Arsip

Islamic Entrepreneurship

Gambar

By fathshop

>> PENGERTIAN ENTREPRENEURSHIP

Entrepreneurship merupakan karakter yang dimiliki oleh seseorang yang dapat menghasilkan sesuatu yang sumber asalnya berada atau tersebar di berbagai pihak. Ia menjadikannya suatu hal yang baru yang bermanfaat melalui suatu proses inovasi. Ia juga menjadi bagian praktek atau perilaku baru dalam masyarakat yang dibicarakan. Individu yang melakukan hal tersebut dinamakan entrepreneur. Jadi kata kuncinya adalah inovasi. Dan inovasi tersebut hasilnya diterima oleh masyarakat. Kata masyarakat inilah yang berkaitan dengan istilah civic. Karena itu, inovasi tersebut harus memberikan keuntungan bagi seluruh masyarakat, bukan hanya memberikan keuntungan bagi sang inovator atau seorang entrepreneur saja. Karena itu seorang entrepreneur sejak awal harus memiliki jiwa atau semangat kemasyarakatan. Seorang civic entrepreneur dapat berasal dari LSM, dunia usaha, pemerintah atau kalangan lainnya yang memiliki motivasi untuk mengembangkan inovasi demi kepentingan umum. Metoda atau teknik untuk mencapai hal tersebut serta skalanya bermacam-macam tergantung masalah yang dihadapi dan tujuan yang ingin dicapai.

Karena dasarnya adalah inovasi, artinya memperbesar ruang alternatif. Maka hal tersebut menuntutditemukannya hal-hal baru. Misalnya, cara baru bagaimana membangkitkan kesadaran dan kepentinganbersama, cara baru memobilisir sumber daya yang tersedia pada seluruh partisipan, bagaimana menghasilkanteknologi baru, bagaimana membangun sistem insentif yang baru dan lain-lain. Nabi Muhammad adalahseorang entrepreneur yang sukses dengan multiinovasinya. Beliau sukses di jalur Agama, wirausaha, politik,sosial, Pendidikan, dan lain-lain yang jika kita mau mengikuti cara Nabi, Insya Allah, kita pun akan meraihkesuksesan di berbagai bidang baik keduniawian maupun Ukhrawi.

A. Khoerussalim Ikhs, dalam bukunya yang berjudul To Be Moslem Entrepreneur mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Muhammad adalah seorang entrepreneur bermodal dengkul, tidak bisa baca tulis, yatim piatu tapi bisa Sukses!. bagi Entrepreneur yang takut dengan persaingan, dalam buku tersebut mengingatkan bahwa kita adalah pemenang dari 200 juta sel sperma dalam kompetisi memperebutkan sel telur dengan taruhan yang sangat mengerikan; jika menjadi pemenang Anda hidup, jika tidak Anda mati. Dari 200 juta sel sperma, Andalah yang menang sedangkan yang lain mati. melawan ratusan juta saingan saja kita berani, apalagi hanya ribuan? Ketika memperebutkan sel telur, semua target terfokus pada satu sasaran. Sedangkan dalam persaingan saat ini, tampaknya saja satu sasaran, namun belum tentu dalam perjuangannya semuanya fokus pada target. Karena Ada yang berkompetisi sambil memikirkan problem rumah tangga, ada yang kekurangan modal, ada yang memikirkan rencana liburan, dan lain sebagainya. dan jangan lupa, 200 juta sel sperma dalam persaingannya tidak saling menjegal, bermusuhan, apalagi saling membunuh. Silahkan baca juga buku Rahasia Bisnis Rasulullah �12 Rahasia Besar kepemimpinan Rasulullah dalam membangun Megabisnis yang selalu untung sepanjang sejarah� karya Prof. Laode kamaluddin, Ph.D.

Saya pun ingin menambahkan bahwa Nabi Muhammad adalah Motivator ulung. Ketika para sahabatnya disiksa oleh kaum kafir karena keislamannya, Nabi Muhamad tampil sebagai motivator sehingga para sahabat yang disiksa mampu bersabar padahal siksaan yang dialaminya sangat biadab. Cara Nabi memotivasi sahabatnya yang sedang disiksa, jika kita terapkan pada orang yang tidak dalam siksaan, mungkin lebih berhasil. Nabi memotivasi para sahabatnya dengan cara menceritakan kenikmatan surga, kebahagiaan abadi, penderitaan di dunia hanya sebentar, dan sebagainya. Para motivator ketika memotivasi dengan cara menceritakan kesuksesan, kebahagiaan, kekayaan, penderitaan dalam perjuangan menggapai cita-cita hanya sebentar, dan sebagainya agar para pendengar termotivasi, mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang mengamalkan sunnah Nabi.

Hal yang tak kalah menarik yang harus kita perhatikan adalah kerja keras Nabi dalam Mempresentasikan �produk� (agama). Beliau tidak malu, tidak takut gagal, tak putus asa, teguh pendirian, sabar meskipun diludahi dan dilempari dengan batu dan kotoran unta oleh prospek. Ketika kita mempresentasikan produk, kita pun akan menemui orang yang seperti Abu Bakar (ditawari langsung membeli), Abu Jahal (sama sekali tidak tertarik bahkan menghalang-halangi gerakan bisnis kita walaupun telah ditawari berkali-kali), dan seperti seorang paman Nabi yang mendukung namun tidak membeli.

>>KODE ETIK PENGUSAHA MUSLIM

Etika perdagangan Islam tersebut antara lain:

1. Shidiq (Jujur)

Tidak berbohong, tidak menipu, tidak mcngada-ngada fakta, tidak bekhianat, serta tidak pernah ingkar janji merupakan bentuk perbuatan yang dilarang agama Islam.

Dalam Al Qur’an, keharusan bersikap jujur dalam berdagang, berniaga dan atau jual beli, sudah diterangkan dengan sangat jelas dan tegas yang antara lain kejujuran tersebu –di beberapa ayat– dihuhungkan dengan pelaksanaan timbangan, sebagaimana firman Allah SWT: ”Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil”. (Q.S Al An’aam(6): 152)

Firman Allah SWT:
“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (Q.S Ar Rahmaan(55): 9)

Rasulullah SAW –dalam banyak haditsnya–, kerapkali mengingatkan para pedagang untuk berlaku jujur dalam berdagang.

Sabda Rasulullah SAW:
”Wahai para pedagang, hindarilah kebohongan”. (HR. Thabrani)

2. Amanah (Tanggungjawab)

Tanggung jawab di sini artinya, mau dan mampu menjaga amanah (kepercayaan) masyarakat yang memang secara otomatis terbeban di pundaknya.

3. Tidak Menipu

Rasulululah SAW selalu memperingatkan kepada para pedagang untuk tidak mengobral janji atau berpromosi secara berlebihan yang cenderung mengada-ngada, semata-mata agar barang dagangannya laris terjual. Sabda Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburk-buruk tempat adalah pasar”. (HR. Thabrani)

4. Menepati Janji

Seorang pedagang juga dituntut untuk selalu menepati janjinya, baik kepada para pembeli maupun di antara sesama pedagang, terlebih lagi tentu saja, harus dapat menepati janjinya kepada Allah SWT.

Sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur’an:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyaknya supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadaNya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: ”Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik pemberi rezki” (Q.S Al Jumu’ah (62):10-11)

5. Murah Hati

Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW menganjurkan agar para pedagang selalu bermurah hati dalam melaksanakan jual beli. Murah hati dalam pengertian; ramah tamah, sopan santun, murah senyum, suka mengalah, namun tetap penuh tanggungjawab.

Sabda Rasulullah SAW:
“Allah berbelas kasih kepada orang yang murah hati ketika ia menjual, bila membeli dan atau ketika menuntut hak”. (HR. Bukhari)

>>AL KISAH ENTREPRENEURSHIP

Dalam sejarah Islam ada panglima perang yang memiliki strategi luar biasa, benar-benar luar biasa karena tidak pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya. Panglima perang tersebut adalah Thariq bin Ziyad yang pada tahun 97 H (sekitar tahun 711 Masehi) memimpin 7,000 pasukan Islam memasuki Spanyol yang dijaga oleh 25,000 pasukan pimpinan Raja Roderick.
Untuk menyemangati pasukannya agar tidak gentar melawan musuh yang memiliki kekuatan jauh lebih besar, dan agar tidak ada satupun dari pasukaannya yang berpikir untuk ambil langkah mundur – apa yang di lakukan Thariq? Dia membakar seluruh kapal-kapal yang dipakai pasukannya untuk mencapai pantai tenggara spanyol. Ketika pasukannya bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan sang panglima ini, Thariq menjawabnya dengan pidato yang terkenal sbb:
“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian.”
Tekad yang sangat kuat untuk hidup mulia atau mati syahid “Isy Kariman au Mut Syahidan” inilah yang dapat membawa kejayaan Islam dari waktu ke waktu.
Kita tahu akhirnya dalam sejarah bahwa diawali oleh tekad yang sangat kuat dan kebergantungan kepada Allah semata tersebut,Islam menjangkau wilayah yang paling luas beberapa puluh tahun kemudian setelah strategi ini ditempuh Thariq dan pasukan-pasukannya.
Ketika cerita tentang Thariq ini diajarkan secara turun temurun baik di dunia Islam maupun di luar Islam, maka sekitar 800 tahun kemudian, kurang lebih 10 generasi setelah Islam masuk Spanyol – anak keturunan bangsa Spanyol yang bernama Hernando Cortez – pun meniru bulat-bulat strategi Thariq tersebut di atas ketika ia memimpin ekspedisi penaklukan ke Mexico.

Hernando Cortez (1485 – 1547)
Hernando Cortez yang memimpin expedisi penaklukan bangsa Aztecs untuk merebut emas dan harta-harta lainnya ini membakar keseluruhan 11 kapal yang digunakan untuk membawa pasukannya mencapai daratan Mexico. Dengan demikian tidak ada pikiran untuk mundur, jalan hanya satu arah yaitu maju kedepan.
Kita tahu hasil dari kebulatan tekat Hernando Cortez ini, sampai sekarang bahasa resmi yang dipakai di Mexico adalah bahasa Spanyol. Ini menunjukkan betapa berhasilnya Hernando Cortezmeniru strategi Thariq bin Ziyad dalam upayanya untuk menaklukkan Mexico yang menjadi jajahan Spanyol sampai beratus tahun kemudian.
Kalau seorang Hernando Cortez saja bisa belajar dan menikmati ke-sukses-an dari meniru strategi Panglima Perang Islam Thariq bin Ziyad, masa kita umat Islam di masa kini tidak bisa mencapai kesuksesan dengan belajar dari keberhasilan tokoh pejuang sekaliberThariq ini?
Kalau medan kita bukan/belum medan perang saat ini, minimal strategi Thariq dengan membakar kapal ini bisa kita terapkan ditekad kita untuk membangun usaha, untuk meninggalkan tempat kerja yang kita ragukan ‘kebersihan’-nya misalnya.
Dari pengalaman saya berinteraksi dengan sekian banyak pesertaPesantren Wirausaha dan juga peserta yang ikut pelatihan CIED (Center for Islamic Entrepreneurship Development),penghalang terbesar dari setiap peserta yang ingin menjadi entrepreneur adalah keberaniannya untuk benar-benar terjun ke usaha – serta benar-benar meninggalkan pekerjaan sebelumnya.
Pengalaman saya sendiri-pun menunjukkan demikian; tidak kurang dari 6 kali usaha berwiraswasta yang saya lakukan di luar jam kantor – ketika saya masih aktif sebagai eksekutif ; tidak satupun yang berhasil. Yang ke-7, ke-8 dan seterusnya insya Allah berhasil karena kapal saya benar-benar saya bakar.
Untuk mencapai karir puncak di Industri Asuransi & Investasi di usia muda, tidak tanggung-tanggung saya peroleh gelar profesi yang paling tinggi di New Zealand, Australia dan Inggris. Sangat sedikit professional asuransi & investasi Indonesia yang mencapai pengakuan semacam ini. Namun sejak lahirnya fatwa MUI bahwabunga bank haram awal 2004 (Fatwa No 1 Tahun 2004 Tentang Bunga), tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan mengenai keharaman bunga bank dan produk-produk yang terkait dengannya di dunia finansial.
Maka alhamdulillah kapal yang namanya gelar professional danpuncak karir di industri finansial tersebut telah habis saya bakar 2 tahun lalu. Sejak saat itu, mirip yang dilakukan oleh Thariq dan jugaCortez, medan ‘pertempuran’ saya menjadi medan ‘pertempuran’ yang sama sekali baru. Tidak mudah, tetapi juga tidak mustahil – hanya pertolongan Allah-lah yang menjadikan yang sukar itu mudah.
Jadi bagi Anda yang ingin pindah quadrant dari pegawai/eksekutif ke pengusaha, bila Anda berani membakar kapal Anda, Insya Allah Andapun juga akan berhasil!!! Wa Allahu A’lam.

