Arsip

​Sifat Shalat Nabi

Kapan Menurunkan Jari Telunjuk Saat Tasyahud?

KAPAN menurunkan jari telunjuk yang digunakan untuk berisyarat saat tasyahud? Dalam kitab sunan disebutkan riwayat dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻛَﺎﻥَ ﺇِﺫَﺍ ﺟَﻠَﺲَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻭَﺿَﻊَ ﻳَﺪَﻩُ ﺍﻟْﻴُﻤْﻨَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺭُﻛْﺒَﺘِﻪِ ﻭَﺭَﻓَﻊَ ﺇِﺻْﺒَﻌَﻪُ ﺍﻟَّﺘِﻰ ﺗَﻠِﻰ ﺍﻹِﺑْﻬَﺎﻡَ ﺍﻟْﻴُﻤْﻨَﻰ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻳَﺪُﻩُ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺭُﻛْﺒَﺘِﻪِ ﺑَﺎﺳِﻄَﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

“Ketika duduk dalam shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya di paha kanannya, lalu beliau mengangkat jari di samping jari jempol (yaitu jari telunjuk tangan kanan) dan beliau berdoa dengannya. Sedangkan tangan kiri dibentangkan di paha kirinya.” (HR. Tirmidzi no. 294).

Imam Syafi’i menegaskan bahwa berisyarat dengan jari telunjuk dihukumi sunnah sebagaimana didukung dari berbagai hadits. (Lihat Al Majmu’ , 3: 301).

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (5: 73-74), “Berisyarat dengan jari telunjuk dimulai dari ucapan “illallah” dari ucapan syahadat. Berisyarat dilakukan dengan jari tangan kanan, bukan yang lainnya. Jika jari tersebut terpotong atau sakit, maka tidak digunakan jari lain untuk berisyarat, tidak dengan jari tangan kanan yang lain, tidak pula dengan jari tangan kiri. Disunnahkan agar pandangan tidak lewat dari isyarat jari tadi karena ada hadits shahih yang disebutkan dalam Sunan Abi Daud yang menerangkan hal tersebut. Isyarat tersebut dengan mengarah kiblat. Isyarat tersebut untuk menunjukkan tauhid dan ikhlas.”

Dalam Al Majmu’ (3: 301), Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dari semua ucapan dan sisi pandang tersebut dapat disimpulkan bahwa disunnahkan mengisyaratkan jari telunjuk tangan kanan, lalu mengangkatnya ketika sampai huruf hamzah dari ucapannya (laa ilaaha illalllahu) …”

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa isyarat jari itu ada ketika penafian dalam kalimat tasyahud, yaitu pada kata “laa”. Ketika sampai pada kalimat penetapan (itsbat) yaitu “Allah”, maka jari tersebut diletakkan kembali.

Ulama Malikiyah berisyarat dari awal hingga akhir tasyahud. Ulama Hambali berisyarat ketika menyebut nama jalalah “Allah”. (Lihat Shifat Shalat Nabi karya Syaikh Abdul ‘Aziz Ath Thorifi, hal. 141).

Pada hadits Ibnu ‘Umar di atas pada lafazh hadits “lalu beliau mengangkat jari di samping jari jempol (yaitu jari telunjuk tangan kanan) dan beliau berdoa dengannya”, berdasarkan hal itu mengangkat telunjuk dimulai ketika berdo’a dalam tasyahud. Adapun lafazh doa dimulai dari dua kalimat syahadat. Karena di dalamnya terdapat pengakuan dan penetapan kemahaesaan Allah. Hal itu penyebab suatu doa lebih berpeluang dikabulkan. Selanjutnya mengucapkan inti do’anya “allahumma shalli ‘ala Muhammad …” hingga akhir tasyahuddan sampai akhir salam. Adapun awal tasyahud “attahiyyatulillah …” sampai ucapan “wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin” bukanlah termasuk do’a, namun itu adalah bentuk memuji Allah dan do’a keselamatan bagi hamba-Nya.

Adapun masalah kapan selesainya berisyarat dengan telunjuk, para sahabat yang meriwayatkan mengangkat jari telunjuk, tidaklah menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurunkannya di bagian tertentu sebelum selesainya salam, sehingga disimpulkan bahwa mengangkat jari telunjuk itu terus sampai selesai salam, terlebih lagi akhir tasyahud semuanya adalah do’a .

Imam Ar Ramli Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “ Jari telunjuk diangkat saat ucapan “illallah”, yaitu mulai mengangkatnya ketika pengucapan hamzah untuk mengikuti riwayat Imam Muslim dalam masalah tersebut. Hal itu nampak jelas menunjukkan bahwa jari telunjuk tetap diangkat sampai sesaat sebelum berdiri ke raka’at ketiga, pada tasyahud awal atau sampai salam pada tasyahud akhir. Adapun yang dibahas sekolompok orang zaman sekarang tentang mengembalikannya, maka ini menyelisihi riwayat yang ada.” (Lihat Nihayatul Muhtaj , 1: 522).

Dari sini dapat disimpulkan bahwa mengangkat jari saat tasyahud dimulai sejak syahadatain (pada kalimat illallah) lalu diturunkan ketika akan bagkit ke raka’at ketiga untuk tasyahud awal atau sampai salam untuk tasyahud akhir. Semoga bermanfaat dan moga bisa diamalkan. []

Referensi:

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, Lulusan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh.

– Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, tahqiq: Muhammad Najib Al Muthi’i, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H.

– Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath Thorifi, terbitan Maktabah Darul Minhaj, cetakan ketiga, tahun 1433 H.

http://www.rumaysho.com

Iklan

Hadits-Hadits Sahih Riba

Merusak Kehormatan Seorang Muslim Tanpa Hak Juga Termasuk Riba

ﻋَﻦْ ﺳَﻌِﻴﺪِ ﺑْﻦِ ﺯَﻳْﺪٍﻋَﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﻣِﻦْ ﺃَﺭْﺑَﻰ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺍﻟِﺎﺳْﺘِﻄَﺎﻟَﺔُ ﻓِﻲ ﻋِﺮْﺽِ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣَﻖٍّ ﻭَﺇِﻥَّ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻢَ ﺷِﺠْﻨَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﻓَﻤَﻦْ ﻗَﻄَﻌَﻬَﺎ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ

Dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya riba yang paling buruk adalah merusak kehormatan seorang muslim tanpa hak, dan sesungguhnya rahim dijalinkan oleh Ar Rahman, barangsiapa yang memutuskannya niscaya Allah mengharamkan baginya syurga.” (Ahmad, bab Musnad Said bin Zaid, no 1564)

Al-Bani mengatakan hadits tersebut sahih[1]

Azab Riba Selain Di Akhirat Juga Di Dunia

ﻣَﺎ ﻇَﻬَﺮَ ﻓِﻲ ﻗَﻮْﻡٍ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﺍﻟﺰِّﻧَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﺣَﻠُّﻮﺍ ﺑِﺄَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻋِﻘَﺎﺏَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ

“Tidaklah nampak pada suatu kaum riba dan perzinaan melainkan mereka telah menghalalkan bagi mereka mendapatkan siksa Allah Azza wa Jalla. (Ahmad, Musnad Ibn Masu’d, no 3168)

Al-Bani dalam Sahih Jami al-Shagir mengatakan bahwa hadits tersebut hasan[2]

Selain diriwayatkan oleh Ahmad, hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Al-Haitsami mengatakan bahwa riwayat Abu Ya’la tersebut sanadnya sangat baik.[3]

Laknat Atas Pemakan, Wakil, Saksi Dan Penulis Riba

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﺑْﻦُ ﻳُﻮﻧُﺲَ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺯُﻫَﻴْﺮٌ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺳِﻤَﺎﻙٌ، ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ، ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻌَﻦَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺁﻛِﻞَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ، ﻭَﻣُﺆْﻛِﻠَﻪُ ﻭَﺷَﺎﻫِﺪَﻩُ ﻭَﻛَﺎﺗِﺒَﻪُ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Simak, telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, dari ayahnya, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang makan riba, orang yang memberi makan riba, saksinya dan penulisnya.(HR. Abu Dawud)

Dalam sunan Abu Dawud yang ditahqiq (diteliti) oleh Syu’aib Arnaut, dkk. bahwa hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Majah, al-Tirmidzi, dan Ibn Hiban. Pentahqiq kitab tersebut mengatakan sanadnya hasan.[4]

ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮٍ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻌَﻦَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺁﻛِﻞَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﻣُﺆْﻛِﻠَﻪُ ﻭَﻛَﺎﺗِﺒَﻪُ ﻭَﺷَﺎﻫِﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻫُﻢْ ﺳَﻮَﺍﺀٌ

dari Jabir dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Dia berkata, “Mereka semua sama.” (HR. Muslim)

Riba Termasuk Dosa Besar

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُﻋَﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊَ ﺍﻟْﻤُﻮﺑِﻘَﺎﺕِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻦَّ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﺴِّﺤْﺮُ ﻭَﻗَﺘْﻞُ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﻣَﺎﻝِ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴﻢِ ﻭَﺍﻟﺘَّﻮَﻟِّﻲ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﺰَّﺣْﻒِ ﻭَﻗَﺬْﻑُ ﺍﻟْﻤُﺤْﺼَﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠَﺎﺕِ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu? Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan dan menuduh seorang wanita mu’min yang suci berbuat zina”. (Bukhari, Bab Ramyul Muhsanat, No. 6351)

Riba Menghancurkan Ekonomi

ﻋﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍﻋَﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﺃَﺣَﺪٌ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﺎﻗِﺒَﺔُ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ﺇِﻟَﻰ ﻗِﻠَّﺔٍ

Dari Ibnu Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah seseorang yang memperbanyak riba, melainkan akhir perkaranya akan merugi (Ibn Majah, bab Taglidh fir riba, no 2270).

Menurut Abu al-Abbas al-Bushari bahwa hadits tersebut sanadnya sahih, selain diriwayatkan oleh Ibn Majah juga diriwayatkan oleh Ahmad dan Hakim[5]. Al-Bani mengatakan haditsnya sahih[6]

Azab Riba Di Akherat

ﻋَﻦْ ﺳَﻤُﺮَﺓَ ﺑْﻦِ ﺟُﻨْﺪُﺏٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻠَﺔَ ﺭَﺟُﻠَﻴْﻦِ ﺃَﺗَﻴَﺎﻧِﻲ ﻓَﺄَﺧْﺮَﺟَﺎﻧِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺭْﺽٍ ﻣُﻘَﺪَّﺳَﺔٍ ﻓَﺎﻧْﻄَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺗَﻴْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﻬَﺮٍ ﻣِﻦْ ﺩَﻡٍ ﻓِﻴﻪِ ﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺎﺋِﻢٌ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻭَﺳَﻂِ ﺍﻟﻨَّﻬَﺮِ ﺭَﺟُﻞٌ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺣِﺠَﺎﺭَﺓٌ ﻓَﺄَﻗْﺒَﻞَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﻬَﺮِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺃَﻥْ ﻳَﺨْﺮُﺝَ ﺭَﻣَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺑِﺤَﺠَﺮٍ ﻓِﻲ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﺮَﺩَّﻩُ ﺣَﻴْﺚُ ﻛَﺎﻥَ ﻓَﺠَﻌَﻞَ ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﺟَﺎﺀَ ﻟِﻴَﺨْﺮُﺝَ ﺭَﻣَﻰ ﻓِﻲ ﻓِﻴﻪِ ﺑِﺤَﺠَﺮٍ ﻓَﻴَﺮْﺟِﻊُ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻣَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﺃَﻳْﺘَﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﻬَﺮِ ﺁﻛِﻞُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ

Dari Samrah bin Jundub radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada suatu malam aku bermimpi dua orang menemuiku lalu keduanya membawa aku keluar menuju tanah suci. Kemudian kami berangkat hingga tiba di suatu sungai yang airnya dari darah. Disana ada seorang yang berdiri di tengah sungai dan satu orang lagi berada (di tepinya) memegang batu. Maka laki-laki yang berada di tengah sungai menghampirinya dan setiap kali dia hendak keluar dari sungai maka laki-laki yang memegang batu melemparnya dengan batu kearah mulutnya hingga dia kembali ke tempatnya semula di tengah sungai dan terjadilah seterusnya yang setiap dia hendak keluar dari sungai, akan dilempar dengan batu sehingga kembali ke tempatnya semula. Aku bertanya: “Apa maksudnya ini?” Maka orang yang aku lihat dalam mimpiku itu berkata: “Orang yang kamu lihat dalam sungai adalah pemakan riba’”. (Bukhari, bab akilur riba wa syahidaih wa katibaih, no 1943)

Haramnya Menghalalkan Riba

ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻋَﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَﻗَﺎﻝَ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﻔْﺲُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻟَﻴَﺒِﻴﺘَﻦَّ ﻧَﺎﺱٌ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺷَﺮٍ ﻭَﺑَﻄَﺮٍ ﻭَﻟَﻌِﺐٍ ﻭَﻟَﻬْﻮٍ ﻓَﻴُﺼْﺒِﺤُﻮﺍ ﻗِﺮَﺩَﺓً ﻭَﺧَﻨَﺎﺯِﻳﺮَ ﺑِﺎﺳْﺘِﺤْﻠَﺎﻟِﻬِﻢْ ﺍﻟْﻤَﺤَﺎﺭِﻡَ ﻭَﺍﻟْﻘَﻴْﻨَﺎﺕِ ﻭَﺷُﺮْﺑِﻬِﻢْ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮَ ﻭَﺃَﻛْﻠِﻬِﻢْ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﻟُﺒْﺴِﻬِﻢْ ﺍﻟْﺤَﺮِﻳﺮَ

