Benarkah Kita Kader Dakwah?

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki kepahaman yang utuh. Paham akan falsafah dasar perjuangan, paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan, paham akan cita-cita yang hendak dicapai, paham akan jalan yang harus dilalui. Kader dakwah memiliki pemahaman yang komprehensif. Paham akan tahapan-tahapan untuk merealisasikan tujuan, paham akan konsekuensi setiap tahapan, paham akan logika tantangan yang menyertai setiap tahapan, paham bahwa di setiap tahapan dakwah memiliki tingkat resiko yang berlainan. Kepahaman kader dakwah terus berkembang.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki keikhlasan yang tinggi. Ikhlas artinya bekerja hanya untuk Allah semata, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Sangat banyak godaan di sepanjang perjalanan dakwah, baik berupa harta, kekuasaan dan godaan syahwat terhadap pasangan jenis. Hanya keikhlasan yang akan membuat para kader bisa bersikap dengan tepat menghadapi segala bentuk godaan dan dinamika dakwah. Sangat banyak peristiwa di sepanjang perjalanan dakwah yang menggoda para kader untuk meninggalkan jalan perjuangan. Ikhlas adalah penjaga keberlanjutan dakwah.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki amal yang berkesinambungan. Amal dalam dakwah bukanlah jenis amal yang setengah-setengah, bukan jenis amal sporadis, spontan dan tanpa perencanaan. Sejak dari perbaikan diri dan keluarga, hingga upaya perbaikan masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia. Amal dalam dakwah memiliki tahapan yang jelas, memiliki tujuan yang pasti, memiliki orientasi yang hakiki. Kader dakwah tidak hanya beramal di satu marhalah dan meninggalkan marhalah lainnya. Kader dakwah selalu mengikuti perkembangan mihwar dalam dakwah, karena itulah amal yang harus dilalui untuk meretas peradaban.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki etos jihad yang abadi. Jihad dalam bentuk kesungguhan, keseriusan, dan kedisiplinan dalam menggapai visi dakwah yang hakiki. Kesungguhan membela hak-hak umat, kesungguhan mendidik masyarakat, keseriusan mengusahakan kesejahteraan masyarakat, kedisiplinan membersamai dan menyelesaikan persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Kader dakwah harus memberikan kesungguhan dalam menjalankan semua agenda dakwah, hingga menghasilkan produktivitas yang paripurna, di lahan apapun mereka bekerja. Itulah makna jihad dalam konteks perjalanan aktivitas dakwah.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki pengorbanan yang tak terhingga nilainya. Dakwah tidak mungkin akan bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Sejak dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, pikiran, fasilitas, hingga pengorbanan jiwa. Rasa lelah, rasa jenuh, rasa letih selalu mendera jiwa raga, kesenangan diri telah dikorbankan demi tetap berjalannya roda dakwah. Aktivitas dijalani sejak berpagi-pagi hingga malam hari. Kadang harus bermalam hingga beberapa lamanya, kadang harus berjalan pada jarak yang tak terukur jauhnya, kadang harus memberikan kontribusi harta pada kondisi diri yang belum mapan dari segi ekonomi. Pengorbanan tanpa jeda, itulah ciri kader dakwah yang setia.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki ketaatan kepada prinsip, keputusan organisasi, dan kepada pemimpin. Prinsip-prinsip dalam dakwah harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan. Taat kepada pondasi manhaj adalah bagian penting yang akan menghantarkan dakwah pada tujuannya yang mulia. Taat kepada keputusan organisasi merupakan syarat agar kegiatan dakwah selalu terbingkai dalam sistem amal jama’i. Taat kepada pemimpin merupakan tuntutan agar pergerakan dakwah berjalan secara efektif pada upaya pencapaian tujuan. Ketaatan bukan hanya terjadi dalam hal-hal yang sesuai dengan pendapat pribadi, namun tetap taat terhadap keputusan walaupun bertentangan dengan pendapatnya sendiri.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki keteguhan tiada henti. Kader dakwah harus selalu tegar di jalan dakwah, karena perjalanan amatlah panjang dengan berbagai gangguan dan tantangan yang menyertainya. Teramat banyak aktivis dakwah semasa, dimana mereka memiliki semangat yang menyala pada suatu ketika, namun padam seiring berjalannya usia. Ada yang tahan tatkala mendapat ujian kekurangan harta, namun menjadi gugur saat berada dalam keberlimpahan harta dunia. Ada yang tegar saat dakwah dilakukan di jalanan, namun tidak tahan saat berada di pucuk kekuasaan. Kader dakwah harus berada di puncak kemampuan untuk selalu bertahan.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki kemurnian dan kebersihan dalam orientasi aktivitasnya. Sangat banyak faktor yang mengotori kebersihan orientasi dakwah. Ada kekotoran cara mencapai tujuan. Ada kekotoran dalam usaha mendapatkan harta. Ada kekotoran dalam langkah menggapai kemenangan. Kader dakwah harus selalu menjaga kemurnian orientasinya, tidak berpaling dari kebenaran, tidak terjebak dalam kekotoran. Karena dakwah memiliki visi yang bersih, sehingga harus dicapai dengan langkah dan usaha yang bersih pula.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan yang tinggi. Ukhuwah adalah sebuah tuntutan dalam menjalankan agenda-agenda dakwah. Semakin besar tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah, harus semakin kuat pula ikatan ukhuwah di antara pelakunya. Kader dakwah saling mencintai satu dengan lainnya, saling mendukung, saling menguatkan, saling meringankan beban, saling membantu keperluan, saling berbagi dan saling mencukupi. Kader dakwah tidak mengobarkan dendam, iri dan benci. Kader dakwah selalu membawa cinta, dan menyuburkan dakwah dengan sentuhan cinta.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki tingkat kepercayaan yang tak tertandingi. Berjalan pada rentang waktu yang sangat panjang, dengan tantangan yang semakin kuat menghadang, menghajatkan tingkat kepercayaan prima antara satu dengan yang lainnya. Berbagai isu, berbagai fitnah, berbagai tuduhan tak akan menggoyahkan kepercayaan kader dakwah kepada para pemimpin dan kepada sesama kader dakwah. Berbagai caci maki, berbagai lontaran benci, berbagai pelampiasan kesumat, tak akan mengkerdilkan kepercayaan kader terhadap langkah dakwah yang telah dijalaninya.

