Arsip

Dakwah Walisongo

Walisongo berdakwah atas utusan khalifah

​Bisa dikatakan tak akan ada Islam di Indonesia tanpa peran khilafah. Orang sering mengatakan bahwa Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa disebarkan oleh Walisongo. Tapi tak banyak orang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu? Dari mana mereka berasal? Tidak mungkin mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit?

Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.

Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.

Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem).

Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah.

Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan.

Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu.

Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut.

PERIODE DAKWAH WALI SONGO

Kita sudah mengetahui bahwa mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.

Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati).

Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit.

Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu.

Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka.

Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung.

Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki.

Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah.

Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari Syarif mekah.

Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajari cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922).

Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.

Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki.

Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki.

Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol (Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah) masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani.

Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah.

Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam. Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki.

KESIMPULAN

Jumlah dai yang diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 6 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlanya sekitar sembilan orang. (Versi lain mengatakan 7 bahkan 10 angkatan karena dilanjutkan oleh anak / keturunannya)

Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik.

– Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.

– Seangkatan dengan beliau ada 2 wali dari Palestina yg berdakwah di Banten; salah satunya Maulana Hasanudin, beliau kakek Sultan Ageng Tirtayasa.

– Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestina dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten punya hubungan darah & ideologi dg Palestina.

– Juga Syaikh Ja’far Shadiq & Syarif Hidayatullah; dikenal disini sebagai Sunan Kudus & Sunan Gunung Jati; mereka berdua dari Palestina.

– Maka jangan heran, Sunan Kudus mendirikan Kota dengan nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) & Masjid al-Aqsha di dalamnya.

(Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa , Pak Muhammad Jazir ini juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X).

Adapun menurut Berita yang tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.

Sultan Muhammad I itu membentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa dimulai pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki.

Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:

1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.

2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.

4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.

5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.

6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.

7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.

8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.

9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.

Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan

2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir

4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina

7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina

8. Maulana ‘Aliyuddin, asal Palestina

9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.

Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan

2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir

4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan

2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak

4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :

1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah

3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak

4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :

1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah

3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak

4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

Iklan

Proses Masuknya Islam di Indonesia

proses masuknya islam di Indonesia

proses masuknya islam di Indonesia dapat diketahui dari beberapa sumber yang dapat memberitakannya. Sumber sejarah itu dapat digolongkan menjadi sumber ekstern (dari luar negeri) dan sumber intern (dari dalam negeri).

Sumber Ekstern masuknya islam ke indonesia

Sumber exstren artinya sumber sejarah yang menyatakan masuknya islam ke indonesia berasal dari sumber luar negeri.diantaranya:

Berita dari Arab

Proses masuknya islam ke indonesia di perkirakan abad ke 7 M .Pada abad ke-7 ketika Kerajaan Sriwijaya sedang berkembang telah banyak pedagang Arab yang mengadakan hubungan dengan masyarakat Kerajaan Zabag(sebutan orang arab terhadap kerajaan riwijaya)/Sriwijaya.hal ini di buktikan dengan sudah adanya perkampungan muslim di bandar sriwijaya yang berasal dari arab dan gujarat india

Berita dari Eropa

Proses masuknya islam di indonesia menurut berita dari eopa.Pada tahun 1292 Marco Polo (Italia) adalah orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di Indonesia. Ketika kembali dari Cina untuk menuju Eropa melalui jalan laut. Ketika ia singgah di Perlak (Perueula). Perlak adalah daerah di propinsi aceh darusalam sekarang. Dalam tulisannya marcopolo menulis bahwa mereka menemukan perkampungan muslim di perlak dan sebuah kerajaaan yang kita kenal sumudra pasai di kemudian hari,penduduknya telah memeluk agama Islam kehidupan sosial pemerintahan yang sudah teratur dan tata kota yang sudah baik. Ini menjadi indikator bahwa islam sudah masuk ke samudra pasai.

