Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup

​Kondisi Kita Saat Ini Terhadap Al-Qur’an:

Segala puji bagi Allah Rabb bagi sekalian alam; aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Rabb bagi sekalian alam. Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan pesuruh Allah, yang diutus dengan membawa Al-Qur’an yang nyata, Al-Qur’an pembeda antara petunjuk dan kesesatan, antara benar dan salah dan antara keraguan dan keyakinan. Allah menurunkannya supaya kita membaca-nya dengan penuh penghayatan, merenungkannya dengan penuh hikmat, kita bahagia dengannya karena kita jadikan sebagai pelajaran, kita memperlakukannya sebaik mungkin, dan meyakini (kebenarannya) serta berusaha keras untuk menegakkan perintah-perintah dan larangan-larangannya.

Sangat banyak sekali orang yang membaca Al-Qur’an, namun anda tidak menemukan pengaruhnya pada prilaku, akhlak dan pergaulan mereka. Bahkan sebaliknya anda temui sebagian mereka akhlaknya tidak terpuji, pergaulan dan mu`amalatnya kasar dan kaku, baik terhadap keluarga, tetangga ataupun terhadap orang lain. Padahal, demi Allah….. itu bukan akhlak dan prilaku yang patut dimiliki oleh seorang muslim yang suka membaca dan menghayati Kitab Suci Al-Qur’an? Lalu dimana pengaruh Al-Qur’an terhadap jiwa mereka??!

Sesungguhnya berbagai musibah, malapetaka, cobaan yang bertubi-tubi dan berbagai bencana (gempa bumi dan lainnya) yang terjadi di berbagai negeri kaum muslimin adalah sebenarnya akibat dari jauhnya mereka dari Kitab Tuhannya, tidak menjadikannya sebagai acuan di dalam menyelesaikan permasalahan dan tidak mengamalkan kandungannya. Padahal Al-Qur’an adalah kitab yang agung yang mendidik jiwa manusia, membentuk kepribadian bangsa, dan membangun kebu-dayaan. Al-Qur’an merupakan cahaya yang diturunkan Allah supaya kita beriman dan meyakininya, mengambil pelajaran darinya dan agar kita mengamalkan petunjuk dan bimbingan yang terkandung di dalamnya, supaya kita keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.

Jadi, kesalahan dan aib terdapat pada pandangan kita yang tidak dapat melihat cahaya itu, disebabkan mata dan hati kita tertutup rapat dari petunjuk Al-Qur’an, cahaya dan keutamaannya yang tersimpan di dalam Kitab Suci ini:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petun-juk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (Al-Isra’: 9 )

Ibnul Qayyim di dalam karyanya “Al-Fawa’id” berkata: “Setelah manusia (sebagian kaum muslimin. pent.) berpaling dan anti bertahkim (menjadikan sebagai undang-undang) kepada Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam dan berkeyakinan bahwa keduanya tidak cukup dan bahkan mereka lebih mengutamakan pendapat akal, analogi (qiyas), istihsan dan pendapat syaikh, maka hal itu menimbulkan kerusakan di dalam fitrah suci mereka, kegelapan di dalam hati mereka, kekeruhan di dalam pemahaman, dan kedunguan di dalam akal mereka, semua kondisi tersebut telah menyelimuti mereka sampai pada kondisi bahwa anak-anak dididik dalam keadaan dan kondisi seperti itu sedangkan orang-orang yang dewasa menjadi makin tua di atasnya.

Kondisi seperti itu tidak dianggap oleh mereka sebagai kemungkaran dan pada gilirannya datanglah kekuasaan berikutnya yang menjadikan bid`ah sebagai pengganti Sunnah, emosi sebagai pengganti akal, hawa nafsu sebagai pengganti petunjuk, kesesatan sebagai pengganti hidayah, kemunkaran sebagai pengganti yang ma`ruf, kebodohan sebagai pengganti ilmu, riya sebagai pengganti keikhlasan, kebatian sebagai pengganti yang haq, dusta sebagai pengganti kejujuran, berpura-pura sebagai pengganti nasihat dan kezhaliman sebagai pengganti keadilan. Maka yang dominan adalah perkara-perkara batil tersebut dan para pelakunya menjadi orang yang dihormati, padahal sebelumnya yang ditegakkan adalah sebaliknya dan para penegaknya mendapatkan acungan jempol dan pusat perhatian.