>>ENTREPRENEURSHIP DALAM ISLAM

Sejarah Islam mencatat bahwa Entrepreneurship telah dimulai sejak lama, pada masa Adam AS. Dimana salah satu anaknya Habil berwirausaha dengan bercocok tanam dan Qobil berwirausaha dengan menggembala hewan ternak.
Banyak sejarah nabi yang menyebutkan mereka beraktivitas di kewirausahaan, sebagian dari mereka berwirausaha di sektor pertanian,peternakan, kerajinan dan bisnis perdagangan.
Contoh yang paling nyata adalah Nabi Muhammad SAW, awalnya beliau terlibat di bisnis dengan memelihara dan menjual domba, kemudian membantu bisnis pamannya dan akhirnya me-manageer-i bisnis saidatina khadijah.
Konsep Entrepreneurship dalam pandangan Islam
1. Syumul (terintegrasi) yang berarti entrepreneurship tidakterpisah atau terisolasi dari islam itu sendiri, justru entrepreneurship berada dalam sistem islam (aqidah,syariah,akhlad & etika) supaya kegiatanberwirausaha tidak terasing dari kewajiban-kewajiban lain di dalam islam.
2. Berniaga di dunia tetapi punya hubungan dengan agama dan kehidupan di akhirat. –Dunia Untung,Akhirat Untung^^-
3. Sebagai agama untuk kesejahteraan dunia dan akhriat, islam memandang tinggi kegiatan kewirausahaan ini.
Dalil hadist nabi : sesunggunga 9/10 sumber rejeki diperoleh melalui perniagaan.
Dan Allah menghalalhan jual beli dan mengharamkan riba (Qs:2:275)
4. Dengan niat dan cara yang diridhoi Allah, berwirausaha menjadi salah satu ibadat dan mendapat ganjaran pahala di sisi Allah karena ia menyumbang kepada sumber rejeki individu dan keluarga. Dengan memenuhi keperluan masyarakat baik dengan barang/jasa dianggap sebagai penunaian Fardhu kifayah dengan jalan memenuhi salah satu barang/jasa keperluan masyarakat.
Definisi Entrepreneurshi (E/ship) dalam Islam
Kewirausahaan adalah segala aktivitas bisnis yang diusahakan secara perniagaan dalam rangka memproduksi suatau barang atau jasa dengan jalan tidak bertentangan dengan syariat.
• Kewirausahaan dianggap sebagai jihad fii sabilillah(strong efforts to do good things in the name of Allah)
• Entrepreneur dianggap sebagai amal Sholeh (good deeds) karena kegiatan e/ship menyediakan pendapatan kepada individu, menawarkan kesempatan kerja kepada masyarakat, sehingga mengurangi kemiskinan. Dimana kemiskinan adalah salah atu dari persoalan sosial.
• E/ship juga meningkatkan perekonomianmasyarakat^^. Dengan melakukan kebajikan melalui E/ship, akan mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antara individu dan individu serta akan membantu menjaga hubungan yang lebih baik antara individu dengan tuhannya.
• Meningkatkan kualitas hidup, hidup lebih nyaman menguatkan kedudukan socio-econimic negara, agama dan bangsa.
• Membantu mengembangkan khairun ummah(masyarakat terbaik, yang produktif dan maju (progreessive)
Pedoman utama dalam kewirausahaan islami
Agar kegiatan kewirausahaan dianggap sebagai ‘ibadah’:
• Tetap melakukan Ibadah, Sholat, dan Puasa dan ibadah-ibadah lain di antara kesibukan sebagai entrepreneur.
• Hindari melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.
• Pelajari sikap seorang pengusaha muslim yang baik.
• Bisnis yang baik perencanaan strategi (tidak pergi dari ajaran Islam)
• Mengetahui aturan (hukum) bermuamalah secara islami.
Source tambahan mengenai muamalah menyebutkan:
Ajaran muamalah adalah bagian paling penting (dharuriyat) dalam ajaran Islam. Dalam kitab Al-Mu’amalah fil Islam, Dr. Abdul Sattar Fathullah Sa’id mengatakan :
ومن ضرورات هذا الاجتماع الانسان وجود معاملات ما بين أفراده و جماعته
ولذالك جاءت الشريعة الالهية لتنظيم هذه المعاملات وتحقيق مقصودها والفصل بينهم
Artinya :
Di antara unsur dharurat (masalah paling penting) dalam masyarakat manusia adalah “Muamalah”, yang mengatur hubungan antara individu dan masyarakat dalam kegaiatan ekonomi. Karena itu syariah ilahiyah datang untuk mengatur muamalah di antara manusia dalam rangka mewujudkan tujuan syariah dan menjelaskan hukumnya kepada mereka
Menurut ulama Abdul Sattar di atas, para ulama sepakat tentang mutlaknya ummat Islam memahami dan mengetahui hukum muamalah maliyah (ekonomi syariah)
قد أتفق العلماء على أن المعاملات نفسها ضرورة بشرية
Artinya :
Ulama sepakat bahwa muamalat itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha penting (dharuriyah basyariyah)
Fardhu ‘Ain
Husein Shahhathah (Al-Ustaz Universitas Al-Azhar Cairo) dalam buku Al-Iltizam bi Dhawabith asy-Syar’iyah fil Muamalat Maliyah (2002) mengatakan, “Fiqh muamalah ekonomi, menduduki posisi yang sangat penting dalam Islam. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah, karena itu hukum mempelajarinya wajib ‘ain (fardhu) bagi setiap muslim.
Husein Shahhatah, selanjutnya menulis, “Dalam bidang muamalah maliyah ini, seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari’ah Allah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini, maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat, tanpa ia sadari. Seorang Muslim yang bertaqwa dan takut kepada Allah swt, Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata” Memahami/mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim, namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah
Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan berkata :
لا يبع في سوقنا الا من قد تفقه في الدين
“Tidak boleh berjual-beli di pasar kita, kecuali orang yang benar-benar telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam” (H.R.Tarmizi)
Berdasarkan ucapan Umar di atas, maka dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa umat Islam :
Tidak boleh beraktifitas bisnis, kecuali faham tentang fikih muamalah
Tidak boleh berdagang, kecuali faham fikih muamalah
Tidak boleh beraktivitas perbankan, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas asuransi, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas pasar modal, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas koperasi, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas pegadaian, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas reksadana, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas bisnis MLM,kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh beraktifitas jual-beli, kecuali faham fiqh muamalah
Tidak boleh bergiatan ekonomi apapun, kecuali faham fiqh muamalah

Sehubungan dengan itulah Dr.Abdul Sattar menyimpulkan :
ومن هنا يتضح أن المعاملات هي من لب مقاصد الدينية لاصلاح الحياة البشرية ولذالك دعا اليها الرسل من قديم باعتيارها دينا ملزما لاخيار لأحد فيه.
Artinya : Dari sini jelaslah bahwa “Muamalat” adalah inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk mengamalkan muamalah, karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti dilaksanakan, Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya.(Hlm.16)
Dalam konteks ini Allah berfirman :
وَإِلىَ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهِ غَيْرُهُ وَلاَتَنقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُم بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِيطٍ {84} وَيَاقَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ وَلاَتَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلاَتَعْثَوْا فِي اْلأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Artinya :
‘Dan kepada penduduk Madyan, Kami utus saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata, “Hai Kaumku sembahlah Allah, sekali-kali Tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik. Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”.
Dan Syu’aib berkata,”Hai kaumku sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Hud : 84,85)
Dua ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu’aib dengan umatnya yang mengingkari agama yang dibawanya. Nabi Syu’aib mengajarkan I’tiqad dan iqtishad (aqidah dan ekonomi). Nabi Syu’aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi muamalah (ekonomi) yang mereka lakukan selama ini.
Al-Quran lebih lanjut mengisahkan ungkapan umatnya yang merasa keberatan diatur transaksi ekonominya.
قَالُوا يَاشُعَيْبُ أَصَلَوَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَايَعْبُدُ ءَابَآؤُنَآ أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَانَشَاؤُا إِنَّكَ لأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ
Artinya :
Mereka berkata, “Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kamu meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyangmu atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang penyantun lagi cerdas”.
Ayat ini berisi dua peringatan penting, yaitu aqidah dan muamalah
Ayat ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh sekehendak hati, melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah, yang disebut dengan syari’ah.
Aturan Allah tentang ekonomi disebut dengan ekonomi syariah. Umat manusia tidak boleh sekehendak hati mengelola hartanya, tanpa aturan syari’ah. Syariah misalnya secara tegas mengharamkan bunga bank. Semua ulama dunia yang ahli ekonomi Islam (para professor dan Doktor) telah ijma’ mengharamkan bunga bank. (Baca tulisan Prof.Yusuf Qardhawi, Prof Umar Chapra, Prof.Ali Ash-Sjabuni, Prof Muhammad Akram Khan). Tidak ada perbedaan pendapat pakar ekonomi Islam tentang bunga bank. Untuk itulah lahir bank-bank Islam dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. Jika banyak umat Islam yang belum faham tentang bank syariah atau secara dangkal memandang bank Islam sama dengan bank konvensianal, maka perlu edukasi pembelajaran atau pengajian muamalah, agar tak muncul salah faham tentang syariah.
Muamalah adalah Sunnah Para Nabi
Berdasarkan ayat-ayat di atas, Syekh Abdul Sattar menyimpulkan bahwa hukum muamalah adalah sunnah para Nabi sepanjang sejarah.
وهذه سنة مطردة في الانبياء عليهم السلام كما قال تعالى
Artinya : Muamalah ini adalah sunnah yang terus-menerus dilaksanakan para Nabi AS, (hlm.16), sebagaimana firman Allah
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
Artinya :
Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat menegakkan keadilan itu.
Pengertian Muamalah
Pengertian muamalah pada mulanya memiliki cakupan yang luas, sebagaimana dirumuskan oleh Muhammad Yusuf Musa, yaitu Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita’ati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia”. Namun belakangan ini pengertian muamalah lebih banyak dipahami sebagai“Aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan mengembangkan harta benda”atau lebih tepatnya “aturan Islam tentang kegiatan ekonomi manusia”
Ruang Lingkup Muamalah:
1. Harta, Hak Milik, Fungsi Uang dan ’Ukud )akad-akad)
2. Buyu’ (tentang jual beli)
3. Ar-Rahn (tentang pegadaian)
4. Hiwalah (pengalihan hutang)
5. Ash-Shulhu (perdamaian bisnis)
6. Adh-Dhaman (jaminan, asuransi)
7. Syirkah (tentang perkongsian)
8. Wakalah (tentang perwakilan)
9. Wadi’ah (tentang penitipan)
10. ‘Ariyah (tentang peminjaman)
11. Ghasab (perampasan harta orang lain dengan tidak shah)
12. Syuf’ah (hak diutamakan dalam syirkah atau sepadan tanah)
13. Mudharabah (syirkah modal dan tenaga)
14. Musaqat (syirkah dalam pengairan kebun)
15. Muzara’ah (kerjasama pertanian)
16. Kafalah (penjaminan)
17. Taflis (jatuh bangkrut)
18. Al-Hajru (batasan bertindak)
19. Ji’alah (sayembara, pemberian fee)
20. Qaradh (pejaman)
21. Ba’i Murabahah
22. Bai’ Salam
23. Bai Istishna’
24. Ba’i Muajjal dan Ba’i Taqsith
25. Ba’i Sharf dan transaksi valas
26. ’Urbun (panjar/DP)
27. Ijarah (sewa-menyewa)
28. Riba, konsep uang dan kebijakan moneter
29. Shukuk (surat utang atau obligasi)
30. Faraidh (warisan)
31. Luqthah (barang tercecer)
32. Waqaf
33. Hibah
34. Washiat
35. Iqrar (pengakuan)
36. Qismul fa’i wal ghanimah (pembagian fa’i dan ghanimah)
37. Qism ash-Shadaqat (tentang pembagian zakat)
38. Ibrak (pembebasan hutang)
39. Muqasah (Discount)
40. Kharaj, Jizyah, Dharibah,Ushur
41. Baitul Mal dan Jihbiz
42. Kebijakan fiskal Islam
43. Prinsip dan perilaku konsumen
44. Prinsip dan perilaku produsen
45. Keadilan Distribusi
46. Perburuhan (hubungan buruh dan majikan, upah buruh)
47. Jual beli gharar, bai’ najasy, bai’ al-‘inah, Bai wafa, mu’athah, fudhuli, dll.
48. Ihtikar dan monopoli
49. Pasar modal Islami dan Reksadana
50. Asuransi Islam, Bank Islam, Pegadaian, MLM, dan lain-lain

>>10 LANGKAH MENJADI PENGUSAHA MUSLIM YANG BERHASIL

Setidaknya ada 10 langkah untuk menjadi Pengusaha Muslim yang berhasil,

Pertama, harus ada motivasi yang kuat untuk menjadi orang yang sukses.”tulislah 50 mimpi Anda yang hebat-hebat. Tempel daftar tersebut di dinding sehingga anda bisa membacanya setiap hari, terutama di saat semangat Anda menurun.”

Kedua, pekuat tawakal kepada Allah. Mengutip dari Alquran surat Ali Imran ayat 159, yang artinya,” Apabila kamu sudah berazam, maka bertawakallah kepada Allah.” Menurut dia, dengan bertawakal, seorang Muslim akan menitipkan masa depan diri, keluarga, maupun usaha kita kepada Allah sambil berikhtiar.

Ketiga, yakni jangan memaksakan diri untuk berbisnis sesuai dengan gambaran ideal yang anda miliki.
“Mulailah dengan peluang dan kesempatan yang ada di tangan Anda. Percayalah kepada takdir dan rezeki Allah.”

Keempat, pilihlah bisnis yang dapat anda kuasai dengan cepat. “Intinya , manfaatkan tangible dan intangible assets yang and miliki, tuturnya.

Kelima adalah menentukan diferensiasi produk yang Anda hasilkan, sehingga berbeda dengan produk-produk lain yang sudah lebih dulu ada.

Keenam, pilihlah fokus bisnis dan bekerjalah secara fokus.”Kalau fokus, kita akan lebih kuat dan kreatif.”

Ketujuh, mencakup dua hal. Yakni, carilah teman bisnis atau bermitralah. “Rosulullah menegaskan bahwa bila dua orang berserikat, maka Allah menjadi pihak yang ketiga, selama kedua orang atau salah satu orang tersebut tidak khianat. Usaha yang didalamnya Allah ikut serta sudah pasti berkah dan sukses.”
Selain itu, jangan takut menggaji pegawai. “Jangan khawatir soal gaji karyawan. Sebab, yang menanggung rezeki karyawan kita itu adalah Allah SWT, bukan kita. Dalam Alquran Surah Az-Zukhruf ayat 32, Allah SWT menegaskan, akan menjamin rezeki makhluk-makhluk-Nya, termasuk karyawan kita.”

Kedelapan, hal yang tidak kalah pentingnya adalah perkuat kesabaran.”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” .

Kesembilan, hindari perbuatan dosa dan maksiat. Sebab, hal tersebut akan membuat hidup sempit dan tidak berkah.

Kesepuluh, pelajarilah kunci-kunci pembuka rezeki.”Kalau semua langkah ini diterapkan Insya Allah kita akan menjadi pengusaha yang sukses dunia dan akhirat.”

