Arsip

Taatilah Nakhoda Bahteramu

dp-bbm-islami-300x300

Bahtera membutuhkan awak-awak yang terampil dan andal agar bisa berlayar dengan lancar. Tiap awak harus memahami dan menjalankan tugasnya di bawah kepemimpinan sang nakhoda. Kelalaian dan pembangkangan seorang awak bisa membuat bahtera oleng, bahkan tenggelam di tengah lautan, atau tersesat hingga terdampar di selain negeri tujuan.

Rumah tangga yang kerap diibaratkan sebagai bahtera pun demikian keadaannya. Suami sebagai nakhoda, dan istri serta anak-anak sebagai anak buahnya, harus menjalankan tugas masing-masing dengan sabar dan penuh tanggung jawab. Jika tidak, sungguh sulit bagi bahtera itu untuk sampai ke negeri tujuan dengan selamat. Jika dia sekadar terhempas di dunia, mungkin masih bisa dicarikan jalan keselamatan meski dengan susah payah. Namun, jika dia terdampar di negeri kesengsaraan di akhirat, itulah kerugian yang sesungguhnya.

Pada edisi kali ini kami sajikan dua dari sekian banyak kewajiban istri kepada suaminya. Berikut pembahasannya.

 

  • Menaati suami dalam perkara yang makruf (baik).

Sebagaimana telah disinggung, suami adalah nakhoda bahtera rumah tangga. Kepemimpinan suami adalah kedudukan yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bukan sekadar kebiasaan yang berlaku di kelompok masyarakat tertentu atau adat negeri tertentu. Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ

“Kaum pria adalah pemimpin bagi para wanita, karena keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena nafkah yang mereka keluarkan dari sebagian harta mereka.” (an-Nisa’: 34)

Setinggi dan semulia apa pun seorang wanita, tidak pantas baginya memprotes pembagian Allah Yang Mahatahu dan Mahabijaksana ini. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

وَلَا تَتَمَنَّوۡاْ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبُواْۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبۡنَۚ وَسۡ‍َٔلُواْ ٱللَّهَ مِن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٣٢

“Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi pria ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (an-Nisa’: 32)

Karena pria adalah pemimpin, hal ini berkonsekuensi ketaatan istri kepadanya. Dalil-dalil menunjukkan bahwa wanita yang baik adalah wanita yang patuh kepada suaminya, bukan wanita yang bebas berbuat semaunya atau yang justru terbalik keadaannya, yakni dialah yang mengatur suaminya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ditanya siapakah wanita yang terbaik, beliau menjawab, “Yang menyenangkan suami ketika dipandang, menaatinya ketika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya dengan sesuatu yang membangkitkan kebencian suami.” (HR. an-Nasa’i, dinyatakan shahih oleh al-Albani)

Saudariku yang semoga disayang oleh Allah, suami memiliki hak yang amat besar atas istrinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh memerintah seseorang untuk bersujud kepada orang lain, tentu kuperintah istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al–Baihaqi, dari hadits Abu Hurairah z. At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan.”)

Dari hadits ini kita bisa mengetahui betapa besarnya hak suami atas istrinya. Maka dari itu, istri wajib menaati suami, karena hak terbesar—setelah hak Allah dan Rasul-Nya—yang harus dia tunaikan adalah hak suami. Jika istri durhaka dan terus-menerus dalam kedurhakaannya, dia telah menghadapkan dirinya kepada kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala hingga suaminya ridha kepadanya.

Duhai para istri yang semoga dirahmati Allah, pembangkangan kepada suami akan mengakibatkan seorang istri masuk neraka jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengampuninya—wal ’iyadzu billah. Disebutkan dalam hadits Hushain bin Mihshan, dia berkata, “Bibiku telah bercerita kepadaku, katanya: Saya telah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam untuk suatu keperluan. Beliau bertanya, ‘Wahai wanita, apakah kamu bersuami?’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya lagi, ‘Bagaimana sikapmu terhadapnya?’ Dia (bibi Hushain, –pent.) menjawab, ‘Saya tidak pernah mengurangi ketaatan kepadanya, kecuali pada urusan yang saya tidak mampu.’ Beliau bersabda, ‘Perhatikanlah di mana kedudukanmu terhadapnya, karena dia adalah surga dan nerakamu’.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, an-Nasa’i, Ahmad, dan lain-lain. Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi)

Saudariku yang mulia, kewajiban taat kepada suami ini berlaku bagi semua wanita walaupun dia adalah putri raja yang mulia, kaya raya, cantik jelita, dan semisalnya. Dia wajib menaati suaminya dalam setiap perkara yang makruf meskipun sang suami memiliki status sosial yang lebih rendah. Istri harus membuang jauh-jauh sikap sombong dan angkuh terhadap sang suami. Dikecualikan dari hal ini jika sang suami memerintahnya untuk bermaksiat dan durhaka kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam kondisi ini, ketaatan kepada Allah-lah yang didahulukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Ketaatan itu hanyalah pada perkara yang makruf.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) Beliau juga bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Wajib bagi seorang muslim mendengar dan taat, baik pada perkara yang disukai maupun yang dibenci, kecuali jika dia diperintah untuk suatu kemaksiatan. Jika dia diperintah untuk suatu kemaksiatan, tidak boleh mendengar dan taat.”

