Archive | November 2017

Faqih fid Diin

Bismillah,

Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma suatu ketika berkhutbah di atas mimbar seraya berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :

ﻣَﻦْ ﻳُﺮِﺩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻪِ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻳُﻔَﻘِّﻬْﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama.”

[ HR.Bukhari dalam beberapa tempat pada kitab Shahih-nya (no.71, 3116, 7312) dan Muslim dalam kitab Shahih-nya (no. 1038)].

Di antara manusia, ada yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ketahui kebaikan di hatinya maka Allah berikan taufik kepadanya, dan di antara mereka ada yang Allah ketahui kejelekan di hatinya maka Allah menghinakan dan merendahkannya.

Orang yang Allah ketahui kebaikan di hatinya berarti Allah menginginkan kebaikan untuknya, dan bila Allah menghendaki kebaikan baginya, Allah faqihkan dia dalam agama-Nya dan Allah berikan padanya ilmu tentang syariat-Nya yang tidak diberikan kepada seorang pun dari manusia.

Hal ini menunjukkan sepantasnya manusia itu bersemangat dengan semangat yang tinggi dan bersungguh-sungguh untuk memahami/ mempelajari agama Allah, dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila menghendaki terhadap sesuatu, Allah akan mempersiapkan sebab-sebab untuk mendapatkannya.

Dan di antara sebab seorang itu faqih dalam agama adalah dengan mempelajarinya dan bersungguh-sungguh untuk mencapai martabat yang mulia ini.

Kefaqihan dalam agama tidak sebatas hanya kepada pengilmuan saja tapi juga dibarengi dengan pengamalan. Karena itu bila seseorang mengetahui sesuatu dari syariat Allah akan tetapi ia tidak mengamalkannya maka dia bukanlah orang yang faqih, sampaipun seandainya ia menghapal kitab yang paling besar dalam ilmu fiqih (dan kitab-kitab lain dari cabang ilmu yang lain –pen) dan memahaminya akan tetapi ia tidak mengamalkannya maka orang seperti ini tidaklah dinamakan faqih tapi dia hanya disebut qari (pembaca).

Dengan demikian orang yang faqih adalah orang yang beramal dengan apa yang diilmuinya. Ia berilmu terlebih dahulu kemudian diikutkannya dengan amalannya. (Syarhu Riyadhish Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/497-498)

Sulaiman bin Khalaf Al-Baji rahimahullah berkata :

“Pernyataan fiqh fid din menyatakan bahwa Allah menghendaki kebaikan pada hamba-hamba-Nya sehingga siapa yang Allah inginkan kebaikan padanya Allah faqihkan dia dalam agamanya. Adapun al-khair (kebaikan) yang disebutkan di dalam hadits (maknanya) adalah masuk al-jannah dan selamat dari api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ﻓَﻤَﻦْ ﺯُﺣْﺰِﺡَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَ ﺃُﺩْﺧِﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ

“Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam al-jannah maka sungguh ia beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 185) (Al-Muntaqa Syarhul Muwaththa Malik, 7/209)

Dengan demikian orang yang tidak tafaqquh fid din yakni tidak mempelajari agama Islam (kaidah-kaidahnya) dan cabang-cabang ilmu yang berhubungan dengannya maka sungguh ia terhalang dari kebaikan yang diinginkan. Orang yang tidak mengetahui perkara-perkara agamanya, dia bukanlah seorang yang faqih (orang yang paham) dan bukan pula orang yang mencari pemahaman. Maka tepat sekali bila dikatakan kepadanya (bahwa dia adalah) orang yang tidak diinginkan kebaikan baginya (oleh Allah). Demikian pula di sini ada penerangan jelasnya keutamaan ahlul ilmi di atas seluruh manusia dan keutamaan tafaqquh fid din (belajar/ memahami agama) di atas seluruh ilmu (Fathul Bari, 1/207). Karena dengan ilmu tersebut akan menuntun seseorang kepada taqwallah (bertakwa kepada Allah).”

[Syarah Shahih Muslim, 7/128].

Disarikan dari berbagai sumber yang valid dan terpercaya

Iklan

Tasyakur

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Ada tiga hal yang harus dilakukan manusia ketika menerima nikmat Allah agar ia dipandang sebagai hamba yang bersyukur kepada-Nya. Pertama: secara batiniah ia harus mengakui telah menerima nikmat dari Allah. Kedua:

secara lahiriah ia mengucapkan syukur atas nikmat itu.

Ketiga: ia harus menjadikan nikmat itu sebagai pendorong untuk lebih giat beribadah kepada Allah Swt. Bila ketiga hal tersebut telah berpadu dalam diri seorang hamba, maka ia layak dikatakan sebagai hamba yang bersyukur kepada Allah.

Tiga hal tersebut sebenarnya perpaduan antara hati, lisan dan perbuatan. Hati menjadi media untuk merasakan dan meyakini bahwa Allah-lah yang telah memberikan nikmat itu, bukan yang lain. Hati senantiasa merasakan kebaikan Allah sehingga mengakui sifat-sifat Maha Luhur yang dimiliki-Nya. Pengakuan ini akan membuka pintu ke arah

ma’rifatullah dan mahabbatullah. Lisan sebagai media untuk memuji kebaikan-Nya itu, sementara perbuatan merupakan transformasi kesyukuran itu yang nampak dalam bentuk ketaatan beribadah dan pencegahan diri dari segala macam bentuk kemaksiatan.

Perpaduan hati, lisan, dan perbuatan bukan hanya prasyarat dalam bersyukur kepada Allah, namun jauh lebih mendasar daripada itu juga pada pengertian iman. Iman tidak sempurna kalau hanya ada di hati, sementara tidak ada dalam lisan dan perbuatan. Hilangnya iman dari salah satu komponen itu menyiratkan ketidaksempurnaannya. Maka, ketiganya harus padu dalam diri orang-orang yang beriman kepada Allah Swt.

Penjelasan ini membawa kita pada pengertian lebih lanjut bahwa bersyukur dan beriman kepada Allah laksana dua sisi mata uang, keduanya tidak bisa dipisahkan. Hal ini nampak dalam penegasan Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ [4] ayat 147:

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.”

Pada ayat tersebut bersyukur dan beriman digandengkan Allah. Orang yang benar bersyukurnya pada Allah pastilah imannya juga benar. Demikian pula, manakala seseorang memiliki iman yang benar kepada Allah, niscaya ia akan menjadi pribadi yang selalu mensyukuri nikmat Allah. Jika keduanya berpadu dalam diri seseorang maka tidak ada alasan bagi Allah untuk menimpakan siksa padanya. Allah Maha Tahu siapa di antara manusia yang benar-benar beriman dan bersyukur kepada-Nya.

Manusia yang senantiasa bersyukur kepada Allah memiliki kemuliaan dan keistimewaan dibandingkan yang lain. Ia akan selalu merasakan nikmat Allah dalam hidupnya. Rasa syukur dan merasakan kehadiran nikmat itu selalu bersama. Semakin banyak seseorang bersyukur, semakin banyak nikmat Allah yang dirasakannya. Semakin banyak nikmat yang ia rasakan, semakin dalam rasa syukurnya pada Allah. Keberadaan orang-orang yang seperti ini akan selalu disertai oleh anugerah Allah. Di mana pun ia berada dan kondisi apa pun yang ia alami, Allah selalu melimpahkan keberkahan padanya. Allah Swt. telah menyebutkan hal itu dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am [6] ayat 53:

“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang yang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, ‘Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?’ (Allah berfirman): ‘Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?’”

Kekayaan dan kemiskinan adalah cara Allah menguji manusia, siapa di antara mereka yang bersyukur kepada-Nya. Kekayaan adalah ujian seberapa besar manusia masih mengingat Allah ketika hidupnya secara materi diberi Allah kecukupan bahkan berlebih. Kemiskinan juga ujian seberapa besar manusia mampu bersabar dalam keadaan hidup yang secara materi kekurangan. Di antara orang-orang kaya ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. Di antara orang-orang miskin pun ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. Namun, seperti yang diinformasikan Allah pada ayat di atas, kebanyakan di antara orang-orang kaya tidak begitu percaya bahwa di tengah kekurangan hidup orang-orang miskin ada anugerah Allah yang tak ternilai. Mereka menyangka anugerah Allah itu hanya terlimpah pada mereka dengan bukti kelebihan harta yang mereka miliki. Padahal Allah Maha Mengetahui siapa di antara manusia yang bersyukur dan Maha Bijaksana dalam menentukan anugerah apa yang terbaik untuk diberikan kepada hamba-hamba yang bersyukur pada-Nya.

Menyimak cara yang ditunjukkan manusia dalam menyikapi nikmat Allah, ada dua kelompok manusia yang bisa disebutkan: yang bersyukur dan yang kufur. Terhadap kedua kelompok manusia ini Allah menunjukkan sikap yang berbeda. Manusia yang bersyukur akan mendapatkan bimbingan Allah ke jalan yang diridhai-Nya, di samping adanya tambahan nikmat yang akan diperolehnya. Sedangkan manusia yang kufur atau yang mengingkari nikmat Allah, maka Allah akan biarkan ia terus berada dalam kesesatan dan pemberian Allah yang terbaik baginya hanyalah siksaan yang pedih. Allah adalah Dzat yang tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya, namun Dia amat murka pada siapa pun yang tidak pandai berterima kasih kepada-Nya.

Simaklah beberapa firman Allah berikut ini. Tersebut dalam Al-Qur’an Surat Al-Insan [76] ayat 3:

“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”

Dalam Surat Ibrahim [14] ayat 7 Allah berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Bukankah Allah sudah sangat baik kepada manusia dengan menunjukkan jalan yang lurus kepada mereka? Namun manusia tetaplah pada sikapnya. Bagi yang menundukkan bisikan hawa nafsunya, jadilah mereka sebaga hamba-hamba yang bersyukur pada Allah. Tetapi bagi yang ditundukkan oleh hawa nafsunya, jadilah mereka sebagai hamba-hamba yang kufur kepada-Nya. Setiap keputusan yang diambil selalu disertai resiko. Manusia berhak menentukan apa saja yang menjadi pilihannya dan setiap pilihan ada pertanggungjawabannya di sisi Allah Swt. Yang bersyukur akan memperoleh tambahan nikmat yang berlipat ganda dari Allah, sementara yang kufur akan memperoleh siksa yang amat pedih dari-Nya.

Bersyukur sesungguhnya merupakan jalan pintas yang dapat ditempuh setiap hamba Allah untuk mendekatkan diri pada-Nya. Bersyukur juga merupakan cara cepat untuk meraih kecintaan Allah. Karena bersyukur merupakan ibadah yang cepat mengundang turunnya kasih sayang Allah, maka Iblis berusaha semaksimal mungkin menjauhkan manusia dari sifat syukur ini. Iblis berjanji di hadapan Allah akan menjerumuskan manusia dari jalan yang lurus dan membuat mereka untuk tidak bersyukur kepada-Nya. Hal ini diceritakan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf [7] ayat 17, di dalamnya Iblis mengatakan:

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

Tidak bisa dipungkiri bahwa usaha Iblis membuat manusia untuk tidak bersyukur kepada Allah menunjukkan hasilnya. Begitu banyak jumlah manusia yang kufur terhadap nikmat-nikmat Allah. Iblis terkadang membisikkan pada hati manusia pengertian bahwa nikmat Allah itu hanyalah dalam wujud uang, sehingga orang-orang miskin yang tidak memiliki banyak uang, banyak yang merasa tidak mendapat nikmat Allah. Mereka tidak mau mengungkapkan rasa syukurnya pada Allah. Bahkan, tidak jarang mereka menempuh cara-cara yang diharamkan Allah demi memperoleh uang. Mereka lupa bahwa nikmat Allah tidak bisa dibatasi hanya dalam bentuk uang. Nikmat Allah mewujud di seluruh alam ini dengan berbagai macam bentuk. Ada yang wujudnya kekayaan, jabatan, ketenangan hidup, ketentraman jiwa, kesehatan, kekuatan untuk selalu taat pada-Nya, dan sebagainya. Disebabkan mereka membatasi pengertian nikmat Allah, maka mereka pun sangat terbatas dalam merasakan kehadiran nikmat dalam hidup mereka. Akhirnya, mereka terjerumus dalam jurang kufur nikmat.

Ada pula di antara orang-orang kaya dan para pejabat yang berkecukupan namun lupa bahwa semua yang diraihnya adalah anugerah Allah. Mereka menyangka apa pun yang mereka peroleh sebagai hasil kerja keras dan usaha mereka yang tak kenal lelah. Mereka berlepas diri dari hubungan dengan Tuhan. Mereka mengagung-agungkan kemampuan, kecerdasan, dan kelihaian dalam melihat peluang yang mereka miliki. Akhirnya, mereka pun terjerumus ke jurang kufur nikmat. Semua itu adalah wujud kesuksesan Iblis memperdaya manusia untuk jauh dari sifat syukur pada-Nya. Tentang hal itu Allah berfirman dalam Surat Saba’ [34] ayat 13:

“…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”

Rasul Saw. adalah sosok manusia yang ingin sekali menjadi hamba yang paling banyak bersyukur kepada Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari-Muslim, yang bersumber dari ‘Aisyah ra., disebutkan bahwa demi menjadi seorang yang banyak bersyukur beliau selalu mengerjakan qiyamul lail setiap malam, hingga membengkak kakinya. Melihat kenyataan itu ‘Aisyah memberanikan diri bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau sangat giat beribadah, bahkan hingga kedua telapak kakimu membengkak? Bukankah Allah telah menjaminmu masuk ke dalam Surga dan seluruh dosamu pun telah diampuni?” Terhadap pertanyaan itu Nabi Saw. menjawab, “Wahai ‘Aisyah, bukankah aku belum menjadi hamba Allah yang banyak bersyukur?”

Pada saat beliau mengakui dirinya belum menjadi hamba Allah yang banyak bersyukur, kenyataan yang terlihat adalah kedua telapak kakinya membengkak karena banyak mendirikan qiyamul lail. Tidak ada di antara manusia yang mampu menandingi banyaknya ibadah seperti yang beliau kerjakan. Tapi beliau masih tetap merasa ungkapan syukur yang telah dilakukannya belum mencukupi. Beliau selalu merasa bahwa kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah padanya jauh lebih banyak dibandingkan dengan ibadah yang telah dipersembahkannya kepada Allah. Kesadaran inilah yang melahirkan energi luar biasa pada diri Nabi sehingga mampu beribadah kepada Allah jauh melebihi ibadah yang dilakukan orang lain, bahkan yang dilakukan oleh para Nabi yang lain.

Sementara itu, yang sangat luar biasa pada diri Nabi Saw. adalah jaminan untuk masuk Surga dan ampunan dosa yang diberikan Allah padanya tidak membuat ibadahnya berkurang. Beliau justru semakin tekun. Jaminan masuk Surga dan ampunan dosa itu merupakan nikmat Allah yang tak ternilai harganya. Untuk membalas satu nikmat itu saja, ibadah yang beliau lakukan tidak akan mencukupi meskipun dalam rentang waktu seumur hidup. Beliau sangat menyadari Kemahabaikan Allah. Semakin banyak nikmat yang diberikan Allah, semakin giat Rasulullah mengabdi kepada-Nya. Dan, karena semakin giat pengabdian Rasul kepada-Nya, Dia pun semakin menambah nikmat-Nya pada beliau. Keadaan itu akan berjalan terus menerus tanpa putus, sehingga hubungan Allah dengan beliau selalu terjalin tanpa terhalangi oleh batasan ruang dan waktu.

Bersyukur kepada Allah adalah kewajiban yang harus dilakukan manusia disebabkan banyaknya nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Tapi tidak mudah untuk menunaikan kewajiban tersebut, karena begitu banyak tipu daya yang dibentangkan Iblis agar manusia tidak bersyukur kepada Allah. Oleh karena itu, sebagai manusia yang lemah kita harus memohon pertolongan kepada Allah agar Dia menguatkan hati kita agar tetap bersyukur kepada-Nya. Imam Ahmad dan Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang berisi nasehat Rasul kepada Mu’adz bin Jabbal. Nabi Saw. bersabda:

“Wahai Mu’adz, hendaklah engkau tidak lupa pada setiap selesai melaksanakan shalat untuk mengucapkan doa: ‘Ya Allah, berilah pertolongan padaku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah untuk-Mu.”

Nasehat Agar Selalu Mensyukuri Nikmat Allah

‘Umar bin Abdul Aziz berkata, “Ikatlah nikmat Allah dengan selalu bersyukur kepada-Nya.”

Hasan Al-Bashri berkata, “Bila engkau sering menyebut-nyebut nikmat yang Allah berikan padamu, itu merupakan pertanda adanya rasa syukur dalam hatimu.”

Abu Al-Mughirah berkata, “Setiap saat aku selalu tenggelam dalam samudera nikmat Allah Yang Maha Luas sehingga aku tak tahu lagi bagaimana cara mensyukurinya.”

Abu Hazim berakata, “Salah satu cara bersyukur yang bisa kau lakukan adalah, bila kau melihat sesuatu yang baik, ceritakanlah. Tapi, bila kau menyaksikan sesuatu yang buruk, diamlah dan simpanlah ia hanya untuk dirimu.”

Sesungguhnya banyak nasehat yang telah terucap, namun bagi hamba Allah yang selalu rindu pada Tuhan-nya satu nasehat pun sudah cukup baginya untuk terdorong selalu bersyukur kepada Allah. Maka bersyukurlah, niscaya nikmat itu akan ditambah Allah untukmu. Wallahu a’lam.

“Waspadalah bila kau lihat Tuhan-mu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu, sementara kau terus menerus mengerjakan maksiat terhadap-Nya.”

(Mutiara Nahjul Balaghah , hal. 122)

Proses terjadinya Alam semesta menurut ilmu sains dan Al Qur’an

Alam semesta adalah suatu hamparan atau ruangan yang sangat luas yang tak di ketahui atau tak dapat di bayangkan luasnya. alam semesta diduga bentuknya melengkung dan dalam keadaan memuai serta terdiri atas galaksi-galaksi atau siste bintang yang jumlahnya ribuan.

Bumi adalah salah satu bagian dari alam semesta ini. maka tak heran terciptanya bumi ini berhubungan erat dengan terbentuknya alam semesta.

berikut adalah teori” yang menjelaskan tentang terbentuknya alam semesta menurut ilmu sains ( para ahli sains) dan menurut Al- Qur’an.

beberapa teori para ahli :

Teori Ledakan Besar

Enstein adalah orang yang mempopulerkan teori ini.teori ini didasarkan pada penelitian yang ditemukan bahwa alam semesta ini mengembang,seluruh planet dan bintang terus bergerak saling menjauhi seolah-olah berasal dari satu tempat yang sama.

pada tahun 1915 Enstein menyempurnakan teorinya tentang relativitas,yang kemudian ia terapkan dalam pendistribusian zat di ruang angkasa.kemudian tahun 1917 ada massa bahan yang hampir seragam dimana keseimbanganya tak menentu antara kekuatan gravitasi dan kekuatan dorong kosmis lain yang tak dikenal.semua ini kemudian dapat dipecahkan pada tahun 1922 oleh ahli fisika dari rusia.ia mengatakan bahwa kekuatan tolak tak berpengaruh,bahkan seluruh alam semesta terus mengembang dan bergerak saling menjauhi dengan keceptan tinggi.

Teori kant – Laplace

sejak jaman sebelum masehi,para ahli telah banyak berfikir dan menganalisis tentang gejala” yang terjdi di alam.mulai abad 18 para ahli telah memikirkan tentang proses terjadinya bumi. salah satunya adalah teori kabut (nebula) yang dikemukakan Immanuel Kant (1755) dan Piere de Laplace (1796) yang keudian terkenal dengan teori Kant – Laplace. dalam teori ini dekemukakan bahwa alam semesta terdapat gas yang kemudian berkumpul menjadi kabut ( nebula ). gaya tarik menarik antar gas ini kemudian membentuk kabut yang sangat besar dan berputar semakin cepat. dalam proses perputaran yang sangat cepat ini, kabut bagian katulistiwa terlempar memisah dan memadat ( karena pendinginan ). bagian inilah yang membentuk planet” di alam semseta.

Dari beberapa teori para ahli di atas kemudian para ahli astronomi terus berusaha memecahkan teori terbentuknya alam semesta. hingga pada era modern ini para ahli astronomi baik dari segi pengamatan maupun teori dengan jelas mengungkapkan bahwa pada suatu saat seluruh alam semesta masih berupa ‘gumpalan asap’  (yaitu komposisi gas yang sangat rapat dan tak tembus pandang, The First Three Minutes, a Modern View of the Origin of the Universe, Weinberg, hal. 94-105.). Hal ini merupakan sebuah prinsip yang tak diragukan lagi menurut standar astronomi moderen. Para ilmuwan sekarang dapat melihat pembentukan bintang-bintang baru dari peninggalan ‘gumpalan asap’ semacam itu.

Sebuah bintang terbentuk dari gumpalan gas dan asap (nebula), yang merupakan peninggalan dari ‘asap’ yang menjadi asal kejadian alam semesta. (The Space Atlas, Heather dan Henbest, hal. 50)

Nebula Laguna adalah sebuah gumpalan gas dan asap yang berdiameter sekitar 60 tahun cahaya. Ia dipendarkan oleh radiasi ultraviolet dari bintang panas yang baru saja terbentuk di dalam gumpalan tersebut. (Horizons, Exploring the Universe , Seeds, gambar 9, dari Association of Universities for Research in Astronomy, Inc.)