 

Iklan

Menuju Cahaya

نحـو النــــور

Gambar

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

“Tuhan kami, berikanlah kami rahmat dari sisiMu dan sediakanlah kepada kami petunjuk untuk urusan ini”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Amma ba’du,

Kami persembahkan surat ini ke hadapan Tuan yang mulia, dengan keinginan yang sangat untuk ikut memberi bimbingan kepada umat, yang urusan mereka telah Allah swt. bebankan ke pundak Anda di zaman ini. Suatu bimbingan yang kiranya dapat mengarahkan umat di atas sebaik-baik jalan. Sebuah jalan yang dibangun oleh sebaik-baik sistem hidup, yang bersih dari kerancuan dan jauh dari ketidakpastian, Lebih dari itu, ia adalah jalan hidup yang telah teruji oleh sejarah yang panjang.

Kami tidak mengharap apa pun dari Anda. Cukuplah bahwa dengannya berarti kami telah menunaikan kewajiban dan mempersembahkan kepada Anda sebuah nasehat. Sungguh pahala Allah, dialah yang lebih baik dan lebih kekal.

TANGGUNG JAWAB SEORANG PEMIMPIN

Sesungguhnya Allah swt. telah menyerahkan urusan umat ini kepada Tuan, Kemaslahatan urusan mereka di hari ini dan masa mendatang merupakan amanah Allah yang harus Anda tunaikan. Anda bertanggung jawab di hadapan Allah swt.

Jika generasi hari ini adalah kekuatan bagi Anda, maka generasi esok merupakan hasil tanaman tuan. Alangkah mulianya seseorang, jika ia bersikap amanah, bertanggung jawab, dan mau memikirkan umatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya tersebut.”

Dahulu, pernah berkata seorang pemimpin yang adil, “Seandainya seekor kambing di Irak terpeleset kakinya, maka aku menganggap dirikulah yang harus bertanggungjawab di hadapan Allah. Mengapa aku tidak membuatkan jalan untuknya?”

Umar bin Khathab menggambarkan tentang betapa agungnya tanggung jawab dengan sebuah ungkapan, “Saya sudah cukup senang jika dapat keluar dari dunia ini dengan bersih: tidak mendapat dosa dan tidak pula diberi pahala.”

BEBERAPA MUQADDIMAH

Masa Peralihan

Dengan pengamatan yang berat terhadap perjalanan hidup manusia, kita dapat menyimpulkan bahwa masa yang paling rawan dalam kehidupan umat adalah ketika berlangsungnya masa peralihan. Kerana saat itulah ideologi kehidupan yang baru diberlakukan, langkah-langkah ke depan mulai digariskan, dan nilai-nilai dasar kehidupan –di mana umat akan tegak di atasnya–  mulai dibangun.

Oleh kerananya, jika langkah, program, dan sistem nilai yang hendak dibangun itu jelas dan baik, maka berbahagialah umat tersebut. Mereka akan menikmati kehidupan yang sarat dengan aktiviti yang mulia dan agung. Demi keberhasilan yang telah mengantarkan umat pada kehidupan yang baik, maka berilah kabar gembira kepada pemimpinnya dengan pahala yang agung, keriangan indah yang abadi, sejarah yang bersih, dan perjalanan hidup yang lurus.

Di Persimpangan Jalan

Masa peralihan bagi umat itu paling tidak memiliki dua urgensi:

Pertama, membebaskan umat dari belenggu penindasan dalam kehidupan politik sampai mereka memperoleh kemerdekaannya, sehingga kebebasan dan kepemimpinan yang dulu dimilikinya dapat diperoleh kembali.

Kedua, menegakkan bangunan umat mulai dari awal, agar eksistensi mereka diakui oleh bangsa lain dan mampu bersaing dengan mereka secara sehat.

Saat ini – hingga waktu tertentu–  ketegangan politik telah berangsur mereda, dan kalian bersama umat ini telah memasuki sebuah era baru. Di hadapan kalian terbentang dua jalan, yang masing-masing mengajak kalian untuk mengarahkan pandangan umat kepadanya dan meniti langkah di atasnya. Masing-masing jalan tersebut memiliki keistimewaan, kekhususan, pengaruh, dan produk-produk yang dihasilkannya. Selain itu juga memiliki para penyerunya.

Jalan yang pertama adalah jalan Islam; dengan landasan pemikiran, prinsip dasar, dari peradabannya. Sedangkan jalan yang kedua adalah jalan Barat; dengan segala fenomena kehidupan yang melingkupinya, undang-undang, serta sistem ideologinya.

Kita berkeyakinan bahwa jalan pertamalah (jalan Islam) – dengan segenap prinsip nilai dan fikrahnya–  satu-satunya jalan yang wajib ditempuh dan menjadi orientasi utama dalam mengarahkan umat, baik di masa kini maupun di masa mendatang.

Keistimewaan Orientasi Islam

Jika kita menempuh jalan Islam ini bersama umat, kita dapat memetik banyak manfaat darinya. Hal ini antara lain dikeranakan:

1. Kebenaran manhaj Islam telah teruji dan sejarah telah menjadi saksi atas keunggulannya.

2. Manhaj Islam telah berhasil mencetak umat paling kuat, paling utama, paling sarat kasih sayang, dan paling diberkati di antara bangsa-bangsa yang ada

3. Dengan kesucian manhaj Islam dan telah bersemayamnya manhaj  ini dalam dada manusia. menjadikannya mudah diterima semua kalangan, mudah dipahami, dan mudah diikuti pesan-pesannya. Apalagi Islam juga membenarkan bahkan menanamkan kebanggaan berbangsa dan memberikan bimbingan kepada manusia agar mencintai tanah airnya. Mengapa demikian? Kerana kita harus membangun kehidupan ini di atas nilai-nilai kehidupan kita sendiri, tanpa perlu mengambil milik orang lain. Dan pada yang demikian itulah kita dapatkan hakekat kemerdekaan sosial dan kemuliaan hidup, setelah kemerdekaan secara politik.

4. Berjalan di atas jalan ini berarti mengukuhkan persatuan Arab secara khusus, dan persatuan Islam secara umum. Dunia Islam dengan segenap jiwanya telah memberikan kepada kita kepekaan perasaan, kelemah-lembutan, dan dukungan, sehingga kita menyaksikan sebuah jalinan yang demikian kuat antara kita dengan Islam, yang keduanya saling memberi dukungan dan saling menghormati. Pada yang demikian itu ada sebuah keberuntungan (peradaban) yang besar, yang tidak mungkin diingkari oleh siapa pun.

5. Manhaj Islam adalah manhaj yang sempurna dan menyeluruh. Ia memuat sistem paling utama untuk memandu kehidupan umat secara umum, baik kehidupan lahiriah maupun batiniah. Inilah keistimewaan Islam apabila dibandingkan dengan ajaran lain, di mana ia (Islam) meletakkan undang-undang kehidupan umat ini di atas dua dasar pokok: mengambil yang maslahat dan menjauhi yang mudharat

Apabila kita menempuh jalan ini, kita akan terhindar dari berbagai kesulitan hidup, sebagaimana yang melanda berbagai bangsa yang tidak mengenal jalan ini, apalagi menempuhnya.

Di atas jalan ini pula kita dapat memecahkan berbagai persoalan hidup yang pelik, yang tidak mungkin dapat dipecahkan oleh sistem nilai mana pun.

Kita nukilkan ungkapan Bernard Shaw yang berkata: “Alangkah berhajatnya dunia di zaman moden ini kepada seorang lelaki seperti Muhammad yang dapat menyelesaikan masalah yang ujud dan sulit sedang beliau minum secawan kopi”

Selain dari perkara-perkara di atas, bila kita mengikuti jalan ini pertolongan Allah akan berada di belakang kita, pertolongan yang dapat menambah kekuatan kita sewaktu kita lemah, melepaskan kita sewaktu menghadapi kesukaran, pertolongan yang memudahkan bagi kita segala bentuk kesukaran, sentiasa mendorong kita maju ke muka. Firman Allah:

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar musuhmu. Jika kamu menderita sakit, maka sesungguhnya mereka pun menderita sakit sebagaimana kamu, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa: 104)

Peradaban Barat Saat ini

Guna melengkapi pembahasan ini, kami ingin mengatakan bahwa kemajuan teknologi di Barat –yang lelah membuat kesombongan para ilmuwannya dan pernah menundukkan dunia dengan produk-produknya–  kini menghadapi kebangkrutan. Peradabannya mulai roboh, undang-undang dan nilai-nilai dasarnya pun mulai hancur. Dominasi politiknya telah binasa oleh kediktatoran, tonggak perekonomiaannya diguncang oleh krisis yang tiada henti, sedangkan berjuta-juta orang menderita. Pengangguran dan kelaparan turut menjadi saksi atas keruntuhan peradaban ini.

Akar sistem sosial mereka digerogoti oleh berbagai prinsip yang ganjil. Tunjuk perasaan yang kian marak di berbagai tempat seakan menggugat keberadaannya. Orang-orang kebingungan mencari penyelesaian atas berbagai persoalan yang mereka hadapi, dan kini mereka pun tersesat jalan.

Konferensi-konferensi yang mereka adakan telah gagal, tanpa membuahkan hasil apapun. Perjanjian-perjanjian yang mereka buat hancur tercabik-cabik. Mereka bagaikan sesosok bayangan yang tak lagi mempunyai ruh dan tidak memiliki cahaya untuk dapat menembus kegelapan hidup.

Adapun orang-orang besar di antara mereka, tangan sebelahnya menciptakan berbagai kesepakatan damai dengan sesamanya sedangkan tangan yang lain melahirkan berbagai penderitaaan hidup.

Demikianlah, dunia kini –dengan segala perilaku politiknya yang aniaya dan rakus–  bagaikan bahtera di tengah samudera yang diterpa angin taufan dari segala penjuru. Kemanusiaan seluruhnya tengah mengalami penderitaan, kegelisahan, dan goncangan Mereka telah terbakar oleh api kerakusan dan materialisme. Kerananya mereka kini sangat membutuhkan tetesan embun nan sejuk dari nilai-nilai Islam yang hanif, untuk membasuh dan membersihkan noda penderitaan mereka, serta membawanya kepada kebahagiaan.

Pada masa lalu, kepemimpinan dunia ini pernah dipegang oleh dunia Timur. Setelah muncul peradaban Yunani dan Romawi, maka berpindahlah ia ke Barat. Setelah itu, datanglah masa kenabian Musa, Isa, dan Muhammad saw. yang membawa kepemimpinan dunia kembali ke Timur. Setelah itu, dunia Timur terlelap lagi dalam tidurnya yang panjang, dan bangkitlah Negara-negara Barat dengan peradaban modernnya.

Demikianlah hukum alam yang tidak mungkin dapat dihindari. Dunia Barat mewarisi kepemimpinan dunia hingga saat ini. Namun, inilah wajah peradaban Barat; sebagaimana kita saksikan sekarang penuh dengan kezhaliman, sikap aniaya, dan melampaui batas.

Sungguh, kini dunia tengah menanti-nantikan kembalinya kepemimpinan peradaban timur yang kuat, untuk menaungi mereka dengan panji-panji ilahi, memayunginya dengan naungan Al-Qur’an, dan menghadirkan ke hadapan dunia “tentara-tentara iman” yang kuat dan tegar.

Hanya dengan cara itulah dunia ini akan kembali tenteram dan damai, sehingga seluruh alam pun berucap, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada petunjuk  ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberikan kepada kami petunjuk tersebut.” (At-A ‘raf: 43)

Cita-cita ini bukanlah khayalan belaka, namun ia merupakan kepastian sejarah. Kalau pun hal ini tidak terwujud, maka Allah swt. telah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agama-Nya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Maidah: 54)

Meskipun demikian, kita berusaha untuk menjadi orang-orang yang mendapatkan anugerah Allah dan ditulis di papan terhormat ini:

“Tuhanmulah yang menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih.”

ISLAM MENJAMIN KEBUTUHAN BANGSA YANG BANGKIT

Di dunia ini, tiada satu pun ideologi yang dapat memberikan apa-apa yang diperlukan oleh umat yang sedang bangkit, menyangkut sistem perundang-undangan kaidah-kaidah hukum, maupun kelemahlembutan perasaan dan kepekaan moral sebagaimana yang diberikan oleh Islam.

Al-Qur’an Al-Karim sarat dengan berbagai gambaran tentang  aspek-aspek tersebut. Guna memperjelas pengertian, ia menyajikan gambaran umum pada suatu kali, dan memberi gambaran secara rinci di kali yang lain.

Al-Qur’an juga menawarkan penyelesaian terhadap berbagai persoalan dengan jelas dan rinci, sehingga bangsa mana pun yang mau mengambilnya sebagai landasan hidup, niscaya ia akan memperoleh apa yang diinginkannya.

Islam dan Cita-cita

Ummat yang sedang membangun perlukan cita-cita yang tinggi dan besar. Dalam kontek ini Al Qur’an telah membekalkan ummatnya dengan sifat ini melalui satu cara yang dapat menjadikan ummat yang telah mati itu hidup semula serta mempunyai himmah, cita-cita dan ‘azam yang tinggi.

Cukuplah bagi saudara bahawa Al Qur’an telah meniadikan sifat putus asa itu sebagai jalan menuju kufur dan perasaan kecewa itu sebagai pertanda kesesatan.

Sedhaif-dhaif ummat apabila mendengar firman Allah ini:

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi.” (Al-Qashash: 5)

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejadian dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran).” (Ali Imram 139-140)

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka bahwa mereka akan keluar, dan mereka yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah  maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak disangka-sangka Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka, mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) sebagai pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Al-Hasyr: 2)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah: 214)

Umat yang paling lemah sekalipun -jika mendengar janji-janji Allah di ayat-ayat tersebut dan membaca kisah-kisahnya yang faktual dan realistik- mestinya harus bangkit menjadi umat yang terkuat, baik iman maupun ruhaninya.

Tidakkah engkau rasakan, pada cita-cica agung tersebut terdapat suatu kekuatan yang membangkitkan semangat untuk bertahan menghadapi berbagai kesulitan, betapa pun beratnya. Kekuatan yang membuat kita siap bergumul dengan berbagai peristiwa betapa pun dahsyatnya, sampai kita mendapatkan kemenangan yang gilang-gemilang.