Terkadang seorang istri ingin beribadah sunnah, tetapi sang suami tidak menyetujuinya. Dalam kondisi ini ketaatan kepada suami harus dikedepankan karena hukumnya wajib, dan perkara wajib harus didahulukan daripada perkara sunnah.

 

  • Taat jika dipanggil sang suami ke ranjangnya.

Secara umum, laki-laki memiliki syahwat jima’ yang lebih tinggi daripada perempuan. Dia lebih tidak sabar untuk meninggalkan jima’ daripada perempuan. Faktor terbesar yang mendorongnya untuk menikah adalah penyaluran syahwat secara halal. Oleh karena itu, syariat mewajibkan istri untuk menaati suaminya jika dipanggil ke ranjangnya, agar tidak terjadi kerusakan yang besar. Penolakan istri tanpa adanya uzur yang bisa diterima, seperti haid atau sakit, akan menghadapkannya kepada kemurkaan Allah dan laknat para malaikat serta mengurangi pahala shalatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika istri dipanggil suami ke ranjang lalu dia menolak sehingga sang suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, malaikat akan melaknatnya hingga ia memasuki waktu pagi.” (HR. al-Bukhari)

Dalam riwayat lain beliau bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke ranjangnya lalu si istri enggan memenuhi panggilan tersebut, melainkan yang di langit marah kepadanya hingga sang suami ridha kepadanya.” (HR. Muslim)

Mendurhakai suami dalam urusan ini termasuk dosa besar. Oleh karena itu, hendaknya para ibu rumah tangga mencamkan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam di atas. Janganlah rasa lelah setelah mengurus rumah tangga seharian membuatnya enggan melayani suami. Bangkitlah meskipun diri sendiri terkadang tidak berhasrat akibat didera penat yang sangat. Jangan pula kesibukan membuatnya berlambat-lambat. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalambersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seorang wanita tidak dikatakan memenuhi hak Rabbnya sebelum ia memenuhi hak suaminya. Walau sang suami meminta dirinya dalam keadaan dia di atas sekedup, dia tidak boleh menolaknya.” (Hadits shahih riwayat AhmadIbnu Majah, dan lain-lain)

Jadi, andai seorang istri tengah berada di atas punggung seekor unta lantas suaminya ingin berhubungan dengannya, dia tidak boleh menolaknya. Lalu, bagaimana pada selain kondisi tersebut?

Sebagai penutup, kami sebutkan berita gembira dari junjungan kita yang mulia, Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wassalam , bagi wanita yang menaati suaminya. Beliau n bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita menunaikan shalat (fardhu) lima waktu, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR.ath–ThabaraniIbnu Hibban, dan selainnya. Al-Albani berkata, “Hadits hasan atau shahih dengan beberapa jalur periwayatan.”)

Inilah balasan terbaik baginya. Bukankah tidak ada kenikmatan di dunia ini yang menandingi surga? Cukuplah balasan surga ini menjadi pengusir rasa lelah dan berat karena menaati suami.

Demikianlah dua kewajiban istri yang menjadi hak sang suami. Mudah-mudahan pembahasan yang singkat ini dapat menjadi tambahan ilmu dan amal bagi penulis secara khusus dan bagi kaum muslimin secara umum. Amin ya Rabbal ’alamin.

 

Referensi:

– Al-Qur’anul Karim

– Adabuz Zifaf, asy-Syaikh al-Albani

– Nashihati lin Nisa’, Ummu ‘Abdillah al-Wadi’iyyah

– Risalah ilal ‘Arusain, Abu ‘Abdirrahman ash-Shubaihi

 

Iklan

Jika Aku Pilihanmu

 

Gambar

Jika kau pilih aku,

Sebagai permaisuri hati,

Pimpinla aku menuju redhaNya,

Bukan membuka jalan untukku,

Melangkah ke neraka.

Jika kau pilih aku,

Sebagai permaisuri hati,

Tutupla matamu memandangku kerana rupa, harta dan kelebihanku,

Pandanglah aku dengan kekuranganku,

Nilai kembali niatmu,

Masihkah kau sanggup menghadapi segala kelemahanku.

Jika kau pilih aku,

Sebagai permaisuri hati,

Jangan rosakkan hatiku dengan merinduimu,

Hentikanlah madah2 terindahmu untukku,

Sehingga saat halal itu berlaku,

Jika kau pilih aku,

Sebagai permaisuri hati,

Aku mohon agar kau sandarkan niatmu,

Kepada yg menentukan,

Aku pinta agar kau senantiasa dalam istikharah,

Agar kita kan bisa menemukan insan yg tepat,

Bukan sekadar menjadi bahan ujian sementara.

Jika kau pilih aku,

Menjadi permaisuri hati,

Ketahuilah,

Tidak ku pinta kemewahan dunia,

Tidak ku mahu kaya harta,

Tetapi aku minta,

Jadikan aku suri yang bisa mendapatkan istana di akhirat sana,

Berikan aku jaminan,

Untuk bersamamu lagi sesudah mati dalam redhaNya.

Jika kau pilih aku,

Dan jika Allah mengizinkan aku memilihmu,

Ketahui la,

Aku akan memilihmu keranaNya.

