Change Management

“Manejemen Perubahan atau Change Management course”


Prof. Rhenald Kasali, Ph.D di Indonesia X
“Suatu bangsa tidak akan berubah menjadi bangsa yang besar kecuali bangsa itu mau melakukan hal–hal yang sulit.” ~ Kennedy
Perubahan itu tidak dapat kita hindarkan. Selama bumi berputar pada porosnya. Maka perubahan itu akan terjadi. Perubahan itu tidak ada yang menyuruh, melainkan ada orang yang terpanggil. Tidak bisa misalnya saya mengatakan, “Anda deh lakukan perubahan, Anda lakukan perubahan.” Terus dia bergerak melakukan perubahan karena disuruh? Come On.
Tokoh-tokoh perubahan bukanlah orang yang disuruh. Melainkan orang yang melihat, orang yang terpanggil, orang yang terbebani. Faktanya hampir semua kejadian- kejadian besar dunia tidak dimulai dari banyak orang. Melainkan dimulai dari sedikit orang.
Mengubah cara berpikir adalah peranan penting dari para pemimpin. Perubahan membutuhkan pemimpin yang tangkas. Pemimpin yang berani. Berani membukakan mata. Berani membukakan perpektif. Mengajak orang melihat dengan perspektif yang berbeda. “Ukuran kecerdasan manusia adalah pada kemampuannya untuk berubah.” ~ Issac Newton.
Yang namanya perubahan selalu akan menghadapi kelompok yang menentang. Kelompok yang tidak senang terhadap adanya pembaharuan. Kelompok yang merasa terganggu karena ada kepentingan-kepentingan. Selalu ada resistensi, selalu ada orang-orang yang menentang karena mereka sudah nyaman dengan segregasi.
Apakah itu resistensi?, cara berpikir lama, orang-orang yang belum bisa melihat, orang- orang yang berpolitik untuk menyingkirkan Anda. Orang-orang yang tidak bersedia kenikmatannya berubah atau pindah, atau mereka yang sudah terbelanggu oleh zona nyaman.
Kita memiliki kebenaran-kebenaran masa lalu, kebanggaan masa lalu, kita menyangkal terhadap sebuah, sesuatu yang telah berubah. Dan kita menikmati keadaan sekarang karena tidak dituntut banyak untuk melakukan sesuatu yang baru. Kita menikmati karena kita terperangkap dengan zona nyaman kita. Terperangkap dengan rutinitas, sementara kita tidak melihat bahwa di luar telah datang pendatang-pendatang baru, teknologi baru, manusia-manusia baru, bahkan kepungan-kepungan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Kita perlu mengenal apa yang disebut dengan istilah Self-Destructive Habits. Ini ada tujuh poin. Diperkenalkan oleh Profesor Jagdish Sheth. Seorang ahli marketing yang juga gemas dengan change. Seringkali orang tidak menyadari bahwa mereka adalah bagian dari kelompok yang resistant to change . Mereka resisten, mereka menolak perubahan. Menolak masa depan yang baik. Kelompok yang resisten terhadap perubahan :
Yang pertama itu adalah denying , atau menyangkal. Terdapat kecendrungan bagi manusia setiap kali melihat hal yang baru, yang belum dia kenal, biasanya langsung menyangkal. Otaknya sudah secara otomastis menolak, menyangkal.
Yang kedua adalah arrogance. Arogan. Arogan. Anda pernah bertemu dengan orang yang arogan bukan? Orang yang arogan itu tidak enak dilihat. Orang yang arogan itu merasa lebih pandai dari orang lain. Dia meremehkan orang lain. Dia merendahkan orang-orang lain.
Yang ketiga adalah competitive myopia. Myopic. Myopic itu artinya ketidakmampuan untuk melihat lebih jauh. Hanya mampu melihat yang dekat.
Yang berikutnya, yang keempat adalah competency dependent . Ketergantungan pada kompetensi yang kita miliki di masa lalu. Kita berpikir kompetensi yang kita miliki akan cocok selama- lamanya.
Self-destructive habits yang kelima adalah territorial impulse . Namanya saja sudah territorial. Manusia punya kecendurungan ada otak purba di otaknya, bahwa yang mengatakan dia memiliki teritori yang tidak bisa ditembus orang lain.
Self-destructive habits yang keenam adalah complacency . Complacence. Ketika manusia sudah complacence, sudah nyaman, maka manusia cenderung tidak mau berubah. Manusia cenderung hanya mau melakukan hal yang sudah dia kenal. Complacence. Inilah yang tadi saya sebut dengan zona nyaman tadi
Terakhir yang ketujuh adalah volume obsession. Obsesi kita sedemikian besar untuk mendapatkan volume yang sebesar-besarnya, yang tanpa kita sadari sebetulnya ini lebih merusak diri kita sendiri.
Tahapan Perubahan
Perubahan itu melalui tiga tahapan. Yang pertama itu adalah melihat,
seeing . Melihat. Yang kedua adalah
moving, bergerak. Dan yang terakhir adalah menyelesaikan atau finishing .
Jadi pertama-tama itu adalah orang yang mampu melihat. Sering dikatakan 90% orang yang melihat gagal melihat. Orang orang yang melihat gagal melihat. Soal melihat itu bukan cuma dengan mata, bukan juga dengan kacamata, tetapi melihat segala sesuatu itu juga dengan pikiran kita.