Jauh sebelum para ahli dapat menemukan teori tersebut, Allah telah memberi tau manusia tentang kejadian terbentuknaya alam semesta melalui ayat-ayatnya yang di muat dalam Al Qur’an.

Bintang-bintang yang berkilauan yang kita lihat di malam hari, sebagaimana seluruh alam semesta, dulunya berupa materi ‘asap’ semacam itu. Allah telah berfirman di dalam Al Qur’an:

ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯٰ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﻫِﻲَ ﺩُﺧَﺎﻥٌ

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap ,… (Al Fushshiilat, 41: 11)

Karena bumi dan langit di atasnya (matahari, bulan, bintang, planet, galaksi dan lain-lain) terbentuk dari ‘gumpalan asap’ yang sama, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa matahari dan bumi dahulu merupakan satu kesatuan. Kemudian mereka berpisah dan terbentuk dari ‘asap’ yang homogen ini. Allah telah berfirman:

ﺃَﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺮَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻛَﺎﻧَﺘَﺎ ﺭَﺗْﻘًﺎ ﻓَﻔَﺘَﻘْﻨَﺎﻫُﻤَﺎ

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu , kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Al Anbiya, 21:30)

Dr. Alfred Kroner adalah salah satu ahli ilmu bumi terkemuka. Ia adalah Profesor geologi dan Kepala Departemen Geologi pada Institute of Geosciences, Johannes Gutenberg University, Mainz, Jerman. Ia berkata: “Jika menilik tempat asal Muhammad… Saya pikir sangat tidak mungkin jika ia bisa mengetahui sesuatu semisal asal mula alam semesta dari materi yang satu, karena para ilmuwan saja baru mengetahui hal ini dalam beberapa tahun yang lalu melalui berbagai cara yang rumit dan dengan teknologi mutakhir. Inilah kenyataannya.” Ia juga berkata: “Seseorang yang tidak mengetahui apapun tentang fisika inti 14 abad yang lalu, menurut saya, tidak akan pernah bisa mengetahui, melalui pemikirannya sendiri, bahwa dulunya bumi dan langit berasal dari hal yang satu.”

Jadi bagaimana menurut anda, masih hebat para ahli atau Al Qur’an,,,,???! 🙂

SIFAT – SIFAT MUSLIM IDEAL

Akhlaq seaorang mu’min

Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt.

Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.

Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim.

1. Salimul Aqidah (Good Faith)

Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162).

Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

Beberapa contoh dari penerapan Salimul Aqidah, yaitu:

1) Tidak mengkafirkan seorang muslim;

2) Tidak mengedepankan makhluq atas Khaliq;

3) Mengingkari orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah swt dan tidak bergabung dalam majlis mereka;

4) Mengesakan Allah swt dalam Rububiah dan Uluhiah;

5) Tidak menyekutukan Allah swt, dalam Asma-Nya, sifat-Nya dan Af’al-Nya;

6) Tidak meminta berkah dengan mengusap-usap kuburan;

7) Mempelajari berbagai aliran yang membahas Asma’ dan Sifat dan mengikuti madzhab salaf;

8) Mengetahui batasan-batasan wala’ dan bara’;

9) Berteman dengan orang-orang shalih dan meneladaninya;

10) Meyakini terhapusnya dosa dengan taubat Nashuh;

11) Memprediksikan datangnya kematian kapan saja;

12) Meyakini bahwa masa depan ada di tangan Islam;

13) Berusaha meraih rasa manisnya iman;

14) Berusaha meraih rasa manisnya ibadah;

15) Merasakan adanya para malaikat mulia yang mencatat amalnya;

16) Merasakan adanya istighfar para malaikat dan do’a mereka.

2. Shahihul Ibadah (Right Devotion)

Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ’shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

Beberapa aplikasi dalam kehidupan sehari-hari dari shahihul ibadah, yaitu:

1. Khusyu’ dalam shalat;

2. Qiyamul-Lail minimal satu kali dalam sepekan;

3. Bersedekah;

4. Berpuasa sunnat minimal dua hari dalam satu bulan;

5. Menjaga organ tubuh (dari dosa);

6. Haji jika mampu;

7. Khusyu’ saat membaca Al Qur’an;

8. Sekali Khatam Al Qur’an setiap dua bulan;

9. Banyak dzikir kepada Allah swt sembari menghafalkan bacaan ringan;

10. Banyak berdo’a dengan memperhatikan syarat dan adabnya;

11. Banyak bertaubat;

12. Selalu memperbaharui niat dan meluruskannya;

13. Memerintahkan yang Ma’ruf;

14. Mencegah yang Munkar;

15. Ziarah kubur untuk mengambil ‘Ibrah;

16. Merutinkan shalat sunnah Rawatib;

17. Senantiasa bertafakkur;

18. Beri’tikaf satu malam pada setiap bulannya;

3. Matinul Khuluq (Strong Character)

Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setkal muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung’ (QS 68:4).

Aplikasi dari matinul khuluq yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1. Tidak ‘inad (membangkang);

2. Tidak banyak mengobrol;

3. Sedikit bercanda;

4. Tidak berbisik tentang sesuatu yang bathil;

5. Tidak hiqd (menyimpan kemarahan);

6. Tidak hasad;

7. Memiliki rasa malu untuk berbuat kesalahan;

8. Menjalin hubungan baik dengan tetangga;

9. Tawadhu’ tanpa merendahkan diri;

10. Berani;

11. Halus;

12. Menjenguk orang sakit;

13. Komitmen dengan adab meminta idzin;

14. Berterimakasih kepada orang yang berbuat baik;

15. Merendahkan suara;

16. Menyambung persaudaraan (Shilatur-Rahim);

17. Komitmen dengan adab mendengar;

18. Komitmen dengan adab berbicara;

19. Memuliakan tamu;

20. Mengumbar senyum di depan orang lain;

21. Menjawab salam

4. Qowiyyul Jismi (Physical Power)

Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya.

Kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).

Aplikasi dari matinul khuluq yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Mengikuti petunjuk kesehatan dalam makanan dan minuman, seperti:

a. Membersihkan peralatan makan dan minum;

b. Menjauhi makanan yang diawetkan dan mengkonsumsi minuman alami;

c. Mengatur waktu-waktu makan;

d. Mampu menyediakan makanan;

e. Tidak berlebihan dalam mengkonsumsi yang berlemak;

f. Tidak berlebihan dalam mengkonsumsi garam;

g. Tidak berlebihan dalam mengkomsumsi gula;

h. Selektif dalam memilih produk makanan

2) Mengikuti petunjuk kesehatan tentang tidur dan bangun tidur, seperti:

a. Tidur 6 – 8 jam dan bangun sebelum fajar;

b. Berlatih 10 – 15 menit setiap hari;

c. Berjalan 2 – 3 jam setiap pekan;

d. Mengobati diri sendiri;

e. Tidak mempergunakan obat tanpa meminta petunjuk

5. Mutsaqqoful Fikri (Thinking Brilliantly)

Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia antuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219).

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatka pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.

Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

Aplikasi dari mutsaqqoful fikri yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Hafal juz 28 dan 29 dengan baik;

2) Membaca tafsir Al Qur’an juz 28 dan 29;

3) Mengaitkan antara Al Qur’an dengan realita;

4) Mengahafalkan seluruh hadits dari Arba’in An Nawaiah;

5) Menghafal 50 Riyadhush-Shalihin;

6) Mengkaji marhalah Madaniah dan menguasai karakteristiknya;

7) Mengenal sirah 20 syuhada dari kalangan sahabat ;

8) Mengetahui hukum Zakat;

9) Mengetahui fiqih Haji;

10) Membaca tujuh jam setiap pekan di luar spesialisasinya;

11) Mengetahui sisi-sisi Syumuliyatul Islam;

12) Mengetahui problematika kaum muslimin nasional dan internasional;

13) Mengetahui apa kerugian dunia akibat kemunduran kaum muslimin;

14) Mengetahui urgensi Khilafah dan kesatuan kaum muslimin;

15) Mengetahui arus pemikiran Islam kontemporer;

16) Menghadiri orientasi dan seminar-seminar kita;

17) Mengetahui dan mengulas tiga risalah ;

18) Mengetahui dan mengulas risalah Aqaid;

19) Memahami amal jama’I dan taat;

20) Membantah suara-suara miring yang dilontarkan kepada kita;

21) Mengetahui bagaimana proses berdirinya negara Israil:

22) Mengetahui informasi baru dari problematika kontemporer;

23) Memiliki kemampuan mengulas apa yang ia baca;

24) Menyebar luaskan apa saja yang diterbitkan oleh koran dan terbitan-terbitan kita;

25) Berpartisipasi dalam melontarkan dan memecahkan masalah

6. Mujahadatun Linafsihi (Continence)

Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setkal diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

Aplikasi dari mujahadatun linafsihi yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Memerangi dorongan-dorongan nafsu;

2) Tidak berlebihan dalam mengkonsumsi yang mubah;

3) Selalu menyertakan niat jihad;

4) Menjadikan dirinya bersama orang-orang baik;

5) Memakan apa yang disuguhkan dengan penuh keridhaan;

6) Menyumbangkan sebagian hartanya untuk amal Islami;

7) Sabar atas bencana;

8) Menyesuaikan perbuatan dengan ucapannya;

9) Menerima dan memikul beban-beban da’wah.

7. Harishun ‘ala Waqtihi (Good time management)

Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: ‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’

Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

Aplikasi dari harishun ala waqtihi yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Memperhatikan adab Islam dalam berkunjung dan mempersingkat pemenuhan hajatnya;

2) Memelihara janji umum dan khusus;

3) Mengisi waktunya dengan hal-hal yang berfaedah dan bermanfaat.

8. Munazhzhamun fi Syu’unihi (Well Organized)

Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu udusán dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

Aplikasi dari munzhzhamun fi syuunihi yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Shalat sebagai penata waktunya;

2) Teratur di dalam rumah dan kerjanya;

3) Merapikan ide-ide dan pikiran-pikirannya;

4) Disiplin dalam bekerja;

5) Memberitahukan gurunya problematika yang muncul

9. Qodirun ‘alal Kasbi (Independent)

Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

Aplikasi dari qodirun alal kasbi yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1) Bekerja dan berpenghasilan;

2) Tidak berambisi menjadi pegawai negeri;

3) Mengutamakan spesialisasi langka yang penting dan dinamis;

4) Berusaha memiliki spesialisasi;

5) Ekonomis dalam nafkah ;

6) Mengutamakan produk umat Islam;

7) Tidak membelanjakan harta kepada non muslim;

8) Bersemangat untuk memperbaiki kualitas produk dengan harga sesuai

10. Naafi’un Lighoirihi (Giving Contribution)

Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tirák mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.

Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).

Aplikasi dari nafi’un lighoirihi yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:1) Komitmen dengan adab Islam di dalam rumah;

2) Melaksanakan hak-hak pasangannya (suami atau istri);

3) Membantu istrinya;

4) Melaksanakan hak-ahak anak;

5) Memberi hadiah kepada tetangga;

6) Memberikan pelayanan umum karena Allah swt;

7) Memberikan sesuatu dari yang dimiliki;

8) Mendekati orang lain;

9) Mendorong orang lain berbuat baik;

10) Membantu yang membutuhkan;

11) Membantu yang kesulitan;

12) Membantu yang terkena musibah;

13) Menolong yang terzhalimi;

14) Berusaha memenuhi hajat orang lain

15) Bersemangat menda’wahi istrinya, anak-anaknya, dan kerabatnya;

16) Memberi makan orang lain;

17) Mendo’akan yang bersin.

Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.

KITAB FIQH MADZHAB SYAFI’I : SAFINATUN NAJAH

ﻣﺘﻦ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﺍﻟﻨﺠﺎﺓ

MATAN SAFINATUN NAJAH

ﻓﻲ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ

ﻟﻠﺸﻴﺦ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻟﻔﺎﺿﻞ : ﺳﺎﻟﻢ ﺑﻦ ﺳﻤﻴﺮ ﺍﻟﺤﻀﺮﻣﻲ

ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ

ﻧﻔﻌﻨﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻌﻠﻮﻣﻪ ﺁﻣﻴﻦ

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ :

‏( ﻟﻜﻞ ﺟﻌﻠﻨﺎ ﻣﻨﻜﻢ ﺷﺮﻋﺔ ﻭﻣﻨﻬﺎﺟﺎً ‏)

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ، ﻭﺑﻪ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺭ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻟﺪﻳﻦ ،ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺧﺎﺗﻢ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ،ﻭﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ، ﻭﻻﺣﻮﻝ ﻭﻻ ﻗﻮﺓ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻠﻲ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji hanya kepada Allah Tuhan semesta alam, dan kepadaNya jualah kita memohon pertolongan atas segala perkara dunia dan akhirat. Dan shalawat serta salamNya semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW Penutup para nabi, juga terhadap keluarga, sahabat sekalian. Dan tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.

ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻥ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺧﻤﺴﺔ : ﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﻻﺇﻟﻪ ﺇﻻﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻗﺎﻡ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻭﺇﻳﺘﺎﺀ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ , ﻭ ﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ، ﻭﺣﺞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﻄﺎﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﺳﺒﻴﻼ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻥ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺳﺘﺔ : ﺃﻥ ﺗﺆﻣﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ، ﻭﻣﻼﺋﻜﺘﻪ، ﻭﻛﺘﺒﻪ ، ﻭﺑﺎﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ، ﻭﺑﺎﻟﻘﺪﺭ ﺧﻴﺮﻩ ﻭﺷﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻭﻣﻌﻨﻰ ﻻﺇﻟﻪ ﺇﻻﺍﻟﻠﻪ : ﻻﻣﻌﺒﻮﺩ ﺑﺤﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺟﻮﺩ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ

BAB I : “AQIDAH”

(Fasal Satu)

Rukun Islam ada lima perkara, yaitu:

1. Bersaksi bahwa tiada ada tuhan yang haq kecuali Alloh Subhaanahu wa Ta’aala dan Nabi Muhammad Sholalloohu ‘Alayhi wa Sallam adalah utusanNya.

2. Mendirikan sholat (lima waktu).

3. Menunaikan zakat.

4. Puasa Romadhan.

5. Ibadah haji ke baitullah bagi yang telah mampu melaksanakannya.

(Fasal Dua)

Rukun iman ada enam, yaitu:

1. Beriman kepada Alloh Subhaanahu wa Ta’aala.

2. Beriman kepada sekalian Mala’ikat

3. Beriman dengan segala kitab-kitab suci.

4. Beriman dengan sekalian Rosul-rosul.

5. Beriman dengan hari kiamat.

6. Beriman dengan ketentuan baik dan buruknya dari Alloh Subhaanahu wa Ta’aala.

(Fasal Tiga)

Adapun arti “La ilaha illah”, yaitu: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dalam kenyataan selain Alloh.

ﻓﺼﻞ ‏) ﻋﻼﻣﺎﺕ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﺛﻼﺙ : ﺗﻤﺎﻡ ﺧﻤﺲ ﻋﺸﺮﺓ ﺳﻨﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﻛﺮﻭﺍﻷﻧﺜﻰ ، ﻭﺍﻻﺣﺘﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻷﻧﺜﻰ ﻟﺘﺴﻊ ﺳﻨﻴﻦ ، ﻭ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻓﻲ ﺍﻷﻧﺜﻰ ﻟﺘﺴﻊ ﺳﻨﻴﻦ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺇﺟﺰﺍﺀ ﺍﻟﺤَﺠَﺮْ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ : ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺜﻼﺛﺔ ﺃﺣﺠﺎﺭ ، ﻭﺃﻥ ﻳﻨﻘﻲ ﺍﻟﻤﺤﻞ ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺠﻒ ﺍﻟﻨﺠﺲ ، ﻭﻻ ﻳﻨﺘﻘﻞ ، ﻭﻻ ﻳﻄﺮﺃ ﻋﻠﻴﻪ ﺁﺧﺮ ، ﻭﻻ ﻳﺠﺎﻭﺯ ﺻﻔﺤﺘﻪ ﻭﺣﺸﻔﺘﻪ ، ﻭﻻ ﻳﺼﻴﺒﻪ ﻣﺎﺀ ، ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻷﺣﺠﺎﺭ ﻃﺎﻫﺮﺓ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻓﺮﻭﺽ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺳﺘﺔ : ﺍﻷﻭﻝ : ﺍﻟﻨﻴﺔ ، ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﻏﺴﻞ ﺍﻟﻮﺟﻪ ، ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﻏﺴﻞ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﻤﺮﻓﻘﻴﻦ ، ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ : ﻣﺴﺢ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺃﺱ ، ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ : ﻏﺴﻞ ﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﻜﻌﺒﻴﻦ ، ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ : ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﻨﻴﺔ : ﻗﺼﺪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻣﻘﺘﺮﻧﺎ ﺑﻔﻌﻠﻪ ، ﻭﻣﺤﻠﻬﺎ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻭﺍﻟﺘﻠﻔﻆ ﺑﻬﺎ ﺳﻨﺔ ، ﻭﻭﻗﺘﻬﺎ ﻋﻨﺪ ﻏﺴﻞ ﺃﻭﻝ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﺟﻪ ، ﻭﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻘﺪﻡ ﻋﻀﻮ ﻋﻠﻰ ﻋﻀﻮ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻗﻠﻴﻞ ﻭﻛﺜﻴﺮ : ﺍﻟﻘﻠﻴﻞ ﻣﺎﺩﻭﻥ ﺍﻟﻘﻠﺘﻴﻦ ، ﻭﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﻗﻠﺘﺎﻥ ﻓﺄﻛﺜﺮ . ﺍﻟﻘﻠﻴﻞ ﻳﺘﻨﺠﺲ ﺑﻮﻗﻮﻉ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻴﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﻐﻴﺮ . ﻭﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﻻ ﻳﺘﻨﺠﺲ ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﺗﻐﻴﺮﻃﻌﻤﻪ ﺃﻭ ﻟﻮﻧﻪ ﺃﻭ ﺭﻳﺤﻪ .

ﻑ ‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻣﻮﺟﺒﺎﺕ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺳﺘﺔ : ﺇﻳﻼﺝ ﺍﻟﺤﺸﻔﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺝ ، ﻭﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﻨﻰ ﻭﺍﻟﺤﻴﺾ ﻭﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ﻭﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ﻭﺍﻟﻤﻮﺕ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻓﺮﻭﺽ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺍﺛﻨﺎﻥ : ﺍﻟﻨﻴﺔ ، ﻭﺗﻌﻤﻴﻢ ﺍﻟﺒﺪﻥ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻋﺸﺮﺓ : ﺍﻹﺳﻼﻡ ، ﻭﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ، ﻭﺍﻟﻨﻘﺎﺀ ، ﻋﻦ ﺍﻟﺤﻴﺾ ، ﻭﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ، ﻭﻋﻤﺎ ﻳﻤﻨﻊ ﻭﺻﻮﻝ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺒﺸﺮﺓ ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﻣﺎ ﻳﻐﻴﺮ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻄﻬﻮﺭ ، ﻭﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ، ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﻟﺪﺍﺋﻢ ﺍﻟﺤﺪﺙ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻧﻮﺍ ﻗﺾ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ‏( ﺍﻷﻭﻝ ‏) ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺴﺒﻴﻠﻴﻦ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺃﻭ ﺩﺑﺮ ﺭﻳﺢ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﺇﻻ ﺍﻟﻤﻨﻰ ، ‏( ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ‏) ﺯﻭﺍﻝ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﺑﻨﻮﻡ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﺇﻻ ﻧﻮﻡ ﻗﺎﻋﺪ ، ﻣﻤﻜﻦ ﻣﻘﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻷﺭﺽ ، ‏( ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ‏) ﺍﻟﺘﻘﺎﺀ ﺑﺸﺮﺗﻲ ﺭﺟﻞ ﻭﺍﻣﺮﺃﺓ ﻛﺒﻴﺮﻳﻦ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺣﺎﺋﻞ ، ‏( ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ‏) ﻣﺲ ﻗﺒﻞ ﺍﻵﺩﻣﻲ ﺃﻭ ﺣﻠﻘﺔ ﺩﺑﺮﻩ ﺑﺒﻄﻦ ﺍﻟﺮﺍﺣﺔ ﺃﻭ ﺑﻄﻮﻥ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻣﻦ ﺍﻧﺘﻘﺾ ﻭﺿﻮﺅﻩ ﺣﺮﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺭﺑﻌﻪ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻄﻮﺍﻑ ﻭﻣﺲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻭﺣﻤﻠﻪ .

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻨﺐ ﺳﺘﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻄﻮﺍﻑ ﻭﻣﺲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻭﺣﻤﻠﻪ ﻭﺍﻟﻠﺒﺚ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ .

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺑﺎﻟﺤﻴﺾ ﻋﺸﺮﺓ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻄﻮﺍﻑ ﻭﻣﺲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻭﺣﻤﻠﻪ ﻭﺍﻟﻠﺒﺚ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﻟﺼﻮﻡ ﻭﺍﻟﻄﻼﻕ ﻭﺍﻟﻤﺮﻭﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺇﻥ ﺧﺎﻓﺖ ﺗﻠﻮﻳﺜﻪ ﻭﺍﻻﺳﺘﻤﺘﺎﻉ ﺑﻤﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﺒﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﺛﻼﺛﺔ : ﻓﻘﺪ ﺍﻟﻤﺎﺀ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺽ ، ﻭﺍﻻﺣﺘﻴﺎﺝ ﺇﻟﻴﻪ ﻟﻌﻄﺶ ﺣﻴﻮﺍﻥ ﻣﺤﺘﺮﻡ .

ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺤﺘﺮﻡ ﺳﺘﺔ : ﺗﺎﺭﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺰﺍﻧﻲ ﺍﻟﻤﺤﺼﻦ ﻭﺍﻟﻤﺮﺗﺪ ﻭﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﺍﻟﺤﺮﺑﻲ ﻭﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﻌﻘﻮﺭ ﻭﺍﻟﺨﻨﺰﻳﺮ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﻋﺸﺮﺓ : ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺘﺮﺍﺏ ﻭﺍﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻃﺎﻫﺮﺍ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺴﺘﻌﻤﻼ ﻭﻻ ﻳﺨﺎﻟﻄﻪ ﺩﻗﻴﻖ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻭﺃﻥ ﻳﻘﺼﺪﻩ ﻭﺃﻥ ﻳﻤﺴﺢ ﻭﺟﻬﻪ ﻭﻳﺪﻳﻪ ﺑﻀﺮﺑﺘﻴﻦ ﻭﺃﻥ ﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺃﻭﻻ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﺘﻬﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻗﺒﻠﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﺑﻌﺪ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﻴﻤﻢ ﻟﻜﻞ ﻓﺮﺽ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻓﺮﻭﺽ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﺧﻤﺴﺔ : ﺍﻷﻭﻝ : ﻧﻘﻞ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ، ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺍﻟﻨﻴﺔ ، ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﻣﺴﺢ ﺍﻟﻮﺟﻪ ، ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ : ﻣﺴﺢ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺮﻓﻘﻴﻦ ، ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ : ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﺤﺘﻴﻦ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻣﺒﻄﻼﺕ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﻣﺎ ﺃﺑﻄﻞ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻭﺍﻟﺮﺩﺓ ﻭﺗﻮﻫﻢ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺇﻥ ﺗﻴﻤﻢ ﻟﻔﻘﺪﻩ ﻭﺍﻟﺸﻚ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻈﻬﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺛﻼﺛﺔ : ﺍﻟﺨﻤﺮ ﺇﺫﺍ ﺗﺨﻠﻠﺖ ﺑﻨﻔﺴﻬﺎ . ﻭﺟﻠﺪ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﺇﺫﺍ ﺩﺑﻎ ﻭﻣﺎ ﺻﺎﺭﺍ ﺣﻴﻮﺍﻧﺎ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺛﻼﺛﻪ : ﻣﻐﻠﻈﺔ ﻭﻣﺨﻔﻔﺔ ﻭﻣﺘﻮﺳﻄﺔ . ﺍﻟﻤﻐﻠﻈﺔ : ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻭﺍﻟﺨﻨﺰﻳﺮ ﻭﻓﺮﻉ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ . ﻭﺍﻟﻤﺨﻔﻔﺔ : ﺑﻮﻝ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﻄﻌﻢ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻠﺒﻦ ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻠﻎ ﺍﻟﺤﻮﻟﻴﻦ . ﻭﺍﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ : ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺎﺕ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﻤﻐﻠﻈﺔ : ﺗﻄﻬﺮ ﺑﺴﺒﻊ ﻏﺴﻼﺕ ﺑﻌﺪ ﺇﺯﺍﻟﺔ ﻋﻴﻨﻬﺎ ،ﺇﺣﺪﺍﻫﻦ ﺑﺘﺮﺍﺏ . ﻭﺍﻟﻤﺨﻔﻔﺔ : ﺗﻄﻬﺮ ﺑﺮﺵ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻣﻊ ﺍﻟﻐﻠﺒﺔ ﻭﺇﺯﺍﻟﺔ ﻋﻴﻨﻬﺎ .

ﻭﺍﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ ﺗﻨﻘﺴﻢ ﺇﻟﻰ ﻗﺴﻤﻴﻦ : ﻋﻴﻨﻴﺔ ﻭﺣﻜﻤﻴﻪ . ﺍﻟﻌﻴﻨﻴﺔ : ﺍﻟﺘﻲ ﻟﻬﺎ ﻟﻮﻥ ﻭﺭﻳﺢ ﻭﻃﻌﻢ ﻓﻼ ﺑﺪ ﻣﻦ ﺇﺯﺍﻟﺔ ﻟﻮﻧﻬﺎ ﻭﺭﻳﺤﻬﺎ ﻭﻃﻌﻤﻬﺎ . ﻭﺍﻟﺤﻜﻤﻴﺔ : ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻟﻮﻥ ﻟﻬﺎ ﻭﻻ ﺭﻳﺢ ﻭﻻﻃﻌﻢ ﻟﻬﺎ ﻳﻜﻔﻴﻚ ﺟﺮﻱ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻴﻬﺎ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻗﻞ ﺍﻟﺤﻴﺾ : ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﻪ ﻭﻏﺎﻟﺒﺔ ﺳﺘﺔ ﺃﻭﺳﺒﻊ ﻭﺃﻛﺜﺮﻩ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮﺓ ﻳﻮﻣﺎ ﺑﻠﻴﺎﻟﻴﻬﺎ . ﺃﻗﻞ ﺍﻟﻄﻬﺮ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺤﻴﻀﺘﻴﻦ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮﺓ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻏﺎﻟﺒﻪ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﺃﻭ ﺛﻼﺛﺔ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻻﺣﺪ ﻷﻛﺜﺮﺓ . ﺃﻗﻞ ﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ﻣﺠﺔ ﻭﻏﺎﻟﺒﺔ ﺃﺭﺑﻌﻮﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﺃﻛﺜﺮﺓ ﺳﺘﻮﻥ ﻳﻮﻣﺎ

BAB II : “THAHARAH”

(Fasal Satu)

Adapun tanda-tanda balig (mencapai usia remaja) seseorang ada tiga, yaitu:

1. Berumur seorang laki-laki atau perempuan lima belas tahun.

2. Bermimpi (junub) terhadap laki-laki dan perempuan ketika melewati sembilan tahun.

3. Keluar darah haidh sesudah berumur sembilan tahun .

(Fasal Dua)

Syarat boleh menggunakan batu untuk beristinja ada delapan, yaitu:

1. Menggunakan tiga batu.

2. Mensucikan tempat keluar najis dengan batu tersebut.

3. Najis tersebut tidak kering.

4. Najis tersebut tidak berpindah.

5. Tempat istinja tersebut tidak terkena benda yang lain sekalipun tidak najis.

6. Najis tersebut tidak berpindah tempat istinja (lubang kemaluan belakang dan kepala kemaluan depan) .

7. Najis tersebut tidak terkena air .

8. Batu tersebut suci.

(Fasal Tiga)

Rukun wudhu ada enam, yaitu:

1. Niat.

2. Membasuh muka

3. Membasuh kedua tangan serta siku.

4. Menyapu sebagian kepala.

5. Membasuh kedua kaki serta buku lali.

6. Tertib.

(Fasal Empat)

Niat adalah menyengaja suatu (perbuatan) berbarengan (bersamaan) dengan perbuatannya didalam hati. Adapun mengucapkan niat tersebut maka hukumnya sunnah, dan waktunya ketika pertama membasuh sebagian muka.

Adapun tertib yang dimaksud adalah tidak mendahulukan satu anggota terhadap anggota yag lain (sebagaimana yang telah tersebut).

(Fasal Lima)

Air terbagi kepada dua macam; Air yang sedikit. Dan air yang banyak.

Adapun air yang sedikit adalah air yang kurang dari dua qullah . Dan air yang banyak itu adalah yang sampai dua qullah atau lebih.

Air yang sedikit akan menjadi najis dengan sebab tertimpa najis kedalamnya, sekalipun tidak berubah. Adapun air yang banyak maka tdak akan menjadi najis kecuali air tersebut telah berubah warna, rasa atau baunya.

(Fasal Enam)

Yang mewajibkan mandi ada enam perkara, yaitu:

1- Memasukkan kemaluan (kepala dzakar) ke dalam farji (kemaluan) perempuan.

2- Keluar air mani.

3- Mati.

4- Keluar darah haidh [datang bulan].

5- Keluar darah nifas [darah yang keluar setelah melahirkan].

6- Melahirkan.

(Fasal Tujuh)

Fardhu–fardhu (rukun) mandi yang diwajibkan ada dua perkara, yaitu:

1- Niat mandi wajib.

2- Menyampaikan air ke seluruh tubuh dengan sempurna.

(Fasal Delapan)

Syarat– Syarat Wudhu` ada sepuluh, yaitu:

1- Islam.

2- Tamyiz (cukup umur dan ber’akal).

3- Suci dari haidh dan nifas.

4- Lepas dari segala hal dan sesuatu yang bisa menghalang sampai air ke kulit.

5- Tidak ada sesuatu disalah satu anggota wudhu` yang merubah keaslian air.

6- Mengetahui bahwa hukum wudhu` tersebut adalah wajib.

7- Tidak boleh beri`tiqad (berkeyakinan) bahwa salah satu dari fardhu–fardhu wudhu` hukumnya sunnah (tidak wajib).

8- Kesucian air wudhu` tersebut.

9- Masuk waktu sholat yang dikerjakan.

10- Muwalat .

Dua syarat terakhir ini khusus untuk da`im al-hadats .

(Fasal Sembilan)

Yang membatalkan wudhu` ada empat, yaitu:

1- Apa bila keluar sesuatu dari salahsatu kemaluan seperti angin dan lainnya, kecuali air mani.

2- Hilang akal seperti tidur dan lain lain, kecuali tidur dalam keadaan duduk rapat bagian punggung dan pantatnya dengan tempat duduknya, sehingga yakin tidak keluar angin sewaktu tidur tersebut

3- Bersentuhan antara kulit laki–laki dengan kulit perempuan yang bukan muhrim baginya dan tidak ada penghalang antara dua kulit tersebut seperti kain dll.

”Mahram”: (orang yang haram dinikahi seperti saudara kandung).

4- Menyentuh kemaluan orang lain atau dirinya sendiri atau menyentuh tempat pelipis dubur (kerucut sekeliling) dengan telapak tangan atau telapak jarinya.

(Fasal Sepuluh)

Larangan bagi orang yang berhadats kecil ada tiga, yaitu:

1- Shalat, fardhu maupun sunnah.

2- Thowaaf (keliling ka`bah tujuh kali).

3- Menyentuh kitab suci Al-Qur`an atau mengangkatnya.

Larangan bagi orang yang berhadats besar (junub) ada lima, yaitu:

1- Sholat.

2- Thowaaf.

3- Menyentuh Al-Qur`an.

4- Membaca Al-Qur`an.

5- I`tikaf (berdiam di masjid).

Larangan bagi perempuan yang sedang haidh ada sepuluh, yaitu:

1- Sholat.

2- Thowaaf.

3- Menyentuh Al-Qur`an.

4- Membaca Al-Qur`an.

5- Puasa

6- I’tikaf di masjid.

7- Masuk ke dalam masjid sekalipun hanya untuk sekedar lewat jika ia takut akan mengotori masjid tersebut.

8- Cerai, karena itu, di larang suami menceraikan isterinya dalam keadaan haidh.

9- Jima`.

10- Bersenang – senang dengan isteri di antara pusar dan lutut.

(Fasal Sebelas)

Sebab – Sebab yang membolehkan tayammum ada tiga hal, yaitu:

1- Tidak ada air untuk berwudhu`.

2- Ada penyakit yang mengakibatkan tidak boleh memakai air.

3- Ada air hanya sekedar mencukupi kebutuhan minum manusia atau binatang yang Muhtaram .

Adapun selain Muhtaram ada enam macam, yaitu:

1- Orang yang meninggalkan sholat wajib.

2- kafir Harbiy (yang boleh di bunuh).

3- Murtad.

4- Penzina dalam keadaan Ihshan (orang yang sudah ber’aqad nikah yang sah).

5- Anjing yang menyalak (tidak menta`ati pemiliknya atau tidak boleh dipelihara).

6- Babi.

(Fasal Dua Belas)

Syarat–Syarat mengerjakan tayammum ada sepuluh, yaitu:

1- Bertayammum dengan tanah.

2- Menggunakan tanah yang suci tidak terkena najis.

3- Tidak pernah di pakai sebelumnya (untuk tayammaum yang fardhu).

4- Murni dari campuran yang lain seperti tepung dan seumpamanya.

5- Mengqoshod atau menghendaki (berniat) bahwa sapuan dengan tanah tersebut untuk di jadikan tayammum.

6- Masuk waktu shalat fardhu tersebut, sebelum tayammum.

7- Bertayammum tiap kali sholat fardhu tiba.

8- Berhati – hati dan bersungguh – sungguh dalam mencari arah qiblat sebelum memulai tayammum.

9- Menyapu muka dan dua tangannya dengan dua kali mengusap tanah tayammum secara masing – masing (terpisah).

10- Menghilangkan segala najis di badan terlebih dahulu.

(Fasal Tiga Belas)

Rukun-rukun tayammum ada lima, yaitu:

1. Memindah debu.

2. Niat.

3. Mengusap wajah.

4. Mengusap kedua belah tangan sampai siku.

5. Tertib antara dua usapan.

(Fasal Empat Belas)

Perkara yang membatalkan tayammum ada tiga, yaitu:

1. Semua yang membatalkan wudhu’.

2. Murtad.

3. Ragu-ragu terdapatnya air, apabila dia bertayammum karena tidak ada air.

(Fasal Lima Belas)

Perkara yang menjadi suci dari yang asalnya najis ada tiga, yaitu:

1. Khamar (air yang diperah dari anggur) apabila telah menjadi cuka.

2. Kulit binatang yang disamak.

3. Semua najis yang telah berubah menjadi binatang.

(Fasal Enam Belas)

Macam macam najis ada tiga, yaitu:

1. Najis besar (Mughallazoh), yaitu Anjing, Babi atau yang lahir dari salah satunya.

2. Najis ringan (Mukhaffafah), yaitu air kencing bayi yang tidak makan, selain susu dari ibunya, dan umurnya belum sampai dua tahun.

3. Najis sedang (Mutawassithoh), yaitu semua najis selain dua yang diatas.

(Fasal Tujuh Belas)

Cara menyucikan najis-najis:

Najis besar (Mughallazoh), menyucikannya dengan membasuh sebanyak tujuh kali, salah satunya menggunakan debu, setelah hilang ‘ayin (benda) yang najis.

Najis ringan (Mukhaffafah), menyucikannya dengan memercikkan air secara menyeluruh dan menghilangkan ‘ayin yang najis.

Najis sedang (Mutawassithoh) terbagi dua bagian, yaitu:

1. ‘Ainiyyah yaitu najis yang masih nampak warna, bau, atau rasanya, maka cara menyucikan najis ini dengan menghilangkan sifat najis yang masih ada.

2. Hukmiyyah, yaitu najis yang tidak nampak warna, bau dan rasanya, maka cara menyucikan najis ini cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis tersebut.

(Fasal Delapan Belas)

Darah haid yang keluar paling sedikit sehari semalam, namun pada umumnya selama enam atau tujuh hari, dan tidak akan lebih dari 15 hari. Paling sedikit masa suci antara dua haid adalah 15 hari, namun pada umumnya 24 atau 23 hari, dan tidak terbatas untuk masa sucinya. Paling sedikit masa nifas adalah sekejap, pada umumnya 40 hari, dan tidak akan melebihi dari 60 hari.

ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻋﺬﺍﺭ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﺛﻨﺎﻥ : ﺍﻟﻨﻮﻡ ﻭﺍﻟﻨﺴﻴﺎﻥ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ : ﻃﻬﺎﺭﺓ ﺍﻟﺤﺪﺛﻴﻦ ﻭﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻭﺍﻟﺒﺪﻥ ﻭﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﺳﺘﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ ﻭﺍﺳﺘﻘﺒﺎﻝ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﻔﺮﻳﻀﺘﺔ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﻌﺘﻘﺪ ﻓﺮﺿﺎ ﻣﻦ ﻓﺮﻭﺿﻬﺎ ﺳﻨﺔ ﻭﺍﺟﺘﻨﺎﺏ ﺍﻟﻤﺒﻄﻼﺕ .

ﺍﻷﺣﺪﺍﺙ ﺍﺛﻨﺎﻥ : ﺃﺻﻐﺮ ﻭﺃﻛﺒﺮ . ﻓﺎﻷﺻﻐﺮ ﻣﺎﺃﻭﺟﺐ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ . ﻭﺍﻷﻛﺒﺮ ﻣﺎﺃﻭﺟﺐ ﺍﻟﻐﺴﻞ *

ﺍﻟﻌﻮﺭﺍﺕ ﺃﺭﺑﻊ : ﻋﻮﺭﺓ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﺍﻷﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﺒﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺳﺒﻌﺔ ﻋﺸﺮ : ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻟﻨﻴﺔ ،ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ، ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ ،ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ، ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ، ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻓﻴﺔ ، ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﺍﻹﻋﺘﺪﺍﻝ ،ﺍﻟﺜﺎﻣﻦ ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻓﻴﻪ ، ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻣﺮﺗﻴﻦ ،ﺍﻟﻌﺎﺷﺮ ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻓﻴﺔ ، ﺍﻟﺤﺎﺩﻱ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﺠﻠﻮﺱ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺠﺪﺗﻴﻦ ، ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻓﻴﺔ ،ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﺘﺸﻬﺪ ﺍﻷﺧﻴﺮ ،ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﻘﻌﻮﺩ ﻓﻴﻪ ،ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﻋﺸﺮ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ،ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﺴﻼﻡ ،ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﻨﻴﻪ ﺛﻼﺙ ﺩﺭﺟﺎﺕ : ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺮﺿﺎ ﻭﺟﺐ ﻗﺼﺪ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻭﺍﻟﺘﻌﻴﻴﻦ ﻭﺍﻟﻔﺮﺿﻴﺔ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻧﺎﻓﻠﺔ ﻣﺆﻗﺘﺔ ﻛﺮﺍﺗﺒﺔ ﺍﻭ ﺫﺍﺕ ﺳﺒﺐ ﻭﺟﺐ ﻗﺼﺪ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻭﺍﻟﺘﻌﻴﻴﻦ ، ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻧﺎﻓﻠﺔ ﻣﻄﻠﻘﺔ ﻭﺟﺐ ﻗﺼﺪ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻓﻘﻂ .

ﺍﻟﻔﻌﻞ : ﺃﺻﻠﻲ ﻭﺍﻟﺘﻌﻴﻴﻦ : ﻇﻬﺮﺍ ﺃﻭ ﻋﺼﺮﺍ ﻭ ﺍﻟﻔﺮﺿﻴﺔ : ﻓﺮﺿﺎ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ : ﺳﺘﺔ ﻋﺸﺮﺓ ﺃﻥ ﺗﻘﻊ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﻌﺮﺑﻴﻪ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﻠﻔﻆ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ﻭﺑﻠﻔﻆ ﺃﻛﺒﺮ ﻭﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻠﻔﻈﺘﻴﻦ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﻤﺪ ﻫﻤﺰﺓ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ﻭﻋﺪﻡ ﻣﺪ ﺑﺎﺀ ﺃﻛﺒﺮ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺸﺪﺩ ﺍﻟﺒﺎﺀ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﺰﻳﺪ ﻭﺍﻭﺍً ﺳﺎﻛﻨﺔ ﺃﻭ ﻣﺘﺤﺮﻛﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻜﻠﻤﺘﻴﻦ ، ﻭﺃﻥ ﻻﻳﺰﻳﺪ ﻭﺍﻭﺍ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﻘﻒ ﺑﻴﻦ ﻛﻠﻤﺘﻲ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻭﻗﻔﺔ ﻃﻮﻳﻠﺔ ﻭﻻ ﻗﺼﻴﺮﺓ ، ﻭﺃﻥ ﻳﺴﻤﻊ ﻧﻔﺴﺔ ﺟﻤﻴﻊ ﺣﺮﻭﻓﻬﺎ ﻭﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺆﻗﺖ ﻭﺇﻳﻘﺎﻋﻬﺎ ﺣﺎﻝ ﺍﻹﺳﺘﻘﺒﺎﻝ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺨﻞ ﺑﺤﺮﻑ ﻣﻦ ﺣﺮﻭﻓﻬﺎ ﻭﺗﺄﺧﻴﺮ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻋﻦ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﻣﺎﻡ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻋﺸﺮﺓ : ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﻭﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺗﺸﺪﻳﺪﺍﺗﻬﺎ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺴﻜﺖ ﺳﻜﺘﺔ ﻃﻮﻳﻠﺔ ﻭﻻ ﻗﺼﻴﺮﺓ ﻳﻘﺼﺪ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﻛﻞ ﺁﻳﺎﺗﻬﺎ ﻭﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﻠﺤﻦ ﺍﻟﻤﺨﻞ ﺑﺎﻟﻤﻌﻨﻰ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ ، ﻭﺃﻥ ﻳﺴﻤﻊ ﻧﻔﺴﺔ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﺨﻠﻠﻬﺎ ﺫﻛﺮ ﺃﺟﻨﺒﻲ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺗﺸﺪﻳﺪﺍﺕ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﺃﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮﺓ : ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﻼﻡ ، ﺍﻟﺮَّﺣﻤﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺮﺍﺀ ، ﺍﻟﺮَّﺣﻴﻢ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺮﺍﺀ ، ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻓﻮﻕ ﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ، ﺭﺏُّ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺒﺎﺀ ، ﺍﻟﺮَّﺣﻤﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺮﺍﺀ ،ﻣﺎﻟﻚ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺪﺍﻝ ، ﺇﻳَّﺎﻙ ﻧﻌﺒﺪ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﻴﺎﺀ ، ﺇﻳَّﺎﻙ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﻴﺎﺀ ، ﺍﻫﺪﻧﺎ ﺍﻟﺼِّﺮﺍﻁ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺼﺎﺩ ، ﺻﺮﺍﻁ ﺍﻟَّﺬﻳﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﻼﻡ ، ﺃﻧﻌﻤﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﻐﻀﻮﺏ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻ ﺍﻟﻀَّﺎﻟِّﻴﻦ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﻀﺎﺩ ﻭﺍﻟﻼﻡ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻳﺴﻦ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻣﻮﺍﺿﻊ : ﻋﻨﺪ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻹﻋﺘﺪﺍﻝ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺸﻬﺪ ﺍﻷﻭﻝ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﺳﺒﻌﺔ : ﺃﻥ ﻳﺴﺠﺪ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻋﻀﺎﺀ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺟﺒﻬﺘﻪ ﻣﻜﺸﻮﻓﺔ ﻭﺍﻟﺘﺤﺎﻣﻞ ﺑﺮﺃﺳﺔ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﻬﻮﻯ ﻟﻐﻴﺮﻩ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﺴﺠﺪ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻳﺘﺤﺮﻙ ﺑﺤﺮﻛﺘﻪ ﻭﺍﺭﺗﻔﺎﻉ ﺃﺳﺎﻓﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﺃﻋﺎﻟﻴﺔ ﻭﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻓﻴﺔ .

‏( ﺧﺎﺗﻤﺔ ‏) ﺃﻋﻀﺎﺀ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﺳﺒﻌﺔ : ﺍﻟﺠﺒﻬﺔ ﻭﺑﻄﻮﻥ ﺍﻟﻜﻔﻴﻦ ﻭﺍﻟﺮﻛﺒﺘﺎﻥ ﻭﺑﻄﻮﻥ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ ﻭﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺗﺸﺪﻳﺪﺍﺕ ﺍﻟﺘﺸﻬﺪ ﺇﺣﺪﻯ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ : ﺧﻤﺲ ﻓﻲ ﺃﻛﻤﻠﻪ ﻭﺳﺘﺔ ﻋﺸﺮ ﻓﻲ ﺃﻗﻠﺔ : ﺍﻟﺘﺤﻴﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺎﺀ ﻭﺍﻟﻴﺎﺀ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻛﺎﺕ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺎﺩ ، ﺍﻟﻄﻴﺒﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻄﺎﺀ ﻭﺍﻟﻴﺎﺀ ، ﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ، ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻴﻦ ، ﻋﻠﻴﻚ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﻨﻮﻥ ﻭﺍﻟﻴﺎﺀ ، ﻭﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﻪ ، ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻴﻦ ، ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻭﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﻪ ، ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺎﺩ، ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻﺇﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺃﻟﻒ ،ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺃﻟﻒ ﻭﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﻪ، ﻭﺃﺷﻬﺪﺃﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻮﻥ ، ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻴﻢ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺍﺀ ﻭﻋﻠﻰ ﻻﻡ ﺍﻟﺠﻼﻟﻪ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺗﺸﺪﻳﺪﺍﺕ ﺃﻗﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺃﺭﺑﻊ : ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻼﻡ ﻭﺍﻟﻤﻴﻢ ، ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻼﻡ ، ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻴﻢ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻗﻞ ﺍﻟﺴﻼﻡ : ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺗﺸﺪﻳﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻴﻦ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻭﻗﺎﺕ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺧﻤﺲ : ﺃﻭﻝ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺯﻭﺍﻝ ﺍﻟﺸﻤﺲ ، ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻣﺼﻴﺮ ﻇﻞ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻣﺜﻠﻪ ﻏﻴﺮ ﻇﻞ ﺍﻹﺳﺘﻮﺍﺀ ، ﻭﺃﻭﻝ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻌﺼﺮ ﺇﺫﺍ ﺻﺎﺭ ﻇﻞ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻣﺜﻠﺔ ﻭﺯﺍﺩ ﻗﻠﻴﻼ ، ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻏﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ . ﻭﺃﻭﻝ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻏﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻏﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻔﻖ ﺍﻷﺣﻤﺮ ، ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻃﻠﻮﻉ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﺍﻟﺼﺎﺩﻕ ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻃﻠﻮﻉ ﺍﻟﺸﻤﺲ .

ﺍﻷﺷﻔﺎﻕ ﺛﻼﺛﺔ : ﺃﺣﻤﺮ ﻭﺃﺻﻔﺮ ﻭﺃﺑﻴﺾ . ﺍﻷﺣﻤﺮ ﻣﻐﺮﺏ ﻭﻷﺻﻔﺮ ﻭﺍﻷﺑﻴﺾ ﻋﺸﺎﺀ . ﻭﻳﻨﺪﺏ ﺗﺄﺧﻴﺮ ﺻﻼﻩ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻳﻐﻴﺐ ﺍﻟﺸﻔﻖ ﺍﻷﺣﻤﺮ ﻭﺍﻷﺑﻴﺾ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺗﺤﺮﻡ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﺎ ﺳﺒﺐ ﻣﺘﻘﺪﻡ ﻭﻻ ﻣﻘﺎﺭﻥ ﻓﻲ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻭﻗﺎﺕ : ﻋﻨﺪ ﻃﻠﻮﻉ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺣﺘﻰ ﺗﺮﺗﻔﻊ ﻗﺪﺭ ﺭﻣﺢ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻹﺳﺘﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺣﺘﻰ ﺗﺰﻭﻝ ، ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻹﺻﻔﺮﺍﺭ ﺣﺘﻰ ﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻌﺼﺮ ﺣﺘﻰ ﺗﻐﺮﺏ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺳﻜﺘﺎﺕ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺳﺘﺔ : ﺑﻴﻦ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻭﺩﻋﺎﺀ ﺍﻹﻓﺘﺘﺎﺡ ﻭﺍﻟﺘﻌﻮﺫ، ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻭﺍﻟﺘﻌﻮﺫ، ﻭﺑﻴﻦ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻭﺁﻣﻴﻦ ، ﻭﺑﻴﻦ ﺁﻣﻴﻦ ﻭﺍﻟﺴﻮﺭﻩ ، ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﻮﺭﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﻮﻉ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻷﺭﻛﺎﻥ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻠﺰﻣﻪ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﻭﺍﻹﻋﺘﺪﺍﻝ ﻭﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭﺍﻟﺠﻠﻮﺱ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺠﺪﺗﻴﻦ .

ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻫﻲ : ﺳﻜﻮﻥ ﺑﻌﺪ ﺣﺮﻛﺔ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﺴﺘﻘﺮ ﻛﻞ ﻋﻀﻮ ﻣﺤﻠﻪ ﺑﻘﺪﺭ ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺳﺠﻮﺩ ﺍﻟﺴﻬﻮ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﺍﻷﻭﻝ ﺗﺮﻙ ﺑﻌﺾ ﻣﻦ ﺃﺑﻌﺎﺽ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺃﻭ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺒﻌﺾ ، ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻓﻌﻞ ﻣﺎﻳﺒﻄﻞ ﻋﻤﺪﻩ ﻭﻻﻳﺒﻄﻞ ﺳﻬﻮﻩ ﺇﺫﺍ ﻓﻌﻠﻪ ﻧﺎﺳﻴﺎ ، ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻧﻘﻞ ﺭﻛﻦ ﻗﻮﻟﻲ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﻠﻪ ، ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﺇﻳﻘﺎﻉ ﺭﻛﻦ ﻓﻌﻠﻲ ﻣﻊ ﺍﺣﺘﻤﺎﻝ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺑﻌﺎﺽ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺳﺒﻌﺔ : ﺍﻟﺘﺸﻬﺪ ﺍﻷﻭﻝ ﻭﻗﻌﻮﺩﻩ ﻭﺍﻟﺼﻼﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻴﻪ ، ﻭﺍﻟﺼﻼﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻵﻝ ﺍﻟﺘﺸﻬﺪ ﺍﻷﺧﻴﺮ، ﻭﺍﻟﻘﻨﻮﺕ ،ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﺔ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺁﻟﻪ ﻓﻴﻪ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺗﺒﻄﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﺄﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮﺓ ﺧﺼﻠﺔ : ﺑﺎﻟﺤﺪﺙ ﻭﺑﻮﻗﻮﻉ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻠﻖ ﺣﺎﻻ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺣﻤﻞ ، ﻭﺍﻧﻜﺸﺎﻑ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺴﺘﺮ ﺣﺎﻻ، ﻭﺍﻟﻨﻄﻖ ﺑﺤﺮﻓﻴﻦ ﺃﻭ ﺣﺮﻑ ﻣﻔﻬﻢ ﻋﻤﺪﺍ ، ﻭﺑﺎﻟﻤﻔﻄﺮ ﻋﻤﺪﺍ ، ﻭﺍﻷﻛﻞ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﻧﺎﺳﻴﺎ ،ﺃﻭﺛﻼﺙ ﺣﺮﻛﺎﺕ ﻣﺘﻮﺍﻟﻴﺎﺕ ﻭﻟﻮ ﺳﻬﻮﺍ ﻭﺍﻟﻮﺛﺒﺔ ﺍﻟﻔﺎﺣﺸﺔ ﻭﺍﻟﻀﺮﺑﺔ ﺍﻟﻤﻔﺮﻃﺔ ، ﻭﺯﻳﺎﺩﺓ ﺭﻛﻦ ﻓﻌﻠﻲ ﻋﻤﺪﺍ ، ﻭﺍﻟﺘﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺇﻣﺎﻣﻪ ﺑﺮﻛﻨﻴﻦ ﻓﻌﻠﻴﻴﻦ ، ﻭﺍﻟﺘﺨﻠﻒ ﺑﻬﻤﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﻋﺬﺭ ، ﻭﻧﻴﺔ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻭﺗﻌﻠﻴﻖ ﻗﻄﻌﻬﺎ ﺑﺸﻲﺀ ﻭﺍﻟﺘﺮﺩﺩ ﻓﻲ ﻗﻄﻌﻬﺎ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻠﺰﻡ ﻓﻴﺔ ﻧﻴﺔ ﺍﻹﻣﺎﻣﺔ ﺃﺭﺑﻊ : ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﺍﻟﻤﻌﺎﺩﺍﺓ ﻭﺍﻟﻤﻨﺬﻭﺭﺓ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻭﺍﻟﻤﺘﻘﺪﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻄﺮ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ﺃﺣﺪ ﻋﺸﺮ : ﺃﻥ ﻻﻳﻌﻠﻢ ﺑﻄﻼﻥ ﺻﻼﺓ ﺇﻣﺎﻣﺔ ﺑﺤﺪﺙ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﺓ , ﻭﺃﻥ ﻻﻳﻌﺘﻘﺪ ﻭﺟﻮﺏ ﻗﻀﺎﺋﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺄﻣﻮﻣﺎ ﻭﻻ ﺃﻣﻴﺎ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﺘﻘﺪﻡ ﻋﻠﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻮﻗﻒ ﻭﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺍﻧﺘﻘﺎﻻﺕ ﺇﻣﺎﻣﺔ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﺘﻤﻌﺎ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺛﻠﺜﻤﺎﺋﺔ ﺫﺭﺍﻉ ﺗﻘﺮﻳﺒﺎ ﻭﺃﻥ ﻳﻨﻮﻱ ﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﻮﺍﻓﻖ ﻧﻈﻢ ﺻﻼﺗﻴﻬﻤﺎ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺨﺎﻟﻔﻪ ﻓﻲ ﺳﻨﺔ ﻓﺎﺣﺸﺔ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻔﺔ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﺎﺑﻌﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺻﻮﺭ ﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ﺗﺴﻊ ﺗﺼﺢ ﻓﻲ ﺧﻤﺲ : ﻗﺪﻭﺓ ﺭﺟﻞ ﺑﺮﺟﻞ ﻭﻗﺪﻭﺓ ﺍﻣﺮﺃﻩ ﺑﺮﺟﻞ ﻭﻗﺪﻭﺓ ﺧﻨﺜﻰ ﺑﺮﺟﻞ ﻭﻗﺪﻭﺓ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺑﺨﻨﺜﻰ ﻭﻗﺪﻭﺓ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺑﺎﻣﺮﺃﺓ ، ﻭﺗﺒﻄﻞ ﻓﻲ ﺃﺭﺑﻊ : ﻗﺪﻭﺓ ﺭﺟﻞ ﺑﺎﻣﺮﺃﺓ ﻭﻗﺪﻭﺓ ﺭﺟﻞ ﺑﺨﻨﺜﻰ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﻢ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﺍﻟﺒﺪﺍﺀﺓ ﺑﺎﻷﻭﻟﻰ ﻭﻧﻴﺔ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻭﺩﻭﺍﻡ ﺍﻟﻌﺬﺭ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﺇﺛﻨﺎﻥ : ﻧﻴﺔ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻭﻗﺪ ﺑﻘﻲ ﻣﻦ ﻭﻗﺖ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻣﺎﻳﺴﻌﻬﺎ ﻭﺩﻭﺍﻡ ﺍﻟﻌﺬﺭ ﺇﻟﻰ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻘﺼﺮ ﺳﺒﻌﺔ : ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺳﻔﺮﻩ ﻣﺮﺣﻠﺘﻴﻦ ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺒﺎﺣﺎ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺠﻮﺍﺯ ﺍﻟﻘﺼﺮ ﻭﻧﻴﻪ ﺍﻟﻘﺼﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﻘﺘﺪﻱ ﺑﻤﺘﻢ ﻓﻲ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺻﻼﺗﻪ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺳﺘﺔ : ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻛﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﻭﺃﻥ ﺗﻘﺎﻡ ﻓﻲ ﺧﻄﺔ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻭﺃﻥ ﺗﺼﻠﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺃﺣﺮﺍﺭﺍ ﺫﻛﻮﺭﺍ ﺑﺎﻟﻐﻴﻦ ﻣﺴﺘﻮﻃﻨﻴﻦ ﻭﺃﻥ ﻻ ﺗﺴﺒﻘﻬﺎ ﻭﻻ ﺗﻘﺎﺭﻧﻬﺎ ﺟﻤﻌﺔ ﻓﻲ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﻘﺪﻣﻬﺎ ﺧﻄﺒﺘﺎﻥ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻥ ﺍﻟﺨﻄﺒﺘﻴﻦ ﺧﻤﺴﺔ : ﺣﻤﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﺔ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻭﺍﻟﻮﺻﻴﺔ ﺑﺎﻟﺘﻘﻮﻯ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﺁﻳﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺃﺣﺪﺍﻫﻤﺎ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺆﻣﻨﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻷﺧﻴﺮﺓ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺨﻄﺒﺘﻴﻦ ﻋﺸﺮﺓ : ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺪﺛﻴﻦ ﺍﻷﺻﻐﺮ ﻭﺍﻷﻛﺒﺮ ﻭﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻭﺍﻟﺒﺪﻥ ﻭﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﺳﺘﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ ﻭﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ﻭﺍﻟﺠﻠﻮﺱ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻓﻮﻕ ﻃﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﻭﺃﻥ ﻳﺴﻤﻌﻬﺎ ﺃﺭﺑﻌﻮﻥ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻛﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻈﻬﺮ

BAB III : “SHALAT”

(Fasal Satu)

Udzur( ) sholat:

1. Tidur .

2. Lupa.

(Fasal Dua)

Syarat sah shalat ada delapan, yaitu:

1. Suci dari hadats besar dan kecil.

2. Suci pakaian, badan dan tempat dari najis.

3. Menutup aurat.

4. Menghadap kiblat.

2. Masuk waktu sholat.

3. Mengetahui rukun-rukan sholat.

4. Tidak meyakini bahwa diantara rukun-rukun sholat adalah sunnahnya

5. Menjauhi semua yang membatalkan sholat.

Macam-macam hadats: Hadats ada dua macam, yaitu: Kecil dan Besar.

Hadats kecil adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk berwudhu’, sedangkan hadats besar adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk mandi.

Macam macam aurat: Aurat ada empat macam, yaitu:

1. Aurat semua laki-laki (merdeka atau budak) dan budak perempuan ketika sholat, yaitu antara pusar dan lutut.

2. Aurat perempuan merdeka ketika sholat, yaitu seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.

3. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki yang ajnabi (bukan muhrim), yaitu seluruh badan.

4. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki muhrimya dan perempuan, yaitu antara pusar dan lutut.

(Fasal Tiga)

Rukun sholat ada tujuh belas, yaitu:

1. Niat.

2. Takbirotul ihrom (mengucapkan “Allahuakbar).

3. Berdiri bagi yang mampu.

4. Membaca fatihah.

5. Ruku’ (membungkukkan badan).

6. Thuma’ninah (diam sebentar) waktu ruku’.

7. I’tidal (berdiri setelah ruku’).

8. Thuma’ninah (diam sebentar waktu i’tidal).

9. Sujud dua kali.

10. Thuma’ninah (diam sebentar waktu sujud).

11. Duduk diantara dua sujud.

12. Thuma’ninah (diam sebentar ketika duduk).

13. Tasyahud akhir (membaca kalimat-kalimat yang tertentu).

14. Duduk diwaktu tasyahud.

15. Sholawat (kepada nabi).

16. Salam (kepada nabi).

17. Tertib (berurutan sesuai urutannya).

(Fasal Empat)

Niat itu ada tiga derajat, yaitu:

3. Jika sholat yang dikerjakan fardhu, diwajibkanlah niat qasdul fi’li (mengerjakan shalat tersebut), ta’yin (nama sholat yang dikerjakan) dan fardhiyah (kefardhuannya).

4. Jika sholat yang dikerjakan sunnah yang mempunyai waktu atau mempunyai sebab, diwajibkanlah niat mengerjakan sholat tersebut dan nama sholat yang dikerjakan seperti sunah Rowatib (sebelum dan sesudah fardhu-fardhu).

5. Jika sholat yang dikerjakan sunnah Mutlaq (tanpa sebab), diwajibkanlah niat mengerjakan sholat tersebut saja.

Yang dimaksud dengan qasdul fi’li adalah aku beniat sembahyang (menyenghajanya), dan yang dimaksud ta’yin adalah seperti dzuhur atau asar, adapun fardhiyah adalah niat fardhu.

(Fasal Lima)

Syarat takbirotul ihrom ada enam belas, yaitu:

1. Mengucapkan takbirotul ihrom tersebut ketika berdiri (jika sholat tersebut fardhu).

2. Mengucapkannya dengan bahasa Arab.

3. Menggunakan lafal “Allah”.

4. Menggunakan lafal “Akbar”.

5. Berurutan antara dua lafal tersebut.

6. Tidak memanjangkan huruf “Hamzah” dari lafal “Allah”.

7. Tidak memanjangkan huruf “Ba” dari lafal “Akbar”.

8. Tidak mentaysdidkan (mendobelkan/mengulang) huruf “Ba” tersebut.

9. Tidak menambah huruf “Waw” berbaris atau tidak antara dua kalimat tersebut.

10. Tidak menambah huruf “Waw” sebelum lafal “Allah”.

11. Tidak berhenti antara dua kalimat sekalipun sebentar.

12. Mendengarkan dua kalimat tersebut.

13. Masuk waktu sholat tersebut jika mempuyai waktu.

14. Mengucapkan takbirotul ihrom tersebut ketika menghadap qiblat.

15. Tidak tersalah dalam mengucapkan salah satu dari huruf kalimat tersebut.

16. Takbirotul ihrom ma’mum sesudah takbiratul ihrom dari imam.

(Fasal Enam)

Syarat-syarat sah membaca surat al-Fatihah ada sepuluh, yaitu:

1. Tertib (yaitu membaca surat al-Fatihah sesuai urutan ayatnya).

2. Muwalat (yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus).

3. Memperhatikan makhroj huruf (tempat keluar huruf) serta tempat-tempat tasydid.

4. Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.

5. Membaca semua ayat al-Fatihah.

6. Basmalah termasuk ayat dari al-fatihah.

7. Tidak menggunakan lahan (lagu) yang dapat merubah makna.

8. Memabaca surat al-Fatihah dalam keaadaan berdiri ketika sholat fardhu.

9. Mendengar surat al-Fatihah yang dibaca.

10. Tidak terhalang oleh dzikir yang lain.

(Fasal Tujuh)

Tempat-tempat tasydid dalam surah al-fatihah ada empat belas, yaitu:

1. Tasydid huruf “Lam” jalalah pada lafal ( ﺍﻟﻠﻪ ‏) .

2. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal (( ﺍﻟﺮّﺣﻤﻦ .

3. Tasydid huruf “Ra’” pada lapal ( ﺍﻟﺮّﺣﻴﻢ ‏) .

4. Tasydid “Lam” jalalah pada lafal ( ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ‏) .

5. Tasydid huruf “Ba’” pada kalimat ( ﺭﺏّ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ‏) .

6. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal ( ﺍﻟﺮّﺣﻤﻦ ‏) .

7. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal ( ﺍﻟﺮّﺣﻴﻢ ‏) .

8. Tasydid huruf “Dal” pada lafal ( ﺍﻟﺪّﻳﻦ ‏) .

9. Tasydid huruf “Ya’” pada kalimat ﺇﻳّﺎﻙ ﻧﻌﺒﺪ ‏) ‏) .

10. Tasydid huruf “Ya” pada kalimat ( ﻭﺇﻳّﺎﻙ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ ‏) .

11. Tasydid huruf “Shad” pada kalimat ( ﺍﻫﺪﻧﺎ ﺍﻟﺼّﺮﺍﻁ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ ‏) .

12. Tasydid huruf “Lam” pada kalimat ( ﺻﺮﺍﻁ ﺍﻟّﺬﻳﻦ ‏) .

13. Tasydid “Dhad” pada kalimat ( ﻭﻻ ﺍﻟﻀﺎﻟﻴﻦ ‏) .

14. Tasydid huruf “Lam” pada kalimat ( ﻭﻻ ﺍﻟﻀﺎﻟﻴﻦ ).

(Fasal Delapan)

Tempat disunatkan mengangkat tangan ketika shalat ada empat, yaitu:

1. Ketika takbiratul ihram.

2. Ketika Ruku’.

3. Ketika bangkit dari Ruku’ (I’tidal).

4. Ketika bangkit dari tashahud awal.

(Fasal Sembilan)

Syarat sah sujud ada tujuh, yaitu:

1. Sujud dengan tujuh anggota.

2. Dahi terbuka (jangan ada yang menutupi dahi).

3. Menekan sekedar berat kepala.

4. Tidak ada maksud lain kecuali sujud.

5. Tidak sujud ketempat yang bergerak jika ia bergerak.

6. Meninggikan bagian punggung dan merendahkan bagian kepala.

7. Thuma’ninah pada sujud.

Penutup:

Ketika seseorang sujud anggota tubuh yang wajib di letakkan di tempat sujud ada tujuh, yaitu:

1. Dahi.

2. Bagian dalam dari telapak tangan kanan.

3. Bagian dalam dari telapak tangan kiri.

4. Lutut kaki yang kanan.

5. Lutut kaki yang kiri.

6. Bagian dalam jari-jari kanan.

7. Bagian dalam jari-jari kiri.

(Fasal Sepuluh)

Dalam kalimat tasyahud terdapat dua puluh satu harakah (baris) tasydid, enam belas di antaranya terletak di kalimat tasyahud yang wajib di baca, dan lima yang tersisa dalam kalimat yang menyempurnakan tasyahud (yang sunah dibaca), yaitu:

1. “Attahiyyat”: harakah tasydid terletak di huruf “Ta’”.

2. “Attahiyyat”: harakah tasydid terletak di huruf “Ya’”.

3. “Almubarakatusshalawat”: harakah tasydid di huruf “Shad”.

4. “Atthayyibaat”: harakah tasydid di huruf “Tha’”.

5. “Atthayyibaat”: harakah tasydid di huruf “ya’”.

6. “Lillaah”: harakah tasydid di “Lam” jalalah.

7. “Assalaam”: di huruf “Sin”.

8. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Ya’”.

9. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Nun”.

10. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Ya’”.

11. “Warohmatullaah”: di “Lam” jalalah.

12. “Wabarakatuh, assalaam”: di huruf “Sin”.

13. “Alainaa wa’alaa I’baadillah”: di “Lam” jalalah.

14. “Asshalihiin”: di huruf shad.

15. “Asyhaduallaa”: di “Lam alif”.

16. “Ilaha Illallaah”: di “Lam alif”.

17. “Illallaah”: di “Lam” jalalah.

18. “Waasyhaduanna”: di huruf “Nun”.

19. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Mim”.

20. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Ra’”.

21. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Lam” jalalah.

(Fasal Sebelas)

Sekurang-kurang kalimat shalawat nabi yang memenuhi standar kewajiban di tasyahud akhir adalah Alloohumma sholliy ’alaa Muhammad.

(Adapun).harakat tasydid yang ada di kalimat shalawat nabi tersebut ada di huruf “Lam” dan “Mim” di lafal “Allahumma”. Dan di huruf “Lam” di lafal “Shalli”. Dan di huruf “Mim” di Muhammad.

(Fasal Dua Belas)

Sekurang-kurang salam yang memenuhi standar kewajiban di tasyahud akhir adalah Assalaamu’alaikum. Adpun Harakat tasydid yang ada di kalimat tersebut terletak di huruf “Sin”.

(Fasal Tiga Belas)

Waktu waktu shalat.

1. Waktu shalat dzuhur:

Dimulai dari tergelincirnya matahari dari tengah-tengah langit kearah barat dan berakhir ketika bayangan suatu benda menyamai ukuran panjangnya dengan benda tersebut.

2. Waktu salat Ashar:

Dimulai ketika bayangan dari suatu benda melebihi ukuran panjang dari benda tersebut dan berakhir ketika matahari terbenam.

3. Waktu shalat Magrib:

Berawal ketika matahari terbenam dan berakhir dengan hilangnya sinar merah yang muncul setelah matahari terbenam.

4. Waktu shalat Isya

Diawali dengan hilangnya sinar merah yang muncul setelah matahari terbenam dan berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Yang di maksud dengan Fajar shadiq adalah sinar yang membentang dari arah timur membentuk garis horizontal dari selatan ke utara.

5 Waktu shalat Shubuh:

Di mulai dari timbulnya fajar shadiq dan berakhir dengan terbitnya matahari.

Warna sinar matahari yang muncul setelah matahari terbenam ada tiga, yaitu:

Sinar merah, kuning dan putih. Sinar merah muncul ketika magrib sedangkan sinar kuning dan putih muncul di waktu Isya.

Disunnahkan untuk menunda atau mangakhirkan shalat Isya sampai hilangnya sinar kuning dan putih.

(Fasal Empat Belas)

Shalat itu haram manakala tidak ada mempunyai sebab terdahulu atau sebab yang bersamaan (maksudnya tanpa ada sebab sama sekaliseperti sunat mutlaq) dalam beberapa waktu, yaitu:

1. Ketika terbit matahari sampai naik sekira-kira sama dengan ukuran tongkat atau tombak.

2. Ketika matahari berada tepat ditengah tengah langit sampai bergeser kecuali hari Jum’at.

3. Ketika matahari kemerah-merahan sampai tenggelam.

4. Sesudah shalat Shubuh sampai terbit matahari.

5. Sesudah shalat Asar sampai matahari terbenam.

(Fasal Lima Belas)

Tempat saktah (berhenti dari membaca) pada waktu shalat ada enam tempat, yaitu:

1. Antara takbiratul ihram dan do’a iftitah (doa pembuka sesudah takbiratul ihram).

2. Antara doa iftitah dan ta’awudz (mengucapkan perlindungan dengan Allah SWT dari setan yang terkutuk).

3. Antara ta’awudz dan membaca fatihah.

4. Antara akhir fatihah dan ta’min (mengucapkan amin).

5. Antara ta’min dan membaca surat (qur’an).

6. Antara membaca surat dan ruku’.

Semua tersebut dengan kadar tasbih (bacaan subhanallah), kecuali antara ta’min dan membaca surat, disunahkan bagi imam memanjangkan saktah dengan kadar membaca fatihah.

(Fasal Enam Belas)

Rukun-rukun yang diwajibkan didalamnya tuma’ninah ada empat, yaitu:

1. Ketika ruku’.

2. Ketika i’tidal.

3. Ketika sujud.

4. Ketika duduk antara dua sujud.

Tuma’ninah adalah diam sesudah gerakan sebelumnya, sekira-kira semua anggota badan tetap (tidak bergerak) dengan kadar tasbih (membaca subhanallah).

(Fasal Tujuh Belas)

Sebab sujud sahwi ada empat, yaitu:

1. Meninggalkan sebagian dari ab’adhus shalat (pekerjaan sunnah dalam shalat yang buruk jika seseorang meniggalkannya).

2. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan (padahal ia lupa), jika dikerjakan dengan sengaja dan tidak membatalkan jika ia lupa.

3. Memindahkan rukun qauli (yang diucapkan) kebukan tempatnya.

4. Mengerjakan rukun Fi’li (yang diperbuat) dengan kemungkinan kelebihan.

(Fasal Delapan Belas)

Ab’adusshalah ada enam, yaitu:

1. Tasyahud awal

2. Duduk tasyahud awal.

3. Shalawat untuk nabi Muhammad SAW ketika tasyahud awal.

4. Shalawat untuk keluarga nabi ketika tasyahud akhir.

5. Do’a qunut.

6. Berdiri untuk do’a qunut.

7. Shalawat dan Salam untuk nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat ketika do’a qunut.

(Fasal Sembilan Belas)

Perkara yang membatalkan shalat ada empat belas, yaitu:

1. Berhadats (seperti kencing dan buang air besar).

2. Terkena najis, jika tidak dihilangkan seketika, tanpa dipegang atau diangkat (dengan tangan atau selainnya).

3. Terbuka aurat, jika tidak dihilangkan seketikas.

4. Mengucapkan dua huruf atau satu huruf yang dapat difaham.

5. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa dengn sengaja.

6. Makan yang banyak sekalipun lupa.

7. Bergerak dengan tiga gerakan berturut-turut sekalipun lupa.

8. Melompat yang luas.

9. Memukul yang keras.

10. Menambah rukun fi’li dengan sengaja.

11. Mendahului imam dengan dua rukun fi’li dengan sengaja.

12. Terlambat denga dua rukun fi’li tanpa udzur.

13. Niat yang membatalkan shalat.

14. Mensyaratkan berhenti shalat dengan sesuatu dan ragu dalam memberhentikannya.

(Fasal Dua Puluh)

Diwajibkan bagi seorang imam berniat menjadi imam terdapat dalam empat shalat, yaitu:

1- Menjadi Imam juma`t

2- Menjadi imam dalam shalat i`aadah (mengulangi shalat).

3- Menjadi imam shalat nazar berjama`ah

4- Menjadi imam shalat jamak taqdim sebab hujan

(Fasal Dua Puluh Satu)

Syarat – Syarat ma`mum mengikut imam ada sebelas perkara, yaitu:

1- Tidak mengetahui batal nya shalat imam dengan sebab hadats atau yang lain nya.

2- Tidak meyakinkan bahwa imam wajib mengqadha` shalat tersebut.

3- Seorang imam tidak menjadi ma`mum .

4- Seorang imam tidak ummi (harus baik bacaanya).

5- Ma`mum tidak melebihi tempat berdiri imam.

6- Harus mengetahui gerak gerik perpindahan perbuatan shalat imam.

7- Berada dalam satu masjid (tempat) atau berada dalam jarak kurang lebih tiga ratus hasta.

8- Ma`mum berniat mengikut imam atau niat jama`ah.

9- Shalat imam dan ma`mum harus sama cara dan kaifiyatnya

10- Ma`mum tidak menyelahi imam dalam perbuata sunnah yang sangat berlainan atau berbeda sekali.

11- Ma`mum harus mengikuti perbuatan imam.

(Fasal Dua Puluh Dua)

Ada lima golongan orang–orang yang sah dalam berjamaah, yaitu:

1- Laki –laki mengikut laki – laki.

2- Perempuan mengikut laki – laki.

3- Banci mengikut laki – laki.

4- Perempuan mengikut banci.

5- Perempuan mengikut perempuan.

(Fasal Dua Puluh Tiga)

Ada empat golongan orang – orang yang tidak sah dalam berjamaah, yaitu:

1- Laki – laki mengikut perempuan.

2- Laki – laki mengikut banci.

3- Banci mengikut perempuan.

4- Banci mengikut banci.

(Fasal Dua Puluh Empat)

Ada empat, syarat sah jamak taqdim (mengabung dua shalat diwaktu yang pertama), yaitu:

1- Di mulai dari shalat yang pertama.

2- Niat jamak (mengumpulkan dua shalat sekali gus).

3- Berturut – turut.

4- Udzurnya terus menerus.

(Fasal Dua Puluh Lima)

Ada dua syarat jamak takhir, yaitu:

1- Niat ta’khir (pada waktu shalat pertama walaupun masih tersisa waktunya sekedar lamanya waktu mengerjakan shalat tersebut).

2- Udzurnya terus menerus sampai selesai waktu shalat kedua.

(Fasal Dua Puluh Enam)

Ada tujuh syarat qasar, yaitu:

1- Jauh perjalanan dengan dua marhalah atau lebih (80,640 km atau perjalanan sehari semalam).

2- Perjalanan yang di lakukan adalah safar mubah (bukan perlayaran yang didasari niat mengerja maksiat ).

3- Mengetahui hukum kebolehan qasar.

4- Niat qasar ketika takbiratul `ihram.

5- Shalat yang di qasar adalah shalat ruba`iyah (tidak kurang dari empat rak`aat).

6- Perjalanan terus menerus sampai selesai shalat tersebut.

7- Tidak mengikuti dengan orang yang itmam (shalat yang tidak di qasar) dalam sebagian shalat nya.

(Fasal Dua Puluh Tujuh)

Syarat sah shalat Jum’at ada enam, yaitu:

1. Khutbah dan shalat Jum’at dilaksanakan pada waktu Dzuhur.

2. Kegiatan Jum’at tersebut dilakukan dalam batas desa.

3. Dilaksanakan secara berjamaah.

4. Jamaah Jum’at minimal berjumlah empat puluh (40) laki-laki merdeka, baligh dan penduduk asli daerah tersebut.

5. Dilaksanakan secara tertib, yaitu dengan khutbah terlebih dahulu, disusul dengan shalat Jum’at.

(Fasal Dua Puluh Delapan)

Rukun khutbah Jum’at ada lima, yaitu:

1. Mengucapkan “ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ” dalam dua khutbah tersebut.

2. Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam dua khutbah tersebut.

3. Berwasiat ketaqwaan kepada jamaah Jum’at dalam dua khutbah Jum’at tersebut.

4. Membaca ayat al-qur’an dalam salah satu khutbah.

5. Mendo’akan seluruh umat muslim pada akhir khutbah.

(Fasal Dua Puluh Sembilan)

Syarat sah khutbah jum’at ada sepuluh, yaitu:

1. Bersih dari hadats kecil (seperti kencing) dan besar seperti junub.

2. Pakaian, badan dan tempat bersih dari segala najis.

3. Menutup aurat.

4. Khutbah disampaikan dengan berdiri bagi yang mampu.

5. Kedua khutbah dipisahkan dengan duduk ringan seperti tuma’ninah dalam shalat ditambah beberapa detik.

6. Kedua khutbah dilaksanakan dengan berurutan (tidak diselangi dengan kegiatan yang lain, kecuali duduk).

7. Khutbah dan sholat Jum’at dilaksanakan secara berurutan.

8. Kedua khutbah disampaikan dengan bahasa Arab.

9. Khutbah Jum’at didengarkan oleh 40 laki-laki merdeka, balig serta penduduk asli daerah tersebut.

10. Khutbah Jum’at dilaksanakan dalam waktu Dzuhur.

ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻠﺰﻡ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﺃﺭﺑﻊ ﺧﺼﺎﻝ : ﻏﺴﻠﺔ ﻭﺗﻜﻔﻴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﺔ ﻭﺩﻓﻨﻪ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻗﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ : ﺗﻌﻤﻴﻢ ﺑﺪﻧﻪ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ . ﻭﺃﻛﻤﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻐﺴﻞ ﺳﻮﺃﺗﻴﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﻘﺬﺭ ﻣﻦ ﺃﻧﻔﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﻮﺿﺌﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﺪﻟﻚ ﺑﺪﻧﻪ ﺑﺎﻟﺴﺪﺭ ﻭﺃﻥ ﻳﺼﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻴﻪ ﺛﻼﺛﺎ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻗﻞ ﺍﻟﻜﻔﻦ : ﺛﻮﺏ ﻳﻌﻤﻪ . ، ﻭﺃﻛﻤﻠﻪ ﻟﻠﺮﺟﺎﻝ ﺛﻼﺙ ﻟﻔﺎﺋﻒ ، ﻭﻟﻠﻤﺮﺃﺓ ﻗﻤﻴﺺ ﻭﺧﻤﺎﺭ ﻭﺇﺯﺍﺭ ﻭﻟﻔﺎﻓﺘﺎﻥ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻥ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺳﺒﻌﺔ : ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻟﻨﻴﺔ ،ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺃﺭﺑﻊ ﺗﻜﺒﻴﺮﺍﺕ ، ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ، ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ،ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﺔ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ،ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ،ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﺍﻟﺴﻼﻡ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﻗﻞ ﺍﻟﺪﻓﻦ : ﺣﻔﺮﺓ ﺗﻜﺘﻢ ﺭﺍﺋﺤﺘﻪ ﻭﺗﺤﺮﺳﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﺎﻉ . ﻭﺃﻛﻤﻠﻪ ﻗﺎﻣﺔ ﻭﺑﺴﻄﺔ، ﻭﻳﻮﺿﻊ ﺧﺪﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻭﻳﺠﺐ ﺗﻮﺟﻴﻬﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻳﻨﺒﺶ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻷﺭﺑﻊ ﺧﺼﺎﻝ : ﻟﻠﻐﺴﻞ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺘﻐﻴﺮ ﻭﻟﺘﻮﺟﻴﻬﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭﻟﻠﻤﺎﻝ ﺇﺫﺍ ﺩﻓﻦ ﻣﻌﻪ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺇﺫﺍ ﺩﻓﻦ ﺟﻨﻴﻨﻬﺎ ﻭﺃﻣﻜﻨﺖ ﺣﻴﺎﺗﻪ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻹﺳﺘﻌﺎﻧﺎﺕ ﺃﺭﺑﻊ ﺧﺼﺎﻝ : ﻣﺒﺎﺣﺔ ﻭﺧﻼﻑ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻭﻣﻜﺮﻭﻫﻪ ﻭﻭﺍﺟﺒﺔ ﻓﺎﻟﻤﺒﺎﺣﺔ ﻫﻲ ﺗﻘﺮﻳﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ، ﻭﺧﻼﻑ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻫﻲ ﺻﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻧﺤﻮ ﺍﻟﻤﺘﻮﺿﺊ ،ﻭﺍﻟﻤﻜﺮﻭﻫﻪ ﻫﻲ ﻟﻤﻦ ﻳﻐﺴﻞ ﺃﻋﻀﺎﺀﻩ ، ﻭﺍﻟﻮﺍﺟﺒﺔ ﻫﻲ ﻟﻠﻤﺮﻳﺾ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻌﺠﺰ

BAB IV : “JENAZAH”

(Fasal Satu)

pertama: Kewajiban muslim terhadap saudaranya yang meninggal dunia ada empat perkara, yaitu:

1. Memandikan.

2. Mengkafani.

3. Menshalatkan (sholat jenazah).

4. Memakamkan .

(Fasal Kedua)

Cara memandikan seorang muslim yang meninggal dunia:

Minimal (paling sedikit): membasahi seluruh badannya dengan air dan bisa disempurnakan dengan membasuh qubul dan duburnya, membersihkan hidungnya dari kotoran, mewudhukannya, memandikannya sambil diurut/digosok dengan air daun sidr dan menyiramnya tiga (3) kali.

(Fasal Ketiga)

Cara mengkafan:

Minimal: dengan sehelai kain yang menutupi seluruh badan. Adapun cara yang sempurna bagi laki-laki: menutup seluruh badannya dengan tiga helai kain, sedangkan untuk wanita yaitu dengan baju, khimar (penutup kepala), sarung dan 2 helai kain.

(Fasal Keempat)

Rukun shalat jenazah ada tujuh (7), yaitu:

1. Niat.

2. Empat kali takbir.

3. Berdiri bagi orang yang mampu.

4. Membaca Surat Al-Fatihah.

5. Membaca shalawat atas Nabi SAW sesudah takbir yang kedua.

6. Do’a untuk si mayat sesudah takbir yang ketiga.

7. Salam.

(Fasal Kelima)

Sekurang-kurang menanam (mengubur) mayat adalah dalam lubang yang menutup bau mayat dan menjaganya dari binatang buas. Yang lebih sempurna adalah setinggi orang dan luasnya, serta diletakkan pipinya di atas tanah. Dan wajib menghadapkannya ke arah qiblat.

(Fasal Keenam)

Mayat boleh digali kembali, karena ada salah satu dari empat perkara, yaitu:

1. Untuk dimandikan apabila belum berubah bentuk.

2. Untuk menghadapkannya ke arah qiblat.

3. Untuk mengambil harta yang tertanam bersama mayat.

4. Wanita yang janinnya tertanam bersamanya dan ada kemungkinan janin tersebut masih hidup.

(Fasal Ketujuh)

Hukum isti’anah (minta bantuan orang lain dalam bersuci) ada empat (4) perkara, yaitu:

1. Boleh.

2. Khilaf Aula.

3. Makruh

4. Wajib.

Boleh (mubah) meminta untuk mendekatkan air.

Khilaf aula meminta menuangkan air atas orang yang berwudlu.

Makruh meminta menuangkan air bagi orang yang membasuh anggota-anggota (wudhu) nya.

Wajib meminta menuangkan air bagi orang yang sakit ketika ia lemah (tidak mampu untuk melakukannya sendiri).

ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻠﺰﻡ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺳﺘﺔ ﺃﻧﻮﺍﻉ : ﺍﻟﻨﻌﻢ ﻭﺍﻟﻨﻘﺪﺍﻥ ﻭﺍﻟﻤﻌﺸﺮﺍﺕ ﻭﺃﻣﻮﺍﻝ ﺍﻟﺘﺠﺎﺭﺓ ، ﻭﻭﺍﺟﺒﻬﺎ ﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮ ﻗﻴﻤﺔ ﻋﺮﻭﺽ ﺍﻟﺘﺠﺎﺭﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﺎﺯ ﻭﺍﻟﻤﻌﺪﻥ

BAB V : “ZAKAT”

(Fasal Satu)

Harta yang wajib di keluarkan zakatnya ada enam macam, yaitu:

1. Binatang ternak.

2. Emas dan perak.

3. Biji-bijian (yang menjadi makanan pokok).

4. Harta perniagaan. Zakatnya yang wajib di keluarkan adalah 4/10 dari harta tersebut.

5. Harta yang tertkubur.

6. Hasil tambang.

ﻓﺼﻞ ‏) ﻳﺠﺐ ﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺑﺄﺣﺪ ﺃﻣﻮﺭ ﺧﻤﺴﺔ : ‏( ﺃﺣﺪﻫﺎ ‏) ﺑﻜﻤﺎﻝ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ‏( ﻭﺛﺎﻧﻴﻬﺎ ‏) ﺑﺮﺅﻳﺔ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﻓﻲ ﺣﻖ ﻣﻦ ﺭﺁﻩ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﺎﺳﻘﺎ ‏( ﻭﺛﺎﻟﺜﺎ ‏) ﺑﺜﺒﻮﺗﻪ ﻓﻲ ﺣﻖ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺮﻩ ﺑﻌﺪﻝ ﺷﻬﺎﺩﺓ ‏( ﻭﺭﺍﺑﻌﺎ ‏) ﺑﺈﺧﺒﺎﺭ ﻋﺪﻝ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻣﻮﺛﻮﻕ ﺑﻪ ﺳﻮﺍﺀ ﻭﻗﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺻﺪﻕ ﺃﻡ ﻻ ﺃﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻮﺛﻮﻕ ﺑﻪ ﺇﻥ ﻭﻗﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺻﺪﻗﻪ ‏( ﻭﺧﺎﻣﺴﻬﺎ ‏) ﺑﻈﻦ ﺩﺧﻮﻝ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺑﺎﻹﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻴﻤﻦ ﺍﺷﺘﺒﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺫﻟﻚ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﺻﺤﺘﻪ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺇﺳﻼﻡ ﻭﻋﻘﻞ ﻭﻧﻘﺎﺀ ﻣﻦ ﻧﺤﻮ ﺣﻴﺾ ﻭﻋﻠﻢ ﺑﻜﻮﻥ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻗﺒﻼ ﻟﻠﺼﻮﻡ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺷﺮﻭﻁ ﻭﺟﻮﺑﻪ ﺧﻤﺴﺔ ﺍﺷﻴﺎﺀ : ﺍﺳﻼﻡ ﻭﺗﻜﻠﻴﻒ ﻭﺇﻃﺎﻗﺔ ﻭﺻﺤﻪ ﻭﺇﻗﺎﻣﺔ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺃﺭﻛﺎﻧﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﻧﻴﺔ ﻟﻴﻼ ﻟﻜﻞ ﻳﻮﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻭﺗﺮﻙ ﻣﻔﻄﺮ ﺫﺍﻛﺮﺍ ﻣﺨﺘﺎﺭﺍ ﻏﻴﺮ ﺟﺎﻫﻞ ﻣﻌﺬﻭﺭ ﻭﺻﺎﺋﻢ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻳﺠﺐ ﻣﻊ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻟﻠﺼﻮﻡ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﺍﻟﻌﻈﻤﻰ ﻭﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺃﻓﺴﺪ ﺻﻮﻣﻪ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﻛﺎﻣﻼ ﺑﺠﻤﺎﻉ ﺗﺎﻡ ﺁﺛﻢ ﺑﻪ ﻟﻠﺼﻮﻡ

ﻭﻳﺠﺐ ﻣﻊ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺍﻹﻣﺴﺎﻙ ﻟﻠﺼﻮﻡ ﻓﻲ ﺳﺘﺔ ﻣﻮﺍﺿﻊ : ﺍﻷﻭﻝ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻻﻓﻲ ﻏﻴﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﺘﻌﺪ ﺑﻔﻄﺮﻩ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﻠﻰ ﺗﺎﺭﻙ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﻟﻴﻼ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺗﺴﺤﺮ ﻇﺎﻧﺎ ﺑﻘﺎﺀ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻓﺒﺎﻥ ﺧﻼﻓﺔ ﺃﻳﻀﺎ ، ﻭﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺍﻓﻄﺮ ﻇﺎﻧﺎ ﺍﻟﻐﺮﻭﺏ ﻓﺒﺎﻥ ﺧﻼﻓﻪ ﺍﻳﻀﺎ ، ﻭﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺑﺎﻥ ﻟﻪ ﻳﻮﻡ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺃﻧﻪ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ، ﻭﺍﻟﺴﺎﺩﺱ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺳﺒﻘﻪ ﻣﺎﺀ ﺍﻟﻤﺒﺎﻟﻐﺔ ﻣﻦ ﻣﻀﻤﻀﺔ ﻭﺍﺳﺘﻨﺸﺎﻕ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻳﺒﻄﻞ ﺍﻟﺼﻮﻡ : ﺑﺮﺩﺓ ﻭﺣﻴﺾ ﻭﻧﻔﺎﺱ ﺃﻭ ﻭﻻﺩﺓ ﻭﺟﻨﻮﻥ ﻭﻟﻮ ﻟﺤﻈﺔ ﻭﺑﺈﻏﻤﺎﺀ ﻭﺳﻜﺮ ﺗﻌﺪﻯ ﺑﻪ ﺇﻥ ﻋﻤَّﺎ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺍﻧﻮﺍﻉ : ﻭﺍﺟﺐ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ﻭﺍﻟﻨﻔﺴﺎﺀ، ﻭﺟﺎﺋﺰ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ ﻭﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﻭﻻﻭﻻﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻨﻮﻥ، ﻭﻣﺤﺮﻡ ﻛﻤﻦ ﺃﺧﺮ ﻗﻀﺎﺀ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺗﻤﻜﻨﻪ ﺣﺘﻰ ﺿﺎﻕ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻋﻨﻪ .

ﻭﺃﻗﺴﺎﻡ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﺃﻳﻀﺎ ﻣﺎ ﻳﻠﺰﻡ ﻓﻴﺔ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﺪﻳﺔ ﻭﻫﻮ ﺍﺛﻨﺎﻥ : ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻟﺨﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﺓ ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻣﻊ ﺗﺄﺧﻴﺮ ﻗﻀﺎﺀ ﻣﻊ ﺇﻣﻜﺎﻧﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺄﺗﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺁﺧﺮ ، ﻭﺛﺎﻧﻴﻬﺎ ﻣﺎﻳﻠﺰﻡ ﻓﻴﺔ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻔﺪﻳﺔ ﻭﻫﻮ ﻳﻜﺜﺮ ﻛﻤﻐﻤﻰ ﻋﻠﻴﺔ ، ﻭﺛﺎﻟﺜﻬﻤﺎ ﻣﺎ ﻳﻠﺰﻡ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻔﺪﻳﺔ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﻫﻮﺷﻴﺦ ﻛﺒﻴﺮ ، ﻭﺭﺍﺑﻌﻬﺎ ﻻ ﻭﻻ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺠﻨﻮﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﺘﻌﺪ ﺑﺠﻨﻮﻧﻪ .

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻔﻄِﺮ ﻣﻤﺎ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﻮﻑ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻓﺮﺍﺩ : ﻣﺎﻳﺼﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﻮﻑ ﺑﻨﺴﻴﺎﻥ ﺃﻭ ﺟﻬﻞ ﺃﻭ ﺇﻛﺮﺍﺓ ﻭﺑﺠﺮﻳﺎﻥ ﺭﻳﻖ ﺑﻤﺎ ﺑﻴﻦ ﺃﺳﻨﺎﻧﻪ ﻭﻗﺪ ﻋﺠﺰ ﻋﻦ ﻣﺠﻪ ﻟﻌﺬﺭﻩ ﻭﻣﺎ ﻭﺻﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﻮﻑ ﻭﻛﺎﻥ ﻏﺒﺎﺭ ﻃﺮﻳﻖ ، ﻭﻣﺎ ﻭﺻﻞ ﺇﻟﻴﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﻏﺮﺑﻠﺔ ﺩﻗﻴﻖ ، ﺃﻭﺫﺑﺎﺑﺎ ﻃﺎﺋﺮﺍ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻩ

BAB VI : “PUASA”

(Fasal Satu)

Puasa Ramadhan diwajibkan dengan salah satu ketentuan-ketentuan berikut ini:

1. Dengan mencukupkan bulan sya’ban 30 hari.

2. Dengan melihat bulan, bagi yang melihatnya sendiri.

3. Dengan melihat bulan yang disaksikan oleh seorang yang adil di muka hakim.

4. Dengan Kabar dari seseorang yang adil riwayatnya juga dipercaya kebenarannya, baik yang mendengar kabar tersebut membenarkan ataupun tidak, atau tidak dipercaya akan tetapi orang yang mendengar membenarkannya.

5. Dengan beijtihad masuknya bulan Ramadhan bagi orang yang meragukan dengan hal tersebut.

(Fasal Kedua)

Syarat sah puasa ramadhan ada empat (4) perkara, yaitu:

1. Islam.

2. Berakal.

3. Suci dari seumpama darah haidh.

4. Dalam waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa.

(Fasal Ketiga)

Syarat wajib puasa ramadhan ada lima perkara, yaitu:

1. Islam.

2. Taklif (dibebankan untuk berpuasa).

3. Kuat berpuasa.

4. Sehat.

5. Iqamah (tidak bepergian).

(Fasal Keempat)

Rukun puasa ramadhan ada tiga perkara, yaitu:

1. Niat pada malamnya, yaitu setiap malam selama bulan Ramadhan.

2. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa ketika masih dalam keadaan ingat, bisa memilih (tidak ada paksaan) dan tidak bodoh yang ma’zur (dima’afkan).

3. Orang yang berpuasa.

(Fasal Kelima)

Diwajibkan: mengqhadha puasa, kafarat besar dan teguran terhadap orang yang membatalkan puasanya di bulan Ramadhan satu hari penuh dengan sebab menjima’ lagi berdosa sebabnya .

Dan wajib serta qhadha: menahan makan dan minum ketika batal puasanya pada enam tempat:

1. Dalam bulan Ramadhan bukan selainnya, terhadap orang yang sengaja membatalkannya.

2. Terhadap orang yang meninggalkan niat pada malam hari untuk puasa yang Fardhu.

3. Terhadap orang yang bersahur karena menyangka masih malam, kemudian diketahui bahwa Fajar telah terbit.

4. Terhadap orang yang berbuka karena menduga Matahari sudah tenggelam, kemudian diketahui bahwa Matahari belum tenggelam.

5. Terhadap orang yang meyakini bahwa hari tersebut akhir Sya’ban tanggal tigapuluh, kemudian diketahui bahwa awal Ramadhan telah tiba.

6. Terhadap orang yang terlanjur meminum air dari kumur-kumur atau dari air yang dimasukkan ke hidung.

(Fasal Keenam)

Batal puasa seseorang dengan beberapa macam, yaitu:

– Sebab-sebab murtad.

– Haidh.

– Nifas.

– Melahirkan.

– Gila sekalipun sebentar.

– Pingsan dan mabuk yang sengaja jika terjadi yang tersebut di siang hari pada umumnya.

(Fasal Ketujuh)

Membatalkan puasa di siang Ramadhan terbagi empat macam, yaitu:

1. Diwajibkan, sebagaimana terhadap wanita yang haid atau nifas.

2. Diharuskan, sebagaimana orang yang berlayar dan orang yang sakit.

3. Tidak diwajibkan, tidak diharuskan, sebagaimana orang yang gila.

4. Diharamkan (ditegah), sebagaimana orang yang menunda qhadha Ramadhan, padahal mungkin dikerjakan sampai waktu qhadha tersebut tidak mencukupi.

Kemudian terbagi orang-orang yang telah batal puasanya kepada empat bagian, yaitu:

1. Orang yang diwajibkan qhadha dan fidyah, seperti perempuan yang membatalkan puasanya karena takut terhadap orang lain saperti bayinya. Dan seperti orang yang menunda qhadha puasanya sampai tiba Ramadhan berikutnya.

2. Orang yang diwajibkan mengqhadha tanpa membayar fidyah, seperti orang yang pingsan.

3. Orang yang diwajibkan terhadapnya fidyah tanpa mengqhadha, seperti orang yang sangat tua yang tidak kuasa.

4. Orang yang tidak diwajibkan mengqhadha dan membayar fidyah, seperti orang gila yang tidak disengaja.

(Fasal Kedelapan)

Perkara-perkara yang tidak membatalkan puasa sesudah sampai ke rongga mulut ada tujuh macam, yaitu:

1. Ketika kemasukan sesuatu seperti makanan ke rongga mulut denga lupa

2. Atau tidak tahu hukumnya .

3. Atau dipaksa orang lain.

4. Ketika kemasukan sesuatu ke dalam rongga mulut, sebab air liur yang mengalir diantara gigi-giginya, sedangkan ia tidak mungkin mengeluarkannya.

5. Ketika kemasukan debu jalanan ke dalam rongga mulut.

6. Ketika kemasukan sesuatu dari ayakan tepung ke dalam rongga mulut.

7. Ketika kemasukan lalat yang sedang terbang ke dalam rongga mulut.

ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻋﻠﻢ ﺑﺎﻟﺼﻮﺍﺏ ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺑﺠﺎﻩ ﻧﺒﻴﻪ ﺍﻟﻮﺳﻴﻢ، ﺃﻥ ﻳﺨﺮﺟﻨﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﺴﻠﻤﺎ، ﻭﻭﺍﻟﺪﻱ ﻭﺃﺣﺒﺎﺋﻲ ﻭﻣﻦ ﺇﻟﻲ ﺍﻧﺘﻤﻲ، ﻭﺍﻥ ﻳﻐﻔﺮ ﻟﻲ ﻭﻟﻬﻢ ﻣﻘﺤﻤﺎﺕ ﻭﻟﻤﻤﺎ ، ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ ﺑﻦ ﻫﺎﺷﻢ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﻣﻨﺎﻑ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﻛﺎﻓﺔ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻤﻼﺣﻢ ،ﺣﺒﻴﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻔﺎﺗﺢ ﺍﻟﺨﺎﺗﻢ ،ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ .

ﺗﻢ ﺑﻌﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﺘﻦ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﺍﻟﻨﺠﺎﺓ

Wallaohu a’lam bishshowaab

Kemudian kami akhiri dengan meminta kepada Tuhan Yang Karim , dengan berkah beginda kita Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam yang wasim , supaya mengakhiri hidupku dengan memeluk agama Islam, juga orang tuaku, orang yang aku sayangi dan semua keturunanku. Dan mudah-mudahan ia mengampuniku serta mereka segala kesalahan dan dosa.

Semoga rahmat Tuhan selalu tercurah keharibaan junjungan kita Nabi Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Mutholib bin Abdi Manaf bin Hasyim yang menjadi utusan Alloh kepada sekalian makhluk Rosulul malahim, kekasih Alloh yang membuka pintu rahmat, menutup pintu kenabian, serta keluarga dan sahabat sekalian. Walhamdu lillaahi Robbil ’Aalamin,,,

Fiqih Muamalat (Pengertian, Ruang lingkup,Sumber Hukum, Asas, Prinsip serta Akad dan hak)

​A. Pengertian fiqih muamalat

Fiqih Muamalah adalah pengetahuan tentang kegiatan atau transaksi yang berdasarkan hukum-hukum syariat, mengenai perilaku manusia dalam kehidupannya yang diperoleh dari dalil-dalil islam secara rinci. Ruang lingkup fiqih muamalah adalh seluruh kegiatan muamalah manusia berdasarkan hokum-hukum islam yang berupaperaturan-peraturan yang berisi perintah atau larangan seperti wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. hukum-hukum fiqih terdiri dari hokum hukum yang menyangkut urusan ibadah dalam kaitannya dengan hubungan vertical antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia lainnya.

B.   Ruang Lingkup fiqih muamalat

Ruang lingkup fiqih muamalah mencakup segala aspek kehidupan manusia, seperti social,ekonomi,politik hokum dan sebagainya. Aspek ekonomi dalam kajian fiqih sering disebut dalam bahasa arab dengan istilah iqtishady, yang artinya adalah suatu cara bagaimana manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan membuat pilihan di antara berbagai pemakaian atas alat pemuas kebutuhan yang ada, sehingga kebutuhan manusia yang tidak terbatas dapat dipenuhi oleh alat pemuas kebutuhan yang terbatas.

C. Sumber-sumber fiqih muamalat

Sumber-sumber fiqih secara umum berasal dari dua sumber utama, yaitu dalil naqly yang berupa Al-Quran dan Al-Hadits, dan dalil Aqly yang berupa akal (ijtihad). Penerapan sumber fiqih islam ke dalam tiga sumber, yaitu Al-Quran, Al-Hadits,dan ijtihad.

1. Al-Quran

Al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dengan bahasa arab yang memiliki tujuan kebaikan dan perbaikan manusia, yang berlaku di dunia dan akhirat. Al-Quran merupakan referensi utama umat islam, termasuk di dalamnya masalah hokum dan perundang-undangan.sebagai sumber hukum yang utama,Al-Quran dijadikan patokan pertama oleh umat islam dalam menemukan dan menarik hukum suatu perkara dalam kehidupan.

2. Al-Hadits

Al-Hadits adalah segala yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, baik berupa perkataan,perbuatan,maupun ketetapan. Al-Hadits merupakan sumber fiqih kedua setelah Al-Quran yang berlaku dan mengikat bagi umat islam.

3. Ijma’ dan Qiyas

Ijma’ adalah kesepakatan mujtahid terhadap suatu hukum syar’i dalam suatu masa setelah wafatnya Rasulullah SAW. Suatu hukum syar’i agar bisa dikatakan sebagai ijma’, maka penetapan kesepakatan tersebut harus dilakukan oleh semua mujtahid, walau ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ijma’ bisa dibentuk hanya dengan kesepakatan mayoritas mujtahid saja. Sedangkan qiyas adalah kiat untuk menetapkan hukum pada kasus baru yang tidak terdapat dalam nash (Al-Qur’an maupun Al-Hadist), dengan cara menyamakan pada kasus baru yang sudah terdapat dalam nash.

D. Prinsip Dasar (asas-asas) dan prinsip umum Fiqih Muamalah

Sebagai sistem kehidupan, Islam memberikan warna dalam setiap dimensi kehidupan manusia, tak terkecuali dunia ekonomi. Sistem Islam ini berusaha mendialektikkan nilai-nilai ekonomi dengan nilai akidah atau pun etika. Artinya, kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh manusia dibangun dengan dialektika nilai materialisme dan spiritualisme. Kegiatan ekonomi yang dilakukan tidak hanya berbasis nilai materi, akan tetapi terdapat sandaran transendental di dalamnya, sehingga akan bernilai ibadah. Selain itu, konsep dasar Islam dalam kegiatan muamalah (ekonomi) juga sangat konsen terhadap nilai-nilai humanisme. Di antara kaidah dasar (asas) fiqh muamalah adalah sebagai berikut :

2. Prinsip dasar (asas)

· Hukum asal dalam muamalat adalah mubah

· Konsentrasi Fiqih Muamalah untuk mewujudkan kemaslahatan

· Menetapkan harga yang kompetitif

· Meninggalkan intervensi yang dilarang

· Menghindari eksploitasi

· Memberikan toleransi

· Tabligh, siddhiq, fathonah amanah sesuai sifat Rasulullah

· Bermanfaat, adil dan muawanah

1. Prinsip umum

· Ta’awun (tolong-menolong)

· Niat / itikad baik

· Al-muawanah / kemitraan

· Adanya kepastian hukum, Kepastian hukum merupakan pertanyaan yang hanya bias dijawab secara normatif, bukan sosiologis. Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat, diterapkan dan dijadikan sebagai pedoman secara pasti dan mengatur secara jelas dan logis masalah yang akan diatur. Jelas dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi-tafsir) dan logis dalam artian ia menjadi suatu sistem norma yang sejalan dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma.

E. Konsep Aqad Fiqih Ekonomi (Muamalah)

Setiap kegiatan usaha yang dilakukan manusia pada hakekatnya adalah kumpulan transaksi-transaksi ekonomi yang mengikuti suatu tatanan tertentu. Dalam Islam, transaksi utama dalam kegiatan usaha adalah transaksi riil yang menyangkut suatu obyek tertentu, baik obyek berupa barang ataupun jasa. kegiatan usaha jasa yang timbul karena manusia menginginkan sesuatu yang tidak bisa atau tidak mau dilakukannya sesuai dengan fitrahnya manusia harus berusaha mengadakan kerjasama di antara mereka. Kerjasama dalam usaha yang sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam:

· Bekerja sama dalam kegiatan dapat menjadi pemberi pembiayaanØusaha, dalam hal ini salah satu pihak dimana atas manfaat yang diperoleh yang timbul dari pembiayaan tersebut dapat dilakukan bagi hasil. Kerjasama ini dapat berupa pembiayaan usaha 100% melalui akad mudharaba maupun pembiayaan usaha bersama melalui akad musyarakah.

· Kerjasama dalam perdagangan, di mana untuk

perdagangan dapat diberikan fasilitas-fasilitas tertentuØmeningkatkan dalam pembayaran maupun penyerahan obyek. Karena pihak yang mendapat fasilitas akan memperoleh manfaat, maka pihak pemberi fasilitas berhak untuk mendapatjan bagi hasil (keuntungan) yang dapat berbentuk harga yang berbeda dengan harga tunai.

· Kerja sama dalam penyewaan aset dimana obyek transaksi adalah manfaat dari penggunaan asset.

Kegiatan hubungan manusia dengan manusia (muamalah) dalam bidang ekonomi menurut Syariah harus memenuhi rukun dan syarat tertentu. Rukun adalah sesuatu yang wajib ada dan menjadi dasar terjadinya sesuatu, yang secara bersama-sama akan mengakibatkan keabsahan. Rukun transaksi ekonomi Syariah adalah:

1. Adanya pihak-pihak yang melakukan transaksi, misalnya penjual dan pembeli, penyewa dan pemberi sewa, pemberi jasa dan penerima jasa.

2. Adanya barang (maal) atau jasa (amal) yang menjadi obyek transaksi.

3. Adanya kesepakatan bersama dalam bentuk kesepakatan menyerahkan (ijab) bersama dengan kesepakatan menerima (kabul). Disamping itu harus pula dipenuhi syarat atau segala sesuatu yang keberadaannya menjadi pelengkap dari rukun yang bersangkutan. Contohnya syarat pihak yang melakukan transaksi adalah cakap hukum, syarat obyek transaksi adalah spesifik atau tertentu, jelas sifat-sifatnya, jelas ukurannya, bermanfaat dan jelas nilainya. Obyek transaksi menurut Syariah dapat meliputi barang (maal) atau jasa, bahkan jasa dapat juga termasuk jasa dari pemanfaatan binatang.

Pada prinsipnya obyek transaksi dapat dibedakan kedalam:

1. obyek yang sudah pasti (ayn), yaitu obyek yang sudah jelas keberadaannya atau segera dapat diperoleh manfaatnya.

2. obyek yang masih merupakan kewajiban (dayn), yaitu obyek yang timbul akibat suatu transaksi yang tidak tunai.

Secara garis besar aqad dalam fiqih muamalah adalah sebagai berikut :

1. Aqad mudharabah

Ikatan atau aqad Mudharabah pada hakikatnya adalah ikatan penggabungan atau pencampuran berupa hubungan kerjasama antara Pemilik Usaha dengan Pemilik Harta

2. Aqad musyarakah

Ikatan atau aqad Musyarakah pada hakekatnya adalah ikatan penggabungan atau pencampuran antara para pihak yang bersama-sama menjadi Pemilik Usaha,

3. Aqad perdagangan

Aqad Fasilitas Perdagangan adalah perjanjian pertukaran yang bersifat keuangan atas suatu transaksi jual-beli dimana salah satu pihak memberikan fasilitas penundaan pembayaran atau penyerahan obyek sehingga pembayaran atau penyerahan tersebut tidak dilakukan secara tunai atau seketika pada saat transaksi.

4. Aqad ijarah

Aqad Ijarah adalah aqad pemberian hak untuk memanfaatkan Obyek melalui penguasaan sementara atau peminjaman Obyek dgn Manfaat tertentu dengan membayar imbalan kepada pemilik Obyek. Ijara mirip dengan leasing namun tidak sepenuhnya sama dengan leasing, karena Ijara dilandasi adanya perpindahan manfaat tetapi tidak terjadi perpindahan kepemilikan.

KESIMPULAN

Dari berbagai penjelasan di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan dahwa Fiqih Muamalah merupakan ilmu yang mempelajari segala perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tujuan memperoleh falah (kedamaian dan kesejahteraan dunia akhirat). Perilaku manusia di sini berkaitan dengan landasan-landasan syariah sebagai rujukan berperilaku dan kecenderungan-kecenderungan dari fitrah manusia. Kedua hal tersebut berinteraksi dengan porsinya masing-masing sehingga terbentuk sebuah mekanisme ekonomi (muamalah) yang khas dengan dasar-dasar nilai ilahiyah.

Metode Pengobatan Rasulullah

METODE PENGOBATAN MENURUT RASULULLAH SAW

Setiap penyakit itu pasti ada obatnya, Rasulullah SAW bersabda dari Jabir radhiayallahu anhu’ Rasulullah saw bersabda :

“setiap penyakit itu pasti ada obatnya. oleh karena itu, barang siapa yang tepat dalam melakukan pengobatan suatu penyakit, maka dengan izin Allah Azza wa Jalla dia akan sembuh.” (HR. Muslim dalam Kitab as-Salaam, bab Li kulli Daa-in Dawaa wa Istihbabut Tadaawii, Hadits no. 2204).

Allah swt juga sudah memberitahukan umat nya bahwasannya suatu penyakit ada penawarnya. Allah swt mengisyaratkan bahwa al-quran diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin. Firman Allah Swt dalam beberapa surat:

” Dan kami menurunkan Al Qur’an sebagai penawar dan Rahmat untuk orang-orang yang mu’min “ ( Al-Isra : 82 ).

Menurut para ahli tafsir bahwa nama lain dari Al Qur’an yaitu ” Asysyifa ” yang artinya secara Terminologi adalah Obat Penyembuh.

” Hai manusia , telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman ” ( Yunus : 57 ).

Didalam al-quran juga dijelaskan bahwa Allah swt telah menjadikan alam semesta ini sebagai suatu sumber bahwasannya segala macam yang ada di alam semesta bisa digunakan untuk pengobatan. Contohnya seperti kurma, anggur, zaitun, dan madu. Firman Allah swt :

“dan makanlah oleh kamu bermacam-macam sari buah-buahan, serta tempuhlah jalan-jalan yang telah digariskan Tuhanmu dengan lancer. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam jenisnya yang dapat dijadikan obat untuk manusia. Dialamnya terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah swt bagi orang-orang yang memikirkan”. (An-nahl : 69).

“Dia menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu seperti zaitun, kurma, anggur dan buah-buahan lain. Sesungguhnya pada hal-hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah swt bagi orang-orang yang mau memikirkan.” (An-Nahl : 11).

Dari hal yang sudah dibicarakan diatas terbukti bahwa al-quran mempunyai sumber ilmu pengetahuan yang luar biasa. Setiap kali Allah menurunkan penyakit, Allah pasti menurunkan penyembuhnya. Hanya ada orang yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya. Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang pesat. Nabi Muhammad SAW sudah mengetahui dan menerapkan pengobatan yang terbukti kemanjurannya. Atas izin Allah swt suatu penyakit seseorang pasti akan sembuh dengan obat-obatan yang sudah dijelaskan dalam al-quran dan juga melalui metode pengobatan rasulullah SAW.

Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul yang diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepada umatNya tidak lepas tingkah lakunya dari al-quran. Karena beliau menjadi suri tauladan yang baik bagi manusia.

Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul yang diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepada umatNya tidak lepas tingkah lakunya dari al-quran. Karena beliau menjadi suri tauladan yang baik bagi manusia.

Ada tiga metode pengobatan yang diajarkan oleh Rasulullah saw, yaitu:

1. Metode alamiah; menggunakan herbal atau tanaman obat sebagai pengobatan. Salah satu obat yang dianjurkan Rasulullah saw adalah madu. Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan Al Quran.”

2. Pengobatan Ilahiah; pengobatan yang dilakukan dengan memanjatkan do’a kepada Allah swt agar diberikan kesembuhan karena segala penyakit tentunya berasal dari takdir Allah swt yang maha kuasa.

3. Metode ilmiah; metode yang diambil berdasarkan ilmu pengetahuan. Pada zaman Rasulullah saw., metode ilmiah yang terkenal adalah bekam. Bekam (al hijamah) adalah pengobatan yang bertujuan untuk membuang darah kotor yang akan mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit, bekam juga bertujuan untuk membuang racun yang ada dalam tubuh, meluruskan tulang belakang sehingga gangguan kesehatan dapat diminimalkan. serta membersihkan dan menyeimbangkan suhu dalam tubuh agar terjadi harmonisasi yang menyebabkan seseorang dapat hidup sehat. Pengobatan dengan bekam kini sudah dikembangkan sesuai kemajuan teknologi dan manfaatnya sudah diakui oleh para dokter di rumah sakit.

METODE ALAMIAH

1. 1. Madu

Sebagaimana sudah dijelaskan dalam alquran suart An-Nahl : 68-69 bahwasannya madu sudah sangat dijelaskan didalam al-quran sebagai obat untuk manusia .

ﺛُﻢَّ ﻛُﻠِﻲ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﻓَﺎﺳْﻠُﻜِﻲ ﺳُﺒُﻞَ ﺭَﺑِّﻚِ ﺫُﻟُﻠًﺎ ۚ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻣِﻦْ ﺑُﻄُﻮﻧِﻬَﺎ ﺷَﺮَﺍﺏٌ ﻣُﺨْﺘَﻠِﻒٌ ﺃَﻟْﻮَﺍﻧُﻪُ ﻓِﻴﻪِ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ۗ ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟَﺂﻳَﺔً ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ

kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

Nabi Muhammad Saw bersabda : “ Kesembuahan itu ada pada tiga hal, yaitu dalam pisau pembekaman, meminumkan madu, pengobatan dengan besi panas. Dan aku melarang umatku melakukan pengobatan dengan besi panas ”. (HR. Bukhori no. 5681)

Menurut Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah: “Madu memiliki banyak khasiatnya. Madu dapat membersihkan kotoran yang terdapat pada usus, pembuluh darah, menetralkan kelembaban tubuh baik dengan cara dikonsumsi ataupun dioleskan. Madu sangat bermanfaat untuk lansia dan bagi mereka yang memiliki keluhan pada dahak atau yang metabolismenya cenderung lembab dan dingin” (Metode Pengobatan Nabi SAW hal 42-43).

Suatu kejadian ketika ada sahabat nabi datang kepada Nabi saw memberitahukan anaknya yang sedang sakit, kemudian Nabi menyuruh orang itu meminumkan madu kepada anaknya. Nabi juga menyuruh mengambil madu asli dan ketika madu diminumkan kepada anaknya hendaklah membaca do’a.

Sudah menjadi bukti bahwa madu adalah salah satu obat yang mujarab yang selalu dipakai oleh Nabi Muhammad saw pada masa itu. Ada suatu penelitian menjelaskan bahwa, luka bakar akan cepat sembuh apabila diberikan (diolesi) obat dengan madu bukan dengan yang lain. Itu baru merupakan salahsatu dari manfaat madu. Dibawah ini akan dijelaskan beberapa manfaat madu bagi kesehatan :

1. 1. Sebagai sumber energy yang baik

Orang yang mengkonsumsi madu sebelum beraktifitas akan senantiasa tidak akan mudah mengalami kelelahan, dan juga orang yang berpuasa yang sebelumnya orang itu mengkonsumsi madu maka orang itu akan tidak mudah merasakan lapar dan energy nya akan tetap terjaga dalam tubuh. Kenapa bisa begitu ? sebab, madu mempunyai fruktosa dan glukosa yang dapat mudah diubah menjadi energy dalam tubuh. Madu akan memberikan cadangan makanan dalam tubuh, sehingga tubuh kita tidak mudah mengalami kelelahan.

1. 2. Tidak menyebabkan resiko diabetes

Pada madu tentunya mengandung zat yang baik dalam tubuh yang tidak akan merugikan kesehatan bagi tubuh kita. Hal ini sudah tercantum dalam al-quran. Jadi, madu bisa digunakan untuk pengganti gula dan tentunya aman bagi penderita diabetes.

1. 3. Membantu penyerapan kalsium

Madu mempunyai kandungan asam glukonat yang dapat mempercepat penyerapan kalsium.

1. 4. Madu baik untuk pencernaan

Ada banyak manfaat madu bagi pencernaan kita yaitu :

Madu baik untuk mengatasi tukak lambung dan mencegah iritasi pada lambung yang disebabkan oleh resiko dari makanan dan minuman beralkohol, obat-obatan ataupun yang lainnya. Menurut pengalaman seseorang, ketika orang itu mengalami penyakit lambung. Dia sudah beberapa kali minum obat-obatan tetapi tidak selalu membuahkan hasil, kemudian waktu itu dia memutuskan untuk mengkonsumsi madu dan menghentikan meminum obat sehingga lambung dia membaik dan tidak mudah terasa perih. Madu memang obat yang mujarab bagi tubuh kita, tidak ada salahnya kita mencoba pengobatan dengan madu. Anjuran meminum obat dengan madu sudah dituliskan dengan jelas dalam alquran.

Madu sebagai obat untuk memperlancar buang air besar, mengatasi konstipasi ataupun sembelit, dan mengatasi dalam masalah diare dengan cara membantu penyerapan air dan elektrolit dan akan mengahambat bakteri E.colli yang dapat menyebabkan diare.

1. 5. Sebagai anti oksidan

Madu mengandung berbagai macam nutrisi seperti vitamin C, enzim, asam fenolik, asam organic dan flavonoid yang akan bermanfaat sebagai anti oksidan yang tinggi.

1. 6. Madu akan meningkatkan bakteri yang menguntungkan bagi tubuh dan menghambat bakteri yang merugikan bagi tubuh.

Madu mempunyai sifat antimikroba. madu akan membantu meningkatkan pertumbuhan bakteri bifido yang merupakan bakteri yang sangat penting untuk menjaga kesehatan pencernaan yaitu dengan menghambat bakteri yang merugikan seperti helicobacter pylori, yang dapat menyebabkan tukak pada lambung.

1. 7. Madu akan mempercepat proses penyembuhan luka

Madu bersifat higroskopis yang tinggi yang akan mudah menyerap air. Sehingga jika madu dioleskan ke luka terbuka, madu akan mempercepat penyerapan kandungan air pada luka tersebut. Sehingga luka akan mudah kering. Madu juga mengurangi pembengkakan pada luka dan luka akan sembuh lebih cepat. Sifat antimikroba yang terkandung dalam madu akan menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur sehingga luka akan tidak mudah terinfeksi.

1. 2. Minyak zaitun

2.

Sudah dijelaskan dalam beberapa hadits dan al-quran bahwa minyak zaitun mempunyai banyak kandungan yang bermanfaat bagi tubuh kita.

Firman Allah : “..yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur (sesuatu) dan tidak pula disebelah barat” (Qs. An Nur : 35).

Hadits dibawah ini menerangkan bahwa minyak zaitun itu adalah minyak yang berasal dari pohon yang diberkahi. Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, “konsumsilah oleh mu sekalian minyak zaitun dan poleskan dengannya, karena sesungguhnya minyak itu berasal dari pohon yang diberkahi.” (HR. Ahmad III/149, At-Tirmidzi no.1851 dan Ibnu Majah no.3319, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiih at Tirmidzi II/166).

Dibawah ini ada beberapa manfaat dari minyak zaitun diantaranya :

Mengurangi serangan kanker

Mengurangi pemakaian obat-obatan penurun tekanan darah tinggi

Mengurangi risiko penyumbatan (thrombosis) dan penebalan (ateriosklerosis) pembuluh darah

Menurunkan resiko kanker rahim sampai 26%

Melindungi dari serangan kanker payudara. Sesendok makan minyak zaitun setiap harinya akan mengurangi resiko kanker payudara sampai pada kadar 45%

Penggunaan sebagai minyak rambut mampu membunuh kutu dalam waktu beberapa jam saja

Mengandung lemak terbaik yang seharusnya dikonsumsi oleh manusia seperti yang terdapat pada ASI

Mengurangi kolesterol berbahaya tanpa mengurangi kandungan kolesterol yang bermanfaat

Pengkonsumsian buah-buahan, sayur-sayuran, dan minyak zaitun memiliki peran penting dalam melindungi tubuh dari kanker kolon

Memberikan pengaruh positif untuk melindungi tubuh dari kanker lambung dan mengurangi resioko tukak pada lambung

Menggunakan minyak zaitun sebagai krim kulit setelah kita melaksanakan renang akan melindungi terjadinya kanker kulit (melanoma).

1. 3. Habbatussauda (jinten hitam)

2.

Salah satu metode pengobatan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw adalah dengan Habbatussauda (jinten hitam).

Rasulullah saw bersabda : “sesungguhnya didalam habbatussauda terdapat penyembuhan bagi segala macam penyakit kecuali kematian” (HR. Al-Bukhari no. 5688 dan Muslim no. 2215, ini lafazhnya Muslim, dari Abu Hurairah ra)

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra, bahwasannya dia pernah mendengar Nabi saw bersabda yang artinya : “sungguh didalam habbatussauda itu terdapat penyembuh segala macam penyakit kecuali assam. “saya bertanya “apakah as-sam itu? “beliau menjawab “kematian”. Habbatussauda berkhasiat mengobati segala jenis penyakit dingin bisa juga membantu kesembuhan berbagai macam penyakit panas karena faktor temporal.

Nama lain dari Habbatussauda adalah Nigella Sativa, al-Karawiyah as-Sauda, al-Kamoun al-Aswad, asy-Syuniz, black cumin, kerosene, coal oil, carazna. Didalam biji Habbatussauda mengandung 405 minyak takasiri dan 1,4% minyak atsiri, 15 jenis asam amino, protein, Ca, Fe,Na, dan K. kandungan aktifnya thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ), thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY). Hasil penelitian membuktikan bahwa didalam habbatussauda mengaktifkan kekebalan spesifik/kekebalan didapat, karena ia meningkatkan kadar sel-sel T pembantu, sel-sel T penekan, dan sel-sel pembunuh alami.

Beberapa manfaat Habbatussauda diantaranya :

Menguatkan system kekebalan

Meningkatkan daya ingat, konsentrasi dan kewaspadaan. Dalam kandungan habbatussauda memiliki asam linoleat (omega 6 dan asam linoleat (omega 3)), habbatussauda merupakan nutrisi bagi sel otak berguna untuk meningkatkan daya ingat dan kecerdasan. Habbatussauda juga memperbaiki mikro (peredaran darah) keotak dan sangat cocok diberikan pada anak usia pertumbuhan dan lansia.

Mengatasi gangguan tidur dan stress, didalam habbatussauda terdapat saponin yang memiliki fungsi seperti kortikosteroid yang dapat mempengaruhi karbohidrat, protein dan lemak serta mempengaruhi fungsi jantung, ginjal, otot tubuh dan syaraf. Saponin juga berfungsi untuk mempertahankan diri dari perubahan lingkungan, gangguan tidur, dan dapat menghilangkan stress.

Nutrisi bagi manusia, habbatussauda kaya akan kandungan nutrisi sebagai tambahan energy sangat ideal untuk lansia, terutama untuk menjaga daya tahan tubuh dan revitalitas sel otak agar tidak cepat pikun. Sudah dijelaskan diatas bahwa habbatussauda mengandung 15 macam asam amino penyusun isi protein termasuk didalamnya 9 asam amino esensial. Asam amino tidak dapat diproduksi oleh tubuh dalam jumlah yang cukup. Oleh karena itu dibutuhkan suplemen tambahan, habbatussauda dapat mencukupinya.

Anti tumor, pada kongres kanker International di New Delhi, minyak habbatussauda diperkenalkan ilmuan kanker Immunobiologi dari California selatan, habbatussauda dapat merangsang sumsum tulang dan sel-sel kekebalan, inferonnya menghasilkan sel-sel normal terdapat virus yang merusak sekaligus menghancurkan sel-sel tumor dan meningkatkan antibody.

Meningkatkan bioaktifitas hormon, hormon adalah zat aktif yang dihasilkan oleh kelenjar endoktrin, yang masuk dalam peredaran darah. Salah satu kandungan habbatussauda adalah sterol yang berfungsi sintesa dan bioaktifitas hormon.

Melancarkan air susu ibu, kombinasi bagian lemak tidak jenuh dan struktur hormonal yang terdapat dalam minyak habbatussauda dapat melancarkan air susu ibu. Penelitian ini kemudian dipublikasikan dalam literature penelitian di Universitas Potchestroom tahun 1989.

Tambahan nutrisi pada ibu hamil dan balita, pada masa pertumbuhan anak tentunya akan membutuhkan nutrisi untuk meningkatkan system kekebalan tubuh secara alami, terutama pada musim hujan akan mudah terkena flu dan pilek. Didalam habbatussauda mengandung omega 3,6,9 yang merupakan nutrisi yang membatnu perkembangan jaringan otak dan janin.

Memperbaiki saluran pencernaan dan anti bakteri, habbatussauda mengandung minyak atsiri dan volatif yang telah diketahui manfaatnya untuk memperbaiki pencernaan. Secara tradisional minyak ini digunakan untuk mengobati diare. Tahun 1992. Jurnal Farmasi Pakistan memuat hasil penelitian yang membuktikan minyak volatile lebih ampuh membunuh strainbakteri V colera dan E colli dibandingkan dengan antibiotic seperti Ampicillin dan Tetracillin.