Saat itu ialah apabila aku tahu,

Kenapa kau memilih aku,

Jawapannya ialah “Kau memilih aku kerana Dia”

Hati ini mudah tergoda nafsu, sering terikut kehendak melulu.  Terkadang risauku pencarianku bertemu buntu dan bimbangku jua akan aku turut terkeliru, jika suatu masa nanti di hadapan ku dua simpang yang berbeza tuju.  Takut-takut yang ku pilih adalah mengikut pujukan syaitan yang merayu.  Khuatir ku pilih bukan yang didasari iman yang padu.

Ya Allah,tutuplah mata ini dari memandang seseorang kerana dunia yang ada padanya.  Biarkan mata hatiku berbicara tatkala insan yang Kau redlo dan yang ku tunggu sudah tiba,,,

,Gambar

 

Pesan Untukmu Kaum Hawa

 

Gambar 

Assalamu’alaikum wr wb,,,,

 

Tahukah kalian betapa berbahayanya dirimu,,?
tiap jengkal dan lekuk tubuhmu adalah racun yang begitu sempurna,,
yah, sempurna untuk membabat habis keimanan para adam,,
maka ku berpesan padamu, jaga dirimu demi tiap jengkal tubuh yang Allah anugrahkan padamu,,

Hawa, tahukah betapa berharga dirimu,,?
hingga Allah meletakkan Syurga yang agung di telapak kakimu,,?
Hingga dikatakan hancurnya sebuah negara karena kehancuranmu,,,
Hingga Rasul menyebutmu tiga kali sebagai manusia yang lebiih patut di hormati daripada kaum adam,,,
Maka, jadikan dirimu layak dihargai,,,

Tapi tahukah betapa sakit hatiku, ketika ku mendapatkanmu di jalan-jalan dengan mudahnya kau umbar auratmu dengan bangga,,,
ketika tiap lekuk tubuhmu begitu mudah dinikmati mereka laki-laki yang tak halal bagimu,,
ketika kau dengan bebasnya tertawa dan bermanja pada laki-laki yang menatapmu liar seolah ingin menerkammu,,,

ooohh… wanita, ingin ku teriakkan di telingamu… Ingatlah, sebagian besar penghuni neraka adalah kaum kita,,,
inginkah dirimu termasuk di dalamnya,,,?
tak inginkah kau di hormati dan dihargai mereka karena kehormatan dan kecerdasanmu,,?
Ketahuilah wanita, kau indah karena sifat malumu,,,
kau mulia karena akhlak dan kehormatanmu

sukakah kau jika mereka menyukaimu karena betapa cantik kau,,,?
karena betapa ramping tubuhmu? atau karena kulitmu yang putih mulus,,,?
merasa berharga kah kalian ketika tak ada lagi yang tersembunyi dari dirimu,,?

lalu bagaimana kau mampu mengharapkan laki-laki yang mendampingimu kelak adalah laki-laki yang mulia? yang menjaga kehormatannya,,,,?
padahal Allah yang telah menjamin, wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan wanita pezina untuk laki-laki pezinah,,,
masih kah kalian berani berharap mendapatkan yang terbaik sementara dirimu berlumur dosa,,,?
sementara harga dirimu telah tercabik dan ternoda,,,,?
pantaskah kalian mengharap laki-laki syurga sementara diri jelas kedudukannya dineraka karena belumur maksiat,,,?

Tidak, jangan takut,, Rabb kita, Allah Maha Pengampun,,
Tak ada yang terlambat,,
selama Jiwa masih dalam raga,, ampunannya terbuka luas,,
Percayalah,,, walau dosa membumbung tinggi, ampunannya melangit luasnya,,

Kembalilah pada fitrahmu,,,, kau indah karena sifat malumu,,,
jagalah harga dirimu,,, kau begitu berharga,,,

 

 

Semoga tetapSEMANGAT

Wassalam,,,,,

Adzab Neraka bagi Kaum Hawa

Renungan,,,,,,

 Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah saw menangis manakala ia dating bersama Fatimah.

Lalu keduanya bertanya mengapa Rasulullah saw menangis.

Beliau menjawab,

“Pada malamaku di-isra’- kan ,aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya.

 

Putri Rasulullah saw kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya.

“Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otak  nya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat kebelakang dan timah cair

Dituangkan kedalam tengkoraknya.

Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai keubun- ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

Dan aku lihat perempuan  yang  memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka.

Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.

Aku lihat perempuan yang  telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan kedalam peti  yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.

Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan di hadapinya.

Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan pentung dari api neraka,” kata Nabi saw.

 

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu,,,,?

Rasulullah menjawab,

“Wahai putriku, ada pun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang  tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.

Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang mengotori’  tempat tidurnya.

Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang  bukan muhrimnya.

Perempuan yang diikat kedua kaki dantangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena ia bias shalat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.

Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta.

Perempuan yang menyerupai anjingi alah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami.”

 

Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turutmenangis. Dan inilah peringatan kepada KAUM HAWA…..

 

Semoga bermanfaat,,,,,

 

Sifat Wanita Shalihah

Sifat Wanita Shalihah

 

َفال ّصاِل َحا ُت َقاِنَتا ٌت َحاِف َظا ٌت ِلْل َغْي ِب ِب َما َح ِف َظ الّل ُه

“Maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi

memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah

memelihara (mereka).” (an-Nisa: 34)

KEUTAMAAN WANITA SHALIHAH

Bagi seorang laki-laki shalih, mendapatkan seorang wanita shalihah

sebagai pendamping hidupnya adalah sebuah kenikmatan yang sangat

berharga. Dengannya, dia akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman

hatinya. Bersamanya, dia akan menegakkan agama dalam rumah

tangganya. Mereka akan saling tolong menolong dalam kebaikan dan

takwa, saling membantu untuk mewujudkan tujuan hidup manusia;

beribadah kepada Allah

– ta’ala –

. Kehormatan diri pun akan bisa terjaga

dengan hidup bersamanya. Dan darinya, dia akan berkesempatan

memiliki keturunan yang shalih pula.