Jadi, benarkah kita kader dakwah?

Kasiat Madu Trigona Atau Lebah Klanceng

Jpeg

Jpeg

 

– Meskipun harganya selangit namun madu klanceng banyak di cari karena memang madu ini mempunyai banyak kasiat dan manfaat. Di pasaran harga madu klanceng bisa mencapai dua kali lipat madu lebah biasa. 150 ml madu klanceng harganya bisa mencapai Rp. 75.000 hingga Rp 100.000.

Harga madu klanceng atau madu trigona tergolong mahal karena di Indonesia belum banyak yang membudidayakannya. Selain itu produksi pertahunnya juga sangat rendah jika di bandingkan lebah madu biasa. Dalam jangka waktu satu tahun, satu koloni lebah klanceng hanya memproduksi madu kurang lebih 1 -2 Kg. Inilah salah satu peluang agribisnis yang masih terbuka lebar.

 

Ciri Ciri Madu Klanceng Asli

Madu klanceng mempunyai ciri yang berbeda dengan madu lebah biasa. Jika belum pernah melihat dan merasakan madu klanceng tentunya sulit untuk membedakannya. Cirikhas madu klanceng antara lain rasanya agak asam, pahit dan dominan manis tentunya. Hal ini di karenakan kantong madu dan bee pollen menyatu dalam satu tempat. Warna kuning keruh tidak seperti madu biasa yang terlihat bening. Hal ini di karenakan dalam pengambilan madu klanceng agak sulit jika di bandingkan dengan madu lebah biasa.

Namun secara umum madu klanceng sama dengan madu lebah lainya. Cara mengetesnya yaitu dengan cara memasukkanya kedalam freezer, jika madu asli maka tidak akan membeku. Ketika di teteskan kedalam air tidak lekas larut seperti madu campuran. Madu asli berkadar air sangat rendah sehingga sulit untuk larut dalam air jika tanpa di aduk.

Jpeg

Jpeg

Kandungan Gizi Madu Lebah Klanceng

Sudah terkenal dari sejak jaman dahulu bahkan tertulis dalam Alqur’an bahwa madu sangat bermanfaat untuk kesehatan manusia. Hal ini dikarenakan kandungan gizi yang lengkap dalam madu, baik vitamin, mineral, maupun berbagai enzim yang sangat di butuhkan tubuh. Kandungan gizi dalam madu lebah klanceng antara lain :

 

– Kandungan Vitamin : Thiamin (B1), Riboflavin (B2), (B3), Asam Askorbat (C), (B5), Piridoksin (B6), Niasin, Asam Pantotenat, Biotin, Asamfolat dan vitamin K
– Mineral : Natirum (Na), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Alumunium (A1), Besi (Fe), Fosfor dan Kalium (K), Pottassium, Sodium Klorin, Sulfur.

– Enzim-enzim Utama : Diatase, invertasem glukosa oksidase, fruktosa, peroksidase, lipase juga mengandung sejumlah kecil hormon, tembaga, iodium dan zinc.

 

Manfaat dan Kasiat Madu Lebah Klanceng

Dengan banyaknya kandungan vitamin, mineral dan enzim-enzim tersebut, tidak heran madu trigona banyak di andalkan dalam menjaga kesehatan tubuh dan meningkatka daya tahan tubuh dari penyakit. Khasiat dan manfaat  madu trigona atau lebah klanceng yaitu antara lain :

– Meningkatkan daya tahan tubuh
– Mencegah Stroke
– Memperlancar peredaran darah
– Meningkatkan hormone
– Memperkuat fungsi otak dan jantung
– Memperbaiki sel tubuh yang rusak
– Recovery tubuh
– Mengendurkan bagian syaraf yang tegang
– Menghilangkan rasa letih
– Meningkatkan kecerdasan anak
– Dapat dikonsumsi penderita diabetes
– Membantu masa penyembuhan pasca operasi
– Mencegah Kanker dan stroke
– Sangat dianjurkan minum setiap hari untuk dewasa dan Manula dalam mnjaga kesehatan.

 

 

Kandungan dan Manfaat Propolis Lebah Klanceng

Kandungan Propolis Trigona antara lain :
– Resin yang mengandung senyawa flavonoid, asam, dan ester fenol (45 – 55%).
– Lilin lebah dan plant origin (25 – 35 %).
– Minyak volatil (10%).
– Polen yang terdiri dari protein (16 asam amino bebas > 1%), arginine danproline berjumlah 46% dari total(5%).
– 14 mineral mikro (Fe dan Zn yang terbanyak), keton, lacton, quinon,steroid, asam benzoat, vitamin, karbohidrat (5%).

Sedangkan khasiat Propolis antara lain :
– Antibiotik alami.
– Antibakteri.
– Antifungal.
– Antivirus.
– Antioksidan.
– Memperkuat sistem kekebalan tubuh.
– Antiseptik.
– Immunostimulan.
– Antitoksin.
– Berperan sebagai anestetik.
– Memperkuat dan mempercepat regenerasi sel.
Dengan khasiat-khasiat ini, propolis dimanfaatkan diantaranya dalam bidang kesehatan, kecantikan, terapi penyakit, pengawet, dan lain-lain.

KAMI MENYEDIAKAN

Madu trigona

Propolis trigona

 

 

SEMPITNYA WAKTUKU !!!

perbedaan-orang-sukses-131027c

 

Apakah kita,,,

Sering luput dari dzikir pagi dan petang,,,,?

Ngarasa tidak sempat untuk sholat dhuha,,,?

Ngarasa sibuk untuk menghadiri majelis ilmu,,,,?

Kehabisan waktu untuk tadarus Al Qur’an,,,?

Ngarasa tunduh keneh ketika akan sholat malam,,,,,?

Jeung kehabisan agenda untuk mengunjungi sahabat sahabat kita,,,,,?