Dari Ibnu ‘Abbas dari Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Demi jiwa yang Muhammad berada ditanganNya, sungguh beberapa orang dari ummatku bermalam dengan bersuka ria, menyalahgunakan nikmat dan bermain-main, di pagi harinya mereka menjadi kera dan babi karena mereka menghalalkan yang haram, nyanyian, minum khamer, makan riba dan mengenakan sutera.” (Ahmad, bab Musnad Ibn Abbas, 21725 )

Al-Bani dalam silsilah mengatakan bagi hadits ini ada syawahid yang saling menguatkan maka haditsnya hasan[7]

Riba Itu Bukan Hanya Pada Utang Piutang

ﻋﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻋَﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ – ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ – ﻗَﺎﻝَ : “ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔٌ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺑَﺎﺑًﺎ

dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu.”(Ibn Majah)

al-Bushairi mengatakan sanadnya sahih[8]. al-Bani dalam sahih jami al-shagir mengatakan haditsnya sahih[9]

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺣُﻮﺑًﺎ ﺃَﻳْﺴَﺮُﻫَﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻜِﺢَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺃُﻣَّﻪُ

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Riba itu mempunyai tujuh puluh tingkatan, yang paling ringan adalah seperti seseorang yang berzina dengan ibunya.” (HR Ibn Majah, Bab Taghlid Fir riba, no 2265)

Menurut al-Bushairi hadits ini dhaif[10]. Dalam sunan Ibn Majah yang ditahqiq oleh Syuaib Arnaut, dkk. dikatakan hadits ini dhaif[11]. Sedangkan al-Bani dalam sahih al-jami al-shagir mengatakan sahih[12]

Riba lebih buruk dari 36 kali zina

ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺣَﻨْﻈَﻠَﺔَ ﻏَﺴِﻴﻞِ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔِ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺩِﺭْﻫَﻢٌ ﺭِﺑًﺎ ﻳَﺄْﻛُﻠُﻪُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺃَﺷَﺪُّ ﻣِﻦْ ﺳِﺘَّﺔٍ ﻭَﺛَﻠَﺎﺛِﻴﻦَ ﺯَﻧْﻴَﺔً

dari ‘Abdullah bin Hanzhalah, yang dimandikan oleh para malaikat, ia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Satu dirham hasil riba yang dimakan seseorang sementara ia mengetahuinya, itu lebih buruk dari tigapuluh kali berzina.” (HR. Ahmad)

al-Haitsami mengatakan hadits tersebut diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Thabrani dan perawi Ahmad adalah perawi sahih.[13] Menurut al-Bani hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Daraqutni dan Ibn Syakir beliau mengatakan haditsnya sahih[14].

Hadits-hadits dhaif tentang riba

ﻉْﻥَ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺯَﻣَﺎﻥٌ ﻳَﺄْﻛُﻠُﻮﻥَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﻛُﻠْﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻧَﺎﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻏُﺒَﺎﺭِﻩِ

Dari Abu Hurairah. dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu masa di mana saat itu mereka akan memakan riba, ” Abu Hurairah berkata; maka timbullah pertanyaan kepada beliau; “Apakah semua manusia melakukannya?” Beliau menjawab: “Yang tidak makan di antara mereka akan mendapatkan debunya.(Ahmad, Abu dawud, Nasai dan Ibn Majah)

Dalam sunan Ibn Majah yang ditahqiq oleh Syuaib Arnaut, dkk. bahwa hadits tersebut sanadnya lemah[15]. Al-Bani mengatakan bahwa hadits tersebut dhaif[16]

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺃُﺳْﺮِﻱَ ﺑِﻲ ﻟَﻤَّﺎ ﺍﻧْﺘَﻬَﻴْﻨَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻌَﺔِ ﻓَﻨَﻈَﺮْﺕُ ﻓَﻮْﻕَ ﻗَﺎﻝَ ﻋَﻔَّﺎﻥُ ﻓَﻮْﻗِﻲ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﻧَﺎ ﺑِﺮَﻋْﺪٍ ﻭَﺑَﺮْﻕٍ ﻭَﺻَﻮَﺍﻋِﻖَ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺄَﺗَﻴْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﺑُﻄُﻮﻧُﻬُﻢْ ﻛَﺎﻟْﺒُﻴُﻮﺕِ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَّﺎﺕُ ﺗُﺮَﻯ ﻣِﻦْ ﺧَﺎﺭِﺝِ ﺑُﻄُﻮﻧِﻬِﻢْ ﻗُﻠْﺖُ ﻣَﻦْ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﻳَﺎ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞُ ﻗَﺎﻝَ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﺃَﻛَﻠَﺔُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻧَﺰَﻟْﺖُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻧَﻈَﺮْﺕُ ﺃَﺳْﻔَﻞَ ﻣِﻨِّﻲ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﻧَﺎ ﺑِﺮَﻫْﺞٍ ﻭَﺩُﺧَﺎﻥٍ ﻭَﺃَﺻْﻮَﺍﺕٍ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻣَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻳَﺎ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞُ ﻗَﺎﻝَ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ ﻳَﺤُﻮﻣُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻋْﻴُﻦِ ﺑَﻨِﻲ ﺁﺩَﻡَ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﺍ ﻓِﻲ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕِ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻟَﻮْﻟَﺎ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﺮَﺃَﻭْﺍ ﺍﻟْﻌَﺠَﺎﺋِﺐَ

Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Pada malam aku diisra`kan, ketika aku sampai di langit yang ke tujuh aku melihat ke atas, -‘Affan menyebutkan; “ke atasku, – dan ternyata aku sedang berada di antara guruh dan kilatan petir, ” beliau bersabda: “Lalu aku mendatangi suatu kaum yang perut mereka seperti sarang ular sehingga bisa dilihat dari luar perutnya, aku berkata; ‘Siapa mereka wahai Jibril? ‘ Jibril berkata; ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan riba.’ Dan ketika aku turun ke langit dunia, aku melihat di bawahku dan ternyata aku berada di antara debu, asap dan suara, maka aku berkata; ‘Apa ini wahai Jibril? ‘ Jibril berkata; ‘Ini adalah setan-setan yang menghalangi pandangan mata anak cucu Adam sehingga mereka tidak bisa memikirkan tentang kerajaan langit dan bumi, sekiranya bukan karena itu sungguh mereka akan menyaksikan keajaiban-keajaiban.’” (Ahmad, Musnad Abu Hurairah, no 8286)

Al-haitsami mengtakan hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Majah dan Ahmad pada sanadnya ada Ali bin Zaid kebanyakan menganggap ia lemah.[17] Al-Bani dalam Dhaif Jami al-Shagir mendaifkannya[18] dalam Musnad Ahmad yang di tahqiq oleh Syu’ab Arnaut. dkk. haditsnya dikatakan dhaif[19]

ﻋﻦْ ﻋَﻤْﺮِﻭ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻌَﺎﺹِ ﻗَﺎﻝَﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻡٍ ﻳَﻈْﻬَﺮُ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺃُﺧِﺬُﻭﺍ ﺑِﺎﻟﺴَّﻨَﺔِ ﻭَﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻡٍ ﻳَﻈْﻬَﺮُ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﺍﻟﺮُّﺷَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺃُﺧِﺬُﻭﺍ ﺑِﺎﻟﺮُّﻋْﺐِ

Dari Amru bin Ash ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah riba merajalela pada suatu kaum kecuali akan ditimpa paceklik. Dan tidaklah budaya suap merajalela pada suatu kaum kecuali akan ditimpakan kepada mereka ketakutan.” (Ahmad, Musnad Amer bin Ash, 17155)

Al- Bani dalam silsilah ahadits dhaifah mengatakah hadits ini dhaif[20] dalam musnad ahmad yang di tahqiq oleh Syu’ab Arnaut. dkk. haditsnya dikatakan dhaif[21]

ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧَﺎ ﺃَﺑُﻮ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺰَّﺍﻫِﺪُ، ﺛﻨﺎ ﺃَﺑُﻮ ﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞَ ﺍﻟﺴُّﻠَﻤِﻲُّ، ﺛﻨﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰِ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺄُﻭَﻳْﺴِﻲُّ، ﺛﻨﺎ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﺑْﻦُ ﺧُﺜَﻴْﻢِ ﺑْﻦِ ﻋِﺮَﺍﻙِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ، ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ، ﻋَﻦْ ﺟَﺪِّﻩِ، ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ، ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ” ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﺣَﻖٌّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳُﺪْﺧِﻠَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺬِﻳﻘَﻬُﻢْ ﻧَﻌِﻴﻤَﻬَﺎ : ﻣُﺪْﻣِﻦُ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮِ، ﻭَﺁﻛِﻞُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ، ﻭَﺁﻛِﻞُ ﻣَﺎﻝِ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴﻢِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣَﻖٍّ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻕُّ ﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻪِ ‏« ﻫَﺬَﺍ ﺣَﺪِﻳﺚٌ ﺻَﺤِﻴﺢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻨَﺎﺩِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺨَﺮِّﺟَﺎﻩُ ﻭَﻗَﺪِ ﺍﺗَّﻔَﻘَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺧُﺜَﻴْﻢٍ ‏»

ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻖ – ﻣﻦ ﺗﻠﺨﻴﺺ ﺍﻟﺬﻫﺒﻲ – 2260 – ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺑﻦ ﺧﺜﻴﻢ ﺑﻦ ﻋﺮﺍﻙ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻣﺘﺮﻭﻙ

Dari Abu Hurairah ia berkata : telah bersabda Rasulllah saw: empat orang hak atas Allah bahwa ia tidak akan memasukan mereka kesurga dan tidak akan merasakan nikmatnya, 1. Peminum khomer 2. Pemakan riba 3. Pemakan harta yatim tanpa hak 4. Dan yang durhaka pada kedua orang tua. (Hakim, al-Mustadrak ala sahihain, jil. 2 hlm. 43, no 260 menurutnya sanadnya sahih, sedangkan ad-Dzahabi mengatakan bahwa Khutsaim bin Arak menurut imam Nasai adalah matruk (ditinggalkan).

Al-Bani dalam Dhaif Jami al-Shagir melemahkan hadits ini[22]

Kesimpulan.

Riba termasuk dosa besar, bahaya dan dosanya ditimpakan bukan hanya dia akherat tapi juga di dunia, riba menghancurkan ekonomi, masyarakat bahkan negara.

[1] Al-Haitsami, Majma Al-Zawaid Wa Manba’a Al-Fawaid,

(Kairo: Maktabah al-Qudsi,1994, Jil. 1), hlm. 439

[2] Muhammad Nashiruddin al-Bani, Sahih al-Jami al-Shagir,

(Beirut: al-Maktab al-Islami, Jil.2), hlm. 985

[3] Al-Haitsami, Majma Al-Zawaid Wa Manba’a Al-Fawaid,

(Kairo: Maktabah al-Qudsi,1994, Jil. 4), hlm. 118

[4] Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, (Riyadh: Dar al-Risalah, 2009, Jil. 5), hlm. 222

[5] Abu al-Abbas al-Bushairi, Misbah al-Zujah, (Beirut: Dar al-arabiyyah, 1403, Jil. 3), hlm. 53

[6] Muhammad Nashiruddin al-Bani, Sahih al-Jami al-Shagir,

(Beirut: al-Maktab al-Islami, Jil.2), hlm.968

[7] Muhammad Nasiruddin al-Bani, Silsilat al-Ahadits al-Sahihah, (Riyad: Maktabah al-Maarif, 1996, Jil. 4), hlm. 173

[8] Abu al-Abbas al-Bushairi, Misbah al-Zujah, (Beirut: Dar al-arabiyyah, 1403, Jil. 3), hlm. 34

[9] Muhammad Nashiruddin al-Bani, Sahih al-Jami al-Shagir, Jil. 1hlm. 663

[10] Abu al-Abbas al-Bushairi, Misbah al-Zujah, (Beirut: Dar al-arabiyyah, 1403, Jil. 3), hlm. 34

[11]Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, (Riyadh: Dar al-Risalah, 2009, Jil. 3), hlm. 337

[12]Muhammad Nashiruddin al-Bani, Sahih al-Jami al-Shagir,

jil. 1hlm. 664

[13] Al-Haitsami, Majma Al-Zawaid Wa Manba’a Al-Fawaid,

(Kairo: Maktabah al-Qudsi,1994, Jil. 4), hlm 117

[14] Muhammad Nashiruddin al-Bani, M isykah al-Mashabih , Jil. 1 hlm. 127. 1/636

[15]Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, (Riyadh: Dar al-Risalah, 2009, Jil. 3), hlm 381

[16] Muhammad Nashiruddin al-Bani, Misykah al-Mashabih ,(Beirut: al-Maktab al-Islami, 1985, Jil 2) hlm. 857

[17]Muhammad Nasiruddin al-Bani, Dhaif Jami al-Shagir,

(Beirut: Maktab al-Islami, TT, Jil. 4) hlm. 117

[18] Muhammad Nashiruddin al-Bani, Sahih al-Jami al-Shagir, Jil 1. hlm. 21

[19] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal (Riyadh: Muassasah ar-Risalah, 2001, Jil. 14), hlm . 286

[20] Muhammad Nasiruddin al-Bani, Silsilah Ahadits al-Dhaifah, (Riyadh: Dar al-Ma’arif, 1992, jil. 3), hlm. 382

[21] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 29, hlm. 356

[22]Muhammad Nasiruddin al-Bani, Dhaif Jami al-Shagir,

(Beirut: Maktab al-Islami, TT, Jil. 1) hlm. 107

Memakan Satu Dirham dari Hasil Riba

Di akhir zaman sekarang ini, telah nampak praktek riba tersebar di mana-mana. Dalam ruang lingkup masyarakat yang kecil hingga tataran negara, praktek ini begitu merebak baik di perbankan, lembaga perkreditan, bahkan sampai yang kecil-kecilan semacam dalam arisan warga. Entah mungkin kaum muslimin tidak mengetahui hakekat dan bentuk riba. Mungkin pula mereka tidak mengetahui bahayanya. Apalagi di akhir zaman seperti ini, orang-orang begitu tergila-gila dengan harta sehingga tidak lagi memperhatikan halal dan haram. Sungguh, benarlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ﻟَﻴَﺄْﺗِﻴَﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺯَﻣَﺎﻥٌ ﻻَ ﻳُﺒَﺎﻟِﻰ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﺧَﺬَ ﺍﻟْﻤَﺎﻝَ ، ﺃَﻣِﻦْ ﺣَﻼَﻝٍ ﺃَﻡْ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺍﻡٍ

“ Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari no. 2083)

Oleh karena itu, sangat penting sekali materi diketengahkan agar kaum muslimin apa yang dimaksud dengan riba, apa saja bentuknya dan bagaimana dampak bahanya.