Islam dan Kebangsaan

Umat yang tengah bangkit memerlukan rasa bangga terhadap bangsanya; bangga sebagai umat yang utama dan mulia, yang memiliki berbagai keistimewaan dan perjalanan sejarah nan indah, sehingga kebanggaan ini akan tertanam pula dalam jiwa generasi penerusnya. Dengan kebanggan itu, mereka siap mempertahankan kehormatan bangsanya serta siap menebusnya meski dengan mengalirkan darah dan mengorbankan nyawa. Mereka siap berkarya nyata demi kejayaan tanah airnya, mempertahankan kehormatannya, serta menciptakan kebahagiaan masyarakatnya.

Doktrin “rasa bangga” terhadap bangsa yang seperti ini -dengan keadilan, keutamaan, dan kelembutan perasaannya tidak kita dapatkan pada ideologi mana pun kecuali dalam Islam yang hanif ini. Kita (umat Islam) adalah bangsa yang mengetahui secara persis bahwa kehormatan dan kemuliaan kita dikuduskan Allah melalui ilmu-Nya dan diabadikan dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya,

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’rut, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imran: 110)

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi (perbuatan) kamu.” (Al-Baqarah: 143)

“Dan bagi Allah-lah kehormatan, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Munafiqun: 8)

Oleh kerana itu, mestinya kita pula yang paling pantas untuk mempersembahkan pengorbanan -dengan dunia dan seisinya dalam rangka mempertahankan kehormatan yang Rabani ini.

Sebenarnya, bangsa-bangsa modern zaman ini telah pula berhasil menanamkan doktrin semacam ini kepada jiwa para pemuda, para tokoh, dan anggota masyarakatnya. Kita telah mendengar kumandang slogan,

“Jerman di atas segalanya”, atau “Italia di atas semua”, atau “Wahai Inggris, pimpinlah kami.”

Namun ada perbedaan yang menyolok antara masyarakat yang terpola oleh nilai-nilai Islam dengan masyarakat yang didoktrin oleh slogan-slogan seperti ini, yakni rasa kebangsaan orang muslim merupakan perasaan yang melambung tinggi sehingga menyatu dengan Allah swt. Akan halnya rasa kebangsaan mereka, dia hanya sampai pada batas doktrin tersebut. Lebih dari itu Islam memberikan batasan bagi tujuan diciptakannya perasaan ini, sehingga mendorong kuatnya komitmen padanya dan menjelaskan bahwa ia bukan fanatisme buta atau kebanggaan yang semu. Ia adalah rasa bangga sebagai pemimpin dan pemandu dunia menuju kehidupan yang baik dan sejahtera.

Kerananya Allah swt. berfirman, “Kalian menegakkan amar ma’ruf, mencegah kemunkaran, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

Ayat ini mengandung maksud: dukungan kita terhadap keutamaan, pernyataan perang terhadap setiap kehinaan, penghormatan terhadap nilai-nilai yang luhur, serta komitmen untuk selalu melakukan kontrol atas setiap aktiviti.

Kerana itu, jiwa kepemimpinan bangsa muslim terdahulu berhasil menciptakan sikap adil dan kasih sayang yang sempurna dan paling ideal, yang pernah dilahirkan oleh sebuah umat.

Adapun prinsip-prinsip kepemimpinan yang tertanam di jiwa bangsa-bangsa Barat, ia tidak memiliki batasan tujuan yang jelas kecuali fanatisme yang rancu. oleh kerananya, kebanggaan mereka justru membangkitkan sikap permusuhan dari bangsa-bangsa lain yang lemah.

Islam telah menggariskan hal terbaik dalam urusan ini. Ia ingin menanamkan nilai luhur di dada putra-putranya dan menjauhkan mereka dari doktrin-doktrin negatif yang melampaui batas.

Islam telah memperluas batasan “tanah air lslam”, dan mewasiatkan kepada putra-putranya agar bekerja demi kebaikannya serta siap berkorban demi mempertahankan kemerdekaan dan kehormatannya.

Tanah air dalam pengertian Islam menyangkut hal-hal sebagai berikut:

Pertama, wilayah geografis secara khusus.

Kedua, meluas ke berbagai negeri Islam, kerana bagi setiap muslim negeri-negeri itu adalah tanah air dan kampung halamannya.

Ketiga, melebar ke berbagai bekas wilayah daulah Islamiyah, yang pernah diperjuangkan dengan darah dan nyawa para pendahulu sehingga berhasil menegakkan panji-panji ilahiyah di sana. Peninggalan sejarah masih mencatat kejayaan dan kegemilangan yang pernah mereka raih pada masa lalu, sehingga setiap muslim akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan mahkamah ilahi tentang wilayah-wilayah ini, mengapa tidak ada perjuangan untuk mengembalikannya.

Keempat, meluas ke berbagai negeri kaum muslimin sehingga mencakup dunia seluruhnya. Tidakkah kalian dengar ketika Allah swt. berfirman,

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran) maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfal: 39)

Dengan demikian, Islam memadukan antara perasaan cinta tanah air secara khusus dan cinta tanah air secara umum, dengan segala puncak kebaikannya demi mewujudkan kesejahteraan umat manusia.

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.” (Al-Hujurat: 13)

Islam dan jiwa Keprajuritan

Umat yang tengah bangkit pasti membutuhkan kekuatan yang besar, dan jiwa keprajuritan putra-putranya.

Apalagi di masa sekarang, di mana tidak ada sesuatu pun yang dapat menjamin tegaknya perdamaian kecuali kesiapan untuk berperang. Bahkan, masyarakat telah begitu akrab dengan slogan “kekuatan adalah cara yang paling menjamin tegaknya kebenaran. “

Islam tidak mengabaikan hal ini, bahkan ia dijadikan sebagai sebuah kewajiban di antara kewajiban-kewajiban yang lain, Islam tidak memberi jarak sedikit pun antara kekuatan di satu sisi, dengan shalat dan puasa di sisi yang lain. Bahkan, di dunia ini tiada satu pun sistem ideologi yang memiliki perhatian demikian besar terhadap kekuatan -baik pada masa lalu maupun sekarang sebagaimana yang dimiliki oleh sistem Islam, yang tertuang dalam Al-Qur’an Al-Karim, Hadits Rasulullah saw., dan sejarah kehidupannya.

Anda dapat melihat hal ini demikian jelas dalam firman Allah swt.,
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…” (Al-Anfal: 60)

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu…” (Al-Baqarah: 216)

Bahkan Anda dapat melihat semangat juang yang tertuang dalam sebuah kitab suci, yang dibaca di kala shalat, berdzikir, beribadah, dan bermunajat kepada Allah swt.

Allah swt. berfirman,

“Kerana itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah…” (An-Nisa’: 74)

Allah kemudian menjelaskan pahalanya dengan penjelasan sebagai berikut,

“Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (An-Nisa: 74)

Pada ayat Selanjutnya terdapat seruan yang amat menyentuh kalbu dan jiwa kita untuk turut menyelamatkan bangsa dan tanah air.

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dan penolong dari sisi-Mu.”‘ (An-Nisa’: 75)

Setelah itu, Allah swt. menjelaskan kepada putra-putra Islam tentang keagungan tujuan hidup mereka dan kehinaan tujuan hidup musuh-musuhnya. Hal itu sebagai penegasan kepada mereka bahwa untuk memperoleh barang yang mahal nilainya -yakni ridha Allah- mereka harus membayar dengan harga yang mahal pula berupa kehidupan itu sendiri. Sementara musuh-musuh mereka berperang tanpa memiliki tujuan yang jelas. Mereka orang-orang yang berjiwa sangat kerdil dan bernurani sangat rapuh. Hal ini ditegaskan oleh Allah swt. dalam firman-Nya,

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut. Oleh kerana itu, perangilah kawan-kawan syetan itu, kerana sesunggahnya tipu daya syetan adalah lemah.” (An-Nisa’: 76)

Allah swt. kemudian mencela orang-orang yang menghindar dari kewajiban dan lebih suka mengerjakan tugas-tugas ringan dengan meninggalkan tugas-tugas yang: memerlukan jiwa kepahlawanan. Allah menjelaskan kekeliruan sikap mereka dan menegaskan bahwa terjun di medan laga itu tidak akan merugikan dirinya sedikit pun. Bahkan, sikap mundur itu tidak menguntungkan mereka sama sekali, kerana kematian selalu mengintai di belakang mereka kapan pun dan di mana pun.

Pada ayat berikutnya Allah swt. berfirman,
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ‘Tahan lah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat. Dan tunaikan zakat.’Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu, Mereka berkata, Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai beberapa waktu lagi? ‘Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, walaupun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (An-Nisa: 77-78)

Demi Allah, tiada doktrin keketenteraanan macam apa pun yang dapat menandingi kekuatan dan kejelasannya, yang sesuai dengan impian setiap panglima di medan perang, baik menyangkut keyakinan, tekad, maupun harga dirinya.

Jika dua tonggak besar dalam sistem ketenteraan adalah nizham (aturan) dan ketaatan, maka Allah swt. (pada dua ayat di atas) telah memadukannya secara serasi. Kemudian Allah swt. berfirman,

“Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang teratur.” (Ash-Shaf: 4)

“Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka) apabila telah tetap perintah perang.” (Muhammad: 21)

Bila saudara membaca apa yang dibawa Islam dalam perkara yang bersangkutan dengan menyediakan kelengkapan, menyempurnakan kekuatan, melatih memanah dan menambat kuda-kuda untuk peperangan, kelebihan syahid, pahala jihad, ganjaran mengeluarkan perbelanjaan untuk jihad, memelihara keluarga mereka yang bejihad dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan jihad saudara akan dapati bahawa Islam telah membicarakan perkara tersebut dengan panjang lebar baik dalam Al Qur’an, Sunnah RasuluLlah dan sirahnya dan kitab-kitab feqah.

“Rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (Al-Mu’min: 7)

Ummat-ummat hari ini telah mengambil berat dalam soal-soal kekuatan tentera, oleh itu kita lihat mereka membina diri mereka di atas kaedah ini dan kita lihat kefasisan Musolini, kenazian Hitler, kekominisan Stalin adalah dibina di atas sistem ketenteraan tulin. Tetapi perbezaan amatlah jauh antara ketenteraan dalam sistem-sistem ini berbanding dengan ketenteraan dalam Islam.

Islam adalah ajaran yang mengagungkan kekuatan. Namun demikian ia lebih cenderung kepada perdamaian. Allah pun berfirman setelah berbicara mengenai kekuatan,

“Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka cenderunglah kamu kepadanya dan bertawakallah kepada Allah…” (Al-Anfal: 61)

Ia pulalah yang memberikan batasan nilai kemenangan dan fenomena riilnya dalam firman-Nya,

“…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya, Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allahlah kembali segala sesuatu.” (Al-Hajj: 41)

Bahkan, Allah juga meletakkan dasar undang-undang darurat perang sebagaimana dalam firman-Nya,

“Dan jika kamu mengetahui penghianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat khianat.” (Al-Anfal: 58)

Di samping itu, kita juga mendapatkan sabda Rasulullah saw. dan ucapan para khalifah setelah beliau, tatkala mengirim pasukan selalu disertai dengan wasiat yang sarat dengan pesan kasih sayang dan perdamaian. Rasulullah saw. bersabda,

“Janganlah engkau melanggar janji, melampaui batas, mencincang musuh, membunuh perempuan, anak-anak, membunuh orang-orang yang sudah tua, memotong pohon yang sedang berbuah, dan menyengsarakan orang yang terluka. Di medan perang engkau akan menjumpai para rahib yang sedang beribadah di rumah-rumah ibadah mereka, maka tinggalkanlah mereka itu dan biarkanlah mereka dengan kesibukannya.”

Di samping itu, kedudukan ketenteraan di dalam Islam adalah sebagai polisi keadilan serta penegak undang-undang dan hukum. Adapun ketenteraan Eropah yang ada sekarang, semua orang mengetahuinya, dia adalah pasukan bar-bar yang zhalim dan tentara yang hanya berpikir untuk keselamatan dirinya. Kalian dapat membandingkan, mana yang lebih utama di antara keduanya?

Islam dan Kesehatan Secara Umum

Ummat yang membangun perlukan tentera yang gagah dan tentera yang gagah ini adalah bergantung kepada badan yang sihat dan kuat.

Al-Qur’an telah memberi isyarat yang jelas menyangkut masalah ini tatkala mengisahkan suatu umat yang sedang berjihad, yang siap bangkit menanggung segenap beban, dan menghadang berbagai rintangan untuk merebut kemerdekaan, kebebasan, dan membangun bangsanya. Oleh kerana itu Allah swt, memilih untuknya seorang pemimpin yang memiliki kekuatan fikir dan keperkasaan fizikal.

Allah menjadikan kekuatan fizikal sebagai salah satu tonggak utama untuk menegakkan kebangkitan dengan segenap bebannya.

Kisah tersebut merupakan kisah Bani Israel tatkala dianugerahi seorang pemimpin bernama Thalut, dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa…” (Al-Baqarah: 247)

Rasulullah saw. telah menjelaskan hal yang berkaitan dengan persoalan kesehatan fizikal ini dalam beberapa haditsnya. Beliau menganjurkan kepada orang-orang beriman untuk menjaga kekuatan tubuhnya, sebagaimana mereka memelihara kekuatan ruhaninya.

Pada sebuah hadits shahih, beliau saw. bersabda,
“Mukmin yang kuat itu lebih baik daripada mukmin yang lemah”.
“Sesungguhnya, pada tubuhmu ada hak yang harus kamu penuhi.”

Beliau juga telah menjelaskan kepada umatnya mengenai banyak hal yang berkaitan dengan kesehatan secara umum, khususnya tentang sikap preventive yang merupakan langkah paling utama dalam tinjauan medis.

Rasulullah saw. bersabda,

“Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali jika telah merasa lapar, dan jika kami makan tidak sampai kekenyangan.”

Beliau juga menganjurkan supaya hati-hati jika minum air. Dalam sebuah hadits disebutkan,

“Rasulullah saw. senantiasa memilih air yang baik untuk diminum.”