Karena banyaknya keutamaan yang ada pada diri seorang wanita shalihah,

maka tidak heran jika Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

menyifati para wanita shalihah sebagai perhiasan dunia yang paling baik.

Beliau

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

ال ّدْنَيا َمَتا ٌع َو َخْي ُر َمَتا ِع ال ّدْنَيا اْل َم ْرَأُة ال ّصاِل َح ُة

“Dunia adalah perhiasan yang menyenangkan. Dan sebaik-baik perhiasan

dunia adalah wanita shalihah.” (Riwayat Muslim)

Di antara keutaman wanita shalihah, Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa

sallam –

telah memberikan dorongan kepada laki-laki muslim untuk lebih

mengutamakan pilihannya kepada wanita yang memiliki agama, yaitu

wanita shalihah. Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

ُتْن َك ُح اْل َم ْرَأُة ِلَأ ْرَب ٍع ِل َماِل َها َوِل َح َسِب َها َو َج َماِل َها َوِل ِديِن َها َفا ْظ َف ْر ِب َذا ِت ال ّدي ِن َت ِرَب ْت َي َدا َك

1

“Wanita (biasanya) dinikahi karena empat hal; karena hartanya, karena

kedudukan nasabnya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka

raihlah wanita yang memiliki agama, niscaya engkau akan beruntung.”

(Muttafaq ‘alaih)

Maka Islam mendorong kaum laki-laki untuk mencari istri yang shalihah

dan memiliki agama. Islam menjadikannya sebagai suatu landasan yang

seyogyanya diperhatikan di antara sekian banyak perangai yang

diinginkan dari diri seorang wanita. Karena jika dia memiliki agama yang

lemah dalam menjaga dirinya, niscaya hal itu akan bisa menyeret

suaminya dan mencoreng mukanya di tengah-tengah manusia. Sedangkan

seorang wanita shalihah akan menjadi penolong bagi suaminya dalam

urusan yang menjadi kepentingan utama seorang muslim; yaitu urusan

agamanya.

Padahal, agama itulah yang akan membawa kebahagiaan seseungguhnya

bagi seorang hamba. Maka benarlah sabda Nabi

– shollallohu ‘alaihi wa

sallam –

yang menjadikan wanita shalihah sebagai salah satu hal yang

membahagiakan.

Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

أربع من السعادة : الرأة الصالة والسكن الواسع والار الصال والركب النء .

وأربع من الشقاء : الار السوء والرأة السوء والركب السوء والسكن الضيفق

“Ada empat hal yang merupakan kebahagiaan; wanita shalihah, tempat

tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan tunggangan (kendaraan) yang

nyaman. Dan ada empat hal yang merupakan kesengsaraan; tetangga

buruk, wanita buruk, tunggangan buruk, dan tempat tinggal yang sempit.”

(Riwayat Ibnu Hibban, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah:

282)

Ketika seorang laki-laki muslim dianjurkan secara tegas untuk mencari

pasangan hidup wanita yang beragama, wanita shalihah; maka hal ini

tentu saja juga merupakan dorongan bagi para wanita muslimah untuk

berusaha menjadikan dirinya sebagai wanita shalihah.

Sehingga seorang wanita muslimah yang benar-benar ingin menggapai

kebahagiaan untuk dirinya, untuk suami dan keluarganya, maka dia harus

berusaha mewujudkan keshalihan itu ada pada dirinya.

Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai kriteria atau sifat-sifat

2

yang akan menjadikan seorang wanita sebagai wanita shalihah.

SIFAT WANITA SHALIHAH

Sebagai kitab suci yang paling sempurna, al-Quran tentu menjelaskan

segala hal yang dibutuhkan oleh hamba. Termasuk di antaranya adalah

kebutuhan mereka untuk menshalihkan diri-diri mereka. Jika di antara

kita ingin mengetahui bagaimana cara menjadi orang shalih, bagaimana

ciri dan sifat orang-orang shalih; tentu dia harus kembali membuka dan

menelaah al-Quran beserta pendampingnya, yaitu as-Sunnah.

Nah, di sini, kita ingin menyampaikan beberapa di antara sifat-sifat

wanita shalihah, yang telah dijelaskan oleh para ulama dengan mengambil

petunjuk dari al-Quran dan as-Sunnah. Dengan itu kita berharap bisa

mengambil pelajaran darinya untuk kita terapkan pada diri kita, istri kita,

anak perempuan kita, saudara perempuan kita atau siapa saja di antara

wanita muslimah.

