Arsip

40 Kaedah ushul fiqh

QOWA’ID AL-FIQH

Sabda Rasulullah SAW. :

” ﺍﻧﻤﺎ ﺍﻻﻋﻤﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﻴﺎﺕ ﻭﺍﻧﻤﺎ ﻟﻜﻞ ﺍﻣﺮﺉ ﻣﺎ ﻧﻮﻯ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ

:Artinya

“Segala sesuatu tergantung pada niatnya, dan apa yang didapatkan ialah apa yang telah diniatkan.” (HR. Bukhari).

Kaidah ke-1

ﺍﻻﻣﻮﺭ ﺑﻤﻘﺎﺻﺪﻫﺎ

Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.

Contoh kaidah:

Diwajibkannya niat dalam berwudhu, mandi, shalat dan puasa.

Penggunaan kata kiasan (kinayah) dalam talak. Seperti ucapann seorang suami kepada istrinya: ﺍﻧﺖ ﺧﺎﻟﻴﺔ (engkau adalah wanita yang terasing). Jika suami bertujuan menceraikan dengan ucapannya tersebut, maka jatuhlah talak kepada istrinya, namun jika ia tidak berniat menceraikan maka tidak jatuh talak-nya.

Kaidah ke-2

ﻣﺎ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺘﻌﻴﻦ ﻓﺎﻟﺨﻄﺄ ﻓﻴﻪ ﻣﺒﻄﻞ

Sesuatu yang memerlukan penjelasan, maka kesalahan dalam memberikan penjelasan menyebabkan batal. Contoh :kaidah

Seseorang yang melakukan shalat dhuhur dengan niat ‘ashar atau sebaliknya, maka shalatnya tersebut tidak sah.

Kesalahan dalam menjelaskan pembayaran tebusan (kafarat) zhihar kepada kafarat qatl (pembunuhan).

Kaidah ke-3

ﻣﺎ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﺍﻟﺘﻌﺮﺽ ﻟﻪ ﺧﻤﻠﺔ ﻭﻻ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﺗﻌﻴﻴﻨﻪ ﺗﻔﺼﻴﻼ ﺍﺫﺍ ﻋﻴﻨﻪ ﻭﺍﺧﻄﺄ ﺿﺮَّ

Sesuatu yang memerlukan penjelasan secara global dan tidak memerlukan penjelasan secara rinci, maka ketika kesalahan dalam penjelasan secara rinci membahayakan .

Contoh kaidah :

Seseorang yang bernama Gandung S.P. Towo niat berjamaah kepada seorang imam bernama mbah Arief. Kemudian, ternyata bahwa yang menjadi imam bukanlah mbah Arief tapi orang lain yang mempunyai panggilan Seger (Khoirul Mustamsikin), maka shalat Gandung tidak sah karena ia telah berniat makmum dengan mbah Arief yang berarti telah menafikan mengikuti Seger. Perlu diketahui, bahwa dalam shalat berjamah hanya disyaratkan niat berjamaah tanpa adanya kewajiban menentukan siapa imamnya.

Kaidah ke-4

ﻣﺎ ﻻ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﺍﻟﺘﻌﺮﺽ ﻟﻪ ﺧﻤﻠﺔ ﻭﻻ ﺗﻔﺼﻴﻼ ﺍﺫﺍ ﻋﻴﻨﻪ ﻭﺍﺧﻄﺄ ﻟﻢ ﻳﻀﺮ

Sesuatu yang tidak disyaratkan penjelasannya secara global maupun terperinci ketika dita’yin dan salah maka statusnya tidaklah membahayakan .

Contoh kaidah :

Kesalahan dalam menentukan tempat shalat. Seperti mbah Muntaha (pengelolah kantin Asyiq) niat shalat di Kemranggen Bruno Purworejo, padahal saat itu dia berada di Simpar (suatu daerah yang di Kecamatan Kalibawang Wonosobo). Maka shalat mbah Muntaha tidak batal karena sudah adanya niat. sedangkan menentukan tempat shalat tidak ada hubungannya dengan niat baik secara globlal atau terperinci (tafshil).

Kaidah ke-5

ﻣﻘﺎﺻﺪ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﻋﻠﻰ ﻧﻴﺔ ﺍﻟﻼﻓﻆ

Maksud sebuah ucapan tergantung pada niat yang .mengucapkan

Contoh kaidah :

Temon adalah seorang pria perkasa (berasal dari daerah Babadsari Kutowinangun Kebumen). Teman kita yang satu ini konon katanya mempunyai seorang istri bernama Tholiq dan seorang budak perempuan bernama Hurrah. Suatu saat, Temon berkata; Yaa Tholiq, atau Yaa Hurrah. Jika dalam ucapan “Yaa Tholiq” Temon bermaksud menceraikan istrinya, maka jatuhlah talak kepada istrinya, namun jika hanya bertujuan memanggil nama istrinya, maka tidak jatuh talaknya. Begitu juga dengan ucapan “Yaa Hurrah” kepada budaknya jika Temon bertujuan memerdekakan, maka budak perempuan itu menjadi perempuan merdeka. Sebaliknya jika ia hanya bertujuan memanggil namanya, maka tidak menjadi merdeka.

Menambahkan lafal masyiah (insya Allah) dalam niat shalat dengan tujuan menggantungkan shalatnya kepada kehendak Allah SWT. maka batal shalatnya. Namun apabila hanya berniat tabarru’ maka tidak batal shalatnya, atau dengan menambahkan masyiah dengan tanpa adanya tujuan apapun, maka menurut pendapat yang sahih, shalatnya menjadi batal.

Kaidah ke-6

ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ﻻ ﻳﺰﺍﻝ ﺑﺎﻟﺸﻚ

Keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keraguan .

Contoh kaidah :

Seorang bernama Doel Fatah ragu, apakah baru tiga atau sudah empat rakaat shalatnya? maka, Doel Fatah harus menetapkan yang tiga rakaat karena itulah yang diyakini.

Santri bernama Maid baru saja mengambil air wudhu di kolam depan komplek A PP. Putra An-Nawawi. Kemudian timbul keraguan dalam hatinya; “batal durung yo..? kayane aku nembe demek…” maka hukum thaharah-nya tidak hilang disebabkan keraguan yang muncul kemudian.

seseorang meyakini telah berhadats dan kemudian ragu apakah sudah bersuci atau belum, maka orang tersebut masih belum suci (muhdits).

Dibawah ini ialah kaidah yang esensinya senada dengan kaidah di atas:

ﻣﺎ ﺛﺒﺖ ﺑﻴﻘﻴﻦ ﻻ ﻳﺮﺗﻔﻊ ﺍﻻ ﺑﻴﻘﻴﻦ

Sesuatu yang tetap dengan keyakinan, maka tidak bisa dihilangkan kecuali dengan adanya keyakinan yang lain .

Kaidah ke-7

ﺍﻻﺻﻞ ﺑﻘﺎﺀ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ

Pada dasarnya ketetapan suatu perkara tergantung pada keberadaannya semula .

Contoh kaidah :

Seseorang yang makan sahur dipenghujung malam dan ragu akan keluarnya fajar maka puasa orang tersebut hukumnya sah. Karena pada dasarnya masih tetap malam (al-aslu baqa-u al-lail).

Seseorang yang makan (berbuka) pada penghujung siang tanpa berijtihad terlebih dahulu dan kemudian ragu apakah matahari telah terbenam atau belum, maka puasanya batal. Karena asalnya adalah tetapnya siang (al-ashl baqa-u al-nahr).

Kaidah ke-8

ﺍﻻﺻﻞ ﺑﺮﺍﺓ ﺍﻟﺬﻣﺔ

hukum asal adalah tidak adanya tanggungan .

Contoh kaidah:

Seorang yang didakwa (mudda’a ‘alaih)melakukan suatu perbuatan bersumpah bahwa ia tidak melakukan perbuatan tersebut. Maka ia tidak dapat dikenai hukuman, karena pada dasarnya ia terbebas dari segala beban dan tanggung jawab. Permasalahan kemudian dikembalikan kepada yang mendakwa (mudda’i).

Kaidah ke-9

ﺍﻻﺻﻞ ﺍﻟﻌﺪﻡ

Hukum asal adalah ketiadaan

Contoh kaidah :

Kang Khumaidi mengadakan kerjasama bagi hasil (mudharabah) dengan Bos Fahmi. Dalam kerjasama ini Kang Khumaidi bertindak sebagai pengelola usaha (al-‘amil), sedangkan Bos Fahmi adalah pemodal atau investornya. Pada saat akhir perjanjian, Kang Khumaidi melaporkan kepada Bos Fahmi bahwa usahanya tidak mendapat untung. Hal ini diingkari Bos Fahmi. Dalam kasus ini, maka yang dibenarkan adalah ucapan orang Bruna yang bernama Kang Khumaidi, karena pada dasarnya memang tidak adanya tambahan (laba).

Tidak diperbolehkannya melarang seseorang untuk membeli sesuatu. Karena pada dasarnya tidak adanya larangan (dalam muamalah).

Kaidah ke-10

ﺍﻻﺻﻞ ﻓﻰ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﺗﻘﺪﻳﺮﻩ ﺑﺎﻗﺮﺏ ﺯﻣﻨﻪ

Asal segala sesuatu diperkirakan dengan yang lebih dekat .zamannya

Contoh kaidah :

Mungkin karena kesal dengan seseorang wanita hamil yang kebetulan juga cerewet, maka tanpa pikir panjang Ipin -cah Jiwan Wonosobo- memukul perut si wanita hamil tersebut. Selang beberapa waktu si wanita melahirkan seorang bayi dalam keadaan sehat. Kemudian tanpa diduga-duga, entah karena apa si jabang bayi yang imut yang baru beberapa hari dilahirkan mendadak saja mati. Dalam kasus ini, Ipin tidak dikenai tanggungan (dhaman) karena kematian jabang bayi tersebut adalah disebabkan faktor lain yang masanya lebih dekat dibanding pemukulan Ipin terhadap wanita tersebut.

Seorang santri kelas II MDU bernama Soekabul alias Kabul Khan ditanya oleh teman sekamarnya; “Kang Kabul, aku melihat sperma di bajuku, tapi aku tidak ingat kapan aku mimpi basah. Gimana solusinya, Kang?”. Dengan PD-nya, karena baru saja menemukan kaidah “al-aslu fi kulli wahidin taqdiruhu bi-aqrobi zamanihi” saat muthala’ah Kitab Mabadi’ Awwaliyah, santri yang demen banget lagu-lagu Hindia ini spontan menjawab; “Siro -red: kamu- wajib mandi besar dan mengulang shalat mulai sejak terakhir kamu bangun tidur sampai sekarang.”

Kaidah ke-11

ﺍﻟﻤﺸﻘﺔ ﺗﺠﻠﺐ ﺍﻟﺘﻴﺴﺮ

Kesulitan akan menarik kepada kemudahan .

Contoh kaidah :

Seorang bernama Godril yang sedang sakit parah merasa kesulitan untuk berdiri ketika shalat fardhu, maka ia diperbolehkan shalat dengan duduk. Begitu juga ketika ia merasa kesulitan shalat dengan duduk, maka diperbolehkan melakukan shalat dengan tidur terlentang.

Seseorang yang karena sesuatu hal, sakit parah misalnya, merasa kesulitan untuk menggunakan air dalam berwudhu, maka ia diperbolehkan bertayamum.

Pendapat Imam Syafi’i tentang diperbolehkannya seorang wanita yang bepergian tanpa didampingi wali untuk menyerahkan perkaranya kepada laki-laki lain”.

Kaidah yang semakna dengan kaidah di atas, antara lain:

Perkataan Imam al-Syafi’i:

ﺍﻻﻣﺮ ﺍﺫﺍ ﺿﺎﻕ ﺍﺗﺴﻊ

Sesuatu, ketika sulit, maka hukumnya menjadi luas (ringan ‏) .

Perkataan sebagian ulama:

ﺍﻻﺷﻴﺎﺀ ﺍﺫﺍ ﺿﺎﻗﺖ ﺍﺗﺴﻊ

Ketika keadaan menjadisempit maka hukumnya menjadi .luas

Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 185.

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

KERINGANAN HUKUM SYARA’

Keringanan hukum syara’ (takhfifat al-syar’i), meliputi 7 macam, yaitu:

Takhfif Isqat, yaitu keringanan dengan menggugurkan. Seperti menggugurkan kewajiban menunaikan ibadah haji, umrah dan shalat jumat karena adanya ‘uzdur (halangan).

Takhfif Tanqis, yaitu keringanan dengan mengurangi. Seperti diperbolehkannya menqashar shalat.

Takhfif Ibdal, yaitu keringanan dengan mengganti. Seperti mengganti wudhu dan mandi dengan tayammum, berdiri dengan duduk, tidur terlentang dan memberi isyarat dalam shalat dan mengganti puasa dengan memberi makanan.

Takhfif Taqdim, yaitu keringanan dengan mendahulukan waktu pelaksanaan. Seperti dalam shalat jama’ taqdim, mendahulukan zakat sebelum khaul (satu tahun), mendahulukan zakat fitrah sebelum akhir Ramadhan.

Takhfif Takhir, yaitu keringanan dengan mengakhirkan waktu pelaksanaan. Seperti dalam shalat jama’ ta’khir, mengakhirkan puasa Ramadhan bagi yang sakit dan orang dalam perjalanan dan mengakhirkan shalat karena menolong orang yang tenggelam.

Takhfif Tarkhis, yaitu keringanan dengan kemurahan Seperti diperbolehkannya menggunakan khamr (arak) untuk berobat.

Takhfif Taghyir, yaitu keringanan dengan perubahan. Seperti merubah urutan shalat dalam keadaan takut (khauf).

Kaidah ke-12

ﺍﻻﺷﻴﺎﺀ ﺍﺫﺍ ﺍﺗﺴﻊ ﺿﺎﻗﺖ

Sesuatu yang dalam keadaan lapang maka hukumnya menjadi sempit .

Contoh kaidah :

Sedikit gerakan dalam shalat karena adanya gangguan masih ditoleransi, sedangkan banyak bergerak tanpa adanya kebutuhan tidak diperbolehkan.

Dari dua kaidah sebelumnya (kaidah ke-11 dan ke-12) Al-Gazali membuat sintesa (perpaduan) menjadi satu kaidah berikut ini:

ﻛﻞ ﻣﺎ ﺗﺠﻮﺯ ﺣﺪﻩ ﺍﻧﻌﻜﺲ ﺍﻟﻰ ﺿﺪﻩ

Setiap sesuatu yang melampaui batas kewajaran memiliki hukum sebaliknya .

Kaidah ke-13

ﺍﻟﻀﺮﺭ ﻳﺰﺍﻝ

Bahaya harus dihilangkan .

Contoh kaidah:

Diperbolehkan bagi seorang pembeli memilih (khiyar) karena adanya ‘aib (cacat) pada barang yang dijual.

Diperbolehkannya merusak pernikahan (faskh al-nikah) bagi laki-laki dan perempuan karena adanya ‘aib.

Kaidah ke-14

ﺍﻟﻀﺮﺭﻻ ﻳﺰﺍﻝ ﺑﺎﻟﻀﺮﺭ

Bahaya tidak dapat dihilangkan dengan bahaya lainnya .

Contoh kaidah:

Mbah Yoto dan Lutfi adalah dua orang yang sedang kelaparan, keduanya sangat membutuhkan makanan untuk meneruskan nafasnya. Mbah Yoto, saking tidak tahannya menahan lapar nekat mengambil getuk Asminah (asli produk gintungan) kepunyaan Lutfi yang kebetulan dibeli sebelumnya di warung Syarof CS. Tindakan mbah Yoto -walaupun dalam keadaan yang sangat menghawatirkan baginya- tidak bisa dibenarkan karena Lutfi juga mengalami nasib yang sama dengannya, yaitu kelaparan.

Kaidah ke-15

ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺍﺕ ﺗﺒﻴﺢ ﺍﻟﻤﺤﻈﻮﺭﺍﺕ

Kondisi darurat memperbolehkan sesuatu yang semula .dilarang

Contoh kaidah:

Ketika dalam perjalan dari Sumatra ke pondok pesantren An-Nawawi, ditengah-tengah hutan Kasyfurrahman alias Rahman dihadang oleh segerombolan begal, semua bekal Rahman ludes dirampas oleh mereka yang tak berperasaan -sayangnya Rahman tidak bisa seperti syekh Abdul Qadir al-Jailany yang bisa menyadarkan para begal- karenanya mereka pergi tanpa memperdulikan nasib Rahman nantinya, lama-kelamaan Rahman merasa kelaparan dan dia tidak bisa membeli makanan karena bekalnya sudah tidak ada lagi, tiba-tiba tampak dihadapan Rahman seekor babi dengan bergeleng-geleng dan menggerak-gerakkan ekornya seakan-akan mengejek si-Rahman yang sedang kelaparan tersebut. Namun malang juga nasib si babi hutan itu. Rahman bertindak sigap dengan melempar babi tersebut dengan sebatang kayu runcing yang dipegangnya. Kemudian tanpa pikir panjang, Rahman langsung menguliti babi tersebut dan kemudian makan dagingnya untuk sekedar mengobati rasa lapar. Tindakan Rahman memakan daging babi dalam kondisi kelaparan tersebut diperbolehkan. Karena kondisi darurat memperbolehkan sesuatu yang semula dilarang.

Diperbolehkan melafazdkan kalimat kufur karena terpaksa.

Kaidah lain yang kandungan maknanya sama adalah kaidah berikut:

ﻻ ﺣﺮﺍﻡ ﻣﻊ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ

Tidak ada kata haram dalam kondisi darurat dan tidak ada kata makruh ketika ada hajat

Kaidah ke-16

ﻣﺎ ﺍﺑﻴﺢ ﻟﻠﻀﺮﻭﺭﺓ ﻳﻘﺪﺭ ﺑﻘﺪﺭﻫﺎ

Sesuatu yang diperbolehkan karena keadaan darurat harus disesuaikan dengan kadar daruratnya .

Contoh kaidah:

Dengan melihat contoh pertama pada kaidah sebelumnya, berarti Rahman yang dalam kondisi darurat hanya diperbolehkan memakan daging babi tangkapannya itu sekira cukup untuk menolong dirinya agar bisa terus menghirup udara dunia. selebihnya (melebihi kadar kecukupan dengan ketentuan tersebut) tidak diperbolehkan.

Sulitnya shalat jumat untuk dilakukan pada satu tempat, maka shalat jumat boleh dilaksanakan pada dua tempat. Ketika dua tempat sudah dianggap cukup maka tidak diperbolehkan dilakukan pada tiga tempat.

Kaidah ke-17

ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻗﺪ ﺗﻨﺰﻝ ﻣﻨﺰﻟﺔ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ

Kebutuhan (hajat) terkadang menempati posisi darurat .

Contoh kaidah:

Diperbolehkannya Ji’alah (sayembara berhadiah) dan Hiwalah (pemindahan hutang piutang) karena sudah menjadi kebutuhan umum.

Diperbolehkan memandang wanita selain mahram karena adanya hajat dalam muamalah atau karena khithbah (lamaran).

Kaidah ke-18

ﺍﺫﺍ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﺍﻟﻤﻔﺴﺪﺗﺎﻥ ﺭﻋﻲ ﺍﻋﻈﻤﻬﻤﺎ ﺿﺮﺭﺍ ﺑﺎﺭﺗﻜﺎﺏ ﺍﺧﻔﻬﻤﺎ

Ketika dihadapkan pada dua mafsadah (kerusakan) maka tinggalkanlah mafsadah yang lebih besar dengan mengerjakan yang lebih ringan .

Contoh kaidah:

Diperbolehkannya membedah perut wanita (hamil) yang mati jika bayi yang dikandungnya diharapkan masih hidup.

Tidak perbolehkannya minum khamr dan berjudi karena bahaya yang ditimbulkannya lebih besar daripada manfaat yang bisa kita ambil.

Disyariatkan hukum qishas, had dan menbunuh begal, karena manfaatnya (timbulnya rasa aman bagi masyarakat) lebih besar daripada bahayanya.

Diperbolehkannya seorang yang bernama Junaidi yang kelaparan, padahal ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan, untuk mengambil makanan Eko Setello yang tidak lapar dengan sedikit paksaan.

Kaidah ke-19

ﺩﺭﺀ ﺍﻟﻤﻔﺎﺳﺪ ﻣﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ

Menolak mafsadah (kerusakan) didahulukan daripada mengambil kemaslahatan .

Contoh kaidah:

Berkumur dan mengisap air kedalam hidung ketika berwudhu merupakan sesuatu yang disunatkan, namun dimakruhkan bagi orang yang berpuasa karena untuk menjaga masuknya air yang dapat membatalkan puasanya.

Meresapkan air kesela-sela rambut saat membasuh kepala dalam bersuci merupakan sesuatu yang disunatkan, namun makruh dilakukan oleh orang yang sedang ihram karena untuk menjaga agar rambutnya agar tidak rontok.

Kaidah ke-20

ﺍﻻﺻﻞ ﻓﻰ ﺍﻻﺑﻀﺎﻉ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ

Hukum asal farji adalah haram .

Contoh kaidah:

Ketika seorang perempuan sedang berkumpul dengan beberapa temannya dalam sebuah perkumpulan majlis taklim, maka laki-laki yang menjadi saudara perempuan tersebut dilarang melakukan ijtihad untuk memilih salah satu dari mereka menjadi istrinya. Termasuk dalam persyaratan ijtihad adalah asalnya yang mubah, sehingga oleh karenanya perlu diperkuat dengan ijtihad. Sedangkan dalam situasi itu, dengan jumlah perempuan yang terbatas, dengan mudah dapat diketahui nama saudara perempuannya yang haram dinikahi dan mana yang bukan. Berbeda ketika jumlah perempuan itu banyak dan tidak dapat dihitung, maka terdapat kemurahan, sehingga oleh karenanya, pintu pernikahan tidak tertutup dan pintu terbukanya kesempatan berbuat zina.

Seseorang mewakilkan (al-muwakkil) kepada orang lain untuk membeli jariyah (budak perempuan) dengan menyebut cirri-cirinya. Ternyata, sebelum sempat menyerahkan jariyah yang dibelinya tersebut, orang yang telah mewakili (wakil) tersebut meninggal. Maka sebelum ada penjelasan yang menghalalkan, jariyah itu belum halal bagi muwakkil karena walaupun memiliki cirri-ciri yang disebutkannya, dikhawatirkan wakil membeli jariyah untuk dirinya sendiri.

Allah SWT. berfirman QS. Al-Mukminun (23) 5-7.

Artinya:

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.”

Lebih jelasnya sesuai dengan ayat quran tersebut bahwa seorang budak halal bagi tuannya tetapi berhubung belum ada indikasi yang jelas mengenai kehalalannya sebagaimana contoh di atas maka budak tersebut belum halal bagi muwakkil (orang yang mewakilkan).

Kaidah ke-21

ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻣﺤﻜﻤﺔ

Adat bisa dijadikan sandaran hukum .

Contoh kaidah:

Seseorang menjual sesuatu dengan tanpa menyebutkan mata uang yang dikehendaki, maka berlaku harga dan maat uang yang umum dipakai.

Batasan sedikit, banyak dan umumnya waktu haidh, nifas dan suci bergantung pada kebiasaan (adapt perempuan sendiri).

Kaidah ke-22

ﻣﺎ ﻭﺭﺩ ﺑﻪ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻻ ﺿﺎﺑﻂ ﻟﻪ ﻓﻴﻪ ﻭﻻ ﻓﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﻳﺮﺟﻊ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻌﺮﻑ

Sesuatu yang berlaku mutlak karena syara’ dan tanpa adanya yang membatasi didalamnya dan tidak pula dalam bahasa,maka segala sesuatunya dikembalikan kepada kebiasaan (al-“urf) yang berlaku .

Contoh kaidah :

Niat shalat cukup dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram, yakni dengan menghadirkan hati pada saat niat shalat tersebut.

Terkait dengan kaidah di atas, bahwasanya syara’ telah menentukankan tempat niat di dalam hati, tidak harus dilafalkan dan tidak harus menyebutkan panjang lebar, cukup menghadirkan hati; “aku niat shalat…………rakaaat”. itu sudah di anggap cukup.

Jual beli dengan meletakan uang tanpa adanya ijab qobul, menurut syara’ adalah tidak sah. Dan menjadi sah, kalau hal itu sudah menjadi kebiyasaan.

Kaidah ke-23

ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻻ ﻳﻨﻘﺪ ﺑﺎﻻﺟﺘﻬﺎﺩ

Ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lainnya .

Contoh kaidah:

Apabila dalam menentukan arah kiblat, ijtihad pertama tidak sama dengan ijtihat ke dua, maka digunakan ijtihad ke dua. Sedangkan ijtihad pertama tetap sah sehingga tidak memerlukan pengulangan pada rakaat yang dilakukan dengan ijtihad pertama. Dengan demikian, seseorang mungkin saja melakukan shalat empat rakaat dengan menghadap arah yang berbeda pada setiap rakaatnya.

Ketika seorang hakim berijtihad untuk memutuskan hukum suatu perkara, kemudian ijtihadnya berubah dari ijtihad yang pertama maka ijtihad yang pertama tetap sah (tidak rusak).

Kaidah ke-24

ﺍﻻﺀ ﻳﺜﺎﺭ ﺑﺎﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻣﻤﻨﻮﻉ

Mendahulukan orang lain dalam beribibadah adalah .dilarang

Contoh kaidah:

Mendahulukan orang lain atau menempati shaf awal (barisan depan) dalam shalat.

Mendahulukan orang lain untuk menutup aurat dan menggunakan air wudhu. Artinya, ketika kita hanya memiliki sehelai kain untuk menutup aurat, sedangkan teman kita juga membutuhkannya, maka kita tidak boleh memberikan kain itu kepadanya karena akan menyebabkan aurat kita terbuka. Begitu pula dengan air yang akan kita gunakan untuk bersuci, maka kita tidak boleh menggunakan air tersebut. Karena hal ini berkaitan dengan ibadah.

Firman Allah SWT dalam Qs. Al-Baqarah (2):148.

” …Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan…”

Kaidah ke-25

ﺍﻻﺀ ﻳﺜﺎﺭ ﺑﻐﻴﺮﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻣﻄﻠﻮﺏ

Mendahulukan orang lain dalam selain ibadah dianjurkan .

Contoh kaidah:

Mendahulukan orang dalam menerima tempat tinggal (Almaskan).

Mendahulukan orang lain untuk memilih pakaian.

Mempersilahkan orang lain untuk makanan lebih dulu.

Firman Allah SWT. Dalam QS. Al-Hasr (59):9.

Artinya:

“Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.”

Kaidah ke-26

ﺗﺼﺮﻑ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﻋﻴﺔ ﻣﻨﻮﻁ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﺤﺔ

Kebijakan pemimpin atas rakyatnya dlakukan berdasarkan pertimbangan kemaslahatan .

Contoh kaidah:

Seorang pemimpin (imam) dilarang membagikan zakat kepada yang berhak (mustahiq) dengan cara membeda-bedakan diantara orang-orang yang tingkat kebutuhannya sama.

Seorang pemimpin pemerintahan, sebaiknya tidak mengankat seorang fasiq menjadi imam shalat. Karena walaupun shalat dibelakangnya tetap sah, namun hal ini kurang baik (makruh).

Seorang pemimpin tidak boleh mendahulukan pembagian harta baitul mal kepada seorang yang kurang membutuhkannya dan mengakhirkan mereka yang lebih membutuhkan.

Rasulullah SAW. bersabda :

ﻛﻠﻜﻢ ﺭﺍﻉ ﻭﻛﻠﻜﻢ ﻣﺴﺆﻝ ﻋﻦ ﺭﻋﻴﺘﻪ

Artinya :

“Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan setiap dsari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan”.

Kaidah ke-27

ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﺗﺴﻘﻂ ﺑﺎﻟﺸﺒﻬﺎﺕ

Hukum gugur karena sesuatu yang syubhat .

Contoh kaidah:

Seorang laki-laki tidak dikenai had, ketika melakukan hubungan seksual dengan wanita lain yang disangka istrinya (wathi syubhat).

Seseorang melakukan hubungan seks dalam nikah mut’ah, nikah tanpa wali atau saksi atau setiap pernikahan yang dipertentangkan, tidak dapat dikenai had sebab masih adanya perbedaan pendapat antara ulama, sebagian membolehkan nikah mut’ah dan nikah tanpa wali dan sebagian lagi berpendapat sebalikannya.

Orang mencuri barang yang disangka sebagai miliknya, atau milik bapaknya, atau milik anaknya, maka orang tersebut tidak dikenai had.

Orang meminum khamr (arah) untuk berobat tidak dikenai had karena masih terdapat khilaf antar ulama’.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺍﺩﺭﺅﺍ ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﺑﺎﻟﺸﺒﻬﺎﺕ

:Artinya

Nabi SAW. bersabda: Tinggalkanlah oleh kamu sekalian had-had dikarenakan (adanya) berbagai ketidak jelasan.

Kaidah ke-28

ﻣﺎ ﻻ ﻳﺘﻢ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﺍﻻ ﺑﻪ ﻓﻬﻮ ﻭﺍﺟﺐ

Sesuatu yang karena diwajibkan menjadi tidak sempurna kecuali dengan keberadaannya,maka hukumnya wajib .

Contoh Kaidah:

Wajib membasuh bagian leher dan kepala pada saat membasuh wajah saat berwudhu.

Wajibnya membasuh bagian lengan atas dan betis (wentis) pada saat membasuh lengan dan kaki.

Wajibnya menutup bagian lutut pada saat menutup aurat bagi laki-laki dan wajibnya dan wajibnya menutup bagian wajah bagi wanita.

Kaidah ke-29 ”

ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﻣﺴﺘﺤﺐٌّ

Keluar dari perbedaan pendapat hukumnya sunat (mustahab ‏) .

Contoh kaidah:

Disunatkan menggosok badan (dalk) ketika bersuci dan memeratakan air ke kepala dengan mengusapkannya, dan tujuan keluar dari khilafdengan imam malik berpendapat bahwa dalk dan isti’ab al-ro’sy (meneteskan kepala dengan air) adalah wajib hukumnya.

Disunatkan membasuh sperma, yang menurut imam malik wajib hukumnya.

Sunah men-qashar shalat dalam perjalanan yang mencapai tiga marhalah, karena keluar dari khilaf dengan Abu hanifah yang mewajibkannya.

Disunatkan untuk tidak menghadap atau membelakangi arah kiblat ketika membuang hajat, walaupun dalam sebuah ruangan atau adanya penutup, karena untuk keluar dari khilaf imam Tsaury yang mewajibkannya.

Untuk mengatasi perbedaan diperlukan beberapa syarat sebagai berikut:

Upaya mengatasi perbedaan tidak menyebabkan jatuh pada perbedaan lain. Seperti lebih diutamakan memisahkan shalat witir (tiga rakaat dengan dua salam) dari pada melanjutkanya. Dalam hal ini pendapat Imam Abu Hanafiah tidak dipertimbangkan karena adanya ulama yang tidak membolehkan witir dengan digabungkan

Tidak bertentangan dengan sannah yang tepat (al-sannah al-tsabilah). Seperti disunatkannya mengangkat kedua tangan dalam shalat, walaupun seorang ulama Hanafiah menganggap hal ini dapat membatalkan shalat. Menurut riwayat lima puluh orang sahabat, Nabi SAW sendiri melakukan shalat dengan mengangkat kedua tangannya.

Kautnya temuan tentang bukti perbedaan, sehingga kecil kemungkinan terulangnya keslahan serupa. Dengan alas an itu, maka berpuasa bagi musafir yang mampu menahan lapar dan dahaga aladah utama, dan tidak dipertimbangkan adanya pendapat para kaum Zahiruasa musafir itu tidak sah.

Kaidah ke-30

ﺍﻟﺮﺧﺼﺔ ﻻﺗﻨﺎﻁ ﺑﺎﻟﻤﻌﺎﺻﻰ

Keringanan hukum tidak bisa dikaitkan dengan maksiat .

Contoh kaidah:

Orang yang bepergian karena maksiat, tidak boleh mengambil kemurahan hukum karena berpergiannya, seperti; mengqashar dan menjama’ shalat, dan membatalkan puasa.

Orang yang berpergian karena maksiat, walaupun dalam kondisi terpaksa juga tidak diperbolehkan memakan bangkai dan daging babi.

Kaidah ke-31

ﺍﻟﺮﺧﺼﺔ ﻻﺗﻨﺎﻁ ﺑﺎﻟﺸﻚّ

Keringanan hukum tidak bisa dikaitkan dengan keraguan .

Contoh kaidah:

Dalam perjalanan pulang ke Grabag Magelang, Abdul Aziz merasa ragu mengenai jauh jarak yang ditempuh dalam perjalan tersebut, apakah sudah memenuhi syarat untuk meng-qashar shalat atau belum. Dalam kondisi semacam ini, kang Aziz tidak boleh meng-qashar shalat.

Seorang yang bimbang apakah dirinya hadats pada waktu dhuhur atau ashar, maka yang harus diyakini adalah hadats pada waktu dhuhur.

Kaidah ke-32

ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻛﺜﺮ ﻓﻌﻼ ﻛﺎﻥ ﺍﻛﺜﺮ ﻓﻀﻼ

Sesuatuyang banyak aktifitasnya, maka banyak pula .keutamaanya

Contoh kaidah:

Shalat witir dengan fashl (tiga rakaat dengan dua salam) lebih utama dari pada wasl (tiga rakaat dengan satu salam) karena bertambahnya niat,takbir dan salam.

Orang melakulan shalat sunah dengan duduk, maka pahalanya setengan dari pahala orang yang shalat sambil berdiri. Orang yang shalat tidur mirung, maka pahalanya adalah setengah dari orang yangh shalat dengan duduk.

Memishkan pelaksanaan antara ibadah haji dengan umrah adalah lebih utama dari pada melaksanakan bersama-sama.

Rasulullah SAW. bersabda:

ﺍﺟﺮﻙ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻧﺼﺒﻚ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ

:Artinya

“Besarnya pahalamu tergantung pada usahamu. (HR. Muslim)

Kaidah ke-33

ﻣﺎ ﻻ ﻳﺪﺭﻙ ﻛﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﺮﻙ ﻛﻠﻪ

Jika tidak mampu mengerjakan secara keseluruhan maka tidak boleh meninggalkan semuanya

Contoh kaidah:

Seorang yang tidak mampu berbuat kebajikan dengan satu dinar tetapi mampu dengan dirham maka lakukanlah.

Seserang yang tidak mampu untuk mengajar atau belajar berbagai bidang studi (fan) sekaligus, maka tidak boleh meninggalkan keseluruhannya.

Seseorang yang merasa berat untuk melakukan shalat malam sebanyak sepuluh rakaat, maka lakukanlah shalat malam empat rakaat.

Kaidah yang semakna dengan kaidah di atas, adalah perkataan ulama ahli fiqh:

ﻣﺎ ﻻ ﻳﺪﺭﻙ ﻛﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﺮﻙ ﺑﻌﻀﻪ

Sesuatu yang tidak dapat ditemukan keseluruhannya, maka tidak boleh tinggalkan sebagiannya .

Kaidah ke-34

ﺍﻟﻤﻴﺴﻮﺭ ﻻ ﻳﺴﻘﻂ ﺑﺎﻟﻤﻌﺴﻮﺭ

Sesuatu yang mudah tidak boleh digugurkan dengan sesuatu yang sulit .

Contoh kaidah:

Seorang yang terpotong bagian tubuhnya, maka tetap wajib baginya membasuh anggota badan yang tersisah ketika bersuci.

Seseorang yang mampu menutup sebagian auratnya, maka ia wajib menutup aurat berdasarkan kemampuannya tersebut.

Orang yang mampu membaca sebagian ayat dari surat Al-Fatihah, maka ia wajib membaca sebagian yang ia ketahui tersebut.

Orang yang memiliki harta satu nisab, namun setengah darinya berada ditempat jauh (ghaib) maka harus dikeluarkan untuk zakat adalah harta yang berada ditangannya.

Nabi SAW. bersabda :

ﻭﻣﺎ ﺍﻣﺮﺗﻜﻢ ﺑﻪ ﻓﺄﺗﻮﺍ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﺍﺳﺘﻄﻌﺘﻢ . ﺭﻭﺍﻩ ﺷﻴﺨﺎﻥ

:Artinya

“Sesuatu yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari Muslim)

Kaidah ke-35

ﻣﺎ ﺣﺮﻡ ﻓﻌﻠﻪ ﺣﺮﻡ ﻃﻠﺒﻪ

Sesuatu yang haram untuk dikerjakan maka haram pula .mencarinya

Contoh kaidah:

Mengambil riba atau upah perbuatan jahat.

Mengambil upah dari tukang ramal risywah (suapan). Begitu pula dengan upah orang-orang yang meratapi kematian orang lain.

Kaidah ke-36

ﻣﺎ ﺣﺮﻡ ﺍﺧﺬﻩ ﺣﺮﻡ ﺍﻋﻄﺎﺅﻩ

Sesuatu yang haram diambil,maka haram pula .memberikannya

Contoh kaidah :

Memberikan riba atau upah perbuatan jahat kepada orang lain.

Memberikan upah hasil meramal dan risywah kepada orang lain. Termasuk juga upah meratapi kematian orang lain.

Kaidah ke-37

ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺍﻟﻤﺘﻌﺪﻱ ﺍﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺎﺻﺮ

kebaikan yang memiliki dampak banyak lebih utama daripada yang manfaatnya sedikit (terbatas ‏) .

Contoh kaidah:

Mengajarkan ilmu lebih utama daripada shalat sunah.

Orang yang menjalankan fardhu kifayah lebih istimewa karena telah menggugurkan dosa umat daripada orang yang melakukan fardhu ‘ain.

Kaidah ke-38

ﺍﻟﺮﺿﻰ ﺑﺎﻟﺸﻲﺀ ﺭﺿﻰ ﺑﻤﺎ ﻳﺘﻮﻟﺪ ﻣﻨﻪ

Rela akan sesuatu berarti rela dengan konsekuensinya .

Contoh kaidah:

Menerima suami istri dengan kekurangan yang dimiliki salah satu dari keduanya. Maka tidak boleh mengembalikan kepada walinya.

Seseorang memita tangannya di potong dan berakibat kepada rusaknya anggota tubuh yang lain, maka orang tersebut tidak boleh menuntut kepada pemotong tangan.

Memakai wangi-wangian sebelum melaksanankan ihram, teapi wanginya bertahan sampai waktu ihram maka tidak dikenahi fidyah.

Kaidah yang memiliki makna sama dengan kaidah di atas yaitu :

ﺍﻟﻤﺘﻮﻟﺪ ﻣﻦ ﻣﺄﺫﻭﻥ ﻻ ﺍﺛﺮ ﻟﻪ

Hal-hal yang timbul dari sesuatu yang telah mendapat ijin tidak memiliki dampak apapun .

Kaidah ke-39

ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻳﺪﻭﺭ ﻣﻊ ﺍﻟﻌﻠﺔ ﻭﺟﻮﺩﺍ ﻭﻋﺪﻣﺎ

Hukum itu berputar beserta ‘illatnya, baik dari sisi wujudnya maupun ketiadaannya’illatnya .

Contoh kaidah :

Alasan diharamkannya arak (khamr) adalah karena memabukkan. Jika kemudian terdeteksi bahwa arak tidak lagi memabukkan seperti khamr yang telah berubah menjadi cuka maka halal.