Tegahannya dari membuang air kecil dan besar pada air yang tidak mengalir, sekatan kesihatan yang dilakukannya kepada negeri yang diserang wabak taun, dengan tidak membenarkan mereka keluar dari negeri itu di samping melarang orang-orang lain memasuki negeri itu, amarannya tentang penyakit berjangkit, arahannya supaya menjauhi mereka yang diserang penyakit kusta dan akhir sekali pandang berat yang diberikannya kepada jenis-jenis riadhah seperti memanah, berenang, menonggang kuda dan berlari.

Sungguh, perhatian Rasulullah saw. terhadap persoalan ini amat besar sehingga beliau bersabda,

“Barangsiapa yang telah memiliki keahlian melempar kemudian melupakannya, maka ia bukan golonganku.”

Oleh kerana itu pula, beliau melarang dengan keras sikap berlebihan dalam urusan ibadah sampai menelantarkan kesehatan tubuhnya dengan alasan taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah swt.

Beliau menganjurkan kepada umatnya agar memiliki sifat tawazun (proporsional). Semua ini menjadi bukti bagi kita bahwa Islam adalah ajaran yang memberikan perhatian besar terhadap kesehatan umat secara umum, mendorong mereka supaya menjaganya, dan melapangkan dada mereka agar siap bekerja bagi kebaikan dan kebahagiaannya dalam masalah yang penting ini.

Islam dan ilmu

Sebagaimana umat ini membutuhkan kekuatan, ia juga membutuhkan ilmu pengetahuan yang dapat menopang kekuatan Islam tersebut dan mengarahkannya pada tujuan yang utama mendorong sepenuhnya berbagai kegiatan ilmiah seperti penelitian dan penyusunan karya ilmiah. Islam sama sekali tidak abai terhadap ilmu pengetahuan, bahkan menjadikan aktiviti ilmiah sebagai salah satu kewajiban diantara kewajiban-kewajiban yang lain.

Sebagai bukti, cukuplah kutipan awal dari firman Allah berikut,

“Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan; Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, Tuhanmulah yang paling Pemurah; yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam; Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-’Alaq: 1-5)

Pada perang Badar, Rasulullah saw. meminta tebusan bagi Pembebasan tawanan orang-orang musyrik  dengan cara satu tawanan diminta mengajari baca-tulis kepada sepuluh anak-anak Islam, dalam rangka menghapuskan buta huruf di kalangan umat Islam kala itu.

Allah tidak pernah menyamakan antara orang-orang yang berilmu dengan para juhala (orang bodoh), sebagaimana tersurat dalam firman-Nya,

“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? ‘Sesungguhnya, orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)

Bahkan Islam menimbang setara antara tinta para ulama dengan darah para syuhada, dan saling mengikat dengan kuat antara ilmu dan kekuatan pada dua ayat berikut,

“Tidak sepatutnya orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya? Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang disekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu. Dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa. “ (At-Taubah: 122-123)

Al-Qur’an juga tidak membedakan antara ilmu pengetahuan (umum) dengan ilmu agama, bahkan mewasiati kita supaya meraih keduanya, Allah swt. menuturkan firman-Nya yang berkenaan dengan alam pada satu ayat, lalu menganjurkan untuk menguasainya dan menjadikan pengetahuan atasnya sebagai jalan menuju ma’rifah dan khasyatullah (takut kepada Allah).

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit…”

Ini isyarat mengenai bentangan kosmos dan pertautan erat antara langit dan bumi. Lalu dalam firman-Nya,
“…Lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya…”

Di sini ada isyarat mengenai pengetahuan dunia tumbuh-tumbuhan dengan keunikan, keajaiban, dan unsur kimiawinya.

“Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat.” (Fathir: 27)

Pada ayat di atas ada isyarat pengetahuan mengenai geologi dan lapisan-lapisan bumi serta rotasinya. Lalu disambung dengan ayat berikutnya,

“Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).”

Pada ayat tersebut ada isyarat pengetahuan mengenai biologi dan ilmu haiwan dengan segala cakupannya; termasuk manusia, serangga, dan binatang.

Nah, apakah kalian mendapati ayat-ayat ini mengabaikan pengetahuan alam?

Lalu Al-Qur’an menutup uraian tersebut dengan firman Allah,

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Tidakkah kalian melihat untaian ayat-ayat Al-Qur’an yang ajaib itu, bahwa Allah swt. mendorong dan memerintahkan manusia agar melakukan studi terhadap alam? Allah swt. menjuluki orang-orang yang pengetahuannya mendalam terhadapnya sebagai ahli ma’rifat dan ahli khasyah (orang-orang takut kepada-Nya).

Semoga Allah meningkatkan Pengetahuan kaum muslimin terhadap agamanya.

Islam dan Akhlak

Umat yang tengah bangkit paling membutuhkan akhlak yang mulia, jiwa yang besar, dan cita-cita yang tinggi. Hal ini kerana umat tersebut akan menghadapi berbagai tuntutan dari sebuah masyarakat baru. Suatu tuntutan yang tidak mungkin dipenuhi kecuali dengan kesempurnaan akhlak dan ketulusan jiwa, yang lahir dari iman yang menghunjam dalam dada, komitmen yang menancap kuat di dalam hati, pengorbanan yang besar, dan mental yang tahan uji. Hanya Islamlah yang mampu mencetak kepribadian serupa itu, dan ia pula yang menjadikan kebersihan dan kesucian jiwa sebagai asas bagi bangunan kejayaan umat. Allah swt. berfirman,

“Sungguh, beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sungguh merugilah orang yang mongotorinya.” (Asy-Syams: 9-10)

Islam menggantungkan perubahan urusan umat ini kepada perubahan akhlak dan kebersihan jiwanya. Sebagaimana Allah swt. berfrman,

“Sesungguhnya, Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri,” (Ar-Ra’d: 11)

Anda pasti mendengar ayat Al-Qur’an yang sangat berkesan mengenai kosa kata “akhlak mulia”, maka Anda akan mendapati kekuatan yang terpancar dari kesucian dan kesiapan jiwa.

Umpamanya mengenai kesetiaan (wafa), Allah swt. berfirman,
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang yang setia kepada apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikit pun tidak merobah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada arang-orang yang benar itu kerana kebenarannya.” (Al-Ahzab: 23-24)

Mengenai pengorbanan, kesabaran, ketahanan, dan kemampuan mengatasi berbagai persoalan pelik, Allah swt. berfirman,
“Yang demikian itu adalah kerana mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan pada jalan Allah dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi meraka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. Sesungguhnya, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), kerana Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (At-Taubah: 120-121)

Sesungguhnya, tidak ada ajaran yang setara dengan ajaran Islam. Ia adalah sebuah ajaran yang dapat membangunkan hati, menghidupkan perasaan, dan menegakkan kontrol diri dengan sebaik-baik kontrol. Tanpa kehadirannya tidak mungkin ada sebuah undang-undang yang tertata dari masalah yang global hingga masalah yang paling detail.

Islam dan Ekonomi

Umat yang tengah bangkit juga sangat memerlukan penanganan atas urusan ekonominya, kerana ia merupakan persoalan paling penting di masa kini. Islam sama sekali tidak mengesampingkan masalah ini, bahkan ia telah meletakkan kaidah dasar dan konsep-konsepnya secara jelas dan lengkap. Kalian dapat mendengarkan firman Allah swt. mengenai bagaimana Islam mengajarkan kepada kita untuk menjaga. harta, menjelaskan nilainya, serta mengingatkan kewajiban kita untuk memperhatikannya. Allah swt. berfirman,

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.,.” (An-Nisa’: 5)

Allah swt. berfirman mengenai keseimbangan antara infaq dan penghasilan,

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, yang kerana itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Isra’: 29)

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda,
“Tidak miskin orang yang hemat.”

Sebagaimana harta itu memberi manfaat kepada pribadi, demikian pula ia memberi manfaat kepada umat. Sabda Rasul saw,
“Sebaik-baik harta adalah harta yang ada pada orang shalih”

Sistem ekonomi yang baik -apapun namanya dan dari mana pun sumbernya- akan dapat diterima oleh Islam. Umat pun akan didorong untuk mendukungnya, meskipun kitab fiqih sendiri telah sarat dengan hukum-hukum ekonomi berikut rincian penjelasannya, sehingga tidak perlu lagi tambahan dari konsep ekonomi yang lain.

Akhirnya, ketahuilah bahwa jika suatu umat telah dapat memenuhi seluruh tonggak ini; cita-cita, cinta tanah air, ilmu pengetahuan, kekuatan, kesehatan, dan ekonomi, maka tidak dapat diragukan lagi bahwa inilah umat terbaik itu, dan masa depan ada di tangannya. Apalagi jika -di samping itu- ia bersih dari sifat egois, permusuhan, dan sifat-silat melampaui balas lainnya, niscaya lahirlah dari sana kebaikan yang akan menghiasi dunia seluruhnya. Sesungguhnya Islam telah menjamin tegaknya semua itu sehingga tidak ada alasan bagi suatu bangsa yang ingin bangkit untuk menolak konsep Islam ini, apalagi berpaling dari jalannya.

Sistem Islam Secara Umum

Pembicaraan di atas hanyalah sebagian kecil saja dari aspek-aspek ideal yang ada dalam sistem Islam, khususnya yang terkait dengan masalah kebangkitan umat, kerana kita memang tengah menghadapi zaman kebangkitan.

Adapun jika kita ingin membahas seluruh aspek ideal dalam sistem Islam, maka membutuhkan pembicaraan panjang dan butuh berjilid-jilid buku untuk menuliskannya. Oleh kerana itu cukuplah bagi kita sebuah kalimat global, bahwa sistem Islam yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, keluarga, bangsa -baik pemerintah maupun rakyatnya-, serta hubungan antar bangsa telah merangkum berbagai sisi penghayatan, kecermatan, kejelasan, serta pengutamaan maslahat. Ia adalah sistem yang paling mendatangkan manfaat dan paling sempurna, yang pernah dikenal oleh umat manusia, sejak dahulu hingga sekarang.

Pernyataan ini telah dibuktikan kebenarannya oleh sejarah, dan dikuatkan dengan riset yang mendalam oleh para peneliti dalam berbagai sisi kehidupan.

Pernyataan semacam ini dahulu terasa ekslusif, namun kini sudah sangat populer dan dinyatakan oleh setiap cendekiawan yang jujur. Para peneliti -setiap melakukan researchnya- senantiasa menyingkap sesuatu yang ajaib dalam sistem abadi ini, yang tidak pernah terlintas di benak mereka sebelumnya. Mahabenar Allah tatkala berfirman,

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fushilat: 53)

ISLAM MELINDUNGI GOLONGAN MINORITI DAN MEMELIHARA HAK-HAK ORANG ASING

Yang mulia …

Banyak orang berprasangka bahwa komitmen terhadap Islam dan menjadikannya sebagai dasar bagi bangunan kehidupan berarti menolak keberadaan kelompok minoriti non muslim dalam masyarakat Islam dan menolak adanya kesatuan berbagai kelompok masyarakat. Padahal sesungguhnya ia merupakan tonggak yang kokoh di antara tonggak-tonggak penyangga kebangkitan umat.

Prasangka tersebut jelas tidak benar, kerana Islam yang diturunkan oleh Dzat yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui -yang memahami benar apa yang terjadi pada umat manusia, baik di masa lalu, masa kini, dan masa mendatang, yang pengetahuan-Nya menguasai berbagai persoalan umat masa lalu tidak menciptakan sebuah sistem yang suci dan arif kecuali pasti mencakup perlindungan terhadap masyarakat minoriti di dalam teks-teks wahyu-Nya yang demikian jelas; tidak ada kerancuan dan campur aduk di dalamnya.

Jika orang ingin mengetahui lebih jelas, lihatlah ayat berikut ini,
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu kerana agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Mumtahanah: 8)

Ayat ini tidak hanya berbicara mengenai perlindungan saja, melainkan juga berbicara mengenai anjuran agar berbuat baik kepada mereka, kerana Islam adalah ajaran yang menkuduskan kesatuan umat manusia, sebagaimana firman-Nya,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.” (Al-Hujurat: 13)

Islam itulah juga yang memandang kudus terhadap kesatuan agama secara umum, dengan itu Islam telah menghapuskan perasaan ta ‘sub di samping mewajibkan kepada penganutnya agar mengimani agama-agama langit secara keseluruhannya sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah:

“Katakanlah (hai, orang-orang yang beriman), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’ Oleh kerana itu, jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu), dan Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. Shibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah. Dan kepada-Nya lah kami mengikhlashkan hati.” (Al-Baqarah: 137)

Kemudian ia menkuduskan ikatan agama secara khusus tanpa kesan memuji diri atau memusuhi orang lain.

Allah swt. berfirman,

“Sesungguhnya. orang-orang mukmin itu adalah saudara. Oleh kerana itu, damaikanlah antara saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”  (Al-Hujurat: 10)

Ajaran Islam ini -yang membangun prinsipnya di atas keseimbangan dan keadilan yang sempurna- tidak mungkin mencetak pengikut yang menjadi sebab perpecahan dan perselisihan.

Sebaliknya, ia bahkan menganggap persatuan sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi oleh agama, ketika (selama ini) kekuatan persatuan hanya berlandaskan pada teks-teks kesepakatan belaka.

Ajaran Islam juga menetapkan batasan-batasan secara rinci tentang siapa yang harus dilawan dan diputus hubungannya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah swt.,

“Sesungguhnya. Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu kerana agama, dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (Mumtahanah: 9)

Tidak ada satu pun orang bijak yang dapat memaksakan kepada suatu bangsa untuk rela. di dalam tubuhnya ada orang yang sifatnya seperti tersebut pada ayat di atas, yang hanya akan menciptakan kerusakan dan mengacaukan sistem hidupnya (bangsa itu).

Inilah sikap Islam terhadap kelompok minoriti non muslim, sangat jelas dan sama sekali tidak aniaya. Prinsip Islam dalam menyikapi umat lain adalah prinsip perdamaian dan persahabatan, sepanjang mereka berperilaku lurus dan berhati bersih. Namun, jika hati mereka rusak dan kejahatan mereka merajalela, Al-Qur’an pun menggariskan sikap tegas dengan firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (kerana) mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemadharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka. dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh, telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahami nya,” (Ali Imran: 118)

Dengan demikian, Islam telah memberi pemecahan terhadap persoalan ini secara lebih rinci dan jernih.