 

Tetapi kita,,,,(bukti nu nyata)

Tak pernah lepas dari andro’i nya,,,,

Selalu sempat menonton berita di internet,,,,

Tidak pernah ketinggalan up date dan mengikuti status di facebook,,,,

Selalu aktif berkomentar dalam grup-grup whatsapp atawa Bbm,,,,

Dan, tidak pernah absen dalam menghadiri majelis ghibah dan senda gurau,,,,

 

Apakah kita,,,,(bari mikir att)

Merasa waktu kita sangat sempit dan sedikit untuk melakukan hal-hal bermanfaat,,,,? (absen menghadiri majelis gelora hijrah,, malas bersilaturrahmi dgn sahabat sahabatnya,,,,DLL)

Merasa kesibukan dunia kita terlalu padat sehingga sering berudzur meninggalkan tugas hidup kita,,,,??? (pengembangan,,pembinaan,,bm,,,jaringan,,,DLL”

Mungkin,,, itu tanda tidak adanya KEBERKAHAN dalam WAKTU kita. (Ngahuleng,,,)

 

Berkata seorang sahabat Nabi yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu:

“Aku tidaklah menyesali sesuatu lebih besar dari pada penyesalanku terhadap satu hari yang berlalu, berkurang umurku, dan tidaklah bertambah amalku.”

Seorang ulama salaf, Hakim, juga berkata:

“Barangsiapa yang harinya berlalu tanpa ada kebenaran yang ia tegakkan;

atau kewajiban yang ia laksanakan;

atau kemuliaan yang ia raih;

atau perbuatan terpuji yang ia kerjakan;

atau kebaikan yang ia rintis, atau ilmu yang ia kutip.

Sungguh ia telah mendurhakai waktunya, dan mendzolimi dirinya.”

Maka mari kita perhatikan, bahwa para salafus shalih tidaklah menilai bahwa suatu waktu menjadi bermanfaat dari banyaknya kekayaan dihasilkan;

Atau gelar kehormatan yang diraih;

atau ketenaran didapat.

Tetapi, dari banyaknya amal sholih yang dihasilkan dari waktu tersebut.

Para salaf terdahulu adalah orang-orang yang sangat memperhatikan masalah waktu, mereka berkata:

“Sesungguhya menyia-nyiakan waktu itu lebih berat daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskan seseorang dari Allah dan akhirat, sedangkan kematian memutuskan seseorang dari keluarga dan dunianya.”

Berkata Hasan Al Bashri rahimahullah:

“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah hari-hari. Apabila pergi harimu, berarti telah pergi sebagian dirimu.”

Juga ia berkata:

“Tidaklah hari itu muncul bersama terbitnya fajar, keculai ia berkata:

‘Wahai anak Adam, aku adalah makhluk yang baru, dan aku bersaksi atas amal-amalmu, maka berbekallah denganku, karena sesungguhnya bila aku pergi aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat nanti’.”

Janganlah kita mengira bahwa perkataan mereka hanyalah perkataan kosong tanpa bukti.

Sebaliknya, sangat banyak catatan-catatan mengenai semangat mereka dan kesungguhan mereka dalam menjaga waktu.

Di antaranya perkataan orang-orang tentang Abdullah putra Imam Ahmad:

“Demi Allah, kita tidak melihatnya kecuali ia sedang tersenyum, sedang membaca atau sedang menelaah kitab.”

Begitu pula, dikatakan tentang Al Khatib Al Baghdadi:

“Tidaklah kami melihat beliau kecuali beliau sedang menelaah sebuah kitab.”

Imam Ad Dzahabi menyebutkan tentang Abdul Wahab Bin Abdil Wahhab Al Amiin:

“Sesungguhya ia sangat menjaga waktunya, tidaklah berlalu 1 jam kecuali ia membaca Al Qur’an atau berdzikir atau sholat tahajjud atau memperdengarkan bacaan Al Qur’an.”

Masih banyak kisah yang menakjubkan dari para salaf dalam memanfaatkan WAKTU,,,

Berkata seorang murid Al Imam Abdur Rahman bin Mahdi rahimahullah tentang Imam Hammad bin Salamah:

“Seandainya dikatakan kepada Hamad bin Salamah bahwa esok ia mati, maka ia tidak sanggup lagi untuk menambah amalannya sedikitpun.”

MasyaAllah,,,,

Hal itu dikarenakan banyaknya amalan yang ia lakukan secara rutin!

Berkata Ammar bin Raja’:

“Saya melewati 30 tahun tidak makan dengan tanganku di malam hari, dan saudara perempuankulah yang menyuapiku, karena kesibukanku menulis hadist.”

Begitu pelitnya beliau dengan waktu, sampai tidak mau waktunya berkurang karena makan!

Tidak kalah mengagumkan kisah Imam Ibnu Jarir At Thabari. Dikisahkan bahwa ia berkata pada teman-temannya:

“Apakah kalian berminat menulis tafsir Al Qur’an?”

Mereka menjawab:

“Berapa panjangnya?”

Ia berkata:

“30 ribu lembar.”

Para sahabatnya terkejut dan berkata:

“Kalau begitu bisa habis umur kami.”

Maka beliau pun meringkasnya menjadi tiga ribu lembar dan mendiktekannya kepada para sahabatnya selama 7 tahun.

Setelah selesai, ia kembali berkata:

“Apakah kalian berminat pada tarikh (sejarah) sejak Nabi Adam sampai jaman kita ini?”

Mereka kembali bertanya:

“Berapa panjangnya?”

Dan beliau menyebutkan sebagaimana perkataan beliau pada tafsir, maka mereka menjawab dengan jawaban yang sama, maka Ibnu Jarir berkata:

“Inna lillah.. Sungguh telah mati kesungguhan.”

Dan ia pun kembali meringkasnya sebagaimana ia meringkas tafsir.

Kita mungkin tidak bisa meraih keberkahan seperti mereka, tapi setidaknya kita dapat mengusahakannya, agar waktu kita dapat menjadi ladang amal yang bermanfaat di akhirat kelak.

Bukan sebaliknya, menjadi sumber penyesalan dan kerugian di akhirat nanti.