Allahumma yassir wa a’in. Ya Allah, mudahkanlah kami dan tolonglah kami dalam menyelesaikan pembahasan ini.

Seorang Pedagang Haruslah Memahami Hakekat Riba

As Subkiy dan Ibnu Abi Bakr mengatakan bahwa Malik bin Anas mengatakan,

ﻓَﻠَﻢْ ﺃَﺭَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺃَﺷَﺮَّ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ، ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﺫِﻥَ ﻓِﻴﻪِ ﺑِﺎﻟْﺤَﺮْﺏِ

“Aku tidaklah memandang sesuatu yang lebih jelek dari riba karena Allah Ta’ala menyatakan akan memerangi orang yang tidak mau meninggalkan sisa riba yaitu pada firman-Nya,

ﻓَﺄْﺫَﻧُﻮﺍ ﺑِﺤَﺮْﺏٍ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ

“ Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (disebabkan tidak meninggalkan sisa riba)

.” (QS. Al Baqarah: 279)

‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,

ﻟَﺎ ﻳَﺘَّﺠِﺮْ ﻓِﻲ ﺳُﻮﻗِﻨَﺎ ﺇﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﻓَﻘِﻪَ ﺃَﻛْﻞَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ .

“ Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba. ”

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

ﻣَﻦْ ﺍﺗَّﺠَﺮَ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻔَﻘَّﻪَ ﺍﺭْﺗَﻄَﻢَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺛُﻢَّ ﺍﺭْﺗَﻄَﻢَ ﺛُﻢَّ ﺍﺭْﺗَﻄَﻢَ

“ Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus. ” (Mughnil Muhtaj , 6/310 )

Apa yang Dimaksud dengan Riba?

Secara etimologi, riba berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah ). (Lihat Al Mu’jam Al Wasith , 350 dan Al Misbah Al Muniir, 3/345 ). Juga riba dapat berarti bertambah dan tumbuh (zaada wa namaa) . (Lihat Al Qomus Al Muhith , 3/423 )

Contoh penggunaan pengertian semacam ini adalah pada firman Allah Ta’ala,

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ ﺍﻫْﺘَﺰَّﺕْ ﻭَﺭَﺑَﺖْ

“ Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bertambah dan tumbuh subur .” (QS. Fushilat: 39 dan Al Hajj: 5)

Sedangkan secara terminologi, para ulama berbeda-beda dalam mengungkapkannya.

Di antara definisi riba yang bisa mewakili definis yang ada adalah definisi dari Muhammad Asy Syirbiniy. Riba adalah:

ﻋَﻘْﺪٌ ﻋَﻠَﻰ ﻋِﻮَﺽٍ ﻣَﺨْﺼُﻮﺹٍ ﻏَﻴْﺮِ ﻣَﻌْﻠُﻮﻡِ ﺍﻟﺘَّﻤَﺎﺛُﻞِ ﻓِﻲ ﻣِﻌْﻴَﺎﺭِ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﺣَﺎﻟَﺔَ ﺍﻟْﻌَﻘْﺪِ ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺗَﺄْﺧِﻴﺮٍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺒَﺪَﻟَﻴْﻦِ ﺃَﻭْ ﺃَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ

“ Suatu akad/transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya. ” (Mughnil Muhtaj , 6/309 )

Ada pula definisi lainnya seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Qudamah, riba adalah:

ﺍﻟﺰِّﻳَﺎﺩَﺓُ ﻓِﻲ ﺃَﺷْﻴَﺎﺀَ ﻣَﺨْﺼُﻮﺻَﺔٍ

“ Penambahan pada barang dagangan/komoditi tertentu .” (Al Mughni , 7/492 )

Hukum Riba

Seperti kita ketahui bersama dan ini bukanlah suatu hal yang asing lagi bahwa riba adalah sesuatu yang diharamkan dalam syari’at Islam. Ibnu Qudamah mengatakan,

ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺤَﺮَّﻡٌ ﺑِﺎﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ، ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ، ﻭَﺍﻟْﺈِﺟْﻤَﺎﻉِ

“Riba itu diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin).” (Al Mughni , 7/492 )

Bahkan tidak ada satu syari’at pun yang menghalalkan riba. Al Mawardiy mengatakan, “Sampai dikatakan bahwa riba sama sekali tidak dihalalkan dalam satu syari’at pun. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

ﻭَﺃَﺧْﺬِﻫِﻢْ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﻗَﺪْ ﻧُﻬُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ

“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya. ” (QS. An Nisaa’: 161). Maksudnya adalah riba ini sudah dilarang sejak dahulu pada syari’at sebelum Islam. (Mughnil Muhtaj , 6/309 )

Di antara dalil Al Qur’an yang mengharamkan bentuk riba adalah firman Allah Ta’ala,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻻ ﺗَﺄْﻛُﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺃَﺿْﻌَﺎﻓًﺎ ﻣُﻀَﺎﻋَﻔَﺔً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. ” (QS. Ali Imron: 130)

ﻭَﺃَﺣَﻞَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﺒَﻴْﻊَ ﻭَﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ

“ Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275)

Di antara dalil haramnya riba dari As Sunnah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa memakan riba termasuk dosa besar.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊَ ﺍﻟْﻤُﻮﺑِﻘَﺎﺕِ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻦَّ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ، ﻭَﺍﻟﺴِّﺤْﺮُ ، ﻭَﻗَﺘْﻞُ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﺍﻟَّﺘِﻰ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻻَّ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ، ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ، ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﻣَﺎﻝِ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴﻢِ ، ﻭَﺍﻟﺘَّﻮَﻟِّﻰ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﺰَّﺣْﻒِ ، ﻭَﻗَﺬْﻑُ ﺍﻟْﻤُﺤْﺼَﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻼَﺕِ »

“ Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka. ” Para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut? ” Beliau mengatakan, “ [1] Menyekutukan Allah, [2] Sihir, [3] Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, [4] Memakan harta anak yatim, [5] memakan riba, [6] melarikan diri dari medan peperangan, [7] menuduh wanita yang menjaga kehormatannya lagi (bahwa ia dituduh berzina). ” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melaknat para rentenir (pemakan riba), yang mencari pinjaman dari riba, bahkan setiap orang yang ikut menolong dalam mu’amalah ribawi juga ikut terlaknat.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

ﻟَﻌَﻦَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺁﻛِﻞَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﻣُﻮﻛِﻠَﻪُ ﻭَﻛَﺎﺗِﺒَﻪُ ﻭَﺷَﺎﻫِﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻫُﻢْ ﺳَﻮَﺍﺀٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim no. 1598)

Maksud perkataan “ mereka semua itu sama ”, Syaikh Shafiyurraahman Al Mubarakfury mengatakan, “Yaitu sama dalam dosa atau sama dalam beramal dengan yang haram. Walaupun mungkin bisa berbeda dosa mereka atau masing-masing dari mereka dari yang lainnya.” (Minnatul Mun’im fi Syarhi Shohihil Muslim , 3/64 )

Dampak Riba yang Begitu Mengerikan

Sungguh dalam beberapa hadits disebutkan dampak buruk dari memakan riba. Orang yang mengetahui hadits-hadits berikut ini, tentu akan merasa jijik jika harus terjun dalam lembah riba.

[Pertama] Memakan Riba Lebih Buruk Dosanya dari Perbuatan Zina

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺩِﺭْﻫَﻢُ ﺭِﺑًﺎ ﻳَﺄْﻛُﻠُﻪُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺃَﺷَﺪُّ ﻣِﻦْ ﺳِﺘَّﺔِ ﻭَﺛَﻼَﺛِﻴْﻦَ ﺯَﻧْﻴَﺔً

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam

Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih )

[Kedua] Dosa Memakan Riba Seperti Dosa Seseorang yang Menzinai Ibu Kandungnya Sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﺮِﺑَﺎ ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮْﻥَ ﺑَﺎﺑًﺎ ﺃﻳْﺴَﺮُﻫَﺎ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻜِﺢَ ﺍﻟﺮُّﺟُﻞُ ﺃُﻣَّﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺭْﺑَﻰ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻋِﺮْﺽُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ

“ Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya )

[Ketiga] Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah Ta’ala

Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah ta’ala . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻇَﻬَﺮَ ﺍﻟﺰِّﻧﺎَ ﻭَﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻓِﻲ ﻗَﺮْﻳَﺔٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺣَﻠُّﻮْﺍ ﺑِﺄَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻠﻪِ

“Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

-bersambung insya Allah-

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

 Muhammad Abduh Tuasikal, MSc  July 11, 2009

 Muamalah  Leave a comment  33,285 Views

Di akhir zaman sekarang ini, telah nampak praktek riba tersebar di mana-mana. Dalam ruang lingkup masyarakat yang kecil hingga tataran negara, praktek ini begitu merebak baik di perbankan, lembaga perkreditan, bahkan sampai yang kecil-kecilan semacam dalam arisan warga. Entah mungkin kaum muslimin tidak mengetahui hakekat dan bentuk riba. Mungkin pula mereka tidak mengetahui bahayanya. Apalagi di akhir zaman seperti ini, orang-orang begitu tergila-gila dengan harta sehingga tidak lagi memperhatikan halal dan haram. Sungguh, benarlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ﻟَﻴَﺄْﺗِﻴَﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺯَﻣَﺎﻥٌ ﻻَ ﻳُﺒَﺎﻟِﻰ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﺧَﺬَ ﺍﻟْﻤَﺎﻝَ ، ﺃَﻣِﻦْ ﺣَﻼَﻝٍ ﺃَﻡْ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺍﻡٍ

“ Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari no. 2083)

Oleh karena itu, sangat penting sekali materi diketengahkan agar kaum muslimin apa yang dimaksud dengan riba, apa saja bentuknya dan bagaimana dampak bahanya.

Allahumma yassir wa a’in. Ya Allah, mudahkanlah kami dan tolonglah kami dalam menyelesaikan pembahasan ini.

Seorang Pedagang Haruslah Memahami Hakekat Riba

As Subkiy dan Ibnu Abi Bakr mengatakan bahwa Malik bin Anas mengatakan,

ﻓَﻠَﻢْ ﺃَﺭَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺃَﺷَﺮَّ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ، ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﺫِﻥَ ﻓِﻴﻪِ ﺑِﺎﻟْﺤَﺮْﺏِ

“Aku tidaklah memandang sesuatu yang lebih jelek dari riba karena Allah Ta’ala menyatakan akan memerangi orang yang tidak mau meninggalkan sisa riba yaitu pada firman-Nya,

ﻓَﺄْﺫَﻧُﻮﺍ ﺑِﺤَﺮْﺏٍ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ

“ Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (disebabkan tidak meninggalkan sisa riba)

.” (QS. Al Baqarah: 279)

‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,

ﻟَﺎ ﻳَﺘَّﺠِﺮْ ﻓِﻲ ﺳُﻮﻗِﻨَﺎ ﺇﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﻓَﻘِﻪَ ﺃَﻛْﻞَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ .

“ Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba. ”

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

ﻣَﻦْ ﺍﺗَّﺠَﺮَ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻔَﻘَّﻪَ ﺍﺭْﺗَﻄَﻢَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺛُﻢَّ ﺍﺭْﺗَﻄَﻢَ ﺛُﻢَّ ﺍﺭْﺗَﻄَﻢَ

“ Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus. ” (Mughnil Muhtaj , 6/310 )

Apa yang Dimaksud dengan Riba?

Secara etimologi, riba berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah ). (Lihat Al Mu’jam Al Wasith , 350 dan Al Misbah Al Muniir, 3/345 ). Juga riba dapat berarti bertambah dan tumbuh (zaada wa namaa) . (Lihat Al Qomus Al Muhith , 3/423 )

Contoh penggunaan pengertian semacam ini adalah pada firman Allah Ta’ala,

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ ﺍﻫْﺘَﺰَّﺕْ ﻭَﺭَﺑَﺖْ

“ Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bertambah dan tumbuh subur .” (QS. Fushilat: 39 dan Al Hajj: 5)

Sedangkan secara terminologi, para ulama berbeda-beda dalam mengungkapkannya.