ISLAM TIDAK MENGERUHKAN HUBUNGAN KITA DENGAN BARAT

Ada sebagian orang menuduh bahwa sistem Islam (dalam alam kehidupan modern ini) menjauhkan kita dari negara-negara Barat dan mengeruhkan hubungan politik antara kita dengan mereka, yang sebelumnya berjalan harmonis. Tuduhan itu tentu saja tanpa dasar dan merupakan lamunan belaka.

Akan halnya negara-negara itu, kalau mereka tetap berburuk sangka kepada kita, memang begitulah jalan pikiran mereka, baik kita mengikuti Islam maupun tidak. Namun, jika saja mereka dengan tulus mau memberikan kepercayaannya kepada kita sebenarnya para juru bicara dan para politikus mereka juga sering berkata lantang bahwa setiap negara itu bebas menentukan sistem ideologi yang akan dijadikan pijakannya, sepanjang tidak merampas hak-hak bangsa lain.

Para pemimpin politik negara-negara itu seharusnya paham bahwa Islam sebagai sistem kenegaraan adalah sistem paling mulia lagi kudus yang pernah dikenal oleh sejarah. Sedangkan dasar-dasar ideologi yang diletakkan oleh Islam yang bertujuan untuk melindungi dan menjaga kemuliaannya, adalah dasar-dasar ideologi paling kokoh yang pernah dikenal manusia.

Islamlah yang mengumandangkan pemeliharaan hak dan penunaian perjanjian, sebagaimana tersurat dalam firman-Nya,
“Tepatilah janji. Sesungguhnya janji itu akan dipertanggungjawabkan (di hadapan Allah).” (Al-Isra’: 34)

“Kecuali orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjianmu) dan tidak pula membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya. Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (At-Taubah: 4)

“Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus pula terhadap mereka.” (At-Taubah: 7)

Mengenai perlakuan baik terhadap orang-orang yang minta perlindungan dan pihak yang memberi perlindungan, Allah swt. berfirman,

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya sempat mendengarkan ayat-ayat Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman.” (At-Taubah: 6)

Ini semua adalah perlakuan terhadap orang-orang musyrik, maka terhadap orang-orang ahli kitab tentu lebih lunak lagi.

Ajaran Islam, yang meletakkan dasar-dasar ideologi ini kemudian mengarahkan umatnya agar komitmen kepadanya, dan memberi jaminan keamanan kepada orang lain agar orang lain pun memperlakukannya dengan sikap serupa. Seharusnya, sikap yang demikian itu menjadi pelajaran bagi negara-negara Barat.

Bahkan, kami menegaskan pula bahwa Eropah mestinya akan lebih baik jika dalam mengendalikan bangsa-bangsanya menggunakan sistem ini. Dan tentunya ia (Islam) lebih baik dan lebih menjamin keabadiannya.

AKAR-AKAR KEBANGKITAN DI TIMUR BUKANLAH YANG ADA DI BARAT

Kepada yang mulia ………

Salah satu penyebab yang menjadikan bangsa-bangsa di Timur menyeleweng dari Islam dan memilih taklid kepada Barat adalah studi yang mereka lakukan terhadap kebangkitan negara-negara Barat. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa kebangkitan negara-negara Barat tegak di atas penghancuran agama dan gereja, terlepasnya mereka dari kekuasaan Paus dan cengkeraman para pendeta serta para rabi, pemberangusan terhadap segala fenomena kepemimpinan agama di masyarakat, dan pemisahan secara total antara urusan agama dengan urusan politik kenegaraan.

Taruhlah hal ini benar-benar terjadi di negara-negara Barat, maka tidaklah demikian yang harus berlaku di tubuh umat Islam. Mengapa? Kerana watak ajaran Islam itu berbeda sama sekali dengan watak agama mana pun di dunia ini.

Kekuasaan tokoh-tokoh agama di kalangan kaum muslimin itu terbatas sifatnya. Dia tidak memiliki hak untuk mengubah dasar-dasar hukum. Oleh kerananya, kaidah-kaidah dasar Islam senantiasa sesuai dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Suaranya senantiasa bergema menyeru umatnya untuk terus maju mendukung ilmu pengetahuan, dan melindungi para ulamanya.

Jadi, apa-apa yang berlaku di negara-negara Barat, sama sekali tidak terdapat di sini. Hal ini telah banyak dibahas oleh kalangan cendekiawan dan tertulis dalam banyak buku.

Kepentingan kami dengan risalah ini hanyalah ingin mengungkapkan secara sekilas mengenai pokok persoalan, kemudian mengingatkan, dan meluruskan syubhat yang ada.

Kami yakin sepenuhnya bahwa setiap orang yang adil pasti berada di pihak kami dalam memahami prinsip-prinsip ini.

Atas dasar itu, cara berpikir dengan kerangka Barat di atas tidak mungkin menjadi tapak bagi kebangkitan baru kami, sebuah kebangkitan yang harus dibangun di atas asas akhlak yang mulia, ilmu pengetahuan yang luas, dan kekuatan yang tegar. Itulah yang diperintahkan oleh Islam.

TOKOH AGAMA BUKANLAH AGAMA ITU SENDIRI

Salah satu alasan pembenar yang dipakai oleh orang-orang yang berpikir dengan kerangka pikir model Barat -dalam rangka menyudutkan Islam- adalah mereka senantiasa menggembor-gemborkan perilaku para tokoh agama di kalangan kaum muslimin, di mana sikap mereka senantiasa kontra produktif terhadap kebangkitan bangsa mereka sendiri. Mereka (para tokoh agama) senantiasa menindas warganya, bekerja sama dengan para perampas hak rakyat, memberikan kepada mereka (para perampas) perlakuan yang istimewa, serta membagi-bagi kedudukan dan keuntungan dunia, dengan mengabaikan kemaslahatan negara dan masyarakat.

Sekiranya perkara ini benar ia hanyalah merupakan kelemahan ahli-ahli agama itu sendiri, kerana adakah agama menyuruh perkara-perkara ini?

Tidakkah anda menyimak kisah hidup para ulama, di mana mereka menghinakan para raja dan penguasa di pagar dan pintu istana mereka? Mereka dengan sangat tegar dan keras menunjukkan sikapnya, berani memerintah, mencegah, bahkan menolak hadiah-hadiah dari para penguasa dan raja-raja itu. Mereka menjelaskan makna hakekat kepada para penguasa tersebut, menyampaikan tuntutan-tuntutan umat, bahkan lebih dari itu mereka senantiasa siap memanggul senjata jika menghadapi berbagai tindak kezhaliman.

Tinta sejarah belum lagi kering menuliskan bagaimana sekelompok fuqaha di bawah pimpinan Ibnu Al-’Ash mengibarkan panji jihad di berbagai negeri bagian timur daulah Islamiyah, sedangkan di wilayah barat sejarah mencatat nama Ibnu Yahya Al-Laitsi At-Maliki.

Inilah tuntunan agama dan ini pula sejarah masa lalu para tokohnya. Adakah kita dapati padanya apa-apa yang mereka tuduhkan itu? Bisakah disebut keadilan jika penyelewengan tokoh agama ditimpakan kepada agamanya?

Lagi pula, kalaupun tuduhan itu benar-benar terjadi pada Suatu bangsa, belum tentu ia juga terjadi pada bangsa-bangsa lain, sebagaimana jika terjadi pada suatu keadaan, tidak selalu terjadi pada keadaan yang lain.

Simaklah sejarah kebangkitan baru di Timur maka Anda akan menyaksikan kisah kepahlawanan para tokoh agama (Islam), misalnya tegaknya Al-Azhar di Mesir, peranan majlis tinggi di Palestina dan Libanon, kisah perjuangan guru kami: Abil Kalam dan kawan-kawannya para ulama besar di India, serta pemimpin Islam di Indonesia. Semua itu masih segar diingat oleh sejarah.

Oleh kerananya, tuduhan-tuduhan di atas tidak seharusnya menjadi alasan untuk memalingkan umat dari ajaran agamanya atas nama Nasionalisme murni. Bukankah merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi umat jika Anda memperbaiki para tokoh agama tersebut (sekiranya dia memang salah) atau menuntut kebaikan dari mereka, bukan malah menyikapinya dengan sikap yang membinasakan?

Lagi pula, istilah “tokoh agama” yang sudah demikian populer di masyarakat kita adalah istilah serapan dan taklid buta yang tidak sesuai dengan tradisi kita. Kalaupun hal ini dibenarkan dalam persepsi barat dengan nama Aklerus, maka dalam tradisi Islam meliputi seluruh Muslim. Baik orang Muslim biasa maupun tokohnya, adalah tokoh agama.

LANGKAH YANG BERANI DAN TEPAT

Yang mulia …

Setelah membaca penjelasan panjang lebar ini, kita tidak punya alasan lagi untuk menjauh dari jalan kebenaran, yakni sistem Islam. Dan tidak ada alasan pula untuk menuruti keinginan syahwat dan selera kemewahan duniawi, yakni sistem Eropah. Memang, pada sistem Eropah terdapat hiasan materi dan kemewahan. Padanya terdapat kenikmatan dan kesenangan, permisifisme dan kebebasan, serta segala yang menyenangkan hawa nafsu.

Allah swt. berfirman,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, sawah, dan ladang, Itulah kesenangan hidup di dunia…” (Ali Imran: 14)

Akan tetapi, jalan Islam adalah jalan yang terhormat dan penuh pengendalian diri. Dia adalah kebenaran dan kekuatan, keberkahan dan jalan lurus, ketegaran dan keutamaan. ikutilah jejaknya bersama umat ini, semoga Allah memberi taufiq kepada Anda.

Allah swt. berfirman,

“Katakanlah, Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah) pada sisi Tuhan mereka ada surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai ; mereka kekal di dalamnya. Dan (ada pula) istri-istri yang disucikan, serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 15)

Sesungguhnya, kemewahan hidup telah menghancurkan banyak bangsa. Eropah pun telah diguncang oleh kenikmatan duniawi dan kerakusan terhadapnya.

Allah swt. berfirman,

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya menaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Oleh kerananya, sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16)

Sesungguhnya, Allah swt. telah mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi semesta alam sampai hari kiamat. Bersama Rasul itu diturunkanlah Kitab-Nya yang haq, sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia sampai hari kiamat. Kepemimpinan Rasulullah senantiasa abadi dengan sunah-sunahnya, kekuatan Al-Qur’an senantiasa tegar dengan hujah-hujahnya dan seluruh umat manusia pasti menuju kepada keduanya, baik dengan cara terhormat maupun dengan terhina baik dari jauh maupun dari dekat, hingga terwujudlah janji Allah,

“Agar dimenangkan agama ini atas seluruh agama….”

Oleh kerana itu, jadilah Anda orang pertama yang bangkit dengan atas nama Rasulullah saw, yang membawa penyembuh dari Al-Qur’an untuk menyelamatkan  dunia dari deraan penyakit yang diidapnya.

Ia adalah langkah yang berani, dan memang demikianlah seharusnya. Sungguh, Allah pasti menang dalam segala urusan-Nya.

“Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman kerana pertolongan Allah. Dia menolong. siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (Ar-Ruum: 4-5)

BEBERAPA LANGKAH PRAKTIS MENUJU PERBAIKAN

Yang mulia …..

Setelah kami jelaskan kepada Anda beberapa hal yang dapat menjadi acuan dalam membimbing umat menuju kebangkitan barunya secara ruhani, selanjutnya kami Ingin memaparkan beberapa langkah aplikatif yang dapat memenuhi tuntutan konsep tersebut. Kami akan mengungkapkan tema pokoknya saja, kerana kami tahu pasti bahwa setiap tuntutan yang akan kami sampaikan ini membutuhkan pembahasan yang panjang dan mendalam dengan melibatkan para pakar dan spesialis di bidang masing-masing. Namun, -pada saat yang sama- kami juga tidak mungkin mengurangi apa yang menjadi tuntutan kebangkitan umat tersebut.

Di samping itu, kami meyakini bahwa untuk mewujudkan tuntutan tersebut bukan pekerjaan mudah yang dapat selesai dalam waktu satu dua hari. Setiap tuntutan pasti menghadapi berbagai kendala, yang membutuhkan kearifan sikap, kebulatan tekad, dan perjuangan yang panjang. Semua itu kami ketahui dan kami pahami benar.

Namun demikian, kami tetap yakin bahwa jika ada tekad yang tulus dan jalan yang jelas membentang, sementara masyarakat sendiri memiliki kemauan yang keras untuk meniti jalan kebajikan, insya Allah semua itu akan terwujud. Mantapkanlah orientasi Anda, niscaya Allah swt. tetap bersama Anda.

Adapun, tema pokok tentang perbaikan dan bersendikan ruh Islam yang benar meliputi hal-hal sebagai berikut:

Dalam Aspek Politik, Undang-Undang, dan Pengurusan

1. Menghancurkan fanatisme kelompok dan mengarahkan potensi umat secara politik dalam rangka menciptakan keseragaman orientasi dan kesatuan barisan.

2. Perbaikan undang-undang sehingga sesuai dengan tuntutan syari’at Islam dalam setiap cabangnya.

3. Meningkatkan kekuatan pasukan, memperbanyak kelompok pemuda untuk proses pembangkitan semangat hidupnya dalam rangka memenuhi panggilan jihad Islam.

4. Menguatkan ikatan antar wilayah Islam khususnya negeri-negeri Arab sebagai titik tolak bangkitnya pemikiran yang serius dan realistik menuju tegaknya kembali khilafah yang telah hilang.

5. Membangkitkan semangat keIslaman di pejabat-pejabat pemerintah, sehingga seluruh pegawai merasa memerlukan kajian Islam.

6. Melakukan kontrol terhadap perilaku pribadi para pegawai dan tidak memisahkan antara kepentingan pribadi dan pekerjaan.

7. Mencepatkan masa keria dalam peiabat agar dapat  menolong menunaikan fardhu-fardhu dan dapat menghapuskan berjaga malam (untuk berpoya-poya).