Itulah potret kondisi umat manusia yang hidup dan disaksikan oleh Ibnul Qayyim pada paroh pertama dari abad kedelapan hijriyah. Lalu apa kiranya yang akan dikatakan oleh Ibnul Qayyim jika ia melihat pada kondisi kita sekarang?! Sesungguhnya permasalahan sangat rumit dan memprihatinkan sekali, memerlukan langkah-langkah renungan terhadap etika, prilaku dan ibadah kita secara keseluruhan dan menimbangnya dengan neraca kitab Suci Al-Qur’an. Dan setelah merenung dan memperhatikan tersebut, kita harus berintrospeksi diri (muhasabah) lalu memaksanya untuk tunduk dan patuh kepada Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam .

Untuk merealisasikan itu semua, kita harus mema-hami beberapa hikmah dari diturunkannya Al-Qur’an Suci, yang jika kita telah mengetahui dan menga-malkannya, maka urusan-urusan agama dan dunia kita niscaya menjadi baik.

Kita dapat menyimpulkan hikmah dan tuntutan Al-Qur’an tersebut menjadi lima, yaitu :

Membaca Al-Qur’an sebagaimana diturunkan.

Menghayati ayat-ayatnya.

Mengamalkannya.

Sabar dalam menjalankan segala perintahnya.

Berda`wah untuk menjadikannya sebagai aturan kehidupan.

AHDAF QIROATIL QUR’AN (TUJUAN MEMBACA AL QUR’AN)

Sebagai muqaddimah. Saya akan memberikan statu pertanyaan yang harus dijawab dengan Jujur oleh masing-masing diantara kita: Apa sih tujuan yang kita inginkan selama ini ketika kita membaca Al Qur’an? Jawaban masing-masing mungkin saja berbeda-beda.

Dalam desempatan kali ini, saya akan menyampaikan apa yang disampaikan oleh Syaikh DR. Kholid bin Abdil karim dalam kitabnya mafatih tadabburil qur’an tentang 5 tujuan yang harus ada dalam diri kita ketika kita membaca Al Qur’an, % tujuan tersebut terangkum dalam kata Tsumma Sya’’a. Lalu adakah kelima tujuan tersebut dalam diri kita?

Huruf apa saja yang terdapat dalam kata tersebut?

Tsa, mim, mim, Syin, ‘ain, ‘ain.

1. Tsa adalah tsawaab yang artinya pahala.

Hal ini wajar jadi tujuan kita karena Rasulullah saw telah bersabda:

ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : “ ﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﺣﺮﻓﺎ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻠﻪ ﺣﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﺑﻌﺸﺮ ﺃﻣﺜﺎﻟﻬﺎ ﻻ ﺃﻗﻮﻝ ﺍﻟﻢ ﺣﺮﻑ ﻭﻟﻜﻦ ﺃﻟﻒ ﺣﺮﻑ ﻭﻻﻡ ﺣﺮﻑ ﻭﻣﻴﻢ ﺣﺮﻑ ”( )

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. (Rasulullah bersabda) saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, Namur alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” Tirmidzi, hasan shahih.

ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺍﻟﻤﺎﻫﺮ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻊ ﺍﻟﺴﻔﺮﺓ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ ﺍﻟﺒﺮﺭﺓ ، ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻳﺘﺘﻌﺘﻊ ﻓﻴﻪ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻴﻪ ﺷﺎﻕ ﻟﻪ ﺃﺟﺮﺍﻥ ”( )

“Orang yang mahir membaca Al Qur’an maka ia akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti. Adapun orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata, lagi susuah payah maka ia mendapatkan dua pahala” Bukhari

” ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻭﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻳﺸﻔﻌﺎﻥ ﻟﻠﻌﺒﺪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ”( )

“Shaum dan Al Qur’an akan memberikan syafaat lepada seorang hamba pada hari kiamat…”Ahmad. Dishahihkn oleh S.Ahmad Syakir.

” ﻣﺎ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﻗﻮﻡ ﻓﻲ ﺑﻴﺖ ﻣﻦ ﺑﻴﻮﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺘﻠﻮﻥ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻳﺘﺪﺍﺭﺳﻮﻧﻪ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺇﻻ ﻧﺰﻟﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﺴﻜﻴﻨﺔ ، ﻭﻏﺸﻴﺘﻬﻢ ﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ، ﻭﺣﻔﺘﻬﻢ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻭﺫﻛﺮﻫﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻤﻦ ﻋﻨﺪﻩ ”( )

“Tidaklah sekelompok kaum berkumpul disalah satu rumah Allah. Mereka membaca kitabullah dan saling mempelajarinya diantara mereka, melainkan ketenangan akan Turín pada mereka, Ramat akanmeliputi mereka, para malaikat akan mengitari mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada disisi-Nya” Muslim.

2 &3. Mim dan Mim adalah Munajat dan Masalah yaitu untuk bermunajat dan memohon kepada Allah Ta’ala,

Rasulullah saw bersabda

” ﻟﻠﻪ ﺃﺷﺪ ﺃُﺫُﻧﺎً ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺼﻮﺕ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﻳﺠﻬﺮ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻘﻴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﻗﻴﻨﺘﻪ ”( )

“Allah lebih menyimak bacaan Al Qur’an seseorang yang bagus dan keras suaranya daripada pecinta nyanyian yang mendengarkan nyanyiannya.” HR. Ibnu Majah.

Ibnul Mubarok pernah bertanya lepada Sufran Ats Tsauri:

ﺳﺄﻟﺖ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ ﻗﻠﺖ : ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺃﻱ ﺷﻲﺀ ﻳﻨﻮﻱ ﺑﻘﺮﺍﺀﺗﻪ ﻭﺻﻼﺗﻪ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻳﻨﻮﻱ ﺃﻧﻪ ﻳﻨﺎﺟﻲ ﺭﺑﻪ “( )

“Seseorang yang melaksanakan shalat, apa yang ia niatkan dengan bacaan dan shalatnya?” Maka beliau menjawab: “Hendaknya ia berniat bahwa ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya”. (Ta’dzimu Qadris shalat). Seorang muslim hendaknya selalu menghadirkan tujuan ini agar ia bisa merasakan kenikmatan dan kelezatan membaca Firman-firman Allah Ta’ala, yaitu dengan menghadirkan perasaan bahwa Allah senantiasa melihatnya, mendengar bacaannya, memujinya dan membanggakannya dihadapan malaikat-Nya yang terdekat. Ia merasa seakan-akan Allah sedang berdailog langsung dengannya.

ﻭﻋﻦ ﺣﺬﻳﻔﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ” ﺻﻠﻴﺖ ﻣﻊ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺫﺍﺕ ﻟﻴﻠﺔ ﻓﺎﻓﺘﺘﺢ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ ﻓﻘﺮﺃﻫﺎ ، ﺛﻢ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻓﻘﺮﺃﻫﺎ ، ﺛﻢ ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ ﻓﻘﺮﺃﻫﺎ ، ﻳﻘﺮﺃ ﻣﺘﺮﺳﻼ ، ﺇﺫﺍ ﻣﺮ ﺑﺂﻳﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﺗﺴﺒﻴﺢ ﺳﺒﺢ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻣﺮ ﺑﺴﺆﺍﻝ ﺳﺄﻝ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻣﺮ ﺑﺘﻌﻮﺫ ﺗﻌﻮﺫ ”( )

Dari Hudzaifah ra ia berkata: “Pada suatu malam saya pernah shalat bersama Nabi saw maka beliau memulai surat al baqarah dan membacanya hingga selesai/ kemudian surat an nisa dan membacanya hingga selesai. Lalu surat ali imran dan membacanya hingga selesai. Beliau membacanya dengan perlahan-lahan. Apabila beliau meleawati ayat yang mengandung tasbih beliaupun bertasbih. Dan apabila melewati ayat ayat yang mengandung permohonan maka beliaupun berdoa. Dan apabila beliau melewat ayat yang mengandung perlindungan maka beliaupun meminta perlindungan.”

Demikianlah gambaran bermunajat dengan Al Qur’an, yaitu bacaan yang hidup, dimana seorang hamba menyadari apa yang sedang dia baca? Kenapa membacanya? Siapa yang ia ajak bicara dengan bacaannya tersebut? Apa yang ia butuhkan dari Allah? Dan iapun mengetahui kewajibannya terhadap Al Qur’an, yaitu harus mengagungkan dan mensucikannya.

Ibnul Qayyim rh mengatakan:

” ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺩﺕ ﺍﻻﻧﺘﻔﺎﻉ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺎﺟﻤﻊ ﻗﻠﺒﻚ ﻋﻨﺪ ﺗﻼﻭﺗﻪ ﻭﺳﻤﺎﻋـــــﻪ ، ﻭﺃﻟﻖ ﺳﻤﻌﻚ ، ﻭﺍﺣﻀﺮ ﺣﻀﻮﺭ ﻣﻦ ﻳﺨﺎﻃﺒﻪ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺗﻜﻠﻢ ﺑﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻣﻨﻪ ﺇﻟﻴﻪ ، ﻓﺈﻧﻪ ﺧﻄﺎﺏ ﻣﻨﻪ ﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻟﺴﺎﻥ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “ ﺍﻫـ( )

“Apabila engkau hendak mengambil manfaat dari Al Qur’an, maka kumpulkanlah hatimu ketika sedang membaca dan mendengarkan Al Qur’an. Julurkan pendengaranmu dan hadirkan hatimu, seakan engkau;lah obyek yang diajal bicara oleh Allah Ta’ala/ Sesungguhny Dia mengajakmu berbicara dengan perantara lisan Rasul-Nya.” Al Fawaid.

Ingatlah selalu. Bahwa dalam bermunajat dengan Al qur’an, terkumpul lima makna yang terangkum dalam ungkapan: harosun ma’a

Bahwa Allah ha: habba yuhibbuka, sin:sami’a yasma’uka, mim;madaha yamdahuka, ‘ain: ‘atho yu’thika.

4. Syin: Syifaau, yaitu ketika kita membaca Al Qur’an hendaknya kita bertujuan untuk berobat dengannya,

Hal ini karena Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya:

﴿ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀﺗْﻜُﻢ ﻣَّﻮْﻋِﻈَﺔٌ ﻣِّﻦ ﺭَّﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﺷِﻔَﺎﺀ ﻟِّﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭﺭِ ﻭَﻫُﺪًﻯ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟِّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﴾

“ Hai manusia, sesungguhnya talah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) didalam dada dan petunjuk serta Ramat bagi orang-orang yang beriman” Yunus:57

ﻭَﻧُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟِّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺇَﻻَّ ﺧَﺴَﺎﺭًﺍ﴾

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan Ramat bagi orang-orang beriman. Dan Al Qur’an itu tidaklah menambah bagi orang-orang yang dzalim selain kerugian” Al Israau:82

﴿ ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻫُﺪًﻯ ﻭَﺷِﻔَﺎﺀ

“Katakanlah: ‘Al Qur’an itu adalah petunjuk dan obat penawar bagi orang-orang yang beriman” Fushshilat:44