Di antara definisi riba yang bisa mewakili definis yang ada adalah definisi dari Muhammad Asy Syirbiniy. Riba adalah:

ﻋَﻘْﺪٌ ﻋَﻠَﻰ ﻋِﻮَﺽٍ ﻣَﺨْﺼُﻮﺹٍ ﻏَﻴْﺮِ ﻣَﻌْﻠُﻮﻡِ ﺍﻟﺘَّﻤَﺎﺛُﻞِ ﻓِﻲ ﻣِﻌْﻴَﺎﺭِ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﺣَﺎﻟَﺔَ ﺍﻟْﻌَﻘْﺪِ ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺗَﺄْﺧِﻴﺮٍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺒَﺪَﻟَﻴْﻦِ ﺃَﻭْ ﺃَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ

“ Suatu akad/transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya. ” (Mughnil Muhtaj , 6/309 )

Ada pula definisi lainnya seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Qudamah, riba adalah:

ﺍﻟﺰِّﻳَﺎﺩَﺓُ ﻓِﻲ ﺃَﺷْﻴَﺎﺀَ ﻣَﺨْﺼُﻮﺻَﺔٍ

“ Penambahan pada barang dagangan/komoditi tertentu .” (Al Mughni , 7/492 )

Hukum Riba

Seperti kita ketahui bersama dan ini bukanlah suatu hal yang asing lagi bahwa riba adalah sesuatu yang diharamkan dalam syari’at Islam. Ibnu Qudamah mengatakan,

ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺤَﺮَّﻡٌ ﺑِﺎﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ، ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ، ﻭَﺍﻟْﺈِﺟْﻤَﺎﻉِ

“Riba itu diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin).” (Al Mughni , 7/492 )

Bahkan tidak ada satu syari’at pun yang menghalalkan riba. Al Mawardiy mengatakan, “Sampai dikatakan bahwa riba sama sekali tidak dihalalkan dalam satu syari’at pun. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

ﻭَﺃَﺧْﺬِﻫِﻢْ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﻗَﺪْ ﻧُﻬُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ

“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya. ” (QS. An Nisaa’: 161). Maksudnya adalah riba ini sudah dilarang sejak dahulu pada syari’at sebelum Islam. (Mughnil Muhtaj , 6/309 )

Di antara dalil Al Qur’an yang mengharamkan bentuk riba adalah firman Allah Ta’ala,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻻ ﺗَﺄْﻛُﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺃَﺿْﻌَﺎﻓًﺎ ﻣُﻀَﺎﻋَﻔَﺔً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. ” (QS. Ali Imron: 130)

ﻭَﺃَﺣَﻞَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﺒَﻴْﻊَ ﻭَﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ

“ Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275)

Di antara dalil haramnya riba dari As Sunnah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa memakan riba termasuk dosa besar.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊَ ﺍﻟْﻤُﻮﺑِﻘَﺎﺕِ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻦَّ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ، ﻭَﺍﻟﺴِّﺤْﺮُ ، ﻭَﻗَﺘْﻞُ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﺍﻟَّﺘِﻰ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻻَّ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ، ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ، ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﻣَﺎﻝِ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴﻢِ ، ﻭَﺍﻟﺘَّﻮَﻟِّﻰ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﺰَّﺣْﻒِ ، ﻭَﻗَﺬْﻑُ ﺍﻟْﻤُﺤْﺼَﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻼَﺕِ »

“ Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka. ” Para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut? ” Beliau mengatakan, “ [1] Menyekutukan Allah, [2] Sihir, [3] Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, [4] Memakan harta anak yatim, [5] memakan riba, [6] melarikan diri dari medan peperangan, [7] menuduh wanita yang menjaga kehormatannya lagi (bahwa ia dituduh berzina). ” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melaknat para rentenir (pemakan riba), yang mencari pinjaman dari riba, bahkan setiap orang yang ikut menolong dalam mu’amalah ribawi juga ikut terlaknat.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

ﻟَﻌَﻦَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺁﻛِﻞَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﻣُﻮﻛِﻠَﻪُ ﻭَﻛَﺎﺗِﺒَﻪُ ﻭَﺷَﺎﻫِﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻫُﻢْ ﺳَﻮَﺍﺀٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim no. 1598)

Maksud perkataan “ mereka semua itu sama ”, Syaikh Shafiyurraahman Al Mubarakfury mengatakan, “Yaitu sama dalam dosa atau sama dalam beramal dengan yang haram. Walaupun mungkin bisa berbeda dosa mereka atau masing-masing dari mereka dari yang lainnya.” (Minnatul Mun’im fi Syarhi Shohihil Muslim , 3/64 )

Dampak Riba yang Begitu Mengerikan

Sungguh dalam beberapa hadits disebutkan dampak buruk dari memakan riba. Orang yang mengetahui hadits-hadits berikut ini, tentu akan merasa jijik jika harus terjun dalam lembah riba.

[Pertama] Memakan Riba Lebih Buruk Dosanya dari Perbuatan Zina

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺩِﺭْﻫَﻢُ ﺭِﺑًﺎ ﻳَﺄْﻛُﻠُﻪُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺃَﺷَﺪُّ ﻣِﻦْ ﺳِﺘَّﺔِ ﻭَﺛَﻼَﺛِﻴْﻦَ ﺯَﻧْﻴَﺔً

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam

Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih )

[Kedua] Dosa Memakan Riba Seperti Dosa Seseorang yang Menzinai Ibu Kandungnya Sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﺮِﺑَﺎ ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮْﻥَ ﺑَﺎﺑًﺎ ﺃﻳْﺴَﺮُﻫَﺎ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻜِﺢَ ﺍﻟﺮُّﺟُﻞُ ﺃُﻣَّﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺭْﺑَﻰ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻋِﺮْﺽُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ

“ Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya )

[Ketiga] Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah Ta’ala

Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah ta’ala . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻇَﻬَﺮَ ﺍﻟﺰِّﻧﺎَ ﻭَﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻓِﻲ ﻗَﺮْﻳَﺔٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺣَﻠُّﻮْﺍ ﺑِﺄَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻠﻪِ

“Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

-bersambung insya Allah-

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

 Muhammad Abduh Tuasikal, MSc  July 11, 2009

 Muamalah  Leave a comment  33,285 Views

Di akhir zaman sekarang ini, telah nampak praktek riba tersebar di mana-mana. Dalam ruang lingkup masyarakat yang kecil hingga tataran negara, praktek ini begitu merebak baik di perbankan, lembaga perkreditan, bahkan sampai yang kecil-kecilan semacam dalam arisan warga. Entah mungkin kaum muslimin tidak mengetahui hakekat dan bentuk riba. Mungkin pula mereka tidak mengetahui bahayanya. Apalagi di akhir zaman seperti ini, orang-orang begitu tergila-gila dengan harta sehingga tidak lagi memperhatikan halal dan haram. Sungguh, benarlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ﻟَﻴَﺄْﺗِﻴَﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺯَﻣَﺎﻥٌ ﻻَ ﻳُﺒَﺎﻟِﻰ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﺧَﺬَ ﺍﻟْﻤَﺎﻝَ ، ﺃَﻣِﻦْ ﺣَﻼَﻝٍ ﺃَﻡْ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺍﻡٍ

“ Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari no. 2083)

Oleh karena itu, sangat penting sekali materi diketengahkan agar kaum muslimin apa yang dimaksud dengan riba, apa saja bentuknya dan bagaimana dampak bahanya.

Allahumma yassir wa a’in. Ya Allah, mudahkanlah kami dan tolonglah kami dalam menyelesaikan pembahasan ini.

Seorang Pedagang Haruslah Memahami Hakekat Riba

As Subkiy dan Ibnu Abi Bakr mengatakan bahwa Malik bin Anas mengatakan,

ﻓَﻠَﻢْ ﺃَﺭَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺃَﺷَﺮَّ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ، ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﺫِﻥَ ﻓِﻴﻪِ ﺑِﺎﻟْﺤَﺮْﺏِ

“Aku tidaklah memandang sesuatu yang lebih jelek dari riba karena Allah Ta’ala menyatakan akan memerangi orang yang tidak mau meninggalkan sisa riba yaitu pada firman-Nya,

ﻓَﺄْﺫَﻧُﻮﺍ ﺑِﺤَﺮْﺏٍ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ

“ Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (disebabkan tidak meninggalkan sisa riba)

.” (QS. Al Baqarah: 279)

‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,

ﻟَﺎ ﻳَﺘَّﺠِﺮْ ﻓِﻲ ﺳُﻮﻗِﻨَﺎ ﺇﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﻓَﻘِﻪَ ﺃَﻛْﻞَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ .

“ Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba. ”

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

ﻣَﻦْ ﺍﺗَّﺠَﺮَ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻔَﻘَّﻪَ ﺍﺭْﺗَﻄَﻢَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺛُﻢَّ ﺍﺭْﺗَﻄَﻢَ ﺛُﻢَّ ﺍﺭْﺗَﻄَﻢَ

“ Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus. ” (Mughnil Muhtaj , 6/310 )

Apa yang Dimaksud dengan Riba?

Secara etimologi, riba berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah ). (Lihat Al Mu’jam Al Wasith , 350 dan Al Misbah Al Muniir, 3/345 ). Juga riba dapat berarti bertambah dan tumbuh (zaada wa namaa) . (Lihat Al Qomus Al Muhith , 3/423 )

Contoh penggunaan pengertian semacam ini adalah pada firman Allah Ta’ala,

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ ﺍﻫْﺘَﺰَّﺕْ ﻭَﺭَﺑَﺖْ

“ Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bertambah dan tumbuh subur .” (QS. Fushilat: 39 dan Al Hajj: 5)

Sedangkan secara terminologi, para ulama berbeda-beda dalam mengungkapkannya.

Di antara definisi riba yang bisa mewakili definis yang ada adalah definisi dari Muhammad Asy Syirbiniy. Riba adalah:

ﻋَﻘْﺪٌ ﻋَﻠَﻰ ﻋِﻮَﺽٍ ﻣَﺨْﺼُﻮﺹٍ ﻏَﻴْﺮِ ﻣَﻌْﻠُﻮﻡِ ﺍﻟﺘَّﻤَﺎﺛُﻞِ ﻓِﻲ ﻣِﻌْﻴَﺎﺭِ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﺣَﺎﻟَﺔَ ﺍﻟْﻌَﻘْﺪِ ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺗَﺄْﺧِﻴﺮٍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺒَﺪَﻟَﻴْﻦِ ﺃَﻭْ ﺃَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ

“ Suatu akad/transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya. ” (Mughnil Muhtaj , 6/309 )

Ada pula definisi lainnya seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Qudamah, riba adalah:

ﺍﻟﺰِّﻳَﺎﺩَﺓُ ﻓِﻲ ﺃَﺷْﻴَﺎﺀَ ﻣَﺨْﺼُﻮﺻَﺔٍ

“ Penambahan pada barang dagangan/komoditi tertentu .” (Al Mughni , 7/492 )

Hukum Riba

Seperti kita ketahui bersama dan ini bukanlah suatu hal yang asing lagi bahwa riba adalah sesuatu yang diharamkan dalam syari’at Islam. Ibnu Qudamah mengatakan,

ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺤَﺮَّﻡٌ ﺑِﺎﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ، ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ، ﻭَﺍﻟْﺈِﺟْﻤَﺎﻉِ

“Riba itu diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin).” (Al Mughni , 7/492 )

Bahkan tidak ada satu syari’at pun yang menghalalkan riba. Al Mawardiy mengatakan, “Sampai dikatakan bahwa riba sama sekali tidak dihalalkan dalam satu syari’at pun. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

ﻭَﺃَﺧْﺬِﻫِﻢْ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﻗَﺪْ ﻧُﻬُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ

“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya. ” (QS. An Nisaa’: 161). Maksudnya adalah riba ini sudah dilarang sejak dahulu pada syari’at sebelum Islam. (Mughnil Muhtaj , 6/309 )

Di antara dalil Al Qur’an yang mengharamkan bentuk riba adalah firman Allah Ta’ala,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻻ ﺗَﺄْﻛُﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺃَﺿْﻌَﺎﻓًﺎ ﻣُﻀَﺎﻋَﻔَﺔً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. ” (QS. Ali Imron: 130)

ﻭَﺃَﺣَﻞَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﺒَﻴْﻊَ ﻭَﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ

“ Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275)

Di antara dalil haramnya riba dari As Sunnah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa memakan riba termasuk dosa besar.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊَ ﺍﻟْﻤُﻮﺑِﻘَﺎﺕِ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻦَّ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ، ﻭَﺍﻟﺴِّﺤْﺮُ ، ﻭَﻗَﺘْﻞُ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﺍﻟَّﺘِﻰ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻻَّ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ، ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ، ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﻣَﺎﻝِ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴﻢِ ، ﻭَﺍﻟﺘَّﻮَﻟِّﻰ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﺰَّﺣْﻒِ ، ﻭَﻗَﺬْﻑُ ﺍﻟْﻤُﺤْﺼَﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻼَﺕِ »

“ Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka. ” Para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut? ” Beliau mengatakan, “ [1] Menyekutukan Allah, [2] Sihir, [3] Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, [4] Memakan harta anak yatim, [5] memakan riba, [6] melarikan diri dari medan peperangan, [7] menuduh wanita yang menjaga kehormatannya lagi (bahwa ia dituduh berzina). ” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melaknat para rentenir (pemakan riba), yang mencari pinjaman dari riba, bahkan setiap orang yang ikut menolong dalam mu’amalah ribawi juga ikut terlaknat.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

ﻟَﻌَﻦَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺁﻛِﻞَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﻣُﻮﻛِﻠَﻪُ ﻭَﻛَﺎﺗِﺒَﻪُ ﻭَﺷَﺎﻫِﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻫُﻢْ ﺳَﻮَﺍﺀٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim no. 1598)

Maksud perkataan “ mereka semua itu sama ”, Syaikh Shafiyurraahman Al Mubarakfury mengatakan, “Yaitu sama dalam dosa atau sama dalam beramal dengan yang haram. Walaupun mungkin bisa berbeda dosa mereka atau masing-masing dari mereka dari yang lainnya.” (Minnatul Mun’im fi Syarhi Shohihil Muslim , 3/64 )

Dampak Riba yang Begitu Mengerikan

Sungguh dalam beberapa hadits disebutkan dampak buruk dari memakan riba. Orang yang mengetahui hadits-hadits berikut ini, tentu akan merasa jijik jika harus terjun dalam lembah riba.