8. Menghapuskan risywah (suap) dan komisyen, serta hanya berharap dari kemampuan kerja dan peraturan yang sebenarnya.

9. Menimbang setiap aktiviti pemerintah dengan timbangan hukum dan ajaran Islam. Oleh kerana itu, peraturan penyelenggaraan pesta, pertemuan resmi, sistem lembaga pemasyarakatan, pengelolaan rumah sakit, dan lain-lain hendaknya tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Di samping itu jadwal kegiatan hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak berbenturan dengan waktu-waktu shalat.

10. Memasukkan para lepasan Al-Azhar dalam pekerjaan ketenteraan dan kesekretariatan dan memberi pelatihan kepada mereka.

Dalam Aspek Sosial dan Ilmiah

1. Membiasakan masyarakat berpegang pada etika dan kesopanan umum, membuat aturan-aturan untuk mempertahankan pelaksanaannya, dan menindak tegas para pelanggarnya

2. Mengatasi persoalan kaum wanita dengan solusi yang dapat menggabungkan antara peningkatan perannya dan pemeliharaan kehormatannya, sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian, kita tidak mengabaikan persoalan mereka, kerana ia merupakan masalah sosial yang terpenting. Di mana mereka berhadapan dengan goresan kasih sayang tinta penulis yang tendensius dan berbagai pandangan yang ganjil, baik dari kaum ekstrimis maupun apatis.

3. Memberantas pelacuran, baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi Perbuatan zina, apapun alasannya, harus dianggap sebagai kejahatan dan kemungkaran yang mengakibatkan pelakunya bisa dihukum rajam.

4. Menghancurkan perjudian dengan segala bentuknya, seperti loteri, undian, maupun taruhan.

5. Memerangi minuman keras dan obat-obat terlarang. Islam melarang itu semua dan menjauhkan masyarakat dari dampak negatifnya.

6. Memerangi pendedahan ‘aurat dan pakaian yang    menjolok mata. Memberi bimbingan kepada wanita ke arah yang sepatutnya mereka lakukan dan memperkemaskan perkara ini terutama di kalangan guru-guru wanita, pelajar-pelajar sekolah menengah, doktor-doktor wanita, pelajar-pelaiar wanita di peringkat tinggi dan wanita-wanita lainnya yang termasuk dalam mana-mana golongan yang tersebut di     atas.

7. Meninjau kembali kurikulum pendidikan kaum wanita dan melakukan pemisahan sebanyak mungkin manhaj, antara kurikulum pendidikan untuk siswa putra dan putri.

8. Melarang bercampurnya siswa dan siswi dalam satu kelas, dengan penegasan bahwa jika seorang lelaki dan seorang perempuan berdua di tempat yang sepi, maka hal itu termasuk kejahatan yang ada sanksi hukumnya.

9. Menggalakkan semangat para pemuda untuk menikah dan mendapatkan keturunan dengan berbagai jalan yang dapat mengantarkan mereka ke sana. Syari’at Islam menganjurkan kepada kita untuk membangun keluarga, melindungi, dan memecahkan berbagai persoalannya.

10. Menutup klub-klub malam, panggung tarian maksiat, dan berbagai kegiatan serupa atau yang menuju ke hal tersebut.

11. Mengontrol kegiatan pementasan dan peredaran film-film di panggung wayang, serta menganjurkan dimasyarakatkannya kisah-kisah yang baik dan kaset-kaset yang bermanfaat.

12. Mengganti nyanyian yang berkembang di masyarakat dan menyeleksinya secara   sungguh-sungguh.

13. Menyeleksi produk siaran yang digunakan masyarakat, baik berupa ceramah maupun nyanyian, dan menggunakan studio siaran sebagai sarana pendidikan akhlak masyarakat.

14. Menyita cerita-cerita porno dan buku-buku yang mengaburkan kebenaran dan merusaknya. Juga penerbitan-penerbitan sejenis yang berpengaruh terhadap merajalelanya kejahatan dan terumbarnya nafsu syahwat.

15. Mengatur keberadaan vila-vila agar tidak disalahgunakan dan mengembalikan fungsi dasar vila-vila itu sebagai tempat peristirahatan.

16. Membatasi waktu buka warung-warung secara umum dn mengontrol kesibukan para pengunjungnya. Selain itu, juga memberikan pengarahan kepada mereka agar tidak menghamburkan waktunya dengan berlama-lama berada di situ.

17. Menggunakan warung-warung tersebut sebagai tempat pengajaran membaca dan menulis kepada para buta huruf dengan melibatkan para pemuda, yang mereka dilengkapi dengan seragam guru atau pelajar.

18. Memerangi tradisi yang negatif dalam perilaku ekonomi, akhlak, dan sebagainya. Mengubah tradisi negatif yang melanda masyarakat tersebut dan menggantinya dengan tradisi yang positif, atau mewarnai tradisi itu dengan sesuatu yang membawa maslahat, seperti tradisi pesta, resepsi kematian, ulang tahun, resepsi hari raya, dan sebagainya. Hendaknya pemerintah menjadi teladan dalam hal-hal seperti ini.

19. Menjadikan aktiviti memerangi orang yang menentang hukum Allah sebagai amar ma’ruf nahi mungkar, seperti makan di siang hari Ramadhan, meninggalkan shalat dengan sengaja, mencaci maki ajaran agama, atau yang semisal dengan itu.

20. Menghimpun lembaga pendidikan resmi di kampung-kampung dan masjid-masjid yang ada, untuk secara bersama-sama melakukan perbaikan yang menyeluruh, sehingga anak-anak didik terbiasa dengan disiplin shalat dan para pengasuhnya terbiasa dengan ilmu.

21. Menetapkan kurikulum agama sebagai materi pokok di setiap sekolah (dengan berbagai ragamnya) dan di perguruan tingginya.

22. Mendorong kegiatan menghafal Qur’an di pejabat-pejabat umum dan menjadikannya syarat untuk memperoleh tanda kelulusan dari lembaga pendidikan, khususnya jurusan yang berhubungan dengan agama dan Bahasa Arab. Di samping itu menetapkan peraturan. Wajib hafal beberapa surat dalam Al-Qur’an di setiap sekolah.

23. Meletakkan strategi pengajaran yang baku dalam rangka meningkatkan dan mendongkrak kualiti sistem pendidikan. Menyatukan berbagai kurikulum yang memiliki tujuan beragam dan menyatukan berbagai pengetahuan umum yang bervariasi. Di samping itu, menetapkan pembinaan mental cinta tanah air serta pembinaan akhlak utama sebagai tahap awal dari pencapaian tujuan pendidikan.

24. Memberikan bahagian yang cukup bagi mata pelajaran Bahasa Arab di setiap jenjang pendidikan dan menjadikannya sebagai mata pelajaran utama di samping bahasa-bahasa yang lain.

25. Memberikan perhatian kepada bahan Sejarah Islam, Sejarah Nasional, Pembinaan Kebangsaan, serta Sejarah Peradaban Islam.

26. Memikirkan diwujudkannya berbagai sarana yang mendukung dalam rangka menyatukan keragaman tradisi yang ada di masyarakat secara bertahap.

27. Menghapuskan gaya hidup kebarat-baratan dari rumah-rumah penduduk; menyangkut bahasa, kebiasaan, mode pakaian, tradisi para pendidik, perawat, dan profesi lainnya. Semua itu harus diperbaiki, dimulai dari rumah tangga para tokoh masyarakat.

28. Memberikan pengarahan yang baik kepada penerbit dan memberi dorongan kepada para penulis untuk mengarang buku yang bertema keIslaman dan ketimuran.

29. Mengambil berat tentang keadaan kesihatan umum dengan menyebarkan penerangan tentang kesihatan dengan berbagai cara. Membanyakkan rumah-rumah sakit, doktor-doktor, rawatan-rawatan bergerak dan memudahkan rawatan.

30. Memperhatikan keadaan kampung, menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan penertiban lingkungan, kebersihan, sanitasi, sistem saluran air, serta berbagai sarana penerangan, pengetahuan dan rekreasi dengan senantiasa membersihkannya dari nilai-nilai moral yang negatif.

Dalam Aspek Ekonomi

1. Menyusun zakat, masuk dan keluar menurut aiaran Islam dan menggunakannya untuk rancangan-rancangan kebajikan yang penting diadakan seperti rumah-rumah perlindungan bagi mereka yang uzur, orang-orang faqir, anak-anak yatim dan untuk memperkuatkan tentera.

2. Mengharamkan riba dan mengatur sistem perbankan yang Islami untuk mendukung pencapaian target ini. Pemerintah hendaknya menjadi teladan dalam hal ini dengan menghapuskan berbagai nilai tambah uang dalam sistem yang di terapkan secara khusus, seperti pendirian bank tanpa bunga dan lain-lain.

3. Mendorong dan menggalakkan kegiatan perekonomian untuk membuka lapangan pekerjaan kepada para penganggur di kalangan masyarakat pribumi dengan melepaskan ketergantungan kepada tenaga-tenaga asing.

4. Melindungi masyarakat umum dari penindasan yang dilakukan oleh praktek monopoli, dengan memberlakukan aturan yang ketat untuk mendapatkan kemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi mereka.

5. Memperbaiki nasib para pegawai rendahan dengan meningkatkan posisi mereka serta memperbesar standar gajinya di satu sisi, dan di sisi lain memperkecil gaji pegawai tinggi.

6. Melakukan pengaturan tugas, khususnya yang banyak dan menumpuk, serta mencukupkan diri pada pekerjaan yang darurat. Di samping itu melakukan pembagian tugas secara adil dan proporsional di antara para pegawai.

7. Memberikan dorongan dan pembinaan kepada para buruh dan tani serta memberi perhatian kepada peningkatan kualiti produk pertanian dan pekerjaan yang mereka hasilkan.

8. Memberi perhatian kepada berbagai ketrampilan dan aktiviti sosial serta meningatkan kualiti mereka dalam berbagai bidang kehidupan.

9. Memanfaatkan sebesar-besarnya kekayaan alam yang ada seperti lahan yang gersang, berbagai hasil tambang yang kurang diperhatikan, dan lain-lainnya.

10. Mendahulukan pembuatan dan pengelolaan berbagai projek yang mendesak kegunaannya daripada yang bersifat sekunder.

Demikianlah, risalah Ikhwanul Muslimin yang kami persembahkan kepada Anda. Jiwa kami dan segala yang kami miliki siap dimanfaatkan oleh lembaga atau pemerintah mana pun yang ingin melangkah bersama umat menuju kejayaan dan kebangkitannya.

Kami penuhi setiap ajakan menuju perbaikan dan kami siap menjadi tebusan. Dengan demikian, kami berharap bahwa kami telah menunaikan amanat yang ada di pundak kami dan telah menyampaikan seruan kami. Sedangkan agama ini adalah nasihat; bagi Allah, bagi Rasul-Nya, bagi Kitab-Nya, bagi para pemimpin kaum muslimin, dan umatnya.

Cukuplah Allah bagi kami, dan kesejahteraan hanyalah bagi hamba-hamba-Nya yang terpilih,,,,,

wassalam,,,,

Hasan al banna

 

 

 

Kebangkitan Islam

Gambar

 Akhir Zaman Berawal Dari Bumi Timur ,,,,,?

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan masa(kejayaan/ kekuasaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (sebagai iktibar/ pengajaran)” (Ali Imran: 140)
Sabda Rasulullah SAW: “Akan terjadi di akhir zaman Islam muncul dari bumi sebelah Timur.” (tersebut di dalam Kitab Sababul Inhithat Al Muslimin oleh Sayid Hasan Ali An Nadwi)

Berdasarkan ayat di atas, jelas bahawa Allah menggilirkan kejayaan dan kejatuhan suatu bangsa dari dulu hingga kini.

As Syahid Hasan Al Banna pernah mengatakan; “Kepemimpinan dunia dipegangsecara bergilir oleh orang dari Timur dan orang Barat.”

Sejarah telah membuktikan, kejayaan sesuatu bangsa dipergilirkan antara Timur dan Barat, bermula dari bangsa Qibti (Timur), bangsa Yunani (Barat), bangsa Farsi (Timur), Bangsa Romawi (Barat), kemudian bangsa Arab (Timur), dan kini Amerika (Barat) yang sedangmenurun pengaruh kekuasaannya hari demi hari.
Jika diikuti susunan timur-barat ini, giliran bangsa yang bakal menguasai dunia kini adalah bangsa dari Timur.

Telah mengeluarkan Tabrani dalam Al Ausat, dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW telah mengambil tangan Ali dan bersabda : “Akan keluar dari sulbi ini pemuda yag memenuhi dunia dengan keadilan (Imam Mahdi). Bilamana kamu melihat yang demikian itu, maka wajib kamumencari Pemuda dari Bani Tamim itu, dia datang dari sebelah Timur dan dia adalah pemegang bendera Al Mahdi”. (dari kitab Al Hawi lil Fatawa oleh Imam Sayuti).

Timur manakah ?
Dalam dunia Islam ada dua Timur, yaitu TimurTengah dan Timur jauh (Asia Tenggara). Bila diukur dari segi peluang, kewibawaan dan pengamalan Islam, Timur jauh mengatasi Timur Tengah.

Besar kemungkinan Timur yang dimaksud dalam hadist adalah Timur jauh (Asia Tenggara). Di Timur jauh satu bangsa yang menonjol pengamalan Islamnya dan belum pernah menjadi empire dunia adalah bangsa Melayu (nusantara) yang meliputi terutama Indonesia dan Malaysia, selain Brunei, Selatan Thai, dan Mindanao.

Guru Besar Universitas Al Azhar Kairo, Prof. DR. Syeikh Abdul Hayyi Al Farmawi, menegaskan bahwa kebangkitan Islam di masa depan akan dimulai di Indonesia.
Beberapa tokoh dan penulis dunia diantaranya : Malik bin Nabi (penulis Perancis), Dr. Abdus Sallam Harras (Univ. Qarawiyyun Maroko), Judith Nagata (penulis Amerika), Mahmud Bajahji (mantan PM Irak) juga meyakini bahwa kebangkitan Islam akanbermula dari Asia Tenggara, dengan tulang punggungnya Indonesia dan Malaysia.

Mindset

ImageDalam sebuah hadist qudsiy, Allah berfirman:

Inniy ‘inda dzonniy ‘abdibiy,,,,

“Aku menurut prasangka hamba-Ku”

menurut tadabbur penulis, hadist ini bukan menunjukkan bahwa Alloh itu tidak irodat (berkehendak), namun ayat ini mengajarkan pada kita sebagai hamba Alloh agar berprasangka baik kepada Alloh. Dengan kata lain, kita diajarkan supaya ber-mindset positif.