Memasuki rumah orang lain atau memakai pakaiannya tanpa adanya ijin adalah haram hukumnya. Namun ketika namun ketika diketahui bahwa pemiliknya merelakan, maka tidak ada masalah didalamnya (boleh).

Alasan diharamkannya minum racun karena adanya unsur merusakkan. Andaikata unsure yang merusakkan itu hilang, maka hukumnya menjadi boleh.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﻞ ﻣﺸﻜﺮ ﺧﻤﺮ ﻭﻛﻞ ﺧﻤﺮ ﺣﺮﺍﻡ

Nabi SAW. bersabda :

Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr hukumnya haram.

Kaidah ke-40

ﺍﻻﺻﻞ ﻓﻰ ﺍﻵ ﺷﻴﺎﺀ ﺍﻻﺀﺑﺎﺣﺔ

Hukum ashal (pada dasarnya) segala sesuatu itu .diperbolehkan

Contoh kaidah :

Dua sahabat bernama Lukman dan Rahmat Taufiq jalan-jalan ke Jakarta. Setelah lama muter-muter sambil menikmati indahnya ibu kota, perut kedua bocah ndeso tersebut protes sambil berbunyi nyaring alias kelaparan. Akhirnya setelah melihat isi dompet masing-masing keduanya memutuskan untuk mampir makan di restourant yang lumayan mewah tapi kemudian keduanya ragu apakah daging pesenannya itu halal atau haram. Dengan mempertimbangkan makna kaidah diatas, maka daging itu boleh dimakan.

Tiba-tiba ada seekor merpati yang masuk ke dalam sangkar burung milik Koci. ketika pemilik sangkar (Koci) melihat merpati tersebut dia merasa tertarik dan ingin memilikinya, namun Koci masih ragu apakah dia boleh memeliharanya atau tidak. Maka hukumnya burung merpati tersebut boleh atau bebas untuk dimiliki.

Ketika ragu akan besar kecilnya kadar emas yang digunakan untuk menambal suatu benda maka hukum benda tersebut boleh untuk digunakan.

Memakan daging Jerapah diperbolehkan, sebagaimana al-Syubki berkata sesungguhnya memakan daging Jerapah hukumnya mubah.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﺎ ﺍﺣﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺣﻼﻝ ﻭﻣﺎ ﺣﺮﻡ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺣﺮﺍﻡ ﻭﻣﺎ ﺳﻜﺖ ﻋﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﻣﻤﺎ ﻋﻔﻮ

Nabi SAW. bersabda :

” Sesuatu yang dihalalkan Allah adalah halal dan sesuatu yang diharamkan Allah adalah haram. Sedangkan hal-hal yang tidak dijelaskan Allah merupakan pengampunan dari-Nya.”

﴿ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻋﻠﻢ 

Iklan

Ushul fiqh

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengertian fiqih atau ilmu fiqih sangat berkaitan dengan syara’ karena fiqh itu pada hakikatnya adalah jabaran praktis dari syariah. Karenanya, sebelumnya memberikan penjelasan tentang arti fiqh, terlebih dahulu perlu dijelaskan arti dan hakikat syari’ah.

Fiqh adalah ilmu tentang hukum Allah yang dibicarakan adalah hal-hal yang bersifat mamaliyah furu’iyah, pengetahuan tentang hukum Allah itu berdasarkan dalil tafsili, dan fiqh itu digali dan ditemukan melalui penalaran dan ustidlal seorang mujtahid/fiqh.

Pada waktu Nabi Muhamad Saw masih hidup, segala peroalan hukum yang timbul langsung dinyatakan kepada beliau. Beliau memberikan jawaban hukum dengan menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam keadaan tertentu yang tidak ditemukan jawabannya dalam Al-Qur’an, beliau memberikan jawaban melalui penetapan beliau yang disebut Hadits atau sunnah.

Kemudian para ulama’ mustahid merasa perlu menetapkan dan menyusun kaidah atau aturan permainan yang dijadikan pedoman dalam merumuskan hukum dari sumber-sumbernya dengan memperhatikan azaz dan kaidah yang ditetapkan ahli bahasa yang memahami dan menggunakan bahasa Arab secara baik. Disamping itu, jika memperhatikan jiwa syari’ah dan tujuan Allah yang menetapkan mukallaf dalam tanggung jawab hukum. Kaidah-kaidah dalam memahami hukum Allah dari sumber itulah yang disebut ushul fiqh.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ushul Fiqh

Kata “Ushul Fiqh” adalah kata ganda yang terdiri dari kata “ushul” dan kata “fiqh”. Kata “fiqh” secara etimologi berarti “paham yang mendalam”.

Arti fiqh dari segi istilah hukum sebenarnya tidak jauh berbeda dari artian etimologi berarti “paham yang mendalam”.

Arti fiqh dari segi istilah hukum sebenarnya tidak jauh berbeda dari artian etimologi sebagaimana disebutkan di atas yaitu: “Ilmu tentang hukum-hukum syara’ yang bersifat analiah yang digali dan dirumuskan dari dalil-dalil tafsili”.

Dari arti fiqh secara istilah tersebut dapat dipahami dua bahasan pokok dari ilmu fiqh, yaitu bahasan tentang hukum-hukum syara’ yang bersifat ‘amali dan kedua tentang dalil-dalil tafsili.

Kata “ushul” yang merupakan jamak dari kata “ashal” secara etimologi berarti “sesuatu yang menjadi dasar bagi yang lainnya.” Arti etimologi ini tidak jauh dari maksud definitif dari kata shal tersebut karena ilmu ushul fiqh itu adalah suatu ilmu yang kepadanya didasarkan “fiqh”. Dengan demikian “ushul fiqh” secara istilah teknik hukum berarti: “Ilmu tentang kaidah-kaidah yang membawa kepada usaha merumuskan hukum syara’ dari dalilnya yang terinci’, atau dalam artian sederhana adalah: “Kaidah-kaidah yang menjelaskan cara-cara mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalilnya”.

Umpamanya dalam kitab-kitab fiqh ditemukan ungkapan, “Mengerjakan shalat itu hukumnya wajib”. Wajibnya melakukan shalat itu disebut “hukum syara’”. Tidak pernah tersebut dalam al-Qur’an maupun hadits bahwa shalat itu hukumnya wajib. Yang tersebut dalam al-Qur’an hanyalah perintah mengerjakan shalat yang berbunyi:

Kerjakanlah shalat

Ayat al-Qur’an yang mengandung perintah mengerjakan shalat itu disebut “dalil syara’”.

Yang disebut “dalil syara’” itu ada aturannya dalam bentuk kaidah, umpamanya: “Setiap perintah itu menunjukkan wajib”. Pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang menjelaskan cara-cara mengeluarkan hukum dari dalil-dalil syara’ tersebut, itulah yang disebut “Ilmu Ushul Fiqh”.

Ushul fiqh adalah pedoman atau aturan-aturan yang membatasi dan menjelaskan cara-cara yang harus diikuti seseorang fakih dalam usahanya menggali dan mengeluarkan hukum syara’ dari dalilnya; sedangkan fiqh ialah hukum-hukum syara’ yang telah digali dan dirumuskan dari dalil-dalil menurut aturan yang sudah ditentukan itu. [1]

Menurut Prof. Dr. TM. Hasbi Ash Shiddieqy, telah mengemukakan definisi Ushul Fiqh yang lengkap, yaitu:

“Ushul fiqh ialah kaidah-kaidah yang dipergunakan untuk mengeluarkan hukum dari dalil-dalilnya. Dan dalil-dalil hukum (kaidah-kaidah yang menetapkan dalil-dalil hukum).

[2]

Ushul fiqh ialah dasar yang dipakai oleh pikiran manusia untuk membentuk hukum yang mengatur kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat. Perkataan dasar yang dipergunakan dalam perumusan ini bukanlah dasar dalam pengertian benda (seperti dasar kain untuk baju misalnya). Akan tetapi dasar ialah bahan-bahan yang dipergunakan oleh pikiran manusia untuk membuat hukum fiqih, yang menjadi dasarnya, ialah :

– Al-Qur’an

– Sunnah Nabi Besar Muhamad Saw (Hadits)

– Ra’yu atau akal seperti qiyas dan ijma’. [3]

B. Tujuan dan Manfaat Ushul Fiqh

Tujuan yang hendak dicapai dari ilmu ushul fiqh ialah untuk dapat menerapkan kaidah-kaidah terhadap dalil-dall syara’ yan terperinci agar sampai kepada hukum-hukum syara’ yang bersifat amali, yang ditunjuk oleh dalil-dalilitu. Dengan kaidah-kaidah ushul serta bahasannya itu dapat dipahami nash-nash syara’ dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. [4]

Dalam hal ini ada dua maksud mengetahui ushul fiqh itu antara lain:

Pertama, bila kita sudah mengetahui metode ushul fiqh yang dirumuskan ulama terdahlu, maka bila suatu ketika menghadapi masalah baru yang tidak mungkin ditemukan hukumnya dalam kitab-kitab fiqh terdahlu, maka kita akan dapat mencari jawaba hukum terhadap masalah bau itu denga cara menerapkan kaidah-kaidah hasil rumusan ulama terdahlu itu.

Kedua, bila kita menghadapi masalah hukum fiqh yang terurai dalam kitab-kitab fiqh, tetapi mengalami kesukaran dalam penerapannya karena sudah begitu jauhnya perubahan yang terjadi, dan kita ingin mengkaji ulang rumusan fuqaha lama itu atau ingin merumuskan hukum angsesuaidengan kemaslahatan dan tuntutan kondisi yang menghendakinya. [5]

C. Aturan-aturan Ushul fiqh

a. aliran Jumhur Ulama Ushul Fiqh

aliran ini dikenal juga dengan aliran ayafi’iyah atau aliran Mutakallimin. Disebut aliran Syafi’iyah karena orang paling pertama mewujudkan cara penulisan Usul seperti ini adalah Imam Syafi’i, dan dikenal sebagai aliran Mutakallimin karena para pakar di bidang ini setelah Imam Syafi’i adalah kalangan Mutakallimin (para ahli lmu kalam), misalnya Imam al-Qadli Abdul Jabbar, dan al-Imam al-Ghazali.

Dalam perkembangannya metode penyusunan Ushul Fiqh aliran ini diikuti oleh kalangan Malikiyah dan Hanabilah. Oleh karena itu, metode ini juga dikenal dengan metode Jumhur ulama Ushul Fiqh. Buku-buku setandar dalam aliran ini yang disusun ketika itu adalah kitab al-Amd oleh Qadi Abdul abbar al-Mu’tazili (w. 415H), kitab al Mu’amad fi Ushul al-Fiqh oleh Abu Husein Al-Bashri al-m’tazili (w. 436 H).

b. Aliran Fuqaha atau Alira Hanafiyah

Aliran fuqaha, adalah aliran yang dikembangkan oleh kalangan ulama hanafiyah. Disebut aliran fuqaha (ahli-ahli fikih) karena dalam sistem penulisannya banyak diwarnai oleh contoh-contoh fikih. Dalam merumuskan kaidah Ushul Fiqh mereka berpedoman kepada pendapat-pendapat fikih Abu Hanifah dan pendapat-pendapat para muridnya serta melengkapinya dengan contoh-contoh.

Kitab-kitab standar yang disusun dalam aliran ini adalah periode ini adalah antara lain kitab Ta’sis al-Nazhar oleh Abu Zaid Al-Dabbusi (w.430 H), kitab Ushul al-Bazdawi oleh Ali Ibn Muhammad al-Bazdawi (w. 483 H).

c. Aliran yang mnggabngkan antara Dua Aliran diatas

Dalam perkembangan selanjutnya, seperti disebutkan oleh Muhammad Abu Zahrah, muncul aliran ketiga yang dalam penulisan ushul Fiqh menggabungkan antara dua aliran tersebut. Mislanya buku Badi’al-Nizam karya Ahamd bin ‘Ali al-Sa’ati (w. 694 H) ahli Ushul Fiqh al-Bazdawi oleh Ali Ibn Muhammad al-Bazdawi dari aliran Hanafiyah dan al-Ihkam fi ushul al-Ahkam oleh al-Amidi (w. 631 H) dari aliran Syafi’iyah buku Jam’u al-Jawami’ oleh Ibnu al-Sibki (w. 771 H), ahli ushul fiqh dari kalangan Syafi’iyah, dan buku al-Tahrir oleh al-Kamal Ibnu al-Humam (w. 861 H) ahli Usuhul Fiqh dari kalangan Hanafiyah. [6]

D. Pokok Pembahasan Ushul Fiqh

Bertitik tolak dari definisi ushul fiqh yang disebutkan di atas maka bahasan pokok ushul fiqh itu adalah tentang :

1. Dalil-dalil atau sumber hukum syara;

2. Hukum-hukum syara’ yang terkandung dalam dalil itu

3. Kaidah-kaidah tentang ushaa dan cara mengeluarkan hukum syara’ dari dalil atau sumber yang mengandungnya

Dalam membicarakan sumber hukum dibicarakan pula kemungkinan terjadinya benturan antara dalil-dalil dan cara menyelesaikannya. Dibahas pula tentang orang-orang yang berhak dan berwenang menggunakan kaidah atau metode dalam tentang orang-orang yang berhak dan berwenang menggunakan kaidah atau metode dalam melahirkan hukum syara’ tersebut. Hal ini memunculkan pembahasan tentang ijtihad dan mujtahid. [7]

E. Perkembangan Ushul Fiqh

Ushul Fiqh itu adalah ketentuan atau kaidah yang harus diikuti mujtahid pad awaktu menghasilkan fiqhnya. Namun dalam perumusannya ushul fiqh datang belakang para sahabat dalam melakukan ijtihad mengikuti suatu pedoman tertentu meskipun meskipun tidak dirumuskan secara jelas.

Usha istinbath hukum yang dilakukan Ibrahim al-Nakha’i dan ulama Irak lainnya mengarah kepada mengeluarkan ‘illat hukum dari nash dan menerapkannya terhadap peristiwa yang sama yang baru bermunculan kemudian hari.

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa metode yang digunkan dalam merumuskan hukum syara’ semakin memperlihatkan bentuknya. Perbendaan metode yang digunakan menyebabkan timbulnya perbedaan aliran dalam fiwh. Abu Hanifah dalam usaha merumuskan fiwhnya menggunakan metode tersendiri. Ia menerapkan al-Qur’an sebagai sumber pokok, kemudian hadist nabi, berikutnya fatwasahabat. Abu Hanifah tidak mengambil pendapat ulama Tabi’in sebagai dalil dengan pertimbangan bahwa ulama tabi’in itu berada dalam satu rangking dengannya. Metodenya dalam menggunakan qiyas dan istihsan terlihat nyata sekali. Imam Malik menempuh metode ushuli yang lebih jelas menggunakan tradisi yang hidup di kalangan penduduk Madinah.

Dalam penggunaan qiyas, ia memberikan persyaratan yang begitu berat. Tetapi di balik itu Imam Malik menggunakan maslahat mursalah sedangkan metode yang dirumuskan Imam Syafi’i itulah yang disebut ushul fiqh.

Dengan mencoba mengembangkan ushul fiqh syafi’i dengan cara antara lain, menyerahkan, memperinci, yang bersifat garis besar. [8]

[1] Amir Syaifuddin, Ushul Fiqh Jilid I (Ciputat: 1997), h. 41

[2] Nazar Bkary, Fiqh dan Ushul Fiqh, (Jakarta: 1996)h. 16-17

[3] Syafi’i Karim, Fiqh Ushuk Fiqh, (Jakarta: 1995), h. 20

[4] Amir Syarifudin, op.cit., h. 41

[5] Syafi’i Karim, op.cit., h. 53

[6] Satria Efendi, M. Zein, MA, Ushul Fiqh, (Jakarta: 2005), h. 23-26

[7] Amir Syarifudin, op.cit., h. 41

[8] Ibid, h. 36

1. Pengertian Usul Fiqh

Usul Fiqh adalah tarkib idhafi (kalimat majemuk) yang telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu tertentu. Dintinjau dari segi etymologi fiqh bermakna pemahaman yang mendalam tentang tujuan suatu ucapan dan perbuatan (Lusi Ma’luf: Munjid). Sebagaimana firman Allah surat An Nisa’ ayat 78:

Artinya: “Maka mengapa orang-orang itu (munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun.

Juga sabda Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: Barang siapa dikehendaki Allah sebagai orang yang baik, pasti Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.

Sedamgkan pengertian fiqh menurut terminologi para fuqaha’ (ahli fiqh) adalah tidak jauh dari pengertian fiqh menurut etymologi. Hanya saja pengertian fiqh menurut termilnologi lebih khusus dari etymologi. Figh menurut terminologi adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan manusia, yang diambil dari dalil-dalil yang terinci (detail).(Abu Zahrah: Usul Fiqh).

Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa pembahasan ilmu fiqh meliputi dua hal:

1. Pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ meneganai perbuatan manusia yang praktis. Oleh karena itu ia tidak membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan I’tiqad (keyakinan.

2. Pengetahuan tentang dalil-dalil yang terinci pada setiap permasalahan. Misalnya bila dikatakan bahwa memakan harta benda orang lain secara tidak sah itu adalah haram, maka disebutkan pula dalilnya dari AL Qur’an yang berbunyi:

Artinya: Dan janganlah kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu denga yang lain secara bathil. (2:188).

Dari sini dapat diketahui, bahwa pembahasan ilmu fiqh adalah hukum yang terinci pada setiap perbuatan manusia sama ada halal. Haram, makruh atau wajib beserta dalilnya masing-masing.

Adapun pengertian “ashl” (jamaknya ushul) menurut ethimologi adalah dasar (fundamen) yang diatasnya dibangun sesuatu (Luis Ma’luf: Kamus Munjid). Pengertian tersebut tidak jauh dari pengertian ushul secara terminologi yaitu dasar yang dijadikan pijakan oleh ilmu fiqh.

Untuk itu Ali Hasaballah dalam buku Ushul Al Tasri’ Al Islami mendefinisikan Ushul Fiqh adalah:

Artinya: Kaidah-kaidah yang dijadikan sarana untuk menggali hukum-hukum syari’ah yang berkaitan dengan perbuatan amaliah (mukallaf) dari dalil-dalil yang terperinci. Dengan kata lain kaidah-kaidah yang dijadikan metode untuk menggali hukum fiqh.

Sebagai contoh. Ushul fiqh menetapkan bahwa perintah (amar) itu menunjukkan wajib dan larangan (nahi) menunjukkan hukum haram.

Jika seorang ahli fiqh akan menetapkan hukumnya shalat, apakah wajib atau tidak maka ia akan mengemukakan firman Allah SWT di dalam surat Rum 31, Mujadalah 13 dan Al Muzammil 20 yang berbunyi :

Artinya: Dirikan Shalat

Perintah untuk menjauhi berarti larangan untuk mendekatinya, dan tidak ada bentuk larangan yang lebih kongkrit dari larangan tersebut.

Dari contoh diatas jelaslah perbedaan antara fiqh dan ushul fiqh, bahwa ushul fiqh merupakan metode (cara) yang harus ditempuh ahli fiqh di dalam menetapkan hukum-hukum syara’ bedasarkan dalil syara’, serta mengklasifikasikan dalil-dali tersebut bedasrkan kualitasnya. Dalil Al Qur’an harus didahulukan dari pada qiyas serta dalil-dalil yang tidak berdasr kepada Al Qur’an dan Sunnah. Sedangkan Fiqh adalah hasil hukum-hukum syar’i bedasarkan methode-methode tersebut.

2. Hubungan Ushul Fiqh dengan Fiqh dan fungsi Ushul Fiqh.

Hubungan ilmu Ushul Fiqh dengan Fiqh adalah seperti hubungan ilmu mathiq (logika) dengan filsafat, bahwa mantiq merupakan kaedah berfikir yang memelihara akal agar tidak ada kerancuan dalam berfikir. Juga seperti hubungan antara ilmu nahwu dalam bahasa arab, dimana ilmu nahwu merupakan gramatikal yang menghindarkan kesalahan seseorang di dalam menulis dan mengucapkan bahasa arab. Demikian juga Ushul Fiqh adalah merupakan kaidah yang memelihara fuqaha’ agar tidak terjadi kesalahan di dalam mengistimbatkan (menggali) hukum.

Disamping itu fungsi Ushul Fiqh itu sendiri adalah untuk membedakan istimbath yang benar atau salah yang dilakukan oleh fuqaha’.

3. Objek Pembahasan Ushul Fiqh

Objek Ushul Fiqh berbeda dengan Fiqh. Objek fiqh adalah hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia beserta dalil-dalilnya yang terinci. Manakala objek ushul fiqh mengenai metdologi penetapan hukum-hukum tersebut. Kedua-dua disiplin ilmu tersebut sama –sama membahas dalil-dalil syara’ akan tetapi tinjauannya berbeda. Fiqh membahas dalil-dalil tersebut untuk menetapkan hukum-hukum cabang yang berhubungan dengan perbuatan manusia. Sedangkan ushul fiqh meninjau dari segi penetapan hukum, klasifikasi argumentasi serta siatuasi dan kondisi yang melatar belakangi dalil-dali tersebut.

Jadi objek pembahasan ushul fiqh bermuara pada hukum syara’ ditinjau dari segi hakikatnya, kriteria, dan macam-macamnya. Hakim (Allah) dari segi dalil-dali yang menetapkan hukum, mahkum ‘alaih (orang yang dibebani hukum) dan cara untuk menggali hukum yakni dengan berijtihad.

Ada beberapa peristilahan mendasar yang perlu di ketahui dalam ilmu ushul fiqh ini:

1. Hukum Syar’i

Di dalam bahasa arab arti lafaz al hukm adalah menetapkan sesuatu di atas sesuatu (….) atau dengan kata lain memberi nilai terhadap sesuatu. (Alyasa’ Abubakar: Ushul Fiqh I). Seperti ketika kita melihat sebuah buku lalu kita mengatakan “buku itu tebal” maka berarti kita telah memberi hukum (menetapkan atau memberi nilai) tebal kepada buku tersebut.

Ada beberapa definisi secara istilah yang dikemukakan oleh para ulama tentang hukum. Menurut Ali Hasaballah, Al Hukm adalah:

Artinya: Firman Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf yang berisi perintah, keizinan (melakukan atau meninggalkan sesuatu) ataupun perkondisian tertentu.

Dari definisi diatas ada empat unsur yang terkandung dalam pengertian hukum:

1. Firman Allah : Yaitu yang berwenang membuat hukum adalah Allah. Secara otomatis bersumberkan kepada Al Qur’an, baik secara langsung maupun tidak langsung.

2. Perbuatan Mukallaf, adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang sudah dewasa (baliqh) meliputi seluruh gerak gerinya, pembicaraan ataupun niat.

3. Berisi Perintah (larangan) dan keizinan memilih. Iqtidha’ dalam definisi diatas bermakna perintah untuk mengerjakan atau meninggalkan pekerjaan. Begitu juga berlaku mutlak atau hanya sebatas anjuran. Dari sini lahirlah apa yang kita kenal pekerjaan wajib, mandub (sunat), haram, makruh. Manakala takhyir bermakna adanya keizinan untuk memilih antara mengerjakan atau meninggalkan. Dengan kata lain kedua pekerjaan tersebut sama saja dikerjakan atau tidak dikerjakan. Dalam bahasa arab dikenal dengan mubah sedangkan keizinannya dinamakan ibahah. Unsur ketiga ini nantinya dikenal dengan hukum taklifi.

4. Berisi perkondisian sesuatu. Yaitu kondisi hukum terhadap sesuatu itu sangat tergantung oleh sebab, syarat atau mani’ (larangan). Artinya ada satu kondisi yang harus dipenuhi sebelum pekerjaan dilakukan oleh seseorang. Unsur ketiga ini nantinya dikenal dengan hukum wadh’i.

2. Hakim (Pembuat Hukum)

Pengertian hukum menurut ulama ushul adalah Firman Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, ini mengisyaratkan bahwa al-Hakim adalah Allah. Para ulama telah sepakat bahkan seluruh umat Islam bahwa al Hakim adalah Allah SWT dan tidak ada syari’at (undang-undang) yang sah melainkan dari Allah. Al Qur’an telah mengisyaratkan hal ini dengan firman Allah:

Artinya: Hak menetapkan hukum itu hanyalah milik Allah (al An’am: 57).

3. Mahkum Fih (objek hukum)

Mahkum fih sering juga disebut mahkum bih ialah: objek hukum syara’ atau perkara-perkara yang berhubungan dengannya. Objek hukum yang menjadi pembahasan ulama ushul hanyalah terbatas pada perbuatan orang-orang mukallaf. Ia tidak membahas hukum wadh’i (perkondisian ) yang berasal bukan dari perbuatan manusia. Seperti bergesernya matahari dari cakrawala dan datangnya awal bulan. Sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa mahkum fih: Perbuatan orang mukallaf yang menjadi objek hukum syara’, baik berupa perintah, larangan maupun kebolehan.

4. Mahkum alaih (Subjek Hukum)

Mahkum alaih adalah subjek hukum yaitu mukallaf yang melakukan perbuatan-perbuatan taklif. Jika mahkum fih berbicara mengenai perbuatan mukallaf maka mahkum alaih berbicara mengenai orangnya, karena dialah orang yang perbuatannya dihukumi untuk diterima atau ditolak.

4. Sejarah Pertumbuhan Ilmu Ushul Fiqh.

Ilmu ushul fiqh tumbuh bersama-sama dengan ilmu fiqh, meskipun ilmu fiqh lebih duluan dibukukan lebih dahulu daripada ilmu ushul fiqh. Karena dengan tumbuhnya ilmu Fiqh, tentu adanya metode yang dipakai untuk menggali ilmu tersebut. Dan metode ini tidak lain adalah ushul fiqh.

Pada masa rasul penggalian hukum langsung dilakukan oleh Rasul, yang mana Allah langsung memutuskan perkara-perkara yang timbul melalui wahyu. Penggalian hukum fiqh baru mulai setelah wafatnya Rasulullah SAW disaat timbulnya berbagai masalah yang tidak pernah terjadi pada masa Rasul. Para sahabat yang tergolong fuqaha seperti Ibnu Mas’ud, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab melakukan ijtihad untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Tentunya di dalam berijtihad ini mereka mempunyai metode, dasar dan batasan dalam mengambil satu keputusan. Seperti Keputusan umar bin khattab tidak memebrikan hak zakat kepada mu’allaf. Ali bin abi Thalib menambah had (hukuman campuk) bagi yang meminum khamar dari 40 kali pada masa rasullah menjadi 80 kali. Dari perbuatan sahabat tersebut menunjukkan bahwa ada pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dijadikan landasan dalam pengambilan keputusan hukum. Ini menunjukkan ijtihad para sahabat itu mempunyai kaedah yang sekarang dikenal dengan ushul, walaupun pada waktu itu ilmu ini belum dikenal.

Pada masa tabi’in penggalian hukum syarak semakin luas seiring dengan makin banyaknya permasalahan yang timbul. Karena banyaknya masalah yang timbul dan penyelesaian yang ditempuh para ulama sangan berfariasi, Ali Hasaballah mengambarkan kedahsyatan yang berlaku saat itu adalah “ pada satu daerah, ada satu perbuatan yang ditetapkan haram melakukannya, akan tetapi pada daerah lain dibolehkan”. Hal seperti menimbulkan kecauan yang sangat berarti dalam kehidupan masyarakat muslim. Dikarenakan tidak adanya parameter tertentu dalam mengistimbathkan hukum. Para ulama mengisthimbatkan hukum atas parameter masing-masing.

Akhirnya pada priode berikutnya, tepatnya pada masa imam-imam mujtahid, metode penetapan hukum ini semakin banyak dan mereka membuat kaidah-kaidah dan petunjuk tertentu dalam berijtihad. Seperti Imam Abu Hanifah membatasi dasar-dasar ijtihadnya dengan menggunakan al Qur’an, hadist dan fatwa-fatwa sahabat yang telah disepakati. Sedang fatwa yang diperselisihkan, dia bebas memilihnya. Manakala Imam Malik menjadikan amal ahlul madinah sebagai landasan hukum. Kedua imam ini telah menggariskan cara dan metode mereka dalam mengistimbathkan hukum tapi mereka belum menyebutnya dengan usul fiqh.

Akhirnya sampailah peran Imam Syafi’i, yang bermaksud mengkodifikasikan (membukukan) ilmu ushul fiqh. Mulailah ia menyusun metode-metode penggalian hukum syara’, sumber-sumber fiqh dan petunjuk-petunjuk ilmu fiqh. Kitab ushul fiqh pertama sekali dikeluarkan adalah “al Risalah”. Inilah kitab pertama yang khusus berbicara tentang ushul fiqh dengan membahas berbagai metode istimbath hukum.

Dan dikemudian hari pengikut mazhab membuat metode ushul masing-masing mengikut imam Mazhabnya sendiri. Setiap kaedah selalu lahir/timbul lebih akhir dari pada materi.

Kaidah-kaidah ilmu Ushul digunakan untuk mengetahui keinginan atau maksud dari sebuah redaksi yang bagi orang awam sedikit membingungkan. Misalnya sebuah kata perintah (amr) atau larangan (Nahyu), akan bisa diterjemahkan maknanya apabila ada kata yang mendukung kata yang lainnya atau kata itu akan berubah arti dari arti sebenarnya jika dikaitkan keadaan subjek dan objek yang dibicarakan. Sebagai contoh, perintah (amar), yang artinya : Tuntunan melakukan pekerjaan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah (kedudukannya). Yang lebih tinggi kedudukannya dalam hal ini adalah Allah dan yang lebih rendah kedudukannya adalah manusia (mukallaf). Jadi Amr ialah perintah Allah Swt yang harus dilakukan oleh ummat manusia yang mukallaf. Misalnya : wa aqiimush shalata …(QS. Al baqarah : 43). Dan dirikanlah shalat !!

Amar itu mempunyai ketentuan-ketentuan yang menjadi dasar pengambilan atau penetapan hukum. Ketentuan-ketentuan itu kemudian kita kenal dengan istilah kaidah. Amar mempunyai beberapa kaidah:

1. Kaidah pertama : Al ashlu fil amar lil wujub. Artinya : pada dasarnya amr itu menunjukkan wajib. Setiap amr atau perintah itu menunjukkan hukum wajib , kecuali ada petunjuk yang menunjukkan arti selain wajib.

2. Amr menunjukkan arti sunnah/ Nadb, seperti Firman Allah : Hendaklah kamu buat perjanjian (menebus diri ) dengan mereka (hamba sahaya ), jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka (QS. An Nur: 33)

3. Amr menunjukkan arti irsyad lil irsyad, atau petunjuk , seperti Firman Allah ; Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai (hutang)untuk waktu yang ditentukan, maka hendaklah kamu menuliskannya (QS. Al Baqarah : 282)

4. Amr menunjukkan arti ibahah , mubah seperti firman Allah : Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar (QS. Al Baqarah: 187)

5. Amr menunjukkan arti tahdid ( ancaman )

6. Amr menunjuk pada arti ikram ( memuliakan ).

7. Amr menunjukkan pada arti taskhir ( penghinaan) , jadilah kamu kera yang hina (QS.Al Baqaarah: 65)

8. Amr menunjukkan pada ta’jiz (melemahkan)

9. Amr menunjukkan pada arti taswiyah ( mempersamakan )

10. Amr menunjukkan pada arti doa , atau permohonan seperti Firman Allah :Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Al Baqarah 201)

Terakhir ada amr yang menunjukkan kepada arti iltimas, yaitu ajakan seperti kata-kata kepada kawan-kawan sebaya kerjakalah ~ misal : tolong ambilkan baju itu, datang dong kepesta ulang tahunku ….dll.

Kembali kepada persoalan diskusi kita mengenai shalawat kepada Nabi, yang berarti memohon doa keselamatan, kesejahteraan dan rahmat untuk junjungan Nabi Muhammad Saw. Seperti Firman Allah : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS. Al Ahzab: 56)

Setelah kita mengetahui kaidah ushul fiqh diatas, bahwa setiap kata perintah belum tentu menentukan sebuah hukum wajib, bisa jadi kata perintah itu berarti memohon, mengajak, petunjuk, anjuran, mengharapkan, dll

Mari kita kaji surat Al Ahzab: 56, tentang shalawat kepada Nabi. Pada ayat tersebut terdapat kalimat bahwa Allah bershalawat kepada Nabi. Kemudian para malaikat, dan selanjutnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi. Arti shalawat adalah doa , memberi berkah, dan ibadat.

Shalawat Allah kepada Muhammad, berarti Allah memberi berkah, penghargaan, dan menempatkan Rasulullah yang mulia disisi-Nya. Kemudian shalawat Malaikat kepada Muhammad : Adalah memberi salam penghormatan atas diangkatnya kemuliaan dan kerasulan Muhammad, sebagaimana penghormatan malaikat kepada Nabi Adam as.

Dikarenakan Allah selalu memberikan shalawat (keberkatan, kemuliaan, (kebesaran), maka ummat Muhammad hanya mengharapkan agar shalawat Allah itu tetap langgeng untuk beliau dan keluarganya, walaupun shalawat orang-orang mukmin tiada artinya bagi Muhammad karena beliau telah medapatkan curahan rahmat dan keberkatan itu langsung dari Allah selamanya. Sesungguhnya Allah bershalawat (memberi keselamatan, keberkatan, penghargaan, kebahagiaan) kepada Muhammad dan keluarganya…(QS. Al Ahzab 56)

Perhatikan kata shalawat Allah kepada Muhammad pada ayat tersebut diatas, bagaimana menurut anda kalau kata shalawat diartikan berdoa, Apakah Allah akan berdoa untuk Muhammad ?? kepada siapa ??

Berkata Al Hulaimi dalam Asy syu’ab tegasnya, pengertian shallu alaihi ~ bershalawat-lah kepadanya, ialah : ud’u rabbakum bish shalati alaihi.. mohonlah kamu kepada Tuhanmu supaya melimpahkan shalawat kepadanya .

Penghormatan anda kepada presiden bukan berarti kehormatan presiden itu akan bertambah atau berkurang kalau anda tidak menghormatinya, karena kedudukan presiden itu adalah tempat yang paling terhormat di suatu negara. Sebagai rakyat seharusnyalah kita mengormati dan menghargai presiden sebagaimana Allah telah memuliakan orang yang diangkat derajatnya sebagai presiden. Sebab orang tersebut tidak akan menjadi presiden tanpa pertolongan dan kasih sayang-Nya. Untuk itu hargailah dan bersyukurlah kita telah memiliki presiden.

Logika anda yang menyebutkan bahwa mana mungkin bahwa seorang rakyat yang menderita memerintahkan presiden untuk menaikkan pangkat dan gajinya sang panglima sementara diri kita yang menderita masih kekurangan.

Setelah anda membaca uraian saya mengenai kaidah ushul, mari kita coba membandingkan makna kata perintah yang terdapat dalam Alqur’an, yang apabila membaca ayat tersebut tidak memahami kaidahnya maka artinya akan rancu. Misalnya kata perintah yang berbunyi :

“Allahumma dammir man ada aka wa ada ad dien, Ya Allah hancurkan orang yang mengganggu Engkau dan yang mengganggu agamamu.

Allahumma shayyiba naafi’a , Ya Allah turunkanlah hujan yang berguna (QS. Al Adzkar:81)

Rabbana aatina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar (QS. Al Baqarah: 201)~ Ya Allah datangkan kepada kami kebaikan di dunia , dan kebaikan di akhirat

Seperti apa yang telah diurai diatas, bahwa kata perintah atau Amr secara umum merupakan tuntutan melakukan suatu pekerjaan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah (kedudukannya)

Akan tetapi kalau anda perhatikan bentuk yang di gunakan redaksi ayat dan hadist diatas menggunakan kata perintah, seperti kata dammir (hancurkan), shayyiba (turunkan hujan), atina fiddunya hasanah (datangkan kepada kami kebaikan )……

Kalau melihat kaidah ushul secara umum dalam kasus diatas, seharusnya yang lebih tinggi memerintahkan yang rendah derajatnya. Akan tetapi ayat diatas telah mengguna-kan kata perintah dari bawah keatas (dari hamba kepada Tuhan). Apakah hal ini akan diartikan memerintah Allah ?? Tentu tidak. Akan tetapi amar disini berarti doa.

Kemudian bandingkan dengan kata shalawat yang juga artinya berdoa atau memberikan berkah. Apakah kita akan memberikan berkah kepada Rasulullah yang telah tercurahkan dari Allah swt ?? Apakah kita juga termasuk memerintahkan Allah untuk memberikan berkah kepada Rasulullah ?? Atau apakah Rasulullah butuh shalawat kita agar beliau mendapat Rahmat dari Allah. Padahal Rasulullah telah dijamin syurga oleh Allah. Apakah kita akan tetap menterjemahkan kata shalawat berarti doa untuk Nabi ??

Baiklah saya akan meneruskan pengertian shalawat dengan mengambil makna yang lain agar tampak jelas pengertian shalawat bahwa Rasulullah tidak membutuhkan rahmat ataupun doa ummatnya.

Bersabda Nabi :

Barang siapa bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh kali ( HR Muslim dari Abu Hurairah, Al Mirqah II :5 )

Bahwasanya bagi Allah Tuhan semesta alam ada beberapa malaikat yang diperintah berjalan dimuka bumi untuk memperhatikan keadaan hamba-Nya. Mereka menyampai-kan kepadaku ( sabda nabi) akan segala salam yang diucapkan oleh ummatku. (HR. Ahmad, An Nasaiy & Ad Damrimy Syarah Al Hishn, Al Mirqah II:6)

Barang siapa bershalawat untukku dipagi hari sepuluh kali dan dipetang hati sepuluh kali mendapatkan ia syafaatku pada hari kiyamat ( HR . At Thabrany Al Jami’)

Manusia yang paling utama terhadap diriku pada hari kiyamat, ialah manusia yang paling banyak bershalawat untukku ( HR At Thurmudzy )

Semakin terang bagi kita atas arti shalawat pada hadist diatas, bahwa Rasulullah tidak membutuhkan rahmat ataupun doa dari kita, akan tetapi justru Rasulullah yang akan memberikan pertolongan nanti dihari kiyamat apabila kita sering memberikan salam atau shalawat penghormatan kepada beliau. Dan Allah juga memberikan shalawat kepada orang yang bershalawat kepada Rasulullah.

Hadist yang mengatakan bahwa : Barang siapa yang bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh kali ( HR Muslim dari Abu Hurairah )

Hadist inilah yang menguatkan bahwa Allah bershalawat kepada siapa saja, bukan hanya kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Untuk lebih tegasnya kita perhatikan bacaan shalawat dalam tahiyyat shalat. at tahiyyatul mubarakatush shalawatu thoyyibatulillah, assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh, asssalamu’alaina wa’ala ibaadillahish shalihin. Terjemahan bebasnya: Salam hormat, keberkahan, shalawat yang terbaik untuk Allah, keselamatan atasmu wahai nabi serta rahmat dan keberkatan, juga salam hormat kepada para ahli ibadah yang shalih …..

Tahiyyat berarti penghormatan dan kita bershalawat kepada Allah yang berarti kita memuja Allah, kemudian menghormati Nabi dan yang terakhir menghormati orang-orang yang shalih ….itulah arti shalawat, dimana kata itu bisa berarti berbeda jika penempatan kata tersebut berbeda.

Seperti saya uraikan diatas tadi, kata perintah tidak harus berarti memerintah dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah, akan tetapi kata perintah bisa berarti memohon, meminta pertolongan, anjuran, memberikan khabar (seperti iklan / promosi), menghina, meremehkan, penjelasan dll.