Dalam surat an-Nisa, Allah telah menyatakan secara umum tentang sifat

wanita shalihah dengan firman-Nya,

َفال ّصاِل َحا ُت َقاِنَتا ٌت َحاِف َظا ٌت ِلْل َغْي ِب ِب َما َح ِف َظ الّل ُه

“Maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi

memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah

memelihara (mereka).” (an-Nisa: 34)

Adapun secara rinci, dapat kita sebutkan sebagiannya dalam poin-poin

berikut:

Wanita shalihah adalah wanita yang beriman

Keimanan, itulah landasan utama untuk menjadikan seseorang sebagai

orang yang shalih. Sehingga, secantik apapun seorang wanita, sekaya

apapun dia, sebaik apapun tingkah lakunya, jika dia bukan orang yang

beriman, maka dia jelas bukan seorang wanita shalihah.

Wanita shalihah adalah wanita yang beriman kepada Allah sebagai

Rabbnya, beriman kepada Muhammad

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

sebagai nabi dan rasul, dan meridhai Islam sebagai agama. Keimanan ini

akan nampak pengaruhnya secara lisan, amalan dan keyakinan.

3

Wanita shalihah adalah wanita yang memiliki keyakinan atau akidah yang

benar tentang Allah, para malaikat, kitab-kitabNya, para nabi dan rasul,

hari akhir dan tentang masalah takdir.

Wanita shalihah adalah wanita yang bertauhid kepada Allah, beribadah

hanya kepada Allah tidak kepada yang lain, menjauhi kesyirikan dan

berbagai sarana yang menghantarkan kepada kesyirikan.

Wanita shalihah adalah wanita yang berusaha untuk mengikuti petunjuk

dan tuntunan Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

dengan sebaik-

baiknya, menaati perintah beliau, menjauhi larangan beliau,

membenarkan berita yang datang dari beliau, dan beribadah kepada Allah

hanya dengan tuntunan beliau serta menjauhi perkara baru yang diada-

adakan dalam agama.

Wanita muslimah akan selalu menjaga shalatnya. Karena shalat adalah

hak Allah terbesar setelah tauhid. Dan shalat adalah batas pemisah antara

keimanan dan kekafiran, sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Al-Imam asy-Syaukani v dalam tafsirnya terhadap surat an-Nisa ayat 34

berkata, “Maka wanita-wanita yang shalih adalah wanita-wanita qanitaat,

yaitu yang taat kepada Allah, melaksanakan kewajiban mereka yang

berkenaan dengan hak-hak Allah dan hak-hak suami mereka.” (Fathul

Qadir)

Wanita shalihah taat kepada suami

Perkara ini termasuk hal yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan.

Ketika seorang wanita telah memasuki dunia rumah tangga, maka dia

memiliki sebuah kewajiban dan tanggung jawab baru yang akan bisa

memasukkan dia ke dalam surga jika dia benar-benar melaksanakannya

dengan baik. Tidak lain adalah kewajiban menaati suami.

Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

ِإ َذا َصّل ِت اْل َم ْرَأُة َخ ْم َس َها َو َح َصَن ْت َف ْر َج َها َوَأ َطا َع ْت َب ْعَل َها َد َخَل ْت ِم ْن َأ ّي َأْب َوا ِب

اْل َجّن ِة َشا َء ْت

“Jika seorang wanita menunaikan shalat yang lima waktu, menjaga

kemaluannya dan menaati suaminya, niscaya dia akan masuk melalui

pintu surga mana saja yang dia kehendaki.” (Riwayat Ibnu Hibban,

4

dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib)

Dan tentang ayat 34 pada surat an-Nisa yang telah disebutkan di atas, di

antara ahli tafsir seperti Ibnu Abbas –

rodhiyallohu ‘anhuma –

dan yang

lainnya menafsirkan kalimat “Qanitaat” dengan makna, “para wanita yang

taat kepada suami mereka”.

Dan telah maklum bahwa hak terbesar (setelah hak Allah dan rasul-Nya)

yang wajib dipenuhi oleh seorang wanita setelah menikah adalah hak

suaminya. Sampai-sampai Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

َل ْو ُكْن ُت آ ِم ًرا َأ َح ًدا َأ ْن َي ْس ُج َد ِلَأ َح ٍد َلَأ َم ْر ُت اْل َم ْرَأَة َأ ْن َت ْس ُج َد ِل َز ْو ِج َها

“Seandainya aku boleh memerintah seseorang untuk sujud kepada orang

lain, niscaya akan kuperintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada

suaminya.” (Riwayat at-Tirmidzi dll, dishahihkan al-Albani dalam ash-

Shahihah)

Maka seorang wanita shalihah akan berusaha selalu menaati suaminya,

selama bukan dalam perkara maksiat. Namun jika suami memerintahkan

perkara maksiat, maka tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk pun

dalam bermaksiat kepada Allah.

Wanita shalihah berakhlak mulia

Wanita shalihah memiliki perangai yang indah, tutur kata yang baik,

pembawaan yang tenang, tidak tergesa-gesa, lemah lembut, dan berbagai

sikap dan perilaku lain yang menunjukkan akan keindahan akhlaknya.

Sungguh akhlak yang baik akan menjadikan seseorang dicintai oleh Allah.

Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

َأ َح ّب ِعَبا ِد ا ِل ِإ َل ا ِل َأ ْح َسُن ُه ْم ُخُل ًقا

“Hamba Allah yang paling Dia cintai adalah yang paling indah

akhlaknya.” (ash-Shahihah: 433)

Dan akhlak mulia adalah salah satu amalan yang memiliki timbangan

terberat di akhirat. Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

َما ِم ْن َش ْي ٍء ُيو َض ُع ِفي اْل ِمي َزا ِن َأْث َق ُل ِم ْن ُح ْس ِن اْل ُخُل ِق َوِإ ّن َصا ِح َب ُح ْس ِن اْل ُخُل ِق

5

َلَيْبُل ُغ ِب ِه َد َر َج َة َصا ِح ِب ال ّص ْو ِم َوال ّصَلاِة

“Tidak ada sesuatu pun yang diletakkan di timbangan yang lebih berat

dari pada akhlak yang baik. Dan sungguh orang yang beraklak baik akan

mencapai derajat orang yang banyak puasa dan shalat.” (Riwayat at-

Tirmidzi dishahihkan al-Albani)

Di antara wujud akhlak yang baik kepada suami:

Menahan diri dan sabar jika mendapati sesuatu yang tidak disukai

dari suami.

Berempati terhadap perasaan suami.

Hanya mengucapkan perkataan yang baik kepada suami, atau

tentang suami.

Tidak membalas keburukan dengan semisalnya, akan tetapi

bahkan dengan kebaikan.

Tidak berprasangka buruk kepada suami.

Segera mencari keridhaan suami jika suami marah.

Menjaga kehormatan diri

Seorang wanita shalihah akan senantiasa berusaha menjaga diri dan

kehormatannya dari perkara yang keji. Dia akan menghindari segala hal

yang bisa menghantarkan kepada pelecehan terhadap kehormatannya.

Dengan berpegang kepada nilai-nilai Islam, yang tertuang dalam al-Quran

dan as-Sunnah, seorang wanita akan bisa menjaga diri dan

kehormatannya.

Di antara nilai-nilai yang ditanamkan dan dianjurkan oleh Islam dalam

rangka menjaga kehormatan seorang wanita muslimah:

– Kewajiban menutup aurat

Kewajiban ini telah Allah tegaskan dalam firman-Nya,

َيا َأّي َها الّنِب ّي ُق ْل ِلَأ ْز َوا ِج َك َوَبَناِت َك َوِن َسا ِء اْل ُم ْؤ ِمِن َي ُي ْدِن َي َعَلْي ِه ّن ِم ْن َجَلاِبيِب ِه ّن َذِل َك

َأ ْدَنى َأ ْن ُي ْع َرْف َن َفَلا ُي ْؤ َذْي َن َو َكا َن الّل ُه َغ ُفو ًرا َر ِحي ًما

6

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu

dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan

jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka

lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah

adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 59)

Allah menyampaikan perintah menutup aurat kepada istri-istri orang

mukmin secara keseluruhan. Sehingga jelaslah bahwa kewajiban menutup

aurat adalah perkara yang berlaku bagi wanita muslimah di manapun

mereka berada. Salah jika ada orang yang menyangka bahwa pakaian

wanita muslimah yang menutup aurat hanyalah pakaian adat bangsa arab

saja.

Hendaknya wanita shalihah merasa takut akan sabda Nabi

– shollallohu

‘alaihi wa sallam –

,

ِصْن َفا ِن ِم ْن َأ ْه ِل الّنا ِر َل ْم َأ َر ُه َما َق ْو ٌم َم َع ُه ْم ِسَيا ٌط َكَأ ْذَنا ِب اْلَب َق ِر َي ْض ِرُبو َن ِب َها الّنا َس

َوِن َساٌء َكا ِسَيا ٌت َعا ِرَيا ٌت ُم ِميَلا ٌت َماِئَلا ٌت ُر ُءو ُس ُه ّن َكَأ ْسِن َم ِة اْلُب ْخ ِت اْل َماِئَل ِة َلا َي ْد ُخْل َن

اْل َجّن َة َوَلا َي ِج ْد َن ِر َي َها َوِإ ّن ِر َي َها َلُيو َج ُد ِم ْن َم ِس َيِة َك َذا َو َك َذا

“Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; orang-

orang yang membawa cambuk seperti ekor-ekor sapi untuk memukul

manusia dan kaum wanita yang berpakaian tapi telanjang mereka

menyimpang dari ketaatan dan menyimpangkan orang lain dari ketaatan,

kepala mereka bagaikan punuk onta yang miring, mereka tidak akan

masuk ke dalam surga dan tidak akan mendapati bau surga, padahal bau

surga didapati dari jarak demikian dan demikian.” (Riwayat Muslim)

Maka wanita shalihah senantiasa menutup auratnya di hadapan laki-laki

yang bukan termasuk mahramnya dengan pakaian yang memenuhi syarat;

menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan,

bukan merupakan perhiasan,

longgar tidak sempit yang bisa menampakkan bentuk tubuh,

tebal tidak transparan,

tidak diberi wewangian,

tidak menyerupai pakaian lelaki,

7

tidak menyerupai pakaian wanita kafir,

bukan merupakan pakaian syuhrah (yang menyelisihi pakaian

masyarakat sekitar dan bukan merupakan tuntutan syariat)

– Tidak berkhalwat (berdua-duaan) atau ikhtilath (bercampur) dengan

lawan jenis.

Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

َلا َي ْخُل َو ّن َر ُج ٌل ِبا ْم َرَأٍة ِإّلا َو َم َع َها ُذو َم ْح َر ٍم َوَلا ُت َساِف ْر اْل َم ْرَأُة ِإّلا َم َع ِذي َم ْح َر ٍم

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali ada

mahram bersama wanita itu. Dan janganlah seorang wanita bersafar

(bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahramnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Termasuk dalam larangan ini adalah berdua-duaan dengan kerabat laki-

laki suami. Bahkan Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

telah

menyifati kerabat laki-laki suami sebagai maut (kematian) bagi seorang

wanita.