Yah, mindset. That’s the key point.

Yuk kita bahas sedikit tentang mindset sebelum penulis paparkan maksud tulisan sederhana ini.

Mula-mula, coba kita tanya pada Prof. Googgle dengan kata kunci “what is mindset”. Muncullah sebuah definisi tentang mindset dari wordnetweb.princeton.edu/perl/webwn. Disitu dikatakan bahwa

mindset is mentality: a habitual or characteristic mental attitude that determines how you will interpret and respond to situations.

Mindset terkait erat dengan habit/ kebiasaan, karakter mental dalam merespon situasi. Agak mirip dengan pengertian akhlak dalam hal respon spontannya.

Pengertian lain dari mindset dapat kita lihat juga di salah satu tulisan ini, yang menyatakan bahwa

Mind Set (Pola Pikir) adalah inti dari Self Learning atau pembelajaran diri. Inilah yang menentukan bagaimana kita memandang sebuah potensi, kecerdasan, tantangan dan peluang sebagai sebuah proses yang harus diupayakan dengan ketekunan, kerja keras, komitmen untuk tercapainya kebehasilan visi dan tujuan hidup kita.

Penulis rasa, dengan pendefinisian di atas, kita setidaknya sudah bisa memahami pengertian dari mindset.

Yang ingin penulis tekankan dalam tulisan sederhana ini bukanlah pembicaraan detai mengenai mindset, karena penulis bukanlah orang yang berkapasitas dalam menjelaskannya. Biarlah ahlinya yang menjelaskan.

Tujuan utama tulisan ini adalah agar kita sebagai orang yang beriman kepada Alloh Swt. meyakini betul bahwa kita diciptakan Alloh sebagai khalifah di muka bumi. Kita diberikan Alloh potensi untuk berencana dengan detail, terstruktur, sempurna, realistis dan terparameter (baca: ikhtiar maksimal). Setelah rencana ‘sempurna’ itu kita rancang , yang harus dilaksanakan selanjutnya adalah eksekusi yang ‘sempurna’ pula. Pengejawantahan rencana-rencana itu ke dalam langkah-langkah pelaksanaan yang juga ‘sempurna’. Kata ‘sempurna’ yang penulis beri tanda petik di sini bermakna semaksimal mungkin.

Kalau rencananya sudah sempurna, usaha dan eksekusinya sudah sempurna pula, maka pada hakikatnya belum bisa dikatakan sempurna betul jika belum diimbangi dengan do’a dan pelibatan Alloh secara sempurna pula. Pelibatan Alloh yang penulis maksud adalah pelibatan Alloh secara total berupa tawakkal yang kontinyu dan menyeluruh.

Tawakkal (berserah diri) tidak dikatakan kontinyu dan menyeluruh kalau tawakkalnya hanya saat di akhir saat menunggu hasil saja, atau di awal saat perencanaan saja atau di tengah saat mengusahakan dan mengeksekusi rencana-rencana tadi.

Kalau 3 komponen utama ini yakni rencana, usaha dan pelibatan Alloh berupa tawakkal sudah diupayakan dengan sebaik mungkin, maka pastilah akan disukseskan oleh Alloh..

Bukankah kita sebegitu sering mendengar firman Alloh dalam Q.S. Ali Imron ayat 159 yang berbunyi:

“..faidza azamta, fatawakkal ‘alalloh…”

yang artinya “bila kamu telah berazzam (membulatkan tekad), maka bertawakkallah pada Alloh”

Di situ tersirat sebuah makna yang dalam yang mengajarkan kita agar bermindset positif. Karena hanya orang yang bermindset positif/ optimis-lah yang mau bertawakkal.

Ayat di Q.S. Ali Imron itu tak berhenti di situ saja, ada sebuah ungkapan indah di paruh akhir ayat ini, yang berbunyi:

“…innalloha yuhibbul mutawakkiliin“

yang artinya: sesungguhnya Alloh mencintai orang2 yang bertawakkal.

Siapa orang beriman yang tak mau dicintai/disayang Alloh?

Coba penulis tanya, siapa istri yang tak mau disayang suaminya? siapa rakyat yang tak mau disayang raja/ presidennya? siapa anak yang tak mau disayang oleh Ibu dan Bapaknya?

Sekarang penulis tanya lagi, siapa orang yang tak mau disayang Alloh?

Hanya orang bodoh saja yang tak mau disayang Alloh. Sebab kalau Alloh sudah sayang pada seorang hamba, maka apapun yang hamba itu lakukan dan inginkan pasti Alloh beri, pasti Alloh mudahkan.

Karena Alloh sendiri berjanji dalam sebuah hadist qudsiy yang shahih:

” Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Kesimpulannya, pemahaman yang benar dan penerapan mindset positif sangat diperlukan dalam keseharian kita amat penting. Yang bila dipadu dengan planning yang mantap, ikhtiar yang mantap dan pelibatan Alloh yang kontinyu dan menyeluruh akan menghasilkan kesuksesan yang diidam-idamkan setiap orang yang mengerti yakni kesuksesan meraih kasih sayang Alloh..

Biar makin di sayang Alloh, yuk kita terus belajar,,,,

Wallahu a’lam bishowab,,,,

Menjalin Persaudaraan


Makna dan Hakikat Ukhuwah

Menurut Imam Hasan Al-Banna, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.

Ukhuwah Islamiyah adalah satu dari tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah, yaitu pertama, kekuatan iman dan aqidah. Kedua, kekuatan ukhuwah dan ikatan hati. Dan ketiga, kekuatan kepemimpinan dan senjata.

Dengan tiga kekuatan ini, Rasulullah saw membangun masyarakat ideal, memperluas Islam, mengangkat tinggi bendera tauhid, dan mengeksiskan umat Islam atas muka dunia kurang dari setengah abad.

Sekarang ini, kita berusaha memperbaharui kekuatan ukhuwah ini, karena ukhuwah memiliki pengaruh kuat dan aktif dalam proses mengembalikan kejayaan umat Islam.

Kedudukan Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah adalah nikmat Allah, anugerah suci, dan pancaran cahaya rabbani yang Allah persembahkan untuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan pilihan. Allahlah yang menciptakannya. Allah berfirman:  “…Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu.” (QS: Ali Imran: 103).  “…Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara…” (QS: Ali Imran: 103).

Ukhuwah adalah pemberian Allah, yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Allah berfirman:  “…Walaupun kamu membelanjakan semua (kakayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka… (QS: Al-Anfal: 63)”

Selain nikmat dan pemberian, ukhuwah memiliki makna empati, lebih dari sekadar simpati. Rasulullah Saw bersabda: “Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.” (HR. Imam Muslim).

Dengan ukhuwah, sesama mukmin akan saling menopang dan menguatkan, menjadi satu umat yang kuat. Rasulullah Saw. Bersabda: “Mukmin satu sama lainnya bagaikan bangunan yang sebagiannya mengokohkan bagian lainnya.” (HR. Imam Bukhari).

Adapun hubungannya dengan iman, ukhuwah diikat oleh iman dan taqwa. Sebaliknya, iman juga diikat dengan ukhuwah. Allah berfirman:  “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (QS: Al-Hujurat: 10).” Artinya, mukmin itu pasti bersaudara. Dan tidak ada persaudaraan kecuali dengan keimanan. Jika Anda melihat ada yang bersaudara bukan karena iman, maka ketahuilah itu adalah persaudaraan dusta. Tidak memiliki akar dan tidak memiliki buah. Jika Anda melihat iman tanpa persaudaraan, maka itu adalah iman yang tidak sempurna, belum mencapai derajat yang diinginkan, bahkan bisa berakhir dengan permusuhan. Allah berfirman:  “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS: Al-Zukhruf: 67).

Keutamaan Ukhuwah Islamiah

Ukhuwah memiliki banyak sekali keutamaan. Pertama, dengan ukhuwah kita bisa merasakan manisnya iman. Rasulullah Saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah, dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Imam Bukhari).

Kedua, dengan ukhuwah kita akan berada di bawah naungan cinta Allah dan dilindungi dibawah Arsy-Nya. Di akhirat Allah berfirman: “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini aku akan menaungi mereka dengan naungan yang tidak ada naungan kecuali naunganku.” (HR. Imam Muslim). Rasulullah Saw. bersabda: “Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di tengah perjalanan, Allah mengutus malaikat-Nya. Ketika berjumpa, malaikat bertanya, “Mau kemana?” Orang tersebut menjawab, “Saya mau mengunjungi saudara di desa ini.” Malaikat bertanya, “Apakah kau ingin mendapatkan sesuatu keuntungan darinya?” Ia menjawab, “Tidak. Aku mengunjunginya hanya karena aku mencintainya karena Allah.” Malaikat pun berkata, “Sungguh utusan Allah yang diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Imam Muslim).

Ketiga, dengan ukhuwah kita akan menjadi ahli surga di akhirat kelak. Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, ‘Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di surga.” (HR. Imam Al-Tirmizi). Rasulullah Saw. Bersabda: “Sesungguhnya di sekitar arasy Allah ada mimbar-mimbar dari cahaya. Di atasnya ada kaum yang berpakaian cahaya. Wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukanlah para nabi dan bukan juga para syuhada. Dan para nabi dan syuhada cemburu pada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Para sahabat bertanya, “Beritahukanlah sifat mereka wahai Rasulallah. Maka Rasul bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bersaudara karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah.” (Hadis yang ditakhrij Al-Hafiz Al-Iraqi, ia mengatakan, para perawinya tsiqat).

Keempat, bersaudara karena Allah adalah amal mulia yang akan mendekatkan seorang hamba dengan Allah. Rasul pernah ditanya tentang derajat iman yang paling tinggi, beliau bersabda, “…Hendaklah kamu mencinta dan membenci karena Allah…” Kemudian Rasul ditanya lagi, “Selain itu apa wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Hendaklah kamu mencintai orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, dan hendaklah kamu membenci bagi orang lain sebagaimana kamu membenci bagi dirimu sendiri.” (HR. Imam Al-Munziri).

Kelima, dengan ukhuwah dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah. Rasulullah Saw bersabda:  “Jika dua orang Muslim bertemu dan kemudian mereka saling berjabat tangan, maka dosa-dosa mereka hilang dari kedua tangan mereka, bagai berjatuhan dari pohon.” (Hadis yang ditkhrij oleh Al-Imam Al-Iraqi, sanadnya dha’if).

Syarat dan Hak Ukhuwah

Ukhuwah memiliki beberapa syarat dan hak yang harus kita penuhi. Yang pertama, hendaknya kita bersaudara untuk mencari keridhaan Allah, bukan kepentingan atau berbagai tujuan duniawi. Tujuannya ridha Allah, mengokohkan internal umat Islam, berdiri tegar di hadapan konspirasi yang berusaha menghancurkan agama Islam. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya…” (HR. Imam Bukhari).

Yang kedua, hendaknya kita saling tolong-menolong dalam keadaan suka dan duka, senang atau tidak, mudah maupun susah. Rasul bersabda, “Muslim adalah saudara muslim, ia tidak mendhaliminya dan tidak menghinanya… tidak boleh seorang muslim bermusuhan dengan saudaranya lebih dari tiga hari, di mana yang satu berpaling dari yang lain, dan yang lain juga berpaling darinya. Maka yang terbaik dari mereka adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Imam Muslim).

Dan yang ketiga, hendaknya kita memenuhi hak-hak umum dalam ukhuwah. Rasul bersabda: “Hak muslim atas muslim lainnya ada enam, yaitu jika berjumpa ia memberi salam, jika bersin ia mendoakannya, jika sakit ia menjenguknya, jika meninggal ia mengikuti jenazahnya, jika bersumpah ia melaksanakannya.” (HR. Imam Muslim).

Tingkatan-tingkatan Ukhuwah

Tingkatan yang terendah dari ukhuwah adalah salamatush shadr, yaitu bersihnya hati kita dari perasaan iri, dengki, benci, dan sifat-sifat negatif lainnya terhadap saudara kita. Jika kita tidak bisa memberikan suatu kebaikan kepada saudara kita, paling tidak kita tidak memiliki perasaan yang negatif kepadanya. Termasuk juga dalam tingkatan yang terendah ini adalah selamatnya saudara kita dari kejahatan lisan dan tangan kita. Jangan sekali-kali kita melakukan kezhaliman kepada saudara kita.

Adapaun tingkatan ukhuwah yang tertinggi adalah itsaar, yaitu lebih mementingkan dan mengutamakan saudara kita diatas diri kita sendiri. Inilah dahulu yang pernah dicontohkan oleh para sahabat Anshor kepada para sahabat Muhajirin di Madinah.

Tahapan-tahapan Ukhuwah

Untuk membangun ukhuwah, diperlukan beberapa tahapan. Yang pertama adalah ta’aruf, yaitu saling mengenal. Pepatah bilang: ‘Tak kenal maka tak sayang.’ Apalagi saling mengenal antara kaum muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT (Q.S. Al Hujurat: 13)

Tahapan berikutnya adalah tafahum, yaitu saling memahami. Hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (H.R. Muslim)

Setelah ta’aruf dan tafahum, yang berikutnya harus kita lakukan untuk mewujudkan ukhuwah adalah ta’awun, yaitu saling membantu dan menolong, tentu saja dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.

Hal-hal yang menguatkan ukhuwah islamiyah:

  1. Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai. Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “ Ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai dia, ya Rasullah.’ Lalu Nabi menjawab: ‘Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?’ Orang tersebut menjawab: ‘Belum.’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Beritahukan kepadanya.’ Lalu orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata: ‘ Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Kemudian orang yang dicintai itu menjawab: ‘Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”
  2. Memohon didoakan bila berpisah. “Tidak seorang hamba mukmin berdo’a untuk saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata: ‘Dan bagimu juga seperti itu” (H.R. Muslim).
  3. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa. “Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa saja yang dating dari saudaramu), dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia senyum kegembiraan.” (H.R. Muslim)
  4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim). “Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (H.R Abu Daud dari Barra’)
  5. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
  6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
  7. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
  8. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
  9. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan