Udara, Terasa Namun Tidak Nampak Rupanya

Rare_Landing_Mountain-001

DI antara ciptaan-Nya yang menakjubkan adalah udara lembut yang terasa oleh indera perasa saat bertiup, tapi tak terlihat wujudnya. la bergerak di antara langit dan bumi, burung-burung terbang dan berenang di gelombang-gelombangnya sebagaimana hewan-hewan laut berenang di air. Udara bergejolak saat bertiup kencang seperti gelombang laut.

Apabila menghendaki, Dia menggerakkannya dengan ‘gerakan rahmat’. Menjadikannya rahmat, lembut, dan mendatangkan kegembiraan karena jadi suatu tanda.

Yakni pengetahuan bahwa Allah-lah tuhan yang haq, Dialah yang menghidupkan yang mati, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, hari kiamat pasti datang, dan Allah membangkitkan semua yang di kubur.

Turunnya rahmat-Nya (hujan). Angin menjadi pejantan yang membuahi awan sehingga mengandung air seperti jantan yang membuahi betina sehingga hamil. Angin rahmat dinamakan

dengan mubassyirat, nasyr, dzaariyat, mursalat, rukha , lawaqih; sedang angin azab dinamakan

‘ashif, qashif(di laut), dan ‘aqim, sharshar (di darat).

Tapi kalau mau, Dia menggerakkannya dengan ‘gerakan azab’. Sehingga menghancurkan siapa yang dikehendaki dengan angin itu dan mengirimkannya sebagai azab yang pedih serta merusak segala apa yang dilaluinya.

Angin berbeda-beda arah bertiupnya. Ada yang bertiup ke arah timur, barat, utara, dan selatan. Angin-angin itu juga tidak sama manfaat dan pengaruhnya. Angin semilir dan lembab/basah menyehatkan badan, hewan, dan tanaman. Ada pula angin yang mengeringkan.

Ada angin yang membuat mati atau sakit. Ada juga yang membuat kuat, dan juga ada yang melemahkan. Oleh karena itu, Allah SWT mengabarkan tentang angin rahmat dengan

shighah jamak karena manfaatnya bermacam-macam. Ada angin yang menggelorakan awan, membuahinya, membawanya, dan angin yang membawa makanan bagi tetumbuhan. Karena arah bertiup dan tabiat angin itu bermacam-macam, Dia menciptakan untuk setiap angin lawan (penyeimbang) yang mengurangi kencang dan amukannya, dan mempertahankan kelembutan dan rahmatnya. Jadi, angin rahmat itu banyak macamnya.

Adapun angin azab hanya satu; diembuskan dengan satu cara untuk meng-hancurkan objek yang hendak dimusnahkan. Karenanya, tidak ada angin lain menjadi penyeimbangnya. Angin ini seperti serdadu yang besar, tak ada sesuatu pun yang melawannya. Dia menghancurleburkan apa yang ditimpanya.

Perhatikanlah hikmah Al-Qur’an ketika menyebut keterangan ini di darat. Adapun di laut, angin rahmat disebutkan dengan kata tunggal seperti firman-Nya,

“Dialah yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncudah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai. Dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatannya kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), ‘Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.’,”

(QS. Yunus: 22)

Hikmahnya di sini karena kapal hanya berjalan dengan satu angin yang datang dari satu arah. Apabila banyak angin yang berlawanan datang menerpa perahu, tentu jalannya tidak karuan arah.

Jadi, fungsi angin di laut berbeda dengan fungsinya di darat. Karena yang diinginkan di laut, angin bertiup satu arah saja, tidak dihalangi oleh sesuatu pun. Karena itulah, disebutkan dengan kata tunggal, sedang di darat dipakai kata jamak.

Makhluk Tuhan ini memang lemah lembut. Sehingga, dapat digerakkan dan dibobol oleh makhluk yang paling lemah sekalipun. Tapi, Allah SWT memberikan makhluk lembut ini kekuatan dan kekerasan yang dapat menggoncangkan/ menggetarkan benda-benda cadas yang kuat, menggesernya dari tempatnya, menghancurleburkan dan menerbangkannya. Lihat saja bila udara yang lembut itu masuk dan memenuhi geriba (kantong air dari kulit) misalnya, lalu di atasnya diletakkan benda yang berat, tentu kantong air yang sudah berisi kulit itu tak bisa masuk ke dalam air.

Padahal besi yang padat dan berat, jika diletakkan di permukaan air akan tenggelam. Jadi, udara yang lembut ini tidak mau ditundukkan (ditenggelamkan) oleh air, sedang benda yang kuat dan keras (besi) dapat ditundukkan.

Dengan hikmah ini, Allah SWT menahan kapal-kapal di atas permukaan air betapapun beratnya kapal itu beserta muatannya. Demikian pula semua benda berlobang yang berisi udara tidak akan tenggelam di air karena udara tidak mau menyelam ke dalam air. Jadi kapal yang bermuatan penuh bergantung kepada udara itu.

Perhatikan, bagaimana perahu yang berat dan amat besar itu meminta perlindungan dan bergantung kepada zat yang lembut dan ringan itu sehingga tidak tenggelam. Ini seperti orang yang jatuh ke dalam sebuah jurang lalu bergelantungan kepada seorang yang kuat yang tidak dapat terjatuh ke dalam jurang sehingga dengan bergelantungan itu dia selamat.

Subhanallah! Maha Agung Allah yang menggantungkan perahu yang besar dan berat tersebut dengan udara yang lembut ini tanpa gantungan atau ikatan yang terlihat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s