Al Qur’an adalah obat bagi hati dari berbagai penyakit, baik penyakit syahwat maupun syubhat, dan bahkan Al Qur’an dengan idzin Allah bisa mengobati penyakit-penyakit yang lainnya. Dalam Silsilah al ahadits ash shahihah disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah saw:

“ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ”( ) “Sebaik-baik obat adalah Al Qur’an”

ﻭﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺍﻣﺮﺃﺓ ﺗﻌﺎﻟﺠﻬﺎ ، ﺃﻭ ﺗﺮﻗﻴﻬﺎ ، ﻓﻘﺎﻝ : ﻋﺎﻟﺠﻴﻬﺎ ﺑﻜﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ “( )

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw pernah menemuinya saat ia sedang diobati atau diruqyah oleh seorang perempuan. Maka beliau bersabda Obatilah ia demgan Al Qur’an.

Penyembuhan dengan Al Qur’an dapat diperoleh melalui dua hal: Pertama: membacanya ketika shalat, terutama diwaktu malam yang akhir dengan menghadirkan niat berobat,

Kedua: Ruqyah dengan menggunakan Al Qur’an. Ludah yang keluar daari bacaan ayat-ayat al Qur’an memiliki pengaruh yang besar bagi kekuatan dan kebugaran, kesehatan dan kesmbuhan yang tidak dapat dicapai oleh raciman daun-daunan apapun atau ramuan apotek manapun.

05.  ‘Ain: adalah Ilmu, yaitu hendaknya tujuan kita membaca Al Qur’an adalah untuk memperoleh ilmu,

dengan cara memahami dan mentadabburi(memperhatikan,memikirkan dan merenungkan) isi dan kandungannya,

Inilah tujuan yang pokok dan agung diturunkannya Al Qur’an, dan tujuan perintah Allah agar kita membacanya. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﺃَﻧﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ ﻟِّﻴَﺪَّﺑَّﺮُﻭﺍ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻟِﻴَﺘَﺬَﻛَّﺮَ ﺃُﻭْﻟُﻮﺍ ﺍﻷَﻟْﺒَﺎﺏِ ﴾

“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-nya dan supaya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pemikiran” Shaad:29

﴿ ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﺬِﻛْﺮَﻯ ﻟِﻤَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻗَﻠْﺐٌ ﺃَﻭْ ﺃَﻟْﻘَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﻫُﻮَ ﺷَﻬِﻴﺪٌ ﴾

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” QAAF:37

Ibnu Mas’ud berkata:

” ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺩﺗﻢ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﺎﻧﺜﺮﻭﺍ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺈﻥ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻢ ﺍﻷﻭﻟﻴﻦ ﻭﺍﻵﺧﺮﻳﻦ ” ﺍﻫـ( )

“Apabila Anda menginginkan ilmu, maka bukalah Al Qur’an ini, karena didalamnya terkandung ilmu Amat terdahulu dan yang akan datang. (mushannaf Ibnu Abi syaibah)

Al Hasan bin Ali:

” ﺇﻥ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﺭﺃﻭﺍ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺭﺳﺎﺋﻞ ﻣﻦ ﺭﺑﻬﻢ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺘﺪﺑﺮﻭﻧﻬﺎ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ ، ﻭﻳﺘﻔﻘﺪﻭﻧﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ” ﺍﻫـ ( )

“Orang-orang sebelum kalian memandang bahwa A; Qur’an adalah surat-surat dari rabb mereka, sehingga mereka mentadabburinya diwaktu malam dan mencarinya diwaktu siang/” (At tibyan)

ILMU apa yang kita inginkan dari Al Qur’an?

Ibnul Qayyim berkata dalam syairnya: “Ilmu terbagi menjadi tiga bagian Dan tidak ada bagian yang keempat dan setiap kebenaran memiliki kejelasan

Pertama, ilmu berkaitan dengan sifat-sifat Ilah dan perbuatan-nya, demikian juga nama-nama Ar Rahman, serta perintah dan larangan yang merupakan bagian dari agama-Nya.