Beberapa cara agar waktu kita menjadi barakah adalah:

▪️ Beriman dan bertakwa

▪️ Melazimi Al Qur’an, karena Allah berfirman yang artinya:

“Dan Kitab ini (Al Qur’an) yang kami turunkan dengan penuh berkah, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar engkau mendapat rahmat.”

(QS Al An’am: 155)

▪️ Memperbanyak beramal sholih baik dengan hati, lisan dan perbuatan

▪️ Bersegera beramal sejak pagi hari, sebagaimana doa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam:

“Ya Allah, berkahilah umatku pada pagi hari mereka.”

(sholat tahajud,,,sholat dhuha,,,dll)

▪️ Menjaga sholat fajr (sholat subuh) karena menjaga sholat subuh adalah kunci keberkahan sepanjang hari.

° Shaum/berpuasa

▪️ Belajar ilmu dan  mengajarkannya

Maka,,,,hayu urang sasarengan  bersungguh sungguh memanfaatkan waktu kita,,,

Ingatlah, bahwa suatu saat nanti kita akan menghadapi hari dimana kita harus mempertanggung jawabkannya.

Hari di mana seorang raja tidak akan meminta kembali istananya; seorang pemimpin tidak akan meminta kembali kekuasaannya dan orang yang kaya tidak akan meminta dikembalikan hartanya.

Tetapi mereka semua akan meminta dikembalikan WAKTU yang mereka habiskan dgn SIA SIA tanpa amal shalih!,,,,,

 

Jadi,,,,Rek kitu wae hirup teh,,,(ka saya)

Udara, Terasa Namun Tidak Nampak Rupanya

Rare_Landing_Mountain-001

DI antara ciptaan-Nya yang menakjubkan adalah udara lembut yang terasa oleh indera perasa saat bertiup, tapi tak terlihat wujudnya. la bergerak di antara langit dan bumi, burung-burung terbang dan berenang di gelombang-gelombangnya sebagaimana hewan-hewan laut berenang di air. Udara bergejolak saat bertiup kencang seperti gelombang laut.

Apabila menghendaki, Dia menggerakkannya dengan ‘gerakan rahmat’. Menjadikannya rahmat, lembut, dan mendatangkan kegembiraan karena jadi suatu tanda.

Yakni pengetahuan bahwa Allah-lah tuhan yang haq, Dialah yang menghidupkan yang mati, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, hari kiamat pasti datang, dan Allah membangkitkan semua yang di kubur.

Turunnya rahmat-Nya (hujan). Angin menjadi pejantan yang membuahi awan sehingga mengandung air seperti jantan yang membuahi betina sehingga hamil. Angin rahmat dinamakan

dengan mubassyirat, nasyr, dzaariyat, mursalat, rukha , lawaqih; sedang angin azab dinamakan

‘ashif, qashif(di laut), dan ‘aqim, sharshar (di darat).

Tapi kalau mau, Dia menggerakkannya dengan ‘gerakan azab’. Sehingga menghancurkan siapa yang dikehendaki dengan angin itu dan mengirimkannya sebagai azab yang pedih serta merusak segala apa yang dilaluinya.

Angin berbeda-beda arah bertiupnya. Ada yang bertiup ke arah timur, barat, utara, dan selatan. Angin-angin itu juga tidak sama manfaat dan pengaruhnya. Angin semilir dan lembab/basah menyehatkan badan, hewan, dan tanaman. Ada pula angin yang mengeringkan.

Ada angin yang membuat mati atau sakit. Ada juga yang membuat kuat, dan juga ada yang melemahkan. Oleh karena itu, Allah SWT mengabarkan tentang angin rahmat dengan

shighah jamak karena manfaatnya bermacam-macam. Ada angin yang menggelorakan awan, membuahinya, membawanya, dan angin yang membawa makanan bagi tetumbuhan. Karena arah bertiup dan tabiat angin itu bermacam-macam, Dia menciptakan untuk setiap angin lawan (penyeimbang) yang mengurangi kencang dan amukannya, dan mempertahankan kelembutan dan rahmatnya. Jadi, angin rahmat itu banyak macamnya.

Adapun angin azab hanya satu; diembuskan dengan satu cara untuk meng-hancurkan objek yang hendak dimusnahkan. Karenanya, tidak ada angin lain menjadi penyeimbangnya. Angin ini seperti serdadu yang besar, tak ada sesuatu pun yang melawannya. Dia menghancurleburkan apa yang ditimpanya.

Perhatikanlah hikmah Al-Qur’an ketika menyebut keterangan ini di darat. Adapun di laut, angin rahmat disebutkan dengan kata tunggal seperti firman-Nya,

“Dialah yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncudah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai. Dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatannya kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), ‘Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.’,”

(QS. Yunus: 22)

Hikmahnya di sini karena kapal hanya berjalan dengan satu angin yang datang dari satu arah. Apabila banyak angin yang berlawanan datang menerpa perahu, tentu jalannya tidak karuan arah.

Jadi, fungsi angin di laut berbeda dengan fungsinya di darat. Karena yang diinginkan di laut, angin bertiup satu arah saja, tidak dihalangi oleh sesuatu pun. Karena itulah, disebutkan dengan kata tunggal, sedang di darat dipakai kata jamak.

Makhluk Tuhan ini memang lemah lembut. Sehingga, dapat digerakkan dan dibobol oleh makhluk yang paling lemah sekalipun. Tapi, Allah SWT memberikan makhluk lembut ini kekuatan dan kekerasan yang dapat menggoncangkan/ menggetarkan benda-benda cadas yang kuat, menggesernya dari tempatnya, menghancurleburkan dan menerbangkannya. Lihat saja bila udara yang lembut itu masuk dan memenuhi geriba (kantong air dari kulit) misalnya, lalu di atasnya diletakkan benda yang berat, tentu kantong air yang sudah berisi kulit itu tak bisa masuk ke dalam air.

Padahal besi yang padat dan berat, jika diletakkan di permukaan air akan tenggelam. Jadi, udara yang lembut ini tidak mau ditundukkan (ditenggelamkan) oleh air, sedang benda yang kuat dan keras (besi) dapat ditundukkan.