[Pertama] Memakan Riba Lebih Buruk Dosanya dari Perbuatan Zina

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺩِﺭْﻫَﻢُ ﺭِﺑًﺎ ﻳَﺄْﻛُﻠُﻪُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺃَﺷَﺪُّ ﻣِﻦْ ﺳِﺘَّﺔِ ﻭَﺛَﻼَﺛِﻴْﻦَ ﺯَﻧْﻴَﺔً

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam

Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih )

[Kedua] Dosa Memakan Riba Seperti Dosa Seseorang yang Menzinai Ibu Kandungnya Sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﺮِﺑَﺎ ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮْﻥَ ﺑَﺎﺑًﺎ ﺃﻳْﺴَﺮُﻫَﺎ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻜِﺢَ ﺍﻟﺮُّﺟُﻞُ ﺃُﻣَّﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺭْﺑَﻰ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻋِﺮْﺽُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ

“ Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya )

[Ketiga] Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah Ta’ala

Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah ta’ala . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻇَﻬَﺮَ ﺍﻟﺰِّﻧﺎَ ﻭَﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻓِﻲ ﻗَﺮْﻳَﺔٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺣَﻠُّﻮْﺍ ﺑِﺄَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻠﻪِ

“Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Artikel https://rumaysho.com

Al I’tishom

Makna Iltizam

“ Iltizam” adalah sebuah kata yang secara umum bisa diartikan komitmen pada agama atau yang selainnya. Adapun pada zaman ini istilah iltizam dimutlakkan pada makna istiqomah diatas syariat dan berpegang teguh pada agama .

Pemuda Mutlazim, Siapakan Dia?

Seorang pemuda multazim adalah seorang pemuda yang istiqamah diatas syariat dan mengamalkannya, serta mengikuti sunnah/ajaran Rasulullah shollallahu alaihi wasallam . Dia mengamalkan baik amalan yang wajib, yang sunnah (dalam ibadah maupun kebaikan lainnya), maupun yang fardhu kifayah. Jika ada seorang pemuda yang menjaga sholatnya, bergaul dengan orang-orang yang baik, bersegera dalam kebaikan, jauh dari maksiat, suka mendatangi majelis ilmu, maka masyarakat akan mengatakan “ dia pemuda multazim ”. Tentu hal ini tidak salah, tetapi yang disebutkan tadi hanya sebagian dari sifat-sifat seorang pemuda multazim. Agar semakin jelas dan utuh gambaran tentang iltizam, setelah ini kami akan menyebutkan dalil-dalil dari al Qur’an dan Sunnah tentang iltizam serta keadaan dan sifat seorang yang multazim.

Dalil-Dalil dalam Al Qur’an

Pertama, iltizam adalah al I’tishom . Allah berfirman,

ﻭَﺍﻋْﺘَﺼِﻤُﻮﺍْ ﺑِﺤَﺒْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺟَﻤِﻴﻌﺎً ﻭَﻻَ ﺗَﻔَﺮَّﻗُﻮﺍْ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS Ali Imran: 103)

I’tishom artinya menetapi sesuatu dan berpengang teguh dengannya. Hablullah (tali Allah) adalah segala sesuatu yang menghantarkan pada keridhaanNya, menghantarkan pada pahala, dan menghantarkan pada surgaNya.

Kedua, iltizam adalah at Tamassuk . Allah berfirman,

ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﻜْﻔُﺮْ ﺑِﺎﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕِ ﻭَﻳُﺆْﻣِﻦ ﺑِﺎﻟﻠّﻪِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺳْﺘَﻤْﺴَﻚَ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ ﺍﻟْﻮُﺛْﻘَﻰَ ﻻَ ﺍﻧﻔِﺼَﺎﻡَ ﻟَﻬَﺎ

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.(QS Al Baqarah: 256)

Tamassuk artinya memegang sesuatu secara erat dengan segala kekuatan yang dimiliki. Ini adalah perintah dari Allah untuk berpengang dengan syariatNya dengan segala daya dan kekuatan yang dimiliki.

Ketiga, iltizam adalah Al Istiqomah . Allah berfirman,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺭَﺑُّﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻘَﺎﻣُﻮﺍ ﻓَﻠَﺎ ﺧَﻮْﻑٌ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺰَﻧُﻮﻥَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS Al Ahqaaf: 13)

Istiqomah artinya jalan yang lurus yang tidak berbelok juga tidak menyimpang. Ibnu Qayim mengatakan, Saya mendengar Syaikhul Islam ibn Taimiyah mengatakan, “ Istiqomahlah kalian untuk mencintaiNya dan beribadah padaNya dan jangan menoleh ke kanan maupun ke kiri ” [lihat Madarikus Salikin Ibn Qayim 2/104]

Dalil-Dalil dalam As Sunnah

Pertama, hadits dari Sufyan bin Abdillah at Tsaqafy

radhiyallahu anhu . Dia berkata, saya mengatakan “ Wahai Rasulullah katakan kepada saya sebuah ucapan dalam Islam yang saya tidak akan bertanya lagi seorang pun setelah Anda.” Rasulullah bersabda, “ Katakan ‘aku beriman kepada Allah’ lalu beristiqomahlah. ” [HR Muslim]

Kedua , hadits dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu . Dia berkata, Rasulullah sholat subuh bersama kami, lalu beliau memberi wejangan kepada kami dengan wejangan yang begitu dalam yang mana dengannya air mata bercucuran dan hati pun bergetar. Maka seorang sababat berkata,

Wahai Rasulullah, seolah-olah itu adalah wejangan seseorang yang ingin pergi maka nasehati kami. Rasulullah bersabda, “ Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan selalu mendengar dan patuh (pada pemimpin) walaupun dia adalah seorang budak Habasyi. Sesungguhnya barang siapa diantara kalian hidup setelahku maka akan melihat perselisihan yang banyak. Hendaklah kalian memegang sunnahku dan sunnah khulafa’ ar rasyidin setelahku, gigitlah dia dengan gigi geraham . Dan waspadalah kalian dengan sesuatu yang baru, karena setiap bid’ah adalah kesesatan. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ad Darimi. Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih]

Ketiga, hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu. Beliau berkata, Rasulullah menggaris sebuah garis dengan tanganya lalu bersabda, Ini adalah jalan Allah yang lurus. Lalu beliau menggaris di kanan dan kirinya lalu bersabda, “Ini adalah jalan-jalan yang mana tidaklah ada satu jalanpun kecuali ada syaithan yang menyeru kepadanya.” Lalu beliau menbaca firman Allah,

ﻭَﺃَﻥَّ ﻫَـﺬَﺍ ﺻِﺮَﺍﻃِﻲ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴﻤﺎً ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻩُ ﻭَﻻَ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍْ ﺍﻟﺴُّﺒُﻞَ ﻓَﺘَﻔَﺮَّﻕَ ﺑِﻜُﻢْ ﻋَﻦ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) , karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. (QS Al An’am: 153)

[HR Ahmad, Ibn Majah, dan Al Hakim. Berkata Al Arnauth dalam Syarhus Sunnah 1/196 dalam hadits nomor 97: Sanadnya hasan]

Keadaan Seorang yang Multazim

Pertama: Berpegang teguh dengan Sunnah

Seorang pemuda yang multazim adalah seorang pemuda yang berpegang teguh dengan sunnah dalam setiap sendi kehidupannya. Dia tidak memperdulikan orang-orang yang menyelisihi, merendahkan atau mengejekknya. Dia adalah

ahlussunnah, ahlussyariah , dan dia adalah jama’ah,

meskipun yang mengikutinya sedikit. Dia selalu berusaha meniti jalannya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana disebutkan Rasulullah dalam hadits iftiraqqul ummah tentang sifat golongan yang selamat “ Ma ana ‘alaihi wa ashhaabiy ” – artinya Seseorang yang berada diatas apa yang aku dan para sahabatku diatasnya- [HR Tirmidzi]

Kedua: Menuntut Ilmu

Seorang pemuda multazim adalah seorang pemuda yang semangat menuntut ilmu. Dengan ilmu dia akan berada diatas cahaya dan petunjuk, serta jauh dari kejahilan dan kesesatan. Alhamdulillah sekarang banyak sekali sarana menuntut ilmu seperti majelis-majelis ilmu, kitab-kitab ulama, pesantren dan universitas islami, rekaman kajian, dll.

Ketiga: Meninggalkan bid’ah, maksiat dan hal yang sia-sia

Sesungguhnya seorang pemuda multazim senantiasa berpegang teguh dengan sunnah dan menjauhi tiga hal diatas (bid’ah, maksiat dan perkara sia-sia). Betapa banyak kita dapati zaman ini para da’i yang menyeru kepada kebid’ahan padahal syari’at ini telah sempurna dan tidak perlu tambahan. Begitu juga dengan kemaksiatan, betapa banyak telah tersebar dimasyarakat. Bahkan kita dapati para penyeru yang menghiasi kemaksiatan dan mengatakan bahwa itu adalah kebutuhan, kemajuan, dsb. Seperti orang mengatakan bahwa musik dapat menyegarkan badan, dapat merefreshkan pikiran, musik adalah makanan ruh, dst… Padahal sebenarnya musik memiliki banyak kemudharatan bagi manusia dan dalil-dalil pun dengan jelas menunjukkan keharamannya. Tidak hanya bid’ah dan maksiat saja yang harus dihindari seorang pemuda multazim, tetapi juga hal yang sia-sia. Allah berfirman tentang orang-orang beriman,

ﻗَﺪْ ﺃَﻓْﻠَﺢَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ . ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺻَﻠَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺧَﺎﺷِﻌُﻮﻥَ . ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻠَّﻐْﻮِ ﻣُﻌْﺮِﺿُﻮﻥَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (QS Al Mu’minun: 1-3)

Keempat: Berdakwah Ilallah

Setelah Allah mengaruniai seorang pemuda ilmu dan keistiqamahan maka hendaknya dia mendakwahkannya. Dimulai dengan mendakwahi keluarga, teman-teman dekat lalu masyarakat pada umumnya. Apakah kita tidak merasa berbahagia bisa menjadi jalan atau sebab kebaikan bagi orang lain? Rasulullah shollallahu alahi wasallam bersabda pada sahabat Ali radhiyallahu anhu , “ Seandainya Allah memberi petunjuk seseorang lewat perantaramu maka itu lebih baik bagimu daripada seekor onta merah. ” [HR Bukhari dan Muslim]. Diantara salah cara terjun di dunia dakwah adalah dengan menjadi khatib, menjadi imam masjid, membantu memakmurkan masjid baik secara materi maupun maknawi dan lainnya.

Diantara Sifat atau Akhlaq Seorang Multazim

Pertama: Memiliki mu’amalah yang baik. Mu’amalah yang baik adalah sifat seorang muslim, apalagi seorang yang multazim. Jangan sampai seorang yang multazim bersikap kasar, keras dan semisalnya. Rasulullah besabda, “ Bertaqwallah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan yang akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik ” [HR Tirmidzi, beliau berkata: hasan]. Kedua, beradab dengan orang lain, baik terhadap tetangga dan menunaikan amanah. Ketiga, menundukkan pandangan, mencegah gangguan, menjawab salam, menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Dan sifat baik lainnya.

Tafrith dan Ifrath

Kesesatan selain penyembahan kepada selain Allah yang akhirnya menjadi melakukan penyembahan kepada selain Allah adalah karena perbuatan Tafrith dan Ifrath.

Kita simak sejarah,

ﻋَﻦْ ﻋَﺪِﻱّ ﺑْﻦ ﺣَﺎﺗِﻢ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝ ﺍﻟﻠَّﻪ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ” ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﻐْﻀُﻮﺏ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ”: ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩ ”

Dari Ady bin Hatim r.a. berkata : Nabi shalallahu’alaihi wasallam membaca Sesungguhnya Orang-orang yang dimurkai adalah ., “Alyahud (Yahudi)”. [1]

ﻋَﻦْ ﻋَﺪِﻱّ ﺑْﻦ ﺃَﺑِﻲ ﺣَﺎﺗِﻢ , ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝ ﺍﻟﻠَّﻪ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : } ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟﻀَّﺎﻟِّﻴﻦَ { ﻗَﺎﻝَ : ” ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ “

Dari Ady bin Hatim r.a. berkata : Nabi shalallahu’alaihi wasallam membaca ” Dan bukan jalann orang-orang yang sesat”, ia bersabda Nashrani [2]

Kekafiran Yahudi adalah karena mereka mengetahui kebenaran tapi tidak mengamalkannya, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Sedangkan kekafiran Nashrani adalah dari sisi amal mereka tanpa ilmu. Mereka berusaha mengamalkan berbagai macam ibadah tanpa syari’at dari Allah. Dan mereka berbicara tentang Allah apa-apa yang tidak mereka ketahui.” [3]

Mereka di sebut pelaku Ifrath dan Tafrith, yakni Ifrath

adalah melampaui batas dalam beribadah dan beramal tanpa ilmu. Sedangkan tafrith adalah kebalikannya, yaitu melalaikan dan meremehkan ibadah bahkan menentang Kebenaran yang telah diketahui.