– Tidak bersafar tanpa mahram

Dari hadits di atas jelas Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

melarang seorang wanita bersafar tanpa disertai mahram. Tentu saja ini

merupakan bentuk penjagaan kehormatan seorang wanita muslimah.

Menjaga harta dan anak suami

Di antara hal yang hendaknya diperhatikan oleh seorang wanita muslimah

adalah penjagaan terhadap harta dan anak-anak suami. Rasulullah

shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

ُكّل ُك ْم َرا ٍع َو ُكّل ُك ْم َم ْسُئو ٌل َع ْن َر ِعّيِت ِه … َواْل َم ْرَأُة َرا ِعَيٌة َعَلى َبْي ِت َب ْعِل َها َو َوَل ِدِه

َو ِه َي َم ْسُئوَلٌة َعْن ُه ْم…

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang yang

dipimpin… (sampai sabda beliau

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

)… dan

seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan atas anaknya,

8

dan dia akan ditanya tentang mereka…” (Muttafaq ‘alaih)

Maka seorang wanita shalihah akan berusaha menjaga dan mengurusi

rumah suaminya, terutama ketika ditinggal pergi oleh suami. Dia tidak

akan mengijinkan seorang pun masuk ke dalam rumah kecuali dengan

seijin suami.

Wanita shalihah juga akan menjaga dan memperhatikan anak-anak suami.

Dia akan mengurusi dan mendidik mereka dengan sebaik-baiknya. Dia

akan sadar dan yakin, jika anak-anak bisa menjadi shalih dengan

didikannya, maka dialah yang pertama kali mendapat kebaikannya.

Terlebih lagi anak itu adalah anak dia sendiri jika kita mengingat sabda

Nabi

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

,

ِإ َذا َما َت اْلِإْن َسا ُن اْن َق َط َع َعْن ُه َع َمُل ُه ِإّلا ِم ْن َثَلاَث ٍة ِإّلا ِم ْن َص َدَق ٍة َجا ِرَي ٍة َأ ْو ِعْل ٍم ُيْنَت َف ُع ِب ِه

َأ ْو َوَل ٍد َصاِل ٍح َي ْد ُعو َل ُه

“Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah pahala amalnya kecuali

dari tiga hal; sedekah yang terus mengalir, ilmu yang bermanfaat, atau

anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.” (Riwayat Muslim)

Kemudian, seandainya anak suami itu dari istri yang lain, maka dia tetap

mengurusi dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya. Karena istri tentu

saja memiliki kewajiban untuk membantu suami dalam ketaatan,

termasuk juga pendidikan anak dengan pendidikan islami.

Ingatlah kisah Jabir bin Abdillah c, ketika dia menikahi seorang janda,

Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

mempertanyakan kenapa

tidak menikah dengan gadis sehingga bisa saling bercanda. Lalu Jabir z

menjelaskan bahwa dia memilih menikahi janda agar bisa membantunya

mengurusi saudara perempuannya yang masih kecil yang telah ditinggal

wafat oleh bapaknya. Mendengar penjelasan itu, Rasulullah

– shollallohu

‘alaihi wa sallam –

pun membenarkannya.

Ini menunjukkan bahwa seorang wanita shalihah hendaknya bisa

mengurusi dan mendidik anak suami dengan baik meskipun bukan dari

keturunannya sendiri.

Memahami kedudukan suami

Poin penting yang harus dimiliki seorang istri. Dia harus mengerti bahwa

9

Allah telah menempatkan suami pada kedudukan yang lebih tinggi dari

istri. Allah

– ta’ala –

berfirman,

ال ّر َجا ُل َق ّوا ُمو َن َعَلى الّن َسا ِء ِب َما َف ّض َل الّل ُه َب ْع َض ُه ْم َعَلى َب ْع ٍض َوِب َما َأن َف ُقوا ِم ْن

َأ ْم َواِل ِه ْم

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena

Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian

yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan

sebagian dari harta mereka.” (an-Nisa: 34)

Sehingga wanita shalihah harus menempatkan dirinya sebagaimana

mestinya. Dia menghormati dan menghargai suaminya sebagai pemimpin

rumah tangga. Wanita shalihah tidak menganggap dirinya lebih tinggi dari

suami, meskipun secara materi, kedudukan nasab, pendidikan atau secara

umur, si istri berada lebih tinggi di atas suaminya.

Dari Hushain bin Mihshan, bahwa salah seorang bibinya datang menemui

Nabi

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

karena suatu keperluan. Setelah dia

selesai dari keperluannya Nabi

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bertanya,

“Apakah engkau punya suami?”Dia menjawab, iya. Beliau

– shollallohu

‘alaihi wa sallam –

bertanya, “Bagaimana posisimu terhadapnya?” Dia

berkata, aku tidak akan menyepelekan untuk membantu dan menaatinya

kecuali yang memang aku tidak mampu. Maka beliau

– shollallohu ‘alaihi

wa sallam –

bersabda, “Lihatlah bagaimana posisimu terhadapnya, karena

dia adalah surgamu dan nerakamu.” (Riwayat Ahmad dan an-Nasai,

dishahihkan al-Albani)

Dan telah lewat hadits yang menjelaskan seandainya seorang manusia

boleh sujud kepada manusia yang lain niscaya akan diperintahkan kepada

istri untuk sujud kepada suaminya. Hal ini karena keagungan kedudukan

dan hak suami terhadap istrinya.