Menetralkan racun dalam tubuh, racun yang dapat mengganggu metabolisme tubuh dan menurunkan fungsi organ penting seperti hati, paru-paru dan otak. Gejala ringan seperti keracunan dapat berupa diare, pusing, ganguan pernafasan dan menurunkan daya konsentrasi. Didalam habbatussauda mengandung saponin yang dapat menetralkan dan membersihkan racun dalam tubuh.

Anti histamine, histamine adalah sebuah zat yang dilepaskan oleh jaringan tubuh yang memberikan reaksi alergi seperti pada asma bronchial. Minyak yang dibuat dari habbatussauda dapat mengisolasi ditymoquinone, minyak ini sering disebut nigellone yang berasal dari volatile nigella. Pemberian minyak ini berdampak positif terhadap penderita asma bronchial.

Mengobati reumatik, peradangan serta infeksi

Jika digoreng dan dibakar kemudian dicium terus menerus dapat mengeliminasi gas (dalam) perut

Membunuh cacing-cacing parasit jika dimakan sebelum makan pagi dan jika diletakkan diatas perut dari bagian luar sebagai aroma spa atau luluran

Minyak yang terbuat dari habbatussauda bermanfaat untuk menyembuhkan gigitan ular, juga bengkak didubur dan tahi lalat

Melancarkan haid

Jika dibalutkan bermanfaat untuk menyembuhkan pusing yang parah

Apabila dimasak dengan cuka bersama kayu pinus dan kemudian dibuat untuk berkumur, maka hal itu akan menghilangkan sakit gigi yang disebakan sensitifitas terhadap dingin

Menghilangkan demam quartan (yakni demam yang menyerang manusia selama sehari kemudian mereda selama 2 hari kemudian menyerang lagi ketika hari ke 4)

Dari beberapa manfaat diatas masih banyak lagi manfaat besar habbatussauda bagi tubuh kita.

Aiman bin Abdil Fattah mengatakan : “karena itulah kami dapat menetapkan bahwa dalam Habbatussauda terdapat kesembuhan untuk segala macam penyakit, karena peranannya yang menguatkan dan memperbaiki system immunity, suatu system yang didalamnya ada kesembuhan dari segala macam penyakit, yang bereaksi terhadap segala sebab yang menimbulkan penyakit, yang memiliki kemampuan awal untuk memberikan kesembuhan secara sempurna atau sebagian diantaranya untuk menyembuhkan segala penyakit.

1. 4. Air zamzam

2.

Keyakinan bahwa air zam-zam penuh berkah serta sabda rasulullah saw mengenai manfaat air zam-zam terlah terbukti secara ilmiah. Berdasarkan beberapa penelitian, ditemukan bahwa selain air zam-zam tidak berbau sebagai salah satu indicator air sehat, air yang berasal dari tanah suci terbukti memiliki kandungan mineral kalsium, magnesium dan fluoride yang tinggi. Air zam-zam dikatakan memiliki muatan ion-ion yang seimbang. Sebuah penelitian lainnya menyebutkan bahwa kualitas air zam-zam tidak berubah selama penyimpanan dalam jangka waktu lama dan ditempatkan dimana pun, ditilik dari tekstur, warna dan baunya.

Didalam air zam-zam tadi disebutkan bahwa air zam-zam mengandung kalsium dan magnesium. Kalsium didalam tubuh berfungsi untuk pembentukan tulang dan gigi. Selain itu, kalsium juga diperlukan untuk proses pembekuandarah, dimana reaksi ini sangat diperlukan selama proses penutupan luka dan penghentian aliran darah saat terjadi luka. Fungsi kalsium yang lainnya juga yaitu sebagai media terjadinya respon hormonal dan juga berfungsi sebagai salah satu katalisator kerja enzim. Pada ibu hamil dan menyusui, keberadaan kalsium dalam nutrient yang dikonsumsi sangat membantu pembentukan otak, tulang serta sel-sel darah merah didalam tubuh janin yang dikandungnya. Kalsium juga memiliki peran yang sangat besar untuk menurunkan tekanan darah, serta memiliki kemampuan mengikat kolesterol. Sehingga diet yang mengandung kalsium sangat menguntungkan.

Adapun magnesium merupakan mineral prima pengikat ion fosfat didalam tubuh. Mineral magnesium yang berikatan dengan fosfat ini berperan didalam proses metabolisme yang menghasilkan tenaga. Kebutuhan akan magnesium didalam tubuh individu berkisar antara 300 sampai 450 mg/hari. Kekurangan magnesium dapat menimbulkan terjadinya kelelahan yang bersifat kronis, kekurangan energy, menurunnya respon imun baik seluler maupun humoral dimana respon imun tersebut sangat utama didalam perlindungan tubuh terhadap penyakit, akibat luas dari kekurangan magnesium terhadap tubuh adalah kerentanan tubuh terhadap serangan penyakit. Selain itu defisiensi magnesium juga dapat memicu terjadinya stress.

Ion fluor merupakan salah satu ion penting yang mempunyai peranan sebagai antibiotik. Oleh karena itu sebagian besar produk pasta gigi mengedepankan adanya kandungan fluorida di dalam kemasannya yang difungsikan untuk menangkis timbunan bakteri penyebab plak gigi.

Air zam-zam yang terbukti mempunyai kandungan fluorida yang cukup tinggi dan sudah diteliti kemampuannya menekan pertumbuhan koloni bakteri yang sengaja dikembangkan pada media penumbuh bakteri. Kerja fluorida sebagai antimikroba ini didasari oleh kemampuan senyawa ini di dalam menghambat kerja enolase, yaitu suatu enzim glikolitik yang mengubah 2-fosfogliserat menjadi fosfoenolpiruvat. Enzim ini merupakan enzim yang berperan di dalam metabolisme pertumbuhan mikroba secara umum.

Berdasarkan berbagai pembuktian-pembuktian tersebut di atas, menunjukkan bahwa betapa besarnya manfaat air zam-zam bagi kesehatan tubuh kita. Selain mengandung beberapa mineral penting bagi tubuh, zam-zam juga bersifat steril dengan adanya kandungan fluorida yang memiliki sifat antimikroba dalam jumlah yang proporsional serta tidak memberikan dampak meracuni bagi tubuh.

Dalam sebuah hadits shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut air zam-zam,

ﺇِﻧَّﻬَﺎ ﻣُﺒَﺎﺭَﻛَﺔٌ ﺇِﻧَّﻬَﺎ ﻃَﻌَﺎﻡُ ﻃُﻌْﻢٍ

“ Sesungguhnya air zam-zam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.”

Ditambahkan dalam riwayat Abu Daud (Ath Thoyalisiy) dengan sanad jayyid (bagus) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

ﻭَﺷِﻔَﺎﺀُ ﺳُﻘْﻢٍ

“ Air zam-zam adalah obat dari rasa sakit (obat penyakit). ”

Dalam hadits dikatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengeluarkan air dari sela-sela jarinya. Kemudian para sahabat mengambil air tersebut untuk keperluan mereka. Ada yang menggunakannya untuk minum, berwudhu, mencuci pakaian dan beristinja’. Ini semua riil (nyata). Air yang dikeluarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdari sela-sela jarinya tadi, walaupun bukan air zam-zam, namun keduanya air yang sama-sama mulia. Jika diperbolehkan berwudhu, mandi, beristinja’, dan mencuci pakaian dengan menggunakan air yang keluar dari sela-sela jari tadi, maka air zam-zam boleh diperlakukan seperti itu.

Air zam-zam bisa dikatakan air yang bersih, alami, berhasiat, dan penuh berkah karena air ini berasal dari mata air tanah suci. Air zam-zam memiliki fungsi yang banyak untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain air zam-zam bisa dipakai untuk berobat, air zam-zam pula bisa dipakai untuk berwudhu, mandi, beristinja, dan mencuci pakaian.

1. 5. Kurma

2.

Kurma adalah buah yang tumbuh dari pohon palem keluarga Arecaceae dari genusphoenix . Nama ilmiah kurma adalah dactylifera phoenix. Kurma diyakini berasal dari tanah di sekitar tepi sungai Nil dan Efrat. Sekarang pohon kurma dibudidayakan secara luas di wilayah beriklim hangat di semua benua, termasuk di Afrika, Australia dan Amerika (California).

Kurma memiliki daftar panjang kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh. Tabel dibawah menunjukkan kandungan gizi dan unsur non-gizi yang ada pada kurma.

Kurma matang mengandung gula sekitar 80%, sisanya terdiri dari protein, lemak dan produk mineral termasuk tembaga, besi, magnesium dan asam folat. Kurma kaya dengan serat dan merupakan sumber kalium yang sangat baik. Lima butir kurma (sekitar 45 gram) mengandung sekitar 115 kalori, hampir semuanya dari karbohidrat.

RINCIAN KANDUNGAN GIZI KURMA (PER 100 G)

(SUMBER: USDA NATIONAL NUTRIENT DATABASE)

Unsur Nilai gizi Persen kecukupan gizi

Energi 277 Kkal 14%

Karbohidrat 74,97 g 58%

Protein 1,81g 3%

Total Lemak 0,15 g <1%

Kolesterol 0 mg 0%

Serat makanan 6,7 g 18%

Asam Folat 15 mcg 4%

Niacin 1,610 mg 10%

Asam pantotenat 0,805 mg 16%

Piridoksin 0,249 mg 19%

Riboflavin 0,060 mg 4.5%

Thiamin 0,050 mg 4%

Vitamin A 149 IU 5%

Vitamin C 0 mg 0%

Vitamin K 2,7 mcg 2%

Sodium 1 mg 0%

Potasium 696 mg 16%

Kalsium 64 mg 6.5%

Tembaga 0,362 mg 40%

Besi 0,90 mg 11%

Magnesium 54 mg 13%

Mangan 0,296 mg 13%

Fosfor 62 mg 9%

Seng 0,44 mg 4%

Beta karoten 89 mcg –

Lutein-zeaxanthin 23 mcg –

Menurut Prof Dr Ir Ali Khomsan, MS, kurma memiliki kandungan nutrisi yang berguna bagi tubuh. “Setidaknya gula (glukosa) menjadi komponen utama dengan komposisi yang mencapai 50 persen dari seluruh kandungan buahnya,” katanya. Guru besar IPB ini juga mengatakan, kandungannya lebih besar dibandingkan buah-buahan lainnya yang hanya mencapai 20-30 persen saja.

Manfaat dan Khasiat buah Kurma :

1. Tamr (kurma kering) berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus dan dapat membantu melancarkan saluran kencing karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim terutama ketika melahirkan.

Penelitian yang terbaru menyatakan bahwa buah ruthab (kurma basah) mempunyai pengaruh mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa systolenya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam binti Imran untuk memakan buah kurma ketika akan melahirkan, dikarenakan buah kurma mengenyangkan juga membuat gerakan kontraksi rahim bertambah teratur, sehingga Maryam dengan mudah melahirkan anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “ Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini ” [Maryam : 25-26]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah membawakan perkataan ‘Amr bin Maimun di dalam tafsirnya : “ Tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi perempuan nifas kecuali kurma kering dan kurma basah ”

Dokter Muhammad An-Nasimi dalam kitabnya, Ath-Thibb An-Nabawy wal Ilmil Hadits (II/293-294) mengatakan, “ Hikmah dari ayat yang mulia ini secara kedokteran adalah, perempuan hamil yang akan melahirkan itu sangat membutuhkan minuman dan makanan yang kaya akan unsur gula, hal ini karena banyaknya kontraksi otot-otot rahim ketika akan mengeluarkan bayi, terlebih lagi apabila hal itu membutuhkan waktu yang lama. Kandungan gula dan vitamin B1 sangat membantu untuk mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolenya (kontraksi jantung ketika darah dippompa ke pembuluh nadi). Dan kedua unsur itu banyak terkandung dalam ruthab (kurma basah). Kandungan gula dalam ruthab sangat mudah untuk dicerna dengan cepat oleh tubuh ”

Buah kurma matang sangat kaya dengan unsur Kalsium dan besi. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi perempuan yang sedang hamil dan yang akan melahirkan, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Maryam Al-Adzra (perawan) untuk memakannya ketika sedang nifas (setelah melahirkan). Kadar besi dan Kalsium yang dikandung buah kurma matang sangat mencukupi dan penting sekali dalam proses pembentukan air susu ibu. Kadar zat besi dan Kalsium yang dikandung buah kurma dapat menggantikan tenaga ibu yang terkuras saat melahirkan atau menyusui. Zat besi dan Kalsium merpuakan dua unsur efektif dan penting bagi pertumbuhan bayi. Alasannya , dua unsur ini merupakan unsur yang paling berpengaruh dalam pembentukan darah dan tulang sumsum.

2. Ruthab (kurma basah) mencegah terjadi pendarahan bagi perempuan-perempuan ketika melahirkan dan mempercepat proses pengembalian posisi rahim seperti sedia kala sebelum waktu hamil yang berikutnya. Hal ini karena dalam kurma segar terkandung hormon yang menyerupai hormon oxytocine yang dapat membantu proses kalahiran. Hormon oxytocine adalah hormon yang salah satu fungsinya membantu ketika wanita atau pun hewan betina melahirkan dan menyusui.

3. Memudahkan persalinan dan membantu keselamatan sang ibu dan bayinya.

4. Menenangkan Sel-Sel Saraf. Buah kurma, baik tamr maupun ruthab dapat menenangkan sel-sel saraf melalui pengaruhnya terhadap kelenjar gondok. Oleh karena itu, para dokter menganjurkan untuk memberikan beberapa buah kurma di pagi hari kepada anak-anak dan orang yang lanjut usia, agar kondisi kejiwaannya lebih baik.

5. Buah kurma yang direbus dapat memperlancar saluran kencing.

6. Buah kurma Ajwah dapat digunakan sebagai alat ruqyah dan mencegah dari ganguan jin.

7. Kurma sangat dianjurkan sebagai hidangan untuk berbuka puasa. Ada hal yang sudah ditetapkan dalam bidang kedokteran bahwa gula dan air merupakan zat yang pertama kali dibutuhkan orang berpuasa setelah melalui masa menahan makan dan minum. Berkurangnya glukosa (zat gula) pada tubuh dapat mengakibatkan penyempitan dada dan gangguan pada tulang-tulang. Dilain pihak, berkurangnya air dapat melemahkan dan mengurangi daya tahan tubuh. Hal ini berbeda dengan orang berpuasa yang langsung mengisi perutnya dengan makanan dan minuman ketika berbuka. Padahal ia membutuhkan tiga jam atau lebih agar pencernaannya dapat menyerap zat gula tersebut. Oleh karena itu, orang yang menyantap makanan dan minuman ketika berbuka puasa tetap dapat merasakan fenomena kelemahan dan gangguan-ganguan jasmani akibat kekurang zat gula dan air.

8. Buah kurma dapat mencegah stroke

9. Buah kurma kaya dengan zat garam mineral yang menetralisasi asam, seperti Kalsium dan Potasium. Buah kurma adalah makanan terbaik untuk menetralisasi zat asam yang ada pada perut karena meninggalkan sisa yang mampu menetralisasi asam setelah dikunyah dan dicerna yang timbul akibat mengkonsumsi protein seperti ikan dan telur.

10. Buah kurma mengandung vitamin A yang baik dimana ia dapat memelihara kelembaban dan kejelian mata, menguatkan penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolisme lemak, kekebalan terhadap infeksi, kesehatan kulit serta menenangkan sel-sel saraf.

11. Kurma adalah buah, makanan, obat, minuman sekaligus gula-gula.

METODE ILAHIAH 1. Ruqyah

Ruqyah atau yang kita kenal dengan jampi-jampi merupakan salah satu cara pengobatan yang pernah diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika Rasulullah saw sakit maka datang malaikat jibril mendekati tubuh beliau yang sangat indah. Kemudian jibril membacakan salah satu do’a sambil ditiupkan ketubuh nabi saw. Seketika itu beliau sembuh. Inilah do’a yang digunakan :

“Bismillahi arqiika minkulli syai-in yu’dziika minsyarri kulli nafsin au-ainiasadin Alloohu yasyfiika bismillahi arqiika”.

Pada zaman Rasulullah, surat Al-Fatihah dikenal sebagai media me-Ruqyah yang terdahsyat untuk mengobati berbagai penyakit Rohani selain beberapa ayat / surat lainnya, hingga sekarang ini.

2. Nafats

Nafats yaitu membaca Al-quran atau do’a kemudian ditiupkan pada kedua telapak tangan lalu diusapkan keseluruh badan pasien yang sakit. Dalam suatu riwayat bahwasannya Nabi Muhammad saw apabila beliau sakit maka membaca “Al-muawwidzat” yaitu tiga surat Al-quran yang diawali dengan kata

“A’udzu” yaitu surat An Nas, Al Falaq dan Al Ikhlas

kemudian ditiupkan pada dua telapak tangannya lalu diusapkan keseluruh badan.

3. Air liur yang ditempelkan pada tangan kanannya

Diriwayatkan oleh bukhari muslim : bahwasannya Nabi Muhammad saw apabila ada manusia tergores kemudian luka, maka beliau membaca do’a kemudian air liurnya ditempelkan pada tangan kanannya, lalu diusapkan pada luka orang itu inilah doa’anya : “Allohumma robbinnas adzhabilbas isyfi antasy-syafii laa syifa-a illa syifa-uka laa yugodiru saqoma”. Dalam air liur mengandung senyawa antibakteri diantaranya tiosianat.

4. Meletakkan tangan pada salah satu anggota badan

Nabi Muhammad saw pernah memerintahkan Utsman bin Abil Ash yang sedang sakit dengan sabdanya: “ letakkanlah tangan mu pada anggota badan yang sakit kemudian bacalah “Basmalah 3x dan A’udzu bi-izzatillah waqudrotihi minsyarrima ajidu wa uhajiru 7x” .

5. Do’a mukjizat

Banyak beberapa doa untuk kesembuhan yang diajarkan oleh nabi Muhammad saw kepada umatnya antara lain : “allohumma isyfi abdaka yan-ulaka aduwwan aw yamsyi laka ila sholaah”.

Ø METODE ILMIAH

BEKAM ATAU HIJAMAH

Bekam atau hijamah adalah system dan penyembuhan yang dilakukan dengan cara menghisap darah dan mengeluarkan darah kotor atau darah penyakit dari permukaan kulit. Pengobatan dan penyembuhan bekam atau hijamah yang dicontohkan oleh rasulullah saw, sudah dikenal diberbagai belahan dunia sejak dulu.

Bekam atau hijamah menurut rasul dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit apapun, dalam sebuah hadis diriwayatkan “barang siapa yang berbekam tanggal 17, 19, dan 21 maka akan disembuhkan dari segala macam penyakit” (HR Tirmidzi)

Pengobatan dan penyembuhan dengan metode bekam telah diwasiatkan para malaikat kepada Rasulullah saw.

“wahai Muhammad, suruhlah umat mu melakukan bekam”. (HR Abu Daud)

“bekam dapat menambah kecerdasan, kekuatan menghapal dan menambah hafalan orang yang menghafal.(HR Ibnu Majah).

Jenis jenis bekam/ hijamah yaitu :

1. Hijamah jaffah (bekam kering), hijamah hanya berupa cupping (penyedotan), yang berprinsip mengeluarkan angin dari tubuh. Bekam kering dibagi 3 macam yaitu bekam tarik, bekam luncur dan bekam magnit.

2. Hijamah Damawiyyah (bekam basah), hijamah dengan cara mengeluarkan darah dari kulit yang sudah dicupping (disedot) sebelumnya. Rasulullah hanya mengenal cara yang kedua dan tidak mengenal cara pertama, dan cara mengeluarkan darah ialah syarthoh (sayatan).

Bekam kering

Bekam basah

Beberapa penyakit yang dapat disembuhkan dengan berbekam/alhijamah antara lain:

1. Sakit kepala

2. Masuk angin

3. Pendarahan pada otak

4. Migraine

5. Lumpuh setengah badan

6. Encok

7. Sakit gigi, telinga, mata, hidung

8. Varices

9. Reumatik

10. Sakit tulang punggung

11. Wasir

12. Elephantiasis (kaki gajah)

13. Haid tidak teratur

14. Tumor

15. Sakit tenggorokan

16. Sesak nafas

17. Alergi, gatal-gatal, asma, bronchitis

18. Benjol-benjol dilengan danpaha

19. Dada berdebar-debar

20. Kaki dan tangan kesemutan

21. Pundak pegal-pegal dan kaku

22. Darah tinggi

23. Penyumbatan pembuluh darah

24. Impotensi

25. Kolesterol

26. Asam urat

27. Bisul

28. Sembelit, lambung dan pencernaan

29. Kanker

30. Sakit liver dan limpa

31. Buang air kecil tanpa terkontrol

referensi :

http://muslimah.or.id/kesehatan-muslimah/fakta-thibbun-nabawi-habbatus-sauda-madu-dan-minyak-zaitun.html

Metode Pengobatan Nabi SAW , Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

http://rumaysho.com/faedah-ilmu/2740-khasiat-air-zam-zam.html

http://syaamilquran.com/metode-pengobatan-menurut-rasulullah.html

http://kesehatan.kompasiana.com/alternatif/2012/07/30/manfaat-dan-khasiat-buah-kurma-untuk-kesehatan-481011.html

http://majalahkesehatan.com/12-khasiat-buah-kurma/

http://www.indospiritual.com/artikel_manfaat-kurma-untuk-kesehatan.html