Demikian uraian dari saya, mudah-mudahan kita diberi kemudahan untuk memahaminya. Dan saya menyarankan dan menghimbau kepada saudaraku yang sedang ghirah belajar agama berhati-hatilah dengan doktrin agama yang terkadang tidak menempatkan makna yang sebenarnya, sehingga tidak menguraikan secara objektif sesuai kata aslinya. bukan diterjemahkan menurut keinginan nafsu golongannya. Sumber Kang ucup

Masail Fiqhiyyah

A. PENGERTIAN MASAIL FIQHIYYAH

Masail Fiqhiyah terurai dari kata mas’alah dalam bentuk mufrad yang dijamakkan dan dirangkaikan dengan kata fiqh. Fiqh secara bahasa adalah pemahaman/ faham sedangkan menurut istilah “ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at dalam bentuk amaliah (perbuatan mukallaf) yang diambil dari dalilnya secara terperinci”.

Masail fiqhiyah adalah persoalan-persoalan yang muncul pada konteks kekinian sebagai refleksi komplekitas problematika pada suatu tempat, kondisi dan waktu. Dan persoalan tersebut belum pernah terjadi pada waktu yang lalu, karena adanya perbedaan situasi yang melingkupinya.

masail merupakan bentuk jamak taksir dari kata mas’alah yang artinya perkara/ masalah (persoalan)

Fiqhiyyah dari kata fiqh yang artinya pemahaman yang mendalam tentang hukum-hukum Islam.

Jadi masail fiqhiyah berarti persoalan hukum islam yang selalu dihadapi oleh umat Islam sehingga mereka beraktifitas dalam sehari-hari selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan tuntunan Islam.

Masail fiqhiyah disebut juga masail fiqhiyah al haditsah (persoalan hukum Islam yang baru). Focus kajiannya tidak hanya membahas persoalan fiqih, tapi juga aqidah (kepercayaan) dan persoalan akhlak (moral).

B. SEBAB PERBEDAAN PENDAPAT PARA FUQAHA

1. Factor ikhtilaf seputar fiqh

a. Perbedaan qira’at

b. Adam al ittila ala hadits yaitu adanya hadits yang belum ditelaah oleh sebagian sahabat karena secara real pengetahuan mereka dalam hal ini tidak sama.

c. Adanya syak atau keraguan dalam menetapkan hadits

d. Perbedaan dalam memahami nas dan perbedaan penafsirannya

e. Adanya lafad musytarak yaitu lafadz yang memiliki dua makna atau lebih

f. Ta’arud al-Adillah, yaitu dalil-dalil yang lahir secara kontradiktif.

2. Dua factor dominan perpecahan umat

a. Fanatic Arabisme

b. Factor pertikaian dalam memperebutkan kekuasaan dan pengendali tampuk pemerintahan

3. Metode- Metode Fuqaha dalam menyelesaikan Persoalan

a. Al-Qur’an

b. As-Sunnah

c. Al-Ijma

d. Al-Qiyas

e. Al- Istihsan

f. Al-Maslahah MursalaH

g. Al-Urf

h. Al-Istihshab

i. Al-Zara’i

j. Syar’un man Qoblana

k. Mazdhab sahabat

C. LANGKAH-LANGKAH PENYELESAIAN MASAIL FIQHIYAH

Kaedah pertama : menghindari sikap taklid dan atau fanatisme

Kaedah kedua : prinsip mempermudah dan menghindarkan kesulitan

Kaedah Ketiga : berdialog dengan masyarakat melalui bahasa kodisi masanya dan melalui pendekatan persuasive aktif serta komunikatif.

Kaedah keempat : bersikap moderat terhadap kelompok tekstualis (literalis) dan kelompok kontekstualis

Kaedah kelima : ketentuan hukum bersifat jelas tidak mengandung interpretasi

D. KLONING MANUSIA

1. Pengertian Kloning

Kloning adalah teknik membuat keturunan derngan kode genetik yang sama dengan induknya, pada manusia kloning dilakukan dengan mempersiapkan sel telur yang sudah di ambil intinya lalu disatukan dengan sel somatic dari suatu organ tubuh, kemudian hasilnya ditanamkan dalam rahim seperti halnya pada bayi tabung.

Macam-macam teknik pengkloningan: kloning dapat dilakukan terhadap semua makhluk hidup tumbuhan,hewandan manusia.Pada tumbuhan kloning dapat dilakukan dengan tekhink okulasi,sedangkan pada hewan dan manusia,ada beberapa tekhnik-tekhnik yang dapat dilakukan, kloning ini dapat berupa kloning embrio dan kloning hewan atau manusia itu sendiri.

Contoh nyata kloning alami adalah adanya kembar dari dua pasang bersaudara. Keduanya identik secara bentuk tetapi berbeda pada perilakunya.

Tujuannya pun bermacam-macam. Tetapi dari tujuan tersebut setidaknya ada dua tujuan besar mengapa kloning diteliti, yaitu untuk tujuan pengobatan dan tujuan reproduksi.

2. Perspektif Oleh Ilmuwan Barat

Sarjana-sarjana barat telah banyak melakukan eksperiment pada unggas dan mamalia. Dari sekian banyak penelitian untuk unggas hampir seluruhnya berhasil. Contohnya seperti kloning pada chimes (sejenis ayam hasil kloning dari ayam petelur dan ayam berdaging) yang dilakukan oleh Rob Etches. Kloning ini ternyata berhasil dan menghasilkan suatu organisme baru yang unggul yang memiliki daging banyak dan produktif dalam menghasilkan telur. Sedangkan kloning pada mamalia, meskipun berhasil melahirkan suatu organisme tetapi organisme tersebut ternyata tidak memiliki daya tahan tubuh yang memadai sehingga mamalia hasil kloning seluruhnya mati dalam waktu yang singkat setelah dilahirkan, misalnya Gaur (bison thailand yang dikloning agar tidak punah) dan Dolly (domba hasil kloning).

Perdebatan tentang kloning dikalangan ilmuwan barat terus terjadi, bahkan dalam hal kloning binatang sekalipun, apalagi dalam hal kloning manusia. Kelompok kontra kloning diwakili oleh George Annos (seorang pengacara kesehatan di universitas Boston) dan pdt. Russel E. Saltzman (pendeta gereja lutheran). menurut George Annos, kloning akan memiliki dampak buruk bagi kehidupan, antara lain :

a. merusak peradaban manusia.

b. memperlakukan manusia sebagai objek.

c. Jika kloning dilakukan manusia seolah seperti barang mekanis yang bisa dicetak semaunya oleh pemilik modal. Hal ini akan mereduksi nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia hasil kloning.

d. kloning akan menimbulkan perasaan dominasi dari suatu kelompok tertentu terhadap kelompok lain. Kloning biasanya dilakukan pada manusia unggulan yang memiliki keistimewaan dibidang tertentu.

Sedangkan menurut pdt. Russel E. Saltzman, bagaimanapun kloning tetap tidak diperbolehkan, karena pada prosesnya terdapat pengambilan sel dari makhluk hidup yang berhak mendapat kehidupan. Sel yang diambil untuk kloning berarti sama saja dengan membunuhnya untuk kemudian dijadikan sebagai organisme baru. Padahal setiap makhluk hidup sekecil apapun berhak menikmati kehidupan.

Adapun kelompok yang memperbolehkan kloning diwakili oleh Panos Zavos (seorang peneliti pada pusat Reproduksi kentucky), mereka berpendapat bahwa kloning untuk saat ini memang diperlukan oleh manusia. Kloning sangat diperlukan karena menimbang manfaat yang mereka dapatkan dari hasil kloning tersebut. Selain itu, kloning juga diharapkan bisa menjadi alternatif untuk melestarikan hewan langka, sehingga keberadaan hewan-hewan langka terus bisa dilestarikan, hal ini seperti yang dilakukan oleh Betsy Dresser (seorang pakar binatang di kebun binatang audubon, new orlands, Australia). Kloning juga bisa menjadi solusi bagi wanita yang tidak bisa melahirkan anak tetapi ingin mempunyai anak secara genetis karena adanya keterkaitan histori antara keduanya, hal ini seperti yang diinginkan oleh Viviane Maxwell (warga California).

3. Perspektif Agama Islam

Kloning, dalam ranah kloning manusia tidak bisa ditentukan secara pasti (halal/haramnya) karena ide tersebut masih dalam tataran ide dan belum diaplikasikan. Dalam hal ini segala bentuk penelitian ilmiah hukumnya mubah/boleh. Kita bisa mengambil kesimpulan keputusan hukumnya setelah ide tersebut diaplikasikan dengan menimbang dampak-dampaknya terhadap kehidupan, tentang maslahah atau tidaknya hasil penelitian tersebut.

a. Pendapat Sheikh Muhammad Thanthawi dan Sheikh Muhammad Jamil Hammud Al-’Amily yang mengatakan bahwa kloing dalam upaya mereproduksi manusia terdapat pelecehan terhadap kehormatan manusia. Kloning mengarah kepada goncangnya sistem kekeluargaan serta penghinaan dan pembatasan peranan perempuan. Ia bukan saja memutuskan silaturahim tetapi juga mengikis habis cinta. Ia adalah mengubah ciptaan Allah dan bertentangan dengan Sunatullah. Itu adalah pengaruh setan bahkan merupakan upayanya untuk menguasai dunia dan manusia.

b. Sheikh Muhammad Ali al-Juzu (Mufti Lebanon yang beraliran Sunni) menyatakan bahwa kloning manusia akan mengakibatkan sendi kehidupan keluarga menjadi terancam hilang atau hancur, karena manusia yang lahir melalui proses kloning tidak dikenal siapa ibu dan bapaknya, atau dia adalah percampuran antara dua wanita atau lebih sehingga tidak diketahui siapa ibunya. Selanjutnya kalau cloning dilakukan secara berulang-ulang, maka bagaimana kita dapat membedakan seseorang dari yang lain yang juga mengambil bentuk dan rupa yang sama.

c. Sheikh Farid Washil (mantan Mufti Mesir) menolak kloning reproduksi manusia karena dinilainya bertentangan dengan empat dari lima Maqashid asy-Syar’iah: pemeliharaan jiwa, akal, keturunan, dan agama. Dalam hal ini cloning menyalahi pemeliharaan keturunan.

Dari beberapa pendapat tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa cloning hukumnya haram karena lebih berpotensi menghasilkan dampak buruk daripada dampak baiknya. Keharaman cloning ini lebih didasarkan pada hilangnya salah satu hal yang harus dilindungi manusia yaitu faktor keturunan. Disandarkan pada qaidah “dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih” yang artinya Menampik keburukan lebih diutamakan daripada mendatangkan manfaat’. Hilangnya garis keturunan manusia yang dikloning akan menghilangkan hak-hak manusia tersebut, seperti misalnya hak untuk mendapat penghidupan dari keluarganya, warisan, lebih parah lagi hak untuk mendapatkan kasih saying dari orang tua geneticnya, dan hak-hak lain yang harus ia dapatkan. Pengharamannya diambil dari kaedah yang ditegaskan oleh firman Allah ((QS. 2: 219) tentang minuman keras yang artinya, Dosa keduanya (minuman keras dan perjudian) lebih besar daripada manfaatnya. Dari sana kita bisa menarik benang merah bahwa cloning yang bertujuan untuk pengobatan misalnya penggantian organ tubuh manusia dengan organ cloning menurut kami diperbolehkan sepanjang hal itu mendatangkan maslahah dan karena kondisi dlarurat yang dialami oleh pasien (Sheikh Farid Washil : 2003).

Adapun kloning dalam ranah binatang dan tumbuh-tumbuhan, maka Islam secara jelas membolehkannya, apalagi kalau tujuannya untuk meningkatkan mutu pangan dan kualitas daging yang dimakan manusia. Selain itu, karena binatang dan tumbuh-tumbuhan tidak perlu mengetahui tentang asal-usul garis keturunannya.

E. TRANSPLANTASI

Transplantasi ialah pemindahan organ tubuh yang masih mempunyai daya hidup sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak berfungsi lagi dengan baik. Pencangkokan tubuh yang menjadi pembicaraan pada saat ini adalah: mata, ginjal, dan jantung, karena ketiganya sangat penting fungsinya bagi manusia.

1. Donor Orang yang masih Hidup

Walaupun ada donor yang bersedia memberikan organ tubuhnya selagi hidup, dalam pelaksanaannya harus hati-hati, karena bisa berbahaya bagi donor dan resipien. Yang perlu diperhatikan:

a. Kecocokan organ tubuh antara donor dan resipien

b. Kesehatan si donor, baik sebelum diangkat orgen tubuhnya aupun sesudahnya.

Keinginan menolong seseorang ialah perbuatan terpuji, tetapi jangan mencelakakan dirinya sendiri. Firman Allah:

“…..Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (Al- baqarah: 195)

Bagaimana dengan orang yang dalam keadaan koma, menurut M. Ali Hasan, selama orang itu masih hidup, tidak boleh organ tubuhnya diambil, karena itu mempercepat kematiannya, dan berarti mendahului kehendak Allah, juga tidak etis memperlakukan orang yang sudah koma dengan memeprcepat kematiannya. Selama masih ada nyawanya, wajib berikhtiar untuk menyembuhkannya.

2.Donor Orang yang Sudah Meninggal

Adapun donor organ tubuh seperti mata, jantung dan ginjal menurut M. Ali Hasan tidak menyalahi aturan agama islam, dengan alasan:

a. Alangkah terpuji, bila organ tubuh itu dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang masih memerlukannya daripada rusak begitu saja setelah dikubur.

b. Tindakan kemanusiaan sangat dihargai oleh agama Islam

c. Menghilangkan penderitaan orang lain (Bahaya Kemudharatan dihilangkan).

Kendatipun dibenarkan, tetapi perlu diperhatikan beberapa hal:

a. Izin dari keluarga si mayat, supaya tidak timbul fitnah dikemudian hari.

b. Mungkin juga berbentuk wasia t dari pendonor selagi masih hidup.

Namun ada juga perbedaan pendapat dari sebagian ulama didasarkan pada Hadits Nabi:

“Sesungguhnya memecahkan tulang mayat, sama seperti memecahkan tulangnya sewaktu hidup” (H.R. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majad)

Menurut M. Ali Hasan hall tersebut haram hukumnya, apabila ada unsur merusak mayat sebagai penghinaan baginya.

Kekhawatiran lain adalah menenai orang yang mendonorkan tubuhnya kepada orang yang berlainan agama atau orang yang berbuat maksiat dengan pemikiran perbuatan maksiatnya akan berkelanjutan. Kekhawatiran ini terjawab oleh ayat-ayat berikut:

“dan bahwa manusia itu tidak memproleh selain apa yang ia usahakan. Dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan. Kemudian akan diberi balasannya dengan balasan yang paling sempurna” (An-Najm: 39-41)

Berdasar ayat tersebut, seorang akan mendapat balasan sesuai amalnya didunia, dosa orang lain tidak menjadi tanggungjawabnya. Mengenai organ tubuh yang diharamkan yang dicangkokkan kepada manusia, ada dua pendapat:

a. Halal karena darurat dan tidak ada jalan lain lagi

b. Haram.

F. HOMOSEKSUAL DAN LESBIAN

1. Pengertian Homoseksual

Homoseksual adalah hubungan seksual antara orang yang sejenis kelaminnya, baik sesama pria maupun wanita. Namun istilah homoseks ini digunakan untuk pria. Dr. Ali Akbar mengemukakan, homoseksual adalah mencari kepuasan seksual dengan jenis yang sama, baik secara rangsang-merangsang maupun tindakan yang menyerupai senggama.

2. Sebab- sebab terjadinya homoseksual

Dibawah ini dikemukakan beberapa sebab:

a. Moerthiko : homoseksual terjadi karena pengalaman-pengalaman masa lampau tentang seks yang membekas pada pikiran bawah sadarnya

b. Ann Landers : homoseksual terjadi disebabkan salah asuh atau perlakuan orang tua yang salah.

c. Tidak pernah seorang lelaki memperhatikan lawan jenisnya menurut Said Sabiq.

d. Zakiah Darajat : pengaruh lingkungan yang terpisahkan dari lawan jenisnya

e. Dr. Cairo : suatu gejala kekacauan syaraf, yang berasal karena ada hubungan dengan orang-orang yang berpenyakit syaraf.

Menurut Majalah ayah Bunda edisi 21 faktor-faktor penyebab homoseksual:

a. Peran Orang tua yang salah, konflik antara anak dan orang tua yang berjenis kelamin yang beralawanan yang tidak terselesaikan.

b. Peran yang tidak proporsional. Salah satu orang tua terlalu dominan dan yang lain pasif.

c. Pribadi yang lemah

3. Pengaruh homoseksual terhadap jiwa

a. Kegoncangan Batin

b. Depresi Mental

c. Akhlak, karena tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

d. Menimbulkan suatu sindrom atau himpunan-himpunan gejala penyakit mental yang disebut harastenia.

Dampak negatif terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat:

a. Seorang homo tidak mempunyai keinginan terhadap wanita

b. Perasaan cinta sesama jenis menimbulkan perilaku yang ganjil, karena terkadang seorang homo berperilaku sebagai laki-laki dan wanita.

c. Mengakibatkan rusak saraf otak, melemahkan akal dan menghilangkan semangat kerja

d. Terjangkit berbagai macam penyakit.

4. Hukum dan Pendapat Ulama

Syari’at Islam memandang bahwa perbuatan homoseks itu haram, dan para ulama juga telah sepakat tentang keharamannya. Akan tetapi ullama fiqh berbeda pendapat tentang hukumannya.

a. Imam Syafi’i

Pasangan homoseks dihukum mati berdasar hadits nabi:

“barangsiapa menjumpai orang yang berbuat homoseks seperti praktek kaum Luth, maka bunuhlah sipelaku dan yang diperlakukannya” (HR. Lima Ahli Hadits)

b. Al- Auza’i, Abu Yusuf dan lain-lain.

Hukumannya disamakan dengan hukuman zina, yakni dera dan pengasingan bagi yang belum kawin, dan dirajam untukpelaku yang sudah kawin. Hadits Nabi:

“ Apabila seorang pria melakukan hubungan seks dengan pria lain, maka kedua-duanya adalah berbuat zina”

c. Abu Hanifah

Dihukum ta’zir, sejenis hukuman yang bertujuan edukatif, berat ringan diserahkan kepada pengadilan.

5. Lesbian

Istilah ini diperuntukkan bagi panggilan wanita-wanita yang melakukan hubungan seks sesamanya. Artinya para lesbian cenderung mencintai sejenisnya dan ia akan mendapatkan kepuasan seks bila dilakukan dengan wanita dan bukan laki-laki. Hadits Nabi:

“janganlah pria melihat aurat pria dan janganlah wanita melihat aurat wanita lain dan janganlah pria bersentuh dengan pria lain di bawah sehelai kain dan janganlah wanita dengan wanita lain dibawah sehelai kain” (H.R. Abu Daud, muslim, Ahmad dan Tirmidzi)

Menurut Sayyid Sabiq, lesbian dihukum ta’zir yaitu suatu hukuman yang berat atau ringannya diputuskan oelh pengadilan. Hal ini disebabkan karena lesbian melakukan hubungan seks dengan menggesek-gesekkan saja berbeda dengan homoseks.

DASAR-DASAR AGAMA

Syariah-Fiqh-Ushul Fiqh-Qowaidul Fiqh

Pentingnya Menguasai Ilmu Syariah

Bagi seorang muslim mempelajari agama adalah kewajiban yang harus di penuhi dan menjadi prioritas utama. Kewajiban ini tidak bisa di gantikan oleh orang lain. Melaksanakan amal ibadah ada batasan yang menjadi syarat misalnya harus mukallaf (berakal sehat dan usia dewasa) akan halnya kewajiban belajar adalah mutlaq dan tidak harus setelah batasan usia tertentu sebagaimana sabda Nabi bahwa belajar ilmu adalah sejak dari buaian ibu pertama kali (kelahiran) sampai tiba waktu memasuki liang lahat (kematian).

Dalam Islam porsi ajaran syariah lebih besar di banding dengan ajaran yang lain misalnya aqidah (teologi) atau akhlaq. Seorang muslim di katakana wajar jika tidak menguasai ilmu tafsir, hadits, gramatikal arab ataupun ilmu kalam tapi akan terasa aneh jika tidak menguasai ilmu syariah dan mustahil jika ada seoarang tidak menguasai syariah khususnya fiqh walaupun dengan penguasaan seadanya sebab dalam keberagamaan seseorang pasti selalu berhubungan langsung dengan yang namanya syariah.

Ya memang untuk mempelajari keseluruhan syariah memang sulit namun jika kita sudah mampu mengetahui landasan dan pola-pola dalam struktur yang membangun keseluruhan syariah maka kita akan lebih mudah untuk menguasainya. Terutama bahwa syariah adalah selalu bertitik tolak dari masalah-masalah menghukumi sesuatu baik wajib, sunnah, harom dan lainnya maka sudah pasti perkara hukum ini akan selalu berkembang sesuai dengan zaman dan kondisi masyarakatnya.

Syariah-Fiqh

Ada banyak kita jumpai kesalah pahaman yang sering terjadi di dalam masyarakat untuk memahami Syariah dan Fiqh. Keduanya adalah hal yang sangat berbeda walaupun juga saling berkaitan satu sama lain. Orang kadang cenderung menyamakan antara keduanya bahkan sering kali tidak bisa membedakan mana yang “Syariah” dan mana yang “Fiqh”. Sejauh ini kesalahan-kesalahan tersebut juga berdampak fatal di dalam masyarakat. Bahkan hal ini juga sempat memanas menjadi perdebatan di negeri ini ketika beberapa daerah membuat aturan-aturan yang di indikasikan berbau “SYARIAH’. Hal ini kita sadari bahwa hal ini salah satu factor timbulnya masalah semacam ini adalah pemahaman masyarakat yang kurang tentang Syariah ataupun Fiqh itu sendiri yang terjadi secara umum atau juga perbedaan di berbagai kalangan cendekiawan muslim yang berbeda pendapat apakah peraturan yang di buat itu memang ranah syariah atau hanya fiqh.

Agar hal seperti tersebut tidak terulang dikemudian hari maka kita sebagai muslim penting untuk mengetahui kedua hal tersebut diatas. Bagi kita kader fakultas hukum terutama, sangat di harapkan untuk memahami keduanya walaupun Hukum Islam tidak menjadi hukum positif di Negara kita namun tidak bisa di pungkiri lagi bahwa mayoritas penduduk negeri ini adalah beragama islam dan pastinya hal ini akan sangat besar peranannya kedepan bagi pembangunan sistem hukum kita. Bahkan saat inipun kalau saya lihat ( dari sudut pandanng santri yang telah mempelajari hukum Islam di pesantren) perbedaan antara hukum positif kita dengan hukum islam yang keduanya berdiri sebagai suatu sistem tidaklah terlalu signifikan apalagi jika harus di pertentangkan maka hal itu saya rasa tidak perlu. Dan seharusnya hukum Islam mampu menjadi acuan utama untuk mengisi kekosongan-kekosongan hukum di negeri ini.

Kembali lagi ke pokok bahasan bahwa Syariah dan Fiqh walaupun terlihat saling menyerupai namun keduanya berbeda. Secara bahasa “Syariah” adalah aturan atau hukum sedangkan “Fiqh” adalah mengerti atau memahami. Jadi dari kedua pengertian bahasa ini sudah bisa di tarik suatu gambaran di antara keduanya. Lebih lanjut lagi secara istilahi Fiqh adalah ”Ilmu yang membahas hukum-hukum syariat bidang amaliyah (perbuatan nyata) yang diambil dari dalil-dalil secara rinci.” atau juga “pengetahuan hukum syariah yang di peroleh melalui jalan Ijtihad.”

Kesimpulan yang bisa ditarik dari pengertian-pengertian diatas adalah bahwa antara syariah dan fiqh terjadi keterkaitan yang sangat diantara keduanya serta dalam prakteknya tidak mungkin dipisahkan. Kita contohkan misalnya dalam ibadah Sholat bahwa semua orang islam sepakat tentang hukum wajibnya maka ini adalah segi syariatnya namun dalam segi fiqhnya untuk masalah yang sama (sholat) maka berbeda-beda untuk tata cara pelaksanaanya ada yang bacaan basmalahnya di baca keras-keras ada pula yang dipelankan. Untuk lebih detailnya maka beda syariah dan fiqh adalah :

1. Syariah itu hanya satu artinya aturan hukum yang Allah turunkan untuk manusia dari Nabi Adam sampai kiamat kelak hanyalah satu sedangkan Fiqh beragam hal ini disebabkan dalam pelaksanaan hukum tadi terjadi perbedaan pendapat sehingga menimbulkan keberagaman dalam pelaksanaannya sebatas apa yang ditangkap dan di pahaminya akan syariah itu.

2. Syariah berasal dari dalil yang Qoth’i ( sudah pasti kebenarannya ) sehingga berlakunya Muthlaq dan Fiqh berasal dari dalil-dalil Dzonni ( yang masih bersifat persangkaan ) sehingga relative kebenarannya dan dari dalil-dalil Dzonni tersebut berlaku pula kesempatan menafsirkan di antara para ulama sehingga di hasilkan berbagai hukum, dan satu hukum belum tentu sama dengan yang lainnya dan kemungkinan bahwa kesemuanya sama-sama benar.

3. Syariah berlaku secara Universal yaitu seluruh ummat manusia. Untuk Fiqh karena di hasilkan dari ijtihad ( olah pikir untuk temukan hukum ) maka terbatas an menimbulkkan taqlid artinya terbagi-bagi kedalam berbagai madzhab/anutan sesuai dengan imamnya.

4. Syariah berlaku Abadan-abadan dan tidak akan pernah berubah sedang Fiqh sesuai dengan kondisi masyarakat oleh factor baik tempat maupun zamannya.

Maka sekarang telah jelas bagi kita mana yang Fiqh dan mana yang syariah sesuai dengan criteria pembagian tadi. Oleh karena itu diharapan mampu mengidentifikasikan suatu masalah apabila suatu ketika di hadapkan pada kita untuk mencari penyelesaiannya degan menggunakan landasan ini. juga jangan sampai terburu-buru mengambil kesimpulan ketika menyikapi suatu keadaan apakah itu Syariah atau Fiqh.

Fiqh-Ushul Fiqh-Qowaidul Fiqh

Bahwa Fiqh adalah ilmu yang lahir akibat/dari adanya Syariah dan lahirnya tersebut tidak serta merta ada dengan sendirinya. Artinya bahwa untuk sampai menemukan hukum Fiqh di perlukan mekanisme-mekanisme yang menjadi persyaratannya. Mekanisme-mekanisme ini kemudian di bukukan untuk pertama kalinya oleh Imam Syafi’I dalam kitabnya yang berjudul Waroqoot yang sekarang terkenal dengan cabang ilmu Ushul Fiqh.

Ushul Fiqh ( Methodology in Islamic Jurisprudence ) adalah ilmu tentang bagaiman cara untuk menemukan suatu hukum Fiqh ( Islamic Jurisprudence). Ushul Fiqh terdiri dari dua kata yaitu Al-Ushul yang artinya asal, pokok, pondasi dan Al-Fiqh yang artinya sesuai dengan yang telah diterangkan diatas. Analogi antara Ushul Fiqh dengan Fiqh adalah seperti bangunan dan tanahnya. Jadi Ushul Fiqh melandasi keberadaan Fiqh. Lalu apabila dilihat dari ranahnya terhadap Fiqh adalah bahwa Ushul Fiqh mengurusi metodologi terkait alasan hukum dan aturan penafsiran suatu arti dan implikasi dari kata perintah ( dari dalil naqli) atau suatu larangan, terhadap pema’naan dari suatu kalam dengan berbagai pembagiannya, tingkah laku nabi sejauh mana yang wajib diikuti juga bagaimana apabila terjadi pertentangan antara satu dalil dengan dalil yang lainnya dan mana yang akan dipakai, terkait keabsahan suatu hadits Rosululloh juga bagaimana melakukan ijtihad? Syaratnya apa serta sejauh mana hasil ijtihad bisa dipakai dan pembahasan lain-lain.

Walaupun dalam lingkup yang berbeda namun penguasaan terhadap Ushul Fiqh sangat penting bagi mahasiswa Hukum karena pada nantinya kitalah yang menjadi pemeran di negeri ini baik sebagai pembuat aturan maupun sebagai penegak hukum. Hal ini tidak hanya Karena menambah khazanah pegetahuan kita juga karena mampu mengasah kemampuan kita untuk melakukan penemuan hukum yang progresif. Prisip-prisip yang ada baik ketika hendak membuat maupun memutus suatu hukum nantinya akan lebih sempurna jika dilandasi penguasaan Ushul Fiqh yang mendalam. Bahkan kebanyakan theory yang diajarkan sebagai acuan hukum positif tidak berbeda dengan muatan ilmu ini ambil contoh misalnya di dalam ketatanegaraan dikenal Stuffenbaw Theory yaitu Hirarki perundang-undangan, masalah yang muncul adalah bagimana dalam tingkata tersebut bisa selalu serasi dan bagaimana pula bila terjadi pertentangan antara aturan yang atas dengan bawahnya. Di dalam ushul Fiqh pun dari beberapa abad yang lalu ( jauh sebelum adanya Stuffenbaw Theory ) hal semacam ini sudah dirumuskan misalnya adalah bagaimana korelasi antara Al-Qur’an sebagai sumber hukum pertama dengan Al-Hadits sebagai kedua juga bagaiamana bila terjadi pertentangan.

Hal yang kedua jika hendak memperoleh suatu Hukum Fiqh maka harus memperhatikan Qowaidul Fiqh ( kaedah2 Fiqh). Dari berbagai aturan hukum baik ibadah, mu’amalah, mu’amalah yang di perluas ( Siyasah, Dusturiyah dll) tidak akan pernah terlepas dari kaedah-kaedah ini. ibaratnya bagi Fiqh, Qowaidul Fiqhiyyah adalah Ruh bagi tubuh. Ia adalah prinsip umum yang diaplikasikan untuk seluruh hukum Fiqh. Untuk penyebutan mudahnya bahwa Qowaidul Fiqhiyyah adalah asas hukum. Asas hukum ini terdiri dari assas kulliyyat artinya sebagai landasn semua hukum yang paling terkenal adalah doktrin lima qoidah pokok yaitu “al-umuuru bimaqosidiha “ artinya segala perbuatan di gantungkan pada niatnya, “al matsaqqotu tajlibu attaisiru” bahwa agama itu mudah “addlororu Yuzalu” pertimbangan madlorot an maslahat untuk suatu perbuatan, “alyaqiinu laa yuzaalu bissyak” agar semua perbuatan dilakukan dengan kemantaban dan keyakinan dan terakhir adalah ”al-‘aadatu muchakkamah” agar aspek cultural masyarakat juga di perhatikan. Selain kaedah umum tersebut juga ada kadah khusus yang berlakunya terbatas yang jumlahnya tentu sangat banyak dan kasuistis.

Demikian tulisan ini semoga lenih memacu kita untuk semakin giat mempelajari aspek2 sistem hukum islam dan semoga bermanfaat dan untuk pembangunan sistem hukum indonesia tentunya agar lebih baik.

Wallohu a’lam bishowab

Kaidah Fiqih

BAB I

A. Latar Belakang Masalah

Para ulama’ ushul telah menetapkan sejumlah kaidah-kaidah tasyri’ yang wajib kita ketahui dan diperhatiakn bagi mereka yang hendak menafairkan nash-nash dari kaidah tersebut, dan juga memperhatikan hukum yang dihasilkan dari nash-nash, baik nash Al-Qur’an maupun Hadits serta illat hukumnya dari sesuatu masalah yang ada.

Para ulama’ fiqih dalam berijtihad senantiasa memperhatikan kaidah-kaidah kulliyah yang tidak kurang nilainya dari prinsip undang-undang internasional, walupun dalam penggunaan namaa dan istilahnya tidak sama. Tujuan dari adanya kaidah-kaidah adalah untuk memelihara jiwa islam dalam menetapkan sebuah hukum dan juda mewujudkaan hukum keadilan, kebenaran, persamaan, kemaslahatan dengan cara memelihara keadaan dharurat yang dibenarkan oleh syara’.

Oleh karena pentingnya adanya kaidah fiqh yang mempunyai peranan penting dalam rangka pembuatan suatu hukum bagi seorang mujtahid sertaa para imam madzab, maka penulis akan sedikit gaambarkan mengenai macam-macam bentuk kaidah yang pokok dalam pembuatan suatu hukum.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, penulis dapat menarik suatu kesimpulan masalah/rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apakah Pengertiaan dari Qowaidul Fiqhiyah ?

2. Apakah Fungsi dari Qowaid Kulliyah ?

3. Ada berapa macam bentuk Qaidah Fiqhiyah dan cara penyusunnya ?

4. Apa yang menjadi sebab adanya pembukuan Qaidah ?

C. Tujuan Pembahasan

Dalam penulisan paper ini penilis bermaksud mewujudkan bentuk analisis sederhana dalam bentuk tulisan atau karya ilmiah dengan tujuan sebagai berikut:

1. Mengetahui apa yang dimaksud dari Qowaidul Fiqhiyah ?

2. Mengetahui berapa macam Qaidaah hukum fiqih dan cara penyusunnya ?

3. Mengetahui sebab-sebab dari pembukuan Qaidah ?

D. Sistematika Pembahasan

Dalam penulisan ini, agar mengetahui dan mudah untuk dipahami, maka penulis dalam pembahasannya mennggunakan sistematika sebagai berikut:

Bab I : PENDAHULUAN

Terdiri dari latar belaakang masalah, rumusan masalah, tujuan masalah, dan sitematika pembahasan.

Bab II: MACAM-MACAM KAIDAH HUKUM DAN PENYUSUNNYA

Bab ini merupakan inti dari pembahasan paper ini yang terdiri dari:

Pengertian Qaidul fiqih, Ta’rif qowaid kulliyah serta faedahnya, Macam-macam kaidah hukum fiqhiyah dan penyusunnya, Sebab-sebab pembukuan kaidah.

Bab III: P E N U T U P

Bab ini merupakan akhir dari penulisan paper ini yang terdiri dari : Kesimpulan dan Saran-saran.

BAB II

MACAM-MACAM KAIDAH HUKUM

FIQHIYAH DAN PENYUSUNNYA

A. Pengertian Qowaidul Fiqhiyah.

Untuk memudahkan pemahaman tentang qowaidul fiqhiyah, berikut ini penulis kemukakan pengertiannya dalam segi bahasa maupun pengertian dari segi istilahnya, yang berbunyi sebagai berikut:

Qowaidul fiqhiyah menurut bahasa adalah: dasar-dasar yang bertalian/berhubungan dengan permasalahan/ jenis-jenis hukum (fiqih). Sedangkan menurut istilah dalam ahli ushul, yang biasanya dipakai oleh para ulama’ adalah:

ﺣﻜﻢ ﻛﻠﻲ ﻳﻨﻄﺒﻖ ﻋﻠﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﺟﺰ ﺋﻴﺎﺗﻪ

“Hukum yang biasa berlaku, yang bersesuaian dengan sebagian besar dari bagian-bagiannya”

Sedangkan menurut Imam Tajuddin As-Subky mengatakan bahwa qowaidul fiqhiyah adalah:

ﺍﻷﻣﺮ ﺍﻟﻜﻠﻰ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﻄﺒﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﺰ ﺋﻴﺎﺗﻪ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻳﻔﻬﻢ ﺍﺣﻜﺎﻣﻬﺎ ﻣﻨﻬﺎ

“Suatu perkara yang kulli yang sesuai dengan juziyyah yang banyak dari padanya serta dapat diketahui huku-hukum juz’iyyah itu”.

Qowaid fiqh ialah kaidah-kaidah hukum yang bersifat kulliyah yang diambil dari dalil-dalil yang kulli dan dari maksud syara’ dalam meletakkan mukallaf dibawah beban taklif dan hikmah-hikmahnya. Asrorut Tyasre’ ialah kaidah-kaidah yang menerangkan maksud syara’ dalam meletakkan para mukallaf dibawah beban taklif dan menerangkan bahwa syara’ memperhatikan terhadap pelaksanaan hukum.

Ada beberapa pengertian tentang kaidah, tiga diantaranya ialah :

1. Pengertian kaidah yang dirumuskan oleh As-Syuyuti dalam kitab Asbah Wan Nadhoir sebagaimana yang dikutip oleh Fateh Ridwan dalam kitabnya MinFal safathi At-Tasre’ Al-Islami yang berbunyi sebagai berikut :

ﺣﻜﻢ ﻛﻠﻲ ﻳﻨﻄﺒﻖ ﻋﻠﻯﺠﻤﻴﻊ ﺟﺰ ﺋﻴﺎﺗﻪ

Pengertian kaidah menurut Mustofa Az-Zarqo sebagaimana yang dikutip oleh Ahasbyi As-Syiddiqi yaitu :

ﺣﻜﻢ ﺍﻏﻠﺒﻲ ﻳﻨﻄﺒﻖ ﻋﻠﻯﻤﻌﻈﻢ ﺟﺰ ﺋﻴﺎﺗﻪ

“Kaidah ialah hukum yang bersifat Aglabi (berlaku sebagaian besar) yang meliputi sebagian besar lainnya “.

2. Pengertian kaidah ialah hukum yang bersifat Aglabi yang meliputi semua bagiannya .

B. Ta’rif Qowaid kulliyah dan faidahnya

Diterangkan oleh Dr. Mahmas Hani bahwa para fuqoha’ telah menta’rifkan kaidah kulliyah sebagai berikut :

ﺣﻜﻢ ﺍﻏﻠﺒﻲ ﻳﻨﻄﺒﻖ ﻋﻠﻯﻤﻌﻈﻢ ﺟﺰ ﺋﻴﺎﺗﻪ

“ Suatu hukum kulli yang bersesuain dengan segala suku-sukunya”.

Kaidah itu mengumpulkan segala furu’ yang terdapat dalam berbagai bab, dengan inilah dia berada dari yang dinamai Dhobith yaitu : dasar-dasar yang hanya mengumpulkan furu’ dari segala sesuatu bab saja. Ringkasnya qoidah kulliyah itu tidak lain adalah merupakan prinsip-prinsip umum yang melengkapi kebanyakan juziyahnya dan ditegakkan atas dasar lebih banyak yang dicakup olehnya dari pada tidak.