Godaan syaithan melalu dua jalur ini. Pertama, dia mengajak manusia kepada kekufuran dan pengingkaran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui ilmu dan keilmiahannya, (tafrith). Kemudian jika tidak berhasil maka dia menjerumuskan mereka untuk beramal dan beribadah dengan melampaui batas (ifrath) tanpa ilmu yang menyeretnya kepada perbuatan bid’ah sehingga menyimpang dari jalan yang lurus dan akhirnya membawa mereka kepada kesesatan dan kekufuran. (Lihat Makaidus Syaithan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah)

Gambaran mereka yang tersesat dalam sikap tafrith adalah seperti Yahudi, sedangkan yang tersesat dalam sikap ifrath adalah seperti Nashara.

Yahudi terjerumus dalam sikap tafrith sampai membunuh para Nabi dan mencela Isa bin Maryam ‘alaihis salam hanya karena nafsu dan kedengkian mereka. Sejarah menyebutkan mereka tahu dan sangat mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti mengenal anak mereka sendiri. Mereka mengenal namanya, sifat-sifatnya, dan lain-lain tentangnya, tapi mereka mengingkari dan menentang beliau. Dan bercokolnya mereka di Madinah karena menunggu nubuwah akan kedatangan seorang Rasul di negeri itu.

Allah berfirman : “Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir. Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar.” (QS. Al Baqarah : 89 )

Allah murka dan melaknat Yahudi karena sikap tafrith, mengetahui Al Haq tapi mengingkarinya. Maka Allah mengatakan tentang mereka : Katakanlah : “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasiq) itu di sisi Allah? Yaitu orang-orang yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah dan di antara mereka ada yang dijadikan kera-kera dan babi-babi dan penyembah thaghut.” (QS. Al Maidah : 60 )

Sedangkan Nashrani tersesat dalam sikap ifrath dengan menuhankan Isa dan menyembah pendeta-pendeta. Allah berfirman tentang mereka : “Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas (ghuluw) dalam agamamu dan janganlah kalian mengatakan atas (nama) Allah kecuali yang haq. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam adalah Rasulullah … .” (QS. An Nisa’ : 171 )

Itulah sikap ifrath (berlebih-lebihan dalam agama) mereka, berbicara tentang Allah dan atas nama Allah tanpa ilmu. Sehingga terucap dari mereka kalimat kufur yang sangat besar yaitu mengatakan bahwa Isa adalah jelmaan Allah atau Isa adalah anak Allah atau Isa, Maryam, dan Allah adalah satu yang tiga, tiga yang satu. Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan!! Allah adalah satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan! Maka kafirlah mereka dengan ucapan itu dan gugurlah amalan mereka dan ibadah mereka. Walaupun mereka beribadah kepada Allah dengan khusyu’ dan menangis, berdzikir menyebut nama Allah, dan memujinya dengan ikhlas. Demikianlah orang-orang yang berusaha untuk beribadah kepada Allah tetapi tanpa ilmu akhirnya mereka tersesat dan amalannya sia-sia.

Allah berfirman setelah mengatakan kekafiran orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari yang tiga :

“Wahai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat terdahulu (sebelum kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Mereka menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah : 77 )

Dari beberapa uraian tersebut diatas jelaslah mengapa mereka dimurkai dan dinyatakan sesat. Kenapa juga kita sebagai orang mu’min selalu berdo’a dalam shalatnya “Ihdinash shiraatal Mustaqiim, Shirathal ladzina an’amta ‘alaihiim”, yakni tiada lain untuk terhindar dari dua kelompok yang dmurkai dan yang sesat .

Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini : “Al Maghdhub Alaihim adalah orang-orang yang rusak niatnya. Mereka mengetahui Al Haq tapi menyeleweng darinya. Sedang Adh Dhaallin adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu sehingga mereka bingung dalam kesesatan, tidak mendapatkan petunjuk kepada Al Haq, … dan seterusnya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/31-32 )

Tafrih dan ifrath di kalangan kaum muslimin.

Rasulullah mensinyalir kondisi ini dalam suatu hadits dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris satu garis dengan tangannya kemudian berkata : “Ini adalah jalan yang lurus.” Kemudian menggaris beberapa garis di kanan dan kirinya, kemudian berkata : “Ini jalan-jalan, tidak ada satu jalan pun daripadanya kecuali ada syaithan yang mengajak kepadanya.” Kemudian membacakan ayat : “Ini jalanku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah mengikuti jalan-jalan (lain) … .” (QS. Al An’am : 153 ) [HR. Ahmad, Ad Darimi, Al Hakim]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa umat beliau akan berpecah dalam berbagai macam jalan dan yang selamat hanya satu kelompok, tentu saja bukan satu organisasi. Hadits di atas juga menunjukkan bahwa yang selamat adalah mereka yang tetap berada dalam shirathal mustaqim (jalan yang lurus) sedangkan jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan syaithan. Dengan demikian hanya ada dua kemungkinan yaitu mengikuti jalan keselamatan atau jalan kesesatan, mengikuti jalan Allah atau jalan syaithan.

Dalam riwayat dari Abi Said Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sebagian umat ini akan mengikuti model yahudi dan nashrani. “Pasti kalian akan mengikuti sunnah-sunnah (jalan/kebiasaan) orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta.” (Muttafaqun Alaihi)

Kita lihat bahwa perpecahan umat ini kita pahami bahwa dalam umat ini pun terdapat dua kesesatan model yahudi dan nashrani sebagai kaum yang dilaknat dan kaum yang sesat. Sufyan bin Uyainah dan para ulama Terdahulu yang Sholeh berkata : “Sesungguhnya orang yang rusak dari ulama kita, maka padanya ada penyerupaan terhadap yahudi. Dan orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita maka padanya ada penyerupaan dengan nashrani.” [4]

Hadanallahu wa iyyakum ajma’in, wallahu a’lam bishowab

Footnote

[1] lihat : Jami’ul Bayan Imam Ath Thabary Hadist 163

[2] lihat : Jami’ul Bayan Imam Ath Thabary Hadist 173

[3] Iqtidha Shiratil Mustaqim oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 1/67

[4] Kitab Iqtidha Shirathil Mustaqim oleh Syaikh Islam 1/68

Dirasah Islamiyah

Pengertian Dirasah Islamiyah

1. Menurut Bahasa

Menurut bahasa berasal dari kata “darasa” yang artinya pelajaran, belajar, mengkaji, dan kata “islam” yaitu agama islam. Kalimat ini mengandung arti memahami, mempelajari, atau meniliti islam sebagai obyek kajian. Dirasah islamiyah di indonesia diartikan sebagai studi islam/kajian islam atau dalam kajian barat disebut islamic studies.

2. Menurut Istilah

Dirasah Islamiyah menurut istilah adalah sebuah kajian yang tujuannya untuk mengetahui, memahami serta menganalisis secara mendalam terhadap seluruh hal-hal yang berkaitan dengan agama islam, pokok-pokok ajarannya, serta realisasi pelaksanaannya dalam kehidupan. Makna ini sangat umum karena segala sesuatu yang berkaitan dengan islam dikatakan studi islam. Oleh karena itu perlu ada spesifikasi pengertian terminologis tentang studi islam dalam kajian ini yaitu kajian secara sistematis dan terpadu untuk mengetahui memahami dan menganalisis secara mendalam hal-hal yang berkaitan dengan agama islam baik yang menyangkut sumber-sumber ajaran islam ,pokok-pokok ajaran islam,sejarah islam, maupun realitas pelaksanaannya dalam kehidupan. Secara sederhana dapat dikatakan sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama islam. Dengan perkataan ini “usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama islam baik berhubungan dengan ajaran, sejarah, maupun praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari sepanjang sejarahnya.”

Dalam buku-buku dan jurnal-jurnal keislaman biasanya dipergunakan term studi islam untuk mengungkap beberapa maksud.

Pertama, Studi islam yang dikonotasikan dengan aktivitas-aktivitas dan program-program pengkajian dan penelitian terhadap agama sebagai obyeknya, seperti pengkajian tentang konsep zakat profesi.

Kedua, studi islam dikonotasikan dengan materi, subyek, bidang, dan kurikulum suatu kajian atas islam seperti ilmu-ilmu agama islam. Ketiga, studi islam yang dikonotasikan dengan institusi-instituisi pengkajian islam baik formal seperti perguruan tinggi, maupun yang non formal seperti forum-forum kajian dan halaqoh-halaqoh.

B. Ruang Lingkup Dirasah Islamiyah

Menurut Muhammad Nur Hakim, tidak semua aspek agama khususnya islam dapat menjadi obyek studi. Dalam konteks Studi Islam, ada beberapa aspek tertentu dari islam yang dapat menjadi obyek studi, yaitu:

1. Islam sebagai doktrin dari tuhan yang kebenarannya bagi pemeluknya sudah final, dalam arti absolut, dan diterima secara apa adanya.

2. Sebagai gejala budaya yang berarti seluruh apa yang menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan agama, termasuk pemahaman orang terhadap doktrin agamanya.

3. Sebagai interaksi sosial yaitu realitas umat islam.

Sementara menurut Muhammmad Amin Abdullah terdapat tiga wilayah keilmuan agama islam yang dapat menjadi obyek studi islam:

1. Wilayah praktek keyakinan dan pemahaman terhadap wahyu yang telah diinterpretasikan sedemikian rupa oleh para ulama, tokoh panutan masyarakat pada umumnya.

2. Wilayah praktek ini umumnya tanpa melalui klarifikasi dan penjernihan teoritik keilmuan yang di pentingkan disisni adalah pengalaman.

3. Wilayah tori-teori keilmuan yang dirancang dan disusun sistematika dan metodologinya oleh para ilmuan, para ahli, dan para ulama sesuai bidang kajiannya masing-masing. Apa yang ada pada wilayah ini sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah “teori-teori” keilmuan agama islam, baik secara deduktif dari nash-nash atau teks-teks wahyu , maupun secara induktif dari praktek-praktek keagamaan yang hidup dalam masyarakat era kenabian, sahabat, tabi’in maupun sepanjang sejarah perkembangan masyarakat muslim dimanapun mereka berada.

Sedangkan menurut M.Atho’ Mudzhar menyatakan bahwa obyek kajian islam adalah substansi ajaran-ajaran islam, seperti kalam, fiqih dan tasawuf. Dalam aspek ini agama lebih bersifat penelitian budaya hal ini mengingat bahwa ilmu-ilmu keislaman semacam ini merupakan salah satu bentuk doktrin yang dirumuskan oleh penganutnya yang bersumber dari wahyu Allah melalui proses penawaran dan perenungan.

C. Tujuan Dirasah Islamiyah

Dirasah Islamiyah sebagai usaha untuk mempelajari secara mendalam tentang islam dan segala seluk beluk yang berhubungan dengan agama islam sudah pasti mempunyai tujuan yang jelas. Adapun tujuan Studi Islam dapat diantaranya sebagai berikut :

1. Untuk mempelajari secara mendalam tentang apa sebenarnya (hakikat) agam islam itu, dan bagaimana posisi serta hubungannya dengan agama-agama lain dalam kehidupan budaya manusia.Sehubungan dengan ini, Studi Islam dilaksanakan berdasarkan asumsi bahwa sebenarnya agama islam diturunkan oleh Allah adalah untuk membimbing dan mengarahkan serta menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan agama-agama dan budaya umat dimuka bumi.

2. Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi ajaran agama islam yang asli, dan bagaimana penjabaran dan operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya peradaban islam sepanjang sejarahnya. Studi ini berasumsi bahwa agama islam adalah fitrah sehingga pokok-pokok isi ajaran agama islam tentunya sesuai dan cocok dengan fitrah manusia. Fitrah adalah potensi dasar, pembawaan yang ada, dan tercipta dalam proses pencipataan manusia.Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam yang tetap abadi dan dinamis, dan bagaimana aktualisasinya sepanjang sejarahnya. Studi ini berdasarkan asumsi bahwa agama islam sebagai agama samawi terakhir membawa ajaran yang bersifat final dan mampu memecahkan masalah kehidupan manusia, menjawab tantangan dan tuntutannya sepanjang zaman.Dalam hal ini sumber dasar ajaran agama islam akan tetap actual dan fungsional terhadap permasalahan hidup dan tantangan serta tuntutan perkembangan zaman tersebut.

3. Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran agama islam, dan bagaimana realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini. Asumsi dari studi ini adalah, islam yang meyakini mempunyai misi sebagai rahmah li al-‘alamin tentunya mempunyai prinsip dasar yang bersifat universal, dan mempunyai daya dan kemampuan untuk membimbing, mengarahkan dan mengendalikan factor-faktor potensial dari pertumbuhan dan perkembangan system budaya dan peradaban modern.

D. Manfaat Mempelajari Dirasah Islamiyah

Manfaat mempelajari dirasah islamiyah diantaranya:

1. Manfaat dirasah islamiyah terhadap pola berfikir, yaitu dapat menumbuhkan pemahaman yang mendalam terhadap ilmu-ilmu dalam agama islam secara kaffah dan universal sehingga dapat menumbuhkan keyakinan yang kuat, mental yang stabil, jiwa yang kokoh, serta hati yang suci supaya tidak terjebak pada pemikiran-pemikiran yang radikal serta gaya hidup bebas dalam mengatasi berbagai masalah dan tantangan di era globalisasi.