Ada tiga jenis mata di sini. Mata yang pertama itu kita sebut sebagai mata persepsi, perception. Dan orang sering mengatakan perception is a reality. Mata persepsi, kita mempunyai persepsi. Ini orang baik, ini orang jahat, ini orang suci, ini orang kotor, dan seterusya. Ini adalah mata yang terendah.
Mata yang kedua adalah disebut mata probability. Jadi kita menggunakan mata kemungkinan- kemungkinan untuk melihat realitas. Itu mata kedua. Seorang pemimpin yang melihat dengan mata probability itu baru mempunyai keyakinan, “Ah barangkali bisa nih.”
Tetapi pemimpin perubahan harus memiliki mata yang ketiga. Yaitu mata yang disebut sebagai possibility,
nothing is a impossible
Mengapa Manusia Gagal Melihat Tanda Perubahan?
Pertama, Anda akan gagal melihat kalau Anda kebanyakan cahaya.
Yang kedua adalah tidak ada cahaya sama sekali.
Yang ketiga, bisa jadi perubahan itu menjadi sangat sulit orang tidak melihat karena peta yang salah.
Keempat ini adalah Anda berada di dalam sebuah terowongan.
Strategi Melihat Tanda Perubahan
Yang pertama adalah ciptakan kontras . Kalau tidak kontras tidak mudah terlihat, blur, tidak fokus. Kalau Anda cuma dikasih dua pilihan, yang satu bagus, yang satu buruk, pasti Anda mudah mengambil keputusannya. Yang kedua lakukan strategi simplicity . Ingat, dunia telah berubah menjadi dunia yang menyederhanakan. Yang ketiga, bawalah mereka piknik keluar . Buka mata mereka agar mereka melihat di tempat lain bagaimana praktiknya. Yang keempat adalah dengan menggunakan pendekatan Pareto, yaitu menetapkan prioritas . Dan yang kelima adalah Anda melakukan konfrontasi, ingatkan terus menerus.
Risiko Melakukan Perubahan
Banyak orang melihat, gagal melihat. Banyak orang setelah melihat bisa bergerak. Tapi juga ada yang gagal bergerak. Kemudian setelah bisa bergerak harus diselesaikan perubahan itu. Perubahan yang bagus itulah perubahan yang diselesaikan. Tetapi kita ketahui ada orang-orang yang tidak bergerak setelah melihat. Apa yang membuat orang bergerak? Ini menjadi persoalan. Bagaimana membuat manusia bergerak tentu saja tidak cukup hanya menggunakan motivator. Tidak cukup menggunakan orang lain.
Pertama-tama kita tentu harus membantu orang untuk mengurangi risiko. Risiko yang jauh lebih besar daripada manfaat atau benefit yang didapat akan mengakibatkan manusia tidak bergerak. Risiko apa yang dihadapi oleh manusia dalam perubahan? Saya membedakannya ke dalam enam jenis risiko atau perceived risk. Persepsi terhadap risiko.
Risiko yang pertama adalah risiko finansial. Yang kedua kita sebut sebagai social risk . Dan yang ketiga kita sebut psychological risk. Yaitu risiko psikologis. Ya biasalah, melakukan perubahan itu kan ada tekanan-tekanan psikologisnya. Kemudian yang keempat itu adalah risiko fisik . Banyak kawan saya yang tiba-tiba dipukul di tengah jalan diajak berkelahi dan anehnya dia mau pula diajak berkelahi. Ya. Persepsi tehadap risiko fisik ini perlu Anda ukur. Yang kelima adalah risiko terhadap kinerja,
performance risk. Kinerja, penampilan atau pendapat orang tentang hasil yang Anda capai. Kemudian yang terakhir itu adalah risiko waktu. Waktu. Waktu cepat habis tidak bisa diperbaharui, waktu cepat hilang, dan ini akan menghambat waktu Anda pula dalam melakukan perubahan.
Faktor Pendorong Orang Bergerak
Dalam melakukan perubahan, yang kedua setelah melihat, mereka diajak bergerak. Ketika bergerak langkah pertama adalah kita kurangi dulu persepsi terhadap risiko. Sehingga mereka nyaman untuk berjalan bergerak, masuk ke sebuah lorong yang mereka yakini jalan ini sudah aman, tidak berbahaya.
Kemudian, saya kira selain menciptakan lingkungan yang aman, yang membuat orang bisa bergerak adalah membuat perubahan ini clear.
Clarity. Membuat ini menjadi jelas bersih terang mudah untuk dijalani. Yang ketiga adalah berikan support, dukungan. Kan tidak mungkin Anda mengharapkan orang berubah tetapi support-nya tidak ada. Dan yang terakhir adalah strategi yang tertulis. Blue print strategy .
Jadi membuat orang bergerak adalah dengan membuat segala sesuatu itu menjadi lebih ringan, mudah dijalankan, jelas dan mereka dapat dukungan, ditambah lagi dengan ada sesuatu yang tertulis yang menjadi acuan kita.
Delapan Langkah Perubahan
1. Ciptakan suasana yang mendesak, sense of urgence.
2. Bentuklah koalisi perubahan, artinya kita harus mempunyai teman, punya kawan. Perubahan tidak bisa sendirian.
3. Membangun visi
4. Komunikasikan visi Anda
5. Dorong pengikut agar bertindak sesuai visi
6. Raihlah kemenangan-kemenangan jangka pendek
7. Jangan berhenti, terus lakukan perubahan
8. Lembagakan pendekatan-pendekatan baru, terapkan perubahan secara struktural
“Setiap manusia harus turut menyumbangkan satu langkah yang mengakibatkan dunia ini mengalami perubahan,,,,”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s