Faidah yang nyata ialah memudahkan kita dalam memahami masalah dan prinsip-prinsip umum, perlu diperingatkan bahwa kita tidak dapat terus menerus untuk berpegangan pada kaidah-kaidah itu jika ada suatu dalil yang tegas dan memberi penjelasan terhadap kaidah-kaidah tersebut. Al-Qorofi dalam kitabnya Al-Furu’ menjelaskan bahwa pokok-pokok syariat Islam terbagi menjadi dua macam yaitu :

a. Kaidah-kaidah kulliyah :

kaidah kulliyah mencakup maksud syara’ atau hikmah-hikmah hukum antara lain :

1. Keadaan yang dhorurot dapat membolehkan kepada hal-hal yang terlarang

ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺍﺕ ﺗﺒﻴﺢ ﺍﻟﻤﺤﻈﻮﺭﺍﺕ

2. Apa yang dibolehkan karena dhorurot, maka harus diukur menurut kadar dhorurot itu

ﻣﺎ ﺍﺑﻴﺢ ﻟﻠﻀﺮﻭﺭﺍﺕ ﻳﻘﺪﺭ ﺑﻘﺪﻫﺎ

3. Menolak kerusakan didahulukan atas menarik kemaslahatan

ﺩﺭﺀﺍﻟﻤﻔﺎﺳﺪ ﻣﻘﺪﻡ ﻋﻠﻯﺠﻠﺐ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ

4. Kesukaran menarik kemudahan

ﺍﻟﻤﺸﻘﺔ ﺗﺠﻠﺐ ﺍﻟﺘﻴﺴﻴﺮ

5. Adat atau kebiasaan merupakan sesuatu yang dapat dijadikan hukum

ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻣﺤﻜﻤﺔ

6. Pokok hukum terhadap suatu perkara ialah membolehkan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi :

ﻭﺧﻠﻖ ﻟﻜﻢ ﻣﺎﻓﻯﺎﻻﺭﺽ ﺟﻤﻴﻌﺎ

“ Dan ia (Allah) menjadikan untuk kamu dari segala sesuatu yang ada di bumi”

b. Kaidah-kaidah Ushul Fiqh

Kaidah-kaidah ini dipergunakan untuk membuat hukum yang diambil dari dalil-dalil syare’ secara tafsili. Kaidah-kaidah itu ialah sebagai berikut :

1). Qiyas, Ijma’, Sunnah Mutawatir.

2). Lafadz Am merupakan hujjah untuk diterapkan kepada hal umum

3). Yang dinilai adalah lafadz bukan khusus sebab

4). Dalalatun Nash, lafadz Am, Lafadz Nahyu dapat menunjukkan keharaman

Pada hal ilmu-ilmu ini digunakan untuk para mujtahid ialah untuk menghasilkan kemampuan beristinbath untuk memperoleh suatu hukum. Dan bagi yang bukan mujtahid maka dengan memperdalam ilmu ini akan dapat mengetahui bagaimana proses pencarian hukum yang dilakukan oleh para mujtahid.

C. Macam-macam kaidah Hukum dan Penyusunnya

Menurut Al-Korofi mengatakan bahwa sesungguhnya syari’at yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, didalamnya memuat beberapa pokok dasar dan cabang-cabang dari syariat itu. Adapun pokok dan dasarnya ada dua macam yaitu :

Pertama : yang disebut ushul Fiqh yang sebagian besar pembahasan mengenai kaidah-kaidah hukum yang ada berasal dari suatu lafadz, kedua : yang disebut kaidah-kaidah fiqh yang bersifat kulli yang mempunyai jumlah besar nilainya dan mempunyai banyak masalah cabang yang tidak dapat terhitung jumlahnya.

Kaidah-kaidah fiqhiyah yang disusun oleh para ulama fiqih dan kaidah ushul fiqh adalah dengan cara melalui pengkajian-pengkajian terhadap dua aspek yaitu aspek bahasa dan aspek syariat. Hanya saja dalam meyusun kaidah-kaidah hukm tersebut adanya perbedaan methode atau cara yang digunakan oleh para ulama dalam penggalian hukumnya. Methode tersebut antara lain :

1. Toriqoh (metodhe mutakallim atau metode syafi’iyah) yang menyusun kaidah-kaidah hukum secara logis dan filosofis dengan cara memperhatikan kepada dua aspek dan kaidah-kaidah hukum menentukan masalh-masalah furu’ tanpa memperhatikan adanya kesesuaian atau tidaknya dengan pendirian madzhabnya.

2. Toriqoh (Metode hanafiyah atau metode induktif ) yang didalamnya menyusun kaidah-kaidah hukum untuk diterapkan kepada masalah furu’iyah (cabang), yang disesuaikan dengan dengan madzhab Hanafi.

3. Toriqoh (metode mutakallimin dan Syafi’iyah dengan metode hanafiyah atau deduktif dan induktif)

Maka disusunlah kitab-kitab yang memakai penggabungan dari dua metode tersebut. Pertamanya disusun kaidah-kaidahnya terdahulu (usuliyah atau fiqhiyah), kemudian baru diterapkan dan disesuaikan dengan furu’nya berdasarkan sesuai dengan madzhabnya. Kitab yang disusun dengan memakai metode gabungan antara metode mutakallimin dan metode hanafiyah antara lain adalah :

a). kitab Jam’u Jawami’ karangan Tadjuddin Abduol Wahab As-Subki As-Syafi’I (wafat tahun 771 H ).

b). Kitab At-Tahrer karangan Kamaluddin Ibnu Hammam (wafat tahun 861 ) dan kitab muslim As-syubut karangan Muhibbudin Bin Abduh As-Syakur Al-Hindi.

c). Kitab Badi’ AN Nidhom karangan Ahmad Bin Ali Al-Bagdadi (wafat tahun 694 H ), kitab ini menggabungkan kitah ushul karangan Al-Bazdawi dengan kitab Al-Ilham karangan Al-amidi.

D. Sebab-sebab Pembukuan Qoidah

Sebab ulama’ membukukan qoidah-qoidah kulliyah adalah karena para muhakkikin telah mengembalikan segala masalah fiqih kepada qoidah kulliyah. Tiap-tiap dari qoidah itu menjadi dhobit dan pengumpulan bagi banyak masalah. Qoidah-qoidah tersebut oleh seluruh pihak dii’tibarkan dan dijadikan sebagai dalil untuk menetapkan suatu permasalahan. Memahami qoidah itu menyebabkan kita merasa tertarik untuk menetapkan masalah-masalah tersebut yang disertai dengan penggunaan dalilnya.

BAB III

P E N U T U P

A.Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan penjelasan terdapat dalam Bab II diatas, dapatlah penulis memberikan kesimpulan sebagai berikut:

1.Qowaidul Fiqhiyah menurut bahasa adalah dasar-dasar yang berhubungan dengan masalah-masalah hukum (fiqih), sedangkan menurut istilah ahli ushul adalah hukum yang biasa berlaku yaang bersesuaian dengan sebagian besar bagiannya.

2.Qaidah-qaidah kulliyah itu tiada lain daripada prinsip-prinsip umum yang melengkapi kebanyakan juziyyah dan ditegakkan atas dasar lebih banyak yang dicakup olehnya daripada tidak.

3.Sebab para ulama’ membukukan qaidah-qaidah kulliyah adalah karena para muhaqqiqin telah mengembalikan segala masalah fiqih kepada kaidah kulliyah.

B.Saran-saran

Setidaknya setelah kita memperdalami masalah-masalah yang berhubungan dengan ushul fiqh maupun fiqih, marilah kita aplikasikan kedalam pengamalan yang didalamnya justru akan dapat menjelaskan bagi orang-orang yang masih kurang begitu memahaminya, dan marilah kita gali secara terus menerus masalah-masalah yang ada di zaman yang serba modern ini.

DAFTAR PUSTAKA

1.T.M. Hasbi Ash Shiddeqi, Prof. Dr, Penagntar Hukum Islam, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1993.

2.Masjfuk Zuhdi, Prof. Dr. H, Pengantar Hukum Syari’ah, Penerbit CV. H. Mas Agung, Jakarta, 1978.

3.Nadzar Bahri, Drs, Fiqih dan Ushul Fiqih, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993.

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah

Qawaidul fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqh) adalah suatu kebutuhan bagi kita semua khususnya mahasiswa fakultas syari’ah. Banyak dari kita yang kurang mengerti bahkan ada yang belum mengerti sama sekali apa itu Qawaidul fiqhiyah.

Maka dari itu, kami selaku penulis mencoba untuk menerangkan tentang kaidah-kaidah fiqh, mulai dari pengertian, sejarah, perkembangan dan beberapa urgensi dari kaidah-kaidah fiqh.

Dengan menguasai kaidah-kaidah fiqh kita akan mengetahui benang merah yang menguasai fiqh, karena kaidah fiqh itu menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqh, dan lebih arif di dalam menerapkan fiqh dalam waktu dan tempat yang berbeda untuk kasus, adat kebiasaan, keadaan yang berlainan. Selain itu juga akan lebih moderat di dalam menyikapi masalah-masalah sosial, ekonomi, politin, budaya dan lebih mudah mencari solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan berkembang dalam masyarakat.

II. Rumusan Masalah

1. Mengerti dan memahami pengertian dan sejarah perkembangan kaidah-kaidah fiqh

2. Menyebutkan pembagian kaidah fiqh

3. Apakah manfaat dan urgensi dari kaidah-kaidah fiqh?

4. Bagaimana kedudukan dan sistematika kaidah fiqh?

5. Apa beda kaidah ushul dan kaidah fiqh?

6. Mengetahui apa itu kaidah umum dan kaidah asasi

III. Tujuan Pembahasan

Makalah ini disusun bertujuan agar kita mengetahui, memahami dan mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan kaidah-kaidah fiqh, mulai dari definisi, pembagian dan sistematika kaidah fiqh.

BAB II

PEMBAHASAN

I. Pengertian

Sebagai studi ilmu agama pada umumnya, kajian ilmu tentang kaidah-kaidah fiqh diawali dengan definisi. Defenisi ilmu tertentu diawali dengan pendekatan kebahasaan. Dalam studi ilmu kaidah fiqh, kita kita mendapat dua term yang perlu dijelaskan, yaitu kaidah dan fiqh.

Qawaid merupakan bentuk jamak dari qaidah, yang kemudian dalam bahasa indonesia disebut dengan istilah kaidah yang berarti aturan atau patokan. Ahmad warson menembahkan bahwa, kaidah bisa berarti al-asas (dasar atau pondasi), al-Qanun (peraturan dan kaidah dasar), al-Mabda’ (prinsip), dan al-nasaq (metode atau cara). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 26 :

”Allah akan menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya”.

(Q.S. An-Nahl : 26)

Sedangkan dalam tinjauan terminologi kaidah punya

beberapa arti, menurut

Dr. Ahmad asy-syafi’i dalam buku Usul Fiqh Islami, mengatakan bahwa kaidah itu adalah :

”Kaum yang bersifat universal (kulli) yangh diakui oleh satuan-satuan hukum juz’i yang banyak”. [1]

Sedangkan mayoritas Ulama Ushul mendefinisikan kaidah dengan :

”Hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengan

sebagian besar bagiannya”. [2]

Sedangkan arti fiqh ssecara etimologi lebih dekat dengan ilmu, sebagaimana yang banyak dipahami, yaitu :

”Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama”

(Q.S. At-Taubat : 122)

Dan juga Sabda Nabi SAW, yaitu :

Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya diberikan kepadanya kepahaman dalam agama .

Sedangkan menurut istilah, Fiqh adalah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah (praktis ) yang diambilkan dari dalil-dalil yang tafsili (terperinci )

Jadi, dari semua uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa Qawaidul fiqhiyah adalah :

”Suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagian-bagian atau cabang-cabangnya yang banyak yang dengannya diketahui hukum-hukum cabang itu”.

Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa setiap kaidah fiqhiyah telah mengatur beberapa masalah fiqh dari berbagai bab.

II. Sejarah Perkembangan Qawaidul Fiqhiyah

Sejarah perkembangan dan penyusunan Qawaidul Fiqhiyah

diklarifikasikan menjadi 3 fase, yaitu :

1. Fase pertumbuhan dan pembentuka

Masa pertumbuhan dan pembentukan berlangsung selama tiga abad lebih.

Dari zaman kerasulan hingga abad ke-3 hijrah. Periode ini dari segi pase sejarahhukumi islam, dapat dibagi menjadi tiga zaman Nabi muhammad SAW, yang berlangsung selama 22 tahun lebih (610-632 H / 12 SH-10 H), dan zaman tabi’in serta tabi’ tabi’in yang berlangsung selama 250 tahun (724-974 M / 100-351 H). Tahun 351 H / 1974 M, dianggap sebagai zaman kejumudan, karena tidak ada lagi ulama pendiri maazhab. Ulama pendiri mazhab terakhir adalah Ibn Jarir al-Thabari (310 H / 734 M), yang mendirikan mazhab jaririyah.

Dengan demikian, ketika fiqh telah mencapai puncak kejayaan, kaidah fiqh baru dibentuk dab ditumbuhkan. Ciri-ciri kaidah fiqh yuang dominan adalah Jawami al-Kalim

(kalimat ringkas tapi cakupan maknnya sangat luas). Atas dasar ciri dominan tersebut, ulama menetapkan bahwa hadits yang mempunyai ciri-ciri tersebut dapat dijadikan kaidah fiqh. Oleh karena itulah periodesasi sejarah kaidah fiqih dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Sabda Nabi Muhammad SAW, yang jawami al-Kalim dapat ditinjau dari dua segi, yaitu :

· Segi sumber : Ia adalah hadits, oleh karena itu, ia menjadi dalil hukum islam yang tidak mengandung al-Mustasnayat

· Segi cakupan makna dan bentuk kalimat : Ia dikatakan sebagai kaidah fiqh karena kalimatnya ringkas, tapi cakupan maknanya luas.

Beberapa sabda Nabi Muhammad SAW yang dianggap sebagai kaidah fiqh, yaitu :

”pajak itu disertai imbalan jaminan”

”Tidak boleh menyulitkan (orang lain) dan tidak boleh dipersulitkan (oleh orang lain)” [3]

Demikian beberapa sabda Nabi Muhammad SAW, yang dianggap sebagai kaidah fiqh. Generasi berikutnya adalah generasi sahabat, sahabat berjasa dalam ilmu kaidah fiqh, karena turut serta membentuk kaidah fiqh. Para sahabat dapat membentuk kaidah fiqh karena dua keutamaan, yaitu mereka adalah murid Rasulullah SAW dan mereka tahu situasi yang menjadi turunnya wahyu dan terkadang wahyu turun berkenaan dengan mereka.

Generasi berikutnya adalah tabi’in dan tabi’ tabi’in selama 250 tahun. Diantara ulama yang mengembangkan kaidah fiqh pada generasi tabi’in adalah Abu Yusuf Ya’kub ibn Ibrahim (113-182), dengan karyanya yang terkenal kitab Al-Kharaj, kaidah-kaidah yang disusun adalah :

”Harta setiap yang meninggal yang tidak memiliki ahli waris diserahkan ke Bait al- mal”

Kaidah tersebut berkenaan dengan pembagian harta pusaka Baitul Mal sebagai salah satu lembaga ekonomi umat Islamdapat menerima harta peninggalan (tirkah atau mauruts), apbila yang meninggal dunia tidak memiliki ahli waris.

Ulama berikutnya yang mengembangkan kaidah fiqh adalah

Imam Asy-Syafi’i, yang hidup pada fase kedua abad kedua hijriah (150-204 H), salah satu kaidah yang dibentuknya, yaitu :

”Sesuatu yangh dibolehkan dalah keadaan terpaksa adalah tidak diperbolehkan ketika tidak terpaksa”

Ulama berikutnya yaitu Imam Ahmad bin Hambal (W. 241 H), diantara kaidah yang dibangun oleh Imam Ahmad bin Hambal, yaitu :

”Setiap yang dibolehkan untuk dijual, maka dibolehkan untuk dihibahkan dan digadaikan”

2. Fase perkembangan dan kodifikasi

Dalah sejarah hukum islam, abad IV H, dikenal sebagai zaman taqlid. Pada zaman ini, sebagian besar ulama melakukan tarjih (penguatan-penguatan) pendapat imam mazhabnya masing-masing. Usaha kodifikasi kaidah-kaidah fiqhiyah bertujuan agar kaidah-kaidah itu bisa berguna bagi perkembangan ilmu fiqh pada masa-masa berikutnya.

Pada abad VIII H, dikenal sebagai zaman keemasan dalam kodifikasi kaidah fiqh, karena perkembangan kodifikasi kaidah fiqh begitu pesat. Buku-buku kaidah fiqh terpenting dan termasyhur abad ini adalah :

· Al-Asybah wa al-Nazha’ir, karya ibn wakil al-Syafi’i (W. 716 H)

· Kitab al-Qawaid, karya al-Maqarri al-maliki (W. 750 H)

· Al-Majmu’ al-Mudzhab fi Dhabh Qawaid al-Mazhab, karya al-Ala’i al-Syafi’i (W. 761 H)

· Al-Qawaid fi al-Fiqh, karya ibn rajab al-Hambali (W. 795 H)

3. Fase kematangan dan penyempurnaan

Abad X H dianggap sebagai periode kesempurnaan kaidah fiqh, meskipun demikian tidak berarti tidak ada lagi perbaikan-perbaikan kaidah fiqh pada zaman sesudahnya. Salah satu kaidah yang disempurnakan di abad XIII H adalah

“seseorang tidak dibolehkan mengelola harta orang lain, kecuali ada izin dari pemiliknya”

Kaidah tersebut disempurnakan dengan mengubah kata-kata idznih menjadi idzn. Oleh karena itu kaidah fiqh tersebut adalah :

“seseorang tidak diperbolehkan mengelola harta orang lain tanpa izin”

III. Pembagian Kaidah Fiqh

Cara membedakan sesuatu dapat dilakukan dibeberapa segi :

1. Segi fungsi

Dari segi fungsi, kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sentral dan marginal. Kaidah fiqh yang berperan sentral, karena kaidah tersebut memiliki cakupan-cakupan yang begitu luas. Kaidah ini dikenal sebagai al-Qawaid al-Kubra al-Asasiyyat, umpamanya :

”Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum”

kaidah ini mempunyai beberapa turunan kaidah yang berperan marginal, diantaranya :

”Sesuatu yang dikenal secara kebiasaan seperti sesuatu yang telah ditentukan sebagai syarat”

”Sesuatu yang ditetapkan berdasarkan kebiasaan seperti ditetapkan dengan naskh”

Dengan demikian, kaidah yang berfungsi marginal adalah kaidah yang cakupannya lebih atau bahkan sangat sempit sehingga tidak dihadapkan dengan furu’

2. Segi mustasnayat

Dari sumber pengecualian, kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : kaidah yang tidak memiliki pengecualian dan yang mempunyai pengecualian.

Kaidah fiqh yang tidak punya pengecualian adalah sabda Nabi Muhammad SAW. Umpamanya adalah :

”Bukti dibebankan kepada penggugat dan sumpah dibebankan kepada tergugat”

Kaidah fiqh lainnya adalah kaidah yang mempunyai pengecualian kaidah yang tergolong pada kelompok yang terutama diikhtilafkan oleh ulama.

3. Segi kualitas

Dari segi kualitas, kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu :

· Kaidah kunci

Kaidah kunci yang dimaksud adalah bahwa seluruh kaidah fiqh pada dasarnya, dapat dikembalikan kepada satu kaidah, yaitu :

”Menolak kerusakan (kejelekan) dan mendapatkan maslahat”

Kaidah diatas merupakan kaidah kunci, karena pembentukan kaidah fiqh adalah upaya agar manusia

terhindar dari kesulitan dan dengan sendirinya ia mendapatkan kemaslahatan.

· Kaidah asasi

Adalah kaidah fiqh yang tingkat kesahihannya diakui oleh seluruh aliran hukum islam. Kaidah fiqh tersebut adalah :

”Perbuatan / perkara itu bergantung pada niatnya”

”Kenyakinan tidak hilang dengan keraguan”

”Kesulitan mendatangkan kemudahan”

”Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum”

· Kaidah fiqh yang diterima oleh semua aliran hukum sunni

Kaidah fiqh yang diterima oleh semua aliran hukum sunni adalah ” majallah al-Ahkam al-Adliyyat ”, kaidah ini dibuat di abad XIX M, oleh lajnah fuqaha usmaniah.

IV. Manfaat Kaidah Fiqh

Manfaat dari kaidah Fiqh (Qawaidul Fiqh) adalah :

1. Dengan kaidah-kidah fiqh kita akan mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh dan akan mengetahui pokok masalah yang mewarnai fiqh dan kemudian menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqh

2. Dengan memperhatikan kaidah-kaidah fiqh akan lebih mudah menetapkan hukum bagi masalah-masalah yang dihadapi

3. Dengan kaidah fiqh akan lebih arif dalam menerapkan materi-materi dalam waktu dan tempat yang berbeda, untuk keadaan dan adapt yang berbeda

4. Meskipun kaidah-kaidah fiqh merupakan teori-teori fiqh yang diciptakan oleh Ulama, pada dasarnya kaidah fiqh yang sudah mapan sebenarnya mengikuti al-Qur’an dan al-Sunnah, meskipun dengan cara yang tidak langsung

Menurut Imam Ali al-Nadawi (1994)

1. Mempermudah dalam menguasai materi hokum

2. kaidah membantu menjaga dan menguasai persoalan-persoalan yang banyak diperdebatkan

3. Mendidik orang yang berbakat fiqh dalam melakukan analogi (ilhaq) dan takhrij untuk memahami permasalahan-permasalahnan baru.

4. mempermudah orang yang berbakar fiqh dalam mengikuti (memahami) bagian-bagian hokum dengan mengeluarkannya dari tema yang berbeda-beda serta meringkasnya dalam satu topic

5. Meringkas persoalan-persoalan dalam satu ikatan menunjukkan bahwa hokum dibentuk untuk menegakkan maslahat yang saling berdekatan atau menegakkan maslahat yang lebih besar

6. Pengetahuan tentang kaidah fiqh merupakan kemestian karena kaidah mempermudah cara memahami furu’ yang bermacam-macam

V. Urgensi Qawaidul Fiqhiyah

Kaidah fiqh dikatakan penting dilihat dari dua sudut :

1. Dari sudut sumber, kaidah merupakan media bagi peminat fiqh Islam untuk memahami dan menguasai

muqasid al-Syari’at , karena dengan mendalami beberapa nashsh, ulama dapat menemukan persoalan esensial dalam satu persoalan

2. Dari segi istinbath al-ahkam , kaidah fiqh mencakup beberapa persoalan yang sudah dan belum terjadi. Oleh karena itu, kaidah fiqh dapat dijadikan sebagai salah satu alat dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi yang belum ada ketentuan atau kepastian hukumnya.

Abdul Wahab Khallaf dalam ushul fiqhnya bertkata bahwa hash-nash tasyrik telah mensyariatkan hokum terhadap berbagai macam undang-undang, baik mengenai perdata, pidana, ekonomi dan undang-undang dasar telh sempurna dengan adanya nash-nash yang menetapkan prinsip-prinsip umum dan qanun-qanun tasyrik yang kulli yang tidak terbatas suatu cabang undang-undang.

Karena cakupan dari lapangan fiqh begitu luas, maka perlu adanya kristalisasi berupa kaidah-kaidah kulli yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah-masalah furu’ menjadi beberapa kelompok. Dengan berpegang pada kaidah-kaidah fiqhiyah, para mujtahid merasa lebih mudah dalam mengistinbathkan hukum bagi suatu masalah, yakni dengan menggolongkan masalah yang serupa di bawah lingkup satu kaidah.

Selanjutnya Imam Abu Muhammad Izzuddin ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah fiqhiyah adalah sebagai suatu jlan untuk mendapatkan suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta bagaimana menyikapi kedua hal tersebut. Sedangkan al-Qrafy dalam al-Furuqnya menulis bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang pada kaidah fiqhiyah, karena jika tidak berpegang paa kaidah itu maka hasil ijtihatnya banyak pertentangan dan berbeda antara furu’-furu’ itu. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu’nya dan mudah dipahami oleh pengikutnya.

VI. Kedudukan Qawaidul Fiqhiyah

Kaidah fiqh dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Kaidah fiqh sebagai pelengkap, bahwa kaidah fiqh digunakan sebagai dalil setelah menggunakan dua dalil pokok, yaitu al-Qur’an dan sunnah. Kaidah fiqh yang dijadikan sebagai dalil pelengkap tidak ada ulama yang memperdebatkannya, artinya ulama “sepakat” tentang menjadikan kaidah fiqh sebagai dalil pelengkap.

2. Kaidah fiqh sebagai dalil mandiri, bahwa kaidah fiqh digunakan sebagai dalil hukumyang berdiri sendiri, tanpa menggunakan dua dalil pokok. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan kaidah fiqh sebagai dalil hokum mandiri. Imam al-Haramayn al-Juwayni berpendapat bahwa kaidah fiqh boleh dijadikan dalil mandiri.

Namun al_Hawani menolak pendapat Imam al-Haramayn al-juwayni. Menurutnya, menurut al-Hawani , berdalil hanya dengan kaidah fiqh tidak dibolehkan. Al-Hawani mengatakan bahwa setiap kaidah bersifat pada umumnya, aglabiyat, atau aktsariyat. Oleh karena itu, setiap kaidah mempunyai pengecualian-pengecualian. Karena memiliki pengecualian yang kita tidak mengetahui secara pasti pengecualian-pengecualian tersebut, kaidah fiqh tidak dijadikan sebagai dalil yang berdiri sendiri merupakan jalan keluar yang lebih bijak.

Kedudukan kaidah fiqh dalam kontek studi fiqh adalah simpul sederhana dari masalah-masalah fiqhiyyat yang begitu banyak. Al-syaikh Ahmad ibnu al-Syaikh Muhammad al-Zarqa berpendapat sebagai berikut : “kalau saja tidak ada kaidah fiqh ini, maka hukum fiqh yang bersifat furu’iyyat akan tetap bercerai berai.”

Dalam kontek studi fiqh, al-Qurafi menjelaskan bahwa syar’ah mencakup dua hal : pertama, ushul; dan kedua, furu’ ,

Ushul terdiri atas dua bagian, yaitu ushul al-Fiqh yang didalamnya terdapat patokan-patokan yang bersifat kebahasaan; dan kaidah fiqhyang di dalamnya terdapat pembahasan mengenai rahasia-rahasia syari’ah dan kaidah-kaidah dari furu’ yang jumlahnya tidak terbatas.

VII. Sistematika Qawaidul Fiqhiyah

Pada umumnya pembahasan qawaidul fiqhiyah berdasarkan pembagian kaidah-kaidah asasiah dan kaidah-kaidah ghairu asasiah. Kaidah-kaidah asasiah adalah kaidah yang disepakati oleh Imam Mazhahib tanpa diperselisihkan kekuatannya, jumlah kaidah asasiah ada 5 macam, yaitu :

1. Segala macam tindakan tergantung pada tujuannya

2. Kemudaratan itu harus dihilangkan

3. Kebiasaan itu dapat menjadi hukum

4. Yakin itu tidak dapat dihilangkan dengan keraguan

5. Kesulitan itu dapat menarik kemudahan.

Sebagian fuqaha’ menambah dengan kaidah “tiada pahala kecuali dengan niat.” Sedangkan kaidah ghairu asasiah

adalah kaidah yang merupakan pelengkap dari kaidah asasiah, walaupun keabsahannya masih tetap diakui.

VIII. Perbedaan Kaidah Ushul dan Kaidah Fiqh

1. Kaidah ushul adalah cara menggali hukum syara’ yang praktis. Sedangkan kaidah fiqh adalah kumpulan hukum-hukum yang serupa yang kembali kepada satu hukum yang sama.

2. Kaidah-kaidah ushul muncul sebelum furu’ (cabang). Sedangkan kaidah fiqh muncul setelah furu’.

3. Kaidah-kaidah ushul menjelaskan masalah-masalah yang terkandung di dalam berbagai macam dalil yang rinciyang memungkinkan dikeluarkan hukum dari dalil-dalil tersebut. Sedangkan kaidah fiqh menjelaskan masalh fiqh yang terhimpun di dalam kaidah.

IX. Kaidah-kaidah Fiqh yang Asasi

1. Meraih kemaslahatan dan menolak kemafsadatan

Izzuddin bin Abdul as-Salam di dalam kitabnya Qawaidul al-Ahkam fi mushalih al-Anam mengatakan bahwa seluruh syari’ah itu adalah muslahat, baik dengan cara menolak mafsadat atau dengan meraih maslahat. Kerja manusia itu ada yang membawa kepada kemaslahatan, adapula ynag menyebabkan mafsadat. Seluruh maslahat itu diperintahkan oleh syari’ah dan seluruh yang mafsadat dilarang oleh syari’ah.

2. Al-Qawaid al-Khamsah (lima kaidah asasi)

Kelima kaidah asasi tersebut sebagai berikut :

a. Kaidah asasi pertama

“segala perkara tergantung kepada niatnya”

Niat sangat penting dalam menentukan kualitas ataupun makna perbuatan seseorang, apakah seseorang melakukan perbuatan itu dengan niat ibadah kepada Allah dengan melakukan perintah dan menjauhi laranganNya. Ataukah dia tidak niat karena Allah, tetapi agar disanjung orang lain.

b. Kaidah asasi kedua

“keyakinan tisak bisa dihilangkan dengan adanya keraguan”

c. Kaidah asasi ketiga

“kesulitan mendatangkan kemudahan”

Makna dari kaidah diatas adalah bahwa hukum-hukum yang dalam penerapannya menimbulkan kesulitan dan kesukaran bagi mukallaf , maka syari’ah meringankannya, sehingga mukallaf mampu melaksanakannya tanpa kesulitan dan kesukaran.

d. Kaidah asasi keempat

“kemudhoratan harus dihilangkan”

Kaidah tersebut kembali kepada tujuan merealisasikan

maqasid al-Syari’ah dengan menolak yang mufsadat, dengan cara menghilangkan kemudhoratan atau setidak-tidaknya meringankannya.

e. Kaidah asasi kelima

“adat kebiasaan dapat dijadikan (pertimbangan) hukum”

Adat yang dimaksudkan kaidah diatas mencakup hal yang penting, yaitu : di dalam adapt ada unsure berulang-ulang dilakukan, yang dikenal sebagai sesuatu yang baik.

X. Kaidah-kaidah Fiqh yang umum

Kaidah-kaidah Fiqh yang umum terdiri dari 38 kaidah, namun disini kami hanya menjelaskan sebagiannya saja, yaitu :

1. “ijthat yang telah lalu tidak bisa dibatalkan oleh ijtihat yang baru”

Hail ini berdasarkan perkataan Umar bin Khattab :

“itu adalah yang kami putuskan pada masa lalu dan ini adalah yang kami putuskan sekarang”

2. “apa yang haram diambil haram pula diberikannya”

Atas dasar kaidah ini, maka haram memberikan uang hasil korupsi atau hasil suap. Sebab, perbuatan demikian bisa diartikan tolong menolong dalam dosa.

3. “Apa yang tidak bisa dilaksanakan seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya”

4. “Petunjuk sesuatu pada unsure-unsur yang tersembunyi mempunyai kekuatan sebagai dalil”

Maksud kaidah ini adalah ada hal-hal yang sulit diketahui oleh umum, akan tetapi ada tanda-tanda yang menunjukkan hal tadi. Contoh dari kaidah ini, seperti : Barang yang dicuri ada pada si B, keadaan ini setidaknya bisa jadi petunjuk bahwa si B adalah pencurinya, kecuali dia bisa membuktikan bahwa barang tersebut bukan hasil curian.

5. “Barang siapa yang mempercepat sesuatu sebelum waktunya, maka menanggung akibat tidak mendapat sesuatu tersebut”

Contah dari kaidah ini : Kita mempercepat berbuka pada saat kita puasa sebelum maghrib tiba.

XI. Kaidah-kaidah Fiqh yang khusus

Banyak kaidah fiqh yang ruang lingkup dan cakupannya lebih sempit dan isi kandungan lebih sedikit. Kaidah yang semacam ini hanya berlaku dalam cabang fioqh tertentu, yaitu :

1. Kaidah fiqh yang khusus di bidang ibadah mahdah

“Setiap yang sah digunakan untuk shalat sunnah secara mutlak sah pula digunakan shalat fardhu”

2. Kaidah fiqh yang khusuh di bidang al-Ahwal al-Syakhshiyah

Dalam hukum islam, hukum keluarga meliputi : pernikahan, waris, wasiat, waqaf dzurri (keluarga) dan hibah di kalangan keluarga. Salah satu dari kaidah ini, yaitu

“Hukum asal pada masalah seks adalah haram”

Maksud kaidah ini adalah dalam hubungan seks, pada asalnya haram sampai datang sebab-sebab yang jelasdan tanpa meragukan lagi yang menghalalkannya, yaitu dengan adanya akad pernikahan.

3. Kaidah fiqh yang khusus di bidang muamalah atau transaksi

“Hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya”

Maksud dari kaidah ini adalah bahwa setiap muamalah dan transaksi, pada dasarnya boleh, seperti : jual beli, sewa-menyewa, kerja sama. Kecuali yang tegas-tegas diharamkan seperti yang mengakibatkan kemudharatan, penipuan, judi dan riba.

4. Kaidah fiqh yang khusus di bidang jinayah

Fiqh jinayah adalah hukum islam yang membahas tentang aturan berbagai kejahatan dan sanksinya; membahas tentang pelaku kejahatan dan perbuatannya. Salah satu kaidah khusus fiqh jinayah adalah :

“Tidak boleh seseorang mengambil harta orang lain tanpa dibenarkan syari’ah”

Pengambilan harta orang lain tanpa dibenarkan oleh syari’ah adalah pencurian atau perampokan harta yang ada sanksinya, tetapi jika dibenarkan oleh syari’ah maka diperbolehkan. Misalnya : petugas zakat dibolehkan mengambil harta zakat dari muzaki yang sudah wajib mengeluarkan zakat.

5. Kaidah fiqh yang khusus di bidang siyasah

“Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung kepada kemaslahatan”

Kaidah ini menegaskan bahwa seorang pemimpin harus beorientasi kepada kemaslahatan rakyat, bukan mengikuti keinginan hawa nafsunya atau keluarganya maupun golongannya.

6. Kaidah fiqh yang khusus fiqh qadha (peradilan dan hukum acara)

Lembaga peradilan saat ini berkembang dengan pesat, baik dalam bidangnya, seperti mahkamah konstitusi maupun tingkatnya, yaitu dari daerah sampai mahkamah agung. Dalam islam hal ini sah-sah saja, diantara kaidah fiqh dalam bidang ini yaitu :

“Perdamaian diantara kaum muslimin adalah boleh kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”

Perdamaian antara penggugat dan tergugat adalah baik dan diperbolehkan, kecuali perdamaian yang berisi menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

BAB III

PENUTUP

I. Kesimpulan

1. Kaidah-kaidah fiqh ituterdiri dari banyak pengertian, karena kaidah itu bersifat menyeluruh yang meliputi bagian-bagiannya dalam arti bisa diterapkan kepada juz’iyatnya (bagian-bagiannya)

2. Salah satu manfaat dari adanya kaidah fiqh, kita akan mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh dan akan mengetahui pokok masalah yang mewarnai fiqh dam kemudian menjadi titik temu dari masalah-masalahfiqh.

3. Adapun kedudukan dari kaidah fiqh itu ada dua, yaitu :

· Sebagai pelengkap, bahwa kaidah fiqh digunakan sebagai dalil setelah menggunakan dua dalil pokok, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.

· Sebagai dalil mandiri, bahwa kaidah fiqh digunakan sebagai dalil hukum yang berdiri sendiri, tanpa menggunakan dua dalil pokok.

II. Saran

Penyusun makalah ini hanya manusia yang dangkal ilmunya, yang hanya mengandalkan buku referensi. Maka dari itu penyusun menyarankan agar para pembaca yang ingin mendalami masalah Qawaidul Fiqhiyah, agar setelah membaca makalah ini, membaca sumber-sumber lain yang lebih komplit, tidak hanya sebatas membaca makalah ini saja.

DAFTAR PUSTAKA

Djazuli, HA, 2006, Kaidah-kaidah fiqh, Jakarta : kencana

Mujib, Abdul, 1978, Al-Qawaidul Fiqhiyah, Malang : Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel

Usman, Muslih, 1999, Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah,

Jakarta : Rajawali Pers

Effendi, Satria, 2005, Ushul Fiqh, Jakarta : Kencana

Mubarok, Jaih, 2002, Kaidah Fioqh, Jakarta : Rajawali Pers

Djazuli, HA, 2005, Ilmu Fiqh, Jakarta : Kencana

Asjmuni, A Rahman, 1976, Kaidah-kaidah Fiqh, Jakarta : Bulan Bintang

Ash-shiddiqie, Hasbi, 1999, Mabahits fi al-Qawaidul Fiqhiyah.

Al-Nadwi, Ali Ahmad, 1998, Al-Qawaidul Fiqhiyah, Beirut : Dar al-Kalam

Faisal, Enceng Arif, 2004, Kaidah Fiqh Jinayah, Bandung : Pustaka Bani Quraisy

[1] Ahmad, Muhammad Asy-Syafi’i 1983 : 4

[2] Fathi, Ridwan, 1969 : 171-172

[3] Muhammad Shidqi ibn Ahmad Al-Burnu. Hal. 77

1. Pengertian Usul Fiqh

Usul Fiqh adalah tarkib idhafi (kalimat majemuk) yang telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu tertentu. Dintinjau dari segi etymologi fiqh bermakna pemahaman yang mendalam tentang tujuan suatu ucapan dan perbuatan (Lusi Ma’luf: Munjid). Sebagaimana firman Allah surat An Nisa’ ayat 78:

Artinya: “Maka mengapa orang-orang itu (munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun.

Juga sabda Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: Barang siapa dikehendaki Allah sebagai orang yang baik, pasti Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.

Sedamgkan pengertian fiqh menurut terminologi para fuqaha’ (ahli fiqh) adalah tidak jauh dari pengertian fiqh menurut etymologi. Hanya saja pengertian fiqh menurut termilnologi lebih khusus dari etymologi. Figh menurut terminologi adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan manusia, yang diambil dari dalil-dalil yang terinci (detail).(Abu Zahrah: Usul Fiqh).

Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa pembahasan ilmu fiqh meliputi dua hal:

1. Pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ meneganai perbuatan manusia yang praktis. Oleh karena itu ia tidak membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan I’tiqad (keyakinan.

2. Pengetahuan tentang dalil-dalil yang terinci pada setiap permasalahan. Misalnya bila dikatakan bahwa memakan harta benda orang lain secara tidak sah itu adalah haram, maka disebutkan pula dalilnya dari AL Qur’an yang berbunyi:

Artinya: Dan janganlah kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu denga yang lain secara bathil. (2:188).

Dari sini dapat diketahui, bahwa pembahasan ilmu fiqh adalah hukum yang terinci pada setiap perbuatan manusia sama ada halal. Haram, makruh atau wajib beserta dalilnya masing-masing.

Adapun pengertian “ashl” (jamaknya ushul) menurut ethimologi adalah dasar (fundamen) yang diatasnya dibangun sesuatu (Luis Ma’luf: Kamus Munjid). Pengertian tersebut tidak jauh dari pengertian ushul secara terminologi yaitu dasar yang dijadikan pijakan oleh ilmu fiqh.

Untuk itu Ali Hasaballah dalam buku Ushul Al Tasri’ Al Islami mendefinisikan Ushul Fiqh adalah:

Artinya: Kaidah-kaidah yang dijadikan sarana untuk menggali hukum-hukum syari’ah yang berkaitan dengan perbuatan amaliah (mukallaf) dari dalil-dalil yang terperinci. Dengan kata lain kaidah-kaidah yang dijadikan metode untuk menggali hukum fiqh.

Sebagai contoh. Ushul fiqh menetapkan bahwa perintah (amar) itu menunjukkan wajib dan larangan (nahi) menunjukkan hukum haram.

Jika seorang ahli fiqh akan menetapkan hukumnya shalat, apakah wajib atau tidak maka ia akan mengemukakan firman Allah SWT di dalam surat Rum 31, Mujadalah 13 dan Al Muzammil 20 yang berbunyi :

Artinya: Dirikan Shalat

Perintah untuk menjauhi berarti larangan untuk mendekatinya, dan tidak ada bentuk larangan yang lebih kongkrit dari larangan tersebut.