Dan pahalanya di akhirat merupakan ilmu yang kedua

Dan setiap yang terdapat didalam Al Qur’an dan As Sunnah, yang datang dari utusan yang membawa Al Qur’an adalah yang ketiganya.

Bagaimana Metodenya?

Hendaknya kita membaca Al Qur’an seperti halnya seorang siswa yang membaca buku pelajarannya dimalam waktu ujian, yaitu bacaannya orang yang berkonsentrasi penuh dan ersiap-siap untuk diuji habis-habisan.

Dan tentunya kita semua dalam kehidupan ini sedang diuji oleh Allah melalui Al Qur’an ini. Maukah kita betul-betul menjadikannya sebagai sumber ilmu agar kita mendapatkan petunjuk yang jelas untuk meraih keridhoan Allah Ta’ala?

Diantara bentuk-bentuk praktek membaca Al Qur’an dengan tujuan mencari ilmu adalah dengan membuat makna-makna dan pertanyaan-pertanyaan tertantu dalam benak kita yang hendak dicarikan jawabannya didalam Al Qur’an. Misalnya setiap kali kita mengalami suatu situasi atau kondisi, hendaknya kita bertanya: “Dimana hal tersebut disebutkan dalam Al Qur’an? Apakah hal tersebut tertera dalam Al Qur’an?” dsb.

Menerima Ilmu yang terdapat dalam Al Qur’an akan bisa menghidupkan hati, sebagaimana air yang menyuburkan tanah Allah berfirman:

﴿ ﺃَﻟَﻢْ ﻳَﺄْﻥِ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻥ ﺗَﺨْﺸَﻊَ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻟِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﺰَﻝَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻻ ﻳَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻞُ ﻓَﻄَﺎﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻷَﻣَﺪُ ﻓَﻘَﺴَﺖْ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻭَﻛَﺜِﻴﺮٌ ﻣِّﻨْﻬُﻢْ ﻓَﺎﺳِﻘُﻮﻥَ﴿﴾ﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤْﻴِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﻗَﺪْ ﺑَﻴَّﻨَّﺎ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻵﻳَﺎﺕِ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ ﴾

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan (tunduk) lepada kebenaran yang telah Turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka menjadi orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan mereka ada;ah orang-orang yang fasik.” Al Hadid:16-17

Diantara tugas Rasulullah saw adalah untuk membacakan lepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan lepada merka al kitab dan al hikmah. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Ali Imran:164.

﴿ ﻟَﻘَﺪْ ﻣَﻦَّ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆﻣِﻨِﻴﻦَ ﺇِﺫْ ﺑَﻌَﺚَ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﺭَﺳُﻮﻻً ﻣِّﻦْ ﺃَﻧﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻳُﺰَﻛِّﻴﻬِﻢْ ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻬُﻢُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَﺇِﻥ ﻛَﺎﻧُﻮﺍْ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻞُ ﻟَﻔِﻲ ﺿَﻼﻝٍ ﻣُّﺒِﻴﻦٍ﴾

Kesucian manusia dan perbaikannya memiliki dua sisi: pertama, ilmu, pengajaran, penjelasan, keyakinan dll yang semakna dengannya. Kedua, amal, pendidikan, latihan, perangai dll dari istilah-istilah yang semakna dengannya.

Oleh karena itulah tujuan membaca Al Qur’an yang lainnya, yang tidak kalah pentingnya adalah kita bertujuan untuk mengamalkannya.

Bukankah dalam Al Qur’an kata orang-orang yang beriman senantiasa disandingkan dengan orang-orang yang beramal shalíh?!

