tetapi ia membakar dirinya sendiri. Semoga Allah menyelamatkan kita semua.

Kedua: Bahawa tanggungjawab duah terhadap orang lain tidak harus memalingkan mereka dari tanggungjawab terhadap diri mereka sendiri. Dan bahawa kesibukan mereka berusaha memperbaiki manusia seharusnya tidak memalingkan mereka daripada mengislahkan hal keadaan mereka. Maka dengan demikian mereka telah memberi hak kepada yang berhak.

Kita bermohon agar Allah s.w.t. menjadikan batin kita semua lebih baik dari zahir (lahiriah) kita, yang tersembunyi pada kita lebih baik dari yang terserlah, dan semoga Allah s.w.t. mengurniakan kita benar dalam ucapan dan amalan serta ikhlas dalam sunyi dan terbuka.

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Berjuanglah untuk Islam Walau Anda Pelaku Maksiat

Gambar

Saudaraku …

Apa yang kau anggap atas dirimu sendiri,,,? Begitu banyakkah dosa dan noda,,,,,? Ketahuilah, setiap manusia –siapa pun dia- juga memiliki kesalahan, dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang mau bertaubat. Mari jadilah yang terbaik,,,,,

Saudaraku ,,,,,

Apa yang menghalangimu membela agamamu? Apa yang merintangimu beramal demi kejayaan Islam dan kaum muslimin? Dosa, noda, dan maksiat itu? Ketahuilah, jika kau diam saja, tidak beramal karena merasa belum pantas berjuang, masih jauh dari sempurna, maka daftar noda dan maksiat itu semakin bertambah. Itulah tipu daya setan atas anak Adam, mereka menghalangi manusia dari berjuang dan hidup bersama para pejuang, dengan menciptakan keraguan di dalam hati manusia dengan menjadikan dosa-dosanya sebagai alasan.

Saudaraku ,,,,

Hilangkan keraguanmu, karena Rabbmu yang Maha Pengampun telah berfirman:

إِنَّالْحَسَنَاتِيُذْهِبْنَالسَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)

Hilangkan pula kebimbanganmu, karena kekasih hati tercinta, Nabi-Nya yang mulia –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam– telah bersabda:

وَأَتْبِعِالسَّيِّئَةَالْحَسَنَةَتَمْحُهَا

Ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya itu akan menghapuskannya. (HR. At Tirmidzi No. 1987, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21354, 21403, 21487, 21536, 21988, 22059, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 296, 297, 298, juga Al Mu’jam Ash Shaghir No. 530, Ad Darimi No. 2833, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 178, katanya: “Shahih, sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.” Disepakati oleh Imam Adz DZahabi dalam At Talkhish. Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Al Albani menghasankannya dalam kitab mereka masing-masing)

Saudaraku ,,,,

Tidak usah berkecil hati dan jangan putus asa, sungguh agama mulia ini pernah dimenangkan oleh orang mulianya dan para fajir (pelaku dosa)nya. Semuanya mengambil bagian dalam gerbong caravan pejuang Islam. Imam Al Bukhari telah membuat Bab dalam kitab Shahihnya, Innallaha Yu’ayyidu Ad Diin bir Rajul Al Faajir (Sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya melalui seseorang yang fajir). Ya, kadang ada pelaku maksiat, seorang fajir, justru dia melakukan aksi-aksi nushrah (pertolongan) terhadap agamanya, dibanding laki-laki yang shalih. Semoga aksi-aksi nushrah tersebut bisa merubahnya dari perilaku buruknya, dan dia bisa mengambil pelajaran darinya sampai dia berubah menjadi orang shalih yang berjihad, bukan lagi orang fajir yang berjihad.

Saudaraku ,,,, Ada Abu Mihjan!!

Kukisahkan kepadamu tentang Abu Mihjan Radhiallahu ‘Anhu. Ditulis dengan tinta emas para ulama Islam, di antaranya Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala pada Bab Sirah Umar Al Faruq. (2/448. Darul Hadits, Kairo), juga Usudul Ghabah-nya Imam Ibnul Atsir. (6/271. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat sulit menahan diri dari khamr (minuman keras). Beliau sering dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diterapkan hukum cambuk (Jild) padanya karena perbuatannya itu. Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. Tetapi, dia adalah seorang laki-laki yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum.

Hingga datanglah perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu melawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, dia tampil gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh musuh. Tetapi, saat itu dia dikalahkan keinginannya untuk meminum khamr, akhirnya dia pun meminumnya. Maka, Sa’ad bin Abi Waqash menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad.

Di dalam penjara, dia sangat sedih karena tidak bisa bersama para mujahidin. Apalagi dari dalam penjara dia mendengar suara dentingan pedang dan teriakan serunya peperangan, hatinya teriris, ingin sekali dia membantu kaum muslimin melawan Persia yang Majusi. Hal ini diketahui oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yang bernama Salma, dia sangat iba melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya! Maka, tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan dia memimpin pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya- Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat memang itulah yang dia cita-citakan.

Abu Mihjan berangkat ke medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang mengenalnya. Dia masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring karena sakit dan dia takjub kepadanya, dan mengatakan: “Seandainya aku tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa, maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.”

Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada Abu Mihjan.

Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan dia sendiri yang memborgol kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata:

لانجلدكعلىخمرأبدافقال: وأناواللهلاأشربهاأبدا

Kami tidak akan mencambukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr selamanya!”

Saudaraku ,,,,

Sangat sulit bagi kita mengikuti dan menyamai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat nabi yang mulia, Radhiallahu ‘Anhum. Tetapi, paling tidak kita masih bisa seperti Abu Mihjan, walau dia pelaku maksiat namun masih memiliki ghirah kepada perjuangan agamanya, dan ikut hadir dalam deretan nama-nama pahlawan Islam. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam deretan para pejuang agama-Nya, mengikhlaskan, dan memberikan karunia syahadah kepada kita.,,,, Amin