Dengan hikmah ini, Allah SWT menahan kapal-kapal di atas permukaan air betapapun beratnya kapal itu beserta muatannya. Demikian pula semua benda berlobang yang berisi udara tidak akan tenggelam di air karena udara tidak mau menyelam ke dalam air. Jadi kapal yang bermuatan penuh bergantung kepada udara itu.

Perhatikan, bagaimana perahu yang berat dan amat besar itu meminta perlindungan dan bergantung kepada zat yang lembut dan ringan itu sehingga tidak tenggelam. Ini seperti orang yang jatuh ke dalam sebuah jurang lalu bergelantungan kepada seorang yang kuat yang tidak dapat terjatuh ke dalam jurang sehingga dengan bergelantungan itu dia selamat.

Subhanallah! Maha Agung Allah yang menggantungkan perahu yang besar dan berat tersebut dengan udara yang lembut ini tanpa gantungan atau ikatan yang terlihat.

Taatilah Nakhoda Bahteramu

dp-bbm-islami-300x300

Bahtera membutuhkan awak-awak yang terampil dan andal agar bisa berlayar dengan lancar. Tiap awak harus memahami dan menjalankan tugasnya di bawah kepemimpinan sang nakhoda. Kelalaian dan pembangkangan seorang awak bisa membuat bahtera oleng, bahkan tenggelam di tengah lautan, atau tersesat hingga terdampar di selain negeri tujuan.

Rumah tangga yang kerap diibaratkan sebagai bahtera pun demikian keadaannya. Suami sebagai nakhoda, dan istri serta anak-anak sebagai anak buahnya, harus menjalankan tugas masing-masing dengan sabar dan penuh tanggung jawab. Jika tidak, sungguh sulit bagi bahtera itu untuk sampai ke negeri tujuan dengan selamat. Jika dia sekadar terhempas di dunia, mungkin masih bisa dicarikan jalan keselamatan meski dengan susah payah. Namun, jika dia terdampar di negeri kesengsaraan di akhirat, itulah kerugian yang sesungguhnya.

Pada edisi kali ini kami sajikan dua dari sekian banyak kewajiban istri kepada suaminya. Berikut pembahasannya.

 

  • Menaati suami dalam perkara yang makruf (baik).

Sebagaimana telah disinggung, suami adalah nakhoda bahtera rumah tangga. Kepemimpinan suami adalah kedudukan yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bukan sekadar kebiasaan yang berlaku di kelompok masyarakat tertentu atau adat negeri tertentu. Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ

“Kaum pria adalah pemimpin bagi para wanita, karena keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena nafkah yang mereka keluarkan dari sebagian harta mereka.” (an-Nisa’: 34)

Setinggi dan semulia apa pun seorang wanita, tidak pantas baginya memprotes pembagian Allah Yang Mahatahu dan Mahabijaksana ini. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

وَلَا تَتَمَنَّوۡاْ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبُواْۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبۡنَۚ وَسۡ‍َٔلُواْ ٱللَّهَ مِن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٣٢

“Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi pria ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (an-Nisa’: 32)

Karena pria adalah pemimpin, hal ini berkonsekuensi ketaatan istri kepadanya. Dalil-dalil menunjukkan bahwa wanita yang baik adalah wanita yang patuh kepada suaminya, bukan wanita yang bebas berbuat semaunya atau yang justru terbalik keadaannya, yakni dialah yang mengatur suaminya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ditanya siapakah wanita yang terbaik, beliau menjawab, “Yang menyenangkan suami ketika dipandang, menaatinya ketika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya dengan sesuatu yang membangkitkan kebencian suami.” (HR. an-Nasa’i, dinyatakan shahih oleh al-Albani)

Saudariku yang semoga disayang oleh Allah, suami memiliki hak yang amat besar atas istrinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh memerintah seseorang untuk bersujud kepada orang lain, tentu kuperintah istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al–Baihaqi, dari hadits Abu Hurairah z. At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan.”)

Dari hadits ini kita bisa mengetahui betapa besarnya hak suami atas istrinya. Maka dari itu, istri wajib menaati suami, karena hak terbesar—setelah hak Allah dan Rasul-Nya—yang harus dia tunaikan adalah hak suami. Jika istri durhaka dan terus-menerus dalam kedurhakaannya, dia telah menghadapkan dirinya kepada kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala hingga suaminya ridha kepadanya.

Duhai para istri yang semoga dirahmati Allah, pembangkangan kepada suami akan mengakibatkan seorang istri masuk neraka jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengampuninya—wal ’iyadzu billah. Disebutkan dalam hadits Hushain bin Mihshan, dia berkata, “Bibiku telah bercerita kepadaku, katanya: Saya telah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam untuk suatu keperluan. Beliau bertanya, ‘Wahai wanita, apakah kamu bersuami?’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya lagi, ‘Bagaimana sikapmu terhadapnya?’ Dia (bibi Hushain, –pent.) menjawab, ‘Saya tidak pernah mengurangi ketaatan kepadanya, kecuali pada urusan yang saya tidak mampu.’ Beliau bersabda, ‘Perhatikanlah di mana kedudukanmu terhadapnya, karena dia adalah surga dan nerakamu’.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, an-Nasa’i, Ahmad, dan lain-lain. Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi)

Saudariku yang mulia, kewajiban taat kepada suami ini berlaku bagi semua wanita walaupun dia adalah putri raja yang mulia, kaya raya, cantik jelita, dan semisalnya. Dia wajib menaati suaminya dalam setiap perkara yang makruf meskipun sang suami memiliki status sosial yang lebih rendah. Istri harus membuang jauh-jauh sikap sombong dan angkuh terhadap sang suami. Dikecualikan dari hal ini jika sang suami memerintahnya untuk bermaksiat dan durhaka kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam kondisi ini, ketaatan kepada Allah-lah yang didahulukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Ketaatan itu hanyalah pada perkara yang makruf.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) Beliau juga bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Wajib bagi seorang muslim mendengar dan taat, baik pada perkara yang disukai maupun yang dibenci, kecuali jika dia diperintah untuk suatu kemaksiatan. Jika dia diperintah untuk suatu kemaksiatan, tidak boleh mendengar dan taat.”

Terkadang seorang istri ingin beribadah sunnah, tetapi sang suami tidak menyetujuinya. Dalam kondisi ini ketaatan kepada suami harus dikedepankan karena hukumnya wajib, dan perkara wajib harus didahulukan daripada perkara sunnah.