Berita dari India

Gujarat merupakan pusat perdagaangan di asia selatan dan merupakan salah satu jalur perdagaangan dunia.di gujarat tersebut banyak di kunjungi pedagang dari arab yang sudah menganut agama islam.kemudaian sembari berdagang mereka juga menyebarkan agama islam shingga banyak penduduk gujarat yang memeluk agama islam kemudian para pedagang tersebut datang ke indonesia kususnya aceh yang waktu itu merupan pusat rempah di nusantara.Para pedagang Gujarat dari India di samping berdagang juga menyebarkan agama Islam di pesisir pantai.

Berita dari Cina

Dikatakan oleh Ma Huan (sekretaris Laksamana Cheng Ho) ,laksamana cengho merupakan untusan kekaisaran cina yang di utus untuk menjelahi dunia. pada sekitar tahun 1400 telah singgah di pantai utara jawa. Menurut cataan mereka suda ada pedagang-pedagang Islam yang tinggal di pantai utara Jawa.dengan demikian maka kemunkinan islam suda mulai masuk ke pantai utara jawa pada abad ke 14 m. Sekedar diketahui para pedagan dari arab dan gujarat menetap di indonesia.karena pelayaran waktu itu sangat bergantung pada musim dan angin.

Sumber Intern

Sumber intren maksudnya adalah sumber sejarah tentang masuknya islam ke indoneisa berasal dari dalam negri atau dari indonesia itu sendiriSumber intern yang menjadi bukti masuknya Islam di Indonesia, antara lain sebagai berikut:

1. Batu Nisan Fatimah binti Maimun (1028) yang bertuliskan Arab di Leran (Gresik).

2. Makam Sultan Malik Al Saleh (1297) di

3. Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim (1419) di

Teori-teori masuknya islam ke indonesia

1. Teori gujarat

Menurut penganut teori ini berkeyakinan bahwa islam masuk ke indonesia di bawa oleh orang-orang dari gujarat india pada abad ke 13.teori ini didukung oleh Snouck Hurgronje (dia merupan ahli agama islam belanda yang sengaja di kirim oleh belanda untuk menaklukkan aceh),sutterhein dan B.H.M Vlekke.

Ada dua alasan para pendukung teori ini

Pertama adanya batu nisan sultan malik alsaleh (sultan kerajaan samudara pasai yang meninggal 1297) yang bercorak gujarat. Kedua adanya tulisan marcopollo (pedagang venesia italia sekarang) yang menyatakan pernah singgah di perlak pada tahun 1292 dan mendapati banyak penduduknya yang beragama islam dan para pedagang dari gujarat india.

1. Teori mekkah

Pendukung teori ini adalah van leur (Tokoh Sejarah),buya hamka (tokoh agama, intelektual dan nasional dari minang kabau sumatra barat). Menurut mereka islam telah masuk ke indonesia pada abad ke 7 M dan langsung di sebarkan dari orang mekkah buktinya adanya pemukiman islam di baros daerah pesisir barat sumatra.dan adanya makam fatimah binti maimu beranggka tahun 1078 masehi di trowulan jawa timur.

Proses Islamisasi di indonesia

Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan terus berkembang serta prosesnya lebih demokratis dari pada agama Hindu. Itulah sebabnya pada abad ke-16 telah dapat menggeser kekuasaan Hindu (Kerajaan Majapahit). Adapun proses islamisasi di Indonesia dilakukan dengan berbagai bentuk, antara lain sebagai berikut:

Proses Islamisasi Melalui Perdagangan

perdagangan memainkan peranan sangat penting dalam proses masuknya islam di indonesia. Para pedagang dari Arab, Persia, dan Gujarat memegang peranan penting sebab di samping berdagang, mereka juga menyebarkan agama Islam. Mereka mendirikan perkampungan sendiri (perkampungan pedagang muslim di negeri asing ) yang disebut Pekojan. Melalui perdagangan inilah Islam berkembang pesat. Hal ini didukung oleh situasi politik saat itu, ketika para bupati pesisir berusaha untuk melepaskan diri dari kekuasaan pusat yang sedang mengalami kekacauan atau perpecahan.