Hasan bin Ali: ( ) “ ﺍﻗﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﺎ ﻧﻬﺎﻙ ﻓﺈﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻨﻬﻚ ﻓﻠﻴﺴﺖ ﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ”

“Bacalah Al Qur’an sehingga bisa mencegahmu(melakukan dosa). Bila Belum demikian maka (pada hakikatnya) Anda Belem membacanya” Kanzul ‘ummal.

Ali bin Abi Thalib

” ﻳﺎ ﺣﻤﻠﺔ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺃﻭ ﻳﺎ ﺣﻤﻠﺔ ﺍﻟﻌﻠﻢ ؛ ﺍﻋﻤﻠﻮﺍ ﺑﻪ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻤﺎ ﻋﻠﻢ ، ﻭﻭﺍﻓﻖ ﻋﻠﻤﻪ ﻋﻤﻠﻪ ﺍﻫـ ( )

“Wahai pembawa Al Qur’an, wahai pembawa ilmu; ketahuilah, bahwa seorang yang berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang telah ia ketahui, dan amalnnya (senantiasa) sesuai dengan ilmunya” (At tibyan dan kanzul ‘ummal)

Perhatikanlah hadits ini:

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺴﻠﻤﻲ ﻋﻦ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻭﺃﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ : ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﺮﺅﻫﻢ ﺍﻟﻌﺸﺮ ، ﻓﻼ ﻳﺠﺎﻭﺯﻭﻧﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﻋﺸﺮ ﺃﺧﺮﻯ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻌﻠﻤﻮﺍ ﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻤﻞ ، ﻓﺘﻌﻠﻤﻨﺎ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﺟﻤﻴﻌﺎ ”( )

Dari Abu Abdirrahman as salami dari Utsman, Ibnu mas’ud dan Ubay bin Ka’ab. Bahwa Rasulullah saw senantiasa membacakan sepuluh ayat lepada mereka. Mereka tidak pindah lepada sepuluh ayat yang lainsebelum mempelajari pengamalannya, Sehingga kami mempelajari Al Qur’an dan pengamalannya sekaligus, (tafsir al Qurthubi dan Ath Thabari)

“ ﻳﺘﺼﻔﺢ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻴﺆﺩﺏ ﺑﻪ ﻧﻔﺴﻪ ﻫﻤﺘﻪ ﻣﺘﻰ ﺃﻛﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺘﻘﻴﻦ ؟ ﻣﺘﻰ ﺃﻛﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﺎﺷﻌﻴﻦ ؟ ﻣﺘﻰ ﺃﻛﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺎﺑﺮﻳﻦ ؟ ﻣﺘﻰ ﺃﺯﻫﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ؟ ﻣﺘﻰ ﺃﻧﻬﻰ ﻧﻔﺴﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻬﻮﻯ ؟ “ ﺍﻫـ ( )

Al Ajurri berkata: “(Hendaknya) yang menjadi perhatian seseorang ketika membuka lembaran-lembaran Al Qur’an adalah tujuan untuk mendidik jiwanya; kapan saya bisa termasuk orang-orang bertaqwa? kapan saya bisa termasuk orang-orang yang khusyu’? kapan saya bisa termasuk orang-orang bersabar? Kapan saya bisa zuhud di dunia? Kapan saya bisa mencegah diri dari mengikuyi hawa nafsu?

Bagaimana mempraktikan tujuan ini dan metodenya?

Hendaknya kita berhenti disetiap ayat al Qur’an, untuk memperhatikan apa isi yang dikandungnya; adakah perintah atau keutamaan yang hendaknya kita berhias dengannya? Atau adakah larangan atau bahaya yang harus kita jauhi?

Hendaknya kita membaca Al Qur’an dengan niat dan tujuan untuk mencari solusi permasalahan atau memperbaiki kesalahan. Hendaknya kita betul-betul menjadikan Al Qur’an ini sebagai pedoman hidup kita. Lalu kita mengamalkannya sebaik mungkin, agar kita mendapatkan ridha Allah Ta’ala.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s