Dari contoh diatas jelaslah perbedaan antara fiqh dan ushul fiqh, bahwa ushul fiqh merupakan metode (cara) yang harus ditempuh ahli fiqh di dalam menetapkan hukum-hukum syara’ bedasarkan dalil syara’, serta mengklasifikasikan dalil-dali tersebut bedasrkan kualitasnya. Dalil Al Qur’an harus didahulukan dari pada qiyas serta dalil-dalil yang tidak berdasr kepada Al Qur’an dan Sunnah. Sedangkan Fiqh adalah hasil hukum-hukum syar’i bedasarkan methode-methode tersebut.

2. Hubungan Ushul Fiqh dengan Fiqh dan fungsi Ushul Fiqh.

Hubungan ilmu Ushul Fiqh dengan Fiqh adalah seperti hubungan ilmu mathiq (logika) dengan filsafat, bahwa mantiq merupakan kaedah berfikir yang memelihara akal agar tidak ada kerancuan dalam berfikir. Juga seperti hubungan antara ilmu nahwu dalam bahasa arab, dimana ilmu nahwu merupakan gramatikal yang menghindarkan kesalahan seseorang di dalam menulis dan mengucapkan bahasa arab. Demikian juga Ushul Fiqh adalah merupakan kaidah yang memelihara fuqaha’ agar tidak terjadi kesalahan di dalam mengistimbatkan (menggali) hukum.

Disamping itu fungsi Ushul Fiqh itu sendiri adalah untuk membedakan istimbath yang benar atau salah yang dilakukan oleh fuqaha’.

3. Objek Pembahasan Ushul Fiqh

Objek Ushul Fiqh berbeda dengan Fiqh. Objek fiqh adalah hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia beserta dalil-dalilnya yang terinci. Manakala objek ushul fiqh mengenai metdologi penetapan hukum-hukum tersebut. Kedua-dua disiplin ilmu tersebut sama –sama membahas dalil-dalil syara’ akan tetapi tinjauannya berbeda. Fiqh membahas dalil-dalil tersebut untuk menetapkan hukum-hukum cabang yang berhubungan dengan perbuatan manusia. Sedangkan ushul fiqh meninjau dari segi penetapan hukum, klasifikasi argumentasi serta siatuasi dan kondisi yang melatar belakangi dalil-dali tersebut.

Jadi objek pembahasan ushul fiqh bermuara pada hukum syara’ ditinjau dari segi hakikatnya, kriteria, dan macam-macamnya. Hakim (Allah) dari segi dalil-dali yang menetapkan hukum, mahkum ‘alaih (orang yang dibebani hukum) dan cara untuk menggali hukum yakni dengan berijtihad.

Ada beberapa peristilahan mendasar yang perlu di ketahui dalam ilmu ushul fiqh ini:

1. Hukum Syar’i

Di dalam bahasa arab arti lafaz al hukm adalah menetapkan sesuatu di atas sesuatu (….) atau dengan kata lain memberi nilai terhadap sesuatu. (Alyasa’ Abubakar: Ushul Fiqh I). Seperti ketika kita melihat sebuah buku lalu kita mengatakan “buku itu tebal” maka berarti kita telah memberi hukum (menetapkan atau memberi nilai) tebal kepada buku tersebut.

Ada beberapa definisi secara istilah yang dikemukakan oleh para ulama tentang hukum. Menurut Ali Hasaballah, Al Hukm adalah:

Artinya: Firman Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf yang berisi perintah, keizinan (melakukan atau meninggalkan sesuatu) ataupun perkondisian tertentu.

Dari definisi diatas ada empat unsur yang terkandung dalam pengertian hukum:

1. Firman Allah : Yaitu yang berwenang membuat hukum adalah Allah. Secara otomatis bersumberkan kepada Al Qur’an, baik secara langsung maupun tidak langsung.

2. Perbuatan Mukallaf, adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang sudah dewasa (baliqh) meliputi seluruh gerak gerinya, pembicaraan ataupun niat.

3. Berisi Perintah (larangan) dan keizinan memilih. Iqtidha’ dalam definisi diatas bermakna perintah untuk mengerjakan atau meninggalkan pekerjaan. Begitu juga berlaku mutlak atau hanya sebatas anjuran. Dari sini lahirlah apa yang kita kenal pekerjaan wajib, mandub (sunat), haram, makruh. Manakala takhyir bermakna adanya keizinan untuk memilih antara mengerjakan atau meninggalkan. Dengan kata lain kedua pekerjaan tersebut sama saja dikerjakan atau tidak dikerjakan. Dalam bahasa arab dikenal dengan mubah sedangkan keizinannya dinamakan ibahah. Unsur ketiga ini nantinya dikenal dengan hukum taklifi.

4. Berisi perkondisian sesuatu. Yaitu kondisi hukum terhadap sesuatu itu sangat tergantung oleh sebab, syarat atau mani’ (larangan). Artinya ada satu kondisi yang harus dipenuhi sebelum pekerjaan dilakukan oleh seseorang. Unsur ketiga ini nantinya dikenal dengan hukum wadh’i.

2. Hakim (Pembuat Hukum)

Pengertian hukum menurut ulama ushul adalah Firman Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, ini mengisyaratkan bahwa al-Hakim adalah Allah. Para ulama telah sepakat bahkan seluruh umat Islam bahwa al Hakim adalah Allah SWT dan tidak ada syari’at (undang-undang) yang sah melainkan dari Allah. Al Qur’an telah mengisyaratkan hal ini dengan firman Allah:

Artinya: Hak menetapkan hukum itu hanyalah milik Allah (al An’am: 57).

3. Mahkum Fih (objek hukum)

Mahkum fih sering juga disebut mahkum bih ialah: objek hukum syara’ atau perkara-perkara yang berhubungan dengannya. Objek hukum yang menjadi pembahasan ulama ushul hanyalah terbatas pada perbuatan orang-orang mukallaf. Ia tidak membahas hukum wadh’i (perkondisian ) yang berasal bukan dari perbuatan manusia. Seperti bergesernya matahari dari cakrawala dan datangnya awal bulan. Sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa mahkum fih: Perbuatan orang mukallaf yang menjadi objek hukum syara’, baik berupa perintah, larangan maupun kebolehan.

4. Mahkum alaih (Subjek Hukum)

Mahkum alaih adalah subjek hukum yaitu mukallaf yang melakukan perbuatan-perbuatan taklif. Jika mahkum fih berbicara mengenai perbuatan mukallaf maka mahkum alaih berbicara mengenai orangnya, karena dialah orang yang perbuatannya dihukumi untuk diterima atau ditolak.

4. Sejarah Pertumbuhan Ilmu Ushul Fiqh.

Ilmu ushul fiqh tumbuh bersama-sama dengan ilmu fiqh, meskipun ilmu fiqh lebih duluan dibukukan lebih dahulu daripada ilmu ushul fiqh. Karena dengan tumbuhnya ilmu Fiqh, tentu adanya metode yang dipakai untuk menggali ilmu tersebut. Dan metode ini tidak lain adalah ushul fiqh.

Pada masa rasul penggalian hukum langsung dilakukan oleh Rasul, yang mana Allah langsung memutuskan perkara-perkara yang timbul melalui wahyu. Penggalian hukum fiqh baru mulai setelah wafatnya Rasulullah SAW disaat timbulnya berbagai masalah yang tidak pernah terjadi pada masa Rasul. Para sahabat yang tergolong fuqaha seperti Ibnu Mas’ud, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab melakukan ijtihad untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Tentunya di dalam berijtihad ini mereka mempunyai metode, dasar dan batasan dalam mengambil satu keputusan. Seperti Keputusan umar bin khattab tidak memebrikan hak zakat kepada mu’allaf. Ali bin abi Thalib menambah had (hukuman campuk) bagi yang meminum khamar dari 40 kali pada masa rasullah menjadi 80 kali. Dari perbuatan sahabat tersebut menunjukkan bahwa ada pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dijadikan landasan dalam pengambilan keputusan hukum. Ini menunjukkan ijtihad para sahabat itu mempunyai kaedah yang sekarang dikenal dengan ushul, walaupun pada waktu itu ilmu ini belum dikenal.

Pada masa tabi’in penggalian hukum syarak semakin luas seiring dengan makin banyaknya permasalahan yang timbul. Karena banyaknya masalah yang timbul dan penyelesaian yang ditempuh para ulama sangan berfariasi, Ali Hasaballah mengambarkan kedahsyatan yang berlaku saat itu adalah “ pada satu daerah, ada satu perbuatan yang ditetapkan haram melakukannya, akan tetapi pada daerah lain dibolehkan”. Hal seperti menimbulkan kecauan yang sangat berarti dalam kehidupan masyarakat muslim. Dikarenakan tidak adanya parameter tertentu dalam mengistimbathkan hukum. Para ulama mengisthimbatkan hukum atas parameter masing-masing.

Akhirnya pada priode berikutnya, tepatnya pada masa imam-imam mujtahid, metode penetapan hukum ini semakin banyak dan mereka membuat kaidah-kaidah dan petunjuk tertentu dalam berijtihad. Seperti Imam Abu Hanifah membatasi dasar-dasar ijtihadnya dengan menggunakan al Qur’an, hadist dan fatwa-fatwa sahabat yang telah disepakati. Sedang fatwa yang diperselisihkan, dia bebas memilihnya. Manakala Imam Malik menjadikan amal ahlul madinah sebagai landasan hukum. Kedua imam ini telah menggariskan cara dan metode mereka dalam mengistimbathkan hukum tapi mereka belum menyebutnya dengan usul fiqh.

Akhirnya sampailah peran Imam Syafi’i, yang bermaksud mengkodifikasikan (membukukan) ilmu ushul fiqh. Mulailah ia menyusun metode-metode penggalian hukum syara’, sumber-sumber fiqh dan petunjuk-petunjuk ilmu fiqh. Kitab ushul fiqh pertama sekali dikeluarkan adalah “al Risalah”. Inilah kitab pertama yang khusus berbicara tentang ushul fiqh dengan membahas berbagai metode istimbath hukum.

Dan dikemudian hari pengikut mazhab membuat metode ushul masing-masing mengikut imam Mazhabnya sendiri. Setiap kaedah selalu lahir/timbul lebih akhir dari pada materi.

Macam Macam Hukum Fiqih

Agama Islam merupakan agama yang mengatur segala sesuatu di dalamnya. Sebagai agama yang dirahmati oleh Allah SWT, Islam juga memiliki hukum hukum Islam sendiri yang harus dianut oleh muslim. Pengertian hukum Islam merupakan keseluruhan ketentuan perintah Allah yang wajib diturut oleh muslim, yang berhubungan dengan aqidah (kepercayaan) dan hukum hukum amaliyah (perbuatan).

(baca juga sumber sumber hukum Islam )

Secara umum, terdapat lima jenis hukum Islam yang mengatur tiap tiap perkaran dan perbuatan. Lima hukum Islam tersebut yaitu wajib/fardhu, sunnah, makruh, mubah dan haram. Berikut akan ditampilkan mengenai penjelasan macam macam hukum Islam beserta contoh contoh perkaranya.

Wajib atau fardhu merupakan status hukum yang harus dilakukan oleh mereka yang memenuhi syarat-syarat wajibnya. Syarat wajib yang dimaksud adalah orang yang sudah mukallaf, yaitu seorang muslim yang sudah dewasa dan berakal sehat. Jika kita mengerjakan perkara yang wajib, maka akan mendapat pahala. Namun bila ditinggalkan maka akan mendapat dosa. Beberapa contoh ibadah yang diwajibkan bagi umat Islam adalah shalat 5 waktu dan puasa Ramadhan.

Jika dibagi lagi, terdapat dua pembagian sifat hukum wajib, yaitu:

Sunnah atau sunnat adalah perkara yang dianjurkan bagi umat Islam. Artinya, jika dikerjakan maka akan mendapatkan pahala, namun jika tidak dikerjakan tidak apa-apa. Sebagai muslim, kita sangat dinajurkan untuk mengerjakan amalan ibadah sunnah yang jumlahnya sangat banyak sekali agar kita bisa mendapatkan pahala. Contoh amalan sunnah yaitu sholat sunnah, puasa Senin Kamis dan lain-lain.

Jika dibagi lagi, terdapat dua pembagian sifat hukum sunnah, yaitu :

Mubah artinya adalah boleh. Dalam Islam, mubah merupakan sebuah hukum dimana seorang muslim boleh mengerjakan suatu perkara, tanpa mendapat pahala dan dosa. Hal ini lebih condong pada aktivitas dan kegiatan duniawi. Contoh perkara mubah antara lain adalah makan, minum dan lain-lain.

Makruh adalah suatu perkara yang dianjurkan untuk tidak dilakukan. Jika dilakukan tidak berdosa namun jika ditinggalkan akan mendapat pahala. Artinya, makruh adalah perbuatan yang sebaiknya dihindari meski jika dilakukan tidak mendapat dosa, namun sebaiknya tidak dilakukan. Contoh perbuatan makruh adalah makan sambil berdiri atau berkumur saat sedang berpuasa.

Haram adalah suatu hal yang dilarang dan tidak boleh dilakukan oleh umat Islam. Haram termasuk status hukum dimana sebuah perkara tidak boleh dikerjakan. Jika dilakukan maka akan mendapat dosa. Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita menjauhi hal hal dan perbuatan yang haram karena bisa mendekatkan kita dengan siksa api neraka. Beberapa contoh perbuatan haram adalah perbuatan maksiat seperti zina, main judi, fitnah, makan dading babi, mencuri dan lain-lain yang harus kita hindari.

Nah, itu tadi sedikit info mengenai macam macam hukum Islam beserta definisi dan penjelasannya serta contoh contoh perkaranya. Sebagai muslim, hendaknya kita mengerjakan amalan ibadah wajib dan juga mulai memperbanyak amalan sunnah kita. Selain itu lebih baik kita menjauhi perkara perkara makruh dan tentu saja tidak melakukan hal hal yang diharamkan dalam Islam. Semoga info tersebut bermanfaat dan mohon maaf bila ada kesalahan. Silahkan share artikel ini jika bermanfaat,,,,

KITAB FIQH MADZHAB SYAFI’I : SAFINATUN NAJAH

ﻣﺘﻦ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﺍﻟﻨﺠﺎﺓ

MATAN SAFINATUN NAJAH

ﻓﻲ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ

ﻟﻠﺸﻴﺦ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻟﻔﺎﺿﻞ : ﺳﺎﻟﻢ ﺑﻦ ﺳﻤﻴﺮ ﺍﻟﺤﻀﺮﻣﻲ

ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ

ﻧﻔﻌﻨﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻌﻠﻮﻣﻪ ﺁﻣﻴﻦ

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ :

‏( ﻟﻜﻞ ﺟﻌﻠﻨﺎ ﻣﻨﻜﻢ ﺷﺮﻋﺔ ﻭﻣﻨﻬﺎﺟﺎً ‏)

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ، ﻭﺑﻪ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺭ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻟﺪﻳﻦ ،ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺧﺎﺗﻢ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ،ﻭﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ، ﻭﻻﺣﻮﻝ ﻭﻻ ﻗﻮﺓ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻠﻲ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji hanya kepada Allah Tuhan semesta alam, dan kepadaNya jualah kita memohon pertolongan atas segala perkara dunia dan akhirat. Dan shalawat serta salamNya semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW Penutup para nabi, juga terhadap keluarga, sahabat sekalian. Dan tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.

ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻥ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺧﻤﺴﺔ : ﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﻻﺇﻟﻪ ﺇﻻﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻗﺎﻡ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻭﺇﻳﺘﺎﺀ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ , ﻭ ﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ، ﻭﺣﺞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﻄﺎﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﺳﺒﻴﻼ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻥ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺳﺘﺔ : ﺃﻥ ﺗﺆﻣﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ، ﻭﻣﻼﺋﻜﺘﻪ، ﻭﻛﺘﺒﻪ ، ﻭﺑﺎﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ، ﻭﺑﺎﻟﻘﺪﺭ ﺧﻴﺮﻩ ﻭﺷﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻭﻣﻌﻨﻰ ﻻﺇﻟﻪ ﺇﻻﺍﻟﻠﻪ : ﻻﻣﻌﺒﻮﺩ ﺑﺤﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺟﻮﺩ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ

BAB I : “AQIDAH”

(Fasal Satu)

Rukun Islam ada lima perkara, yaitu:

1. Bersaksi bahwa tiada ada tuhan yang haq kecuali Alloh Subhaanahu wa Ta’aala dan Nabi Muhammad Sholalloohu ‘Alayhi wa Sallam adalah utusanNya.

2. Mendirikan sholat (lima waktu).

3. Menunaikan zakat.

4. Puasa Romadhan.

5. Ibadah haji ke baitullah bagi yang telah mampu melaksanakannya.

(Fasal Dua)

Rukun iman ada enam, yaitu:

1. Beriman kepada Alloh Subhaanahu wa Ta’aala.

2. Beriman kepada sekalian Mala’ikat

3. Beriman dengan segala kitab-kitab suci.

4. Beriman dengan sekalian Rosul-rosul.

5. Beriman dengan hari kiamat.

6. Beriman dengan ketentuan baik dan buruknya dari Alloh Subhaanahu wa Ta’aala.

(Fasal Tiga)

Adapun arti “La ilaha illah”, yaitu: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dalam kenyataan selain Alloh.

ﻓﺼﻞ ‏) ﻋﻼﻣﺎﺕ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﺛﻼﺙ : ﺗﻤﺎﻡ ﺧﻤﺲ ﻋﺸﺮﺓ ﺳﻨﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﻛﺮﻭﺍﻷﻧﺜﻰ ، ﻭﺍﻻﺣﺘﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻷﻧﺜﻰ ﻟﺘﺴﻊ ﺳﻨﻴﻦ ، ﻭ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻓﻲ ﺍﻷﻧﺜﻰ ﻟﺘﺴﻊ ﺳﻨﻴﻦ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺇﺟﺰﺍﺀ ﺍﻟﺤَﺠَﺮْ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ : ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺜﻼﺛﺔ ﺃﺣﺠﺎﺭ ، ﻭﺃﻥ ﻳﻨﻘﻲ ﺍﻟﻤﺤﻞ ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺠﻒ ﺍﻟﻨﺠﺲ ، ﻭﻻ ﻳﻨﺘﻘﻞ ، ﻭﻻ ﻳﻄﺮﺃ ﻋﻠﻴﻪ ﺁﺧﺮ ، ﻭﻻ ﻳﺠﺎﻭﺯ ﺻﻔﺤﺘﻪ ﻭﺣﺸﻔﺘﻪ ، ﻭﻻ ﻳﺼﻴﺒﻪ ﻣﺎﺀ ، ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻷﺣﺠﺎﺭ ﻃﺎﻫﺮﺓ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻓﺮﻭﺽ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺳﺘﺔ : ﺍﻷﻭﻝ : ﺍﻟﻨﻴﺔ ، ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﻏﺴﻞ ﺍﻟﻮﺟﻪ ، ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﻏﺴﻞ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﻤﺮﻓﻘﻴﻦ ، ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ : ﻣﺴﺢ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺃﺱ ، ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ : ﻏﺴﻞ ﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﻜﻌﺒﻴﻦ ، ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ : ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﻨﻴﺔ : ﻗﺼﺪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻣﻘﺘﺮﻧﺎ ﺑﻔﻌﻠﻪ ، ﻭﻣﺤﻠﻬﺎ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻭﺍﻟﺘﻠﻔﻆ ﺑﻬﺎ ﺳﻨﺔ ، ﻭﻭﻗﺘﻬﺎ ﻋﻨﺪ ﻏﺴﻞ ﺃﻭﻝ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﺟﻪ ، ﻭﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻘﺪﻡ ﻋﻀﻮ ﻋﻠﻰ ﻋﻀﻮ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻗﻠﻴﻞ ﻭﻛﺜﻴﺮ : ﺍﻟﻘﻠﻴﻞ ﻣﺎﺩﻭﻥ ﺍﻟﻘﻠﺘﻴﻦ ، ﻭﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﻗﻠﺘﺎﻥ ﻓﺄﻛﺜﺮ . ﺍﻟﻘﻠﻴﻞ ﻳﺘﻨﺠﺲ ﺑﻮﻗﻮﻉ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻴﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﻐﻴﺮ . ﻭﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﻻ ﻳﺘﻨﺠﺲ ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﺗﻐﻴﺮﻃﻌﻤﻪ ﺃﻭ ﻟﻮﻧﻪ ﺃﻭ ﺭﻳﺤﻪ .

ﻑ ‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻣﻮﺟﺒﺎﺕ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺳﺘﺔ : ﺇﻳﻼﺝ ﺍﻟﺤﺸﻔﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺝ ، ﻭﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﻨﻰ ﻭﺍﻟﺤﻴﺾ ﻭﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ﻭﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ﻭﺍﻟﻤﻮﺕ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻓﺮﻭﺽ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺍﺛﻨﺎﻥ : ﺍﻟﻨﻴﺔ ، ﻭﺗﻌﻤﻴﻢ ﺍﻟﺒﺪﻥ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻋﺸﺮﺓ : ﺍﻹﺳﻼﻡ ، ﻭﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ، ﻭﺍﻟﻨﻘﺎﺀ ، ﻋﻦ ﺍﻟﺤﻴﺾ ، ﻭﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ، ﻭﻋﻤﺎ ﻳﻤﻨﻊ ﻭﺻﻮﻝ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺒﺸﺮﺓ ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﻣﺎ ﻳﻐﻴﺮ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻄﻬﻮﺭ ، ﻭﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ، ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﻟﺪﺍﺋﻢ ﺍﻟﺤﺪﺙ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻧﻮﺍ ﻗﺾ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ‏( ﺍﻷﻭﻝ ‏) ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺴﺒﻴﻠﻴﻦ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺃﻭ ﺩﺑﺮ ﺭﻳﺢ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﺇﻻ ﺍﻟﻤﻨﻰ ، ‏( ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ‏) ﺯﻭﺍﻝ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﺑﻨﻮﻡ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﺇﻻ ﻧﻮﻡ ﻗﺎﻋﺪ ، ﻣﻤﻜﻦ ﻣﻘﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻷﺭﺽ ، ‏( ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ‏) ﺍﻟﺘﻘﺎﺀ ﺑﺸﺮﺗﻲ ﺭﺟﻞ ﻭﺍﻣﺮﺃﺓ ﻛﺒﻴﺮﻳﻦ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺣﺎﺋﻞ ، ‏( ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ‏) ﻣﺲ ﻗﺒﻞ ﺍﻵﺩﻣﻲ ﺃﻭ ﺣﻠﻘﺔ ﺩﺑﺮﻩ ﺑﺒﻄﻦ ﺍﻟﺮﺍﺣﺔ ﺃﻭ ﺑﻄﻮﻥ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻣﻦ ﺍﻧﺘﻘﺾ ﻭﺿﻮﺅﻩ ﺣﺮﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺭﺑﻌﻪ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻄﻮﺍﻑ ﻭﻣﺲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻭﺣﻤﻠﻪ .

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻨﺐ ﺳﺘﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻄﻮﺍﻑ ﻭﻣﺲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻭﺣﻤﻠﻪ ﻭﺍﻟﻠﺒﺚ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ .

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺑﺎﻟﺤﻴﺾ ﻋﺸﺮﺓ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻄﻮﺍﻑ ﻭﻣﺲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻭﺣﻤﻠﻪ ﻭﺍﻟﻠﺒﺚ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﻟﺼﻮﻡ ﻭﺍﻟﻄﻼﻕ ﻭﺍﻟﻤﺮﻭﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺇﻥ ﺧﺎﻓﺖ ﺗﻠﻮﻳﺜﻪ ﻭﺍﻻﺳﺘﻤﺘﺎﻉ ﺑﻤﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﺒﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﺛﻼﺛﺔ : ﻓﻘﺪ ﺍﻟﻤﺎﺀ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺽ ، ﻭﺍﻻﺣﺘﻴﺎﺝ ﺇﻟﻴﻪ ﻟﻌﻄﺶ ﺣﻴﻮﺍﻥ ﻣﺤﺘﺮﻡ .

ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺤﺘﺮﻡ ﺳﺘﺔ : ﺗﺎﺭﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺰﺍﻧﻲ ﺍﻟﻤﺤﺼﻦ ﻭﺍﻟﻤﺮﺗﺪ ﻭﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﺍﻟﺤﺮﺑﻲ ﻭﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﻌﻘﻮﺭ ﻭﺍﻟﺨﻨﺰﻳﺮ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﻋﺸﺮﺓ : ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺘﺮﺍﺏ ﻭﺍﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻃﺎﻫﺮﺍ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺴﺘﻌﻤﻼ ﻭﻻ ﻳﺨﺎﻟﻄﻪ ﺩﻗﻴﻖ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻭﺃﻥ ﻳﻘﺼﺪﻩ ﻭﺃﻥ ﻳﻤﺴﺢ ﻭﺟﻬﻪ ﻭﻳﺪﻳﻪ ﺑﻀﺮﺑﺘﻴﻦ ﻭﺃﻥ ﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺃﻭﻻ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﺘﻬﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻗﺒﻠﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﺑﻌﺪ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﻴﻤﻢ ﻟﻜﻞ ﻓﺮﺽ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻓﺮﻭﺽ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﺧﻤﺴﺔ : ﺍﻷﻭﻝ : ﻧﻘﻞ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ، ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺍﻟﻨﻴﺔ ، ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﻣﺴﺢ ﺍﻟﻮﺟﻪ ، ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ : ﻣﺴﺢ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺮﻓﻘﻴﻦ ، ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ : ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﺤﺘﻴﻦ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻣﺒﻄﻼﺕ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﻣﺎ ﺃﺑﻄﻞ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻭﺍﻟﺮﺩﺓ ﻭﺗﻮﻫﻢ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺇﻥ ﺗﻴﻤﻢ ﻟﻔﻘﺪﻩ ﻭﺍﻟﺸﻚ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻈﻬﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺛﻼﺛﺔ : ﺍﻟﺨﻤﺮ ﺇﺫﺍ ﺗﺨﻠﻠﺖ ﺑﻨﻔﺴﻬﺎ . ﻭﺟﻠﺪ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﺇﺫﺍ ﺩﺑﻎ ﻭﻣﺎ ﺻﺎﺭﺍ ﺣﻴﻮﺍﻧﺎ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺛﻼﺛﻪ : ﻣﻐﻠﻈﺔ ﻭﻣﺨﻔﻔﺔ ﻭﻣﺘﻮﺳﻄﺔ . ﺍﻟﻤﻐﻠﻈﺔ : ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻭﺍﻟﺨﻨﺰﻳﺮ ﻭﻓﺮﻉ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ . ﻭﺍﻟﻤﺨﻔﻔﺔ : ﺑﻮﻝ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﻄﻌﻢ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻠﺒﻦ ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻠﻎ ﺍﻟﺤﻮﻟﻴﻦ . ﻭﺍﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ : ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺎﺕ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﻤﻐﻠﻈﺔ : ﺗﻄﻬﺮ ﺑﺴﺒﻊ ﻏﺴﻼﺕ ﺑﻌﺪ ﺇﺯﺍﻟﺔ ﻋﻴﻨﻬﺎ ،ﺇﺣﺪﺍﻫﻦ ﺑﺘﺮﺍﺏ . ﻭﺍﻟﻤﺨﻔﻔﺔ : ﺗﻄﻬﺮ ﺑﺮﺵ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻣﻊ ﺍﻟﻐﻠﺒﺔ ﻭﺇﺯﺍﻟﺔ ﻋﻴﻨﻬﺎ .

ﻭﺍﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ ﺗﻨﻘﺴﻢ ﺇﻟﻰ ﻗﺴﻤﻴﻦ : ﻋﻴﻨﻴﺔ ﻭﺣﻜﻤﻴﻪ . ﺍﻟﻌﻴﻨﻴﺔ : ﺍﻟﺘﻲ ﻟﻬﺎ ﻟﻮﻥ ﻭﺭﻳﺢ ﻭﻃﻌﻢ ﻓﻼ ﺑﺪ ﻣﻦ ﺇﺯﺍﻟﺔ ﻟﻮﻧﻬﺎ ﻭﺭﻳﺤﻬﺎ ﻭﻃﻌﻤﻬﺎ . ﻭﺍﻟﺤﻜﻤﻴﺔ : ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻟﻮﻥ ﻟﻬﺎ ﻭﻻ ﺭﻳﺢ ﻭﻻﻃﻌﻢ ﻟﻬﺎ ﻳﻜﻔﻴﻚ ﺟﺮﻱ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻴﻬﺎ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻗﻞ ﺍﻟﺤﻴﺾ : ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﻪ ﻭﻏﺎﻟﺒﺔ ﺳﺘﺔ ﺃﻭﺳﺒﻊ ﻭﺃﻛﺜﺮﻩ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮﺓ ﻳﻮﻣﺎ ﺑﻠﻴﺎﻟﻴﻬﺎ . ﺃﻗﻞ ﺍﻟﻄﻬﺮ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺤﻴﻀﺘﻴﻦ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮﺓ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻏﺎﻟﺒﻪ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﺃﻭ ﺛﻼﺛﺔ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻻﺣﺪ ﻷﻛﺜﺮﺓ . ﺃﻗﻞ ﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ﻣﺠﺔ ﻭﻏﺎﻟﺒﺔ ﺃﺭﺑﻌﻮﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﺃﻛﺜﺮﺓ ﺳﺘﻮﻥ ﻳﻮﻣﺎ

BAB II : “THAHARAH”

(Fasal Satu)

Adapun tanda-tanda balig (mencapai usia remaja) seseorang ada tiga, yaitu:

1. Berumur seorang laki-laki atau perempuan lima belas tahun.

2. Bermimpi (junub) terhadap laki-laki dan perempuan ketika melewati sembilan tahun.

3. Keluar darah haidh sesudah berumur sembilan tahun .

(Fasal Dua)

Syarat boleh menggunakan batu untuk beristinja ada delapan, yaitu:

1. Menggunakan tiga batu.

2. Mensucikan tempat keluar najis dengan batu tersebut.

3. Najis tersebut tidak kering.

4. Najis tersebut tidak berpindah.

5. Tempat istinja tersebut tidak terkena benda yang lain sekalipun tidak najis.

6. Najis tersebut tidak berpindah tempat istinja (lubang kemaluan belakang dan kepala kemaluan depan) .

7. Najis tersebut tidak terkena air .

8. Batu tersebut suci.

(Fasal Tiga)

Rukun wudhu ada enam, yaitu:

1. Niat.

2. Membasuh muka

3. Membasuh kedua tangan serta siku.

4. Menyapu sebagian kepala.

5. Membasuh kedua kaki serta buku lali.

6. Tertib.

(Fasal Empat)

Niat adalah menyengaja suatu (perbuatan) berbarengan (bersamaan) dengan perbuatannya didalam hati. Adapun mengucapkan niat tersebut maka hukumnya sunnah, dan waktunya ketika pertama membasuh sebagian muka.

Adapun tertib yang dimaksud adalah tidak mendahulukan satu anggota terhadap anggota yag lain (sebagaimana yang telah tersebut).

(Fasal Lima)

Air terbagi kepada dua macam; Air yang sedikit. Dan air yang banyak.

Adapun air yang sedikit adalah air yang kurang dari dua qullah . Dan air yang banyak itu adalah yang sampai dua qullah atau lebih.

Air yang sedikit akan menjadi najis dengan sebab tertimpa najis kedalamnya, sekalipun tidak berubah. Adapun air yang banyak maka tdak akan menjadi najis kecuali air tersebut telah berubah warna, rasa atau baunya.

(Fasal Enam)

Yang mewajibkan mandi ada enam perkara, yaitu:

1- Memasukkan kemaluan (kepala dzakar) ke dalam farji (kemaluan) perempuan.

2- Keluar air mani.

3- Mati.

4- Keluar darah haidh [datang bulan].

5- Keluar darah nifas [darah yang keluar setelah melahirkan].

6- Melahirkan.

(Fasal Tujuh)

Fardhu–fardhu (rukun) mandi yang diwajibkan ada dua perkara, yaitu:

1- Niat mandi wajib.

2- Menyampaikan air ke seluruh tubuh dengan sempurna.

(Fasal Delapan)

Syarat– Syarat Wudhu` ada sepuluh, yaitu:

1- Islam.

2- Tamyiz (cukup umur dan ber’akal).

3- Suci dari haidh dan nifas.

4- Lepas dari segala hal dan sesuatu yang bisa menghalang sampai air ke kulit.

5- Tidak ada sesuatu disalah satu anggota wudhu` yang merubah keaslian air.

6- Mengetahui bahwa hukum wudhu` tersebut adalah wajib.

7- Tidak boleh beri`tiqad (berkeyakinan) bahwa salah satu dari fardhu–fardhu wudhu` hukumnya sunnah (tidak wajib).

8- Kesucian air wudhu` tersebut.

9- Masuk waktu sholat yang dikerjakan.

10- Muwalat .

Dua syarat terakhir ini khusus untuk da`im al-hadats .

(Fasal Sembilan)

Yang membatalkan wudhu` ada empat, yaitu:

1- Apa bila keluar sesuatu dari salahsatu kemaluan seperti angin dan lainnya, kecuali air mani.

2- Hilang akal seperti tidur dan lain lain, kecuali tidur dalam keadaan duduk rapat bagian punggung dan pantatnya dengan tempat duduknya, sehingga yakin tidak keluar angin sewaktu tidur tersebut

3- Bersentuhan antara kulit laki–laki dengan kulit perempuan yang bukan muhrim baginya dan tidak ada penghalang antara dua kulit tersebut seperti kain dll.

”Mahram”: (orang yang haram dinikahi seperti saudara kandung).

4- Menyentuh kemaluan orang lain atau dirinya sendiri atau menyentuh tempat pelipis dubur (kerucut sekeliling) dengan telapak tangan atau telapak jarinya.

(Fasal Sepuluh)

Larangan bagi orang yang berhadats kecil ada tiga, yaitu:

1- Shalat, fardhu maupun sunnah.

2- Thowaaf (keliling ka`bah tujuh kali).

3- Menyentuh kitab suci Al-Qur`an atau mengangkatnya.

Larangan bagi orang yang berhadats besar (junub) ada lima, yaitu:

1- Sholat.

2- Thowaaf.

3- Menyentuh Al-Qur`an.

4- Membaca Al-Qur`an.

5- I`tikaf (berdiam di masjid).

Larangan bagi perempuan yang sedang haidh ada sepuluh, yaitu:

1- Sholat.

2- Thowaaf.

3- Menyentuh Al-Qur`an.

4- Membaca Al-Qur`an.

5- Puasa

6- I’tikaf di masjid.

7- Masuk ke dalam masjid sekalipun hanya untuk sekedar lewat jika ia takut akan mengotori masjid tersebut.

8- Cerai, karena itu, di larang suami menceraikan isterinya dalam keadaan haidh.

9- Jima`.

10- Bersenang – senang dengan isteri di antara pusar dan lutut.

(Fasal Sebelas)

Sebab – Sebab yang membolehkan tayammum ada tiga hal, yaitu:

1- Tidak ada air untuk berwudhu`.

2- Ada penyakit yang mengakibatkan tidak boleh memakai air.

3- Ada air hanya sekedar mencukupi kebutuhan minum manusia atau binatang yang Muhtaram .

Adapun selain Muhtaram ada enam macam, yaitu:

1- Orang yang meninggalkan sholat wajib.

2- kafir Harbiy (yang boleh di bunuh).

3- Murtad.

4- Penzina dalam keadaan Ihshan (orang yang sudah ber’aqad nikah yang sah).

5- Anjing yang menyalak (tidak menta`ati pemiliknya atau tidak boleh dipelihara).

6- Babi.

(Fasal Dua Belas)

Syarat–Syarat mengerjakan tayammum ada sepuluh, yaitu:

1- Bertayammum dengan tanah.

2- Menggunakan tanah yang suci tidak terkena najis.

3- Tidak pernah di pakai sebelumnya (untuk tayammaum yang fardhu).

4- Murni dari campuran yang lain seperti tepung dan seumpamanya.

5- Mengqoshod atau menghendaki (berniat) bahwa sapuan dengan tanah tersebut untuk di jadikan tayammum.

6- Masuk waktu shalat fardhu tersebut, sebelum tayammum.

7- Bertayammum tiap kali sholat fardhu tiba.

8- Berhati – hati dan bersungguh – sungguh dalam mencari arah qiblat sebelum memulai tayammum.

9- Menyapu muka dan dua tangannya dengan dua kali mengusap tanah tayammum secara masing – masing (terpisah).

10- Menghilangkan segala najis di badan terlebih dahulu.

(Fasal Tiga Belas)

Rukun-rukun tayammum ada lima, yaitu:

1. Memindah debu.

2. Niat.

3. Mengusap wajah.

4. Mengusap kedua belah tangan sampai siku.

5. Tertib antara dua usapan.

(Fasal Empat Belas)

Perkara yang membatalkan tayammum ada tiga, yaitu:

1. Semua yang membatalkan wudhu’.

2. Murtad.

3. Ragu-ragu terdapatnya air, apabila dia bertayammum karena tidak ada air.

(Fasal Lima Belas)

Perkara yang menjadi suci dari yang asalnya najis ada tiga, yaitu:

1. Khamar (air yang diperah dari anggur) apabila telah menjadi cuka.

2. Kulit binatang yang disamak.

3. Semua najis yang telah berubah menjadi binatang.

(Fasal Enam Belas)

Macam macam najis ada tiga, yaitu:

1. Najis besar (Mughallazoh), yaitu Anjing, Babi atau yang lahir dari salah satunya.

2. Najis ringan (Mukhaffafah), yaitu air kencing bayi yang tidak makan, selain susu dari ibunya, dan umurnya belum sampai dua tahun.

3. Najis sedang (Mutawassithoh), yaitu semua najis selain dua yang diatas.

(Fasal Tujuh Belas)

Cara menyucikan najis-najis:

Najis besar (Mughallazoh), menyucikannya dengan membasuh sebanyak tujuh kali, salah satunya menggunakan debu, setelah hilang ‘ayin (benda) yang najis.

Najis ringan (Mukhaffafah), menyucikannya dengan memercikkan air secara menyeluruh dan menghilangkan ‘ayin yang najis.

Najis sedang (Mutawassithoh) terbagi dua bagian, yaitu:

1. ‘Ainiyyah yaitu najis yang masih nampak warna, bau, atau rasanya, maka cara menyucikan najis ini dengan menghilangkan sifat najis yang masih ada.

2. Hukmiyyah, yaitu najis yang tidak nampak warna, bau dan rasanya, maka cara menyucikan najis ini cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis tersebut.

(Fasal Delapan Belas)

Darah haid yang keluar paling sedikit sehari semalam, namun pada umumnya selama enam atau tujuh hari, dan tidak akan lebih dari 15 hari. Paling sedikit masa suci antara dua haid adalah 15 hari, namun pada umumnya 24 atau 23 hari, dan tidak terbatas untuk masa sucinya. Paling sedikit masa nifas adalah sekejap, pada umumnya 40 hari, dan tidak akan melebihi dari 60 hari.

ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻋﺬﺍﺭ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﺛﻨﺎﻥ : ﺍﻟﻨﻮﻡ ﻭﺍﻟﻨﺴﻴﺎﻥ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ : ﻃﻬﺎﺭﺓ ﺍﻟﺤﺪﺛﻴﻦ ﻭﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻭﺍﻟﺒﺪﻥ ﻭﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﺳﺘﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ ﻭﺍﺳﺘﻘﺒﺎﻝ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﻔﺮﻳﻀﺘﺔ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﻌﺘﻘﺪ ﻓﺮﺿﺎ ﻣﻦ ﻓﺮﻭﺿﻬﺎ ﺳﻨﺔ ﻭﺍﺟﺘﻨﺎﺏ ﺍﻟﻤﺒﻄﻼﺕ .

ﺍﻷﺣﺪﺍﺙ ﺍﺛﻨﺎﻥ : ﺃﺻﻐﺮ ﻭﺃﻛﺒﺮ . ﻓﺎﻷﺻﻐﺮ ﻣﺎﺃﻭﺟﺐ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ . ﻭﺍﻷﻛﺒﺮ ﻣﺎﺃﻭﺟﺐ ﺍﻟﻐﺴﻞ *

ﺍﻟﻌﻮﺭﺍﺕ ﺃﺭﺑﻊ : ﻋﻮﺭﺓ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﺍﻷﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﺒﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺳﺒﻌﺔ ﻋﺸﺮ : ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻟﻨﻴﺔ ،ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ، ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ ،ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ، ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ، ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻓﻴﺔ ، ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﺍﻹﻋﺘﺪﺍﻝ ،ﺍﻟﺜﺎﻣﻦ ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻓﻴﻪ ، ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻣﺮﺗﻴﻦ ،ﺍﻟﻌﺎﺷﺮ ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻓﻴﺔ ، ﺍﻟﺤﺎﺩﻱ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﺠﻠﻮﺱ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺠﺪﺗﻴﻦ ، ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻓﻴﺔ ،ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﺘﺸﻬﺪ ﺍﻷﺧﻴﺮ ،ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﻘﻌﻮﺩ ﻓﻴﻪ ،ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﻋﺸﺮ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ،ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﺴﻼﻡ ،ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﻨﻴﻪ ﺛﻼﺙ ﺩﺭﺟﺎﺕ : ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺮﺿﺎ ﻭﺟﺐ ﻗﺼﺪ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻭﺍﻟﺘﻌﻴﻴﻦ ﻭﺍﻟﻔﺮﺿﻴﺔ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻧﺎﻓﻠﺔ ﻣﺆﻗﺘﺔ ﻛﺮﺍﺗﺒﺔ ﺍﻭ ﺫﺍﺕ ﺳﺒﺐ ﻭﺟﺐ ﻗﺼﺪ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻭﺍﻟﺘﻌﻴﻴﻦ ، ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻧﺎﻓﻠﺔ ﻣﻄﻠﻘﺔ ﻭﺟﺐ ﻗﺼﺪ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻓﻘﻂ .

ﺍﻟﻔﻌﻞ : ﺃﺻﻠﻲ ﻭﺍﻟﺘﻌﻴﻴﻦ : ﻇﻬﺮﺍ ﺃﻭ ﻋﺼﺮﺍ ﻭ ﺍﻟﻔﺮﺿﻴﺔ : ﻓﺮﺿﺎ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ : ﺳﺘﺔ ﻋﺸﺮﺓ ﺃﻥ ﺗﻘﻊ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﻌﺮﺑﻴﻪ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﻠﻔﻆ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ﻭﺑﻠﻔﻆ ﺃﻛﺒﺮ ﻭﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻠﻔﻈﺘﻴﻦ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﻤﺪ ﻫﻤﺰﺓ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ﻭﻋﺪﻡ ﻣﺪ ﺑﺎﺀ ﺃﻛﺒﺮ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺸﺪﺩ ﺍﻟﺒﺎﺀ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﺰﻳﺪ ﻭﺍﻭﺍً ﺳﺎﻛﻨﺔ ﺃﻭ ﻣﺘﺤﺮﻛﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻜﻠﻤﺘﻴﻦ ، ﻭﺃﻥ ﻻﻳﺰﻳﺪ ﻭﺍﻭﺍ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﻘﻒ ﺑﻴﻦ ﻛﻠﻤﺘﻲ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻭﻗﻔﺔ ﻃﻮﻳﻠﺔ ﻭﻻ ﻗﺼﻴﺮﺓ ، ﻭﺃﻥ ﻳﺴﻤﻊ ﻧﻔﺴﺔ ﺟﻤﻴﻊ ﺣﺮﻭﻓﻬﺎ ﻭﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺆﻗﺖ ﻭﺇﻳﻘﺎﻋﻬﺎ ﺣﺎﻝ ﺍﻹﺳﺘﻘﺒﺎﻝ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺨﻞ ﺑﺤﺮﻑ ﻣﻦ ﺣﺮﻭﻓﻬﺎ ﻭﺗﺄﺧﻴﺮ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻋﻦ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﻣﺎﻡ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻋﺸﺮﺓ : ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﻭﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺗﺸﺪﻳﺪﺍﺗﻬﺎ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺴﻜﺖ ﺳﻜﺘﺔ ﻃﻮﻳﻠﺔ ﻭﻻ ﻗﺼﻴﺮﺓ ﻳﻘﺼﺪ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﻛﻞ ﺁﻳﺎﺗﻬﺎ ﻭﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﻠﺤﻦ ﺍﻟﻤﺨﻞ ﺑﺎﻟﻤﻌﻨﻰ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ ، ﻭﺃﻥ ﻳﺴﻤﻊ ﻧﻔﺴﺔ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﺨﻠﻠﻬﺎ ﺫﻛﺮ ﺃﺟﻨﺒﻲ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺗﺸﺪﻳﺪﺍﺕ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﺃﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮﺓ : ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﻼﻡ ، ﺍﻟﺮَّﺣﻤﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺮﺍﺀ ، ﺍﻟﺮَّﺣﻴﻢ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺮﺍﺀ ، ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻓﻮﻕ ﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ، ﺭﺏُّ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺒﺎﺀ ، ﺍﻟﺮَّﺣﻤﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺮﺍﺀ ،ﻣﺎﻟﻚ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺪﺍﻝ ، ﺇﻳَّﺎﻙ ﻧﻌﺒﺪ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﻴﺎﺀ ، ﺇﻳَّﺎﻙ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﻴﺎﺀ ، ﺍﻫﺪﻧﺎ ﺍﻟﺼِّﺮﺍﻁ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺼﺎﺩ ، ﺻﺮﺍﻁ ﺍﻟَّﺬﻳﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﻼﻡ ، ﺃﻧﻌﻤﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﻐﻀﻮﺏ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻ ﺍﻟﻀَّﺎﻟِّﻴﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﻀﺎﺩ ﻭﺍﻟﻼﻡ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻳﺴﻦ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻣﻮﺍﺿﻊ : ﻋﻨﺪ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻹﻋﺘﺪﺍﻝ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺸﻬﺪ ﺍﻷﻭﻝ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﺳﺒﻌﺔ : ﺃﻥ ﻳﺴﺠﺪ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻋﻀﺎﺀ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺟﺒﻬﺘﻪ ﻣﻜﺸﻮﻓﺔ ﻭﺍﻟﺘﺤﺎﻣﻞ ﺑﺮﺃﺳﺔ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﻬﻮﻯ ﻟﻐﻴﺮﻩ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﺴﺠﺪ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻳﺘﺤﺮﻙ ﺑﺤﺮﻛﺘﻪ ﻭﺍﺭﺗﻔﺎﻉ ﺃﺳﺎﻓﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﺃﻋﺎﻟﻴﺔ ﻭﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻓﻴﺔ .

‏( ﺧﺎﺗﻤﺔ ‏) ﺃﻋﻀﺎﺀ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﺳﺒﻌﺔ : ﺍﻟﺠﺒﻬﺔ ﻭﺑﻄﻮﻥ ﺍﻟﻜﻔﻴﻦ ﻭﺍﻟﺮﻛﺒﺘﺎﻥ ﻭﺑﻄﻮﻥ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ ﻭﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺗﺸﺪﻳﺪﺍﺕ ﺍﻟﺘﺸﻬﺪ ﺇﺣﺪﻯ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ : ﺧﻤﺲ ﻓﻲ ﺃﻛﻤﻠﻪ ﻭﺳﺘﺔ ﻋﺸﺮ ﻓﻲ ﺃﻗﻠﺔ : ﺍﻟﺘﺤﻴﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺎﺀ ﻭﺍﻟﻴﺎﺀ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻛﺎﺕ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺎﺩ ، ﺍﻟﻄﻴﺒﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻄﺎﺀ ﻭﺍﻟﻴﺎﺀ ، ﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ، ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻴﻦ ، ﻋﻠﻴﻚ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﻨﻮﻥ ﻭﺍﻟﻴﺎﺀ ، ﻭﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﻪ ، ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻴﻦ ، ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻭﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﻪ ، ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺎﺩ، ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻﺇﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺃﻟﻒ ،ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺃﻟﻒ ﻭﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﻪ، ﻭﺃﺷﻬﺪﺃﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻮﻥ ، ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻴﻢ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺍﺀ ﻭﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﻪ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺗﺸﺪﻳﺪﺍﺕ ﺃﻗﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺃﺭﺑﻊ : ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻼﻡ ﻭﺍﻟﻤﻴﻢ ، ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻼﻡ ، ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻴﻢ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻗﻞ ﺍﻟﺴﻼﻡ : ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺗﺸﺪﻳﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻴﻦ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻭﻗﺎﺕ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺧﻤﺲ : ﺃﻭﻝ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺯﻭﺍﻝ ﺍﻟﺸﻤﺲ ، ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻣﺼﻴﺮ ﻇﻞ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻣﺜﻠﻪ ﻏﻴﺮ ﻇﻞ ﺍﻹﺳﺘﻮﺍﺀ ، ﻭﺃﻭﻝ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻌﺼﺮ ﺇﺫﺍ ﺻﺎﺭ ﻇﻞ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻣﺜﻠﺔ ﻭﺯﺍﺩ ﻗﻠﻴﻼ ، ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻏﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ . ﻭﺃﻭﻝ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻏﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻏﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻔﻖ ﺍﻷﺣﻤﺮ ، ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻃﻠﻮﻉ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﺍﻟﺼﺎﺩﻕ ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻃﻠﻮﻉ ﺍﻟﺸﻤﺲ .

ﺍﻷﺷﻔﺎﻕ ﺛﻼﺛﺔ : ﺃﺣﻤﺮ ﻭﺃﺻﻔﺮ ﻭﺃﺑﻴﺾ . ﺍﻷﺣﻤﺮ ﻣﻐﺮﺏ ﻭﻷﺻﻔﺮ ﻭﺍﻷﺑﻴﺾ ﻋﺸﺎﺀ . ﻭﻳﻨﺪﺏ ﺗﺄﺧﻴﺮ ﺻﻼﻩ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻳﻐﻴﺐ ﺍﻟﺸﻔﻖ ﺍﻷﺣﻤﺮ ﻭﺍﻷﺑﻴﺾ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺗﺤﺮﻡ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﺎ ﺳﺒﺐ ﻣﺘﻘﺪﻡ ﻭﻻ ﻣﻘﺎﺭﻥ ﻓﻲ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻭﻗﺎﺕ : ﻋﻨﺪ ﻃﻠﻮﻉ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺣﺘﻰ ﺗﺮﺗﻔﻊ ﻗﺪﺭ ﺭﻣﺢ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻹﺳﺘﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺣﺘﻰ ﺗﺰﻭﻝ ، ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻹﺻﻔﺮﺍﺭ ﺣﺘﻰ ﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻌﺼﺮ ﺣﺘﻰ ﺗﻐﺮﺏ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺳﻜﺘﺎﺕ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺳﺘﺔ : ﺑﻴﻦ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻭﺩﻋﺎﺀ ﺍﻹﻓﺘﺘﺎﺡ ﻭﺍﻟﺘﻌﻮﺫ، ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻭﺍﻟﺘﻌﻮﺫ، ﻭﺑﻴﻦ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻭﺁﻣﻴﻦ ، ﻭﺑﻴﻦ ﺁﻣﻴﻦ ﻭﺍﻟﺴﻮﺭﻩ ، ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﻮﺭﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﻮﻉ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻷﺭﻛﺎﻥ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻠﺰﻣﻪ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﻭﺍﻹﻋﺘﺪﺍﻝ ﻭﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭﺍﻟﺠﻠﻮﺱ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺠﺪﺗﻴﻦ .

ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻫﻲ : ﺳﻜﻮﻥ ﺑﻌﺪ ﺣﺮﻛﺔ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﺴﺘﻘﺮ ﻛﻞ ﻋﻀﻮ ﻣﺤﻠﻪ ﺑﻘﺪﺭ ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺳﺠﻮﺩ ﺍﻟﺴﻬﻮ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﺍﻷﻭﻝ ﺗﺮﻙ ﺑﻌﺾ ﻣﻦ ﺃﺑﻌﺎﺽ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺃﻭ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺒﻌﺾ ، ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻓﻌﻞ ﻣﺎﻳﺒﻄﻞ ﻋﻤﺪﻩ ﻭﻻﻳﺒﻄﻞ ﺳﻬﻮﻩ ﺇﺫﺍ ﻓﻌﻠﻪ ﻧﺎﺳﻴﺎ ، ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻧﻘﻞ ﺭﻛﻦ ﻗﻮﻟﻲ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﻠﻪ ، ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﺇﻳﻘﺎﻉ ﺭﻛﻦ ﻓﻌﻠﻲ ﻣﻊ ﺍﺣﺘﻤﺎﻝ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺑﻌﺎﺽ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺳﺒﻌﺔ : ﺍﻟﺘﺸﻬﺪ ﺍﻷﻭﻝ ﻭﻗﻌﻮﺩﻩ ﻭﺍﻟﺼﻼﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻴﻪ ، ﻭﺍﻟﺼﻼﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻵﻝ ﺍﻟﺘﺸﻬﺪ ﺍﻷﺧﻴﺮ، ﻭﺍﻟﻘﻨﻮﺕ ،ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﺔ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺁﻟﻪ ﻓﻴﻪ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺗﺒﻄﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﺄﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮﺓ ﺧﺼﻠﺔ : ﺑﺎﻟﺤﺪﺙ ﻭﺑﻮﻗﻮﻉ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻠﻖ ﺣﺎﻻ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺣﻤﻞ ، ﻭﺍﻧﻜﺸﺎﻑ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺴﺘﺮ ﺣﺎﻻ، ﻭﺍﻟﻨﻄﻖ ﺑﺤﺮﻓﻴﻦ ﺃﻭ ﺣﺮﻑ ﻣﻔﻬﻢ ﻋﻤﺪﺍ ، ﻭﺑﺎﻟﻤﻔﻄﺮ ﻋﻤﺪﺍ ، ﻭﺍﻷﻛﻞ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﻧﺎﺳﻴﺎ ،ﺃﻭﺛﻼﺙ ﺣﺮﻛﺎﺕ ﻣﺘﻮﺍﻟﻴﺎﺕ ﻭﻟﻮ ﺳﻬﻮﺍ ﻭﺍﻟﻮﺛﺒﺔ ﺍﻟﻔﺎﺣﺸﺔ ﻭﺍﻟﻀﺮﺑﺔ ﺍﻟﻤﻔﺮﻃﺔ ، ﻭﺯﻳﺎﺩﺓ ﺭﻛﻦ ﻓﻌﻠﻲ ﻋﻤﺪﺍ ، ﻭﺍﻟﺘﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺇﻣﺎﻣﻪ ﺑﺮﻛﻨﻴﻦ ﻓﻌﻠﻴﻴﻦ ، ﻭﺍﻟﺘﺨﻠﻒ ﺑﻬﻤﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﻋﺬﺭ ، ﻭﻧﻴﺔ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻭﺗﻌﻠﻴﻖ ﻗﻄﻌﻬﺎ ﺑﺸﻲﺀ ﻭﺍﻟﺘﺮﺩﺩ ﻓﻲ ﻗﻄﻌﻬﺎ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻠﺰﻡ ﻓﻴﺔ ﻧﻴﺔ ﺍﻹﻣﺎﻣﺔ ﺃﺭﺑﻊ : ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﺍﻟﻤﻌﺎﺩﺍﺓ ﻭﺍﻟﻤﻨﺬﻭﺭﺓ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻭﺍﻟﻤﺘﻘﺪﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻄﺮ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ﺃﺣﺪ ﻋﺸﺮ : ﺃﻥ ﻻﻳﻌﻠﻢ ﺑﻄﻼﻥ ﺻﻼﺓ ﺇﻣﺎﻣﺔ ﺑﺤﺪﺙ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﺓ , ﻭﺃﻥ ﻻﻳﻌﺘﻘﺪ ﻭﺟﻮﺏ ﻗﻀﺎﺋﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺄﻣﻮﻣﺎ ﻭﻻ ﺃﻣﻴﺎ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﺘﻘﺪﻡ ﻋﻠﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻮﻗﻒ ﻭﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺍﻧﺘﻘﺎﻻﺕ ﺇﻣﺎﻣﺔ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﺘﻤﻌﺎ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺛﻠﺜﻤﺎﺋﺔ ﺫﺭﺍﻉ ﺗﻘﺮﻳﺒﺎ ﻭﺃﻥ ﻳﻨﻮﻱ ﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﻮﺍﻓﻖ ﻧﻈﻢ ﺻﻼﺗﻴﻬﻤﺎ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺨﺎﻟﻔﻪ ﻓﻲ ﺳﻨﺔ ﻓﺎﺣﺸﺔ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻔﺔ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﺎﺑﻌﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺻﻮﺭ ﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ﺗﺴﻊ ﺗﺼﺢ ﻓﻲ ﺧﻤﺲ : ﻗﺪﻭﺓ ﺭﺟﻞ ﺑﺮﺟﻞ ﻭﻗﺪﻭﺓ ﺍﻣﺮﺃﻩ ﺑﺮﺟﻞ ﻭﻗﺪﻭﺓ ﺧﻨﺜﻰ ﺑﺮﺟﻞ ﻭﻗﺪﻭﺓ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺑﺨﻨﺜﻰ ﻭﻗﺪﻭﺓ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺑﺎﻣﺮﺃﺓ ، ﻭﺗﺒﻄﻞ ﻓﻲ ﺃﺭﺑﻊ : ﻗﺪﻭﺓ ﺭﺟﻞ ﺑﺎﻣﺮﺃﺓ ﻭﻗﺪﻭﺓ ﺭﺟﻞ ﺑﺨﻨﺜﻰ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﻢ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﺍﻟﺒﺪﺍﺀﺓ ﺑﺎﻷﻭﻟﻰ ﻭﻧﻴﺔ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻭﺩﻭﺍﻡ ﺍﻟﻌﺬﺭ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﺇﺛﻨﺎﻥ : ﻧﻴﺔ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻭﻗﺪ ﺑﻘﻲ ﻣﻦ ﻭﻗﺖ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻣﺎﻳﺴﻌﻬﺎ ﻭﺩﻭﺍﻡ ﺍﻟﻌﺬﺭ ﺇﻟﻰ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻘﺼﺮ ﺳﺒﻌﺔ : ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺳﻔﺮﻩ ﻣﺮﺣﻠﺘﻴﻦ ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺒﺎﺣﺎ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺠﻮﺍﺯ ﺍﻟﻘﺼﺮ ﻭﻧﻴﻪ ﺍﻟﻘﺼﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﻘﺘﺪﻱ ﺑﻤﺘﻢ ﻓﻲ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺻﻼﺗﻪ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺳﺘﺔ : ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻛﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﻭﺃﻥ ﺗﻘﺎﻡ ﻓﻲ ﺧﻄﺔ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻭﺃﻥ ﺗﺼﻠﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺃﺣﺮﺍﺭﺍ ﺫﻛﻮﺭﺍ ﺑﺎﻟﻐﻴﻦ ﻣﺴﺘﻮﻃﻨﻴﻦ ﻭﺃﻥ ﻻ ﺗﺴﺒﻘﻬﺎ ﻭﻻ ﺗﻘﺎﺭﻧﻬﺎ ﺟﻤﻌﺔ ﻓﻲ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﻘﺪﻣﻬﺎ ﺧﻄﺒﺘﺎﻥ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻥ ﺍﻟﺨﻄﺒﺘﻴﻦ ﺧﻤﺴﺔ : ﺣﻤﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﺔ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻭﺍﻟﻮﺻﻴﺔ ﺑﺎﻟﺘﻘﻮﻯ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﺁﻳﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺃﺣﺪﺍﻫﻤﺎ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺆﻣﻨﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻷﺧﻴﺮﺓ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺨﻄﺒﺘﻴﻦ ﻋﺸﺮﺓ : ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺪﺛﻴﻦ ﺍﻷﺻﻐﺮ ﻭﺍﻷﻛﺒﺮ ﻭﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻭﺍﻟﺒﺪﻥ ﻭﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﺳﺘﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ ﻭﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ﻭﺍﻟﺠﻠﻮﺱ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻓﻮﻕ ﻃﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﻭﺃﻥ ﻳﺴﻤﻌﻬﺎ ﺃﺭﺑﻌﻮﻥ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻛﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻈﻬﺮ

BAB III : “SHALAT”

(Fasal Satu)

Udzur( ) sholat:

1. Tidur .

2. Lupa.

(Fasal Dua)

Syarat sah shalat ada delapan, yaitu:

1. Suci dari hadats besar dan kecil.

2. Suci pakaian, badan dan tempat dari najis.

3. Menutup aurat.

4. Menghadap kiblat.

2. Masuk waktu sholat.

3. Mengetahui rukun-rukan sholat.

4. Tidak meyakini bahwa diantara rukun-rukun sholat adalah sunnahnya

5. Menjauhi semua yang membatalkan sholat.

Macam-macam hadats: Hadats ada dua macam, yaitu: Kecil dan Besar.

Hadats kecil adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk berwudhu’, sedangkan hadats besar adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk mandi.

Macam macam aurat: Aurat ada empat macam, yaitu:

1. Aurat semua laki-laki (merdeka atau budak) dan budak perempuan ketika sholat, yaitu antara pusar dan lutut.

2. Aurat perempuan merdeka ketika sholat, yaitu seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.

3. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki yang ajnabi (bukan muhrim), yaitu seluruh badan.

4. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki muhrimya dan perempuan, yaitu antara pusar dan lutut.

(Fasal Tiga)

Rukun sholat ada tujuh belas, yaitu:

1. Niat.

2. Takbirotul ihrom (mengucapkan “Allahuakbar).

3. Berdiri bagi yang mampu.

4. Membaca fatihah.

5. Ruku’ (membungkukkan badan).

6. Thuma’ninah (diam sebentar) waktu ruku’.

7. I’tidal (berdiri setelah ruku’).

8. Thuma’ninah (diam sebentar waktu i’tidal).

9. Sujud dua kali.

10. Thuma’ninah (diam sebentar waktu sujud).

11. Duduk diantara dua sujud.

12. Thuma’ninah (diam sebentar ketika duduk).

13. Tasyahud akhir (membaca kalimat-kalimat yang tertentu).

14. Duduk diwaktu tasyahud.

15. Sholawat (kepada nabi).

16. Salam (kepada nabi).

17. Tertib (berurutan sesuai urutannya).

(Fasal Empat)

Niat itu ada tiga derajat, yaitu:

3. Jika sholat yang dikerjakan fardhu, diwajibkanlah niat qasdul fi’li (mengerjakan shalat tersebut), ta’yin (nama sholat yang dikerjakan) dan fardhiyah (kefardhuannya).

4. Jika sholat yang dikerjakan sunnah yang mempunyai waktu atau mempunyai sebab, diwajibkanlah niat mengerjakan sholat tersebut dan nama sholat yang dikerjakan seperti sunah Rowatib (sebelum dan sesudah fardhu-fardhu).

5. Jika sholat yang dikerjakan sunnah Mutlaq (tanpa sebab), diwajibkanlah niat mengerjakan sholat tersebut saja.

Yang dimaksud dengan qasdul fi’li adalah aku beniat sembahyang (menyenghajanya), dan yang dimaksud ta’yin adalah seperti dzuhur atau asar, adapun fardhiyah adalah niat fardhu.

(Fasal Lima)

Syarat takbirotul ihrom ada enam belas, yaitu:

1. Mengucapkan takbirotul ihrom tersebut ketika berdiri (jika sholat tersebut fardhu).

2. Mengucapkannya dengan bahasa Arab.

3. Menggunakan lafal “Allah”.

4. Menggunakan lafal “Akbar”.

5. Berurutan antara dua lafal tersebut.

6. Tidak memanjangkan huruf “Hamzah” dari lafal “Allah”.

7. Tidak memanjangkan huruf “Ba” dari lafal “Akbar”.

8. Tidak mentaysdidkan (mendobelkan/mengulang) huruf “Ba” tersebut.

9. Tidak menambah huruf “Waw” berbaris atau tidak antara dua kalimat tersebut.

10. Tidak menambah huruf “Waw” sebelum lafal “Allah”.

11. Tidak berhenti antara dua kalimat sekalipun sebentar.

12. Mendengarkan dua kalimat tersebut.

13. Masuk waktu sholat tersebut jika mempuyai waktu.

14. Mengucapkan takbirotul ihrom tersebut ketika menghadap qiblat.

15. Tidak tersalah dalam mengucapkan salah satu dari huruf kalimat tersebut.

16. Takbirotul ihrom ma’mum sesudah takbiratul ihrom dari imam.

(Fasal Enam)

Syarat-syarat sah membaca surat al-Fatihah ada sepuluh, yaitu:

1. Tertib (yaitu membaca surat al-Fatihah sesuai urutan ayatnya).

2. Muwalat (yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus).

3. Memperhatikan makhroj huruf (tempat keluar huruf) serta tempat-tempat tasydid.

4. Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.

5. Membaca semua ayat al-Fatihah.

6. Basmalah termasuk ayat dari al-fatihah.

7. Tidak menggunakan lahan (lagu) yang dapat merubah makna.

8. Memabaca surat al-Fatihah dalam keaadaan berdiri ketika sholat fardhu.

9. Mendengar surat al-Fatihah yang dibaca.

10. Tidak terhalang oleh dzikir yang lain.

(Fasal Tujuh)

Tempat-tempat tasydid dalam surah al-fatihah ada empat belas, yaitu:

1. Tasydid huruf “Lam” jalalah pada lafal ( ﺍﻟﻠﻪ ‏) .

2. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal (( ﺍﻟﺮّﺣﻤﻦ .

3. Tasydid huruf “Ra’” pada lapal ( ﺍﻟﺮّﺣﻴﻢ ‏) .

4. Tasydid “Lam” jalalah pada lafal ( ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ‏) .

5. Tasydid huruf “Ba’” pada kalimat ( ﺭﺏّ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ‏) .

6. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal ( ﺍﻟﺮّﺣﻤﻦ ‏) .

7. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal ( ﺍﻟﺮّﺣﻴﻢ ‏) .

8. Tasydid huruf “Dal” pada lafal ( ﺍﻟﺪّﻳﻦ ‏) .

9. Tasydid huruf “Ya’” pada kalimat ﺇﻳّﺎﻙ ﻧﻌﺒﺪ ‏) ‏) .

10. Tasydid huruf “Ya” pada kalimat ( ﻭﺇﻳّﺎﻙ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ ‏) .

11. Tasydid huruf “Shad” pada kalimat ( ﺍﻫﺪﻧﺎ ﺍﻟﺼّﺮﺍﻁ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ ‏) .

12. Tasydid huruf “Lam” pada kalimat ( ﺻﺮﺍﻁ ﺍﻟّﺬﻳﻦ ‏) .

13. Tasydid “Dhad” pada kalimat ( ﻭﻻ ﺍﻟﻀﺎﻟﻴﻦ ‏) .

14. Tasydid huruf “Lam” pada kalimat ( ﻭﻻ ﺍﻟﻀﺎﻟﻴﻦ ).

(Fasal Delapan)

Tempat disunatkan mengangkat tangan ketika shalat ada empat, yaitu:

1. Ketika takbiratul ihram.

2. Ketika Ruku’.

3. Ketika bangkit dari Ruku’ (I’tidal).

4. Ketika bangkit dari tashahud awal.

(Fasal Sembilan)

Syarat sah sujud ada tujuh, yaitu:

1. Sujud dengan tujuh anggota.

2. Dahi terbuka (jangan ada yang menutupi dahi).

3. Menekan sekedar berat kepala.

4. Tidak ada maksud lain kecuali sujud.

5. Tidak sujud ketempat yang bergerak jika ia bergerak.

6. Meninggikan bagian punggung dan merendahkan bagian kepala.

7. Thuma’ninah pada sujud.

Penutup:

Ketika seseorang sujud anggota tubuh yang wajib di letakkan di tempat sujud ada tujuh, yaitu:

1. Dahi.

2. Bagian dalam dari telapak tangan kanan.

3. Bagian dalam dari telapak tangan kiri.

4. Lutut kaki yang kanan.

5. Lutut kaki yang kiri.

6. Bagian dalam jari-jari kanan.

7. Bagian dalam jari-jari kiri.

(Fasal Sepuluh)

Dalam kalimat tasyahud terdapat dua puluh satu harakah (baris) tasydid, enam belas di antaranya terletak di kalimat tasyahud yang wajib di baca, dan lima yang tersisa dalam kalimat yang menyempurnakan tasyahud (yang sunah dibaca), yaitu:

1. “Attahiyyat”: harakah tasydid terletak di huruf “Ta’”.

2. “Attahiyyat”: harakah tasydid terletak di huruf “Ya’”.

3. “Almubarakatusshalawat”: harakah tasydid di huruf “Shad”.

4. “Atthayyibaat”: harakah tasydid di huruf “Tha’”.

5. “Atthayyibaat”: harakah tasydid di huruf “ya’”.

6. “Lillaah”: harakah tasydid di “Lam” jalalah.

7. “Assalaam”: di huruf “Sin”.

8. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Ya’”.

9. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Nun”.

10. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Ya’”.

11. “Warohmatullaah”: di “Lam” jalalah.

12. “Wabarakatuh, assalaam”: di huruf “Sin”.

13. “Alainaa wa’alaa I’baadillah”: di “Lam” jalalah.

14. “Asshalihiin”: di huruf shad.

15. “Asyhaduallaa”: di “Lam alif”.

16. “Ilaha Illallaah”: di “Lam alif”.

17. “Illallaah”: di “Lam” jalalah.

18. “Waasyhaduanna”: di huruf “Nun”.

19. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Mim”.

20. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Ra’”.

21. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Lam” jalalah.

(Fasal Sebelas)

Sekurang-kurang kalimat shalawat nabi yang memenuhi standar kewajiban di tasyahud akhir adalah Alloohumma sholliy ’alaa Muhammad.

(Adapun).harakat tasydid yang ada di kalimat shalawat nabi tersebut ada di huruf “Lam” dan “Mim” di lafal “Allahumma”. Dan di huruf “Lam” di lafal “Shalli”. Dan di huruf “Mim” di Muhammad.

(Fasal Dua Belas)

Sekurang-kurang salam yang memenuhi standar kewajiban di tasyahud akhir adalah Assalaamu’alaikum. Adpun Harakat tasydid yang ada di kalimat tersebut terletak di huruf “Sin”.

(Fasal Tiga Belas)

Waktu waktu shalat.

1. Waktu shalat dzuhur:

Dimulai dari tergelincirnya matahari dari tengah-tengah langit kearah barat dan berakhir ketika bayangan suatu benda menyamai ukuran panjangnya dengan benda tersebut.

2. Waktu salat Ashar:

Dimulai ketika bayangan dari suatu benda melebihi ukuran panjang dari benda tersebut dan berakhir ketika matahari terbenam.

3. Waktu shalat Magrib:

Berawal ketika matahari terbenam dan berakhir dengan hilangnya sinar merah yang muncul setelah matahari terbenam.

4. Waktu shalat Isya

Diawali dengan hilangnya sinar merah yang muncul setelah matahari terbenam dan berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Yang di maksud dengan Fajar shadiq adalah sinar yang membentang dari arah timur membentuk garis horizontal dari selatan ke utara.

5 Waktu shalat Shubuh:

Di mulai dari timbulnya fajar shadiq dan berakhir dengan terbitnya matahari.

Warna sinar matahari yang muncul setelah matahari terbenam ada tiga, yaitu:

Sinar merah, kuning dan putih. Sinar merah muncul ketika magrib sedangkan sinar kuning dan putih muncul di waktu Isya.

Disunnahkan untuk menunda atau mangakhirkan shalat Isya sampai hilangnya sinar kuning dan putih.

(Fasal Empat Belas)

Shalat itu haram manakala tidak ada mempunyai sebab terdahulu atau sebab yang bersamaan (maksudnya tanpa ada sebab sama sekaliseperti sunat mutlaq) dalam beberapa waktu, yaitu:

1. Ketika terbit matahari sampai naik sekira-kira sama dengan ukuran tongkat atau tombak.

2. Ketika matahari berada tepat ditengah tengah langit sampai bergeser kecuali hari Jum’at.

3. Ketika matahari kemerah-merahan sampai tenggelam.

4. Sesudah shalat Shubuh sampai terbit matahari.

5. Sesudah shalat Asar sampai matahari terbenam.

(Fasal Lima Belas)

Tempat saktah (berhenti dari membaca) pada waktu shalat ada enam tempat, yaitu:

1. Antara takbiratul ihram dan do’a iftitah (doa pembuka sesudah takbiratul ihram).

2. Antara doa iftitah dan ta’awudz (mengucapkan perlindungan dengan Allah SWT dari setan yang terkutuk).

3. Antara ta’awudz dan membaca fatihah.

4. Antara akhir fatihah dan ta’min (mengucapkan amin).

5. Antara ta’min dan membaca surat (qur’an).

6. Antara membaca surat dan ruku’.

Semua tersebut dengan kadar tasbih (bacaan subhanallah), kecuali antara ta’min dan membaca surat, disunahkan bagi imam memanjangkan saktah dengan kadar membaca fatihah.

(Fasal Enam Belas)

Rukun-rukun yang diwajibkan didalamnya tuma’ninah ada empat, yaitu:

1. Ketika ruku’.

2. Ketika i’tidal.

3. Ketika sujud.

4. Ketika duduk antara dua sujud.

Tuma’ninah adalah diam sesudah gerakan sebelumnya, sekira-kira semua anggota badan tetap (tidak bergerak) dengan kadar tasbih (membaca subhanallah).

(Fasal Tujuh Belas)

Sebab sujud sahwi ada empat, yaitu:

1. Meninggalkan sebagian dari ab’adhus shalat (pekerjaan sunnah dalam shalat yang buruk jika seseorang meniggalkannya).

2. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan (padahal ia lupa), jika dikerjakan dengan sengaja dan tidak membatalkan jika ia lupa.

3. Memindahkan rukun qauli (yang diucapkan) kebukan tempatnya.

4. Mengerjakan rukun Fi’li (yang diperbuat) dengan kemungkinan kelebihan.

(Fasal Delapan Belas)

Ab’adusshalah ada enam, yaitu:

1. Tasyahud awal

2. Duduk tasyahud awal.

3. Shalawat untuk nabi Muhammad SAW ketika tasyahud awal.

4. Shalawat untuk keluarga nabi ketika tasyahud akhir.

5. Do’a qunut.

6. Berdiri untuk do’a qunut.

7. Shalawat dan Salam untuk nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat ketika do’a qunut.

(Fasal Sembilan Belas)

Perkara yang membatalkan shalat ada empat belas, yaitu:

1. Berhadats (seperti kencing dan buang air besar).

2. Terkena najis, jika tidak dihilangkan seketika, tanpa dipegang atau diangkat (dengan tangan atau selainnya).

3. Terbuka aurat, jika tidak dihilangkan seketikas.

4. Mengucapkan dua huruf atau satu huruf yang dapat difaham.

5. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa dengn sengaja.

6. Makan yang banyak sekalipun lupa.

7. Bergerak dengan tiga gerakan berturut-turut sekalipun lupa.

8. Melompat yang luas.

9. Memukul yang keras.

10. Menambah rukun fi’li dengan sengaja.

11. Mendahului imam dengan dua rukun fi’li dengan sengaja.

12. Terlambat denga dua rukun fi’li tanpa udzur.

13. Niat yang membatalkan shalat.

14. Mensyaratkan berhenti shalat dengan sesuatu dan ragu dalam memberhentikannya.

(Fasal Dua Puluh)

Diwajibkan bagi seorang imam berniat menjadi imam terdapat dalam empat shalat, yaitu:

1- Menjadi Imam juma`t

2- Menjadi imam dalam shalat i`aadah (mengulangi shalat).

3- Menjadi imam shalat nazar berjama`ah

4- Menjadi imam shalat jamak taqdim sebab hujan

(Fasal Dua Puluh Satu)

Syarat – Syarat ma`mum mengikut imam ada sebelas perkara, yaitu:

1- Tidak mengetahui batal nya shalat imam dengan sebab hadats atau yang lain nya.

2- Tidak meyakinkan bahwa imam wajib mengqadha` shalat tersebut.

3- Seorang imam tidak menjadi ma`mum .

4- Seorang imam tidak ummi (harus baik bacaanya).

5- Ma`mum tidak melebihi tempat berdiri imam.

6- Harus mengetahui gerak gerik perpindahan perbuatan shalat imam.

7- Berada dalam satu masjid (tempat) atau berada dalam jarak kurang lebih tiga ratus hasta.

8- Ma`mum berniat mengikut imam atau niat jama`ah.

9- Shalat imam dan ma`mum harus sama cara dan kaifiyatnya

10- Ma`mum tidak menyelahi imam dalam perbuata sunnah yang sangat berlainan atau berbeda sekali.

11- Ma`mum harus mengikuti perbuatan imam.

(Fasal Dua Puluh Dua)

Ada lima golongan orang–orang yang sah dalam berjamaah, yaitu:

1- Laki –laki mengikut laki – laki.

2- Perempuan mengikut laki – laki.

3- Banci mengikut laki – laki.

4- Perempuan mengikut banci.

5- Perempuan mengikut perempuan.

(Fasal Dua Puluh Tiga)

Ada empat golongan orang – orang yang tidak sah dalam berjamaah, yaitu:

1- Laki – laki mengikut perempuan.

2- Laki – laki mengikut banci.

3- Banci mengikut perempuan.

4- Banci mengikut banci.

(Fasal Dua Puluh Empat)

Ada empat, syarat sah jamak taqdim (mengabung dua shalat diwaktu yang pertama), yaitu:

1- Di mulai dari shalat yang pertama.

2- Niat jamak (mengumpulkan dua shalat sekali gus).

3- Berturut – turut.

4- Udzurnya terus menerus.

(Fasal Dua Puluh Lima)

Ada dua syarat jamak takhir, yaitu:

1- Niat ta’khir (pada waktu shalat pertama walaupun masih tersisa waktunya sekedar lamanya waktu mengerjakan shalat tersebut).

2- Udzurnya terus menerus sampai selesai waktu shalat kedua.

(Fasal Dua Puluh Enam)

Ada tujuh syarat qasar, yaitu:

1- Jauh perjalanan dengan dua marhalah atau lebih (80,640 km atau perjalanan sehari semalam).

2- Perjalanan yang di lakukan adalah safar mubah (bukan perlayaran yang didasari niat mengerja maksiat ).

3- Mengetahui hukum kebolehan qasar.

4- Niat qasar ketika takbiratul `ihram.

5- Shalat yang di qasar adalah shalat ruba`iyah (tidak kurang dari empat rak`aat).