Proses Islamisasi Melalui Perkawinan

Perkawinan putri bangsawan dengan pedagang muslim dilakukan secara Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat (perkawinan antara pihak Islam dengan pihak yang belum Islam). Perkawinan merupakan saluran islamisasi yang paling mudah. Dari perkawinan itu pula akan membentuk ikatan kekerabatan antara pihak keluarga laki-laki dan perempuan.

Saluran lewat perkawinan antara pedagang, ulama, ataupun golongan lain dengan anak bangsawan, bupati ataupun raja akan lebih mengun- tungkan. Status sosial ekonomi ataupun politik para bangsawan, bupati, atau raja akan mempercepat proses islamisasi. Banyak contoh yang dapat dikemukakan mengenai proses islamisasi melalui perkawinan, antara lain sebagai berikut.

Perkawinan Putri Campa dengan Raja Brawijaya yang melahirkan Raden Patah.Perkawinan Rara Santang (putri Prabu Siliwangi) dengan Syarif Abdullah melahirkan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Perkawinan Putri Blambangan dengan Maulana Ishak mempunyai seorang putra bernama Raden Paku (Sunan Giri).Perkawinan Raden Rahmat (Sunan Ampel) dengan Nyai Gede Manila

melahirkan Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Syarifudin).

perkawainan para pedagan islam memainkan peran sangat penting dalam proses masuknya islam ke indonesia pada masa awal perkembangan islam.

Proses Islamisasi Melalui Tasawuf

ajaran tasau berperan besar dalam proses masuknya islam ke indonesia.Ajaran tasawuf adalah ajaran ketuhanan yang telah bercampur dengan mistis atau unsur-unsur magis. Ajaran tasawuf masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Di Aceh muncul ahli tasawuf yang terkenal, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as Samatrani, dan Nuruddin ar Raniri. Di Jawa di antara Wali Sanga juga ada yang mengajarkan tasawuf ialah Sunan Bonang dan Sunan Kudus .

Proses Islamisasi melalui Pendidikan

pendidikan memainkan peranan penting dalam proses masuknya islam di indonesia. Lewat pendidikan terutama dalam pesantren yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Pesantren merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam karena merupakan tempat pembinaan calon guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Pada masa pertumbuhan Islam di Jawa, kita mengenal beberapa pesantren, di antaranya Pesantren Ampel Denta di Surabaya dan Pesantren Giri di Gresik.

Proses Islamisasi Melalui Dakwah

Proses masuknya islam di indonesia melalui dakwah. Demikian halnya di Jawa melalui dakwah dilakukan oleh kelompok para wali yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Wali artinya wakil atau utusan. Mereka di samping memiliki pengetahuan agama Islam juga memiliki kelebihan yang disebut karomah. Oleh karena itu, mereka diberi gelar sunan artinya yang dihormati. Kesembilan wali tersebut adalah sebagai berikut:

Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Surabaya (Jawa Timur).

Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim) di Tuban (Jawa Timur).

Sunan Drajat ( Raden Syarifuddin) atau raden Qosim di Lawongan, Jawa Timur.

Sunan Giri (Raden Paku) di Gresik, Jawa Timur.

Syeh Maulana Malik Ibrahim, di Gresik, Jawa Timur.

Sunan Kalijaga (Raden Said) di Kadilangu, Semarang, Jawa Te Sunan Kudus (Raden Jafar Shodiq) di Kudus, Jawa Tengah.

Sunan Muria (Raden Umar Said) di Muria, Jawa Tengah.

Sunan Gunung Jati (Syarif Hidaya-tullah) di Cirebon, Jawa Barat.