2. Manfaat dirasah islamiyah terhadap sikap, yaitu membentuk pribadi yang berani menghadapi berbagai gejala yang muncul, sehingga mampu menganalisis setiap perbuatan menurut aturan yang benar, mampu merealisasikan umat islam sebagai umat terbaik dengan menanamkan muwahhid, mujahid, mujtahid dan mujaddid.

3. Manfaat dirasah islamiyah terhadap kebiasaan, yaitu membiasakan diri melakukan syari’at islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, siap dan sanggup melaksanakan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya dengan penuh keta’atan hati, kata dan perbuatan, mengamalkan konsep amar ma’ruf dan nahyi munkar.

Tasawuf

A.Pengertian Tasawuf

1.Pengertian Tasawuf Secara Etimologi (Bahasa)

Pengertian tasawauf menurut bahasa atau etimologi , Para ahli berselisih tentang asal kata tasawuf, antara lain :

Shuffah ( serambi tempat duduk ): yakni serambi masjid nabawi di Madinah yang disediakan untuk orang-orang yang belum mempunyai tempat tinggal dan kalangan Muhajirin di masa Rasulullah SAW. Mereka biasa dipanggil ahli shuffah (pemilik serambi) karena di serambi masjid itulah mereka bernaung.

Shaf ( barisan ): karena kaum shufi mempunyai iman kuat, jiwa bersih, ikhlas, dan senantiasa memilih barisan yang paling depan dalam sholat berjamaah atau dalam perang suci.

Shafa : bersih atau jernih.

Shufanah : Sebutan nama kayu yang bertahan tumbuh di padang pasir.

Shuf (bulu domba): disebabkan karena kaum sufi biasa menggunakan pakaian dari bulu domba yang kasar, sebagai lambang akan kerendahan hati mereka, juga menghindari sikap sombong, serta meninggalkan usaha-usaha yang bersifat duniawi. Orang yang berpakaian bulu domba disebut “ mutashawwif ”, sedangakan perilakunya disebut “ tasawuf ”

Theosofi : Ilmu ketuhanan. Tetapi yang terakhir ini tidak disetujui oleh H.A.R.Gibb. Dia cenderung kata tasawuf berasal dari Shuf (bulu domba).

2.Pengertian Tasawuf Secara Terminologi(Istilah)

Pengertian tasawuf menurut istilah atau terminologi pun diartikan secara variatif oleh para ahli sufi, berikut adalah Pengertian Tasawuf Menurut Para Ahli :

Imam Junaid dari Baghdad (m. 910)

mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”.

Syekh Muhammad Al-Kurdi

Tasaawwuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahuai hal ihwal( perbuatan) kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihakannya dari( sifat-sifat yang buruk) dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, cara Melakukan suluk, melangkah menuju keridhaan allah dan meningglkan larangannya menuju larangannya.

Imam Ghazali

Imam ghozali dalam kitab Ihya’ ulumuddin, Tasawuf adalah ilmu yang membahas cara-cara seseorang mendekatkan diri kepada Allah SWT.Tasawwuf adalah budi pekerti barang siapa yang memberikan budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal atas dirimu dalam bertasawwuf, maka hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal karena sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan suluk dengan nur (petunjuk) islam dan ahli zuhud yang jiwanya menerima (Perintah) untuk melakukan beberapa akhlq (terpuji), karena mereka telah melakukan suluk nur dengan nur (petunjuk) imannya.

Mahmud amin An-Nawawi mengemukakan pendapat Al-Junaid al-Baqhdadi yang mengemukakan. Tassawwuf adalah memelihara( menggunakan) waktu . kemudian berkata: seorang hamba tidak akan menekuni ( amalan tasawwuf ) tanpa aturan, (menganggap ) tidak tepat (ibadahnya) tanpa tertuju kepada tuhan-Nya dan merasa tidak berhubungan ( dengan tuhannya) tanpa menggunakan waktu (untuk beribadah kepada tuhan-Nya)

Sa- Suhrawardi mengemukakan pendapat ma’ruf Al-Karakhy yang mengatakan

tasawwduf adalah mencari hakekat dan meninggalkan sesuatu yang ada ditangan makhluk ( kesenangan duniawi)

Harun Nasution mengemukakan bahwa tasawwuf mengemukakan kata yang bisa dihubungkan dengan kata tasawwuf ada 4 yaitu As-habus Suffah( orang-orang yang ikut nabi pindah kemadinah) Saf( barisan) sufi ( suci ) suf ( wol) semua itu bisa dihubungkan dengan tasawwuf. As-Habus Suffah ialah orang-orang muslim mekkah yang ikut Nabi hijrah kemadinah dan ia tidak mempunyai harta apapun terkecuali iman, mereka tidak punya rumah sehingga ia tidur di depan masjid madinah dengan mamakai selimut. Dari sinilah muncullah istilah tasawwuf yang menggambarkan hidup kepasraan para sahabat dalam menjalani hidup yang serba kekurangan

Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m. 1258) syekh sufi besar dari Afrika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan” 3).

Sahal al-Tustury (w 245) mendefinisikan tasawuf dengan “ orang yang hatinya jernih dari kotoran, penuh pemikiran, terputus hubungan dengan manusia, dan memandang antara emas dan kerikil” 4).

Syeikh Ahmad Zorruq (m. 1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut:

“Ilmu yang denganya anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan anda tentang jalan islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat islam agar kebijaksanaan menjadi nyata”

Al-Syibli , Tasawuf ialah mengabdikan diri kepada Allah SWT tanpa keluh kesah.

Samnun Tasawuf adalah engkau merasai engkau tidak memiliki suatupun didunia ini, dan engkau tidak dimiliki oleh siapapun di kalangan mahluk di dunia ini.

Al-Juarairi ,Tasawuf adalah berahlak dengan ahlak yang tinggi dan meninggalkan perilaku keji.

Ahmad Amnun, Tasawuf adalah ketekunan dalam ibadah, hubungan langsung dengan Allah, menjauhkan diri dari kemewahan duniawi, berlaku zuhud terhadap yang diburu orang banyak dan menghindarkan diri dari mahluk di dalam kholwat untuk beribadah.

Ibnu Kaldum dalam buku Munajat Sufi, Tasawuf adalah sebagian ilmu dari ajaran islam yang bertujuan agar seseorang tekun beribadah dan memutuskan hubungan selain Allah hanya menghadap Allah semata, menolak hiasan-hiasan duniawi, serta membenci sesuatu yang memperdaya manusia dan menyendiri menuju jalan Allah dalam Kholwat untuk beribadah.

Kesimpulan pengertian diatas, bahwa Tasawuf adalah sebagian Ilmu ajaran islam yang membahas cara-cara seseorang mendekatkan diri kepada Allah, seperti berakhlak yang tinggi ( mulia ).,tekun dalam beribadah tanpa keluh kesah.,memutuskan hubungan selain Allah karena kita merasai tidak memiliki suatu apapun didunia ini dan kita tidak dimiliki oleh siapapun di kalangan makhluk.,menolak hiasan-hiasan duniawi seperti kelezatan dari harta benda yang biasa memperdaya manusia, dan menyendiri menuju jalan Allah dalam Kholwat ( mengasingkan diri dari keramaian dunia ) untuk beribadah.

Secara sederhana, bahwa Tasawuf adalah suatu sistem latihan dengan kesungguhan (riyadlah-mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi, dan memperdalam kerohanian dalam rangka mendekatkan (taqarrub) kepada Allah, sehingga dengan itu maka segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya.

B. Dasar-Dasar Tasawwuf

Para pengkaji tentang tasawuf sepakat bahwasanya tasawuf berazaskan kezuhudan sebagaimana yang diperaktekkan oleh Nabi Saw, dan sebahagian besar dari kalangan sahabat dan tabi’in.

Kezuhudan ini merupakan implementasi dari nash-nash al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi Saw yang berorientasi akhirat dan berusaha untuk menjuhkan diri dari kesenangan duniawi yang berlebihan yang bertujuan untuk mensucikan diri, bertawakkal kepada Allah Swt, takut terhadap ancaman-Nya, mengharap rahmat dan ampunan dari-Nya dan lain-lain.

Meskipun terjadi perbedaan makna dari kata sufi akan tetapi jalan yang ditempuh kaum sufi berlandasakan Islam. Diantara ayat-ayat Allah yang dijadikan landasan akan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia adalah firman Allah dalam al-Qur’an yang Artinya: “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”. (Q.S Asy-Syuura [42] : 20).

Diantara nash-nash al-Qur’an yang mememerintahkan orang-orang beriman agar senantiasa berbekal untuk akhirat adalah firman Allah dalam Q.S al-Hadid [57] ayat: 20 yang Artinya: “Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.

Ayat ini menandaskan bahwa kebanyakan manusia melaksanakan amalan-amalan yang menjauhkannya dari amalan-amalan yang bermanfaat untuk diri dan keluarganya, sehingga mereka dapat kita temukan menjajakan diri dalam kubangan hitamnya kesenangan dan gelapnya hawa nafus mulai dari kesenangan dalam berpakaian yang indah, tempat tinggal yang megah dan segala hal yang dapat menyenangkan hawa nafsu, berbangga-bangga dengan nasab dan banyaknya harta serta keturunan (anak dan cucu). Akan tetapi semua hal tesebut bersifat sementar dan dapat menjadi penyebab utama terseretnya seseorang kedalam azab yang sangat pedih pada hari ditegakkannya keadilan di sisi Allah, karena semua hal tersebut hanyalah kesenangan yang melalaikan, sementara rahmat Allah hanya terarah kepada mereka yang menjauhkan diri dari hal-hal yang melalaikan tersebut.

Ayat al-Qur’an lainnya yang dijadikan sebagai landasan kesufian adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan kewajiban seorang mu’min untuk senantiasa bertawakkal dan berserah diri hanya kepada Allah swt semata serta mencukupkan bagi dirinya cukup Allah sebagai tempat menggantungkan segala urusan, ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut cukup variatif tetapi penulis mmencukupkan pada satu diantara ayat –ayat tersebut yaitu firman Allah dalam Q.S ath-Thalaq [65] ayat : 3 yang Artinya: “Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

Diantara ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi landasan munculnya kezuhudan dan menjadi jalan kesufian adalah ayat-ayat yang berbicara tentang rasa takut kepadan Allah dan hanya berharap kepada-Nya diantaranya adalah firman Allah dalam Q.S as-Sajadah [ ] ayat : 16 yang berbunyi : yang Artinya: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap.

Maksud dari perkataan Allah Swt : “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya” adalah bahwa mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam”.

Terdapat banyak ayat yang berbicara tentang urgensi rasa takut dan pengharapan hanya kepada Allah semata akan tetapi penulis cukupkan pada kedua ayat terdahulu.

Diantara ayat-ayat yang menjadi landasan tasawuf adalah nash-nash Qura’ny yang menganjurkan untuk beribadah pada malam hari baik dalam bentuk bertasbih ataupun quyamullail diantaranya adalah firman Allah yang Artinya:

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.(Q.S al-Isra’ [17] ayat : 79 yang Artinya: “Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari”. (Q.S al-Insan [76] ayat : 25-26) yang Artinya: “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka”

Tiga ayat di atas menunjukkan bahwa mereka yang senantiasa menjauhi tempat tidur di malam hari dengan menyibukkan diri dalam bertasbih dan menghidupkan malam-malamnya dengan shalat dan ibadah-ibadah sunnah lainnya hanya semata-mata untuk mengharapkan rahmat, ampunan, ridha, dan cinta Tuhannya kepadanya akan mendapatkan maqam tertinggi di sisi Allah.

Selain daripada hal-hal yang telah penulis uraikan sbelumnya, diantara pokok-pokok ajaran tasawuf adalah mencintai Allah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan hal ini berlandaskan kepada firman Allah swt dalam Q.S at-Taubah ayat : 24 yang Artinya: ”Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.

Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya harus menjadi prioritas utama di atas segala hal, bahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus melebihi di atas kecintaan kepada ayah, ibu, anak, istri, keluarga, harta, perniagaan dan segala hal yang bersifat duniawi, atau dengan kata lain bahwa seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan mendambakan tempat terbaik diakhirat hendaknya menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai kecintaan tertinggi dalam dirinya (ibnuel-mubhar.blogspot.com).

C. Sejarah Tasawuf

Sejarah tasawuf dimulai dengan Imam Ja’far Al Shadiq ibn Muhamad Bagir ibn Ali Zainal Abidin ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Imam Ja’far juga dianggap sebagai guru dari keempat imam Ahlulsunah yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i dan Ibn Hanbal.

Ucapan – ucapan Imam Ja’far banyak disebutkan oleh para sufi seperti Fudhail ibn Iyadh Dzun Nun Al Mishri, Jabir ibn Hayyan dan Al Hallaj. Diantara imam mazhab di kalangan Ahlulsunah, Imam Maliki yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far.

Kaitan Imam Ja’far dengan tasawuf, terlihat dari silsilah tarekat, seperti Naqsyabandiyah yang berujung pada Sayyidina Abubakar Al Shidiq ataupun yang berujung pada Imam Ali selalu melewati Imam Ja’far.

Kakek buyut Imam Ja’far, dikenal mempunyai sifat dan sikap sebagai sufi. Bahkan (meski sulit untuk dibenarkan) beberapa ahli menyebutkan Hasan Al Bashri, sufi-zahid pertama sebagai murid Imam Ali. Sedangkan Ali Zainal Abidin (Ayah Imam Ja’far) dikenal dengan ungkapan-ungkapan cintanya kepada Allah yang tercermin pada do’anya yang berjudul “Al Shahifah Al Sajadiyyah”.