 

  • Taat jika dipanggil sang suami ke ranjangnya.

Secara umum, laki-laki memiliki syahwat jima’ yang lebih tinggi daripada perempuan. Dia lebih tidak sabar untuk meninggalkan jima’ daripada perempuan. Faktor terbesar yang mendorongnya untuk menikah adalah penyaluran syahwat secara halal. Oleh karena itu, syariat mewajibkan istri untuk menaati suaminya jika dipanggil ke ranjangnya, agar tidak terjadi kerusakan yang besar. Penolakan istri tanpa adanya uzur yang bisa diterima, seperti haid atau sakit, akan menghadapkannya kepada kemurkaan Allah dan laknat para malaikat serta mengurangi pahala shalatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika istri dipanggil suami ke ranjang lalu dia menolak sehingga sang suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, malaikat akan melaknatnya hingga ia memasuki waktu pagi.” (HR. al-Bukhari)

Dalam riwayat lain beliau bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke ranjangnya lalu si istri enggan memenuhi panggilan tersebut, melainkan yang di langit marah kepadanya hingga sang suami ridha kepadanya.” (HR. Muslim)

Mendurhakai suami dalam urusan ini termasuk dosa besar. Oleh karena itu, hendaknya para ibu rumah tangga mencamkan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam di atas. Janganlah rasa lelah setelah mengurus rumah tangga seharian membuatnya enggan melayani suami. Bangkitlah meskipun diri sendiri terkadang tidak berhasrat akibat didera penat yang sangat. Jangan pula kesibukan membuatnya berlambat-lambat. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalambersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seorang wanita tidak dikatakan memenuhi hak Rabbnya sebelum ia memenuhi hak suaminya. Walau sang suami meminta dirinya dalam keadaan dia di atas sekedup, dia tidak boleh menolaknya.” (Hadits shahih riwayat AhmadIbnu Majah, dan lain-lain)

Jadi, andai seorang istri tengah berada di atas punggung seekor unta lantas suaminya ingin berhubungan dengannya, dia tidak boleh menolaknya. Lalu, bagaimana pada selain kondisi tersebut?

Sebagai penutup, kami sebutkan berita gembira dari junjungan kita yang mulia, Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wassalam , bagi wanita yang menaati suaminya. Beliau n bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita menunaikan shalat (fardhu) lima waktu, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR.ath–ThabaraniIbnu Hibban, dan selainnya. Al-Albani berkata, “Hadits hasan atau shahih dengan beberapa jalur periwayatan.”)

Inilah balasan terbaik baginya. Bukankah tidak ada kenikmatan di dunia ini yang menandingi surga? Cukuplah balasan surga ini menjadi pengusir rasa lelah dan berat karena menaati suami.

Demikianlah dua kewajiban istri yang menjadi hak sang suami. Mudah-mudahan pembahasan yang singkat ini dapat menjadi tambahan ilmu dan amal bagi penulis secara khusus dan bagi kaum muslimin secara umum. Amin ya Rabbal ’alamin.

 

Referensi:

– Al-Qur’anul Karim

– Adabuz Zifaf, asy-Syaikh al-Albani

– Nashihati lin Nisa’, Ummu ‘Abdillah al-Wadi’iyyah

– Risalah ilal ‘Arusain, Abu ‘Abdirrahman ash-Shubaihi

 

Islam, Iman dan Ihsan

Tingkatan Dalam Islam yaitu : Islam, Iman dan Ihsan

 

Pembaca yang budiman, di kalangan tarekat sufi sangat terkenal adanya pembagian agama menjadi 3 tingkatan yaitu: Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat. Orang/wali yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat sudah tidak lagi terbebani aturan syari’at; sehingga dia tidak lagi wajib untuk sholat dan bebas melakukan apapun yang dia inginkan… demikianlah sebagian keanehan yang ada di seputar pembagian ini. Apakah pembagian semacam ini dikenal di dalam Islam?

Islam Mencakup 3 Tingkatan

Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah didatangi malaikat Jibril dalam wujud seorang lelaki yang tidak dikenali jatidirinya oleh para sahabat yang ada pada saat itu, dia menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman dan Ihsan. Setelah beliau menjawab berbagai pertanyaan Jibril dan dia pun telah meninggalkan mereka, maka pada suatu kesempatan Rosululloh bertanya kepada sahabat Umar bin Khoththob, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ?” Maka Umar menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya lah yang lebih tahu”. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya dia itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh mengatakan: Di dalam (penggalan) hadits ini terdapat dalil bahwasanya Iman, Islam dan Ihsan semuanya diberi nama ad din/agama (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 23). Jadi agama Islam yang kita anut ini mencakup 3 tingkatan; Islam, Iman dan Ihsan.

Tingkatan Islam

Di dalam hadits tersebut, ketika Rosululloh ditanya tentang Islam beliau menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang haq) selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, engkau dirikan sholat, tunaikan zakat, berpuasa romadhon dan berhaji ke Baitulloh jika engkau mampu untuk menempuh perjalanan ke sana”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini ialah bahwa Islam itu terdiri dari 5 rukun (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 14). Jadi Islam yang dimaksud disini adalah amalan-amalan lahiriyah yang meliputi syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.

Tingkatan Iman

Selanjutnya Nabi ditanya mengenai iman. Beliau bersabda, “Iman itu ialah engkau beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir dan engkau beriman terhadap qodho’ dan qodar; yang baik maupun yang buruk”. Jadi Iman yang dimaksud disini mencakup perkara-perkara batiniyah yang ada di dalam hati. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah pembedaan antara islam dan iman, ini terjadi apabila kedua-duanya disebutkan secara bersama-sama, maka ketika itu islam ditafsirkan dengan amalan-amalan anggota badan sedangkan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan hati, akan tetapi bila sebutkan secara mutlak salah satunya (islam saja atau iman saja) maka sudah mencakup yang lainnya. Seperti dalam firman Alloh Ta’ala, “Dan Aku telah ridho Islam menjadi agama kalian.” (Al Ma’idah : 3) maka kata Islam di sini sudah mencakup islam dan iman… (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 17).