Penyebaran agama Islam di Jawa Tengah bagian selatan dilakukan Sunan Tembayat (Bayat) yang berkedudukan di Klaten. Penyebaran agama Islam di luar Jawa, khususnya di Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk ri Bandang dan Datuk ri Sulaiman. Di Kalimantan Timur dilakukan oleh Datuk ri Bandang dan Tuan Tunggang ri Parangan. Golongan lain yang mempercepat proses islamisasi ialah mereka yang telah menunaikan ibadah haji.

Kesadaran Keluarga

“Rabbi hablii milladunka zaujan (zaujatan) thayyiban wayakuna
shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah”

“Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan(suami/istri) yg
terbaik dari sisi-Mu, pasangan yg juga menjadi sahabat kami
dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat”. (HR. Bukhari)

Seorang Mujahid seharusnya mampu membagi waktunya secara proporsional menjadi 4 bagian. Yang pertama adalah waktu yang ia sisihkan untuk Robbnya. Yang kedua adalah waktu yang dia sisihkan bagi dirinya. Yang ketiga bagi keluarganya dan yang keempat adalah waktu yang ia pergunakan bagi kepentingan perjuangan,,,

Waktu bagi Robbnya bisa antum baca pada kesadaran – 2 yaitu kesadaran Ibadah. Sedangkan waktu yang kedua yaitu waktu yang ia peruntukan bagi dirinya adalah waktu-waktu yang bisa dimanfaatkan oleh Mujahid untuk memandaikan diri. Gambaran konkritnya bisa antum baca pada kesadaran – 1 : Kesadaran Ulul Albab. Sedangkan waktu yang ketiga yaitu waktu yang antum harus sisihkan bagi keluarga bisa antum ikuti pada tulisan kali ini.

Berkenan dengan keluarga,  اللهانشا Rosul pernah bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku”.Jadi keluarga bagi Mujahid merupakan tempat pertama dimana segala ketauladanan, uswah, contoh mulai dibangun dan dikembangkan. Karena itu wahai Mujahid, berbaik-baiklah antum dengan keluargamu sebab ia merupakan cerminan dirimu. Antum harus menyadari bahwa antum sekarang sedang mempersiapkan sebuah persemaian, sebuah ladang yang kelak bakal lahir generasi pelanjut perjuangan. Karena itu ia memerlukan kepiawaian berupa kebaikan dan ketakwaan (QS 2:223) di dalam menyagainya. Ia membutuhkan perawatan yang sungguh-sungguh dari tangan-tangan Mujahid yang mengkhawatirkan akan lahirnya generasi yang lemah menghadapi lawan (QS 4:9). Ia membutuhkan Mujahid yang menginginkan lahirnya generasi Robbani (QS 3:79) yaitu generasi yang memiliki prinsip hidup mulia dalam naungan Islam atau kalau tidak, mati syahid di dalam memperjuangkan kemuliaan tersebut.

Karena itu kepada seluruh Mujahid yang telah berumah tangga, sadarilah bahwa apa yang الله berikan kepada antuma (antum berdua) berupa istri atau suami yang bagaimanapun keadaannya, maka tugas kalian adalah saling menguatkan satu sama lain. Mungkin pasangan antum bukanlah apa yang antum idolakan tetapi الله telah menetapkan yang terbaik untuk antum. Kalau mau dicari kekurangan dan kelemahannya maka tidak akan pernah ada habis-habisnya. Akan tetapi kalau mau saling menambal kekurangan, maka itulah yang semestinya dilakukan (QS 2:187).Antum pakaian bagi dirinya dan dia pakaian bagimu.Pekerjaan yang mengasyikkan dan tidak membosankan adalah manakala kita melakukan pekerjaan saling memperindah pakaian kita masing-masing.Bukankah kita tidak menyukai kalau pakaian kita Nampak bolong atau sobek atau lusuh?Adakah kita memperlakukan pasangan kita seperti kita memperlakukan pakaian kita?

Kepada Mujahid yang masih sendirian cepat-cepatlah antum menikah. Sebab menunda menikah berarti juga memperlambat proses idharut tandzim. Kalau antum terhalang karena kemiskinan maka اللهakan memampukanmu dengan karunia-Nya (QS 24:32). Kalau antum keberatan menikah karena merasa bahwa akhwat yang “di dalam” belum memenuhi “selera” antum maka sesungguhnya antum telah menelantarkan “asset” Negara. Menelantarkan asset Negara berarti pula mengingkari langkah perjuangan yang sedang kita bangun. Antum seperti membiarkan tempat-tempat  persemaian yang sudah siap di tanam sehingga menjadi mengering dan hilang daya juangnya. Antum telah menyebarkan rasa ketidakpastian menggelayuri mereka sehingga boleh jadi doa-doa pengiring perjuangan menjadi terhambat lantaran adanya hamba-hamba الله yang terdzolimi yang mereka berdoa sehingga doa-doa merekalah yang  الله lebih perhatikan.

Kepada Mujahidah yang belum menemukan jodohnya bersabarlah sebab “kesabaran itu lebih baik” kata “الله  (QS 4:25). Mungkin anti bosan mendengar kata sabar ini.Tetapi itulah kata-kata kunci bagi setiap Mujahid. Untuk Ulil Amri الله  uji dengan keadilan, untuk ahli ibadah, الله  uji dengan keikhlasan sedang untuk Mujahid الله uji dengan kesabaran. Kesabaran tidak memiliki batas waktu, sebab kesabaran datangnya dari الله (QS 16:127) yang kekal. Oleh sebab itu disela-sela doa malammu yang panjang selipkan doa tentang estafeta perjuangan ini, selipkan doa agar para Mujahid yang masih lajang segera menyadari tanggung jawabnya, selipkan doa agar para aparat dapat mengemban amanah terutama amanah untuk mencetak keluarga idaman perjuangan dan selipkan doa agar الله senantiasa membimbing kita di jalan-Nya, Shirrotol mustaqim. Doa dari anti yang “teraniaya”,  الله انشا , الله kabulkan tanpa hijab,,,,,,

“Jazakumullah Khairan katsiira”.

“Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin saya menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan,,,,,,,”

====================================

My inspiration

Saat langkah ada didunia,, Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidloMu,, jadikanlah kami hamba dan pejuang sehingga meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus kami titi,,,,

” Saat Cinta dan Rindu tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah,,,,,,,”amien ya rabb

=====================================

Tegaklah dengan keyakinan dan perjuangan karena makna hidup terletak pada keyakinan dan perjuangan,,,,

Kemenangan dan kejayaan hakii hanya akan diberikan kepada para pejuang yang rela berkorban,kuat menahan penderitaan dan kepapaan,,,,,,,

Bahagia dan sa’adah hanya akan di rasakanoleh orang orang yang membela keyakinan,,,,,

Terkadang cita cita yang besar berawal dari mimpi, mimpi menetes menjadi renungan, yang berbuah semangat perjuangan yang menggerakkan haroqi cita citanya, dari langkah ke langkah dalam bingkainya.,,,

Idealnya seseorang memang harus memiliki cita cita,punya konsep hidup. Sehingga ada agenda besar dalam dirinya yang akan dia wujudkan.

Hidup adalah sesuatu yang besar, yang harus  diperjuangkan oleh setiap insan. Karena itulah yang akan membedakan dirinya dengan hewan, hewan yang hanya sekedar cari makan. Bahkan gajah mati pun meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusiapun mati meninggalkan Karya.karya itulah yangg akn di lanjutkan oleh para generasi kita dikemudian hari.

Ya Allah! Engkau adalah rabbku

tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Engkau

Engkau-lah yang menciptakan aku

aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu

aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat

aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku

oleh karena itu ampunilah aku

sesungguhnya tiada yang mengampuni dosaku kecuali Engkau,,,,,,, Guide Me All The Way,,,,,,