Kemudian, perlu diperhatikan bagi wanita shalihah, hendaknya dia tidak

memandang hak-hak suami yang wajib dia tunaikan sebagai hak suami

semata yang tidak ada kaitannya dengan hak Allah. Jika suami

menunaikan hak istri maka istri pun menunaikan hak suami, jika suami

tidak menunaikannya maka istri juga enggan menunaikannya.

Tidak demikian! Hendaknya istri menunaikan hak suami dengan

pandangan bahwa itu adalah termasuk amalan taqarrub untuk

mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian dia bisa bersungguh-

10

sungguh dan berbuat sebaik-baiknya dalam melaksanakan kewajibannya

itu. Sampaipun jika suami melalaikan sebagian hak istri, istri yang

shalihah akan tetap menunaikan hak suami dengan mengharap keutamaan

dan pahala dari Allah semata.

Dan wanita shalihah yang mengerti kedudukan suami, juga akan bersikap

baik terhadap kerabat suami terutama orang tua suami. Apalagi meski

seorang laki-laki telah menikah, kewajiban berbakti kepada kedua orang

tua tetap menempati kewajiban kedua setelah kewajiban memenuhi hak

Allah dan Rasul-Nya

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

. Sehingga wanita

shalihah berusaha membantu suaminya dalam hal ini. Dia menjaga

perasaan orang tua suami, menghormati dan berbakti kepadanya sebagai

bentuk baktinya kepada suami.

Menyenangkan dan mencari keridhaan suami

Wanita shalihah senantiasa berusaha menyenangkan suaminya dengan

sikap dan perilakunya, dengan penampilannya, juga dengan perkataannya.

Jika suaminya marah, maka dia berusaha menenangkan suaminya. Wanita

shalihah selalu berusaha mencari keridhaan suami dengan sesuatu yang

tidak bertentangan dengan syariat.

Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

ditanya, siapakah wanita yang

paling baik? Beliau

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

اّلِتي َت ُس ّرُه ِإ َذا َن َظ َر َوُت ِطي ُع ُه ِإ َذا َأ َم َر َوَلا ُت َخاِل ُف ُه ِفي َن ْف ِس َها َو َماِل َها ِب َما َي ْك َرُه

“Yang menyenangkan suami jika dipandangnya, taat jika diperintah

olehnya, dan tidak menyelisihi suami pada urusan diri dan hartanya

dengan sesuatu yang dibenci oleh suami.” (Riwayat Ahmad, an-Nasai,

dishahihkan oleh al-Albani)

Tidak silau dengan dunia

Karena keshalihan, hati seorang wanita tidak akan terpaut dengan dunia.

Wanita shalihah akan mengikatkan hatinya kepada akhirat. Dia sadar

bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara, dan bukan tujuan utama.

Tujuan utama adalah kehidupan di akhirat yang kekal abadi.

Dengan kesadaran semacam ini, wanita shalihah tidak akan silau dengan

dunia, tidak akan merasa iri dengan dunia yang diperoleh orang lain. Dia

11

tidak akan banyak menuntut dunia kepada suami, namun dia akan

berusaha membantu suami menggapai akhirat.

Dengan kesadaran ini pula, wanita shalihah akan memperbanyak

ibadahnya kepada Allah, juga membantu suami beribadah kepada-Nya.

Selain itu, dia juga akan mendidik anak-anak untuk mengetahui hakikat

dunia dan akhirat. Dia mengajarkan akidah-akidah yang benar kepada

anaknya, mengajarkan amal ibadah dan juga akhlak yang mulia.

Memperhatikan ilmu

Ini adalah sifat yang harus dimiliki oleh seorang wanita jika ingin mulai

mengembangkan keshalihan pada dirinya. Karena keshalihan seseorang

tidak mungkin diwujudkan begitu saja tanpa adanya pengetahuan tentang

agama islam. Rasulullah

– shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

َم ْن ُي ِر ْد الّل ُه ِب ِه َخْي ًرا ُي َف ّق ْه ُه ِفي ال ّدي ِن

“Barangsiapa yang Allah kehendaki ada kebaikan padanya, niscaya Allah

pahamkan dia tentang agama.” (Muttafaq ‘alaih)

Dengan ilmu agama, seseorang bisa mendapatkan kebaikan. Dengan ilmu

agama, seseorang bisa mendapatkan keshalihan. Dengan ilmu agama,

seseorang akan mendapatkan kemudahan menuju surga. Rasulullah

shollallohu ‘alaihi wa sallam –

bersabda,

َو َم ْن َسَل َك َط ِري ًقا َي ْطُل ُب ِب ِه ِعْل ًما َس ّه َل الّل ُه َل ُه َط ِري ًقا ِإَلى اْل َجّن ِة

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan

memudahkan baginya jalan menuju surga.” (Muttafaq ‘alaih)

Maka, raihlah keshalihan itu dengan ilmu, dan berdoalah kepada Allah

untuk menganugerahkan keshalihan. Karena orang yang shalih adalah

yang diberi taufik oleh Allah kepada keshalihan.

Wallahul muwaffiq.

a