6- Perjalanan terus menerus sampai selesai shalat tersebut.

7- Tidak mengikuti dengan orang yang itmam (shalat yang tidak di qasar) dalam sebagian shalat nya.

(Fasal Dua Puluh Tujuh)

Syarat sah shalat Jum’at ada enam, yaitu:

1. Khutbah dan shalat Jum’at dilaksanakan pada waktu Dzuhur.

2. Kegiatan Jum’at tersebut dilakukan dalam batas desa.

3. Dilaksanakan secara berjamaah.

4. Jamaah Jum’at minimal berjumlah empat puluh (40) laki-laki merdeka, baligh dan penduduk asli daerah tersebut.

5. Dilaksanakan secara tertib, yaitu dengan khutbah terlebih dahulu, disusul dengan shalat Jum’at.

(Fasal Dua Puluh Delapan)

Rukun khutbah Jum’at ada lima, yaitu:

1. Mengucapkan “ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ” dalam dua khutbah tersebut.

2. Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam dua khutbah tersebut.

3. Berwasiat ketaqwaan kepada jamaah Jum’at dalam dua khutbah Jum’at tersebut.

4. Membaca ayat al-qur’an dalam salah satu khutbah.

5. Mendo’akan seluruh umat muslim pada akhir khutbah.

(Fasal Dua Puluh Sembilan)

Syarat sah khutbah jum’at ada sepuluh, yaitu:

1. Bersih dari hadats kecil (seperti kencing) dan besar seperti junub.

2. Pakaian, badan dan tempat bersih dari segala najis.

3. Menutup aurat.

4. Khutbah disampaikan dengan berdiri bagi yang mampu.

5. Kedua khutbah dipisahkan dengan duduk ringan seperti tuma’ninah dalam shalat ditambah beberapa detik.

6. Kedua khutbah dilaksanakan dengan berurutan (tidak diselangi dengan kegiatan yang lain, kecuali duduk).

7. Khutbah dan sholat Jum’at dilaksanakan secara berurutan.

8. Kedua khutbah disampaikan dengan bahasa Arab.

9. Khutbah Jum’at didengarkan oleh 40 laki-laki merdeka, balig serta penduduk asli daerah tersebut.

10. Khutbah Jum’at dilaksanakan dalam waktu Dzuhur.

ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻠﺰﻡ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﺃﺭﺑﻊ ﺧﺼﺎﻝ : ﻏﺴﻠﺔ ﻭﺗﻜﻔﻴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﺔ ﻭﺩﻓﻨﻪ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻗﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ : ﺗﻌﻤﻴﻢ ﺑﺪﻧﻪ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ . ﻭﺃﻛﻤﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻐﺴﻞ ﺳﻮﺃﺗﻴﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﻘﺬﺭ ﻣﻦ ﺃﻧﻔﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﻮﺿﺌﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﺪﻟﻚ ﺑﺪﻧﻪ ﺑﺎﻟﺴﺪﺭ ﻭﺃﻥ ﻳﺼﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻴﻪ ﺛﻼﺛﺎ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻗﻞ ﺍﻟﻜﻔﻦ : ﺛﻮﺏ ﻳﻌﻤﻪ . ، ﻭﺃﻛﻤﻠﻪ ﻟﻠﺮﺟﺎﻝ ﺛﻼﺙ ﻟﻔﺎﺋﻒ ، ﻭﻟﻠﻤﺮﺃﺓ ﻗﻤﻴﺺ ﻭﺧﻤﺎﺭ ﻭﺇﺯﺍﺭ ﻭﻟﻔﺎﻓﺘﺎﻥ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻥ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺳﺒﻌﺔ : ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻟﻨﻴﺔ ،ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺃﺭﺑﻊ ﺗﻜﺒﻴﺮﺍﺕ ، ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ، ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ،ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﺔ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ،ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ،ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﺍﻟﺴﻼﻡ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻗﻞ ﺍﻟﺪﻓﻦ : ﺣﻔﺮﺓ ﺗﻜﺘﻢ ﺭﺍﺋﺤﺘﻪ ﻭﺗﺤﺮﺳﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﺎﻉ . ﻭﺃﻛﻤﻠﻪ ﻗﺎﻣﺔ ﻭﺑﺴﻄﺔ، ﻭﻳﻮﺿﻊ ﺧﺪﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻭﻳﺠﺐ ﺗﻮﺟﻴﻬﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻳﻨﺒﺶ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻷﺭﺑﻊ ﺧﺼﺎﻝ : ﻟﻠﻐﺴﻞ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺘﻐﻴﺮ ﻭﻟﺘﻮﺟﻴﻬﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭﻟﻠﻤﺎﻝ ﺇﺫﺍ ﺩﻓﻦ ﻣﻌﻪ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺇﺫﺍ ﺩﻓﻦ ﺟﻨﻴﻨﻬﺎ ﻭﺃﻣﻜﻨﺖ ﺣﻴﺎﺗﻪ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻹﺳﺘﻌﺎﻧﺎﺕ ﺃﺭﺑﻊ ﺧﺼﺎﻝ : ﻣﺒﺎﺣﺔ ﻭﺧﻼﻑ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻭﻣﻜﺮﻭﻫﻪ ﻭﻭﺍﺟﺒﺔ ﻓﺎﻟﻤﺒﺎﺣﺔ ﻫﻲ ﺗﻘﺮﻳﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ، ﻭﺧﻼﻑ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻫﻲ ﺻﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻧﺤﻮ ﺍﻟﻤﺘﻮﺿﺊ ،ﻭﺍﻟﻤﻜﺮﻭﻫﻪ ﻫﻲ ﻟﻤﻦ ﻳﻐﺴﻞ ﺃﻋﻀﺎﺀﻩ ، ﻭﺍﻟﻮﺍﺟﺒﺔ ﻫﻲ ﻟﻠﻤﺮﻳﺾ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻌﺠﺰ

BAB IV : “JENAZAH”

(Fasal Satu)

pertama: Kewajiban muslim terhadap saudaranya yang meninggal dunia ada empat perkara, yaitu:

1. Memandikan.

2. Mengkafani.

3. Menshalatkan (sholat jenazah).

4. Memakamkan .

(Fasal Kedua)

Cara memandikan seorang muslim yang meninggal dunia:

Minimal (paling sedikit): membasahi seluruh badannya dengan air dan bisa disempurnakan dengan membasuh qubul dan duburnya, membersihkan hidungnya dari kotoran, mewudhukannya, memandikannya sambil diurut/digosok dengan air daun sidr dan menyiramnya tiga (3) kali.

(Fasal Ketiga)

Cara mengkafan:

Minimal: dengan sehelai kain yang menutupi seluruh badan. Adapun cara yang sempurna bagi laki-laki: menutup seluruh badannya dengan tiga helai kain, sedangkan untuk wanita yaitu dengan baju, khimar (penutup kepala), sarung dan 2 helai kain.

(Fasal Keempat)

Rukun shalat jenazah ada tujuh (7), yaitu:

1. Niat.

2. Empat kali takbir.

3. Berdiri bagi orang yang mampu.

4. Membaca Surat Al-Fatihah.

5. Membaca shalawat atas Nabi SAW sesudah takbir yang kedua.

6. Do’a untuk si mayat sesudah takbir yang ketiga.

7. Salam.

(Fasal Kelima)

Sekurang-kurang menanam (mengubur) mayat adalah dalam lubang yang menutup bau mayat dan menjaganya dari binatang buas. Yang lebih sempurna adalah setinggi orang dan luasnya, serta diletakkan pipinya di atas tanah. Dan wajib menghadapkannya ke arah qiblat.

(Fasal Keenam)

Mayat boleh digali kembali, karena ada salah satu dari empat perkara, yaitu:

1. Untuk dimandikan apabila belum berubah bentuk.

2. Untuk menghadapkannya ke arah qiblat.

3. Untuk mengambil harta yang tertanam bersama mayat.

4. Wanita yang janinnya tertanam bersamanya dan ada kemungkinan janin tersebut masih hidup.

(Fasal Ketujuh)

Hukum isti’anah (minta bantuan orang lain dalam bersuci) ada empat (4) perkara, yaitu:

1. Boleh.

2. Khilaf Aula.

3. Makruh

4. Wajib.

Boleh (mubah) meminta untuk mendekatkan air.

Khilaf aula meminta menuangkan air atas orang yang berwudlu.

Makruh meminta menuangkan air bagi orang yang membasuh anggota-anggota (wudhu) nya.

Wajib meminta menuangkan air bagi orang yang sakit ketika ia lemah (tidak mampu untuk melakukannya sendiri).

ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻠﺰﻡ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺳﺘﺔ ﺃﻧﻮﺍﻉ : ﺍﻟﻨﻌﻢ ﻭﺍﻟﻨﻘﺪﺍﻥ ﻭﺍﻟﻤﻌﺸﺮﺍﺕ ﻭﺃﻣﻮﺍﻝ ﺍﻟﺘﺠﺎﺭﺓ ، ﻭﻭﺍﺟﺒﻬﺎ ﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮ ﻗﻴﻤﺔ ﻋﺮﻭﺽ ﺍﻟﺘﺠﺎﺭﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﺎﺯ ﻭﺍﻟﻤﻌﺪﻥ

BAB V : “ZAKAT”

(Fasal Satu)

Harta yang wajib di keluarkan zakatnya ada enam macam, yaitu:

1. Binatang ternak.

2. Emas dan perak.

3. Biji-bijian (yang menjadi makanan pokok).

4. Harta perniagaan. Zakatnya yang wajib di keluarkan adalah 4/10 dari harta tersebut.

5. Harta yang tertkubur.

6. Hasil tambang.

ﻓﺼﻞ ‏) ﻳﺠﺐ ﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺑﺄﺣﺪ ﺃﻣﻮﺭ ﺧﻤﺴﺔ : ‏( ﺃﺣﺪﻫﺎ ‏) ﺑﻜﻤﺎﻝ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ‏( ﻭﺛﺎﻧﻴﻬﺎ ‏) ﺑﺮﺅﻳﺔ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﻓﻲ ﺣﻖ ﻣﻦ ﺭﺁﻩ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﺎﺳﻘﺎ ‏( ﻭﺛﺎﻟﺜﺎ ‏) ﺑﺜﺒﻮﺗﻪ ﻓﻲ ﺣﻖ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺮﻩ ﺑﻌﺪﻝ ﺷﻬﺎﺩﺓ ‏( ﻭﺭﺍﺑﻌﺎ ‏) ﺑﺈﺧﺒﺎﺭ ﻋﺪﻝ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻣﻮﺛﻮﻕ ﺑﻪ ﺳﻮﺍﺀ ﻭﻗﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺻﺪﻕ ﺃﻡ ﻻ ﺃﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻮﺛﻮﻕ ﺑﻪ ﺇﻥ ﻭﻗﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺻﺪﻗﻪ ‏( ﻭﺧﺎﻣﺴﻬﺎ ‏) ﺑﻈﻦ ﺩﺧﻮﻝ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺑﺎﻹﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻴﻤﻦ ﺍﺷﺘﺒﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺫﻟﻚ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺻﺤﺘﻪ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺇﺳﻼﻡ ﻭﻋﻘﻞ ﻭﻧﻘﺎﺀ ﻣﻦ ﻧﺤﻮ ﺣﻴﺾ ﻭﻋﻠﻢ ﺑﻜﻮﻥ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻗﺒﻼ ﻟﻠﺼﻮﻡ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﻭﺟﻮﺑﻪ ﺧﻤﺴﺔ ﺍﺷﻴﺎﺀ : ﺍﺳﻼﻡ ﻭﺗﻜﻠﻴﻒ ﻭﺇﻃﺎﻗﺔ ﻭﺻﺤﻪ ﻭﺇﻗﺎﻣﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻧﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﻧﻴﺔ ﻟﻴﻼ ﻟﻜﻞ ﻳﻮﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻭﺗﺮﻙ ﻣﻔﻄﺮ ﺫﺍﻛﺮﺍ ﻣﺨﺘﺎﺭﺍ ﻏﻴﺮ ﺟﺎﻫﻞ ﻣﻌﺬﻭﺭ ﻭﺻﺎﺋﻢ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻳﺠﺐ ﻣﻊ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻟﻠﺼﻮﻡ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﺍﻟﻌﻈﻤﻰ ﻭﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺃﻓﺴﺪ ﺻﻮﻣﻪ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﻛﺎﻣﻼ ﺑﺠﻤﺎﻉ ﺗﺎﻡ ﺁﺛﻢ ﺑﻪ ﻟﻠﺼﻮﻡ

ﻭﻳﺠﺐ ﻣﻊ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺍﻹﻣﺴﺎﻙ ﻟﻠﺼﻮﻡ ﻓﻲ ﺳﺘﺔ ﻣﻮﺍﺿﻊ : ﺍﻷﻭﻝ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻻﻓﻲ ﻏﻴﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﺘﻌﺪ ﺑﻔﻄﺮﻩ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﻠﻰ ﺗﺎﺭﻙ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﻟﻴﻼ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺗﺴﺤﺮ ﻇﺎﻧﺎ ﺑﻘﺎﺀ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻓﺒﺎﻥ ﺧﻼﻓﺔ ﺃﻳﻀﺎ ، ﻭﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺍﻓﻄﺮ ﻇﺎﻧﺎ ﺍﻟﻐﺮﻭﺏ ﻓﺒﺎﻥ ﺧﻼﻓﻪ ﺍﻳﻀﺎ ، ﻭﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺑﺎﻥ ﻟﻪ ﻳﻮﻡ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺃﻧﻪ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ، ﻭﺍﻟﺴﺎﺩﺱ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺳﺒﻘﻪ ﻣﺎﺀ ﺍﻟﻤﺒﺎﻟﻐﺔ ﻣﻦ ﻣﻀﻤﻀﺔ ﻭﺍﺳﺘﻨﺸﺎﻕ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻳﺒﻄﻞ ﺍﻟﺼﻮﻡ : ﺑﺮﺩﺓ ﻭﺣﻴﺾ ﻭﻧﻔﺎﺱ ﺃﻭ ﻭﻻﺩﺓ ﻭﺟﻨﻮﻥ ﻭﻟﻮ ﻟﺤﻈﺔ ﻭﺑﺈﻏﻤﺎﺀ ﻭﺳﻜﺮ ﺗﻌﺪﻯ ﺑﻪ ﺇﻥ ﻋﻤَّﺎ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺍﻧﻮﺍﻉ : ﻭﺍﺟﺐ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ﻭﺍﻟﻨﻔﺴﺎﺀ، ﻭﺟﺎﺋﺰ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ ﻭﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﻭﻻﻭﻻﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻨﻮﻥ، ﻭﻣﺤﺮﻡ ﻛﻤﻦ ﺃﺧﺮ ﻗﻀﺎﺀ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺗﻤﻜﻨﻪ ﺣﺘﻰ ﺿﺎﻕ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻋﻨﻪ .

ﻭﺃﻗﺴﺎﻡ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﺃﻳﻀﺎ ﻣﺎ ﻳﻠﺰﻡ ﻓﻴﺔ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﺪﻳﺔ ﻭﻫﻮ ﺍﺛﻨﺎﻥ : ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻟﺨﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﺓ ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻣﻊ ﺗﺄﺧﻴﺮ ﻗﻀﺎﺀ ﻣﻊ ﺇﻣﻜﺎﻧﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺄﺗﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺁﺧﺮ ، ﻭﺛﺎﻧﻴﻬﺎ ﻣﺎﻳﻠﺰﻡ ﻓﻴﺔ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻔﺪﻳﺔ ﻭﻫﻮ ﻳﻜﺜﺮ ﻛﻤﻐﻤﻰ ﻋﻠﻴﺔ ، ﻭﺛﺎﻟﺜﻬﻤﺎ ﻣﺎ ﻳﻠﺰﻡ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻔﺪﻳﺔ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﻫﻮﺷﻴﺦ ﻛﺒﻴﺮ ، ﻭﺭﺍﺑﻌﻬﺎ ﻻ ﻭﻻ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺠﻨﻮﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﺘﻌﺪ ﺑﺠﻨﻮﻧﻪ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻔﻄِﺮ ﻣﻤﺎ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﻮﻑ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻓﺮﺍﺩ : ﻣﺎﻳﺼﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﻮﻑ ﺑﻨﺴﻴﺎﻥ ﺃﻭ ﺟﻬﻞ ﺃﻭ ﺇﻛﺮﺍﺓ ﻭﺑﺠﺮﻳﺎﻥ ﺭﻳﻖ ﺑﻤﺎ ﺑﻴﻦ ﺃﺳﻨﺎﻧﻪ ﻭﻗﺪ ﻋﺠﺰ ﻋﻦ ﻣﺠﻪ ﻟﻌﺬﺭﻩ ﻭﻣﺎ ﻭﺻﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﻮﻑ ﻭﻛﺎﻥ ﻏﺒﺎﺭ ﻃﺮﻳﻖ ، ﻭﻣﺎ ﻭﺻﻞ ﺇﻟﻴﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﻏﺮﺑﻠﺔ ﺩﻗﻴﻖ ، ﺃﻭﺫﺑﺎﺑﺎ ﻃﺎﺋﺮﺍ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻩ

BAB VI : “PUASA”

(Fasal Satu)

Puasa Ramadhan diwajibkan dengan salah satu ketentuan-ketentuan berikut ini:

1. Dengan mencukupkan bulan sya’ban 30 hari.

2. Dengan melihat bulan, bagi yang melihatnya sendiri.

3. Dengan melihat bulan yang disaksikan oleh seorang yang adil di muka hakim.

4. Dengan Kabar dari seseorang yang adil riwayatnya juga dipercaya kebenarannya, baik yang mendengar kabar tersebut membenarkan ataupun tidak, atau tidak dipercaya akan tetapi orang yang mendengar membenarkannya.

5. Dengan beijtihad masuknya bulan Ramadhan bagi orang yang meragukan dengan hal tersebut.

(Fasal Kedua)

Syarat sah puasa ramadhan ada empat (4) perkara, yaitu:

1. Islam.

2. Berakal.

3. Suci dari seumpama darah haidh.

4. Dalam waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa.

(Fasal Ketiga)

Syarat wajib puasa ramadhan ada lima perkara, yaitu:

1. Islam.

2. Taklif (dibebankan untuk berpuasa).

3. Kuat berpuasa.

4. Sehat.

5. Iqamah (tidak bepergian).

(Fasal Keempat)

Rukun puasa ramadhan ada tiga perkara, yaitu:

1. Niat pada malamnya, yaitu setiap malam selama bulan Ramadhan.

2. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa ketika masih dalam keadaan ingat, bisa memilih (tidak ada paksaan) dan tidak bodoh yang ma’zur (dima’afkan).

3. Orang yang berpuasa.

(Fasal Kelima)

Diwajibkan: mengqhadha puasa, kafarat besar dan teguran terhadap orang yang membatalkan puasanya di bulan Ramadhan satu hari penuh dengan sebab menjima’ lagi berdosa sebabnya .

Dan wajib serta qhadha: menahan makan dan minum ketika batal puasanya pada enam tempat:

1. Dalam bulan Ramadhan bukan selainnya, terhadap orang yang sengaja membatalkannya.

2. Terhadap orang yang meninggalkan niat pada malam hari untuk puasa yang Fardhu.

3. Terhadap orang yang bersahur karena menyangka masih malam, kemudian diketahui bahwa Fajar telah terbit.

4. Terhadap orang yang berbuka karena menduga Matahari sudah tenggelam, kemudian diketahui bahwa Matahari belum tenggelam.

5. Terhadap orang yang meyakini bahwa hari tersebut akhir Sya’ban tanggal tigapuluh, kemudian diketahui bahwa awal Ramadhan telah tiba.

6. Terhadap orang yang terlanjur meminum air dari kumur-kumur atau dari air yang dimasukkan ke hidung.

(Fasal Keenam)

Batal puasa seseorang dengan beberapa macam, yaitu:

– Sebab-sebab murtad.

– Haidh.

– Nifas.

– Melahirkan.

– Gila sekalipun sebentar.

– Pingsan dan mabuk yang sengaja jika terjadi yang tersebut di siang hari pada umumnya.

(Fasal Ketujuh)

Membatalkan puasa di siang Ramadhan terbagi empat macam, yaitu:

1. Diwajibkan, sebagaimana terhadap wanita yang haid atau nifas.

2. Diharuskan, sebagaimana orang yang berlayar dan orang yang sakit.

3. Tidak diwajibkan, tidak diharuskan, sebagaimana orang yang gila.

4. Diharamkan (ditegah), sebagaimana orang yang menunda qhadha Ramadhan, padahal mungkin dikerjakan sampai waktu qhadha tersebut tidak mencukupi.

Kemudian terbagi orang-orang yang telah batal puasanya kepada empat bagian, yaitu:

1. Orang yang diwajibkan qhadha dan fidyah, seperti perempuan yang membatalkan puasanya karena takut terhadap orang lain saperti bayinya. Dan seperti orang yang menunda qhadha puasanya sampai tiba Ramadhan berikutnya.

2. Orang yang diwajibkan mengqhadha tanpa membayar fidyah, seperti orang yang pingsan.

3. Orang yang diwajibkan terhadapnya fidyah tanpa mengqhadha, seperti orang yang sangat tua yang tidak kuasa.

4. Orang yang tidak diwajibkan mengqhadha dan membayar fidyah, seperti orang gila yang tidak disengaja.

(Fasal Kedelapan)

Perkara-perkara yang tidak membatalkan puasa sesudah sampai ke rongga mulut ada tujuh macam, yaitu:

1. Ketika kemasukan sesuatu seperti makanan ke rongga mulut denga lupa

2. Atau tidak tahu hukumnya .

3. Atau dipaksa orang lain.

4. Ketika kemasukan sesuatu ke dalam rongga mulut, sebab air liur yang mengalir diantara gigi-giginya, sedangkan ia tidak mungkin mengeluarkannya.

5. Ketika kemasukan debu jalanan ke dalam rongga mulut.

6. Ketika kemasukan sesuatu dari ayakan tepung ke dalam rongga mulut.

7. Ketika kemasukan lalat yang sedang terbang ke dalam rongga mulut.

ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻋﻠﻢ ﺑﺎﻟﺼﻮﺍﺏ ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺑﺠﺎﻩ ﻧﺒﻴﻪ ﺍﻟﻮﺳﻴﻢ، ﺃﻥ ﻳﺨﺮﺟﻨﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﺴﻠﻤﺎ، ﻭﻭﺍﻟﺪﻱ ﻭﺃﺣﺒﺎﺋﻲ ﻭﻣﻦ ﺇﻟﻲ ﺍﻧﺘﻤﻲ، ﻭﺍﻥ ﻳﻐﻔﺮ ﻟﻲ ﻭﻟﻬﻢ ﻣﻘﺤﻤﺎﺕ ﻭﻟﻤﻤﺎ ، ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ ﺑﻦ ﻫﺎﺷﻢ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﻣﻨﺎﻑ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﻛﺎﻓﺔ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻤﻼﺣﻢ ،ﺣﺒﻴﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻔﺎﺗﺢ ﺍﻟﺨﺎﺗﻢ ،ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ .

ﺗﻢ ﺑﻌﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﺘﻦ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﺍﻟﻨﺠﺎﺓ

Wallaohu a’lam bishshowaab

Kemudian kami akhiri dengan meminta kepada Tuhan Yang Karim , dengan berkah beginda kita Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam yang wasim , supaya mengakhiri hidupku dengan memeluk agama Islam, juga orang tuaku, orang yang aku sayangi dan semua keturunanku. Dan mudah-mudahan ia mengampuniku serta mereka segala kesalahan dan dosa.

Semoga rahmat Tuhan selalu tercurah keharibaan junjungan kita Nabi Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Mutholib bin Abdi Manaf bin Hasyim yang menjadi utusan Alloh kepada sekalian makhluk Rosulul malahim, kekasih Alloh yang membuka pintu rahmat, menutup pintu kenabian, serta keluarga dan sahabat sekalian. Walhamdu lillaahi Robbil ’Aalamin,,,

Fiqih Muamalat (Pengertian, Ruang lingkup,Sumber Hukum, Asas, Prinsip serta Akad dan hak)

​A. Pengertian fiqih muamalat

Fiqih Muamalah adalah pengetahuan tentang kegiatan atau transaksi yang berdasarkan hukum-hukum syariat, mengenai perilaku manusia dalam kehidupannya yang diperoleh dari dalil-dalil islam secara rinci. Ruang lingkup fiqih muamalah adalh seluruh kegiatan muamalah manusia berdasarkan hokum-hukum islam yang berupaperaturan-peraturan yang berisi perintah atau larangan seperti wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. hukum-hukum fiqih terdiri dari hokum hukum yang menyangkut urusan ibadah dalam kaitannya dengan hubungan vertical antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia lainnya.

B.   Ruang Lingkup fiqih muamalat

Ruang lingkup fiqih muamalah mencakup segala aspek kehidupan manusia, seperti social,ekonomi,politik hokum dan sebagainya. Aspek ekonomi dalam kajian fiqih sering disebut dalam bahasa arab dengan istilah iqtishady, yang artinya adalah suatu cara bagaimana manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan membuat pilihan di antara berbagai pemakaian atas alat pemuas kebutuhan yang ada, sehingga kebutuhan manusia yang tidak terbatas dapat dipenuhi oleh alat pemuas kebutuhan yang terbatas.

C. Sumber-sumber fiqih muamalat

Sumber-sumber fiqih secara umum berasal dari dua sumber utama, yaitu dalil naqly yang berupa Al-Quran dan Al-Hadits, dan dalil Aqly yang berupa akal (ijtihad). Penerapan sumber fiqih islam ke dalam tiga sumber, yaitu Al-Quran, Al-Hadits,dan ijtihad.

1. Al-Quran

Al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dengan bahasa arab yang memiliki tujuan kebaikan dan perbaikan manusia, yang berlaku di dunia dan akhirat. Al-Quran merupakan referensi utama umat islam, termasuk di dalamnya masalah hokum dan perundang-undangan.sebagai sumber hukum yang utama,Al-Quran dijadikan patokan pertama oleh umat islam dalam menemukan dan menarik hukum suatu perkara dalam kehidupan.

2. Al-Hadits

Al-Hadits adalah segala yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, baik berupa perkataan,perbuatan,maupun ketetapan. Al-Hadits merupakan sumber fiqih kedua setelah Al-Quran yang berlaku dan mengikat bagi umat islam.

3. Ijma’ dan Qiyas

Ijma’ adalah kesepakatan mujtahid terhadap suatu hukum syar’i dalam suatu masa setelah wafatnya Rasulullah SAW. Suatu hukum syar’i agar bisa dikatakan sebagai ijma’, maka penetapan kesepakatan tersebut harus dilakukan oleh semua mujtahid, walau ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ijma’ bisa dibentuk hanya dengan kesepakatan mayoritas mujtahid saja. Sedangkan qiyas adalah kiat untuk menetapkan hukum pada kasus baru yang tidak terdapat dalam nash (Al-Qur’an maupun Al-Hadist), dengan cara menyamakan pada kasus baru yang sudah terdapat dalam nash.

D. Prinsip Dasar (asas-asas) dan prinsip umum Fiqih Muamalah

Sebagai sistem kehidupan, Islam memberikan warna dalam setiap dimensi kehidupan manusia, tak terkecuali dunia ekonomi. Sistem Islam ini berusaha mendialektikkan nilai-nilai ekonomi dengan nilai akidah atau pun etika. Artinya, kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh manusia dibangun dengan dialektika nilai materialisme dan spiritualisme. Kegiatan ekonomi yang dilakukan tidak hanya berbasis nilai materi, akan tetapi terdapat sandaran transendental di dalamnya, sehingga akan bernilai ibadah. Selain itu, konsep dasar Islam dalam kegiatan muamalah (ekonomi) juga sangat konsen terhadap nilai-nilai humanisme. Di antara kaidah dasar (asas) fiqh muamalah adalah sebagai berikut :

2. Prinsip dasar (asas)

· Hukum asal dalam muamalat adalah mubah

· Konsentrasi Fiqih Muamalah untuk mewujudkan kemaslahatan

· Menetapkan harga yang kompetitif

· Meninggalkan intervensi yang dilarang

· Menghindari eksploitasi

· Memberikan toleransi

· Tabligh, siddhiq, fathonah amanah sesuai sifat Rasulullah

· Bermanfaat, adil dan muawanah

1. Prinsip umum

· Ta’awun (tolong-menolong)

· Niat / itikad baik

· Al-muawanah / kemitraan

· Adanya kepastian hukum, Kepastian hukum merupakan pertanyaan yang hanya bias dijawab secara normatif, bukan sosiologis. Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat, diterapkan dan dijadikan sebagai pedoman secara pasti dan mengatur secara jelas dan logis masalah yang akan diatur. Jelas dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi-tafsir) dan logis dalam artian ia menjadi suatu sistem norma yang sejalan dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma.

E. Konsep Aqad Fiqih Ekonomi (Muamalah)

Setiap kegiatan usaha yang dilakukan manusia pada hakekatnya adalah kumpulan transaksi-transaksi ekonomi yang mengikuti suatu tatanan tertentu. Dalam Islam, transaksi utama dalam kegiatan usaha adalah transaksi riil yang menyangkut suatu obyek tertentu, baik obyek berupa barang ataupun jasa. kegiatan usaha jasa yang timbul karena manusia menginginkan sesuatu yang tidak bisa atau tidak mau dilakukannya sesuai dengan fitrahnya manusia harus berusaha mengadakan kerjasama di antara mereka. Kerjasama dalam usaha yang sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam:

· Bekerja sama dalam kegiatan dapat menjadi pemberi pembiayaanØusaha, dalam hal ini salah satu pihak dimana atas manfaat yang diperoleh yang timbul dari pembiayaan tersebut dapat dilakukan bagi hasil. Kerjasama ini dapat berupa pembiayaan usaha 100% melalui akad mudharaba maupun pembiayaan usaha bersama melalui akad musyarakah.

· Kerjasama dalam perdagangan, di mana untuk

perdagangan dapat diberikan fasilitas-fasilitas tertentuØmeningkatkan dalam pembayaran maupun penyerahan obyek. Karena pihak yang mendapat fasilitas akan memperoleh manfaat, maka pihak pemberi fasilitas berhak untuk mendapatjan bagi hasil (keuntungan) yang dapat berbentuk harga yang berbeda dengan harga tunai.

· Kerja sama dalam penyewaan aset dimana obyek transaksi adalah manfaat dari penggunaan asset.

Kegiatan hubungan manusia dengan manusia (muamalah) dalam bidang ekonomi menurut Syariah harus memenuhi rukun dan syarat tertentu. Rukun adalah sesuatu yang wajib ada dan menjadi dasar terjadinya sesuatu, yang secara bersama-sama akan mengakibatkan keabsahan. Rukun transaksi ekonomi Syariah adalah:

1. Adanya pihak-pihak yang melakukan transaksi, misalnya penjual dan pembeli, penyewa dan pemberi sewa, pemberi jasa dan penerima jasa.

2. Adanya barang (maal) atau jasa (amal) yang menjadi obyek transaksi.

3. Adanya kesepakatan bersama dalam bentuk kesepakatan menyerahkan (ijab) bersama dengan kesepakatan menerima (kabul). Disamping itu harus pula dipenuhi syarat atau segala sesuatu yang keberadaannya menjadi pelengkap dari rukun yang bersangkutan. Contohnya syarat pihak yang melakukan transaksi adalah cakap hukum, syarat obyek transaksi adalah spesifik atau tertentu, jelas sifat-sifatnya, jelas ukurannya, bermanfaat dan jelas nilainya. Obyek transaksi menurut Syariah dapat meliputi barang (maal) atau jasa, bahkan jasa dapat juga termasuk jasa dari pemanfaatan binatang.

Pada prinsipnya obyek transaksi dapat dibedakan kedalam:

1. obyek yang sudah pasti (ayn), yaitu obyek yang sudah jelas keberadaannya atau segera dapat diperoleh manfaatnya.

2. obyek yang masih merupakan kewajiban (dayn), yaitu obyek yang timbul akibat suatu transaksi yang tidak tunai.

Secara garis besar aqad dalam fiqih muamalah adalah sebagai berikut :

1. Aqad mudharabah

Ikatan atau aqad Mudharabah pada hakikatnya adalah ikatan penggabungan atau pencampuran berupa hubungan kerjasama antara Pemilik Usaha dengan Pemilik Harta

2. Aqad musyarakah

Ikatan atau aqad Musyarakah pada hakekatnya adalah ikatan penggabungan atau pencampuran antara para pihak yang bersama-sama menjadi Pemilik Usaha,

3. Aqad perdagangan

Aqad Fasilitas Perdagangan adalah perjanjian pertukaran yang bersifat keuangan atas suatu transaksi jual-beli dimana salah satu pihak memberikan fasilitas penundaan pembayaran atau penyerahan obyek sehingga pembayaran atau penyerahan tersebut tidak dilakukan secara tunai atau seketika pada saat transaksi.

4. Aqad ijarah

Aqad Ijarah adalah aqad pemberian hak untuk memanfaatkan Obyek melalui penguasaan sementara atau peminjaman Obyek dgn Manfaat tertentu dengan membayar imbalan kepada pemilik Obyek. Ijara mirip dengan leasing namun tidak sepenuhnya sama dengan leasing, karena Ijara dilandasi adanya perpindahan manfaat tetapi tidak terjadi perpindahan kepemilikan.

KESIMPULAN

Dari berbagai penjelasan di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan dahwa Fiqih Muamalah merupakan ilmu yang mempelajari segala perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tujuan memperoleh falah (kedamaian dan kesejahteraan dunia akhirat). Perilaku manusia di sini berkaitan dengan landasan-landasan syariah sebagai rujukan berperilaku dan kecenderungan-kecenderungan dari fitrah manusia. Kedua hal tersebut berinteraksi dengan porsinya masing-masing sehingga terbentuk sebuah mekanisme ekonomi (muamalah) yang khas dengan dasar-dasar nilai ilahiyah.

Wudhu Tayamum, dan Mandi jinabat

(WUDHU’, TAYAMMUM, MANDI JINABAT)


CARA RASULULLOH MUHAMMAD SAW 

Al-Ahzab (33:21): Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah 

itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang 

mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia 

banyak menyebut Allah.

… Barang siapa yang berwudu seperti cara wudhuku ini, lalu 

salat dua rakaat, di mana dalam dua rakaat itu ia tidak berbicara 

dengan hatinya sendiri, maka dosanya yang telah lalu akan 

diampuni. (hadis Sahih Muslim: 331) 

WUDHU’ secara bahasa, bila dibaca dhammah artinya melakukan 

wudhu’. Dibaca fathah (WADHU’): air wudhu. 

Secara syari’at ialah menggunakan air yang suci (memenuhi 

syarat) untuk membersihkan anggota-anggota tubuh tertentu yang 

sudah diterangkan berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist. 

DASAR-DASAR PERINTAH WUDHU’ 

1. Al-Maidah (5): 6.

Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan 

sholat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, 

dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua 

mata-kaki,… 

2. Al-Hadist: HSR (Hadist Sahih Riwayat) Bukhary-Fathul Baary, 

I:206; Muslim, no. 225)

Dari Abu Hurairah, Rasulullooh saw bersabda: 

Allah tidak menerima shalat salah seorang diantara kamu 

apabila ia berhadats, sehingga ia berwudhu’. 

3. Al-Hadist: HSR-Muslim, I:160).

Dari Ibnu Umar: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullooh saw 

bersabda: Allah tidak akan menerima sholat (orang) yang tidak 

bersuci dan tidak menerima shodaqah dari hasil penipuan 

(khianat). 

4. Al-Hadist: HSR Abu Dawud, no. 3760; Tirmidzi, no. 1848 

(Hasan-Sahih) dan Nasa’i I:73).

Dari Ibnu Abbas, telah bersabda Rasulullooh saw: Hanyalah aku 

diperintah berwudhu’, apabila aku hendak sholat. (Hadis ini 

disahihkan oleh Muh.Nashiruddin Al-Albany dalam “Sahih 

Jaami’us Shaghiir, no. 2333). 

5. Al-Hadist: HSR Abu Dawud, no.60; Tirmidzi, no.3; Ibnu Majah 

no.275).

Dari Abu Sa’id, telah bersabda Rasulullooh saw: Kunci sholat 

adalah bersuci, tahrimnya adalah takbir dan tahlilnya adalah salam. 

(Disahihkan oleh MNA-A dam “Sahih Jaami’us Shaghiir, no. 

5761). 

MANFAAT WUDHU 

1. HSR-Muslim, I:1151.dan Mukhtaashar Muslim, no.133.

Dari Abu Hurairah r.a., telah bersabda Rasulullooh saw: 

Maukah aku tunjukkan kepada kalian beberapa hal yang dengan 

itu Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat 

kalian? Mau Ya Rasulullooh, ujar mereka. Sabda beliau: yaitu 

menyempurnakan wudhu’ ketika dalam keadaan sulit, sering 

melangkah menuju ke Masjid (untuk sholat berjama’ah), dan 

menunggu sholat (berikutnya) sesudah selesai mengerjakan sholat, 

yang demikian itu adalah perjuangan (Sahih MuslimI:151). 

2. HSR Muslim, I:148 dan Mukht.Muslim no. 121.

Dari Abu Hurairah, Rasulullooh bersabda: Apabila seorang hamba 

Muslim(mu’min) berwudhu, lalu ia mencuci wajahnya, maka akan 

keluar dari wajahnya setiap dosa yang pernah ia lihat (yang haram) 

dengan matanya bersamaan dengan air atau bersama tetesan air 

yang terakhir; bila ia mencuci kedua tangannya, keluar dari kedua 

tangannya setiap dosa yang pernah dilakukan oleh kedua 

tangannyabersamaan dengan air atau tetesan air yang terakhir. Dan 

bila ia mencuci kedua kakinya, akan keluar dosa-dosa yang 

dilakukan oleh kedua kakinya bersamaan dengan air atau 

bersamaan dengan tetesan air yang terakhir, hingga ia keluar dalam 

keadaan bersih dari dosa. 

3. HSR Ahmad,V:252.

Dari Abu Umamah, telah bersabda Rasulullooh saw: Apabila 

seorang muslim berwudhu’ maka akan keluar dosa-dosanya dengan 

sebab mendengar, melihat, dari tangannya dan dari kedua kakinya. 

Apabila ia duduk (menanti sholat), ia masuk dalam keadaan 

diampuni dosa-dosanya. Hadis ini dihasankan dalam “Sahih 

Jami’us Shaghiir, no.461. 

4. HSR Muslim I:140.

Dari Abu Malik Ay’ariy, telah bersabda Rasulullooh saw.: Bersuci 

itu sebagian dari iman, alhamdulillah akan memenuhi timbangan, 

subhanallooh dan alhamdulillaah keduanya akan memenuhi antara 

langit dan bumi, sholat adalah cahaya, shodaqoh adalah bukti, 

shobar adalah sinar, dan Al-Qur’an adalah hujjah atasmu atau 

bagimu. 

5. HSR Muslim III:133.

Dari Usman ra., telah bersabda Rasulullooh saw: Barangsiapa 

yang berwudhu, lalu ia sempurnakan wudhunya, niscaya akan 

keluar dosa-dosanya dari tubuhnya, sampai keluar (dosa-dosa) dari 

bawah kuku-kuku jarinya. 