Tingkatan Ihsan

Nabi juga ditanya oleh Jibril tentang ihsan. Nabi bersabda, “Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah penjelasan tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu: menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 21). Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.

Bagaimana Mengkompromikan Ketiga Istilah Ini?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan yang maknanya, Bila dibandingkan dengan iman maka Ihsan itu lebih luas cakupannya bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada iman bila ditinjau dari orang yang sampai pada derajat ihsan. Sedangkan iman itu lebih luas daripada islam bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada islam bila ditinjau dari orang yang mencapai derajat iman. Maka di dalam sikap ihsan sudah terkumpul di dalamnya iman dan islam. Sehingga orang yang bersikap ihsan itu lebih istimewa dibandingkan orang-orang mu’min yang lain, dan orang yang mu’min itu juga lebih istimewa dibandingkan orang-orang muslim yang lain… (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 63)

Muslim, Mu’min dan Muhsin

Oleh karena itulah para ulama’ muhaqqiq/peneliti menyatakan bahwa setiap mu’min pasti muslim, karena orang yang telah merealisasikan iman sehingga iman itu tertanam kuat di dalam hatinya pasti akan melaksanakan amal-amal islam/amalan lahir. Dan belum tentu setiap muslim itu pasti mu’min, karena bisa jadi imannya sangat lemah sehingga hatinya tidak meyakini keimanannya dengan sempurna walaupun dia melakukan amalan-amalan lahir dengan anggota badannya, sehingga statusnya hanya muslim saja dan tidak tergolong mu’min dengan iman yang sempurna. Sebagaimana Alloh Ta’ala telah berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu mengatakan ‘Kami telah beriman’. Katakanlah ‘Kalian belumlah beriman tapi hendaklah kalian mengatakan: ‘Kami telah berislam’.” (Al Hujuroot: 14). Dengan demikian jelaslah sudah bahwasanya agama ini memang memiliki tingkatan-tingkatan, dimana satu tingkatan lebih tinggi daripada yang lainnya. Tingkatan pertama yaitu islam, kemudian tingkatan yang lebih tinggi dari itu adalah iman, kemudian yang lebih tinggi dari tingkatan iman adalah ihsan (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 64)

Kesimpulan

Dari hadits serta penjelasan di atas maka teranglah bagi kita bahwasanya pembagian agama ini menjadi tingkatan Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat tidaklah dikenal oleh para ulama baik di kalangan sahabat, tabi’in maupun tabi’ut tabi’in; generasi terbaik ummat ini. Pembagian yang syar’i adalah sebagaimana disampaikan oleh Nabi yaitu islam, iman dan ihsan dengan penjelasan sebagaimana di atas. Maka ini menunjukkan pula kepada kita alangkah berbahayanya pemahaman sufi semacam itu. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa mencapai keridhoan Alloh Ta’ala kalau cara beribadah yang mereka tempuh justeru menyimpang dari petunjuk Rosululloh ? Alangkah benar Nabi yang telah bersabda, “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim). Barangsiapa yang ingin mencapai derajat muhsin maka dia pun harus muslim dan mu’min. Tidak sebagaimana anggapan tarekat sufiyah yang membolehkan orang yang telah mencapai Ma’rifat untuk meninggalkan syari’at. Wallohu a’lam.

 

Isim

Tanda-tanda Isim (عَلَامَاتُ الاِسْمِ)

 

Pelajaran Keenam (اَلدَّرْسُ السَّادِسُ)

Tanda-tanda Isim (عَلَامَاتُ الاِسْمِ)

Alhamdulillah, Pembaca Qonitah yang semoga dijaga oleh Allahl, pada edisi kali ini kita memasuki pembahasan baru. Setelah menyelesaikan pembahasan isim isyarah pada edisi-edisi sebelumnya, kita akan membahas tanda-tanda isim. Sebelumnya, kita perlu mengetahui pembagian kata dalam bahasa Arab.

Kata (الْكَلِمَةُ) dalam bahasa Arab terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu:

  1. Isim (اِسْمٌ).
  2. Fi’il (فِعْلٌ).

Fi’il adalah kata kerja yang menunjukkan suatu kejadian pada salah satu waktu dari tiga waktu tertentu, yaitu masa lampau (الْمَاضِي), masa sekarang (الْحَالُ), atau masa yang akan datang (الْاِسْتِقْبَالُ).

Contoh: خَرَجَ (keluar), دَخَلَ (masuk), dan lain-lain.

Akan datang penjelasannya pada edisi-edisi mendatang, insya Allah.

  1. Huruf(حَرْفٌ).

Huruf adalah kata yang tidak mempunyai arti kecuali setelah bersambung dengan kata lain, baik dengan isim maupun fi’il, sehingga memberikan arti pada isim atau fi’il tersebut.

Contoh: هَلْ, فِيْ, لَمْ, dan lain-lain.

Sebagaimana telah kita ketahui, isim sering kali diterjemahkan sebagai kata benda. Sebenarnya, cakupan isim lebih luas. Dalam bahasa Arab, isim mencakup kata benda, kata sifat, keterangan waktu, keterangan tempat, dan sebagainya.

Contoh isim yang berupa kata benda telah kami jelaskan pada edisi-edisi sebelumnya, seperti كِتَابٌ (buku), بَيْتٌ (rumah).

Contoh isim yang berupa kata sifat adalah كَبِيْرٌ (besar), نَظِيْفٌ (bersih).

Contoh isim yang berupa keterangan waktu adalah صَبَاحًا (pagi), مَسَاءً (sore).

Yang berupa keterangan tempat adalah أَمَامَ (di depan), خَلْفَ (di belakang), dan sebagainya.

Kesimpulannya, isim adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan arti kata itu sendiri dan tidak terkait dengan waktu. Demikian para ahli nahwu mendefinisikan isim.

Kata كِتَابٌ menunjukkan kata benda “buku”, sedangkan نَظِيْفٌ menunjukkan kata sifat “bersih”. Kedua kata ini tidak terkait dengan waktu kejadian. Dengan pengertian inilah isim terbedakan dengan kedua saudaranya, yaitu fi’il dan huruf.