Tasawuf lahir dan berkembang sebagai suatu disiplin ilmu sejak abad k-2 H, lewat pribadi Hasan Al Bashri, Sufyan Al Tsauri, Al Harits ibn Asad Al Muhasibi, Ba Yazid Al Busthami. Tasawuf tidak pernah bebas dari kritikan dari para ulama (ahli fiqh, hadis dll).

Praktik – praktik tasawuf dimulai dari pusat kelahiran dan penyiaran agama Islam yaitu Makkah dan Madinah, jika kita lihat dari domisili tokoh-tokoh perintis yang disebutkan di atas.

Di kalangan para orientalis Barat biasanya dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa sumber yang menbentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam, unsur Masehi, unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia.6 Kelima unsur ini secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Unsur Islam

Secara umum ajaran Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pada unsur kehidupan bersifat batiniah itulah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan sunnah serta praktek kehidupan Nabi dan para sahabatnya. Al-Qur’an antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dengan Tuhan dapat saling mencintai (mahabbah) (QS. Al-Maidah 54), perintah agar manusia senantiasa bertaubat, membersihkan diri dan memohon ampunan (QS. Al-Thamrin 8), petunjuk bahwa manusia akan senantiasa bertemu dengan Tuhan dimanapun mereka berada (QS. Al-Baqarah 110). Selanjutnya al-Qur’an mengingatkan manusia agar dalam hidupnya tidak diperbudak dunia dan harta benda (QS. Al- Hadid dan al-Fatir 5), dan senantiasa bersikap sabar dalam menjalani pendekatan diri kepada Allah (QS. Ali Imran). Sejalan dengan apa yang dibicarakan al-Qur’an diatas, Sunnahpun banyak berbicara tentang kehidupan rohaniah antara lain :Aku adalah perbendaharaan yang bersembunyi, maka aku menjadikan makhluk agar mereka mengenal-Ku.Selanjutnya didalam kehidupan Nabi Muhammad juga terdapat petunjuk yang menggambarkannya sebagai seorang sufi. Nabi telah melakukan pengasingan diri ke Gua Hira’ menjelang datangnya wahyu. Selama di Gua Hira’ ia tafakkur, beribadah dan hidup sebagai seorang yang zahid. Beliau hidup sederhana, tidak memakan atau meminum minuman kecuali yang halal.

2. Unsur Luar Islam

Dalam berbagai literatur yang ditulis para orientalis Barat sering dijumpai uraian yang menjelaskan bahwa tasawuf Islam dipengaruhi oleh unsur agama Masehi, unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia. Hal ini secara akademik bisa saja diterima, namun secara akidah perlu kehati-hatian. Para orientalis Barat menyimpulkan bahwa adanya unsur luar Islam masuk ke dalam tasawuf itu disebabkan karena secara historis agama-agama tersebut telah ada sebelum Islam. Tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa boleh saja orang Arab terpengaruh oleh agama-agama tersebut, namun tidak secara otomatis mempengaruhi kehidupan tasawuf, karena para penyusun ilmu tasawuf atau orang yang kelak menjadi sufi itu bukan berasal dari mereka itu. Unsur-unsur luar Islam yang diduga mempengaruhi tasawuf Islam itu adalah sebagai berikut :

a. Unsur Masehi

Dalam ajaran Kristen ada faham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara. Dalam literatur Arab yang terdapat tulisan-tulisan tentang rahib-rahib yang mengasingkan diri di padang pasir Arabiah. Dikatakan bahwa zahid dan sufi dalam Islam meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri adalah atas pengaruh rahib Kristen.7

b. Unsur Yunani

Ajaran Pythagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi berkontemplasi, menurut sebagian orang inilah yang mempengaruhi Zuhud dan tasawuf dalam Islam.8 Filsafat mistik Phytagoras mengatakan bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Kesenangan roh yang sebenarnya berada di alam samawi.

c. Unsur Hindu/Budha

Dalam ajaran Budha dinyatakan bahwa untuk mencapai nirwana orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Faham fana’ yang terdapat dalam tasawuf hampir serupa dengan faham nirwana.Dalam ajaran Hindu juga dianjurkan agar manusia meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan.

d. Unsur Persia

Diantara para orientalis ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari Persia, karena sebagian tokohnya berasal dari Persia, seperti Ma’ruf al-Karkhi dan Abu Yazid al-Bustami. Pendapat ini tidak mempunyai pijakan yang kuat, karena perkembangan tasawuf tidak sekedar upaya mereka saja. Banyak para sufi Arab yang hidup di Syria, bahkan di kawasan Afrika (Maroko), seperti al-Darani, Zu al-Nun al-Misri dan lain-lain.9

D. Perkembangan Tasawuf

Pertumbuhan dan perkembangan tasawuf di dunia Islam dapat dikelompokan ke dalam beberapa tahap :

Tahap Zuhud (Asketisme)

Tahap awal perkembangan tasawuf dimulai pada akhir abad ke-1H sampai kurang lebih abad ke-2H.

Gerakan zuhud pertama kali muncul di Madinah, Kufah dan Basrah kemudian menyebar ke Khurasan dan Mesir. Awalnya merupakan respon terhadap gaya hidup mewah para pembesar negara akibat dari perolehan kekayaan melimpah setelah Islam mengalami perluasan wilayah ke Suriah, Mesir, Mesopotamia dan Persia.

Tokoh-tokohnya menurut tempat perkembangannya :

1. Madinah

Dari kalangan sahabat Nabi Muhammad Saw, Abu Ubaidah Al Jarrah (w. 18 H); Abu Dzar Al Ghiffari (W. 22 H); Salman Al Farisi (W.32 H); Abdullah ibn Mas’ud (w. 33 H); sedangkan dari kalangan satu genarasi setelah masa Nabi (Tabi’în) diantaranya, Said ibn Musayyab (w. 91 H); dan Salim ibn Abdullah (w. 106 H).

2. Basrah

Hasan Al Bashri (w. 110 H); Malik ibn Dinar (w. 131 H); Fadhl Al Raqqasyi, Kahmas ibn Al Hadan Al Qais (w. 149 H); Shalih Al Murri dan Abul Wahid ibn Zaid (w. 171 H)

3. Kufah

Al Rabi ibn Khasim (w. 96 H); Said ibn Jubair (w. 96 H); Thawus ibn Kisan (w. 106 H); Sufyan Al Tsauri (w.161 H); Al Laits ibn Said (w. 175 H); Sufyan ibn Uyainah (w. 198 H).

4. Mesir

Salim ibn Attar Al Tajibi (W. 75H); Abdurrahman Al Hujairah ( w. 83 H); Nafi, hamba sahaya Abdullah ibn Umar (w. 171 H).

Pada masa-masa terakhir tahap ini, muncul tokoh-tokoh yang dikenal sebagai sufi sejati, diantaranya, Ibrahim ibn Adham (w. 161 H); Fudhail ibn Iyadh (w. 187 H); Dawud Al Tha’i (w. 165 H) dan Rabi’ah Al Adawiyyah.

Tahap Tasawuf (abad ke 3 dan 4 H )

Paruh pertama pada abad ke-3 H, wacana tentang Zuhud digantikan dengan tasawuf. Ajaran para sufi tidak lagi terbatas pada amaliyah (aspek praktis), berupa penanaman akhlak, tetapi sudah masuk ke aspek teoritis (nazhari) dengan memperkenalkan konsep-konsep dan terminology baru yang sebelumnya tidak dikenal seperti, maqam, hâl, ma’rifah, tauhid (dalam makna tasawuf yang khas); fana, hulul dan lain- lain.

Tokoh-tokohnya, Ma’ruf Al Kharkhi (w. 200 H), Abu Sulaiman Al Darani (w. 254 H), Dzul Nun Al Mishri (w. 254 H) dan Junaid Al Baghdadi.

Muncul pula karya-karya tulis yang membahas tasawuf secara teoritis, termasuk karya Al Harits ibn Asad Al Muhasibi (w. 243 H); Abu Said Al Kharraz (w. 279 H); Al Hakim Al Tirmidzi (w. 285 H) dan Junaid Al Baghdadi (w. 294 H)

Pada masa tahap tasawuf, muncul para sufi yang mempromosikan tasawuf yang berorientasi pada “kemabukan” (sukr), antara lain Al Hallaj dan Ba Yazid Al Busthami, yang bercirikan pada ungkapan – ungkapam ganjil yang sering kali sulit untuk dipahami dan terkesan melanggar keyakinan umum kaum muslim, seperti “Akulah kebenaran” (Ana Al Haqq) atau “Tak ada apapun dalam jubah-yang dipakai oleh Busthami selain Allah” (mâ fill jubbah illâ Allâh), kalau di Indonesia dikenal dengan Syekh Siti Jenar dengan ungkapannya “Tiada Tuhan selain Aku”.

Tahap Tasawuf Falsafi (Abad ke 6 H)

Pada tahap ini, tasawuf falsafi merupakan perpaduan antara pencapaian pencerahan mistikal dan pemaparan secara rasional-filosofis. Ibn Arabi merupakan tokoh utama aliran ini, disamping juga Al Qunawi, muridnya. Sebagian ahli juga memasukan Al Hallaj dan Abu (Ba) Yazid Al Busthami dalam aliran ini.

Aliran ini kadang disebut juga dengan Irfân (Gnostisisme) karena orientasinya pada pengetahuan (ma’rifah atau gnosis) tentang Tuhan dan hakikat segala sesuatu.

Tahap Tarekat ( Abad ke-7 H dan seterusnya )

Meskipun tarekat telah dikenal sejak jauh sebelumnya, seperti tarekat Junaidiyyah yang didirikan oleh Abu Al Qasim Al Juanid Al Baghdadi (w. 297 H) atau Nuriyyah yang didirikan oleh Abu Hasan Ibn Muhammad Nuri (w. 295 H), baru pada masa-masa ini tarekat berkembang dengan pesat.

Seperti tarekat Qadiriyyah yang didirikan oleh Abdul Qadir Al Jilani (w. 561 H) dari Jilan (Wilayah Iran sekarang); Tarekat Rifa’iyyah didirikan oleh Ahmad Rifai (w. 578 H) dan tarekat Suhrawardiyyah yang didirikan oleh Abu Najib Al Suhrawardi (w. 563 H). Tarekat Naqsabandiyah yang memiliki pengikut paling luas, tarekat ini sekarang telah memiliki banyak variasi , pada mulanya didirikan di Bukhara oleh Muhammad Bahauddin Al Uwaisi Al Bukhari Naqsyabandi

E. Tujuan Tasawwuf

Ilmu tasawwuf adalah tuntunan yang daoat menyampaikan manusia untuk mengenal Allah swt., dan dengan tasawwuf ini pula seseorang dapat melangkah sesuai dengan tuntutan yang paling baik dan benar dengan akhlak yang indah serta akidah yang kuat. Oleh sebab itu, seorang mutasawwif tidak mempunyai tujuan lain dari mencapai ma’rifat billah (mengenal Allah) dengan sebenar-benarnya dan tersingkapnya dinding hijab yang membatasinya dengan Allah.

Bagi mereka, mendekatkan diri kepada Allah selalu dilandasi semangat beribadah dengan tujuan untuk mencapai kesempurnaan hidup dan ma’rifah.

Adapun yang dimaksud dengan ma’rifatullah adalah melihat tuhan dengan hati secara jelas dan nyata dengan segala kenikmatan dan kebesarannya tapi tidak dengan kaifiyat. Artinya tuhan tidak digambarkan sebagai benda atau seperti manusia ataupun bentuk tertentu sebagai jawaban tentang bagaimana dzat tersebut.

Sedangkan yang dimaksud dengan kesempurnaan hidup adalah tercapainya martabat dan derajat kesempurnaan atau insan kamil. Insan kamil dalam pandangan ahli sufi berbeda-beda. Di antaranya adalah seperti yang disebutkan oleh Ibnu Arabi bahwa insan kamil adalah manusia yang sempurna karena adanya realisasi wahdah asasi dengan Allah yang mengakibatkan adanya sifat dan keutamaan tuhan pada dirinya.

Dengan demikian, maka ilmu tasawwuf yang pada intinya adalah sebagai usaha untuk menyingkap hijab yang membatasi antara manusia dengan Allah swt. Dengan sistem yang tersusun melalui latihan ruhaniyah dan riyadhah an-nafs yang mengandung empat unsur pokok:

1. Metafisika, yakni hal-hal yang berkenaan dengan luar alam dunia atau bisa juga dikatakan sebagai ilmu ghaib.

2. Etika, yakni ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan yang buruk dengan melihat pada amal manusia sejauh yang dapat dicari oleh akal dan pikiran manusia.

3. Psikologia, yakni masalah yang berhubungan dengan jiwa. Psikologi dalam tasawwuf tentu sangat berbeda dengan psikologi modern. Dalam tasawwuf yang menjadi objek psikologi adalah diri sendiri.

4. Estetika, yakni ilmu keindahan yang melahirkan seni. Untuk meresapkan seni, harus ada keindahan dalam diri. Puncak keindahan itu adalah cinta.

Bagaimana Apakah masih kurang lengkap pembahasan mengenai tasawuf di atas? Semoga aja uda lengkap dan jelas!

Sumber :

makalahmajannaii.blogspot.com/2012/04/tasawwuf-pengertian-asal-usul-dan.html

sarjanaku.com/2011/11/pengertian-tasawuf-secara-etimologi-dan.html

alawiyahblog2.blogspot.com/2012/09/pengertian-tasawuf-menurut-para-ahli.html

zidandemak.blogspot.com/2011/12/pengertian-tasawuf-miturut-istilahi.html