URUTAN WUDHU’ 

1. N I A T. 

Niat artinya sengaja dengan penuh kesungguhan hati untuk 

mengerjakan wudhu’ semata-mata karena menaati perintah Allah 

SWT dan Rasulullooh Muhammad saw. 

Ibnu Taimiyah berkata tempat NIAT adalah dihati bukan di lisan 

(ucapan) dalam semua masalah ibadah. Dan seandainya ada yang 

mengatakan bahwa lisannya berbeda dengan hatinya, maka yang 

diutamakan adalah apa yang diniatkan dalam hatinya dan bukanlah 

yang diucapkan. Dan seandainya seorang berkata dengan 

ucapannya yang niatnya tidak sampai kehati maka tidaklah 

mencukupi untuk ibadah, karena niat adalah kesengajaan dan 

kesungguhan dalam hati. (Majmuu’atir-Rasaa-ilil-Kubro:I:243). 

Rasulullooh menerangkan: Dari Umar bin Khotab, ia berkata, 

Telah bersabda Rasulullooh saw:”Sesungguhnya segala perbuatan 

tergantung kepada niat, dan manusia akan mendapatkan balasan 

menurut apa yang diniatkannya. (lanjutan hadies)

tsb.”Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka 
hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang 
hijrahnya karena keduniaan yang hendak diperolehnya atau 
disebabkan karena wanita yang hendak dikawininya, maka 
hijrahnya itu adalah karena tujuan-tujuan yang ingin dicapainya 
itu). HSR (Hadiest Sahih Riwayat Bukhory, Fathul Baary I:9; 
Muslim, 6:48). 
2. TASMIYAH (membaca Basmallah).
Dari Abu Hurairoh ra., ia berkata: Telah bersabda Rasulullooh 
saw: “Tidak sempurna wudhu’ bagi yang tidak menyebut nama 
Allah padanya (HR. Ibnu Majah 339; Tirmidzi 26; Abu Dawud 
101). Kata Syaikh Al-Albany: Hadist ini SAHIH. Lihat Shahih 
Jami’us Shoghiir, no. 7444. Katanya, hokum TASMIYAH adalah 
wajib. Juga pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad dan Syaukany, 
Insya Allah ini yang benar. Walloohu a’lamu (Lihat Tamaamul 
minnah fii tahriiji fiqhis Sunnah, p. 89 dan As-Sailul Jiraar, I:76-
77). Hadist ini juga ditulis dalam Ahmad, 2:418; Hakim 1:146; 
Baihaqi 1:43 dan Daraquthny p.29. 
Dari Anas ra. ia berkata: sebagian para sahabat Nabi saw 
mencari air untuk berwudhu’, lalu Rasulullooh bersabda: 
“Apakah ada di antara kalian orang yang mempunyai air 
(membawa air)? Kemudian beliau meletakkan tangannya ke dalam 
air tsb. seraya berkata: BERWUDHU’ LAH kalian dengan 
membaca BISMILLAH (Wa yaquulu tawadh-dho-uu 
BISMILLAAHI) (lanjutan hadistnya.. lalu aku melihat air keluar 
dari jari-jari tangannya, hingga mereka berwudhu’ (semuanya) 
sampai orang terakhir berwudhu’. Kata Tsabit: Aku bertanya 
kepada Anas: Berapa engkau lihat jumlah mereka? Kata Anas: 
kira-kira jumlahnya ada tujuh puluh orang. (HSR. Bukhory I:236; 
Muslim 8: 411 dan Nasa’i No.78) 
3. Mencuci kedua Telapak Tangan.
Dari Humran bin Abaan, bahwasanya “Usman minta dibawakan 
air untuk wudhu’, lalu ia mencuci kedua telapak tangannya tiga 
kali, kemudian ia berkata: “Aku melihat Rasulullooh saw. 
berwudhu seperti wudhu’ saya ini (lihat HSR. Bukhary dalam 
Fathul Baary I:259 no.159;160; 164; 1934 dan 6433 dan Muslim 
1:141) 
Dari Abu Hurairah, ia berkata: telah bersabda Rasulullooh saw. 
Bila salah seorang diantaramu bangun tidur, janganlah ia 
memasukkan tangannya kedalam bejana, sebelum ia mencucinya 
tiga kali, karena ia tidak tahu dimana tangannya itu bermalam 
(HSR. Bukhary, Fathul Baary, 1:229). 
Hadist yang bunyinya mirip tetapi dari jalur lain yaitu Abdullah 
bin Zaid (lihat HSR Bukhary, Fathul Baary 1:255 dan Muslim 
3:121). JUga dari Aus bin Abi Aus, dari kakeknya (HSR Ahmad 
4:9 dan Nasa’i 1:55). 
4. Berkumur-kumur (Madhmadhoh) dan menghirup air kehidung
(Istinsyaaq)
Dari Abdullah bin Zaid al-Anshori, ketika diminta mencontohkan 
cara wudhu’ Rasulullooh saw hingga ia berkata: “Lalu ia 
(Rosulullooh saw.) berkumur-kumur dan menghirup air kehidung 
dari satu telapak tangan, ia lakukan yang demikian tiga kali (HSR. 
Bukhary dan Muslim /lihat dari hadist-hadist di nomor 3). 
Dari Amr bin Yahya, ia berkata: Lalu ia berkumur-kumur dan 
menghirup air kehidung dan menyemburkan dari tiga cidukan 
(HSR Muslim 1:123 dan 3:122). 
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi saw. bersabda: Apabila 
salah seorang dari kamu berwudhu,maka hiruplah air kehidung 
kemudian semburkanlah (HR Bukhary, Fathul Baary 1:229; 
Muslim 1:146 dan Abu Dawud no.140). 
Dari Laqith bin Shobroh, ia berkata: Ya Rasulullooh! 
Beritahukanlah kepadaku tentang wudhu’! Beliau bersabda: 
“sempurnakanlah wudhu’, menggosok sela-sela jemari dan 
bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air kehidung, kecuali 
kalau kamu berpuasa”. (HR. Abu Dawud no.142; Tirmidzi 38; 
Nasa’i 114 dan Ibnu Majah no.407). Hadist ini disahihkan oleh 
Ibnu Hibban dan Hakim dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dan 
disahihkan juga oleh Nawawy (Lihat Ta’liq atas Syarah Sunnah lil 
Imam Al-Baghowy, 1:417). 
Dari Abdu Khoir, ia berkata: Kami pernah duduk memperhatikan 
Ali ra. yang sedang berwudhu’, lalu ia memasukkan tangan 
kanannya yang penuh dengan air dimulutnya berkumur-kumur 
sekaligus menghirup air kedalam hidungnya, serta 
menghembuskannya dengan tangan kiri. Hal ini dilakukan 
sebanyak tiga kali, kemudian ia berkata, barangsiapa yang senang 
melihat cara bersucinya rasulullooh saw. maka inilah caranya (HR 
Ad-Daarimy 1:178). Kata Al-Albany sanadnya shahih (lihat 
Misykaatul Mashaabih 1:129 no.411). 
5. Membasuh muka.
Batas Muka meliputi, mulai dari tempat tumbuhnya rambut 
dikepala sampai kejenggot dan dagu, dan dari samping mulai dari 
tepi telinga sampai tepi telinga berikutnya. 
Firman Allah S. Sl-Maidah (5):6: Dan basuhlah muka-mukamu. 
Bukhory dan Muslim meriwayatkan dari Humran bin Abaan, 
bahwa Utsman minta air wudhu, lalu ia menyebut sifat wudhu 
Nabi s.a.w., ia berkata: “kemudian membasuh mukanya tiga kali” 
(Bukhory I:48; Fathul Baary I:259, no.159 dan Muslim I:141) 
6. Mencuci Jenggot (Takhliilul Lihyah)
Berdasarkan hadits Utsman ra.: Bahwasanya Nabi saw. mencuci 
jenggotnya. (HR. Tirmidzi no.31, ia berkata hadist ini HASAN￾SAHIH; Ibnu Majah no.430; Ibnul Jarud, hal,43; Hakim I:149 dan 
ia berkata: SANADNYA SAHIH). Hadist ini disahihkan pula oleh 
Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban (LIhat Ta’liq syarah Sunan 
Imam al-Baghowy I:421). 
Dari Anas ra. bahwa Nabi saw. bila berwudhu’ mengambil seciduk 
air (ditelapak tangannya), kemudian imasukkannya kebawah 
dagunya, lalu ia menyela-nyela jenggotnya seraya bersabda: 
“Beginilah Robb-ku ‘Azza wa Jalla menyusuh aku” (HSR. Abu 
Dawud, no.145; Baihaqy I:154 dan Hakim I:149). Syaikh Al￾Albany berkata Hadist ini sahih (Shahih Jaami’us Shoghiir, No. 
4572). Sebagian ulama berpendapat bahwa mencuci jenggot ini 
wajib, tetapi sebagian mengatakan wajib untuk mandi janabat dan 
sunnah untuk wudhu, Imam Ahmad termasuk yang menyetujui 
pendapat terakhir(‘Aunul Ma’bud I:247). 
7. Membasuh kedua tangan sampai kesiku.
Allah berfirman S.Al-Maidah (5):6: Dan basuhlah tangan￾tanganmu sampai siku. Dari Humron bin Abaan bahwa Utsman 
minta air wudhu’, lalu ia menyebut sifat (tatacara) wudhu’ Nabi 
saw., kemudian Humron berkata: Kemudian ia membasuh 
tangannya yang kanan sampai siku, dilakukan tiga kali dan yang 
kiri demikian pula. (Lihat hadist yang sama dalam membasuh 
muka, SAHIH). Dari Nu’aim bin Abdullah Al Mujmir, ia berkata: 

Aku pernah melihat Abu Hurairah berwudhu’, lalu ia 
menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia membasuh tangan 
kanannya hingga mengenai bagian lengan atasnya, kemudian 
membasuh tangan kirinya hingga mengenai bagian lengan atasnya 
dan diakhir Hadist ia berkata: demikianlah aku melihat 
Rasulullooh saw. berwudhu’ (HSR. Muslim, I:246 atau Shohih 
Muslim, I:149). 
Dari Jabir r.a. bahwa Nabi saw. bila berwudhu’ mengalirkan air 
atas kedua sikunya (HR. Daruquthni, I:15; Baihaqy, I:56). Ibnu 
Hajar mengatakan Hadist ini Hasan, dan Syaikh Al-Albany berkata 
SAHIH (Shohih Jaami’us Shoghiir, no.4574). 
8. Mengusap Kepala, Telinga dan Sorban.
Allah berfirman: S.Al-Maidah (5):6 Dan usaplah kepala-kepalamu. 
Yang dimaksud disini adalah mengusap seluruh kepala, dan 
bukanlah sebagian kepala (Lihat Al-Mughni, I:112 & I:176 dan 
Nailul Authar, I:84 & I:193). 
Dari Abdullah bin Zaid, bahwa Rasulullooh saw. mengusap 
kepalanya dengan dua tangannya, lalu ia menjalankan kedua 
tangannya kebelakang kepala dan mengembalikan-nya, yaitu 
beliau mulai dari bagian depan kepalanya, kemudian menjalankan 
kedua tangannya ketengkuknya, lalu mengembalikan kedua 
tangannya tadi ke tempat dimana ia memulai (HSR. Bukhory I:54-
55; Muslim I:145; Sahih Tirmidzi No.29; Abu Dawud no.118; 
Sahih Ibnu Majah no.348; Nasa’i I:71-72 dan Ibnu Khuzaimah 
no.173. Dalam Fathul Baary I:289 no.185. Dalam Nailul Author 
I:183. Hukumnya WAJIB. 
8.a. Telinga 
Dari Abu Umamah, ia berkata: Nabi saw. pernah berwudhu’, lalu 
beliau membasuh mukanya tiga kali; membasuh kedua tangannya 
tiga kali dan mengusap kepalanya dan ia berkata: DUA TELINGA 
ITU TERMASUK KEPALA (HSR. Tirmidzi no.37; Abu Dawud 
no.134 dan Ibnu Majah no.444). Syaikh Muhammad Nashiruddin 
al-Albany berkata: Hadist ini sahih dan mempunyai banyak jalan 
dari beberapa sahabat (lih.Silsilah Alhaadits Shohihah juz I: 47-
57). 
Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz, bahwasanya Nabi saw. mengusap 
kepalanya dengan air sisa yang ada di tangannya. (HR. Abu 
Dawud no.130 & Sahih Abu Dawud no.120, hadist ini dihasankan 
oleh Abu Dawud). 
Dari Abdullah bin Zaid: Bahwa pernah melihat Nabi saw. 
berwudhu’ lalu beliau mengusap kepalanya dengan air yang bukan 
dari sisa kedua tangannya. (Sahih Tirmidzi no.32; Abu Dawud 
no.120 & Sahih Abu Dawud no.111). 
Dari Abdullah bin Amr.- tentang sifat wudhu’ nabi saw., kemudian 
ia berkata:” Kemudian beliau saw. mengusap kepalanya dan 
dimasukkan kedua jari telunjukknya dikedua telingannya, dan 
diusap (daun telinga) dengan kedua ibu jarinya. (HR. Abu Dawud 
no.135, Nasa’i no.140 dan Ibnu Majah, no.422 dan disahihkan oleh 
Ibnu Khuzaimah). Kata Ibnu Abbas: bahwa Nabi saw. mengusap 
kepalanya dan dua telinganya bagian luar dan dalamnya (HSR. 
Tirmidzi no.36; Ibnu Majah no.439; Nasaiy I:74; Baihaqy I:67 dan 
Irwaaul Gholil no.90). 
8.b. Mengusap atas sorban
Amr bin Umayah Adh-Dhamriy, ia berkata: Aku pernah melihat 
Rasulullooh s.a.w. mengusap atas serbannya dan dua sepatunya. 
(HSR =Hadist Sahih Riwayat; Bukhory, I:59; Fathul Baary, I:308, 
no.204 dan 205). 
Dari Bilal r.a. ia berkata: Bahwa Nabi s.a.w mengusap atas dua 
Khufnya (sepatu) dan khimarnya (sorban). (HSR Muslim, I:159, 
Mukhtashar Shahih Muslim no.141; Nailul Authar I:196). Adapun 
peci/kopiah/songkok, maka tidak boleh diusap atasnya, karena 
tidak ada kesulitan bagi kita untuk melepaskannya. Walloohu 
a’lam. Adapun kerudung/ jilbab perempuan, maka dibolehkan 
untuk mengusap di atasnya, karena Ummu Salamah r.a. pernah 
mengusap jilbabnya. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Mundzir (lihat 
Al-Mughni I:312 dan I:383-384). 
9. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki
Allah SWT berfirman: Dan basuhlah kaki-kakimu hingga dua 
mata kaki (QS. Al-Maidah: 6). 
Dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Rasulullooh s.a.w pernah 
tertinggal dari kami dalam suatu bepergian, lalu beliau menyusul 
kami, sedang ketika itu kami terpaksa menunda waktu Ashar 
sampai menjelang akhir waktunya maka kami mulai berwudhu’ 
dan membasuh kaki-kaki kami. Abdullah bin ‘Amr berkata 
kemudian Rasulullooh s.a.w. menyeru dengan suara yang keras: 
“Celaka bagi tumit-tumit dari api neraka! beliau ucapkan yang 
demikian 2 atau 3 kali. (HSR. Bukhory, I:49; Fathul Baary I:265; 
Muslim, III:132-133). Imam Nawawy di dalam syarah Shahih 
Muslim sesudah membawakan Hadist di atas, beliau berkata, 
Imam Muslim beristidhal (untuk menjadikan dalil) dari hadist ini 
tentang wajibnya membasuh kedua kaki dan tidak cukup hanya 
mengusap saja. 
Dari Nu’aim bin Abdillah al-Mujmir r.a. ia berkata: Aku pernah 
melihat Abu Hurairah berwudhu’, lalu ia mencuci mukanya, 
kemudian ia menyempurnakan wudhu’nya, lalu ia mencuci tangan 
kanannya hingga mengenai bagian lengan atasnya, kemudian 
mencuci tangan kirinya hingga mengenai bagian lengan atasnya, 
kemudian mengusap kepalanya, kemudian mencuci bagian 
kakinya yang kanan hingga mengenai betisnya lalu kakinya yang 
kiri hingga betisnya, kemudian berkata: demikianlah aku melihat 
Rasulullooh s.a.w. berwudhu’, dan bersabda: Kalian adalah orang￾orang cemerlang muka, kedua tangan dan kaki pada hari Kiamat, 
karena kalian menyempurnakan wudhu’. Oleh karena itu 
barangsiapa di antara kalian yang sanggup, maka hendaklah ia 
memanjangkan kecemerlangan muka, dua tangan dan kakinya. 
(HSR. Muslim I:149 atau Syarah Shahih Muslim no.246). 
Dari Mustaurid bin Syaddaad al Fihry, ia berkata:”Aku pernah 
melihat Nabi s.a.w bila berwudhu’, beliau menggosok jari-jari 
kedua kakinya dengan jari kelingkingnya. (HSR Abu Dawud, No. 
148; Shahih Tirmidzi no.37 dan Shahih Ibnu Majah no. 360). 
Dalam Shahih Ibnu Majah ia menggunakan kata menyela-nyela 
sebagai pengganti menggosok-gosok celah-celah jari). 
HAL-HAL YG PERLU DIPERHATIKAN 
1. Mulai dari yang kanan
Dari ‘Aisyah r.a., ia berkata: Adalah Rasulullooh s.a.w. 
menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandalnya, 
menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya (Bukhory, Fathul 
Baary, 1:235; Muslim no. 268). 
Dari Abi Hurairoh r.a., bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: Apabila 
kamu mengenakan pakaian dan bila kamu berwudhu’, maka 
mulailah dari anggota-angota kananmu (Sahih Abu Dawud, no. 

3488; dan Ibnu Majah no.323). 
2. Jumlah air yang digunakan
Dari Anas r.a., ia berkata:”Nabi biasa berwudhu’ dengan 
memakai satu mud dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud 
(Muslim, 1: 156). 
Keterangan: 1 sha’ = 4 mud; 1 mud = 675 gram atau 0.688 liter 
3. Do’a selesai wudhu’
‘Umar bin Khoththob, ia berkata: telah bersabda Rasulullooh s.a.w. 
Tidak seorangpun di antara kamu yang berwudhu’, lalu menyem￾purnakan wudhu’nya, kemudian membaca: Asy-hadu alla ilaaha 
illalloohu wahdahu laa syarii-kalahu wa asy-hadu anna 
Muhammdan ‘abduhu wa roosuuluhu; kecuali mesti dibukakan 
baginya pintu-pintu surga yang delapan, yang ia akan masuk dari 
manapun yang ia kehendaki (Muslim 1:144-145;dll buku hadiest). 
Dengan tambahan bacaan: Alloo-hummaj’alnii minat-tawwaa￾biina waj’alnii minal-mutath-thoh-hiriina. Ya Allah, jadikanlah 
aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan dijadikan aku 
termasuk orang-orang yang membersihkan diri. Katanya tambahan 
ini ada keraguan, tetapi disahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam 
Jami’us Shoghiir, no. 6043. 
Dari Abu Sa’ad al-Khudriy, ia berkata: Telah bersabda Rasulullooh 
s.a.w.: Siapa yang berwudhu’, kemudian sesudah selesai berwudhu’ 
ia membaca: Sub-haanakalloohumma wa bihamdika asy-hadu 
allaa ilaaha illaa an-ta as-tagh-firuka alloohumma wa atuu-bu 
ilaik. Maha suci Engkau Ya Allah, dengan memuji Engkau aku 
mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon 
ampun Ya Allah dan bertaubat kepadaMU), akan ditulis dikertas 
putih, kemudian dialihkan pada stempel yang tidak akan pecah 
sampai hari kiamat (HR. Ibnus-Sunny) Disahihkan dalam Shohih 
Jami’us-Shoghiir, no.6046. 
YANG MEMBATALKAN WUDHU’ 
1. Apa-apa yang keluar dari salah satu dari kedua jalan
(vulva dan anus/dubur).
Dari Abu Hurairoh, ia berkata: Rasulullooh s.a.w. bersabda: Allah 
tidak menerima sholat salah seorang diantara kamu, apabila ia 
berhadats, sampai ia berwudhu’ (Bukhory, 2:43 dan Muslim 1:140-
141; Fathul Baary, 1:234 dll buku hadiest Tirmidzi, no.76 dan 
Ahmad 2:318). QS. An-Nisa’ (4):43: ..atau salah seorang di antara 
kamu datang dari tempat buang air. 
Dari Abu Hurairoh r.a., ia berkata: telah bersabda Rasulullooh 
s.a.w.: Apabila salah seorang di antara kamu merasakan sesuatu di 
dalam perutnya, kemudian ia ragu-ragu apakah telah keluar atau 
tidak, maka janganlah keluar dari masjid (janganlah membatalkan 
sholatnya) sampai benar-benar ia mendengar suara atau 
menemukan bau (Syarah Muslim 4:51). 
2. Tidur nyenak.
Dari Ali bin Abi THOLIB r.a., ia berkata: Rasulullooh s.a.w. 
bersabda: Mata itu pengikat dubur, maka siapa saja yang tidur 
(nyenyak) hendaknya ia berwudhu’ (Shahih Abu Dawud no.188; 
Ibnu Majah no.386) berderajat hasan. 
3. Menyentuh kemaluan tanpa ada batas. Ada pertentangan 
didalamnya.
Dari Abu Hurairoh r.a. ia berkata: Rasulullooh s.a.w. bersabda: 
Jika salah seorang dari kamu menyentuh tangannya pada 
kemaluannya dengan tanpa alas dan tutupan, maka ia wajib wudhu’ 
(Hakim, 1:13). 
Dari Qais bin Thalq bin Ali dari ayahnya, ia berkata: 
Rasulullooh s.a.w. ditanya tentang seseorang yang menyentuh 
kemaluannya sesudah berwudhu’ (apakah harus wudhu’lagi)? Lalu 
Nabi s.a.w. menjawab: Sebenarnya kemaluan itu bagian dari 
tubuhmu sendiri. (Shahih Abu Dawud no.167; Sh.Ibnu Majah 
no.392). Sehingga ada yang mempertentangkan tentang kedua 
hadist ini. Syaikhu Islam Ibnu Taimiyyah menggabungkan kedua 
hadist ini dan berkata kalau menyentuh yang dimaksud dengan 
syahwat (nafsu) maka batal wudhu’. 
Dari Aisyah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. mencium salah seorang 
istrinya, kemudian keluar ke (masjid) untuk sholat, dan tidak 
berwudhu’ lagi (Shahih Tirmidzi no.75; sh. Abu Dawud 
no.165;Sh.Ibnu Majah no.406). ‘Aisyah berkata: sesungguhnya 
Rasulullooh s.a.w. pernah melaksanakan sholat malam, sedangkan 
aku tidur melintang dihadapannya sebagaimana melintangnya 
jenazah, sehingga apabila ia mau sujud, dirabanya kakiku 
(Muttafaq ‘alaihi). ‘Aisyah berkata: Pada suatu malam aku 
kehilangan Rasulullooh s.a.w. (dari tempat tidurnya), kemudian 
aku mencarinya sambil tanganku meraba-raba, tiba-tiba tanganku 
menyentuh kedua (telapak) kakinya, sedang kedua kakinya dalam 
keadaan ditegakkan ketika beliau sujud (Muslim 3:203). 
TAYAMMUM 
Tata cara tayammum secara gamblang dijelaskan dalam hadits 
Ammar sebagai berikut: 
Dari Abdurrahman bin Abza ia berkata, Telah datang seorang laki￾laki kepada Umar bin Khoththob seraya berkata, “Saya junub 
sedangkan saya tidak mendapati air.” Ammar (bin Yasir) berkata 
kepada Umar bin Khaththab, Ingatkah engkau ketika kita dahulu 
pernah dalam suatu safar, engkau tidak sholat sedangkan aku 
mengguling-guling badanku dengan tanah lalu aku sholat? Setelah 
itu, kuceritakan kepada Nabi kemudian beliau bersabda, 
“Cukuplah bagimu seperti ini.” Nabi menepukkan kedua telapak 
tangannya ke tanah lalu meniupnya dan mengusapkan ke wajah 
dan telapak tangannya. HR. Bukhari no. 338 dan Muslim no. 368. 
Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadz, Tayammum itu satu 
tepukan, untuk wajah dan kedua telapak tangan. HR. Abu Dawud 
(327), Ahmad (4/263), Tirmidzi (144), Darimi (751), Ibnu 
Huzaimah dalam shahih-nya (266, 267) dan Ibnu Jarud dalam Al￾Muntaqo (126). Dan dishahihkan oleh Imam Darimi dalam sunan￾nya dan Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 161. Anggota 
tayammum hanya wajah dan telapak tangan. Inilah pendapat yang 
benar. Adapun hadits-hadits yang menjelaskan bahwa tayammum 
sampai ke siku atau ketiak seluruhnya tidak ada yang shohih 
sebagaimana dijelaskan dengan bagus oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar 
dalam Fathul Bari (1/590-891). Lanjut beliau, Di antara hal yang 
memperkuat riwayat Bukhari Muslim yang hanya mencukupkan 
wajah dan telapak tangan saja adalah fatwa Ammar bin Yasir 
sepeninggal Nabi bahwa anggota tayammum adalah wajah dan 
telapak tangan. Tidak diragukan lagi, rowi hadits lebih mengerti 
tentang makna hadits daripada orang selainnya, lebih-lebih 
seorang sahabat mujtahid (seperti Ammar bin Yasir). At-Talkhis 
Habir (1/237-239) karya Ibnu Hajar. 

MANDI JINABAT
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Adalah Rasulullah saw. jika 
mandi jinabat, beliau memulai dengan membasuh kedua tangan, 
lalu menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, 
kemudian membasuh kemaluan. Setelah itu berwudu seperti wudu 
untuk salat lalu mengguyurkan air dan dengan jari-jemari, beliau 
menyelai pangkal rambut sampai nampak merata ke seluruh tubuh. 
Kemudian beliau menciduk dengan kedua tangan dan dibasuhkan 
ke kepala, tiga cidukan, kemudian mengguyur seluruh tubuh dan 
(terakhir) membasuh kedua kaki beliau (hadis dalam kitab Sahih 
Muslim: 474). 
Hadis riwayat Maimunah ra., ia berkata: Aku pernah menyodorkan 
air kepada Rasulullah saw. untuk mandi jinabat. Beliau membasuh 
kedua telapak tangan, dua atau tiga kali, kemudian memasukkan 
tangan ke dalam wadah dan menuangkan air pada kemaluan beliau 
dan membasuhnya dengan tangan kiri. Setelah itu menekan tangan 
kiri ke tanah dan menggosoknya keras-keras, lalu berwudu seperti 
wudhu salat, kemudian menuangkan air ke kepala tiga kali cidukan 
telapak tangan. Selanjutnya beliau membasuh seluruh tubuh lalu 
bergeser dari tempat semula dan membasuh kedua kaki kemudian 
aku mengambil sapu tangan untuk beliau, tetapi beliau 
mengembalikan (hadis dalam kitab Sahih Muslim: 476). 
Hadis riwayat Aisyah ra.: 
Bahwa Rasulullah saw. Apabila akan tidur dalam keadaan junub, 
maka beliau berwudhu seperti wudhu untuk salat sebelum tidur 
(hadis dalam kitab Sahih Muslim: 460). 
Sehingga selama belum wudhu’ janganlah melakukan aktivitas￾aktivitas seperti makan, minum, tidur, ataupun ber-jima’ lagi, dll. 
Walloohu a’lamu bish-showaab. 
Alhamdulillaahi Robbal ‘Aalamiin. 
Maroji’:
– Al-Qur’anul Karim 
– Bulughul Maram, Ibn Hajar al-Asqalani.
http://www.isnet.org
http://quran.al-islam.com/default.asp
– dll 

Thoharoh

A. PENGERTIAN THOHAROH

Thoharoh menurut bahasa adalah bersih, murni dari kotoran baik hissi seperti najis maupun maknawi seperti dosa.

Sedangkan thoharoh menurut istilah adalah mengangkat hadast atau menghilangkan najis atau yang semakna dan serupa bentuk dengannya. (Al-majmu I/124, Mughni muhtaj I/16 dan Fiqhul Islam I/88)

B. BENTUK-BENTUK THOHAROH

Dari definisi di atas dapatlah kita mengetahui tentang pembagian thoharoh, bahwa thoharoh itu ada 2 :

1. Thoharoh dari hadast khusus pada badan yang terdiri dengan cara berwudhu, mandi jinabat dan tayamum sebagai pengganti wudhu dan mandi manakala tak bisa melakukannya yang akan dijelaskan kemudian;

2. Thoharoh dari kotoran di badan, baju dan tempat dengan cara membasuh, mengusap/menyapu dan menciprati dengan air yang akan dijelaskan kemudian.

C. SYARAT-SYARAT WAJIB THOHAROH

Toharoh diwajibkan bagi orang berkewajiban melaksanakan sholat. Orang yang wajib melaksanakan sholat harus memenuhi syarat-syarat berikut. Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka tidak wajib baginya melaksanakan sholat. Begitupun tidak wajib baginya berthoharoh. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :

1. Islam, oleh karena itu tidak wajib sholat dan thoharoh bagi nonmuslim.Begitupun tidak wajib diqodho sholat dan thoharoh apabila dia masuk Islam berdasarkan firman Allah dan ijma’ (kesepakatan ulama);

2. Berakal, oleh karena itu tidak wajib bagi orang yang tidak berakal;

3. Baligh,oleh karena itu tidak wajib bagi orang yang belum baligh;

4. Bersih dari haid dan nifas;

5. Masuk waktu sholat (khusus bagi yang daimul hadast);

6. Tidak sedang tidur;

7. Tidak dalam keadaan lupa;

8. Tidak dalam keadaan terpaksa;

9. Adanya air atau tanah untuk tayamun. Bagi yang tidak ada air atau tanah -menurut satu pendapat- tetap harus sholat dengan menghormati waktu solat;

10. Ada kemampuan untuk melaksanakannya (fiqhul Islam wa adilatuhu I/90-91)

D. HUKUM THOHAROH

Setiap orang yang badan, pakaian dan tempatnya terkena najis, diwajibkan atasnya untuk membersihkannya. Allah berfirman :

ﻭَﺛِﻴَﺎﺑَﻚَ ﻓَﻄَﻬِّﺮْ ‏( ﺍﻟﻤﺰﻣﻞ 4: )

… Dan akan pakainmu, maka bersihkanlah/sucikanlah (QS : Al-Mujammil :4 )

dan

ﺃََﻥْ ﻃَﻬِّﺮَﺍ ﺑَﻴْﺘِﻲْ ﻟِﻠﻄَّﺎﺋِﻔِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻛِﻔِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟﺮُّﻛَﻊِ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮْﺩِ ‏( ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : )

“….. supaya Ibrohim dan Ismail membersihkan rumah-Ku untuk orang-orang yang berthowaf dan yang beri’tikaf dan yang ruku’ serta sujud.” (QS : Al-Baqoroh : 125)

Dalam kedua ayat di atas walaupun Allah memerintahkan untuk membersihkan baju dan tempat sholat, maka untuk membersihkan badan harus lebih diutamakan dan diperhatikan (fiqhul Islam wa adilatuhu I/90)

E. MACAM-MACAM YANG MENSUCIKAN

Hal-hal yang mensucikan untuk benda cair dan padat ada 5 macam :

1. Air Mutlaq, yaitu air yang tidak ada kaid idhofie seperti air mawar, kaid wasfi seperti air yang memancar ( ﻣﺎﺀ ﺩﺍﻓﻖ ). Air mutlak ini ada tujuh macam :

a. air sumur

b. air sungai;

c. air laut;

d. air es;

e. air embun;

f. air hujan dan

g. air mata air

2. Tanah, yaitu tanah yang suci, berdebu, belum digunakan bersuci dan tidak bercampur dengan yang lainnya seperti tepung;

3. Penyamakan, yaitu pengambilan sisa daging yang menempel pada kulit bangkai yang akan membusukan sekiranya diredam di dalam air dengan benda yang sepet walaupun berupa najis seperti kotoran burung;

4. Pencukaan, yaitu khomar (arak) yang jadi cuka dengan sendirinya tanpa ada sesuatu yang lain yang mencampurinya;

5. Batu, yaitu suatu batu yang bisa mensucikan kotoran atau air seni untuk bercebok dengan syarat-syarat yang akan diterangkan kemudian. Insya Allah

Dari yang 5 lima diatas bisa dipakai untuk bermudhu dan mandi (air mutlak), bertayamum (tanah) dan menghilangkan najis( air mutlak, penyamakan dan batu) (Tuhfatl tulab hal :9, Al-majmu’ : I/188, Mughni muhtaj :I/17)

Sehubungan kita diwajibkan sholat sehari semalam 5 waktu dan salah satu syaratnya adalah suci dari hadast besar dan kecil serta najis yang mana alat bersucinya adalah mayoritas dengan air, maka alangkah baiknya kita ketahui jenis-jenis air. Ini perlu sekali,karena ketidaktahuan akan mengakibatkan kita ceroboh menggunakan air sedangkan air tersebut tidak sah untuk bersuci.

F. SIFAT-SIFAT AIR

Jenis-jenis air yang ada dan bisa kita lihat ada 5 :

1. Air suci mensucikan serta tidak makruh digunakan

Yang termasuk ke dalam air ini adalah air mutlak yang di atas. Allah berfirman :

ﻭَﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﻣَﺎﺀً ﻃَﻬُﻮْﺭًﺍ ‏( ﺍﻟﻔﺮﻗﺎﻥ 48 )

“Dan telah Kami turunkan dari langit air yang suci” (QS:Alfurqon : 48)

2. Air suci mensucikan serta makruh digunakannya

Yang termasuk ke dalam air ini adalah air musyammas artinya air yang tersinari dengan cahaya matahari. Kemakruhan ini jika terpenuhi syara-syarat :

a. diwadahi dengan logam yang bukan terbuat dari mas dan perak;

b. berada di daerah yang temperatur panasnya sangat tinggi terutama di musim kemarau seperti di Mekah dan negara sekitarnya dan

c. masih panas. Karena ada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Syafei dari Ibnu Umar.

ﻋﻦ ﺃﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺃﻧﻪ : ﺍَﻧَّﻪُ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﺍﻻﻏْﺘِﺴَﺎﻝَ ﺑِﺎﻟﻤْﺎﺀ ﺍﻟﻤُﺸَﻤَّﺲِ : ﻭﻗﺎﻝ : ﺃَﻧَّﻪُ ﻳُﻮْﺭِﺙُ ﺍْﻟﺒَﺮَﺹَ .

Dari Ibnu Umar sesungguhnya beliau memakruhkan mandi dengan air musyammas. Dia berkata “ bahwa air tersebut akan mewariskan penyakit kusta”. ( Asnal matholib syarh rodhotutholib : I/20 )

Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi maka air itu tidak makruh dipakai. Begitupun air itu tidak makruh jika digunakan bukan pada badan seperti untuk mencuci pakaian, mengilangkan najis di tempat. Namun Imam Nawawie berpendapat dalam kitab Majmu dan Tanqiih “tidak ada kemakruhan secara mutlak untuk apapun “ Ini pendapat yang kuat dan dipilih oleh para ulama Syafiiyah. ( Asnal matholib fii syarh roudhotitholib : I/22);

3. Air suci tidak mensucikan

Yang termasuk ke dalam air ini ada 2 ;

a. Air musta’mal, yaitu air yang telah terpakai untuk mengangkat hadast yang wajib ( misalnya : basuhan pertama dalam wudhu dan mandi jinabat ) atau menghilangkan najis. Dasar hukumnya, karena orang-orang salaf dalam perjalanan tidak mengumpulkan kembali air musta’mal untuk dipakai kedua kali bersuci, sedangkan dia sangat membutuhkan. Mereka tidak menganggap jijik. Mereka lebih memilih bertayamum.( Asnal matholib I/10) dan

b. Air yang robah oleh benda suci. Air yang robah dengan benda suci ini ada 3;

1) Air yang robah dengan mukholit (yang mencampuri tak bisa dipisahkan /dibedakan/disisihkan dengan air) serta tidak berkaitan erat dengan air; seperti teh, susu, kopi, sirop. Jadi bila air tercampuri dengan benda-benda tersebut, maka air itu suci (bisa diminum) tapi tak mensucikan (tak bisa mengangkat hadast dan menghilangkan najis) ;

2) Air yang robah dengan mukholit serta berkaitan erat antara keduanya, seperti tempat mengalirnya air, tempat menetapnya air hingga mengeruhkan atau merobah warna seperti tanah, lumut, bunga teratai dll. Jika air tersebut berobah dengan hal tersebut, maka air tersebut tetap suci serta mensucikan dan

3) Air yang robah dengan mujawwir (yang mencampuri bisa dibedakan/dipisahkan/disisihkan dengan air) seperti kayu, minyak, kaporit, kapur dll. Jika air robah dengan hal tersebut, maka air itu tetap suci mensucikan.

4. Air Mutanajis (yang terkena najis)

Air mutanajis ini ada 2 keadaan ;

a. Keadaan air sedikit, yaitu kurang dari 2 qullah ( 270 ltr) atau (60,1 cm P x L x T) untuk tempat persegi empat. Jika air volume kurang dari 2 qullah, maka jika terkena najis baik sedikit maupun banyak, baik berobah maupun tidak airnya, maka air tersebut jadi mutanajis (tidak suci mensucikan) sebagaimana sabda nabi :

ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :)) ﺇِﺫَﺍ ﺑَﻠَﻎَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ ﻗُﻠَّﺘَﻴْﻦ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﻤِﻞْ ﺧَﺒَﺜَﺎ (( ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ )

“ Dari Ibnu Umar RA ; Telah berkata ; Telah bersabda Rosulallah SAW “Apabila air telah sampai dua qullah, maka tidak akan membawa najis “. ( HR Abu Daud)

Dari mafhum hadist ini berarti “ air yang kurang dari dua qullah bisa jadi najis (mutanajis) jika terkena najis “ baik berobah maupun tidak.

b. Keadaan air banyak, yaitu air yang ada 2 atau lebih dari 2 qullah. Jika terkena najis, maka tidak jadi mutanajis kecuali jika robah bau, warna dan rasa air. Hal ini sebagaimana sabda Rosul SAW :

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻣﺎﻣﺔ ﺍﻟﺒﺎﻫﻠﻰ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻤَﺎﺀَﻻَﻳُﻨَﺞُﻪُﺳِّ ﺷَﻲْﺀٌ ﺍِﻻَّ ﻣَﺎﻏَﻠَﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺭِﻳْﺤِﻪِ ﻭَﻃَﻌْﻤِﻪِ ﻭَﻟَﻮْﻧِﻪ ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻰ )

“ Dari Abu Umamah RA telah berkatra: Telah bersabda Rosulallah SAW : Tidak ada sesuatu apapun yang menjadikan air najis kecuali jika air itu berobah baunya, rasanya dan rupanya’. (HR Ibnu Majah dan Baihaqie)

5. Air suci mensucikan haram dipakainya

Yang dimaksud dengan air ini adalah air yang suci mensucikan yang diperoleh dengan cara haram seperti menghosab, mencuri atau air yang hanya diperuntukan untuk diminum di jalan Allah (Almaul musabbal). Oleh karena itu ketika menunaikan haji, lalu masuk ke masjid Haraom di Mekah atau Masjid Nabawie di madinah, maka tidak diperkenankan mengambil air yang ada di dalam masjid untuk berwudhu atau mandi, walaupun untukk di minum