Isim menunjukkan arti pada dirinya sendiri, sedangkan huruf baru memiliki arti setelah bergabung dengan kata yang lain. Isim juga tidak berkaitan dengan waktu, sedangkan fi’il terkait dengan waktu sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Tanda-tanda Isim (عَلَامَاتُ الاِسْمِ)

            Isim dapat dikenali dengan tanda-tanda sebagai berikut.

  • Bisa menerima tanwin (ـًـ ـٍـ ـٌـ), seperti قَلَمٌ, بَيْتٌ, رَجُلٌ.
  • Bisa menerimajar (kasrah atau pengganti kasrah), seperti pada kalimat بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ .

Keterangan:

  • Kata-kata (اسْمِ), (اللهِ), (الرَّحْمنِ), (الرَّحِيْمِ) semuanya berharakat akhirkasrah.
  • Jar/khafdhadalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan kasrah atau pengganti kasrah, yang akan dijelaskan pada pembahasan masalah i’rab (perubahan akhir suatu kata), insya Allah.
  • Bisa dimasuki/didahului hurufjar (huruf yang menyebabkan suatu isim berharakat akhir kasrahatau pengganti kasrah). Huruf-huruf jar itu di antaranya (البَاءُ), (مِنْ), (إِلىَ), (عَلَى), (فِي), dan lain-lain.

Contoh:

Keterangan:

Kata-kata di atas, yaitu (زَيْدٍ), (اْلَبيْتِ), (اْلمَسْجِدِ), (الْمَكْتَبِ), ( الْحَمَّامِ), semuanya berharakat akhir kasrah(ــِـ) karena didahului oleh huruf-huruf jar.

  • Bisa dimasuki/didahului hurufnida’ (panggilan).

Contoh:

Keterangan:

Kata (مُحَمَّدُ) dan (رَجُلُ) tidak bertanwin karena berkaitan dengan salah satu hukum isim yang terletak di belakang huruf nida’. Akan datang penjelasannya pada pelajaran-pelajaran selanjutnya,insya Allah.

  • Bisa disambung/disandarkan denganisim lain yang diakhiri jar (kasrah atau pengganti kasrah)pada isim

Contoh:

Keterangan:

  • Kata-kata (مُحَمَّدٍ), (الْمُدِيْرِ), dan (الْمَسْجِدِ) semuanya berharakat akhirkasrah.
  • Pada contoh (سَيَّارَةُ الْمُدِيْرِ), (سَيَّارَةُ) disebutmudhaf dan (الْمُدِيْرِ) disebut mudhaf ilaihi. Demikian pula pada contoh lainnya. Akan datang penjelasannya pada pelajaran-pelajaran berikutnya,insya Allah.
  • Bisa menerima hurufalif lam (ال).

Contoh:

Keterangan:

  • Setelahisim menerima alif lam (ال), tanwin (ــٌـ) pada isim dihilangkan dan diganti dengan harakat biasa, yaitu dhammah (ــُـ), seperti pada contoh-contoh di
  • Sebelum menerimaalif lam (ال), isim disebut isim nakirah (umum/tidak tertentu), sedangkan setelah menerima alif lam (ال), disebut isim ma’rifah (sudah dikenal/tertentu).
  • Alif lam (ال) yang masuk kepadaisim terbagi menjadi dua: alif lam syamsiyah (الشَّمْسِيَّةُ) dan alif lam qamariyah (الْقَمَرِيَّةُ).
  • (الشَّمْسِيَّةُ) adalahalif lam yang apabila masuk pada isim-isim yang dimulai dengan huruf-huruf tertentu, alif lam tersebut tidak terbacatetapi melebur dengan huruf tersebut. Contoh: (الشَّمْسُ).
  • (الْقَمَرِيَّةُ) adalahalif lam yang apabila masuk pada isim-isim yang dimulai dengan huruf-huruf tertentu pula, alif lam tersebut tetap terbaca. Contoh: (الْقَمَرُ).

Berikut perincian huruf-huruf الْقَمَرِيَّةُ dan huruf الشَّمْسِيَّةُ beserta contohnya.

Alhamdulillah, Pembaca—rahimakumullah, dari pembahasan di atas kita telah mengenal tanda-tanda isim. Apabila suatu kata menerima satu tanda saja dari tanda-tanda tersebut, bisa dikatakan bahwa kata tersebut adalah isim.

Ringkasan:

  • Kata (الْكَلِمَةُ) dalam bahasa Arab terbagi menjadi tiga (3), yaituisim (اِسْمٌ), fi’il (فِعْلٌ), dan huruf(حَرْفٌ).
  • Isimdapat dikenali dengan tanda-tanda:
  • Bisa menerima tanwin: قَلَمٌ, بَيْتٌ, رَجُلٌ
  • Bisa menerimajar: (بِسْمِ اللهِ الَّرَحْمنِ الَّرَحِيْمِ)
  • Bisa dimasuki/didahului dengan hurufjar: عَلَى اْلمَكْتَبِ, اِلىَ اْلمَسْجِدِ, مِنَ اْلبَيْتِ
  • Bisa dimasuki/didahului dengan hurufnida’ (panggilan) : يَا رَجُلُ, يَا مُحَمَّدُ
  • Bisa disambung/disandarkan denganisim yang lain: قَلَمُ مُحَمَّدٍ,الْمُدِيْرِ سَيَارَةُ
  • Bisa menerimaalif lam (ال) : الْقَلَمُ, الْبَيْتُ, الرَّجُلُ
  • Alif lam (ال) yang masuk padaisim terbagi menjadi dua: alif lam syamsiyah (الشَّمْسِيَّةُ) dan alif lam qamariyah (الْقَمَرِيَّةُ).

Kantong Kosakataku

Alhamdulillah, Pembaca, kita mulai mengenal kata-kata baru dari ketiga jenis kata dalam pelajaran kali ini. Rajin-rajinlah dan teruslah bersemangat menuntut ilmu!

Latihan (تَمْرِيْنٌ)

Tentukanlah isim pada kalimat-kalimat berikut ini dengan menyebutkan tandanya, barakallahu fikum!

الْحَمْدُ لِلهِ، وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